Anda di halaman 1dari 197

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MASALAH UTAMA

PERUBAHAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN


DIRUANG DEWANDARU RSJD DR. RM. SOEDJARWADI
PROVINSI JAWA TENGAH

Disusun oleh
KRISTIN DWI RATNASARI
NIM. 1602029

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


STIKES BETHESDA YAKKUM
YOGYAKARTA
2018/2019
LEMBAR PENGESAHAN

Preseptor Akademik Perseptor Klinik


STIKES Bethesda Yakkum RSJD Dr. RM. Soedjarwadi
Yogyakarta
Provinsi Klaten

Widyastuti ER., APP., MPH Samsul Arif, S.Kep., Ns

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala kasih-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan laporan dengan judul : Asuhan Keperawatan Jiwa
Dengan Masalah Utama Perubahan Persepsi Sensori Halusinasi Pada Kasus
Skizofrenia di Ruang Dewandaru RSJD. Dr. RM. Soedjarwardi Provinsi Jawa
Tengah.
Penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan dorongan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan
terimakasih kepada :
1. Ibu Vivi Retno Intening, S.Kep.,Ns, MAN. selaku, Ketua STIKES Bethesda
Yakkum Yogyakarta
2. Dr. Tri Kuncoro, M. M. R selaku, Direktur RSJD. Dr. RM. Soedjarwardi
Provinsi Jawa Tengah.
3. Ibu Widyastuti ER., APP., MPH Selaku, Preseptor Akademik STIKES
Bethesda Yakkum Yogyakarta
4. Bapak Samsul Arif, S.Kep., Ns. selaku, Preseptor Klinik di Ruang Dewandaru
RSJD. Dr. RM. Soedjarwardi Provinsi Jawa Tengah.
5. Semua pihak yang telah membantu terhadap kelancaran dan penyelesaian
laporan ini.
Penulis telah berupaya seoptimal mungkin untuk dapat menyelesaikan laporan ini
dengan sebaik-baiknya, namun penulis menyadari bahwa dalam pembuatan
laporan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak.
Penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembelajaran ilmu
keperawatan jiwa khususnya.

Klaten, Januari 2019

Kristin Dwi Ratnasari

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii


KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I: PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Tujuan Penulisan .......................................................................................... 3
C. Metode Pengumpulan Data .......................................................................... 3
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 5
A. Teori Medis Skizofrenia ............................................................................... 5
B. Teori Keperawatan ..................................................................................... 20
BAB III: ASUHAN KEPERAWATAN ............................................................... 65
A. Pengkajian .................................................................................................. 65
B. Analisa Data ,Daftar Masalah,Pohon Masalah .......................................... 75
C. Daftar Diagnosa Keperawatan ................................................................... 77
D. Rencana Tindakan Keperawatan ................................................................ 78
E. Catatan Perkembangan (Evaluasi dan Implementasi ) ............................. 183
BAB IV: PENUTUP ........................................................................................... 190
A. Kesimpulan .............................................................................................. 190
B. Saran ......................................................................................................... 190
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada era globalisasi, gangguan kejiwaan meningkat yang menyerang pada
penderita baik dari kalangan bawah sampai kalangan pejabat dan masyarakat
lapisan menengah ke atas juga terkena gangguan jiwa (Yosep, 2009). Prognosis
untuk Skizofrenia pada umumnya kurang begitu menggembirakan. Sekitar
25% pasien dapat pulih dai episode awal gangguan tersebut. Sekitar 25%
pasien tidak akan pernah gangguan tersebut. Sekitar 25% pasien tidak akan
pernah pulih dan perjalanan penyakitnya cenderung memburuk. Sekitar 50%
berada diantaranya, ditandai ada kekambuhan priodik dan ketidakmampuan
berfungsi dengan efektif kecuali untuk waktu yang singkat. Mortalitas pasien
Skizofrenia lebih tinggi secara signifikan daripada populasi umum. Sering
terjadi bunuh diri, gangguan fisik yang menyertai masalah penglihatan dan
gigi, tekanan darah tinggi diabetes, penyakit yang ditularkan secara seksual
(Arif, 2009).

Hasil data World Health Organization (WHO), masalah gangguan kesehatan


jiwa di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius. Pada
tahun 2012 WHO menyatakan paling tidak ada satu dari empat orang di dunia
mengalami gangguan kesehatan jiwa. WHO memperkirakan ada sekitar 450
juta orang di dunia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Sementara itu,
menurut Uton Muchtar Rafei, Direktur WHO wilayah Asia Tenggara hampir
1/3 dari penduduk di wilayah ini penah mengalami gangguan neuropsikiatri.
Asrul Aswar (Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan)
mengatakan bahwa jumlah penderita gangguan kesehatan jiwa di masyarakat
sangat tinggi, yakni satu dari empat penduduk Indonesia menderita kelainan

1
2

jiwa rasa cemas depresi, stress,, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja


sampai Skizofrenia.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 Departemen


Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) menyatakan bahwa pervalensi
gangguan jiwa adalah 1-2 orang per 1000 populasi. Prevalensi gangguan jiwa
berat pada penduduk Indonesia 1,7 per mil dan ganggiam jiwa terbanyak
adalah Skizofrenia. Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang
menempati urutan ke lima terbanyak dengan penderita Skizofrenia. Prevanlensi
Skizofenia di Jawa Tengah yaitu 0.23% dari jumlah penduduk melebihi angka
nasional 0.17% (Riskesdas, 2013).

Angka kejadian gangguan jiwa di RSJD. Dr. RM. Soedjarwadi Klaten Provinsi
Jawa Tengah didapatkan bahwa penderita gangguan jiwa sejumlah 1.531
pasien, dengan Skizofenia sebesar 748 pasien yang dirawat inap, dalam periode
Januari 2016 – Januari 2017 (Data Rekam Medik RSJD. Dr. RM. Soedjarwadi
Klaten Provinsi Jawa Tengah, 2016). Dari data yang didapatkan bahwa kasus
Skizofenia biasanya antara rentang 10-29 tahun (Pratiwi & Sudaryanto, 2015).

Undang – Undang Kesehatan Jiwa No. 03 tahun 1966 ditetapkan oleh


pemerintah Republik Indonesia (RI), maka jalan lebih terbuka untuk
menghimpun semua potensi guna secara bertahap melaksanakan modernisasi
semua sistem rumah sakit serta fasilitas kesehatan jiwa di Indonesia. Direktorat
Kesehatan Jiwa mngadakan kerjasama dengan berbagai instansi pemerintahan
dan dengan bagian Ilmu Kedokteran Jiwa dari Fakultas Kedokteran pemerintah
maupun dengan badan Internasional (Maramis, 2009)

Oleh karena itu, penulis menulis makalah ini yang akan dibahas pada mata
kuliah Psikologi Keperawatan. Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang
sifatnya merusak, melibatkan gangguan berfikir, persepsi, pembicaraan,
emosional, dan gangguan perilaku. Gangguan psikotik adalah gangguan jiwa
3

yang ditandai dengan ketidakmampuan individu menilai kenyataan yang terjadi


(Asmadi, 2011).

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
a. Memberikan gambaran nyata tentang Asuhan Keperawatan pada Ny.S
dengan masalah utama halusinasi pendengaran di RSJD
Dr.RM.Soedjarwadi Provinsi Jawa Tengah
b. Mengetahui penerapan asuhan keperawatan pada Ny. S dengan masalah
utama halusinasi pendengaran di RSJD Dr.RM.Soedjarwadi Provinsi
Jawa Tengah
2. Tujan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada Ny.S dengan masalah utama:
halusinasi pendengaran
b. Mampu menentukan diagnosa keperawatan yang muncul pada Ny.S
dengan halusinasi pendengaran
c. Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada Ny.S dengan
halusinasi pendengaran
d. Mampu melakukan tindakan keperawatan pada Ny.S dengan halusinasi
pendengaran
e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan pada Ny.S dengan
halusinasi pendengaran.
f. Mampu mendekumentasi tindakan keperawatan pada Ny.S dengan
halusinasi pendengaran.

C. Metode Pengumpulan Data


1. Studi dokumentasi
Perawat mengetahui data pasien melalui rekam medis yang berkaitan
tentang indentitas, alasan masuk rumah sakit, diagnosa medis, dan riwayat
penyakit sebelumnya.
4

2. Wawancara langsung
Perawat juga mendapatkan data melalui wawancara secara langsung,
dimana perawat langsung berinteraksi dengan klien, sehingga data yang
didapatkan langsung dari apa yang dikatakan klien.
3. Observasi
Perawat juga mengobservasi secara langsung keadaan yang terjadi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Medis Skizofrenia


1. Pengertian Skizofenia
a. Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai di
mana-mana sejak dahulu kala. Meskipun demikian pengetahuan kita
tentang sebab-musabab dan patogenesanya sangat kurang (W.F.
Maramis, 2009).
b. Skizofrenia adalah kerusakan pola pikir (fragmented thinking) dan
ketidakmampuan melakukan hubungan dengan dunia lain
(Notosoedirdjo, 2009).
2. Etiologi Skizofenia
Merupakan integrasi faktor biologis, faktor psikososial, faktor
lingkungan. Model ini mendalilkan bahwa seseorang mungkin memiliki
suatu kerentanan spesifik (diatessis) yang jika dikenai oleh suatu
pengaruh lingkungan yang menimbulkan stress, memungkinkan
perkembangan skizofrenia.
Komponen lingkungan mungkin biologikal (seperti infeksi) atau
psikologis (missal kematian orang terdekat). Sedangkan dasar biologikal
dari diatesis selanjutnya dapat terbentuk oleh pengaruh epigenetik seperti
penyalahgunaan obat, stress psikososial , dan trauma.
Kerentanan yang dimaksud disini haruslah jelas, sehingga dapat
menerangkan mengapa orang tersebut dapat menjadi skizofren. Semakin
besar kerentanan seseorang maka stressor kecilpun dapat menyebabkan
menjadi skizofren. Semakin kecil kerentanan maka butuh stressor yang
besar untuk membuatnya menjadi penderita skizofren, sehingga secara

