Anda di halaman 1dari 27

BAB IV

ANALISA DATA

Berdasarkan data mengenai kapasitas daya listrik dari PLN dan daya

Genset di setiap area pada Project Ciputra World 1 Jakarta, maka dapat

digunakan untuk menentukan parameter setting dan menganalisa kehandalan dari

system Auto Back Synchrone yang digunakan di Ciputra World 1 Jakarta.

Module Deepsea 8660 dan 8610 adalah media yang digunakan untuk

mengatur system Auto Back Synchrone ini. Seluruh parameter setting yang sudah

ditentukan melalui perhitungan – perhitungan berdasarkan kapasitas daya dan

segala sesuatu yang diinginkan dalam sistem ini akan dimasukkan ke dalam

Deepsea 8660 dan 8610.

Karena system Auto Back Synchrone ini adalah membuat dua buah

sumber tenaga listrik yang berbeda ( PLN dan genset ) dapat bekerja secara

paralel ( Synchrone ), maka dari itu kedua tipe Module Deepsea ini memiliki

fungsi dan peran masing – masing. Untuk Module Deepsea 8660 ( Auto Transfer

Switch & Mains Control Module ) adalah pengatur system di bagian sumber

tegangan listrik yang berasal dari PLN atau biasa dikenal dengan Mains Power (

Sumber tegangan Utama ). Deepsea 8660 ini akan memberikan kontrol terhadap 2

39
http://digilib.mercubuana.ac.id/
40

buah Automatic Circuit Breaker yang ada pada panel utama, satu buah circuit

breaker terletak di incoming dari datangnya tegangan dari sumber tegangan PLN (

Mains Breaker ) dan satu buah lagi di incoming datangnya tegangan dari sumber

tegangan Genset ( Bus Breaker ).

Sedangkan untuk Module Deepsea 8610 ( Auto Start Load Share Module )

adalah pengatur serta memberikan proteksi untuk genset. Deepsea 8610 ini hanya

mengontrol 1 buah circuit breaker saja, yaitu incoming dari genset. Jadi secara

fungsi deepsea 8610 ini yang mengatur kapan genset harus menyala, kapan genset

harus shutdown, memberikan proteksi terhadap genset dari gangguan dan

mengatur sinkronisasi antar genset serta mengatur pembagian beban antar genset.

Berikut ini adalah penempatan dari Module Deepsea 8660 dan 8610 pada sistem

Auto Back Synchrone di Ciputra World 1 Jakarta:

Deepsea 8660

Deepsea 8610

Gambar 4.1 Posisi Penempatan Module Deepsea 8660 dan 8610 pada area Office

http://digilib.mercubuana.ac.id/
41

Deepsea 8660

Deepsea 8610

Gambar 4.2 Posisi Penempatan Module Deepsea 8660 dan 8610 pada area

Podium

http://digilib.mercubuana.ac.id/
42

Deepsea 8660

Deepsea 8610

Gambar 4.3 Posisi Penempatan Module Deepsea 8660 dan 8610 pada area

Apartment, Hotel, dan Premium Residence

http://digilib.mercubuana.ac.id/
43

4.1 Perhitungan kapasitas konsumsi daya maksimum.

Berdasarkan spesifikasi pada trafo dan teori distribusi tenaga listrik,

menyarankan bahwa konsumsi daya maksimal tidak boleh melebihi dari kapasitas

maksimal dari spesifikasi daya trafo, hal ini dapat menyebabkan efisiensi kerja

dari trafo menurun dari waktu ke waktu. Maka dari itu, berdasarkan data kapasitas

daya pada masing – masing area di Ciputra World 1 Jakarta yang ditunjukkan

pada tabel 3.1, dapat ditentukan daya konsumsi maksimal pada setiap area adalah

sebesar 98% dari kapasitas daya total di setiap area. Pengaturan daya konsumsi

maksimum ini selain digunakan untuk melindungi infrastruktur distribusi tenaga

listrik, juga digunakan sebagai acuan untuk menentukan koordinasi parameter

setting dari proteksi arus lebih pada jaringan distribusi tenaga listrik di setiap area

agar konsumsi daya pada masing-masing area tidak melebihi dari jatah daya

maksimum yang diberikan oleh PLN.

