Anda di halaman 1dari 18

ONE HEALTH TOXOPLASMOSIS

Disusun Oleh :
Yuni Adenafsia 030.12.003
Agus Haerani 030.12.007

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PERIODE 25 MARET 2018 – 2 JUNI 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2018

1
I. Pendahuluan
Di negara beriklim lembab, penyakit parasit masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang cukup serius. Salah satu di antaranya adalah infeksi
protozoa yang ditularkan melalui tubuh kucing. Infeksi penyakit yang ditularkan
olehkucing ini mempunyai prevalensi yang cukup tinggi, terutama pada
masyarakat yangmempunyai kebiasaan makan daging mentah atau kurang
matang. Di Indonesia faktor-faktor tersebut disertai dengan keadaan sanitasi
lingkungan dan banyaknyasumber penularan Akhir-akhir ini, banyak tenaga
medis, veterinarian, ilmuwan peneliti, dan kalangan ekonomi mulai
memperhatikan kehadiran Toxoplasma gondii yang merupakan patogen yang
berperan penting dalam kehidupan kita. Toxoplasma gondii pertama kali
ditemukan oleh Nicole dan Manceaux tahun 1908 pada seekor kelinci di Brazil.
Suatu penelitian di Norwegia yang melibatkan 35.940 wanita hamil selama 1992
hingga 1994, memberikan gambaran sebagai berikut: 10,9% wanita terinfeksi
sebelum kehamilan dan 0,17% terjangkit infeksi selama kehamilan. Ini berarti, 1
dari 10 ibu hamil berisiko mengidap infeksi Toxoplasma gondii1,2

Toxoplasma gondii adalah suatu parasit/protozoa berbentuk kokus yang


berkaitan dengan Plasmodium, Isospora, dan anggota lainnya dari phylum
Apicomplexa. Penjamu (host) definitif yang berkaitan erat dengan parasit ini
adalah dari keluarga kucing/felidae. Selain itu, banyak hewan mamalia dan
burung yang merupakan penjamu menengah (intermediate host).Manifestasi klinis
toksoplasmosis sangat beragam, mulai dari asimtomatik, demam, limfadenopati,
nyeri otot, sakit kepala, hingga cacat kongenital yang bersifat permanen seperti
retardasi mental, hidrosefalus, hingga kematian, khususnya pada penderita AIDS
3,4

Zoonosis adalah jenis penyakit yang penularannya berasal dari hewan ke


manusia atau sebaliknya. Penyakit Zoonosis dapat menyebabkan kematian pada
manusia. Berkembangnya zoonosis dalam beberapa tahun terakhir menjadi tanda
bertambahnya ancaman penyakit mematikan bagi manusia yang ditularkan oleh
hewan. Melihat penyakit tersebut cepat menjadi wabah, hal ini pun menjadi
tantangan untuk dunia kesehatan. Maka dari itu salah satu komitmen yang bisa
dilakukan adalah One Health.4
Konsep One Health memiliki tujuan untuk mengurangi risiko dampak
tinggi penyakit pada ekosistem hewan-manusia. One health merupakan sebuah
pendekatan untuk menghadapi tantangan yang kompleks pada antara hewan,
manusia, dan kesehatan lingkungan termasuk penyakit darurat pandemi, krisis
pangan global, dan perubahan iklim. Konsep One health yang dikembangkan
oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO ini sangat dibutuhkan di Indonesia saat
ini karena Indonesia merupakan daerah yang memiliki potensial dalam
penyebaran jenis penyakit infeksi baru.4
“One Health” merupakan aktivitas global yang penting berdasarkan
konsep bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan/ekosistem bersifat
saling bergantung satu sama lain atau interdependen, dan tenaga profesional
yang bekerja dalam area tersebut akan dapat memberikan pelayanan terbaik
dengan saling berkolaborasi untuk mencapai pemahaman yang lebih baik
mengenai semua faktor yang terlibat dalam penyebaran penyakit, kesehatan
ekosistem, serta kemunculan patogen baru dan agen zoonotik, juga kontaminan
dan toksin lingkungan yag dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas
substansial, serta berdampak pada pertumbuhan sosioekonomik, termasuk pada
negara berkembang.4
II. Definisi

