Anda di halaman 1dari 30

PROMOSI KESEHATAN

3.1. Pengertian Strategi Promosi Kesehatan


Untuk mewujudkan atau mencapai visi dan misi promosi kesehatan secara
efektif dan efisien, diperlukan cara dan pendekatan yang strategis. Cara ini sering
disebut “strategi”, yakni teknik atau cara bagaimana mencapai atau mewujudkan
visi dan misi promosi kesehatan tersebut secara berhasil guna dan berdaya guna.

3.2. Strategi Advokasi Kesehatan


3.2.1. Pengertian Advokasi Kesehatan
Advokasi kesehatan adalah pendekatan kepada para pimpinan atau
pengambil keputusan agar dapat memberi dukungan, kemudahan,
perlindungan pada upaya pembangunan kesehatan.

3.2.2. Tujuan Advokasi Kesehatan:


1. Mempengaruhi peraturan dan kebijakan yang mendukung pembudayaan
perilaku hidup bersih dan sehat.
2. Mempengaruhi pihak lain (program, sektor, LSM peduli
kesehatan,profesional) agar mendukung perilaku hidup bersih dan sehat
melalui kemitraan dan jaringan kerja.
3. Meningkatkan kerjasama antara masyarakat dan pemerintah khususnya
kesehatan lingkungan di tempat-tempat umum.
4. Menggalang dukungan lewat pendapat umum melalui media komunikasi
tentang program perilaku hidup bersih dan sehat.

3.2.3. Luaran (Hasil yang diharapkan):


1. Adanya dukungan politik dari para pengambil keputusan baik dalam bentuk
instruktur/surat daran/surat keputusan maupun himbauan untuk
melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat.
2. Makin banyak LSM (lembaga swadaya masyarakat)yang peduli kesehatan.
3. Adanya anggaran rutin yang dinamis dari APBD II dan sumber lain untuk
pelaksanaan PHBS di kabupaten/kota.
4. Adanya indikator PHBS dalam perencanaan daerah.
5. Fasilitas umum semakin merata terutama di daerah kumuh.

3.2.4. Sasaran
Sasaran advokasi meliputi sasaran kepada perorangan dan kepada
sasaran publik (masyarakat). Sasaran perorangan dapat dilakukan melalui
komunikasi interpersonal sedangkan untuk sasaran publik dilakukan melalui
media massa dan kampanye. Sasaran menurut jenjang administrasi adalah :
1. Pengambilan kebijakan di tingkat pusat seperti : DPR (komisi 7),
parpol,Menteri Dirjen departemen terkait,BAPPENAS, Lembaga Donor
(WHO, World Bank, UNICEF, ADB), organisasi profesi, LSM Nasional dan
Internasional.
2. Pengambilan kebijakan di tingkat daerah/Propinsi seperti: DPRD (Komisi
E), parpol, BAPPEDA, Gubernur dan asisten kesejahteraan
rakyat,Ka.Din.Kes Tkt I, Lembaga donor, organisasi profesi, LSM
internasional, nasional dan propinsi.
3. Pengambil kebijakan di tingkat Kabupaten dan Kota seperti : DPRD
Kabupaten/Kota/Komisi E, parpol BAPPEDA, Bupati/Walikota dan Bagan
Kesejahteraan rakyat, Ka.Din.Kes Tkt I, Lembaga donor, organisasi
profesi, LSM, Institusi pendidikan, Institusi Kesehatan dan Non Kesehatan,
Lembaga swasta /industri (tempat umum dan tempat Akerja)

3.2.5. Metode Advokasi.


Kegiatan yang bernuansa advokasi dapat berupa :
1. Seminar sehari.
2. Orientasi.
3. Lobby.
4. Kampaye.
5. Sarasehan (penyuluhan).
6. Bentuk kegiatan lain yang sesuai.

3.2.6. Langkah-langkah Advokasi.


Secara umum menurut Jhon Hopkins University (JHU) advokasi
kesehatan ditempuh melalui kerangka advokasi yang memuat 6 langkah yaitu
:
1. Melakukan analisa
a. Identifikasi masalah.
b. Kebijakan yang ada.
c. Program-program komunikasi yang telah dilaksanakan untuk membuat
kebijakan.
d. Perubahan kebijakan yang diinginkan oleh tingkat tertentu.
e. Stakeholder (mitra kerja) yang terkait dengan perubahan kebijakan.
f. Jejaring untuk penentu kebijakan dan pesan yang tepat.
g. Sumber daya yang memungkinkan untuk pelaksanaan kebijakan.
2. Menyusun Strategi.
a. Membentuk kelompok kerja PHBS.
b. Identifikasi sasaran primer dan sekunder.
c. Mengembangkan tujuan “SMART” (Specific/spesifik,
Measurable/dapat diukur, Appropriate/tepat, Realistic/nyata, Time
Bound/sesuai jadwal).
d. Menentu indicator.
e. Menyiapkan dukungan dana dan kebijakan pelaksana.
f. Menempatkan "issue” yang pantas mendapat dukungan dari penentu
kebijakan.
g. Merencanakan perbaikan sarana komunikasi.
3. Menggalang kemitraan (mobilisasi)
a. Menyusun POA (plan of action) bersama-sama.
b. Mendorong kemitraan.
c. Mendelegasikan tanggung jawab.
d. Merencanakan koordinasi peliputan berita dan data oleh media.
4. Tindakan/pelaksanaan
a. Melaksanakan rencana advokasi (POA).
b. Mengumpulkan mitra.
c. Menyajikan pesan yang tepat.
d. Menepati jadwal.
e. Mengembangkan jaringan komunikasi dengan mitra.
5. Evaluasi.
Evaluasi dilakukan dengan mengukur pencapaian tujuan (proses
dan output) melalui pengecekan dokumentasi tentang kegiatan-kegiatan
yang seharusnya dilaksanakan, materi KIE yang telah diterbitkan dan
disebarluaskan serta produk-produk kebijakan yang diterbitkan.
6. Kesinambungan proses
Melaksanakan proses komunikasi secara terus menerus dengan
memanfaatkan hasil evaluasi.
Langkah-langkah berikut ini :
 Persiapan
1. Identifikasi masalah dari data yang ada seperti :
a. Data 10 penyakit terbanyak di kabupaten/kota.
b. Status gizi.
c. Angka kesakitan.
d. Angka kematian.
e. Perlaku spesifik masyarakat yang terkait dengan perilakum
PHBS.
f. Data dasar (kualitatif dan kuantitatif) pengkajian PHBS.
g. Hasil pemetaan wilayah/klasifikasi PHBS tiap tatanan.
h. Rencana detail tat kota (RDTK) dan rencana umum tata ruang
kota (RUTRK).
2. Mempelajari kebijakan apa saja yang mendukung dan menghambat
program perilaku PHBS.
3. Mempelajari program komunikasi yang telah dilaksanakan dengan
menggali pengalaman dari orang lain tentang program komunikasi yang
telah dilaksanakan untuk dpat dimanfaatkan sebagai pengalaman
belajar dalam program PHBS.

