Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit inflamasi orbital merupakan istilah umum yang mencakup semua

penyakit inflamasi yang mempengaruhi beberapa atau semua struktur yang

terkandung dalam orbital eksternal sampai ke dalam orbita. Dalam beberapa

kasus, daerah yang terlibat dengan proses inflamasi dapat melampaui orbit,

seperti ke sinus kavernosus melalui apeks orbital atau kelopak mata melalui

septum orbital.1 Inflamasi orbital dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian besar

yaitu inflamasi orbital akut dan inflamasi orbital kronik. Selulitis orbita

merupakan salah satu inflamasi orbital akut.2

Selulitis orbita adalah infeksi aktif jaringan lunak orbita yang terletak

posterior dari septum orbita, termasuk lemak dan otot dalam tulang orbital dan

lebih sering mengenai anak anak.3,4 selulitis orbita biasanya berasal dari

penyebaran infeksi berdekatan yaitu sinus paranasal. Lebih dari 90% kasus

selulitis orbita terjadi akibat kasus sekunder karena sinusitis bakterial akut atau

kronis. Infeksi mata terjadi pada populasi pediatrik dengan keluhan

pembengkakan pada kelopak mata dan rasa sakit.4 Pasien biasanya datang dengan

kelopak mata bengkak unilateral yang disertai dengan mata merah atau tidak

merah.5 Diagnosis yang cepat dan tepat sangat penting karena ada potensi

morbiditas dan mortalitas yang signifikan.4

Infeksi selulitis orbita adalah suatu kegawat darurat dan membutuhkan

penanganan segera.6 penyakit ini dapat mengancam jiwa dan pasien harus dirujuk
segera tanpa penundaan, dapat menyerang pada semua umur terutama pada anak-

anak.5 Oleh karena itu pengobatan penyakit ini bersifat urgensi. Pengobatan

dengan pemberian antibiotik sistemik dapat mengatasi infeksi bakteri penyebab2.

Keterlambatan pengobatan akan mengakibatkan progresifitas dari infeksi dan

timbulnya sindroma apeks orbita atau trombosis sinus kavernosus. Komplikasi

yang terjadi antara lain kebutaan, kelumpuhan saraf kranial, abses otak, dan

bahkan dapat terjadi kematian.7


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

. Lebih dari 90% kasus selulitis orbita terjadi akibat kasus

sekunder karena sinusitis bakterial akut atau kronis. Namun ada juga

literatur ain mengatakan sekitar 60 % penyebabnya oleh penyebaran

langsung sinusitis ethmoidais yang paling seringa kerena didinding yang

tipis dan keropos (lamina papyracea). Adapun Gambaran klinisnya antara

lain demam (lebih dari 75% kasus disertai lekositosis), proptosis, kemosis,

hambatan pergerakan bola mata dan nyeri pergerakan bola mata.

Keterlambatan pengobatan akan mengakibatkan progresifitas dari infeksi

dan timbulnya sindroma apeks orbita atau trombosis sinus kavernosus.

Komplikasi yang terjadi antara lain kebutaan, kelumpuhan saraf kranial,

abses otak, dan bahkan dapat terjadi kematian.5

B. ANATOMI

1. Kavum Orbita
Orbita berhubungan dengan :8

Atas : Sinus frontalis

Bawah : Sinus maksilaris

Medial : Sinus ethmoidalis dan sphenoidalis


Gambar 1. Kavum orbita11

2. Dinding Orbita :11

 Atap :

- Facies Orbitais Ossis Frontalis

- Ala Parva Ossis Sphenoidalis (Bgn Posterior)  Mengandung

Kanalis Optikus

 Dasar :

- pars orbitais ossis maksilaris (bgn sentral yang luas)

- pars frontalis ossis maksilaris (medial)

- os zygomaticum (lateral)

- processus orbitais ossis palatini (daerah segitiga kecil di

posterior)

 Lateral anterior : facies orbitais ossis zygomatici (malar)

 Medial :
- Os ethmoidale

- os lakrimale

- korpus sphenoidale

- crista lacrimalis anterior : dibentuk oleh processus frontalis ossis


maksilaris
- crista lacrimalis posterior yg dibentuk oleh : Atas oleh processus
angularis ossis frontalis dan Bawah oleh os lacrimale

Diantara kedua crista lacrimalis terdapat sulkus lakrimalis dan berisi


sakus lakrimalis.

C. Anatomi Orbita
Mata merupakan organ penglihatan primer. Manusia memiliki dua

buah bola mata yang terletak di dalam rongga orbita yang dikelilingi

tulang-tulang yang membentuk rongga orbita. Selain itu juga terdapat

jaringan adneksa mata yaitu : palpebra, sistem lakrimalis, konjungtiva,

otot-otot ekstraokular, fasia, lemak,orbita, pembuluh darah dan sistem

saraf.Mata memiliki berat 7.5 gram dan panjang 24 mm. Bola mata

mendapatkan perdarahan dari arteri oftalmika, yaitu cabang dari arteri

karotis interna.

Gambar 2 . Mata tampak anterior 16


1. Struktur Dasar Mata Dan Jaringan Penyokongnya9

Mata terdiri dari 3 lapisan, 3 kompartemen yang mengandung 3 cairan.

a. 3 lapisan bola mata adalah sebagai berikut :

 Lapisan fibrous luar

- Kornea

- Sklera

- Lamina kribrosa

 Lapisan vaskular tengah (traktus uveal)

- Iris

- Corpus siliar (terdiri dari pars plikata dan pars plana)

 Lapisan saraf dalam

- Epitel pigmen retina

- Fotoreseptor

- Neuron

b. 3 kompartemen bola mata adalah :

 Bilik mata depan – rongga antara kornea dan diafragma iris

 Bilik mata belakang – rongga triangular antara iris anterior,

lensa, dan zonula posterior, dan korpus siliaris

 Corpus vitreus – rongga antara lensa dan zonula

c. 3 cairan intraokular adalah :


 Humour aquous – cairan air jernih dan elektrolit yang sama

seperti cairan di jaringan, hanya saja memiliki jumlah protein

yang rendah

 Humour vitreus – gel transparan yang terdiri dari serabut

kolagen 3 dimensi yang diisi oleh molekul asam hyaluronat dan

air. Mengisi rongga antara lensa, badan siliar, dan retina.

