Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

KEHAMILAN POST DATE

A. Konsep Dasar Penyakit


1 Definisi
Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42
minggu lengkap. Diagnosa usia kehamilan lebih dari 42 minggu di dapatkan dari
perhitungan usia kehamilan, seperti rumus Naegele atau dengan tinggi fundus uteri
serial.
Kehamilan lewat waktu atau post date adalah kehamilan yang berlangsung
sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih dihitung dari hari pertama haid terakhir
menurut Naegele dengan siklus rata – rata 28 hari.
Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang melebihi 42 minggu belum
terjadi persalinan.

2. Etiologi
Seperti halnya teori bagaimana terjadinya persalinan, sampai saat ini sebab
terjadinya kehamilan post term belum jelas. Beberpa teori yang diajukan pada
umumnya menyatakan bahwa terjadinya kehamilan post term sebagai akibat
gangguan terhadap timbulnya persalinan. Beberapa teori diajukan antara lain sebagai
berikut:
a. Pengaruh Progesteron
Penurunan hormon progesteron dalam kehamilan dipeercaya merupakan kejadian
perubahan endoktrin yang penting dalam memacu proses biomolekuler pada
persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin. Sehingga
menduga bahwa terjadinya kehamilan karena berlangsungnya pengaruh
progesteron.
b. Teori Oksitosin
Pemakaian oksitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan post term member
kesan bahwa oksitosin secara fisiologis memegang peran penting dalam
menimbulkan persalinan dan pelepasan dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang
pada usia kehamilan lanjut.
c. Teori Kortisol/ ACTH janin
Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron
berkurang dan memperbesar sekresi estrogen selanjutnya berpengaruh pada
meningkatnya produksi prostaglandin. Kadar kortisol rendah merupakan tidak
timbulnya HIS.
d. Saraf Uterus
Tekanan pada ganglion servikalis dari fleksus Frankenhauser akan membangkitkan
kontraksi uterus. Pada keadaan dimana tidak terjadi tekanan pada fleksus ini
seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek, dan bagian bawah maasih tinggi
diduga sebagai penyebab kehamilan posterm.
e. Heriditer
Morgen (1999) seperti dikutip dalam Cuningham, menyatakan bahwa bilamana
seorang ibu mengalami kehamilan post term saat melahirkan anak perempuan,
maka besar kemungkinan anak permpuannya akan mengalami kehamilan pos term,
(Sarwono,2008)
f. Kurangnya air ketuban
Insufisiensi plasenta

3. Patofisiologi
Fungsi plasenta mencapai puncaknya ada kehamilan 38 minggu dan kemudian
mulai menurun terutama setelah 42 minggu.Hal ini dapat dibuktikan dengan
penurunan estriol dan plasental laktogen.Rendahnya fungsi plasenta berkaitan dengan
peningkatan kejadian gawat janin dengan resiko 3 kali. Permasalahan kehamilan
lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan
pertukaran CO2/O2 akibat tidak timbul his sehingga pemasakan nutrisi dan O2
menurun menuju janin di samping adanya spasme arteri spiralis menyebabkan janin
resiko asfiksia sampai kematian dalam rahim. Makin menurun sirkulasi darah
menuju sirkulasi plasenta dapat mengakibatkan pertumbuhan janin makin lambat dan
penurunan berat disebut dismatur, sebagian janin bertambah besar sehingga
memerlukan tindakan operasi persalinan, terjadi perubahan metabolisme janin,
jumlah air ketuban berkurang dan makin kental menyebabkan perubahan abnormal
jantung janin.
4. PATHWAY

Rendahnya Hormon progesteron saraf uterus Heriditer Kurangnya air ketuban/ Usia ibu hamil ≥ Riwayat kehamilan
pelepasan oksitosin tidak cepat turun abnormal oligohidramnion 35 tahun post term

Kepekaan uterus Riwayat RAS Kelainan pada janin Sistem reproduksi Resiko berulang
terhadap oksitosin keluarga menurun
berkurang
Tak ada kelenjar
hipofisis
Stimulus kontraksi
uterus terganggu
Kortisol janin tidak
diproduksi dengan
baik
Kontraksi uterus
berlangsung lebih
lambat Tidak timbul his

