Anda di halaman 1dari 6

JOURNAL READING

Pembimbing:
dr. Feny Tunjungsari, M. Kes

Oleh:
Nurul Fadli
201610401011038

RS PKU MUHAMMADIYAH SEKAPUK GRESIK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018
OUTLINE JURNAL

Judul :

ACE Inhibitors and Statins in Adolescents with Type 1 Diabetes

Resume:

1. Tujuan penelitian

- Perubahan dalam analisis pengukuran berulang rasio albumin-kreatinin, yang


dinilai sesuai dengan area di bawah kurva rasio login albumin-kreatinin yang
distandarisasi sesuai dengan panjang ependaftaraan percobaan
- Menilai efek ACE inhibitor terhadap tekanan darah, GFR, insiden
mikroalbuminuria dan efek statin pada level lipid, ketebalan karotis – intima, dan
tingkat sensitivitas tinggi C reatif protein dan dimethylarginin asimetris

2. Jenis rancangan penelitian

Study kohort prospektif

3. Tahun penelitian

Mei 2009 – Agustus 2013

4. Lokasi penelitian

United Kingdom, Canada, Australia

5. Sampel penelitian

Remaja antara 10 – 16 tahun dengan diabetes tipe 1 yang telah terdiagnosis satu tahun
sebelumnya

Kriteria inklusi :

- Remaja usia 10-16 tahun


- Remaja dengan diabetes tipe 1 yang telah terdiagnosis satu tahun sebelumnya
- Remaja dengan perbandingan albumin dan kreatinin >3 dari populasi yang
terskrining

Kriteria eksklusi

Remaja usia 10-16 tahun dengan kriteria:


- Diabetes non-type 1
- Kehamilan atau enggan untuk mematuhi saran penggunaan kontrasepsi dan tes
kehamilan
- Hiperlipidemi berat atau riwayat keluarga dengan hiperkolestrolemi
- Hipertensi yang tidak berhubungan dengan nefropati diabetik
- Pajanan sebelumnya dengan obat yang akan diteliti
- Keengganana untuk mengikuti protokol penelitian
- Adanya kondisi tertentu (terapi hipotiroid dan penyakit celiac)
- Retinopati proliferatif
- Adanya penyakit ginjal yang tidak berhubungan dengan diabetes tipe 1

6. Variabel penelitian

Variabel bebas :

- Dosis ACE inhibitor

Variabel tergantung :

- Rasio albumin – kreatinin pada remaja dengan diabetes tipe 1


- Tekanan darah
- GFR
- Insiden mikroalbuminuria
- Level lipid
- Ketebalan karotis – intima
- Tingkat sensitivitas tinggi C reatif protein dan dimethylarginin asimetris

7. Skala data variabel penelitian

Variabel bebas : Kategorik ordinal

Variabel terikat : numerik

8. Uji hipotesis penelitian

Analysis of covariance (ANCOVA)

9. Diskripsi penelitian:

a. Hasil penelitian dan hasil uji hipotesis

Tujuan utama:

Tidak ada efek signifikan dari ACE inhibitor (effect, −0.01; 95% confidence
interval [CI], −0.05 to 0.03) dan statin (effect, 0.01; 95% CI, −0.02 to 0.05) pada
AUC perbandingan albumin – kreatinin. Hanya pada nilai baseline log10 dari
perbandingan albumin – kreatinin berhubungan dengan AUC perbandingan
albumin – keratinin selama pemberian obat (effect, 0.62; 95% CI, 0.41 to 0.82).
Tidak ada interaksi signifikan antara kedua obat (effect, 0.04; 95% CI, −0.04 to
0.12).

Tujuan kedua:
Penggunaan ACE inhibitor mengurangi insiden kumulatif mikroalbuminuria
(P=0.046 by the log-rank test) dengan rasio hazard yang disesuaikan yaitu sebesar
0,57 (95% CI, 0.35 to 0.94; P=0.03) yang mana dalam konteks temuan negatif
untuk hasil utama dan rencana analisis statistik tidak dianggap signifikan.

Penggunaan statin tidak berefek pada insiden mikroalbumin (perbandingan


rasio hazard yang disesuaikan (adjusted hazard ratio, 0.98; 95% CI, 0.61 to 1.58;
P=0.93). Penggunaan statin dihubungkan dengan kadar penurunan total LDL,
kolestrol non-HDL, TG, dan rasio apolipoprotein B sampai apolipoprotein A1

Tidak ada efek signifikan ACE inhibitor terhadap level lipid selain dari tingkat
kolesterol HDL yang tidak lebih tinggi secara signifikan

Penggunaan ACE inhibitor dikaitkan dengan skor tekanan darah sistolik


rendah yang tidak signifikan dan juga tidak ada efek terhadap tekanan darah dari
statin.