Hal-hal yang dapat digali antara lain :


1. Strategi yang berkelanjutan.
2. Isu advokasi yang tajam (fokus).
3. Sasaran yang spesific.
4. Tindak lanjut kegiatan.
4. Mempelajari perubahan kebijaksanaan yang terjadi, contoh : sekitar
tahun 1998 kebijaksanaan paradigma sakit mengalami perubahan
menjadi paradigma sehat. Hal ini memberi peluang kepada para ahli
kesehatan masyarakat untuk mengkampanyekan paradigma sehat
dengan tema “Menjaga kesehatan lebih murah dan mudah dari pada
mengobati”.
5. Menentukan mitra kerja terkait yang berpengaruh dalam program PHBS
dan membuat jejaring bagi penentu kebijakan dan kelompok peduli
kesehatan.
6. Memanfaatkan dan menggali sumber daya yang memungkinkan untuk
pelaksanaan PHBS.
7. Menyiapkan materi yang berkaitan dengan PHBS serta menentukan
metode advokasi kesehatan.
8. Menempatkan issue atau gagasan untuk mendapatkan dukungan dari
penentu kebijakan pada waktu yang tepat untuk menyampaikan
gagasan tersebut, minsalnya pada kesehatan sedunia (7 april), hari
kesehatan nasional (12 november), hari sadar pangan dan gizi, hari
AIDS sedunia dan lain-lain.
 Pelaksanaan
1. Lakukan advokasi PHBS dengan penyajiann yang menarik dengan
menggunakan metode dan teknik yang tepat.
2. Adanya tanya jawab, tanggapan dan masukan-masukan untuk
menyempurnakan program yang sudah ada.
3. Simpulkan dan sepakati hasilnya.
4. Buat laporan tertulis hasil advokasi dan sebarluaskan pada sasaran
yang terkait.
5. Lakukan tindak lanjut kegiatan berdasarkan kesepakan bersama.

3.2.7. Indikator Kebersilan Advokasi


Untuk mengukur keberhasilan advokasi dapat dilihat adanya
tanggapan/respon para individu dan publik dalam bentuk :
1. Adanya peraturan, surat keputusan, surat edaran, instruksi, himbauan
tentang pentingnya program PHBS.
2. Adanya anggaran dari APBD II atau sumber lain yang rutin dan dinamis
untuk pelaksanaan PHBS.
3. Adanya jadwal koordinasi dan pemantauan pelakanaan PHBS.
4. Kemampuan pengambil keputusan dalam menjelaskan PHBS dalam
setiap kegiatan.
5. Terbentuknya dan berfungsinya kelompok kerja PHBS.

3.2.8. Bentuk-bentuk Kegiatan Advokasi Menurut Sasaran.


NO SASARAN ALTERNATIF BENTUK
KEGIATAN
1. Lintas sektor -Loby (pendekatan)
-Pertemuan rutin
-Lokakarya
-Rapat koordikasi
-Sarasehan
-Dialog interaktif

2. Lintas program -Loby (pendekatan)


-Rapat koordikasi
-presentasi
-negosasi
-koordinasi
3. Kemitraan -Loby (pendekatan)
-kampanye
-presentasi
-demonstrasi
-dialog interaktif

3.2.9. Etika Advokasi


1. Mulai dengan sisi yang positif dari sasaran, minsalnya perhatian yang
ditunjukan kepada sasaran di bidang kesehatan yang merupakan
program unggulan.
2. Mau kompromi, sabar dan tegar serta tidak menyalahkan sasaran.
3. Pusatkan pada pesan pokok dengan bahasa yang menggugah.
4. Kemukakan hai-hal baru yang relavan dengan materi sasaran.

3.2.10. Kendala dalam Advokasi


1. Para pembuat kebijakan masih belum mempunyai persepsi yang sama
terhadap promosi kesehatan dan paradigma sehat.
2. Penyelenggara kesehatan masih mementingkan budaya kuratif.
3. Masih adanya budaya ketergantungan masyarakat terhadap petugas
dalam upaya kesehatan.

3.2.11. Kiat untuk Advokator


1. Kiat advokator sebagai pengelola program.
1) Menetapkan, menerima tanggung jawab dan bekerjasama dalam tim.
2) Memahami misi, rician tujuan, menentukan apa/mana yang
diutamakan.
3) Tahu teknik yang tepat untuk menyamakan persepsi.
2. Kiat advokator sebagai pimpinan rapat atau kelompok kerja.
1) Sudah membuat persiapan yang rinci sebelum memimpin rapat,
semua yang harus hadir sudah diberi tahu sebelumnya, agenda rapat
dan akomodasi siap sedia.
2) Dia nomor satu diantara yang hadir (primus interpares), bukan tuan
besar yang sok resmi di tengah kelompok, melainkan seorang
pelayanan yang ceria dan ramah.
3) Dia membuat anggota tim tidak canggung bahkan membuat orang lain
percaya diri, bisa membuat yang pendiam dan pemalu berani bicara
serta menegahi yang agresif dengan tegar dan sikap bersahabat.
4) Dia menguasai keadaan, tahu bahwa potensi setiap anggotanya untuk
mencapai sukses.
5) Dia menghargai orang lain dan memperlakukan semua orang
sederajat.
6) Dia pendengar yang baik.
7) Dia selalu antusias dan menaruh minat, terampil mengajukan
pertanyaan dn membagi pertanyaan.
8) Dia memulai rapat tepat waktu, menjelaskan maksud dan tujuan
dengan semangat dan membuat diskusi hidup, mampu menentukan
kapan rapat selesai.
3. Cara menyiapkan model media advokasi.
1) Media advokasi dapat dibuat sederhana, berupa tulisan, ilustrasi, tetapi
dapat juga dibuat canggih.
2) Inti pembicaraan harus jelas dan tidak terlalu banyak informasi.
3) Jika meminta sumbangan/bantuan sebutkan kgunaannya dan berupa
apa (fikiran,tenaga atau dana).
4) Tunjukkan aspek manuasiawi sehingga yang baca mau berbuat.
5) Desain harus bagus termasuk ukuran, gambar,/ilustrasi, huruf jika
menyajikan data ilmiah sajikan dengan bahasa sederhana,mantap dan
efektif.
6) Cantumkan logo.
7) Distribusikan media.
3.3. Strategi Bina Suasana
3.3.1. Pengertian Bina Suasana
Bina suasana adalah menjalin kemitraan untuk pembentukan opini
publik dengan berbagai kelompok opini yang ada di masyarakat, seperti :
tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga swadaya masyarakat, dunia
usaha/swasta, media massa, organisasi profesi, pemerintah dan lain-lain.

