Anda di halaman 1dari 15

JURNAL PRAKTIKUM BIOKIMIA

FA 2211

PERCOBAAN 2
ANALISIS PROTEIN

Tanggal Praktikum : 23 Mei 2019

Oleh :
Anzaina Sukmawati
170106005
Kelompok 3A

Laboratorium Farmasi
Program Studi Farmasi
Universitas Muhammadiyah Bandung
2019
PRAKTIKUM 2

ANALISIS PROTEIN

I. TUJUAN
1.1 Mengetahui pinsip jenis-jenis amalisis protein
1.2 Melakukan analisis kualitatif dan menentukan kadar protein pada sampel
II. TEORI DASAR
Protein adalah sumber-sumber asam amino yang mengandung unsur C, H,
O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Protein adalah
makromolekul polipeptida yang tersusun dari sejumlah L-asam amino yang
dihubungkan oleh ikatan peptida, berbobot molekul tinggi dari 5000 sampai
berjuta-juta. Protein terdiri dari bermacam-macam golongan, makro molekul
yang heterogen, walaupun demikian semuanya merupakan turunan dari
polipeptida dengan BM yang tinggi. Unsur yang ada dalam hampir semua protein
adalah hidrogen, oksigen, nitrogen, dan belerang (Dennison, 2002,). Ditinjau dari
strukturnya, protein dibagi dalam dua golongan besar, yaitu golongan protein
sederhana dan protein gabungan. Protein sederhana adalah protein yang hanya
terdiri dari molekul-molekul asam amino, sedangkan protein gabungan adalah
protein yang terdiri dari protein dan gugus bukan protein. (Sudarmaji , 1989.)
Protein merupakan biomolekul yang sangat penting. Beberapa
fungsi protein adalah sebagai katalisator (enzim), pengangkut dan
penyimpanan, penyebab gerakan, pendukung sistem kekebalan, pembentuk dan
transmisi impuls saraf, pengontrol pertumbuhan dan diferensiasi, pendukung
kekakuan structural, dan lain-lain. Monomer pembentuk protein, asam amino,
juga mempunyai peranan penting dalam metabolisme sel hidup. Peranan tersebut
adalah sebagai substrat untuk sintesis protein, pemasok nitrogen untuk sintesis
senyawa yang mengandung nitrogen lain, dan sumber energy bila dikatabolisme
(Toha, 2001).
Protein yang terdapat dalam bahan pangan mudah mengalami perubahan-
perubahan, antara lain:
1. Dapat terdenaturasi oleh perlakuan pemanasan.
2. Dapat terkoagulasi atau mengendap oleh perlakuan pengasaman.
3. Dapat mengalami dekomposisi atau pemecahan oleh enzim-enzim proteolitik.
4. Dapat bereaksi dengan gula reduksi, sehingga menyebabkan terjadinya warna
coklat.
Denaturasi protein dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi terhdap
struktur sekunder, tersier dan kuartener molekul protein tanpa terjadinya
pemecahan ikatan-ikatan kovalen. Karena itu denaturasi dapat diartikan suatu
proses terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam dan
terbukanya lipatan atau wiru molekul protein. (Winarno, 1992).
Asam amino merupakan satuan penyususn protein. Berdasarkan rumus
bangunnya asam amino dapat dipandang sebagai turunan karboksilat, yang salah
satu hidrogennya diganti oleh gugus amin (-NH3). Protein dapat dipceah kembali
menjadi asam amino, yaitu dengan memakai asa, basa, ataupun hidrolisis dengan
enzim. Asam amino tergolong amfoter yaitu dapat bereaksi asam atau basa (Hala
,2011).
Analisis protein dalam bahan pangan sering dilakukan dengan tujuan
mereka jumlah kandungan protein dalam bahan pangan, menentukan tingkat
kualitas protein dan segi gizi, dan untuk menelaah protein sebagai salah satu
bahan kimia misalnya biokimiawi, fisiologis, reologis, enzimatis, dan tela’ah lain
yang lebih mendasar (Soedarmadji, 2010). Analisis protein dapat dilakukan
dengan dua metode, yaitu secara kualitatif dan secara kuantitatif. Analisis protein
secara kualitatif terdiri atas reaksi Xantoprotein, reaksi Hopkins-Cole, reaksi
Millon, reaksi Nitroprusida, dan reaksi Sakaguchi. Sedangkan analisis protein
secara kuantitatif terdiri dari metode Kjeldahl, metode titrasi formol, metode
Lowry, metode spektrofotometri visible (Biuret), dan metode spektrofotometri U.
(Anwar, 1992)
Menurut Poedjiaji, 2007 pemeriksaan protein umumnya berdasarkan reaksi
warna. Reaksi ini adalah reaksi-reaksi khas protein yang berdasarkan ikatan
peptide maupun adanya sifat-sifat tertentu dari asam amino yang dikandungnya.
Beberapa reaksi-reaksi khusus protein :
1. Uji xantoprotein, reaksi yang terjadi adalah nitrisi pada inti benzene yang
terdapat pada molekuk protein. Reaksi positif ditadai dengan timbulnya
warna kuning dan negative selain warna kuning.
2. Uji biuret, reaksi ini umumnya ntuk peptide dan protein, termasuk
diantaranya hasil hidrolisis protein seperti metaprotein, protase, pepton,
polipeptida, kecuali asam amino. Reaksi positif terjadi dengan adanya
warna ungu atau merah muda akibat terjadinya senyawa antara Cu dan N
dari air. Bila ikatan peptide panjang warnanya ungu sebaliknya bila
pendek warnanya merah muda.
3. Uji millon, reaksi millon adalah larutan merkuro atau merkuri nitrat dalam
asam nitra. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenil, karena
terbentuk senyawa merkuri dengan gugus hidriksi fenil yang berwarna
(merah terang). Protein yang mengandung tyrosin akan memeberikan hasil
positif. Pereaksi millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam
asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan
menghasilkan endapan putih yang dapat berubah merah oleh pemanasan.
4. Uji sulfur, untuk menguji sulfur yang terkandung dalam asam amino.
Reaksi positif ditandai dengan warna coklat dan hitam.
5. Uji ninhidrin, unutk mengetahui dekarboksilasi oksidatif dan α-amino.
Ninhidrin adalah suatu oksidator yang menyebabkan dekarboksilasi
oksidatif dari α-amino yang menghasilkan CO2, NH3, dan aldehid dengan
kehilangan 1 atom karbon. Warna biru terjadi berhubungan reaksi
ninhidrin menghasilkan adehid yang rendah dan melepaskan Co dan
amoniak.
III. ALAT DAN BAHAN

