Anda di halaman 1dari 6

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/329982598

Identifikasi Gangguan Reproduksi pada Ovarium Sapi Potong yang Mengalami


Anestrus Postpartum Panjang (IDENTIFICATION OF REPRODUCTIVE
DISRUPTION ON PROLONGED POSTPARTUM ANESTRUS BEE...

Article · September 2018


DOI: 10.19087/jveteriner.2018.19.385

CITATIONS READS

0 311

3 authors, including:

Bayu Rosadi Teguh Sumarsono


Jambi University, Jambi, Indonesia Universitas Jambi
9 PUBLICATIONS   4 CITATIONS    3 PUBLICATIONS   1 CITATION   

SEE PROFILE SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Bayu Rosadi on 29 December 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Jurnal Veteriner September 2018 Vol. 19 No. 3: 385-389
pISSN: 1411-8327; eISSN: 2477-5665 DOI: 10.19087/jveteriner.2018.19.385
Terakreditasi Nasional, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, online pada http://ojs.unud.ac.id/index.php/jvet
Kemenristek Dikti RI S.K. No. 36a/E/KPT/2016

Identifikasi Gangguan Reproduksi


pada Ovarium Sapi Potong
yang Mengalami Anestrus Postpartum Panjang
(IDENTIFICATION OF REPRODUCTIVE DISRUPTION ON PROLONGED
POSTPARTUM ANESTRUS BEEF COW OVARIES)

Bayu Rosadi1, Teguh Sumarsono1, Fachroerrozi Hoesni1

Laboratorium Reproduksi, Fakultas Peternakan, Universitas Jambi,


Jl. Jambi-Muara Bulian km 15, Mendalo, Jambi, Indonesia, 36122
Telp/fax (0741)582907; Email: bayurosadi@unja.ac.id

ABSTRAK

Anestrus postpartum merupakan penyebab utama perpanjangan interval kelahiran sehingga


menurunkan produktivitas induk sapi potong. Kondisi anestrus berhubungan erat dengan kondisi ovarium
yang tidak aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gangguan reproduksi pada ovarium
sapi potong yang mengalami gejala anestrus yang panjang postpartum (lebih dari tiga bulan). Dalam
penelitian ini digunakan sapi induk postpartum sebanyak 150 ekor. Induk sapi betina tersebut dinilai
kondisi tubuh secara umum berdasarkan Skor Kondisi Tubuh (SKT). Identifikasi gangguan pada pada
ovarium dilakukan dengan metode palpasi rektal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 37,68 % sapi
anestrus postpartum panjang mengalami gangguan ovarium. Skor kondisi tubuh berkisar 2,0-3,2 dengan
rataan 2,6±0,7. Jenis gangguan ovarium yang terdeteksi adalah hifopungsi (19,32%), cystic folikel (8,21%),
corpus luteum persisten (4,5%), atropi (1,93%), dan agenesis parsial (0,97%).

Kata-kata kunci: sapi potong; gangguan reproduksi; ovarium; anestrus postpartum

ABSTRACT

Postpartum anestrus is the major factor causing elongation of the calving interval and in consequense,
lowering beef cow productivity. Anestrus condition is closey related to inactive ovary condition. The
research was conducted to find out reproductive disorders in ovarian of beef cattle cow that underwent
prolonged postpartum anestrus (more than 3 months). One hundred and fifty heads post partum anestrus
cow were selected. The general body condition were evaluated based on Body Condition Score (BCS). The
types of reproductive disruption in ovary were determined by rectal palpation method. The cows observed
had 2.0 to 3.2 (2.6 ± 0.7) in BCS. The result showed that 37.68% of prolonged postparum anestrus cow had
ovarian disorders. The types of ovarian disoreders detected were hypofunction (19.32%), cystic follicle
(8.21%), persistent corpus luteum (4.5%), atrophy (1.93%) and partial agenesis (0.97%).

Keywords: beef cattle; reproductive disruption; ovary; postpartum anestrus

PENDAHULUAN 2012). Kondisi ideal tersebut tidak selalu dapat


diwujudkan karena berbagai masalah yang
Efisiensi reproduksi adalah salah satu faktor mengganggu performans reproduksi sapi.
terpenting yang memengaruhi usaha budidaya Anestrus postpartum merupakan kondisi
sapi potong. Kondisi reproduksi ideal yang ketiadaan estrus 60 hari postpartum. Kondisi
diupayakan adalah mendapatkan satu anak anestrus postpartum menjadi faktor penyebab
perinduk setiap 12 bulan (Ahmadzadeh et al., utama perpanjangan interval kelahiran yang
2011). Aktivitas ovarium normal yang dimulai menimbulkan kerugian ekonomi (Mwaanga dan
secara dini yang disertai gejala-gejala estrus, Janowski, 2000). Kondisi anestrus dikaitkan
penting untuk interval kelahiran optimal dengan ovarium tidak aktif, sehingga
selama 365 hari (Zdunczyk et al., 2002; Ergene, pertumbuhan folikel tidak memungkinkan