5
6

teoritis seseorang tanpa diathese tidak akan berkembang menjadi


skizofren, walau sebesar apapun stressornya
a. Faktor Neurobiologi
Penulisan menunjukkan bahwa pada pasien skizofrenia ditemukan
adanya kerusakan pada bagian otak tertentu. Namun sampai kini
belum diketahui bagaimana hubungan antara kerusakan pada bagian
otak tertentu dengan munculnya simptom skizofrenia.
Terdapat beberapa area tertentu dalam otak yang berperan dalam
membuat seseorang menjadi patologis, yaitu sitem limbik, korteks
frontal, cerebellum dan ganglia basalis. Keempat area tersebut saling
berhubungan, sehingga disfungsi pada satu area mungkin melibatkan
proses patologis primer pada area yang lain. Dua hal yang menjadi
sasaran Penulisan adalah waktu dimana kerusakan neuropatologis
muncul pada otak, dan interaksi antara kerusakan tersebut dengan
stressor lingkungan dan sosial.
b. Hipotesa Dopamin
Menurut hipotesa ini, skizofrenia terjadi akibat dari peningkatan
aktivitas neurotransmitter dopaminergik. Peningkatan ini mungkin
merupakan akibat dari meningkatnya pelepasan dopamine, terlalu
banyaknya reseptor dopamine, turunnya nilai ambang, atau
hipersentivitas reseptor dopamine, atau kombinasi dari faktor-faktor
tersebut. Munculnya hipotesa ini berdasarkan observasi bahwa : Ada
korelasi antara efektivitas dan potensi suatu obat antipsikotik dengan
kemampuannya bertindak sebagai antagonis reseptor Dopamine
D2.Obat yang meningkatkan aktivitas dopaminergik- seperti
Amphetamine dapat menimbulkan gejala psikotik pada siapapun.
c. Faktor Genetika
Penulisan tentang genetik telah membuktikan faktor
genetik/keturunan merupakan salah satu penyumbang bagi jatuhnya
seseorang menjadi skizofren. Resiko seseorang menderita skizofren
akan menjadi lebih tinggi jika terdapat anggota keluarga lainnya
7

yang juga menderita skizofren, apalagi jika hubungan keluarga


dekat. Penulisan terhadap anak kembar menunjukkan keberadaan
pengaruh genetik melebihi pengaruh lingkungan pada munculnya
skizofrenia, dan kembar satu telur memiliki kemungkinan lebih besar
untuk mengalami skizofrenia.
d. Faktor Psikososial
1) Teori Tentang Individu Pasien
a) Teori Psikoanalitik
Freud beranggapan bahwa skizofrenia adalah hasil dari
fiksasi perkembangan, yang muncul lebih awal daripada
gangguan neurosis. Jika neurosis merupakan konflik
antara id dan ego, maka psikosis merupakan konflik antara
ego dan dunia luar. Menurut Freud, kerusakan ego (ego
defect) memberikan kontribusi terhadap munculnya
simptom skizofrenia. Disintegrasi ego yang terjadi pada
pasien skizofrenia merepresentasikan waktu dimana ego
belum atau masih baru terbentuk.
Konflik intrapsikis yang berasal dari fiksasi pada masa
awal serta kerusakan ego-yang mungkin merupakan hasil
dari relasi obyek yang buruk-turut memperparah symptom
skizofrenia. Hal utama dari teori Freud tentang skizofrenia
adalah dekateksis obyek dan regresi sebagai respon
terhadap frustasi dan konflik dengan orang lain.
Harry Stack Sullivan mengatakan bahwa gangguan
skizofrenia disebabkan oleh kesulitan interpersonal yang
terjadi sebelumnya, terutama yang berhubungan dengan
apa yang disebutnya pengasuhan ibu yang salah, yaitu
cemas berlebihan.
Secara umum, dalam pandangan psikoanalitik tentang
skizofrenia, kerusakan ego mempengaruhi interprestasi
terhadap realitas dan kontrol terhadap dorongan dari
8

dalam, seperti seks dan agresi. Gangguan tersebut terjadi


akibat distorsi dalam hubungan timbal balik ibu dan anak.
Berbagai simptom dalam skizofrenia memiliki makna
simbolis bagi masing-masing pasien. Misalnya fantasi
tentang hari kiamat mungkin mengindikasikan persepsi
individu bahwa dunia dalamnya telah hancur. Halusinasi
mungkin merupakan substitusi dari ketidakmampuan
pasien untuk menghadapi realitas yang obyektif dan
mungkin juga merepresentasikan ketakutan atau harapan
terdalam yang dimilikinya.
b) Teori Psikodinamik
Berbeda dengan model yang kompleks dari Freud,
pandangan psikodinamik setelahnya lebih mementingkan
hipersensitivitas terhadap berbagai stimulus. Hambatan
dalam membatasi stimulus menyebabkan kesulitan dalam
setiap fase perkembangan selama masa kanak-kanak dan
mengakibatkan stress dalam hubungan interpersonal.
Menurut pendekatan psikodinamik, simptom positif
diasosiasikan dengan onset akut sebagai respon terhadap
faktor pemicu/pencetus, dan erat kaitannya dengan adanya
konflik. Simptom negatif berkaitan erat dengan faktor
biologis, dan karakteristiknya adalah absennya
perilaku/fungsi tertentu. Sedangkan gangguan dalam
hubungan interpersonal mungkin timbul akibat konflik
intrapsikis, namun mungkin juga berhubungan dengan
kerusakan ego yang mendasar.
Tanpa memandang model teoritisnya, semua pendekatan
psikodinamik dibangun berdasarkan pemikiran bahwa
symptom-simptom psikotik memiliki makna dalam
skizofrenia. Misalnya waham kebesaran pada pasien
mungkin timbul setelah harga dirinya terluka. Selain itu,
9

menurut pendekatan ini, hubungan dengan manusia


dianggap merupakan hal yang menakutkan bagi pengidap
skizofrenia.
c) Teori Belajar
Menurut teori ini, orang menjadi skizofrenia karena pada
masa kanak-kanak ia belajar pada model yang buruk. Ia
mempelajari reaksi dan cara pikir yang tidak rasional
dengan meniru dari orangtuanya, yang sebenarnya juga
memiliki masalah emosional.
2) Teori Tentang Keluarga
Beberapa pasien skizofrenia-sebagaimana orang yang
mengalami nonpsikiatrik-berasal dari keluarga dengan disfungsi,
yaitu perilaku keluarga yang patologis, yang secara signifikan
meningkatkan stress emosional yang harus dihadapi oleh pasien
skizofrenia. Antara lain:
a) Double Bind
Konsep yang dikembangkan oleh Gregory Bateson untuk
menjelaskan keadaan keluarga dimana anak menerima
pesan yang bertolak belakang dari orangtua berkaitan
dengan perilaku, sikap maupun perasaannya. Akibatnya
anak menjadi bingung menentukan mana pesan yang benar,
sehingga kemudian ia menarik diri kedalam keadaan
psikotik untuk melarikan diri dari rasa konfliknya itu.
b) Schims and Skewed Families
Menurut Theodore Lidz, pada pola pertama, dimana
terdapat perpecahan yang jelas antara orangtua, salah satu
orang tua akan menjadi sangat dekat dengan anak yang
berbeda jenis kelaminnya. Sedangkan pada pola keluarga
Skewed, terjadi hubungan yang tidak seimbang antara anak
dengan salah satu orangtua yang melibatkan perebutan
10

kekuasaan antara kedua orangtua, dan menghasilkan


dominasi dari salah satu orang tua.
Pseudomutual and Pseudohostile Families Dijelaskan oleh
Lyman Wynne, beberapa keluarga men-suppress ekspresi
emosi dengan menggunakan komunikasi verbal yang
pseudomutual atau pseudohostile secara konsisten. Pada
keluarga tersebut terdapat pola komunikasi yang unik, yang
mungkin tidak sesuai dan menimbulkan masalah jika anak
berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
c) Ekspresi Emosi
Orang tua atau pengasuh mungkin memperlihatkan sikap
kritis, kejam dan sangat ingin ikut campur urusan pasien
skizofrenia. Banyak Penulisan menunjukkan keluarga
dengan ekspresi emosi yang tinggi (dalam hal apa yang
dikatakan maupun maksud perkataan) meningkatkan tingkat
relapse pada pasien skizofrenia.
3) Teori Sosial
Beberapa teori menyebutkan bahwa industrialisasi dan
urbanisasi banyak berpengaruh dalam menyebabkan skizofrenia.
Meskipun ada data pendukung, namun penekanan saat ini adalah
dalam mengetahui pengaruhnya terhadap waktu timbulnya onset
dan keparahan penyakit.
3. Tanda dan Gejala Skizofenia
Menurut Bleuler (dalam Maramis, 2009) gejala – gejala Skizofenia
dibagi menjadi dua :
a. Gejala Primer
Gangguan proses pikiran (bentuk, langkah, dan isi pikir). Yang
terganggu terutama adalah asosiasi. Kadang-kadang satu ide belum
selesai diutarakan sudah timbul ide lain. Terdapat pemindahan
maksud. Jalan pikiran pada schizofrenia sukar diikuti dan
dimengerti. Hal ini dinamakan inkoherensi. Seorang schizofrenia
11

juga mempunyai kecenderungan untuk menyamakan hal - hal.


