Anda di halaman 1dari 19

MANAJEMEN RUGI FISKAL DAN STRATEGI

PERPAJAKANNYA

Makalah Manajemen Perpajakan

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Perpajakan

Disusun Oleh :

Christina Indriani
NIM 165154037
Ilmia Ghani Paramesi
NIM 165154042
M Rafi Habiburrahman
NIM 165154045
Muhammad Irfan Dzul Izzudin
NIM 165154049
Syipa Aulia
NIM 165154063

3 AC B

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


JURUSAN AKUNTANSI
D4 AKUNTANSI
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat yang
diberikan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Manajemen Perpajakan yang
berupa makalah Bab 9 dengan judul Manajemen Rugi Fiskal dan Strategi Perpajakannya.

Kami tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penyusun mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi
makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada
makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada guru
Manajemen Perpajakan kami yang telah membimbing kami dalam menyusun makalah ini.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, kami berharap supaya makalah yang telah kami
buat ini dapat memberikan manfaat kepada setiap pembacanya.

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. i


DAFTAR ISI........................................................................................................................................... ii
BAB I ...................................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 1
1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................................................ 1
BAB II..................................................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 2
2.1 PENILAIAN KEMBALI/REVALUASI AKTIVA TETAP ................................................... 2
2.1.1 Tarif PPh Penilaian Kembali Aktiva Tetap ..................................................................... 3
2.1.2 Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan untuk Tujuan Perpajakan ......................... 5
2.1.3 Pengukuran Aktiva Tetap Berdasarkan PSAK Berbasis IFRS ....................................... 6
2.2 PENGGABUNGAN USAHA (MERGER) ........................................................................... 11
2.2.1 Dua Metode Pencatatan untuk Merger Perusahaan ...................................................... 12
2.2.2 Aspek Pajak Merger Perusahaan................................................................................... 13
2.3 MENUNDA BIAYA PENYUSUTAN ................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Bila SPT Tahunan Badan yang melampirkan laporan keuangan fiskal sudah
dimasukkan ke Kantor Pelayanan Pajak setelah berakhirnya masa pajak tahun yang
bersangkutan,maka pada saat itu juga terdapat pengakuan secara fiskal (sebelum
pemeriksaan pajak) apakah perusahaan mengalami kerugian atau mendapatkan laba
usaha. Laba/rugi fiskal tersebut sebenarnya adalah hasil dari perhitungan laba rugi
komersial setelah dilakukannya penyesuaian atau koreksi fiskal baik positif maupun
negatif.
Jika pengeluaran yang diperkenankan, setelah dikurangkan dari penghasilan bruto
diperoleh kerugian, kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan neto atau
laba fiskal selama lima tahun berturut-turut, dimulai sejak tahun berikutnya sesudah
tahun didapatnya kerugian tersebut.
Strategi yang bisa ditempuh dalam menyiasati kerugian perusahaan antara lain :
1. Melakukan penilaian kembali atau revaluasi aktiva tetap
2. Melakukan penggabungan usaha (merger/business combination)
3. Menunda biaya penyusutan

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENILAIAN KEMBALI/REVALUASI AKTIVA TETAP

Revaluasi aktiva tetap perusahaan dilakukan karena ada ketidaksesuaian yang cukup
materil antara unsur biaya dengan penghasilan, karena perkembangan atau fluktuasi
harga, baik harga barang (karena factor inflasi) maupun karena terjadinya fluktuasi nilai
tukar mata uang yang tinggi. Jadi tindakan revaluasi dimaksudkan agar perusahaan
dapat melakukan perhitungan biaya dan penghasilan secara lebih wajar yang dapat
mencerminkan kemampuan dan nilai perusahaan yang sesungguhnya. Tindakan
revaluasi ini akan memberi manfaat bagi perusahaan, sebagai berikut:

1. Posisi kekayaan perusahaan yang tercermin dalam neraca perusahan akan


menunjukkan posisi yang sama atau mendekati harga pasar yang wajar, sehingga
nilai solvabilitas perusahaan akan semakin tingi dimata investor atau calon investor
dan pemakai laporan keuangan tersebut. Semakin solvable suatu perusahaan, akan
semakin tinggi tingkat kepercayaan para investor atau calon investor terdahap
bonafiditas perusahaan, dan akan semakin tinggi pula nilai perusahaan yang
dicerminkan dengan semakin baiknya nilai saham perusahaan (bagi yang sudah Tbk)
tercatat di pasar modal.
2. Terjadi peningkatan struktur modal (capital structure) sendiri, dimana Debt to Equity
Ratio (DER) atau perbandingan antara pinjaman (debt) dengan modal sendiri
(equity) menjadi membaik. Dengan membaiknya DER, perusahaan akan lebih
mudak menarik dana melalui pinjaman dari pihak ketiga atau melalui emisi saham
untuk meningkatkan likuiditasnya.
3. Perhitungan biaya dan penghasilan dilakukan secara lebih wajar. Perhitungan harga
pokok akan menghasilkan nilai yang mendekati harga pokok yang wajar.

Dalam melakukan revaluasi, kita harus mmpertimbangkan beberapa hal berikut ini:

1. Apakah perusahaan mengalami rugi atau memperoleh laba fiscal?


2. Apakah rugi fiscal tersebut sudah pernah dikompensasi kerugian di tahun-tahun
sebelumnya, dan kapan batas terakhir kompensasi kerugian tersebut?
3. Bagaimana dampak revaluasi tersebut terhadap beban pajak di masa yang akan
datang?

2
2.1.1 Tarif PPh Penilaian Kembali Aktiva Tetap
Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva adalah merupakan objek pajak
penghasilan (Pasal 4 UU PPh No.36 tahun 2008). Atas selisih lebih penilaian
kembali aktiva tetap perusahaan di atas, nilai sisa buku fiscal semula dikenakan
Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 10%. (Peraturan Menkeu
No.79/PMK.03/2008 dan Pasal 4m UU PPh No.36 tahun 2008 jo. Peraturan
Dirjen Pajak No. PER-12/PJ./2009 jo. SE 56/PJ./2009).

Contoh:

PT. ABC pada awal tahun 2006 membeli aktiva tetap berupa mesin pabrik
seharga Rp. 920 juta. Dari data pembukuan diinformasikan, perusahaan
menggunakan metode penyusutan garis lurus dan digolongkan dalam aktiva
tetap kelompok 2 (masa manfaat 8 tahun). Pada awal tahun 2010, perusahaan
jasa penilai (appraiser) yang diakui pemerintah melaporkan nilai wajar mesin
ini sebesar Rp. 700 juta.

Pertanyaan:

Apakah perusahaan PT. ABC sebaiknya melakukan revaluasi, bila:


a. PT. ABC tidak mengalami rugi fiscal?
b. PT. ABC mengalami rugi fiscal tahun 2006 sebesar Rp. 800 juta dan hingga
tahun 2010 baru dilakukan kompensasi kerugian sebesar Rp. 500 juta,
sedangkan laba tahun berjalan tahun 2011 diprediksi sebesar Rp. 500 juta?

Jawab:

a. Bila perusahaan tidak mengalami rugi fiscal (s/d tahun 2010)

Harga perolehan Mesin Rp 920 juta

Akumulasi penyusutan (2006-2010) Rp 575 juta (5/8x920 juta)

Nilai buku mesin Rp 345 juta

Nilai revaluasi Rp 700 juta

Selisih lebih penilaian kembali Rp 355 juta

Selisih lebih penilaian kembali tersebut bukanlah perkiraan pendapatan


bagi perusahaan, tetapi terwujud dalam penambahan atau penurunan nilai

3
aktiva tetap akibat revaluasi, serta perkiraan lawannya (contra account)
dibukukan dalam akun modal (ekuitas) dengan nama “selisih penilaian
kembali aktiva tetap”, sehingga penyusutan di tahun berikutnya didasarkan
atas nilai baru setelah revaluasi. Atas selisih lebih penilaian kembali
tersebut dikenakan PPh Final 10% atau sebesar Rp 35,5 juta.