3.3.2. Tujuan
Diperolehnya berbagai pencipta opini yang ada di masyarakat
ehingga dapat menciptakan opini publik yang jujur, terbuka sesuai dengan
norma situasi, kondisi masyarakat yang mendukung tercapainya PHBS
disemua tatanan.

3.3.3. Luaran (Hasil yang diharapkan):


1. Terciptanya opini, etika, norma dan kondisi masyarakat yang ber PHBS
2. Terciptanya dukungan kebijakan, fatwa, peraturan pemerintah,
peraturan daerah, surat keputusan, sumberdaya untuk PHBS

3.3.4. Sasaran
Sasaran bina suasana terbagi atas :
1. Sasaran individu
a. Anggota legislatif (Lembaga Perwakilan Rakyat)
b. Anggota Eksekutif (Lembaga Pemerintah)
c. Anggota Yudikatif (Lembaga Peradilan/Hukum)
d. Tokoh masyarakat, Tokoh adat
e. Tokoh Agama
f. Petugas
g. Kader

2. Sasaran kelompok-
a. Organisasi massa (organisasi pemuda, organisasi wanta,
organisasi agama, dan lain-lain)
b. Oganisasi profesi, dunia usaha/swasta
c. Kelompok peduli kesehatan
3. Sasaran massa/publik
Masyarakat yang bisa dijangkau melalui media massa (cetak dan
elektronik) seperti koran/majalah, radio dan TV baik pemerintah maupun
swasta serta media tradisional.

3.3.5. Metode Bina Suasana.


Metode bina suasana dapat berupa :
- Pelatihan
- Semiloka
- Konferensi pers
- Dialog terbuka
- Sarasehan
- Penyuluhan
- Pendidikan
- Lokakarya mini
- Pertunjukkan tradisional
- Diskusi meja bundar
- Pertemuan berkala di desa
- Kunjungan lapangan
- Studi banding

3.3.6. Langkah-langkah Kegiatan Bina suasana.


1. Persiapan
Identifikasi sasaran dalam upaya bina suasana dapat disebut
sebagai “mitra” kita harus dapat menentukan apakah daftar
sasaranyang kita miliki memenuhi syarat untuk menjadi mitra. Cara
untuk mengenal dan memilih mitr dikenal dengan “5c” yaitu :
a) Competent (kompetensi)
 Apakah organisasi itu memiliki staf teknik dan manajemen yang
kuat?
 Bila dibutuhkan tambah staf, apakah organisasi itu memiliki aliran
dana dan cadangan dana yang cukup, sistem akuntasi, bank
account dan pengauditan teratur?
 Apakah telah memiliki pengalaman dalam kegiatan yang sama?
 Apakah organisasi tersebut memiliki citra positif dan raputasi
untuk ketinggian mutu kerja?
b) Commitment (komitmen)
 Apakah organisasi tersebut mendukung promkes?
 Dapatkah mendukung dan berperan kuat dalam promkes?
c) Clout (relasi)
 Apakah organisasi tersebut memiliki kotak atau akses ke
pembuat-pembuat kebijakan dan para tokoh yang berpengaruh
di masyarakat?
 Apakah organisasi itu mendapat dukungan politis dalam
kegiatannya?
d) Coverage (jangkauan)
Apakah organisasi tersebut mampu menjangkau sasaran yang telah
ditetapkan, diberbagai wilayah, berbagai segmen seperti
demografi,psikografi dan sosial ekonomi.
e) Continuity (kesinambungan)
 Sudah berapa lamakah organisasi ini melakukan kegiatan?
 Sudah pernahkah menangani kegiatan yang serupa?
 Apakah memiliki dasar kelembagaan dan sumberdaya untuk
jangka panjang?
 Menyiapkan paket informasi (information kit) seperti
brosur,poster dan lain-lain
 Metode atau cara yang dapat dilakukan
 Waktu dan tempat
 Menyiapkan instrumen monitoring dan evaluasi

3.3.7. Pelaksanaan Kegiatan.


Pelaksanaan kegiatan bina suasana mencangkup lomponen:
 Ada forum komunikasi dan dokumentasi kegiatan.
 Penyajian data yang selalu “up to date” atau terbaru.
 Mengikuti kebutuhan masyarakat yang selalu berkembang.
 Menjalin hubungan yang serasi dan dinamis serta memegang prinsip-
prinsip kemitraan.
 Menggalang sumber-sumber dana dan potensi yang ada dari masing-
masing mitra

3.3.8. Pemantauan dan Penilaian


Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan bina
suasana dilakukan dengan benar dan menghasilkan sasaran yang
diharapkan (POA) dengan menggunakan instrumen emantauan dan
penilaian dngan melihat luaran dalam bentuk opini, etika, norma-norma
atau kondisi yang ada di masyarakat. Kalau sudah ada, berarti kegiatan
bina suasana dapat dikatakan berhasil, begitupun sebaliknya.

3.3.9. Indikator Keberhasilan


a) Ada peningkatan jumlah kegiatan dan jaringan kemitraan.
b) Ada forum komunikasi.
c) Ada dokumentasi kegiatan.
d) Ada kesepakatan lisan dan tulisan.
e) Ada opini publik

3.3.10 Langkah-langkah Melaksanakan Bina Suasana serta Hasil yang


diharapkan.
LANGKAH KEGIATAN HASIL YANG DIHARAPKAN
1. Identifikasi mitra pertemuan -lingkup & cara kerja
-spesifikasi kerja
-kemampuan
2. Pengelompokka pertemuan -komitmen
n mitra kerja -rencana kegiatan
3. Setiap mitra Forum Tercipta tujuan bina suasana
melaksanakan komunikasi
upaya yang
berkaitan
dengan
kesehatan
sesuai bidang
kegiatan
masing-masing
4. Monitoring dan -Pertemuan Terpeliharanya opini, norma
evaluasi -Kunjunga etika dan kondisi yang baik
Lapangan dalam masyarakat.
-semilokal

3.3.11. Contoh Kegiatan Bina Suasana.


1) Adanya foum bersama antara departemen kesehatan RI dengan forum
kumunikasi LSM AIDS se Jabodetabek (FKLOPA)
2) Adanya bantuan pengadaan jamban dari tim penggerak PKK
kabupaten tanggerang dalam rangka mendukung program PHBS di
tatanan rumah tangga
3) Adanya peraturan dilarang merokok bagi seluruh gedung perkotaan
pemerintah
4) Pertemuan dengan tokoh-tokoh agama (MUI,PGIPHDI,WALUBI)
untuk menyebarluaskan pentingnya PHBS bagi umat pada acara-
acara keagamaan (khotbah jumat,hari minggu dan lain-lain)
5) Pertemuan dengan tokoh-tokoh agama islam untuk memberi contoh
PHBS dan GJB (Gerakan Jumat Bersih)

