Anda di halaman 1dari 20

DIPLOMASI PERTAHANAN INDONESIA DALAM PENCAPAIAN

CYBERSECURITY MELALUI ASEAN REGIONAL FORUM ON


CYBERSECURITY INITIATIVES
INDONESIA DEFENSE DIPLOMACY IN ACHIEVING CYBERSECURITY
THROUGH ASEAN REGIONAL FORUM ON CYBERSECURITY
INITIATIVES

David Putra Setyawan dan Arwin Datumaya Wahyudi Sumari

Alumnus Program Pascasarjana Universitas Pertahanan Indonesia, Program Studi Diplomasi


Pertahanan, Fakultas Strategi Pertahanan. Kawasan IPSC, Sentul, Bogor.
e-mail: fa.davidsetyawan@gmail.com

Abstract

The development of information technology in the international world impacts to the use of cyberspace which
covers all aspects of national life. Faced to this condition, Indonesian government needs to understand the state of
cyber security and build it so that able to address any kind of threat which comes through cyberspace. In addition
to internal conditions, the scope of the external noteworthy to be considered due the nature of cyber threats are
transnational, cross the line of sovereignty, and has been seen as a common threat by the countries of the world.
ASEAN has become a forum for Indonesia’s to achieve national interests in order to support national security in the
cyber field. Through the ASEAN Regional Forum (ARF) on cybersecurity initiatives, defense diplomacy strategy
directed to increasing mutual trust (confidence building measures) between states and reduce any potential threats
that may result from the external sphere. Those efforts, resulted in an agreement in the form of point of contacts
between states and a shared vision for continuous training of cybersecurity in the form of seminars and workshops
to build the capacity of human resources. Strategies and efforts are analyzed through a qualitative approach and
primary data were collected through interviews with 15 informants from various government agencies. In addition,
literature, journals, and related documents are also used as supporting data.

Key Words: ARF, confidence building measures, cybersecurity, defense diplomacy

Abstrak

Perkembangan teknologi informasi di dunia internasional berdampak pada penggunaan ruang cyber yang
mencakup semua aspek kehidupan nasional. Dihadapkan pada kondisi ini, pemerintah harus memahami kondisi
cybersecurity di Indonesia dan membangunnya agar mampu mengatasi berbagai ancaman yang datang melalui
ruang cyber. Selain kondisi internal, ruang lingkup eksternal perlu diperhatikan mengingat ancaman cyber yang
bersifat transnasional, melewati batas kedaulatan, dan telah dipandang sebagai ancaman bersama oleh negara-
negara di dunia. ASEAN telah menjadi salah satu wadah bagi Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan
nasionalnya dalam rangka mendukung keamanan nasional di bidang cyber. Melalui ASEAN Regional Forum
(ARF) on cybersecurity initiatives, strategi diplomasi pertahanan diarahkan untuk meningkatkan rasa saling
percaya (confidence building measures) antar negara dan mengurangi potensi ancaman yang dapat ditimbulkan dari
lingkup eksternal. Upaya tersebut, menghasilkan kesepakatan berupa point of contacts antar negara dan persamaan
pandangan untuk terus mengadakan pelatihan cybersecurity dalam bentuk seminar maupun workshop untuk
membangun kapasitas sumber daya manusia. Strategi dan upaya tersebut dianalisis melalui pendekatan kualitatif
dan data-data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan 15 informan dari berbagai instansi pemerintahan.
Selain itu, literatur, jurnal, dan dokumen terkait juga digunakan sebagai data pendukung.

Kata Kunci: ARF, confidence building measures, cybersecurity, diplomasi pertahanan

Diplomasi Pertahanan Indonesia ... | David Putra S dan Datumaya W. Sumari | 1 


Pendahuluan instansi pemerintah di Amerika, Eropa, Timur
Perubahan yang terjadi dalam peradaban dunia, Tengah, dan Afrika menjelaskan tentang adanya
yang salah satunya ditandai dengan kemajuan peningkatan serangan terus menerus pada negara
teknologi, menyebabkan ancaman terhadap yang semakin canggih diikuti dengan cyber
kedaulatan satu negara menjadi semakin warfare atau terorisme cyber dan pembobolan
kompleks. Dunia tidak lagi memandang data yang bernilai tinggi. Lebih lanjut, beberapa
militer sebagai satu-satunya potensi ancaman, trend mengenai kejahatan cyber di dunia dapat
melainkan mulai merespon terhadap ancaman dilihat pada Gambar 1 Percentage net changes
nirmiliter. Salah satu ancaman nirmiliter di in cyber crime megatrends.3
bidang teknologi, adalah ancaman cyber.
Teknologi cyber yang terus berkembang dengan
berbagai infrastrukturnya telah membuat
batas antar negara menjadi semakin kabur.
Konektifitas, kecepatan, dan kemudahan akses
yang dimilikinya menjadi suatu hal positif yang
dimanfaatkan oleh masyarakat di berbagai
negara karena persebaran informasi yang
semakin mudah. Sebagai gambaran, tercatat
bahwa hingga kuartal ke-2 tahun 2015, pengguna
internet di dunia telah mencapai 3.2 milliar1.
Transaksi perbankan, analisis dan komputasi
data di perusahaan maupun pemerintahan,
teknologi militer, hingga masyarakat umum Sumber: Ponemon Institute, 2015
memanfaatkan cyberspace sebagai media Gambar 1. Percentage net changes in cyber crime
komunikasi. megatrends
Meskipun menawarkan manfaat dan
keuntungan yang begitu besar, cyberspace
juga menjadi sumber dari berbagai ancaman, Data yang ditampilkan menunjukkan bahwa
kerentanan, dan ketidakamanan. Menurut keamanan cyberspace terhadap serangan yang
Smith ancaman tersebut dapat bersumber mengarah kepada negara menurun sebesar
dari pemerintah, organisasi, individu, atau -37%, yang diikuti dengan cyber warfare
pengusaha, baik secara disengaja maupun tidak atau cyber terrorism sebesar 24%, pencurian
demi mendapatkan keuntungan secara finansial, data bernilai tinggi sebesar -15%, dan diikuti
militer, politik, maupun tujuan lainnya2. Cyber beberapa kategori ancaman lainnya. Kondisi
dapat menjadi ancaman bagi suatu negara dunia yang dihadapkan pada perang generasi
karena ruang lingkupnya yang dapat digunakan keempat dan kelima juga membutuhkan strategi
untuk mencuri informasi, penyebaran ide yang penangkalan yang berbeda. Jika, konsep perang
bersifat destruktif, maupun serangan terhadap generasi sebelumnya bersifat konvensional
sistem informasi di berbagai bidang, seperti data dan lebih banyak melibatkan kontak fisik,
perbankan maupun jaringan militer dan sistem maka konsep perang generasi keempat berada
pertahanan negara. Survey yang dilakukan oleh pada masyarakat yang saling terhubungkan
Ponemon Institute pada tahun 2015 terhadap (networked), bersifat lintas negara, dan berbasis
1006 pemimpin senior Information Technology informasi. 4 Serangan yang dilakukan pun
(IT) dan IT Security di berbagai perusahaan dan
3
Ponemon Institute, “2015 Global Megatrends in Cybersecurity”,
1
Miniwatts Marketing Group, “Internet Usage Statistics”, 30 Ponemon Institute LLC, 2015 http://www.raytheon.com/news/
Juni 2015, http://www.internetworldstats.com/stats.htm, diakses rtnwcm/groups/gallery/documents/content/rtn_233811.pdf,
pada tanggal 5 November 2015. diakses pada tanggal 19 November 2015.
2
Michael Smith, “Research Handbook on International Law 4
Alman Helvas Ali, “Angkatan Laut dan Peperangan Generasi
and Cyberspace”, (Massachusetts: Edwar Elgar Publishing Keempat”, Forum Kajian Pertahanan dan Maritim, 30 Mei 2015,
Limited, 2015), hlm. 1. http://www.fkpmaritim.org/angkatan-laut-dan-peperangan-

2 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 13 No. 1 Juni 2016 | 1–20  


bervariasi, baik itu berupa intervensi informasi negara dengan jumlah komputer yang terjangkit
melalui media maupun penggunaan virus peranti jahat atau malware terbesar di dunia pada
komputer yang dapat menyebabkan kerusakan awal tahun 2015.7 Selain itu, penggunaan situs-
infrastruktur kritis negara. Selain itu, perang situs lokal untuk propaganda, perekrutan anggota,
pemikiran/ide, pembangunan opini melalui maupun penyimpangan ideologi yang sering
media sosial pada akhirnya dapat mempengaruhi dilakukan oleh kelompok teroris dan gerakan
kondisi politik, sosial dan budaya suatu negara radikal lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa
merupakan wujud nyata ancaman perang generasi ancaman cyber sangat kompleks dan dapat
ke-empat. Tanpa adanya penguasaan pada ruang melibatkan berbagai aspek kehidupan nasonial.
cyber, sangat mungkin keamanan dan stabilitas Pada tataran operasional, pemerintah
politik suatu negara dapat terganggu. Oleh sebab sedang dalam upaya untuk mewujudkan sebuah
itu, seorang pemimpin pada generasi ini dituntut Badan Cyber Nasional (BCN) seperti yang
bukan hanya untuk menguasai seni perang tertuang pada Framework dan Roadmap BCN
(tradisional) melainkan juga teknologi.5 2015-2019.8 Namun, sejauh ini pembentukan
Pada konteks legal, Indonesia sudah badan tersebut belum dapat terealisasi. Hal inilah
memiliki peraturan perundang-udangan yang yang menggambarkan bahwa kondisi internal
menangani persoalan keamanan yang berkenaan Indonesia dianggap belum mampu menangani
dengan bidang cyber, yaitu Undang-Undang ancaman cyber yang sudah, sedang dan akan
nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan terjadi di masa mendatang secara terpadu.
Transaksi Elektronik. Namun, UU tersebut lebih Memandang bahwa ancaman cyber yang bersifat
menekankan kepada perlindungan transaksi lintas negara, maka bentuk-bentuk kerjasama
elektronik dan belum mampu mencakup aspek internasional dapat menjadi salah satu solusi yang
cyberspace yang begitu luas. Sebagai gambaran dapat dilakukan dalam mengatasi ancaman cyber.
terhadap luasnya ancaman cyber, terdapat Pada lingkup regional, pengamanan cyberspace
beberapa kasus yang pernah dialami Indonesia. untuk menjadi sesuatu yang mendesak telah
Pada tahun 2013 menjadi korban penyadapan menjadi pembahasan dalam berbagai diskusi
oleh badan intelijen Australia berdasarkan dalam salah satu forum kerjasama politik dan
bocoran dokumen dari seorang mantan anggota keamanan Association of South East Asian
National Security Agency (NSA) Amerika, Nations (ASEAN), yaitu ASEAN Regional
Edward Snowden. Dokumen tersebut berisi Forum (ARF). Melalui kerjasama internasional
daftar target penyadapan percakapan telepon di ARF, kebijakan luar negeri pemerintah dapat
yang menunjukkan nama Presiden Indonesia dimaksimalkan untuk mencapai cyber security
Susilo Bambang Yudhoyono dan sembilan orang sebagai salah satu kepentingan nasional bangsa.
terdekat di lingkaran presiden.6 Kemudian, Strategi diplomasi yang tepat perlu digunakan
Lembaga Indonesia Security Incidents Response sebagai instrumen dalam pencapaian kepentingan
Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) nasional. Lebih lanjut, diplomasi pertahanan
mencatat bahwa ada 48.4 juta serangan cyber dapat digunakan sebagai salah sarana untuk
yang dialami oleh Indonesia pada tahun 2014. mencapai kepentingan nasional di bidang
Lebih lanjut, terdapat juga serangan yang pertahanan dan keamanan.
ditujukan kepada situs-situs resmi pemerintah Diplomasi pertahanan memiliki peran
seperti kesad.mil.id, paspampres.mil.id, revolusi untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas
mental.go.id, dan Indonesia juga tercatat sebagai
generasi-keempat/, diakses pada tanggal 24 November 2015.
7
Aditya Panji Rahmanto, “Indonesia Jadi Sarang Malware
Dunia. CNN Indonesia”, 30 April 2015, http://www.
5
William S. Lind, et all., “The Changing Face of War: Into The cnnindonesia.com/teknologi/20150430163413-185-50331/
Fourth Generation”, (Marine Corps Gazette, 1989), hlm. 22. indonesia-jadi-sarang-malware-dunia, diakses pada tanggal
25 November 2015.
6
Ewen MacAskill dan Lenore Taylor, “Australia’s spy agencies
targeted Indonesian president’s mobile phone”, The Guardian, 8
Munawar Ahmad, “Visi & Misi Badan Cyber Nasional dan
28 November 2013, http://www.theguardian.com/world/2013/ Diplomasi Cyber”, 15 April 2015, disampaikan pada Seminar
nov/18/australia-tried-to-monitor-indonesian-presidents-phone, ITB-Deplu, http://www.slideshare.net/msyani/badan-cyber-
diakses pada tanggal 25 November 2015. nasional, diakses pada tanggal 7 November 2015.