 Darah – selain sebagai fungsi nutrisi, darah juga berperan untuk

menjaga tekanan intraokular. Kebanyakan darah di mata ada

dalam koroid.

Gambar 3. Potongan bola mata.2

Fungsi utama mata adalah untuk membentuk gambaran lingkungan

sekitar kita yang jelas. Gambaran tersebut ditransmisikan ke otak melalui

nervus optikus dan jalur visual posterior. Oleh karena itu beberapa

jaringan dalam mata dan adneksanya didisain untuk memfasilitasi fungsi

tersebut.9
2. Kelopak Mata

Kelopak mata dibagi menjadi bagian anterior dan posterior oleh

mucocutaneous junction – grey line. Bulu mata berasal dari folikel rambut

pada bagian anterior grey line, sementara duktus glandula meibom

(modifikasi glandula sebaseus) terbuka diantara grey line.9

Gambar 4. Anatomi kelopak mata 7

Kelopak mata berfungsi sebagai : (1) pelindung mata terhadap

trauma mekanis, suhu tinggi dan cahaya yang sangat terang, dan (2)

menjaga lapisan normal air mata prekorneal, yang penting untuk menjaga

penglihatan dan kesehatan kornea.9


3. Kornea dan Sklera

Kornea dan sklera merupakan selubung dan kapsul bola mata yang

kenyal dan resisten. Kornea yang bening tertanam kedalam jaringan sklera

di zona transisi limbus.(5)

Fungsi utama kornea adalah refraksi. Untuk menjalankan tugas tersebut,

maka kornea harus : 9

 Transparan

 Permukaan licir dan regular

 Kurvatur sferis dan kekuatan refraksi yang sesuai

 Indeks refraksi yang baik

4. Septum Orbita

Gambar 5. Tampak samping septum orbita

Septum orbital adalah membran tipis pada kelopak mata yang

memisahkan bagian anterior dan posterior struktur orbital. Septum ini

membentuk penghalang potensial, mencegah infeksi kelopak mata dari

penetrasi orbita lebih dalam. Infeksi pada jaringan lunak septum anterior

orbital disebut selulitis periorbital dan mempengaruhi kelopak mata dan


adneksa. Infeksi septum posterior disebut selulitis orbita,abses orbital, dan

abses subperiosteal.3

Karakteristik anatomi tertentu dari struktur orbital memungkinkan

perluasan infeksi ke struktur yang berdekatan. Pertama, septum orbital

tipis mungkin tidak lengkap, sehingga menyebabkan penyebaran infeksi

periorbital struktur orbital yang lebih kedalam. Kedua, infeksi dapat

menyebar dari sinus paranasal (yang mengelilingi rongga orbital pada

empat dinding)melalui tulang ke orbita. Ketiga, valveless vena orbital

dapat memungkinkan infeksi secara hematogen baik antegrade dan

retrograde.3

\
Gambar 6. anatomi mata, sinus paranasal, dan aliran vena.3
5. Vaskularisasi Orbita

Gambar 7. Vaskularisasi orbita8

Arteri utama : Arteri Oftalmika yang bercabang menjadi :


 Arteri retina sentralis  memperdarahi nervus optikus
 Arteri lakrimalis  memperdarahi glandula lakrimalis dan
kelopak mata atas
 Cabang-cabang muskularis  berbagai otot orbita
 Arteri siliaris posterior brevis  memperdarahi koroid dan
bagian-bagian nervus optikus
 Arteri siliaris posterior longa  memperdarahi korpus siliare
 Arteri siliaris anterior  memperdarahi sklera, episklera,limbus,
konjungtiva
 Arteri palpebralis media ke kedua kelopak mata
 Arteri supraorbitais
 Arteri supratrokhlearis

Arteri-arteri siliaris posterior longa saling beranastomosis satu dengan


yang lain serta dengan arteri siliaris anterior membentuk circulus arterialis
mayor iris.
Vena utama : Vena Oftalmika superior dan inferior. Vena Oftalmika
Superior dibentuk dari :

Vena supraorbitais

Vena supratrokhlearis mengalirkan darah dari kulit Satu


cabang vena angularis di daerah periorbita

Vena ini membentuk hubungan langsung antara kulit wajah dengan sinus
kavernosus sehingga dapat menimbulkan trombosis sinus kavernosus yang
potensial fatal akibat infeksi superfisial di kulit periorbita.

Gambar 8. a. Vaskularisasi vena orbita tampak lateral b. Vaskularisasi arteri


tampak superior.

