Anda di halaman 1dari 41

PEMASANGAN KATETER URETRA

Dwimantoro Prisilia, dr., Sp.U & Putri Wulan Akbar, dr

TUJUAN :
Mampu melakukan pemasangan kateter sesuai dengan indikasi dan kompetensi
dokter di pelayanan primer.

LEARNING OBYEKTIF :
1. Mampu melakukan pemasangan kateter sesuai dengan indikasi dan
kompetensi dokter di pelayanan primer.

ALAT DAN BAHAN :


1. Bak instrumen sedang steril
2. Kateter foley steril (bungkus 2 lapis) : untuk dewasa ukuran no. 16 atau 18.
3. Handscoon steril.
4. Kasa dan antiseptik (povidone lodine).
5. Doek lubang
6. Jelly KY
7. Pinset steril.
8. Korentang steril + tempat + tutup
9. NaCI atau aqua streil.
10. Spuit 10 CC.
11. Urine bag.

REFERENSI :
1. S.Vahr, H. Cobussen-Boekhorst et al. Catheterisation – Urethral Intermittent in
adults – Dilatation, urethral intermittent in adults. EAUN Good Practice in Health
Care. 2013.
2. hhtp://www.osceskills.com/e-learning/subjects/urethral-catheterisation-male

TEORI :
Teknik Tindakan :
1. Lakukan informed consent kepada pasien karena tindakan ini adalah tindakan
invasif. Pasien perlu mengetahui bahwa tindakan akan terasa nyeri dan terdapat
risiko infeksi dan komplikasi permanen.
2. Persiapkan alat dan bahan steril dalam bak steril (termasuk mengeluarkan
kateter dari bungkus pertamanya).
3. Lakukan tindakan aseptik antiseptik dengan :
 Mencuci tangan menggunakan antiseptik.
 Menggunakan sarung tangan steril.
 Melakukan desinfeksi meatus eksternus, seluruh penis, skrotum dan
perineum.
 Melakukan pemasangan doek lubang.
4. Keluarkan kateter dari bungkus keduanya.
5. Masukkan jelly ke dalam spuit tanpa jarum, semprotkan ke uretra. Tutup meatus
agar jelly tidak keluar.
6. Ambil kateter dengan memegang ujung kateter dengan pinset, sedangkan pangkal
kateter (bagian yang bercabang) dibiarkan atau dikaitkan pada jari manis
kelingking.
7. Masukkan kateter secara perlahan
Gambar 1. Teknik Memasukkan kateter pada pria
8. Bila pada saat memasukkan kateter terasa tertahan, pasien diminta untuk
menarik napas dalam dan rileks. Kemudian tekan beberapa menit sehingga
kateter berhasil melewati bagian tersebut.
9. Bila telah sampai di vesika, kateter akan mengeluarkan urin.
10. Klem terlebih dahulu kateter, kemudian masukkan sisa kateter hingga batas
percabangan pada pangkal kateter.
11. Masukkan NaCI atau aqua steril menggunakan spuit tanpa jarum, melalui cabang
untuk mengembangkan balon kateter dan balon menutup orifisium. Tarik sisa
kateter.
12. Klem kateter dihubungkan dengan kantung urin, kemudian buka klem nya.
13. Nilai urin dan jumlah yang dikeluarkan setelah kateter dipasang.

Gambar 2. Kateter
Analisis / Interpretasi
Indikasi pemasangan kateter, yaitu :
1. Utuk menegakkan diagnosis
 Mengambil contoh urin wanita untuk kultur.
 Mengukur residual urin pada pembesaran prostat.
 Memsukkan kontras seperti pada sistogram.
 Mengukur tekanan vesika urinaria pada sindroma kompartemen abdomen.
 Mengukur produksi urin pada penderita shock untuk melihat fungsi ginjal.
 Mengetahui perbaikan atau perburukkan trauma ginjal dengan melihat
warna urin.
2. Untuk terapi
 Mengeluarkan urin pada retensi urin.
 Mengirigasi / bilas vesika stelah operasi vesika, tumor vesika atau prostat.
 Sebagai splint setelah operasi uretra pada hipospadia.
 Untuk memasukkan obat ke vesika pada karsinoma vesika.

Kateter tertahan pada bagian uretra yang menyempit, yaitu sphincter, pars
membranacea uretra atau bila ada pembesaran pada BPH (Benign Protate
Hypertrophy).
Jika kateter tertahan tidak dapat diatasi hanya dengan menarik napas dalam dan
relaks, teknik lainnya dapat dilakukan dengan :
1. Memberikan anestesi topikal untuk membantu mengurangi nyeri dan membantu
relaksasi.
2. Menyemprotkan gel melalui pangkal kateter.
3. Melakukan masase prostat dengan colok dubur (oleh asisten).
4. Mengganti kateter dengan lebih kecil atau kateter Tiemann yang ujungnya
runcing.
5. Melakukan sistotomi bila vesika penuh, kemudian ulangi lagi pemasangan kateter

Untuk perawatan kateter yang menetap, pasien diminta untuk :