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma


gondii, yang telah diketahui dapat menyebabkan cacat bawaan (kelainan
kongenital) pada bayi dan keguguran (abortus) pada ibu hamil.Toxoplasmosis
disebabkan oleh parasit obligat intraseluler yaitu Toxoplasma gondii. Parasit ini
merupakan golongan protozoa yang hidup bebas di alam, dimana pertama kali
ditemukan pada limpa dan hati hewan pengerat (rodensia) Ctenodactyles gondii
(gundi) di Sahara Afrika Utara Toxoplasma termasuk dalam phylum
Apicomplexa, kelas Sporozoa dan Subkelas Coccidia.2,4

III. Etiologi

Genus Toxoplasma hanya terdiri dari satu spesies yaitu Toxopasma


gondii, parasit ini mempunyai sifat yang tidak umum dibandingkan dengan genus
lain, diantaranya dapat menginfeksi inang antara dalam kisaran yang sangat luas (
tidak bersifat host spesifik )Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat
intraseluler, terdapat dalam tiga bentuk yaitu takizoit, kista dan ookista.
Toxoplasma gondii merupakan parasit yang menumpang pada hewan seperti
anjing, kucing, kambing, babi, dan kelinci. Manusia dapat terinfeksi parasit
toxoplasma ini jika mengonsumsi daging yang tidak matang dengan sempurna,
sayur dan buah-buahan mentah yang tidak dicuci bersih dan berjalan tanpa alas
kaki di permukaan tanah yang telah tercemar oleh parasit tersebut.5

Bentuk toksoplasma gondii terdapat dalam tiga bentuk yaitu takizoit


(bentuk proliferatif), kista (berisi bradizoit) dan ookista(berisi sporozoit)

 Bentuk takizoit
menyerupai bulan sabit dengan ujung yang runcing dan ujung lain agak
membulat. Ukuran panjang 4-8 mikron, lebar 2-4 mikron dan mempunyai
selaput sel, satu inti yang terletak di tengah bulan sabit dan beberapa
organel lain seperti mitokondria dan badan golgi. Tidak mempunyai
kinetoplas dan sentrosom serta tidak berpigmen. Bentuk ini terdapat di
dalam tubuh hospesperantara seperti burung dan mamalia termasuk
manusia dan kucing sebagal hospes definitif. Takizoit ditemuKan pada
infeksi akut dalam berbagai jaringan tubuh.Takizoit dapat memasuki tiap
sel yang berinti.
 Bentuk Kista (Bradizoit )
dibentuk di dalam sel hospes
bila takizoit yang membelah telah
membentuk dinding. Ukuran kista
berbeda-beda, ada yang berukuran kecil
hanya berisi beberapa bradizoit dan ada
yang berukuran 200 mikron berisi kira-
kira 3000 bradizoit. Kista dalam tubuh
hospes dapat ditemukan seumur hidup
terutama diotak, otot jantung, dan otot bergris.

 Bentuk Ookista
berbentuk lonjong, berukuran 11-
14 x 9-11 mikron. Ookista mempunyai
dinding, berisi satu sporoblas yang
membelah menjadi dua sporoblas.Pada
perkembangan selanjutnya ke dua
sporoblas membentuk dinding dan
menjadi sporokista. Masing-masing
sporokista tersebut berisi 4 sporozoit yang
berukuran 8 x2 mikron dan sebuah benda residu.

IV. Epidemiologi
Penyakitini tersebardi seluruhdunia karen kemampuannya untuk
menimbulkaninfeksi yang pada hakekatnya bisa mengenaisetiap sel penjamu
yangberinti.T.gondii dapat menginfeksi sejumlah mamaliadanburung.Sero
prevalensinya tergantung pada kondisi setempat dan usia populasinya. Umumnya
kondisi lingkungan yang panas dan kering disertai dengan prevalensi infeksi yang
rendah. Tanah merupakan sumber infeksiuntuk herbifora seperti kambing,domba,
dan babi. Karena infeksi pada kebanyakan hewan menetap secara menahun, maka
daging yang mentah/ setengah matang menjadi sumber infeksi untuk manusia,
karnivora dan kucing.

