Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

“Infertility and Assisted Reproductive Technology (ART)”

Disusun Oleh:
Andika Nursari Putri
N 111 17 097

Pembimbing :
dr. Daniel Saranga, Sp.OG (K)

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS


KEPANITERAAN KLINIK
DIBAGIAN DEPARTEMEN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018
BAB I
PENDAHULUAN

Infertilitas adalah ketidakbisaan ataupun berkurangnya kapasitas manusia


untuk menghasilkan keturunan. Infertil bagi wanita ialah indung telur mengalami
kerusakan sehingga tidak mampu memproduksi sel telur. infertil bagi pria ialah
tidak dapat memproduksi sel spermatozoa sama sekali. Baik pria maupun wanita
yang infertil tetap mempunyai fungsi seksual yang normal. Tetapi sebagian orang
yang mengetahui dirinya infertil kemudian mengalami gangguan fungsi seksual
sebagai akibat hambatan psikis karena menyadari kekurangan yang dialaminya.
Sebanyak 21% pasangan di Amerika Serikat pernah mengalami infertilitas
dan prevalensi pasangan Amerika Serikat yang mengalami infertilitas sebanyak
7,2%. Di Indonesia sendiri sebanyak 5,6% pasangan usia subur memiliki masalah
infertilitas. Teknologi reproduksi buatan adalah salah satu terapi untuk masalah
infertilitas.
Inseminasi adalah salah satu metode dalam teknologi reproduksi buatan
atau yang lebih dikenal dengan assisted reproductive technology (ART).
Inseminasi buatan adalah proses bantuan reproduksi dimana sperma disuntikkan
dengan kateter ke dalam vagina atau rahim pada calon ibu dalam fase ovulasi.
Pada awal praktiknya, hasil ejakulasi yang langsung diinseminasi ke dalam
rahim menyebabkan kram rahim dan meningkatkan risiko infeksi tuba, hal ini
mengarah kepada kesimpulan bahwa praktik inseminasi sebaiknya tidak dilakukan
kecuali sudah dikembangkan lebih lanjut. Hadirnya teknologi in-vitro fertilisation
(IVF) yang membutuhkan perkembangan persiapan dan seleksi sperma, stimulasi
hormonal ovarium, penentuan waktu inseminasi dan metode transfer sperma
membuat teknologi inseminasi menjadi populer kembali karena luaran inseminasi
menjadi lebih aman dan tidak sakit. Penerapan teknologi reproduksi buatan di
Indonesia dijamin oleh hukum hak asasi manusia dan hak reproduksi namun harus
dilakukan berdasarkan undang-undang yang berlaku yaitu dilakukan oleh
pasangan perkawinan sah dan dilaksanakan sebagai bagian dari kesehatan
keluarga.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Infertilitas
Infertilitas adalah ketidakbisaan ataupun berkurangnya kapasitas manusia
untuk menghasilkan keturunan. Berdasarkan World Health Organisation
infertilitas didefinisikan sebagai kegagalan untuk mencapai kehamilan klinis
setelah 12 bulan atau lebih berhubungan seksual secara reguler tanpa
pengaman. Subfertilitas adalah kejadian kehamilan pada pasangan yang sudah
berusaha untuk hamil setelah 12 bulan percobaan.
Infertilitas disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah: faktor
laki-laki, faktor ovulasi, berkurangnya cadangan ovum, cedera tuba, adhesi
tuba, faktor rahim, gangguan sistemik, faktor serviks dan faktor yang tidak
dapat dijelaskan seperti endometriosis tanpa adhesi tuba ataupun
peritoneum.Faktor laki-laki berkontribusi pada 20-40% infertilitas.
Syarat-syarat kehamilan normal
1. Testis menghasilkan sperma
2. Ovarium menghasilkan ovum
3. Tuba fallopii patent
4. Endometrium/uterus mampu menunjang/mempertahankan kehamilan
5. Lendir serviks normal
Etiologi
1. Faktor suami
Faktor yang terpenting dari terjadinya infertilitas dari suami
adalah hasil analisis sperma. Faktor sperma ini berkisar 40-60% dari
keseluruhan kasus infertilitas. Analisis sperma merupakan
pemeriksaaan infertilitas yang mudah, murah dan aman tetapi
memberikan informasi sangat esensial. Hasil pemeriksaan sperma
mungkin sudah dapat menentukan arah penatalaksanaan selanjutnya
pada awal kunjungan. Perlu diperhatikan bahwa hasil analisis sperma
ini sangat bervariasi dari waktu ke waktu pada individu yang sama.
Analisis sperma yang kurang baik sebaiknya diperiksa 2-3 kali dengan
interval pemeriksaan 3-4 minggu.
2. Faktor istri
a. Usia Istri
Usia istri memegang peranan penting dalam infertilitas. Semakin
muda usia wanita maka semakin mudah untuk mendapatkan
keturunan.
b. Liang sanggama dan mulut rahim
Wanita dengan kelainan bawaan atau dapatan pada liang
sanggama atau mulut rahim sulit diharapkan terjadinya konsepsi.
Sering didapatkan sinekia,polip, dan kerusakan endoserviks pada
mulut rahim. Di samping itu infeksi yang menahun dapat
mengakibatkan reaksi imun yang mengganggu. Sumbatan
psikogen dapat terjadi seperti vaginismus atau dispareuni. Disini
perlu silakukan pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan
inspekulo, uji pasca sanggama, uji lendir serviks, pemeriksaan
dalam, pemeriksaan mikroskopis cairan vagina dan biakan bila
perlu.
c. Rahim
Biasanya didapatkan sinekia, endometris,mioma dan cacat
bawaan kavum uteri pada rahim. Infeksi menahun pada dinding
rahim yang tidak mendapatkan pengobatan secara tepat
mengakibatkan pelekatan dinding rahim di samping adanya polip
ataupun tumor. Untuk kasus ini diperlukan pemeriksaan yang
meliputi pemeriksaan dalam, biopsiendometrium,
histerosalpingografi, laparoskopi, dan biakan bila perlu.
d. Indung telur dan tuba
Faktor tuba ditemukan paling banyak dalam infertilitas. Hal itu
disebabkan oleh peradangan rongga panggul dan endometriosis.
Untuk mendapatkan kehamilan diperlukan sel telur yang masak
dan indung telru yang mampu menghasilkan hormon progesteron
yang mencukupi untuk mempertahankan kehamilan tersebut.
Pada kasus ini diperlukan pemeriksaan yang meliputi pertubasi,
histerosalpingografi dan laparoskopi.
Faktor indung telur sebagai penyebab infertilitas disebabkan oleh
anovulasi, defek fase luteal dan amenore dengan pengaruh
estrogen rendah. Untuk itu diperlukan pemeriksaan yang anatara
lain meliputi anamanesis riwayat haid, perubahan lendir serviks,
suhu basal badan, sitologi vagina, biopsi endometrium dan
pemeriksaan hormonal.
e. Peritoneum
Faktor peritoneum sebagai penyebab infertilitas umumnya
disebabkan antara lain pelekatan peritonium karena bekas
peradangan dan endometriosis. Pemeriksaan dengan laparoskopi
diagnostik merupakan pemeriksaan tahap akhir dalam pengelolaan
infertilitas untuk memeriksa faktor peritonium.
Prevalensi penyebab infertilitas adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Prevalensi penyebab infertilitas

