Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI

1. Pengkajian Keperawatan
a. Definisi
Gangguan persepsi sensori : Halusinasi merupakan salah satu masalah
keperawatan jiwa yang dpat ditemukan pada pasien gangguan jiwa. Halusinasi
adalah salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan
perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan,
pengecapan, perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang sebenarnya
tidak ada.
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai
dengan perubahan sensori persepsi; halusinasi merasakan sensasi palsu berupa
suara, penglihatan, penciuman, perabaan atau penghidungan. Klien merasakan
stimulus yang sebenarnya tidak ada (Keliat, 2011).

b. Respon Adaptif dan Mal Adaptif

Respon Adaptif Respon Maladaptif

1. Pikiran Logis 1. Kadang proses pikir 1. Gangguan proses


2. Persepsi akurat. terganggu. pikir (waham).
3. Emosi konsisten dengan 2. Ilusi 2. Halusinasi
pengalaman. 3. Emosi 3. Kerusakan proses
4. Perilaku sesuai. berlebihan/kurang 4. Perilaku tidak
5. Hubungan sosial 4. Perilaku tidak biasa
terorganisir
harmonis. 5. Menarik diri 5. Isolasi sosial.

Rentang Respon Halusinasi


Sumber : Stuart (2008)

Keterangan rentang respon menurut Farida (2010) yaitu :


1) Pikiran logis yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren.
2) Persepsi akurat yaitu proses diterimanya rangsangan melalui panca indra yang
didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu
yang ada di dalam maupun di luar dirinya.
3) Emosi konsisten adalah manifestasi perasaan yang konsisten atau efek keluar
disertai banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung tidak lama.
4) Perilaku sesuai yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam
menyelesaikan masalah masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan
budaya umum yang berlaku.
5) Hubungan sosial yaitu hubungan yang dinamis menyangkut antaraindividu dan
individu,individu dan kelompok dalam bentuk kerja sama.
6) Proses pikiran kadang terganggu (ilusi) yaitu interprestasi yang salah atau
menyimpang tentang penyerapan (persepsi) yang sebenarnya sungguh–sungguh
terjadi karena adanya rangsang panca indra.
7) Menarik diri yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain,
menghindari dengan orang lain.
8) Emosi berlebihan atau kurang yaitu menifestasi perasaan atau afek keluar
berlebihan atau kurang.
9) Perilaku tidak sesuai atau tidak biasa yaitu perilaku individu berupa tindakan
nyata dalam menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial
atau budaya umum yang berlaku.
10) Waham adalah sesuatu keyakinan yang salah dipertahankan secara kuat atau
terus menerus namun tidak sesuai dengan kebenaran.
11) Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan
rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien
memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau
rangsangan yang nyata.
12) Isolasi sosial yaitu menghindari dan dihindari oleh lingkungan sosial dan
berinteraksi.

c. Jenis–jenis Halusinasi
Menurut Farida (2010) halusinasi terdiri dari tujuh jenis:
1) Halusinasi Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk
kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien,
bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami
halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa
klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
2) Halusinasi Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun,
bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bisa yang menyenangkan atau
menakutkan.
3) Halusinasi Penghiduatau Penciuman
Membau bau - bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses, parfum atau bau
yang lain. Ini sering terjadi pada seseorang pasca serangan stroke, kejang atau
dimensia.
4) Halusinasi Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
5) Halusinasi Perabaan
Merasa mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa
tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
6) Halusinasi Cenesthetik
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan
makan atau pembentukan urine.
7) Halusinasi Kinestetika
Merasakanpergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.

