Anda di halaman 1dari 8

MODUL PRAKTIKUM : 1.

PEMERIKSAAN BERAT JENIS SMEN


ASTM C - 188
TANGGAL PRAKTIKUM : RABU, 23 NOVEMBER 2015
PENYUSUN MODUL : DYON NANDO RAFEL GOSAL
ASISTEN PENANGGUNG JAWAB : KHOIRI

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Tujuan Percobaan

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan berat jenis semen Portland.


Berat jenis semen adalah perbandingan antara berat isi kering semen pada suhu kamar
dengan berat air suling pada suhu 25°C yang isinya sama dengan isi semen.

a. Menambah pengetahuan mengenai sifat-sifat material pembentuk beton


b. Mengetahui parameter-parameter material pembentuk beton
c. Perencanaan dan percobaan pembuatan campuran beton dengan kekuatantekan
tertentu
d. Pengujian kuat tekan beton serta sifat mekanik dari material beton tersebutmelalui
eksperimen atau percobaan laboratorium
I.2. Dasar Teori

Sifat Dan Karakteristik Semen Portland


Semen yang satu dapat dibedakan dengan semen lainnya berdasarkan susunan
kimianya maupun kehalusan butimya. Perbandingan bahan-bahan utama penyusun semen
portland adalah kapur (CaO) sekitar 60%-65%, silika (SiO2) sekitar 20%-25%, dan
oksida besi serta alumina (Fe2O3 dan Al2O3) sekitar 7%-12%. Sifat-sifat semen portland
dapat iibedakan menjadi dua, yaitu sifat fisika dan sifat kimia.
Sifat-sifat fisika semen meliputi kehalusan butir, waktu pengikatan, kekalan, kekuatan
tekan, pengikatan semu, panas hidrasi, dan hilang pijar. Berikut ini adalah penjelasan
untuk masing-masing sifat.

Kehalusan Butir
Kehalusan butir semen mempengaruhi proses hidrasi. Waktu pengikatan (setting
time) menjadi semakin lama jika butir semen lebih kasar. Kehalusan penggilingan butir
semen dinamakan penampang spesifik, yaitu luas butir permukaan semen. Jika
permukaan penampang semen lebih besar, semen akan memperbesar bidang kontak
dengan air. Semakin halus butiran semen, proses hidrasinya semakin cepat, sehingga
kekuatan awal tinggi dan kekuatan akhir akan berkurang.
Kehalusan butir semen yang tinggi dapat mengurangi terjadinya bleeding atau naiknya air
ke permukaan, tetapi menambah kecenderungan beton untuk menyusut lebih banyak dan
mempermudah terjadinya retak susut. Menurut ASTM, butir semen yang lewat ayakan
No.200 harus lebih dari 78%. Untuk mengukur kehalusan butir semen digunakan
"Turbidimeter" dari Wagner atau "Air Permeability" dari Blaine.

Kepadatan (density)
Berat jenis semen yang disyaratkan oleh ASTM adalah 3.15 Mg/m3. Pada
kenyataannya, berat jenis semen yang diproduksi berkisar antara 3.05 Mg/m3 sampai
3.25 Mg/m3. Variasi ini akan berpengaruh pada proporsi campuran semen dalam
campuran. Pengujian berat jenis dapat dilakukan menggunakan Le Cliatelier Flask
menurut standar ASTM C-188.

Konsistensi
Konsistensi semen portland lebih banyak pengaruhnya pada saat pencampuran
awal, yaitu pada saat terjadi pengikatan sampai pada saat beton mengeras. Konsistensi
yang terjadi bergantung pada rasio antara semen dan air serta aspek-aspek bahan semen
seperti kehalusan dan kecepatan hidrasi. Konsistensi mortar bergantung pada konsistensi
semen dan agregate pencampurya.

Waktu Pengikatan
Waktu ikat adalah waktu yang diperlukan semen untuk mengeras, terhitung dari
mulai bereaksi dengan air dan menjadi pasta semen hingga pasta semen cukup kaku
untuk menahan tekanan. Waktu ikat semen dibedakan menjadi dua: 1). waktu ikat awal
(initial setting time) yaitu waktu dari pencampuran semen dengan air menjadi pasta
semen hingga hilangnya sifat keplastisan, 2). waktu ikatan akhir (final setting time) yaitu
waktu antara terbentuknya pasta semen hingga beton mengeras. Pada semen portland
initial setting time berkisar 1.0 - 2.0 jam, tetapi tidak boleh kurang dan 1.0 jam,
sedangkan final setting time tidak boleh lebih dari 8.0 jam.
Waktu ikatan awal sangat penting pada kontrol pekerjaan beton. Untuk kasus-kasus
tertentu, diperlukan initial setting time lebih dan 2.0 jam agar waktu terjadinya ikatan
awal lebih panjang. Waktu yang panjang ini diperlukan untuk transportasi (hauling),
penuangan (dumping/pouring), pemadatan (vibrating) dan penyelesaiannya (finishing).
Proses ikatan ini disertai perubahan temperatur yang dimulai terjadi sejak ikatan awal dan
mencapai puncaknya pada waktu berakhimya ikatan akhir. Waktu ikatan akan memendek
karena naiknya temperatur sebesar 30 0C atau lebih. Waktu ikatan ini sangat dipengaruhi
oleh jumlah air yang dipakai dan oleh lingkungan sekitamya.
Pengikatan semu diukur dengan alat "Vicat" atau "Gillmore". Pengikatan semu
untuk prosentase penetrasi akhir minimum pada semua jenis semen adalah 50%.

