Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 1
Pengukuran Berbagai Dimensi Benda
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi 1, mahasiswa dapat memiliki
pengetahuan dan keterampilan berikut:
1. Mengetahui proses pengukuran
2. Mengetahui interval dan skala rasio pengukuran nominal, dan ordinal
3. Mengetahui pengoperasian skala
4. Mengetahui perbedaan antara pengukuran fundamental dan turunan
5. Mengetahui arti dari keandalan dan ketepatan dalam pengukuran
C. DASAR TEORI :
Pengukuran merupakan kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur
dengan alat ukur yang digunakan sebagai satuan. Besaran Pokok adalah besaran
yang satuannya telah didefinisikan terlebih dahulu. Besaran Turunan adalah besaran
yang satuannya diperoleh dari besaran pokok. Besaran fisika adalah ukuran fisis
suatu benda yang dinyatakan secara kuantitas.

1
D. ALAT dan BAHAN :
1. Benda-benda yang tidak beraturan.
2. Meteran/ penggaris/ Roll Meter
3. Timbangan.
4. Gelas ukur.
5. Kotak sampling.
E. CARA KERJA
1. Mengukur volume kotak sampling kayu
a. Ukurlah dengan satuan cm dan m : panjang, lebar dan tinggi kotak sampling
bagian dalam.
b. Lakukan oleh orang yang berbeda dan lakukan 3 kali pengulangan.
c. Hitung volume kotak sampling kayu.
d. Catat hasil pengukuran.
e. Hitung volume kotak sampling dengan rumus V = P x L x T
2. Mengukur volume batu
a. Mengisi air ke dalam gelas ukur 5 liter.
b. Lihat volume air di dalam gelas ukur sebelum dimasukan batu.
c. Masukan batu ke dalam gelas ukur.
d. Lakukan oleh orang yang berbeda dan dilakukan 3 kali pengulangan.
e. Catat hasil pengukuran
f. Hitung volume kotak batu dengan rumus V Batu = V2 – V1
3. Mengukur massa benda
a. Timbanglah massa benda dengan cara meletakkan di timbangan.
b. Lihat nilai yang tertera pada timbangan lalu tulis pada tabel data
pengamatan.
c. Ulangi sampai 3 kali pengulangan dengan orang yang berbeda.
d. Ulangi langkah 1-3 dengan menimbang benda yang berbeda.
e. Catat hasil pengukuran
f. Konversikan dari gram – ons – kilogram
F. HASIL

G. KESIMPULAN

2
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 2
Thermostat dalam Kehidupan Sehari-hari.
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi 2, diharapkan lebih
mahasiswa memahami penerapan alat-alat pengendali panas yang dapat me-
matikan dan menghidupkan peralatan listrik sebagai peralatan kerja dalam
kehidupan sehari-hari berdasarkan nilai suhu yang terdeteksi sesuai nilai suhu
yang sudah diset, semua bekerja secara otomatis. Kombinasi dari: sensor, probe,
relay dan thermometer.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Macam-macam thermostat
D. DASAR TEORI
Termostat adalah suatu alat yang berfungsi untuk menstabilkan suhu yang kita
inginkan dengan batasan dingin atau panas yang kita inginkan dan tentu-kan
pada peralatan kerja yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dengan
catatan ada yang dapat diatur sesuai suhu sesuai dengan kebutuhan kita.
E. CARA KERJA
1. Timer pada kulkas 2 pintu
Cara kerja timer pada kulkas 2 pintu yaitu pada saat pertama kali kulkas di
hubungkan ke listrik, timer akan mengatur aliran listrik ke mesin kom-
presor supaya bekerja untuk mendingankan ruangan dalam kulkas, apabila
sebelum kulkas dihubungkan ke listrik, timer tidak diputar 2 kali, yaitu ke
posisi standby, tetapi, jika timer pada posisi standby sebelum kulkas
dihubungkan ke listrik, mungkin harus menunggu beberapa saat baru mesin
dapat hidup atau bekerja. Setelah ruangan kulkas dirasa dingin, maka timer
akan memutus arus listrik dari kompresor, dan ke-mudian timer berganti
menyambungkan arus listrik pada fius defrost untuk mencairkan bunga es di
evaporator.
Jenis timer kulkas 2 pintu biasanya ada 2 jenis, yaitu biasanya sering kita
kenal dengan Timer 1-3 atau Timer 1-4. Yang membedakan 2 timer tersebut
pada aliran listrik utama atau power supplay. Kalau Timer 1-3 itu arus

3
listriknya pada no. 1 dan 3, dan kalau pada timer 1-4 itu arus listriknya pada
no. 1 dan 4.

