Anda di halaman 1dari 11

Panca Sradha

Dalam pengertianya Panca Sradha terdiri dari dua kata yaitu Panca artinya lima dan Sradha
artinya keyakinan, jadi Panca Sradha artinya lima keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu.

Kelima keyakinan tersebut adalah


1. percaya dengan adanya Tuhan,
2. percaya dengan adanya Atman,
3. percaya dengan adanya Karmaphala,
4. percaya dengan adanya Punarbhawa dan
5. percaya dengan adanya Moksa. "

Percaya dengan adanya Tuhan, ini adalah hal yang paling utama, jika kamu tidak percaya
Tuhan tentu kamu tidak akan bisa percaya dengan yang lain. Tuhan adalah sumber dari
segala sumber kehidupan dan akhir dari segala yang tercipta. Tuhan itu dijelaskan dalam
sloka yang berbunyi "Ekam eva advityam Brahman" artinya Tuhan hanya satu tidak ada
yang kedua. Atau dalam sloka "Eko narayana na dwityo'sti kascit" artinya hanya ada satu
Tuhan sama sekali tidak ada duanya. Jadi dengan melihat dua sloka tadi maka Tuhan itu
hanya ada satu dengan beberapa sifatnya yang disebut Tri Purusa.

Percaya dengan adanya Atman artinya bahwa setiap mahkluk hidup di dunia ini adalah
ciptaan Tuhan dan bagian dari Tuhan. Atman merupakan sinar suci atau bagian terkecil dari
Brahman. Setiap yang bernafas di dunia ini memiliki Atman sehingga mereka bisa hidup.
Atman adalah sumber hidupnya semua mahkluk baik manusia, hewan dan tumbuhan.
Dalam kitab suci Bhagawadgita (X.20) disebutkan, "Aham Atma gudaseka, sarwabhutasaya-
sthitah, aham adis ca madhyam ca, bhutanam anta eva ca" yang artinya Oh Arjuna, aku
adalah atma, menetap dalam hati setiap makhluk, aku adalah permualaan, pertengahan dan
akhir daripada semua makhluk. Atman memiliki sifat sebagai berikut, Acchedya artinya tidak
terlukai senjata, Adahya artinya tidak terbakar api, Akledya artinya tidak terkeringkan oleh
angin, Acesya artinya tidak terbasahkan oleh air, Nitya artinya abadi, Sarwagatah artinya
berada dimana-mana, Sathanu artinya tidak berpindah-pindah, Acala artinya tidak bergerak,
Awyakta artinya tidak dilahirkan, Achintya artinya tidak terpikirkan, Awikara artinya tidak
berubah dan Sanatana artinya selalu sama.

Percaya dengan adanya Karmaphala artinya percaya dengan hasil perbuatan yang telab
kita lakukan ataupun yang akan kita lakukan. Inilah hukum universal yang dipercaya oleh
umat Hindu. Silakan baca tulisan saya dengan judul untuk penjelasan tentang Karma Phala
lebih detail.