Infeksipada manusia didapat melalui:


1.Ookista yangberasal dari tinja penjamu definitif (kucing ) tertelan melalu imulut.
2.Memakan daging setengah matang yang berasal daribinatang yang mengandung
kista infektif.
3. Penularan dariibuhamil yang terinfeksikepadabayinya
DiASdansebagianbesar Negara Eropa, prevalensi serokonversi meningkat
bersamaandenganusiadan pajanan. Sebagai contoh, di AS 5-30% individu yang
berusia10-19thndan10-67%pada individuyang berusia >50thn,
memperlihatkanbuktiserologis riwayat pajanan sebelumnya.Peningkatanpada
seroprevalensi±1%perthn.4,5

V. Siklus Hidup
Dalam siklus hidupnya diperantarai oleh sel inang ke intraselular inang
dan kemudian melakukan multiplikasi dan parasit ini mempunyai siklus hidup
yang bersifat obligat dengan fase seksual dan aseksual. Siklus seksual terjadi pada
tubuh kucing dan siklus aseksual terjadi pada berbagai inang antara yang sangat
bervariasi. Misalnya pada Kucing dan hewan sejenisnya merupakan hospes
definitif dari T. gondii .Di dalam usus kecil kucing sporozoit menembus sel epitel
dan tumbuh menjadi trofozoit. Inti trofozoit membelah menjadi banyak sehingga
terbentuk skizon. Skizon matang pecah dan menghasilkan banyak merozoit
(skizogoni). Daur aseksual ini dipadatkan dengan daur seksual.
Merozoit masuk ke dalam sel epitel dan membentuk makrogametosit dan
mikrogametosit yang menjadi makrogamet dan mikrogamet (gametogoni).
Setelah terjadi pembuahan terbentuk ookista, yang akan dikeluarkan bersama tinja
kucing. Di luar tubuh kucing, ookista tersebut akan berkembang membentuk dua
sporokista yang masing-masing berisi empat sporozoit(sporogoni) Bila ookista
tertelan oleh mamaliaseperti domba, babi, sapi dan tikus serta ayam atau burung,
maka di dalam tubuh hospes perantara akan terjadi daur aseksual yang
menghasilkan takizoit. Takizoit akan membelah, kecepatan membelah takizoit ini
berkurang secara berangsur kemudian terbentuk kista yang mengandung bradizoit.
Bradizoit dalam kista biasanya ditemukan pada infeksi menahun (infeksi laten).6
VI. Mekanisme Penularan

Sumber penularannya adalah kotoran hewan berbulu, terutama kucing.


Cara penularannya pada manusia melalui: Makanan dan sayuran/buah-buahan
yang tercemar kotoran hewan berbulu (kucing). Makan daging setengah matang
dari binatang yang terinfeksi. Melalui transfusi darah atau transplantasi organ dari
donor yang terinfeksi toksoplasmSecara kongenital (bawaan) dari ibu ke bayinya
apabila ibu hamil terinfeksi pada bulan-bulan pertama kehamilannya. 5,6