Diplomasi Pertahanan Indonesia ... | David Putra S dan Datumaya W. Sumari | 3 


kawasan dalam menghadapi permasalahan ARF on Cybersecurity Initiatives
yang ada agar eskalasi tidak meningkat kearah ASEAN Regional Forum (ARF) yang dibentuk
konflik serta ditujukan untuk saling memperkuat pada tahun 1994 merupakan suatu forum yang
confidence building measures (CBM) dan bertujuan untuk mengembangkan dialog dan
sekaligus memperkuat stabilitas kawasan.9 Lebih konsultasi konstruktif mengenai isu-isu politik
lanjut, diplomasi pertahanan memiliki tiga varian dan keamanan yang menjadi kepentingan dan
utama dalam implementasinya, yaitu defence perhatian bersama, dan memberikan kontribusi
dilplomacy for confidence building measures, positif dalam berbagai upaya untuk mewujudkan
defence diplomacy for defense capabilites, dan confidence building dan preventive diplomacy
defence diplomacy for defence industries. Hal di kawasan Asia Pasifik. Peran ARF dalam
ini pada dasarnya sejalan dengan konsep ARF pembentukan keamanan di bidang cyber tidak
yang menggunakan aspek CBM dan preventive terlepas dari tujuan dibentuknya ASEAN
diplomacy dalam hal pencegahan konflik Political-Security Community (APSC) yang
serta memiliki perhatian terhadap kerjasama bertujuan untuk membentuk perdamaian bagi
keamanan. Namun, implementasi diplomasi negara-negara di kawasan ASEAN dan dunia
pertahanan di ARF-pun tidak terlepas dari dalam lingkungan yang demorkatis dan harmonis.
tantangan yang perlu dipahami oleh pemeritah Landasan mengenai APSC tersebut dijelaskan
Indonesia. Dinamika situasi di ARF serta kondisi dalam dokumen APSC blueprint yang pada Sub
internal Indonesia dalam membawa kepentingan Bab B.4.1 menyepakati mengenai peningkatan
nasional, khusunya dalam bidang cyber, perlu kerjasama dalam hal ancaman non tradisional,
dipahami secara lebih komprehensif. secara khusus mengenai kejahatan transnasional
Berdasarkan hal tersebut, terdapat dua dan lintas batas. Pasal xvii pada Bab tersebut
aspek utama yang perlu dipahami dalam upaya menjelaskan mengenai pengembangan hukum
pencapaian cybersecurity Indonesia di ARF. bagi setiap negara untuk menangani kejahatan
Pertama, mekanisme ARF, khususnya ARF cyber.10
on cybersecuriy initiatives dalam membahas Konsep dari ARF adalah untuk memelihara
berbagai permasalahan terkait cybersecurity. stabilitas keamanan kawasan dan pencegahan
Hal ini diperlukan agar kondisi dimana proses konflik regional. Berdasarkan hal tersebut, ARF
pencapaian tujuan nasional dilakukan dapat memperkenalkan norma baru dalam ASEAN
dipahami, sehingga implementasi strategi mengenai proses cooperative security yang
diplomasi pertahanan dapat dilakukan dengan menekankan konsep keterbukaan melalui promosi
tepat. Kedua, diplomasi pertahanan merupakan dialog diantara negara-negara yang memiliki
salah satu sarana dalam proses pencapaian kesamaan maupun perbedaan pemahaman
kepentingan nasional. Oleh sebab itu, telaah mengenai isu tertentu. Berbeda dengan konsep
mengenai kepentingan nasional Indonesia dalam kerjasama keamanan oleh North Atlantic Treaty
bidang cybersecurity diperlukan agar dapat dilihat Organization (NATO) yang dibentuk berdasarkan
adanya kesesuaian antara kepentingan nasional traktat atau aliansi pertahanan pasca Perang
yang menjadi tujuan, proses yang meliputi Dunia II, ARF ditujukan untuk membangun rasa
kebijakan nasional dan kebijakan luar negeri, serta saling percaya yang mengadopsi pendekatan
hasil yang dicapai dalam ARF on cybersecurity multilateral untuk mencegah konflik di kawasan.
initiatives. Lebih lanjut, pemahaman akan kedua Pendekatan perjanjian keamanannya pun
aspek tersebut akan memberikan pemahaman diimplementasikan dengan cara yang berbeda.
bagaimana implementasi serta kontribusi Karakter ARF tidak seperti NATO yang identik
diplomasi pertahanan Indonesia di ARF on dengan penggunaan kekuatan militer, melainkan
cybersecurity initiatives. lebih kepada dialog dan keterlibatan sebagai cara

9
Salim, “Peningkatan Kerjasama Pertahanan Indonesia
di Kawasan Asia Tenggara Guna Mendukung Diplomasi 10
ASEAN Secretariat, “ASEAN Political-Security Community
Pertahanan Dalam Rangka Mewujudkan Stabilitas Kawasan”, Blueprint”, 2009, http://www.asean.org/archive/5187-18.pdf,
(Jakarta: Pusat Pengkajian Maritim Seskoal, 2012). diakses pada tanggal 2 Desember 2015

4 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 13 No. 1 Juni 2016 | 1–20  


pencegahan konflik.11 Dengan demikian, konsep pada pertemuan di Malaysia dan ditegaskan
ARF sejalan dengan pendekatan APSC sebagai kembali pada ARF Statement on Cooperation
dasar dari lahirnya ARF yang mempromosikan in Ensuring Cyber Security, di Phnom Penh, 12
penolakan agresi terhadap ancaman melalui July 2012, sebagai berikut.14
penggunaan kekuatan dan lebih mengedepankan 1. Promote further consideration of
penyelesaian damai. strategies to address threats emerging
Hal tersebut sesuai dengan pemahaman in this field consistent with international
cooperative security yang ditegaskan oleh Moodie law and its basic principles;
sebagai suatu proses kerjasama antar negara 2. Promote dialogue on confidence-
dengan kepentingan yang sama untuk meredakan building, stability, and risk reduction
ketegangan dan kecurigaan, menyelesaikan atau measures to address the implications of
mengurangi sengketa, membangun rasa percaya ARF participants’ use of ICTs, including
diri, maupun memelihara stabilitas kawasan.12 exchange of views on the potential use
Hingga saat ini, ARF membentuk lingkungan of ICTs in conflict;
keamanan pada kawasan dengan pendekatan
3. Encourage and enhance cooperation
cooperative security melalui kerjasama regional
in bringing about culture of cyber
yang diciptakan bukan untuk mengatasi konflik,
security;
melainkan meminimalkan dampak perbedaan
persepsi dan kepentingan. Kondisi tersebut 4. Develop an ARF work plan on
memberi pemahaman bahwa konsep ARF lebih security in the use of ICTs, focused on
cenderung kepada pendekatan soft institutionalism practical cooperation on confidence
yang menerima nilai-nlai bersama dibandingkan building measures, which could set out
dengan hard institusionalism yang berdasarkan corresponding goals and a timeframe
pada yuridiksi dan supremasi hukum.13 for their implementation;
ARF on cybersecurity initiatives merupakan 5. Review a possibility to elaborate
bagian dari mekanisme ASEAN dalam common terms and definitions relevant
menangani kejahatan cyber yang tertuang to the sphere of the use of ICTs.
dalam ASEAN’s Cooperation on Cybersecurity
and against Cybercrime. Kerjasama tersebut Hasil dari pernyataan tersebut kemudian
melibatkan berbagai pertemuan internasional diimplementasikan dalam bentuk workshop,
selain ARF, seperti ASEAN Ministerial Meeting seminar, dan berbagai pelatihan di tingkat
on Transnational Crime (AMMTC), ASEAN regional. 15 Salah satu fokus dari workshop
Senior Officials Meeting on Transnational tersebut adalah bagaimana suatu negara dalam
Crime (SOMTC), ASEAN Telecommunications merespon dan berkoordinasi ketika ada suatu
Regulators Council (ATRC), dan Senior Officials cyber incidents. Pembahasan tersebut meliputi
Meeting on Social Welfare and Development koordinasi respon nasional, cara penanggulangan,
(SOMSWD). Berbagai pertemuan tersebut cara penindakan pelaku kejahatan antar negara,
memiliki perannya masing-masing dalam dan cara pandang terhadap suatu insiden yang
mewujudkan keamanan cyber di kawasan. ARF melibatkan pelaku dari negara lain serta sejauh
on cybersecurity initiatives mulai dilaksanakan mana suatu negara menanggapi suatu insiden
pada tahun 2006 melalui pernyataan bersama yang muncul dari negaranya.16

11
Sisouwath Dong Chanto, “The ASEAN Regional Forum – The
Emergence of ‘Soft Security’: Improving the Functionality of ASEAN Secretariat, “ASEAN’s Cooperation on Cybersecurity
14

the ASEAN Security Regime”, Dialogue+cooperation, 2003, and against Cybercrime”, (Strasbourg: ASEAN Secretariat,
hlm. 41-47. 2013)

Michael Moodie, “Cooperative Security: Implications for


12
Direktorat Politik dan Keamanan ASEAN Kementerian Luar
15

National Security and International Relations,”, (Cooperative Negeri, wawancara pribadi, 21 Januari 2016
Monitoring Center Occasional Paper, 2000), hlm. 5.
Direktorat Politik dan Keamanan Sekeretariat ASEAN,
16
13
Sisouwath Dong Chanto, Loc. Cit. wawancara pribadi, 15 Januari 2016.