Kadang - kadang pikiran seakan-akan berhenti, tidak timbul ide lagi,
dinamakan “blocking”. Timbul ide-ide yang tidak dikehendaki,
tekanan pikiran (pressure of thoughts). Bila suatu ide berulang-ulang
timbul dan diutarakan disebut perseverasi atau stereotipi pikiran.
Pikiran melayang / flight of ideas lebih sering dijumpai pada mania,
sedangkan pada schizofrenia lebih sering inkoherensi. Pada
inkoherensi sering tidak ada hubungan antara emosi dan pikiran,
jalan pikiran tidak dapat diikuti sama sekali. Sedangkan pada pikiran
melayang selalu ada eforia dan jalan pikiran masih bertujuan dan
dapat diikuti meskipun ide muncul sangat cepat.
1) Gangguan afek dan emosi meliputi :
a) Kedangkalan afek dan emosi (emotional blunting).
b) Paramimi (Pasien senang tapi dia menangis).
c) Parathimi (seharusnya senang tapi timbul rasa sedih).
d) Emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai
kesatuan.
e) Emosi yang berlebihan.
f) Hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi
yang baik.
g) Terpecah - belahnya kepribadian.
2) Gangguan Kemauan
Penderita skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan. Mereka
tidak dapat mengambil keputusan, tidak dapat bertindak dalam
suatu keadaan.
3) Gejala Psikomotor juga dinamakan gejala - gejala katatonik atau
gangguan perbuatan.
b. Gejala Sekunder
1) Waham:Sering tidak logis sama sekali dan sangat bizzare.
2) Halusinasi:Timbul tanpa adanya penurunan kesadaran.
12

3) Menarik diri:Mengidentifikasi dirinya sebuah obyek yang tidak


ada artinya.
4. Psikopatologi Skizofenia
Tanda awal dari skizofrenia adalah simtom-simtom pada masa
premorbid. Biasanya simtom ini muncul pada masa remaja dan kemudian
diikuti dengan berkembangnya simtom prodormal dalam kurun waktu
beberapa hari sampai beberapa bulan. Adanya perubahan
social/lingkungan dapat memicu munculnya simtom gangguan. Masa
prodormal ini bisa langsung sampai bertahun-tahun sebelum akhirnya
muncul simtom psikotik yang terlihat.
Perjalanan penyakit skizofrenia yang umum adalah memburuk dan
remisi. Setelah sakit yang pertama kali, pasien mungkin dapat berfungsi
normal untuk waktu lama (remisi), keadaan ini diusahakan dapat terus
dipertahankan. Namun yang terjadi biasanya adalah pasien mengalami
kekambuhan. Tiap kekambuhan yang terjadi membuat pasien mengalami
deteriorasi sehingga ia tidak dapat kembali ke fungsi sebelum ia kambuh.
Kadang, setelah episode psikotik lewat, pasien menjadi depresi, dan ini
bisa berlangsung seumur hidup.
Seiring dengan berjalannya waktu, simtom positif hilang, berkurang, atau
tetap ada, sedangkan simtom negative relative sulit hilang bahkan
bertambah parah.
Faktor-faktor resiko tinggi untuk berkembangnya skizofrenia adalah
Mempunyai anggota keluarga yang menderita skizofrenia, terutama jika
salah satu orang tuanya/saudara kembar monozygotnya menderita
skizofrenia, kesulitan pada waktu persalinan yang mungkin
menyebabkan trauma pada otak, terdapat penyimpangan dalam
perkembangan kepribadian, yang terlihat sebagai anak yang sangat
pemalu, menarik diri, tidak mempunyai teman, amat tidak patuh, atau
sangat penurut, proses berpikir idiosinkratik, sensitive dengan
perpisahan, mempunyai orang tua dengan sikap paranoid dan gangguan
berpikir normal, memiliki gerakan bola mata yang abnormal,
13

menyalahgunakan zat tertentu seperti amfetamin, kanabis, kokain,


Mempunyai riwayat epilepsi, memiliki ketidakstabilan vasomotor,
gangguan pola tidur, control suhu tubuh yang jelek dan tonus otot yang
jelek.
5. Jenis Skizofenia
Gejala klinis Skizofenia secara umum dan menyeluruh telah diuraikan di
muka, Skizofrenia dibagi lagi dalam 9 tipe atau kelompok yang
mempunyai spesifikasi masing-masing, yang kriterianya di dominasi
dengan hal-hal sebagai berikut:
a. Skizofrenia Paranoid
Memenuhi kriteria diagnostik Skizofrenia Sebagai tambahan :
Halusinasi dan atau waham harus menonjol :
1) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi
perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa
bunyi pluit, mendengung, atau bunyi tawa.
2) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat
seksual, atau lain-lain perasaan tubuh halusinasi visual mungkin
ada tetapi jarang menonjol.
3) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of
influence), atau “Passivity” (delusion of passivity), dan
keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang
paling khas.
b. Skizofrenia Hebefrenik
Memenuhi kriteria umum diagnosis Skizofrenia:
Diagnosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia
remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25
tahun). Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas : pemalu dan
senang menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk
menentukan diagnosis.
14

Untuk diagnosis hebefrenia yang menyakinkan umumnya diperlukan


pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk
memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar
bertahan.
Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan,
serta mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri
(solitary), dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa
perasaan; Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar
(inappropriate), sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau
perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendiri (self-absorbed
smiling), atau oleh sikap, tinggi hati (lofty manner), tertawa
menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda
gurau (pranks), keluhan hipokondrial, dan ungkapan kata yang
diulang-ulang (reiterated phrases), Proses pikir mengalami
disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta
inkoheren.
Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses
pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi
biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusions and
hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan
(determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku
penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan
(aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose). Adanya suatu
preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama,
filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang
memahami jalan pikiran pasien.
c. Skizofrenia Katatonik
Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis Skizofrenia. Satu atau
lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran
klinisnya ;
15

1) Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap


lingkungan dan dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau
mutisme (tidak berbicara).
2) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak
bertujuan, yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
3) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil
dan mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau
aneh)
4) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif
terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau
pergerakkan kearah yang berlawanan)
5) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk
melawan upaya menggerakkan dirinya)
6) Fleksibilitas cerea / ”waxy flexibility” (mempertahankan anggota
gerak dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar);
7) Gejala-gejala lain seperti “command automatism” (kepatuhan
secara otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata
serta kalimat-kalimat.
Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari
gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda
sampai diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala
lain.
Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan
petunjuk diagnostik untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat
dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan
obat-obatan, serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif.
Selama stupor atau kegembiraan katatonik, pasien skizofrenik
memerlukan pengawasan yang ketat untuk menghindari pasien
melukai dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan medis mungkin
ddiperlukan karena adanya malnutrisi, kelelahan, hiperpireksia, atau
cedera yang disebabkan oleh dirinya sendiri.
16

d. Skizofrenia tak terinci (Undifferentiated).


Seringkali pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah
dimasukkan kedalam salah satu tipe. PPDGJ mengklasifikasikan
pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci. Kriteria diagnostic menurut
PPDGJ III yaitu:
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia tidak memenuhi
kriteria untuk diagnosis Skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau
katatonik.
Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi
pasca Skizofrenia.Skizofrenia tak terinci umumnya ditandai oleh
penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dan persepsi serta
efek yang tidak wajar, kesadaran yang jernih dan kemampuan yang
intelektual biasanya tetap terpelihara walaupun kemunduran kognitif
tertentu dapat berkembang kemudian.
Klien dengan Skizofrenia paling sedikit ada dua gejala dibawah ini
yang terus ada secara jelas, yaitu :
1. Halusinasi yang menetap disertai dengan waham yang
mengembang.
2. Arus pikir yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan.
3. Perilaku katatonik seperti gaduh dan gelisah
4. Gejala-gejala seperti sikap, apatis, bicara yang jarang dan
cenderung menarik diri.
e. Depresi Pasca-Skizofrenia
Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau :
1) Pasien telah menderita Skizofrenia (yang memenuhi kriteria
diagnosis umum Skizofrenia) selama 12 bulan terakhir ini.
2) Beberapa gejala Skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi
mendominasi gambaran klinisnya).
3) Gejala-gejala depresif menonjol dan menganggu, memenuhi
paling sedikit kriteria untuk episode depresif, dan telah ada
dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu. Apabila pasien
17

tidak lagi menunjukkan gejala Skizofrenia diagnosis menjadi


episode depresif. Bila gejala Skizofrenia diagnosis masih jelas
dan menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe
Skizofrenia yang sesuai.

f. Skizofrenia Residual
Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini
harus dipenuhi semua
1) Gejala “negative” dari Skizofrenia yang menonjol misalnya
perlambatan psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang
menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam
kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non-verbal yang
buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak mata, modulasi
suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial yang
buruk.
2) Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa
lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis Skizofenia.
3) Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana
intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan
halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul
sindrom “negative” dari Skizofrenia.
4) Tidak terdapat dementia atau penyakit / gangguan otak organik
lain, depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat
menjelaskan disabilitas negative tersebut.
Menurut DSM IV, tipe residual ditandai oleh bukti-bukti yang
terus menerus adanya gangguan skizofrenik, tanpa adanya
kumpulan lengkap gejala aktif atau gejala yang cukup untuk
memenuhi tipe lain Skizofrenia. Penumpulan emosional,
penarikan social, perilaku eksentrik, pikiran yang tidak logis,
dan pengenduran asosiasi ringan adalah sering ditemukan pada
18

tipe residual. Jika waham atau halusinasi ditemukan maka hal


tersebut tidak menonjol dan tidak disertai afek yang kuat.
g. Skizofrenia Simpleks
Diagnosis Skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan
karena tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan
perlahan dan progresif dari : gejala “negative” yang khas dari
Skizofrenia residual tanpa di dahului riwayat halusinasi, waham,
atau manifestasi lain dari episode psikotik, dan disertai dengan
perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna,
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak
berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial.
Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe
skizofrenia lainnya.
Skizofrenia simpleks sering timbul pertama kali pada masa pubertas.
Gejala utama pada jenis simpleks adalah kedangkalan emosi dan
kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir biasanya sukar
ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini
timbulnya perlahan-lahan sekali. Pada permulaan mungkin penderita
mulai kurang memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri
dari pergaulan. Makin lama ia makin mundur dalam pekerjaan atau
pelajaran dan akhirnya menjadi pengangguran, dan bila tidak ada
orang yang menolongnya ia mungkin akan menjadi pengemis,
pelacur, atau penjahat.
6. Terapi Skizofenia
Obat neuroleptika selalu diberikan, kecuali obat-obat ini
terkontraindikasi, karena 75% penderita Skizofrenia memperoleh
perbaikan dengan obat-obat neuroleptika. Kontraindikasi meliputi
neuroleptika yang sangat antikolinergik seperti klorpromazin, molindone,
dan thioridazine pada penderita dengan hipertrofi prostate atau glaucoma
sudut tertutup. Antara sepertiga hingga separuh penderita Skizofrenia
dapat membaik dengan lithium. Namun, karena lithium belum terbukti
19

