Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Instalasi Listrik

Judul : KONTAKTOR DENGAN OPERASI PENGUNCIAN

Disusun oleh : Liza Mulyadiana

NIM : 1214020025

Partner Kerja :
 Monika Audiya Pratiwi
 Muhammad Ridho
 Yudha Prasetiyo
 Zahrah Nabila
Kelas : 2E

Tgl praktikum : 19 Mei 2015

Tgl penyerahan: 26 Mei 2015

Prodi : T. Konversi Energi

Jurusan : T. Mesin

Politeknik Negeri Jakarta

2015
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum rangkaian operasi penguncian (interlock) agar setelah


selesai melakukan percobaan, diharapkan praktikan dapat :

1. Dapat menjelaskan cara kerja kontaktor operasi penguncian (interlock)


2. Dapat menganalisa data yang diperoleh
3. Dapat menjelaskan aplikasi dari kontaktor operasi penguncian) interlock

1.2 Dasar Teori

Pada industri modern saat ini control atau pengendali suatu system
sangatlah diperlukan untuk lancarnya proses produksi di suatu industri. Control system
ini paling utama yang diperlukan sehingga membuat kita harus paham dan lancar dalam
merencanakan rangkaian. Rangkaian control yang umum digunakan pada industri
saat ini masih menggunakan rangkaian control yang berawal dari rangkaian manual.
Control penguncian merupakan salah satu yang digunakan untuk controller di suatu
industri.

Penggunaan kontaktor dengan sistem operasi penguncian atau interlocking


merupakan pengembangan dari rangkaian operasi bergantian.
Hal ini dimaksudkan untuk tujuan keandalan yang lebih tinggi dan faktor
keamanan lebih terjamin.
Perbedaan secara umum adalah dalam hal urutan operasi atau kerja. Urutan kerja
akan sangat mempengaruhi pada bekerjanya beban yaitu motor. Dalam melakukan
percobaan nanti praktikan akan melihat perbedaan utama dari sistem operasi
interlocking dengan operasi interchange.
Pemakaian kontaktor operasi bergantian (interlock) adalah pengoperasian
beban dengan menggunakan kontaktor dimana masing – masing kontaktor melayani
bebannya masing–masing secara terpisah. Namun pada pengoperasian kontaktor kali
ini menggunakan push button ganda ( NO & NC ), sehingga jika tidak menekan push
button, maka push button tersebut dalam posisi push button NC, namun bila kita tekan
maka push button tersebut dalam posisi push button NO.
Pada rangkaian ini, kontaktor yang dapat bekerja hanya 1, sehingga bila
kontaktor 1 dalam keadaan bekerja, maka kontaktor 2 akan mati, begitu pula jika
kontaktor 2 dalam keadaan bekerja maka kontaktor 1 akan mati, sehingga bekerjanya
kontaktor tersebut secara bergantian (interlock). Sistem ini banyak sekali digunakan
dalam menjalankan mesin-mesin, dimana bekerjanya beban pertama akan
mengakibatkan beban yang lain terputus

Pemakaian kontaktor dengan operasi bergantian (interlock) ini, memerlukan


komponen pengaman pada setiap rangkaiannya untuk mengantisipasi terjadinya
gangguan pada motor. Alat yang bisa digunakan untuk pengaman antara lain :

1. MCB (Miniature Circuit Breaker) dimana MCB berfungsi untuk memutus arus
listrik secara otomatis jika terjadi konsleting
2. TOLR (Thermal Over Load Relay) dimana TOLR berfungsi untuk proteksi motor
listrik dari beban lebih. Seperti halnya sekring (fuse) pengaman beban lebih ada
yang bekerja cepat dan ada yang lambat. Sebab waktu motor start arus dapat
mencapai 6 kali nominal, sehingga apabila digunakan pengaman yang bekerja
cepat, maka pengamannya akan putus setiap motor dijalankan.

Gangguan yang mungkin terjadi pada operasi rangkaian interlock adalah adanya
hubungan singkat arus listrik (konsleting) atau beban lebih (over load). Pada rangkaian
ini juga diperlukan lampu tanda (pilot lamp) dengan warna merah dan hijau, dimana
lampu ini berfungsi sebagai indicator saat beban bekerja, seperti jika rangkaian dalam
keadaan mati (off) maka lampu indicator dengan warna merah akan menyala,
sebaliknya jika kita menekan switch button (on) maka lampu indicator merah akan
mati dan lampu indicator hijau akan menyala.