VII. Patogenesis

T.gondii dapat ditularkan kepada janin jika ibu mendapatkan infeksiprimer


sebelum kehamilan±1 hari darisemua wanita yang terinfeksi dalam
masakehamilannya akanmenularkan parasit tersebutke janinnya.Dari berbagai
faktor yangmenentukanhasilakhir janin,usia kehamilan pada saat
infeksimerupakan faktoryang paling menentukan.Ada beberapadatayang
menyatakanperanan infeksimaternalyang baru saja terinfeksi
sebagaisumberpenyakitcongenital. Jadi wanita dengan seropositifsebelum
kehamilanbiasanya justru terlindung terhadap infeksiyang akutdantidak akan
melahirkan janinyang terinfeksisecara congenital.
Pedomansecaraumum inidapatdiikuti untuk infeksicongenital.
Padadasarnya resikotidak akanterjadiapabilaibusudah
terinfeksi6bulan/lebihsebelum terjadi pembuahan. Jikainfeksi terjadidalam
waktu<6bulansebelum pembuahan, kemungkinan terjadiinfeksi transplasental
akanmeningkat bersamaan dengan berkurangnyamasaselang antara infeksi dan
pembuahan.Sebagian besarperempuan yang terinfeksi semasahamil
akanmelahirkanbayiyang normal dan tidak terinfeksi. Sekitar D akanmenularkan
infeksi tersebutpada bayinya.
Jika infeksi terjadipada trimesterI kehamilan,insidensi infeksitransplasenta
mendudukitempatpalingrendah(±15%) tetapi penyakit yang terjadi pada
neonatuspalingberat.Jikainfeksiterjadi pada trimester III, insidensi infeksi
transplasental paling tinggi(65%),tetapi bayibiasanyaasimptomatik padasaat
dilahirkan.Namunbuktipalingakhir yangdiperoleh menunjukkanbahwa bayiyang
terinfeksi dan tampak normalmungkinmempunyai insidensiketidakmampuan
belajarserta defek neurologistkronisyang lebihtinggi padaanak yangtidak
terinfeksi.Hanya sejumlahkecilwanita (20%)yang terinfeksi T.gondiimenunjukkan
tanda klinis infeksi.Diagnosa infeksisering diketahuisecara tidak sengajaketikates
serologis pasca konsepsi yang rutin memperlihatkan bukti adanya antibodi
spesifik.5

VIII. Manifestasi Klinis7


Gejala klinis toksoplasmosis di bedakan menjadi 2:
 Gejala klinis Akuisita (dapatan )
o Toksoplasmosis dapatan biasanya tidak diketahui karena jarang
menimbulkan gejala. Tetapi bila seorang ibu yang sedang hamil
mendapat infeksi primer, ada kemungkinan bahwa 50% akan
melahirkan anak dengan toksoplasmosis congenital .Gejala yang
dijumpai pada orang dewasa maupun anak-anak umumnya
ringan.Gejala klinis yang paling sering dijumpai pada
toksoplasmosis dapatan adalahlimfadenopati dan rasa lelah,
disertai demam dan sakit kepala7

 Gejala kongenital
o Gejala klinis toksoplasmosis kongenital pada bayi yang dilahirkan
secara abortus dan lahir dini ditemukan gejala infeksi mata,
pembesaran hati dan limpa, kuning pada mata dan kulit dan
pneumonia, ensepalopati dan diikuti kematian. Sedangkan pada
bayi yang lahir normal, gejala akan tampak setelah beberapa
minggu, bulan atau tahun setelah lahir. Gejala ini banyak dijumpai
setelah usia pubertas misalnya adanya gangguan pada mata sampai
terjadi kebutaan, kegagalan pada sistem syaraf, gangguan
pendengaran (bisu-tuli), deman, kuning akibat gangguanhati,erupsi
kulit, gangguan pernafasan.7,8

Gejala yang timbul pada infeksi toksoplasma tidak khas, sehingga


penderita sering tidak menyadari bahwa dirinya telah terkena infeksi. Tetapi sekali
terkena infeksi toksoplasma maka parasit ini akan menetap (persisten) dalam
bentuk kista pada organ tubuh penderita selama siklus hidupnya. Gejala klinis
yang paling sering dijumpai adalah pembesaran kelenjar getah bening (limfe)
dikenal sebagai limfadenopati, yang dapat disertai demam. Kelenjar limfe di leher
adalah yang paling sering terserang. Gejala toksoplasmosis akut yang lain adalah
demam, kaku leher, nyeri otot (myalgia), nyeri sendi (arthralgia), ruam kulit, gidu
(urticaria), hepatosplenomegali atau hepatitis. Wujud klinis toksoplasmosis yang
paling sering pada anak adalah infeksi retina (korioretinitis), biasanya akan timbul
pada usia remaja atau dewasa. Pada anak, juling merupakan gejala awal dari
korioretinitis. Bila makula terkena, maka penglihatan sen-tralnya akan terganggu.
2,4