F. HASIL

G. KESIMPULAN

4
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 3
Identifikasi Karakteristik Sarana Penyediaan Air Bersih dan Pengolahan Air
Limbah secara Fisika.
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi 3, mahasiswa di-harapkan
dapat lebih terampil pengukuran panjang, diameter dalam, tebal pipa sarana
penyediaan bersih dan sarana saluran air limbah.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Pipa PVC, IP
2. Jangka sorong
3. Roll meter
D. CARA KERJA
1. Mengukur panjang batang pipa
a. Ukur panjang pipa dengan alat ukur panjang yang berbeda
b. Ulangi 5 kali pengukuran oleh orang yang berbeda
c. Tulislah data yang didapat pada tabel hasil
2. Mengukur diameter pipa
a. Ukurlah diameter dalam dan luar pipa pipa dengan menggunakan jangka
sorong
b. Lakukan pengukuran oleh orang yang berbeda
c. Tulislah data yang didapat pada tabel hasil
3. Mengukur tebal dinding pipa
a. Ukur tebal dinding pipa dengan alat ukur panjang yang berbeda
b. Ulangi 5 kali pengukuran oleh orang yang berbeda
c. Tulislah data yang didapat pada tabel hasil

5
E. HASIL
1. Mengukur panjang batang pipa
Pengukuran Dengan Roll meter
ke
mm cm m
1
2
3
4
5
Rata-rata

2. Mengukur diameter pipa


Pengukuran Dengan Jangka Sorong
ke
mm cm m
1
2
3
4
5
Rata-rata

3. Mengukur tebal dinding pipa


Pengukuran Dengan Jangka Sorong
ke
mm cm m
1
2
3
4
5
Rata-rata

F. KESIMPULAN

6
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 4
Pengukuran Kecepatan Debit dan Tekanan Air pada Pipa Tertutup.
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi 4, mahasiswa dapat lebih
terampil pengukuran kecepatan, debit dan tekanan air pada pipa tertutup.
C. ALAT dan BAHAN :
1. Jaringan pipa yang tersedia
2. Gelas ukur
3. Stopwatch
4. Manometer
5. Ventury meter
D. CARA KERJA
1. Ventury meter
a. Isikan air raksa pada manometer pipa U
b. Letakkan manometer dalam posisi mendatar
c. Hubungkan ujung-ujung pipa U (berbahan pipa plastik) ke lubang pipa
inlet (pipa besar) dan pipa tenggorok (pipa kecil) ventury meter. Pipa
plastik sebelumnya harus diisi dengan air hingga penuh. Perhatikan
selang pipa U harus terisi penuh tanpa udara.
d. Periksa dan catat beda tinggi (H) permukaan air raksa pada mano-meter
e. Ukur diameter pipa inlet (A1) dan pipa tenggorok (A2)
f. Hitung kecepatan aliran pada pipa inlet (V1) dengan rumus :

√2 x g x H (ρ1−ρ)
V1 = A2 𝑉1 = A2 ρ (A12 −A22 )

Dimana:
𝜌1 : massa jenis dalam pipa U
𝜌 : massa jenis fluida yang diukur
A : Luas penampang
g. Hitung debit (Q) : A1 x V1

7
2. Debit air pada perpipaan tertutup
a. Siapkan stopwatch dan gelas ukur
b. Lakukan pengukuran debit perpipaan dengan membuka air kran
bersamaan dengan mulai perhitungan waktu
c. Tampung air kran pada gelas ukur hingga volume tertentu (Vol). catat
waktu yang diperlukan (t)
d. Hentikan perhitungan waktu bersamaan dengan menutup air kran
e. Hitung debit air perpipaan dengan rumus Q = Volume/ Waktu
E. HASIL

F. KESIMPULAN

8
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 5
Pengukuran Kecepatan dan Debit pada Aliran Terbuka dengan Metode
Kontinuitas/ Dye Test.
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi 5, mahasiswa dapat lebih
terampil mengadakan pengukuran Kecepatan dan Debit pada Aliran Terbuka
dengan Metode Kontinuitas/ Dye Test.
ALAT DAN BAHAN
1. Saluran air terbuka
2. Macam-macam weir
3. Stopwatch
4. Benda ringan
5. Rol meter
C. DASAR TEORI
Debit air dapat dilakukan pada saluran air bersih/ air limbah. Saluran air ada 2
(dua) macam, yakni saluran air tertutup dan terbuka.
1. Saluran air Terbuka  air dalam saluran kontak dengan udara bebas atau
dalam saluran air terdapat ruang udara bebas.
2. Saluran air Tertutup  air dalam saluran tidak kontak dengan udara bebas.
Lazimnya bertekanan.
Teknik pengukuran debit pada saluran terbuka :
a. Rumus kontinuitas
Q = v.A  Q=debit, v=kecepatan, A= luas penampang
v= s/t  s=jarak, t=waktu  dye test
v  diukur dengan current meter.
V  rumus MANNING
A sesuai rumus bangun