Maka akan diperoleh akibat pada ketidakefisien sistem, kesulitan memonitor


aktifitas kesalahan dalam operasional, dsb. Perkembangan informasi yang layak terus
dipertimbangkan untuk perancangan Monitoring dan Automation System Monitoring
dan Automation System merupakan sistem yang difokuskan pada kegiatan
pengawasan seluruh aktivitas sistem, untuk tercapainya sasaran / tujuan dalam hal
kapasitas, efektifitas kegiatan sistem, dan effisiensi , dengan menggunakan system dan
perangkat yang mampu menggantikan aktifitas konvensional dengan system
komputerisasi.
Gambar rangkaian kontaktor operasi penguncian (interlock) terbagi dua
yaitu :

1. One line diagram yang biasa dikenal dengan single line diagram
2. Wiring diagram yang biasa dikenal dengan multi line diagram

Penjelasan gambar rangkaian kontaktor operasi penguncian (interlock)


sebagai berikut :

1. One line diagram atau single line diagram


Single line diagram adalah suatu diagram atau rangkaian dimana untuk
garis L1, L2, L3, dan netral berada pada satu garis yang disebut dengan garis
utama serta sekring berjumlah satu buah yang mewakili L1, L2, dan L3. Pada
kontaktor-TOLR-motor masing-masing berjumlah satu buah saja. Sehingga satu
garis mewakili rangkaian ini.
Gambar rangkaian operasi penguncian (interlock) one line atau single
line :
2. Wiring diagram atau multi line diagram

Wiring diagram adalah suatu diagram atau rangkaian dimana garis L1,
L2, L3 dan netral berada di garisnya masing-masing sehingga garis utama
berjumlah empat garis. Lalu untuk sekring berjumlah sesuai dengan jumlah L
yaitu tiga buah sehingga sekringnya juga berjumlah tiga dan tiap garis sekring
dihubungkan sesuai dengan nomor L-nya seperti sekring 1 di L1, sekring 2 di
L2, sekring 3 di L3.
Garis netral hanya menetralkan rangkaian sehingga tidak yang
dihubungkan ke netral. NO pada kontaktor berjumlah tiga, TOLR berjumlah
tiga dan motor 3 phasa berjumlah 1 karena motor tersebut dapat mengaliri arus
ke tiga garis tersebut.
Gambar rangkaian operasi penguncian (interlock) wiring diagram atau
multiline diagram :
BAB II
ALAT DAN BAHAN

Alat dan bahan yang dibutuhkan


1. Kontaktor, 2 buah

2. Saklar tekan ganda, NO 2 buah dan NC 3 buah

3. Lampu pijar kecil hijau dan merah, masing – masing 2 buah


4. Multimeter, 1 buah

5. Kabel secukupnya
BAB III
LANGKAH KERJA

1. Siapkan alat dan bahan yang akan diuji pada saat praktikum pemakaian
kontaktor dengan oprasi motor penguncian
2. Kuasai segala materi yang akan di praktikum-kan yaitu mengenai
pemakaaian kontaktor dengan oprasi penguncian
3. Jangan lupa juga untuk kuasai alat dan bahan agar tidak terjadi
kecelakaan saat praktikum
4. Pastikan sumber-sumber tegangan dan arus off sebelum dirangkai
5. Rangkailah peralatan seperti gambar-gambar di bawah ini :

 Gambar rangkaian penggunaan


kontaktor operasi penguncian dengan
satu motor

Gambar rangkaian interlock 1 motor


 Gambar rangkaian penggunaan kontaktor operasi penguncian dengan
dua motor

L1

SO

S1

23 53 63 71 83 91
S2 K1
K2
24 54 64 72 84 92

11 41
K2 K1
H1 M1 H2 M2
12 42

K1 K2

N
Gambar rangkaian interlock 2 motor

6. Cek kembali rangkaian yang telah dibuat


7. Lihatlah apa yang terjadi pada lampu indicator, menyala atau tidak dan bagaimana
kerja dari rangkaian tersebut
8. Cobalah merangkai ke-2 gambar
9. Setelah menuntaskan tugas-tugas praktikum yang diinginkan, rangkai rangkaian
listrik secara berulang agar dapat memahaminya dengan tuntas
10. Catatlah data-data praktikum dan buatlah tabel kebenaran serta diagram flow chart
11. Simpulkanlah praktikum pemakaian alat kontakor ini
12. Rapihkan dan kembalikan alat-alat praktikum yang telah digunakan
BAB IV