Tabel di bawah ini menujukkan nilai daya konsumsi maksimum yaitu

sebesar 98% dari kapasitas daya total di setiap area pada Ciputra World 1 Jakarta.

Tabel 4.1 Tabel Daya Konsumsi Maksimum

Kapasitas Daya Konsumsi Tegangan


Area Substation
Daya ( KVA ) Maksimum ( KVA ) ( Volt )
Office Office 3895 KVA 3817 KVA 20 KV
Retail 1 6055 KVA 5934 KVA 20 KV
Podium Retail 2 6230 KVA 6105 KVA 20 KV
Retail 3 6230 KVA 6105 KVA 20 KV
Apartment 2500 KVA 2450 KVA 20 KV
Apartment
Hotel 4000 KVA 3920 KVA 20 KV
dan Hotel
Premium Residence 3200 KVA 3136 KVA 20 KV

http://digilib.mercubuana.ac.id/
44

Tabel diatas digunakan sebagai acuan untuk menentukan beberapa

parameter setting lain seperti setting daya aktif dan daya reaktif, setting proteksi

arus overload dan overcurrent dan setting proteksi untuk arus balik dalam

jaringan.

Seluruh parameter setting ini dimasukkan ke dalam parameter setting yang

ada di Deepsea 8660. Karena dalam sistem ini Deepsea 8660 berperan sebagai

otak dari sistem Auto Back Syncrhone di Ciputra World 1 Jakarta ini. Maka dari

itu berdasarkan hubungan segitiga daya yang ditunjukkan pada persamaan 2.7,

sebagai contoh pada area Podium Retail 1 untuk mendapatkan nilai parameter

setting daya aktif maksimum yang dimasukkan ke dalam parameter setting

Deepsea 8660 pada Cubicle incoming PLN di Panel MVMSB Retail 1 adalah

sebagai berikut :

- Area Podium Retail 1

P = S x cos phi

= 5934 x 0,95

= 5637,3 Kw ≈ 5638 Kw

Perhitungan diatas merupakan perhitungan daya aktif ( P ) maksimum pada salah

satu area yaitu area Podium Retail 1 yang ada di Ciputra World 1 Jakarta. Dengan

menggunakan cara perhitungan yang sama, maka dapat ditentukan setting

kapasitas daya aktif maksimum pada area lain di Ciputra World 1 Jakarta dengan

hasil dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

http://digilib.mercubuana.ac.id/
45

Tabel 4.2 Tabel Parameter Setting Daya Aktif Maksimum ( KW )

Setelah mendapatkan hasil perhitungan untuk setting kapasitas daya aktif

maksimum pada masing-masing area di Ciputra World 1 Jakarta, maka hasil

perhitungan setting tersebut kita masukkan ke dalam parameter setting pada

Module Deepsea 8660. Di bawah ini diambil contoh untuk setting kapasitas daya

aktif maksimum pada Module Deepsea 8660 di area Podium Retail 1.

Gambar 4.4 Setting kapasitas daya aktif maksimum area Podium Retail 1

http://digilib.mercubuana.ac.id/
46

Pada tahap selanjutnya adalah menentukan parameter setting untuk daya

reaktif ( Q ) berdasarkan kapasitas daya maksimum di setiap area Ciputra World 1

Jakarta. Berdasarakan persamaan 2.7, sebagai contoh pada area Podium Retail 1

untuk mendapatkan nilai parameter setting daya reaktif maksimum yang

dimasukkan ke dalam parameter setting Deepsea 8660 pada Cubicle incoming

PLN di Panel MVMSB Retail 1 adalah sebagai berikut :

Area Podium Retail 1

Q = S x sin phi

= 5934 x 0,312

= 1851,408 Kvar ≈ 1851 Kvar

Perhitungan diatas merupakan perhitungan daya reaktif ( Q ) maksimum pada

salah satu area yaitu area Podium Retail 1 yang ada di Ciputra World 1 Jakarta.