1. Banyak minum air putih.
2. Mengosongkan urine bag secara teratur.
3. Tidak mengangkat urine bag lebih tinggi dari tubuh pasien.
4. Membersihkan darah, nanah, sekret periuretra dan mengolesi kateter dengan
antiseptik secara berkala.
Ke dokter kembali agar mengganti kateter bila sdah menggunakan kateter dalam
2 minggu.
CHECK LIST :
 PEMASANGAN KATETER

N ASPEK PENILAIAN NILAI


0 1 2 3
O
1 Mengucapkan “Assalamualaikum Wa Rahmatullahi Wa
Barakatuh”
2 Menggunakan cairan antiseptic di tangan.
Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
3 Memberikan inform consent terhadap pasien tentang
pemasangan Kateter.
4 Mempersiapkan alat
5 Mengatur posisi pasien: Atur posisi pasien dengan tidur terlentang.
6 Pemasangan Kateter
1. Lakukan tindakan aseptik antiseptik dengan :
2. Mencuci tangan menggunakan antiseptik.
3. Menggunakan sarung tangan steril.
4. Melakukan desinfeksi meatus eksternus, seluruh penis,
skrotum dan perineum.
5. Keluarkan kateter dari bungkus keduanya.
6. Masukkan jelly ke dalam spuit tanpa jarum, semprotkan ke
uretra. Tutup meatus agar jelly tidak keluar.
7. Ambil kateter dengan memegang ujung kateter dengan
pinset, sedangkan pangkal kateter (bagian yang bercabang)
dibiarkan atau dikaitkan pada jari manis kelingking.
8. Masukkan kateter secara perlahan.
9. Bila pada saat memasukkan kateter terasa tertahan, pasien
diminta untuk menarik napas dalam dan rileks. Kemudian
tekan beberapa menit sehingga kateter berhasil melewati
bagian tersebut.
10. Bila telah sampai di vesika, kateter akan mengeluarkan
urin.
11. Klem terlebih dahulu kateter, kemudian masukkan sisa
kateter hingga batas percabangan pada pangkal kateter.
12. Masukkan NaCI atau aqua steril menggunakan spuit tanpa
jarum, melalui cabang untuk mengembangkan balon
kateter dan balon menutup orifisium. Tarik sisa kateter
13. Klem kateter dihubungkan dengan kantung urin, kemudian
buka klem nya.
14. Nilai urin dan jumlah yang dikeluarkan setelah kateter
dipasang.
7 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakumullah Khairan Katsiran”

PEMASANGAN NGT, OGT dan NASOGASTRIC SUCTION


Danny Irawan, dr., Sp.PD & Putri Wulan Akbar, dr
TUJUAN :
Mahasiswa mampu memahami, mengerti dan melakukan pemasangan NGT, OGT, dan
Nasogastric suction.

LEARNING OBYEKTIF :
1. Mahasiswa dapat melakukan pemasangan NGT
2. Mahasiswa dapat melakukan pemasangan OGT
3. Mahasiswa dapat melakukan pemasangan nasogastic suction

ALAT DAN BAHAN :


1. Manekin NGT 2. Steteskop
3. Handscoon 4. Spuit 50 cc dengan lubang tengah
5. Handuk kecil 6. 1 gelas berisi air
7. NGT : Dewasa ukuran 16 Fr atau 8. Lubricant gel, lebih baik bila
18 Fr, anak ukuran 10 Fr mengandung anestesi local
9. Bengkok 10. Suction dan selang
11. Plester dan Gunting plester

REFERENSI :
1. Benson BE, Hoppu K, Troutman WG, et al. Position paper update: gastric lavage
for gastrointestinal decontamination. Clin Toxicol (Phila). 2013;51(3):140-146.
PMID: 23418938 www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23418938.

TEORI :
Nasogastric Tube
Pemasangan Pipa Nasogastrik (NGT) adalah prosedur memasukkan pipa panjang
yang terbuat dari polyurethane atau silicone melalui hidung, esofagus sampai
kedalam lambung dengan indikasi tertentu. Sangat penting bagi mahasiswa
kedokteran untuk mengetahui cara pemasangan pipa NGT dan mengetahui pipa NGT
tersebut sudah masuk dengan benar pada tempatnya.
Indikasi
Ada 3 indikasi utama pemasangan NGT :
1. Dekompresi isi lambung
- Mengeluarkan cairan lambung pada pasien ileus obstruktif/ileus paralitik
peritonitis dan pankreatitis akut.
- Perdarahan saluran cerna bagian atas untuk bilas lambung (mengeluarkan
cairan lambung)
2. Memasukkan Cairan/Makanan ( Feeding, Lavage Lambung)
- Pasien tidak dapat menelan oleh karena berbagai sebab
- Lavage lambung pada kasus keracunan
3. Diagnostik
- Membantu diagnosis dengan analisa cairan isi lambung.
Kontraindikasi
Kontraindikasi pemasangan NGT meliputi:
1. Pasien dengan maxillofacial injury atau fraktur basis cranii fossa anterior.
Pemasangan NGT melalui nasal berpotensi untuk misplacement NGT melalui
fossa cribiformis, menyebabkan penetrasi ke intrakranial
2. Pasien dengan riwayat striktur esofagus dan varises esofagus.
3. Pasien dengan tumor esofagus