d. Etiologi
1) Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi adalah faktor risiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah
sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh
dari klien atau keluarga. Faktor predisposisi meliputi:
a) Faktor Perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan interpersonal
terganggu, maka individu akan mengalami stress dan kecemasan.
b) Faktor Sosiokultural
Berbagai faktor di masyarakat dapat menyebabkan seseorang merasa
disingkarkan, sehingga orang tersebut merasa kesepian di lingkungan yang
membesarkannya.
c) Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Jika seseorang
mengalami stres yang berlebihan, maka di dalam tubuhnya akan dihasilkan
suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia seperti buffofenon dan
dimethytransferase (DMP).
d) Faktor Psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda
bertentangan yang sering diterima oleh seseorang akan mengakibatkan stres
dan kecemasan yang tinggi dan berakhir pada gangguan orientasi realitas.
e) Faktor Genetik
Gen yang berpengaruh dalam skizofrenia belum diketahui, tetapi hasil studi
menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat
berpengaruh pada penyakit ini.
2) Faktor Presipitasi
Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan,
ancaman/tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya
rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam kelompok,
terlalu lama diajak komunikasi, objek yang ada dilingkungan juga suasana
sepi/isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal
tersebut dapat meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh
mengeluarkan zat halusinogenik.
a) Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa rasa curiga, takut, tidak aman,
gelisah dan bingung, berperilaku yang merusak diri, kurang perhatian, tidak
mampu mengambil keputusan, serta tidak dapat membedakan keadaan nyata
dan tidak nyata. Rawlins dan Heacock (1993) mencoba memecahkan masalah
halusinasi berlandaskan atas hakikat keberadaan individu sebagai makhluk
yang dibangun atas unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga halusinasi
dapat dilihat dari 5 dimensi yaitu:
(1) Dimensi fisik
Manusia dibangun oleh sistem indra untuk menanggapi ransangan
eksternal yang diberikan oleh lingkungannya. Halusinasi dapat
ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti: kelelahan yang luar biasa,
penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan
kesulitan tidur dalam waktu lama.
(2) Dimensi emosional
Perasaan cemas yang berlebihan karena masalah yang tidak dapat diatasi
merupakan penyebab halusinasi terjadi. Isi dari halusinasi dapat berupa
perintah memaksa dan menakutkan, sehingga klien tidak sanggup lagi
menentang perintah tersebut hingga berbuat sesuatu terhadap
ketakutannya.
(3) Dimensi intelektual
Individu yang mengalami halusinasi akan memperlihatkan adanya
penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego
sendiri untuk melawan impuls yang menekan, tetapi pada saat tertentu
menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien
dan tidak jarang akan mengontrol semua perilaku klien.
(4) Dimensi sosial
Dimensi sosial menunjukkan individu cenderung untuk mandiri. Individu
asik dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk
memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri, dan harga diri
yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem
kontrol, sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, maka hal
tersebut dapat mengancam dirinya atau orang lain. Dengan demikian
intervensi keperawatan pada klien yang mengalami halusianasi adalah
dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan
penngalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusahakan agar
klien tidak menyendiri.
(5) Dimensi spiritual
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, sehingga interaksi
dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar. Klien
yang mengalami halusiansi cenderung menyendiri dan cenderung tidak
sadar dengan keberadaanya serta halusinasi menjadi sistem kontrol dalam
individu tersebut.
(6) Sumber Koping
Suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu
dapat mengatasi stress dan anxietas dengan menggunakan sumber koping
dilingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk
menyelesaikan masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya, dapat
membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan
stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil
3) Mekanisme Koping
Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya
penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk
melindungi diri
4) Jenis-jenis Halusinasi
Jenis
Data objektif Data subjektif
halusinasi
Dengar/suara Bicara atau tertawa sendiri 1. Mendengar suara-suara atau
Marah-marah tanpa sebab kegaduhan
Mencodongkan telingan 2. Mendengar suara yang
kearah tetentu mengajak bercakap-cakap
Menutup telingan 3. Mendengar suara memerintah
melaukakn sesuatu yang
berbahaya
penglihatan Menunujuk-nunjuk kearah Melihat bayangan, sinar, bentuk
tertentu geometris, bentuk kartun,
Ketakutan pada sesuatu melihat hantu atau monster
yang tidak jelas
Penghidu Tampak seperti sedang Mencium seperti bau feses,
mencium bau-bauan urine, darah,
Menutup hidung
Pengecapan Sering meludah Merasakan rasa seperti darah,
Muntah urine dan feses
Perabaan Menggaruk-garuk Mengatakan ada serangga
permukaan kulit dipermukaan kulit
Merasa seperti tersengat listrik

e. Masalah Keperawatan
Perubahan persepsi sensori : halusinasi
1) Data Mayor
Data Subjektif:
- Mengatakan mendengar suara, bisikan/melihat bayangan
Data Objektif :
- Bicara sendiri, tertawa sendiri, marah tanpa sebab
2) Data Minor
Data Subjektif
- Menyatakan kesal, menyatakan senang dengan suara-suara
Data Objektif
- Menyendiri, melamun

f. Pohon Masalah

Risiko mencederai diri, orang lain dan


lingkunganeffect

Perubahan sensori perseptual : halusinasi

Core problem

Isolasi sosial : menarik diri

Causa

2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko perilaku mencederai diri berhubungan dengan halusinasi pendengaran
b. Gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran berhubungan dengan
menarik diri
c. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