Pada penderita dengan imunodefisiensi seperti penderita cacat imun,


penderita kanker, penerima cangkok jaringan yang mendapat pengobatan
imunosupresan, dapat timbul gejala ringan sampai berat susunan saraf pusat
seperti ensefalopati, meningoensefalitis, atau lesi massa otak dan perubahan status
mental, nyeri kepala, kelainan fokal serebral dan kejang-kejang, bahkan pada
penderita AIDS seringkali mengakibatkan kematian. Wujud klinis toksoplasmosis
bawaan adalah kelainan neurologis: hidrosefalus, mikrosefalus, kejang,
keterlambatan psikomotor, perkapuran (kalsifikasi) abnormal pada foto
rontgenkepala. Selain itu tampak pula gangguan penglihatan: mikroftalmi,
katarak, retinokoroiditis; juga gangguan pendengaran, dan kelainan sistemik:
hepatosplenomegali, limfadenopati, dan demam yang tidak diketahui
sebabnya.3,6,9,

IX. Pencegahan dan Pengendalian


Upaya pengendalian toxoplasma diantara lain yaitu:
 Segera periksakan diri anda, apakah positif toxoplasma atau tidak.
Terutama para wanita atau wanita yang mempunyai rencana untuk hamil.
Tes darah bisa dilakukan di beberapa laboratorium diagnostik seperti
Prodia. Konsultasikan hal ini dengan dokter anda.
• Masak daging dengan sempurna, minimal dengan suhu 70 derajat celcius.
• Cuci buah-buahan dan sayuran dengan bersih.
• Biasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum anda makan sesuatu.
• Gunakan sarung tangan pada saat berkebun atau kontak dengan tanah.
Tanah yang terkontaminasi toxoplasma adalah sumber infeksi yang
potensial.
• Cuci tangan, meja/talenan dan peralatan dapur dengan air hangat dan
sabun setelah mengolah daging mentah.
• Kotak pasir tempat anak2 bermain di halaman harus ditutup bila tidak
digunakan
• Jangan minum air mentah kecuali sudah direbus mendidih.
• Jangan memberikan daging mentah atau tidak matang kepada kucing anda.
Jangan memberikan susu yang tidak dipasteurisasi.
• Jangan membiarkan kucing berkeliaran di luar rumah atau berburu
binatang berdarah panas.
• Pakailah sarung tangan karet dan masker dan scoop pada waktu
membersihkan litterbox. Cuci tangan setelahnya.
• Bersihkan dan buang feces kucing dari litterbox setiap hari, flush feces di
toilet, siram air panas atau dibakar. Siram dan bersihkan litterbox dan
scoopnya dg air mendidih.Kontrol populasi tikus, kecoa, lalat dan inang
perantara toxoplasma gondii laiannya.
• Wanita hamil dan orang2 dg system imunitas yg rendah seperti terinfeksi
HIV atau sedang mendapat pengobatan kemoterapi tidak boleh
membersihkan litterbox.9,10
X. One Health Approach

Sumber Topik Tanggung Program Kebijakan Pemangku

Jawab Kepentingan

HEWAN

• Kucing • Pencegahan • Dinas • Pemeriksaan  PERMENKES No.18  Dinas


• Anjing penyakit Kesehatan kesehatan Tahun 2009 tentang Peternakan
• Babi Toxoplasmos • Dinas hewan. peternakan dan  Dokter Hewan
• Sapi is Peternakan • Vaksin pada kesehatan hewan.  Pemilik Hewan
• Kambing • Pengawasan hewan.  Undang – undang
• Burung hewan ternak Republik Indonesia
• Ayam
Nomor 41 tahun 2014
tentang perternakan dan
kesehatan hewan.
Kucing • Pencegahan • Pemilik  Vaksin Peraturan Pemerintah RI • Dokter hewan
penyakit hewan kucing No.47 tahun 2014 tentang  Pemilik
Toxoplasmos  Memberi Pengendalian dan hewan
is makan yang Penanggulangan Penyakit
matang. Hewan
 Memberika
n monensin
200mg/kg
melalui
makanan.