Pengaruh pada janin: Kehamilan lewat bulan/ Pengaruh pada ibu:


a. berat badan janin bertambah >42 minggu
besar a. partus lama
b. kematian janin dalam b. inersia uteri
kandungan Kehamilan post term c. atonia uteri
c. aspirasi mekonium d. perdarahan postpartum.
d. Penenkanan tali pusat
5. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala dan wajah : kulit kepala bersih, rambut panjang, hitam, bergelombang,
tidak ada ketombe, tidak ada kutu, kulit kepala tidak ada benjolan abnormal,
distribusi rambut merata. Bentuk wajah bulat, tidak ada cloasma gravidarum,
tidak ada oedema, ekspresi wajah agak gelisah.
b. Leher : warna leher merata, tidak ada benjolan abnormal, tidak ada pembesaran
kelenjar limfe, kelenjar tiroid, tidak ada bendungan vena jugularis.
c. Dada : tidak ada tarikan intercosta, nafas normal, warna kulit merata, tidak ada
memar atau pembengkakan. Payudara simetris, tidak ada striae, warna kulit
merata, tidak ada benjolan abnormal, puting susu menonjol, tidak ada
pengeluaran (colostrum).
d. Abdomen : warna kulit merata, tidak ada luka bekas oprasi, tidak ada striae;
linea nigra, TFU 29 cm.
e. Punggung : warna kulit merata, tidak ada benjolan abnormal, tulang vertebra
lordosis.
f. Genetalia : bersih, persebaran rambut pubis merata, tidak ada oedema, tidak ada
lesi, tidak ada pengeluaran pervaginan.
g. Ekstremitas atas : pergerakan bebas, tidak ada oedema
h. Ekstremitas bawah : pergerakan bebas, tidak ada oedema, tidak ada varises.

6. Pemeriksaan Penunjang
a. USG untuk menilai usia kehamilan, oligihidraminon, derajat maturitas
plasenta.
b. KTG untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin
c. Penilaian warna air ketuban dengan amnioskopi atau amniotomi (tes tanpa
tekanantes tanpa tekanandinilai apakah reaktif atau tidak dengan tes tekanan
oksitosin
d. Pemeriksaan sitologi vagina dengan indeks kariopiknotik > 20 %
7. Diagnosis
Prognosis post date tidak seberapa sulit apabila siklus haid teratur dari haid
pertama haid terakhir diketahui pasti. Dalam menilai apakah kehamilan matur atau
tidak, beberapa pemeriksaan dapat dilakukan
a. Bila tanggal HPHT di catat dan diketahui wanita hamil, diagnosis tidak sukar
b. Bila wanita tidak tahu, lupa atau tidak ingat, atau sejak melahirkan yang lalu
tidak dapat haid dan kemudian menjadi hamil, hal ini akan sukar
memastikannya. Hanyalah dengan pemeriksaan antenatal yang teratur dapat
diikuti tinggi dan naiknya fundus uteri, mulainya gerakan janin dan besarnya
janin dapat membantu diagnosis.
c. Pemeriksaan berat badan diikuti, kapan menjadi berkurang, begitu pula
lingkaran perut dan jumlah air ketuban apakah berkurang.
d. Pemeriksaan rontgenologik, dapat dijumpai pusat-pusat penulangan pada
bagian distal femur, bagian proksimal tibia, tulang kuboid, diameter bipariental
9,8 cm atau lebih. Keberatan pemeriksaan ini adalah kemungkinan pengaruh
tidak baik sinar rongten terhadap janin.
e. USG : ukuran diameter bipariental, gerakan janin dan jumlah air ketuban.
Dengan pemeriksaan ini diameter biparental kepala janin dapat diukur dengan
teliti tanpa bahaya. Pemeriksaan menurut ginekologi.
f. Pemeriksaan sitologik air ketuban : air ketuban diambil dengan amniosentesis,
baik transvaginal maupun transabdominal. Air ketuban akan bercampur lemak
dari sel-sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai lebih dari 36
minggu. Air ketuban yang diperoleh dipulas dengan sulfat biru nil maka sel-sel
yang mengandung lemak akan berwarna jingga. Bila :
§ Melebihi 10% : kehamilan di atas 36 minggu
§ Melebihi 50% : kehamilan di atas 39 minggu
g. Amnioskopi : melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurut warnanya karena
dikeruhi mekonium.
h. Kardiotografi : mengawasi dan membaca DJJ, karena insufiensi plasenta
i. Uji Oksitosin (stress test) : yaitu dengan infus tetes oksitosin dan diawasi reaksi
janin terhadap kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik, hal ini
mungkin janin akan berbahaya dalam kandungan.
j. Pemeriksaan kadar estriol dalam urin
k. Pemeriksaan sitologik liquoramni
l. Amniostopi dan periksa pH nya dibawah 7.20 dianggap sebagai tanda gawat
janin
m. Pemeriksaan sitologik vagina untuk menentukan infusiesi plasenta dinilai
berbeda-beda
Pemeriksaan Penilaian Kesejahteraan Janin (Mulai dikerjakan pada usia
kehamilan 41 mmggu)