Tabel 2.2 Prevalensi penyebab infertilitas pada wanita

Pola makan juga berpengaruh pada fertilitas. Wanita yang


kelebihan berat badan dan obesitas ditemukan lebih cenderung untuk
memiliki gangguan ovulasi dan infertilitas dan laki-laki yang obesitas
memiliki tingkat yang lebih tinggi unruk mengalami hipogonadotropik,
hipogonadisme dan kerusakan DNA sperma dibandingkan dengan laki-
laki dengan berat badan normal.
Pemeriksaan yang perlu dilakukan sebelum memulai terapi untuk
infertilitas adalah analisis air mani, konfirmasi ovulasi dan dokumentasi
patensi tuba.

2.2 Teknologi Reproduksi Buatan (InVitro Fertilization)


Inseminasi adalah prosedur untuk meletakkan sperma, baik yang
melalui proses ataupun tidak, ke dalam saluran reporduksi wanita yang
memungkinkan untuk terjadinya interaksi antara sperma dan sel telur tanpa
adanya persetubuhan. Tujuan dari penggunaan inseminasi intrauterine adalah
untuk meningkatkan laju konsepsi pada pasangan dengan memaksimalkan
jumlah sperma sehat yang mencapai tempat fertilisasi.
Assisted Reproductive Technology atau yang populer dengan
teknologi in vitro fertilization merupakan aplikasi teknologi dalam bidang
reproduksi manusia. In vitro fertilization dalam bahasa kedokteran disebut In
Vitri Fertilization (IVF). In Vitro berasal dari bahasa Latin yang berarti di
dalam sedangkan Fertilization adalah bahasaInggris yang memiliki arti
pembuahan.
Pelayanan terhadap in vitro fertilization dalam dunia kedokteran
sering dikenal dengan istilah fertilisasi – in – vintro yang merupakan
pembuahan sel telur oleh sel sperma di dalam tabung petri yang dilakukan
oleh petugas medis. In vitro fertilization merupakan suatu teknologi
reproduksi berupa teknik pembuahan sel telur (ovum) di luar tubuh wanita.
Prosesnya terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara hormonal,
pemindahan sel telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam
sebuah medium cair. Mempertemukan sel gemet betina (ovum) dengan sel
jantan (spermatozoon) dalam sebuah bejana (petri disk) yang didalam bejana
telah disediakan medium yang cocok (suhunya dan lembabnya) dengan
didalam rahim sehingga ayigote (hasil pembuahan) yang terjadi dari dua sel
tadi menjadi morulla (moerbei) dan kemudian menjadi blastuta
(pelembungan). Pada stadium blastuta calon bayi dimasukkan
(diinflantasikan) dalam selaput lendir wanita yang siap untuk dibuahi dalam
masa subur (sekresi).
Teknik in vitro fertilization pada manusia sebagai suatu teknologi
reproduksi berupa teknik menempatkan sperma di dalam vagina wanita,
pertama kali berhasil dipraktekkan pada tahun 1970. Awal berkembangnya
teknik in vitro fertilization bermula dari ditemukannya teknik pengawetan
sperma. Sperma bisa bertahan hidup lama bila dibungkus dalam gliserol yang
dibenamkan dalam cairan nitrogen pada temperatur -321 derajat Fahrenheit.
Pada mulanya program pelayanan ini bertujuan untuk menolong
pasangan suami istri yang tidak mungkin memiliki keturunan secara alamiah
disebabkan tuba falopii istrinya mengalami kerusakan yang permanen.
Namun kemudian mulai ada perkembangan dimana kemudian program ini
diterapkan pula pada pasutri yang memiliki penyakit atau kelainan lainnya
yang menyebabkan tidak dimungkinkan untuk memperoleh keturunan.
Kesuksesan perdana program in vitro fertilization yang dilakukan
secara konvensional/In Vitro Fertilization (IVF) dengan lahirnya Louise
Brown membuat program ini semakin diminati oleh negara-negara di dunia.
Di Indonesia, sejarah in vitro fertilization yang pertama dilakukan di RSAB
Harapan Kita, Jakarta, pada tahun 1987. Program in vitro fertilization tersebut
akhirnya melahirkan in vitro fertilization pertama di Indonesia, yakni
Nugroho Karyanto pada tahun 1988. Baru setelah itu mulai banyak
bermunculan kelahiran in vitro fertilization di Indonesia. Bahkan jumlahnya
sudah mencapai 300 anak.
Assisted reproductive technology (ART) adalah sebuah istilah
umum untuk metode yang digunakan untuk mendapatkan kehamilan diluar
cara alamiah. ART adalah teknologi reproduksi yang digunakan untuk
pengobatan infertilitas.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mendefinisikan
ART sebagai “semua perawatan kesuburan dimana ovum dan sperma
digunakan. Secara umum, prosedur ART termasuk mendapatkan ovum dari
ovarium wanita melalui operasi, menyatukan ovum dengan sperma di
laboratorium dan mengembalikannya ke dalam tubuh si wanita atau
mendonorkannya ke wanita lain”. Menurut CDC, “ART tidak termasuk
perawatn dimana hanya sperma yang menjadi objeknya (contoh: artificial
insemination) atau prosedur dimana seorang wanita meminum obat hanya
untuk menstimulasi produksi ovum tanpa keinginan untuk mengambil
ovumnya”.
Jadi, in vitro fertilization adalah metode sehingga terjadi pembuahan
dalam suatu wadah atau cawan petri (semacam mangkuk kaca berukuran
kecil) khusus yang hal ini dilakukan oleh petugas medis. Mungkin karena
proses pembuahan tersebut terjadi di cawan kaca (seolah seperti tabung),
akhirnya masyarakat mengenalnya sebagai pengertian bayi tabung. .

