Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Remaja merupakan generasi penerus bangsa sehingga dalam

kehidupan perlu mendapat informasi dan pendidikan yang layak baik secara

ilmu pengetahuan maupun keagamaan. Pengetahuan yang benar dan

pemberian informasi tentang kesehatan reproduksi khususnya HIV/ AIDS ,

sangat penting untuk kehidupan remaja agar tidak terjebak dalam pola

kehidupan yang salah. Di Indonesia masih perlu ditingkatkan lagi informasi

tentang HIV/AIDS , mengingat data tentang pengetahuan HIV / AIDS yang

didapat remaja dari petugas kesehatan 60%, orang tua remaja 65%, dan

presentase tertinggi di perioleh remaja dari teman yaitu sebesar 77,3%, dari

data tersebut menunjukkan peran orang tua dan petugas kesehatan masih

kurang sehingga remaja lebih cenderung memilih bertanya pada teman .

Informasi yang diperoleh dari teman belum tentu sepenuhnya benar dan bisa

membawa dampak negatif bagi remaja itu sendiri (Putro,2009).

Kasus AIDS tertinggi dilaporkan di DKI dan kasus AIDS yang

bertahan hidup tertinggi di Papua (122,22/100.000). Proporsi penderita AIDS

perempuan Indonesia pada tahun 2000 (11,2%) dan pada triwulan III, 2010

(26%) meningkat sangat pesat. Penularan terbesar terjadi melalui hubungan

seksual (40,8%) dan pengguna narkoba suntik hanya 7,2% selama 10 tahun.

Kasus AIDS perempuan, tersebar adalah generasi muda (78,8%) meliputi

1
2

umur 20-29 tahun (47,8%) dan umur 30-39 tahun (31%). Poliklinik Pokdisus

HIV RSCM, periode Januari 2010-2012, kasus ODHA berobat jalan (1.922)

meliputi perempuan (16,69%) dan laki-laki (83,31%) jumlah seluruh kasus

lebih dari 5000 dengan kunjungan 60-100 kasus perhari, tingkat pendidikan

didominasikan SMA (57%) dengan status menikah (68%) dan janda (15,2%).

Komisi Penanggulangan AIDS mencatat bahwa remaja yang

berpengetahuan memadai tentang HIV dan pencegahannya(<15%) sangat

rendah. Remaja berusia 15-24 tahun berpengetahuan komprehensif (16,8%)

jauh dibawah target Milennieum Development Goals (MDGs) tahun 2015

(90%).

Data Riskesda menunjukkan tahun 2010 penduduk berusia 15tahun

yang pernah mendengar HIV/AIDS hanya 57,5% dan yang mempunyai

pengetahuan komprehensif pada level cukup hanya 14,3%.

Dengan perekonomian yang semakin maju dan perkembangan

teknologi yang cepat terserap, telah banyak mempengaruhi status sosial

masyarakat. Disisi lain informasi yang semakin bebas, melalui berbagai

media massa menjadikan perilaku dan gaya hidup remaja menjadi permisif

apalagi dengan maraknya adegan pornografi melalui berbagai macam media

seperti majalah, VCD/DVD, handphone, dan internet yang dengan mudah

dapat diakses oleh remaja. (Mustofa, 2010)

Berdasarkan penelitian Nasria, salah satu faktor yang mempengaruhi

pengetahuan remaja adalah informasi. Informasi kesehatan reproduksi dengan

mudah dapat dan didapatkan melalui media massa, orang tua, guru, maupun
3

teman. Banyak remaja yang mendapatkan informasi kesehatan reproduksi

dari internet (31,51%), majalah (21,92%), teman (32,3%), dan guru (16,44%).

Sedangkan penelitian yang dilakukan di Makassar tidak pernah mendengar

bahwa infeksi kelamin dapat ditularkan melalui hubungan seksual sebesar

59%, hanya 41% remaja yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS

(Hidayangsih,dkk,2009).

Laporan Epidemis AIDS Global (UNAIDS 2012) menunjukkan

bahwa terdapat 34 juta orang dengan HIV di seluruh dunia. Sebanyak 50% di

antaranya adalah perempuan dan 2,1 juta anak berusia kurang dari 15 tahun.