Diplomasi Pertahanan Indonesia ... | David Putra S dan Datumaya W. Sumari | 5 


Kerangka kerja tersebut juga tertuang dalam 2. “ARF Workshop on Measures to
dokumen ASEAN Regional Forum Work Plan Enhance Cyber Security-Legal and
on Security of and in The Use of Information Cultural Aspects” by China and
and Communications Technologies (Ict’s) pada Malaysia, 11-12 September 2013,
tanggal 7 Mei 2015. Beberapa sasaran yang ingin Beijing, China.
dicapai dalam workplan ini adalah:17 3. “ARF Seminar on Confidence Building
1. Promote transparency and develop Measures in Cyberspace” by Republic of
confidence building measures to Korea and Malaysia, 11-12 September
enhance the understanding of ARF 2012, Seoul, Republic of Korea.
Participating Countries in the ICT 4. “ARF Workshop on Cyber Security
environment with a view to reducing the Incident Response” by Australia
risk of misperception, miscalculation and Singapore, 6-7 September 2012,
and escalation of tension leading to Singapore.
conflict;
5. “ARF Workshop on Proxy Actors in
2. Raise awareness on threats related to Cyberspace” by the United States and
the security of and in the use of ICTs; Vietnam, 14-15 March 2012, Hoi An,
3. Enhance practical cooperation between Vietnam
ARF Participating Countries to protect
ICT-enabled critical infrastructure with
Tujuan dari diadakannya workplan ini adalah
the view to also developing resilient
sebagai suatu sarana untuk mempromosikan
government ICT environments; and
lingkungan ICT yang damai, aman, terbuka, dan
4. Improve cooperation including develop saling bekerjasama serta untuk mencegah konflik
regional capacity to respond to criminal dan krisis dengan mengembangkan kepercayaan
and terrorist use of ICTs through antar negara anggota ARF dan peningkatan
improved coordination and coordinated kapasitas. Keterlibatan pemerintah Indonesia
response dalam berbagai workshop tersebut diwakili oleh
berbagai instansi terkait seperti Kementerian Luar
Berdasarkan pada sasaran-sasaran tersebut, Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementeriaan
ditetapkan beberapa aktivitas yang diikuti oleh Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, dan
negara-negara ASEAN dan non ASEAN anggota Desk Ketahanan Keamanan Informasi Cyber
ARF. Aktivitas tersebut dilaksanakan sesuai Nasional19.
dengan panduan kebijakan dan prosedur dalam
ARF yang telah disepakati bersama. Lebih
lanjut, negara pemimpin (Lead Countries), Kepentingan Nasional Indonesia dalam
co-sponsors, dan partisipan dapat mengajukan ARF on Cybersecurity Initiatives
proposal berdasarkan rencana kegiatan yang telah Keikutsertaan Indonesia dalam ARF on
ditetapkan, dan nantinya dapat ditetapkan dalam cybersecurity initiatives menggambarkan
sebuah workplan. Beberapa kegiatan yang telah keinginan Indonesia dalam pencapaian
diimplementasikan dalam rencana kerja tersebut kepentingan nasionalnya melalui lingkup
adalah:18 internasional. Tindakan ini juga merupakan salah
1. “ARF Workshop on Cyber Confidence satu pemahaman bahwa lingkungan eksternal
Building Measures” by Australia and memiliki pengaruh pada kondisi nasional
Malaysia, 25-26 March 2014, Kuala Indonesia. Jika merujuk pada pemahaman
Lumpur, Malaysia. Jackson&Sorensen yang menjelaskan bahwa
kepentingan nasional terbentuk dari asumsi
17
ASEAN Regional Forum, “ASEAN Regional Forum on bersama suatu bangsa terhadap kondisi tertentu
Security of and in The Use of Information and Communications
Technologies (ICT’s)”, Cooperation in Ensuring Cyber Security,
ARF Library, Phnom Penh, 2015, hlm. 1.
Direktorat Politik dan Keamanan ASEAN Kementerian Luar
19

Negeri, wawancara pribadi, 21 Januari 2016


18
Ibid.

6 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 13 No. 1 Juni 2016 | 1–20  


yang mengharuskan suatu negara menjadikannya regional, tindakan ini tercermin dalam peran
perhatian mendasar, 20 maka keikutsertaan Indonesia di ASEAN dan keikutsertaannya dalam
Indonesia dalam ARF on cybersecurity initiatives ARF on cybersecurity initiatives. Melalui forum
menggambarkan bahwa bangsa Indonesia ini, pemerintah Indonesia mengupayakan adanya
memandang ancaman cyber sebagai suatu situasi rasa saling percaya diantara negara-negara
yang dapat mengancam kondisi keamanan anggota ARF dengan menjaga wilayahnya
nasional dan diperlukan suatu perhatian mendasar masing-masing dari ancaman cyber dan
dalam mencegah ancaman tersebut. mengajak agar antar negara tidak menyerang
Berdasarkan pandangan bahwa ancaman satu sama lain. 22 Forum ini juga digunakan
cyber merupakan ancaman yang dapat oleh pemerintah Indonesia dalam menerapkan
mengganggu pertahanan dan keamanan suatu diplomasi internasionalnya untuk meng-update
negara serta dapat menimbulkan dampak informasi mengenai ancaman-ancaman cyber
ekonomi, politik, dan sosial, maka cybersecurity yang baru akibat perkembangan teknologi
merupakan kepentingan nasional yang bersifat informasi, seperti adanya virus atau malware
mutlak. Hal ini sesuai dengan pandangan baru.23 Selain itu, pemerintah Indonesia juga
kepentingan nasional berdasarkan Buku Putih mengupayakan kolaborasi antar negara dan
Pertahanan Indonesia yang menyatakan bahwa sharing informasi mengenai pelaku kejahatan
kepentingan nasional yang bersifat mutlak adalah cyber.24
mengoptimalkan fungsi pertahanan negara untuk Upaya untuk membangun cybersecurity
menjaga dan melindungi kedaulatan dan keutuhan bukanlah sesuatu yang bisa diperjuangkan secara
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sendirian oleh suatu negara. Hal ini mengingat
serta keselamatan bangsa dari segala ancaman. bahwa salah satu aspek yang paling menonjol
Di samping itu, perlu dipahami bersama bahwa dalam cyber conflict adalah ketidakpastian. Oleh
cyberspace memiliki sifat yang sangat luas karena sebab itu, pemerintah Indonesia melalui ARF
penggunaannya yang menyentuh berbagai aspek mengusulkan adanya kontak poin masing-masing
kehidupan bangsa seperti pendidikan, percepatan negara untuk memudahkan komunikasi ketika
transaksi ekonomi, penyebaran informasi dan terjadi suatu serangan cyber. Ide ini disetujui dan
promosi, maupun teknologi militer. Oleh sebab dituangkan dalam dokumen ASEAN Regional
itu, jika kepentingan nasional yang bersifat Forum Workplan on Security of and in The Use of
vital menyangkut keberlanjutan pembangunan Information and Communications Technologies
nasional, dan kepentingan nasional yang (ICT’s). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa
bersifat penting atau utama adalah menyangkut peran dan kepemimpinan Indonesia melalui ARF
perdamaian dunia dan stabilitas regional, maka diakui oleh negara partisipan dan menunjukkan
peran cyberspace dapat menyentuh ke semua keberhasilan diplomasi Indonesia. Hal ini
aspek kepentingan tersebut. berbanding lurus dengan kebijakan luar negeri
Cybersecurity akan selalu dihadapkan pemerintah Indonesia yang menempatkan
dengan ancaman yang bersifat lintas batas, tidak ASEAN sebagai pilar utama politik luar negeri
terduga, dan sulit dideteksi. Oleh sebab itu, Indonesia.
perlindungan negara terhadap ancaman cyber Usaha-usaha tersebut memberi gambaran
tidak hanya dibangun dari dalam melainkan bahwa kepentingan nasional Indonesia dalam
juga dari luar. Pada kondisi ini, pemerintah ARF on cybersecurity initiatives adalah
perlu membangun diplomasinya dalam mencari
pribadi, 29 Februari 2016.
informasi dan membangun hubungan dengan
negara lain sehingga mampu mencegah ancaman Direktorat Politik dan Keamanan ASEAN Kementerian Luar
22

sebelum masuk ke Indonesia.21 Pada lingkup Negeri, wawancara pribadi, 21 Januari 2016.
23
Munawar Ahmad (Ketua Staf Ahli DK2ICN), wawancara
20
Robert Jackson dan Georg Sorensen, “Introduction to pribadi, 29 Februari 2016.
International Relations”, (United Kingdom, Oxford University
Press, 2013), hlm. 6. 24
Prakoso (Asisten Deputi 2/VII Kedeputian Komunikasi,
Informasi dan Aparatur, Kemenkopolhukam), wawancara
21
Munawar Ahmad (Ketua Staf Ahli DK2ICN), wawancara pribadi, 7 Januari 2016.