Karena perusahaan tidak mengalami rugi fiscal, maka pertimbangannya


adalah dengan cara membandingkan nilai tunai (present value) dari
kenaikan biaya penyusutan setelah revaluasi dengan cash flow perusahaan
yang keluarkan untuk membayar PPh Final. Bila nilai tunai penyusutan
tersebut lebih besar dari PPh Final 10%, maka tindakan revaluasi tersebut
dapat dijalankan.

b. Bila perusahaan mengalami rugi fiscal

Rugi fiscal tahun 2006 sebesar Rp. 800 juta


Kompensasi kerugian terhadap laba tahun 2011 Rp. 500 juta
Kompensasi kerugian yang hangus
bila perusahaan tidak melakukan revaluasi Rp. 300 juta

Sesuai Pasal 6 ayat (2) UU No.36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan,
kompensasi kerugian ditetapkan selama 5 tahun. Kompensasi kerugian
terdahap laba perusahaan telah dilaksanakan dari tahun 2006 hingga tahun
2010 (4 tahun) tinggal sisanya 1 tahun lagi. Dalam situasi yang demikian,
dari pada kompensasi kerugian tersebut hangus, lebih baik perusahaan
melakukan revaluasi pada awal tahun 2011, karena “Selisih lebih penilaian
kembali” tersebut harus di kompensasikan dulu terhadap rugi fiscal,
sehingga tidak dikenakan PPh final. Bila tidak dilakukan revaluasi, maka
perusaaan akan rugi karena kompensasi kerugian yang hangus sebesar Rp.
300 juta.

Bagaimana bila perusahaan melakukan revaluasi, apa dampaknya terhadap


PPh Final?

Selisih lebih penilaian kembali Rp. 355 juta (kredit)


Rugi fiscal tahun 2011 Rp. 800 juta (debit)
Selisih lebih penilaian kembali (net)

4
setelah kompensasi Rp. 415 juta (debit)

Artinya, dari contoh di atas, bila perusahaan melakukan revaluasi, maka


perusahaan tidak perlu membayar PPh Final 10% karena akun “selisih lebih
penilaian kembali (net)” setalah kompensasi masih negatif. Tambahan biaya yang
timbul dari “selisih lebi penilaian kembali” sebesar Rp 355 juta tersebut dapat
dibiayakan secara bertahap melalui penyusutan sesuai dengan umur aktiva yang
bersangkutan setelah revaluasi.

2.1.2 Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan untuk Tujuan Perpajakan

Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan dilakukan terhadap :

1. Seluruh aktiva tetap berwujud, termasuk tanah yang berstatus hak milik atau
hak guna bangunan.
2. Seluruh aktiva tetap berwujud tidak termasuk tanah, yang terletak atau berada
di Indonesia, dimiliki dan dipergunakan untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan yang merupakann objek pajak.

Perusahaan dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk


tujuan perpajakan dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap (selanjutnya disebut
perusahaan), tidak termasuk perusahaan yang memperoleh izin
menyelenggarakan pembukuan dalam Bahasa inggris dan mata uang dollar
AS, dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan
perpajakan, dengan syarat telah memenuhi kewajiban perpajakannya sampai
akhir masa pajak dilakukannya penilaian kembali.
b. Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan dilakukan
terhadap :
1. Seluruh aktiva tetap berwujud, termasuk tanah yang berstatus hak milik
atau hak guna bagunan.
2. Seluruh aktiva tetap berwujud tidak termasuk tanah, yang terletak atau
berada di Indonesia, dimiliki dan dipergunakan untuk mendapatkan,
menagih dan memelihara penghasilan yang merupakann objek pajak.
a) Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan tidak
dapat dilakukan kembali sebelum lewat jangka waktu 5 tahun terhitung