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi akibat pemasangan NGT:
1. Iritasi hidung, sinusitis, epistaksis, rhinorrhea, fistula esophagotracheal akibat
pemasangan NGT jangka lama.
2. Pneumonia Aspirasi.
3. Hypoxia, cyanosis, atau respiratory arrest akibat tracheal intubation
Teknik keterampilan :
1. Jelaskan jenis dan prosedur tindkan kepada pasien.
2. Siapkan alat dan bahan. Pilih ukuran tube yang sesuai untuk pasien.
3. Periksa segel dan tanggal kadaluarsa alat yang akan digunakan.
4. Cuci tangan dan mengenakan sarung tangan.
5. Posisikan pasien pada berbaring dengan elavasi 30-455̊. lapisi pakaian dengan
handuk. letakkan basin emesis pada pangkuan pasien.
6. Periksa ada tidaknya sumbatan pada hidung. Periksa kedua lubang hidung untuk
menentukan lubang yang paling besar dan terbuka.
7. Ukur panjang insersi tube dengan memegang tube di atas tubuh pasien, ujung
distal diletakkan 6 cm dibawah prosesus sifoideus; ujung proksimal direntangkan
ke hidung; lingkarkan bagian tengah pada cuping telinga pasien. Tandai panjang
ukuran tersebut dengan plester.

Gambar 1. Pengukuran NGT


Gambar 2. Fiksasi NGT
8. Olesi tube dengan lubricant gel.
9. Masukkan NGT dari lubang hidung sambil meminta pasien bernafas melalui
mulut dan melakukan gerakan menelen. Bila pasien tidak dapat menelan, berikan
air untuk membantu pasien menelan.
10. Jika pasien batuk atau menjadi gelisah atau ditemukan embun pada tube,
kemungkinan tube masuk ke trakhea, tarik tube beberapa senti, putar sedikit dan
mulai kembali ke proses diatas.
11. Lanjutkan mendorong tube hingga mencapai tanda plester. Jika lambung penuh,
akan keluar cairan, gunakan basin emesis untuk menampung cairan.
12. Gunakan spuit 50 ml untuk menginjeksikan udara. Dengarkan udara yang masuk
ke lambung dengan menggunakan steteskop.
13. Fiksasi NGT pada hidung dengan plester.

Nasogastric Suction
Nasogastric aspiration (suction) merupakan proses drainase isi lambung baik
solid, liquid maupun gas dari gastrointestinal melalui tube/selang yang dihubungkan
dengan hidung.
Tujuan:
1. Untuk dekompresi gastrointestine saat dicurigai adanya obstruksi usus (ileus)
2. Untuk mendapatan sampel isi lambung
3. Untuk mengeluarkan substansi toxic yang tertelan
4. Untuk membilas lambung setelah perdarahan atau keracunan.
Kontraindikasi :
- Pasien dengan fraktur leher dan maksilofascial karena meningkatkan risiko
obstruksi jalan nafas.
- Pemasangan pada trauma daerah esophagus memerlukan pertimbangan khusus,
termasuk pada varises esophagus yang mudah pecah.
Komplikasi :
- Komplikasi ringan meliputi erosi/ perdarahan pada hidung, sinusitis, dan radang
tenggorokan.
- Komplikasi berat meliputi perforasi esophagus, aspirasi pulmo, paru kolaps.
Prosedur Tindakan :
1. Jelaskan prosedur dan risiko serta ketidaknyamanan prosedur pada pasien.
Apabila pasien setuju mintalah informed consent.
2. Masukkan selang yang sudah dilubrikasi ke dalam lubang hidung pasien. Dorong
secara perlahan sembari meminta pasien melakukan gerakan menelan.
3. Saat ujung selang sudah mencapai lambung lakukan pengecekan dengan
mendorong spuit berisi udara yang didengarkan dengan stetoskop.
Hubungkan ujung selang satunya dengan alat suction. Sedot dengan hati-hati dan
perlahan.

CHECK LIST :
 PEMASANGAN NGT DAN OGT
NO ASPEK PENILAIAN NILAI
0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum Wa Rahmatullahi Wa
Barakatuh”
2 Menggunakan cairan antiseptic di tangan.
Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
3 Memberikan inform consent terhadap pasien tentang
pemasangan NGT atau OGT
4 Mempersiapkan alat
5 Mengatur posisi pasien: berbaring dengan elavasi 30-455̊. lapisi
pakaian dengan handuk. letakkan basin emesis pada pangkuan
pasien.
6 Pemasangan NGT atau OGT :
 Periksa ada tidaknya sumbatan pada hidung. Periksa
kedua lubang hidung untuk menentukan lubang yang
paling besar dan terbuka.
 Ukur panjang insersi tube dengan memegang tube di
atas tubuh pasien, ujung distal diletakkan 6 cm dibawah
prosesus sifoideus; ujung proksimal direntangkan ke
hidung; lingkarkan bagian tengah pada cuping telinga
pasien. Tandai panjang ukuran tersebut dengan plester.
 Olesi tube dengan lubricant gel.
 Masukkan NGT dari lubang hidung sambil meminta
pasien bernafas melalui mulut dan melakukan gerakan
menelen. Bila pasien tidak dapat menelan, berikan air
untuk membantu pasien menelan.
 Jika pasien batuk atau menjadi gelisah atau ditemukan
embun pada tube, kemungkinan tube masuk ke trakhea,
tarik tube beberapa senti, putar sedikit dan mulai
kembali ke proses diatas.
 Lanjutkan mendorong tube hingga mencapai tanda
plester. Jika lambung penuh, akan keluar cairan,
gunakan basin emesis untuk menampung cairan.
 Gunakan spuit 50 ml untuk menginjeksikan udara.
Dengarkan udara yang masuk ke lambung dengan
menggunakan steteskop.
 Fiksasi NGT pada hidung dengan plester.
7 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakallah khairan”

