Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

NUTRITION ECOLOGY

PEMANFAATAN DAN PENGEMBANGAN PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN


BERBASIS POTENSI LOKAL DAERAH KALIMANTAN SERTA DAMPAKNYA
BAGI LINGKUNGAN

Disusun oleh Kelompok 8 :


Mirna Wala Amah 472015017
Nugraheni Wilis Prasetyaningrum 472017002
Octapian Roland Saragih 472017437
Oktapianus 472017438
Octavia Corry 472017439

PROGRAM STUDI GIZI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang kaya akan alam dan merupakan jalur
perdagangan di Asia, sehingga mengakibatkan banyaknya pedagang yang masuk membawa
budaya yang menyebabkan terjadinya akulturasi budaya yang diakui milik Indonesia.
Indonesia terkenal dengan keragaman budaya dengan ciri khas yang unik yang tersebar pada
tiap daerah. Kekayaan pada tiap daerah menjadi tanggungjawab daerah tersebut untuk
melestarikan dan memperkenalkan budaya tersebut pada masyarakat (Gunawan dan Ronald,
2017). Selain keragaman budaya, Indonesia juga kaya akan kearifan lokal dan makanan khas
pada tiap daerah. Kearifan lokal merupakan modal sosial menuju pengelolaan sumber daya
alam dan lingkungan ke arah yang lebih baik. Nilai budaya pada tiap daerah berusaha
dipertahankan oleh masyarakat setempat, sehingga menjadi identitas budaya pada daerah
tersebut. Salah satu daerah yang menjunjung tinggi budaya adalah masyarakat yang tinggal di
daerah Kalimantan. Masyarakat Kalimantan merupakan masyarakat yang majemuk yang
terdiri dari suku dan agama yang berbeda. Nilai budaya yang dimiliki masyarakat ini bersifat
dinamis dan mudah menerima masyarakat pendatang dengan terbuka (Batubara, 2017).
Kuliner merupakan salah satu bidang yang dapat berpotensi, sehingga dapat menarik
masyarakat luar daerah untuk berkunjung ke daerah tersebut. Kuliner merupakan bagian hidup
yang berkaitan erat dengan konsumsi makanan sehari-hari, maka dari itu makanan
membutuhkan proses pengolahan yang berkualitas dan tinggi. Cara pengolahan dari masing-
masing makanan berkaitan erat dengan kebudayaan, lingkungan alam, serta tata kebiasaan dari
masyarakat tersebut. Dari aspek lingkungan dijelaskan bahwa konsep makanan yang
dikonsumsi, bahan makanan, cara memperoleh, cara mengolah, cara menyajikan, dan fungsi
makanan disebabkan karena adanya perubahan sosial ekonomi dari masyarakat agraris ke
industri. Makanan dan lingkungan merupakan hal yang tidak terpisahkan, seperti makanan khas
dari Kalimantan Barat yaitu Than Ang Fon yang menggunakan kantong semar sebagai salah
satu bahannya. Kalimantan merupakan salah satu pusat penyebaran dari kantong besar terbesar
di dunia, namun saat ini kantong semar merupakan salah satu tumbuhan yang terancam punah
karena eksploitasi berlebihan dan tidak diimbangi dengan konservasi ataupun budidaya
(Suwardi dan Zidni, 2015). Selain makanan khas, Kalimantan juga kaya akan minuman khas
daerah, salah satunya adalah sirup kayu manis yang berasal dari provinsi Kalimantan Selatan
dengan bahan dasar kayu manis, karena provinsi ini merupakan salah satu daerah di Indonesia
yang mengembangkan tanaman kayu manis jenis C, yang biasa digunakan untuk berbagai jenis
olahan manapun (Wangsa dan Nuryati, 2006; BPS Kab. Hulu Sungai Selatan, 2004).
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah mengetahui pengembangan produk dengan
potensi lokal di Indonesia, khususnya daerah Kalimantan, serta mengetahui dampak dari
produk makanan dan minuman terhadap lingkungan sekitar.
BAB II
ISI