D. EPIDEMIOLOGI

Infeksi bakteri orbital dapat terjadi pada semua usia tetapi lebih sering
pada populasi usia anak anak. Dalam analisis retrospektif dari infeksi orbital
anak, usia rata-rata pasien yang terkena adalah 6,8 tahun, mulai dari 1 minggu
sampai 16 tahun. Predileksi jenis kelamin tidak mempengaruhi. selulitis orbita
terjadi lebih sering pada musim dingin karena terkait erat dengan sinus
paranasal dan infeksi saluran pernapasan atas. sebagian besar kasus
memberikan gambaran klinis pada mata yang bersifat unilateral.4
Pada studi lain menyatakan Sebagian besar kasus selulitis orbita
terjadi pada kelompok usia anak anak (0- 20 tahun) dengan presentase sebesar
(44%), kemudian dilanjutkan dengan usia pertengahan sebesar (40%), dan
lanjut usia dengan presentase sebesar (16%) dengan usia di atas 50 tahun.10
Ada juga beberapa literatur seluitis orbita terkena umur yang berkisar 0-15
tahun, dan insiden puncaknya anak yang lebih muda 10 tahun. Remaja ebih
sering dibandingkan orang dewasa, serta 2 kali lebih sering diantara laki-laki
dibandingkan perempuan. Insiden biasanya pada musim dingin dan awal
musim semi yang dikaitkan dengan insiden infeksi saluran napas atas dan
sinusitis paranasalis. Pada anak-anak seluitis orbita terjadi sekitar 35 % yang
terkait dengan sinus. 13,15

E. ETIOLOGI

Orbital dapat terinfeksi melalui beberapa jalur,sebagai berikut:2

1. Infeksi eksogen. Hal ini disebabkan oleh cedera penetrasi terutama bila
dikaitkan dengan retensi benda asing intraorbital, dan tindakan operasi
seperti eviserasi, enukleasi , dacryocystectomy dan orbitotomy.
2. Perluasan atau penyebaran infeksi dari organ stuktur sekitar bola mata.
Hal ini disebabkan oleh infeksi sinusitis paranasal, gigi, wajah, kelopak
mata, rongga intrakranial dan struktur intraorbital. Ini adalah jalu yang
paling sering penyebab infe dari infeksi orbital.
3. Infeksi endogen. Mungkin jarang terjadi sebagai Infeksi metastasis dari
abses payudara, nifas sepsis, tromboflebitis kaki dan septikemia.
Organisme penyebab sering ditemukan adalah: Streptococcus pneumoniae,
Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes dan
Haemophilusinfluenzae.

Berdasarkan ketiga etiologi diatas selulitis orbita paling sering


disebabkan oleh perluasan infeksi dari sinus terutama dari sinus
etmoidalis. Secara umum selulitis orbita disebabkan oleh infeksi langsung
yang menyerupai trauma lokal misalnya gigitan serangga, atau hewan ,
menembus dan cedera kelopak mata atau penyebab infeksi yang
berdekatan dari wajah atau gigi atau oleh hematogen.

Trauma mungkin merupakan penyebab masuknya bahan tercemar


kedalam orbita melalui kulit atau sinus-sinus paranasal. Di zaman
praantibiotik, selulittis orbita sering menyebabkan kebutaan dan kematian
akibat trombosis sinus kavernosus septik.8
Orbita dikelilingi oleh sinus sinus paranasal dan sebagian drainasi
dari vena sinus sinus tersebut berjalan melalui orbita. Sebagian besar kasus
selulitis orbita timbul kibat perluasan sinusistis melalui tulang tulang
ethmoid yang tipis. Organisme yang biasa menjadi penyebab aalah
organisme yang sering itemukan di dalam sinus: Haemophilus influenzae,
streptococcus pneumoniae, streptokokus lainnya dan stafilokokus8,11
Inflamasi Akut septum orbital posterior biasanya peradangan
berasal dari jaringan sekitarnya. Lebih dari 60% dari semua kasus
(setinggi 84% pada anak-anak) dapat diklasifikasikan sebagai berasal di
sinus, terutama sel-sel sinus etmoidalis dan sinus frontal. Pada bayi,
radang kuman gigi mungkin menjadi penyebabnya. Jarang disebabkan
oleh furunkel wajah, erisipelas, hordeolum, panophthalmitis, cedera
orbital, dan sepsis.7
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri infeksi,.bakteri yang paling
umum adalah staphylococci, streptokokus, dan Spesies Haemophilus.11,12
Patogen bervariasi menurut etiologi dan usia pasien. Sterptococus
pneumonia adalah patogen yang paling sring dikaitkan infeksi sinus
sedangkan streptococcus aureus dan S. Pygenus mendominasi ketika
inefksi muncul dari trauma lokal. Hemofius infuaenza type B sudah
jarang akibat vaksinasi sudah meluas. Jamur adalah patogen yang secara
tidak umum, tapi bisa menyebabkan selulitis orbita pada pasien diabetes
dan imunosupresif. Infeksi pada anak-anak < 9 tahun biasanya
menyababkan satu mikroorganisme aerobik, dengan bertambahnya usia,
khususnya usia >15 tahun, infeksi ebih khas polymicrobial dengan
campuran aerobik dan anaerobical.14,15
F. PATOFISIOLOGI
Rinosinusitis, terutama ethmoiditis, adalah yang paling sering
sebagai Faktor predisposisi umum untuk selulitis orbital anak. Namun
selulitis orbital bisa juga disebabkan dari perluasan infeksi mata eksternal
seperti sebuah hordeolum atau dakriosistitis / Dakrioadenitis (infeksi pada
sistem lakrimal); infeksi saluran pernapasan atas,abses gigi, luka
superfisial pada kulit, gigitan serangga, impetigo, jerawat, eksim, operasi
periokular, atau penetrasi langsung pada trauma orbita; dan infeksi secara
hematogen.4
Karena seluitis orbita berasal dari fokus besar infeksi fuminan yang
berdekatan (misalnya) sinusitis) yang dipisahkan oleh hanya sawar tulang
tipis dan infeksi orbita dapat menjadi luas dan berat. Terdapatnya
akumuasi cairan periostea, beberapa cukup besar dapat terakumuasi biasa
disebut abeses subperioteal.13,14
Secara umum gambaran patologis selulitis orbital mirip dengan
inflamasi supuratif tubuh, kecuali bahwa: 4
 Karena tidak adanya sistem limfatik sebagi sebuah sistem agen
pertahanan lokal fagositosis disediakan oleh reticular orbital jaringan;
 Karena kompartemen keras, peningkatan tekanan yang disebabkan
perluasan penyebaran virulensi Infeksi penyebab awal dan nekrotik
luas dari jaringan
 Dalam kebanyakan kasus penyebaran infeksi sebagai tromboflebitis
dari
struktur sekitarnya, dapat menyebar secara cepat dengan nekrosis
yang luas .