Dengan menggunakan cara perhitungan yang sama, maka dapat ditentukan setting

kapasitas daya reaktif maksimum pada area lain di Ciputra World 1 Jakarta

dengan hasil dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.3 Tabel Parameter Setting Daya Reaktif Maksimum ( KVar )

http://digilib.mercubuana.ac.id/
47

Setelah mendapatkan hasil perhitungan untuk setting kapasitas daya reaktif

maksimum pada masing-masing area di Ciputra World 1 Jakarta, maka hasil

perhitungan setting tersebut kita masukkan ke dalam parameter setting pada

Module Deepsea 8660. Di bawah ini diambil contoh untuk setting kapasitas daya

reaktif maksimum pada Module Deepsea 8660 di area Podium Retail 1.

Gambar 4.5 Setting kapasitas daya reaktif maksimum area podium Retail 1

Agar sistem distribusi tenaga listrik dapat berjalan dengan aman, maka kita

tidak boleh menggunakan daya konsumsi beban dengan nilai yang sama atau

bahkan melebihi kapasitas daya total yang diberikan oleh PLN. Hal ini

memungkinkan resiko terjadinya gangguan menjadi besar. Beberapa akibat

apabila kita menggunakan daya listrik yang diberikan oleh PLN secara

keseluruhan ( 100% ) adalah sebagai berikut :

http://digilib.mercubuana.ac.id/
48

a. Terjadi gangguan beban berlebih ( overload ) yang menyebabkan relay

proteksi overload aktif dan akan memutus aliran tegangan listrik ( CB

Open ) dan seluruh beban akan padam.

b. Apabila relay proteksi pada panel utama tidak bekerja maksimal, maka ada

kemungkinan ketika terjadi gangguan yang akan bekerja lebih dahulu

adalah proteksi yang ada di Gardu Induk milik PLN. Apabila hal ini terjadi

maka pengelola gedung akan dikenakan sanksi oleh PLN.

c. Menurunnya usia pemakaian ( lifetime ) trafo distribusi pada jaringan

distribusi tenaga listrik. Kareana pemakaian 100% pada sebuah trafo

memang tidak diajurkan oleh produsen trafo manapun.

4.2 Perhitungan parameter Setting Proteksi untuk sistem Auto Backup


Synchrone

4.2.1 Mains Voltage Alarms

Mains Voltage Alarms adalah parameter setting untuk proteksi

terhadap nilai tegangan dari sumber tegangan utama ( PLN ). Karena

salah satu syarat untuk dapat memparalelkan ( Synchrone ) 2 buah

sumber tegangan yang berbeda ( PLN dan genset ) adalah nilai

tegangan harus sama. Maka dari itu untuk menjag kestabilan nilai

tegangan baik dari Genset maupun PLN, proteksi ini sangat

dibutuhkan. Jadi apabila nilai tegangan dari salah satu sumber

tegangan naik / turun melebihi dari batas yang sudah ditentukan dan

sudah tidak memenuhi persyaratan Synchrone, maka dari itu Module

Deepsea 8660 akan melakukan action berupa melepas ( Open ) CB

sumber tegangan yang nilai tegangannya bermasalah. Berikut ini

http://digilib.mercubuana.ac.id/
49

adalah perhitungan untuk menentukan nilai parameter proteksi

tegangan untuk sistem Auto Back Synchrone :

a. Nominal Voltage ( Tegangan Nominal Jaringan )