2.3 Indikasi dan Kontraindikasi


Indikasi
1. Faktor ovulasi Oligoovulasi adalah urutan kejadian normal yang dipantau
selama siklus pertengahan oleh penentuan hormon dan pemindaian
ultrasound, atau sindrom folikel yang sudah terluteinisasi yang tidak
ruptur.
2. Faktor serviks Faktor serviks dapat dikategorikan menjadi anatomikal dan
fungsional (hasil negatif tes paska-koitus berulang dengan kualitas sperma
motil <5 per lapang pandang dan pada waktu yang tepat).Gangguan
jumlah mukus pada serviks adalah salah satu contoh dari faktor serviks.
3. Faktor tuba Penyakit unilateral adhesif, oklusi unilateral, riwayat penyakit
inflamasi pinggang tanpa komplikasi.
4. Faktor endometriosis ringan
5. Faktor subfertilitas laki-laki
oDensitas sperma < 20 x 10 (gangguan berat < 5 x 106)
oMotilitas sperma < 40% (gangguan berat < 10%)
oMorfologi sperma normal < 14% (gangguan berat < 14%)
oEjakulasi retrograde
6. Faktor subfertilitas yang tidak dapat dijelaskan
7. Gangguan seksual
Kontraindikasi
1. Atresia serviks
2. Serviksitis
3. Endometritis
4. Obstruksi tuba bilateral
5. Oligospermia berat
6. Amenorrhea
Factor – Factor Yang Mempengaruhi In vitro fertilization Diadakan:
Banyak factor yang menjadi penyebab infertilisasi sehingga pasangan
suami istri tidak mempunyai anak, antara lain:
1. Faktor hubungan seksual, yaitu frekuensi yang tidak teratur (mungkin
terlalu sering atau terlalu jarang), gangguan fungsi seksual pria yaitu
disfungsi ereksi, ejakulasi dini yang berat, ejakulasi terhambat, ejakulasi
retrograde (ejakulasi ke arah kandung kencing), dan gangguan fungsi
seksual wanita yaitu dispareunia (sakit saat hubungan seksual) dan
vaginismua.
2. Faktor infeksi, berupa infeksi pada sistem seksual dan reproduksi pria
maupun wanita, misalnva infeksi pada buah pelir dan infeksi pada
Rahim.
3. Faktor hormon, berupa gangguan fungsi hormon pada pria maupun
wanita sehingga pembentukan sel spermatozoa dan sel telur terganggu.
4. Faktor fisik, berupa benturan atau temperatur atau tekanan pada buah
pelir sehingga proses produksi spermatozoa terganggu.
5. Fakror psikis, misalnya stress yang berat sehingga mengganggu
pembentukan set spermatozoa dan sel telur.
Untuk menghindari terjadinya gangguan kesuburan pada pria maupun
wanita, maka faktor-faktor penyebab tersebut tersebut harus dihindari.
Tetapi kalau gangguan kesuburan telah terjadi, diperlukan pemeriksaan
yang baik sebelum dapat ditentukan langkah pengobatannya.

2.4 Klasifikasi
Berdasarkan asal sumber sperma pada proses in vitro fertilization
maka secara teknis teknik in vitro fertilization terdiri dari empat jenis, yaitu:
1. Teknik in vitro fertilization dari sperma dan ovum suami isteri yang
dimasukkan kedalam rahim isterinya sendiri.
2. Teknik in vitro fertilization dari sperma dan ovum suami isteri yang
dimasukkan ke dalam rahim selain isterinya. Atau disebut juga sewa rahim
(Surrogate Mother).
3. Teknik in vitro fertilization dengan sperma dan ovum yang diambil dari
bukan suami/isteri.
4. Teknik in vitro fertilization dengan sperma yang dibekukan dari suaminya
yang sudah meninggal.
Secara garis besar penanganan infertile dikelompokkan :
• Induksi ovulasi
• Inseminasi buatan/IUI (suami atau donor)
• Teknologi Reproduksi Bantuan(TRB/ART) → IVF-ET,GIFT,ZIFT,ICSI

