Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

Histerektomi merupakan suatu tindakan penanganan untuk mengatasi


kelainan atau gangguan organ atau fungsi reproduksi yang terjadi pada wanita.
Dengan demikian, tindakan ini merupakan keputusan akhir dari penanganan
kelainan atau gangguan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter. 2
Namun, tindakan ini sangat berpengaruh terhadap sistem reproduksi wanita.
Diangkatnya rahim, tidak atau dengan saluran telur atau indung telur akan
mengakibatkan perubahan pada sistem reproduksi wanita, seperti tidak bisa
hamil, haid, dan perubahan hormon. 2
Pada beberapa kasus dan biasanya pada kasus dengan penyulit perdarahan
obstetric yang parah, tindakan histerektomi pascapartum mungkin dapat
menyelamatkan nyawa. Operasi dapat dilakukan dengan laparotomi setelah
pelahiran pervaginam, atau dilakukan bersamaan dengan sesar (disebut
histerektomi sesar). 4
Sebagian besar histerektomi paripartum dilakukan untuk menghentikan
perdarahan akibat atonia uterus yang tak teratasi, perdarahan segmen bawah
uterus yang berkaitan dengan insisi sesar atau implantasi plasenta, laserasi
pembuluh besar uterus, mioma besar, dysplasia serviks yang parah, dan karsinoma
insitu. Gangguan implantasi plasenta, termasuk plasenta previa dan berbagai
plasenta akreta yang sering berkaitan dengan sesar berulang, sekarang menjadi
indikasi tersering untuk histerektomi saesar. 4
Pengahambat utama histerektomi sesarea adalah kehawatiran akan
peningkatan pengeluaran darah dan kemungkinan kerusakan kerusakan saluran
kemih. Factor utama komplikasi tampaknya adalah apakah operasi dilakukan
secara elektif atau darurat. Morbiditas yang berkaitan dengan histerektomi darurat
secara substantive meningkat. Pengeluaran darah pada umumnya banyak dan hal
ini berkaitan dengan indikasi operasi. Jika dilakukan atas indikasi perdarahan,
pengeluaran darah hampir slalu besar. Memang, lebih dari 90 persen wanita yang
menjalani histerektomi pasca partum darurat membutuhkan tranfusi.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Istilah histerektomi berasal dari bahasa latin histeria yang berarti
kandungan, rahim, atau uterus, dan ectomi yang berarti memotong,
Histerektomi adalah suatu prosedur pembedahan mengangkat rahim yang
dilakukan oleh ahli kandungan. 5,6,7
Histerektomi adalah tindakan operatif yang dilakukan atas indikasi
obstetric untuk mengangkat rahim, baik sebagian (subtotal) tanpa serviks
uteri ataupun seluruhnya (total) berikut serviks uteri (Prawirohardjo, 2001).
Histeroktomi merupakan suatu tindakan penanganan untuk mengatasi
kelainan atau gangguan organ atau fungsi reproduksi yang terjadi pada
wanita. Dengan demikian, tindakan ini merupakan keputusan akhir dari
penanganan kelainan atau gangguan berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.
Namun tindakan ini sangat berpengaruh terhadap system reproduksi wanita.
Diangkatnya rahim, tidak atau dengan saluran telur atau indung telur akan
mengakibatkan perubahan pada system reproduksi wanita, seperti tidak bisa
hamil, haid dan perubahan hormone serta tidak bisa lagi hamil dan
mempunyai anak. Histerektomi biasanya disarankan oleh dokter untuk
dilakukan karena berbagai alasan. Alasan utamanya dilakukan histerektomi
adalah kanker mulut rahim atau kanker rahim. 5,6,7
Banyak hal yang dapat 'memaksa' praktisi medis dan pasien untuk
memilih tindakan pengangkatan kandungan. Fibroid atau mioma merupakan
salah satu penyebab tersering. Penyebab lainnya adalah endometriosis,
prolapsus uteri (uterus keluar melalui vagina), kanker (pada uterus, mulut
rahim, atau ovarium), perdarahan per vaginam yang menetap, dan lain-lain.
Histerektomi adalah pengangkatan uterus melalui pembedahan paling
umum dilakukan untuk keganasan dan kondisi bukan keganasan tertentu
(contoh endometriosis tumor), untuk mengontrol perdarahan yang
mngancam jiwa, dan kejadian infeksi pelvis yang tidak sembuh-sembuh
atau rupture uterus yang tidak dapat di perbaiki (Marylin 2008).

5
Jadi, dapat di simpulkan histerektomi adalah suatu prosedur
pembedahan mengangkat rahim yang umum di lakukan untuk keganasan
atau bukan keganasan.

2.2.Etiologi

 Fibroid, yaitu tumor jinak rahim, terutama jika tumor ini


menyebabkan perdarahan berkepanjangan, nyeri panggul, anemia,
atau penekanan pada kandung kencing.
 Endometriosis, dimana dinding rahim bagian dalam seharusnya
tumbuh di rahim saja, tetapi ikut tumbuh di indung telur (ovarium),
tuba Fallopi, atau organ perut dan rongga panggul lainnya.
 Prolapsus uteri, yaitu keluarnya kandungan melalui vagina.
Alasan terbanyak dilakukan histerektomi karena Mioma uteri. Selain
itu adanya perdarahan uterus abnormal, endometriosis, prolaps uteri (relaksasi
pelvis) juga dilakukan histerektomi. Hanya 10 % dari kasus histerektomi
dilakukan pada pasien dengan karsinoma. Fibrosis uteri (dikenal juga
leiomioma) merupakan alasan terbanyak dilakukannya histerektomi.
Leiomioma merupakan suatu perkembangan jinak (benigna) dari sel-sel otot
uterus, namun etiologinya belum diketahui. Meskipun jinak dimana artinya
tidak menyebabkan/berubah menjadi kanker, leiomioma ini dapat
menyebabkan masalah secara medis, seperti perdarahan yang banyak, yang
mana kadang-kadang diperlukan tindakan histerektomi. Relaksasi pelvis
adalah kondisi lain yang menentukan tindakan histerektomi. Pada kondisi ini
wanita mengalami pengendoran dari otot-otot penyokong dan jaringan
disekitar area pelvik. pengendoran ini dapat mengarah ke gejala-gejala seperti
inkontensia urine (Unintensional Loss of Urine) dan mempengaruhi
kemampuan seksual. Kehilangan urine ini dapat dicetuskan juga oleh bersin,
batuk atau tertawa. Kehamilan mungkin melibatkan peningkatan resiko dari
relaksasi pelvis, meskipun tidak ada alasan yang tepat untuk menjelaskan hal
tersebut.

6
Histerektomi juga dilakukan untuk kasus-kasus karsinoma
uteri/beberapa pre karsinoma (displasia). Histerektomi untuk karsinoma uteri
merupakan tujuan yang tepat, dimana menghilangkan jaringan kanker dari
tubuh. Prosedur ini merupakan prosedur dasar untuk penatalaksanaan
karsinoma pada uterus.
Untuk kasus-kasus nyeri pelvis, wanita biasanya tidak dianjurkan
untuk di histerektomi. Namun penggunaan laparaskopi atau prosedur invasif
lainnya digunakan untuk mencari penyebab dari nyeri tersebut. Pada kasus-
kasus perdarahan abnormal uterus, bila dibutuhkan tindakan histerektomi,
wanita/ pasien tersebut dibutuhkan suatu sample dari jaringan uterus (biopsi
endometrium). Untuk mengetahui ada tidaknya jaringan karsinoma/ pre
karsinoma dari uterus tersebut. Prosedur ini sering disebut sample
endometriae. Pada wanita nyeri panggul/ perdarahan percobaan pemberian
terapi secara medikamentosa sering diberikan sebelum dipikirkan
dilaksanakan histerektomi.
Maka dari itu wanita pada stadium pre menopause (masih punya
periode menstrual reguler) yang mempunyai leiomioma dan menyebabkan
perdarahan namun tidak menyebabkan nyeri, terapi Hormonal lebih sering
dianjurkan daripada tindakan histerektomi. Jika wanita tersebut mempunyai
perdarahan yang banyak sehingga menyebabkan gangguan pada aktifitas
sehari-hari, berlanjut menyebabkan anemia, dan tidak mempunyai kelainan
pada sampel endometriae, ia bisa dipertimbangkan untuk dilakukan
histerektomi.
Pada wanita menopause (yang tidak mengalami periode menstrual
secara permanen) dimana ia tidak ditemukan kelainan pada sample
endometriumnya namun ia mempunyai perdarahan abnormal yang persisten,
setelah pemberian terapi hormonal dapat dipertimbangkan dilakukan
histerektomi. Penyesuaian dosis/tipe dari hormon juga dibutuhkan saat
diputuskan penggunaan terapi secara optimal pada beberapa wanita.