Kue tradisional Kalimantan Barat Than Ang Fon merupakan sebutan orang Tionghoa
di Singkawang untuk kue yang menggunakan bahan Kantong Semar. Makanan ini ditaruh
dalam "kantong semar" yang banyak ditemukan di hutan kawasan Kalimantan Barat.
Masyarakat Jawa Tengah mengenal tumbuhan ini dengan sebutan kantong Semar, karena
bentuknya seperti perut Semar (tokoh dalam pewayangan) yang buncit dan lebar, di Jawa
Barat disebut dengan nama sorok raja mantri. Setiap suku di Kalimantan memiliki istilah
masing-masing untuk penyebutan tumbuhan Kantong Semar. Ada yang menyebut ketupat
napu, telep ujung, serta selo bengongong, yang berarti sarang serangga (Noorsalamiah, dkk.
2017). Masyarakat Singkawang dalam pembuatan kue kantong semar harus berburu tumbuhan
kantong semar dan mengambil kantong semar yang berukuran sedikit besar dan berwarna
kecokelatan. Kantong semar dicuci bersih dan disikat bagian dalamnya. Bagian pinggir mulut
kantong semar digunting sehingga terbentuk rapi, meskipun dengan ukuran yang berbeda.
Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah yang memiliki spesies kantong semar yang
beragam, terutama daerah hutan rawa gambut hal ini dikarenakan faktor lingkungan yang
memiliki kelembaban sesuai dan cukup mendapat sinar matahari (Suwardi dan Zidni, 2015).
Kantong Semar ini digunakan sebagai cetakan, sedangkan isinya merupakan beras
ketan putih atau merah yang telah direndam dan dicuci bersih, kemudian dicampur dengan
santan segar, gula, garam, bawang putih dan ditambahkan kacang beras (kacang tolo) yang
sudah dicuci. Beras ketan yang sudah dicampur dengan kacang tolo kemudian dimasukkan
dalam kantong semar, dituang dengan santan dan dikukus selama kurang lebih 2 jam. Beras
ketan yang dimasukkan dalam keadaan mentah harus dimasak sehingga perlu waktu lama
untuk mematangkannya. Karena untuk membuat makanan tersebut orang harus berburu
kantong semar, maka penjualnya juga terbatas, oleh karena itu saat hari Raya Imlek dan Cap
Go Meh jajanan ini jadi buruan. Kantong semar merupakan salah satu tumbuhan unik yang
tumbuh di hutan tropis Indonesia salah satunya ada di Kalimantan. Tumbuhan ini menjadi salah
satu sumber keanekaragaman hayati di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal,
tanaman ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi karena banyak manfaat yang bisa di
dapat dari tumbuhan kantong semar ini antara lain sebagai tanaman hias, tanaman obat-obatan,
sumber protein dan pembungkus makanan, sehingga membuat perburuan tumbuhan kantong
semar untuk diperdagangkan semakin tinggi (Susanti, 2012).
Kantong Semar termasuk tumbuhan yang unik dan langka di Indonesia. Jumlah kantong
semar di dunia ada sekitar 87 jenis dan terus bertambah menjadi 139 jenis di dunia 68 jenis
hidup dan tumbuh di Indonesia dengan 59 jenis berstatus endemik (Mansur, 2013). Penggunaan
kantong semar sebagai salah satu bahan pada makanan Than Ang Fon dapat mengancam
keberadaan tumbuhan tersebut, karena tumbuhan ini sudah tergolong pada tumbuhan yang
langka. Kantong semar (Nepenthes gracilis) merupakan salah satu tumbuhan karnivora yang
memiliki kemampuan untuk memangsa serangga dan sebagian besar hidup pada tanah yang
kurang subur, memiliki pH rendah, dan kurang nitrogen. Kantong semar memiliki keunikan,
yaitu memiliki kantong yang dibentuk oleh daun sebagai mekanisme pertahanan diri untuk
mendapat makanan atau cara kantong semar untuk beradaptasi terhadap lingkungan. Kantong
Semar memiliki keunikan lain, yaitu mampu mengabsorpsi unsur Nitrogen dari serangga yang
berhasil ditangkap. Tumbuhan ini termasuk tumbuhan yang dilindungi, sesuai dengan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999, tanggal 27 Januari 1999,
tentang Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Kantong semar bersimbiosis
mutualisme maupun komensalisme dengan beberapa tumbuhan lain, seperti jenis pala
(Myristica) dan sejenis tanaman rambat (Thunbergia fragrans Roxb.) karena tumbuhan
tersebut menggunakan sulur dari kantong semar (Sartika, dkk., 2017).
Kantong semar memiliki beberapa manfaat, yaitu air yang tersimpan dalam kantong
dapat digunakan untuk obat mencegah ngompol pada balita, selain itu menurut kepercayaan
masyarakat Maluku dapat mendatangkan hujan pada musim kemarau, sebagai ramuan untuk
menyembuhkan penyakit tertentu, seperti sakit mata, batuk, dan maag, serta dapat digunakan
untuk alat memasak lemang (Yelli, 2013). Masyarakat Suku Dayak di Kalimantan juga