 USG :Pengukuran biometrik janin / letakplasenta. Deteksi kelainan cacat


bawaan, pengukuran jumlah air ketuban dengan "Amnotik fluid
index”(AFI).
 Pemantauan detak Jantung Janin:" Non Stress Test "(NST) / "Stress Test".
 Penentuan maturasi janin dengan pemeriksaan cairan ketuban (“shake test”
atau L/S rasio) harus dikerjakan bila pemeriksaan USG menunjukkan usia
kehamilan 35 minggu.Dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan
Skor pelvik (PS) menurut cara Bishop.
 Amnioskopi imtuk menentukan warna air ketuban (bila mana perlu
dilakukan amniotomi).

8. Komplikasi
a. Terhadap ibu
Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosia karena aksi uterus tidak
terkoordinir, janin besar dan moulding (moulage) kepala kurang.
Maka akan sering dijumpai : partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia
bahu, dan perdarahan postpartum. Hal ini akan menaikkan angka morbiditas
dan mortalitas.
b. Terhadap janin
Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari
kehamilan 40 minggu, karena postmaturitas akan menambah bahaya pada
janin. Pengaruh post maturitas pad janin bervariasi: berat badan janin dapat
bertambah besar, tetap, dan yang berkurang, sesudah kehamilan 42 minggu ada
pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Tanggal : tanggal dilakukan pengkajian
Jam : waktu dilakukan pengkajian
Tempat : tempat dilakukan pengkajian
No. Register : nomor urut yang ada di tempat pengkajian.
1. Data Subyektif
 Biodata
- Nama perlu dikaji sehubungan dengan membedakan pasien
atau supaya tidak terjadi kesalahan pasien.
- Umur perlu dikaji untuk mengetahui apakah ibu termasuk
dalam usia resiko tinggi untuk hamil.
- Agama perlu dikaji untuk mempermudah dalam melakukan
pendekatan di dalam asuhan kebidanan.
- Pendidikan perlu dikaji sehubungan dengan tingkat
penangkapan ibu terhadap pertanyaan yang diajukan, dan
kie yang diberikan oleh petugas.
- Pekerjaan perlu dikaji sehubungan dengan tingkat aktifitas
ibu dan social ekonominya.
- Penghasilan untuk mengetahui tingkat social ekonomi yang
dapat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan nutrisi.
- Alamat untuk mempermudah jika melakukan kunjungan
rumah.
- Biodata suami untuk mengetahui tingkat social ekonomi
sehubungan dengan pemberian obat atau terapi.
 Keluhan utama
Ditanyakan untuk mengetahui masalah yang dihadapi ibu yang
dapat mempengaruhi jalannya persalinan, membuat intervensi.
 Riwayat haid
Untuk mengetahui HPHT dan TP, meliputi umur menarche,
siklus, jumlah darah serta adakah gangguan waktu haid,
misalnya: dismenorhe, siklus yang tidak teratur.
 Riwayat pernikahan
Untuk mengetahui riwayat pernikahan
 Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Perlu dikaji untuk mengetahui kehamilan yang keberapa dan
bagaimana dengan persalinan yang lalu, ditolong siapa, jenis
persalinannya, tempat persalinan, bagaimana keadaan setelah
persalin, bagaimana keadaan bayi dan KB apa yang digunakan
setelah persalinan yang lalu.
 Riwayat kehamilan sekarang
Untuk mengetahui berapa kali ANC selama hamil ini dan apa
saja yang diperoleh dari ANC.
 Riwayat kesehatan yang lalu
Untuk mengetahui ada tidaknya penyakit kroinis atau penyakit
menular misalnya DM, hipertensi yang dapat berpengaruh pada
kehamilannya.
 Riwayat kesehatan sekarang
Untuk mengetahui ada tidaknya penyakit yang sedang diderita