Diplomasi Pertahanan Indonesia ... | David Putra S dan Datumaya W. Sumari | 7 


membentuk dan meningkatkan rasa saling percaya kerjasama global dan regional baik bilateral
diantara negara-negara ARF untuk melindungi maupun multilateral untuk menangani ancaman
keamanan nasionalnya dan membentuk stabilitas tersebut demi tercapainya kerangka instrumen
kawasan. Rasa saling percaya tersebut kemudian internasional yang komprehensif.
diimplementasikan dalam study/working group Kementerian Luar Negeri menempatkan
mengenai cybersecurity, sharing informasi ASEAN sebagai pilar utama politik luar negeri
mengenai ancaman cyber, diperolehnya kontak Indonesia dengan terus berpartisipasi aktif dalam
poin dalam penanganan insiden cyber, dan kerjasama ASEAN di bidang politik-keamanan,
meningkatkan kapabilitas pertahanan dengan ekonomi, sosial budaya, dan pembangunan.
membentuk tata kelola pemerintahan yang Peran Indonesia juga diarahkan untuk menjadi
baik dalam bidang cybersecurity pada lingkup bagian dalam penyelesaian masalah global
ASEAN. dan membangun hubungan baik dengan dunia
internasional melalui berbagai organisasi
regional dan internasional. 27 Pada lingkup
Politik Luar Negeri dan Kebijakan cybersecurity, pemerintah Indonesia juga ikut
Pemerintah Indonesia dalam bidang terlibat dalam pertemuan ARF on cybersecurity
cybersecurity initiatives untuk mebentuk rasa saling percaya
antara negara-negara di kawasan dalam menjaga
Sesuai dengan amanat konstitusi, politik luar
keamanan cyber yang dapat mengganggu
negeri dan diplomasi Indonesia diabdikan
kepentingan nasional.
untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan untuk Politik bebas aktif dalam pencapaian
ikut serta melaksanakan ketertiban dunia. kepentingan nasional di bidang cybersecurity
Dalam melaksanakan amanat konstitusi tersebut, diterapkan pemerintah Indonesia dengan
Indonesia menganut politik luar negeri yang tidak berpatokan pada negara tertentu untuk
bebas aktif. Pelaksanaan politik luar negeri membangun kebijakan atau sistem pertahanan
RI memiliki dua aspek utama, yaitu untuk cyber-nya. Hal ini karena ancaman yang ada di
mendukung pencapaian kepentingan nasional dan masing-masing negara belum tentu sama dengan
sebagai upaya untuk ikut berkontribusi terhadap ancaman yang dihadapi oleh kondisi yang ada
kemaslahatan dunia internasional. 25 Untuk di Indonesia.28 Pemerintah memanfaatkan ARF
mengimplementasikan hal tersebut, pemerintah on cybersecurity initiatives untuk saling berbagi
perlu melihat kondisi dinamis di dalam dan di informasi mengenai perkembangan yang ada di
luar negeri. dunia cyber serta mempelajari sistem yang ada
di negara lain sehingga dapat diserap hal-hal
Tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa
yang sesuai dengan kebutuhan negara.29 Selain
sekarang, isu-isu keamanan non-tradisional
itu, pemerintah Indonesia juga mengupayakan
memiliki peran yang sama pentingnya dengan
agar forum tersebut tetap berdasar pada prinsip
isu keamanan tradisional. Tantangan ini perlu
dasar ASEAN yaitu musyawarah mufakat. Hal ini
dihadapi dan disikapi oleh Indonesia. Isu kejahatan
dilakukan agar keputusan yang diambil berdasar
seperti pencucian uang, kejahatan cyber, maupun
pada tercapainya tujuan bersama dan tidak
penyelundupan narkoba merupakan salah satu
adanya kepentingan nasional negara tertentu yang
persoalan yang dapat mengancam stabilitas
memiliki pengaruh terlalu besar dalam keputusan
kawasan, khususnya mengancam pembangunan
yang diambil. Sebagai contoh, China sebagai
nasional Indonesia.26 Permasalahan ini akan
salah satu anggota ARF begitu agresif untuk
mempengaruhi kondisi nasional bangsa secara
menawarkan sistem cyber-nya untuk diterapkan
dua arah, baik dari internal ke eksternal, maupun
sebaliknya. Oleh sebab itu, perlu dibangun 27
Ibid., hlm. 1.

Kementerian Luar Negeri, “Rencana Strategis Kementerian


25
Yono Reksoprodjo (Staf ahli Panglima TNI bidang C4ISR),
28

Luar Negeri Tahun 2015-2019”, (Jakarta: Kementerian Luar wawancara pribadi, 2 Februari 2016
Negeri, 2015), hlm. 60.
Arwin D.W. Sumari (Staf Ahli DK2ICN), wawancara pribadi,
29
26
Ibid., hlm. 44. 12 Januari 2016.

8 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 13 No. 1 Juni 2016 | 1–20  


di ASEAN dan bersikap menolak terhadap model Pada tabel tersebut dapat dilihat beberapa
yang ditawarkan Amerika. Pada kondisi ini, kekurangan yang ada dalam kebijakan yang
pemerintah Indonesia bersama dengan negara- telah dimiliki pemerintah Indonesia. Sebagai
negara ASEAN berusaha menghentikan atau contoh adalah terpisahnya fungsi keamanan
memperlambat tindakan tersebut.30 yang dimiliki Polri (UU No.2 tahun 2002) dan
Pada bidang pertahanan, pemerintah fungsi pertahanan yang dimiliki TNI (UU No.3
Indonesia melalui Kementerian Pertahanan tahun 2002). Hal inilah yang dapat menghambat
juga memiliki beberapa pokok sikap yang tindakan pencegahan ancaman. Berdasarkan
menjadi landasan dalam membangun kerjasama pengalaman, kondisi ini menjadikan bangsa
internasionalnya, yang meliputi:31 1) Saling Indonesia selalu terlambat bertindak dan
menghormati kedaulatan negara lain, 2) Tidak cenderung baru bekerja ketika ada suatu kejadian
mencampuri urusan dalam negeri, 3) Saling yang telah menimbulkan korban, baik secara
menguntungkan, 4) Instrumen cegah konflik antar materi maupun non materi.32 Tanpa adanya
negara, 5) Membangun kapasitas pertahanan. perbaikan dalam kebijakan tersebut, pemerintah
Indonesia akan kesulitan dalam membentuk
Lebih lanjut, Pada Tabel 1 dapat dilihat
ketahanan cyber. Sebagaimana disampaikan oleh
instrumen kebijakan cyber yang dimiliki berbagai
Edmond Makarim33 yang menyatakan bahwa
instansi serta keterbatasan kewenangan yang ada
ketahanan bukan hanya kemampuan kita untuk
sebagai berikut.

Tabel 1. Instrumen Kebijakan Pertahanan Cyber

Institusi Dasar Hukum Keterbatasan Kewenangan


-UU 3/2002 Pertahanan
-Tugas pertahanan negara:
-UU 34/2004 TNI
tegaknya kedaulatan, keutuhan
-UU 1999 Mobilisasi dan
wilayah dan perlindungan bangsa.
Demobilisasi
Kemhan/TNI -Cyberspace belum menjadi
-UU 43/2008 Wilayah
wilayah pertahanan.
Negara
-Dalam tugas nir militer TNI
-PP 68/2014 Penataan
sebagai pendukung
Wilayah Negara
Terbatas pada tugas Kamtibmas.
Attribution is not evidence but
Polisi UU 2/2002 Kepolisian
rather intelligence. Utamakan
asumsi
Kemampuan untuk melakukan
Intelijen UU 17/2011 Intelijen cyber espionage maupun untuk
merespon cyber attack terbatas.
-UU 36/199 Telekomunikasi Terbatas dalam konteks
-UU 32/2002 Penyiaran infrasruktur telekomunikasi,
Kominfo
-UU 11/2008 ITE penyiaran dan informatika untuk
-UU 14/2008 KIP pelayanan publik
Draft NATO atas Konvensi
Internasional Talinn Manual
Internasional untuk perang Cyber

Sumber: Materi Presentasi Direktorat Kebijakan Strategis Kementerian Pertahanan,


5 Februari 2015

Direktorat Politik dan Keamanan ASEAN Kementerian Luar


30

Negeri, wawancara pribadi, 21 Januari 2016. Arwin D.W. Sumari (Staf Ahli DK2ICN), wawancara pribadi,
32

12 Januari 2016.
31
Direktorat Kebijakan Strategis Kementerian Pertahanan,
materi presentasi, disampaikan dalam wawancara pribadi, 5 Ketua Staf Ahli Bidang Hukum DK2ICN, wawancara pribadi,
33

Februari 2016. 29 Februari 2016.

Diplomasi Pertahanan Indonesia ... | David Putra S dan Datumaya W. Sumari | 9 


bertahan dalam menghadapi serangan, melainkan legitimasi organisasi seperti ID-CERT atau
juga seberapa cepat kita bangkit dari kondisi APCERT dalam kewenangan kebijakan cyber.
luluh lantah, dan melakukan serangan balasan/ Cyberspace merupakan aspek yang unik
tindakan represif yang masuk dalam tindakan karena penggunaanya dapat menyentuh semua
security. Atas dasar hal tersebut maka pertahanan aspek kehidupan nasional, seperti pertahanan,
dan keamanan harus berada dalam satu bingkai keamanan, keuangan, dan kehidupan sosial.
utuh. Namun, berdasarkan kondisi yang ada,
Kominfo dengan UU ITE tahun 2008 juga Indonesia belum memiliki kebijakan yang
dianggap belum mampu mencakup seluruh secara komprehensif mengatur mengenai
aspek cybersecurity yang begitu luas. Jika cyberspace. Lemahnya kewenangan pada internal
ancaman cyber merupakan suatu ancaman yang pemerintahan dalam penanganan konflik cyber
dapat berdampak pada kondisi pertahanan dan tentunya dapat menjadi ancaman bagi pertahanan
keamanan negara, maka perlu pembahasan yang dan keamanan negara. Pada kondisi inilah, aspek-
melingkupi keamanan nasional dan bukan hanya aspek diplomasi pertahanan diperlukan sebagai
terbatas kepada penyelenggaraan informasi dan salah satu instrumen pencegahan konflik yang
komunikasi tanpa adanya pertanggungjawaban dapat muncul dari lingkup eksternal.
untuk mengamankannya. Lebih lanjut, pada
lingkup internasional, belum ada satu kebijakan
Implementasi Diplomasi Pertahanan
yang mengikat mengenai cybersecurity. Indonesia dalam ARF on Cybersecurity
Menimbang bahwa ancaman cyber bersifat
transnasional, maka tidak adanya kebijakan Initiatives
tersebut dapat dianggap sebagai suatu celah Hubungan internasional mengenal istilah
keamanan dalam bidang cybersecurity. Salah bawah salah satu penyebab terjadinya perang
satu konvensi yang mengarah kesana adalah adalah karena kegagalan diplomasi. Oleh
Tallin Manual. Namun, konvensi tersebut sejauh sebab itu, fungsi diplomasi maupun diplomasi
ini masih terbatas kepada negara NATO saja, pertahanan seringkali diarahakan sebagai
walaupun terdapat kemungkinan diterapkan instrumen pencegahan dan penyelesaian konflik,
melalui PBB. maupun pemeliharaan stabilitas kawasan. Jika
Selain ARF on cybersecurity initiatives, melihat pada kondisi saat ini dimana lingkungan
Indonesia pada dasarnya telah memiliki strategis semakin tidak pasti dan tidak dapat
organisasi Indonesia Computer Emergency diprediksi, maka pemerintah Indonesia perlu
Response Team (ID-CERT) yang memiliki misi menerapkan strategi yang mampu beradaptasi
untuk melakukan koordinasi penanganan insiden dan meningkatkan peran diplomasinya untuk
cyber yang melibatkan pihak Indonesia dan luar mencegah konflik yang dapat mengganggu
negeri. ID-CERT juga secara aktif ikut serta stabilitas kawasan dan kepentingan nasional.35
dalam forum Asia Pacific Computer Emergency Berdasarkan pada hal tersebut, Pemerintah
Response Team (APCERT). Namun, ID-CERT Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri
merupakan tim koordinasi teknis berbasis telah menetapkan arah kebijakan luar negerinya
komunitas dan untuk komunitas yang bersifat untuk semakin meningkatkan perannya di
independen. Sebagai organisasi non-pemerintah ASEAN dengan salah satu strateginya, yaitu
dan independen, ID-CERT tidak berada di bawah memperjuangkan prakarsa Indonesia di ASEAN
naungan insansi pemerintah dan tidak memiliki dan forum terkait ASEAN dalam mewujudkan
kewenangan untuk menentukan kebijakan yang kawasan yang aman, stabil, dan sejahtera. 36
mencakup kepentingan nasional suatu negara. Pada salah satu forum, yaitu ARF, pemerintah
Lebih lanjut, ID-CERT juga tidak memiliki
tanggal 14 Agustus 2016.
kewenangan untuk menyelidiki kasus secara
tuntas.34 Hal inilah yang menyebabkan lemahnya Direktorat Kerjasama Internasional Kementerian Pertahanan,
35

dokumen wawancara, 12 Februari 2016.