Tegangan nominal jaringan yang digunakan dalam sistem

ini adalah Medium Voltage 20 KV. Maka dari itu pada Module

Deepsea 8660 nilai tegangan yang terbaca adalah setelah melalui

proses penurunan nilai tegangan menggunakan Voltage

Transformer dengan perbandingan kumparan primer dan sekunder

nya adalah 20.000 V / 100 V. Artinya adalah apabila tegangan

input yang masuk ke kumparan primer Voltage Transformer

sebesar 20.000 Volt, maka tegangan output pada kumparan

sekunder Voltage Transformer yang terbaca oleh Module Deepsea

8660 adalah sebesar 100 Volt.

b. Under Voltage ( Batas minimum tegangan turun )

Nilai parameter setting untuk under voltage dalam sistem

ini ditentukan pada angka 13% dari tegangan nominal. Maka dari

itu dengan persamaan dibawah, maka nilai batas tegangan turun

dalam sistem ini adalah sebagai berikut :

Under Voltage = 100 Volt - ( 12 % x 100 Volt )

= 100 Volt – 12 Volt

= 88 Volt

http://digilib.mercubuana.ac.id/
50

Nilai diatas apabila kita konversi dengan perbandingan Voltage

Transformer yaitu 20000 V / 100 V, maka akan mendapatkan hasil

sebagai berikut :

100 / 20.000 = 88 / Y Volt

100 x Y Volt = 20.000 x 88

Y Volt = 17.600 Volt

Nilai Y Volt adalah definisi dari nilai tegangan sebenarnya

dalam jaringan sistem ini. Apabila nilai tegangan PLN turun

sampai menyentuh angka tersebut diatas, maka nilai tegangan

tersebut sudah tidak layak untuk dilakukan proses Synchronizing

dan juga berbahaya untuk operasional beban pada jaringan.

c. Over Voltage ( Batas maksimal tegangan naik )

Nilai parameter setting untuk over voltage dalam sistem ini

ditentukan pada angka 9% dari tegangan nominal. Maka dari itu

dengan persamaan dibawah, maka nilai batas tegangan naik dalam

sistem ini adalah sebagai berikut :

Over Voltage = 100 Volt + ( 9 % x 100 Volt )

= 100 Volt + 9 Volt

= 109 Volt

http://digilib.mercubuana.ac.id/
51

Nilai diatas apabila kita konversi dengan perbandingan Voltage

Transformer yaitu 20000 V / 100 V, maka akan mendapatkan hasil

sebagai berikut :

100 / 20.000 = 109 / W Volt

100 x W Volt = 20.000 x 109

W Volt = 21.800 Volt

Nilai W Volt adalah definisi dari nilai tegangan sebenarnya

dalam jaringan sistem ini. Apabila nilai tegangan PLN naik sampai

menyentuh angka tersebut diatas, maka nilai tegangan tersebut

sudah tidak layak untuk dilakukan proses Synchronizing dan juga

berbahaya untuk operasional beban pada jaringan.

Setelah dilakukan perhitungan untuk menentukan nilai

parameter setting Mains Voltage Alarms pada Module Deepsea 8660,

maka berikut ini adalah gambar yang menunjukkan parameter setting

tersebut di dalam Module Deepsea 8660.

http://digilib.mercubuana.ac.id/
52

Gambar 4.6 Parameter setting Mains Voltage Alarm pada Deepsea


8660

Proteksi terhadap nilai tegangan sangat dibutuhkan dalam

sistem Auto Back Synchrone ini. Selain karena untuk memenuhi

persyaratan proses synchronizing, tetapi juga digunakan sebagai

pengaman beban agar beban tidak cepat rusak terutama beban-beban

elektronik. Banyak sekali beban-beban elektronik yang sangat sensitif

terhadap nilai tegangan yang tidak stabil. Dengan adanya proteksi

Mains Voltage Alarms ini maka sistem jaringan distribusi dan sistem

Auto Back synchrone dapat berjalan dengan baik.

http://digilib.mercubuana.ac.id/
53

4.2.2 Mains Frequency Alarms

Mains Frequency Alarms adalah parameter setting untuk

proteksi terhadap nilai frekwensi dari sumber tegangan utama ( PLN ).