385
Rosadi et al, 2018 Jurnal Veteriner

folikel menjadi cukup matang untuk Seleksi Induk dan Penilaian Kondisi
diovulasikan (Montiel dan Ahuja, 2005). Tubuh
Kejadian anestrus postpartum bervariasi di Sebelum digunakan sapi-sapi induk
antara kawanan sapi, kejadiannya berkisar 10- diseleksi berdasarkan catatan dari petugas
40% (Yuherman et al., 2017; Zduncyk et al., teknis lapangan dan keterangan dari peternak.
2002; Mwaanga dan Janowski, 2000). Induk sapi betina tersebut dinilai kondisi tubuh
Mekanisme yang mengontrol awal estrus secara umum berdasarkan Skor Kondisi Tubuh
setelah melahirkan sudah dipelajari selama (SKT) menurut petunjuk Awaluddin dan
puluhan tahun (Short et al., 1990). Panjaitan (2010).
Perpanjangan periode anestus postpartum
berkaitan dengan sinyal endokrin (GnRH) yang Identifikasi Gangguan Reproduksi pada
tidak cukup dari hipotalamus ke kelenjar Ovarium
pituitary anterior (Wettemann et al., 2003). Pemeriksaan gangguan reproduksi yang
Beberapa jenis peptida dan protein diketahui menyebabkan anestrus postpartum dinilai
bekerja pada pituitary anterior untuk dengan mengamati memeriksa kondisi ovarum.
memengaruhi sekeresi gonadotropin (Evans, Penilaian kondisi ovarium dilakukan melalui
1999; Schwartz, 2000). Anestrus postpartum palpasi rektal.
dapat dipicu oleh status energi yang rendah
(Kamal et al., 2014), kekurangan protein, dan Analisis Data
mineral (Yuherman et al., 2017). Data SKT disajikan dalam betuk rataan dan
Studi lapangan yang dilakukan di Provinsi simpangan bakunya. Besaran masing-masing
Jambi menunjukkan bahwa sebagian besar tipe gangguan reproduksi pada ovarium yang
induk sapi potong mengalami anestrus terdeteksi diolah dalam bentuk persentase dan
postpartum lebih dari empat bulan, bahkan dianalisis seara deskriptif.
dapat berkepanjangan sampai 48 bulan (Rosadi
et al., 2011). Untuk mengatasi masalah
tersebut perlu diidentifikasi secara tepat HASIL DAN PEMBAHASAN
penyebab munculnya masalah anestrus
postpartum khususnya pada organ reproduksi Kondisi Umum Induk
primer (ovarium). Terdapat berbagai Kondisi umum sapi yang mengalami
kemungkinan jenis gangguan reproduksi pada anestrus postpartum dapat dilihat dari
ovarium yang mengakibatkan munculnya penampilan umum eksterior tubuh yaitu dengan
gejala anestrus postpartum. Skor Kondisi Tubuh. Menurut Awaluddin dan
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari Panjaitan (2010) sapi diberi skor dengan rentang
gangguan-gangguan reproduksi yang 1-5. Angka menunjukkan tingkat kurus atau
teridentifikasi pada ovarium induk sapi potong gemuknya ternak, semakin gemuk semakin
yang mengalami anestrus yang panjang setelah tinggi skornya. Secara umum tingkat
melahirkan. Hasil penelitian ini dapat kegemukan ternak menunjukkan status
memberikan informasi dalam upaya mengatasi kesehatan dan nutrisi dari individu ternak yang
gangguan reproduksi pada sapi potong setelah dinilai. Sapi-sapi betina yang mengalami
melahirkan. anestrus postpartum mempunyai skor kondisi
tubuh 2,6 ± 0,7 dengan rentang 2,0 sampai
dengan 3,2 masuk kriteria kurus sampai
METODE PENELITIAN sedang. Kisaran angka demikian menunjukkan
bahwa sebagian besar sapi-sapi tersebut
Ternak mempunyai status nutrisi suboptimal walaupun
Ternak yang digunakan adalah induk yang pada kisaran tersebut masih memungkinkan
dipelihara peternak di Kabupaten Muaro Jambi, proses reproduksi berlangsung.
Propinsi Jambi. Jumlah induk yang digunakan Semua induk yang diperiksa pada
sebanyak 150 ekor. Kriteria ternak sapi yang penelitian dipelihara oleh peternak dengan skala
diidentifikasi adalah induk postpartum dan kepemilikian rendah, dengan rataan 2-3 ekor,
tidak menunjukkan gejala estrus selama ternak dikandangkan, dan diberi pakan dari
minimal tiga3 bulan. hijauan yang disediakan oleh peternak. Tidak

