Anda di halaman 1dari 7

TEMA

INFEKTIVITAS MIKORIZA DAN SERAPAN HARA PADA BEB ERAPA


VARIETAS SORGHUM (Sorghum bicolor [L.] Moench)
1. Latar Belakang Masalah
Potensi pengembangan dan pengelolaan lahan kering untuk produktivitas
pertanian masih cukup tinggi. Saat ini luas lahan pertanian yang ada berkisar 17,04
juta hektar yang terdiri dari 7,8 juta hektar lahan basah dan 9,24 juta hektar lahan
kering (Kementan 2017). Dari luas lahan kering di Indonesia berkisar 116,91 juta
hektar, yang berpotensi menjadi lahan pertanian berkisar 64,83 juta hektar, sementara
lahan yang telah digarap baru mencapai 9,24 juta hektar (Sukarman 2012).
Lahan kering didefinisikan sebagai hamparan lahan yang tidak pernah
tergenang atau digenangi air pada sebagian besar waktu dalam setahun atau
sepanjang waktu (Subiksa et al 2013). Lahan kering adalah lahan tadah hujan
(rainfed) yang dapat diusahakan untuk sawah (lowland, wetland), tegal atau ladang
(upland) dengan kesuburan tanah yang rendah, lahan dengan tanah yang retak-retak,
lahan dengan solum tanah yang dangkal, dan lahan perbukitan.
Teknologi pengelolaan lahan kering yang umum dilakukan meliputi : tindakan
konservasi tanah dan air, pengelolaan kesuburan tanah (pengapuran/pemberian
kapur, pemupukan dan penambahan bahan organik), dan pemilihan jenis tanaman
pangan (tanaman berumur pendek tahan kekeringan merupakan pilihan yang tepat
untuk dilakukan pada wilayah yang beriklim kering) (Minardi 2006).
Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench) adalah tanaman serealia yang
potensial untuk dibudidayakan dan dikembangkan, khususnya pada daerah-daerah
marginal dan kering di Indonesia. Keunggulan sorgum terletak pada daya adaptasi
agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, memerlukan input
lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibanding tanaman pangan
lain. Selain itu, tanaman sorgum memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, sehingga
sangat baik digunakan sebagai sumber bahan pangan maupun pakan ternak alternatif
(Sirappa, 2003).
Masalah utama yang sering dijumpai pada lahan kering adalah masalah
keterbatasan air. Terbatasnya ketersediaan air menyebabkan lahan dalam kondisi
cekaman kekeringan. Secara fisiologis tanaman yang tumbuh pada kondisi cekaman
kekeringan akan mengurangi jumlah stomata untuk mengurangi laju kehilangan air
yang akan diikuti oleh penutupan stomata dan menurunnya serapan CO2 bersih pada
daun. Menurunnya laju fotosintetis akan berakibat pada penurunan fotosintat yang
dihasilkan. Pada tahap pertumbuhan vegetatif, air digunakan tanaman untuk
pembelahan dan pembesaran sel yang terwujud dalam pertambahan tinggi tanaman,
pembesaran diameter, perbanyakan daun dan pertumbuhan akar.
Selain masalah ketersediaan air, umumnya lahan kering memiliki kesuburan
marginal yang memiliki sifat fisik kurang baik, kahat hara, toksisitas dan tingginya
serangan hama penyakit. Kekeringan berdampak pada rendahnya ketersediaan hara
makro terutama Phospor yang menjadi penyebab terbatasnya pemanfaatan lahan
kering untuk tanaman pertanian (Hidayat et al 2004).
Fungi Mikoriza Arbuskula merupakan cendawan yang bersimbiosis dengan
akar tanaman. Cendawan ini membentuk vesikel dan arbuskular di dalam korteks
tanaman. Vesikel merupakan ujung hifa berbentuk bulat, berfungsi sebagai organ
penyimpanan, sedangkan arbuskular merupakan hifa yang struktur dan fungsinya
sama dengan houstria dan terletak dalam sel tanaman (Brundett, 2005). Peranan
Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dalam meningkatkan ketersediaan dan serapan P
dan unsur lain melalui beberapa mekanisme. Pertama, melalui modifikasi kimia
dengan mengeksudasi asam-asam organik dan enzim fosfotase asam memicu proses