Di Asia Tenggara, terdapat kurang lebih 4 juta orang dengan HIV.

Menurut laporan pekembangan HIV – AIDS WHO – SEARO 2011,

sekitar 1,3 juta orang (37%) perempuan terinfeksi HIV. Dibanyak negara

berkembang, HIV merupakan penyebab utama kematian perempuan usia

reproduksi. (depkes 2013)

Situasi masalah HIV/AIDS di Indonesia Tahun 1987- september 2014

sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan September 2014,

angka kejadian HIV/AIDS masih tinggi terutama di DKI Jakarta Sebesar

32.782 , dan dari hasil SDKI-R Tahun 2014 menujukan bahwa pengetahuan

remaja umur 15-24 tahun tentang kesehatan reproduksi dan cara paling

penting untuk menghindari infeksi HIV masih terbatas. HIV/AIDS tersebar

di 381 (76%) dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.

Provinsi pertama kali ditemukan adanya kasus HIV/ AIDS adalah Provinsi
4

Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Sulawesi Barat pada tahun

2011. (Kemenkes 2014)

Berdasarkan penelitian Herawati terhadap remaja Siswa Menengah

Atas di Jakarta dengan hasil 76,3% remaja yang tidak berperan aktif dalam

mendapatkan informasi tentang HIV/AIDS dari sumber informasi baik media

cetak maupun elektronik dan 23,7% remaja berperan aktif dalam mencari

informasi tentang pengetahuan HIV/AIDS , 45,6% remaja berpengetahuan

tinggi terhadap HIV/AIDS ,sedangkan remaja berpengetahuan rendah tentang

HIV/AIDS 54,4%. Hal ini menunjukkan peran remaja dalam mancari

infomasi tentang HIV/AIDS masih sangat kurang.

Komisi penanggulangan AIDS (KPA) mengungkapkan bahwa kasus

HIV dan AIDS sampai dengan bulan Agustus 2010 semua kelompok umur

sejumlah 21.770 orang termasuk remaja. Selain itu secara umum

permasalahan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di Indonesia berdasarkan

survei Komnas Perlindungan Anak di 33 Provinsi tahun 2008 tentang remaja

SMP dan SMA yang pernah menonton film porno mencapai 97% . Remaja

SMA yang tidak perawan lagi 62,7% dan remaja yang pernah aborsi

mencapai 21,2%.

Dari data dan masalah yang diuraikan diatas maka penulis mencoba

melaksanakan penelitian untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja

tentang HIV/AIDS di DKI Jakarta khususnya RW 03 Kelurahaan Cipinang

Melayu dimana di RW 03 Kelurahaan Cipinang Melayu ini merupakan ruang


5

lingkup kerja bagi penulis dan belum pernah dilakukan penelitian tentang

HIV/AIDS.

1.2. Rumusan masalah

Berdasarkan data dari Kemenkes tahun 2015 disebutkan bahwa angka

kejadian HIV/AIDS masih tinggi terutama di DKI Jakarta Sebesar 32.782 , dan

dari hasil SDKI-R Tahun 2014 menujukan bahwa pengetahuan remaja umur

15-24 tahun tentang kesehatan reproduksi dan cara paling penting untuk

menghindari infeksi HIV masih terbatas . Keinginan untuk mencari tahu hal-hal

baru yang menggebu-gebu dimasa remaja , meningkatnya minat seks pra nikah

pada remaja , membuat remaja cenderung mencari informasi ke sumber yang

kurang tepat. Dengan meningkatnya kasus HIV baru di Jakarta dan kerentanan

remaja akan infeksi HIV ,maka dibutuhkan penelitian mengenai HIV AIDS

untuk remaja di RW 03 Kelurahaan Cipinang Melayu. Melihat fenomena ini

penulis terdorong untuk melakukan penelitian tentang Gambaran Pengetahuan

Tentang HIV / AIDS Pada remaja RW 03 Kelurahaan Cipinang Melayu.

1.3. Tujuan Dan Manfaat

Tujuan Dan Manfaat Umum :

Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja khususnya di Rw 03

Kelurahan Cipinang Melayu mengenai HIV/AIDS sehingga remaja mampu

menjaga dirinya dalam mencegah daripada penyakit HIV/AIDS itu sendiri.