2.3.Indikasi dan kontraindikasi

7
1. Indikasi
a. Ruptur uteri
b. Perdarahan yang tidak dapat dikontrol dengan cara-cara yang ada,
misalnya pada :
1) Atonia uteri
2) Afibrinogenemia atau hipofibrinogenemia pada solusio
plasenta dan lainnya.
3) Couvelaire uterus tanpa kontraksi.
4) Arteri uterina terputus.
5) Plasenta inkreta dan perkreta.
6) Hematoma yang luas pada rahim.
c. Infeksi intrapartal berat.
Pada keadaan ini biasanya dilakukan operasi Porro, yaitu uterus
dengan isinya diangkat sekaligus.
d. Uterus miomatosus yang besar.
e. Kematian janin dalam rahim dan missed abortion dengan kelainan
darah.
f. Inflamasi Pelvis karena infeksi
g. Prolapsis uterus, kondisi di mana rahim turun ke vagina karena
ligamen yang kendur atau kerusakan pada otot panggul bawah
h. Keganasan meliputi :
i. Kanker leher rahim 3
 Fibroids (tumor jinak yang tumbuh di dalam dinding otot rahim)
 Kanker serviks, rahim atau ovarium
 Endometriosis, kondisi berupa pertumbuhan sel endometrium di
bagian lain dari rahim
 Adenomyosis, kelainan di mana sel endometrium tumbuh
hingga ke dalam dinding rahim (sering juga disebut
endometriosis interna)
2. Kontraindikasi
a. Atelektasis

8
b. Luka infeksi
c. Infeksi saluran kencing
d. Tromoflebitis
e. Embolisme paru-paru.
f. Terdapat jaringan parut, inflamasi, atau perubahan endometrial
pada adneksa
g. Riwayat laparotomi sebelumnya (termasuk perforasi appendix) dan
abses pada cul-de-sac Douglas karenadiduga terjadi pembentukan
perlekatan.
Menurut Rasjidi (2008), indikasi histerektomi adalah:
1. Leiomioma uteri
Merupakan indikasi histerektomi tersering. Intervensi bedah
biasanya diindikasikan pada uterus yang berukuran 12-14 minggu
atau lebih. Indikasi lain adalah jika terdapat peningkatan ukuran
tumor secara cepat pada wanita pre
menopause. Indikasi lainnya apabila terdapat menometrorgia berat
yang menyebabkan anemia, nyeri akibat torsi mioma,dan penekanan
pada pelvis.
2. Prolaps uteri
Menjadi indikasi histerektomi jika timbul keluhan atau terdapat
ulserasi pada permukaan uterus yang prolaps.
3. Keganasan
Kanker endometrial uterus merupakan indikasi mutlak
histerektomi.Indikasi lain histerektomi adalah hiperplasia
endometrial dengan atipia,yang merupakan prekursor dari keganasan
endometrial kanker ovarium diatas stadium satu merupakan indikasi
histerektomi.
4. Endometriosis
Terutama pada pasien yang sudah tidak mengharapkan kehamilan
lagi.
5. Dysfunctional Uterine Bleeding

9
Terutama pada pasien yang gagal diterapi secara hormonal.
6. Infeksi pelvis
Jarang dilakukan. Terutama dilakukan pada pasien yang sudah
tidak menginginkan kehamilan lagi / pada infeksi uterin puerperal
yang tidak dapat dikontrol secara konservatif.
7. Masalah obstetrik
Histerektomi diindikasikan kepada pasien yang mengalami
perdarahanyang tidak terkontrol setelah aborsi / seksio secarea atau
infeksi berat.
8. Pengangkatan ovarium
Jika kedua ovarium perlu diangkat pada wanita usia lanjut
sebaiknyadilakukan pengangkatan uterus karena sudah tidak lagi
memiliki fungsidan berisiko menimbulkan penyakit.
9. Nyeri pelvis kronis
Nyeri pelvis kronis saat pasien melokalisasikannya pada uterus jaran
gmenjadi indikasi histerektomi. Hal tersebut sering kali merupakan
masalah psikiatrik.
10. Tumor trofoblastik
Mola hidatidosa dan koriokarsinoma biasanya dapat berhasil
diterapidengan kemoterapi. Akan tetapi jika terdapat peningkatan titer
hCG persisten, histerektomi dapat dipertimbangkan jika uterus diketahu
imenjadi lokasi tumor persisten.

10
2.4.Patofisiologi

2.5.Klasifikasi Histerekomi
Menurut Wiknjosastro (2005), berdasarkan luas dan bagian rahim
yangdiangkat, tindakan histerektomi dapat dikategorikan menjadi 4 jenis:
1. Histerektomi parsial (subtotal)
Pada histerektomi jenis ini, rahimn diangkat, tetapi mulut rahim (serviks) tetap
dibiarkan. Oleh karena itu, penderita masih dapat terkena kanker mulut rahim
sehingga masih perlu pemeriksaan pap smear (pemeriksaan leher rahim)
secara rutin. 5,6,7
Supraservikal Histerektomi digunakan untuk mengangkat uterus
sementara serviks ditinggal. Serviks ini adalah suatu area yang dibentuk oleh
suatu bagian paling dasar dari uterus, dan berada di bagian akhir (atas) dari
kanalis vaginalis. Prosedur ini kemungkinan tidak berkembang menjadi
karsinoma endometrium terutama pada bagian serviks yang ditinggal.
Wanita yang mempunyai hasil papsmear abnormal atau kanker pada
daerah serviks tidak cocok dilakukan prosedur ini. Wanita lain dapat

11
melakukan prosedur ini jika tidak ada alasan yang jelas untuk mengangkat
serviks. Pada beberapa kasus serviks lebih baik ditinggal seperti pada kasus-
kasus endometriosis. Prosedur ini merupakan prosedur yang sangat simple dan
membutuhkan waktu yang singkat. Hal ini dapat memberikan suatu
keuntungan tambahan terhadap vagina, juga menurunkan resiko terjadinya
suatu protrusi lumen vagina (Vaginal prolaps).
2. Histerektomi total
Pada histerektomi ini, rahim dan mulut rahim diangkat secara keseluruhan
termasuk mulut rahim (serviks). 5,6,7 Keuntungan dilakukan histerektomi total
adalah ikut diangkatnya serviks yang menjadi sumber terjadinya karsinoma
dan prekanker. Akan tetapi, histerektomi total lebih sulit daripada histerektomi
supraservikal karena insiden komplikasinya yang lebih besar. 1
Operasi dapat dilakukan dengan tetap meninggalkan atau mengeluarkan
ovarium pada satu atau keduanya. Pada penyakit, kemungkinan dilakukannya
ooforektomi unilateral atau bilateral harus didiskusikan dengan pasien. Sering
kali, pada penyakit ganas, tidak ada pilihan lain, kecuali mengeluarkan tuba
dan ovarium karena sudah sering terjadi mikrometastase. 1
Berbeda dengan histerektomi sebagian, pada histerektomi total seluruh
bagian rahim termasuk mulut rahim (serviks) diangkat. Selain itu, terkadang
histerektomi total juga disertai dengan pengangkatan beberapa organ
reproduksi lainnya secara bersamaan. Misalnya, jika organ yang diangkat itu
adalah kedua saluran telur (tuba falopii) maka tindakan itu disebut salpingo.
Jika organ yang diangkat adalah kedua ovarium atau indung telur maka
tindakan itu disebut oophor. Jadi, yang disebut histerektomi bilateral salpingo-
oophorektomi adalah pengangkatan rahim bersama kedua saluran telur dan
kedua indung telur. Pada tindakan histerektomi ini, terkadang juga dilakukan
tindakan pengangkatan bagian atas vagina dan beberapa simpul (nodus) dari
saluran kelenjar getah bening, atau yang disebut sebagai histerektomi radikal
(radical hysterectomy). 2
Ada banyak gangguan yang dapat menyebabkan diputuskannya tindakan
histerektomi. Terutama untuk keselamatan nyawa ibu, seperti pendarahan
hebat yang disebabkan oleh adanya miom atau persalinan, kanker rahim atau
mulut rahim, kanker indung telur, dan kanker saluran telur (falopi). Selain itu,
beberapa gangguan atau kelainan reproduksi yang sangat mengganggu