3. Rencana Keperawatan

Pasien Keluarga
No.
SPIP SPIk
1. Identifikasi Halusinasi: Isi, Diskusikan masalah yang dirasakan
Frekuensi, waktu terjadi, situasi keluarga dalam merawat pasien
pencetus, perasaan, respon
2. Jelaskan cara mengontrol Jelaskan pengertian halusinasi, tanda dan
halusinasi: Hardik, obat, bercakap- gejala halusinasi, Dan proses terjadinya
cakap, melakukan kegiatan halusinasi (Gunakan booklet)
3. Latih cara mengontrol halusinasi Jelaskan cara merawat halusinasi
dengan menghardik
4. Masukkan pada jadwal kegiatan Latih cara merawat halusinasi : Hardik
untuk latihan menghardik
Aanjurkan membantu pasien sesuai jadwal
dan beri pujian
SPIIP SPIIk
1. Evaluasi kegiatan menghardik. Beri Evaluasi kegiatan keluargadalam/melatih
pujian pasien menghardik. Berikan pujian
2. Latih cara mengontrol halusinasi Jelaskan 6 benar cara memberikan obat
dengan obat (Jelaskan 6 Benar:
jenis, guna, dosis, frekuensi, cara
kontuinitas minum obat)
3. Masukkan pada jadwal kegiatan Latih cara memberikan/membimbing
untuk latihan menghardik dan minum obat
minum obat
4. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
dan memberikan pujian
SPIIIP SPIIIk
1. Evaluasi kegiatan latihan Evaluasi kegiatan keluarga dalam
menghardik & obat beri pujian merawat/melatih pasien menghardik dan
memberikan obat. Beri pujian
2. Latih cara mengontrol halusinasi Jelaskan cara bercakap-cakap dan
dengan bercakap-cakap saat melakukan kegiatan untuk mengontrol
terjadihalusinasi halusinasi
3. Memasukkan pada jadwal kegiatan Latih dan sediakan waktu bercakap-cakap
untuk latihan menghardik, minum dengan pasien terutama saat halusinasi
obat dan bercakap-cakap
4. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
dan memberikan pujian
SPIVP SPIVK
1. Evaluasi kegiatan latihan Evaluasi kegiatan keluarga dalam
menghardik & obat & berxcakap- merwat/melatih pasien menghardik,
cakap. Beri Pujian memberikan obat & bercakap - cakap. Beri
pujian.
2. Memberikan pendidikan kesehatan Jelaskan follow up ke RSJ/PKM, tanda
tentang penggunaan obat secara kambuh, rujukan
teratur
3. Menganjurkan pasien memasukkan Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
ke dalam jadwal kegiatan harian dan memberikan pujian
SPVP SPVK
1 evaluasi kegiatan latihan Evaluasi kegiatan kegiatan keluarga dalam
menghardik & obat & bercakap- merawat / Melatih pasien menghardik &
cakap & kegiatan harian. Beri memberikan obat & bercakap-cakap &
pujian. melakukan kegiatan harian dan follow up.
Beri Pujian
2 Latih kegiatan harian Nilai Kemampuan keluarga merawat pasien
3 Nilai Kemampuan yang telah Nilai kemampuan keluarga melakukan
mandiri kontrol ke RSJ/PKM
4 Nilai apakah halusinasi terkontrol