lebih baik dari neuroleptika, penggunaannya disarankan sebatas obat


penopang. Meskipun terapi elektrokonvulsif (ECT) lebih rendah
dibanding dengan neuroleptika bila dipakai sendirian, penambahan terapi
ini pada regimen neuroleptika menguntungkan beberapa penderita
Skizofrenia.
Hal yang penting dilakukan adalah intervensi psikososial. Hal ini
dilakukan dengan menurunkan stressor lingkungan atau mempertinggi
kemampuan penderita untuk mengatasinya, dan adanya dukungan sosial.
Intervensi psikososial diyakini berdampak baik pada angka relaps dan
kualitas hidup penderita. Intervensi berpusat pada keluarga hendaknya
tidak diupayakan untuk mendorong eksplorasi atau ekspresi perasaan-
perasaan, atau mempertinggi kewaspadaan impuls-impuls atau motivasi
bawah sadar.
Tujuannya adalah :
a. Pendidikan pasien dan keluarga tentang sifat-sifat gangguan
Skizofrenia.
b. Mengurangi rasa bersalah penderita atas timbulnya penyakit ini.
Bantu penderita memandang bahwa Skizofrenia adalah gangguan
otak.
c. Mempertinggi toleransi keluarga akan perilaku disfungsional yang
tidak berbahaya. Kecaman dari keluarga dapat berkaitan erat dengan
relaps.
d. Mengurangi keterlibatan orang tua dalam kehidupan emosional
penderita. Keterlibatan yang berlebihan juga dapat meningkatkan
resiko relaps.
e. Mengidentifikasi perilaku problematik pada penderita dan anggota
keluarga lainnya dan memperjelas pedoman bagi penderita dan
keluarga.
Psikodinamik atau berorientasi insight belum terbukti memberikan
keuntungan bagi individu skizofrenia. Cara ini malahan memperlambat
kemajuan. Terapi individual menguntungkan bila dipusatkan pada
20

penatalaksanaan stress atau mempertinggi kemampuan social spesifik,


serta bila berlangsung dalam konteks hubungan terapeutik yang ditandai
dengan empati, rasa hormat positif, dan ikhlas. Pemahaman yang empatis
terhadap kebingungan penderita, ketakutan-ketakutannya, dan
demoralisasinya amat penting dilakukan.

B. Teori Keperawatan
1. Definisi Halusinasi

Halusinasi adalah gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan


sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, suatu percakapan panca indera
tanpa ada rangsangan dari luar (Maramis, 2009 )
Halusinasi adalah panca indera tanpa adanya rangsangan atau stimulus
misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan ditelinganya padahal
tidak ada sumber dari suara bisikan itu tanpa adanya obyek (Hawari,
2011).

2. Rentang Respon Halusinasi


Halusinasi merupakan salah satu respon mal adaptif individu yang
beradadalam rentang respon neurobiologist (Stuart dan Laraia,2005).ni
merupakan respon persepsi paling mal adaftif. Jika klien sehat
persepsinya akurat,mampu mengidentifikasidan mengintepretasikan
stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui pancaindra
(pendengaran, penglihatan, penghidu, pengecapan dan perabaan ),klien
dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulus pancaindra walaupun
sebenarnya stimulus tersebut tidak ada. Respon individu (yang karena
suatu hal mengalami kelainan persepsi ) yaitu salah mempersepsikan
stimulus pancaindra walaupun sebenarnya stimulus itu tidak ada.Respon
individu (yang karena mengalami suatu hal mengalami kelainan persepsi )
yaitu salahmempersepsikan stimulus yang diterimanya yang disebut
sebagai ilusi.Klien mengalami ilusi jika interpretasi yang dilakukan
21

terhadap stimulus yang diterima.Rentang respon tersebut digambarkan


sebagai berikut :

Respon Adaftif Respon Maladaftif

1.Pikiran Logis 1.Distorsi pikiran ilusi 1.Gangguan pikir / delusi


2.Persepsi akurat 2.Reaksi emosi2.Halusinasi
berlebihan
3.Emosi konsisten3.Perilaku aneh atau tidak3.Sulit merespon emosi
dengan pengalaman biasa
4.Perilaku sesuai 4.Menarik diri 4.Perilaku disorganisasi
5.Berhubungan sosial 5.Isolasi sosial

3. Proses terjadinya masalah


Pada gangguan jiwa,Halusinasi pendengaran merupakan hal yang paling
sering terjadi,dapat berupa suara suara bising atau kata kata yang dapat
mempengaruhi perilaku sehingga dapat menimbulkan respon tertentu
seperti berbicara sendiri,marah,atau berespon lain yang membahayakan
diri sendiri orang lain dan lingkungan. (Yudi Hartono ;2012;108)

Fase-fase halusinasi :

a. Sleep desorder
Sleep desorder adalah halusinasi tahap awal seseorang sebelum
muncul halusinasi
1) Karakteristik : Seseorang merasa banyak masalah,ingin menghindar
dari lingkungan takut diketahui orang lain bahwa dirinya banyak
masalah.
22

2) Perilaku : Klien susah tidur dan berlangsung terus menerus


sehingga terbiasa menghayal dan menganggap hayalan awal sebagai
pemecah masalah
b. Comforting
Comforting adalah halusinasi tahap menyenangkan ,ansietas sedang
1) Karakteristik :
Klien mengalami perasaan yang mendalam seperti ansietas
,kesepian,rasa bersalah, takut, dan mencoba untuk berfokus pada
pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas . Individu
mengenali bahwa pikiran-pikiran dan pengalaman sensori berada
dalam kendali kesadaran jika ansietas dapat ditangani
2) Perilaku :
1) Klien terkadang tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai
2) Menggerakan bibir tanpa suara
3) Pergerakan mata yang cepat
4) Respon verbal yang lambat jika sedang asyik
5) Diam dan asyik sendiri
c. Condeming
Condeming adalah tahap halusinasi menjadi menjijikan, ansietas berat
1. Karakteristik :
a) Pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan.
b) Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk
mengambil jarak dirinya dengan sumber yang presepsikan.
c) Klien mungkin merasa dipermalukan oleh pengalaman sensori
dan menarik diri dari orang lain
d) Mulai merasa kehilangan control
e) Tingkat kecemasan berat,secara umum halusinasi menyebabkan
perasaan antipasti
23

2. Perilaku :
a) Meningkatnya tanda- tanda sistem syaraf otonom akibat
ansietas seperti peningkatan denyut jantung,pernapasan,dan
tekanan darah
b) Rentang perhatian menyempit
c) Asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan
membedakan halusinasi dan realita
d) Menyalahkan
e) Menarik diri dari orang lain
f) Konsentrasi terhadap pengalaman sensori kerja

d. Controling
Controling adalah tahap pengalaman sensori jadi berkuasa, ansietas
berat
1) Karakteristik :
a) Klien berhenti melakukan perlawanan terhadap halusinasi dan
menyerah pada halusinasi tersebut.
b) Isi halusinasi menjadi menarik
c) Klien mungkin mengalami pengalaman kesepian jika sensori
halusinasi berhenti
2) Perilaku :
a) Kemauan yang dikendalikan halusinasi akan lebih diikuti
b) Kesukaran berhubungan dengan orang lain
c) Rentang perhatian hanya beberapa detik atau menit
d) Adanya tanda-tanda fisik ansietas berat :
berkeringat,tremor,dan tidak mampu mematuhi perinta
e) Isi halusinasi menjadi atraktif
f) Perintah halusinasi ditaati
g) Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat,tremor dan
berkeringat
24

e. Conquering
Concuering adalah tahap halusinasi panik umumnya menjadi melebur
dalam halusinasi
1) Karakteristik :
a) Pengalaman sensori menjadi mengancam jika mengikuti
perintah halusinasinya
b) Halusinasi berakhir dari beberapa jam atau hari jika tidak ada
intervensi therapeutic

2) Perilaku :
a) Perilaku error akibat panic
b) Potensi kuat suicide atau homicide
c) Aktivitas fisik merefleksikan isi halusinasi seperti perilaku
kekerasan,agitasi,menarik diri atau katatonik
d) Tidak mampu merespon perintah yang kompleks
e) Tidak mampu merespon lebih dari satu orang
f) Agitasi atau kataton

4. Komponen / jenis Halusinasi


Menurut Stuart (2007), jenis-jenis halusinasi dibedakan menjadi 7 yaitu
Halusinasi pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, perabaan,
senestetik, dan kinestetik. Adapun penjelasan yang lebih detail adalah
sebagai berikut :

a. Halusinasi pendengaran
Karakteristik : Mendengar suara atau bunyi, biasanya orang. Suara
dapat berkisar dari suara yang sederhana sampai suara orang bicara
mengenai klien.

b. Halusinasi penglihatan
Karakteristik : Stimulus penglihatan dalam kilatan cahaya, gambar
geometris, gambar karton, atau panorama yang luas dan kompleks.
25

Penglihatan dapat berupa sesuatu yang menyenangkan atau yang


menakutkan seperti monster.
c. Halusinasi penciuman
Karakteristik : Mencium bau-bau seperti darah, urine, feses, umumnya
bau-bau yang tidak menyenangkan. Halusinasi penciuman biasanya
berhubungan dengan stroke, tumor, kejang, dan dimensia.
d. Halusinasi pengecapan
Karakteristik : Merasakan sesuatu yang busuk, amis, dan menjijikan
seperti darah, urine, atau feses.
e. Halusinasi Perabaan
Karakteristik : Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus
yang jelas, rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau
orang lain.
f. Halusinasi Senestetik
Karakteristik : Merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui
vena dan arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.
g. Halusinasi Kinestetik
Karakteristik : Merasa pergerakan sementara bergerak tanpa berdiri.

5. Tanda Gejala Halusinasi


Menurut Videbeck (2008), ada beberapa tanda dan gejala pada klien
dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran dilihat dari
data subyektif dan data obyektif klien, yaitu :
a. Data Subyektif:
2) Mendengar suara atau bunyi
3) Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang
berbahaya
4) Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
5) Mendengar suara yang mengancam diri klien atau orang lain
bahkan suara lain yang membahayakan
26

b. Data Obyektif :
1) Mengarahkan telinga pada sumber suara
2) Bicara sendiri
3) Tertawa sendiri
4) Marah-marah tanpa sebab
5) Menutup telinga
6) Mulut komat – kamit

6. Pengkajian Keperawatan
a. Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi adalah faktor risiko yang mempengaruhi jenis dan


jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi
stress. Diperoleh baik dari klien maupun keluarganya, mengenai faktor
perkembangan sosial kultural, biokimia, psikologis, dan genetik yaitu
faktor risiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat
dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Beberapa faktor
predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon neurobiology
seperti pada halusinasi antara lain:

1) Faktor genetik
Telah diketahui bahwa secara genetik skizofrenia diturunkan
melalui kromosom – kromosom tertentu. Namun demikian,
kromosom yang keberapa yang menjadi faktor penentu gangguan
ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Anak kembar
identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50%
jika salah satnya mengalami skizofrenia, sementara jika dizygote
peluangnya sebesar 15%. Seorang anak yang salah satu orang
tuanya mengalami skizofrenia berpeluang 15% mengalami
skizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya skizofrenia maka
peluangnya menjadi 35%.
27

2) Faktor perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan
interpersonal terganggu, maka individu akan mengalami stress dan
kecemasan.
3) Faktor neurobiology
Ditemukan bahwa kortex pre frontal dan kortex limbic pada klien
dengan skizofrenia tidak pernah berkembang penuh. Ditemukan
juga pada klien skizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi
otak yang abnormal. Neurotrasmiter juga tidak ditemukan tidak
normal, khususnya dopamine, serotonin, dan glutamat.
4) Study neurotransmitter
Skizofrenia diduga juga disebabkan oleh adanya
ketidakseimbangan neurotransmitter serta dopamine berlebihan,
tidak seimbang dengan kadar serotonin.
5) Faktor biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Dengan
adanya stress yang berlebihan yang dialami seseorang, maka tubuh
akan menghasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP).
6) Teori virus
Paparan virus influenza pada trimester ke-3 kehamilan dapat
menjadi faktor predisposisi skizofrenia.
7) Psikologis
Beberapa kondisi psikologis yang menjadi faktor predisposisi
skizofrenia, antara lain anak yang diperlakukan oleh ibu yang
pencemas, terlalu melindungi, dingin dan tidak berperasaan,
sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya. Semetara
itu hubungan interpersonal yang tidak harmonisserta adanya peran
ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak anakn
mengakibatkan stress dan ekcemasan yang tinggi dan berakhir
dengan ganggun orientasi realitas.
28

8) Faktor sosiokultural
Berbagai faktor di masyarakat dapat menyebabkan seorang merasa
disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien
dibesarkan.

b. Faktor Presipitasi

Stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman


/ tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya
rangsangan lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam
kelompok, terlalu lama diajak komunikasi dan suasana sepi / isolasi
sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat
meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh
mengeluarkan zat halusinogenik. Disamping itu juga oleh karena proses
penghambatan dalam proses tranduksi dari suatu impuls yang
menyebabkan terjadinya penyimpangan dalam proses interpretasi dan
interkoneksi sehingga dengan demikian faktor – faktor pencetus respon
neurobiologist dapat dijabarkan sebagi berikut:
1) Berlebihnya proses informasi pada sistem syaraf yang menerima
dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
2) Mekanisme penghantaran listrik di syaraf terganggu (mekanisme
gatting abnormal).
3) Gejala – gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkungan,
sikap, dan perilkau seperti yang tercantum di tabel berikut ini:
Gejala – gejala pencetus respon neurobiology (Stuart dan Laraia, 2005)

Faktor Pencetus Respon Neurologis

Kesehatan 1. Nutiris kurang

Faktor Pencetus Respon Neurologis

Kesehatan 2. Kurang tidur


3. Ketidakseimbangan irama
29

sirkadian
4. Kelelahan
5. Infeksi
6. Obat – obat sistem syaraf pusat
7. Kurangnya latihan
8. Hambatan untuk menjangkau
pelayanan kesehatan
Lingkungan 1. Lingkungan yang memusuhi,
krisis
2. Masalah di rumah tangga
3. Kehilangan kebebasan hidup
4. Perubahan kebiasaan hidup,
pola aktifitas sehari – hari
5. Kesukaran dalam hubungan
dengan orang lain
6. Isolasi sosial
7. Kurangnya dukungan sosial
8. Tekanan kerja (keterampilan
dalam bekerja)
9. Kurangnya alat transportasi
10. Ketidakmampuan dalam
mendapatkan pekerjaan
S Sikap/ perilaku 1. Merasa tidak mampu (harga diri
rendah)
2. Putus asa (tidak percaya diri)
3. Merasa gagal (kehilangan
motivasi dalam menggunakan
Faktor Pencetus Respon Neurologis

Sikap / Perilaku keterampilan diri)


4. Kehilangan kendali diri
30

(demoralisasi)
5. Merasa punya kekuatan
berlebihan dengan gejala
tersebut.
6. Merasa malang (tidak dapat
memenuhi kebutuhan spiritual)
7. Bertindak tidak seperti orang
lain dari segi usia maupun
kebudayaan.
8. Rendahnya kemampuan
sosialisasi.
9. Ketidakadekuatan pengobatan.
10. Perilaku agresif.
11. Perilaku kekerasan,
12. Ketidakadekuatan penanganan
gejala.

c. Perilaku Halusinasi

1) Merasa tidak mampu (harga diri rendah)


2) Putus asa (tidak percaya diri)
3) Merasa gagal (kehilangan motivasi dalam menggunakan
keterampilan diri)
4) Kehilangan kendali diri (demoralisasi)
5) Merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut.
6) Merasa malang (tidak dapat memenuhi kebutuhan spiritual)
7) Bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun
kebudayaan.
8) Rendahnya kemampuan sosialisasi.
9) Ketidakadekuatan pengobatan.
10) Perilaku agresif.
31

11) Perilaku kekerasan,


12) Ketidakadekuatan penanganan gejala.
d. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang sering digunakan klien dengan halusinasi
(Stuart,Laraia,2005) meliputi :
1) Regresi : menjadi malas beraktivitas sehari-hari
2) Proyeksi : mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan
mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain atau sesuatu benda
3) Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan
stimulus internal
4) Keluarga mengingkari masalah yang dialami oleh klien
7. Diagnosis
a. Pohon Masalah

Risiko Perilaku Kekerasan

Perubahan Sensori Persepsi


: Halusinasi

Harga Diri Rendah

Gangguan Hubungan
sosial
32

b. Diagnosa Keperawatan
1) Perubahan sensori persepsi : Halusinasi
2) Harga diri rendah
3) Isolasi sosial : Menarik diri
4) Risiko perilaku kekerasan
8. Perencanaan / Intervensi

1. Rencana tindakan keperawatan pada klien perubahan persepsi sensori: Halusinasi


No Diagnosa Tujuan Perencanaan Rasional
keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
1 Perubahan SP 1 : Setelah 1x 1. Diskusikan bersama klien Ungkapan dari klien
persepsi sensori: a. Klien mampu interaksi mengenai isi halusinasi. mengenai halusinasi
halusinasi mengidentifik diharapkan klien 2. Diskusikan bersama klien isi, frekuensi, waktu
asi halusinasi: mampu mengenai frekuensi halusinasi. terjadi, situasi,
isi, frekuensi, mengenal 3. Diskusikan bersama klien pencetus, perasaan
waktu terjadi, halusinasi: isi, mengenai waktu terjadinya dan respon
situasi, frekuensi, waktu halusinasi.
pencetus, terjadi, situasi, 4. Diskusikan bersama klien
perasaan dan pencetus, situasi yang menimbulkan
respon perasaan dan halusinasi.
respon 5. Diskusikan bersama klien
perasaan yang menimbulkan
halusinasi.
6. Diskusikan bersama klien

33
respon klien terhadap
halusinasi
b. Klien mampu Setelah 1x 1. Berikan penjelasan pada klien Meningkatkan
menjelaskan interaksi cara mengontrol halusinasi pemahaman akan
cara diharapakan dengan cara menghardik. tujuan dan
mengontrol klien mampu 2. Berikan penjelasan pada klien pentingnya
halusinasi : mengetahui dan cara mengontrol halusinasi mengontrol
hardik, obat, memahami cara dengan cara menggunakan halusinasi dengan
bercakap- mengontrol obat. menghardik, obat,
cakap dan halusinasi 3. Berikan penjelasan pada klien bercakap-cakap dan
melakukan dengan cara mengontrol halusinasi kegiatan
kegiatan menghardik, dengan cara bercakap-cakap.
obat, bercakap- 4. Berikan penjelasan pada klien
cakap dan cara mengontrol halusinasi
melakukan dengan cara melakukan
kegiatan kegiatan sehari-hari.
c. Klien dapat Setelah 1x 1. Jelaskan pengertian 1. Menghardik
melatih interaksi menghardik merupakan salah
mengontrol diharapkan klien 2. Jelaskan tujuan menghardik satu upaya untuk

34
halusinasi mampu saat terjadi halusinasi mengontrol
dengan cara mengontrol 3. Jelaskan cara menghardik saat halusinasi
menghardik halusinasi terjadi halusinasi 4.Memberikan
dengan cara 4. Demonstrasikan cara perawat contoh cara
menghardik menghardik saat terjadi menghardik dengan
halusinasi benar
5. Redemonstrasikan cara 5. Belajar bersama
menghardik bersama-sama untuk
dengan pasien. meningkatkan
6. Anjurkan pasien percaya diri
mendemonstrasikan ulang cara pasien
menghardik saat terjadi 6. Menilai sejauh
halusinasi secara mandiri. mana pasien
memahami dan
melakukannya
7. Beri pujian pada klien dalam 7. Meningkatkan
menunjukkan kemampuannya motivasi dalam
berlatih
d. Klien mampu Setelah 1x Bantu klien memasukkan kegiatan Memasukkan