12
kualitas hidup wanita, seperti miom atau endometriosis dapat menyebabkan
dokter mengambil pilihan dilakukannya histerektomi. 2
3. Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral
Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral yaitu pengangkatanuterus,
mulut rahim, kedua tuba fallopi, dan kedua ovarium.Pengangkatan ovarium
menyebabkan keadaan penderita seperti menopause meskipun usianya masih
muda. 5,6,7
Histerektomi total dan salpingo-oporektomi bilateral atau dikenal dengan
nama Total Abdominal Hysterectomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy
(TAH-BSO) pengangkatan rahim, serviks, ovarium dan tuba falopi. TAH–
BSO merupakan suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat
uterus,serviks, kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada
dinding, perut pada malignant neoplasmatic desease, leymyoma dan chronic
endrometriosisTAH-BSO adalah suatu tindakan pembedahan dengan
melakukan insisi pada dinding perut untuk mengangkat uterus, serviks,kedua
tuba falopii dan ovarium pada malignant neoplastic diseas, leymiomas dan
chronic endometriosis.
Ooforektomi dan Salpingooforektomi (Pengangkatan Ovarium dan atau
Tuba Falopii) Ooforektomi merupakan suatu tindakan operatif mengangkat
ovarium, sedangkan salpingooforektomi adalah pengangkatan ovarium. Kedua
metode ini dilakukan pada kasus-kasus : kanker ovarium, curiga tumor
ovarium atau kanker tuba falopii (jarang). Kedua metode ini juga dapat
dilakukan pada kasus-kasus infeksi atau digabungkan dengan histerektomi.
Kadang-kadang wanita dengan kanker ovarium atau payudara tipe lanjut
dilakukan suatu ooforektomi sebagai tindakan preventif atau profilaksis untuk
mengurangi resiko penyebaran dari sel-sel kanker tersebut. Jarang sekali
terjadi kelainan secara familial.Pilihan teknik pembedahan tergantung pada
indikasi pengangkatan uterus, ukuran uterus, lebarnya vagina, dan juga
kondisi pendukung lainnya. Lesi prekanker dari serviks, uterus, dan kanker
ovarium biasanya dilakukan histerektomi abdominal, sedangkan pada
leimioma uteri, dilakukan histerektomi abdominal jika ukuran tumor tidak
memungkinkan diangkat melalui histerektomi vaginal. 1
4. Histerektomi radikal

13
Histerektomi radikal yaitu histerektomi diikuti dengan
pengangkatan bagian atas vagina serta jaringan dan kelenjar limfe dari sekitar
kandungan. Operasi ini biasanya dilakukan pada beberapa jenis kanker
tertentu untuk bisa menyelamatkan nyawa penderita. 5,6,7
Prosedur ini melibatkan operasi yang luas dari pada histerektomi
abdominal totalis, karena prosedur ini juga mengikut sertakan pengangkatan
jaringan lunak yang mengelilingi uterus serta mengangkat bagian atas dari
vagina. Radikal histerektomi ini sering dilakukan pada kasus-kasus karsinoma
serviks stadium dini. Komplikasi lebih sering terjadi pada histerektomi jenis
ini dibandingkan pada histerektomi tipe abdominal. Hal ini juga menyangkut
perlukaan pada usus dan sistem urinarius.

2.6.Teknik Operasi Histerektomi


Histerektomi dapat dilakukan melalui 3 macam cara, yaitu abdominal,
vaginal dan laparoskopik. Pilihan ini bergantung pada jenis histerektomi yang akan
dilakukan, jenis penyakit yang mendasari, dan berbagai pertimbangan lainnya.
Histerektomi abdominal tetap merupakan pilihan jika uterus tidak dapat dikeluarkan
dengan metode lain. Histerektomi vaginal awalnya hanya dilakukan untuk prolaps
uteri tetapi saat ini juga dikerjakan pada kelainan menstruasi dengan ukuran uterus
yang relatif normal. Histerektomi vaginal memiliki resiko invasive yang lebih rendah
dibandingkan histerektomi abdominal. Pada histerektomi laparoskopik, ada bagian
operasi yang dilakukan secara laparoskopi Selain itu, histerektomi dapat dilakukan
melalui irisan di perut atau melalui vagina. Pilihan teknik ini tergantung pada jenis
histerektomi yang akan dilakukan, jenis penyakit yang mendasari, dan berbagai
pertimbangan lain.5,6,7

14
Pada umumnya tindakan pengangkatan rahim ini dilakukan menggunakan
teknik open surgery, dengan membuat sayatan sekitar 15 cm pada dinding perut.
Namun saat ini tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara yang lebih
baik, yakni melalui vagina atau menggunakan laparoskopi. Kedua tindakan ini lebih
baik dibandingkan dengan open surgery karena waktu penyembuhan yang lebih
cepat, nyeri pasca operasi lebih ringan, serta tidak meninggalkan jaringan parut
(bekas luka) besar di peut. Pada operasi pengangkatan rahim melalui vagina bahkan
tidak ada luka sama sekali di perut. Laparoskopi memberi keuntungan dapat melihat
keadaan organ di sekitar rahim sehingga apabila didapatkan perlengketan atau
kelainan pada organ di sekitar rahim, lebih mudah untuk melakukan tindakan untuk
memperbaikinya.
Histerektomi dapat dilakukan melalui sayatan di perut bagian bawah atau
vagina, dengan atau tanpa laparoskopi. Histerektomi lewat perut dilakukan melalui
sayatan melintang seperti yang dilakukan pada operasi sesar. Histerektomi lewat
vagina dilakukan dengan sayatan pada vagina bagian atas. Sebuah alat yang disebut
laparoskop mungkin dimasukkan melalui sayatan kecil di perut untuk membantu
pengangkatan rahim lewat vagina.
Histerektomi vagina lebih baik dibandingkan histerektomi abdomen karena
lebih kecil risikonya dan lebih cepat pemulihannnya. Namun demikian, keputusan
melakukan histerektomi lewat perut atau vagina tidak didasarkan hanya pada
indikasi penyakit tetapi juga pada pengalaman dan preferensi masing-masing ahli
bedah.
Histerektomi adalah prosedur operasi yang aman, tetapi seperti halnya bedah
besar lainnya, selalu ada risiko komplikasi. Beberapa diantaranya adalah pendarahan
dan penggumpalan darah (hemorrgage/hematoma) pos operasi, infeksi dan reaksi
abnormal terhadap anestesi.

15
1. Histerektomi abdominal
Pengangkatan kandungan dilakukan melalui irisan pada perut, baik irisan
vertikal maupun horisontal (Pfanenstiel). Keuntungan teknik ini adalah dokter
yang melakukan operasi dapat melihat dengan leluasa uterus dan jaringan
sekitarnya dan mempunyai cukup ruang untuk melakukan pengangkatan
uterus. Cara ini biasanya dilakukan pada mioma yang berukuran besar atau
terdapat kanker pada uterus. Kekurangannya, teknik ini biasanya
menimbulkan rasa nyeri yang lebih berat, menyebabkan masa pemulihan yang
lebih panjang, serta menimbulkan jaringan parut yang lebih banyak
Parut yang dihasilkan dapat berbentuk horizontal atau vertikal,
tergantung dari alasan prosedur tersebut dilakukan dan ukuran atau
luasnya area yang ingin di terapi. Karsinoma ovarium dan uterus,
endometriosis, dan mioma uteri yang besar dapat dilakukan
histerektomi jenis ini. Selain itu histerektomi jenis ini dapat dilakukan
pada kasus-kasus nyeri panggul, setelah melalui suatu pemeriksaan
serta evaluasi penyebab dari nyeri tersebut, serta kegagalan terapi
secara medikamentosa. Setelah dilakukan prosedur ini wanita tidak
dapat mengandung seorang anak. Maka dari itu metode ini tidak
dilakukan pada wanita usia reproduksi, kecuali pada kondisi-kondisi
yang sangat serius seperti karsinoma. Histerektomi abdominal totalis
memperbolehkan operator mengevaluasi seluruh kavum abdomen serta
panggul, dimana sangat berguna pada wanita-wanita dengan karsinoma
atau penyebab yang tidak jelas. Dokter juga perlu melihat kembali
keadaan medis untuk memastikan tidak terjadinya resiko yang
diinginkan saat metode ini dilakukan, seperti jaringan parut yang luas
(adhesi). Jika wanita tersebut mempunyai resiko adhesi, atau ia
mempunyai suatu massa panggul yang besar, histerektomi secara
abdominal sangatlah cocok.
Adhesiolisis (Pembebasan Perlengketan)
Perlengketan pada organ kelamin wanita dapat disebabkan oleh
tiga hal,yakni infeksi, endometriosis, dan riwayat operasi organ perut.