6

1.4. Tujuan Dan Manfaat Khusus :

Memberikan informasi mengenai pengertian dari HIV/AIDS.

Memberikan informasi mengenai penularan HIV/AIDS.

Memberikan informasi mengenai sikap dan perilaku terhadap penderita

HIV/AIDS.

Memberikan informasi mengenai terapi medikamentosa dan non-

medikamentosa pada penderita HIV/AIDS.


7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan

2.1.1 Pengertian pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra

penglihatan , pendengaran , penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga (Notoatmodjo.

2013)

2.1.2 Tingkatan pengetahuan

Pengetahuan atau ranah kognitif merupakan yang sangat

penting dalam bentuk tindakan seseorang . Pengetahuan kognitif yang

tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:

1. Tahu (know) , diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dan

seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.

2. Memahami (comprehension), memahami diartikan sebagai suatu

kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang

diketahui , dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara

benar.

8
8

3. Aplikasi (aplication), diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi

real (sebenarnya).

4. Analisis (analysis), adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan

materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih

didalam suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu

sama lain.

5. Sintetis , menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan

atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru.

2. Evaluasi (evaluation), berkaitan dengan kemampuasn untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau

objek.

2.2 Remaja

2.2.1 Pengertian

Remaja adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa,

dimana terjadi pacu tumbuh, timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapainya

fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologik serta kognitif.

(Soetjiningsih, 2004)

Remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan

masa dewasa, yang dimulai pada saat terjadinya kematangan seksual yaitu

antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun yaitu menjelang

masa dewasa muda. Berdasarkan waktu usia remaja dibedakan atas tiga,
9

yaitu: Masa remaja awal yaitu 12-15 tahun, masa remaja pertengahan

yaitu 15-18 tahun, dan masa remaja akhir yaitu 18-21 tahun. Remaja tidak

mempunyai tempat yang jelas, yaitu bahwa mereka tidak termasuk

golongan anak-anak tetapi tidak juga termasuk golongan orang dewasa.

(Soetjiningsih, 2004)

Remaja dalam memasuki masa peralihan tanpa pengetahuan yang

memadai tentang seksual pranikah. Hal ini disebabkan orang tua merasa

tabu membicarakan masalah seksual dengan anaknya dan hubungan

orang tua anak menjadi jauh sehingga anak berpaling ke sumber-sumber

lain yang tidak akurat khususnya teman. (Sarwono, 2006).

2.3 HIV dan AIDS

2.3.1 Pengertian

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus

yaitu virus yang menyerang kekebalan tubuh (Sel-sel darah putih )

manusia yang biasanya menjadi benteng pertahanan tubuh melawan

penyakit dan infeksi yang mengancam jiwa. HIV merupakan virus

RNA dari family Retroviridae dan subfamily Lentivirane , sedangkan

AIDS adalah singakatan dari Acquire Immune Deficiency Syndrome

adalah sindrom dengan gejala penyakit infeksi oportunistik akibat

menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi HIV. Penyebab virus

AIDS itu sendiri terdapat di dalam cairan tubuh manusia yang telah

terinfeksi seperti di dalam darah, sperma, cairan vagina, air susu ibu

dan cairan tubuh laiinya. Kerusakan pada salah komponen dapat


10

mengganggu seluruh system, terutama bila yang rusak adalah

komponen utama. Ada dua pemeriksaan yang sering dipakai untuk

mendeteksi adanya antibodi terhadap HIV. Yang pertama adalah

ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay), bereaksi terhadap anti

bodi yang ada dalam serum dengan memperlihatkan warna yang lebih

tua jika terdeteksi antibodi virus dalam jumlah besar. Pemeriksaan

ELISA mempunyai sensitifitas 93 % sampai 98 % dan spesifitasnya

98 % sampai 99 % (Kuhni, 1985). Tetapi hasil positif palsu (atau

negatif palsu) dapat berakibat luar biasa, karena akibatnya sangat

serius. Oleh sebab itu pemeriksaan ELISA diulang dua kali, dan jika

keduanya menunjukkan hasil positif, dilanjutkan dengan pemeriksaan

yang lebih spesifik, yaitu Western blot. Pemeriksaan Western blot juga

dilakukan dua kali. Pemeriksaan ini lebih sedikit memberikan hasil

positip palsu atau negatif palsu. Jika seorang lebih dipastikan

mempunyai seropositif terhadap HIV, maka dilakukan pemeriksaan

klinis dan imunologik untuk menilai keadaan penyakit, dan mulai

dilakukan usaha untuk mengendalikan infeksi.