saat ini.
 Riwayat psikososial dan budaya
Untuk mengetahui keadaan kondisi klien dalam keluarga dan
lingkungan keluarga, mengetahui tradisi yang dianut klien yang
berpengaruh pada kehailan, persalinan, nifas, dan pertumbuhan
dan perkembangan janinnya.
 Riwayat spiritual
Untuk mengetahui kepecayaan dan agama yang dianut klien
agar lebih mudah melakukan pendekatan pada klien.
 Pola kebiasaan sehari-hari
- Pola nutrisi
Untuk mengetahui apakah nutrisi sudah terpenuhi apa
belum ada pantangan apa tidak.
- Pola eliminasi
Untuk mengetahui ibu berapa kali BAB dan BAK
- Pola istirahat
Untuk mengetahui waktu istirahat ibu dalam 24 jam
- Pola aktivitas
Aktivitas yang dilakukan apa saja, aktivitasnya berpengaruh
atau tidak terhadap kehamilannya
- Pola kebersihan (personal Hygiene)
Mengetahui tingkat kebersihan klien dengan dikaji berapa
kali mandi, ganti baju dan ganti celana dalam berapa kali
sehari.
- Pola hubungan seksual
Untuk mengetahui hubungan seksual yang dilakukan saat
hamil dapat berpengaruh apa tidak pada kehamilannya.
- Kebiasaan lain
Untuk mengetahui kebiasaan lain yang ddilakukan oleh ibu
yang dapat membahayakan kehamilannya seperti merokok,
minum alcohol dan jamu-jamuan.
2. Data Objektif
 Pemeriksaan umum
Untuk mengetahui keadaan pasien secara umum
K/U : Baik/cukup/lemah
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : Normal 110/70 mmHg-120/80 mmHg
Kenaikan systole batasnya 15 mmHg
Kenaikan diastole batasnya 30 mmHg
Nadi : Normal 70-90 mmHg
Pernafasan : Normal 16-24 x/menit
Suhu Tubuh : Normal 36 oC-37 oC
BB : Pertambahan BB lebih dari ½ kg
perminggu diwaspadai kemungkinan PE,
hingga akhir kehamilan pertambahan BB
normal 9-10 kg.
TB : Kurang dari 145 waspadai CPD
 Pemeriksaan fisik
Inspeksi
rambut : warna, bersih/tidak, rontok/tidak,
lurus/ikal/keriting
kepala : tampak ada luka/tidak, tampak ada
benjolan/tidak
muka : pucat/tidak, bengkak/tidak, adakah cloasma
gravidarum, ekspresi wajah
mata : simetris/tidak, konjungtiva ka/ki pucat/tidak,
sclera ka/ki kuning/tidak
hidung : adakah pernafasan cuping hidung, adakah
pengeluaran scret/tidak, adakah pembesaran
polip
mulut : bibir pucat/tidak, kering/lembab,
stomatitis/tidak, caries/tidak
leher : apakah ada pembesaran kelenjar tyiroid
dada : adakah retraksi dinding dada, payudara
simetris/tidak, bersih/kotor, tegang/lembek
putting susu menonjol/mendatar/tenggelam,
ada benjolan atau tidak, hiperpigmentasi
perut : aerola/tidak, adanya pembesaran perut sesuai
kehamilan, ada strie/tidak, ada bekas
genetalia : operasi/tidak
bersih/tidak, adakah jaringan parut pada
anus : perineum, oedem/tidak
ekstermitas : adakah hemoroid
atas dan simetris/tidak, oedem/tidak
bawah
Palpasi
Leher : teraba pembesaran kelenjar tyroid/tidak,
teraba bendungan vena jugularis/tidak.
Payudara : kolostrum keluar/tidak, ada nyeri
tekan/tidak, ada benjolan abnormal/tidak
Abdomen : sesuai usia kehamilan
Leopold I : menentukan TFU
Leopold II : menentukan letak janin
puka/puki
Leopold III : menentukan bagian terbawah
janin
Leopold IV : menentukan seberapa jauh
bagian terbawah, masuk PAP
Auskultasi
DJJ : berapa kali per menit, menentukan kesejahteraan
janin
Frekuensi : teratur/tidak/bagaimana kekuatannya
 Pemeriksaan penunjang
USG : untuk mengetahui kondisi janin
 Pemeriksaan khusus
VT : untuk mengetahui kemajuan persalinan