3.4. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Promosi Kesehatan


Pemberdayaan adalah pemberian informasi dan pendampingan dalam
mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan, guna membantu individu,
keluarga atau kelompok-kelompok masyarakat menjalani tahap-tahap tahu, mau
dan mampu mempraktikkan PHBS. Dalam upaya promosi kesehatan,
pemberdayaan masyarakat merupakan bagian yang sangat penting dan bahkan
dapat dikatakan sebagai ujung tombak. Pemberdayaan adalah proses pemberian
informasi kepada individu, keluarga atau kelompok (klien) secara terus-menerus
dan berkesinambungan mengikuti perkembangan klien, serta proses membantu
klien, agar klien tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek
knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude) dan dari mau menjadi mampu
melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice) (Notoatmodjo, 2005).
Pembangunan seperti realita pada umumnya menjadi self projected reality
yang kemudian menjadi acuan dalam proses pembangunan, sehingga sering kali
menjadi semacam ideology of developmentalism (Tjokrowinoto, 1996 cit. Soetomo,
2006). Elemen penting yang ditekankan pada teori ini ialah partisipasi (participation)
dan pemberdayaan (empowerment) (Dudley, 1979 cit. Mardikanto, 2010). Freira
(cit. Hubley, 2002) mengatakan bahwa pemberdayaan adalah suatu proses dinamis
yang dimulai dari ketika masyarakat langsung belajar dari tindakan.
Meskipun masyarakat umumnya didefinisikan sebagai sekelompok orang
yang tinggal di lokasi yang sama dan di bawah pemerintahan yang sama, namun
definisi kerja pemberdayaan berfokus pada dimensi tindakan kolektif yaitu
masyarakat sebagai sebuah kelompok yang berbagi kepentingan bersama,
sehingga anggotanya termotivasi untuk terlibat dalam aksi kolektif (Brinkerhoff dan
Azfar, 2006). Ife (2002) bahwa pemberdayaan masyarakat setidaknya
membutuhkan enam tahapan yang perlu dilalui untuk mewujudkan change from
below,yaitu; 1) pemilahan antara proses dan hasil, 2) pentingnya pengintegrasian
proses, 3) peningkatan kesadaran, 4) partisipasi sebagai bagian dari demokrasi, 5)
membangun kerja sama, dan 6) community building.
Hubley (2002) mengatakan bahwa pemberdayaan kesehatan (health
empowerment), sadar kesehatan (health literacy), dan promosi kesehatan (health
promotion) diletakkan dalam kerangka pendekatan yang komprehensif. Sebagai
suatu proses yang komprehensif, Labonte dan Laverack (2008) mengatakan,
pemberdayaan masyarakat melibatkan beberapa komponen, yaitu pemberdayaan
personal, pengembangan kelompok kecil, pengorganisasian masyarakat,
kemitraan, aksi sosial, dan politik. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat
mempunyai spektrum yang cukup luas.
Barr (1995) menyarankan agar program pemberdayaan sebaiknya
difokuskan pada sebagian kecil masyarakat dan dimulai dari kebutuhan nyata di
masyarakat agar berjalan secara maksimal. Kelompok masyarakat yang tumbuh
dari masyarakat itu sendiri adalah fasilitas yang paling efektif untuk upaya
pemberdayaan masyarakat. Tersedianya dan efektivitas kelembagaan akan sangat
berpengaruh terhadap pemberdayaan (Mardikanto, 2010). Wallerstein dan
Sanchez-Merki (1994) mengusulkan kolaborasi pemberdayaan, sebab ditinjau dari
konsep promosi kesehatan, pemberdayaan dan pembangunan mendorong
peningkatan kapasitas masyarakat.
Beberapa tonggak pencapaian perkembangan adopsi pemberdayaan ke
dalam konsep promosi kesehatan antara lain: Wallerstein (1992) menyatakan
bahwa pendidikan pemberdayaan masyarakat diadopsi untuk meningkatkan
efektivitas pendidikan kesehatan, efektivitas program, dan menjaga kelestarian
(sustainability) program. Selanjutnya, Nutbeam (1998) mengatakan bahwa
pemberdayaan adalah inti dari promosi kesehatan.
Pemberdayaan masyarakat dapat dilaksanakan dengan mengikuti langkah-
langkah sebagai berikut: (a) merancang keseluruhan program; (b) menetapkan
tujuan yang ditetapkan pada tahap perencanaan; (c) memilih strategi
pemberdayaan; (d) implementasi strategi dan manajemen, dilakukan dengan cara:
meningkatkan peran serta pemangku kepentingan (stakeholder), menumbuhkan
kemampuan pengenalan masalah, mengembangkan kepemimpinan lokal,
membangun keberdayaan struktur organisasi, meningkatkan mobilisasi sumber
daya, meningkatkan kontrol stakeholder atas manajemen program, dan membuat
hubungan yang sepadan dengan pihak luar; (e) evaluasi program, dan (f)
perencanaan tidak lanjut (Sumaryadi, 2005).
WHO dalam Depkes RI (2006) mendefinisikan promosi kesehatan sebagai
proses pemberdayaan individu dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan
mereka mengendalikan determinan-determinan kesehatan, sehingga dapat
meningkatkan derajat kesehatan mereka. Promosi kesehatan merupakan upaya
untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran dari,
oleh, untuk, dan bersama masyarakat agar mereka dapat menolong dirinya sendiri
serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan
kondisi sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang
berwawasan kesehatan (Depkes RI, 2006). Menolong diri sendiri artinya
masyarakat mampu menghadapi masalah-masalah potensial (yang mengancam)
dengan cara mencegahnya dan mengatasi masalah-masalah kesehatan yang
sudah terjadi dengan menanganinya secara efektif dan efisien (Hartono, 2010).
Berkaitan dengan pemberdayaan yang mendorong masyarakat mandiri,
Clark (2002) menyebutkan bahwa suatu masyarakat dapat disebut mandiri secara
kesehatan jika memiliki beberapa kemampuan, yaitu; 1) mengenali masalah
kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan, 2) mengatasi
masalah kesehatan secara mandiri dengan menggali potensi yang ada, 3)
memelihara dan melindungi diri mereka dari berbagai ancaman kesehatan dengan
melakukan tindakan pencegahan, dan 4) meningkatkan kesehatan secara dinamis
dan terus-menerus melalui berbagai macam kegiatan seperti kelompok kebugaran,
olahraga, konsultasi dan sebagainya.
Bentuk kegiatan pemberdayaan ini dapat diwujudkan dengan berbagai
kegiatan, antara lain: penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan
pengembangan masyarakat dalam bentuk misalnya: koperasi, pelatihan-pelatihan
untuk kemampuan peningkatan pendapatan keluarga (income gener¬ating skill).
Dengan meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga akan berdampak
terhadap kemampuan dalam peme¬liharan kesehatan mereka, misalnya:
terbentuknya dana sehat, terbentuknya pos obat desa, berdirinya polindes, dan
sebagainya.
Kegiatan-kegiatan semacam ini di masyarakat sering disebut "gerakan
masyarakat" untuk kesehatan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa
sasaran pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat (sasaran primer).