NO ALAT BAHAN
1 Beaker glass Aquadest
2 Botol semprot Etanol 95%
3 Bunsen Garam
4 Corong HCl
5 Gelas kimia Larutan logam berat
6 Kertas perkamen Larutan protein
7 Korek api Larutan sampel
8 Kertas millimeter blok Larutan standar protein
9 Kertas saring Larutan alkaline
10 Kaca arloji
11 Mikropipet NaOH
12 Neraca analitik (NH4)2SO4
13 Pipet tetes Pereaksi biuret
14 Penjepit tabung reaksi Reagen Folin-ciocalteu
15 Rak tabung reaksi Tembaga sulfat
16 Spektrofotometer
17 Spatel
18 Tabung reaksi

IV. CARA KERJA DAN PERHITUNGAN


4.1 Biuret Test
Prinsip: Alkaline tembaga sulfat bereaksi dengan senyawa yang mengandung
dua atau lebih ikatan peptide dan menghasilkan komplek yang berwarna ungu.
Namun, reaksi ini tidak spesifik untuk ikatan peptide karena senyawa yang
mengandung dua gugus karbonil yang berikatan dengan atom nitrogen atau
karbon akan memberikan hasil positif.
a. Pereakasi :
Gelas

- Dilarutkan sebanyak g CuSO4.5H2O dalam 50 mL aquadest


- Diaduk hingga larut

Larutan tembaga sulfat

Gelas
- Ditimbang sebnayangk g NaOH menggunakan kaca arloji
- Dilarutkan menggunakan aquadest ad 50 mL, diaduk hingga larut