9
D. CARA KERJA
1. Tentukan saluran air yang lurus dan datar
2. Ukur jarak saluran dengan panjang tertentu (s) dan berilah tanda pada
bagian awal dan akhirnya.
3. Masukkan bola pingpong yang ringan tepat pada tanda awal saluran air
sambil masih dipegang, lepaskan bola ke hilir saluran air bersamaan dengan
dimulainya perhitungan waktu.
4. Ikuti perjalanan bola pingpong tepat sampai bagian akhir saluran air (se-suai
batas akhir pengukukuran). Hentikan perhitungan waktu bersamaan dengan
sampainya bola pada bagian akhir tersebut.
5. Catat waktu (t) yang diperlukan bola pingpong untuk berpindah dari bagi-an
awal sampai ke bagian akhir saluran air.
6. Hitung kecepatan (V) aliran dengan rumus s / t
7. Ukur kedalaman air dan lebar saluran. Hitung sebagai luas penampang
basah (A) dengan rumus kedalaman air dikali (x) lebar saluran
8. Hitung debit air dengan rumus V x A
E. HASIL
1. Mengukur kecepatan ( v ), dengan rumus v = s / t
NO. JARAK WAKTU HASIL

1.
2.
3.

2. Mengukur luas penampang ( A ), dengan rumus A = p x l


NO. PANJANG LEBAR HASIL

1.
2.
3.

10
3. Mengukur debit air ( Q ), dengan rumus Q = v x A
NO. KECEPATAN ( v ) LUAS ( A ) HASIL
1.
2.
3.

F. KESIMPULAN

11
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 6
Pengukuran Debit Air Sumur.
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi 6, mahasiswa lebih
terampil mengadakan pengukuran sesuai prinsip pengukuran debit air sumur.
C. DASAR TEORI :
Volume air sumur dapat dikehaui dengan mengukur diameter/ jari-jari lubang
sumur dan ketinggian air sumur. Dengan rumus 3,14 x r 2 x t, maka volume dapat
dicari.
Debit air sumur dapat dicari, apabila ketinggian muka air sumur diketahui, dan
volume air yang terambil, misal “X” liter. Selanjutnya ditunggu waktu muka air
sumur gali setinggi pada saat air sumur sebelum diambil “X” liter. Rumus debit =
volume yang telah diambil dibagi waktu yang dibutuhkan air sumur ke tinggi
awal muka air sebelum diambil “X” liter.
D. CARA KERJA
1. Mengukur panjang diameter dinding sumur gali
2. Mengukur tinggi dinding sumur yang kedap air
3. Mengukur kedalaman muka air sumur gali
4. Mengukur kedalaman dasar sumur gali
5. Hitunglah volume air sumur gali dengan rumus
Volume Sumur = 3,14 x r2xt
6. Ambil air sumur sebanyak “X” liter
7. Amati berapa lama permukaan air tersebut kembali ke kondisi awal
8. Hitunglah debit air sumur gali dengan rumus
Debit ( Q ) = V / t

12
E. HASIL
Tinggi
Diameter kedalaman Kedalaman
tinggi bibir dinding
No. dinding muka air dasar
sumur gali kedap air
sumur gali sumur gali sumur gali
sumur gali
1.

F. KESIMPULAN

13
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 7
Pengolahan Penurunan Kekeruhan Air dengan Cara Pengadukan.
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi 7, mahasiswa lebih te-
rampil mengadakan pengolahan air secara fisika (pengadukan).
C. ALAT DAN BAHAN
1. Bekerglas 100 ml
2. Air kotor 500 ml
3. Alat elektrodialisis
4. Pengaduk
D. DASAR TEORI :
1. Pengolahan Air Secara Fisika
Pengolahan air secara fisika dapat dilakukan adalah cara pengadukan, penya-
ringan, pengendapan atau sedimentasi, dan adsorbsi.
a. Pengadukan
Pengadukan air dengan menggunakan gerak melingkar beraturan. Gerak
Melingkar Beraturan (GMB) adalah gerak melingkar yang memiliki
kecepatan sudut konstan (tetap). Gerak Melingkar itu sendiri adalah
gerak yang lintasannya berupa lingkaran, sedangkan kecepatan sudut
atau yang juga sering disebut dengan kecepatan anguler adalah sudut
yang ditempuh oleh sebuah titik yang bergerak di tepi lingkaran dalam
satuan waktu tertentu. Arah dari kecepatan sudut pada GMB searah
dengan arah dari kecepatan linearnya. Kecepatan sudut dari gerak
melingkar beraturan memang tetap, tetapi arah kecepatan sudutnya
berbeda – beda karena gerak benda dipengaruhi oleh gaya yang
membelokkan benda tersebut, gaya ini disebut dengan gaya sentripetal.
CIRI – CIRI GERAK MELINGKAR BERATURAN (GMB)
 Memiliki lintasan yang berupa lingkaran.
 Dipengaruhi oleh gaya sentripetal.
 Memiliki kecepatan sudut yang tetap (konstan)
 Memiliki percepatan sentripetal yang berubah – ubah.