mineralisasi P. Kedua, memperpendek jarak difusi ion-ion fosfat dengan adanya hifa
eksternal , yang juga berfungsi sebagai alat penyerap dan translokasi fosfat.
Peranan Langsung Fungi Mikoriza Arbuskula adalah membantu akar dalam
meningkatkan penyerapan air, dikarenakan hypa cendawan ini masih mampu
menyerap air dari pori-pori tanah pada saat akar tanaman sudah mengalami kesulitan
mengabsorpsi air (Setiadi, 1995). Kemampuan menyerap air dari pori-pori tanah ini
karena hypa utama FMA membentuk percabangan hypa yang lebih kecil dan lebih
halus dari rambut akar dengan diameter kurang dari 1 μm. Hal ini memungkinkan
hypa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hypa
dapat menyerap air pada kondisi air tanah yang sangat rendah.
2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh Fungi Mikoriza Arbuskular dan varietas sorgum terhadap
perakaran, dan serapan hara tanaman sorgum
2. Bagaimana pengaruh Fungi Mikoriza Arbuskular dan varietas sorgum terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum
3. Bagaimana hubungan antara kondisi perakaran dan serapan hara dengan
pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum
3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Meneliti pengaruh Fungi Mikoriza Arbuskular dan varietas sorgum terhadap
perakaran, dan serapan hara tanaman sorgum
2. Meneliti pengaruh Fungi Mikoriza Arbuskular dan varietas sorgum terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum
3. Meneliti hubungan antara kondisi perakaran dan serapan hara dengan
pertumbuhan dan hasil tanaman sorgum
4. Bahan Dan Metode
a. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan mulai bulan Maret 2019 di Desa Tambakan,
Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo pada lahan kering jenis tanah Vertisol
dengan ketinggian tempat 110 m diatas pemukaan laut. Analisis Tanah dan
Jaringan dilaksakan di Laboratorium Kimia, Fisika dan Biologi Tanah Fakultas
Pertanian Universitas Sebelas Maret.
b. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian adalah spektrofotometer UV-
VIS,buret dan statif, tabung erlenmayer, flakon, labu ukur, mikroskop, preparat,
gelas ukur, labu Kjeldahl, timbangan analitik, dan alat olah tanah. Bahan yang
digunakan adalah sorgum empat varietas yang diperoleh dari Balai Besar Serealia
Maros, dan inokulan fungi mikoriza arbuskular. Pupuk kimia yang digunakan
Urea (120 kg ha-1), SP36 (80 kg ha-1), dan KCl (60 kg ha-1). Selain itu, larutan
KOH 10%, HCl 1% dan Tryphan Blue 0,05% untuk analisis infeksi akar.
c. Perancangan Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan di Desa Tambakan, Kecamatan Nguter,
Kabupaten Sukoharjo menggunakan rancangan Rancangan Acak Kelompok
Lengkap (RAKL) Faktorial dengan kombinasi dua faktor yaitu dosis Fungi
Mikoriza Arbuskula (FMA) dan varietas sorgum .
1) Faktor I: Dosis Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) (F)
F0 : 0 gram
F1 : 2,5 gram
F2 : 5 gram
F3 : 7,5 gram
F4 : 10 gram
2) Faktor II: Varietas Sorgum (V)
V1 : Varietas 1
V2 : Varietas 2
V3 : Varietas 3
V4 : Varietas 4
Berdasarkan rancangan tersebut diperoleh 20 kombinasi perlakuan dan
dilakukan ulangan sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 60 satuan percobaan.
Tabel Kombinasi Perlakuan Faktor I dan II
Dosis Fungi Mikoriza Arbuskula
No Kombinasi (FMA) Varietas
g/tanaman
1. F0V1 0 Varietas 1
2. F0V2 0 Varietas 2
3. F0V3 0 Varietas 3
4. F0V4 0 Varietas 4
5. F1V1 2,5 Varietas 1
6. F1V2 2,5 Varietas 2
7. F1V3 2,5 Varietas 3
8. F1V4 2,5 Varietas 4
9. F2V1 5 Varietas 1
10. F2V2 5 Varietas 2
11. F2V3 5 Varietas 3
12. F2V4 5 Varietas 4
13. F3V1 7,5 Varietas 1
14. F3V2 7,5 Varietas 2
15. F3V3 7,5 Varietas 3
16. F3V4 7,5 Varietas 4
17. F4V1 10 Varietas 1
18. F4V2 10 Varietas 2
19. F4V3 10 Varietas 3
20. F4V4 10 Varietas 4