3. PENATALAKSANAAN
a. Setelah usia kehamilan lebih dari 40-42 minggu yang penting adalah
monitoring janin sebaik-baiknya.
b. Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan dapat
ditunggu dengan pengawasan ketat
c. Kehamilan lewat waktu memerlukan pertolongan, induksi persalinan atau
persalinan anjuran. Persalinan induksi tidak banyak menimbulkan penyulit
bayi, asalkan dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas yang cukup.
Dalam pertolongan persalinan lewat waktu, pengawasan saat persalinan
induksi sangat penting karena setiap saat dapat terancam gawat janin, yang
memerlukan pertolongan segera.
Persalinan anjuran/induksi persalinan dapat dilakukan dengan metode :
1. Persalinan anjuran dengan infuse pituitrin (sintosinon) 5 unit dalam
500 cc glukosa 5 %, banyak dipergunakan
 Teknik induksi dengan infuse glukosa lebih sederhana, dan
mulai dengan 8 tts/mnt, dengan maksimal 40 tts/mnt.
Kenaikan tetesan setiap 15 menit sebanyak 4-8 tts sampai
kontraksi optimal tercapai.
 Bila dengan 30 tts kontraksi maksimal telah tercapai, maka
tetesan tersebut dipertahankan sampai terjadi persalinan.
Apabila terjadi kegagalan, ulangi persalinan anjuran dengan
selang waktu 24-48 jam.
2. Amniotomi
 Memecah ketuban merupakan salah satu metode untuk
mempercepat persalinan. Setelah ketuban pecah, ditunggu
sekitar 4-6 jam dengan harapan kontraksi otot rahim akan
berlangsung.
 Apabila belum berlangsung kontraksi otot rahim dapat
diikuti induksi persalinan dengan infuse glukosa yang
mengandung 5 IU oksitosin.
3. Persalinan anjuran dengan menggunakan prostaglandin
 Telah diketahui bahwa kontraksi otot rahim terutama
dirnagsang oleh prostaglandin sebagai induksi persalinan
dapat dalam bentuk infuse intravena (Nalator) dan
pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria)
 Prostaglandin sangat efektif untuk pematangan serviks
selama induksi persalinan.
 Pantau denyut nadi, tekanan darah, kontraksi ibu hamil, dan
periksa DJJ.
 Kaji ulang indikasi
 Prostaglandin E2 (PGE2) bentuk pesarium 3 mg/gel 2-3 mg
ditempatkan pada forniks posterior vagina dan dapat diulangi
6 jam kemudian (jika his tidak timbul)
 Hentikan pemberian prostaglandin dan mualilah infuse
oksitosin, jika :
Ketuban pecah, pematangan serviks telah tercapai, proses
persalinan telah berlangsung, pemakaian prostaglandin telah
24 jam.
4. Pemberian misoprostol
 Penggunaan misoprostol untuk pematangan serviks hanya
pad kasus-kasus tertentu misalnya,
- Pre-eklamsi berat/eklamsi dan serviks belum matang
sedangkan seksio sesarea belum dapat segera dilakukan
atau bayi terlalu premature untuk bisa hidup.
- Kematian janin dalam rahim lebih dari 4 minggu belum
inpartu dan terdapat tanda-tanda gangguan pembekuan
darah.
 Tempatkan tablet misoprostol 25 mcg di forniks posterior
vagina dan jika his tidak timbul dapat diulangi setelah 6 jam.
 Jika tidak ada reaksi setelah 2 kali pemberiaan 25 mcg,
naikkan dosis sampai 50 mcg tiap 6 jam
 Jangan lebih dari 50 mcg setiap kali pakai dan jangan lebih
dari 4 dosis/200 mcg.
 Misoprostol mempunyai resiko meningkatkan kejadian
rupture uteri. Oleh karena itu, hanya dikerjakan di pelayanan
kesehatan yang lengkap (ada fasilitas operasi)
 Jangan berikan oksitosin dalam 8 jam sesudah pemberian
misoprostol.
5. Kateter Foley
 Kateter foley merupakan alternative lain disamping
pemberian prostaglandin untuk mematangkan serviks dan
induksi persalinan
 Jangan lakukan kateter foley jika ada riwayat perdarhan,
ketuban pecah, pertumbuhan janin terlambat, atau infeksi
vaginal.
 Kaji ulang indikasi
 Pasang speculum DTT di vagina
 Masukkan kateter Foley pelan-pelan melalui serviks dengan
menggunakan forseps DTT. Pastikan ujung kateter telah
melewati ostium uteri internum
 Gembungkan balon kateter dan letakkan di vagina
 Diamkan kateter dalam vagina sampai timbul kontraksi
uterus atau sampai 12 jam.
 Kempiskan balon kateter sebelum mengeluarkan kateter,
kemudian lanjutkan dengan infuse oksitosin.
d. Lakukan pemeriksaan dalam untuk memeriksa kematangan servik, kalau
sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa
amniotomi
e. Bila riwayat kehamilan yang lalu ada kematian janin dalam rahim, terjadi
hipertensi, preeklamsi, kehamilan ini adalah anak pertama karena
infertilitas atau pada kehamilan lebih dari 40-42 minggu, maka ibu dirawat
di rumah sakit.
f. Tindakan operasi seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada insufisiensi
plasenta dengan keadaan serviks belum matang, pembukaan belum
lengkap, persalinan lama dan terjadi tanda gawat janin, atau pada
primigravida tua, kematian janin dalam kandungan, pereklamsi, hipertensi
menahun, anak berharga (infertilitas dan kesalahan letak janin.
g. Pada persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan
sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang-kadang besar, dan
kemungkinan disproporsi sefalo-pelvik dan distosia janin perlu
dipertimbangkan. Selain itu janin postmatur lebih peka terhadap sedative
dan narkosa, jadi pakailah anestesi konduksi. Jangan lupa, perawatan
neonatus postmaturitas perlu dibawah pengawasan dokter anak.
4. Diagnosa Keperawatan
 Nyeri akut b.d. Agen cedera fisik (trauma jalan lahir, episiotomi).
 Risiko infeksi dengan faktor risiko pertahanan tubuh primer tidak adekuat
(integritas kulit di perinium tidak utuh)
 Ansietas b.d ancaman pada status kesehatan
 Kurang pengetahuan: Perawatan post partum b.d. kurang terpapar
informasi