 PEMASANGAN NASOGASTRIC SUCTION


NO ASPEK PENILAIAN NILAI
0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum Wa Rahmatullahi Wa
Barakatuh”
2 Menggunakan cairan antiseptic di tangan.
Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
3 Memberikan inform consent terhadap pasien tentang
pemasangan Nasogastric Suction
4 Mempersiapkan alat
5 Mengatur posisi pasien: berbaring dengan elavasi 30-455̊. lapisi
pakaian dengan handuk. letakkan basin emesis pada pangkuan
pasien.
6 Pemasangan Nasogastric Suction
 Masukkan selang yang sudah dilubrikasi ke dalam
lubang hidung pasien. Dorong secara perlahan sembari
meminta pasien melakukan gerakan menelan.
 Saat ujung selang sudah mencapai lambung lakukan
pengecekan dengan mendorong spuit berisi udara yang
didengarkan dengan stetoskop.
 Hubungkan ujung selang satunya dengan alat suction.
Sedot dengan hati-hati dan perlahan.
7 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakallah Khairan”

PEMASANGAN KATETER URETRA WANITA


Dwimantoro Prisilia, dr., Sp.U & Putri Wulan Akbar, dr

TUJUAN :
Mampu melakukan pemasangan kateter wanita sesuai dengan indikasi dan
kompetensi dokter di pelayanan primer.

LEARNING OBYEKTIF :
2. Mampu melakukan pemasangan kateter wanita sesuai dengan indikasi dan
kompetensi dokter di pelayanan primer.

ALAT DAN BAHAN :


1. Bak instrumen sedang steril
2. Kateter foley steril (bungkus 2 lapis) : untuk dewasa ukuran no. 16 atau 18.
3. Handscoon steril.
4. Kasa dan antiseptik (povidone lodine).
5. Doek lubang
6. Jelly KY
7. Pinset steril.
8. Korentang steril + tempat + tutup
9. NaCI atau aqua streil.
10. Spuit 10 CC.
11. Urine bag.

REFERENSI :
1. S.Vahr, H. Cobussen-Boekhorst et al. Catheterisation – Urethral Intermittent in
adults – Dilatation, urethral intermittent in adults. EAUN Good Practice in Health
Care. 2013.
2. hhtp://www.osceskills.com/e-learning/subjects/urethral-catheterisation-male

TEORI :
Teknik Tindakan :
1. Lakukan informed consent kepada pasien karena tindakan ini adalah tindakan
invasif. Pasien perlu mengetahui bahwa tindakan akan terasa nyeri dan terdapat
risiko infeksi dan komplikasi permanen. Hati-hati pemasangan kateter pada
wanita belum menikah.
2. Persiapkan alat dan bahan steril dalam bak steril (termasuk mengeluarkan
kateter dari bungkus pertamanya).
3. Lakukan tindakan aseptik antiseptik dengan :
 Mencuci tangan menggunakan antiseptik.
 Menggunakan sarung tangan steril.
 Melakukan desinfeksi meatus eksternus, vestibulum vagina, labia minora dan
perineum.
 Melakukan pemasangan doek lubang.
4. Keluarkan kateter dari bungkus keduanya.
5. Oleskan jelly kepermukaan kateter secukupnya.
6. Ambil kateter dengan memegang ujung kateter dengan pinset, sedangkan pangkal
kateter (bagian yang bercabang) dibiarkan atau dikaitkan pada jari manis
kelingking.
7. Masukkan kateter secara perlahan ke uretra, uretra terletak superior dari vagina
dan inferior dari clitoris.

Gambar. Teknik Memasukkan kateter pada wanita


8. Bila telah sampai di vesika, kateter akan mengeluarkan urin.
9. Masukkan sisa kateter hingga batas percabangan pada pangkal kateter.
10. Masukkan NaCI atau aqua steril menggunakan spuit tanpa jarum, melalui cabang
untuk mengembangkan balon kateter dan balon menutup orifisium. Tarik sisa
kateter.
11. Klem kateter dihubungkan dengan kantung urin, kemudian buka klem nya.
12. Nilai urin dan jumlah yang dikeluarkan setelah kateter dipasang.