Tidak ada efek yang signifikan dari statin terhdap estimasi GFR. Level
cystatin C secara konsisten lebih rendah pada penggunaan ACE inhibitor dari
pada plasebo. Pada seluruh pasien dalam percobaan ini, level cystatin C menurun
selama dari waktu ke waktu, menunjukkan peningkatan GFR, dan hal ini
dikonfirmasi dengan analisis post hoc pada GFR yang diperkirakan yang dihitung
dengan rata-rata Zappitelli and CKD-EPI creatinine–cystatin C equations,
meskipun tidak ada perbedaan antar grup pada penelitian.

Tidak ada efek yang signifikan antara ACE inhibitor dan statin terhadap
ketebalan karotis intima-media atau tingkat asimetris dari dimethylarginin, tetapi
terapi statin menyebabkan sedikit penurunan dari sensitivitas tinggi C reactive
protein.

Progresifitas retinopati tingkat kedua dan ketiga tidak berhubungan dengan


ACE inhibitor, sedangkan terdapat progresifitas lebih rendah yang tidak signifikan
dengan terapi statin.

b. Resume pembahasan (penelitian selaras, penelitian tidak selaras, pernyataan


peneliti)

Penelitian ini meneliti efek ACE inhibitor dan statin pada remaja dengan
dibatetes tipe 1 yang mana pasien sulit untuk diajak ke klinik tempat penelitian.
Penggunaan ACE inhibitor dan statin pada rentang waktu 2-4 tahun tidak
memperlihatkan efek apapun pada tujuan utama yaitu tedapat perubahan dari rasio
albumin – kreatinin dari waktu ke waktu. Poin ini dipilih karena pada penelitian
sebelumnya terjadi peningkatan rasio albumin – kreatinin selama pubertas
dibawah mikroalbumin dan makroalbumin yang berhubungan dengan risiko dari
penyakit kardiovaskular.
Pada penelitian ini rasio albumin – kreatinin lebih rendah pada kelompok
dengan pengobatan ACE inhibitor dibanding placebo. Pada penelitian tentang
RAAS, kami mengobservasi progres mikroalbumin yang rendah dengan ACE
inhibitor dibanging placebo meskipun penurunannya tidak signifikan, hal ini
mungkin berhubungan secara klinis dengan penurunan variabilitas rasio akbumin
– kreatinin.

Level lipid pada penelitian ini serupa dengan penelitian sebelumnya pada
studi kohort tentang remaja dengan diabeter tipe 1 yang secara persisten
mempunyai level lipid yang abnormal yang berkontribusi terhadap risiko
kardiovaskular. Penelitian sebelumnya membuktikan penggunaan statin dapat
mengurangi level lipid dan meningkatkan level kolestrol LDL tetapi
peningkatannya lebih rendah dibanding dewasa. Statin berhubungan dengan
penurunan kecil sensitifitas yinggi C-reactive protein tapi levelnya masih pada
rentang normal. Level asimetrik dimethularginine tidak jauh berbeda dari
penelitian sebelumnya dengan penggunaan statin. Penggnaan ACE inhibitor hanya
mempunyai efek kecik terhadap level lipid di plasma.

Indikator ketebalan karotis intima – media dijadikan sebagai pertanda utama


pada penelitian ini karena bagian ini direproduksi, tidak invasif, dan dapat
menyediaakan informasi diagnostik terhadap kardiovaskular. Pada penelitian yang
berkebalikan tentang remaja dengan riwayat keluarga hiperkolestrolemi, ketebalan
karotis intima – media tidak dipengaruhi penggunaan statin pada penelitian ini.
Pasien dengan riwayat keluarga hiperkolestrolemia terpapar level lipid yang tinggi
sejak lahir dan mungkin mempunyai ketebalan dinding arteri yang besar
dibanding dengan usianya dengan diabetes tipe 1.

Penggunaan ACE inhibitor tidak memberikan efek signifikan pada proger


retinopati yang mana hal ini berkebalikan pada penelitian sebelumnya yaitu pasien
dewasa yang menerima terapi enalapril. Perbedaan ini berhubungan dengan
stadium awal retinopayi pada populasi penelitian ini, durasi dari pengobatan, atau
efek ACE inhibitor.

Penggunaan ACE inhibitor mempunya beberapa efek samping meskipun


dosis obaybsudah diturunkan, misalnya hipotensi postural. Batuk keinis tidak
signifikan secara klinis. Secara keseluruhan komplikasi dengan terapi statin lebih
rendah dibanding yang dilaporkan dengan atau tanpa diabetes.

Penelitian ini memiliki keterbatasan, termasuk durasi paparan obat. Efek


lambat penggunaan ACE inhibitor atau statin masih terjadi, yang dilaporkan pada
penelitian sebelumnya tingkat glukosa, lipid, atau tekanan darah lebih rendah pada
intervensi yang dapat mengurangi komplikasi vaskular . Follow up untuk
penelitian kohor sebelumnya dibutuhkan untuk mengevaluasi keuntung dari
intervensi ACE inhibitor dan statin.

Kesimpulan
Baik ACE-inhibitor maupun terapi statin selama periode 2 sampai 4 tahun
mengubah hasil utama dari perubahan dalam pengukuran berulang rasio albumin-
ke kreatinin di kalangan remaja dengan diabetes tipe 1.