34
Idcert, “Profil  Indonesia  Computer Emergency Response Direktorat Politik dan Keamanan ASEAN, Kementerian Luar
36

Team”, http://www.cert.or.id/tentang-kami/id/, diakses pada Negeri, wawancara pribadi, 21 Januari 2016.

10 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 13 No. 1 Juni 2016 | 1–20  


Indonesia terus berupaya meningkatkan peran sesuai dengan keinginan pemerintah. Sehingga,
diplomasinya dalam menghadapi ancaman cyber ketika suatu kebijakan terbentuk, akan terdapat
melalui ARF on cybersecurity initiatives. nilai-nilai kepentingan nasional Indonesia di
Keanggotaan ARF terdiri dari 27 negara yang dalamnya.
meliputi negara-negara ASEAN, dan negara maju Salah satu pencapaian implementasi
lainnya seperti Rusia, Amerika Serikat, China, diplomasi pertahanan pemerintah Indonesia
Jepang, maupun Korea Selatan. Berhadapan dalam ARF on cybersecurity initiatives adalah
dengan negara-negara tersebut hingga terlibat diperolehnya point of contacts (kontak poin)
konflik dalam bidang cyber tentu bukan pilihan perwakilan negara-negara ASEAN dan beberapa
yang tepat bagi Indonesia. Hal ini mengingat baik negara di kawasan regional yang menangani
dari segi teknologi maupun sumber daya yang lain, masalah cybersecurity. 37 Beberapa negara
penguasaan negara-negara tersebut mengenai tersebut diantaranya adalah semua negara
cybersecurity jauh lebih baik dibandingkan ASEAN, China, Belanda, Rusia, AS, dan
dengan Indonesia. Oleh sebab itu, melalui ARF Australia.38 Kontak poin ini merupakan ide murni
pemerintah perlu secara intens untuk terus dari pemerintah Indonesia yang diusulkan dalam
meningkatkan hubungan baik dan rasa saling ARF.39 Ide tersebut kemudian dituangkan dalam
percaya dalam bidang cyber. Sebaliknya, dengan dokumen ASEAN Regional Forum Workplan
pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh on Security of and in the Use of Information
negara-negara seperti Amerika, China, Korea and Communications Technologies (ICT’s).
Selatan yang sudah jauh lebih settle dalam Hal tersebut tertuang dalam proposed activitites
cybersecurity-nya pemerintah perlu untuk terus No.1, untuk membentuk sebuah study gorup yang
secara aktif memanfaatkan kerjasamanya dalam menyatakan bahwa:40
hal pelatihan dan pembangunan infrastruktur “The Study Group should develop processes and
cyber. Diplomasi pertahanan Indonesia perlu procedures for sharing information between ARF
terus didorong untuk capacity building sehingga contact points on preventing ICT crises, and
percepatan pembangunan kebijakan dan sistem criminal and terrorist use of ICTs; establishment
keamanan cyber di Indonesia dapat berjalan of a contacts database (without duplicating
secara maksimal. existing CERT networks).”
Melalui mekanisme ARF yang
memungkinkan terjadinya kerjasama dalam Melalui kontak poin yang didapatkan
kerangka diplomasi track II, pengiriman delegasi dari masing-masing negara, pemerintah
baik pada level kementerian hingga akademisi Indonesia dapat lebih mudah melakukan proses
dapat dimungkinkan dengan mengikuti berbagai diplomasinya dalam ranah cyber. Hal tersebut
pelatihan, seminar, maupun workshop yang dapat berupa diplomasi dalam hal penanganan
diadakan. Dengan demikian, pembelajaran dan insiden cyber, maupun hal lain yang terkait
peningkatan SDM Indonesia akan pengetahuan pencapaian tujuan bersama. Lebih lanjut, kontak
cybersecurity yang komprehensif bisa diperoleh. poin yang didapatkan bukan sebatas nama
Lebih lanjut, dengan rasa saling percaya yang instansi atau nomor telpon instansi, namun juga
didorong terus menerus melalui ARF diharapkan nomor pribadi maupun email pribadi pejabat
akan memberi pemahaman yang sama mengenai berwenang. Hal ini dapat dipandang sebagai
cybersecurity, sehingga kebijakan regional bisa pintu masuk bagi pemerintah Indonesia untuk
segera dibentuk untuk menjaga kondisi dan 37
Prakoso (Asisten Deputi 2/VII Kedeputian Komunikasi,
stabilitas keamanan di kawasan. Satu hal yang Informasi dan Aparatur, Kemenkopolhukam), wawancara
perlu diperhatikan oleh pemerintah Indonesia, pribadi, 7 Januari 2016.
bahwa belum adanya kebijakan regional perlu 38
Munawar Ahmad (Ketua Staf Ahli DK2ICN), wawancara
dipandang sebagai suatu peluang. Kondisi pribadi, 29 Februari 2016.
tersebut memungkinkan pemerintah Indonesia
Direktorat Politik dan Keamanan ASEAN, Kementerian Luar
39
untuk terus mempromosikan kepentingan Negeri, wawancara pribadi, 21 Januari 2016
nasionalnya akan kebutuhan keamanan cyber
40
ASEAN Regional Forum, Op. Cit, hlm.3.

Diplomasi Pertahanan Indonesia ... | David Putra S dan Datumaya W. Sumari | 11 
mendapatkan hasil yang lebih besar karena proses nasional, diplomasi pertahanan yang dijalankan
komunikasi dan diplomasi dapat berjalan lebih untuk membentuk rasa saling percaya akan selalu
mudah.41 berkontribusi positif bagi kondisi keamanan
Kontak poin yang ada juga digunakan untuk Indonesia.
melakukan identifikasi pelaku kejahatan cyber. Implementasi diplomasi pertahanan
Hal ini akan memberi masukan bagi pemerintah Indonesia di ARF tidak terlepas dari kendala
Indonesia untuk mengambil suatu tindakan. dan tantangan, baik yang bersumber dari
Sebagai contoh, jika ada serangan cyber yang lingkup internal maupun eksternal. Sebagai
teridentifikasi dari Malaysia, maka pemerintah gambaran, pada salah satu study group di ARF
harus tahu apakah itu serangan yang dilakukan Indonesia mengusahakan bagaimana menyikapi
oleh kelompok/organisasi tertentu atau state serangan cyber dan bagaimana mengatasinya
actor. Pemerintah bisa melakukan klarifikasi melalui suatu simulasi kering. Salah satu
dengan kontak poin negara bersangkutan sehingga tujuan diadakannya study grup ini adalah agar
bisa memtusukan bagaimana melakukan tindakan pemerintah Indonesia bersama dengan negara
atau serangan balasan. Jika serangan tersebut ASEAN dapat membentuk suatu kurikulum
teridentifikasi dilakukan oleh negara, maka kita untuk meningkatkan capacity building. Selain
dapat membalasnya dengan kapasitas sebagai itu, pemerintah juga mengusulkan perubahan
negara. Namun, jika serangan tersebut dilakukan penggunaan Internet Protocol version 4 (IPv4)
oleh kelompok/organisasi maka akan sangat ke IPv6 untuk seluruh negara ASEAN sebagai
berlebihan dan terlalu membuang resource yang salah satu solusi konkrit peningkatkan sistem
ada apabila kita meresponnya dengan kapasitas keamanan internet. Namun dari dua usul tersebut
sebagai negara. Hal seperti ini pernah terjadi respon yang diterima cukup kecil. Hal ini terjadi
ketika pemerintah Indonesia akan mengeksekusi karena seringkali delegasi yang dikirim adalah
mati dua warga negara Australia. Pada saat itu, seseorang yang tidak menguasi bidang cyber.43
Indonesia hampir perang cyber, namun karena ARF memang berada pada ranah Kementerian
memiliki kontak poin dari Australia maka Luar Negeri karena menguasai foreign policy,
pemerintah berkoordinasi. Bagian dari koordinasi namun idealnya pihak-pihak Kementerian Luar
itu, masing-masing pihak saling menjaga sisi Negeri juga mampu mengedepankan orang-
cyber di wilayahnya untuk menahan diri dan tidak orang yang expert dalam bidang tertentu sesuai
saling menyerang.42 dengan topik yang dibahas. Selain itu, delegasi
Selain itu, dengan diperolehnya kontak poin, yang dikirim juga seringkali tidak mengetahui
pemerintah bisa jauh lebih mudah menangani rekan mereka dari instansi lain karena undangan
insiden cyber yang terjadi. Hal tersebut karena pertemuan tidak dikirim melalui satu pintu.44
negara tidak perlu bekerja secara sendirian, Kejadian tersebut memberikan gambaran
namun satu sama lain bisa bekerjasama dan mengenai lemahnya koordinasi nasional yang
berkoordinasi untuk menangani suatu kasus dan dapat berakibat pada terganggunya pencapaian
berbagi informasi mengenai ancaman cyber yang kepentingan nasional di tingkat internasional
akan terjadi. Contoh kasus konflik Indonesia karena masing-masing instansi merasa mewakili
dengan Australia bisa dijadikan pelajaran bahwa pemerintahan.45 Selain itu, persyaratan keamanan
dengan adanya koordinasi yang baik, setidaknya yang belum dipenuhi oleh negara lain juga
dalam dunia cyber, kedua negara masih memiliki menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi.
rasa saling percaya satu sama lain dan bersama- Sebagai contoh, dalam hal Domain Name Server
sama menjaga wilayahnya untuk tidak melakukan (DNS) security, Indonesia berada pada grade A
serangan. Dengan demikian, sejauh kerjasama di dunia. Selain itu, kemampuan Sumber Daya
yang dilakukan tidak menganggu kepentingan
Direktorat Politik dan Keamanan Sekretariat ASEAN,
43

wawancara pribadi, 15 Januari 2016.


Arwin D.W. Sumari (Staf Ahli DK2ICN), wawancara pribadi,
41

12 Januari 2016. 44
Ibid,.

Kun Arief Cahyantoro (Kabid Ketahanan Informasi


42
Arwin D.W. Sumari (Staf Ahli DK2ICN), wawancara pribadi,
45

DK2ICN), wawancara pribadi, 7 Januari 2016. 12 Januari 2016.