Penyebab utama selulitis adalah infeksi bakteri. Infeksi bakteri pada


jaringan orbita dan periorbita berasal dari 3 sumber primer:

 Penyebaran langsung dari sinusitis atau dakriosistitis


 Trauma atau infeksi kulit
 Penyebaran bakteremia dari lokasi yang lebih jauh seperti otitis media,
pneumonia).

Secara anatomi orbital berbentuk piramida yang berada di tengkorak


bagain anterior yang mengandung bola mata, otor bola mata untuk
pergerakan, saraf optik, arteri, vena dan jaringan lemak sekitarnya. Cavum
orbita dibatasi oleh 3 sisi yaitu superior, media dan inferior ( frontalis,
ethmoidais, sphenoid dan maxillaris). Sinus frontais biasanya berkembang
pada usia 8 tahun dan tidak sepenuhnya berkembang sapai pubertas.
Sedangkan aspek later dipisahkan oeh dinding yang tipis terutama pada
didnding orbita medial, tuang etmodais lateral juga membentuk dinding orbita
latera yang sangan tipis dan berpori yang disebut lamina papyrace.

Disekitar anterior orbita terdapat penghalang atau septum dari jaringan


orbital yang berjalan dari periosteum tengkorak melaui kelopak mata. Hal ini
disebut Septum orbita memisahkan jaringan preseptal dengan jaringan
orbital.13 dimana letaknya dari periosteum dari pelat orbita ke levator
aponeurosis di kelopak mata bagian atas dan bagian inferiornya yaitu peat
tarsal dibagian kelopak mata bawah. Sedangkan dinding posterior dari orbital
mengandung kaca optik dan fisura orbital superior dan inferior. Dan bagian
orbital superior terhubung langsung ke sinus cavernosa dan ruang
intracranial. Vena diwajah langsung mengalir kevena mata suprior dan
inferior, dan akhirnya akan mengalir dan beranastomose kedalam sinus
kavernosa. Saraf optik (saraf kranial [CN] II) memasuki orbit dengan arteri
oftalmik melalui saluran optik. CNs III, IV, dan VI; cabang oftalmik saraf
trigeminal (CN V1); dan vena opthalmik superior memasuki sinus kavernosa
setelah keluar dari orbit melalui fisura orbital superior.17,18

Vena opthalmic superior menyediakan drainase vena utama untuk isi


orbit. Vena opthalmic inferior yang lebih rendah keluar dari orbit melalui
fisura orbital inferior dengan cabang maxillary nervus trigeminal (CN V2) dan
menghubungkan dengan fossa temporal.17,18

Pada penyakit seluitis periorbital dibagi menjadi dua bentuk yaitu selulitis
praseptal dan postseptal. Pembagian ini dipisahkan oeh septum orbita. Infeksi
anterior keseptum disebut preseptum sedangkan pada bagian posterior disebut
pascaseptum. Oleh karena itu septum orbita merupakan saah satu penghalang
penyebaran infeksi dari kelopak mata ke mata. Efek tumor dan peradangan
posterior keseptum orbita dapat mengganggu aliran darah orbital serta
menghambat fungsi saraf, mempengaruhi penglihatan , dan membatasi fungsi
otot okular17,18

Infeksi juga dapat menyebar dari ruang preseptal, terutama dari preseptal
(atau periorbital) selulitis pada anak-anak, serta dari pharynx, telinga tengah,
kulit wajah, hidung, kelenjar lakrimal (dacryocystitis), atau gigi. Kemudahan
dan kecepatan penyebaran infeksi tersebut berhubungan dengan sistem vena
wajah, yang memiliki sejumlah besar anastomosis dan sepenuhnya tanpa
ikatan. Bahan infeksi dapat diinokulasi langsung ke jaringan lunak orbital
sekunder akibat trauma, operasi, atau benda asing orbital.18

G. GEJALA KLINIS
Gejala utama yang didapatkan pada selulitis orbita berupa
pembengkakan pada mata yang biasa bersifat unilateral dan nyeri hebat
yang meningkat dengan pergerakan bola mata atau adanya tekanan. Gejala
yang lain yang bisa didapat antara lain demam, mual, muntah, dan
kadang-kadang kehilangan penglihatan.9 kadang pasien mengeluh tidak
bisa membuka mata untuk melihat gerakan mata yang terbatas. Biasanya
ada riwayat sinusitis akut atau infeksi saluran pernapasan atas pada hari-
hari sebelum terjadi edema kelopak mata. Gejala dapat berkembang
dengan cepat, dan dengan demikian, diagnosis dan pengobatan cepat
adalah hal yang terpenting.3
Gambar 9. selulitis orbita mata kiri.2

