Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKUATAN BATUAN TERHADAP KUAT TEKAN BESERTA PENGARUH EFEK UKURAN DAN EFEK BENTUK

Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Mekanika Batuan Dosen Pengampuh : Tommy Trides, S.T., M.T.

Mekanika Batuan Dosen Pengampuh : Tommy Trides, S.T., M.T. Disusun Oleh : 1. DWIKI SETIAWAN 1509055004

Disusun Oleh :

1. DWIKI SETIAWAN

1509055004

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA

2017

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat, karunia nikmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Batuan terhadap Kuat Tekan beserta Pengaruh Efek Ukuran dan Efek Bentukini dengan baik dan tepat waktu.

Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai salah satu syarat tugas Mata Kuliah Mekanika Batuan pada berlangsungnya proses belajar-mengajar. Dengan tersusunnya Makalah ini diharapkan agar mahasiswa dapat mengenal berbagai hal yang menyangkut tentang Faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Batuan terhadap Kuat Tekan.

Penyusun sadar bahwa Makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak agar Makalah ini bermanfaat bagi semua orang dan Mahasiswa S1 Teknik Pertambangan khususnya.

Samarinda, 2 Mei 2017

Penyusun,

Dwiki Setiawan

DAFTAR ISI

Halaman Judul

i

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB 1 PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Rumusan Masalah

2

1.3 Tujuan

2

BAB 2 PEMBAHASAN

3

2.1

Uji Kuat Tekan Uniaksial

3

2.1.1Persyaratan Kualitas Contoh Batu Untuk Uji UCS

3

2.1.2 Persyaratan Susunan Contoh Uji dengan Plat Penekan

5

2.1.3 Mekanisme Pecah Contoh Batu Uji dan Tegangan

5

2.1.4 Modulus Young

9

2.2

Beberapa Faktor Kekuatan Batuan terhadap Kuat Tekan

11

2.3.Efek Bentuk pada Kuat Tekan Uniaksial

13

2.4.Efek Skala pada Kuat Tekan Uniaksial

14

BAB 3 PENUTUP

16

3.1 Kesimpulan

16

 

3.2 Saran

16

DAFTAR PUSTAKA

1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN

Mekanika batuan adalah salah cabang disiplin ilmu geomekanika. Mekanika batuan merupakan ilmu yang mempelajari sifat-sifat mekanik batuan dan massa batuan. Hal ini menyebabkan mekanika batuan memiliki peran yang dominan dalam operasi penambangan, seperti pekerjaan penerowongan, pemboran, penggalian, peledakan dan pekerjaan lainnya.

Sehingga untuk mengetahui sifat mekanik batuan dan massa batuan dilakukan berbagai macam uji coba baik itu dilaboratorium maupun dilapangan langsung atau secara insitu.

Untuk mengetahui sifat mekanik batuan dilakukan beberapa percobaan seperti uji kuat tekan uniaksial, uji kuat tarik, uji triaksial dan uji tegangan insitu.

Mekanika batuan sendiri mempunyai karakteristik mekanik yang diperoleh dari penelitian ini adalah kuat tekan batuan (σt), kuat tarik batuan (σc ), Modulus Young (E), Nisbah Poisson (v), selubung kekuatan batuan (strength envelope), kuat geser (τ), kohesi (C), dan sudut geser dalam (υ).

Masing-masing karakter mekanik batuan tersebut diperoleh dari uji yang berbeda. Kuat tekan batuan dan Modulus Young diperoleh dari uji kuat tekan uniaksial. Pada penelitian ini nilai kuat tekan batuan dan Modulus Young diambil dari nilai rata-rata hasil pengujian lima contoh batuan. Untuk kuat tarik batuan diperoleh dari uji kuat tarik tak langsung (Brazillian test). Sama dengan uji kuat tekan uniaksial, uji kuat tarik tak langsung menggunakan lima contoh batuan untuk memperoleh kuat tarik rata-rata. Sedangkan selubung kekuatan batuan, kuat geser, kohesi, dan sudut geser dalam diperoleh dari pengujian triaksial konvensional dan multitahap.

Selain mengamati sifat mekanik atau dinamik dari batuan dalam praktikum ini juga akan diamati sifat fisik batuan tersebut, dengan mengamati bobot dan masa jenisnya dalam beberapa keadaan.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah :

1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan batuan terhadap kuat tekan ?

2. Bagaimana pengaruh efek bentuk pada kuat tekan uniaksial?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini diantaranya :

1. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan batuan terhadap kuat tekan.