Secara umum ART/TRB meliputi prosedur Teknik-tehnik dibdg kedokteran


untuk membantu proses reprod.dg tujuan untuk mengatasi hambatan
bertemunya sel telur & spermatozoa sehingga terjadi konsepsi pada pasangan
infertil. Terdari pengambilan sel telur dr ovarium, mempertemukan dg
sperma→fertilisasi, hsl konsepsi dipindahkan ke kav.uteri
.Beberapa prosedur teknologi reproduksi buatan diantaranya adalah:
1. Inseminasi intrauterin (IUI): proses bantuan reproduksi dimana sperma
disuntikkan dengan kateter ke dalam rahim pada calon ibu dalam fase
ovulasi.
2. In vitro fertilization (IVF): proses bantuan reproduksi dimana sel telur dan
sperma diinkubasi bersama di laboratorium untuk membentuk embrio,
kemudian embrio dimasukkan ke dalam rahim calon ibu.
IVF-ET (Invitro Fertilization-Embryo Transfer) →Prosedur fertilisasi dg
menginduksi ovulasi dg obat hormonal kmd ambil sel telur dr ovarium lalu
dipertemukan dg spermatozoa hingga terjd fertilisasi,inkubasi hsl konsepsi
spi terjd pembelahan sel pd tkt tertentu kmd di pindahkan kedlm kavum
uteri mell kan.serviks
Indikasi & Syarat
Indikasi :-Kerusakan ke-2 tuba,Faktor suami/kualitas sperma jelek,
Faktor.serviks, Faktor.imunologik, Infertilitas yang tidak diketahui
penyebab. Infertilitas karena endometriosis
Syarat untuk pasutri :
1.Tlh dilakukan pengelolaan infert.lengkap
2.Terdpt indikasi yg sangat jelas
3.Memahami seluk beluk prosedur sec.umum
4.Menandatangani informed consent
5.Mampu biayai prosedur spi persalinan &m.bsrkan bayi.
Langkah-2 IVF-ET
• Stimulasi ovulasi→ oosit >1
• Preparasi sperma→masturbasi → diproses
• Petik ovum→transvag.USG/Laparoskopi
• Fertilisasi→inkubasi spi membelah
• Tandur alih embrio/transfer→±48j ssdh fert.
• Luteal support→progesteron
• Test kehamilan kira2 13 hr stlh transfer

3. GIFT (Gamet Intrafallopian Tube Transfer)


Salah 1 btk modif.fertilisasi invitro. Prosedur memindahkan ovum yang
telah diaspirasi bersama dengan sejumlah sperma langsung ke dalam
saluran tuba falopi, jadi fertilisasi dapat tetap terjadi dalam tubuh wanita
• Pertama dilakukan o/ Ricardo Asch ’84 di San Antonio,Texas
• Perbedaan dg IVF→proses konsepsiterjd sec alamiah dalam tbh
wanita,bukan di Lab/diluar
• Indikasi hampir sm dg IVF-ET kecuali bhw pihak wanita
memp.setidaknya 1 saluran tuba yg berfs baik & faktor
kepercayaan/agama yg tdk menghendaki konsepsi diluar tbh wanita.
• Stimulasi ovulasi = IVF ttp ovum pick-up dilakukan
sec.laparoskopi,sperma suami yg sdh diproses diltkkan bersama dg ≤
4 oosit dlm medium inseminasi kmd dimsk kan bersm ke tuba/fimbria
mell kateter via laparoskopi, diharapkan fertilisasi terjd di fimbria &
berjln ke kavum uteri seperti kehamilan normal jd lbh fisiologis dp
IVF-ET ttp teknik ini sdh banyak ditinggalkan.
4. ZIFT (Zygote Intrafallopian Tube Transfer)
• Zygote intrafallopian transfer (ZIFT) = Prosedur pemindahan zigot
sebagai hasil dari IVF ke dalam tuba falopi menggunakan
laparoscopy.
• Salah 1 btk modif. IVF konvensional yi. Memindahkan hsl konsepsi
tingkat zigot (pembelahan 2 sel) kedlm tuba yg terbuka mell
laparoskopi
• Kerugian ZIFT →proses pemindahan zigot membthkan laparoskopi &
prosedur bedah minor, disamping biaya lbh mahal

5. MICROMANIPULATION (SUZI & ICSI)


Teknik ini dilakukan pada yang mengalami mslah infertil berat terutama
fk.pria. Intra-cytoplasmic sperm injection. ICSI : proses bantuan
reproduksi dimana sperma disuntikan kedalam sel telur dan diinkubasi di
dalam laboraturiom untuk membentuk embrio, kemudian embrio
dimasukkan ke dalam rahim calon ibu.
• SUZI → teknik manipulasi mikro dg menyuntikkan 4-5 sperma ke rgg
vitellina
• ICSI → teknik manipulasi mikro dg menyuntikkan 1 sperma lsg ke
sitoplasma oosit
• Indikasi:semua kel.sperma berat (obstruk si,varikokel,duktus ejak
abn,postop/vasek)