Tanda-tanda selulitis orbita yang didapat kan pada pemeriksaan


fisis dan oftalmologi adalah:1,2,8,9,11
 ditandai dengan adanya pembengkakan yang menutup bola mata
dengan karakteristik kekerasan seperti papan dan kemerahan
 Ditemukan Adanya Chemosis Konjungtiva, Yang Menonjol Dan
Menjadi Kering Atau Nekrotik.
 Bola Mata Proptosis.
 Gerakan Bola Mata Terbatas
 Pemeriksaan Fundus Dapat Menunjukkan Adanya Kongesti Vena
Retina Dan Tanda-Tanda Papillitis Atau Edema Papil.
 Penurunan Visus, Gangguan Pengelihatan Warna.
 Tanda-tanda infeksi primer bisa juga sering muncu misanya
keleuarnya hidung dan perdarahan dengan sinusistis, nyeri peri
odonta, dan pembengkakakn dengan abses. Demam biasanya ada
sakit kepala, kelesuan harus kecurigan terhadap meningitis.
Beberapa temuan ini mungkin tidak ada pada awa perjalanan.
Infeksi.
 Tanpa pengobatan yang memadai selulitis orbita dapat
menyebabkan kebutaan dan juga penyakit berat. Infeksi dapat
menyebar ke otak (meningitis) dan sum sum tulang belakang atau
gumpalan darah dapat terbentuk dan menyebar dari pembuuh
darah disekitar mata yang melibatkan vena besar didasar otak (
sinus cavernosa) dan menghasikan gangguan yang serius yang
disebut trombosis sinus cavernosa.13

Menurut klasifikasi Chandler secara klinis seluitis orbita terbagi


menjadi 5 stadium yaitu stadium 1 : edema inflamasi), 2 seluitis orbita,
stadium 3 (abses periosteal), stadium 4 (abses orbita), stadium 5
(trombosis sinus cavernosus). Sedangkan secara radiologis
diklasifikasikan kedalam 3 kategori utama yaitu infitrasi difus jaringan
lemak, abses subperiosteal, abses orbita.

H. DIFERENSIAL DIAGNOSIS
Pada anak anak, beberapa penyakit orbita berkembang secepat
orbita. Rhabdomiosarkoma, pseudotumor, dan oftalmopati graves dapat
menyerupai selulitis obita.11 Selulitis preseptal, yang lebih sering ditemui,
harus disingkirkan. Peradangan pada selulitis preseptal adalah ke septum
anterior orbital; chemosis dan motilitas terbatas tidak hadir. Klinis
sindrom yang juga harus dipertimbangkan dalam diagnosis diferensial
meliputi sebuah pseudotumor orbital, periostitis orbital yang dapat disertai
dengan abses subperiosteal, dan abses orbital. Karakteristik utama yang
penting dari selulitis orbital untuk diagnosis diferensial adalah motilitas
okular signifikan terbatas (disemua arah). rhabdomyosarcoma juga harus
dipertimbangkan pada anak-anak.7
1. Selulitis Preseptal

Gambar 10. Selulitis preseptal 2,


Selulitis preseptal adalah infeksi jaringan subkutan dari
anteriorseptum orbital . Sebenarnya itu bukan penyakit orbital tetapi
dimasukkan di sini di bawah karena pembuluh darah vena wajah
adalah valveless dan selulitis preseptal bisa menyebar posterior untuk
menghasilkan selulitis orbital.2
Pada anak-anak, yang paling umum penyebab selulitis preseptal
yang mendasarinya adalah sinusitis. Selulitis preseptal pada anak di
bawah usia 5 itu sering dikaitkan dengan bakteremia, septikemia, dan
meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae,
bagaimanapun, penyebab ini preseptal dan orbital selulitis telah hampir
dieliminasi dengan pengenalan vaksin HIB. Saat ini, sebagian besar
kasus preseptal pada anak-anak adalah karena gram-positif cocci. Pada
remaja dan orang dewasa preseptal selulitis biasanya timbul dari
sumber infeksi supersfisial seperti inokulasi traumatis, atau Chalazion
.titik fokus yang terinfeksi seringkali sulit untuk menemukan karena
jaringan kelopak mata menjadi bengkak.2
Selulitis preseptal memberikan gejala edema pada kelopak mata
dan kulit periorbital tanpa keterlibatan dari orbit. Gambaran klinis
penyakit akut berupa yang periorbital bengkak, eritema dan hiperemi
dari kelopak. Demam mungkin berhubungan dengan leukositosis.9;
Reaksi pupil, ketajaman visual,dan motilitas okular tidak terganggu;
nyeri pada gerakan mata dan chemosis tidak ada tidak ada proptosis,
gerakan mata normal, konjungtiva normal, fungsi saraf optik normal.9
Tabel 1. Perbedaan gejala klinis celulitis preseptal dan celulitis orbita.2

2. Rhabdomiosarkoma

Gambar 11. Gambar rhabdomiosarkoma2


Rhabdomiosarkoma adalah tumor yang sangat ganas
orbita yang berasal dari otot-otot ekstraokular.
Rhabdomiosarkoma adalah tumor orbital primer yang paling
umum di antara anak-anak, biasanya terjadi di bawah usia 15
tahun.2 tumor dapat menghancurkan tulang orbital di dekatnya
dan dapat menyebar ke otak.8
Gejala klinis berupa adanya proptosis yang berkembang
secara cepat dan progresif dengan onset mendadak pada anak 7-8
tahun. Proptosis besar karena rhabdomyosarcoma terletak di
kuadran superonasal.2 Presentasi klinis mirip suatu proses
inflamasi. Tumor biasanya melibatkan kuadran superionasal;
namun dapat menyerang setiap bagian dari orbit.2