Gambar. Kateter

Analisis / Interpretasi
Indikasi pemasangan kateter, yaitu :
1. Utuk menegakkan diagnosis
 Mengambil contoh urin wanita untuk kultur.
 Memsukkan kontras seperti pada sistogram.
 Mengukur tekanan vesika urinaria pada sindroma kompartemen abdomen.
 Mengukur produksi urin pada penderita shock untuk melihat fungsi ginjal.
 Mengetahui perbaikan atau perburukkan trauma ginjal dengan melihat
warna urin.
2. Untuk terapi
 Mengeluarkan urin pada retensi urin.
 Mengirigasi / bilas vesika stelah operasi vesika, tumor vesika.
 Untuk memasukkan obat ke vesika pada karsinoma vesika.
Untuk perawatan kateter yang menetap, pasien diminta untuk :
1. Banyak minum air putih.
2. Mengosongkan urine bag secara teratur.
3. Tidak mengangkat urine bag lebih tinggi dari tubuh pasien.
4. Membersihkan darah, nanah, sekret periuretra dan mengolesi kateter dengan
antiseptik secara berkala.
5. Ke dokter kembali agar mengganti kateter bila sdah menggunakan kateter dalam
2 minggu.

CHECK LIST :
 PEMASANGAN KATETER
NO ASPEK PENILAIAN NILAI
0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum Wa Rahmatullahi Wa
Barakatuh”
2 Menggunakan cairan antiseptic di tangan.
Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
3 Memberikan inform consent terhadap pasien tentang
pemasangan Kateter.
4 Mempersiapkan alat
5 Mengatur posisi pasien: Atur posisi pasien dengan tidur
terlentang.
6 Pemasangan Kateter
1. Lakukan tindakan aseptik antiseptik dengan :
2. Mencuci tangan menggunakan antiseptik.
3. Menggunakan sarung tangan steril.
4. Melakukan desinfeksi meatus eksternus, vestibulum
vagina, labia minora dan perineum
5. Keluarkan kateter dari bungkus keduanya.
6. Oleskan jelly kepermukaan kateter secukupnya.
7. Ambil kateter dengan memegang ujung kateter dengan
pinset, sedangkan pangkal kateter (bagian yang bercabang)
dibiarkan atau dikaitkan pada jari manis kelingking.
8. Masukkan kateter secara perlahan.
9. Bila telah sampai di vesika, kateter akan mengeluarkan
urin.
10. Klem terlebih dahulu kateter, kemudian masukkan sisa
kateter hingga batas percabangan pada pangkal kateter.
11. Masukkan NaCI atau aqua steril menggunakan spuit tanpa
jarum, melalui cabang untuk mengembangkan balon
kateter dan balon menutup orifisium. Tarik sisa kateter
12. Klem kateter dihubungkan dengan kantung urin, kemudian
buka klem nya.
13. Nilai urin dan jumlah yang dikeluarkan setelah kateter
dipasang.
7 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakallah Khairan”
PROSEDUR PEMASANGAN INFUS
Nanda Fadhilah W.S, dr., M.Si

TUJUAN :
Mahasiswa mampu melakukan keterampilan pemasangan infus

LEARNING OBYEKTIF :
1. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang
mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak, dan
kalori yang tidak dapat dipertahankan secara adekuat melalui
oral.
2. Memperbaiki keseimbangan asam-basa.
3. Memperbaiki volume komponen-komponen darah.
4. Memberikan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan ke
dalam tubuh.
5. Memonitor tekanan vena sentral (CVP).
6. Memberikan nutrisi pada saat sistem pencernaan ketika diistirahatkan.

ALAT DAN BAHAN :


1. Infus set
2. Abocath
3. Cairan infus
4. Tornikuet
5. Kapas alcohol
6. Kasa steril
7. Betadin salep
8. plester, gunting,
9. spalk dan pembalut kalau perlu
10. tiang infus
11. perlak kecil dan alasnya

REFERENSI :
1. Cummins, R.O. 1997. Advanced Cardiac Life Support. American
Hearth Association. USA.
2. Muhiman, M. 1989. Penatalaksanaan pasien di Intensive Care Unit.
Bagian
3. Anestesiologi, FKUI. Jakarta. Daftar Pustaka.
4. Delp, MH. And Manning, RT. 1996. Major Diagnosis Fisik. EGC.
Jakarta.

5. DeGowin, RL. And Brown, DD. 2000. Diagnostic Examination, 7th ed.
Mc Graw-Hill Co. New York.

TEORI :
Pemilihan cairan sebaiknya didasarkan atas status hidrasi pasien,
konsentrasi elektrolit, dan kelainan metabolik yang ada. Berbagai
larutan parenteral telah dikembangkan menurut kebutuhan fisiologis
berbagai kondisi medis. Terapi cairan intravena atau infus merupakan
salah satu aspek terpenting yang menentukan dalam penanganan dan
perawatan pasien.

Berbagai cairan mempunyai manfaat dan tujuan yang berbeda-


beda. Terapi awal pasien hipotensif adalah cairan resusitasi dengan
memakai 2 liter larutan isotonis Ringer Laktat. Namun, Ringer Laktat
tidak selalu merupakan cairan terbaik untuk resusitasi. Resusitasi cairan
yang adekuat dapat menormalisasikan tekanan darah pada pasien
kombustio 18--24 jam sesudah cedera luka bakar. Larutan parenteral
pada syok hipovolemik diklasifikasi berupa cairan kristaloid, koloid,
dan darah. Cairan kristaloid cukup baik untuk terapi syok
hipovolemik. Keuntungan cairan kristaloid antara lain mudah
tersedia, murah, mudah dipakai, tidak menyebabkan reaksi alergi, dan
sedikit efek samping. Kelebihan cairan kristaloid pada pemberian dapat
berlanjut dengan edema seluruh tubuh sehingga pemakaian berlebih
perlu dicegah

Larutan NaCl isotonis dianjurkan untuk penanganan awal syok


hipovolemik dengan hiponatremik, hipokhloremia atau alkalosis
metabolik. Larutan RL adalah larutan isotonis yang paling mirip dengan
cairan ekstraseluler. RL dapat diberikan dengan aman dalam jumlah
besar kepada pasien dengan kondisi seperti hipovolemia dengan asidosis
metabolik, kombustio, dan sindroma syok. NaCl 0,45% dalam larutan
Dextrose 5% digunakan sebagai cairan sementara untuk mengganti
kehilangan cairan insensibel.