3.4.1. Tujuan Pemberdayaan Masyarakat


Pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk
menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam
mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi, dan meningkatkan
kesejahteraan mereka sendiri (Notoatmodjo, 2007). Batasan pemberdayaan
dalam bidang kesehatan meliputi upaya untuk menumbuhkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan
sehingga secara bertahap tujuan pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk:
1. Menumbuhkan kesadaran, pengetahuan, dan pemahaman akan kesehatan
individu, kelompok, dan masyarakat.
2. · Menimbulkan kemauan yang merupakan kecenderungan untuk melakukan
suatu tindakan atau sikap untuk meningkatkan kesehatan mereka.
3. · Menimbulkan kemampuan masyarakat untuk mendukung terwujudnya
tindakan atau perilaku sehat.
4. Suatu masyarakat dikatakan mandiri dalam bidang kesehatan apabila:
1) Mereka mampu mengenali masalah kesehatan dan faktor-faktor yang
mempengaruhi masalah kesehatan terutama di lingkungan tempat
tinggal mereka sendiri. Pengetahuan tersebut meliputi pengetahuan
tentang penyakit, gizi dan makanan, perumahan dan sanitasi, serta
bahaya merokok dan zat-zat yang menimbulkan gangguan kesehatan.
2) Mereka mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri dengan
menggali potensi-potensi masyarakat setempat.
3) Mampu memelihara dan melindungi diri mereka dari berbagai ancaman
kesehatan dengan melakukan tindakan pencegahan.
4) Mampu meningkatkan kesehatan secara dinamis dan terus-menerus
melalui berbagai macam kegiatan seperti kelompok kebugaran,
olahraga, konsultasi dan sebagainya.

3.4.2. Prinsip pemberdayaan masyarakat


1) Menumbuhkembangkan potensi masyarakat.
2) Mengembangkan gotong-royong masyarakat.
3) Menggali kontribusi masyarakat.
4) Menjalin kemitraan.
5) Desentralisasi.

3.4.3. Indikator hasil pemberdayaan masyarakat


1) Input, meliputi SDM, dana, bahan-bahan, dan alat-alat yang mendukung
kegiatan pemberdayaan masyarakat.
2) Proses, meliputi jumlah penyuluhan yang dilaksanakan, frekuensi pelatihan
yang dilaksanakan, jumlah tokoh masyarakat yang terlibat, dan pertemuan-
pertemuan yang dilaksanakan.
3) Output, meliputi jumlah dan jenis usaha kesehatan yang bersumber daya
masyarakat, jumlah masyarakat yang telah meningkatkan pengetahuan dan
perilakunya tentang kesehatan, jumlah anggota keluarga yang memiliki
usaha meningkatkan pendapatan keluarga, dan meningkatnya fasilitas
umum di masyarakat.
4) Outcome dari pemberdayaan masyarakat mempunyai kontribusi dalam
menurunkan angka kesakitan, angka kematian, dan angka kelahiran serta
meningkatkan status gizi masyarakat.

3.5. Kemitraan
3.5.1. Teori Kemitraan
Secara teoritis, Eisler dan Montuori (1997) membuat pernyataan yang
menarik yang berbunyi bahwa “memulai dengan mengakui dan memahami
kemitraan pada diri sendiri dan orang lain, dan menemukan alternatif yang
kreatif bagi pemikiran dan perilaku dominator merupakan langkah pertama
ke arah membangun sebuah organisasi kemitraan.” Dewasa ini, gaya-gaya
seperti perintah dan kontrol kurang dipercaya. Di dunia baru ini, yang
dibicarakan orang adalah tentang karyawan yang “berdaya”, yang proaktif,
karyawan yang berpengetahuan yang menambah nilai dengan menjadi agen
perubahan.
Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong
royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun
kelompok. Menurut Notoatmodjo (2003), kemitraan adalah suatu kerja sama
formal antara individuindividu, kelompok-kelompok atau organisasi-
organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Ada berbagai
pengertian kemitraan secara umum (Promkes Depkes RI) meliputi:
a. kemitraan mengandung pengertian adanya interaksi dan interelasi
minimal antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak
merupakan ”mitra” atau ”partner”.
b. Kemitraan adalah proses pencarian/perwujudan bentuk-bentuk
kebersamaan yang saling menguntungkan dan saling mendidik secara
sukarela untuk mencapai kepentingan bersama.
c. Kemitraan adalah upaya melibatkan berbagai komponen baik sektor,
kelompok masyarakat, lembaga pemerintah atau non-pemerintah untuk
bekerja sama mencapai tujuan bersama berdasarkan atas kesepakatan,
prinsip, dan peran masing-masing.
d. Kemitraan adalah suatu kesepakatan dimana seseorang, kelompok atau
organisasi untuk bekerjasama mencapai tujuan, mengambil dan
melaksanakan serta membagi tugas, menanggung bersama baik yang
berupa resiko maupun keuntungan, meninjau ulang hubungan masing-
masing secara teratur dan memperbaiki kembali kesepakatan bila
diperlukan. (Ditjen P2L & PM, 2004)
3.5.2. Prinsip Kemitraan
Terdapat 3 prinsip kunci yang perlu dipahami dalam membangun
suatu kemitraan oleh masing-masing naggota kemitraan yaitu:
a. Prinsip Kesetaraan (Equity)
Individu, organisasi atau institusi yang telah bersedia menjalin kemitraan
harus merasa sama atau sejajar kedudukannya dengan yang lain dalam
mencapai tujuan yang disepakati.
b. Prinsip Keterbukaan
Keterbukaan terhadap kekurangan atau kelemahan masing-masing
anggota serta berbagai sumber daya yang dimiliki. Semua itu harus
diketahui oleh anggota lain. Keterbukaan ada sejak awal dijalinnya
kemitraan sampai berakhirnya kegiatan. Dengan saling keterbukaan ini
akan menimbulkan saling melengkapi dan saling membantu diantara
golongan (mitra).
c. Prinsip Azas manfaat bersama (mutual benefit)
Individu, organisasi atau institusi yang telah menjalin kemitraan
memperoleh manfaat dari kemitraan yang terjalin sesuai dengan
kontribusi masing-masing. Kegiatan atau pekerjaan akan menjadi efisien
dan efektif bila dilakukan bersama.