5
sejak penilaian kembali aktiva tetap perusahaan terakhir yang dilakukan
berdasarkan peraturan Menteri keuangan nomor 79/PMK.03/2008
tentang penilaian kembali kembali aktiva tetap perusahaan untuk tujuan
perpajakan.
b) Sisa kerugian tidak dapat diperihtngkan lagi dalam penentuan pajak
penghasilan yang bersifat final atas penilaian kembali aktiva tetap
perusahaan untuk tujuak perpajakan.
c) Pelunasan pajak penghasilan yang bersifat final yang terutang dalam
rangka penilaian kembali aktiva tetap perusahaan dapat dilakukan secara
angsuran dalam jangka waktu paling lama 12 bula.
d) Perusahaan yang melakukan penilaian kembali aktiva tetap harus
menndapatkan persetujuan direktur jendral pajak dengan cara
mengajukan permohonan kepada kepala kantor wilayah DJP yang
membawahi KPP domisili, dengan menggunakann formulir sebagaimana
dimaksud dalam lampirann I peraturan direktur jenderal pajak nnomor
PER-12/PJ./2009.
(SE-56/PJ./2009 jo PMK No. 79/PMK.03/2008)

Atas selisih lebih penilaian kembali aktuva tetap perusahaan diatas nilai sisa
buku fiscal semula, dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final sebesar 10%.

Selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap dapat dikapitalisasi menjadi modal
saham, dan saham tersebut dapat dibagikan kepada pemegang saham berupa
saham bonus.

Saham bonus yang berasal dari kapitalisasi selisih lebih revaluasi aktiva tetap
yang dibagikan kepada pemegang saham, bukan merupakan dividen, sehingga
tidak dikenakan pajak penghasilan (pasal 1 PP 138/2000).

2.1.3 Pengukuran Aktiva Tetap Berdasarkan PSAK Berbasis IFRS

a. Pengakuan:
Biaya perolehan aset tetap diakui sebagai aset jika dan hanya jika: biaya
perolehan dapat diukur secara andal dan kemungkinan besar entitas akan
memperoleh manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut.

6
Entitas me-revaluasi berdasarkan prinsip pengakuan ini terhadap semua
biaya perolehan aset tetap pada saat terjadinya. Biaya tersebut termasuk
biaya awal untuk memperoleh atau mengkonstruksi aset tetap dan biaya
selanjutnya yang timbul untuk menambah, mengganti bagian atau
memperbaikinya.

Contoh:
a. Biaya penanganan kimiawi baru diakui sebagai aset (tanpa itu tidak
dapat berproduksi)
b. Biaya perawatan sehari-hari diakui dalam laba rugi

b. Pengukuran saat pengakuan:


Aset tetap yang memenuhi syarat pengakuan sebagai aset diukur pada
biaya perolehan.

Komponen biaya perolehan;


1. Setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung
2. Harga perolehan; termasuk bea impor dan pajak pembelian setelah
diskon pembelian dan potongan lain;
3. Estimasi awal biaya pembongkaran & pemindahan aset tetap dan
restorasi lokasi aset tetap

Contoh biaya yang dapat diatribusikan langsung :


1. Biaya imbalan kerja yang timbul scr langsung dari konstruksi atau
perolehan aset tetap
2. Biaya penyiapan lahan untuk pabrik
3. Biaya penanganan dan penyerahan awal
4. Biaya perakitan dan instalasi
5. Biaya pengujian aset
6. Komisi professional

c. Pengukuran setelah pengakuan:


Model biaya
Setelah pengakuan sebagai aset, aset tetap dicatat pada biaya perolehan
dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset.

7
Model revaluasi
Nilai wajar pada tanggal revaluasian dikurangi akumulasi penyusutan
dan akumulasi rugi penurunan nilai setelah tanggal revaluasi. Hal ini untuk
memastikan tidak ada beda material. Jika suatu aset tetap direvaluasi, maka
seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama direvaluasi. Contoh: tanah,
mesin, kapal, pesawat.