Panas Hidrasi
Panas hidrasi adalah panas yang terjadi pada saat semen bereaksi dengan air,
dinyatakan dalam kalori/gram. Jumlah panas yang dibentuk antara lain bergantung pada
jenis semen yang dipakai dan kehalusan butir semen. Dalam pelaksanaan, perkembangan
panas ini dapat mengakibatkan masalah yakni timbulnya retakan pada saat pendinginan.
Pada beberapa struktur beton, terutama pada struktur beton mutu tinggi, retakan ini tidak
diinginkan. Oleh karena itu perlu dilakukan pendinginan melalui perawatan (curing) pada
saat pelaksanaan.
Panas hidrasi naik sesuai dengan nilai temperatur pada saat hidrasi terjadi. Untuk semen
biasa, panas hidrasi bervariasi mulai 37 kalori/gram pada temperatur sekitar 5 °C hingga
80 kalori/gram pada temperatur 40 °C. Semua jenis semen umumnya telah membebaskan
sekitar 50% panas totalnya pada satu hingga tiga hari pertama 70% pada hari ketujuh,
serta 83-91% setelah 6 bulan. Laju perubahan panas ini bergantung pada komposisi
semen.
Perkembangan panas hidrasi untuk berbagai jenis semen pada suhu 21 0C ditunjukkan
pada Penjelasan Dibawah sesuai dengan Perkembangan Panas Hidrasi Semen Portland
pada Suhu 21 0C

Perubahan Volume (Kekalan)


Kekalan pasta semen yang telah mengeras merupakan suatu ukuran yang
menyatakan kemampuan pengembangan bahan-bahan campurannya dan kemampuan
untuk mempertahankan volume setelah pengikatan terjadi. Ketidak kekalan semen
disebabkan oleh terlalu banyaknya jumlah kapur bebas yang pembakarannya tidak
sempurna serta magnesia yang terdapat dalam campuran tersebut. Kapur bebas itu
mengikat air dan kemudian menimbulkan gaya-gaya expansi. Alat uji untuk menentukan
nilai kekalan semen portland adalah "Autoclave Expansion of Portland Cement" cara
ASTM C-151, atau cara Inggris, BS, "Expansion by Le Chatellier".
Sifat-sifat semen portland sangat dipengaruhi oleh susunan ikatan oksida-oksida serta
bahan-bahan pengotor lainnya. Semen yang digunakan untuk membangun suatu struktur
hams mempunyai kualitas tertentu agar dapat berfungsi secara efektif. Pemeriksaan
secara berkala perlu dilakukan, baik pada saat pemrosesan, saat menjadi bubuk semen
maupun setelah menjadi pasta semen. Pemeriksaan semen atau pengujian semen hams
dilakukan sesuai dengan standar mutu. Standar yang paling umum dianut di dunia adalah
Standar ASTM, "American Society for Testing and Material" C-150 dan British Standar
(BS-12). Di Indonesia, kita menggunakan Standar Industri Indonesia, (SII-0013-81) yang
mengadopsi ASTM C-150-80. SU kini telah diperbarui menjadi SNI.
Kekuatan Tekan
Kekuatan tekan semen diuji dengan cara membuat mortar yang kemudian ditekan
sampai hancur. Contoh semen yang akan diuji dicampur dengan pasir silika dengan
perbandingan tertentu, kemudian dibentuk menjadi kubus-kubus berukuran 5x5x5 cm.
Setelah berumur 3, 7, 14 dan 28 hari dan mengalami perawatan dengan perendaman,
benda uji tersebut diuji kekuatan tekannya. Perkembangan kekuatan tekan untuk. mortar
dan beton yang menggunakan berbagai jenis semen.