386
Jurnal Veteriner September 2018 Vol. 19 No. 3: 385-389

ada peternak yang menyediakan pakan dan terdapat korelasi nyata antara waktu yang
tambahan selain rumput. Mengingat kondisi diperlukan untuk menyempurnakan involusi
demikian, diduga induk-induk sapi ini uterus dangan estrus pertama.
mengalami kekurangan nutrisi yang penting Pada sapi-sapi anestrus postpartum ini
untuk proses pemulihan postpartum dan diduga pertumbuhan folikel tidak terjadi atau
melanjutkan kembali proses reproduksi, dengan meskipun terjadi tidak pertumbuhan folikel
kembalinya pertumbuhan folikel sampai tidak optimal karena kekurangan follicle
matang, ditandai dengan munculnya gejala stimulating hormone (FSH) akibat asupan
estrus. Induk-induk yang diamati, tidak nutrisi yang tidak memadai untuk produksi dan
mengalami estrus kembali setelah tiga bulan sekresi FSH. Level FSH kurang menyebabkan
atau lebih. Saat postpartum, diduga tidak pertumbuhan sel-sel granulosa pada folikel
terjadi pertumbuhan folikel yang optimal terhambat, sehingga produksi estrogen rendah,
sampai mencapai ukuran besar dan akhirnya tidak cukup untuk menimbulkan gejala estrus.
menjadi folikel de-Graaf yang mengandung oosit Montiel dan Ahuja (2005) menyatakan bahwa
matang yang siap diovulasikan. Sel-sel granulosa kondisi anestrus dikaitkan dengan kehadiran
pada folikel yang tumbuh menghasilkan ovarium tidak aktif, pertumbuhan folikel yang
hormon estrogen yang memicu munculnya terjadi tidak memungkinkan folikel yang cukup
gejala estrus. Peningkatan diameter folikel matang untuk diovulasikan.
ditandai proliferasi sel-sel granulosa yang
menghasilkan hormon estrogen, produksi Gangguan pada Ovariun
estrogen meningkat dan pada level maksimum, Pada ovarium sapi betina yang diperiksa
konsentrasi estrogen dalam darah cukup untuk per rektal didapatkan beberapa jenis gangguan
menimbulkan gejala estrus. di antaranya hipofungsi, cystic folikel, corpus
Sapi-sapi betina dengan nilai SKT rendah luteum persisten, atropi, dan agenesis parsial
atau tinggi bertahan pada kondisi anestrus (Tabel 1)
selama 60 hari atau lebih, dibandingkan SKT Munculnya gangguan pada ovarium diduga
optimal (Kamal et al., 2014). Walaupun diakibatkan defisiensi nutrisi. Beberapa hasil
keseimbangan energi tidak diukur, data penelitian telah menunjukkan bahwa sapi induk
menunjukkan bahwa perubahan dalam status dalam periode postpartum yang memperoleh
energi, ditunjukkan dengan SKT, dan hal pakan berenergi rendah dan dengan kandungan
tersebut merupakan faktor penting yang protein yang rendah, sehingga tidak mencukupi
mengatur kapan sapi-sapi betina mengalami kebutuhan minimum untuk mempertahankan
siklus birahi setelah melahirkan (Santos et al., kondisi badannya. Kondisi demikian secara
2009). Kekurangan pakan dan SKT rendah nyata menekan proses sintesis dan pelepasan
menyebabkan kejadian anestrus yang tinggi hormon gonadotropin kelenjar pituitari, dan
(Opsomer et al., 2000). Sapi betina dengan SKT berakibat aktivitas ovarium terganggu.
yang tinggi mengalami peningkatan mobilisasi Implikasi nyata akibat kondisi tersebut adalah
lemak tubuh dan mengakumulasi trigliserol periode anestrus postpartum menjadi lebih lama
secara berlebihan di hati, menunjukkan interval daripada kondisi fisiologis yang normal
postpartum lebih panjang terhadap estrus Penelitian ini menemukan bahwa 63,4%
pertama (Butler et al., 2003). Walaupun status ovarium induk sapi potong masih normal (siklik)
energi menentukan kapan ovulasi pertama post tetapi tidak menampakkan gejala estrus.
partum, namun Kamal et al. (2014) menduga Folikel-folikel pada ovarium terdeteksi ada,
terdapat faktor-faktor lain yang terlibat. tetapi tidak ada yang tumbuh sampai ukuran
Lama anestrus postpartum terkait dengan maksimum menjadi folikel de Graaf). Diduga,
masa involusi uteri. Setelah melahirkan uterus proliferasi sel-sel granulosa dalam struktur
gravid harus kembali ke kondisi non-gravid dan folikel tidak berjalan optimal karena rendahnya
siklus seksual harus muncul untuk pasokan FSH yang dihasilkan pituitary
mendapatkan konsepsi berikutnya. Efisiensi anterior. Sebagian ovarium mengalami
dari dua proses reproduksi kritis ini bersama degenerasi yaitu hipofungsi (20,2%) dan atrofi
efisiensi kawin alam atau inseminasi buatan (IB) (1,9%).
direfleksikan dari perkiraan interval kelahiran Ovarium hipofungsi, memiliki ukuran
(Abeygunawardena dan Dematawewa, 2004). normal, tetapi tidak terdeteksi adanya folikel-
Penelitian menunjukkan bahwa involusi uteri folikel yang tumbuh, ditandai oleh permukaan
terjadi antara 25 sampai 35 hari postpartum ovarium yang licin tanpa struktur yang