3.5.3. Model-model Kemitraan dan Jenis Kemitraan


Secara umum, model kemitraan dalam sektor kesehatan
dikelompokkan menjadi dua (Notoadmodjo, 2003) yaitu:
a. Model I
Model kemitraan yang paling sederhana adalah dalam bentuk jaring
kerja (networking) atau building linkages. Kemitraan ini berbentuk
jaringan kerja saja. Masing-masing mitra memiliki program tersendiri
mulai dari perencanaannya, pelaksanaannya hingga evalusi. Jaringan
tersebut terbentuk karena adanya persamaan pelayanan atau sasaran
pelayanan atau karakteristik lainnya.
b. Model II
Kemitraan model II ini lebih baik dan solid dibandingkan model I. Hal
ini karena setiap mitra memiliki tanggung jawab yang lebih besar
terhadap program bersama. Visi, misi, dan kegiatan-kegiatan dalam
mencapai tujuan kemitraan direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi
bersama.

Menurut Beryl Levinger dan Jean Mulroy (2004), ada empat jenis atau
tipe kemitraan yaitu:
a. Potential Partnership
Pada jenis kemitraan ini pelaku kemitraan saling peduli satu sama lain
tetapi belum bekerja bersama secara lebih dekat.
b. Nascent Partnership
Kemitraan ini pelaku kemitraan adalah partner tetapi efisiensi kemitraan
tidak maksimal
c. Complementary Partnership
Pada kemitraan ini, partner/mitra mendapat keuntungan dan
pertambahan pengaruh melalui perhatian yang besar pada ruang lingkup
aktivitas yang tetap dan relatif terbatas seperti program delivery dan
resource mobilization.
d. Synergistic Partnership
Kemitraan jenis ini memberikan mitra keuntungan dan pengaruh dengan
masalah pengembangan sistemik melalui penambahan ruang lingkup
aktivitas baru seperti advokasi dan penelitian.
Bentuk-bentuk/tipe kemitraan menurut Pusat Promosi Kesehatan
Departemen Kesehatan RI yaitu terdiri dari aliansi, koalisi, jejaring,
konsorsium, kooperasi dan sponsorship. Bentuk-bentuk kemitraan tersebut
dapat tertuang dalam:
a. SK bersama
b. MOU
c. Pokja
d. Forum Komunikasi
e. Kontrak Kerja/perjanjian kerja

3.5.4. Langkah-langkah Kemitraan


Kemitraan memberikan nilai tambah kekuatan kepada masing-masing
sektor untuk melaksanakan visi dan misinya. Namun kemitraan juga
merupakan suatu pendekatan yang memerlukan persyaratan, untuk itu
diperlukan langkah langkah tahapan sebagai berikut:
1. Pengenalan masalah
2. Seleksi masalah
3. Melakukan identifikasi calon mitra dan pelaku potensial melalui
suratmenyurat, telepon, kirim brosur, rencana kegiatan, visi, misi,
AD/ART.
4. Melakukan identifikasi peran mitra/jaringan kerjasama antar sesama
mitra dalam upaya mencapai tujuan, melalui: diskusi, forum pertemuan,
kunjungan kedua belah pihak, dll
5. Menumbuhkan kesepakatan yang menyangkut bentuk kemitraan, tujuan
dan tanggung jawab, penetapan rumusan kegiatan memadukan
sumberdaya yang tersedia di masing-masing mitra kerja, dll. Kalau ini
sudah ditetapkan, maka setiap pihak terbuka kesempatan untuk
melaksanakan berbagai kegiatan yang lebih bervariasi sepanjang masih
dalam lingkup kesepakatan.
6. Menyusun rencana kerja: pembuatan POA penyusunan rencana kerja
dan jadwal kegiatan, pengaturan peran, tugas dan tanggung jawab
7. Melaksanakan kegiatan terpadu: menerapkan kegiatan sesuai yang telah
disepakati bersama melalui kegiatan, bantuan teknis, laporan berkala, dll.
8. Pemantauan dan evaluasi

3.5.5. Konflik dalam Kemitraan


Beberapa literatur menyebutkan makna konflik sebagai suatu
perbedaan pendapat di antara dua atau lebih anggota atau kelompok dan
organisasi, yang muncul dari kenyataan bahwa mereka harus membagi
sumber daya yang langka atau aktivitas kerja dan mereka mempunyai status,
tujuan, nilai, atau pandangan yang berbeda, dimana masing-masing pihak
berupaya untuk memenangkan kepentingan atau pandangannya.
Sedangkan menurut Brown (1998), konflik merupakan bentuk interaksi
perbedaan kepentingan, persepsi, dan pilihan. Wujudnya bisa berupa
ketidaksetujuan kecil sampai ke perkelahian (Purnama, 2000).
Konflik dalam organisasi biasanya terbentuk dari rangkaian
konflikkonflik sebelumnya. Konflik kecil yang muncul dan diabaikan oleh
manajemen merupakan potensi munculnya konflik yang lebih besar dan
melibatkan kelompok-kelompok dalam organisasi. Umstot (1984)
menyatakan bahwa proses konflik sebagai sebuah siklus yang melibatkan
elemen-elemen : 1) elemen isu , 2) perilaku sebagai respon dari isu-isu yang
muncul, 3) akibat-akibat, dan 4) peristiwa-peristiwa pemicu. Faktor-faktor
yang bisa mendorong konflik adalah:
1) perubahan lingkungan eksternal,
2) perubahan ukuran perusahaan sebagai akibat tuntutan persaingan,
3) perkembangan teknologi,
4) pencapaian tujuan organisasi, dan
5) struktur organisasi.

Menurut Myer dalam Purnama (2000), terdapat tiga bentuk konflik


dalam organisasi, yaitu :
1) Konflik pribadi, merupakan konflik yang terjadi dalam diri setiap individu
karena pertentangan antara apa yang menjadi harapan dan keinginannya
dengan apa yang dia hadapi atau dia perolah,
2) Konflik antar pribadi, merupakan konflik yang terjadi antara individu yang
satu dengan individu yang lain, dan
3) Konflik organisasi, merupakan konflik perilaku antara kelompok-kelompok
dalam organisasi dimana anggota kelompok menunjukkan “keakuan
kelompoknya” dan membandingkan dengan kelompok lain, dan mereka
menganggap bahwa kelompok lain menghalangi pencapaian tujuan atau
harapan-harapannya