Larutan
NaOH
b. Perhitungan
 Tembaga sulfat
Diketahui : gr CuSO4 = 10 gr
Aquadest = 1000 mL
Yang dibutuhkan 50 mL
Ditanya: gr Cu SO4 dalam 50 mL?
Jawab:
10 𝑔𝑟 𝑔𝑟 𝐶𝑢𝑠𝑜4
× = 0,5 𝑔𝑟
1000 𝑚𝐿 50 𝑚𝐿
Jadi gram CuSO4 yang dibutuhkan untuk 50 mL aquadest yaitu 0,5 gr
 Natrium Hidroksida
Diketahui : Natrium Hidrksida (M1) = 10 mol
Aquadest (V1) = 1000 mL
Aquadest (V2) = 50 mL
Mr Natrium Hidroksida = 40
Ditanyakan: Massa natrium hidroksida dalam 50 mL ?
Jawab:
𝑔𝑟
Mol NaOH =
𝑀𝑟
𝑔𝑟
10 =
40
gr = 400 𝑔𝑟 (𝑀1)

𝑀1 𝑀2
=
𝑉1 𝑉2
400 𝑔𝑟 𝑀2
=
1000 𝑚𝐿 50 𝑚𝐿
𝑀2 = 20 𝑔𝑟
Jadi gram NaOH yang dibutuhkan untuk 50 mL aquadest yaitu 20 gr
 Protein
Diketahui : gr protein = 5gr
Aquadest = 1000 mL
Yang dibtuhkan = 50 mL
Ditanyakan : gr protein dalam 50 mL?
Jawab:
5 𝑔𝑟 𝑔𝑟 𝑝𝑟𝑜𝑡𝑒𝑖𝑛
𝑥 = 0,25 𝑔𝑟
1000 𝑚𝐿 50 𝑚𝐿
Jadi gram protein yang dibtuhkan untuk 50 mL aquadest yaitu 0,25 gr
c. Prosedur
Tabung reaksi

- Dimasukkan 2 mL larutan sampel


- Ditambahkan 5 tetes larutan tembaga sulfat, lalu ditambahkan 2
mL NaOH dan dicampurkan
- Diamati dan dicatat perubahan warna yang terjadi

Hasil (+) terjadi perubahan


warna ungu atau merah muda

4.2 Presipitasi dengan logam berat


Prinsip: Pada pH 7 atau pH > 7, protein biasanya akan bermuatan negatif oleh
karena itu penambahan logam berat yang bermuatan positif akan menetralkan
protein dan mengendapkan protein dalam larutan. Presipitasi oleh logam berat
lebih efektif pada pH neutral sampai sedikit basa. Kondisi basa sebisa
mungkin dihindari karena dapat terjadi kemungkinan pengendapan logam
hidroksida.
a. Perhitungan
Diketahui : Logam sulfat (M1) = 0,1 mol
Aquadest (V1) = 1000 mL
Aquadest (V2) = 50 mL
Ditanyakan : Massa logam sulfat 50 mL ?
Jawab :
𝑔𝑟
Mol logam sulfat =
𝑀𝑟
0,1 = 𝑔𝑟
gr = 𝑔𝑟 (𝑀1)
𝑀1 𝑀2
=
𝑉1 𝑉2
𝑔𝑟 𝑀2
=
1000 𝑚𝐿 50 𝑚𝐿
𝑀2 = 𝑔𝑟
Jadi gram logam sulfat yang dibutuhkan untuk 50 mL aquadest yaitu gr

b. Prosedur

Tabung reaksi
- Ditambahkan beberapa tetes larutan logam berat terhadap 2 mL
larutan protein
- Diamati perubahan yang terjadi saat penambahan logam berlebihan

Hasil (+) terjadi perubahan


4.3 Presipitasi dengan garam
Prinsip: Kekuatan ion dalam medium berpengaruh terhadap kelarutan berbagai
jenis protein. peningkatan kekuatan ion akan menyebabkan peningkatan
kelarutan protein yang disebut salting in. Namun, Pada titik tertentu (pH
spesifik untuk setiap protein) kelarutan protein akan menurun sampai akhirnya
protein akan mengalami presipitasi yang disebut salting out.

