Anda di halaman 1dari 9

1.

Kriteria Penilaian Sesuai dengan Tujuan Penilaian dan Kurikulum 2013


Dalam melakukan penilaian hasil belajar agar hasilnya dapat diterima oleh semua pihak, baik
yang dinilai, yang menilai, maupun pihak lain yang akan menggunakan hasil penilian, maka
kegiatan penilaian harus merujuk kepada prinsip-prinsip penilaian.
Berikut prinsip-prinsip penilaian hasil belajar peserta didik:
a. Sahih
Agar penilaian sahih (valid) harus dilakukan berdasar pada data yang mencerminkan
kemampuan yang diukur. Untuk memperoleh data yang dapat mencerminkan
kemampuan yang diukur harus digunakan instrumen yang sahih juga, yaitu instrumen
yang mengukur apa yang seharusnya diukur.
b. Objektif
Penilaian tidak dipengaruhi oleh subjektivitas penilai. Karena itu perlu dirumuskan
pedoman penilaian (rubrik) sehingga dapat menyamakan persepsi penilai dan
meminimalisir subjektivitas. Apalagi penilaian kinerja yang memiliki cakupan,
autentisitas, dan kriteria penilaian sangat kompleks. Untuk penilai lebih dari satu perlu
dilihat reliabilitas atau konsistensi antar penilai (inter-rater reliability) untuk menjamin
objektivitas setiap penilai.
c. Adil
Penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena perbedaan latar
belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, gender, dan hal-hal
lain. Perbedaan hasil penilaian semata-mata harus disebabkan oleh berbedanya capaian
belajar peserta didik pada kompetensi yang dinilai.
d. Terpadu
Penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari
kegiatan pembelajaran. Penilaian merupakan proses untuk mengetahui apakah suatu
kompetensi telah tercapai? Kompetensi tersebut dicapai melalui serangkaian aktivitas
pembelajaran. Karena itu penilaian tidak boleh terlepas apalagi menyimpang dari
pembelajaran. Penilaian harus mengacu pada proses pembelajaran yang dilakukan.
e. Terbuka
Prosedur penilaian dan kriteria penilaian harus terbuka, jelas, dan dapat diketahui oleh
siapapun yang berkepentingan. Dalam era keterbukaan seperti sekarang, pihak yang
dinilai dan pengguna hasil penilaian berhak tahu proses dan acuan yang digunakan dalam
penilaian, sehingga hasil penilaian dapat diterima oleh semua pihak.
f. Menyeluruh dan Berkesinambungan
Penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan
berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan
peserta didik. Instrumen penilaian yang digunakan, secara konstruk harus
merepresentasikan aspek yang dinilai secara utuh. Penilaian dilakukan dengan berbagai
teknik dan instrumen, diselenggarakan sepanjang proses pembelajaran, dan menggunakan
pendekatan assessment as learning, for learning, dan of learning secara proporsional.
g. Sistematis
Penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah
baku. Penilaian sebaiknya diawali dengan pemetaan. Dilakukan identifikasi dan analisis
KD (kompetensi dasar), dan indikator ketercapaian KD. Berdasarkan hasil identifikasi
dan analisis tersebut dipetakan teknik penilaian, bentuk instrumen, dan waktu penilaian
yang sesuai
h. Beracuan Kriteria
Penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi menggunakan acuan kriteria. Artinya
untuk menyatakan seorang peserta didik telah kompeten atau belum bukan dibandingkan
terhadap capaian teman-teman atau kelompoknya, melainkan dibandingkan terhadap
kriteria minimal yang ditetapkan. Peserta yang sudah mencapai kriteria minimal disebut
tuntas, dapat melanjutkan pembelajaran untuk mencapai kompetensi berikutnya,
sedangkan peserta didik yang belum mencapai kriteria minimal wajib menempuh
remedial.
i. Akuntabel
Penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun
hasilnya. Akuntabilitas penilaian dapat dipenuhi bila penilaian dilakukan secara sahih,
objektif, adil, dan terbuka, sebagaimana telah diuraikan di atas. Bahkan perlu dipikirkan
konsep meaningfull assessment. Selain dipertanggungjawabkan teknik, prosedur, dan
hasilnya, penilaian juga harus dipertanggungjawabkan kebermaknaan nya bagi peserta
didik dan proses belajarnya.
Implikasi Revisi Kurikulum terhadap Penilaian Hasil Belajar