4. Tindakan Keperawatan
Dx Perencanaan
Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Gangguan TUM :
Persepsi Klien tidak 1. Ekspresi wajah 1. Bina hubungan saling
Sensori : mencederai bersahabat percaya dengan
halusinasi orang lain menunjukan rasa mengungkapkan prinsip
senang ada komunikasi terapentik.
Tuk 1 : kontak mata. a. Sapa klien dengan ramah
Klien dapat Mau berjabat baik verbal maupun non
membina tangan, mau verbal
hubungan menyebutkan b. Perkenalkan diri dengan
saling nama, mau sopan
percaya menjawab salam, c. Tanyakan nama lengkap
klien mau duduk klien dan nama panggilan
berdampingan yang disukai klien
dengan perawat, d. Jelaskan tujuan pertemuan
mau e. Jujur dan menepati janji
mengungkapkan f. Tunjukan sikp simpati dan
masalah yang menerima apa adanya
dihadapi. g. Beri perhatian pada
kebutuhan dasar klien
TUK 2 : Klien dapat 2. Adakan kontak sering dan
Klien dapat menyebutkan waktu, singkat secara bertahap.
mengenal isi, frekunsi dan Observasi tingkah laku klien
halusinasinya situasi yang terkait dengan halusinsinya;
menimbulkan bicara dan tertawa tanpa
halusinasi stimulus memandang
kekiri/ke kanan/ ke depan
seolah-olah ada teman bicara
Bantu klien mengenal
halusinasinya :
a. Jika menemukan klien
yang sedang halusinasi,
Tanyakan apakah ada
suara yang didengar
b. Jika klien menjawab ada,
lanjutkan : apa apa yang
dikatakan
c. Katakan bahwa perawat
percaya klien mendengar
suara itu, namun perawat
sendiri tidak
mendengarnya (dengan
nada bersahabat tanpa
menuduh atau
menghakimi)
d. Katakan bahwa klien lain
juga ada seperti klien
e. Katakan bahwa perawat
akan membantu klien.
f. Jika Klien tidak sedang
berhalusinasi klari fikasi
tentang adanya
pengalaman halusinasi.
Diskusikan dengan klien :
a. Situasi yang
menimbulkan/tidak
menimbulkan halusinasi
( jika sendiri, jengkel /
sedih)
b. Waktu dan frekuensi
terjadinya halusinasi
(pagi, siang sore, dan
malam atau sering dan
kadang-kadang)
Klien dapat Diskusikan dengan klien
mengungkapkan bagaimana perasaannya jika
perasaan terhadap terjadi halusinasi (marah/takut,
halusinasi nya sedih, senang) dan beri
kesempatan untuk
mengungkapkan perasaannya.
TUK 3 : Klien dapat 3. identifikasi bersama klien
Klien dapat menyebutkan cara atau tindakan yang
mengontrol tindakan yang dilakukan jika terjadi
halusinasinya biasanya dilakukan halusinasi (tidur, marah,
untuk mengendali- menyibukan diri dll)
kan halusinasinya Diskusikan manfaat dan cara
Klien dapat yang digunakan klien, jika
menyebutkan cara bermanfaat beri pujian
baru Diskusikan cara baru untuk
memutus/ mengontrol
timbulnya halusinasi :
Katakan : “saya tidak mau
dengar/lihat kamu” (pada
saat halusinasi terjadi)
Menemui orang lain
(perawat/teman/anggota
keluarga) untuk bercakap
cakap atau mengatakan
halusinasi yang didengar /
dilihat
Membuat jadwal kegiatan
Klien dapat memilih sehari hari agar halusinasi
cara mengatasi tidak sempat muncul
halusinasi seperti
yang telah Meminta keluarga/teman/
didiskusikan dengan perawat menyapa jika tampak
klien bicara sendiri
Klien dapat Bantu Klien memilih dan
melaksanakan cara melatih cara memutus halusinasi
yang telah dipilih secara bertahap
untuk Beri kesempatan untuk
mengendalikan melakukan cara yang dilatih.
halusinasinya Evaluasi hasilnya dan beri pujian
Klien dapat jika berhasil
mengikuti terapi
aktivitas kelompok Anjurkan klien mengikuti terapi
aktivitas kelompok, orientasi
realita, stimulasi persepsi
TUK 4 : Keluarga dapat Anjurkan Klien untuk
Kilen dapat membina hubungan memberitahu keluarga jika
dukungan saling percaya mengalami halusinasi
dari keluarga dengan perawat Diskusikan dengan keluarga
dalam Keluarga dapat )pada saat keluarga
mengontrol menyebutkan berkunjung/pada saat kunjungan
halusinasinya pengertian, tanda rumah)
dan tindakan untuk Gejala halusinasi yang di alami
mengendali kan klien
halusinasi Cara yang dapat dilakukan klien
dan keluarga untuk memutus
halusinasi
Cara merawat anggota keluarga
yang halusinasi di rumah : beri
kegiatan, jangan biarkan sendiri,
makan bersama, berpergian
bersama
Beri informasi waktu follow up
atau kapan perlu mendapat
bantuan halusinasi tidak
terkontrol, dan resiko
mencederai orang lain
TUK 5 : Klien dan keluarga Diskusikan dengan klien dan
Klien dapat dapat menyebutkan keluarga tentang dosis,efek
memanfaatka manfaat, dosis dan samping dan manfaat obat
n obat efek samping obat
dengan baik Klien dapat Anjurkan Klien minta sendiri
mendemontrasi kan obat pada perawat dan
penggunaan obat merasakan manfaatnya
dgn benar
Klien dapat Anjurkan klien bicara dengan
informasi tentang dokter tentang manfaat dan efek
manfaat dan efek samping obat yang dirasakan
samping obat