12 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 13 No. 1 Juni 2016 | 1–20  


Manusia (SDM) untuk membuat IPv6 Map yang Pada lingkup eksternal, negara-negara di
sejauh ini belum semua negara ASEAN memiliki dunia internasional memiliki cara pandang yang
standar keamanan ini dan hanya Pemerintah berbeda-beda mengenai cybersecurity. Hal yang
Indonesia melalui Kemenkopolhukam dan sama terjadi dengan ASEAN dan negara peserta
Pemerintah Korea Selatan yang mampu ARF. Sebagai contoh, Malaysia dan Singapura
memenuhi semua kriteria yang ada.46 Kondisi adalah negara yang sangat berfokus mengenai
seperti inilah yang menjadi salah satu kendala pembatasan konten dalam ruang lingkup cyber.
dalam proses diplomasi di ARF. Jika Malaysia menerapkan sensor pada hal-hal
Kementerian Luar Negeri sebagai ujung yang berkaitan dengan penistaan agama, maka
tombak kebijakan luar negeri Indonesia telah Singapura menerapkan sensor pada hal-hal yang
memiliki dasar kebijakan untuk meningkatkan menjurus ke makar dan bersuara jelek kepada
perannya di ASEAN dan ikut serta dalam pemerintah. Di sisi lain, negara-negara dengan
proses pencapaian kepentingan nasional di sistem demokrasi yang menganut paham free
berbagai forum regional, namun tanpa adanya speech seperti halnya Amerika Serikat, tentu
dukungan dari kondisi kebijakan nasional yang tidak akan berfokus terhadap hal tersebut.
mengatur cyberspace secara komprehensif, akan Dalam lingkup cyber, Amerika dan Australia
menyebabkan melemahnya usaha-usaha yang adalah contoh negara yang lebih berfokus
dilakukan. Oleh sebab itu, diperlukan adanya pada pembangunan infrastruktur. China pun
konsistensi dalam pemerintahan, satu interpretasi, memiliki pandangan yang berbeda dan cenderung
dan satu pemahaman mengenai kebijakan, mengisolasi lingkungan cyber-nya dengan
mulai dari struktur pemerintahan paling atas mendukung penggunaan situs dalam negeri.
hingga paling bawah agar pemanfaatan forum Disamping itu, terdapat beberapa negara yang
yang ada dapat berjalan maksimal untuk belum menjadikan isu cyber sebagai perhatian
mempercepat proses pencapaian kepentingan utamanya. Seperti halnya Brunei, Myanmar,
nasional. Berdasarkan pada kondisi tersebut, maupun Vietnam yang belum memprioritakan
disamping Indonesia juga sedang dalam proses isu cybersecurity. Hal ini dipandang wajar karena
menyiapkan badan yang akan bertanggung berbagai alasan seperti kondisi dalam negeri
jawab dalam keamanan cyber, pemerintah yang tidak stabil, dan lebih memprioritaskan
juga mengusulkan agar masing-masing negara pembangunan ekonomi, serta berbagai hal
segara membentuk badan atau lembaga yang lainnya.
bertanggung jawab mengenai cybersecurity.47 Penggambaran pada kondisi eksternal
Hal tersebut dilakukan karena masih terdapat tersebut menunjukkan bahwa Indonesia maupun
beberapa negara yang belum memiliki badan negara ARF lainnya seringkali mengalami kendala
khusus di bidang cybersecurity. Sehingga, dalam mencari persamaan nilai. Mekanisme
terdapat beberapa kontak poin dari negara pengambilan keputusan ARF berdasarkan
lain yang bersifat informal. Melalui badan pada ASEAN Charter adalah keputusan yang
resmi dan bersifat khusus, proses diplomasi berdasarkan pada mufakat. Jika ada satu
akan jauh lebih mudah dalam pencapaian ketidaksetujuan dalam suatu perundingan, maka
kepentingan nasional di bidang cybersecurity. tidak akan ada kebijakan yang bisa tercapai.
Lebih lanjut, Pemerintah Indonesia dapat Oleh sebab itu, dengan perbedaan pandangan
melakukan klarifikasi, memetakan jaringan yang ada dan dihadapkan pada mekanisme yang
serangan, dan mengambil tindakan yang efektif diadopsi oleh ARF, pengambilan keputusan
bersama negara-negara lain sehingga tidak ada dalam ARF bukanlah suatu hal yang mudah.
miss dari sisi cyber diplomasi. Hal inilah yang kemudian berdampak pada
implementasi diplomasi pertahanan Indonesia di
ARF on cybersecurity initiatives. Jika Indonesia
Kun Arief Cahyantoro (Kabid Ketahanan Informasi
46 menginginkan salah satu kepentingan nasionalnya
DK2ICN), wawancara pribadi, 7 Januari 2016. tercapai melalui ARF, maka setidaknya Indonesia
Direktorat Politik dan Kemanan ASEAN, Kementerian Luar
47 perlu meyakinkan negara-negara ASEAN
Negeri, wawancara, 21 Januari 2016

Diplomasi Pertahanan Indonesia ... | David Putra S dan Datumaya W. Sumari | 13 
sebelum berdiplomasi dengan 17 negara anggota 1. Defence Diplomacy for Confidence
ARF lainnya. Building Measures (CBM)
Diplomasi pertahanan untuk CBM dilakukan
Kontribusi Diplomasi Pertahanan untuk menurunkan ketegangan maupun
Indonesia dalam ARF on Cybersecurity menghilangkan perspektif negatif agar hubungan
Initatives antar negara berjalan dengan baik. Selain
itu, CBM diperlukan untuk menunjukkan
Kontribusi diplomasi pertahanan Indonesia di
transparansi kebijakan pertahanan agar satu
ARF akan sangat dipengaruhi dengan lingkungan
negara tidak dianggap sebagai ancaman oleh
dan metode yang digunakan oleh ARF serta
negara lain.49 Dalam hal ini, praktik diplomasi
penyesuaian strategi diplomasi pertahanan
pertahanan untuk CBM dilakukan dalam
Indonesia yang diterapkan dalam ARF. Diplomasi
bentuk kunjungan kenegaraan, pertukaran
pertahanan Indonesia digunakan sebagai
informasi, dialog dan konsultasi, deklarasi
instrumen untuk pengejaran kepentingan nasional
kerjasama strategis maupun kerjasama militer.50
dalam hubungan diplomasi multilateral di ARF
Pemerintah Indonesia menerapkan hal ini dengan
dan diplomasi pertahanan yang dikembangkan
mengajukan usulan mengenai point of contacts
untuk membangun hubungan baik dengan negara
dalam bidang cybersecurity. Sharing point of
lain untuk mengurangi ketidakpastian dalam
contacts ini diharapkan akan mendukung CBM
kaitannya dengan cybersecurity di kawasan
antar negara sehingga membentuk rasa aman
regional. Di sisi lain, dengan pemahaman jika
dan saling percaya pada lingkup cybersecurity.
kondisi keamanan suatu negara akan sangat
Usulan ini diterima dan dituangkan dalam
dipengaruhi oleh kondisi keamanan eksternal dan
dokumen ASEAN Regional Forum Workplan on
stabilitas kawasan, maka diplomasi pertahanan
Security of and in The Use of Information and
Indonesia yang bertujuan untuk mengamankan
Communications Technologies (ICT’s). Selain
wilayahnya juga akan berkontribusi kepada
pada proposed activities No.1, ide mengenai
keamanan negara lain. Lebih lanjut, keberhasilan
diperlukannya kontak poin ini juga ditegaskan
strategi diplomasi pertahanan suatu negara
kembali pada proposed activities No.2, poin
merupakan kolaborasi dari komponen diplomasi,
X mengenai pembentukan workshops and
pertahanan dan pembangunan yang memiliki tiga
seminars, yang menyatakan bahwa: 51
karakter utama, yaitu:48
1. Defense Diplomacy for Confidence “consideration of establishment of senior policy
Building Measure Point of Contacts between ARF Participating
Countries to facilitate real time communication
2. Defense Diplomacy for Defense about events and incidents in relation to security
Capabilities of and in the use of ICTs of potential regional
3. Defense Diplomacy for Defense security significance”

Industries
Kontak Poin ini berguna bagi Indonesia dan
negara-negara ARF lainnya dalam memetakan
Berdasarkan kondisi tersebut, bagaimana insiden cyber, mengetahui potensi ancaman,
kontribusi diplomasi pertahanan Indonesia di mengidentifikasi pelaku, dan memutuskan
ARF akan ditinjau melalui masing-masing tindakan penanganan secara bersama-sama.
karakter yang ada. Perlu dipahami bahwa tidak semua negara

49
Amitav Acharya, (2001), “Constructing a Security Community
in South East Asia:ASEAN and the Problem of Regional
Power”, New York: Routledge, 2001, hal. 66
50
Arifin Multazam, (2010), “Diplomasi Pertahanan Indonesia
Terhadap KoreaSelatan Periode 2006-2009”, Tesis Universitas
Idil Syawfi, “Aktifitas Diplomasi Pertahanan Indonesia dalam
48
Indonesia, hal. 19.
Pemenuhan Tujuan-Tujuan Pertahanan Indonesia (2003-2008)”,
Tesis Universitas Indonesia, 2009. 51
ASEAN Regional Forum, Loc. Cit.

14 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 13 No. 1 Juni 2016 | 1–20  


anggota ARF telah memiliki badan khusus yang pemerintah Indonesia akan mengadopsi kebijakan
menangani masalah cyber dan konsekuensi atas internasional. Kedua, salah satu konvensi besar
hal tersebut maka terdapat beberapa pejabat yang sedang berjalan saat ini mengenai masalah
negara yang memberikan kontak poin pribadi cyber adalah Tallin Manual yang sejauh ini
kepada Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa dirumuskan oleh negara-negara NATO. Bukan
Indonesia dipercaya oleh negara lain dalam tidak mungkin jika Tallin Manual sudah final,
berkerjasama jika ada suatu insiden cyber dan baik PBB maupun Indonesia akan mengadopsi
didukung dengan pemahaman bahwa ancaman peraturan dalam Tallin Manual, seluruhnya atau
cyber merupakan suatu ancaman yang tidak sebagian. Ketiga, dalam Tallin Manual terdapat
bisa ditangani oleh satu negara secara sendirian. penjelasan mengenai kategori “the use of force”
Kombinasi kontak poin antara formal dan dalam cyber operations yang salah satunya
informal ini juga sejalan dengan metode ARF menyatakan bahwa: 52
yang memungkinkan penggunan diplomasi
track II didalamnya. Selain itu, tindakan “…the more cosequences impinge on critical
national interest, the more they will contribute
memberi kontak poin menyiratkan pandangan to the depiction of a cyber operation as a use of
bahwa negara-negara anggota ARF tidak ingin force….”
adanya konflik dalam ruang cyber dan oleh “…a cyber operation, like any operation, like
sebab itu maka kontak poin diperlukan sebagai any operation resulting in damage, destrucition,
injury, or death is highly likely to be considered
sarana berkomunikasi dan berdiplomasi. Hal ini a use of force…”
tentunya akan mendukung stabilitas keamanan
kawasan dari ancaman cyber. Hal ini menjelaskan bahwa cyber operations
Sharing point of contacts antar negara dapat dikategorikan sebagai the use of force jika
ini menunjukkan bahwa kontribusi diplomasi berdampak kritis kepada kepentingan nasional
pertahanan Indonesia ini sejalan dan berhasil yang mengakibatkan kerusakan, kehancuran,
memenuhi sasaran kerangka kerja ARF Work cidera, maupun kematian. Selain itu, jika cyber
Plan on Security of and in The Use of Information operations yang dikategorikan sebagai the use
and Communications Technologies (Ict’s) pada of force tersebut terbukti melibatkan negara atau
poin pertama, yaitu “a view to reducing the risk dilakukan oleh kelompok atau individu yang
of misperception, miscalculation and escalation disponsori oleh negara, seperti pada penjelasan
of tension leading to conflict” atau bertujuan self defence poin 15 Tallin manual sebagai
untuk mengurangi resiko kesalahpahaman dan berikut:53
eskalasi ketegangan yang mengarah kepada
konflik. Lebih lanjut, pemerintah Indonesia “…if a group of private individuals under the
dapat menggunakan media komunikasi tersebut direction of state A undertakes cyber operations
directed against state B, and the consequences
untuk mengembangkan kerjasama yang lebih of those acitions reaches the requisite scale and
luas dalam membentuk cybersecurity, baik pada effects, State A will have commited an armed
lingkup nasional maupun internasional. attack…”
Salah satu hal yang perlu dipahami bersama
mengenai pentingnya kontak poin dalam maka suatu negara dapat melakukan serangan
cybersecurity adalah mengenai identifikasi balasan termasuk menggunakan kekuatan militer
pelaku. Hal ini menimbang bahwa, pertama berdasarkan artikel 51 PBB yang menyatakan
cyberspace akan selalu melibatkan jaringan bahwa negara berhak melakukan pembelaan diri
internasional, namun sejauh ini belum ada baik secara individu maupun kolektif jika terjadi
kebijakan khusus di dunia internasional mengenai armed attacks.
cybersecurity. Kondisi tersebut juga terjadi di
Indonesia dan negara ASEAN. Jika, pemerintah
Indonesia tidak segera membentuk kebijakan 52
Michael N. Shmitt (Ed.), “Tallin Manual on The International
Law Applicable to Cyber Warfare”, Cambridge University
cyber pada lingkup nasional dan lingkup Press, New York, 2013, hlm. 48.
regional, maka bukan tidak mungkin bahwa
53
Ibid., hlm. 58.