14
E. CARA KERJA
1. Isilah bekerglas ukur dengan air kotor sebanyak 100 ml.
2. Pasanglah alat elektrodialisis dan catat pada saat start, lakukan selama 10
menit.
3. Setelah 10 menit, hentikan aliran listrik ke alat elektrodialisis.
4. Amati apa yang terbentuk.
5. Aduk 10 kali putaran/ menit dan tunggu 15 menit, amati endapan yang
terjadi.
F. HASIL PENGUKURAN
BERAT
BERAT VOLUME AIR
PENGADUKAN JENIS AIR
No. ENDAPAN SISA
(RPM) SISA
( GRAM) ( Liter )
(N/M³ )
1

G. KESIMPULAN

15
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 8
Pengenalan Perangkat Keamanan Kerja/ Pengaman pada Jaringan Listrik dan
APD Pekerja.
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi 8, diharapkan maha-
siswa akan dapat lebih terampil menerapkan pengetahuan fisika dalam
pengendalian risiko K3.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Sikring
2. Stop kontak
3. Bermacam-macam jenis kabel
4. APD listrik
5. Test pen
6. Sepatu both
7. Helm
D. DASAR TEORI
Alat Pelindung Diri (APD) atau Personal Protective Equipment adalah alat-alat
atau perlengkapan yang wajib digunakan untuk melindungi dan menjaga
keselamatan pekerja saat melakukan pekerjaan yang memiliki potensi bahaya
atau resiko kecelakaan kerja. Alat-alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan
harus sesuai dengan potensi bahaya dan risiko pekerjaannya, sehingga efektif
melindungi pekerja sebagai penggunaannya.
Di dalam Perusahaan Manufakturing terutama yang bergerak dalam Produksi
Perakitan Elektronika, beberapa risiko pekerjaan yang berpotensi mem-
bahayakan keselamatan dan kesehatan serta berpotensi menimbulkan
kecelakaan kerja antara lain proses menyolder, proses pemotongan ka-
ki Komponen Elektronika, proses penggunaan bahan-bahan kimia, suara-suara
yang timbul akibat mesin produksi, pembuangan limbah dan kegiatan
pemindahan bahan-bahan produksi. Oleh karena itu, pekerja-pekerja yang
mengerjakan proses tersebut memerlukan perlengkapan atau alat untuk
melindungi dirinya, sehingga mengurangi risiko bahaya dan kecelakaan kerja.

16
Alat Pelindung Diri atau APD ini merupakan salah satu syarat penting dalam
penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau SMK3.
Alat Pelindung Diri (APD) dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :
1. Alat Pelindung Kepala antara lain : Helmet (Topi Pengaman), Safety Glass
(Kacamata Pengaman), Masker, Respirator, Ear Plugs (Penutup Telinga).
2. Alat Pelindung Badan antara lain : Apron, Jas Laboratorium
3. Alat Pelindung Anggota Badan diantaranya adalah : Sepatu Pelindung (Safety
Shoes/ Boot), Sarung Tangan (Hand Gloves).
E. CARA KERJA
1. Sikring
Hubungan singkat terjadi akibat sentuhan langsung antara kutub positif dan
kutub negatif rangkaian sehingga timbul arus listrik yang terlalu besar.
Keadaan ini disebut korsleting atau korslet.
Korslet menyebabkan arus listrik membesar dan kawat menjadi panas.
Akibatnya, bagian kabel terbakar. Salah satu penyebab awal terjadinya
kebakaran adalah percikan api dari kabel yang terbakar karena korslet.
Oleh karena itu, gunakanlah sikring untuk mencegah terjadinya kebakaran
akibat korslet. Kawat sikring terbuat dari kawat kecil, pendek, dan mudah
meleleh. Biasanya, kawat sikring terbuat dari bahan timah atau perak.
Dengan demikian, jika arus listrik membesar maka kawat akan cepat meleleh
dan putus. Rangkaian kawat pada sikring terputus dan kabel lain yang
berada di dalam rangkaian tidak sempat panas. Kawat sikring ini
dimasukkan ke dalam tabung porselen berpasir yang dapat memadamkan
api. Tujuannya, agar sikring tidak menyala saat kawat sikring terbakar dan
meleleh.
2. Stop kontak
Umumnya bila peralatan listrik bekerja normal maka total arus yang
mengalir pada kawat “plus” dan “netral” adalah sama sehingga tidak ada
perbedaan arus, tetapi bila seseorang tersengat listrik, kawat “plus” akan
mengalirkan arus tambahan melewati tubuh orang yang tersengat ke tanah.
Cara pemasangan :
Secara prinsip pemasangan stop kontak sederhana, yakni dengan menyi-
sipkan stop kontak antara peralatan listrik dengan sumber listrik. Kedua