Karena salah satu syarat untuk dapat memparalelkan ( Synchrone ) 2

buah sumber tegangan yang berbeda ( PLN dan genset ) adalah nilai

frekwensi harus sama. Maka dari itu proteksi untuk nilai frekwensi ini

sangat dibutuhkan. Jadi apabila nilai frekwensi dari salah satu sumber

tenaga listrik naik / turun melebihi dari batas yang sudah ditentukan

dan sudah tidak memenuhi persyaratan Synchrone, maka dari itu

Module Deepsea 8660 akan melakukan action berupa melepas ( Open

) CB sumber tegangan yang nilai tegangannya bermasalah. Untuk

sumber tegangan yang dihasilkan oleh genset, nilai frekwensi ini

berbanding lurus dengan besar kecilnya nilai putaran mesin ( Rpm

mesin ) dari genset tersebut. Maka dalam sistem ini sangat

membutuhkan genset dengan performa mesin yang baik agar nilai

frekwensi tegangan yang dihasilkan dapat terjaga dengan baik.

Berikut ini adalah perhitungan untuk menentukan nilai parameter

proteksi nilai frekwensi untuk sistem Auto Back Synchrone :

http://digilib.mercubuana.ac.id/
54

a. Nilai Frekwensi dengan kecepatan putaran mesin Genset

berbanding lurus berdasarkan persamaan 2.11 dan perhitungan di

bawah ini :

n = 120 x f / p

= 120 x 50 / 4

= 1500 rpm

Nilai nominal frekwensi tegangan dari PLN adalah 50 Hz. Maka

dari itu, butuh kecepatan putaran mesin genset sebesar 1500 Rpm

untuk menghasilkan nilai frekwensi 50 Hz pada keluaran tegangan

generatornya.

b. Under Frequency ( Batas bawah nilai frekwensi )

Nilai parameter setting untuk under frequency dalam sistem

ini ditentukan pada angka 10% dari frekwensi nominal. Maka dari

itu dengan persamaan dibawah ini, maka batas bawah nilai

frekwensi dalam sistem ini adalah sebagai berikut :

Under Frequency = 50 Hz - ( 10 % x 50 Hz)

= 50 Hz – 5 Hz

= 45 Hz

http://digilib.mercubuana.ac.id/
55

c. Over Frequency ( Batas atas nilai frekwensi )

Nilai parameter setting untuk over frequency dalam sistem

ini ditentukan pada angka 4% dari frekwensi nominal. Maka dari

itu dengan persamaan dibawah ini, batas atas nilai frekwensi

dalam sistem ini adalah sebagai berikut :

Over Frequency = 50 Hz + ( 4 % x 50 Hz)

= 50 Hz + 2 Hz

= 52 Hz

Setelah dilakukan perhitungan untuk menentukan nilai

parameter setting Mains Frequency Alarms pada Module Deepsea

8660, maka berikut ini adalah gambar yang menunjukkan parameter

setting tersebut di dalam Module Deepsea 8660.

Gambar 4.7 Parameter setting Mains Frequency Alarm pada Deepsea


8660

http://digilib.mercubuana.ac.id/
56

4.3 Perhitungan parameter setting untuk proses Synchronizing PLN –


Genset pada System Auto Backup Synchrone

4.3.1 Parameter Setting Bus Options

Bus Options adalah salah satu fitur dalam Module Deepsea

8660 yang berguna untuk menentukan nilai nominal tegangan dan

frekwensi dari Genset pada saat proses synchronizing antara PLN dan

Genset. Karena nilai nominal tegangan dan frekwensi ini merupakan

syarat agar proses synchronizing dapat berjalan dengan aman, maka

setting tegangan dan frekwensi genset pada fitur Bus Options ini harus

sama dengan setting nilai nominal tegangan dan frekwensi PLN pada

fitur Mains Options. Gambar dibawah ini menunjukkan jenis-jenis

parameter setting yang ada dalam fitur Bus Options pada Module

Deepsea 8660.