Manifestasi klinik Fase pertama

1. Fase dimana tubuh sudah terinfeksi HIV, gejala dan tanda belum

terlihat jelas, kadang kala timbul dalam bentuk influenza, tetapi

sudah dapat menulari orang lain.

2. Fase kedua Berlangsung sampai 2-10 tahun setelah terinfeksi HIV.

Hasil tes darah terhadap HIV sudah positif tetapi belum


11

menunjukan gejala-gejala sakit.

3. Fase ketiga Mulai muncul gejala-gejala penyakit yang terkait

dengan HIV seperti :

a. Keringat dingin berlebihan pada waktu malan

b. Diare terus-menerus

c. Pembengkakan kelenjar getah bening

d. Flu tidak sembuh-sembuh

4. Fase keempat Pada fase ini kekebalan tubuh berkurang dan timbul

penyakit tertentu . Fase ketiga dan keempat disebut sebagai fase

AIDS.

2.3.2 Masa Inkubasi

Perjalanan penyakit HIV/AIDS sejak masuk kedalam tubuh

dapat dibagi menjadi 4 stadium:

A. Stadium I (window Period)

- Rentang waktu pembentukkan antibodi HIV 1-6bulan

- Dengan tes HIV belum dapat mendeteksi keberadaan virus

- Tidak terdapat tanda-tanda khuss terapi HIV terus brkembang

didalam tubuh (Asimtomatik,Persistent Generalised

Lymphadenopathy)

- Penderita tidak menunjukkan gejala serius dan dapat

beraktifitas normal

B. Stadium II (tanpa gejala)

- Terjadi 2-10 tahun sejak terinfeksi HIV


12

- Penurunan berat badan

- Muncul ruam kecil dikulit (seborrheic dermatitis, prurigo,

infeksi jamur pada kuku, ulkus mulut berulang, angular

cheilitis)

- Herves zoster dalam 5 tahun terakhir

- infeki saluran nafas berulang (sinusitis bacterial, tonsillitis,

otitis media dan faringitis)

C. Stadium III: HIV Positif (munculnya gejala)

- Munculnya penyakit-penyaki terkait HIV,ditandai dengan

pembesaran kelenjar limfe Kelenjar getah bening.

- Keringat berlebihan dan demam berkepanjangan (>37,50C)

- Sariawan

- Penderita HIV hanya bisa berbaring <50% waktu berbaring

dibulan terakhir

D. Stadium IV

- Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah ditandai

dengan adanya bermacam-macam penyakit yang menyerang

tubuh secara bersama-sama

- Mulai masuk pada tahap AIDS

- Timbul inveksi oportunistik, seperti: Sarcoma Kaposi,

candiasis pada esophagus, trakhea,bronki dan paru.

2.3.3 Penularan AIDS:

HIV/AIDS dapat ditularkan melalui:


13

- Hubungan seksual degan pengidap HIV

- Transfusi darah yang tercemar HIV

- Menggunakan jarum suntik atau alat cukur bekas penderita HIV

- Dari ibu penderita HIV kepada bayi yang dikandungnya.

2.3.4 Pencegahan AIDS

- Abstinensi (Berpantang seks)

- Menunda kegiatan seks bagi remaja

- Hindarkan gonta-ganti pasangan

- Menggunakan kondom

- Menggunakan alat suntik steril

2.3.5 Kelompok dan Perilaku Resiko Tinggi

Menurut Wober/Ferriman beberapa kelompok yang

menanggung resiko tinggi AIDS adalah : pria homoseks dengan lebih

satu pasangan seksual, penyalahgunaan obat dengan suntikan,

pasangan seksual wanita dari pria dengan virus AIDS, penderita

hemofilia dan penerima transfusi darah , pria, atau wanita penganut

seks bebas, anak-anak dari ibu yang terinfeksi HIV. Kelompok lain

yang banyak terkena AIDS adalah pekerja seks(pelacur) tanpa

menggunakan kondom.
14

2.3.6 Sumber Informasi

Akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan tekonologi khususnya

di bidang komunikasi dan informasi dalam segala aspek kehidupan

secara drastis telah melanda dunia termasuk Indonesia. Batas-batas

antar negara semakin menipis, segala bentuk informasi yang

diproduksi di belahan bumi bagian barat dengan mudah masuk ke

belahan bumi bagian timur yang jelas sangat berbeda sistem social

budayanya.