Percaya dengan adanya Punarbhawa artinya kelahiran kembali atau sering juga disebut
dengan Reinkarnasi atau Samsara. Punarbhawa berkaitan erat dengan Karma Phala
dimana karena buah perbuatan yang harus dibayar atau dinikmati belum habis maka
mereka akan terlahir kembali. Jadi hubungan antara Punarbhawa dan Karmaphala sangat
erat seperti linkaran
Percaya dengan adanya Moksa artinya tujuan akhir dari hidup adalah mencapai Moksa
artinya kebebasan yang abadi yang tidak terikat oleh Karmaphala dan ikatan duniawi
sehingga terhindar dari Punarbhawa. Tingkatan Moksa ada empat yaitu:
1. Samipya artinya suatu kebebasan yang dapat dicapai oleh seseorang semasa
hidupnya di dunia. Hal ini dapat dilakukan oleh para Yogi atau para Maha Rsi. Beliau
dalam melakukan yoga semadhi dapat melepaskan unsur-unsur maya, sehingga
beliau dapat mendengarkan wahyu Tuhan, dalam keadaan yang demikian itu, Atman
sangat dekat dengan Tuhan atau Brahman.
2. Sarupya artinya suatu kebebasan yang dicapai oleh seseorang di dunia ini karena
kelahirannya dimana kedudukan Atman merupakan pancaran dari kemahakuasaan
Tuhan. Contohnya adalah Sri Rama dan Buddha serta Sri Khrisna (dalam wujud
Awatara) walaupun Atman telah mengambil suatu perwujudan tertentu namun Dia
tidak terikat oleh segala sesuatu yang ada di dunia ini.
3. Salokya artinya suatu kebebasan yang dicapai oleh Atman dimana atman tersebut
telah berada dalam posisi dan kesadaran yang sama dengan Tuhan. Dalam keadaan
seperti ini dapat dikatakan Atman telah mencapai tingkatan Dewa yang merupakan
manifestasi dari Tuhan itu sendiri.
4. Sayujya artinya suatu tingkatan kebebasan yang tertinggi dimana Atman sudah
dapat bersatu dengan Brahman atau Tuhan yang maha esa. Dalam keadaan seperti
ini disebut dalam sloka " Brahman Atman Aikyam" yang artinya Atman dan Brahman
sesungguhnya tunggal.
Bhagawad Gita
BHAGAWADGITA (Bhagavad Gita) disebut juga Weda kelima (Pancama Weda)
yang merupakan sebuah 'Nyanyian suci' seperti dikatakan oleh Sir Edwin Araold dalam
terjemahannya kedalam bahasa inggris 'The Song Celestial' (nyanyian sorga) atau oleh
Edward J. Thomas 'The Song of the Lord' (nyanyian Tuhan). Nyanyian suci ini digubah
dalam bentuk syair dalam bahasa sansekerta yang sederhana tetapi indah, melukiskan
suatu dialog tentang ilmu-pengetahuan budipekerti dengan unsur-unsur dramatis antara
seorang siswa dengan Guru-nya, antara seorang penganut dengan Avatara, yaitu antara
Arjuna dan Sri Krisna.
Penulis Bhagawadgita adalah Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa.
Bhagawadgita merupakan ajaran universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat
manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga
dapat terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan akhirat . Umat Hindu meyakini,
Bhagawadgita merupakan ilmu pengetahuan abadi, yakni sudah ada sebelum umat manusia
menuliskan sejarahnya dan ajarannya tidak akan dapat dimusnahkan.

Adapun 4 Pengertian singkat tentang Bhagawan Gita :


 Bhagavadgita adalah sebagai pancamo veda yang bersifat suplmen. Penggunaan
istilah upanisad pada beberapa bab didalam bhagavadgita menunjukan bahw
bhagavadgita adalah sebuah upanisad dan upanisad itu sendiri adalah veda yang
tergolong sruti. Dengan penunjukan itu tidaklah keliru menyimpulkan bahwa
beberapa pemikir hindu yang mengatakan bhagavadgita adalah veda ke 5.
 Bhagavadgita adalah ajaran mistik. Ilmu mistik didalam ajaran agama hindu dikenal
dengan raja yoga, bertujuan untuk menguak tabir rahasia ketuhanan sehingga
dengan demikian mudahlah bagi umatnya melaksanakan jalan lintas itu menuju
kekekalan Brahman atau nirvana brahmana atau moksa. Ini pula juga menyebabkan
bhagavadgita dikenal sebagai kitab gita rahasia.
 Bhagavadgita adalah kitab yoga karena semua bab disebut yoga. Yoga adalah satu
sistim dan juga satu metode menghubungkan diri atau bersembah kepada tuhan
agar mendapat rakhmat dari padanya.
 Bhagavadgita adalah kitab tattva darsana yang membahas konsepsi filsafat samkhya
dan yoga, dan karena itu cara pandangan penyajian materialnya mendekati sistim
filsafat samkhya dan yoga. Istilah ini pun disebutkan didalam bhagavadgita itu.
Karma Pala