2. Mengetahui pengaruh efek bentuk pada kuat tekan uniaksial.

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Uji Kuat Tekan Uniaksial

Tujuan uji tekan adalah untuk mengukur kuat tekan uniaksial (Unconfined Compressive Strenght Test UCS Test) sebuah contoh batuan dalam gometri beraturan, baik dalam bentuk silinder, balok atau prisma dalam satu arah (uniaksial). Tujuan utamanya uji ini adalah untuk klasifikasi kekuatan dan karakterisasi batuan utuh. Hasil uji ini menghasilkan beberapa informasi yaitu :

kurva tegangan regangan, kuat tekan uniaksial, Modulus Young, Nisbah Poisson, Fraktur Energi dan Spesifik Fraktur Energi.

Uji ini menggunakan mesin tekan (compression machine) dan dalam pembebanannya mengikuti standard dari Internasional Society Rock Mechanics (ISRM, 1981). Laju Tegangan didefinisikan sebagai perkalian antara Laju Regangan dengan Modulus Young (konstanta elastik), dan menurut standard Laju Tegangan adalah antara 0,5-1,0 Mpa/detik. Uji kuat tekan terhadap batuan kuat dan getas (brittle) dalam waktu singkat cenderung menghasilkan nilai yang besar.

Pengukuran gaya tekan melalui pembacaan manometer gauge atau load cell atau pressure transducer, sedangkan pengukuran perpindahan aksial dan lateral bisa dilakukan dengan masing-masing memasang dial gauge secara vertikal dan horizontal. Selain dengan dial gauge, pasangan Linear Variabel Differential Transducer (LVDT) atau electrical strain gauges juga dapat digunakan.

2.1.1 Persyaratan Kualitas Contoh Batu Uji Untuk Uji UCS dan Uji Triaksial

Menurut ISRM (1981), contoh batu uji berbentuk silinder dengan L/D bervariasi dari 2,5 hingga 3,0 dan sebaiknya diameter (D) contoh batu uji paling tidak berukuran tidak kurang dari ukuran NX, kurang lebih 54 mm. Dianjurkan juga bahwa diameter contoh batu uji berhubungan dengan ukuran butir terbesar yang ada di dalamnya dengan perbandingan paling tidak 10:1. Kedua muka contoh batu uji harus mencapai kerataan hingga 0,02 mm dan

tidak melenceng dari sumbu tegak lurus lebih besar dari pada 0,001 radian (sekitar 3,5 min) atau 0,05 mm dalam 50 mm (0,06 rad). Demikian juga untuk sisi panjangnya harus rata dan bebas dari ketidakrataan sehingga kelurusannya sepanjang contoh batu uji tidak melenceng lebih dari pada 0,3 mm. Ketika penekanan dilakukan terhadap contoh batu uji maka contoh batu akan mengalami pemendekan pada sisi aksial dan penggelembungan pada sisi lateral seperti ditunjukkan pada gambar 1, sehingga secara ideal bentuk akhir contoh, batu uji seperti gentong.

secara ideal bentuk akhir contoh, batu uji seperti gentong. Gambar 1. Perubahan bentuk contoh batuan pada

Gambar 1. Perubahan bentuk contoh batuan pada uji kuat tekan (UCS)

Penggunaan material perekat atau perlakuan (seperti penambahan belerang) pada kedua ujung muka contoh batu uji tidak diperbolehkan.

Diameter (D) contoh batu uji harus diukur tegak lurus sumbu silinder di tiga tempat, atas tengah dan bawah dengan ketelitian 0,1 mm. Hasil ukuran rata-rata D dihitung dan dipakai untuk menghitung luas kontak. Tinggi contoh batu uji harus diukur dengan ketelitian mendekati 1,0 mm.

Contoh batu uji harus disimpan tidak lebih lama dari pada 30 hari, dan harus diupayakan agar kandungan airnya tidak berubah sampai waktu pengujian dilakukan.

2.1.2. Persyaratan Susunan Contoh Uji dengan Pelat Penekan

Agar pengujian kuat tekan pada sebuah contoh batuan berbentuk silinder menghasilkan distribusi tegangan yang merata sepanjang tubuh contoh batu silinder, maka trajektori tegangan vertikal harus selalu diupayakan tegak lurus terhadap plat penekan. Selain mengadopsi kerataan dan parallel kedua muka contoh batu uji, maka sebuah spherical seat diperlukan untuk diletakkan disisi antara plat penekan dengan contoh batu uji.