2. Pengertian Kognitif, Afektif dan Psikomotor dalam Kurikulum 2013


Kognitif
a. Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Segala upaya yang
menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah
kognitif memiliki enam jenjang atau aspek, yaitu:
b. Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
c. Pemahaman (comprehension)
d. Penerapan (application)
e. Analisis (analysis)
f. Sintesis (syntesis)
g. Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup
kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan
memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan
beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah
tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan
tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang
paling tinggi yaitu evaluasi.
Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif
mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar
mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah
memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada
peserta didik dalam berbagai tingkah laku.
Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:
1) Receiving atau attending ( menerima atua memperhatikan)
2) Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”
3) Valuing (menilai atau menghargai)
4) Organization (mengatur atau mengorganisasikan)
5) Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau
komplek nilai)
Psikomotorik
Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau
kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar
psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami
sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-
kecenderungan berperilaku). Ranah psikomotor adalah berhubungan dengan aktivitas fisik,
misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya.
Hasil belajar keterampilan (psikomotor) dapat diukur melalui: (1) pengamatan
langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik
berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada
peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu
sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya.

3. Butir Soal Taksonomi Bloom C1 – C6


Materi Barisan dan Deret
1) Soal C1: Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
Tentukan dari barisan bilangan dibawah ini yang merupakan barisan aritmatika atau
barisan geometri!
a. 3, 5, 7 9, …
b. 2, 6, 18, 54, …
c. 1, -2, -5, -8, …
d. 3 2, 7 2,11 2,...
9 27
e. 2,3, , ,...
2 4

Catatan: Soal tersebut merupakan jenis soal C1 karena pertanyaan yang diajukan tidak
menuntut siswa berpikir lama, dan dapat dijawab siswa karena sudah mempelajari
bagaimana membedakan barisan aritmatika dan barisan geometri. Contoh jawaban yang
diharapkan :
a. 3, 5, 7 9, … (Barisan Aritmatika dengan beda = 2)
b. 2, 6, 18, 54, … (Barisan Geometri dengan rasio = 3)
c. 3 2, 7 2,11 2,... (Barisan Aritmatika dengan beda = 4 2 )
9 27 3
d. 2,3, , ,... (Barisan Geometri dengan rasio = )
2 4 2

2) Soal C2: Pemahaman


Suku pertama, beda dan rumus suku ke n pada barisan bilangan aritmatika 2, 5, 8, 11, 14,
17 … adalah …
Contoh jawaban yang diharapkan:
Suku pertama = a = 2
Beda = b = 5 – 2 = 3
Rumus suku ke – n = Un
Un = a + (n-1)b
= 2 + (n-1).3
= 2 + 3n – 3
= 3n – 1
Catatan : soal ini merupakan jenis soal C2, sebab dalam soal siswa dituntut memahami
materi yang telah dipelajari untuk menemukan nilai dari suku pertama, beda dan rumus
dari suku ke-n barisan aritmatika berupa angka yang sederhana.

3) Soal C3: Aplikasi


Seorang pemilik kebun, memetik jeruknya setiap hari dan mencatatnya. Ternyata
banyaknya jeruk yang dipetik pada hari ke n memenuhi rumus Un = 80 + 20n. Banyaknya
jeruk yang dipetik selama 18 hari yang pertama adalah …
Contoh jawaban yang diharapkan :
n
Sn  (a  U n )
2
a = U1 = 80 + 20.1 = 100
18
S18  (a  U18 )
2
S18  9(100  (80  20.18))
S18  9(100  (80  360))
S18  9(100  (440))
S18  9(540)  4860

Catatan : Soal ini merupakan jenis soal C3 sebab untuk menyelesaikan soal ini siswa
tinggal menerapkan prinsip jumlah n suku pertama pada barisan aritmatika. Jadi,
permasalahan ini dapat mengindikasikan tingkat kognitif siswa pada tahap aplikasi,
dimana sebelumnya siswa telah mengetahui dan memahami konsep barisan aritmatika,
kemudian siswa mampu mengaplikasikannya pada saat memecahkan soal cerita
matematika seperti di atas.