memanfaatkan cairan dari kantong semar untuk mengobati kulit yang terbakar, sedangkan
ekstrak daun dan akarnya dapat digunakan sebagai larutan penyegar atau astringent, obat
disentri, batuk, dan demam. Cairan dalam kantong semar atau nepenthesin terdiri dari enzim
protease, amylase, lipase, dan beberapa bakteri yang memiliki peran untuk mendegradasi
molekul protein dan kitin. Bakteri yang terkandung antara lain Achromatium, Bacteroides
splanchnicus Druce, N. reinwardtiana, N. rafflesiana, N. ampullaria dan N. Gymnamphora.
Secara ekologis, kantong semar berfungsi untuk mengendalikan hama serangga seperti semut
serangga terbang dan berperan untuk menyerap gas karbondioksida (CO2) di udara bebas,
sehingga dapat mengurangi terjadinya pemanasan global. Apabila tanaman kantong semar
terus menerus digunakan untuk kepentingan manusia tanpa diimbangi dengan konservasi dan
pembudidayaan supaya tumbuhan kantong semar dapat bertahan, maka hama serangga akan
tidak terkendali, serta meningkatnya efek dari pemanasan global. Tumbuhan kantong semar
yang sudah kering dapat dimanfaatkan untuk pembungkus ketupat ataupun makanan yang
berbahan dasar serealia lainnya seperti makanan khas Kalimantan Than Ang Fon. Melihat
tumbuhan kantong semar yang sudah terancam punah keberadaannya, mungkin bahan yang
menggunakan kantong semar dapat diganti dengan bahan lain yang tidak terancam punah
keberadaannya, seperti daun pisang maupun daun jati yang dapat juga digunakan untuk
pembungkus makanan. Hal tersebut harus mulai diperhatikan karena jika kantong semar telah
punah, maka dapat mempengaruhi rantai ekologi dan makhluk hidup lain yang bersimbiosis
mutualisme dengan kantong semar (Mansur, 2013).
Selain makanan yang berdampak pada lingkungan, minuman khas daerah Kalimantan
Selatan juga memiliki dampak yang tidak terlalu besar terhadap lingkungan. Kecamatan
Loksado merupakan daerah penghasil kayu manis terbesar di Kalimantan Selatan, sehingga
sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani kayu manis. Namun,
keberadaan pohon kayu manis dalam hutan semakin langka, sehinga mendorong masyarakat
Dayak untuk membudidayakan pohon kayu manis (Rismunandar dan Paimin, 2009). Melalui
upaya pembudidayaan kayu manis dilakukan dengan cara organik, dengan tujuan supaya
meningkatkan harga jual, melestarikan kearifan sosial budaya, serta bertani secara organik,
sehingga dapat memperpanjang masa kesuburan tanah petani. Tidak seperti pembudidayaan
non-organik yang memiliki kesuburan dalam jangka pendek, sehingga mengganggu tanaman
lain yang tumbuh di lahan yang sama. Dari segi penanaman pohon kayu manis, dapat merusak
lingkungan di karenakan satu batang pohon kayu manis memerlukan air yang sangat banyak
dan membutuhkan lahan yang luas karena jarak antara pohon yang satu dengan yang lain
adalah 3-4 meter untuk menanam tumbuhan lain. Untuk pembuatan sirup kayu manis saat ini
belum sepenuhnya berdampak bagi lingkungan karena proses pembuatan sirup tersebut secara
manual atau tradisional, sehingga masih dalam skala kecil. Kayu manis dalam olahan minyak
atsiri dan oleoresin berperan sebagai antioksidan dan antimikroba. Dengan manfaat tersebut,
tidak menutup kemungkinan terjadi eksplorasi kayu manis secara terus menerus, sehingga
lahan kayu manis tidak dapat ditanami tumbuhan lain, karena tumbuhan di sekitar tanaman
tersebut tidak cukup air (Utami, dkk., 2017).
Pembuatan sirup kayu manis dilakukan dengan cara, memilih bahan kulit kayu manis
yang akan digunakan untuk sirup, melakukan pencucian kulit kayu manis dengan air bersih,
kemudian ditiriskan, merebus 40 liter air dengan 1 kg kulit kayu manis hingga mendidih,
membiarkan air rebusan kulit kayu manis selama 3 hari dan tidak boleh dibuka-buka,
menyaring air kulit kayu manis, mencampurkan gula sebanyak 25 kg dalam air kulit kayu
manis kemudian direbus sampai suhu 900 C, memasukkan air sirup hangat-hangat ke dalam
botol, menutup botol dengan alat penutup botol, mensterilisasi botol yang berisi air sirup agar
tidak terjadi kontaminasi oleh kuman. Selain digunakan sebagai sirup, kayu manis juga
berfungsi sebagai rempah, diolah menjadi minyak atsiri dan oleoresin, digunakan pada industri
farmasi, kosmetik, rokok, makanan, dan minuman. Kayu Manis merupakan tanaman yang
memiliki nama latin Cinnamomum verum. Kayu manis di Provinsi Kalimantan Selatan
merupakan komoditas yang memiliki tingkat produksi urutan 8, setelah kelapa sawit, karet,
kelapa, rumbia, kemiri, aren, dan kopi (BPS Prov. Kalimantan Selatan, 2014).
BAB III
PENUTUP