3. Pseudotumor

Gambar 12. Gambar Pseudotumor2


Penyebab pseudotumor orbital tidak diketahui. Salah satu
penyebab proptosis pada dewasa dan anak . istilah pseudotumor
dibuat untuk menandakan suatu proses nonneoplastik yang
menimbulkan tanda neoplasma orbital yakni proptosis. Lokasi
peradangan biasanya difus atau setempat, secara khusus mengenai
struktur bola mata. Mungkin juga terdapat perluasan kedalam
sinus kavernosus atau menings intrakranial. Awitanya biasanya
cepat dan sering disertai nyeri. Lokasinya biasanya unilateral,
bila mengenai kedua bola mata, kelainan ini sering disebut
vaskulitis.8
Gejala klinis berupa nyeri, reaksi inflamasi cukup parah
dengan pembengkakan kelopak mata, chemosis, dan
exophthalmos unilateral atau bilateral.Keterlibatan otot okular
menghasilkan motilitas terbatas dengan diplopia.12 Pasien datang
dengan onset subakut nyeri dengan gerakan mata, diplopia, sakit
kepala, dan tanda-tanda sistemik.
Pseudotumor bisa terjadi sepanjang lintasan dari kelenjar
lakrimal hingga ke apeks orbital dan dengan demikian
menghasilkan presentasi klinis yang bervariasi. Gejala yang
paling sering didapat yaitu:2
 Bengkak pada kelopak mata, proptosis, nyeri orbital, gerakan
mata terbatas, diplopia, chemosis dan kemerahan.
 Kebanyakan kasus bersifat unilateral, meskipun kedua bola
mata dapat terjadi.
 Kondisi ini biasanya terjadi pada usia antara 40 dan 50 tahun.
Namundapat terjadi pada semua usia
 Dapat Rekuren. Pada beberapa pasien inflamasi
berkepanjangan yang parah dapat menyebabkan fibrosis yang
progresif dari jaringan orbital
4. Dacrocystitis

Gambar 13. Dacrocisitis

Merupakan suatu infeksi atau inflamasi kantung


nasolakrimalis, namun bisanya disertai dengan ductus
nasolakrimalis.dacrocistitis bisa akut bisa kronik. Pada orang
dewasa lebih sering terserang perempuan daripada laki-laki,
dimana sekitar 70-83% kasus dacrocystitis terjadi pada wanita.
Bisa bayi dan dewasa usia diatas 40 tahun
Berdasarkan gejala bisa onset nyeri dan kemerahan, edema
periorbita, di daerah kantung media ,epipora, penurunan visus
akibat meningkatnya air mata pada permukaan mata secara
abnorma membiaskan cahaya, patogenesis berhubungan dengan
embriogenesis sistem ekskretoris lakrimalis.

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Kultur bakteri dapat diambil dari usapan hidung, usapan kunjungtiva
dan sampel darah
b. Pemeriksaan darah lengkap dapat mengungkapkan leukositosis.
c. X-ray sinus paranasalis untuk mengidentifikasi sinusitis terkait.
d. USG Orbital untuk mendeteksi abses intra-orbital.
e. CT scan dan MRI berguna:
- Dalam Membedakan Antara Preseptal Dan Selulitis Postseptal;
- Dalam Mendeteksi Abses Subperiosteal Dan Abses Orbital.
- Dalam Mendeteksi Ekstensi Intrakranial;
- Dalam Memutuskan Kapan Dan Dari Mana Untuk Menguras Sebuah
Abses Orbital.
Radiograf imaging merupakan Sebuah elemen penting dalam
evaluasi selulitis orbital. Computed tomography (CT) scan
memberikan gambaran pencitraan isi orbital dan sinus paranasal, yang
dapat mengkonfirmasi penyebaran infeksi eksternal ke dalam orbit,
Identifikasi penyakit sinus secara bersamaan, dan deteksi adanya abses
orbital dan subperiosteal. Sebaliknya CT scan kontras dapat berguna
dalam membedakan antara abses dan keterlibatan phlegmatous
jaringan inflamasi orbital. Lokasi umum untuk pembentukan abses
berdekatan dengan sinus paranasal. Secara khusus, lokasi sering abses
subperiosteal terdapat pada dinding orbital medial dan dasar orbital,
mengingat medial berdindnding tipis berdekatan dengan sinus ethmoid
dan daras orbital yang terletak di atas sinus maksilaris.3
Ada beberapa kontroversi mengenai apakah semua pasien yang
diduga selulitis orbita memerlukan CT scan, terutama untuk pasien
anak, di mana paparan radiasi berpotensirisiko kanker. Banyak dokter
percaya bahwa jika tanda-tanda klinis menunjukkan keterlibatan
orbital, segera pencitraan radiografi harus dilakukan untuk
mengkonfirmasi keterlibatan orbit, menilai keberadaan abses atau
benda asing, menentukan tingkat keterlibatan orbital, dan
mengevaluasi potensi sumber infeksi. Hal ini dibenarkan terutama
dalam kasus di mana pemeriksaan terbatas (anak-anak,signifikan
edema periorbital), ada kekhawatiran keterlibatan SSP, proptosis berat
dan optalmoplegia, ada tidaknya perbaikan atau respon terhadap
kemajuan meskipun sesuai pengobatan, dan mempertimbangkan
intervensi bedah.3
Magnetic resonance imaging (MRI) orbita adalah pilihan lain
dengan paparan radiasi yang minimal dan memberikan resolusi yang
baik pada jaringan lunak orbital dibandingkan dengan CT dan USG.
MRI dapat memberikan keuntungan lebih lanjut dalam evaluasi benda
asing yang nonlogam dan diduga adanya keterlibatan intrakranial.
Adapun Kerugian utama dari MRI,adalah membutuhkan waktu yang
lama untuk scanning, memerlukan sedasi dan konsultasi anestesi
pediatrik. Selain itu, Layanan MRI mungkin tidak tersedia di semua
rumah sakit.3
Secara umum bahwa CT Scan atau MRI orbit berguna dalam
menggambarkan tingkat dan sifat kerusakan infeksi pada kasus-kasus
yang rumit. Indikasi untuk CT scan di selulitis orbital:9
 Ketidakmampuan untuk secara akurat menilai visus
 Proptosis berat, oftalmoplegia, edema bilateral, atau memburuknya
ketajaman visual
 Tidak ada perubahan meskipun telah diberikan antibiotik IV dalam
24 jam
 Tanda-tanda atau gejala keterlibatan sistem saraf pusat
 Semua pasien yang diindikasikan drainase.