Langkah-langkah prosedur ICSI


• Stimulasi ovulasi = dg metode ART lain
• Ekstraksi sperma → masturbasi atau pembedahan
(MESA,PESA,TESE)
• Petik ovum = dg metode ART lain, oosit dibersihkan dr kum.ooforus
& korona radiata sec mekanik & enzimatik
• Manipulasi mikro & fertilisasi dg ICSI
• Proses konsepsi sljtnya =dg ART lain
• Transfer embrio ke kav.uteri =ART lain.
Intracytoplasmic sperm injection (ICSI) = Proses penyuntikan sebuah
sperma langsung ke dalam sel telur. Untuk kasus dimana si pria tidak
dapat mengeluarkan spermanya lewat ejakulasi, maka sperma diambil dari
epididimis atau testis. Apabila berasal dari epididimis, prosesnya disebut
MESA (Microsurgucal Epidymal Sperm Aspiration). Kalau berasal dari
testis, prosesnya bernama TESE (Testicular Sperm Extraction).
American Society of Reproductive Medicine pd th ’96
mempublikasikan angka kebrhslan ICSI spi fertilisasi = 50%, spi std
pembelahan 80%, ttp hanya 15-20% yg mampu lahir menjadi bayi sehat.
Hsl kehmlan ICSI Jan ’96-Juni’97= 30,6%Angka kecacatan bayi ICSI tdk
berbeda dg angka kecacatan hamil normal.
Bantuan pihak ketiga:
oDonasi sperma
oDonasi sel telur
oIbu pengganti (surrogate mother)
oDonasi embrio
Pemilihan metode ART/TRB
• Tergtg: Paramtr spermatozoa awal & hsl tuaian stlh persiapan/proses
sperma dan kelainan pihak istri
• IUI/GIFT/ZIFT bl fk imunologis & fk lendir serviks + ttp 1 tuba
minimal hrs berfs baik
• IVF/ICSI bl ada fk tuba,rwyt IVF gagal & fk sperma
Terdapat metode lainnya yang jarang dilakukan termasuk :
1. Transvaginal oocyte retrieval atau oocyte retrieval (OCR) = Proses
dimana sebuah jarum kecil dimasukkan menembus dinding vagina dan
dituntun dengan ultrasound menuju folikel ovarium untuk mengambil
cairan yang mengandung sel telur.
2. Autologus Endometrial Coculture = Teknik yang menempatkan sel telur
pasien yang telah dibuahi di atas lapisan sel dari endometriumnya
sendiri, menciptakan lingkungan yang lebih alami untuk perkembangan
embrio dan memaksimalkan kesempatan hamil untuk IVF.
3. Assisted Zona Hatching (AZH) = Suatu usaha untuk meningkatkan
proses implantasi embrio di endometrium dengan ‘membuka’ zona
pelusida dengan micromanipulator.
2.5 Prosedur
Proses Pembentukan In vitro fertilization (IVF)
Cara pembuatan in vitro fertilization atau proses terjadinya in vitro
fertilization, untuk memulai proses in vitro fertilization dibutuhkan tekad
yang kuat mengingat prosesnya yang tidak mudah. Berikut ini adalah tahap-
tahap proses in vitro fertilization:
1. Dokter akan melakukan seleksi pasien terlebih dahulu, apakah masih
layak untuk mengikuti program in vitro fertilization atau tidak. Bila
layak, barulah pasien bisa masuk dan mengikuti program in vitro
fertilization.
2. Isteri diberi obat pemicu ovulasi yang berfungsi untuk merangsang
indung telur mengeluarkan sel telur yang diberikan setiap hari sejak
permulaan haid dan baru dihentikan setelah sel – sel telurnya matang
3. Kemudian, dilakukan stimulasi dengan merangsang indung telur si
calon ibu untuk memastikan banyaknya sel telur. Karena secara alami,
sel telur hanya satu. Namun untuk in vitro fertilization, diperlukan sel
telur lebih dari satu untuk memperoleh embrio. Pematangan sel – sel
telur di pantau setiap hari melalui pemeriksaan darah isteri dan
pemeriksaan ultrasonografi. Dalam IVF, dokter akan mengumpulkan
sel telur sebanyak-banyaknya. Dokter kemudian memilih sel telur
terbaik dengan melakukan seleksi. pada proses ini pasien disuntikkan
hormon untuk menambah jumlah produksi sel telur. Perangsangan
berlangsung 5 - 6 minggu sampai sel telur dianggap cukup matang dan
siap dibuahi. Proses injeksi ini dapat mengakibatkan adanya efek
samping.
4. Pemantauan pertumbuhan folikel berupa suatu cairan berisi sel telur
di indung telur yang bisa dilihat dengan USG. Pemantau tersebut
bertujuan untuk melihat apakah sel telur tersebut sudah cukup matang
untuk dipanen.
5. Menyuntikkan obat untuk mematangkan sel telur yang belum dipanen
agar siap.
6. Setelah itu dokter atau tenaga medis akan melakukan proses
pengambilan sel telur untuk di proses di laboratorium. Pengambilan
sel telur dilakukan dengan penusukan jarum ( pungsi ) melalui vagina
dengan tuntunan ultrasonografi. Selama masa subur, wanita akan
melepaskan satu atau dua sel telur. Sel telur tersebut akan berjalan
melewati saluran telur dan kemudian bertemu dengan sel sperma pada
kehamilan yang normal. http
7. Setelah dikeluarkan beberapa sel telur,
8. Pengambilan sperma dari suami pada hari yang sama. Bagi suami
yang tidak memiliki masalah dengan spermanya, maka pengambilan
sperma umumnya dilakukan dari hasil masturbasi. Tapi jika ternyata
ada masalah dengan sperma atau masturbasi, sperma diambil dengan
cara operasi untuk mengambil sperma langsung dari buah zakar.
9. kemudian sel telur tersebut dibuahi dengan sperma suaminya yang
telah diproses sebelumnya dan dipilih yang
terbaik. Untuk mendapatkan kehamilan, satu sel sperma harus
bersaing dengan sel sperma yang lain. Sel Sperma yang kemudian
berhasil untuk meneronos sel telur merupakan sel sperma dengan
kualitas terbaik saat itu.
10. Sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan di dalam tabung petri
kemudian dibiakkan di dalam lemari pengeram. Pemantauan
dilakukan 18 – 20 jam kemudian dan kemudian keesokan harinya
diharapkan sudah terjadi pembuahan sel. Baru dilakukan proses
pembuahan (fertilisasi) di dalam media kultur di laboratorium untuk
menghasilkan embrio.
a. Embrio b. Embrio Berumur 2 hari
11. Embrio yang berada dalam tingkat pembelahan sel ini. Kemudian
diimplantasikan ke dalam rahim isteri. Pada periode ini tinggal
menunggu terjadinya kehamilan.Dokter kemudian memilih 3 embrio
terbaik untuk ditransfer yang diinjeksikan ke sistem reproduksi si
pasien.
12. Penunjang fase luteal untuk mempertahankan dinding rahim. Pada
tahap ini, biasanya dokter akan memberikan obat untuk
mempertahankan dinding rahim si ibu supaya bisa terjadi kehamilan.
13. Jika dalam waktu 14 hari setelah embrio diimplantasikan tidak terjadi
menstruasi, dilakukan pemeriksaan air kemih untuk kehamilan, dan
seminggu kemudian dipastikan dengan pemeriksaan ultrasonografi.
14. Yang terakhir, proses simpan beku embrio untuk waktu
tertentu. Sebelumnya suami akan menitipkan sperma kepada
laboratorium dan kemudian dibekukan untuk menanti saat ovulasi.
Sperma yang dibekukan disimpan dalam nitrogen cair yang dicairkan
secara hati-hati oleh para tenaga medis.Hal ini dilakukan jika ada
embrio yang lebih, sehingga bisa dimanfaatkan kembali bila
diperlukan untuk kehamilan selanjutnya.
Cara Pembuatan In vitro fertilization