5. Rencana Asuhan Keperawatan

Rencana Asuhan Keperawatan


N Diagnosa
o Keperawatn Tujuan dan KriteriaHasil Intervesi

1 Nyeri Akut NOC : NIC :


berhubungan - Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri
dengan: - Pain control, secara komprehensif
Agen injuri - Comfort level termasuk lokasi, karakteristik,
(biologi, durasi, frekuensi, kualitas dan
kimia, fisik, Setelah dilakukan tinfakan faktor presipitasi
psikologis), keperawatan selama ….  Observasi reaksi nonverbal
kerusakan Pasien tidak mengalami dari ketidaknyamanan
jaringan nyeri, dengan kriteria hasil:  Bantu pasien dan keluarga
 Mampu mengontrol nyeri untuk mencari dan
(tahu penyebab nyeri, menemukan dukungan
mampu menggunakan  Kontrol lingkungan yang
tehnik nonfarmakologi dapat mempengaruhi nyeri
untuk mengurangi nyeri, seperti suhu ruangan,
mencari bantuan) pencahayaan dan kebisingan
 Melaporkan bahwa nyeri  Kurangi faktor presipitasi
berkurang dengan nyeri
menggunakan manajemen  Kaji tipe dan sumber nyeri
nyeri untuk menentukan intervensi
 Mampu mengenali nyeri  Ajarkan tentang teknik non
(skala, intensitas, farmakologi: napas dala,
frekuensi dan tanda nyeri) relaksasi, distraksi, kompres
 Menyatakan rasa nyaman hangat/ dingin
setelah nyeri berkurang  Berikan analgetik untuk
 Tanda vital dalam rentang mengurangi nyeri: ……...
normal  Tingkatkan istirahat