16
Perlengketan ini sesungguhnya merupakan proses penyembuhan alami
tubuh untuk memperbaiki jaringan yang cedera atau terluka.
Cedera atau luka akibat operasi, infeksi maupun endometriosis ini
diperbaiki dengan membentuk jaringan baru di permukaan jaringan
yang rusak. Jaringan baru yang terbentuk inilah yang dapat
menyebebkan lengketnya organ tersebut dengan luka sayatan operasi
atau dengan organ lain disekitarnya. Pada sebagian orang perlengketan
ini tidak menimbulkan gejala. Apabila perlengketan ini menyebabkan
tarikan, puntiran Atau perubahan posisi dapat menimbulkan berbagai
keluhan terutama nyeri. Pada wanita, selain nyeri,
Perlengketan ini dapat pula menimbulkan infertility,terutama
apabila perlengketan terjadi pada organ saluran telur. Diagnosis
perlengketan organ kelamin dalam wanita ini didasarkan pada adanya
factor resiko riwayat operasi perut (open surgery), infeksi,keluhan nyeri
serta pemeriksaan dalam yang mendukung adanya perlengketan organ
kelamin dalam. Namun demikian, seringkali perlengketan ini dijumpai
tanpa sengaja saat dilakukan tindakan laparoskopi
diagnostik.Perlengketan ini dapat dihilangkan dengan melakukan
fisioterapi(misalnya Wurn technique)untuk perlengketan ringan,dan
tindakan operatif untuk perlengketan yang lebih hebat..
2. Histerektomi vaginal
Dilakukan melalui irisan kecil pada bagian atas vagina. Melalui irisan
tersebut, uterus (dan mulut rahim) dipisahkan dari jaringan dan pembuluh
darah di sekitarnya kemudian dikeluarkan melalui vagina. Prosedur ini
biasanya digunakan pada prolapsus uteri. Kelebihan tindakan ini adalah
kesembuhan lebih cepat, sedikit nyeri, dan tidak ada jaringan parut yang
tampak.
Prosedur ini dilakukan dengan cara mengangkat uterus melalui
vagina. Vaginal histerektomi ini merupakan suatu metode yang cocok
hanya pada kondisi-kondisi seperti prolaps uteri, hiperplasi
endometrium, atau displasia servikal. Kondisi ini dapat dilakukan
apabila uterus tidak terlalu besar, dan tidak membutuhkan suatu

17
prosedur evaluasi operatif yang luas. Wanita diposisikan dengan kedua
kaki terangkat pada meja litotomi. wanita yang belum pernah
mempunyai anak mungkin tidak mempunyai kanalis vaginalis yang
cukup lebar, sehingga tidak cocok dilakukan prosedur ini. Jika wanita
tersebut mempunyai uterus yang sangat besar, ia tidak dapat
mengangkat kakinya pada meja litotomi dalam waktu yang lama atau
alasan lain mengapa hal tersebut terjadi, dokter-dokter biasanya
mengusulkan histerektomi secara abdominalis. Secara keseluruhan
histerektomi vaginal secara laparaskopi lebih mahal dan mempunyai
komplikasi yang sangat tinggi dibanding histerektomi secara
abdominal.
3. Histerektomi laparoskopi
Teknik ini ada dua macam yaitu histeroktomi vagina yang dibantu
laparoskop (laparoscopically assisted vaginal hysterectomy, LAVH) dan
histerektomi supraservikal laparoskopi (laparoscopic supracervical
hysterectomy, LSH). LAVH mirip dengan histerektomi vagnal, hanya saja
dibantu oleh laparoskop yang dimasukkan melalui irisan kecil di perut untuk
melihat uterus dan jaringan sekitarnya serta untuk membebaskan uterus dari
jaringan sekitarnya. LSH tidak menggunakan irisan pada bagian atas vagina,
tetapi hanya irisan pada perut. Melalui irisan tersebut laparoskop dimasukkan.
Uterus kemudian dipotong-potong menjadi bagian kecil agar dapat keluar
melalui lubang laparoskop. Kedua teknik ini hanya menimbulkan sedikit
nyeri, pemulihan yang lebih cepat, serta sedikit jaringan parut.
Tindakan pengangkatan rahim menggunakan laparoskopi dilakukan
menggunakan anestesi (pembiusan) umum atau total. Waktu yang diperlukan
bervariasi tergantung beratnya penyakit, berkisar antara 40 menit hingga tiga
jam. Pada kasus keganasan stadium awal, tindakan histerektomi radikal dapat
pula dilakukan menggunakan laparoskopi. Untuk ini diperlukan waktu operasi
yang relatif lebih lama. Apabila dilakukan histerektomi subtotal, maka
jaringan rahim dikeluarkan menggunakan alat khusus yang disebut
morcellator sehingga dapat dikeluarkan melalui llubang 10 mm.Apabila
dilakukan histerektomi total, maka jaringan rahim dikeluarkan melalui vagina,
kemudian vagina dijahit kembali. Operasi dilakukan umumnya menggunkan

18
empat lubang kecil berukuran 5‐ 10 mm, satu di pusar dan tiga di perut bagian
bawah.
Metode jenis ini sangat mirip dengan metode histerektomi secara
vaginal hanya saja ditambah dengan alat berupa laparoskopi. Sebuah
laparoskopi adalah suatu tabung yang sangat tipis dimana kita dapat
melihat didalamnya dengan suatu kaca pembesar di ujungnya. Pada
wanita-wanita tertentu penggunaan laparaskopi ini selama histerektomi
vaginal sangat membantu untuk memeriksa secara teliti kavum
abdomen selama operasi. Penggunaan laparoskopi pada pasien-pasien
karsinoma sangat baik bila dilakukan pada stadium awal dari kanker
tersebut untuk mengurangi adanya penyebaran atau jika direncanakan
suatu oovorektomi. Dibandingkan dengan vaginalis Histerektomi atau
abdominal, metode ini lebih mahal dan lebih riskan terjadinya
komplikasi, pengerjaannya lama dan berhubungan dengan lamanya
perawatan di Rumah Sakit seperti pada vaginal histerektomi uterus
tidak boleh terlalu besar.

2.7. Persiapan Pre Operasi


2.7.1. Satu hari sebelum operasi
1. Persiapan urogenital
Dilakukan pengosongan kandung kemih dengan kateterisasi nkandung
kemih.
2. Obat-obat Premedikal
Yaitu penyuntikan pengantar pada pendrita yang sudah ditentukan
oleh ahli bius
3. Bahan yang harus dibawa bersama pasien ke kamar operasi
a. Status klien
b. Hasil-hasil laboratorium
4. Persiapan psikologis
a. Pasien dan keluarga perlu diberi kesempatan bertanya mengenai
fungsi reproduksi dan seksnya.