Dalam kehidupan sehari-hari kadang orang sengaja mengabaikan Karma Pala ini
hanya untuk kenikmatan sesaat dan akhirnya menyesal setelah tahu akibatya berbuat hal
tersebut. Sebenarnya apa itu Karma Pala? Kenapa harus ada Karma Pala? Secara
sederhana Karma Pala berasal dari dua kata yaitu Karma yang artinya perbuatan atau aksi,
sedangkan Pala artinya hasil atau buah atau reaksi. Jadi Karma Pala artinya buah dari
perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya atau yang akan dilakukan.
Karma Pala adalah hukum bahasa universal artinya setiap perbuatan akan
mendatangkan hasil. Siapa yang berbuat dia yang akan menerima hasilnya, bukan orang
lain. Dalam konsep Hindu berbuat itu terdiri dari tiga yaitu, perbuatan melalui pikiran,
perbuatan melalui perkataan dan perbuatan melalui tingkah laku, ketiganya disebut dengan
istilahTri Kaya Parisudha. Ketiga perbuatan inilah yang akan mendatangkan hasil bagi
mereka yang berbuat, jika perbuatan baik maka baik pula hasilnya, jika perbuatan jahat
maka keburukan yang diterima, begitu seharusnya.
Hasil perbuatan bisa berwujud nyata (Skala) atau tentang keduniawian atau tidak
nyata (niskala) bisa dalam bentuk kesenangan bathin. Ditinjau dari segi waktu perbuatan
(Karma) dan hasil (Pala) yang akan diterima maka Karma Pala dibagi menjadi tiga bagian
yaitu:
1. Sancita Karma Phala artinya Phala atau hasil yang diterima pada kehidupan
sekarang atas perbuatan dikehidupan sebelumnya. Makanya kadang ada orang
yang berbuat jahat, tapi hasilnya baik atau sebaliknya, mungkin itu efek dari Sancita
Karma Phala.
2. Prarabdha Karma Phala artinya perbuatan atau karma yang dilakukan saat ini maka
phala atau hasil yang diterima juga pada kehidupan saat ini. Di Bali hal ini dibilang
Karma Pala Cicih, sekarang berbuat, maka hasilnya diterima sekarang.
3. Kryamana Karma Phala artinya karma atau perbuatan yang dilakukan saat ini maka
pahala atau hasilnya akan diterima pada kehidupan selanjutnya. Dalam hal ini atma
melalui proses Punarbahawa atau Reinkarnasi atau proses lahir kembali karena
untuk membayar hutang untuk perbuatan jahat atau menerima pahala baik.
Tri Rna
Di dalam ajaran agama hindu sejak kita sekolah di bangku SD (Sekolah Dasar) kita
sudah di ajarkan apa pengertian tri rna dan bagiannya , akan tetapi ada kalanya kita sudah
lupa dengan pelajaran yang sangat lama tersebut . Dengan di jaman teknologi yang canggih
ini kita akan di mudahkan untuk mengetahui kembali tentang agama hindu melalui media
internet dengan cara browsing di internet .
Tri Rna berasal dari bahasa sangsekerta yaitu “Tri“ dan “Rna“ dimana tri artinya tiga
dan rna artinya hutang . Jadi dapat kita simpulkan pengertian tri rna adalah tiga hutang yang
dimiliki oleh manusia sejak di lahirkan di dunia ini . Tri Rna terdiri dari Dewa Rna, Pitra Rna,
dan Rsi Rna .