Pemberitaan AIDS lewat media massa akhir-akhir ini

mengkhawatirkan terhadap fenomena penularan dan kemungkinan

munculnya reaksi sosial di kalangan masyarakat telah mengundang

media massa di indonesia memberitakan masalah AIDS di indonesia

secara menyuluruh dan membahasnya secara lebih terbuka jika

dibandingkan dengan pemberitaannya ketika pertama kalinya AIDS di

kenal di indonesia.(Muninjaya,1999)

Menurut Tondowidjojo (1985) (dalam Panggih, 2008), media

massa kuat sekali pengaruhnya dalam pembentukan pandangan hidup

manusia, dalam pengubahan lingkungan hidup manusia. Media massa

dimaksudkan sebagai proses penyampaian berita melalui sarana teknis

untuk kepentingan umum dan kelompok besar yang tidak dikenal,

dimana penerimaan dapat menjawab secara langsung pada berita itu.


15

Salah satu kebijakan atau keputusan yang telah telah di ambil

oleh panitia Nasional Penanggulangan AIDS yang telah diterima oleh

DEPKES adalah penyuluhan kesehatan kepada masyarakat dengan

memberikan informasi mengenai AIDS melalui media cetak dan media

lainnya. Remaja yang semakin banyak mencari informasi dan semakin

tinggi keingintahuannya akan HIV/AIDS maka akan mencari sendiri

informasi tersebut dengan demikian keterpaparan dengan media cetak

akan makin tinggi. (Rison, 2008). Media promosi kesehatan terbagi

menjadi tiga (tiga) yaitu media cetak (booklet, leaflet, flyer, flift chart,.

Rubrik atau tulisan pasa surat kabar atau majalah, poster dan foto),

media elektronik (televisi, radio, video, slide, film strip), dan media

papan (billboard). Selain itu media lainnya yang biasa digunakan

adalah jurnal, internet, spanduk dan umbul-umbul. (Panggih Dewi K,

2008)

Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan oleh wahyu 2011

yaitu Gambaran Pengetahuan Remaja Tentang HIV /AIDS bahwa dari

79 responden terdapat 60,76% belum mendapatkan informasi tentang

HIV /AIDS .
16

BAB III

METODE

3.1 Metode Kegiatan

Metode kegiatan ini bersifat penyuluhan dimana sebelum


dimulai pemberian materi penyuluhan peserta akan diberikan lembar
kuesioner / pre test untuk melihat gambaran pengetahuan peserta
tentang HIV/AIDS dan diberikan lembar kuesioner post test untuk
evaluasi tingkkat pengetahuan peserta setelah diberikan penyuluhan.

3.2 Waktu dan Tempat


Acara ini telah dilaksanakan pada:
Hari, tanggal : Jum’at, 8 Desember 2017
Waktu : Pkl 09.00-12.00 WIB
Tempat : Gedung pertemuan RW 03 Kelurahan Cipinang
Melayu
3.3 Sasaran
Sasaran khusus kegiatan ini adalah remaja khususnya Remaja
yang tinggal di RW 03 Kel cipinang melayu

3.4 Susunan Kegiatan


Waktu Kegiatan
08.30 - 09.30 Persiapan
10.00 - 10.15 Perkenalan dan pembagian form kuesioner pre test
10.15 - 10.50 Materi tentang HIV/AIDS
10.50 - 11.15 Materi infeksi menular seksual
11.15 - 11.35 Diskusi group
11.35 - 11.45 Post test
11.45 - 11.55 Penutupan

BAB IV
HASIL
17

Kegiatan Penyuluhan Kesehatan Pengetahuan HIV/AIDS berhasil


dilaksanakan tanpa kendala berarti dan mencapai tujuan yang diinginkan
yakni memberikan informasi kepada remaja, terutama remaja di rw 03
kelurahan cipinang melayu, mengenai HIV/AIDS meliputi definisi, cara
penularan, cara pencegahan hingga sikap dan perilaku terhadap penderita
HIV/AIDS.
Acara dimulai pukul 10.00 WIB yang dilakukan bersamaan dengan
pengisian absensi di gedung pertemuan rw 03 kelurahan cipinang
melayu, kemudian peserta diberikan soal pre test sebelum diberikan
materi sesuai dengan susunan materi yang telah disiapkan oleh dokter
internsip Puskesmas kelurahan cipinang melayu. Pada saat pemberian
materi, untuk mengurangi kebosanan tidak lupa diselingi dengan
beberapa games yang atraktif. Pukul 11.15 peserta dibagi menjadi
beberapa grup dengan dipimpin oleh 1 fasilitator (dokter muda), disinilah
terlihat antusias peserta yang dinilai berdasarkan banyaknya pertanyaan
yang diajukan ketika diskusi grup. Pukul 11.55 penutupan sekaligus post
test kemudian dilanjutkan dengan foto bersama.
berdasarkankan temuan pre-test dan post test dari 40 peserta remaja,
maka hasilnya akan dijabarkan dari tiap konten pertanyaan sebagai
berikut:
18

No Pertanyaan Jawaban Pre Test Post Test

1 Apa kepanjangan dari HIV Benar 24 39

2 Apa pengertian HIV Benar 17 37

3 Kepanjangan dari AIDS Benar 28 39

4 Penyebab AIDS Benar 30 36

5 Dimanakah virus berada di dalam Salah 22 30


tubuh kita?

6 Bagaimana penularan HIV/AIDS? Benar 19 30

7 Berapa lama masa inkubasi virus Benar 6 25


HIV/AIDS?

8 Penularan HIV/AIDS Benar 19 35

9 AIDS tidak bisa ditularkan lewat? Benar 14 36

10 Bagaimana cara mendeteksi virus Benar 4 30


HIV/AIDS?

11 Gejala infeksi akut HIV/AIDS Benar 8 33

12 Apa saja tanda dan gejala AIDS? Benar 15 33

13 Apakah HIV/AIDS Dapat Benar 10 33


disembuhkan?

14 Apa yang anda lakukan bila Benar 26 35


bertemu penderita AIDS?

15 HIV/AIDS adalah penyakit yang Benar 23 34


menyerang? 290= 48% 504=85%

Berdasarkan temuan pre test dan post test dari keseluruhan 40 peserta
terjadi peningkatan nilai yang signifikan. Hasil pre test menemukan nilai
rata-rata seluruh peserta adalah 48% dan nilai post test ditemukan rata-rata
85%.
Melalui intervensi berupa penyuluhan, ditemukan peningkatan
pengetahuan yang signifikan. Penyuluhan ini tidak secara langsung
menurunkan angka HIV/AIDS, namun pengetahuan remaja dan kesadaran
mereka dapat berpengaruh terhadap perilaku seksual remaja, dan perilaku
19

tersebut yang diharapkan bisa menurunkan angka kejadian HIV/AIDS


pada masyarakat RW 03 di wilayah kerja Puskesmas Cipinang Melayu.

Indikator Keberhasilan
 Peserta yang hadir > 80% yaitu sebanyak 40 orang
 Acara yang diselenggarakan berlangsung tepat waktu yaitu pukul 09.00
dan selesai pukul 12.00
 Antusias peserta cukup baik, dapat dilihat dari jumlah pertanyaan pada
saat diskusi grup yang diajukan >3 pertanyaan.
 Terdapat Hasil yang signifikan antara pre test dan post test setelah
pemberian penyuluhan.

BAB V
20

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kegiatan Penyuluhan Pengetahuan HIV/AIDS berhasil dilaksanakan
tanpa kendala berarti dan mencapai tujuan yang diinginkan yakni
memberikan informasi kepada remaja, terutama remaja dir w 03
KKelurahan Cipinang Melayu, mengenai HIV/AIDS yaitu pengenalan
tentang HIV/AIDS itu sendiri, penjelasan proses infeksinya, penjelasan
cara penularan, pengenalan tanda dan gejala, serta cara pencegahan dan
penaggulangannya, dan masih terdapat beberapa remaja yang mempunyai
tingkat pengetahuan yang rendah mengenai HIV/AIDS, hal itu menjadi
tugas dan tanggung jawab kita sebagai tenaga kesehatan untuk lebih gencar
dalam mempromosikan kesehatan terutama mempromosikan atau
memberikan pengetahuan tentang HIV/AIDS ini ke pada remaja khususnya
di DKI Jakarta mengingat kasus HIV/AIDS masih cukup tinggi dan naik
tiap tahunnya.
Keterbatasan akses dan informasi yang kurang tepat mengenai
seksualitas dan kesehatan reproduksi bagi remaja di Indonesia dapat
berdampak negatif dalam kehidupannya, misalnya banyaknya kasus free
seks, KTD, aborsi remaja, hingga penyakit menular seksual dan lain- lain.
Bila remaja dibekali pengetahuan tentang reproduksi dan pengetahuan
tentang HIV yang komprehensif, maka remaja dapat lebih
bertanggung jawab dalam berbuat dan mengambil keputusan
sehubungan dengan kesehatan reproduksinya. Peran keluarga, sekolah,
lingkungan maupun dinas terkait sangat penting agar tercipta generasi
remaja yang berkualitas.

5.2 Saran
21

Untuk dapat membantu menurunkan angka kejadian HIV/AIDS di


wilayah DKI Jakarta khususnya di wilayah Jakarta timur ini masih perlu
dengan lebih gencar dalam memberikan informasi informasi mengenai
HIV/AIDS sehingga jika pengetahuan tentang HIV/AIDS pada remaja
meningkat diharapkan para remaja tersebut dapat membentengi diri
mereka dengan pengetahuan yang mereka miliki, upaya upaya yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS pada
remaja antara lain :
1. Perlu diadakan sosialisasi mengenai HIV/AIDS dan upaya pencegahan
penularan pada remaja .
2. Perlu diadakan sosialisasi mengenai paradigma terhadap penderita
HIV/AIDS sehingga diskriminasi ataupun sikap negatif terhadap penderita
HIV/AIDS dapat dihilangkan.
3. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut dengan menentukan sampel yang
lebih banyak dengan lebih memerhatikan kelompok berisiko.
4. Sebaiknya upaya pemberantasan HIV/AIDS kedepannya dapat dilakukan
tidak hanya dari sektor kesehatan tetapi juga melalui sektor lain.

Daftar Pustaka
22

1. Medicine and Public Health, 4(1), 18-24 Juni 23, 2012.


Felicia, N. (2011). Pelajaran bahaya HIV-
AIDS masuk mata pelajaran. Oktober
2. 2, 2011. http://www.beritasatu.com/articles/read/2011/9/621
6/pelajaran-bahaya-hiv-aids-masuk-mata-pelajaran
3. Hastono, S. P. (2007). Analisis Data Kesehatan. Depok
: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
4. Hidayana, et al. (Ed). (2004). Seksualitas: teori dan
real itas. Jakarta: Program
5. Gender dan Seksualitas FISIP UI bekerja sama dengan
The
Ford Foundation.
6. Husodo, B. T. et al. (2008, Desember). Pengetahuan da
n
sikap konselor SMP dan
SMA dalam penyuluhan kesehatan reproduksi di kota Semar
ang. Jurnal Makara Kesehatan, 13 (2), 69
62. September 28, 2011.
7. Ike, D. (2008). Hubungan tingkat pengetahuan tentang HIV/
AIDS dengan sikapremaja terhadap HIV/AIDS di SMA Neg
eri 59 Jakarta.Laporan Penelitiantidak dipublikasikan, Unive
rsitas Indonesia, Depok, Indonesia.
8. Jameela, A. R. (2008). Remaja Indonesia masih sangat mem
butuhkan informasikesehatan reproduksi. Oktober 3, 2011.ht
tp://www.kesrepro.info/?q=node/407
9. Jumlah Penduduk berdasarkan Agama. Juni, 2012.
http://statistik.ptkpt.net/_a.php?_a=agama-1&info1=e
10. Kasus HIV/AIDS di Indonesia terus meningkat. Oktobe
r 2, 2011.
http://www.kesrepro.info/?q=node/339
23