Anda di halaman 1dari 6

MINI PROJECT

“ HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN KADER POSYANDU TENTANG


STUNTING DENGAN KETERAMPILAN MELAKUKAN DETEKSI DINI BALITA
STUNTING DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS BONTANG BARAT
TAHUN 2019 “

Peneliti :

Dr.Rannie Kusuma

Pembimbing:

Dr. Johannes H. Sianipar


BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan dalam periode tahun 2015-2019 difokuskan pada empat
program prioritas yaitu penurunan angka kematian ibu dan bayi, penurunan prevalensi
balita pendek (stunting), pengendalian penyakit menular dan pengendalian penyakit tidak
menular. Upaya peningkatan status gizi masyarakat termasuk penurunan prevalensi balita
pendek menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional yang tercantum di dalam
sasaran pokok Rencana Pembangunan jangka Menengah Tahun 2015 – 2019. Target
penurunan prevalensi stunting (pendek dan sangat pendek) pada anak baduta (dibawah 2
tahun) adalah menjadi 28% (RPJMN, 2015 – 2019).
Stunting (Pendek) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan
yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan panjang atau
tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak
dari WHO. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak
faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan
kurangnya asupan gizi pada bayi.
Dampak dari stunting tidak hanya dirasakan oleh individu yang mengalaminya
tetapi juga berdampak terhadap roda perekonomian dan pembanguan bangsa. Hal ini
dikarenakan sumberdaya manusia yang stunting memiliki kualitas yang lebih rendah
dibandingkan dengan sumberdaya manusia normal.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang pada masa balitanya
mengalami stunting memiliki tingkat kognitif rendah, presentasi belajar dan psikososial
buruk (De Souza, 2015). Bayi yang mengalami severe stunting di dua tahun pertama
kehidupannya memiliki hubungan sangat kuat terhadap keterlambatan kognitif dimasa
kanak-kanak nantinya (Abubakar, Uriyo, Myusa, Swai, dan Stray-Pedersen, 2012).
Kejadian stunting yang berlangsung sejak masa kanak-kanak memiliki hubungan terhadap
perkembangan motorik lambat dan tingkat IQ lebih rendah (Ramos, Dumith dan Cesar,
2014).
Kejadian balita pendek atau biasa disebut stunting merupakan salah satu masalah
gizi yang dialami oleh balita didunia saat ini. Pada tahun 2017, 22,2% atau sekitar 150,8
juta balita di dunia mengalami stunting. Namun angka ini sudah mengalami penurunan jika
dibandingkan dengan angka stunting pada tahun 2000 yaitu 32,6% (Joint Child
Malnutrition Eltimates, 2018)
Pada tahun 2017 , lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari
Asia(55%) sedangkan lebih dari sepertiganya (39%) berasal dari Afrika. Dari 83,6 juta
balita stuntingdi Asia , proporsi terbanyak berasal dari Asia selatan (58,7%) dan proporsi
paling sedikit di Asia tengah (0,8%) (Joint Child Malnutrition Eltimates, 2018).
Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health Organization
(WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional
Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi balita stunting di
Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%.
Prevalensi balita pendek di Indonesia cenderung statis. Hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan prevalensi balita pendek di Indonesia sebesar 36,8%.
Pada tahun 2010, terjadi sedikit penurunan menjadi 35,6%. Namun prevalensi balita
pendek kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu menjadi 37,2%. Prevalensi balita pendek
selanjutnya akan diperoleh dari hasil Riskesdas tahun 2018 yang juga menjadi ukuran
keberhasilan program yang sudah diupayakan oleh pemerintah.
Prevalensi balita sangat pendek dan pendek usia 0-59 bulan di Indonesia tahun 2017
adalah 9,8% dan 19,8%. Kondisi ini meningkat dari tahun sebelumnya yaitu prevalensi
balita sangat pendek sebesar 8,5% dan balita pendek sebesar 19%. Provinsi dengan
prevalensi tertinggi balita sangat pendek dan pendek pada usia 0-59 bulan tahun 2017
adalah Nusa Tenggara Timur, sedangkan provinsi dengan prevalensi terendah adalah Bali.
Di wilayah Bontang , angka balita stunting mengalami fluktuasi disetiap tahunnya,
yakni tercatat 16,1 persen pada 2014, menjadi 21,8 persen pada 2015, turun menjadi 20,4
persen tahun 2016, dan naik menjadi 32,4 persen pada 2017. Terbanyak kedua Kabupaten
Kutai Timur yang pada 2014 tercatat 24,7 persen, pada 2015 menjadi 30,2 persen, pada
2016 turun menjadi 29,8 persen, dan pada 2017 kembali naik menjadi 32,2 persen. 4
Deteksi dan intervensi dini stunting merupakan salah satu upaya untuk
meningkatkan kualitas anak dan merupakan salah satu program dari Kemenkes RI.
Pemantauan dan deteksi stunting anak usia dini merupakan bagian dari tanggung jawab
petugas kesehatan puskesmas bekerja sama dengan kader posyandu di wilayah kerjanya.
Ketelitian, pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam melakukan
deteksi dini balita stunting sangatlah penting karena menyangkut dengan pertumbuhan
balita. Keterampilan kader yang kurang serta pengetahuan yang terbatas mengenai masalah
pertumbuhan anak dapat berakibat pula pada interpretasi status gizi yang salah dan dapat
berakibat pula dalam kesalahan mengambil keputusan dan penanganan masalah tersebut.
Dengan demikian kemampuan kader harus dikembangkan untuk berpotensi secara
maksimal, dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang disesuaikan dengan tugas
yang diemban, dalam mengelola posyandu agar dapat berperan aktif dalam meningkatkan
kesehatan masyarakat.
II. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, untuk dapat memberikan
gambaran dan pemahaman yang lebih jelas, maka rumusan masalah pada penelitian ini
meliputi “Hubungan Tingkat pengetahuan kader posyandu tentang stunting dengan
keterampilan deteksi dini balita stunting di posyandu wilayah kerja puskesmas bontang
barat “
III. TUJUAN PENELITIAN
a. TUJUAN UMUM
Mengetahui hubungan antara pengetahuan kader mengenai stunting, tingkat
pendidikan kader, usia kader, lamanya kader bertugas dan frekuensi keikutsertaan
kader dalam pelatihan kader dengan keterampilan deteksi dini balita stunting.
b. TUJUAN KHUSUS
Mengetahui gambaran status gizi anak usia 0-59 bulan berdasarkan indicator
panjang badan menurut umur (PB/U) di kota bontang.
Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan kader posyandu tentang stunting
dengan keterampilan deteksi dini balita stunting di posyandu wilayah kerja
puskesmas bontang barat.
IV. MANFAAT PENELITIAN
a. Bagi Dinas Kesehatan dan Puskesmas
Sebagai masukan bagi tenaga kesehatan dan pihak yang terkait dalam
mengambil kebijakan penanggulangan stunting pada anak usia 0 – 59 bulan di
Kota Bontang.
b. Bagi Kader Posyandu
 Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman mengenai manajemen deteksi
dini dan intervensi dini stunting pada anak 0-59 tahun.
 Bertambahnya keterampilan kader akan mendukung upaya pemantauan
kesehatan dan pengendalian stunting pada anak.
c. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian hubungan tingkat
pengetahuan kader posyandu tentang stunting dengan keterampilan deteksi dini
balita stunting di posyandu wilayah kerja puskesmas bontang barat.