Anda di halaman 1dari 6

IDENTIFIKASI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TOTAL BIAYA INVENTORI OBAT-OBATAN

GOLONGAN A DI RUMAH SAKIT


PELNI JAKARTA TAHUN 2015 1
AGNES SUSANTO
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat
darurat (Undang Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009
Tentang Rumah Sakit, 2009), salah satu fungsi utamanya adalah
penyelenggaraan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan
pemulihan. (Kemenkes RI, 2004) Obat dalam definisinya berdasarkan
Undang Undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009, dikatakan sebagai
“bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan
untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan
patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk
manusia”. (Undang Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan, 2009) Oleh karena itu, obat menjadi bagian penting
dari penatalaksanaan seorang pasien.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di
rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu
pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari
sistem pelayanan kesehatan rumah sakit. Bagian Farmasi rumah sakit
bertanggung jawab terhadap semua barang farmasi yang beredar di rumah
sakit tersebut. Salah satu fungsi bagian Farmasi ini adalah mengelola
perbekalan farmasi yang salah satunya adalah obat yang termasuk dengan
merencanakan kebutuhan secara optimal dan mengadakan perbekalan
tersebut dengan berpedoman pada perencanaan yang telah dibuat.
(Kemenkes RI, 2004)
Tahun 2008 di jurnal Amerian Society of Health System
Pharmacist (ASHP), menyatakan bahwa pengaturan pembelanjaan dan
IDENTIFIKASI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TOTAL BIAYA INVENTORI OBAT-OBATAN
GOLONGAN A DI RUMAH SAKIT
PELNI JAKARTA TAHUN 2015 2
AGNES SUSANTO
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

penggunaan obat dalam rumah sakit masuk dalam deretan 20 isu penting
yang harus dikelola oleh CEO rumah sakit. Data ini didapat berdasarkan
hasil survey yang dilakukan pada tahun 1996. Namun, di tahun 2000, pada
saat survey yang sama kembali diulang, hasilnya adalah isu anggaran
pembelanjaan dan penggunaan obat dalam rumah sakit malah mencuat
menjadi isu ketujuh teratas yang harus dibenahi oleh para CEO rumah
sakit. (American Society of Health-System Pharmacists, 2008)
Mengapa isu pengelolaan obat ini menjadi penting? Karena biaya
obat mengambil porsi mayoritas dalam anggaran rumah sakit dan besarnya
juga terus meningkat dari tahun ke tahun, yang bahkan kenaikannya lebih
cepat ketimbang biaya pengeluaran rumah sakit lainnya. (American
Society of Health-System Pharmacists, 2008) Data penelitian di Thailand,
didapatkan bahwa biaya instalasi farmasi adalah sebesar 25% sampai 27%
dari total biaya pengeluaran rumah sakit. (Laeiddee, 2010) Peningkatan
biaya obat di rumah sakit di Iowa adalah sebesar 3% rata-rata per tahunnya
dan bahkan di rumah sakit tersebut biaya obat onkologi meningkat 6%
pada tahun 2012. (Bates & Richards, 2013)
Penelitian dalam negri juga memberikan gambaran yang serupa.
Berdasarkan data penelitian, anggaran operasional RSU Cianjur
1998/1999 biaya obat adalah sebesar 17,4% dari biaya operasional RSU
tersebut. (Azis, Handayani, & Herman, 2002) Penelitian yang dilakukan
oleh Azis dan kawan-kawan pada tahun 2002 di Rumah Sakit Umum
Kabupaten Sidoarjo didapatkan bahwa biaya obat mencapai 43% dari total
biaya operasional rumah sakit itu. (Azis et al., 2002) Selain itu, penelitian
terbaru yang dilakukan pada tahun 2013, obat-obatan onkologi saja
menghabiskan anggaran hingga Rp 581.351.138,- dalam periode 6 bulan.
(Rachmania & Basri, 2013)
Akan tetapi, di sisi lain, dunia kesehatan secara global memasuki
era baru dalam sistem pembayaran kesehatan yang berdasarkan outcomes-
based reimbursement membuat para manajer rumah sakit harus bisa
mengelola kegiatan pelayanannya secara efisien. (Darling & Wise, 2010)
IDENTIFIKASI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TOTAL BIAYA INVENTORI OBAT-OBATAN
GOLONGAN A DI RUMAH SAKIT
PELNI JAKARTA TAHUN 2015 3
AGNES SUSANTO
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