Gambar 14. CT Scan Kontras pada mata kiri potongan sagital. seorang
pasien yang memiliki selulitis orbital. Memebrikan gambaran proptosis
kiri, udara bebas intraorbital (panah padat), Pembentukan phlegmon, dan
opacification sinus paranasal kiri. penimbunan lemak intraconal
sepanjang lantai orbital (panah putus-putus).4

Pada CT scan, beberapa perubahan mungkin jelas dalam selulitis orbital,


termasuk infiltrasi lemak yang difuss, subperiosteal abses, dan abses orbital .
Benda asing mungkin dideteksi, tergantung pada karakteristikbenda asing.4
Gambar 15. MRI menunjukkan selulitis orbita yang berat di sebelah
kanan yang berhubungan dengan endophthalmitis dari luar. Perhatikan
beberapa loculations dalam segmen posterior mata kanan.3

J. PENATALAKSANAAN
1. Terapi antibiotik yang intensif untuk mengatasi infeksi. 2
Infeksi selulitis orbita adalah suatu kegawat daruratan dan
membutuhkan penanganan segera antibiotik intravena. Pasien dengan
selulitis orbita harus dirawat inap. Terapi antibiotik ini harus diberikan
pada kecurigaan klinis tanpa harus menunggu hasil pemeriksaan
kultur, sementara pemeriksaan penunjang seperti pencitraan dapat
dilakukan setelahnya..
Segera setelah didapatkan biakan hidung, konjungtiva dan darah,
harus diberikn antibiotik intravena sesuai bakteri penyebab. Selain itu,
dalam rangka untuk menyediakan cakupan yang lebih luas gram
negatif dan organisme anaerob, sefotaksim dan metronidazole atau
clindamycin biasanya bersamaan diberikan. Pilihan antibiotik lain
seperti piperacillin- Tazobactam, tikarsilin-klavulanat, dan ceftriaxone.
Untuk pasien alergi penisilin, vankomisin dalam kombinasi dengan
fluorokuinolon dapat dipertimbangkan. Pengobatan harus dimodifikasi
berdasarkan hasil sensitivitas dan resistensi lokal dan konsultasi
dengan bagian THT.3
Setelah mendapatkan kultur dari apusan hidung, konjungtiva dan
sampel darah, antibiotik intravena harus diberikan. untuk infeksi
staphylococcal dapat diberikan penisilinase (misalnya, oksasilin)
dikombinasikan dengan ampisilin harus diberikan. Untuk menangani
H. Influenzae terutama pada anak-anak, kloramfenikol atau asam
klavulanat juga harus ditambahkan. sefotaksim, ciprofloxacin atau
vankomisin dapat digunakan alternatif untuk menggantikan kombinasi
oksasilin dan penisilin.
Antibiotik yang tepat harus berada di dosis yang cocok dan aktif
terhadap Organisme dengan memberikan antibiotik spektrum luas:
Cefuroxime 1 · 5g setiap 8 jam (yang anak menerima dosis dikurangi),
bersama dengan Metronidazole 500mg setiap 8 jam.6 atau Ceftazidime
1gr setiap 8 jam IM dan metronidazole 500mg oral setiap 8 jam,
Sebagian kasus berespon dengan cepat terhadap pemeberian antibiotik.
Kasus yang tidak berespon mungkin memerlukan drainase sinus
paranasal melalui pembedahan. MRI bermanfaat untuk memutuskan
kapan dan dimana drainase abses orbita dilakukan.2 Selama proses
pengobatan berlangsung, dilakukan monitoring fungsi nervus optikus
setiap 4 jam dengan penilaian reaksi pupil, visus, dan collour vision.3
2. Obat analgesik dan anti-inflamasi yang membantu dalam mengontrol
rasa sakit dan demam.
3. Intervensi bedah. Indikasi meliputi unresponsivenes terhadap
antibiotik, penurunan visus dan adanya abses orbital atau
subperiosteal. Intervensi bedah berupa drainase abses dan sinus terkait,
4. FESS (Functional endoscopic sinus surgery)
Tabel 2. Daftar obat obatan pada selulitis orbita.2
K. KOMPLIKASI
Komplikasi selulitis orbita ini sangat sering jika tidak segera diobati:2
1. komplikasi pada okular biasanya buta dan termasuk keratopati, neuritis
optik dan oklusi arteri retina sentral.
2. Komplikasi Orbital lainnya berupa perkembangan selulitis orbital
menjadi abses subperiosteal dan / atau abses orbital
 Abses subperiosteal adalah akumulasi cairan purulen antara
dinding tulang orbital dan periosteum, yang paling sering terletak
di sepanjang dinding orbital medial. Secara klinis, abses
subperiosteal memiliki gambaran klinis selulitis orbital terkait
dengan eksentrik proptosis tetapi diagnosis pasti dikonfirmasi oleh
CT scan.
 Abses Orbital adalah akumulasi cairan dalam jaringan lunak
orbital. Secara klinis ditandai dengan proptosis yang berat,
ditandai chemosis, ophthalmoplegia, dan bintik purulen di bawah
konjungtiva, namun untuk memastikanya harus dikonfirmasi oleh
CT scan.
3. abses Temporal atau parotis dapat terjadi karena penyebaran infeksi di
sekitar orbit.
4. Komplikasi intrakranial seperti trombosis sinus cavernosus,
meningitis dan abses otak.
5. Septicemia general mungkin terjadi pada beberapa kasus.