Ringer asetat memiliki profil serupa dengan Ringer Laktat. Tempat


metabolisme laktat terutama adalah hati dan sebagian kecil pada ginjal,
sedangkan asetat dimetabolisme pada hampir seluruh jaringan tubuh
dengan otot sebagai tempat terpenting. Penggunaan Ringer Asetat
sebagai cairan resusitasi patut diberikan pada pasien dengan gangguan
fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. Adanya laktat
dalam larutan Ringer Laktat membahayakan pasien sakit berat karena
dikonversi dalam hati menjadi bikarbonat.

Secara sederhana, tujuan dari terapi cairan dibagi atas resusitasi


untuk mengganti kehilangan cairan akut dan rumatan untuk mengganti
kebutuhan harian. Total cairan tubuh bervariasi menurut umur, berat
badan dan jenis kelamin. Lemak tubuh juga berpengaruh terhadap
cairan, semakin banyak lemak, semakin kurang cairannya. Ada dua
bahan yang terlarut di dalam cairan tubuh yaitu elektrolit dan non-
elektrolit.

Tempat insersi jarum infus


Secara umum ada beberapa tempat untuk insersi jarum infus
pada pemasangan infus yaitu :

a. Vena punctur perifer


1. vena mediana kubiti
2. vena sefalika
3. vena basilika
4. vena dorsalis pedis b. Venapunctur central
- vena femoralis
- vena jugularis internal
- vena subklavia
Cara mengatur kecepatan tetesan
Pemberian cairan perinfus harus dihitung jumlah tetesan permenitnya
untuk mendapatkan kebutuhan yang dijadwalkan. Jumlah ml cairan yang
masuk tiap jam dapat digunakan rumus : ml per jam = tetesan x faktor
tetesan

Faktor tetesan dihitung dengan 60 dibagi jumlah tetesan


yang bisa dikeluarkan oleh infus set untuk mengeluarkan 1 ml.
Misalnya, suatu infus set dapat mengeluarkan 1 ml cairan dalam 15
tetesan, berarti faktor tetesan (60:15) = 4. Jadi bila infus set tersebut
memberikan cairan dengan kecepatan 25 tetes per menit berarti akan
diberikan cairan sebanyak 25x4 = 100 ml perjam.

Tipe-tipe cairan:
1. Isotonik
Suatu cairan yang memiliki tekanan osmotik yang sama dengan
yang ada didalam plasma.

a. NaCI normal 0,9 %


b. Ringer laktat
c. Komponen -komponen darah (albumin 5 %, plasma)
d. Dextrose 5 % dalam air (D 5 W)

2. Hipotonik
Suatu larutan yang memiliki tekanan osmotik yang lebih kecil
daripada yang ada didalam plasma darah. Pemberian cairan ini
umumnya menyebabkan dilusi konsentrasi larutan plasma dan
mendorong air masuk kedalam sel untuk memperbaiki keseimbangan di
intrasel dan ekstrasel, sel-sel tersebut akan membesar atau membengkak.
a. Dextrose 2,5 % dalam NaCI 0,45 %
b. NaCI 0,45%
c. NaCI 0,2 %

3. Hipertonik
Suatu larutan yang memiliki tekanan osmotik yang lebih tinggi
daripada yang ada di dalam plasma darah. Pemberian cairan ini
meningkatkan konsentrasi larutan plasma dan mendorong air masuk
kedalam sel untuk memperbaiki keseimbangan osmotik, sel kemudian
akan menyusut.

a. Dextrose 5 % dalam NaCI 0,9 %


b. Dextrose 5 % dalam NaCI 0,45 % ( hanya sedikit hipertonis karena
dextrose dengan cepat mempengaruhi tekanan osmotik
c. Dextrose 10% dalam air
d. Dextrose 20% dalam air
e. NaCl 3% dan 5%
f. Larutran hiperalimentasi
g. Dextrose 5% dalam ringer laktat
h. Albumin 25
Kegagalan pemberian infus
Beberapa keadaan yang mengakibatkan kegagalan dalam pemberian
cairan perinfus antara lain :

1. jarum infus tidak tepat masuk vena (ekstravasasi)


2. pipa infus tersumbat (karena jendalan darah atau terlipat)
3. pipa penyalur udara tak berfungsi
4. jarum infus atau vena terjepit karena posisi lengan fleksi
5. jarum infus bergeser atau menusuk ke luar vena

Komposisi Cairan

Larutan NaCl, berisi air dan elektrolit (Na+, Cl -)


a. Larutan Dextrose, berisi air atau garam dan kalori

b. Ringer laktat, berisi air dan elektrolit (Na+, K-, Cl -, Ca++, laktat)

c. Balans isotonik, isi bervariasi : air, elektrolit, kalori ( Na+, . K Mg

CI- .HCO3-.glukonat).

d. Whole blood (darah lengkap) dan komponen darah.


e. Plasma expanders, berisi albumin, dextran, fraksi protein plasma 5
% plasmanat), hespan yang dapat meningkatkan tekanan osmotik,
menarik cairan dari interstisiall kedalam sirkulasi dan
meningkatkan volume darah sementara.

f. Hiperalimentasi parenteral (cairan, elektrolit, asam amino, dan kalori).