Dua buah plat baja penekan dalam bentuk cakram dan mempunyai Rockwell hardness > HRC58 harus diletakkan antara dua muka sisi contoh batu uji. Diameter ( D diameter contoh batu uji) kedua pelat baja penekan harus

memenuhi persyaratan (D+2 mm). Ketebalan pelat baja penekan paling tidak 15

mm atau sama dengan D/3. Kedua muka pelat baja penekan harus halus dan rata dengan kekasaran tidak lebih besar dari pada 0,005 mm.

Salah satu pelat baja penekan harus disambung susun dengan spherical seat yang dipasangkan di bagian atas contoh batu uji. Pasangan spherical seat sebaiknya diberi sedikit pelumas mineral sehingga dapat mengunci setelah

beratnya sisi atas spherical seat duduk tepat diatas pasangannya yang cembung. Pasangan susunan pelat baja penekan dan spherical seat harus diatur sedemikian rupa hingga lurus dan berada ditengah titik pembebanan dari mesin tekan. Pusat lengkungan spherical seat harus menyentuh titik pusat bagian atas dari contoh

batu uji.

2.1.3. Mekanisme Pecah Contoh Batu Uji dan Distribusi Tegangan Pada Contoh Batu Uji

Penyebaran tegangan di dalam contoh batu secara teoritis adalah searah dengan gaya yang dikenakan pada contoh tersebut. Keadaan ideal ini hanya dapat dicapai jika persyaratan kualitas contoh batu uji dan susunan contoh batu uji dengan plat penekan dipenuhi dengan baik, yaitu bahwa kedua muka contoh batu uji parallel dan rata serta tegak lurus terhadap sumbu pembebanan mesin tekan.

Mekanisme pecahnya batuan getas dengan kondisi kekakuan mesin tekan yang tidak terlalu besar akan bersifat violent dan disebut sebagai fraktur getas (brittle fracture) yang contohnya dapat dilihat pada gambar 2, bahwa arah retakan dari sebuah material getas akan sesuai dengan tegangan uatama maksimumnya. Sehingga bila persyaratan kondisi ideal pengujian telah dipenuhi maka contoh uji batuan getas akan pecah saecara vertikal yang searah dengan pembebanan maksimumnya, yaitu tegangan aksial dan hal ini ditunjukkan oleh gambar 3, dan mekanisme pecahnya bersifat fraktur getas.

gambar 3, dan mekanisme pecahnya bersifat fraktur getas. Gambar 2. Fraktur getas contoh batu uji Gambar

Gambar 2. Fraktur getas contoh batu uji

fraktur getas. Gambar 2. Fraktur getas contoh batu uji Gambar 3. Rekahan aksial ( axial splitting

Gambar 3. Rekahan aksial (axial splitting) contoh batu uji kuat tekan uniaksial

Tergantung dari jenis batuan, kondisi rekahan awal (pre-existing cracks) pada contoh batu uji dan sistem mesin kuat tekan yang digunakan untuk pengujian, maka bentuk pecah kerucut (cone failure), homogeneus shear, combination axial dan local shear, dan splintery dan onio leaves dan buckling. Kesemua model pecahnya tersebut dapat dilihat pada gambar 4.

Kesemua model pecahnya tersebut dapat dilihat pada gambar 4. Gambar 4. Tipe pecah contoh batu hasil

Gambar 4. Tipe pecah contoh batu hasil uji kuat tekan uniaksial

Tetapi dalam prakteknya sering juga dijumpai bahwa arah tegangan di dalam contoh batu uji tidak 100% searah dengan gaya yang dikenakan pada contoh batu tersebut karena ada pengaruh dari pelat penekan mesin tekan yang menghimpit contoh. Sehingga bentuk pecahan tidak berbentuk bidang pecah yang searah dengan gaya melainkan berbentuk kerucut gambar 5. Pecahan kerucut seperti demikian akan banyak di jumpai jika L/D contoh batu uji kecil dari pada 2.