Gambar 4.8 Setting ratio Voltage Transformer pada Cubicle


Incoming Genset

http://digilib.mercubuana.ac.id/
57

Gambar 4.9 Parameter setting Nominal Tegangan dan Frekwensi


Genset

Kemudian pada tahap berikutnya, untuk menentukan level

operasional yang aman dari sistem Auto Back Synchrone ini kita harus

menentukan beberapa parameter setting yang benar–benar akan

berperan penting dalam operasional sistem Auto Back Synchrone di

Ciputra World ini. Parameter setting tersebut adalah sebagai berikut :

a. Dead Bus

Parameter setting Dead Bus adalah nilai tegangan maksimal

yang terbaca di main busbar panel synchrone apabila tidak terdapat

sumber tegangan yang masuk melewati CB Incoming dari panel

tersebut. Jadi apabila Module Deepsea 8660 membaca tegangan di

main busbar sesuai dengan parameter setting Dead Bus atau di

bawah parameter setting Dead Bus, maka Module Deepsea 8660

akan menganggap main busbar tidak bertegangan dan layak untuk

diisi tegangan dari salah satu sumber tegangan baik dari PLN

maupun Genset. Nilai parameter setting Dead Bus dalam sistem ini

http://digilib.mercubuana.ac.id/
58

adalah 22 volt pada sisi sekunder dari Voltage Transformer, maka

dari itu dengan acuan perbanding sisi primer dan sekunder dari

Voltage Transformer, tegangan Dead bus yang terbaca di main

busbar panel seharusnya adalah sebagai berikut :

100 / 20.000 = 22 / DB Volt

100 x DB Volt = 20.000 x 22

DB Volt = 4.400 Volt

Jadi, apabila di main busbar panel Medium Voltage masih ada

tegangan sisa baik dari PLN maupun genset dengan nilai 4.400

Volt, maka main busbar ini aman untuk diisi dengan tegangan dari

salah satu sumber yang lain baik dari PLN maupun Genset. Tetapi

apabila tegangan sisa melebihi setting daripada Dead Bus, maka

main busbar tidak aman untuk diisi tegangan dari sumber tegangan

lain.

b. Check Sync

Paramater check sync berarti selisih antar nilai nominal

tegangan, frekwensi, dan sudut fasa antar sumber tegangan PLN

dan Genset. Karena pada prinsipnya synchronizing itu adalah

menggabungkan ( memparalelkan ) dua buah sumber tenaga listrik

yang berbeda, maka dari itu pada fitur check sync inilah kita

menentukan selisih tegangan, frekwensi, dan sudut fasa dari kedua

sumber tegangan tersebut. Semakin kecil selisihnya semakin aman

dua sumber tegangan untuk di synchrone.

http://digilib.mercubuana.ac.id/
59

c. Fail To Sync Alarm

Parameter Fail to sync alarm adalah parameter proteksi

untuk lama proses synchronizing dari awal menyamakan tegangan,

frekwensi, sudut fasa, dll sampai kepada dua buah sumber tegangan

bisa diparalelkan. Apabila proses ini terlalu lama dapat

disimpulkan bahwa salah satu sumber tegangan baik dari PLN

maupun genset tidak dalam kondisi yang normal. Maka dari itu

proses synchronizing harus segera dihentikan agar tidak terjadi

gangguan yang membahayakan sistem distribusi tenaga listrik

tersebut.

Dari penjelasan fitur-fitur yang pada Bus Options di atas,

dibawah ini adalah gambar yang menunjukkan parameter setting

pada Module Deepsea 8660.