19
b. Beri penjelasan tentang operasi histerektomi yang akan
dilakukannya.
5. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Cek gelang identitas
b. Lepas tusuk konde, wig, tutup kepala dengan mitella.
c. Lepaskan perhiasan, cincin dan jam tangan.
d. Bersihkan cat kuku
e. Lepaskan kontak lens
f. Alat bantu pendengaran dapat dipasang bila pasien tidak dapat
mendengarkan tanpa alat.
g. Pasang kaos kaki anti emboli bila pasien resiko tingi terhadap
syok.
h. Ganti pakaian operasi
6. Transportasi ke kamar operasi
Perawat menerima status pasien, memeriksa gelang pengenal,
menandatangani inform concent, pasien dilindungi dari kedinginan
dengan memberi selimut katun.
2.7.2. Persiapan Operasi
1. Inform Concent
Surat persetujuan kepada pasien dan keluarga mengenai pemeriksaan
sebelum operasi, alasan, tujuan, jenis operasi, keuntungan dan
kerugian operasi.
2. Puasa
Pada operasi kecil, tidak perlu ada perawatan khusus. Hanya perlu
puasa beberapa jam sebelum operasi dan makan makanan ringan yang
mudah dicerna malam hari sebelumnya.
Pada operasi besar, pada hari akan dilakukan operasi, pasien hanya
mendapatkan terapi cairan saja. Pada persiapan praoperatif penderita
malnutrisi, juga diberikan hiperalimentasi per oral atau intravena.
3. Persiapan usus, persiapan usus praoperatif berguna untuk hal-hal
berikut:
a. Pengurangan isi gastrntestinal memberi ruang tambahan pada
pelvis dan abdomen sehingga memperluas lapangan operasi.

20
b. Pengurangan jumlah flora patgen pada usus menurunkan resiko
infeksi pascaoperasi
Cedera usus saat pembedahan tidak selalu berhasil untuk
dihindari, terutama sering terjadi pada pasien yang menjalani
operasi karsinoma, endometriosis, penyakit peradangan pelvis,
pasien dengan prosedur pembedahan berulang atau penyakit
peradangan usus.
4. Persiapan kulit
Persiapan kulit disarankan untuk dilakukan pada are pembedahan,
bukan karena takut terjadi kontaminasi, akan tetapi lebih karea alasan
teknis. Pasien dicukur hanya pada area disekitar insisi. Pencukuran
sebaiknya dilakukan segera sebelum operasi, untuk mengurangi resiko
infeksi pasca perasi. Membersihkan kulit dengan sabun antiseptic
pada malam hari sebelum operasi atau pagi hari dapat mengurangi
frekuensi infeksi luka pascaoperasi.
5. Persiapan vagina
Apabila terdapat infeksi vagina, sebaiknya diterapi sebelum operasi.
Vaginosis bacterial dapat diterapi dengan metrodinazole atau krim
klindamisin 2%. Pada wanita pasca menopause dengan atrofi mucosa
vagina, krim estrogen meningkatkan penyembuhan luka setelah
operasi vagina. Segera sebelum operasi, vagina dibersihkan dengan
larutan antisepsis, seperti iodine PVB, chlorhexidine atau octenidindil-
hydricloride.
6. Persiapan kandung kencing dan ureter
Segera sebelum pemeriksaan di bawah anestesi,kandung kencing
dikosngkan dengan kateterisasi. Jik akan dilakukan operasi denga
durasi lama, sebelumnya dipasang kateter folley.
Persiapan pre-operasi oleh petugas untuk penderita:
1. Menerangkan kepada penderita dan keluarganya alasan dilakukan operasi
dan memberikan pengertian serta kekuatan mental kepada mereka dalam
menghadapi keadaan ini. Diterangkan pula bahwa operasi untuk operasi ini
diperlukan izin / persetujuan dari penderita dan keluarganya.
2. Melakukan pengosongan kandung kencing. Pada operasi perabdominan di
pasang kateter menetap.

21
3. Mengosongkan isi rectum. Pada placenta previa tidak dianjurkan karena
dapat menyebabkan perdarahan.
4. Tentukan daerah yang akan dicukur, sebaiknya pencukuran dilakukan
langsung sebelum pembedahan.
5. Mencukur rambut pubis daerah genetalia eksterna dan rambut daerah
dinding perut pada operasi perabdominam.
6. Melakukan suci hama daerah operasi :
a. Daerah genetalia eksterna dan vagina dengan memakai larutan asam
pikrin, larutan betadine, larutan savlon dan sebagainya.
b. Daerah dinding perut dengan larutan betadine, larutan iodium atau
larutan savlonlalu dicuci lagi dengan latutan alcohol.
7. Jangan lupa bahwa penderita akan NPO sekitar 8 jam sebelum pembedahan.
Pemberian obat obatan selama itu harus diberikan secara IV atau IM.
Antibiotika harus diberikan sebelum pembedahan bilamana itu digunakan
sebagai profilaksis melawan peradangan.
8. Darah harus diambil untuk test pada pagi hari sebelum pembedahan pada
beberapa penderita, misalya glukosa darah pada penderita diabetes.
9. Darah harus dicocokan dengan penderita bilamana akan dilakukan transfuse.
Komponen darah(misal trombosit) harus disiapkan terlebih dahulu.
10. Penderita tidak boleh makan makanan padat selama 12 jam dan minum
cairan selama 8 jam sebelum pembedahan.
11. Pemberian cairan intravena sebelum pembedahan tidak diperlukan pada
berbagai kasus, tetapi pada penderita lanjut usia atau pada penderita yang
lemah.

2.8. Manifestasi Klinis post histerektomi


Setelah histerektomi, siklus haid atau menstruasi akan berhenti dan
wanita tidak dapat lagi hamil. Jika pada histerektomi juga dilakukan
pengangkatan ovarium (indung telur), maka dapat timbul menopause dini.
Setelah menjalani histerektomi, seorang wanita tidak lagi mendapatkan
ovulasi dan menstruasi. Hal ini juga berarti berkurangnya produksi hormon
estrogen dan progesteron yang dapat menyebabkan kekeringan pada vagina,
keringat berlebihan, dan gejala-gejala lain yang umumnya terjadi pada

22
menopause normal. Wanita yang menjalani salpingo-oporektomi bilateral
atau pengangkatan kedua ovarium biasanya juga diberi terapi pengganti
hormon untuk menjaga tingkat hormon mereka. Menurut Rasjidi (2008),
manifestasi klinis post histerektomi meliputi:
1. Berhenti menstruasi dan tidak akan bisa punya anak
2. Angka leukosit tinggi
3. Angka eritrosit rendah
4. Nyeri perut
5. Mual
6. Tidak nyaman menggunakan kateter
7. Sulit berkemih atau buang air kecil
8. Keluar cairan atau perdarahan vagina
9. Rasa lelah dan kelemahan
10. Konstipasi
2.9.Pemeriksaan Diagnosis
Begitu banyak teknik-teknik operasi pada tindakan histerektomi. Prosedur
operatif ideal pada wanita bergantung pada kondisi mereka masing-masing.
Namun jenis-jenis dari histerektomi ini dibicarakan pada setiap pertemuan
mengenai teknik apa yang dilakukan dengan pertimbangan situasi yang
bagaimana. Namun keputusan terakhir dilakukan dengan diskusi secara
individu antara pasien dengan dokter-dokter yang mengerti keadaan pasien
tersebut. Perlu diingat aturan utama sebelum dilakukan tipe histerektomi,
wanita harus melalui beberapa test untuk memilih prosedur optimal yang akan
digunakan :
1. Pemeriksaan panggul lengkap (Antropometri) termasuk mengevaluasi
uterus di ovarium.
2. Papsmear terbaru.
3. USG panggul, tergantung pada temuan diatas
Untuk menentukan jenis tumor, lokasi mioma, ketebalan
endometrium dan keadaan adnexa dalam rongg apelvis. Mioma juga dapat
dideteksi dengan CT scan ataupun MRI, tetapi kedua pemeriksaan itu lebih

23
mahal dan tidak memvisualisasi uterus sebaik USG. Untungnya
leiomiosarkoma sangat jarang karena USG tidak dapat membedakannya
dengan mioma dan konfirmasinya membutuhkan diagnose jaringan.
4. Foto BNO/IVP pemeriksaan ini penting untuk menilai masaa di rongga
pelvis serta menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter
5. Histerografi dan histeroskopi untuk menilai pasien mioma submukosa
disertai dengan infertilitas.
6. Laparoskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis
7. Laboratorium, darah lengkap, urine lengkap, gula darah, tes fungsi hati,
ureum, kreatinin darah.
8. Tes kehamilan
9. D/K (dilatasi dan kuretase) pada penderita yang disertai perdarahan untuk
menyingkirkan kemungkinan patologi pada rahim (hyperplasia atau
adenokarsinoma endometrium). 5,6,7
2.10. Efek Samping dan Komplikasi
1. Efek Samping
Efek samping yang utama dari histerektomi adalah bahwa seorang
wanita dapat memasuki masa menopause yang disebabkan oleh suatu
operasi, walaupun ovariumnya masih tersisa utuh. Sejak suplai darah ke
ovarium berkurang setelah operasi, efek samping yang lain dari
histerektomi yaitu akan terjadi penurunan fungsi dari ovarium,
termasuk produksi progesterone.
Efek samping Histerektomi yang terlihat :
a. Perdarahan intraoperatif
Biasanya tidak terlalu jelas, dan ahli bedah ginekologis sering kali
kurang dalam memperkirakan darah yang hilang (underestimate).
Hal tesebut dapat terjadi, misalnya, karena pembuluh darah
mengalami retraksi ke luar dari lapangan operasi dan ikatannya
lepas
b. Kerusakan pada kandung kemih