Secara umum, ada tiga tipe pecah batuan yang sering terjadi pada uji kuat tekan uniaksial, yaitu shear failure, axial splitting, dan multiple crakcing. Shear failure terjadi ketika rekahan tunggal atau beberapa rekahan mempropagasi ke seluruh contoh batuan, sehingga terjadi pergeseran sepanjang rekahan yang terbentuk. Bidang geser tempat terjadinya geseran akan membentuk sudut tertentu

terhadap tegangan aksial yang diberikan. Axial splitting terbentuk jika rekahan yang terjadi searah atau paralel dengan arah tegangan aksial. Hal ini menunjukkan bahwa ikatan butiran pada contoh akan runtuh karena tarikan. Sedang multiple cracking terjadi ketika contoh pecah sepanjang banyak bidang pada arah yang tidak beraturan. Ini merupakan kombinasi dari runtuhan geser dan axial splitting.

merupakan kombinasi dari runtuhan geser dan axial splitting. Gambar 5. Bentuk pecahan kerucut dan distribusi tegangan

Gambar 5. Bentuk pecahan kerucut dan distribusi tegangan di dalam contoh batuan pada uji kuat tekan (UCS).

Hasil uji kuat tekan uniaksial yang meliputi pengukuran beban, perpindahan aksial dan lateral dan dengan memperhitungkan luas kontak dan panjang contoh batuan akan diperoleh kurva tegangan regangan seperti ditunjukkan oleh gambar 6 dan gambar 7.

regangan seperti ditunjukkan oleh gambar 6 dan gambar 7. Gambar 6. Kurva tegangan regangan uji kuat

Gambar 6. Kurva tegangan regangan uji kuat tekan uniaksial (UCS)

Gambar 7. Kurva lengkap tegangan regangan (a) axial and lateral normal strain wtih increasing deviatoric

Gambar 7. Kurva lengkap tegangan regangan (a) axial and lateral normal strain wtih increasing deviatoric axial strees (b) volumetric strain with increasing axial normal.

Kuat tekan uniaksial (σ c ) adalah gambaran dari nilai tegangan maksimum yang dapat ditanggung sebuah contoh batuan sesaat sebelum contoh tersebut hancur atau runtuh (failure) tanpa adanya pengaruh dari tegangan pemampatan (tegangan pemampatan sama dengan nol). Persamaan kuat tekan uniaksial adalah :

σ c =

contoh yang memiliki (L/D) > 2,5 akan mempunyai nilai UCS lebih kecil dan lebih cepat mengalami keruntuhan. Contoh yang memiliki (L/D) < 2 akan mempunyai nilai UCS lebih besar dan lebih kuat. Untuk kondisi contoh dengan (L/D) = 1, kondisi tegangan akan saling bertemu sehingga akan memperbesar nilai kuat tekan.

2.1.4. Modulus Young

Modulus Young atau modulus elastisitas adalah kemampuan batuan untuk mempertahankan kondisi elastiknya. Pada uji kuat tekan uniaksial, contoh batuan yang diberi tekanan akan mengalami beberapa tahap deformasi yakni, deformasi

elastik dan deformasi plastik. Nilai Modulus Young diturunkan dari kemiringan kurva tegangan regangan pada bagian yang linear karena pada saat inilah contoh mengalami deformasi elastik.

Persamaan untuk mencari nilai Modulus Young adalah :

E =

Keterangan :

E = Modulus Young (Mpa) σ = Beda tegangan (Mpa) ɛa = Beda regangan aksial (%)

Dalam menentukan Modulus Young, terdapat 3 cara (Gambar 8) seperti dijelaskan berikut.

1. Modulus Young Sekan (Secant Youngs Modulus (Es). Adalah Modulus young yang diukur dari tegangan = 0 sampai nilai tegangan tertentu, yang biasanya

50%.

2. Modulud Young Tangen (Tangent Youns Modulus (Et). Adalah Modulus Young yang diukur pada tingkat tegangan = 50%.

3. Modulus Young Rata-rata atau rerata (Average Youngs Modulus (Eav). Adalah Modulus Young yang diukur dari rata-rata kemiringan kurva atau bagian linear yang terbesar dari kurva.

kurva atau bagian linear yang terbesar dari kurva. Gambar 8. Penentuan Modulus Young Sekan, Tangen dan

Gambar 8. Penentuan Modulus Young Sekan, Tangen dan Rerata.