Metode Penyusutan
Metode penyusutan yang dapat digunakan antara lain:
1. Garis lurus
2. Saldo menurun
3. Unit produksi
*metode penyusutan yang didasarkan pada pendapatan yang dihasilkan
oleh aktivitas yang menggunakan suatu aset adalah tidak tepat. Karena
umumnya hal tersebut mencerminkan faktor-faktor selain pemakaian
manfaat ekonomik aset tersebut. Beban penyusutan untuk setiap periode
dimasukkan dalam lap. laba rugi entitas

Revaluasi
Jika suatu aset tetap direvaluasi, maka seluruh aset tetap dalam kelas
yang sama direvaluasi. Karena, menghindari aset selektif dan
bercampurnya biaya perolehan dan nilai lain pada tanggal berbeda. Tapi,
suatu kelas dapat direvaluasi bergantian jika dapat diselesaikan secara
lengkap, periode singkat dan revaluasi dimutakhirkan.
Jika saat pertama revaluasi terjadi penurunan nilai maka masuk laba
rugi, jika saat pertama revaluasi terjadi kenaikan nilai maka masuk laba
rugi komprehensif.
*selama nilai surplus > nilai penurunan nilai tahun sebelumnya (begitu
sebaliknya)

d. Penghentian Pengakuan:
Keuntungan atau kerugiannya dimasukkan dalam laporan laba rugi
entitas aset tetap dihentikan pengakuannya hanya jika: pada saat pelepasan
aset atau ketika tidak terdapat lagi manfaat ekonomis

8
e. Pengungkapan:
Laporan keuangan mengungkapkan untuk setiap kelompok aset tetap
yang berupa : Dasar pengukuran yang digunakan, metode penyusutan, umur
manfaat, jumlah tercatata bruto dan akumulasi penyusutan, rekonsiliasi
jumlah tercatat, keberadaan dan jumlah pembatasan atas hak milik, jumlah
pengeluaran yang diakui dalam aset tetap dalam konstruksi, jumlah
komitmen kontraktual untuk memperoleh dan jumlah kompensasi dari
pihak ketiga.
Jika aset direvaluasi, hal-hal berikut harus diungkapkan yaitu: tanggal
efektif revaluasi, apakah melibatkan penilai independen, metode dan
asumsi, penjelasan mengenai nilai wajar terhadap nilai pasar aktif atau
lainnya, kelompok yang menggunakan model biaya, surplus revaluasi.

Contoh Soal :
Pada awal tahun 2009, PT ABx yang bergerak di bidang usaha perkebunan kelapa
sawit membeli traktor dengan harga perolehan sebesar Rp 600 juta. Mesin traktor
tersebut masuk dalam kelompok 11 dalam UU Pajak Penghasilan (PMK No.
96/PMK. 03/2009) dengan masa manfaat 8 tahun, dan untuk penyusutan aktiva
tetapnya menggunakan metode garis lurus. Diasumsikan tidak ada nilai residu.

Jawab :
Pengakuan awal di PT ABx:
Harga perolehan mesin traktor yang dibeli
tgl. 2 Jan 2009 Rp 600 juta
-/-: Akum. penyusutan mesin traktor
sampai dengan 31/12/2010 Rp 150 juta _
Nilai buku (book value) per 31/12/2010 Rp 450 juta
Sehingga jurnal penyesuaiannya tahun 2009 dan 2010 sebagai berikut:
Tgl. 31 Des 2009:
D. Beban penyusutan: mesin traktor Rp 75 juta
K. Akum. Penyusutan mesin traktor Rp 75 juta

Tgl. 31 Des 2010


D. Beban penyusutan mesin traktor Rp 75 Juta
K. Akum. Penyusutan mesin trnktor Rp 75 Juta

9
Dalam rangka pengukuran aset tetapnya setelah pengakuan awal, Direksi PT Abx
memutuskan untuk menggunakan model revaluasi terhitung awal tahun 2011.
Berdasarkan revaluasi aset tetap per 31 Des 2010 diketahui nilai wajar mesin
traktor tetsebut sebesar Rp 550 juta. Oleh sebab itu untuk pengukuran aset tetap-
nya dibukukan sebagai berikut

Jurnal penyesuaian per 31/12/2010 sebagai berikut:

Alternatif I :
D. Akum. Penyusutan mesin traktor Rp 100 juta
K. Surplus revaluasi Rp 100 juta

Alternatif II :
D. Akum. Penyusutan mesin traktor Rp 150 juta
K. Mesin traktor (600 juta - 550 juta) Rp 50 juta
K. Surplus revaluasi Rp 100 juta

Bagaimana perlakuan akuntansi terhadap "Surplus Revaluasi".