Bagian-Bagian Tri Rna :


1. Dewa Rna
Dewa Rna adalah hutang yang di miliki oleh manusia kepada sang pencipta (ida
sang hyang widhi wasa) karena beliau telah memberikan percikan kecil dari
bagiannya yaitu atman . Bukannya hanya itu saja tetapi beliau juga telah
menciptakan alam semesta beserta isinya untuk kita para manusia bisa bertahan
hidup di dunia ini .

2. Pitra Rna
Pitra Rna adalah hutang yang dimiliki oleh manusia kepada leluhur . Kata Pitra
berasal dari bahasa sansekerta “Pitr” yang berarti ayah atau bapak , bentu jamaknya
adalah “Pitara” yang berarti nenek moyang atau leluhur . Sehingga hutang yang
dimaksud disini adalah hutang yang di mulai dari kandungan ibu dimana kita telah di
rawat di dalam kandungan ibu dan tumbuh besar menjadi anak yang suputra sampai
tingkat di atasnya atau nenek moyang.

3. Rsi Rna
Rsi Rna adalah hutang yang dimiliki oleh manusia kepada seseorang yang telah
mengajari kita tentang ilmu pengetahuan seperti rsi , guru , dan pendeta . Pada
jaman dahulu dikenal dengan sebutan “Wipra” . Wipra adalah orang bijaksana yang
menerima wahyu langsung dari Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa seperti
mantra-mantra suci dalam kitab suci weda dan diberi gelar Maharesi (Resi yang
Besar) . Seseorang yang bertugas sebagai pendeta , pandita bhagawan dan lain-
lainnya yang bukan menirma anugrah wahyu pertama dari tuhan atau Ida Sang
Hyang Widhi Wasa disebut Rsi .
Sloka – Sloka
“Yaá pàvamànir adhyeti åûibhiá saý bhåaý rasam.
sarvaý sa pùtam aúnati svaditaý màtariúvanà”

Terjemahan:
“Dia yang menyerap (memasukkan ke dalam pikiran) melalui pelajaran- pelajaran pemurnian
intisari mantra-mantra Veda yang diungkapkan kepada para rsi menikmati semua tujuan
yang sepenuhnya dimurnikan yang dibuat manis oleh Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi
napas hidup semesta alam (Ågveda IX.67.31).

“Pàvamànir yo adhyeti- åûibhiá saýbhåaý rasam tasmai sarasvati duhe


kûiraý sarpir madhùdakam”.

Terjemahan:
‘Siapapun juga yang mempelajari mantram-mantram veda yang suci yang berisi intisari
pengetahuan yang diperoleh para rsi, Devi pengetahuan (yakni Sang Hyang Saraswati)
menganugerahkan susu, mentega yang dijernihkan, madu dan minuman Soma (minuman
para Deva)’(Ågveda IX.67.32).

“Iyam te rad yantasi yamano dhruvo-asi dharunah.


kryai tva ksemaya tva rayyai tva posaya tva”.

Terjemahan:
Wahai pemimpin, itu adalah negara mu, engkau pengawasnya. Engkau mawas diri, teguh
hati dan pendukung warga negara. Kami mendekat padamu demi perkembangan pertanian,
kesejahteraan manusia, kemakmuran yang melimpah” (Yajurveda IX.22) dalam (Mudana
dan Ngurah Dwaja, 2015:81).

“Ahaý gåbhóàmi manasà manàýsi mama cittam anu cittebhir eta.


mama vaseûu hrdayàni vah krnomi, mama yàtam anuvartmàna eta”.

Terjemahan:
“Wahai para prajurit, Aku pegang (samakan) pikiranmu dengan pemikiran- Ku. Semoga
anda semua mengikuti aku menyesuaikan pikiran mu dengan pikiran-ku. Aku tawan hatimu.
Temanilah aku dengan mengikuti jalan-Ku, (Atharvaveda, VI.94.2).