Contoh kurva tegangan dan regangan untuk batu lempung dan batu gamping diberikan pada gambar 9 dan kurva tegangan dan regangan batupasir dan tufa breksi ditunjukkan pada gambar 10.

batupasir dan tufa breksi ditunjukkan pada gambar 10. Gambar 9. Kurva tegangan regangan contoh batu lempung

Gambar 9. Kurva tegangan regangan contoh batu lempung dan gamping

9. Kurva tegangan regangan contoh batu lempung dan gamping Gambar 10. Kurva tegangan regangan contoh batu

Gambar 10. Kurva tegangan regangan contoh batu tufa breksi dan pasir

2.2. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Batuan Terhadap Kuat Tekan

1. Geometrik dan Bentuk Contoh Batuan

Sudah barang tentu geometri contoh batuan apakah berbentuk silinder, kubus, atau persegi panjang akan mempengaruhi hasil uji kuat tekan dan triaksial. Jika memang akan digunakan contoh berbentuk silinder atau persegi panjang, maka

faktor nisbah panjang dan diameter juga akan mempengaruhi hasil uji kuat tekan. Menurut ISRM (1981) bahwa nisbah l/d harus diantara 2 hingga 2,5 dan jika nisbahnya rendah akan dapat diharapkan nilai UCS akan membesar dan sebaliknya.

Sedangkan ukuran atau diameter juga mempengaruhi nilai kuat tekan. Uji laboratorium dan insitu pada batuan Lac Du Bonnet Granite menunjukkan bahwa kuat tekan insitu batuan hanya saekitar 70% dari pada kuat tekan batuan utuhnya.

2. Kondisi Pelat Penekan

Sesuai dengan anjuran ISRM (1981), pengujian kuat tekan harus memenuhi beberapa persyaratan seperti karakteristik pelat penekan yaitu, kekerasan, tebal dan diameter. Diameter pelat penekan mempengaruhi distribusi tegangan di dalam contoh batuan. Jika diameter pelat penekan melebih batas yang ditentukan maka akan terjadi yang disebut pembatas gesek antara pelat penekan dan contoh batuan dan akhirnya sisi contoh batu yang berdekatan dengan pelat penekan akan mengalami efek pengungkungan yang akhirnya akan memberikan nilai kuat tekan yang tidak murni.

3. Kekakuan Mesin Tekan

Kekakuan mesin tekan akan mempengaruhi proses runtuh batuan dalam uji kuat tekan, apakah akan runtuh secara violently atau tidak. Perbedaannya dicirikan oleh post failure behaviour yang dibagi dalam dua bagian yaitu, Kelas Batuan I dan II.

4. Kondisi Lingkungan Contoh Batuan Kandungan Air

Kandungan air yang terkandung pada batuan akan menentukan nilai kuat tekan batuan tersebut. Semakin jenuh batuan tersebut, semakin lemah nilai kuat tekannya. Hal ini karena ikatan antar partikel pada batuan akan melemah seiring dengan meningkatnya kadar air yang terkandung pada batuan tersebut.

5. Temperatur

Temperatur akan mempengaruhi hasil uji kuat tekan uniaksial batuan, terutama

nilai Modulus Young (E). Semakin tinggi temperatur pengujian, semakin rendah nilai Modulus Young yang didapat. Sebaliknya, semakin rendah temperatur pengujian, maka nilai Modulus Young yang didapat akan semakin besar. Dan secara umum, kenaikan temperatur dapat membuat batuan semakin duktil sehingga mengurangi kekuatan batuan.

6. Bobot Isi, Kandungan Mineral, Ukuran Butir dan Sifat Isotropik

Bobot isi menunjukkan kerapatan suatu benda, sehingga semakin besar nilai bobot isinya maka semakin padat benda tersebut. Dan semakin padat suatu batuan, semakin besar pula nilai kuat tekannya.

Kekerasan batuan sangat ditentukan dari mineral pembentuk batuan tersebut. Semakin keras mineral pembentuknya maka, semakin keras pula batuan tersebut,dan akan menghasilkan nilai kuat tekan yang semakin besar juga. Skala kekerasan pada mineral dikenal dengan skala kekerasan Mohs. Skala Mohs ini dimulai dari angka 1 yang merupakan mineral tersebut terlembut, dan berakhir di angka 10 yang merupakan mineral terkeras.

Bidang lemah akan memperlemah kondisi suatu batuan, sehingga pada pengujian kuat tekan uniaksial, akan semakin memperkecil nilai kuat tekan batuan tersebut. Demikian juga dengan sifat anisotrop batuan akan membuat hasil uji kuat tekanu uniaksial dari batuan akan berbeda satu dengan yang lainmeskipun batuan tersebut berjenis sama. Sementasi atau material pengisi (kuarsa, kalsit, lempung dll) kadang mempersulit penentuan kuat tekan.