387
Rosadi et al, 2018 Jurnal Veteriner

Tabel 1. Gangguan ovarium pada sapi betina yang mengalami anestrus postpartum panjang

No Kondisi Ovarium Jumlah (ekor) Persentase

1. Normal/siklik 163 63,4


2 Hipofungsi 52 20,2
3 Cystic folikel 22 8,6
4 Corpus luteum persistent 13 5,1
5 Atropi 5 1,9
6 Agenesis parsial 2 0,8

Jumlah 257 100

mengadung cairan (folikel). Kemungkinan sehingga hanya satu ovarium yang terbentuk.
penyebabnya adalah kurangnya pasokan nutrisi Pada ternak agenesis ini ovarium fungsional
untuk proses fisiologis pembentukan folikel, karena induk dapat menghasilkan anak.
proliferasi sel-sel granulosa dan pematangan Kejadian anestrus postpartum pada kedua ekor
oosit, juga konsentrasi FSH dalam darah yang induk ini tidak disebabkan oleh jumlah ovarium
sangat rendah sehingga tidak mampu memicu tetapi oleh faktor nutrisi sehingga ovarium tidak
perkembagan folikel. Taraf lebih jauh, akibat bersiklus dengan normal.
kekurangan nutrisi menyebabkan atropi pada
ovarium. Ukuran ovarium mengecil mengindi-
kasikan kematian sel-sel pembentuk struktur SIMPULAN
ovarium akibat rendahnya pasokan nutrien-
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 37,68
nutrien yang krusial untuk metabolisme sel.
% sapi anestrus postpartum panjang mengalami
Cystic folikel terjadi pada ovarium yang
gangguan ovarium. Jenis gangguan ovarium
mempunyai folikel besar tetapi gagal ovulasi. yang terdeteksi adalah hifopungsi (19,32%),
Ovulasi membutuhkan serangkaian proses pada cystic folikel (8,21%), corpus luteum persisten
tingkat seluler dan subseluler yang melibatkan (4,5%), atropi (1,93%), dan agenesis parsial
hormon dan faktor-faktor berupa senyawa (0,97%).
protein serta subsatansi lain dalam reaksi
biokimiawi kompleks (Russel dan Robker, 2007).
Kondisi defisiensi nutrisi mengakibatkan UCAPAN TERIMA KASIH
keberadaan substansi-substansi penting itu
tidak terjamin, maka peristiwa ovulasi tidak Penelitian ini dibiayai dengan skim
dapat berlangsung. Penelitian ini menunjukkan penelitian Dosen Senior Fakultas Peternakan
8,6% sapi betina mengalami cystic folikel. Universitas Jambi tahun anggaran 2017.
Tingkat kejadian cystic bervariasi antara 2-12
% (Ali et al., 2006). Organ reproduksi sapi jenis
Holstein, Guernsey, Jersey dan milking Short DAFTAR PUSTAKA
Horn didapatka mengalami cystic folikel
sebanyak 4%. Ali R, Raza MA, Jabbar A, Rasool MH. 2006.
Ali et al. (2006) melaporkan bahwa semua Pathological studies on reproductive organs
folikel yang mengalami cystic menunjukkan of Zebu cow. J Agric & Soc Sci 2(2): 91-95.
tidak adanya ovum, sel-sel granulosa terlihat
Abeygunawardena H, Dematawewa CMB. 2004.
2-3 lapisan dan menunjukkan perubahan
Pre-pubertal and postpartum anestrus in
degeneratif di antara sel-sel theca. Penemuan
tropical Zebu cattle. Anim Reprod Sci 82-
serupa telah dilaporkan sebelumnya. Kasus
83: 373-387.
teratoma dilaporkan terjadi pada cystic folikel
dengan kisaran 0,39-2,3%. Ahmadzadeh A, Carnahan K, Autran C. 2011.
Hasil penelitian didapatkan dua ekor (0,8%) Understanding puberty and postpartum
sapi induk hanya mempunyai satu ovarium anestrus. Proceedings Applied Reproductive
(agenesis parsial). Penyebab agenesis parsial Strategies in Beef Cattle September 30 –
adalah kegagalan organogenesis pada ovarium October 1, Boise, ID.

