Anda di halaman 1dari 6

JUDUL : FERTILITAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS AYAM LOKAL

JIMMY’S FARM CIPANAS KABUPATEN CIANJUR JAWA BARAT

TAHUN : 2016

PENDAHULUAN

Ayam lokal saat ini banyak dimanfaatkan sebagai penghasil daging, namun tidak
sedikit yang menjadikan ayam lokal sebagai penghasil telur untuk memenuhi kebutuhan
protein hewani masyarakat. Salah satu perusahaan yang bergerak pada bidang breeder ayam
lokal adalah Jimmy’s Farm yang berlokasi di daerah Cipanas, Cianjur Jawa Barat.

Jimmy’s Farm melakukan penetasan telur mrnggunakan mesin tetas dengan kapasitas
7.500 - 14.000 telur. Selain dari sex ratio dan perkawinan alami, faktor-faktor yang
menyebabkan fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas adalah dilakukannya perkawinan silang
antara beberapa jenis ayam lokal yang mempunyai fertilitas daya tetas dan bobot tetas tinggi
dari tetua asalnya.

Daya tetas merupakan persentase telur yang menetas dari talur yang fertil atau
bertunas. Daya tetaas adalah angka yang menunjukan tinggi rendahnya kemampuan telur
untuk menetas (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Bobot tetas adalah suatu bobot yang
diperoleh dari hasil penimbangan anak ayam (DOC) yang baru menetas. Berat telur memiliki
korelasi yang positif dengan berat yang ditetaskan. Menurut Rasyaf (1984), seleksi telur tetas
lebih dulu diutamakan pada bobot telur karena karena akan memengaruhi bobot awal DOC,
semakin berat telur tersebut maka DOC yang dihasilkan juga semakin berat.

OBJEK DAN METODE

1. Objek Penelitian
Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah telur tetas yang berasal dari
4 periode penetasan untuk pengamatan fertilitas dan daya tetas, dan 240 DOC ayam
lokal yang dipilih secara acak untuk menghitung bobot badan dipeternakan Jimmy’s
Farm Cipanas Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Mesin yang digunakan adalah jenis
forced draught incubatoryaitu mesin tetas yang pengaturan ventilasi udara
didalamnya di gerakkan oleh kipas. Peternakan Jimmy’s Farm melakukan candling
pada hari ke-10. Mesin settern dengan suhu mesin tetas 36-38º C dan kelembaban 65-
70% mesin hatchery suhu berkisar 36-37ºC, dengan kelembaban 67-80%.

2. Metode
Penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian studi kasus di peternakan
Jimmy’s Farm Cipanas Kabupaten Cianjur Jawa Barat dengan analisis deskriptif
terhadap fertilitas, daya tetas dan bobot DOC pada ayam lokal. Pengambilan sampel
bobot tetas dilakukan secara acak sebanyak 240 ekor DOC untuk ditimbang. Data
fertilitas dan daya tetas didapatkan secara langsung di lapangan yang berasal dari 4
periode penetasan yang dilaksanakan. Data yang telah didapatkan tersebut kemudian
dianalisis secara deskriptif. Analisis yang dilakukan dengan cara menghitung
minimum dan maksimum, nilai rata-rata, standar deviasi, koefisien variasi dan
pendugaan parameter.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Keadaan Umum
Perusahaan peternakan ayam lokal Jimmy’s Farm terletak di desa Gadog,
Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Peternakan Jimmy’s Farm
memelihara ayam lokal secara intensif. Kandang yang digunakan sistem terbuka
(open house). Berdasarkan fase pemeliharaan yang diterapkan, kandang yang
digunakan adalah sistem pemeliharaan ayam mulai dari awal periode starter sampai
akhir periode layer yang dipelihara dengan sistem brood-grow-lay.
Pengambilan telur dilakukan sebanyak 4 kali dalam sehari di dalam sangkar
telur tanpa adanya floor egg atau bertelur di atas litter. Telur yang telah diambil
langsung dimasukan kedalam cooling room dengan suhu 18-22ºC dan kelembaban
75-80% agar menjaga embrio tidak langsung berkembang atau yang disebut dengan
fase dorman. Sebelum telur tetas dimasukkan ke dalam mesin tetas, dan selalu
melakukan seleksi dan pembersihan terlebih dahulu dengan menggunakan lap kain.
Seleksi yang dilakukan salah satunya bobot telur yang akan di tetaskan harus lebih
dari 36 gram. Mesin yang digunakan adalah jenis forced draught incubator yaitu
mesin tetas yang pengaturan ventilasi udara didalamnya di gerakkan oleh kipas.
2. Fertilitas, Daya Tetas dan Bobot Tetas
Tabel 1. Rataan Fertilitas, Daya Tetas dan Bobot Tetas Ayam Lokal Jimmy’s Farm

Parameter Rata-rata Koevisien Variasi Pendugaan


Parameter
Fertilitas (%) 96,15±0,55 0,58 95,275 ≤ μ ≤
97,025
Daya Tetas (%) 75,27±4,67 6,20 69,776 ≤ μ ≤
80,764
Bobot Tetas (gram) 34,17±3,62 10,58 33,712 ≤ μ ≤
34,628

a. Fertilitas
Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa rata-rata persentase fertilitas telur yang
dihasilkan dari ayam lokal Jimmy’s Farm adalah 96,15% dengan koefisien variasi
0,58%. Data fertilitas telur ayam lokal Jimmy’s Farm yang dihasilkan secara
keseluruhan memiliki persentase tinggi dan seragam, karena memiliki koefisien
variasi tidak lebih dari 15%. Persentase fertilitas telur yang dihasilkan ayam lokal
Jimmy’s Farm lebih tinggi daripada persentase fertilitas ayam Sentul dan ayam
Pelung yaitu sebesar 73,76% dan 47,10% (Nataamijayadkk., 2003).
Sistem perkawinan ayam lokal yang dipelihara di Jimmy’s Farm secara alami
dengan perbandingan sex ratio jantan dan betina adalah 1 : 8 sampai 1 : 9 dengan
sistem flock mating, sehingga persentase fertilitas yang didapatkan tinggi
dibandingkan dengan perkawinan secara buatan. Seperti penelitian yang telah
dilaksanakan oleh Asmarawati dkk. (2013), ditemukan ayam kampung dengan
perkawinan buatan (IB) dengan pemberian dosis semen yang berbeda
mendapatkan fertilitas di bawah dari 70%. Menurut Kusmarahmat (1998), sex
ratio ayam berpengaruh terhadap fertilitas telur. Guna mendapatkan fertilitas yang
tinggi pada ayam kampung, maka perbandingan jantan dan betina sebesar 1:10.

b. Daya Tetas
Daya tetas pada peternakan Jimmy’s Farm memiliki rataan persentase sebesar
75,27%, dengan koefisien variasi 6,07%. Hasil tersebut dapat dikategorikan cukup
tinggi, apabila dibandingkan daya tetas ayam kampung yang dipaparkan oleh
Iriyanti dkk., (2007) yaitu hanya sebesar 72,02% yang ditetaskan secara alami.
Hasil daya tetas selama penelitian masih kurang optimal apabila dibandingkan
dengan daya tetas ayam Sentul menurut Nataamijaya dkk., (1994) yaitu sebesar
78,20%, dan daya tetas ayam Pelung sebesar 80% (Mansjoer dkk., 1990;
Nataamijaya, 1993). Hal tersebut dikarenakan terdapat kerusakan mesin tetas pada
periode satu ketika malam hari yang tidak diketahui oleh pegawai penetasan.
Teknis pelaksanaan penetasan juga sudah baik, yaitu dilakukan pemilihan telur
yang sudah mati pada umur telur ke-10. Hal tersebut dikarenakan pegawai
penetasan sudah mengetahui dengan baik dalam memilih telur yang sudah mati.
Penyimpanan telur sebelum dimasukan kedalam mesin tetas sudah baik yaitu
tidak lebih dari 7 hari, dan di dalam cooling room dengan suhu 18-22ºC. Apabila
diamati persiapan penetasan dalam berbagai faktor sudah baik, tetapi daya tetas
belum begitu tinggi (75,27%), sehingga kesalahan kemungkinan hanya pada
mesin tetas. Apabila mesin tetasnya diperbaiki, maka kemungkinan fertilitas akan
meningkat.

c. Bobot Tetas
Bobot tetas yang dihasilkan dari ayam lokal Jimmy’s Farm sangat baik, hal
tersebut dapat dilihat dari Tabel 1 bobot tetas rata-rata mencapai 34,17g dengan
pengambilan dan penimbangan DOC secara acak.
Bobot tetas ayam lokal cukup beragam dengan koefisien variasi mencapai
10,58%. Hal tersebut akibat bobot telur yang di tetaskan pun sangat beragam
minimal 40,88g dan maksimal 63,83g dengan rata-rata 52,09g. Bobot telur
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap bobot tetas. Persentase hasil bobot
tetas pada peternakan Jimmy’s Farm yaitu 66,06% dari bobot telur. Hasil
persentase ini sudah baik karena rataan bobot tetas melebihi 2/3 dari rataan bobot
telur. Bobot tetas yang normal adalah 2/3 dari bobot telur dan apabila bobot tetas
kurang dari hasil perhitungan tersebut maka proses penetasan bisa dikatakan
belum berhasil (Sudaryani dan Santoso, 1999).
Selain dari bobot telur, bobot tetas juga dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti suhu dan kelembaban mesin tetas, pakan, genetik dan juga
lingkungan. Lasmini dan Heriyati (1992) menyatakan bahwa, faktor-faktor yang
mempengaruhi bobot tetas adalah genetik, pakan, berat telur dan lingkungan.
Penetasan telur yang dilaksanakan oleh peternakan Jimmy’s Farm menggunakan
mesin otomatis dengan suhu antara 36-38ºC dan kelembaban 65-70%.
DOC menetas pada hari ke-21, namun terdapat juga menetas pada hari ke-22.
Keterlambatan menetas tersebut diakibatkan oleh tekanan udara rendah yang
didapatkan dari telur tetas, karena Jimmy’s Farm berada di tempat dengan
ketinggian kurang lebih diatas 1000m diatas permukaan laut dengan suhu 18-24ºC
dengan kelembaban hingga mencapai 90%. Semakin tinggi suatu tempat maka
tekanan udara yang didapatkan akan semakin rendah begitu pula sebaliknya.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan
yaitu hasil usaha penetasan ayam lokal yang dilakukan oleh Jimmy’s Farm mengenai
fertilitas, daya tetas dan bobot tetas sudah tinggi. Penetasan ayam lokal Jimmy’s Farm
memiliki fertilitas 96,15%, daya tetas 75,27% dan bobot tetas 34,17g.
Tugas Penetasan

FERTILITAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS AYAM LOKAL JIMMY’S


FARM CIPANAS KABUPATEN CIANJUR JAWA BARAT

SUMIYATI : 04141611013

PROGRAM STUDI PETERNAKAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2019