35
memasukkan interaksi menghardik kedalam jadwal kegiatan kegiatan kedalam
kegiatan diharapkan klien harian klien jadwal harian
kedalam mampu mampu mengontrol
jadwal memasukkan bahwa latihan
kegiatan kegiatan kegiatan telah
harian klien menghardik dilakukan.
kedalam jadwal
kegiatan harian
klien
SP 2:
a. Klien mampu Setelah 1x 1. Evaluasi klien dalam Evaluasi kegiatan
mengevaluasi interaksi melakukan mengontrol menghardik dapat
kemampuan diharapkan klien halusinasi dengan menghardik meningkatkan
mengontrol mampu sehingga klien mampu menilai motivasi klien
halusinasi mengevaluasi kemampuan klien dalam dalam berlatih
dengan cara kemampuan mengontrol halusinasi dengan mengontrol
menghardik mengontrol cara menghardik halusinasi dengan
yang telah halusinasi 2. Anjurkan klien untuk cara menghardik
dilatih dengan cara melakukan cara mengontrol

36
menghardik halusinasi dengan menghardik
secara mandiri
3. Berikan pujian pada klien 3.meningkatkan
dalam menunjukkan motivasi pasien
kemampuannya dalam dalam berlatih
menghardik
b. Klien dapat Setelah 1x 1. Jelaskan pengertian 1.Penggunaan obat
melatih interaksi penggunaan obat untuk merupakan salah
mengontrol diharapkan klien halusinasi satu tindakan untuk
halusinasi mampu 2. Jelaskan tujuan penggunaan mengontrol
dengan cara memahami obat untuk halusinasi halusinasi.
menggunakan mengontrol 3. Jelaskan cara menggunakan 3.
obat dan halusinasi obat dengan 6 benar:
sesuai dengan dengan a. Benar jenis
6 benar (jenis, menggunakan b. Benar guna
guna, dosis, obat dan sesuai c. Benar dosis
frekuensi, dengan 6 d. Benar frekuensi
cara, benar(jenis, e. Benar cara
kontinuitas guna, dosis, f. Benar kontinuitas

37
minum obat) frekuensi, cara, 4. Demonstrasikan cara perawat
kontinuitas menggunaan obat
minum obat) 5. Redemonstrasikan cara
menggunakan obat bersama
dengan klien
6. Anjurkan klien
mendemonstrasikan ulang cara
menggunakan obat secara
mandiri
7. Beri pujian pada klien dalam
menunjukkan kemampuannya
dalam menggunakan obat
c. Klien mampu Setelah 1x Bantu klien memasukkan kegiatan Memasukkan
memasukkan interaksi mengontrol halusinasi dengan cara kegiatan kedalam
kegiatan diharapakan menghardik dan menggunakan obat jadwal harian
kedalam klien mampu kedalam jadwal kegiatan harian klien mampu mengontrol
jadwal memasukkan bahwa latihan
kegiatan kegiatan kegiatan telah
harian klien kedalam jadwal dilakukan

38
kegiatan harian
klien
SP 3 :
a. Klien mampu Setelah 1x 1. Evaluasi klien dalam Evaluasi kegiatan
mengevaluasi interaksi melakukan mengontrol menghardik dapat
kemampuan diharapkan klien halusinasi dengan menghardik meningkatkan
mengontrol mampu sehingga klien mampu menilai motivasi klien
halusinasi mengevaluasi kemampuan klien dalam dalam berlatih
dengan cara kemampuan mengontrol halusinasi dengan mengontrol
menghardik mengontrol cara menghardik halusinasi dengan
dan halusinasi 2. Evaluasi klien dalam cara menghardik
menggunakan dengan cara melakukan mengontrol dan menggunakan
obat yang menghardik dan halusinasi dengan cara obat
telah dilatih menggunakan menggunakan obat dengan
obat prinsip 6 benar sehingga klien
mampu menilai
kemampuannya dalam
mengontrol halusinasi dengan
menggunakan obat dengan

39
prinsip 6 benar
3. Anjurkan klien untuk
mengontrol halusinasi dengan
melakukan menghardik dan
menggunakan obat dengan
prinsip 6 benar secara mandiri.
4. Berikan pujian pada klien
dalam menunjukkan
kemampuannya dalam
menghardik dan menggunakan
obat dengan prinsip 6 benar.
b. Klien mampu Setelah 1x 1. Jelaskan tujuan bercakap- Bercakap-cakap
melatih interaksi cakap saat terjadi halusinasi merupakan salah
mengontrol diharapkan klien 2. Jelaskan cara perawat satu upaya untuk
halusinasi mampu bercakap-cakap saat terjadi mengontrol
dengan cara memahami cara halusinasi halusinasi
bercakap- mengontrol 3. Demonstrasikan cara bercakap-
cakap saat halusinasi cakap saat terjadi halusinasi
terjadi dengan cara 4. Redemonstrasikan cara

40
halusinasi bercakap-cakap bercakap-cakap saat terjadi
saat terjadi halusinasi bersama dengan
halusinasi klien
5. Anjurkan klien
mendemonstrasikan ulang cara
bercakap-cakap secara
mandiri
6. Beri pujian pada klien dalam
menunjukkan kemampuannya
dalam bercakap-cakap
c. Klien mampu Setelah 1x Bantu klien memasukkan kegiatan Memasukkan
memasukkan interaksi mengontrol halusinasi dengan cara kegiatan kedalam
kegiatan diharapakan menghardik, menggunakan obat dan jadwal harian
kedalam klien mampu latihan bercakap-cakap kedalam mampu mengontrol
jadwal memasukkan jadwal kegiatan harian klien bahwa latihan
kegiatan kegiatan kegiatan telah
harian klien kedalam jadwal dilakukan
kegiatan harian
klien

41
SP 4 :
a. Klien mampu Setelah 1x 1. Evaluasi klien dalam Evaluasi kegiatan
mengevaluasi interaksi melakukan mengontrol menghardik dapat
kemampuan diharapkan klien halusinasi dengan menghardik meningkatkan
mengontrol mampu sehingga klien mampu menilai motivasi klien
halusinasi mengevaluasi kemampuan klien dalam dalam berlatih
dengan cara kemampuan mengontrol halusinasi dengan mengontrol
menghardik, mengontrol cara menghardik halusinasi dengan
menggunakan halusinasi 2. Evaluasi klien dalam cara menghardik,
obat dan dengan cara melakukan mengontrol menggunakan obat
bercakap- menghardik, halusinasi dengan cara dan latihan
cakap yang menggunakan menggunakan obat dengan bercakap-cakap
telah dilatih obat, dan prinsip 6 benar sehingga klien
bercakap-cakap mampu menilai
kemampuannya dalam
mengontrol halusinasi dengan
menggunakan obat dengan
prinsip 6 benar
3. Evaluasi klien dalam

42
melakukan kegiatan bercakap-
cakap saat terjadi halusinasi
4. Anjurkan klien melakukan cara
mengontrol halusinasi dengan
menghardik, menggunakan
obat dengan prinsip 6 benar
dan bercakap-cakap secara
mandiri
5. Berikan pujian pada klien
dalam
menunjukkankemampuan yang
dimiliki untuk mengontrol
halusinasi.
b. Klien mampu Setelah 1x 1. Jelaskan pengertian melakukan Melakukan kegiatan
melatih interaksi kegiatan saat terjadi halusinasi merupakan salah
mengontrol diharapkan klien 2. Jelaskan tujuan melakukan satu upaya untuk
halusinasi mampu kegiatan saat terjadi halusinasi mengontrol
dengan cara memahami cara 3. Jelaskan cara melakukan halusinasi
melakukan mengontrol kegiatan saat terjadi halusinasi

43
kegiatan halusinasi 4. Demonstrasikan cara perawat
(mulai 2 dengan cara melakukan 2 kegiatan saat
kegiatan) melakukan terjadi halusinasi
kegiatan saat 5. Redemonstrasikan cara
terjadi melakukan 2 kegiatan saat
halusinasi terjadi halusinasi bersama
dengan klien
6. Anjurkan klien
mendemonstrasikan ulang cara
melakukan 2 kegiatan secara
mandiri
7. Beri pujian pada klien dalam
menunjukkan kemampuannya
dalam melakukan 2 kegiatan
secara mandiri
c. Klien mampu Setelah 1x Bantu klien memasukkan kegiatan Memasukkan
memasukkan interaksi mengontrol halusinasi dengan cara kegiatan kedalam
kegiatan diharapakan menghardik, menggunakan obat, jadwal harian
kedalam klien mampu latihan bercakap-cakap dan melakukan mampu mengontrol

44
jadwal memasukkan 2 kegiatan kedalam jadwal kegiatan bahwa latihan
kegiatan kegiatan harian klien kegiatan telah
harian klien kedalam jadwal dilakukan
kegiatan harian
klien
SP 5 :
a. Klien mampu Setelah 1x 1. Evaluasi klien dalam Evaluasi kegiatan
mengevaluasi interaksi melakukan mengontrol menghardik dapat
kemampuan diharapkan klien halusinasi dengan menghardik meningkatkan
mengontrol mampu sehingga klien mampu menilai motivasi klien
halusinasi mengevaluasi kemampuan klien dalam dalam berlatih
dengan cara kemampuan mengontrol halusinasi dengan mengontrol
menghardik, mengontrol cara menghardik halusinasi dengan
menggunakan halusinasi 2. Evaluasi klien dalam cara menghardik,
obat,bercakap dengan cara melakukan mengontrol menggunakan obat,
-cakap dan menghardik, halusinasi dengan cara latihan bercakap-
melakukan 2 menggunakan menggunakan obat dengan cakap dan
kegiatan yang obat, bercakap- prinsip 6 benar sehingga klien melakukan 2
telah dilatih cakap dan mampu menilai kegiatan yang telah