“Kàmàtmatà na praúasta na caiwe hàstya kàmatà, kàmyo hi wedàdhigamaá karmayogasca


waidikaá”

Terjemahan:
Berbuat hanya karena nafsu untuk memperoleh phala tidaklah terpuji namun berbuat tanpa
keinginan akan phala tidak dapat kita jumpai di dunia ini karena keinginan-keinginan itu
bersumber dari mempelajari Veda dan karena itu setiap perbuatan diatur oleh Veda
(Manawa Dharmasastra, II.2).

“Teûu samyag vartta màno gacchatya maralokatàm,


yathà samkalpitàýúceha sarwan kaman samaúnute”

Terjemahan:
Ketahuilah bahwa ia yang selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah diatur
dengan cara yang benar, mencapai tingkat kebebasan yang sempurna kelak dan
memperoleh semua keinginan yang ia mungkin inginkan (Manawa Dharmasastra, II.5)
dalam (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015:82).
Tempat Suci
Tempat suci, tempat ibadah atau tempat peribadatan merupakan tempat atau bangunan
yang dianggap suci (dikeramatkan). Setiap umat mempunyai tempat suci dalam
pelaksanaan ibadahnya. Adapun tempat ibadah dari agama resmi di Indonesia adalah
Masjid (untuk umat Islam), Gereja (untuk umat Protestan dan Katholik), Pura (untuk umat
Hindu), Wihara (untuk umat Buddha) dan Litang/kelenteng untuk umat Khonghucu.
Pemerintah memberikan perlindungan akan tempat ibadah ini sebagai wujud nyata dari
UUD 1945 tentang kebebasan beragama. Bahkan di tempat umum pun dibangun tempat-
tempat ibadah, seperti Bumi Perkemahan Cibubur di Jakarta Timur menyediakan masjid,
gereja, pura dan wihara.

Pengertian Pura
Pura merupakan tempat suci Umat Hindu. Pura biasanya didirikan di tempat yang
sekelilingnya asri seperti laut, gunung, goa, hutan dan sebagainya. Penyebutan nama
tempat suci dalam Ajaran Hindu tidak secara gamblang. Tempat suci atau pemujaan ini
disebut devalaya, devasthana, deval atau deul yang berarti rumah para dewa. Beberapa
istilah tempat suci Umat Hindu di belahan bumi ini adalah:

 Mandir atau Mandira (Bahasa Hindi)


 Alayam atau Kovil (Bahasa Tamil)
 Devasthana atau Gudi (Kannada)
 Gudi, Devalayam atau Kovela (Bahasa Telugu)
 Puja Pandai (Bahasa Bengali)
 Kshetram atau Ambalam (Malayayam)
 Candi (Jawa, merupakan bangunan kuno)
Tempat suci menurut Hindu mempunyai 2 (dua) pengertian yaitu tempat suci karena kondisi
alam (sendirinya) dan tempat suci karena disucikan atau dibangun. Tempat suci karena
sendirinya adalah puncak gunung, sumber mata air. Sedangkan tempat suci yang dibangun
adalah Pura.

Etimologi
Kata ‘Pura’ berasal dari akhiran Bahasa Sansekerta (-pur, -puri, -pura, -puram, -pore) yang
artinya kota, kota berbenteng, kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangannya di
Pulau Bali, istilah ‘Pura’ menjadi khusus untuk tempat ibadah, sedangkan kata ‘puri’ menjadi
tempat tinggal bagi para raja dan bangsawan.

‘Pura’ yang berarti keraton atau istana raja, kata ini banyak dijumpai di Bali pada saat
pemerintahan Dalem Kresna Kepakisan, seperti Linggarsapura di Samprangan, Swecapura
di Gelgel, Semarapura di Klungkung, Bandanapura (Badung), Kawyapura (Mengwi).