Makanan dan lingkungan merupakan hal yang saling mempengaruhi. Tiap lingkungan
daerah memiliki potensi alam yang perlu dikembangkan dengan keunikan dan ciri khas dari
daerah tersebut, sehingga dapat menjadi ciri khas daerah tersebut dan dikenal oleh masyarakat
lain, seperti makanan khas daerah Kalimantan Barat yaitu Than Ang Fon dengan bahan atau
pembungkus dengan kantong semar, yang mungkin kurang umum dikonsumsi bagi masyarakat
lain. Namun salah satu bahan yang digunakan termasuk dalam tumbuhan langka, yang
memiliki fungsi untuk mengendalikan hama serangga, terutama serangga terbang dan semut,
serta mengurangi dampak globalisasi karena mampu menyerap CO2. Selain itu daerah
Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan memiliki minuman khas yaitu sirup kayu manis
yang berasal kulit pohon kayu manis yang membutuhkan lebih banyak lahan dan menyerap
banyak air, sehingga tumbuhan lain sulit tumbuh pada lahan yang sama. Kedua bahan tersebut
harus digunakan dengan tidak mengeksploitasi secara besar-besaran, karena untuk menjaga
rantai ekologi makhluk hidup, dan tetap melestarikan tumbuhan yang ada di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan. 2014. Kalimantan Selatan Dalam Angka
2014. BPS Provinsi Kalimantan Selatan.
Batubara, Santy Mayda. 2017. Kearifan Lokal dalam Budaya Daerah Kalimantan Barat (Etnis
Melayu dan Dayak). Jurnal Penelitian Ipteks Hal. 91-104
Gunawan, Sherren Presentia dan Ronald Hasudungan Irianto Sitindjak. Implementasi Konsep
East Kalimantan Journey pada Interior Museum Provoinsoi Kalimantan Timur
“Mulawarman” di Tenggarong. Jurnal Intra 5 (2): 1-9
Mansur M. 2013. Tinjauan Tentang Nepenthes (Nepenthaceae) Di Indonesia. Bogor. Pusat
Penelitian Biologi-LIPI
Mansur, Muhammad. 2013. Tinjauan Tentang Nepenthes (Nephenthaceae) di Indonesia.
Bertha Biologi 12(1):1-7
Noorsalamiah, Norma Putri Ananda Herman, Saripah Alya Shavira, Syifa Fauzia. 2017. Upaya
Konservasi Kantong Semar. Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Brigjen H. Hasan
Basri No.3 RW.02 Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan,
Indonesia.
Rismunandar dan F.B. Paimin. 2009. Kayu Manis : Budidaya dan Pengolahan. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Sartika, Agus Setiawan, dan Jani Master. 2017. Populasi dan Pola Penyebaran Kantong Semar
(Nepenthes gracilis) di Rhino Camp Resort Sukaraja Atas Kawasan Taman NAsional
Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Jurnal Sylva Lestari 5 (3):12-21 ISSN 2339-0913
Susanti T. 2012. Nepenthes dan Valuasi Ekonomi (Suatu Upaya Konservasi Nepenthes). Edu-
Bio. 3: 14-28.
Suwardi, Adi Bejo dan Zidni Ilman Navia. 2015. Keanekaragaman Jenis Kantong Semar
(Nepenthes spp.) di Hutan Rawa Gambut Kalimantan Barat. Jurnal Jeumpa 2(2): 56-
63
Utami, Rohula, Lia Umi Khasanah, Katut Kompi Yuniter, dan Godras Jati Manuhara. 2017.
Pengaruh Oleoresin Daun Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) Dua Tahap terhadap
Karakteristik Edible Film Tapioka. Journal Of Sustainable Agriculture 32(1):55-67
ISSN: 0854-3984
Wangsa, R. dan S. Nuryati. 2006. Status dan Potensi Pasar Kayu Manis Organik Nasional
dan Internasional. Laporan Penelitian. Aliansi Organis Indonesia. Bogor
Yelli, Fitri. 2013. Induksi Pembentukan Kantong dan Pertumbuhan Dua SPesies Tanaman
Kantong Semar (Nepenthes spp.) pada berbagai Konservasi Media MS secara In Vitro.
Jurnal Agrotropika 18(2): 56-62
LAMPIRAN

Gambar Tumbuhan Kantong Semar

(Mansur, 2013)
Gambar Makanan Than Ang Fon

(Suwardi dan Zidni, 2015)


Gambar Sirup Kayu Manis

(Wangsa dan S. Nuryati, 2006)