45
melakukan 2 kemampuannya dalam dilatih
kegiatan yang mengontrol halusinasi dengan
telah dilatih menggunakan obat dengan
prinsip 6 benar
3. Evaluasi klien dalam
melakukan kegiatan bercakap-
cakap saat terjadi halusinasi
4. Evaluasi klien melakukan 2
kegiatan yang telah dilatih
5. Anjurkan klien melakukan cara
mengontrol halusinasi dengan
menghardik, menggunakan
obat dengan 6 benar, bercakap-
cakap dan melakukan kegiatan
secara mendiri.
6. Berikan pujian pada klien pada
klien dalam menunjukkan
kemampuan yang dimiliki
untuk mengontrol halusinasi

46
b. Klien mampu Setelah 1x 1. Jelaskan pengertian melakukan Melakukan kegiatan
melatih interaksi kegiatan harian saat terjadi merupakan salah
melakukan diharapkan klien halusinasi satu upaya untuk
kegiatan mampu 2. Jelaskan tujuan melakukan mengontrol
harian yang melakukan kegiatan harian saat terjadi halusinasi
telah dilatih kegiatan harian halusinasi
saat terjadi yang telah 3. Jelaskan cara melakukan
halusinasi dilatih saat kegiatan harian saat terjadi
terjadi halusinasi
halusinasi 4. Demonstrasikan cara perawat
melakukan kegiatan harian saat
terjadi halusinasi
5. Redemonstrasikan cara
melakukan kegiatan harian saat
terjadi halusinasi bersama
dengan klien
6. Anjurkan klien
mendemonstrasikan ulang cara
melakukan kegiatan harian

47
secara mandiri
7. Beri pujian pada klien dalam
menunjukkan kemampuannya
dalam melakukan kegiatan
harian
c. Klien mampu Setelah 1x Nilai kemampuan mandiri yang sudah Menilai dan
menilai interaksi dicapai klien memantau
kegiatan yang diharapkan klien perkembangan klien
telah dapat memiliki kegiatan yang dapat
dilakukan kemampuan dilakukan klien
secara yang telah dapat secara mandiri
mandiri dilakukan secara
mandiri.

48
d. Klien mampu Setelah 1x Nilai kemampuan klien dalam Menilai dan
menilai interaksi mengontrol halusinasi memantau
apakah diharapkan perkembangan klien
halusinasi halusinasi klien dalam mengontrol
sudah sudah terkontrol halusinasi
terkontrol

2. Rencana Tindakan Keperawatan pada keluarga dengan klien Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi

No Diagnosa Tujuan Perencanaan Rasional


keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
1 Perubahan SP 1
Persepsi Sensori a. Keluarga Setelah 1x diharapkan Diskusikan bersama keluarga Untuk mengetahui
:Halusinasi mampu interaksi keluarga tentang masalah-masalah permasalahan yang
mendiskusikan memahami masalah yang dihadapi keluarga dihadapi oleh keluarga
masalah yang yang dirasakan dalam selama merawat klien. selama merawat klien.
dihadapi merawat klien.
keluarga dalam

49
merawat klien
b. Keluarga Setelah 1x interaksi Diskusikan dengan keluarga Memberikan
mampu diharapkan keluarga tentang pengertian, tanda dan pemahaman pada
menjelaskan mampu mehamami gejala serta proses terjadinya keluarga tentang
pengertian pengertian, tanda dan halusinasi pengertian, tanda dan
halusinasi, tanda gejala serta proses gejala serta proses
dan gejala serta terjadinya halusinasi terjadinya halusinasi
proses pada klien.
terjadinya
halusinasi
c. Keluarga Setelah 1x interaksi Berikan penjelasan pada Sebagai bekal
mampu diharapkan keluarga keluarga mengenai cara pemahaman keluarga
menjelaskan mampu mengetahui merawat klien halusinasi dalam merawat klien
cara merawat dan memahami cara halusinasi
halusinasi merawat klien
halusinasi
d. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pada Menghardik
melatih cara diharapkan keluarga keluarga pengertian merupakan salah satu
merawat klien mampu mengetahui menghardik saat upaya yang digunakan

50
dengan cara dan memahami cara terjadi halusinasi untuk merawat klien
menghardik menghardik yang 2. Jelaskan pada halusinasi saat terjadi
benar keluarga tujuan halusinasi
menghardik saat
terjadi halusinasi
3. Jelaskan pada
keluarga cara
menghardik saat
terjadi halusinasi
4. Demonstrasikan
bersama keluarga
cara menghardik saat
terjadi halusinasi
5. Redemonstrasikan
cara menghardik saat
terjadi halusinasi
bersama dengan
keluarga
6. Anjurkan keluarga

51
mendemonstrasikan
ulang cara
mengontrol halusinasi
dengan mengahardik
secara mandiri.
e. Keluarga Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan kegiatan
mampu diharapkan keluarga membantu klien kedalam jadwal dapat
membantu klien mampu membantu memasukkan kegiatan memastikan kegiatan
memasukkan klien memasukkan menghardik kedalam jadwal harian klien telah
kegiatan kegiatan kedalam kegiatan harian klien dan dilakukan
jadwal harian klien memberi pujian
SP 2 :
a. Keluarga Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan
mampu interaksi diharapkan keluarga cara motivasi keluarga
mengevaluasi keluarga mampu keluarga dalam merawat klien
kegiatan dalam mengevaluasi kegiatan membimbing klien
membimbing dalam membimbing dalam melaksanakan
klien klien dalam kegiatan menghardik
melaksanakan melaksanakan 2. Anjurkan keluarga

52
kegiatan kegiatan menghardik untuk melakukan
mengontrol yang telah dipilih klien bagaimana cara
halusinasi serta dapat membimbing klien
dengan cara memberikan pujian dalam melaksanakan
menghardik pada klien dengan kegiatan menghardik
Memberikan kemampuan yang secara mandiri
pujian pada dimiliki klien. 3. Berikan pujian pada
klien. keluarga atas
kemampuan yang
dilakukan
b. Keluarga Setelah 1x interaksi Berikan penjelasan pada Menambah kognitif
mampu diharapkan keluarga keluarga mengenai 6 benar keluarga serta sebagai
menjelaskan 6 mampu mengetahui cara pemberian obat: jenis, bekal pemahaman
benar cara dan memahami 6 guna, dosis, frekuensi, cara, keluarga dalam
memberikan benar cara kontinuitas minum obat merawat klien dalam
obat memberikan obat memberikan obat
c. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pada Penggunaan obat
melatih cara diharapkan keluarga keluarga tujuan merupakan salah satu
memberikan mampu mengetahui menggunaan obat tindakan untuk

53
atau dan memahami cara untuk halusinasi mengontrol halusinasi
membimbing memberikan atau 2. Jelaskan cara
cara minum obat membimbing klien menggunakan obat
pada klien minum obat dengan 6 benar:
a. Benar jenis
b. Benar guna
c. Benar dosis
d. Benar frekuensi
e. Benar cara
f. Benar kontinuitas
3. Demonstrasikan cara
menggunaan obat
4. Redemonstrasikan
cara penggunaan obat
bersama dengan
keluarga
5. Anjurkan keluarga
mendemonstrasikan
ulang cara

54
mengontrol halusinasi
dengan cara
menggunaan obat
secara mandiri.
d. Keluarga Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan kegiatan
mampu diharapkan keluarga membantu klien kedalam jadwal dapat
membantu klien mampu membantu memasukkan kegiatan memastikan kegiatan
dalam klien dalam menghardik, cara harian klien telah
memasukkan memasukkan kegiatan memberikan obat kedalam dilakukan
kegiatan kedalam jadwal jadwal kegiatan harian klien
kedalam jadwal kegiatan harian klien dan berikan pujian kepada
kegiatan harian klien
klien
SP 3 :
a. Keluarga Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan
mampu interaksi diharapkan keluarga cara motivasi keluarga
mengevaluasi keluarga mampu keluarga dalam merawat klien
kegiatan dalam mengevaluasi kegiatan membimbing klien
membimbing dalam membimbing dalam melaksanakan

55
klien klien dalam kegiatan mengontrol
melaksanakan melaksanakan halusinasi dengan
kegiatan kegiatan menghardik cara menghardik dan
pertama dan dan memberikan obat 6 benar cara
kedua yang serta dapat memberikan obat
telah dipilih memberikan pujian 2. Anjurkan keluarga
klien. pada klien dengan untuk melakukan
Memberikan kemampuan yang bagaimana cara
pujian pada dimiliki klien. keluarga
klien. membimbing klien
dalam melaksanakan
kegiatan mengontrol
halusinasi dengan
cara menghardik dan
6 benar cara
memberikan obat
secara mandiri
3. Berikan pujian
kepada keluarga atas

56
kemampuan yang
dilakukan
b. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi Berikan penjelasan pada Menambah kognitif
menjelaskan diharapkan keluarga keluarga cara mengontrol keluarga dan sebagai
cara bercakap- mampu mengetahui halusinasi dengan cara bekal keluarga dalam
cakap dan dan memahami dalam bercakap-cakap dan membimbing klien
melakukan melakukan kegiatan melakukan kegiatan untuk mengontrol halusinasi
kegiatan untuk mengontrol halusinasi mengontrol halusinasi
mengontrol dengan cara bercakap-
halusinasi pada cakap dan melakukan
klien kegiatan
c. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pada Bercakap-cakap
melatih klien diharapkan keluarga keluarga pengertian merupakan salah satu
mengontrol mampu melatih klien bercakap-cakap saat upaya untuk
halusinasi dalam melakukan terjadi halusinasi mengontrol halusinasi
dengan cara kegiatan mengontrol 2. Jelaskan pada
bercakap-cakap halusinasi dengan cara keluarga tujuan
dan mampu bercakap-cakap dan bercakap-cakap saat
menyediakan mampu menyediakan terjadi halusinasi

57
waktubercakap- waktu bercakap-cakap 3. Jelaskan pada
cakap dengan bersama klien keluarga cara
klien bercakap-cakap saat
terjadi halusinasi
4. Demonstrasikan cara
bercakap-cakap saat
terjadi halusinasi
5. Redemonstrasikan
cara bercakap-cakap
saat terjadi bersama
dengan keluarga
6. Anjurkan keluarga
mendemonstrasikan
ulang cara
mengontrol halusinasi
dengan cara
bercakap-cakap
dengan orang lain
secara mandiri.