‘Pura’ sebagai tempat pemujaan dimulai pada jaman sebelum Dalem Kepakisan, Rsi
Markandeya mendirikan Pura Besakih. Pada abad XI Empu Kuturan mempopulerkan Pura
dengan Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa, Puseh dan Dalem) dan tempat memuja Sang
Hyang Widhi yang disebut Meru. Pada jaman Dang Hyang Dwi jendra, tempat memuja Sang
Hyang Widhi disebut Padmasana.
Fungsi Pura
Pura sebagai tempat suci Umat Hindu di Indonesia. Pura merupakan tempat pemujaan
Hyang Widhi Wasa dalam prabawa-NYA (manifestasiNYA) dan atau Atma Sidha Dewata
(roh suci leluhur) dengan sarana upacara yadnya dari Tri Marga.

Dalam Buku Materi Pokok Acara Agama Hindu disebutkan bahwa Pura sebagai tempat suci
Umat Hindu memiliki arti dan fungsi yang sangat penting:

1. Tempat untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasinya.


2. Tempat umat mendekatkan diri dengan Sang Pencipta yaitu Tuhan.
3. Tempat dialog/komunikasi sosial masyarakat dan tempat persaksian atas suatu aktivitas.
4. Tempat mengasah dan mendidik calon-calon pemimpin masyarakat.

Menurut Gusti Ngurah Rai, fungsi Pura dapat dikelompokan dalam 3 kelompok yaitu:
1. Fungsi spiritual: Dharma Sedana, Dharma Yatra
2. Fungsi pendidikan: Dharma Wacana, Dharma Tula
3. Fungsi sosial: Dharma Shanti, Dharma Gita
Kitab Suci Weda
A. Pengertian Weda
Wahyu yang diturunkan oleh Hyang Widhi melalui para Rsi, dikumpulkan atau dihimpun
menjadi suatu kitab suci. Kitab suci yang diyakini sebagai wahyu yang diturunkan oleh
Hyang Widhi disebut Weda. Kata Weda dapat dikaji melalui dua pendekatan, yaitu
berdasarkan etimologi (akar katanya) dan berdasarkan semantic(pengertiannya). Weda
sebagai wahyu yang diturunkan Agama Hindu, secara etimologi berasal dari bahasa
Sansekerta, dari akar kata "Wid" yang berarti mengetahui atau pengetahuan. Dari kata
Weda yang ditulis dengan huruf A (panjang) berarti pengetahuan kebenaran sejati atau
kata-kata yang diucapkan dengan aturan-aturan tertentu yang dijadikan sumber ajaran
Agama Hindu. Secara semantic Weda berarti kitab suci yang mengandung kebenaran
abadi, ajaran suci atau kitab suci bagi umat Hindu. Maharsi Sanaya mengatakan bahwa
Weda adalah wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang mengandung ajaran yang luhur untuk
kesempurnaan umat manusia serta menghindarkannya dari perbuatan jahat.
Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna berasal dari Sang Hyang
Widhi yang didengarkan oleh Para Maha Rsi melalui pawisik (wahyu), sehingga weda
disebut Sruti yang berarti Sabda Suci atau pawisik yang didengarkan sehingga weda itu
sebagian besar adalah nyanyian-nyanyian dari Hyang Widhi yang berbentuk puisi, dalam
Weda disebut Chandra. Orang yang menghayati dan mengamalkan Weda akan
mendapatkan kerahayuan atau ketenangan lahir batin. Winternitz dalam bukunya A History
of Indian Literature, volume I (1927) menyatakan bahwa kitab suci Weda adalah monument
dan susastra tertua di dunia. Ia menyatakan bila kita ingin mengerti permulaan dari
kebudayaan kita yang tertua, kita harus melihat Rg Weda sebagai susastra tertua yang
masih terpelihara. Sebab pendapat apapun yang kita miliki mengenai susastra maka dapat
dikatakan bahwa Weda adalah susastra timur tertua dan bersama dengan itu merupakan
monument susastra dunia tertua. Demikian pula Bloomfield dalam bukunya The Religion of
Weda (1908) menyatakan bahwa Rg Weda bukan saja monument tertua tetapi juga
dokumen di timur yang paling tua.