Diplomasi Pertahanan Indonesia ... | David Putra S dan Datumaya W. Sumari | 15 
Walaupun peraturan tersebut masih dalam begitu luas dengan melibatkan berbagai aktor
pembahasan oleh NATO, tapi pemerintah di dalamnya. Sebagaimana yang didefiniskan
Indonesia dan negara-negara ASEAN perlu oleh international telecommunication union
mempersiapkan diri sebaik mungkin. Berdasarkan bahwa cybersecurity merupakan kumpulan
kondisi tersebut, disinilah pentingnya kontak poin. alat, kebijakan, konsep keamanan, pedoman,
Jika terjadi suatu serangan terhadap Indonesia, pendekatan, manajemen resiko, tindakan,
maka pemerintah bisa melakukan klarifikasi latihan, best practice, jaminan dan teknologi
terhadap negara bersangkutan yang teridentifikasi yang dapat digunakan untuk melindungi
lokasinya. Selain itu, jika lokasi Indonesia lingkungan cyber, organisasi, aset, dan pengguna
digunakan sebagai proxy oleh pelaku sebenarnya termasuk perangkat komputasi yang terkoneksi,
dalam serangan cyber, maka negara lain yang personel, infrastruktur, aplikasi, layanan,
menjadi korban bisa melakukan klarifikasi sistem telekomunikasi, dan segala sesuatu yang
ke Indonesia. Hal tersebut sangat penting ditransmisikan dan/atau informasi yang tersimpan
agar Indonesia tidak dituduh sebagai pelaku di lingkungan cyber. 54 Dalam membangun
dan menjadi salah sasaran dalam pembalasan cybersecurity atau keamanan cyber suatu negara,
serangan, mengingat bahwa, berdasarkan Tallin salah satu hal yang menjadi sangat sulit adalah
Manual, serangan balasan yang dilakukan bisa memastikan darimana serangan tersebut berasal.
melibatkan penggunaan militer. Berbeda dengan serangan konvesional
Berdasarkan kontribusi diplomasi seperti peluncuran misil yang meninggalkan
pertahanan Indonesia dan mekanisme ARF jejak dan dapat dilacak lokasinya, pihak-pihak
yang memiliki tujuan untuk berkontribusi yang menggunakan taktik cyber dapat dengan
terhadap upaya-upaya conficedence building mudah menyembunyikan keberadaannya. Hal
dan preventive diplomacy menunjukkan bahwa ini karena ketidakpastian merupakan aspek yang
aspek diplomasi pertahanan untuk membentuk menonjol dalam cyber conflict – dalam kaitannya
CBM dimungkinkan diterapkan di ARF. Di dengan identitas penyerang, ruang lingkup dari
sisi lain, upaya yang dilakukan pemerintah collateral damage, dan efek yang potensial pada
Indonesa di ARF untuk membentuk jaringan target tujuan dari serangan cyber.55 Kondisi inilah
kontak poin antar negara merupakan salah satu yang dapat dijadikan suatu landasan bahwa
implementasi rasa saling percaya antara negara pembangunan kapabilitas cybersecurity nasional
dan salah satu tindakan pencegahan peningkatan tidak hanya dalam bentuk materi, melainkan
eskalasi konflik. Dengan demikian, kontribusi juga pertukaran informasi dan pembangunan
diplomasi pertahanan Indonesia sejalan dengan SDM yang berasal dari dalam (lingkup nasional)
mekanisme ARF dan karakter defense diplomacy dan dari luar yang dapat melibatkan kerjasama
for confidence building measures. Lebih lanjut, internasional. Sebagai contoh, negara-negara
tantangan yang harus dihadapai adalah bagaimana yang lebih dulu memiliki pengetahuan mengenai
negara-negara dengan jejaring kontak poin keamanan cyber dapat membagi pengetahuannya
tersebut, bekerjasama dan berkoordinasi dalam dengan negara lain dalam kerangka kerjasama
penanganan insiden cyber. global. 56 Dalam hal ini, organisasi regional
dapat memainkan perannya untuk mewujudkan

2. Defense Diplomacy for Defense 54


International Telecommunication Union, “ITU News”, https://
www.itu.int/net/itunews/issues/2010/09/20.aspx, diakses pada
Capabilities tanggal 16 Agustus 2016.

Aspek kedua dalam diplomasi pertahanan adalah 55


Derek S. Reverson, “Cyberspace and National Security:
sebagai sarana untuk membangun kemampuan Threats, Opportunities, and Power in Virtual World”,
(Washington D.C: Georgetown University Press, 2012), hlm. 11.
pertahanan. Berbeda dengan membangun
kemampuan pertahanan secara umum, seperti 56
Zenonas Tziarras, “The Security Culture of a Global
halnya komponen militer dan jumlah alutsista and a Multileveled Cybersecurity”, In E. G. Carayannis,
D. F. Campbell, & M. P. Efthymiopoulos (Eds.), Cyber-
serta aktor-aktor yang terlibat dalam perang Development, Cyber-Democracy and Cyber-Defense:
konvensional, cybersecurity memiliki aspek yang Challenges, Opportunities and Implications for Theory, Policy
and Practice, (New York: Springer, 2014), hlm. 25.

16 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 13 No. 1 Juni 2016 | 1–20  


hal tersebut. Hal ini diimplementasikan oleh Yono Reksoprodjo bahwa dalam dunia cyber,
Indonesia bersama dengan negara-negara ARF politik yang dimainkan haruslah proaktif.59 Jika
dengan melakukan berbagai seminar, pelatihan, pemerintah tidak proaktif, maka akan berdampak
maupun workshop yang bertujuan untuk berbagi pada ketertinggalan informasi dan dapat menjadi
pengetahuan mengenai cybersecurity. Dalam sasaran. Sebagai contoh adalah perseteruan
suatu study group, pemerintah Indonesia bersama antara AS dan China. Walaupun kedua negara
dengan delegasi Rusia juga membentuk suatu tersebut seringkali terlibat perbedaan pandangan
simulasi mengenai penaganan insiden cyber.57 dalam berbagai hal, namun dalam dunia cyber,
Selain itu, dalam bentuk konkrit sebagai kedua negara saling berkomunikasi dan terbuka.
suatu solusi untuk meningkatkan kapabilitas Hal inilah yang jarang diketahui masyarakat
pertahanan dan keamanan jaringan internet di umum. Tanpa adanya komunikasi tersebut, bukan
ASEAN, pemerintah Indonesia juga mengusulkan tidak mungkin akan terjadi peperangan cyber
perubahan penggunaan IPv4 ke IPv6, mengingat antara kedua negara.
bahwa IPv6 memiliki sistem keamanan yang Diplomasi pertahanan sebagai bagian dari
lebih baik dan bisa diubah sesuai kebutuhan. kapabilitas pertahanan juga dilakukan dengan
Hal ini menunjukkan bahwa diplomasi tujuan untuk memperkuat kapabilitas pertahanan
pertahanan Indonesia juga berperan dalam negara secara material. Namun, mekanisme ARF
memberikan kesadaran akan keamanan dalam yang cenderung kepada dialog dan konsultasi
penggunaan cyberspace. Dengan demikian, serta pertukaran informasi menyebabkan sulitnya
tindakan tersebut sejalan dengan kerangka terjalin bentuk kerjasama untuk membangun
kerja ARF Work Plan on Security of and in kapasitas pertahanan dalam bidang cyber yang
The Use of Information and Communications bersifat material, seperti alutsista maupun
Technologies (Ict’s) yang dinyatakan dalam poin komponen pertahanan lain. Oleh sebab itu,
nomor dua, yaitu ”Raise awareness on threats kontribusi yang dilakukan oleh Indonesia maupun
related to the security of and in the use of ICTs”. oleh negara lain cenderung kepada pembangunan
Sayangnya usulan tersebut tidak mendapat yang bersifat informasi, pengetahuan, dan
tanggapan yang diharapkan. Hal tersebut tidak pembangunan sumber daya manusia. Di sisi
sepenuhnya kesalahan dari pemerintah Indonesia lain, hasil dari ARF dapat digunakan sebagai
mengingat bahwa kurangnya pemahaman teknis salah satu input untuk membuat kebijakan
delegasi yang datang dan tidak semua negara- nasional dalam bidang cybersecurity. Dengan
negara anggota ARF memenuhi kriteria sistem demikian, kerjasama yang terjalin dalam ARF
keamanan tersebut. on cybersecurity initiatives, dalam kaitanya
Pemerintah Indonesia juga menggunakan dengan membangun kapabilitias pertahanan
ARF sebagai sarana untuk meng-update dan yang bersifat material, bukan bertujuan untuk
berbagi informasi mengenai cybersecurity. membentuk suatu kesepakatan seperti pembelian
Sebagai contoh, pengetahuan mengenai malware alat pertahanan melainkan sebagai pintu masuk
botnet. Program dari malware tersebut dianggap untuk mencari pandangan bersama dan membuka
sangat berbahaya karena dapat menggunakan bentuk kerjasama yang lebih besar.
komputer dari pihak lain dalam jumlah banyak
untuk melakukan serangan tanpa disadari
3. Defense Diplomacy for Defense
oleh penggunanya. Melalui forum, workshop,
maupun seminar yang ada pemerintah dapat Industries
cepat mendapat informasi dan cepat melakukan Satu aspek yang belum mampu dipenuhi oleh
antisipasi.58 Sebagaimana yang disampaikan oleh diplomasi pertahanan Indonesia melalui ARF
adalah diplomasi pertahanan untuk industri
57
Prakoso (Asisten Deputi 2/VII Kedeputian Komunikasi, pertahanan. Beberapa hal yang menjadi hambatan
Informasi dan Aparatur, Kemenkopolhukam), wawancara adalah belum adanya badan resmi pemerintah
pribadi, 7 Januari 2016.
58
Munawar Ahmad (Ketua Staf Ahli DK2ICN), wawancara
Yono Reksoprodjo (Staf ahli Panglima TNI bidang C4ISR),
59
pribadi, 29 Februari 2016.
wawancara pribadi, 2 Februari 2016