d. Pelaksanaan Penelitian
Tahapan dari penelitian ini adalah :
1) Analisis awal di laboratorium
Analisis tanah awal dilakukan pada saat sebelum penanaman sorghum
dilakukan. Analisis sampel tanah bertujuan untuk mengetahui kondisi tanah
sebelum penelitian. Sampel tanah dikering anginkan selama 5 hari secara
komposit. Analisis tanah awal dilakukan untuk mengetahui karakeristik tanah.
No Peubah Tanah Satuan Metode
1. Tekstur % Metode Bouyocus/Hidrometer
2. Ph pH Soil Moisture Tester
3. C-Organik % Metode Welkey and Black
4. N-total % Metode Kjehldahl
5. P-tersedia Ppm Bray
5. C/N Ratio
6. KTK me 100g-1

Sumber: Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian UNS.


2) Penyiapan benih
Sebelum melakukan pembibitan, terlebih dahulu dilakukan
pengecambahan pada petridish untuk mengetahui daya kecambah dengan
mengamati pada hari ke 5 dan 7 kemudian dihitung rata rata benih
berkecambah. Peyemaian benih sorgum dilakukan 15-20 hari sebelum tanam.
3) Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah pertama dilakukan dengan mengunakan handtractor
untuk menggeburkan tanah. Pengolahan tanah kedua dengan menggunakan
cangkal dan garu untuk membentuk bedengan dan membersihkan gulma yang
berada di lahan. Bedengan di bentuk berukuran l m x z m sebanyak m
bedengan. Jarak antar bedengan 30 cm dan jarak antar ulangan m cm. Kemudin
diaplikasikan pupuk kandang (7-10 ton ha-1) secara merata
4) Pemupukan
Pemupukan tanaman sorgum dilakukan 3 kali, pemupukan pertama
dilaukan pada umur 7 hari setelah tanam, 21 hari setelah tanam dan terahir 34
hari setelah tanam.
5) Pemeliharaan tanaman sorgum
Pemeliharaan meliputi pemberian air pada 20 hari setelah tanam
(tanaman berdaun empat), 70 hari setelah tanam (pembentukan biji) dan 85 hari
setelah tanam (pengerasan biji). Penyiangan gulma menggunaka cangkul
selama 2 minggu pertama pertumbuhan dan setelahnya sesuai kondisi.
Pembumbunan dilakukan pada minggu ke 3 setelah tanam dengan cara
menggemburkan tanah disekitar batang tanaman, kemudian menimbunkan
tanah pada pangkal batang. Pengendalian hama penyakit dilakukan sesuai
dengan kondisi dilapangan.
6) Variabel penelitian
a) Presentase Infeksi FMA pada Akar (%)
Persen asosiasi antara cendawan dengan sampel akar sorghum
dinyatakan melalui metode staining (pewarnaan) akar (Nirmasali 2005)
dengan langkah langkah berikut:
Persentase infeksi akar dihitung dengan cara mengambil sampel akar
secara acak pada setiap perlakuan pada 45 HST. Akar dicuci sampai bersih
dan dimasukkan ke dalam botol film. Botol yang telah berisi akar diisi
dengan larutan KOH 10 % sampai seluruh akar terendam dan dikukus
selama ± 30 menit pada suhu 80 ºC untuk membersihkan akar dari
sitoplasma. Kemudian larutan KOH dibuang dan akar dicuci kembali dengan
air sampai bersih. Sampel akar yang telah dicuci bersih tersebut kemudian
direndam dalam larutan HCl 1 % selama satu hari. Setelah itu larutan HCl
dibuang dan akar dapat diwarnai dengan merendamnya dalam larutan
Trypan blue 0.05 % (0.5 g Trypan blue dalam 450 ml glycerol + 50 ml HCl
1% + 500 ml aquades) selama satu hari. Akar yang sudah diwarnai dipotong-
potong sepanjang ± 2 cm, kemudian diletakkan di atas preparat dan diamati
di bawah mikroskop majemuk dengan pembesaran 100 kali.
Rumus yang digunakan untuk menghitung % infeksi akar oleh FMA
adalah sebagai berikut:
% infeksi akar = Σ bagian akar yang terinfeksi x 100 %
Total pengamatan
Tabel 2. Kelas Kategori Akar Terinfeksi Mikoriza
Presentase akar
Kategori Keterangan
terinfeksi (%)
0-5 Kelas 1 Sangat rendah
6-25 Kelas 2 Rendah
26-30 Kelas 3 Sedang
51-75 Kelas 4 Tinggi
76-100 Kelas 5 Sangat Tinggi

b) P-Tersedia dan Serapan P (%)


Analisis P-Tersedia dan Serapan P melalui metode Bray dengan
dekstruksi basah kemudian dilanjutkan penetapan P-tanah dan jaringan
melaui penembakan spektrofotometer. Sampel tanah pada 35 HST dan
serapan P menggunakan sampel jaringan tanaman (daun) pada 35 dan 75
HST dan serapan P dengan sampel biji sorghum.
c) Variabel yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman berupa tinggi dan
jumlah daun, diameter batang, umur berbunga, volume akar, bobot total
tanaman, dan berat biji.

Data hasil pengamatan dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA).


Jika terdapat pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda
Duncan. Uji regresi dilakukan untuk mencari takaran optimum FMA. Analisis
menggunakan perangkat lunak SPSS.