B. Bahasa Weda
Sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa maka timbul sebuah pertanyaan, bahasa apakah
yang dipergunakan ketika wahyu itu turun dan demikian pula ketika Weda itu dituliskan.
Dapat kita lihat pada kenyataannya bahwa setiap agama memiliki bahasa wahyunya
tersendiri, biasanya bahasa kitab suci mereka adalah bahasa dimana wahyu tersebut
diterima atau diturunkan. Begitu pula sebaliknya yang terjadi pada agama Hindu, kitab suci
Weda menggunakan bahasa Sansekerta Karena Maha Rsi penerima wahyu Weda tersebut
menggunakan bahasa sansekerta. Sampai saat ini bahasa sansekerta juga digunakan
dalam penulisan susastra Hindu.
Istilah bahasa sansekerta adalah bahasa yang dipopulerkan oleh Maharsi bernama
Panini yang hidup pada abad ke VI sebelum masehi. Pada waktu itu Maharsi Panini
mencoba menulis sebuah kitab Vyakarana (tata bahasa) yang kemudian terkenal dengan
nama Astadhayayi yang terdiri dari delapan Adhyaya atau bab yang mencoba
mengemukakan bahwa bahasa yang digunakan dalam Weda adalah bahasa dewa-dewa.
Bahasa dewa-dewa yang demikian dikenal dengan “Daivivak” yang berarti bahasa atau
“sabda dewata”.
Kemudian atas jasa Maharsi Patanjali yang menulis kitab “Bahasa” dan merupakan buku
kritik yang menjelaskan kitab Maharsi Panini yang ditulis pada abad ke II sebelum masehi,
makin terungkaplah nama Daivivak untuk menamai bahasa yang digunakan dalam
penulisan karya sastra seperti Itihasa (Sejarah), Purana (cerita-cerita kuno/mitologi). Penulis
yang tampil setelah Maharsi Panini adalah Maharsi Katyayana. Katyayana hidup di abad ke
V sebelum masehi. Katyayana dikenal juga dengan nama Vararuci dan di Indonesia salah
satu karya dari Maharsi Vararuci yaitu Sarasamuccaya telah diterjemahkan kedalam bahasa
Jawa Kuno pada masa kerajaan Majapahit.
Dengan perkembangannya yang pesat sesudah diturunkannya Weda, kemudian para
ahli Sansekerta membedakan bahasa Weda kedalam tiga kelompok, yakni:
1) Bahasa Sansekerta Weda (Vedic Sanskrit) yakni bahasa sansekerta yang digunakan
dalam Weda yang umumnya jauh lebih tua dibandingkan dengan bahasa sansekerta
yang kemudian digunakan dalam berbagai susastra Hindu seperti dalam Itihasa, Purana,
Dharmasastra,dll.
2) Bahasa Sansekerta Klasik (Classical Sanskrit) yakni bahasa sansekerta yang digunakan
dalam karya sastra (susastra Hindu) seperti Itihasa (Ramayana dan Mahabharata),
Purana (18 Mahapurana dan 18 Upapurana), Smrti (kitab-kitab Dharmasastra), kitab-
kitab Agama (Tantra), dan Darsana yang berkembang sesudah Weda.
3) Bahasa Sansekerta Campuran (Hybrida Sanskrit) dan untuk di Indonesia oleh para ahli
menamai sansekerta kepulauan (Archipelago Sanskrit). Baik sansekerta campuran
maupun sansekerta kepulauan keduanya ini tidak murni menggunakan kosa kata atau
tata bahasa Sansekerta sebagaimana yang digunakan dalam kedua kelompok
sebelumnya (Sansekerta Weda dan Sansekerta Klasik). Contoh sansekerta campuran
dapat dijumpai di India terutama pada masyarakat yang tidak menggunakan bahasa
sansekerta (kini menjadi bahasa Hindi) seperti di India Timur atau Selatan, sedangkan di