17
kawat baik “plus” maupun “netral” dilewatkan stop kontak sebelum
mencapai titik yang dilindungi.
3. Kabel
Instalasi listrik di perumahan secara umum menggunakan 3 kawat yaitu
berupa phase, netral dan grounding. Masing-masing kawat menggunakan
warna isolator yang berbeda, yaitu kawat phase biasanya berwarna hitam,
kawat netral menggunakan warna biru dan kawat grounding meng-gunakan
warna hijau atau kuning hijau. Dalam standarisasi warna kabel ini sudah
diatur dalam Standar Nasional dan Internasional.
4. APD ( Alat Perlindungan Diri )
Alat Perlindungan diri wajib digunakan untuk menjaga keselamatan saat
bekerja, berikut contoh alat perlindungan diri :
a) Safety Helmet
Safety helmet berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang dapat
mengenai kepala secara langsung.
b) Safety Belt
Safety belt berfungsi sebagai pelindung diri ketika pekerja bekerja/
berada di atas ketinggian.
c) Safety Shoes
Safety shoes berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang menimpa
kaki, karena benda tajam atau berat, benda panas, cairan kimia dan
sebagainya
d) Sepatu Karet
Sepatu karet (sepatu boot) adalah sepatu yang didesain khusus untuk
pekerja yang berada di area basah (becek atau berlumpur). Kebanyak-an
sepatu karet di lapisi dengan metal untuk melindungi kaki dari benda
tajam atau berat, benda panas, cairan kimia, dsb.
e) Sarung Tangan
Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja di tempat atau
situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan. Bahan dan bentuk
sarung tangan di sesuaikan dengan fungsi masing-masing pekerjaan.

18
f) Masker Pernapasan
Berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat
dengan kualitas udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb).
g) Kaca Mata Pengaman
Berfungsi sebagai pelindung mata ketika bekerja (misalnya mengelas).
h) Penutup telinga
Berfungsi sebagai pelindung telinga pada saat bekerja di tempat yang
bising.
i) Pelindung Wajah
Berfungsi sebagai pelindung wajah dari percikan benda asing saat
bekerja (misal : pekerjaan menggerinda)
F. HASIL

Gambarkan

19
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 9
Pengendalian Vektor Penyakit Secara Fisik/ Mekanis
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi 9, diharapkan maha-siswa
lebih mengenal dan terampil melaksanakan pengendalian vektor secara fisik/
mekanis.
C. ALAT DAN BAHAN
Macam-macam perangkap : Perangkap tikus, Perangkap kecoa, Penangkap lalat
D. DASAR TEORI
Pengendalian vektor adalah semua usaha yang dilakukan untuk mengurangi
atau menurunkan populasi vektor dengan maksud mencegah atau pemberantas
penyakit yang ditularkan vektor atau gangguan yang diakibatkan oleh vektor.

Untuk acuan Pembahasan dapat dilihat pada dasar teori di halaman (38 )
E. HASIL

F. KESIMPULAN

20
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 10
Pengendalian mikroorganisme secara Fisika pada Makanan dan Minuman
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktek fisika lingkungan materi 10, diharapkan mahasiswa
akan lebih terampil pengendalian mikroorganisme secara fisika dalam
penyediaan makanan dan minuman.
C. ALAT
1. Lemari pendingin/ freezer
2. Vacum
3. Autoclave
4. Thermometer
D. CARA KERJA
1. Siapkan thermometer alkohol.
2. Tentukan lokasi dan bahan makanan yang akan dijadikan sampel.
3. Buka lemari pendingin dan masukan thermometer kedalam lemari pen-
dingin di sesuaikan dengan lokasi bahan makanan yang akan diadakan
pengukuran suhu.
4. Tutup lemari pendingin dan diamkan selama 15 menit.
5. Buka lemari pendingiin dan lihat suhu pada thermometer dalam posisi masih
didalam lemari pendingin untuk menghindari perubahaan suhu.
6. Catat hasil pengukuran suhu dan bandingkan dengan standart suhu
penyimpanan bahan makanan.
Setiap bahan makanan mempunyai spesifikasi dalam penyimpanan
tergantung kepada besar dan banyaknya makanan dan tempat
penyimpanannya. Sebagian besar dapat dikelompokan menjadi :
a. Makanan jenis daging, ikan, udang, dan olahannya
1) Menyimpan sampai 3 hari : -5oC sampai 0 oC
2) Penyimpanan untuk satu minggu : -19 oC sampai -5 oC
3) Penyimpanan lebih satu minggu : dibawah -5 oC
b. Makanan jenis telur, susu, dan olahannya

21
1) Menyimpan sampai 3hari : -5oC sampai 7 oC
2) Penyimpanan untuk satu minggu : dibawah -5 oC
3) Penyimpanan lebih satu minggu : dibawah -5 oC
c. Makanan jenis sayur dan minuman dengan waktu penyimpanan paling
lama 1 minggu yaitu 7 oC sampai 10 oC
d. Tepung, biji-bijian dan umbi kering pada suhu kamar 25 oC.
E. HASIL
No. NAMA SAMPEL SUHU (oC) KETERANGAN