 Dalam PSAK No. 16 paragraf 39 diatur: Jika jumlah aset tercatat meningkat
akibat revaluasi, kenaikan tersebut langsung di kredit ke ekuitas pada bagian
surplus revaluasi Namun kenaikan tersebut harus diakui dalam laporan laba
rugi hingga sebesar jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasl yang pernah
diakui sebelumnya dalam laporan laba rugi.
 Dalam PSAK No. 16 paragraf 40 diatur: Jlka jumlah aset tercatat turun akibat
revaluasi. penurunan tersebut diakui dalam laporan laba rugi. Namun
penurunan nilai akibat revaluasi tersebut langsung didebit ke ekuitas pada
bagian surplus revaluasi selama penurunan tersebut tidak melebihi saldo kredit
surplus revaluasi untuk aset tersebut.

Mengacu pada Pasal 5 PMK Nomor: 79/PMK. 03/2008 mengenai pengenaan


PPh yang bersifat final sebesar 10% atas selisih lebih revaluasi aktiva tetap, maka
pencatatan akuntansinya adalah sebagai berikut:

Jurnal Adjustment Tgl. 31 Desember 2011:

Alternatif 1:
D. Akumulasi Penyusutan Mesin Traktor 100.000.000
C. Surplus revaluasi 90.000.000

10
C. Utang PPh Final (10% x 100 juta) 10.000.000

Alternatif 2:
D. Akumulasi Penyusutan Mesin Traktor 150.000.000
C. Mesin Traktor 50.000.000
C. Surplus revaluasl 90.000.000
C. Utang PPh Final (100% x 100 juta) 10.000.000

Metode apa pun yang akan diaplikasikan (cost model atau revaluation model),
sebelum diputuskan sebaiknya setiap entitas selektif menimbang plus minus
masing-masing metode dilihat dari aspek perpajakannya, biaya atau compliance
cost-nya, cash flownya, dan penyajian laporan keuangannya.

2.2 PENGGABUNGAN USAHA (MERGER)


Merger meliputi penggabungan usaha atau peleburan usaha. Penggabungan usaha
adalah penggabungan dari dua atau lebih wajib pajak badan yang modalnya terbagi atas
saham dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha yang tidak
mempunyai sisa kerugian atau mempunyai sisa kerugian yang lebih kecil. Sedangkan
peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih wajib pajak badan yang
modalnya terbagi atas saham dengan cara mendirikan badan usaha baru. (Peraturan
Menkeu No. 43/PMK.03/2008).

Proses merger biasanya dilakukan atas dorongan untuk mempercepat penyelesaian


kemelut keuangan di salah satu pihak. Dengan merger dan akuisisi akan diperoleh
peningkatan modal perusahaan sehingga capital edequacy ratio (CAR) akan meningkat
sehingga dapat memanage biaya serta memperbesar margin bunga pinjaman.

Wajib pajak yang melakukan merger dapat menggunakan nilai buku, dengan
beberapa ketentuan yang berdasarkan pada Peraturan Menkeu no. 43/PMK.03/2008
adalah sebagai berikut :

a. Wajib pajak yang melakukan merger dengan menggunakan nilai buku tidak
boleh mengkompensasikan kerugian atau sisa kerugian dari wajib pajak yang
menggabungkan diri atau wajib pajak yang dilebur.
b. Wajib pajak yang menerima pengalihan harta mencatat nilai perolehan harta
tersebut sesuai dengan nilai sisa buku sebagaimana tercantum dalam pembukuan
pihak atau pihak-pihak yang mengalihkan.