Gambar 4.10 Parameter setting Check Sync pada Module DSE


8660

http://digilib.mercubuana.ac.id/
60

4.3.2 Load Control

Parameter setting Load Control ini berfungsi untuk mengatur

kecepatan perpindahan beban dari sumber tegangan PLN ke Genset

ataupun sebaliknya. Proses perpindahan beban ini terjadi saat sistem

Auto Back Synchrone bekerja. Jadi, beban yang pada awalnya di back

up oleh sumber tegangan dari PLN saat proses back synchrone sudah

berhasil maka beban akan pelan – pelan dipindahkan ke genset sesuai

dengan nilai parameter setting pada Load Control ini. Hal ini juga

berlaku untuk keadaan sebaliknya dimana saat beban di back up oleh

Genset dan kemudian sumber tegangan PLN kembali normal maka

beban akan pelan-pelan dipindahkan dari Genset ke PLN. Proses ini

yang biasanya dikenal dengan proses Load Sharing yaitu pembagian

beban antara 2 buah sumber tegangan yang berbeda pada saat proses

synchrone terjadi.

Dibawah ini ditunjukkan gambar parameter setting Load

Control pada Module Deepsea 8660.

Gambar 4.11 Parameter setting Load Control

Yang dimaksud dengan setting Ramp Speed pada parameter

Load Control ini adalah saat terjadi Load Sharing ( Perpindahan

beban ) baik dari PLN ke Genset maupun sebaliknya, Module DSE

http://digilib.mercubuana.ac.id/
61

8660 akan mengatur perpindahan beban tersebut dengan kecepatan

1% dari total beban per detik. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi over

current saat beban dipindahkan dari salah satu sumber tegangan ke

sumber tegangan yang lain.

4.4 Gangguan pada sistem Auto Backup Synchrone dan cara mengatasinya

Berdasarkan tahap-tahap dan persyaratan proses synchrone yang

sudah dijelaskan pada bab sebelumnya. Maka parameter setting diatas

merupakan syarat mutlak untuk dipenuhi agar sistem Auto Back synchrone ini

dapat berjalan dengan baik. Namun dalam proses aplikasi sistem ini di

lapangan, terdapat beberapa permasalahan yang terjadi sehingga beberapa

kali terjadi gangguan pada sistem tersebut. Berikut ini adalah pembahasan

gangguan yang terjadi pada aplikasi sistem di lapangan dan solusi untuk

mengatasi gangguan tersebut.

4.4.1 Gangguan Flicker ( Tegangan Kedip ) pada sumber tegangan

PLN

Salah satu permasalahan atau gangguan jaringan distribusi

tenaga listrik di Indonesia yang sering terjadi adalah adanya tegangan

kedip ( Flicker ) dan sumber tegangan utama PLN. Jadi pada

prosesnya, sistem Auto Back Synchrone ini adalah memprioritaskan

sumber tegangan dari PLN, apabila terdapat masalah pada sumber

tegangan utama dari PLN misalkan PLN padam, Flicker, under / over

voltage, dsb yang tidak memenuhi persyaratan yang sudah disetting

http://digilib.mercubuana.ac.id/
62

pada Module Deepsea 8660. Maka Module Deepsea 8660 akan

membuka jalur utama ( CB Incoming ) dari tegangan PLN dan

memanggil genset untuk segera menyala dan mengambil alih beban.

Jadi Module Deepsea 8660 ini bekerja berdasarkan sensor tegangan

PLN yang dibaca oleh Module. Apabila tegangan PLN kedip dalam

waktu yang sangat singkat dan Module Deepsea 8660 kehilangan

pembacaan nilai tegangan PLN pada sensor input tegangan, maka

Module Deepsea 8660 akan memutus jalur utama ( CB Incoming )

tegangan PLN dan memanggil genset. Tetapi karena hilangnya

tegangan PLN ini hanya sesaat dan dalam waktu yang sangat singkat,

sebelum genset berhasil mengambil alih beban, sensor tegangan PLN

pada Module Deepsea 8660 kembali merasakan tegangan PLN yang

sudah normal kembali. Hal ini sering kali menyebabkan Module

Deepsea 8660 menjadi alarm dan akhirnya sistem berhenti.