a. Proses in vitro fertilization sendiri diawali dengan konsultasi dan


seleksi pasien, dimana baik suami dan istri akan diperiksa sampai
dengan ada indikasi untuk mengikuti program in vitro fertilization.
Jika memang diindikasikan, baru bisa masuk dan mengikuti program
in vitro fertilization.
b. Melakukan stimulasi atau merangsang indung telur untuk memastikan
banyaknya sel telur. Secara alami sel telur memang hanya ada satu,
namun dalam program in vitro fertilization, perlu lebih dari satu sel
telur untuk memperoleh embrio.
c. Proses in vitro fertilization yang ke tiga adalah pemantauan
pertumbuhan folikel atau cairan berisi sel telur di dalam indung telur
melalui ultrasonografi. Pemantauan pertumbuhan folikel ini bertujuan
untuk melihat apakah sel telur sudah cukup matang untuk dipanen
atau belum. Baru kemudian mematangkan sel telur, dengan cara
menyuntikan obat agar siap dipanen.
d. Sel telur diambil untuk di proses di laboratorium. Pada hari yang
sama, akan dilakukan pengambilan sperma suami. Jika tidak ada
masalah, pengambilan dilakukan dengan cara bermasturbasi. Namun
bila ditemukan kendala, maka akan dilakukan operasi pengambilan
sperma melalui buah zakar.
e. Pembuahan atau fertilisasi di dalam media kultur di laboratorium,
sehingga menghasilkan embrio. Baru setelah embrio terbentuk, akan
dilakukan proses transfer embrio kembali ke dalam rahim agar terjadi
kehamilan. Jika ada sisa embrio lebih, maka akan disimpan untuk
proses kehamilan berikutnya.
f. Proses terakhir adalah fase luteal untuk mempertahankan dinding
Rahim dengan memberikan Progesterone. Biasanya dokter akan
memberi obat selama 15 hari pertama untuk mempertahankan dinding
rahim ibu agar terjadi kehamilan. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan
apakah telah terjadi kehamilan atau belum, baik dengan pemeriksaan
darah maupun USG.