4) Soal C4 : Analisis
Suatu jenis bakteri, setiap detik akan membelah diri menjadi dua. Jika pada saat
permulaan ada 5 bakteri, waktu yang diperlukan bakteri supaya menjadi 320 adalah .....
Contoh jawaban yang diharapkan :

Deret geometri
r = 2 dan a = 5
Un = arⁿ
320 = 5. 2ⁿ => 64 = 2ⁿ
2⁶ = 2ⁿ => jadi n=6 detik

Catatan : soal ini dikatakan tipe soal analisis sebab untuk menghitung waktu yang
dibutuhkan supaya menjadi 320, peserta didik tidak dapat menerakan rumus secara
langsung. terlebih dahulu siswa harus menganalisis soal tersebut termasuk barisan
aritmatika atau geometri.

5) Soal C5: Evaluasi


Misalkan Un menyatakan suku ke-n suatu barisan geometri. Jika diketahui U₅ = 12 dan
log U₄ + log U₅ - log U₆ = log 3, maka nilai U₄ adalah …..
Contoh jawaban yang diinginkan :
Un = suku ke-n suatu barisan geometri
Log U₄ + log U₅ - log U₆ = log 3, maka :
Log ar³ + log ar⁴ - log ar⁵ = log 3
ar 3 .ar 4
 log = log 3
ar 5
 ar² = 3
Diketahui U₅ = 12  ar⁴ =12, sehingga
ar².r² = 12  3r² = 12  r² = 4
sehingga r = 2
U 5 12
diperoleh U₄ = = =6
r 2
Catatan : Soal ini merupakan jenis soal C5 sebab untuk menyelesaikan soal ini siswa
harus benar-benar menguasai semua tingkatan kognitif pada soal sebelumnya. Siswa
harus mampu menilai kebenaran dari pernyataan soal ini, dengan begitu memungkinkan
bagi siswa untuk melakukan evaluasi terhadap konsep ini dan menemukan sebuah ide
baru tentang karakteristik dari barisan dan deret baik geometri yang dimaksud soal.

6) Soal C6 : Creating (Mencipta)


Rancanglah suatu pola untuk permasalahan oSIS suatu sekolah mengadakan pentas seni
untuk amal yang terbuka untuk masyarakat umum. Hasil penjualan tiket acara tersebut
akan disumbangkan untuk korban bencana alam. Panitia memilih tempat berupa gedung
pertunjukan yang tempat duduk penontonnya berbentuk sektor lingkaran terdiri dari enam
baris dengan banyaknya kursi penonton pada masing-masing baris membentuk pola
barisan tertentu.
Apabila harga tiket baris pertama adalah paling mahal dan selisih harga tiket antara dua
baris yang berdekatan adalah Rp10.000,00, dengan asumsi seluruh kursi penonton terisi
penuh,tentukanlah harga tiket yang paling murah agar panitia memperoleh pemasukan
sebesar Rp22.500.000,00
Contoh jawaban yang diharapkan :

Misal:
tiket termurah = x (dalam ribuan)
125x + 95 (x + 10) + 70 (x + 20) + 50 (x + 30) + 35 (x + 40) + 25 (x + 50) = 22.500
400x + 950 + 1.400 + 1.500 + 1.400 + 1.250 = 22.500
400x + 6.500 = 22.500
400x = 16.000
x = 40
Jadi, harga tiket termurah adalah: Rp40.000,00

Catatan : Soal ini merupakan jenis soal C6 soal ini menuntut agar siswa dapat berkreasi,
mendesign, atau menciptakan suatu hal dengan menerapkan prinsip barisan geometri
yang telah ia pelajari.