F. KESIMPULAN

22
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 11
Pengambilan sampel air bersih dan limbah.
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi 11, diharapkan maha-
siswa dapat lebih mengetahui dan terampil mengadakan praktik pengambilan
sampel air bersih dan air limbah.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Timbangan
2. Gelas ukur
3. Thermometer
D. CARA KERJA
1. Volume
a. Ambil sampel air.
b. Hitung volume air sampel dengan gelas ukur.
2. Suhu
a. Ambil sampel air.
b. Celupkan thermometer kedalam air dan biarkan 2 menit sampai dengan
5 menit sampai thermometer menunjukkan nilai yang stabil.
c. Catat pembacaan skala thermometer tanpa mengagkat lebih dahulu
thermometer dari air.
3. Bau, rasa dan warna
a. Bau (metode organoleptik)
1) Siapkan 5 orang sebagai panelis.
2) Masukan air sampel ke dalam gelas kimia.
3) Berikan gelas kimia yang berisi air sampel kepada panelis untuk
dilakukan penilaian terhadap bau sampel dengan menggunakan
indera penciuman
4) Catat hasil pembauan dan kesimpulan pengukuran adalah modus
hasil penciuman

23
b. Rasa (metode organoleptik)
1) Siapkan 5 orang sebagai perasa.
2) Masukan air sampel ke dalam gelas kimia.
3) Berikan sendok yang berisi air sampel kepada panelis untuk
dilakukan penilaian terhadap rasa sampel dengan menggunakan
indera perasa
4) Catat hasil perasa dan kesimpulan pengukuran adalah modus hasil
perasa.
5) Apabila sampel lebih dari satu, maka setiap pergantian pengecapan
sampel yang satu dengan yang lain diselingi dengan minum air es
untuk menetralisasi syaraf pengecap.
c. Warna (metode organoleptik)
1) Siapkan 5 orang pengukur sebagai pelihat warna.
2) Masukan air sampel dalam gelas kimia.
3) Berikan gelas kimia yang berisi air sampel kepada panelis untuk
dilakukan penilaian terhadap warna sampel dengan menggunakan
indera penglihatan
4) Catat hasil pelihatan warna dan kesimpulan pengukuran adalah
modus hasil pelihatan warna.

E. HASIL
1. Air Bersih
a) Hasil pengamatan :
HASIL PENGAMATAN
No. PARAMETER
PENGAMAT 1 PENGAMAT 2 PENGAMAT 3
1 BAU
2 RASA

24
b) Interprestasi :
GAMBAR PARAMETER HASIL STANDAR KETERANGAN
Suhu

Rasa

Bau

2. Air Limbah
a) Hasil Pengamatan :
HASIL PENGAMATAN
NO PARAMETER
PENGAMAT 1 PENGAMAT 2 PENGAMAT 3
1 BAU
2 RASA

b) Interprestasi :
GAMBAR PARAMETER HASIL STANDAR KETERANGAN

Suhu

Rasa

Bau

F. KESIMPULAN

25
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 12
Pengambilan sampel kualitas lingkungan fisik.
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi 12, diharapkan
mahasiswa lebih terampil menggunakan prinsip fisika dalam pengambilan
sampel kualitas lingkungan fisik.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Thermometer
2. Lux meter
3. Sound level meter
4. Hygrometer
5. High/ low volume sampler
D. CARA KERJA
1. Lakukan pengukuran suhu
a. Letakan termoter pada lingkungan kerja
b. Biarkan selama ± 15 menit
c. Amati dan catat angka yang tertera pada termometer (˚C)
2. Intensitas cahaya
a. Nyalakan Light meter
b. Kalibrasi dengan cara menutup sensor cahaya dan lihat angka pada light
meter adalah 0 (nol)
c. Lakukan pengukuran terhadap tempat yang akan dilakukan pengu-kuran
intensitas cahaya. Tinggi alat ± 85 cm dari permukaan tanah dan jarak
dengan operator ± 60-90 cm
d. Pakaian pengukur berwarna gelap untuk menghindari adanya pan-tulan
e. Baca hasil pengukuran pada layar monitor setelah menunggu bebe-rapa
saat, sehingga didapat nilai angka yang stabil.
f. Catat hasil pengukuran.

26
3. Intensitas suara.
a. Tentukan titik sampling yang jauh dari medan magnet/ faktor lain yang
mengganggu
b. Kalibrasi SLM dengan menggeser saklar function dan range ke call
sampai pada display muncul 94 dB
c. Pegang SLM dengan jarak 0,5 meter dari badan dan ketinggian 1,2-1,5 m
dari permukaan tanah
d. Pembacaan intensitas suara dilakukan setiap 5 detik, kemudian di catat
pada lembar kerja
4. Pengukuran Kadar Debu
a. Sebelum digunakan kertas saring dimasukan kedalam desikator selama
24 jam.
b. Filter kosong ditimbang, catat sebagai filter blanko (B1) dan sampel
(W1), filter blanko dipaparkan dalam udara, filter sampel dimasukan
kedalam filter holder dengan pinset dan tutup holder.
c. Nyalakan LVAS selama beberapa menit sampai 1 jam (tergantung
kebutuhan).
d. Catat kecepatan udara sebagai “V”.
e. Ambil kertas filter blanko dan saampel dengan pinset, kemudian
dimasukan kembali ke dalam disikator selama 24 jam.
f. Timbang blanko sebagai (B2) dan filter sampel sebagai (W2)
g. Hitung kadar debu total dengan rumus:
(W2 − W1)𝑥 (𝐵2 − 𝐵1)
𝐶=
V
E. HASIL

27
F. KESIMPULAN

28
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 13
Pengambilan Sampel Tanah dan perhitungan berat jenis.
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan, mahasiswa terampil melak-
sanakan prinsip fisika dalam pengambilan sampel tanah dan perhitungan berat
jenis.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Gelas ukur
2. Timbangan
3. Sendok semen
4. Saringan
5. Plastik
6. Label
7. Alat tulis
D. CARA KERJA
1. Penentuan titik lokasi pengambilan sampel tanah.
2. Bersihkan titik lokasi dari dahan-dahan, rumput kering dan krikil.
3. Ambil tanah Permukaan pada lokasi tersebut ± luasnya 40 x 40 cm 2 dengan
menggunakan sendok semen
4. Kemudian tanah disaringan/diayak.
5. Masukan tanah ke kantong plastik kemudian diberi label (lokasi, tanggal
pengambilan sampel, dan nama pengambil sampel).
6. Kirim ke laboratorium dan lakukan pengukuran Berat Jenis (BJ) dengan cara:
a. Timbang sebanyak ± 100 gram, kemudian masukan kedalam gelas ukur
b. Catar volumenya kemudian hitung berat jenisnya dengan rumus :

Catatan : 1Kg = 9.8 N

29
E. HASIL

No. LOKASI SAMPEL BERAT VOLUME GAMBAR

F. KESIMPULAN

30
LAPORAN KERJA PRATIKUM FISIKA LINGKUNGAN

A. MATERI 14
Pengambilan Sampel dan pemeriksaan secara organoleptik makanan dan
minuman.
B. TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum fisika lingkungan materi ke 14, mahasiswa
diharapkan lebih terampil dalam pengambilan sampel dan pemeriksaan
organoleptik makanan dan minuman dengan konsep fisika menggunakan
metode pengindraan manusia.
C. Dasar Teori
Merupakan cara pemeriksaan dengan menggunakan indra manusia
menggunakan penciuman, perabaan, pendengar, penglihatan pada makanan
yang diperiksa meliputi beberapa parameter yaitu : warna, bau, rasa, tekstur.
Tujuan pemeriksaan : Mahasiswa memahami, mengambil, mengirim, memriksa
makanan secara organoleptik.
Prinsip pemeriksaan:
1. Pemeriksaan warna pada makanan
2. Pemeriksaan rasa pada makanan
3. Pemeriksaan bau pada makanan
4. Pemeriksaan tekstur pada makanan
D. ALAT
1. Pisau
2. Sendok
3. Garpu
4. Tempat untuk mewadahi makanan
5. Tempat untuk mewadahi minuman
E. BAHAN
1. Sampel makanan yang akan diperiksa
2. Sampel minuman yang akan diperiksa

31
F. CARA KERJA
1. Persiapkan sampel makanan.
2. Siapkan 5 orang pengukur sebagai panelis.
3. Letakkan sampel makanan pada nampan.
4. Berikan sampel makanan kepada panelis untuk dilakukan uji organoleptik.
5. Lakukan pengamatan untuk mengidentifikasi bau, rasa dan warna pada
makanan.
6. Catat hasil organoleptik makanan dan kesimpulan pengukuran adalah modus
hasil organoleptik makanan.