Pengertian
Undang-undang Kesehatan No.23 Tahun 1992 memberikan batasan: Kesehatan adalah keadaan
sejahtera badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial
dan ekonomi. Kesehatan adalah keadaan sempurna baik fisik, mental, maupun sosail dan tidak
hanya bebas dari penyakit dan cacat.Kesehatan itu hanya mencangkup tiga aspek, yakni: fisik,
mental, dan sosial, tetapi menurut UU No.23/1992, kesehatan itu mencangkup 4 aspek yakni fisik
(badan), mental (jiwa), sosial dan ekonomi.
Hal ini berarti kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental, dan sosial, tapi
juga diukur dari produktifitasnya dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan secara
ekonomi. Misalnya sekolah atau kuliah bagi anak remaja, dan kegiatan pelayanan sosial bagi usila.
Kesehatan itu bersifat holistic atau menyeluruh.
B. Upaya Kesehatan
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan menigkatkan kesehatan yang
dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Pemeliharaan kesehatan mencakup dua aspek,
yakni: kuratif (pengobatan penyakit) dan rehabilitative (pemulihan kesehatan setelah sembuh dari
sakit atau cacat). Sedang peningkatan kesehatan mencakup dua aspek, yakni: preventif
(pencegahan penyakit) dan promotif ( peningkatan kesehatan itu sendiri).
Upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan, pada umunya dibedakan menjadi tiga yaitu:
1. Sarana pemeliharaan kesehatan primer (primary care) : bagi kasus atau
penyakit ringan
2. Sarana pemeliharan kesehatan tingkat dua (secondary care) : rujukan bagi
kasus-kasus atau penyakit dari primer
3. Sarana pemeliharan kesehatan tingkat tiga (tertary care) : rujukan bagi
kasus-kasus atau penyakit yang sudah tidak bisa ditangani pada sarana
primer dan pelayanan kesehatan sekunder.
C. Kesehatan Masyarakat
Secara umum kesehatan di bagi menjadi dua, yakni kesehatan individu dan kesehatan agregat
(kumpulan individu) atau kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat (public health) adalah
ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan melalui
usaha-usaha pengorganisasian masyarakat untuk:
1. Perbaikan sanitasi lingkungan
2. Pemberantasan penyakit-penyakit menular
3. Pendidikan untuk kebersihan perorangan
4. Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan
5. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang
layak dalam memelihara kesehatannya
Dari batasan ini dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya
berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan
sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat. Dilihat dari
ruang lingkup atau bidang garapannya, kesehatan masyarakat tersebut mencakup:
kesehatan/sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit menular, yang tidak lepas dari
epidemiologi, pendidikan kesehatan, manajemen pelayanan kesehatan, dan sebagainya.
D. Dasar Pendidikan dalam Kesehatan Masyarakat
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kesehatan :
1. Faktor internal terdiri dari :
a. Faktor fisik
b. Factor psikis
2. Faktor eksternal terdiri dari berbagai faktor antara lain sosial, budaya
masyarakat, lingkungan fisik, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya.
Berdasarkan urutan besarnya (pengaruh) terhadap kesehatan tersebut adalah sebagai
berikut:
1. Lingkungan, yang mencakup lingkungan fisik, sosil, budaya, politik, ekonomi, dan
sebagainya
2. Perilaku
3. Pelayanan kesehatan
4. Hereditas (keturunan)

BAB II
KONSEP PENDIDIKAN
(Promosi Kesehatan)
A. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku
Perilaku merupakan factor terbesar kedua setelah factor lingkungan yang mempengaruhi
kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat (Blum:1974). Masing-masing upaya tersebut
memiliki kelebihan dan kekurangannya. Kedua upaya tersebut dilakukan melalui:
1. Tekanan (enforcement)
Upaya agar masyarakat mengubah perilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan
dengan cara-cara tekanan, paksaan atau koersi(coertion). Pendekatan atau cara ini
biasanya menimbulkan dampak yang lebih cepat terhadap perubahan perilaku.
2. Edukasi (education)
Upaya agar masyarakat berprilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara
persuasi, bujukan, himbauan, ajakan, memberikan informasi, memberikan kesadaran,
dan sebagainya melalui kegiatan yang disebut pendidikan atau penyuluhan kesehatan
B. Batasan Pendidikan Kesehatan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain,
baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharap kan oleh
pelaku pendidikan. Dari batasan ini tersirat unsur-unsur pendidikan yakni:
1. Input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat), dan pendidik
(pelaku pendidik)
2. Proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain)
3. Output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).
Sedangkan pendidikan kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan didalam
bidang kesehatan.
C. Pendidikan Kesehatan atau Promosi Kesehatan
Pendidikan kesehatan sebagai besar atau cabang dari ilmu kesehatan, juga mempunyai dua sisi,
yakni sisi ilmu dan seni. Dari penelitian-penelitian yang ada terungkap, meskipun kesadaran dan
pengetahuan masyarakat sudah tinggi tentang kesehatan, namun praktek (practice) tentang
kesehatan atau perilaku hidup sehat masyarakat masih rendah.
Prinsip Pendidikan Kesehatan
1. Pendidikan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas, tetapi merupakan kumpulan pengalaman
dimana saja dan kapan saja sepanjang dapat mempengaruhi pengetahuan sikap dan kebiasaan
sasaran pendidikan.
2. Pendidikan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang kepada orang lain,
karena pada akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan tingkah
lakunya sendiri.
3. Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran agar individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah lakunya sendiri.
4. Pendidikan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan (individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat)sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan.
Ruang lingkup pendidikan kesehatan masyarakat
Ruang lingkup pendidikan kesehatan masyarakat dapat dilihat dari 3 dimensi :
1. Dimensi sasaran
a. Pendidikan kesehatan individu dengan sasaran individu
b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok masyarakat tertentu.
c. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.
2. Dimensi tempat pelaksanaan
a. Pendidikan kesehatan di rumah sakit dengan sasaran pasien dan keluarga
b. Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran pelajar.
c. Pendidikan kesehatan di masyarakat atau tempat kerja dengan sasaran masyarakat atau
pekerja.
3. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan
a. Pendidikan kesehatan promosi kesehatan (Health Promotion), misal : peningkatan gizi,
perbaikan sanitasi lingkungan, gaya hidup dan sebagainya.
b. Pendidikan kesehatan untuk perlindungan khusus (Specific Protection) misal :
imunisasi
c. Pendidikan kesehatan untuk diagnosis dini dan pengobatan tepat (Early diagnostic and
prompt treatment) misal : dengan pengobatan layak dan sempurna dapat menghindari
dari resiko kecacatan.
d. Pendidikan kesehatan untuk rehabilitasi (Rehabilitation) misal : dengan memulihkan
kondisi cacat melalui latihan-latihan tertentu.
Konsep perilaku
Skinner (1938), seorang ahli perilaku mengemukakan bahwa perilaku adalah merupakan
hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan (respons). Ia membagi respons
menjadi 2 :
a. Respondent respons/reflexive respons, ialah respons yang ditimbulkan oleh
rangsangan tertentu. Perangsangan semacam ini disebut elicting stimuli, karena
menimbulkan respons-respons yang relatif tetap, misalnya : makanan lezat
menimbulkan keluarnya air liur, cahaya yang kuat akan menimbulkan mata tertutup,
dll. Respondent respons (respondent behavior) ini mencakup juga emosi respons
atauemotional behavior. Emotional respons ini timbul karena hal yang kurang
mengenakkan organisme yang bersangkutan. Misalnya menangis karena sedih/sakit,
muka merah (tekanan darah meningkat karena marah). Sebaliknya hal-hal yang
mengenakkan pun dapat menimbulkan perilaku emosional misalnya tertawa,
berjingkat-jingkat karena senang, dll.
b. Operant Respons atau instrumental respons, adalah respons yang timbul dan
berkembang diikuti oleh perangsangan tertentu. Perangsang semacam ini
disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, karena perangsangan-perangsangan
tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme. Oleh karena itu,
perangsang yang demikian itu mengikuti atau memperkuat sesuatu perilaku tertentu
yang telah dilakukan. Contoh : Apabila seorang anak belajar atau telah melakukan
suatu perbuatan, kemudian memperoleh hadiah, maka ia akan menjadi lebih giat belajar
atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain, responsnya
akan lebih intensif atau lebih kuat lagi.
Perilaku kesehatan
Yaitu suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit
dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Perilaku kesehatan
mencakup 4 (empat) :
a. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia merespons,
baik pasif (mengetahui, mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya
maupun di luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan
penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan penyakit ini dengan sendirinya
sesuai dengan tingkatan-tingkatan pencegahan penyakit, misalnya : perilaku
pencegahan penyakit (health prevention behavior), adalah respons untuk melakukan
pencegahan penyakit, misalnya : tidur dengan kelambu untuk mencegah gigitan
nyamuk malaria, imunisasi,dll. Persepsi adalah sebagai pengalaman yang dihasilkan
melalui panca indra.
b. Perilaku terhadap pelayanan kesehatan, baik pelayanan kesehatan tradisional maupun
modern. Perilaku ini mencakup respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan,
petugas kesehatan, dan obat-obatan, yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap
dan pengguanaan fasilitas, petugas dan obat-obatan.
c. Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior), yakni respons seseorang terhadap
makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan, meliputi pengetahuan, persepsi,
sikap dan praktek kita terhadap makanan serta unsur-unsur yang terkandung di
dalamnya/zat gizi, pengelolaan makanan, dll.
d. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environmental health behavior) adalah
respons seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia.
Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri (dengan air bersih,
pembuangan air kotor, dengan limbah, dengan rumah yang sehat, dengan pembersihan
sarang-sarang nyamuk (vektor), dan sebagainya.
Becker (1979) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan
kesehatan (health behavior)sebagai berikut :
a. Perilaku kesehatan (health behavior), yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan
atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk
juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, memilih
makanan, sanitasi, dan sebagainya.
b. Perilaku sakit (illness behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan
oleh seseorang individu yang merasakan sakit, untuk merasakan merasakan dan
mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit, termasuk kemampuan atau
pengetahuan individu untuk mengidentifikasi penyakit, penyebab penyakit, serta
usaha-usaha mencegah penyakit tersebut.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang
dilakuakan oleh individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan. Perilaku
ini disamping berpengaruh terhadap kesehatan/kesakitannya sendiri, juga berpengaruh
terhadap orang lain, terutama anak-anak yang belum mempunyai kesadaran dan
tanggung jawab terhadap kesehatannya.
3. Bentuk perilaku
Secara lebih operasional, perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang
terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respons berbentuk 2 (dua)
macam :
a. Bentuk pasif adalah respons internal, yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak
secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misal tanggapan atau sikap batin dan
pengetahuan. Misalnya ; seorang ibu tahu bahwa imunisasi itu mencegah suatu
penyakit tertentu, meski ia tak membawa anaknya ke puskesmas, seseorang yang
menganjurkan orang lain untuk ber-KB, meski ia tidak ikut KB. Dari contoh di atas ibu
itu telah tahu guna imunisasi dan orang tersebut punya sikap positif mendukung KB,
meski mereka sendiri belum melakukan secara konkret terhadap kedua hal tersebut.
Oleh sebab itu perilaku mereka ini masih terselubung (covert behavior).
b. Bentuk aktif, yaitu perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Misalnya pada
kedua contoh di atas, si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas untuk imunisasi
dan orang pada kasus kedua sudah ikut KB dalam arti sudah menjadi akseptor KB.
Oleh karena itu perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata, maka
disebut ”overt behavior”.

Peran Pendidikan dalam Kesehatan


Masyarakat
Menurut :
1. Nyswander (1947)
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses perubahan pada diri manusia yang ada
hubungannya dengan tercapainya tujuan kesehatan perorangan dan masyarakat
2. Grout (1958)
Mengatakan bahwa Pendidikan Kesehatan adalah upaya mengartikan apa yang telah
diketahui tentang kesehatan ke dalam perilaku yang diinginkan dari perorangan dan
masyarakat melalui proses pendidikan
3. A Joint Committee On Terminology In Health Education Of United States (1951)
Mendefinisikan pendidikan kesehatan adalah suatu proses penyediaan bahwa
pendidikan adalah pengalaman belajar yang bertujuan untuk mempengaruhi
pengetahuan, sikap dan perilaku yang ada hubungannya dengan kesehatan
perseorangan ataupun kelompok. Pada tahun 1973 lembaga ini mengubah definisi
menjadi pendidikan kesehatan adalah suatu proses yang mencakup dimensi dan
kegiatan-kegiatan dari intelektual, psikologi, dan sosial yang diperlukan untuk
meningkatkan kemampuan manusia dalam mengambil keputusan secara sadar dan
mempengaruhi kesejahteraan diri, keluarga, dan masyarakat
Contoh Peran Pendidikan dalam Kesehatan Masyarakat :
1. Di Keluarga
Sejak masih kecil kedua orangtu kita telah mendidik kita untuk hidup bersih dan hidup
sehat seperti menjanga kebersihan kamar lingkungan sekitar kita, mencuci tangan
sebelum makan, dan masih banyak lagi. Hal ini dilakukan agar setiap anggota keluarga
terbiasa hidup sehat dan hidup bersih. Dan dapat mengaplikasikan pembelajaran itu ke
lingkungan dan masyarakat sekitar mereka.
Di Sekolah:
Pada umumnya sekolah mendidik siswanya untuk membuang sampah pada
tempatnya, hal itu dilakukan agar setiap siswa terbiasa dengan perilaku tersebut dan
dapat mengaplikasikannya ke lingkungan dan masyarakat sekitar mereka.
Dari dua hal diatas kita dapat menyimpulkan bahwa melalui pendidikan kita dapat
membiasakan suatu kebiasaan hidup bersih bagi diri kita sendiri dan kemudian akan
mempengaruhi lingkungan sekitar masyarakat kita. Sehingga lingkungan dan
masyarakat disekitar kita dapat memelihara kesehatan mereka dan kebersihan
lingkungan mereka guna meningkatkan kesejahteraan dan derajat kesehatan
masyarakat.