Klien memahami Diskusikan akibat berhenti


akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi
minum obat tanpa
konsultasi Bantu klien menggunakan obat
Klien dapat dengan prinsip 5 (lima) benar
menyebutkan prinsip
5 benar penggunaan
obat

5. Terapi Modalitas Kelompok


a. Definisi
Terapi modalitas adalah terapi utama dalam keperawatan jiwa. Terapi ini di
berikan dalam upaya mengubah perilaku pasien dari perilaku maladaptif menjadi
perilaku adaptif. Terapi modalitas mendasarkan potensi yang dimiliki pasien
(modal-modality) sebagai titik tolak terapi atau penyembuhannya. Tapi terapi ini
bisa dipakai untuk terapi keperawatan keluarga.
Terapi kelompok adalah bentuk terapi kepada klien yang dibentuk dalam
kelompok, suatu pendekatan perubahan perilaku melalui media kelompok. Dalam
terapi kelompok perawat berinteraksi dengan sekelompok klien secara teratur.
Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran diri klien, meningkatkan hubungan
interpersonal, dan mengubah perilaku maladaptive. Tahapannya meliputi: tahap
permulaan, fase kerja, diakhiri tahap terminasi.

b. Dasar-dasar Pemberian Terapi Modalitas


Dasar-dasar Pemberian Terapi Modalitas
1. Gangguan jiwa tidak merusak seluruh kepribadian atau perilaku manusia
2. Tingkah laku manusia selalu dapat diarahkan dan dibina ke arah kondisi yang
mengandung reaksi (respon yang baru)
3. Tingkah laku manusia selalu mengindahkan ada atau tidak adanya faktor-
faktor yang sifatnya menimbulkan tekanan sosial pada individu sehingga
reaksi indv tersebut dapat diprediksi (reward dan punishment)
4. Sikap dan tekanan sosial dalam kelompok sangat penting dalam menunjuang
dan menghambat perilaku individu dalam kelompok social
5. Terapi modalitas adalah proses pemulihan fungsi fisik mental emosional dan
sosial ke arah keutuhan pribadi yang dilakukan secara holistic

c. Tahapan Terapi Modalitas


Terapi kelompok dimulai fase permulaan atau sering juga disebut sebagai fase
orientasi. Dalam fase ini klien diorientasikan kepada apa yang diperlukan dalam
interaksi, kegiatan yang akan dilaksanakan, dan untuk apa aktivitas tersebut
dilaksanakan. Peran terapis dalam fase ini adalah sebagai model peran dengan cara
mengusulkan struktur kelompok, meredakan ansietas yang biasa terjadi di awal
pembentukan kelompok, dan memfasilitasi interaksi di antara anggota kelompok.
Fase permulaan dilanjutkan dengan fase kerja. Di fase kerja terapis membantu
klien untuk mengeksplorasi isu dengan berfokus pada keadaan here and now.
Dukungan diberikan agar masing-masing anggota kelompok melakukan kegiatan
yang disepakati di fase permulaan untuk mencapai tujuan terapi.
Fase kerja adalah inti dari terapi kelompok di mana klien bersama
kelompoknya melakukan kegiatan untuk mencapai target perubahan perilaku
dengan saling mendukung di antara satu sama lain anggota kelompok. Setelah
target tercapai sesuai tujuan yang telah ditetapkan maka diakhiri dengan fase
terminasi.
Fase terminasi dilaksanakan jika kelompok telah difasilitasi dan dilibatkan
dalam hubungan interpersonal antar anggota. Peran perawat adalah mendorong
anggota kelompok untuk saling memberi umpan balik, dukungan, serta bertoleransi
terhadap setiap perbedaan yang ada. Akhir dari terapi kelompok adalah mendorong
agar anggota kelompok berani dan mampu menyelesaikan masalah yang mungkin
terjadi di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA

Farida, K dan Yudi, H &. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Salemba Medika. Jakarta.

Fitria, Nita. 2009. Prinsip Dasar dan Amplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan
Strategi Pelaksanaan Tindakan. Salemba Medika. Jakarta.

Keliat, B.A & Akemat. 2011. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. EGC.
Jakarta.

Khristina Andriyani. 2015. Hubungan Tingkat Pengetahuan Keluarga tentang Perawatan


Halusinasi Dengan Tingkat Kekambuhan Pasien Halusinasi di RSJD Surakarta.
Jurnal

Stuart, G. W dan Sundeen,C. 2008. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi3. EGC. Jakarta.