Indonesia dapat kita lihat dari Sruti, Stava atau Puja yang digunakan oleh para pandita di
Bali.
Tentang pengucapan mantra dalam Weda yang tertuang di dalam kitab Nirukta I.18
menyatakan bahwa :
“Seseorang yang mengucapkan mantra (Weda) tidak mengerti makna yang terkandung
dalam mantra Weda tersebut, maka tidak memperoleh penerangan rohani. Seperti
sebatang kayu bakar yang disiram minyak tanah tidak akan pernah terbakar jikalau tidak
ada api. Demikianlah orang yang hanya mengucapkan (membaca), tidak mengetahui arti
atau makna mantra (Weda) maka tidak akan memperoleh cahaya pengetahuan sejati.”
C. Umur Kitab Suci Weda
Umat Hindu meyakini bahwa Weda itu tidak berawal dan tidak berakhir dalam
pengertian waktu. Hal ini menunjukkan bahwa sebelum itu atau tidak ada sesuatu yang lebih
awal dari Weda. Weda berarti sudah ada sebelum pengertian waktu itu ada. Dalam hal ini
Weda telah ada saat Brahman ada, yaitu sebelum alam semesta ini diciptakan.
Brhadaranyaka Upanisad menyatakan:
“Sa yathardraidhagner abhyahitat prtag viniscaranti, evam va are symahato bhuttasya
nihsvasitam eta dyad rgvedo yayur Wedah samavedo ‘tharvangirasa itihasah puran avidya
upanisadah slokah sutrany anuvyakhyani vyakhyani asyaivaiatani sarvani nihsvasitani”
Artinya :
(seperti juga sinar api yang dihidupkan dengan minyak campur air, berbagai asap akan
keluar dan menyebar, begitu juga Rg Weda, Yajur Weda, samaWeda, AtharvaWeda
(Atharvangirasa), Itihasa, Purana dan ilmu pengetahuan, Upanisad, sloka, sutra
(aphorisme), penjelasan, komentar-komentar. Daripada-Nya semuanya dinafaskan)
c. Sifat - Sifat Weda
Sifat Weda yang utama adalah anadi ananta, artinya Weda itu bersifat abadi. Karena
Weda adalah sabda Tuhan yang diterima oleh Para Maha Rsi. Walaupun usia Weda sudah
sangat tua, namun ajaran yang terkandung didalamnya ternyata sangat relevan dengan
perkembangan zaman. Lebih jauh dapat ditegaskan sifat Weda itu adalah sebagai berikut :
1. Weda itu tidak berawal, karena Weda merupakan sabda Tuhan yang telah ada
sebelum alam diciptakan olehNya.
2. Weda tidak berakhir karena ajaran Weda berlaku sepanjang zaman, mengingat Weda
tidak berawal dan berakhir sehingga Weda disebut anadi ananta (abadi).
3. Weda berlaku sepanjang zaman, maksudnya dari manusia pada zaman prasejarah
sampai manusia modern, dari manusia dengan kecerdasan tinggi maupun rendah.
Weda akan memberikan penjelasan mengenai Tuhan dan Alam Semesta ini, sesuai
dengan kemampuan daya pikir manusia sendiri.
4. Weda itu disebut Apauruscyam¸ artinya Weda itu tidak disusun oleh manusia
melainkan diperoleh atau diterima oleh orang-orang suci atau para maharsi. Oleh
karena itu, Weda bukan agama budaya dan bukan hasil ciptaan manusia.
5. Weda mempunnyai keluwesan, tidak kaku namun tidak berubah inti dan hakikatnya.
Weda dapat diumpamakan sebagai bola karet yang melengket, kemanapun ia
digelindingkan, maka tanah yang dilalui itu akan melengket, memberikan warna baru
pada bola karet itu, namun inti karet itu sedikitpun tidak berkurang, demikian pula
bentuknya yang bundar hanya warna yang berubah sesuai dengan daerah yang dilalui.