11
c. Sebaliknya, penyusutan atas harta yang diterima bagi pihak yang menerima
pengalihan harta tersebut dilakukan berdasarkan masa manfaat yang tersisa
sebagaimana tercantum dalam pembukuan pihak atau pihak-pihak yang
mengalihkan

Dalam rangka melakukan penggabungan (merger) atau peleburan usaha


(konsolidasi), wajib pajak juga dapat mengajukan permohonan pengurangan Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan bila terjadi pengalihan hak atas tanah atau
bangunan (PER-Dirjen Pajak No.29/PJ/2009).

Wajib Pajak yang melakukan merger wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut :
mengajukan permohonan kepada Direktur Jendral Pajak dengan melampirkan alasan
dan tujuan melakukan merger dan pemekaran usaha, melunasi seluruh utang pajak dari
tiap badan usaha yang terkait, dan memenuhi persyaratan tujuan bisnis (business
purpose test).

Sehubungan dengan permohonan kepada Direktur Jendral Pajak tersebut, terhadap


wajib pajak dilakukan pemeriksaan rutin dengan mendasarkan antara lain pada data
SPT Rugi Tidak Lebih Bayar dan Data wajib pajak badan yang melakukan
penggabungan usaha, peleburan usaha, pemekaran usaha, pemecahan usaha, pengambil
alihan usaha, dan likuidasi.

2.2.1 Dua Metode Pencatatan untuk Merger Perusahaan

a. Pooling of Interest Method

Pooling of interest method atau penyatuan kepemilikan merupakan metode


yang melihat bahwa kepemilikan perusahaan-perusahaan yang bergabung
adalah satu kesatuan dan secara relatif tetap tidak berubah pada entitas
akuntansi yang baru.
Aktiva bersih pada merger perusahaan dibukukan sesuai dengan nilai buku
(book value), serta tidak adagoodwill dan kenaikan nilai aktiva dan selisih
biaya perolehan (cost of investment) dengan nilai buku aktiva perusahaan.
Dalam proses tersebut tidak terdapat transaksi pembelian, sehingga tidak
ada dasar pertanggungjawaban yang baru. Contoh terdapat dua PT yang akan
merger, yakni PT Nusa dan PT Bangsa, jika menggunakan metode ini maka

12
PT Nusa tidak dianggap memiliki atau mengakuisisi PT Bangsa. Begitupun
sebaliknya.

b. Purchase Method

Purchase method atau pembelian merupakan metode yang didasarkan pada


asumsi bahwa penggabungan perusahaan adalah sebuah transaksi yang salah
satu entitasnya memperoleh aktiva bersih dari perusahaan lain yang
bergabung. Dengan metode ini, perusahaan yang membeli perlu mencatat
aktiva yang diterima dan kewajiban yang ditanggung sebesar nilai wajarnya.

Berdasarkan metode pencatatannya, merger dengan nilai buku sekilas lebih


menguntungkan karena dapat terhindar dari PPh atas laba selisih kenaikan
aktiva (objek pajak UU PPh Pasal 4).

Sedangkan merger dengan nilai pasar akan memberi keuntungan laba kena
pajak yang lebih minim di masa depan karena adanya amortisasi goodwill (UU
PPh Pasal 11A Ayat 1) dan depresiasi yang lebih besar dari kenaikan nilai
aktiva.

2.2.2 Aspek Pajak Merger Perusahaan

Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. SE-23/PJ.42/1999


Tentang Perlakuan Perpajakan atas Restrukturisasi Perusahaan, harta Badan
Usaha yang melakukan pengalihan (transferor company), yang dialihkan kepada
Badan Usaha yang menerima pengalihan (acquiring company) dalam rangka
penggabungan, harus dicatatkan/dibukukan oleh badan usaha yang menerima
pengalihan dengan nilai buku fiskal menurut badan usaha yang melakukan
pengalihan.

a. Pajak Pertambahan Nilai

Perlakuan PPN atas penyerahan BKP dalam rangka restrukturisasi usaha


tidak dikenakan PPN. Namun, kondisi ini hanya berlaku jika yang
mengalihkan dan yang menerima pengalihan statusnya adalah Pengusaha Kena
Pajak (PKP). Dengan demikian, apabila salah satu bukan PKP, maka atas
pengalihan ini tetap dikenakan PPN.