Efek dari berhentinya sistem ini adalah tidak adanya sumber

tegangan yang bisa mengambil alih beban baik dari PLN maupun dari

Genset. Agar gangguan gagalnya sistem ini tidak kembali terjadi saat

sumber tegangan utama dari PLN mengalami kedip, maka hal yang

bisa dilakukan adalah menambah waktu delay pada saat sensor

tegangan membaca tegangan hilang dari sumber tegangan PLN (

Mains Transient Delay ). Parameter setting Mains Transient Delay

pada Module Deepsea 8660 berguna untuk memberikan waktu kepada

sistem untuk membaca gangguan yang terjadi pada sumber tegangan

utama dari PLN. Jadi apabila terjadi gangguan dari sisi sumber

http://digilib.mercubuana.ac.id/
63

tegangan utama PLN seperti tegangan kedip ini, maka Module

Deepsea 8660 akan menahan sistem agar tidak bereaksi terhadap

gangguan tersebut selama waktu mains transient delay ini berjalan.

Apabila sampe waktu delay pada Mains transient delay ini habis tetapi

gangguan tetap belum hilang, maka Module Deepsea 8660 akan

memerintahkan sistem untuk membuka jalur utama tegangan PLN dan

memanggil genset untuk mengambil alih beban.

Parameter setting Mains Transient Delay ini pada sistem Auto

Back Synchrone disetting pada nominal waktu 5 detik. Untuk

gangguan tegangan kedip ini ( Flicker ), asumsinya adalah gangguan

ini tidak akan terjadi melebihi dari waktu tersebut. Sehingga sistem

tidak berhenti dan Module Deepsea 8660 tidak akan memunculkan

alarm. Pada gambar di bawah ini menunjukkan parameter setting

Mains Transient Delay yang ada pada Module Deepsea 8660.

Gambar 4.12 Parameter setting Mains Transient Delay pada Module

Deepsea 8660

http://digilib.mercubuana.ac.id/
64

Dari berbagai analisa dan perhitungan-perhitungan diatas, menunjukkan

bahwa dalam sebuah jaringan distribusi tenaga listrik yang menggunakan metode

synchrone dari beberapa jenis sumber tegangan yang berbeda maka untuk

mendapatkan hasil yang baik, semua persyaratan terutama persyaratan untuk

proses synchronizing dan proteksi jaringan harus dipenuhi dan dihitung

berdasarkan kapasitas daya pada masing-masing area di Ciputra World 1 Jakarta.

Karena pada prosesnya dari beberapa sequence sistem Auto Backup Synchrone

yang digunakan di Ciputra World 1 Jakarta yang benar-benar butuh tingkat

ketelitian yang tinggi adalah saat proses synchronizing antara tegangan PLN –

Genset dan saat proses load sharing ( pemindahan beban ) dari PLN ke Genset

ataupun sebaliknya. Untuk parameter setting dari dua sequence diatas,

perhitungan dasarnya berasal dari data kapasitas daya masing-masing area di

Ciputra World 1 Jakarta.

Selanjutnya untuk proteksi jaringan distribusi sistem Auto Backup

Synchrone ini lebih diutamakan untuk proteksi terhadap tegangan dan frekwensi.

Hal ini dikarenakan parameter tegangan dan frekwensi merupakan persyaratan

proses synchrone yang paling utama agar sistem dapat berjalan dengan baik.

Sistem jaringan distribusi tenaga listrik Auto Backup Synchrone ini

memberikan kemudahan bagi para pengelola gedung dalam menjalankan

operasional gedung dengan memberikan banyak pilihan yang bisa dilakukan

ketika terjadi gangguan dari sumber tegangan listrik utama dari PLN.

http://digilib.mercubuana.ac.id/
36

http://digilib.mercubuana.ac.id/