Diplomasi Pertahanan Indonesia ... | David Putra S dan Datumaya W. Sumari | 17 
yang menangani masalah cyber. Sehingga belum kehidupan bangsa yang meliputi sosial, budaya,
ada pemetaan yang jelas mengenai bagaimana ekonomi, politik, dan keamanan. Penetrasi
cyberspace akan diterapkan dalam industri jaringan internet di Indonesia terus meluas,
pertahanan. Selain itu, Indonesia tidak memiliki bahkan pengguna jejaring sosial merupakan salah
industri besar yang bergerak dalam bidang cyber satu yang terbesar di dunia. Di sisi lain, trend
dan berkontribusi kepada pertahanan. Oleh sebab ancaman cyber yang semakin mengarah kepada
itu, menjadi sulit bagi pemerintah Indonesia kepentingan nasional suatu bangsa menjadi
dalam memetakan kebutuhan cybersecurity tantangan bagi pemerintah pada tingkat strategis
pada lingkup industri. Implementasi diplomasi maupun operasional yang belum sepenuhnya
pertahanan Indonesia untuk membangun industri mampu untuk membentuk sistem cybersecurity
pertahanan juga sulit dilakukan dalam ARF yang komprehensif. Ketidaksiapan pemerintah
mengingat masih banyak negara ASEAN yang pada lingkup nasional ini perlu ditanggapi dengan
mencari bentuk dalam membuat cybersecurity- menerapkan upaya diplomasi demi meniadakan
nya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa atau meminimalisir potensi ancaman yang ada.
beberapa negara ARF memiliki pandangan yang Melalui ARF on cybersecurity initiatives,
berbeda dalam memahami cybersecurity. Di sisi pemerintah Indonesia mengimplementasikan
lain, isu cybersecurity belum menjadi concern diplomasi pertahanannya dengan membentuk
utama bagi sebagian anggota ARF. Hal inilah dan meningkatkan rasa saling percaya diantara
yang kemudian menimbulkan kebutuan industri negara-negara ARF untuk melindungi keamanan
pertahanan masing-masing negara dalam aspek nasionalnya dengan mengurangi potensi ancaman
cyber berbeda. dan membentuk stabilitas kawasan. Selain itu,
Salah satu kerjasama yang perlu diupayakan Indonesia juga berupaya meningkatan kapasitas
oleh pemerintah Indonesia dalam hal ini adalah melalui berbagai pelatihan yang bertujuan untuk
pembangunan information infrastructure, membangun pengetahuan dan informasi di bidang
karena hal tersebut paling penting dalam cybersecurity. Diplomasi Pertahanan Indonesia
mendukung adanya cyber.60 Hal tersebut juga telah berkontribusi positif dengan membentuk
bertujuan agar diplomasi pertahanan Indonesia jaringan informasi antar negara ASEAN, China,
dapat berkontribusi lebih lanjut pada tujuan Belanda, Rusia, AS, dan Australia berupa point of
kerangka kerja ARF poin nomor tiga, yaitu, contacts. Kontak poin berguna bagi negara-negara
“Enhance practical cooperation between di ASEAN dan kawasan dalam berkoordinasi
ARF Participating Countries to protect ICT- mengenai penanganan insiden cyber yang
enabled critical infrastructure with the view meliputi pemetaan serangan, identifikasi pelaku,
to also developing resilient government ICT dan respon yang harus diambil.
environments” dan peningkatan kerjasama dalam Beberapa hal yang menjadi kendala dalam
membangun kapasitas regional sebagaimana implementasi diplomasi pertahanan Indonesia
yang tertuang pada poin nomor empat. Dengan dalam ARF meliputi aspek internal dan eksternal.
adanya kerjasama praktis dalam pembangunan Pada aspek internal terdapat permasalahan seperti
infrastruktur, peran diplomasi pertahanan dalam belum adanya kebijakan nasional cybersecurity,
defense industries dapat ditingkatkan dan belum adanya badan khusus yang menangani
berkontibusi bagi cybersecurity pada lingkup permasalahan cyber, dan koordinasi yang
nasional dan regional. buruk antar instansi. Sementara pada aspek
eksternal adalah pemahaman dan concern
yang berbeda-beda tiap negara mengenai
Catatan-Catatan Penutup cybersecurity yang dihadapkan pada mekanisme
Kondisi cyber di Indonesia dihadapkan pada pengambilan keputusan berdasarkan mufakat di
situasi yang tidak seimbang. Penggunaan ARF. Tantangan kedepan yang harus dihadapi
cyberspace telah menyentuh berbagai aspek permerintah Indonesia adalah bagaimana
implementasi dari sistem kerjasama tersebut.
Arwin D.W. Sumari (Staf Ahli DK2ICN), wawancara pribadi,
60
Bayang-bayang akan buruknya koordinasi tentu
12 Januari 2016.

18 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 13 No. 1 Juni 2016 | 1–20  


menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai, Moodie, M. (2000). Cooperative Security: Implications
mengingat negara-negara ASEAN seringkali for National Security and International
terlibat konflik dan perbedaan kepentingan dalam Relations. Cooperative Monitoring Center
Occasional Paper, 14.
berbagai hal. Di sisi lain, beberapa peluang
yang bisa digunakan oleh Indonesia adalah
pemanfaatan negara anggota ARF yang besar Laporan
dan meliputi negara-negara maju, percepatan ASEAN Secretariat. (2013). ASEAN’s Cooperation
penyampaian informasi dan komunikasi melalui on Cybersecurity and against Cybercrime.
Strasbourg: ASEAN Secretariat.
diplomasi track II, dan kemungkinan akan
ASEAN Regional Forum. (2015). ASEAN Regional
kerjasama dan koordinasi antar negara yang lebih
Forum on Security of and in The Use of
baik dengan diperolehnya point of contacts. Information and Communications Technologies
(ICT’s). Cooperation in Ensuring Cyber
Security. Phnom Penh: ARF Library.
Referensi Kementerian Luar Negeri. (2015). Rencana Strategis
Kementerian Luar Negeri Tahun 2015-2019.
Buku Jakarta: Kementerian Luar Negeri.
Acharya, Amitav. (2001). Constructing a Security
Community in South East Asia:ASEAN and Makalah
the Problem of Regional Power. New York: Arifin Multazam. (2010). Diplomasi Pertahanan
Routledge. Indonesia Terhadap KoreaSelatan Periode
Jackson, R., & Sorensen, G. (2013). Introduction 2006-2009. Jakarta: Universitas Indonesia.
to International Relations. United Kingdom: Salim. (2012). Peningkatan Kerjasama Pertahanan
Oxford University Press. Indonesia di Kawasan Asia Tenggara Guna
Lind, W. S., Nightengale, K., Schmitt, J. F., Sutton, J. Mendukung Diplomasi Pertahanan Dalam
W., & Wilso, G. I. (1989). The Changing Face Rangka Mewujudkan Stabilitas Kawasan.
of War: Into The Fourth Generation. Marine Jakarta: Pusat Pengkajian Maritim Seskoal.
Corps Gazette, 22. Syawfi, I. (2009). Aktifitas Diplomasi Pertahanan
Reverson, D. S. (2012). Cyberspace and National Indonesia dalam Pemenuhan Tujuan-Tujuan
Security: Threats, Opportunities, and Power Pertahanan Indonesia (2003-2008). Jakarta:
in Virtual World. (D. S. Reverson, Ed.) Universitas Indonesia.
Washington D.C: Georgetown University Press.
Schmitt, M. N. (Ed.). (2013). Tallin Manual on The Website
International Law Applicable to Cyber Warfare.
Ahmad, M. (2015, April 15). Visi & Misi Badan
New York: Cambridge University Press.
Cyber Nasional dan Diplomasi Cyber. Badan
Smith, M. (2015). Research Handbook on International Cyber Nasional. Bandung: Materi Power Point
Law and Cyberspace. (N. Tsagourias, & R. Seminar ITB-Deplu. Diakses 7 November
Buchan, Eds.) Massachusetts: Edwar Elgar 2015, dari http://www.slideshare.net/msyani/
Publishing Limited. badan-cyber-nasional
Tziarras, Z. (2014). The Security Culture of a Ali, A. H. (2007, Agustus 27). Angkatan Laut dan
Global and a Multileveled Cybersecurity. In Peperangan Generasi Keempat. Diakses 30
E. G. Carayannis, D. F. Campbell, & M. P. Mei 2015, dari Forum Kajian Pertahanan dan
Efthymiopoulos (Eds.), Cyber-Development, Maritim: http://www.fkpmaritim.org/angkatan-
Cyber-Democracy and Cyber-Defense: laut-dan-peperangan-generasi-keempat/
Challenges, Opportunities and Implications
ASEAN Secretariat. (2009). ASEAN Political-Security
for Theory, Policy and Practice. New York:
Community Blueprint. Diakses 16 November
Springer.
2015, dari Asean.org: http://www.asean.org/
archive/5187-18.pdf
Jurnal Idcert, Profil Indonesia Computer Emergency
Chanto, S. D. (2003). The ASEAN Regional Forum – Response Team, http://www.cert.or.id/tentang-
The Emergence of ‘Soft Security’: Improving kami/id/, diakses pada tanggal 14 Agustus 2016.
the Functionality of the ASEAN Security International Telecommunication Union. (n.d.).
Regime. Dialogue+cooperation, 41-47. ITU News. Diakses 16 Agustus 2016 dari

Diplomasi Pertahanan Indonesia ... | David Putra S dan Datumaya W. Sumari | 19 
Cybersecurity: https://www.itu.int/net/itunews/
issues/2010/09/20.aspx
MacAskill, E., & Taylor, L. (2013, November 28).
Australia’s spy agencies targeted Indonesian
president’s mobile phone. Diakses 28 Mei 2015,
dari The Guardian: http://www.theguardian.
com/world/2013/nov/18/australia-tried-to-
monitor-indonesian-presidents-phone
Rahmanto, A. P. (2015, 04 30). Indonesia Jadi Sarang
Malware Dunia. Diakses 15 November 2015,
dari CNN Indonesia: http://www.cnnindonesia.
com/teknologi/20150430163413-185-50331/
indonesia-jadi-sarang-malware-dunia/

20 | Jurnal Penelitian Politik | Volume 13 No. 1 Juni 2016 | 1–20