.
In vitro fertilisation (IVF) adalah teknik yang membuat terjadinya fertilisasi
antara sperma pria dan ovum wanita di luar tubuh si wanita. Prosedurnya:
1. Ovarian stimulation
Siklus perawatan dimulai di hari ketiga menstruasi dan di dalamnya
termasuk pengobatan fertilitas untuk menstimulasi perkembangan folikel-
folikel di ovarium.
2. Egg retrieval
Saat pematangan folikel dinilai sudah cukup, sel telur diperoleh dari
pasien dengan menggunakan Transvaginal oocyte retrieval atau oocyte
retrieval (OCR).
3. Fertilisation
Di laboratorium, sperma dan sel telur di-inkubasi bersama di dalam kultur
media selama sekitar 18 jam. Selam waktu tersebut, fertilisasi terjadi dan
sel telur yang telah dibuahi menunjukkan 2 pronuklei. Ovum yang telah
dibuahi dipindahkan ke medium pertumbuhan dan ditinggalkan sekitar 48
jam sampai ovum mencapai tingkat 6-8 sel.
4. Selection
Laboratorium telah menemukan metode penilaian untuk menilai kualitas
oosit dan embrio. Biasanya, embrio yang telah mencapai tahap 6-8 sel
dipindahkan 3 hari setelah pengambilan.
5. Embryo transfer
Embryo transfer adalah langkah dalam IVF dimana satu atau lebih embrio
ditanamkan ke dalam uterus seorang wanita dengan harapan akan terjadi
kehamilan. Embrio yang dinilai mempunyai kualitas baik ditransfer ke
uterus pasien lewat kateter plastik yang tipis, yang melewati vagina dan
cervix. Tahap-tahap dalam embryo transfer, yaitu:
a. Uterine preparation
Pada manusia, endometrium (lapisan pada uterus) harus benar-
benar siap supaya embrio dapat ditanamkan. Dalam siklus
natural maupun stimulasi, embryo transfer dilakukan saat fase
luteal, saat dimana endometrium siap untuk menerima embrio.
b. Timing
Dalam siklus stimulasi IVF pada manusia, embrio biasanya
ditransfer 3 hari setelah fertilisasi (sudah mencapai tahap 8-sel)
atau 2-3 hari lagi sesudahnya, saat embrio telah mencapai tahap
blastosit.
c. Procedure
Prosedur dari embryo transfer dimulai dengan menempatkan
speculum di dalam vagina untuk memvisualisasikan cervix, yang
dibersihkan dengan cairan saline atau kultur media. Kateter yang
berisi embrio diserahkan kepada klinisi setelah
mengkonfirmasikan identitas pasien. Kateter dimasukkan
melalui cervicl canal dan lanjut ke rongga uterus, dimana embrio
ditanam. Lalu kateter ditarik mundur kembali dan diserahkan ke
embriologis yang memeriksa apakah ada embrio yang tertahan.
Abdominal ultrasound kerap digunakan untuk memastikan
penempatan yang betul, yaitu 1-2 cm dari uterine fundus.
Anashtesia biasanya tidak diperlukan.
d. Follow-up
Setelah embryo transfer, pasien tetap diberikan pengobatan
estrogen dan progesteron; tes kehamilan dilakukan 2 minggu
setelah proses transfer.
Langkah-langkah :
A. Pencegahan Infeksi
Infeksi oleh virus cytomegalovirus (CMV), hepatitis B, C, D, herpes
simplex virus tipe 2, human T-lymphotrophic virus dan human
immunodeficiency virus (HIV) dapat ditularkan melalui sekresi air mani
dan vagina. Sehingga secara umum, pasien selalu diskrining untuk virus-
virus tersebut dan penyakit infeksi menular seksual lainnya.
B. Metode Persiapan Sperma
Sebelum dilakukan prosedur inseminasi, plasma semen harus dipisahkan
dari sampel untuk menghindari kontraksi yang disebabkan oleh
prostaglandin dan mencegah infeksi.
Memisahkan plasma semen dilakukan dengan cara sentrifugasi
spermatozoa selama 10 menit dalam medium kultur (Ham’s F-10, Ham’s
F-10 yang disuplementasi dengan 7,5% serum janin manusia dan larutan
Tyrode), setelah itu supernatantnya dibuang dan sperma dimasukkan
kembali ke dalam media kultur.
Apabila menggunakan sperma yang dibekukan, maka sampel sperma
dibiarkan mencair pada suhu ruangan selama 30 menit, kemudian
dimasukkan ke dalam tabung sentrifugasi dan ditambahkan dengan
Ham’s F-10 sebanyak 2 mL lalu disentrifugasi selama 10 menit setelah
itu supernatantnya dibuang dan sperma dimasukkan kembali ke dalam
media kultur.
Pada pasien dengan ejakulasi retrograde dilakukan abstinen selama 4-7
hari sebelum pengambilan sample. Urin dinetralisir selama 3 hari
menggunakan natrium bikarbonat per oral. Pasien harus menghindari
konsumsi alkohol dan obat-obatan sebelum pengambilan sampel. Pasien
berkemih 1 jam sebelum tes, kemudian mengumpulkan sampel urin
segera setelah ejakulasi. Urin segera disentrifugasi selama 10 menit
kemudian disuspensi dalam larutan Tyrode dengan 4% serum albumin
atau dalam Ham’s F-10 yang disuplementasi dengan 7,5% serum janin
manusia, kemudian diinkubasi selama 2 jam pada suhu 37oC dalam
udara 5% CO2
C. Stimulasi Ovarium
Inseminasi dengan kombinasi stimulasi ovarium efektif untuk pasangan
dengan subfertilitas yang tidak bisa dijelaskan, endometriosis dan
subfertilitas laki-laki. Pilihan pertama untuk stimulasi ovarium adalah
clomiphene sitrat 50-100 mg per hari selama 5 hari. Apabila dibutuhkan,
dapat dikombinasikan dengan FSH rekombinan 50-75 IU per hari.
Selain clomiphene sitrat, dapat juga digunakan injeksi human chorionic
gonadotopin (hCG) 10.000 IU pada pertengahan siklus.
Dilakukan pemeriksaan ultrasound ketat setiap siklus yang distimulasi.
Pemberian stimulan dihentikan setelah terdapat 2 folikel dominan
berukuran lebih dari 15 mm, akan tetapi semua folikel berukuran lebih
dari 10 mm tetap harus dihitung untuk kriteria pembatalan. Apabila
terdapat 4 atau lebih folikel 9 berukuran lebih dari sama dengan 14 mm,
pada saat waktu pemberian hCG, maka akan dilakukan usaha
pencegahan sekunder berupa pembatalan siklus, aspirasi folikel berlebih
dan atau IVF.
D. Penentuan Waktu Inseminasi
Inseminasi dapat dilakukan pada sebelum hingga 10 jam setelah ovulasi
dan dapat dilakukan sekali ataupun beberapa kali. Pada umumnya,
inseminasi dilakukan 32-36 jam setelah pemberian hCG atau 24-28 jam
setelah lonjakan kadar LH.
Apabila tidak dilakukan stimulasi ovarium, maka dilakukan pemantauan:
•Peningkatan temperatur tubuh basal: peningkatan temperatur menjadi
37.1oC atau lebih selama 3 hari berturut-turut
•Skor mukus serviks: pada jendela masa subur, sekresi serviks menjadi
lebih bening dan licin sedangkan pada masa di siklus menstruasi lainnya
adalah kering dan lengket.
•Pemeriksaan ultrasound harian: ditemukan mengecilnya folikel ovarium
dan penampakan cairan di cul-de-sac pada pemeriksaan ultrasound
transvaginal.
•Immunoassay LH urin: 2 jam setelah lonjakan LH dalam darah, LH urin
dapat dideteksi. 48 jam setelah lonjakan LH, ovulasi akan terjadi.
E. Metode Inseminasi
Inseminasi dapat dilakukan ke dalam serviks, rahim, peritoneum ataupun
tuba Falopii. Inseminasi dapat dilakukan menggunakan metal cannula
ataupun berbagai kateter seperti Tomcat, Weissman, Shepard, Mekler
atau Kremer de la Fontaine dll. Rahim adalah tempat paling umum untuk
dilakukan inseminasi. Apabila akan dimasukkan ke dalam rahim,
dimasukan suspensi sperma sebanyak 0.2-0.5 mL menggunakan kateter.
Perfusi ke dalam tuba Falopii, dimasukan sebanyak 4 mL. Untuk sperma
yang dibekukan, sebaiknya dilakukan inseminasi intraserviks.
Selain rahim dan tuba, sperma juga dapat dimasukkan ke dalam
intraserviks menggunakan spuit tanpa jarum. Inseminasi ke dalam rahim
dan tuba dapat dilakukan menggunakan double nut bivalve speculum
untuk memasukkan sperma 10 mL dan dilakukan klem pada serviks
untuk mencegah kebocoran ke vagina.
Setelah proses inseminasi, dilakukan imobilisasi pasien selama 10-15
menit, baik untuk prosedur dengan ataupun tanpa stimulasi ovarium,
untuk meningkatkan laju kehamilan dan persalinan hidup.