2.3 Efek Bentuk pada Kuat Tekan Uniaksial

Metode penambangan batubara bawah tanah yang banyak dikenal adalah sistem penambangan room and pillar dan juga long wall methode. Sistem penambangan bawah tanah room and pillar menggunakan batubara sebagai pilarnya untuk menyangga batuan yang berada diatas atap dan di bawah lantai agar atapnya tidak runtuh. Untuk itu perlu dilakukan perhitungan yang baik untuk menentukan dimensi pilar, baik panel pillar maupun barrier pillar yang sesuai

dengan kondisi geologi tempat menambang nantinya.

Untuk mempelajari kekuatan dari dimensi dan geometri pilar, serangkaian pengujian untuk mengetahui efek bentuk terhadap kuat tekan dengan contoh material uji terbuat dari semen dan pasir dengan perbandingan semen dan pasir 1:10 dilakukan. Contoh beton yang digunakan dibentuk persegi dengan lebar contoh sebagai variabel terikatnya dan tinggi sebagai variabel bebasnya, sehingga nantinya akan diketahui pengaruh dari efek bentuk pada kuat tekan beton untuk nsetiap perbandingan lebar(W) dan tinggi contoh (H).

Efek bentuk dari contoh batupasir dilakukan oleh John (1972). Bahwa kuat tekan menurun seiring dengan meningkatnya perbandingan H/W. Sedangkan dari contoh beton (1:10) diperoleh gambaran bahwa selain kuat tekan menaik dengan membesarnya W/H, maka contoh batu semakin menunjukkan ductily dan kearah deformasi plastik. Dari kedua contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa kuat tekan sangat dipengaruhi oleh efek bentuk.

Nilai kuat tekan berdasarkan nisbah (L/D) selain 2,0 < (L/D)< 2,5 adalah sebagai berikut.

Menurut ASTM : C (l = d) =

0,222

Menurut Protodiakonov : C (l = 2d) =

l / d

Menurut Protodiakonov :  C (l = 2d) = l / d  2.4. Efek Skala

2.4. Efek Skala pada Kuat Tekan Uniaksial

Kehadiran efek skala pada sifat mekanik batuan seperti kuat tekan dan kuat tarik telah terbukti. Berbeda dengan sebelumya, Hodgson dan Cook (1970) menemukan bahwa ukuran contoh batu uji dari batuan getas seperti main Reef Series quartzite dan Jeppestown Series quartzite shale tidak menunjukkan efek skala.

Walaupun demikian, dapat dikatakan bahwa selalu ada ukuran kritis diatas mana kekuatan batuan tidak akan berubah. Tipe perilaku dapat diharapkan terjadi

jika kerusakan mekanik memiliki batas atas. Jika kondisi bias ini diterima maka ekstrapolasi nilai kekuatan batuan akan dibatasi sampai kebatas ukuran krtitis tersebut dan selanjutnya merupakan asimptotik. Tetapi masih sedikit saja yang melakukan studi efek skala kekuatan batuan sangat kuat dan getas.

Teori weakest linkyang sudah banyak dipakai untuk menjelaskan efek skala pada kekuatan batuan berhubungan dengan rekahan struktur yang secara statistik terdistribusi menjelaskan bahwa setiap rekahan tersambung satu sama lain dan membentuk sambungan seri. Keruntuhan sebuah sambungan akan menyebabkan keruntuhan total dari contoh batu tersebut.

BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan Kesimpulan dari makalah ini antara lain :

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan batuan terhadap kuat tekan antara lain :

a. Geometrik dan bentuk contoh batuan.

b. Kondisi pelat penekan.

c. Kekakuan mesin tekan.

d. Kondisi lingkungan contoh batuan kandungan air

e. Temperatur

f. Bobot isi, kandungan mineral, ukuran butir, dan isotropik.

2. Metode penambangan batubara bawah tanah yang banyak dikenal adalah sistem penambangan room and pillar dan juga long wall methode. Sistem penambangan bawah tanah room and pillar menggunakan batubara sebagai pilarnya untuk menyangga batuan yang berada diatas atap dan di bawah lantai agar atapnya tidak runtuh. Untuk itu perlu dilakukan perhitungan yang baik untuk menentukan dimensi pilar, baik panel pillar maupun barrier pillar yang sesuai dengan kondisi geologi tempat menambang nantinya.

3.2 Saran 1. Perlu di tambahkan lagi refrensi dari beberapa sumber.

DAFTAR PUSTAKA

Rai, M. A., Kramadibrata, S., dan Watimena, R, K. 2000. Mekanika Batuan. Bandung : ITB Press.