Indonesia juga mengalami perubahan dalam era asuransi kesehatan BPJS


mulai tahun 2014 ini. Sistem pembiayaan tidak lagi fee for service and
out-of-pocket, tapi didorong dengan sistem reimbursement. Sistem BPJS
ini juga memberlakukan kebijakan kesamaan tarif untuk semua rumah
sakit agar memudahkan klaim asuransi. (The Jakarta Post, 2013)
Oleh karena itu, di tengah tuntutan pengurangan biaya operasional
rumah sakit, tapi tidak mengorbankan kualitas pelayanan, (Laeiddee,
2010)Supply Chain Management (SCM) muncul sebagai primadona
karena sistem ini merupakan teknik yang diadopsi dari sistem produksi
yang ramping atau lean production system. (Nurfitria, n.d.) Keberhasilan
penerapan strategi SCM dalam rumah sakit akan dapat mengontrol biaya
dan juga meningkatkan kualitas layanan kepada pasien. (Pfeiffer, 2011)
Hasil studi penelitian terkait penerapan SCM dalam pelayanan kesehatan
menunjukkan hasil yang memuaskan. Praktik teknik SCM ini ternyata
mampu mengurangi biaya pelayanan kesehatan secara signifikan.
(Rachmania & Basri, 2013)
Penerapan SCM yang baik juga bergantung pada sistem
manajemen inventori yang efektif dan efisien. (Setyaningsih & Basri,
2013) Biaya inventori rumah sakit dikatakan mencapai antara 10% - 18%
dari total pendapatan rumah sakit. (Rachmania & Basri, 2013) Pengelolaan
inventori yang optimal bisa memberikan penghematan biaya
penyelenggaraan SCM sampai dengan 10%. Biaya operasional SCM pada
rumah sakit bisa mencapai 40% dari total budget operasional oleh karena
itu sangat penting untuk sebuah rumah sakit melakukan perbaikan sistem
manajemen inventorinya. (Darling & Wise, 2010) Penelitian case-study di
rumah sakit nasional pada tahun 2013 juga memberikan hasil adanya
penghematan sebesar 50% dari biaya sesungguhnya bilamana dilakukan
pergantian kebijakan pengelolaan perbekalan obat onkologi dengan
metode continuous review (s,Q). (Rachmania & Basri, 2013)
Pentingnya pengelolaan perbekalan ini juga ditekankan oleh ASHP
dalam panduan yang dikeluarkan olehnya tahun 2008, bahwa strategi
IDENTIFIKASI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TOTAL BIAYA INVENTORI OBAT-OBATAN
GOLONGAN A DI RUMAH SAKIT
PELNI JAKARTA TAHUN 2015 4
AGNES SUSANTO
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

intervensi yang paling mudah untuk diimplementasikan terlebih dahulu


untuk mengontrol biaya obat di rumah sakit adalah dengan berfokus pada
strategi pengelolaan inventori dan pembelian. (American Society of
Health-System Pharmacists, 2008) Oleh karena itu, melihat pentingnya
sistem manajemen inventori, maka makalah ini akan berfokus pada
pengelolaan perbekalan rumah sakit khususnya perbekalan obat yang
efisien sebagai langkah nyata usaha rumah sakit untuk menghemat biaya
operasional.

B. Perumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah pengurangan
biaya inventori obat di rumah sakit. Oleh karena itu, isu ini menjadi
sebuah peluang besar untuk bisa dicari tahu solusi pengelolaan inventori
obat yang lebih hemat dan mengurangi total biaya obat.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
Mengidentifikasikan faktor-faktor yang berperan dalam biaya total
inventori obat untuk obat-obatan golongan A di rumah sakit PELNI di
Jakarta.
Tujuan khusus adalah:
1. Mengidentifikasikan jenis-jenis obat yang berpengaruh besar dalam
biaya pengelolaan inventori obat di RS Pelni dengan metode ABC
analysis.
2. Mengidentifikasikan pengaruh unit price terhadap biaya total
inventori obat
3. Mengidentifikasikan pengaruh order quantity terhadap biaya total
inventori obat
IDENTIFIKASI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TOTAL BIAYA INVENTORI OBAT-OBATAN
GOLONGAN A DI RUMAH SAKIT
PELNI JAKARTA TAHUN 2015 5
AGNES SUSANTO
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

4. Mengidentifikasikan pengaruh order frequency terhadap biaya total


inventori obat
5. Mengidentifikasikan pengaruh hidden cost terhadap biaya total
inventori obat
6. Mensimulasikan strategi penyediaan dengan penghitungan
Economic Order Quantity dan Reorder Point

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini akan bermanfaat sebagai:
1. Masukan bagi rumah sakit sebagai upaya penghematan operasional
dengan mengurangi biaya total inventori.
2. Bahan pertimbangan bagi rumah sakit untuk mengatur langkah-
langkah strategi selanjutnya untuk pengembangan sistem SCM
rumah sakit yang lebih baik lagi.
3. Informasi tambahan untuk para rekan sejawat peneliti yang juga
hendak meneliti dalam bidang manajemen inventori obat dan
perbaikan kualitas pengelolaan inventori obat.

E. Keaslian Penelitian
Penelitian serupa sudah pernah dilakukan oleh:

No. Peneliti Judul Penelitian Tahun Tempat


Publikasi Penelitian

1. (Setyaningsih & Basri, Comparison Continuous and 2013 Bandung, Jawa


2013) Periodic Review Policy Barat
Inventory Management Indonesia
System Formula and Enteral
Food Supply in Public
Hospital Bandung
2. (Rachmania & Basri, Pharmaceutical Inventory 2013 Indonesia
2013) Management Issues in
Hospital Supply Chains
IDENTIFIKASI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TOTAL BIAYA INVENTORI OBAT-OBATAN
GOLONGAN A DI RUMAH SAKIT
PELNI JAKARTA TAHUN 2015 6
AGNES SUSANTO
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

3. (Harun, Ainy, & Analisis Pengendalian 2013 Pangkalpinang,


Faisya, 2013) Pengadaan Alat Kesehatan Indonesia
Habis Pakai di Instalasi
Farmasi Rumah Sakit Bakti
Timah Pangkalpinang Tahun
2013
No. Peneliti Judul Penelitian Tahun Tempat
Publikasi Penelitian

4. (Indrawati, 2012) Analisis Pengendalian 2012 Jakarta,


Persediaan Antibiotik di Indonesia
RSIA Budi Kemuliaan Tahun
2011
5. (Fakriadi, Marchaban, Drug Management Analysis 2011 Temanggung,
& Pudjaningsih, 2011) in Pharmacy Department of Indonesia
PKU Muhammadiyah
Temanggung Hospital in
Period 2006, 2007 and 2008

6. (Priatna, 2010) Analisis Perencanaan dan 2010 Tangerang,


Pengendalian Obat Indonesia
Kelompok A Pada Analisa
ABC di Rumah Sakit Melati
Tangerang Tahun 2009
7. (Mulyardewi, 2010) Analisis Perencanaan dan 2010 Jakarta,
Pengendalian Obat di RSU Indonesia
Zahirah Jakarta Tahun 2010
8. (Pudjitami & The Impact of Economic 1998 Surakarta,
Suryawati, 1998) Order Quantity (EOQ) Indonesia
Method on Drug Inventory
Value at the Pharmacy Unit
of RSUD Dr Moerwadi
Surakarta
9. (Laeiddee, 2010) Improvement of Re-order 2010 Thailand
Point for Drug Inventory
Management at Ramathibodi
Hospital