388
Jurnal Veteriner September 2018 Vol. 19 No. 3: 385-389

Awaluddin, Panjaitan T. 2010. Petunjuk Praktis Santos JEP, Rutigliano HM, Sa Filho MF. 2009.
Pengukuran Ternak Sapi Potong. Balai Risk factors for resumption of postpartum
Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, estrous cycles and embryonic survival in
Mataram. lactating dairy cows. Anim Reprod Sci 110:
207-221.
Butler WR. 2003. Energy balance relationships
with follicular development, Schillo KK. 1992. Effect of dietary energy on
control of luteinizing hormone secretion in
ovulation and fertility in postpartum dairy
cattle and sheep. J Anim Sci 70: 1271-
cows. Livest Prod Sci 83: 211-
1282.
218.
Schwartz J. 2000. Intercellular communication
Ergene O. 2012. Comparison of in the anterior pituitary. Endocr. Rev 21:
PRID+PGF2á+GNRH and GnRH+ PGF2á 488-513
protocols in the Treatment of Postpartum
Short RE, Bellows RA, Staigmiller JG.
Anestrus Cows. J Anim Vet Adv 11(2): 211-
Berardinelli, Custer EE. 1990. Physiological
213.
mechanisms controlling anestrus and
Evans J. 1999. Modulation of gonadotropin levels infertility in postpartum beef cattle. J Anim
by peptides acting at the anterior pituitary Sci 68: 799-816.
gland. Endocr Rev 20: 46-67.
Wettemann RP, Lents CA, Ciccioli NH, White
Kamal Md M, Bhuiyan MdMU, Parveen N, FJ, Rubio I. 2003. Nutritional- and suckling-
Momont HW, Shamsuddin M. 2014. Risk mediated anovulation in beef cows. J Anim
factors for postpartum anestrus in crossbred Sci 81(E. Suppl. 2): E48-E59.
cows in Bangladesh. Turk J Vet Anim Sci
Whittier JC, Berardinelli J, Anderson L. 2008.
38: 151-156.
Understanding puberty and postpartum
Montiel F, Ahuja C. 2005. Body condition and anestrus. In Proceedings, Applied
suckling as factors influencing Reproductive Strategies in Beef Cattle. Fort
duration of postpartum anestrus in cattle: Collins, CO.
A review. Anim Reprod Sci 85: 1-26.
Yuherman, Reswati, Kurnia YF, Indahwati,
Mwaanga, ES, Janowski T. 2000. Anestrous in Khalil. 2017. Hematological and
dairy cows: Causes, prevalence and clinical
mineral profiles of reproductive failure of
forms. Reprod Dom Anim 35: 193-200.
exotic attle in Payakumbuh,
Opsomer G, Coryn M, de Kruif A. 2004.
West Sumatra, Indonesia. Pak J Biol Sci
Postpartum anoestrus in high yielding dairy
20(8): 390-396
cows. Vlaams Diergen Tijds 73: 112-118.
Zduncyk S, Mwaanga ES, Malecki-Tepicht J,
Rosadi B, Depison, Arsyad, Ahmadi. 2011. Kaji
Baranski W, Janowski T. 2002. Plasama
terap optimalisasi reproduksi sapi potong
progesterone levels and clinical finding in
melalui penerapan protokol Ovsynch dan
dairy cows with post-partum anestrus. Bull
transfer embrio di Provinsi Jambi. Jambi.
Vet Inst Pulawy 46: 79-86.
Laporan Penelitian Dinas Peternakan dan
Kesehatan Hewan Provinsi Jambi.
Russell DL, Robker RL. 2007. Molecular
mechanisms of ovulation: co-ordination
through the cumulus complex. Hum Reprod
Update 13(3): 289-312.

389

View publication stats