a. Prosedur
Tabung reaksi
- Dijenuhkan larutan protein dengan (NH4)2SO4 dengan acara :
ditambahkan garam sedikit demi sedikit kedalam larutan protein
samapi muncul endapan garam
- Disaring larutan untuk memperoleh larutan jemuh
- Dicek filtrate dan endapan dengan pereaksi biuret
Hasil (+) pengamatan

4.4 Presipitasi dengan alcohol


Prinsip: Pelarut organik dapat menurunkan konstanta dielektrik dan
meningkatan interaksi antara protein, sehingga dapat menyebabkan presipitasi
protein. Etanol, asetone, dan metanol merupakan pelarut organik yang sering
digunakan, namun kualitas pelarut organik sangat kritikal untuk presipitasi
protein.

a. Prosedur

Tabung reaksi
- Dimasukkan 1 mL larutan protein
- Ditambahkan etanol 95%
- Diamati hasil yang diperoleh
- Lalu diamati yang terjadi jika larutan diencerkan dengan aquades
sampai volume 3, 5,7 dan 10 mL
Hasil (+) pengamatan

4.5 Denaturasi dengan panas dan pH ekstrem


Prinsip: Peningkatan suhu dapat menyebabkan penurunan kelarutan protein.
Pemanasan juga dapat mengubahan konformasi protein dan mempengaruhi
folded structure dari protein. Hal ini menyebabkan agregasi pada protein.
Seperti telah dijelaskan, kelarutan protein bergantung pada pH dan apabila
mencapai titik isoelektrik kelarutan protein akan menurun. Pada pH ekstrim
terjadi perbedaan muatan yang besar dan menghasilkan penolakan
intramolecular elektrostatik yang kuat. Kondisi ini menyebabkan swelling dan
unfolding protein. Namun, denaturasi yang dipicu oleh perbedaan pH ini
bersifat reversible.

a. Perhitungan
 HCl
Diketahui : HCl (M1) = 1 mol
Aquadest (V1) = 1000 mL
Aquadest (V2) = 50 mL
Mr HCl = 36,5
Ditanyakan : Massa Natrium Hidroksida dalm 50 mL?
Jawab :
𝑔𝑟
Mol HCl =
𝑀𝑟
𝑔𝑟
1 =
36,5
gr = 36,5 𝑔𝑟 (𝑀1)
𝑀1 𝑀2
=
𝑉1 𝑉2
36,5 𝑔𝑟 𝑀2
=
1000 𝑚𝐿 50 𝑚𝐿
𝑀2 = 1,825 𝑔𝑟
Jadi gram HCl yang dibtuhkan untuk 50mL aquadest yaitu 1,825 gr
 NaOH
Diketahui : NaOH (M1) = 1 mol
Aquadest (V1) = 1000 mL
Aquadest (V2) = 50 mL
Mr NaOH = 40
Ditanyakan : Massa NaOH dalam 50 mL?
Jawab :
𝑔𝑟
Mol NaOH =
𝑀𝑟
𝑔𝑟
1 =
40
gr = 40 𝑔𝑟 (𝑀1)
𝑀1 𝑀2
=
𝑉1 𝑉2
40 𝑔𝑟 𝑀2
=
1000 𝑚𝐿 50 𝑚𝐿
𝑀2 = 2 𝑔𝑟
Jadi gram NaOH yang dibutuhkan untuk 50 mL aquadest yaitu 2 gr
b. Prosedur
Tabung reaksi

- Dimasukkan 5 mL protein ke dalam 3 tes tube


- Ditambahkan 0,5 mL HCl, 0,5 mL NaOH dan 0,5 mL aquades ke
dalam masing masing tube, lalu diamati yang terjadi
- Ditempatkan setiap tube kedalam water bath berisi air mendidih
selama 20 menit
- Dinetralkan Ph setiap tube dan diamati yang terjadi
Hasil (+) pengamatan