Sumber Topik TanggungJawab Program Kebijakan PemangkuKepenting


an

LINGKUNGAN

Pengelolaan Kotoran Pencegahan • Dinas  Sosialisasi  Permenkes RI No.82  Dinas


kucing penularan Kesehat pada tahun 2014 tentng Peternakan
penyakit an masyarakat penanggulangan  Dinas
Toxoplasmosis • Dinas mengenai penyakit menular. Kesehatan
Peternak cara  Dokter
an membersih  Pemilik
kan kotoran hewan
kucing.
Hygiene dan sanitasi Perilaku hidup • Dinas  Melakukan  PERMENKES RI  Dinas
bersih dan sehat Kesehat penyuluhan No. Kesehatan
(PHBS) an mengenai 1501/MENKES/PE  Dinas
• Dinas Toxoplasmo R/X/2010 tentang Peternakan
Peternak sis pada jenis penyakit  Kepala
an masyarakat. menular yang dapat Kelurahan
 Sosialisasi menimbulkan wabah  Kepala
mengenai dan upaya RT/RW
mencuci penanggulangan.  Kader
tangan  PERMENKES RI
setelah NO 82 tahun 2014
kontak tentang
langsung Penanggulangan
dengan Penyakit Menular
hewan dan
kotorannya
 Sosialisasi
penggunaan
APD saat
kontak
langsung
dengan
hewan dan
kebersihan
tempat
pemeliharaa
n hewan.
Sumber Topik Tanggung Jawab Program Kebijakan PemangkuK
epentingan

MANUSIA

• Ibu Hamil Upaya • Kementria  Selalu  PERMENKES RI • Dinas


• Orang pencegahan n mencuci NO 82 tahun 2014 Kes
dengan tertular penyakit Kesehata tangan tentang ehat
sistem Toxoplasmosis n dengan Penanggulangan an
kekebalan • Kementria sabun Penyakit Menular. • Petug
as
yang n setelah  Undang – undang
rendah Pertania surv
kontak Nomor 1 Tahun
eile
• Dokter n langsung 1970 tentang ns
hewan dengan keselamatan kerja • Dokte
• Peternak hewan. • Permenkes RI No. 45 r
hewan  Konsumsi tahun 2014 tentang • Kader
• Penjual daging yang penyelanggaraan kese
daging dan dimasak surveilans kesehatan. hata
hewan hingga n
matang. • Masy
 Mencuci arak
sayur dan at
buah
sebelum di
konsumsi.
 Menggunak
an APD saat
kontak
langsung
dengan
hewan dan
saat
membersihk
an kotoran
kucing.
 Melakukan
surveilens
pada
manusia
yang
memiliki
faktor risiko
XI. Lembar Balik
DAFTAR PUSTAKA
1. AmbroisePierre,Thomas(2000). Congenital Toxoplasmosis scientific
Background,Clinical Managementand Control.Springer,p 153-177.
2. BeckF,MoffatDB,DaviesDP(1985
3. Human Embryology.Secondedition. BlackwellScientific Publications, Oxford,
p.157-169.
4. Famillydoctor.org.editorial (2005). Toxoplasmosis in Pregnancy. eHealth
5. Articles.Diambil18
Juni2008,darihttp://familydoctor.org/online/famdocen/home/women/pregnanc
y.
6. HomeirBarbaraP(2005)CongenitalToxoplasmosis. Diambil 18 Juni 2008,
darihttp://www.kidshealth.org.parent/infections/parasitic/toxoplasmosis
7. Kasper Lloyd (1999). Infeksi Toxoplasma dan Toxoplasmosis. Dalam:
Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Edisi13. Editor:AhmadH.
PenerbitBuku Kedokteran EGC, hlm1021-1027.
8. MartinelliPraquale,AgangiAnnalisa(2007).ScreeningforToxoplasmosisinPreg
nancy. The Lancet, AcademicResearh Library, p 823.
9. ORahilly Ronan, Muller Fabiola. (1992). Human Embryology and
Teratology.Willey-Liss,Inc.,605Third Avenue, New York,p.293-303.
10. Saddler TW(2000). EmbriologiKedokteran Langman.Edisi ke 7. Editor:
Ronardy Devi.PenerbitBukuKedokteran EGC, hlm358-367.