L. PROGNOSIS
• Dengan pengenalan dan penanganan yang tepat, prognosis untuk
sembuh total tanpa komplikasi sangat baik.
• Selulitis orbital dapat berlanjut menjadi abses orbital dan menyebar
secara posterior menyebabkan trombosis sinus kavernosus.
• Penyebaran sistemik dapat menyebabkan meningitis dan sepsis.
• Pada studi terhadap pasien pediatrik, faktor risiko tinggi adalah sebagai
berikut:
– Usia di atas 7 tahun
– Abses subperiosteal
– Nyeri kepala dan demam yang menetap setelah pemberian
antibiotik IV.
• Pasien yang mengalami imunokompromais atau diabetes memiliki
kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami infeksi fungal.
KESIMPULAN

Selulitis orbita adalah infeksi aktif jaringan lunak orbita yang terletak
posterior dari septum orbita. Lebih dari 90% kasus selulitis orbita terjadi
akibat kasus sekunder karena sinusitis bakterial akut atau kronis.
Gambaran klinisnya antara lain demam (lebih dari 75% kasus disertai
lekositosis), proptosis, kemosis, hambatan pergerakan bola mata dan nyeri
pergerakan bola mata. Keterlambatan pengobatan akan mengakibatkan
progresifitas dari infeksi dan timbulnya sindroma apeks orbita atau
trombosis sinus kavernosus. Komplikasi yang terjadi antara lain kebutaan,
kelumpuhan saraf kranial, abses otak, dan bahkan dapat terjadi kematian.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kwitko GM. Preseptal cellulitis.


http://emedicine.medscape.com/article/1218009-overview. 2012. Diakses:
Juli 2018

2. Sullivan JA,. Orbita. Dalam : Vaughan DG, Asbury T, Riordan EP, editor.
Oftalmologi Umum Edisi 17. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC.
2007. p. 251-256.

3. Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology: a systemic approach. 7th


ed. Elsevier, 2011.

4. Khurana AK. Comprehensive Ophthalmology. 4th ed. New age


international, 2007. p. 377-378, 384-386.

5. Kersten RC, et al. (eds). Orbits, Eyelids, and Lacrimal System. Basic and
Clinical Science Course. Section 7. American Academy of
Ophthalmology. San Franscisco, California 2005; 42–4.

6. Chaudhry IA, et al. Outcome of Treated Orbital Cellulitis in a Tertiary Eye


Care Center in the Middle East. Ophthalmology. 2007; 114(2): pp. 345–
54.

7. Riyanto H, et al. Orbital Cellulitis and Endophthalmitis Associated with


Odontogenic Paranasal Sinusitis. Ind J Ophtalmol. 2009; 28-31

8. Maccheron LJ, et al. Orbital Cellulitis, Panophthalmitis, and Ecthyma


Gangrenosum in an Immunocompromised Host with Pseudomonas
Septicemia. Am J Ophthalmol. 2004; 137: 176–8.

9. Chaudry IA, Rashed WA. The Hot Orbit: Orbital Cellulitis. Middle East
Afr J Ophthalmol. 2012 Jan-Mar; 19(1): 34–42. Downloaded from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3277022/

10. Babu RP. A Case Report of Orbital Cellulitis. Indian Journal of


Mednodent and Allied Sciences Vol. 2, No. 3, November, 2014, pp- 286-
289
11. Sadovsky R, Givner LB. Periorbital versus orbital cellulitis. Pediatr Infect
Dis J. December 2002;21:1157–8. Downloaded from:
http://www.aafp.org/afp/2003/0315/p1349a.html

12. Hauser A, Fogarasi S. Periorbital and Orbital Cellulitis. Peds in Rev.


2010:31(6)242-9. Downloaded from:
http://peds.stanford.edu/Rotations/blue_team/documents/Periorbital_and_
Orbital_Cellulitis_Summary.pdf

13. Nasimidazeh, abdul. et al. Selulitis periorbita. http://teachmepaediatrics.co


m/ent/nose/peri-orbital-cellulitis. Diakses 19 juli 2018

14. Charles, T.Robert. et.al. Diferenaial Diagnosis Of the swolen Red Eyelid.2
015.American Academy Of Family phisicIans. Strong medicine For Ameri
ca.

15. Garrty, J. MD.et.al.Orbital Cellulitis. https://www.msdmanuals.com/home/


eye-disorders/eye-socket- disorders/orbital-cellulitis. Diakses 19 juli 2018

16. Gilroy, M.Anne. et al . Atlas of Anatomy Latin Nomenclature 2nd Edition.


2009. by Thieme Medical Publishers, Inc.

17. Carlisle, T Robert,And John Digiovanni, Et Al. 2015. Differential Diagnos


is Of The Swollen Red Eyelid. Tripler Army Medical Center, Honolulu,
Hawiii.

18. Keith A Lafferty, 2014. Md Adjunct Assistant Professor Of Emergency M


edicine, Temple University School Of Medicine; Medical Student Director
, Department Of Emergency Medicine, Gulf Coast Medical Center. https://
Emedicine.Medscape.Com/Article/784888-Medication. Diakses Juli 2018.

19. Grant, D Gilliland, MD; 2018. Dacrocystitis Workup. https://emedicine.m


edscape.com/article/1210688-workup#c4. Diakses 21 Juli 2018.