G. HASIL
1. Sampel Makanan
NO NAMA SAMPEL HASIL KETERANGAN

32
2. Sampel Minuman
NO NAMA SAMPEL HASIL KETERANGAN

33
F. KESIMPULAN

34
Dasar Teori pengendalian vektor penyakit secara fisik/mekanis

Pengendalian fisik dan mekanis harus dilandasi oleh pengetahuan yang


menye-luruh tentang ekologi serangan hama, sehingga dapat diketahui kapan,
dimana, dan bagaimana tindakan tersebut harus dilakukan agar diperoleh hasil
seefektif dan seefisien mungkin. selain itu harus ada juga pengetahuan tentang
kenyataan bahwa setiap jenis serangga memiliki batas toleransi terhadap faktor
lingkungan fisik seperti suhu, kebasahan, bunyi, sinar, spektrum
elektromagnetik dan lain-lain. Pengendalian fisik dan mekanik dalam PHT tidak
mengakibatkan pengaruh negatif bagi lingkungan. Apabila dilakukan secara
tepat pengendalian fisik dan mekanik mampu menurunkan populasi hama
secara nyata dan dapat me-nyelamatkan pertanaman kita. Untuk memperoleh
teknologi pengendalian yang efektif yang dapat menjadi masalah adalah cara
pengorganisasian pengendalian. Hal ini disebabkan agar ada pengaruhnya
terhadap penurunan populasi hama. Cara pengendalian ini memerlukan banyak
tenaga dan harus dilakukan berulang kali.
Pengendalian fisik merupakan usaha kita menggunakan atau mengubah
faktor lingkungan fisik sedemikian rupa, sehingga dapat menimbulkan kematian
pada hama dan mengurangi populasinya. Kematian hama disebabkan karena
faktor fisik seperti suhu, kelembaban, suara yang dikenakan diluar batas
toleransi serangga hama sasaran. Batas toleransi disini dapat berupa batas
terendah dan tinggi. Beberapa perlakuan atau tindakan yang termasuk dalam
pengendalian fisik antara lain, adalah : pemanasan, pembakaran, pemanasan
dengan energi radio frekuensi, pendinginan, pembasahan, pengeringan, lampu
perangkap, radiasi sinar infra merah, gelombang suara, penghalang.
Pengendalian mekanik bertujuan untuk mematikan atau memindahkan
hama secara langsung, baik dengan tangan atau dengan bantuan alat dan bahan
lain. Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian dan penyebaran hama. Jadi
dapat ditentukan waktu pengendalian mekanik yang tetap, dan fase hidup yang
menjadi praktik pengendalian hama, yaitu pengambilan dengan tangan, gro-
pyokan, memasang perangkap, pengusiran, dan cara-cara lain. Pengendalian
fisik dan mekanik memiki tujuan langsung dan tidak langsung. Diantaranya
mematikan hama, menggangu aktivitas fisiologi hama yang normal dengan cara

35
lain dan diluar pestisida, dan mengubah lingkungan sedemikian rupa sehingga
lingkungan menjadi kurang sesuai bagi kehidupan hama. Pengendalian secara
fisik dan mekanik antara lain adalah dengan cara penggunaan penghalang fisik,
pembakaran, Organisme Penganggu Tanaman pemanasan, gelombang suara,
radiasi cahaya, lampu perangkap, pengapasan, dan lain – lain. Pengendalian
hama dan gulma secara manual atau dengan menggunakan alat dan mesin
pertanian juga dapat digolongkan sebagai cara pengendalian mekanik.

Pengendalian fisik/mekanik
Pengendalian fisik dan mekanik merupakan tindakan mengubah lingkungan
khusus untuk mematikan atau menghambat kehidupan hama, dan bukan
merupakan bagian praktek budidaya yang umum. Pengendalian fisik dan
mekanik harus dilandasi oleh pengetahuan yang menyeluruh tentang ekologi
serangan hama, sehingga dapat diketahui kapan, dimana, dan bagaimana
tindakan terdebut harus dilakukan agar diperoleh hasil seefektif dan seefisien
mungkin.
1. Pengendalian fisik
Pengendalian fisik adalah perlakuan atau tindakan yang dilakukan untuk
mengendalikan serangan hama. Pengendalian secara fisik, antara lain:
Pembakaran ; dilakukan sebagai upaya pembasmian hama atau patogen
pada tanaman yang tidak mungkin lagi dapat diselamatkan. Pembakaran
gulma juga sering dilakukan petani. Pembakaran sebagai upaya pengen-
dalianhama patogen, dan gulma harus dilakukan dengan mempertimbangkan
bahwa musuh alami hama dan mikroorganisme yang bermanfaat perlu untuk
dilindungi.
Pemanasan ; dilakukan untuk pengendalian hama atau patogen yang
menyerang hasil tanaman yang disimpan di gudang. Pemanasan tidak dapat
dilakukan terhadap tanaman yang sedang aktif tumbuh, karena pemanasan
dapat meyebabkan denaturasi enzim sehingga mengganngu metabolisme
tanaman.
Penggunaan suara ; sebagai cara pengendalian hama lebih bersifat
pengendalian sesaat, misalnya dilakukan untuk mengusir burung yang
sedang atau hendak menyerang tanaman. Pengendalian dengan suara atau

36
bunyi – bunyian ini harus dilakukan secara aktif oleh petani, karena
efektivitasnya yang bersifat sesaat tersebut.
Perangkap cahaya, beberapa serangga tertentu memiliki sifat tertarik pada
cahaya terutama cahaya kuning. Sifat tersebut dapat kita manfaatkan untuk
menarik perhatiannya dengan cara membuat perangkap yang berasal dari
cahaya yang disekitarnya atau sekelilingnya menggunakan air, minyak tanah,
oli dan lain sebagainya yang diharapkan mampu membunuh serangga
tersebut. Adapun cahaya itu sendiri dapat bersumber dari lilin, lampu
tempel/lentera atau minyak tanah, maupun lampu bohlam. Perangkap
cahaya ini cocok untuk hama yang aktifpada malam hari seperti penggerek
batang, ganjur, dan walang sangit.

37