I.3. Peralatan

1. Botol Le Chatelier
2. Timbangan dengan ketelitian 1,0 gram
3. Thermometer

I.4. Bahan dan Persiapan Percobaan

1. Semen Portland sebanyak 64 gram


2. Kerosin bebas air atau naptha dengan berat jenis 62 API. ( American Proteleum
Institute )
BAB II

PERCOBAAN

II.1. Prosedur

1. Isi botol Le Chateleir dengan kerosin atau naptha sampai anatar skala 0 dan 1.
Kemudian bagian dalam botol diatas permukaan cairan dikeringkan.
2. Masukan botol kedalam bak air sebagai usaha menjaga suhu konstan dalam waktu
yang cukup untuk menghindarkan variai suhu botol yang lebih besar dari 0,2°C
3. Setelah baca suhu air sama dengan cairan dalam botl baca skala pada botol (A).
4. Masukan semen / benda uji sedikit demi sedikit kedalam botol jangan terjadi ada
semen yang menenmpel pada dinding dalam botol diatas cairan.
5. Setelah semua benda uji dimasukan, putar botol dengan posisi miring secara perlahan
– lahan sampai gelembung udara tidak timbul lagi pada permukaan cairan.
6. Ulangi pekerjaan pada no. 2 stelah suhu air sama dengan suhu cairan dalam botol,
baca skala botol (B)

II.2. Perhitungan
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑆𝑒𝑚𝑒𝑛
Berat jenis = ( 𝐵−𝐴 )×𝑑

A = pembacaan pertama pada skala botol

B = pembacaan kedua pada skala botol

(B-A) = isi cairan yang dipindahkan oleh semen dengan berat tertentu.

D = berat isi air pada suhu 4°C (1g/cm3)

II.3. Dokumentasi
BAB III

HASIL PERCOBAAN

III.1. Hasil Percobaan

Sampel 1
 Berat isi semen Portland (W) = 64 gram
 Pembacaan skala cairan (V1) = 0,6 ml
 Pembacaan cairan + benda uji (V2) = 20,9 ml
 Berat jenis semen setelah dihitung = 3,15 g/cm³

Sampel 2
 Berat isi semen Portland (W) = 64 gram
 Volume minyak tanah (V1) = 0,7 ml
 Volume semen (V2) = 21,1 ml
 Berat jenis semen setelah dihitung = 3,13 g/cm³

Menghitung Berat Jenis Semen


 Sampel 1  Sampel 2
𝑊 𝑊
BJ = ×𝑑 BJ = ×𝑑
(𝑉2 − 𝑉1) (𝑉2 − 𝑉1)
64 64
= ×1 = ×1
20,9 − 0,6 21,1 − 0,7
= 3,15 gram/cm³ = 3,13 gram/cm³
INSTITUT TEKNOLOGI INDONESIA

Jl. Raya Puspitak, Serpong, Tangerang Selatan 15320


Telepon(021)7561102, 7560545 ext.111
Fax. : 021-7561102, 7560542

SPECIFIK GRAVITY SEMEN


(ASTM C-188)

Laporan No. = 01 Tgl. Pengujian = 23 November 2016


Jenis Semen = Protland Pelaksanaan = Kelompok 1
Merek Semen = Tiga Roda Diperiksa Oleh= Khoiri
Untuk = Praktikum
Penyusun modul = Dion Nando R.G.

Pemeriksaan I II

A. Berat benda uji (gram) 64 64

B. Pembacaan skala cairan (V1 ) 0,6 0,7


C. Pembacaan cairan +benda uji (V2 ) 20,9 21,1
D. Vol. benda uji (V2-V1) (cm3 ) 20,3 20,4
E. Berat jenis (A/D)
𝐴
Berat Jenis Semen = 𝐶−𝐵 x d 3,15 3,13

d = Berat isi air pada suhu 4°C = 1 gram/cm³


Rata-rata 3,14
BAB IV

PENUTUP

IV.1. Kesimpulan

Berdasarkan data hasil pengujian praktikum beton kelompok kami kemarin, BJ semen
yang diuji memenuhi syarat karena BJ semen Portland pada umumnya berkisar antara 3,00 –
3,15, hasil pengujian didapat BJ semen Portland 3,14 (1 g/cm3 ). Percobaan dibuat dua kali yang
diijinkan 0.01. Sehingga percobaan yang dilakukan sudah benar karena hasil yang diperoleh
sesuai dengan BJ Portland.

IV.2. Faktor Kesalahan

1. Kurang terampilnya praktikum dalam menggunakan alat.


2. Kurang telitiya saat membaca skala alat.
3. Tidak tepat dalam menimbang menggunakan timbangan manual.
4. Kotornya Botol le chatelier, sehinggan data yang dibaca kurang teliti.
IV.2. Saran

1. Pengenalan alat yang lebih mendasar agar dalam praktikum menjadi lebih terampil.
2. Penjelasan data yang kurang, sehingga harus lebih baik dalam data-data praktikum.
3. Perlu adanya penambahan alat-alat penunjang praktikum sehingga data yang diperoleh
dapat lebih akurat.