24
Paling sering terjadi karena langkah awal yang memerlukan diseksi
untuk memisahkan kandung kemih dari serviks anterior tidak
dilakukan pada bidang avaskular yang tepat.
c. Kerusakan ureter
Jarang dikenali selama histerektomi vaginal walaupun ureter sering
kali berada dalam resiko kerusakan. Kerusakan biasanya dapat
dihindari dengan menentukan letak ureter berjalan dan menjauhi
tempat tersebut.
d. Kerusakan usus
Dapat terjadi jika loop usus menempel pada kavum douglas,
menempel pada uterus atau adneksa. Walaupun jarang, komplikasi
yang serius ini dapat diketahui dari terciumnya bau feses atau
melihat material fekal yang cair pada lapangan operasi.
Pentalaksanaan memerlukan laparotomi untuk perbaikan atau
kolostomi
e. Penyempitan vagina yang luas
Disebabkan oleh pemotongan mukosa vagina yang berlebihan.
Lebih baik keliru meninggalkan mukosa vagina terlalu banyak
daripada terlalu sedikit. Komplikasi ini memerlukan insisi lateral
dan packing atau stinit vaginal, mirip dengan rekonstruksi vagina.
2. Komplikasi
a. Hemoragik
Keadaan hilangnya cairan dari pembuluh darah yang biasanya
terjadi dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak. Keadaan ini
diklasifikasikan dalam sejumlah cara yaitu, berdasarkan tipe
pembuluh darah arterial, venus atau kapiler, berdasarkan waktu
sejak dilakukan pembedahan atau terjadi cidera primer, dalam
waktu 24 jam ketika tekanan darah naik reaksioner, sekitar 7-10
hari sesudah kejadian dengan disertai sepsis sekunder, perdarahan
bisa interna dan eksterna.
b. Thrombosis vena profunda

25
Komplikasi hosterektomi radikal yang lebih jarang terjadi tetapi
membahayakan jiwa adalah thrombosis vena dalam dengan emboli
paru-paru, insiden emboli paru-paru mungkin dapat dikurangi
dengan penggunaan ambulasi dini, bersama-sama dengan heparin
subkutan profilaksis dosis rendah pada saat pembedahan dan
sebelum mobilisasi sesudah pembedahan yang memadai.
c. Infeksi
Infeksi oleh karena adanya mikroorganisme pathogen,
antitoksinnya didalam darah atau jaringan lain membentuk pus.
d. Pembentukan fistula
Saluran abnormal yang menghubungkan 2 organ atau
menghubungkan 1 organ dengan bagian luar. Komplikasi yang
paling berbahaya dari histerektomi radikal adalah fistula atau
striktura ureter. Keadaan ini sekarang telah jarang terjadi, karena
ahli bedah menghindari pelepasan ureter yang luas dari peritoneum
parietal, yang dulu bisa dilakukan. Drainase penyedotan pada ruang
retroperineal juga digunakan secara umum yang membantu
meminimalkan infeksi. 5,6,7
Komplikasi post operasi histerektomi menurut Abror (2004), adalah :
1. Syok
2. Retensi urin
3. Sepsis
4. Embolisme Pulmonal
5. Komplikasi Gastrointestinal
6. Cedera pada organ sekitar seperti usus, kandung kencing, ureter. Hal
ini terutama timbul apabila didapatkan perlengketan hebat pada
organ‐organ tersebut.
7. Perubahan teknik operasi menjadi open surgery : pada beberapa
keadaan misalnya perlengketan yang sangat hebat, operasi
laparoskopi lebih membawa resiko sehingga open surgery lebih
dipilih.

26
Pencegahan komplikasi
a. Pencegahan perlekatan
Perlekatan dapat dicegah dengn cara manipulasi jaringan secara
lembut dan hemostasis yang seksama. Untuk mempertahankan
integritas serosa usus, pemasangan tampon dgunakan apabila usus
mengalami intrusi menghalangi lapangan pandang operasi. Untuk
mencegah infeksi, darah harus dievakuasi dari kavum peritonei.
Hal ini dapat dilakukan dengan mencuci menggunakan larutan RL
dan melakukan reperitonealisasi defek serosa dengan hati-hati
b. Drainase
Pada luka bersih (aseptic), pemasangan drain untuk mengevakuasi
cairan yang berasal dari sekresi luka dan darah berguna untuk
mencegah infeksi. Pada luka terinfeksi pemasangan drain dapat
membantu evakuasi pus dan sekresi luka dan menjaga luka tetap
terbuka. System drainase ada yang bersiat pasif (drainase penrose),
aktif (drainase suction) da juga ada yang bersiat terbuka atau
tertutup.
c. Pencegahan thrombosis vena dalam dan emboli
1) Saat praoperasi, perlu dicari faktor resiko. Usahakan
menurunkan berat badan dan memperbaiki keadaan umum
pasien sampai optimal. Kontrasepsi oral harus dihentikan
minimal empat minggu sebelum operasi. Mobilisasi pasien
dilakukan sedini mungkin dan diberikan terapi fisik dan latihan
paru.
2) Upaya intraoperasi, dilakukan hemostasis yang teliti san
pencegahan infeksi. Selain itu, cegah juga hipoksia dan
hipotensi selama pembiusan. Hindari statis vena sedapat
mungkin, terutama dengan memperhatikan posisi kaki.
3) Pada pascaoperasi, antikoagulasi farmkologis dan fisik
dilanjutkan. Upaya fisik meliputi mobilisasi dini pada 4-6 jam
pertama pascaoperasi, bersamaan dengan fisioterapi.

27
Disamping itu bisa juga dnegan pemakaian stocking ketat dan
mengankat kaki.

2.11. Penatalaksanaan
1. Preoperative
Setengah bagian abdomen dan region pubis serta perineal dicukur
dengan sangat cermat dan dibersihkan dengan sabun dan air (beberapa
dokter bedah tidak menganjurkan pencukuran pasien). Traktus intestinal
dan kandung kemih harus dikosongkan sebelum pasien dibawa keruang
operasi untuk mencegah kontaminasi dan cidera yang tidak sengaja
pada kandung kemih atau traktus intestinal. Edema dan pengirigasi
antiseptic biasanya diharuskan pada malam hari sebelum hari
pembedahan, pasien mendapat sedative. Medikasi praoperasi yang
diberikan pada pagi hari pembedahan akan membantu pasien rileks.
2. Postoperative
Prinsip-prinsip umum perawatan pasca operatif untuk bedah abdomen
diterapkan, dengan perhatian khusus diberikan pada sirkulasi perifer
untuk mencegah tromboflebitis dan TVP (perhatikan varicose,
tingkatkan sirkulasi dengan latihan tungkai dan menggunakan stoking.
5,6,7

2.12. Pemulihan dan Diet Pasca Operasi

Pemulihan dari operasi histerektomi biasanya berlangsung dua


hingga enam minggu. Selama masa pemulihan, pasien dianjurkan untuk
tidak banyak bergerak yang dapat memperlambat penyembuhan bekas
luka operasi. Dari segi makanan, disarankan untuk menghindari makanan
yang menimbulkan gas seperti kacang buncis, kacang panjang, brokoli,
kubis dan makanan yang terlalu pedas. Seperti setelah operasi lainnya,
makan makanan yang kaya protein dan meminum cukup air akan
membantu proses pemulihan.

28
BAB III
LAPORAN KASUS

Tanggal Pemeriksaan : 15 April 2019


Ruangan : IGD Kebidanan
Jam : 04.30 WITA

I. IDENTITAS
Nama : Ny. S Nama Suami : Tn. M
Umur : 30 tahun Umur : 30 tahun
Alamat : Kab. Poso Alamat : Kab. Donggala
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Protestan Agama : Protestan
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA

II. ANAMNESIS
G3 P2 A0 Menarche : 12 tahun
HPHT : 10/07/2018 Perkawinan : 10 tahun
TP : 17/04/2019

Keluhan Utama :
Nyeri perut tembus belakang

Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri perut tembus belakang yang
dialami sejak satu hari SMRS. Pasien mengeluhkan adanya pelepasan darah,
pelepasan lendir, dan pelepasan cairan yang dialami sejak pukul 15.00 wita.
Pasien mengaku masih merasakan pergerakan janin pada pukul 20.00 wita.
Keluhan mual juga ia rasakan namun tidak disertai muntah. Tidak ada keluhan

29
lain termasuk demam, sakit kepala, dan pusing. BAB dan BAK lancar seperti
biasa.

Riwayat Penyakit Terdahulu:


DM (-), HT (-),Penyakit Jantung (-), Hipertiroid (-), Asma (-),
Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat penyakit diabetes, hipertiroid, hipertensi, jantung, dan asma tidak ada di
keluarga pasien

Riwayat Obstetri / Ginekologi :


Tgl/th Tempat Umur Jenis Anak
NO penolong Penyulit
Partus partus Kehamilan persalinan JK BB PB
1 2012 Rumah Aterm Normal Bidan - Lk - -
2 2014 Rumah Aterm Normal Bidan - Pr - -

Riwayat Haid :
Haid pertama pada umur 12 tahun. Pasien mengaku haid teratur dengan siklus 28-
30 hari, lama haid ±7 hari.
Riwayat Penggunaan Kontrasepsi: -
III. PEMERIKSAAN FISIK
KU : sakit sedang Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Kesadaran : compos mentis Nadi : 88 kali/menit
Konjungtiva : anemis: (-/-) Respirasi : 28 kali/menit
Ekstremitas : Edema (-/-) Suhu : 36,6 °C

 Kepala – Leher :
Bentuk simetris, kedua konjungtiva anemis (-/-), kedua sklera tidak ikterik,
mata cekung (-), eksoftalmus (-/-), telinga normal, otorhea (-), bentuk hidung
normal, rhinorhea (-), mukosa faring tidak hiperemis, karies dentis (-),
pembengkakan kelenjar getah bening (-).

30
 Thorax
Inspeksi : Pergerakan thoraks simetris, retraksi (-), sikatrik (-)
Palpasi : Vocal fremitus (+/+)
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada jantung, batas paru
hepar SIC VII linea mid-clavicula dextra, batas jantung dalam
batas normal.
Auskultasi : Bunyi pernapasan vesikular +/+, rhonki -/-, wheezing -/-. Bunyi
jantung I/II murni reguler

 Ekstremitas :
 Akral hangat + + Oedem - -
+ + - -

IV. PEMERIKSAAN OBSTETRI :


Abdomen :
Inspeksi : Bekas luka operasi (-), striae (-)
Auskultasi : DJJ (-)
Perkusi : Redup
Palpasi : L1 TFU 1 jari dibawah proc. xyphoideus (35 cm)
L2 Punggung – Kiri
L3 : Presentasi kepala
L4 : Sudah masuk PAP
HIS : 2x / 10 menit dengan durasi 15-20 detik

V. PEMERIKSAAN GINEKOLOGIK
Inspekulo : Tidak dilakukan
VT : Pembukaan 10 cm, porsio kenyal lunak, Penurunan kepala hodge
III teraba caput, ketuban pecah

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG

31
Darah Rutin (15 April 2019)
Leukosit 18,31 x103/μL
Eritrosit 3,80 x106/μL
Hemoglobin 11,1 g/dL
Hematocrite 32,6%
Platelet 259 x103/μL
Clotting Time 6 menit 35 detik
Bleeding Time 3 menit

Kimia Darah (15 April 2019)


GDS 114 mg/dl
SGOT 55 U/L
SGPT 60 U/L
Urea 34,6 mg/dl
Creatinin 1,26 mg/dl
HbsA Non reaktif
HCV Non reaktif

Urinalisis (15 April 2019)


Protein Positif 4 (+4)
Glukosa negatif (-)
Leukosit Positif (Penuh)
Eritrosit Positif (Penuh)
Silinder Negatif (-) / LPB
Epitel Positif (+) / LPB
Kristal Negatif (-) / LPB

VII. RESUME
Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri perut tembus belakang
yang dialami sejak satu hari SMRS. Pasien mengeluhkan adanya pelepasan darah,

32
pelepasan lendir, dan pelepasan cairan yang dialami sejak pukul 15.00 wita.
Pasien mengaku masih merasakan pergerakan janin pada pukul 20.00 wita.
Keluhan mual juga ia rasakan namun tidak disertai muntah. Tidak ada keluhan
lain termasuk demam, sakit kepala, dan pusing. BAB dan BAK lancar seperti
biasa.
Dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum baik, konjungtiva
anemis (-/-), tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 88 x/menit, respirasi 28x/menit,
suhu 36,6oC. Pemeriksaan abdomen ; DJJ 152 x/m, TFU 1 jari dibawah proc.
xyphoideus (35cm), punggung kiri, presentasi kepala, sudah masuk pintu atas
panggul, Pembukaan 10 cm, porsio kenyal lunak, Penurunan kepala hodge III
teraba caput, ketuban pecah.
Hasil pemeriksaan penunjang Darah Rutin Leukosit 18,31 x103/μL,
Eritrosit 3,80 x106/μL, Hemoglobin 11,1 g/dL, Hematocrite 32,6%, Platelet 259
x103/μL, Clotting Time menit 35 detik, Bleeding Time 3 menit. Kimia Darah
GDS 114 mg/dl SGOT 55 U/L SGPT 60 U/L Urea 34,6 mg/dl, Creatinin 1,26
mg/d,l HbsAg Non reaktif, HCV Non reaktif. Urinalisis ProteinPositif 4 (+4),
Glukosa negatif (-), Leukosit Positif (Penuh), Eritrosit Positif (Penuh), Silinder
Negatif (-) / LPB, Epitel Positif (+) / LPB, Kristal Negatif (-) / LPB.

VIII. DIAGNOSIS
GIIIPIIA0 gravid 38-39 minggu + Suspek IUFVD + Inpartu Kala II Fase Laten
IX. PENATALAKSANAAN
- IUFD RL 20 tpm
- O2 4 lpm/nasal canul
- Inj. Ceftriaxone 1 gr/12jam/IV
- Pasang Kateter
- Observasi His dan Kerja Persalinan

33
FOLLOW UP PREOPERASI

FOLLOW UP (15 April 2019)


S : sesak napas (+), nyeri perut (+), lemah (+), nyeri kepala (-), pusing (-),
jantung berdebar-debar (+), BAK (+) terpasang kateter, dan BAB (-),
O :Keadaan Umum : lemah
Kesadaran : Kompos mentis P :32 x/m
TD : 130/90 mmHg S : 36,5 °C
N : 92 x/m
Anemis (-/-)
Paru-paru: bunyi napas vesikuler, rhonki -/-
Jantung: BJ I/II regular, murmur (-),
DJJ: -
Ekstremitas: edema -/-
A : GIVPIIA1 gravid 34-35 minggu + IUFD
P:
- IVFD ringer laktat 20 tpm
- Ceftriaxone 2gr/12jam/IV
- O2 5 lpm/ nasal canul
- Metronidazole 0,5 gram
- Pemasangan Kateter
- Transfusi darah 2 kantong

34
LAPORAN PEMBEDAHAN

Diagnosis Prabedah : GIII PII A0 gravid 38-39 minggu+Kala II lama+IUFD


Diagnosis Pascabedah : PIIIA0 sc kala II lama in Ruptur Uteri + IUFD +
Histerektomi Total
Jenis Operasi : Cito Histerektomi
Nama Operasi : Sectio Secaria
Laporan Pembedahan :
1. Pasien berbaring terlentang dalam pengaruh spinal anastesi dan
terpasang infus kedua lengan
2. Disinfeksi lapangan kerja menggunakan betadine lalu pasang duk steril
3. Tandai abdomen menggunakan betadine untuk menentukan panjang
luka
4. Incisi abdomen dengan I 10 cm lapis demi lapis sampai tampak
5. Abdomen dipenuhi darah, kemudian cek uterus, tampak uterus sebelah
kiri ruptur dan tampak nekrosis
6. Bayi lahir dengan presentasi kepala, lahirkan placenta
7. Injeksi oxitocin uterus kemudian direncanakan untuk Histerktomi,
dilakukan operasi Histerektomi sesuai prolap
8. Bersihkan cavum abdomen lapis demi lapis, pasang drain sebelah kanan
kemudian relaksasi
9. Jahit abdomen lapis demi lapis
10. Jahit kulit lapis demi lapis
11. Jahit kulit dengan jahitan kosmetik
12. Operasi telah selesai

31
FOLLOW UP POST OPERASI

FOLLOW UP (16 APRIL2019)


S : sesak nafas (+), nyeri bekas operasi (+), mual(-), muntah (-), nyeri kepala
(-), pusing (-), BAK (+) terpasang kateter, dan BAB (-), flatus (+)
O :Keadaan Umum : sedang
Kesadaran : Kompos mentis P :30 x/m
TD : 120/80 mmHg S : 36,8 °C
N :106 x/m
Anemis (-/-)
Paru-paru: bunyi napas vesikuler, rhonki -/-
Jantung: BJ I/II regular, murmur (-),
Ekstremitas: edema -/-
Drain : 200 cc
Peristaltik (+)
A : PIIIA0 post operasi Histerektomi ec Ruptur Uteri + IUFD H1
P:
- IFVD ringer laktat + Dextrosan 5% 1:1 28 tpm
- O2 2 lpm/nasal canul
- Inj. Meropenem 1 gram/12jam/IV
- Inj. Gentamisin 1 amp/8jam/IV
- Inj. Ranitidine 50mg/8jam/IV
- Inj. Ketorolac 30mg/8jam/IV
- Inj. Asam Tranexamat 250mg/8jam/IV
- Tranfusi PRC 1 kantong
- Perawatan ICU

31
BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri perut tembus belakang yang
dialami sejak satu hari SMRS. Pasien mengeluhkan adanya pelepasan darah,
pelepasan lendir, dan pelepasan cairan yang dialami sejak pukul 15.00 wita. Pasien
mengaku masih merasakan pergerakan janin pada pukul 20.00 wita. Keluhan mual
juga ia rasakan namun tidak disertai muntah. Tidak ada keluhan lain termasuk
demam, sakit kepala, dan pusing. BAB dan BAK lancar seperti biasa. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum baik, konjungtiva anemis (-/-), tekanan
darah 110/80 mmHg, nadi 88 x/menit, respirasi 28x/menit, suhu 36,6oC. Pemeriksaan
abdomen ; DJJ 152 x/m, TFU 1 jari dibawah proc. xyphoideus (35cm), punggung
kiri, presentasi kepala, sudah masuk pintu atas panggul, Pembukaan 10 cm, porsio
kenyal lunak, Penurunan kepala hodge III teraba caput, ketuban pecah.
Manifestasi klinik tersebut menunjukkan adanya kemungkinan janin yang
dikandung oleh sang ibu tersebut mengalami Intra Uterine Fetal Death dari hasil
pemeriksaan denyut jantung janin sudah tidak ditemukan adanya denyut jantung.
Definisi dari IUFD itu sendiri adalah kondisi janin yang meninggal dalam kandungan
dengan berat janin lebih atau sama dengan lima ratus gram dan usia kehamilan lebih
dari atau sama dengan dua puluh minggu. Hal tersebut bisa dikarenakan oleh faktor-
faktor placenta yang tidak berfungsi dengan baik ataupun karena adanya perdarahan
yang hebat yang dialami oleh ibu kemungkinan terjadi peluruhan sebagian placenta
(abrubtio placenta) sehingga menyebabkan IUFD. Pada kasus ini pasien dianjurkan
untuk dilakukan persalinan normal untuk mengeluarkan janin namun pasien memiliki
his yang kurang baik sehingga diperlukan induksi persalinan. Pada kasus ini, pasien
menolak untuk dilakukan induksi persalinan sehingga tindakan yang dilakukan
selanjutnya ada sectio secaria untuk mengeluarkan janin yang telah mati di dalam.
Perdarahan yang hebat yang dialami ibu juga menyebabkan gejala klinis
lainnya seperti sesak napas yang dialami ibu. Dilakukan pemasangan O2 nasal canul

33
sebanyak 4 lpm untuk mengurangi sesak ibu. Selain itu dilakukan injeksi antibiotik
Ceftriaxone untuk mencegah terjadinya infeksi atau sepsi akibat IUFD pada ibu dan
pemberian antibiotik juga merupakan tindakan yang dilakukan sebelum memulai
operasi sectio cecaria untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial selama operasi.
Pada saat dilakukan pembedahan didapatkan adanya abdomen dipenuhi darah,
dan tampakan uterus sebelah kiri ruptur serta telah nekrosis. Hal tersebut yang
merupakan indikasi untuk kemudian dilakukan Histerektomi setelah melahirkan bayi
dan placenta. Histerektomi yang dilakukan pada kasus pasien ini adalah Histerektomi
Total dengan mengangkat seluruh uterus serta mulut rahim milik pasien mengingat
bahwa organ tersebut sudah tidak memiliki fungsi yang baik. Keuntungan dilakukan
histerektomi total adalah ikut diangkatnya serviks yang menjadi sumber terjadinya karsinoma
dan prekanker. Metode yang dilakukan adalah tehnik Histerektomi abdominal.
Setelah pengangkatan uterus dilakukan pasien diberikan terapi ringer laktat +
Dextrosan 5% 1:1 28 tpm dan O2 2 lpm/nasal canul untuk mengurangi sesak yang
dirasakan oleh pasien. Injeksi antibiotik Meropenem dan gentamisin diberikan untuk
mencegah terjadinya infeksi pada pasien akibat tindakan operasi. Pemberian
Ranitidine dan ketorolac untuk mengurangi rasa mual serta nyeri perut yang
dirasakan pasien sesudah operasi. Injeksi Asam Tranexamat diberikan untuk
mengurangi perdarahan pervaginam pada pasien setelah dilakukan operasi. Asam
tranexamat merupakan obat anti-fibrinolitik yang mampu menghambat plasminogen
menjadi plasmin (fibrinolisin) penghambatan tersebut mampu mencgah degradasi
fibrin, pemecah trombosit, peningkatan kerapuhan vaskular dan pemecahan faktor
koagulasi sehingga terjadi penghambatan plasminogen. Pasien juga diberikan
Tranfusi PRC 1 kantong untuk mencegah adanya anemia post operasi akibat
terjadinya perdarahan.

34
DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo, S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Cetakan ke-4. 2014.
2. Sudoyo, AW. Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiadi S. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta: InternaPublishing. 2009.
3. Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: 2013.
4. Kronenberg HM, Melmed S, olonsky KS, Larsen PR. Williams Textbook of
Endocrinology. 11th ed. Philadelphia: 2008.
5. Yokochi C, Rohen AJ, Drekol AL. Color Atlas of Anatomy: A Photographic
Study to Human Body. Edisi 6. Jakarta: EGC. 2007.
6. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL,
Casey BM, Sheffield JS. Williams Obstetrics 24th ed. New York:McGraw-
Hill,meducal Pub. Division, 2014
7. Rasjidi, Imam. 2008. Manual Histerektomi. Jakarta: EGC
8. Kasdu, Dini. 2008. Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarta: Puspa Swara
9. Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jilid 2. Edisi 2. Jakarta: EGC.
10. Leveno, Kenneth J . 2009. Obstetric wiliam. Jakarta : EGC.
11. Bagian obstetri & gineekologi FK. Unpad. 1993. Ginekologi. Bandung : Elstar
12. Friedman, Borten, Chapin. 1998. Seri skema Diagnosa & penatalaksanaan
Ginekologi Edisi 2. Jakarta : Bina Rupa Aksara
13. Saifudin, Abdul Bari, dkk. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo & JNKKR-POGI.
14. Carpenito, Lynda Juall, 2000. Buku saku Keperawatan, edisi 8. EGC. Jakarta
15. Engelsen IB, Albrechtsen S, Iversen OE. Peripartum hysterectomy-incidence
and maternal morbidity. Acta Obstet Gynecol Scand 2001;80:409–412.
16. Francois K, Ortiz J, Harris C, Foley MR, Elliott JP. Is peripartum
hysterectomy more common in multiple gestations? Obstet Gynecol
2005;105:1369–1372.

35