4.6 Metode biuret untuk penetapan protein


a. Prosedur
Tabung reaksi

- Ditambahkan 20 µL sampel protein ke dalam 1 mL reagen biuret


- Diinkubasi pada suhu ruangan selama 5 menit
- Dibaca absorbansi pada panjang gelombang 540 nm
- Dibuat kurva kalibrasi dari standar protein dengan 6 konsentrasi
sandar protei berbeda yang menghasilkan absobansi diantara 0,2
sampai 0,8
- Dihitung konsentrasi sampel protein menggunakan kurva kalibrasi
Hasil konsentrasi sampel

4.7 Metode Folin-Lowry untuk penetapan protein


Prinsip: Protein bereaksi dengan reagen Folin- Ciocalteau menghasilkan
perubahan warna. Perubahan warna terjadi karena adanya reaksi antara protein
dengan alkalin tembaga (seperti biuret tes) dan reduksi phosphomolybdate
dengan tyrosine dan tryptophan pada protein. Karena bergantung pada kedua
jenis asam amino tersebut, maka intensitas warna akan berbeda tergantung
pada komposisi kedua asam amino dalam protein yang diuji.
a. Perhitungan
 Alkaline natrium karbonat
- Na2CO3
Diketahui : gr Na2CO3 = 5 gr
Aquadest = 1000 mL
Yang dibutuhkan = 50 mL
Ditanyakan : gr Na2CO3 dalam 50 mL
Jawab :
20 𝑔𝑟 𝑔𝑟 𝑁𝑎2𝐶𝑂3
𝑥 = 1 𝑔𝑟
1000 𝑚𝐿 50𝑚𝐿
Jadi gram Na2CO3 yang dibutuhkan untuk 50 mL aquadest yaitu 1 gr
- NaOH
Diketahui : NaOH (M1) = 0,1 mol
Aquadest (V1) = 1000 mL
Aquadest (V2) = 50 mL
Mr NaOH = 40
Ditanyakan: Massa NaOH dalam 50 mL ?
Jawab :
𝑔𝑟
Mol NaOH =
𝑀𝑟
𝑔𝑟
0,1 =
40
gr = 4 𝑔𝑟 (𝑀1)
𝑀1 𝑀2
=
𝑉1 𝑉2
4 𝑔𝑟 𝑀2
=
1000 𝑚𝐿 50 𝑚𝐿
𝑀2 = 0,2 𝑔𝑟
Jadi gram NaOH yang dibtuhkan untuk 50 mL aquadest yaitu 0,2 gr

 larutan tembaga sulfat-natrium kalium tartrate


- CuSO4.5H2O
Diketahui :gr CuSO4 = 5 gr
Aquadest = 1000 mL
Yang dibutuhkan = 50 mL
Ditanyakan : gr cUdo4.5H2O dalam 50 mL?
Jawab :
5 𝑔𝑟 𝑔𝑟 𝐶𝑢𝑆𝑂4.5𝐻2𝑂
𝑥 = 0,2 𝑔𝑟
1000 𝑚𝐿 50 𝑚𝐿
Jadi gram CuSO4.5H2O yang dibutuhkan yaitu 0,2 gr
- NaK tartrate
Diketahui :gr Nak tartrate = 10 gr
Aquadest = 1000 mL
Yang dibutuhkan = 50 mL
- Ditanyakan : gr NaK tartrate daalam 50 mL?
Jawab
10 𝑔𝑟 gr NaK tartrate
𝑥 = 0,5 𝑔𝑟
1000 𝑚𝐿 50 𝑚𝐿
Jadi gr NaK tartrate yang dibtuhkan yaitu 0,5 gr
b. Prosedur
Tabung reaksi

- Ditambahkan 5 mL larutan alkaline kedalam 1 mL lar.protein


- Dicampukan dan dibiarkan dalam posisi tegak pada suhu ruang
selama 10 menit atau lebih
- Ditambhakn 0,5 mL reagen folin-ciocalteu yang sudah diencerkan
dengan cepat segera dicampurkan
- Diinkubasi pada suhu ruangan selama 30 menit, dan dibaca
absorbansi pada 750 nm
- Ditentukan konsentrasi protein berdasarkan kurva kalibrasi
Hasil konsentrasi protein
V. HASIL PERCOBAAN
VI. DISKUSI
VII. KESIMPULAN
VIII. DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai