Anda di halaman 1dari 15

RENCANA PENDIDIKAN KESEHATAN

A. Latar Belakang
Penyakit diare masih sering menimbulkan kejadian luar biasa dengan
jumlah penderita yang banyak dalam kurun waktu yang singkat. Biasanya
masalah diare timbul karena kurang kebersihan terhadap makanan. Saat ini
banyak anak yang terkena diare karena pada umumnya mereka sering tidak
menghiraukan kebersihan makanan yang dimakan. Anak usia sekolah pada
umumnya belum paham betul akan arti kesehatan bagi tubuhnya (Sulianti
Saroso, 2009).
Angka kejadian diare di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini
masih tinggi. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau
sekitar 460 balita setiap harinya. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita
dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. Setiap anak di
Indonesia mengalami episode diare sebanyak 1,6 – 2 kali per tahun. Oleh
karena itu keberhasilan menurunkan diare sangat bergantung dari sikap setiap
anggota masyarakat, terutama membudayakan penggunaan larutan oralit dan
cairan rumah tangga pada anak yang menderita diare. Saat ini sedang digalakan
dan dikembangkan pada masyarakat luas untuk menanggulangi diare dengan
upaya rehidrasi oral (oralit) dan ternyata dapat menurunkan angka kematian
dan kesakitan akibat diare.
Menurut profil kesehatan Aceh (2016) kejadian kesakitan diare yaitu 270
per 1000 penduduk. Di Aceh Besar, angka kesakitan diare per 1.000 penduduk
adalah 411. Wilayah kerja puskesmas lhoknga merupakan salah satu
kecamatan yang masih tinggi kejadian diare yaitu sebanyak 666 orang.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yaitu apakah penyebab masih tingginya angka kejadian
diare di wilayah kerja puskesmas lhoknga?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan sasaran mampu mengetahui
cara – cara pencegahan dan penanganan diare dan dapat diaplikasikan
dalam kehidupan sehari – hari.
2. Tujuan khusus
Setelah kegiatan penyuluhan, sasaran mampu
a. Menjelaskan pengertian diare
b. Menyebutkan macam-macam diare.
c. Menjelaskan penyebab diare.
d. Menyebutkan gejala-gejala diare.
e. Menyebutkan akibat dari diare.
f. Menjelaskan tentang pencegahan diare.
g. Memperagakan cara penanggulangan diare, seperti pembuatan larutan
oralit, pembuatan larutan gula garam, dan membersihkan daerah anus
bayi dengan baik dan benar

D. Manfaat
1. Bagi Masyarakat
Masyarakat lebih mengetahui cara penanganan diare, faktor penyebab
terjadinya diare, serta faktor resikonya.
2. Bagi Puskesmas
Manfaat penyuluhan ini yaitu sebagai salah cara untuk menurunkan
kasus diare pada bayi dan balita, serta untuk mengetahui faktor yang
berhubungan dengan penyebab diare.

E. Sasaran
Sasaran adalah seluruh masyarakat di wilayah kerja puskesmas Lhoknga,
terutama ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita.
F. Materi (Terlampir)
1. Pengertian penyakit diare
2. Klasifikasi penyakit diare
3. Penyebab diare
4. Tanda dan gejala diare
5. Penanganan diare
6. Komplikasi diare
7. Pencegahan penyakit diare

G. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab

H. Media
1. LCD
2. Leaflet
3. Video

I. Alat Peraga
1. Gelas/cangkir
2. Oralit
3. Air matang
4. Bahan pembuat Larutan Gula Garam + Oralit
5. Gula pasir
6. Garam

J. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Peserta hadir ditempat penyuluhan.
b. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Puskesmas Lhoknga
2. Evaluasi Proses
a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
b. Peserta mengikuti jalannya penyuluhan sampai selesai
c. Peserta dapat mengulang cara pembuatan dan pemberian oralit sesuai
anjuran dan takaran yang disampaikan
d. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara
benar.
3. Evaluasi Hasil
a. Setelah penyuluhan diharapkan sekitar 80% peserta penyuluhan
mampu mengerti dan memahami penyuluhan yang diberikan sesuai
dengan tujuan khusus.

K. Pelaksanaan
No Kegiatan Materi Waktu
1 Pembukaan1. Salam pembuka dan perkenalan 15 menit
Menjelaskan Tujuan Penyuluhan
2 Kegiatan Inti Menjelaskan Tentang : 35 menit
1. Pengertian penyakit diare
2. Klasifikasi penyakit diare
3. Penyebab diare
4. Tanda dan gejala diare
5. Penanganan diare
6. Komplikasi diare
7. Pencegahan penyakit diare

3 Penutup 1. Melakukan Evaluasi 20 menit


2. Mengucapkan terima kasih
3. Memberi salam penutup
L. Penilaian
1. Apakah masyarakat dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan diare
dan faktor penyebabnya?
2. Apakah masyarakat mampu menjelaskan tanda dan gejala dari penyakit
oralit?
3. Apakah masyarakat dapat mempraktekkan cara pembuatan larutan oralit?

M. Tindak Lanjut
Tindak lanjut yang dilakukan apabila masyarakat masih kurang paham dan
angka kejadian diare masih tinggi yaitu dengan melakukan penyuluhan per
desa dan door to door.
Lampiran
Pokok Bahasan : Pencegahan Diare
Diskriprif : Penyakit diare masih sering menimbulkan kejadian luar
biasa dengan jumlah penderita yang banyak dalam kurun
waktu yang singkat. Biasanya masalah diare timbul karena
kurang kebersihan terhadap makanan. Saat ini banyak anak
yang terkena diare karena pada umumnya mereka sering
tidak menghiraukan kebersihan makanan yang dimakan.
Diare adalah suatu kondisi buang air besar yang tidak normal
yaitu lebih, dari 3 kali sehari dengan karakteristik yang encer
dapat disertai atau tanpa disertai darah dan lendir.
Tujuan : Untuk mengetahui cara – cara pencegahan dan penanganan
diare dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari – hari.
Tempat : Puskesmas Lhoknga
Tanggal : Kamis, 15 November 2018
Waktu : 09.00 WIB
Pemateri : Kamasyati
Materi : (Terlampir)
1. Pengertian penyakit diare
2. Klasifikasi penyakit diare
3. Penyebab diare
4. Tanda dan gejala diare
5. Penanganan diare
6. Komplikasi diare
7. Pencegahan penyakit diare
Kegiatan :
No Kegiatan Metode Media Sumber Waktu
Pembelajaran
1 Pendahuluan Ceramah LCD Buku 15 Menit
2 Penyajian/materi Ceramah, LCD, Video, Buku dan 35 Menit
Tanya Leaflet, Alat Modul
Jawab Peraga
3 Penutup Ceramah LCD Buku 20 Menit
MATERI PENYULUHAN
DIARE

1. Pengertian Diare
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal
(lebih dari 3 kali sehari) dan konsistensi feces cair (Smeltzer, 2001).
2. Klasifikasi Diare
Menurut Donna L. Wong (2008), diare dapat diklasifikasi menjadi dua
yaitu:
a. Diare Akut
Diare akut adalah keadaan peningkatan dan perubahan tiba-tiba frekuensi
defekasi yang sering disebabkan oleh agen infeksius dalam tractus GI.
Diare akut biasanya sembuh sendiri dan lamanya sakit kurang dari 14 hari.
b. Diare Kronis
Diare kronis adalah keadaan meningkatnya frekeunsi defekasi dan
kandungan air dalam feses dengan lamanya (durasi) sakit lebih dari 14
hari
3. Penyebab Diare
Faktor penyebab terjadinya diare, adalah sebagai berikut:
a. Faktor infeksi (Cecily Lynn 2009)
1) Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab
utama diare pada anak, meliputi
a) infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, ShiDiarella,
Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb),
b) infeksi virus : Enterovirus ( virus ECHO, coxsackie,
poliomyelitis) Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll)
c) infeksi parasit: cacing (Ascaris, Trichiuris, oxyuris,
strongyloideus), protozoa (entamoeba histolitica, giardia
lamblia, trichomonas hominis)
2) Infeksi parenteral; merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang
dapat menimbulkan diare seperti: otitis media akut, tonsilitis,
bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya.

Kuman masuk dan berkembang dalam usus adanya toksin dalam dinding
usus halus hipersekresi air elektrolit (isi rongga) usus meningkat DIARE

b. Faktor malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan
sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa).
Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi
dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.

Tekanan osmotik meningkat pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus


isi rongga usus meningkat DIARE

c. Faktor makanan

Toksin tidak dapat diserap hiperperistaltik kemampuan absorbsi


menurun DIARE

d. Faktor psikologis

psikologis hiperperistaltik kemampuan absorbs menurun DIARE

4. Tanda dan Gejala Diare


a. BAB encer lebih dari 3x atau anak sering buang air besar dengan
konsistensi tinja cair atau encer
b. Muntah
c. Demam
d. Nyeri abdomen
e. Badan terasa lemah.
f. Anak cengeng, gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan
berkurang.
g. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
h. Daerah sekitar anus kemerahan dan lecet karena seringnya defekasi dan
tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat.
i. Ada tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elastisitas kulit
menurun), ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan bibir
kering serta penurunan berat badan.
j. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun,
denyut jantung cepat, pasien sangat lemas hingga menyebabkan kesadaran
menurun.
k. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria) (Suraatmaja, 2005).

5. Penanganan Diare
a. Mengganti cairan cairan tubuh yang hilang melalui tinja dan muntah
dengan oralit. Cairan oralit diberikan sedikit demi sedikit dengan sendok,
dengan frekuensi sesering mungkin. Oralit sudah dilengkapi dengan
elektrolit sehingga dapat mengganti elektrolit yang ikut hilang bersama
cairan.
Minum oralit caranya :
(1)Siapkan 1 gelas air matang 200 ml
(2)Kemudian masukan 1 bungkus bubuk oralit
(3)Aduk sampai larut benar
Umur Setiap Mencret Dalam waktu 4 jam

< 1tahun ½ gelas air matang 400 ml (2 bungkus)


1-4 tahun 1 gelas air matang 600-800 ml (3-4
bungkus)
5-12 tahun 1 ½ gelas air matang 800-1000 ml (4-5
bungkus)
Dewasa 3 gelas air matang 1200-2000ml (6-10
bungkus)
b. Berikan zinc selama 10-14 hari. Zinc berfungsi untuk memperbaiki epitel
usus supaya tidak sering diare. Caranya zinc dilarutkan dalam 1 sendok
air. Pemberian zinc untuk anak <6 bulan ½ tablet dan >6 bulan 1 tablet.
c. Pemberian ASI ataupun makanan pendamping ASI tetap diberikan agar
anak tidak kekurangan gizi. Pemberian susu formula yang mengandung
laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh, misalnya Bebelac FL, Nutrilon
FL, LLM, almiron atau sejenis lainnya).
d. Segera ke fasilitas kesehatan, jika kondisi tidak membaik dalam 3 hari atau
buang air besar cair bertambah sering, muntah berulang-ulang, makan atau
minum sedikit, demam dan tinja berdarah, sehingga bisa mendaptkan obat
antibiotic selektif dari dokter.
e. Nasihat yang meliputi makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan serta
cara menjaga kebersihan perseorangan. Sebaiknya makanlah makanan
setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim), makanan rendah
serat (tanpa buah, tanpa sayur) dan rendah lemak.
f. Pemberian obat antidiare sebaiknya jangan karena dapat beresiko dapat
menimbulkan efek samping yang cukup berbahaya seperti mual, muntah
bahkan yang cukup berat timbul illeus paralitik (OTC DIGEST, 2011).
6. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi diare (Nelson, 2000:1820 dan Cecily, 2009)
a. Syok hipovolomik yang terdekompensasi (hipotensi, asidosis metabolok,
perfusi sistemik buruk)
b. Dehidrasi
Ringan Sedang Berat
BB 4-5 6-9 7-10
( % kehilangan )
Keadaan Umum Haus, sadar Haus, Diarelisah, Mengantuk, dingin,
letargi berkeringat
Air mata Ada Tidak ada Tidak ada
Turgor jaringan Kembali Kembali lambat Kembali sangat
cepat/ normal lambat
Membran mukosa Basah Kering Sangat kering
Tekanan darah Normal Normal / rendah < 90mmHg,
mungkin tidak dapat
diukur
BAK Normal Menurun / keruh Oliguria (50-
500cc/24jam)
Nadi Normal Cepat Cepat,lemah,
mungkin tidak teraba
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Fontanela anterior Normal Cekung Sangat cekung
Defisit cairan (ml/ kg) 40-50 60-90 >100

Komplikasi pada penderita diare diakibatkan karena dehidrasi, antara lain


(Suraatmaja, 2005):
a. Hipernatremia
Sering terjadi pada bayi baru lahir sampai umur 1 tahun (khususnya bayi
berumur < 6 bulan). Biasanya terjadi pada diare yang disertai muntah
dengan intake cairan /makanan kurang, atau cairan yang diminum
mengandung terlalu banyak Na. Pada bayi juga dapat terjadi jika setelah
diare sembuh diberi oralit dalam jumlah berlebihan.
Pengobatan : dapat diobati dengan pemberian oralit, atasi kejang sebaik –
baiknya.
b. Hiponatremia
Dapat terjadi pada penderita diare yang minum cairan yang sedikit/tidak
mengandung Na. Penderita gizi buruk mempunyai kecenderungan
mengalami hiponatremia.
Pengobatan : beri oralit dalam jumlah yang cukup.
c. Demam
Demam sering terjadi pada infeksi Shigella disentriae dan Rotavirus. Pada
umunya demam akan timbul jika penyebab diare mengadakan invasi ke
dalam sel epitel usus. Demam juga dapat terjadi karena dehidrasi. Demam
yang timbul akibat dehidrasi pada umumnya tidak tinggi dan akan
menurun setelah mendapat hidrasi yang cukup. Demam yang tinggi
mungkin diikuti kejang demam.
Pengobatan : kompres dan/atau antipiretika. Antibiotika jika ada infeksi.
d. Edema/overhidrasi
Terjadi bila penderita mendapat cairan terlalu banyak. Tanda dan gejala :
edema kelopak mata. Kejang – kejang jika terjadi edema otak. Edema paru
– paru dapat terjadi pada penderita dehidrasi berat yang diberi larutan
Garam Faali.
Pengobatan : pemberian cairan intravena dan/oral dihentikan.
Kortikosteroid (jika ada kejang).
e. Asidosis metabolik
Asidosis metabolik ditandai dengan bertambahnya asam atau hilangnya
basa cairan ekstraseluler. Sebagai kompensasi terjadi alkalosis
respiratorik, yang ditandai dengan pernafasan yang dalam dan cepat
(kuszmaull).
Pemberian oralit yang cukup mengandung bikarbonas atau sitras dapat
memperbaiki asidosis.
f. Hipokalemia (serum K < 3.0 mMol/L)
Jika penggantian K selama dehidarsi tidak cukup, akan terjadi kekurangan
K yang ditandai dengan kelemahan pada tungkai, ileus, kerusakan ginjal,
dan aritmia jantung. Kekurangan K dapat diperbaiki dengan pemberian
oralit (mengandung 20 mMol K/L) dan dengan meneruskan pemberian
makanan yang banyak mengandung K selama dan sesudah diare.
Komplikasi yang penting dan sering fatal, terutama terjadi pada anak kecil
sebagai akibat penggunaaan obat antimotilitas.
Tanda/gejala : perut kembung, muntah, peristaltik usus berkurang atau
tidak ada.
Pengobatan : cairan per oral dihentikan, beri cairan parenteral yang
mengandung banyak K
g. Muntah
Muntah dapat disebabkan oleh dehidrasi, iritasi usus atau gastritis karena
infeksi, ileus yang menyebabkan gangguan fungsi usus atau mual yang
berhubungan dengan infeksi sistemik. Muntah dapat juga disebabkan
karena pemberian cairan oral terlalu cepat.
Tindakan : berikan oralit sedikit – sedikit tetapi sering (1 sendok makan
tiap 2 – 3 menit). Antimetik sebaiknya tidak diberikan karena sering
menyebabkan penurunan kesadaran.
h. GGA
Mungkin terjadi pada penderita diare dengan dehidrasi berat dan syok.
Didiagnosis sebagai GGA bila pengeluaran urine belum terjadi dalam
waktu 12 jam setelah hidrasi cukup.
7. Pencegahan Diare
Diare mudah dicegah antara lain dengan cara:
a. Mencuci tangan pakai sabun dengan benar yaitu setelah buang air besar,
sebelum & sesudah menyiapkan makanan atau minuman.
b. Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan
cara merebus sampai mendidih ± 10-15 menit.
c. Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya
menggunakan jamban dengan tangki septik.
d. Mencuci makanan/sayuran sebelum dimasak dibawah air mengalir.
e. Mencuci botol susu dan tempat makan anak dengan cara mencuci di bawah
air mengalir lalu rendam dengan air panas ± 5 menit baru digunakan lagi.
f. Menjaga kebersihan diri.
g. Menjaga kebersihan lingkungan: rumah, saluran air, pengelolaan sampah
yang baik yaitu sampah dibuang pada tempatnya dan tempat sampah selalu
ditutup agar makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas,
dan lain-lain), membuang tinja termasuk tinja bayi pada jamban/WC.
DAFTAR PUSTAKA

Wong, Donna L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC


OTC DIGEST. 2011. Diare dan Obatnya edisi 61 halaman 27. Jakarta: PT
Triprakarsa Media Utama
Suraatmaja, Sudaryat. 2005. Gastroenterologi Anak. Jakarta: Agung Seto.
Smeltzer, Suzanne. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddart vol.2. Jakarta: EGC