 Tidak mengalami  Berikan informasi tentang

gangguan tidur nyeri seperti penyebab nyeri,


berapa lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi
ketidaknyamanan dari
prosedur
Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
2 Risiko NOC : NIC :
infeksi  Immune Status  Pertahankan teknik aseptif
dengan  Knowledge : Infection  Batasi pengunjung bila perlu
faktor risiko control  Cuci tangan setiap sebelum
pertahanan  Risk control dan sesudah tindakan
tubuh primer keperawatan
tidak Setelah dilakukan tindakan  Gunakan baju, sarung
adekuat keperawatan selama tangan sebagai alat
(integritas pasien tidak mengalami pelindung
kulit di infeksi dengan kriteria  Ganti letak IV perifer dan
perinium hasil: dressing sesuai dengan
tidak utuh)  Klien bebas dari tanda petunjuk umum
dan gejala infeksi  Gunakan kateter intermiten
 Menunjukkan untuk menurunkan infeksi
kemampuan untuk kandung kencing
mencegah timbulnya  Tingkatkan intake nutrisi
infeksi  Berikan terapi
 Jumlah leukosit dalam antibiotik:.............................
batas normal ....
 Menunjukkan perilaku  Monitor tanda dan gejala
hidup sehat infeksi sistemik dan lokal
 Status imun,  Pertahankan teknik isolasi
gastrointestinal, k/p
genitourinaria dalam  Inspeksi kulit dan membran
batas normal mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
 Monitor adanya luka
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam
3 Ansietas NOC : NIC :
berhubungan - Kontrol kecemasan AnxietyReduction
dengan - Koping (penurunan kecemasan)
ancaman  Gunakan pendekatan yang
pada status Setelah dilakukan asuhan menenangkan
kesehatan selama klien kecemasan  Nyatakan dengan jelas
teratasi dgn kriteria hasil: harapan terhadap pelaku
 Klien mampu pasien
mengidentifikasi dan  Jelaskan semua prosedur
mengungkapkan gejala dan apa yang dirasakan
cemas selama prosedur
 Mengidentifikasi,  Temani pasien untuk
mengungkapkan dan
menunjukkan tehnik memberikan keamanan
untuk mengontol cemas dan mengurangi takut
 Vital sign dalam batas  Berikan informasi faktual
normal mengenai diagnosis,
 Postur tubuh, ekspresi tindakan prognosis
wajah, bahasa tubuh  Libatkan keluarga untuk
dan tingkat aktivitas mendampingi klien
menunjukkan  Instruksikan pada pasien
berkurangnya untuk menggunakan
kecemasan tehnik relaksasi
 Dengarkan dengan penuh
perhatian
 Identifikasi tingkat
kecemasan
 Bantu pasien mengenal
situasi yang menimbulkan
kecemasan
 Dorong pasien untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi
Kelola pemberian obat anti
cemas
4 Kurang NOC: NIC :
pengetahuan  Kowlwdge : disease  Kaji tingkat pengetahuan
: Perawatan process pasien dan keluarga
post partum  Kowledge : health  Jelaskan patofisiologi dari
b.d. kurang Behavior penyakit dan bagaimana hal
terpapar ini berhubungan dengan
informasi Setelah dilakukan tindakan anatomi dan fisiologi,
keperawatan selama …. dengan cara yang tepat.
pasien menunjukkan  Gambarkan tanda dan
pengetahuan tentang proses
penyakit dengan kriteria gejala yang biasa muncul
hasil: pada penyakit, dengan cara
 Pasien dan keluarga yang tepat
menyatakan pemahaman  Gambarkan proses
tentang penyakit, penyakit, dengan cara yang
kondisi, prognosis dan tepat
program pengobatan  Identifikasi kemungkinan
 Pasien dan keluarga penyebab, dengan cara
mampu melaksanakan yang tepat
prosedur yang  Sediakan informasi pada
dijelaskan secara benar pasien tentang kondisi,
Pasien dan keluarga mampu dengan cara yang tepat
menjelaskan kembali apa  Sediakan bagi keluarga
yang dijelaskan perawat/tim informasi tentang kemajuan
kesehatan lainnya pasien dengan cara yang
tepat
 Diskusikan pilihan terapi
atau penanganan
 Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara yang
tepat atau diindikasikan
Eksplorasi kemungkinan
sumber atau dukungan, dengan
cara yang tepat
DAFTAR PUSTAKA

Herdman, Heather T. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi


2009-2011.Jakarta : EGC.

Manjoer, arif. 2000. Kapita selekta kedokteran. Jakarta: Aesculapius.

Prawirohajo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT bina pustaka.

Wilkinson, M. Judith. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 7. Jakarta:


EGC.