13
Dalam Pasal 9 ayat (14) UU nomor 42 Tahun 2009 diatur bahwa dalam hal
terjadi pengalihan BKP dalam rangka restrukturisasi usaha, Pajak Masukan
atas BKP yang dialihkan dan belum dikreditkan oleh PKP yang mengalihkan
dapat dikreditkan oleh PKP yang menerima pengalihan, dengan catatan faktur
pajaknya diterima setelah terjadinya pengalihan dan Pajak Masukan tersebut
belum dibebankan sebagai biaya atau dikapitalisasi.

b. PPh Final dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Dalam Pasal 10 Ayat 3 Undang Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang


Pajak Penghasilan, bahwa nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan
dalam rangka likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan,
atau pengambilalihan usaha adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau
diterima berdasarkan harga pasar, kecuali ditetapkan lain oleh Menteri
Keuangan.

Dengan demikian akan dikenakan PPh Final 5% dari aspek yang lebih
tinggi antara nilai yang tertera di akta pengalihan atau NJOP PBB. Sedangkan
BPHTB dikenakan berdasarkan Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP), dengan
rumus berikut:

NPOP Kena Pajak = NPOP – NPOP Tidak Kena Pajak. Hasil dari
perhitungan tersebut dikalikan 5%.

2.3 MENUNDA BIAYA PENYUSUTAN


Menunda biaya penyusutan harta berwujud hanya diperbolehkan bagi wajib pajak
yang bergerak dalam bidang usaha tertentu, yaitu :
1) Bidang usaha kehutanan, meliputi tanaman kehutanan, kayu.
2) Bidang usaha industri perkebunan tanaman keras meliputi tanaman keras.
3) Bidang usaha peternakan meliputi ternak, termasuk ternak sapi pejantan.

Dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Dapat melakukan penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta


berwujud dalam bagian – bagian yang sama besar selama masa manfaat yang
telah ditentukan bagi harta tersebut.

14
b. Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud tersebut termasuk biaya
pembelian bibit, biaya untuk membesarkan dan memelihara bibit, tetapi tidak
termasuk sebagai pengeluaran biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja.
c. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud tersebut
dimulai pada bulan produksi komersial, yakni bulan dimana penjualan mulai
dilakukan. (Peraturan Menkeu No. 249/PMK.03/2008)

Berdasarkan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, saat mulainya penyusutan dapat


dilakukan pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan atau pada bulan harta tersebut mulai menghasilkan. Saat mulai
menghasilkan dalam ketentuan ini dikaitkan dengan saat mulai berproduksi dan tidak
dikaitkan dengan saat diterima atau diperolehnya penghasilan.

Contoh :

PT X yang bergerak di bidang perkebunan tanaman ubi – cassava ( bahan baku


tapioca ), membeli tractor pada bulan Maret 2005. Traktor tersebut memiliki masa
manfaat 8 tahun (Golongan II). Masa panen hanya 9 bulan, sehingga perkebunan
mulai menghasilkan (panen) pada bulan Januari 2006. Dengan persetujuan
Direktorat Jenderal Pajak, penyusutan tractor tersebut dapat dilakukan mulai bulan
Januari 2006. Permohonan untuk menunda penyusutan harus disampaikan oleh
wajib pajak dalam tahun dilakukannya pengeluaran.

Penundaan penyusutan adalah salah satu cara untuk menggeser (shift-ing) beban
perusahaan ke masa pajak berikutnya, sehingga akan mengurangi kerugian wajib pajak
dari tahun yang berjalan.

15
DAFTAR PUSTAKA

Maulavan, Adlin. 2018. KlikPajak. Pajak Merger Perusahaan, Bagaimana Aturan dan
Penjelasannya? [Online] 19 November 2018. https://klikpajak.id/pajak-merger-perusahaan/.
Pohan, Chairil Anwar. 2014. Manajemen Perpajakan. s.l. : Gramedia Pustaka Utama, 2014.

16

Anda mungkin juga menyukai