2.6 Komplikasi
Kehamilan multifetal adalah komplikasi paling sering pada metode
inseminasi. Kram rahim dan ketidaknyamanan abdomen ringan juga sering
terjadi setelah proses inseminasi. Infeksi pelvik jarang terjadi.
Luaran Keberhasilan metode inseminasi dengan stimulasi ovarium
dihitung berdasarkan kehamilan per siklus, dimana hasilnya berada diantara
rentang 8-22%. 70% dari kehamilan adalah janin tunggal hidup, 23,5%
menjadi aborsi spontan, dan 5,9% nya adalah kehamilan ektopik. Kehamilan
multifetal terjadi pada 13,7% kehamilan. Laju kehamilan lebih tinggi secara
signifikan pada wanita <40 tahun dan durasi infertilitas 6 tahun.
Berdasarkan etiologinya, laju kehamilan pada wanita dengan endometriosis
lebih rendah dibandingkan dengan infertilitas yang tidak bias dijelaskan.
BAB III
KESIMPULAN

Teknologi reproduksi buatan merupakan hasil kemajuan ilmu pengetahuan


dan teknologi yang pada prinsipnya bersifat netral dan dikembangkan untuk
meningkatkan derajat hidup dan kesejahteraan umat manusia.
Inseminasi buatan (in vitro fertilization) adalah bayi yang didapatkan melalui
proses pembuatan yang dilakukan diluar rahim dengan cara mempertemukan
sperma dan ovum tidak melalui hubungan langsung (bersenggama)sehingga
terjadi embrio tidak secara alamiah, melainkan dengan bantuan ilmu kedokteran.
Proses pembuatan in vitro fertilization yaitu ada beberapa teknik namun
yang banyak diterapkan adalah Fertilazation in Vitro (FIV) dengan cara
mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di vitro (tabung) dan
setelah dicampur terjadi pembuahan, lalu ditransfer ke rahim istri. Gamet Intra
Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri dan
setelah dicampur terjadi pembuahan, maka segera ditanam di saluran telur (Tuba
palupi).
DAFTAR PUSTAKA

1. Hanafiah, Jusuf. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan .Jakarta:EGC


2. Albert D. Dorland’s Illustrated Medical Dictionary 32nd Edition. Igarss 2014.
2012. 1-5 p.
3. Arsyad SS, Nurhayati S. Determinan Fertilitas Di Indonesia (Determinant of
Fertility in Indonesia). J Kependud Indones. 2016;11(1):1–14.
4. Moeloek F. Etika dan Hukum Teknik Reproduksi Buatan. Etika dan Huk Tek
Reproduksi Buatan. 2007;Teknik, H.:1–9.
5. Sauer M V. Assisted reproductive technology. West J Med. 1994;161(2):164–
5. 5. Communications O of. Assisted Reproductive Technology (ART)
[Internet]. National Institute of Child Health and Human Development. 2017
[cited 2018 Mar 24].
6. Ombelet W, Van Robays J. Artificial insemination history: hurdles and
milestones. Facts, views Vis ObGyn [Internet]. 2015;7(2):137–43.
7. Irianni FM, Acosta AA, Oehninger S, Acosta MR. Therapeutic intrauterine
insemination (TII) - Controversial treatment for infertility. Syst Biol Reprod
Med. 2009;25(2):147–67.
8. Anwar A. Penerapan Bioteknologi Rekayasa Genetika Dibidang Medis
Ditinjau Dari Perspektif Filsafat Pancasila, Ham Dan Hukum Kesehatan Di
Indonesia. J Sasi. 2010;17(4):39–51.
9. Turchi P. Prevalence, definition, and classification of infertility. In: Clinical
Management of Male Infertility. 2015. p. 5–12.
10. Burkman RT. Berek &amp; Novak’s Gynecology. JAMA [Internet].
2012;308(5):516.
11. Ombelet W. Evidence-based recommendations for IUI in daily practice.
Middle East Fertil Soc J [Internet]. 2013;18(2):74–7.
12. Ospedale F, Policlinico M. Intrauterine insemination. Hum Reprod Update
[Internet]. 2009;15(3):265–77.
13. Shekhawat GS. Intrauterine insemination versus fallopian tube sperm
perfusion in non-tubal infertility. Med J Armed Forces India.
2012;68(3):226–30. 14. Nuojua-huttunen S, Tomas C, Bloigu R, Tuomivaara
L. Intrauterine insemination treatment in subfertility": an analysis of factors
affecting outcome. 2009;14(3):698–703
14. Prawirohardjo, S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. Cetakan ke-4. 2014.
15. Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: 2013.
16. Kronenberg HM, Melmed S, olonsky KS, Larsen PR. Williams Textbook of
Endocrinology. 11th ed. Philadelphia: 2008.
17. Sherwood L. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC. 2001.
18. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL,
Casey BM, Sheffield JS. Williams Obstetrics 24th ed. New York:McGraw-
Hill,meducal Pub. Division, 2014