Hal-hal yang harus diperhatikan dengan tipe-tipe infus tersebut:


1. D5W (Dektrose 5% in Water)
a. Digunakan untuk menggantikan air ( cairan hipotonik) yang
hilang, memberikan suplai kalori, juga dapat dibarengi
dengan pemberian obat-obatan atau berfungsi untuk
mempertahankan vena dalam keadaan terbuka dengan infus
tersebut.
b. Hati-hati terhadap terjadinya intoksikasi cairan
(hiponatremia, sindroma pelepasan hormon antidiuretik yang
tidak semestinya). Jangan digunakan dalam waktu yang
bersamaan dengan pemberian transfusi ( darah atau komponen
darah).
2. NaCIO,9%
a. Digunakan untuk menggantikan garam ( cairan isotonik) yang
hilang, diberikan dengan komponen darah, atau untuk pasien
dalam kondisi syok hemodinamik.
b. Hati-hati terhadap kelebihan volume isotonik (misal: gagal
jantung.gagalginjal).
3. Ringer laktat
Digunakan untuk menggantikan cairan isotonik yang hilang,
elektrolit tertentu, dan untuk mengatasi asidosis metabolik tingkat
sedang.
Tipe - tipe pemberian terapi intravena: A. IV push
IV push (IV bolus), adalah memberikan obat dari jarum sunfik secara
langsung ke dalam saluran /jalan infus.

Indikasi
1. Pada keadaan emergency resusitasi jantung paru, memungkinkan
pemberian obat langsung ke dalam intravena.
2. Untuk mendapat respon yang cepat terhadap pemberian obat
(furosemid, digoksin).
3. Untuk memasukkan dosis obat dalam jumlah besar secara terus
menerus melalui infus (lidocain, xylocain).
4. Untuk menurunkan ketidaknyamanan pasien dengan mengurangi
kebutuhan akan injeksi intramuskuler.
5. Untuk mencegah masalah yang mungkin timbul apabila beberapa
obat dicampur dalam satu botol.
6. Untuk memasukkan obat yang tidak dapat diberikan secara oral
(misal: pada pasien koma) atau intramuskuler ( misal: pasien dengan
gangguan koagulasi)
Hal-hal yang harus diperhatikan dan direkomendasikan
1. Sebelum pemberian obat:
a. Pastikan bahwa obat sesuai dengan standar medik.
b. Larutkan obat sesuai indikasi. Banyak obat yang
dapat mengiritasi vena dan memerlukan pengeceran
yang sesuai.
c. Pastikan kecepatan pemberiannya dengan benar, Jika akan
memberikan obat melalui selang infus yang sama, akan lebih
baik jika dilakukan pembilasan teriebih dahulu dengan cairan
fisiologis (Na Cl 0,9 %).

d. Kaji kondisi pasien dan toleransinya terhadap obat yang


diberikan
e. Kaji kepatenan jalan infus dengan mengetahut keberadaan
dari aliran darah.
2. Perlahankan kecepatan infus.
3. Lakukan aspirasi dengan jarum suntik sebelum memasukkan obat.
4. Tekan selang infus secara perlahan.
5. Perhatikan waktu pemasangan infus. Ganti tempat pemasangan
infus apabila terdapat tanda-tanda komplikasi (misalnya: plebitis,
ektravasasi, dll)
6. Perhatikan respon pasien terhadap obat.
a. Adakah efek samping mayor yang timbul (anaphilaksis,
respiratory distress, takhikardi, bradikardi, atau kejang)
b. Adakah efek samping minor yang timbul (mual, pucat, kulit
kemerahan, atau bingung)
c. Hentikan pengobatan dan konsultasikan ke dokter apabila terjadi
hal-hal tersebut.

Continous Infusion (infus berlanjut) menggunakan alat kontrol.


Continous Infusion dapat diberikan secara tradisional melalui
cairan yang digantung, dengan atau tanpa pengatur kecepatan aliran.
Infus melalui intravena, intra arteri, dan intra thecal (spinal) dapat
dilengkapi dengan menggunakan pompa khusus yang ditanam maupun
yang ekstemal.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan :


A. Keuntungan
1. Mampu untuk menginfus cairan dalam jumlah besar dan kecil
dengan akurat.
2. Adanya alarm menandakan adanya masalah seperti adanya
udara di selang infus atau adanya penyubatan.
3. Mengurangi waktu perawatan untuk memastikan kecepatan
aliran infus.
B. Kerugian
1. Memerlukan selang khusus.
2. Biaya lebih mahal.
3. Pompa infus akan dilanjutkan untuk menginfus kecuali ada
infiltrasi.
Infus sementara (intermittent infusions)
Infus sementara dapat diberikan melalui" heparin lock", "piggybag"
untuk infus yang kontinu, atau untuk terapi jangka panjang melalui
perangkat infus.

