Anda di halaman 1dari 3

THE AWAKENED FAMILY

Shefali Tsabary, Ph.D

1. Ego bukanlah diri sejati kita. Ego bersumber pada ketakutan. Ego sabagai sesuatu yang
menyerupai gambaran diri dalam pikiran kita.
Contoh : anda ingin anak anda sukses dalam hidup. Namun, mengapa hal ini begitu
penting untuk anda? Jika anda amati, Anda akan paham bahwa haapan ini timbul
karena anda melihat dunia sebagai tempat menakutkan yang penuh kompetisi dan anda
pun mencemaskan masa depan anak anda.
Atau mungkin anda berharap anak anda dikagumi dan berbakat dalam banyak bidang.
Akan tetapi, apa yang mendasari keinginan itu? Apakah murni karena anda menghargai
bakat anak anda? Atau itu dipicu rasa takut anak anda tidak akan diterima di tengah
masyarakat, bahkan terlalu normal sehingga tidak bias berperan besar dalam
masyarakat?
2. Anak mempelajari reaksi-reaksi membabi buta di rumah yang menyebabkan mereka
kemudian membawa pola perilaku itu ke tengah masyarakat
3. Ego lahir dari keputusasaan. Ego muncul akibat adanya kebutuhan untuk melindungi diri
sendiri dari banyaknya elemen penuh ketidaksadaran yang kita temukan saat kita
tumbuh besar.
4. Kita semua dibesarkan dengan banyak aturan, dengan sejumlah paksaan untuk
berperilaku dengan cara tertentu yang kemudian kita salah pahami sebagai diri sejati
kita. Misalm saat kita digoda oleh orangtua atau saudara kita karena sering menangis
saat masih kecil, kemungkinan kita akan mengembangkan karakter tegar dan tanpa
emosi saat tumbuh dewasa. Meskipun diri yang perasa tetaplah diri yang sebenarnya,
sikap tanpa emosi berkembang sebagai “cangkakng” bagi ego kita yang kita ciptakan
sebagai cara untuk melindungi diri dari ejekan dan godaan orang-orang terdekat kita.
5. Ketika anak-anak tidak diberi cukup ruang untuk menegaskan pendapatnya, dan justru
tenggelam dalam rencana-rencana orangtua atas mereka, mereka akan tumbuh dengan
rasa cemas dan depresi. Begitu banyak anak muda di luar sana yang haus akan
penerimaan kita- ingin dilihat apa adanya-sehingga mereka menyakiti diri sendiri dengan
berbagai cara yang negative. Itu adalah wujud dari kerinduan untuk dilihat, divalidasi,
dan dikenal.
6. Sebagai orangtua yang berusaha sebaik mungkin untuk membesarkan anak, kita tidak
sadar bahwa ketakutan kita terkait anak-anakitulah yang kita pandang sebagai bentuk
kekhawatiran yang merupakan sumber masalah dalam sebagian besar pola asuh.
Ketakutan ini merusak niat baik kita. Rasa takut adalah alasan mengapa pola asuh kita,
entah bagaimana, membawa hasil yang berlawanan dengan harapan.
7. Sebenarnya, momen saat terjadi konflik adalah momen yang paling sering membuat kita
bisa melihat aneka reaksi emosi berlebihan yang kita tampilkan. Contoh, seorang ibu
yang mengeluhkan betapa ia kehilangan kesabaran dengan anak-anakna karena
mereka tidak pernah mendengarkannya. Pada situasi seperti itu orangtua biasanya akan
mengatakan hal semacam “apakah kau mendengarkan ayah/ibu? Tak lama mereka
akan mulai membentak.
Alih-alih mengambil pendekatan tradisional dengan memberian instruksi dengan lebih
sering dan memaksa, mengapa tidak mencoba mengeksplorasi apakah sang ibu pada
dasarnya juga melakukan hal yang dilarang?
8. Kita memperlakukan anak-anak kita layaknya budak, mendorong mereka ke masa
depan yang sudah kita bayangkan untuk mereka.
9. Ketika orangtua menghapus kecemasan, anak-anak akan melangkah mengambil alih
hidup mereka sendiri. Anak akan segera mengembangkan insiatif diri yang selama ini
diharapkan orangtuanya dengan catatan saat orangtua berhenti mengendalikannya.
10. Masyarakat pada umumnya mengukur kesuksesan dengan tolak ukur budaya. Jadi, kita
dibesarkan untuk berpikir bahwa yang penting dalam hidup adalah mendorong diri
sendiri, mengoptimalkannya, dan meraih banyak hal. Jika ini menyangkut anak-anak
kita, kita lebih peduli tentang nilai yang bagus, peringkat yang tinggi, dan bergaul
dengan anak yang “benar” sambil berharap mereka kelak mendapatkan pekerjaan
bergaji tinggi.
11. Anak saat ini dikelilingi banyak aktivitas sekaligus yang membuat mereka tumbuh di
dunia yang berfokus pada “melakukan”
12. Mengapa kita menggebu-gebu mendorong anak kita terlibat dalam banyak kesibukan?
Jawabannya semata karena kita takut mereka “melewatkan pengalaman” yang bisa
menghambat mereka menjadi sosok yang sesuai harapan kita—orang yang dianggap
sukses oleh standar masyarakat.
13. Kita mulai terprogram untuk berpikir bahwa yang penting adalah momen selanjutnya,
bukan momen yang sedang kita alami. Herannya, kita masih bertanya-tanya mengapa
anak kita kesulitan konsentrasi atau mengerjakan sesuatu untuk waktu yang lama.
14. Akar konflik orangtua dan anak adalah bentrokan zona waktu. Dimana, orangtua
berorientasi kepada masa depan, untuk mencapai apapun yang ada dalam bayangan
mereka. Sedangkan anak ingin menikmati momen hidup momen demi momen
Pertanyaan selanjutnya adalah berarti itu artinya kita harus mengabaikan masa depan
anak? Itu adalah sikap tidak bertanggungjawab. Memang benar itu sikap yang tidak
benar. Saat ingin pergi ke suatu tempat kita juga harus mempersiapkan tiket jauh-jauh
hari dan mengurus semuanya. Namun secara mendasar, perencanaan seperti itu
berbeda dengan berfokus ke masa depan sampai mengorbankan masa sekarang.
15. Ketika anak kita diizinkan menikmati tia-tiap momen tanpa didesak untuk segera
mengerjakan hal lain, mereka dapat memekarkan kecerdasan bawaa, dorongan
naluriah, dan kecenderungan serta ketertarikan aami mereka. Semua itu berakar
kekaguman alami anak-anak atas kehidupan bawha hidup mereka adalah sebuag
petualangan yang menakjubkan bukan pada rasa takut bawa mereka harus berprestasi
agar tidk ketinggalan. Jadi selama kita menyediakan ruang supaya kecenderungan-
kecenderungan dalam diri mereka berkembang, mereka akan dapat mengeksplorasi
dunia berdasarkan keingintahuan internal. Itu sebabnya saat ada sesuatu yang mereka
anggap menarik, mereka akan tenggelam dalam kegiatan itu sampai seolah-olah waktu
berhenti.
16. Semua anak ingin tahu tiga hal berikut :
a. Apakah aku diperhatikan?
b. Apakah aku berharga?
c. Apakah aku penting?

Ketika anak merasa diperhatikan, percaya bahwa mereka berharga dan mampu melihat
mereka pentik karena identitas mereka sebagai manusia bukan karena prestasi yang
dicapai semata mereka akan merasa berdaya. Itu akan terwujud dalam bentuk
antusiasme tulus terhadap apapun yang menarik perhatian dan focus mereka.

17.