ANALISA DATA

3.1 Penggunaan Kontaktor Operasi Penguncian Dengan Satu Motor

1. Tabel Kebenaran

NO S0 S1 S2 K1 K2
1 0 0 0 0 0
2 0 1 0 1 0
3 0 0 1⁄ 0 0
2
4 0 0 1 0 1
5 1 0 0 0 0

2. Flow Chart

S0

S1

S2

K1

K2

Pada tabel diatas dapat dilihat, bahwa pada keadaan awal tidak ada arus yang mengalir
pada rangkaian tersebut. Apabila saklar 1 (S1) ditekan ,maka arus akan mengalir
kekontaktor 1 (K1). Apabila saklar 2 (S2) ditekan ½ arus yang mengalir pada
kontaktor 1 akan terputus pada kontaktor 1, saat saklar 2 (S2) ditekan full maka secara
otomatis arus akan mengalir pada kontaktor 2. Apabila saklar utama (S0) ditekan
maka arus yang mengalir pada seluruh rangkaian akan terputus.
3.2 Penggunan Kontaktor Operasi Penguncian Dengan Dua Motor
1. Tabel Kebenaran
NO S0 S1 S2 K1 K2 H1 M1 H2 M2
1 0 0 0 0 0 0 1 0 1
2 0 1 0 1 0 1 0 0 1
3 1 0 0 0 0 0 1 0 1
4 0 0 1 0 1 0 1 1 0
5 1 0 0 0 0 0 1 0 1
6 0 1 0 1 0 1 0 0 1
7 0 0 1 1 0 1 0 0 1
8 1 0 0 0 0 0 1 0 1
9 0 1 1 0 0 0 1 0 1
10 0 0 1 0 1 0 1 1 0
11 0 1 0 0 1 0 1 1 0
12 1 0 0 0 0 0 1 0 1

2. Flow Chart

S0

S1

S2

K1

K2

H1

M1

H2

M2

Pada tabel diatas dapat dilihat,bahwa keadaan awal tidak ada arus yang mengalir pada
rangkaian dan lampu indikator merah 1 dan 2 menyala. Apabila saklar 1 (S1) ditekan
maka arus akan menglir pada kontaktor 2 yang menyebabkan matinya lampu indikator
merah 1 dan menyalanya lampu indikator hijau 1 dikarenakan saklar 1 (S1) yang
berfungsi untuk mengaliri arus sekaligus mengunci arus yang akan mengalir pada
kontaktor 2. Agar arus dapat mengalir pada kontaktor 2 terlebih dahulu menekan saklar
utama yang berfungsi untuk memutus arus yang mengalir pada rangkaian tersebut, maka
arus akan mengalir pada kontaktor 2 yang menyebabkan matinya lampu indikator merah
2 dan menyalanya lampu indikator hijau 2.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa :

Pada rangkaian 2 motor, apabila kontaktor 1 ON dan ingin menghidupkan kontaktor


2,maka terlebih dahulu mematikan kontaktor 1 ke sumber pusat. Pada rangkaian ini,
kontaktor yang menyala akan mengunci arus kontaktor 2. Berikut adalah fungsi-
fungsi dari 3 saklar yang terdapat pada rangkaian interlock yaiutu: saklar utama (S0)
yang berfungsi untuk memutus seluruh arus yang mengalir pada rangkaian tersebut,
saklar 1 (S1) berfungsi untuk mengalirkan arus ke kontaktor satu dan mengunci
aliran arus yang akan mengalir pada kontaktor 2, saklar 2 (S2) berfungsi untuk
mengalirkan arus ke kontaktor 2 dan mengunci aliran arus yang akan mengalir pada
kontaktor 1. Pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari sering sekali kita
jumpai yaitu lift dan lain sebagainya.

4.2 Saran

1. Paham secara teori terlebih dahulu sebelum praktik


2. Dalam setiap melakukan percobaan, disarankan bekerja sesuai langkah kerja.
3. Mengenal cara pakai alat-alat terlebih dahulu sebelum praktik.
4. Gunakan alat sesuai kegunaannya.
5. Kerja sama tim sangat dibutuhkan.
6. Utamakan keselamatan, kebersihan dan kesehatan kerja.
7. Cek rangkaian sebelum dinyalakan,untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.
8. Cek kabel terlebih dahulu sebelum digunakan.
9. Teliti dalam melakukan praktik

Anda mungkin juga menyukai