Pemasangan selang intravena :


1. Pertama lakukan verifikasi order yang ada untuk terapi IV.
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien.
3. Pilih vena yang layak untuk dilakukan venipuncture.
a. Bagian belakang tangan - vena metakarpal. Jika memungkinkan
jangan lakukan pada vena digitalis.
- Keuntungan dilakukannya venipuncture diisi ini
adalah memungkinkan lengan bergerak bebas.
- Jika kemudian timbul masalah pada sisi ini, gunakan vena lain
diatasnya.
b. Lengan bawah - vena basilica atau cephalica.
c. Siku bagian dalam - fossa antecubital - median basilic dan
median cephalic untuk infus jangka pendek.
d. Ekstermitas bawah.
- Kaki - vena pleksus dorsum, arkus vena dorsalis, vena medikal
marginalis.
- Mata kaki - vena saphena magma
e. Vena sentralis digunakan:
- Jika obat dan infus hipertonik atau sangat mengiritasi,
membutuhkan kecepatan, dilusi volume yang tinggi untuk
mencegah reaksi sistemik dan kerusakan vena lokal ( misal:
kemoterapi, hiperalimentasi)
- Jika aliran darah perifer dikurangi atau jika pembuluh
darah perifer tidak dapat dimasuki ( misal pada pasien
obersitas).
- Jika diinginkan monitor CVP.
- Jika diinginkan terapi cairan jangka sedang atau jangka
panjang.
Cara memunculkan vena:
1. Palpasi daerah yang akan dipasang infus.
2. Anjurkan pasien untuk mengepalkan tangannya (jika yang akan
digunakan lengan).
3. Pijat tempat yang akan diinfus.
4. Gunakan torniket sedikitnya 5 -15 cm diatas tempatyang akan
diinsersi, kencangkan torniket.
5. Alternatif lain adalah dengan menggunakan tensimeter, pasang
tensimeter sedikit dibawah tekanan sistolik.
6. Raba vena tersebut, untuk meyakinkan keadaan vena
7. Biarkan ekstremitas tersebut selama beberapa menit.
8. Gunakan handuk hangat untuk melembabkan tempat yang akan
diinsersi.
Komplikasi yang dapat timbul dari terapi IV:
1. Infiltrasi (ektravasasi)
2. Trombophlebitis
3. Bakteremia
4. Emboli udara
5. Perdarahan
6. Trombosis
7. Imbalance elektroli,
8. Hematom, dll.
CHECK LIST :
 PEMASANGAN INFUS

SKOR
NO ASPEK YANG DINILAI
0 1 2 3
Mengucapkan "Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi
1 Wa
Barakatuh"
2 Menggunakan cairan antiseptik

3 Mengucapkan "Bismillahirrahmanirrahim"
Memanggil/ menyapa pasien dengan sebutan Bapak/
4 Ibu/
Mbak/ Mas
Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan yang akan
5
dilakukan
6 Meminta persetujuan pasien untuk melakukan
tindakan
7 Cek program terapi cairan/review keputusan
pemberian
8 Menanyakan keluhan utama/memeriksa adanya
tanda
9 Berikan kesempatan klien bertanya sebelum kegiatan

Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine


10
jika tidak memungkinkan.
11 Bebaskan lengan pasien dari lengan baju/kemeja
12 Letakkan manset 5-15 cm diatas tempat tusukkan
13 Letakkan alas plastik dibawah lengan klien
14 Periksa label pasien sesuai dengan kebutuhan cairan

15 Hubungkan cairan infus dengan infus set dan


gantungkan.

Alirkan cairan infus melalui selang infus sehingga


16
tidak ada udara di dalamnya.
17 Kencangkan klem sampai infus tidak menete dan
s
Kencangkan tournikuet/manset tensi meter
18
(tekanan dibawah tekanan sistolik).
Anjurkan pasien untuk mengepal dan
19
membukanya beberapa kali, palpasi dan pastikan
tekanan yang akan
Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas
20 alkohol, lalu diulangi dengan menggunakan kapas
betadin. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi
22 Pegang jarum pada posisi 30 derajat
pada vena yang akan ditusuk. setelah pasti
masuk lalu tusuk
23 Rendahkan posisi jarum sejajar pada kulit dan tarik
jarum sedikit lalu teruskan plastik iv catheter
kedalam vena
24 Tekan dengan jari ujung plastik iv catheter

25 Tarik jarum infus keluar

26 Sambungkan plastik iv catheter dengan ujung


selang

27 Lepaskan manset

28 Buka klem infus sampai cairan mengalir lancar.

29 Oleskan dengan salep betadin diatas


penusukkan, kemudian ditutup dengan kassa steril

30 Fiksasi posisi plastik iv catheter dengan plester.

31 Atur tetesan infus sesuai ketentuan, pasang stiker


yang
sudah diberi tanggal.
32 Evaluasi hasil kegiatan

33 Bereskan alat-alat

34 Menyampaikan hasil pemeriksaan pada pasien

35 Mengucapkan terima kasih dan "Jazakallah Khair"