58
d. Keluarga Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan kegiatan
mampu diharapkan keluarga membantu klien kedalam jadwal dapat
membantu klien mampu membantu memasukkan kegiatan memastikan kegiatan
dalam klien dalam menghardik, 6 benar harian klien telah
memasukkan memasukkan kegiatan memberikan obat, bercakap- dilakukan
kegiatan kedalam jadwal cakap, melakukan kegiatan
kedalam jadwal kegiatan harian klien kedalam jadwal kegiatan
kegiatan harian harian klien dan memberikan
klien pujian kepada klien

SP 4 :
a. Keluarga Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan
mampu interaksi diharapkan keluarga cara motivasi keluarga
mengevaluasi keluarga mampu keluarga dalam merawat klien
kegiatan dalam mengevaluasi kegiatan membimbing klien
membimbing dalam membimbing dalam melaksanakan
klien klien dalam kegiatan mengontrol
melaksanakan melaksanakan halusinasi dengan
kegiatan kegiatan pertama cara menghardik, 6

59
mengontrol mengontrol halusinasi benar cara
halusinasi dengan cara memberikan obat,
dengan cara menghardik, 6 benar bercakap-cakap dan
menghardik, 6 memberikan obat, melakukan kegiatan
benar bercakap-cakap dan 2. Anjurkan keluarga
memberikan melakukan kegiatan melakukan
obat, bercakap- serta dapat bagaimana cara
cakap dan memberikan pujian keluarga
melakukan pada klien dengan membimbing klien
kegiatan serta kemampuan yang dalam melaksanakan
memberikan dimiliki klien. kegiatan mengontrol
pujian pada halusinasi dengan
klien cara menghardik, 6
benar cara
memberikan obat,
bercakap-cakap dan
melakukan kegiatan
secara mandiri
3. Beri pujian kepada

60
keluarga atas
kemampuan yang
diberikan
b. Keluarga Setelah 1x interaksi Berikan penjelasan pada Mempersiapkan
mampu diharapkan keuarga keluarga pentingnya follow keluarga setelah klien
menjelaskan mampu memahami up ke RSJ, rujukan dan pulang
follow up ke follow up ke RSJ, mengenali tanda kambuh
RSJ, tanda tanda kambuh dan setelah klien pulang
kambuh dan rujukan setelah klien
rujukan pulang
c. Keluarga Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan kegiatan
mampu diharapkan keluarga membantu klien kedalam jadwal dapat
membantu klien mampu membantu memasukkan kegiatan memastikan kegiatan
dalam klien dalam mengontrol halusinasi harian klien telah
memasukkan memasukkan kegiatan dengan cara menghardik, 6 dilakukan
kegiatan kedalam jadwal benar memberikan obat,
kedalam jadwal kegiatan harian klien bercakap-cakap, melakukan
kegiatan harian kegiatan kedalam jadwal
klien kegiatan harian klien dan

61
memberikan pujian kepada
klien
SP 5 :
a. Keluarga Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan
mampu interaksi diharapkan keluarga cara motivasi keluarga
mengevaluasi keluarga mampu keluarga dalam merawat klien
kegiatan dalam mengevaluasi kegiatan membimbing klien
membimbing dalam membimbing dalam melaksanakan
klien klien dalam kegiatan mengontrol
melaksanakan melaksanakan halusinasi dengan
kegiatan kegiatan pertama cara menghardik, 6
mengontrol mengontrol halusinasi benar cara
halusinasi dengan cara memberikan obat,
dengan cara menghardik, 6 benar bercakap-cakap,
menghardik, 6 memberikan obat, melakukan kegiatan
benar bercakap-cakap, dan follow up ke RSJ
memberikan melakukan kegiatan, 2. Anjurkan keluarga
obat, bercakap- follow up ke RSJ serta melakukan
cakap, dapat memberikan bagaimana cara

62
melakukan pujian pada klien keluarga
kegiatan dan dengan kemampuan membimbing klien
follow up ke yang dimiliki klien dalam melaksanakan
RSJ serta kegiatan mengontrol
mampu halusinasi dengan
memberikan cara menghardik, 6
pujian pada benar cara
klien memberikan obat,
bercakap-cakap,
melakukan kegiatan
dan follow up ke RSJ
secara mandiri
3. Berikan pujian
kepada keluarga atas
kemampuan yang
dilakukan
b. Keluarga Setelah 1x interaksi Berikan penilaian pada Penilaian pada
mampu menilai diharapkan keluarga keluarga cara membimbing keluarga mampu
kemampuan mampu menilai klien dalam melaksanakan meningkatkan

63
dalam kemampuan kegiatan dalam merawat motivasi keluarga
membimbing membimbing klien keluarga dengan melakukan dalam merawat klien
klien melakukan dalam merawat klien kegiatan mengontrol
kegiatan dengan melakukan halusinasi
merawat klien kegiatan mengontrol
mengontrol halusinasi
halusinasi
c. Keluarga Setelah 1x interaksi Berikan penilaian pada Penilaian pada
mampu menilai diharapkan keluarga keluarga dan pantau keluarga keluarga mampu
kemampuan mampu memahami dalam melakukan control ke meningkatkan
melakukan pentingnya melakukan RSJ motivasi keluarga
control ke RSJ control ke RSJ dalam merawat klien

64
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

Tanggal Pengkajian : 2 Januari 2019 Jam : 16.00 WIB


Oleh : Kristin Dwi Ratnasari

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : Ny.S
Umur : 45 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Klaten
Tg. Masuk RS : 20 Desember 2018
Ruang : Dewandaru
Nomor RM : 019xxx
2. Alasan Masuk
Klien dibawa oleh keluarga ke RSJ tgl 20 Desember 2018 karena sudah 3
hari klien menunjukan perubahan perilaku dengan memecah barang dan
berkata kasar. Klien juga mengatakan sudah putus obat sejak 3 bulan lalu.
3. Faktor Predisposisi
a. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu ?
Ya, Klien mengatakan sebelumnya pernah mengalami gangguan jiwa dan
dirawat di RSJ. RM. Dr. Soedjarwadi.
b. Pengobatan sebelumnya ?
Pengobatan sebelumnya kurang berhasil karena klien putus obat 3 bulan
lalu karena klien menganggap bahwa obat membuat dirinya stress.

65
66

c. Trauma
Tidak ada trauma, Klien mengatakan tidak pernah mengalami trauma
baik aniaya fisik,aniaya seksual,penolakan,kekerasan,dalam keluarga
maupun tindakan kriminal.
Masalah Keperawatan : Regimen Terapeutik Inefektif
d. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
Klien mengatakan keluarga tidak ada yang mengalami gangguan jiwa.
Masalah Keperawatan : tidak ada
e. Pengalaman masalalu yang tidak menyenangkan
Klien mengatakan dulu sering dimarah- marah oleh suami tetapi hanya
perkataan saja.
Masalah Keperawatan : tidak ada
4. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda vital
1) Tekanan darah : 120/80 mmHg
2) Nadi : 92 x/ menit
3) Pernafasan : 19 x/ menit
4) Suhu : 37,0◦ C
b. Ukuran
1) Berat badan (BB) : 52 Kg
2) Tinggi badan (TB) : 150 cm
3) IMT : 23,11 (Ideal)

Masalah Keperawatan : tidak ada

c. Keluhan Fisik : Tidak ada

Masalah Keperawatan : tidak ada


67

8. Psikososial
a. Genogram

Keterangan :
: Laki – laki
: Perempuan

: Pasien
: Cerai / putus hubungan

------- : Orang yang tinggal serumah


: Meninggal

Penjelasan : Klien berusia 45 tahun merupakan anak pertama dari 7


bersaudara, klien memiliki saudara kembar perempuan. klien menikah
dan mempunyai 2 orang anak perempuan. Klien tinggal bersama
suami dan kedua anaknya.
b. Konsep Diri
1) Gambaran diri : Klien mengatakan tidak ada masalah dengan
bentuk tubuhnya
2) Identitas diri : Klien mengatakan dirinya adalah ibu rumah
tangga dengan 2 anak
3) Peran diri : Dalam keluarga klien sebagai ibu rumah
tangga
68

4) Ideal diri : Pasien ingin mengatakan ingin cepat pulang


dan merawat keluarganya
5) Harga diri : Klien mengatakan tidak malu dengan
kondisinya saat ini.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah.

c. Hubungan Sosial
1) Orang yang berarti : Anak dan suami
2) Peran serta kegiatan kelompok/masyarakat
Klien mengatakan mengikuti pengajian namun tidak rutin.
3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien mengatakan sedikit tertutup dengan orang lain.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
d. Spiritual
1) Nilai dan keyakinan : Agama Islam
2) Kegiatan Ibadah :
a) Di ruamah : Melakukan ibadah Sholat
b) Di Rumah sakit : Melakukan Sholat
Masalah Keperawatan : Tidak ada
6. Status Mental
a. Penampilan
Klien berpakaian rapi, bersih, dapat mandi, toileting
Masalah Keperawatan : Tidak ada
b. Pembicaraan
Klien mampu berbicara dengan nada pelan dan lambat.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
c. Aktifitas Motorik
Klien tampak lesu, tidak bersemangat
Masalah Keperawatan : Tidak ada
d. Afek dan Emosi
1) Afek : datar
69

2) Emosi : sedih
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah
e. Interaksi selama Wawancara
Saat diwawancara klien kooperatif,tetapi kontak mata kurang, tidak
suka ditanya banyak
Masalah Keperawatan : gangguan hubungan sosial
f. Presepsi Sensori
1) Ada gangguan : Halusinasi Pendengaran
2) Ilusi : Tidak ada
Penjelasan : Klien mendengar suara yang menyuruhnya mandi, suara itu
seperti suara laki-laki
Masalah Keperawatan : Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi
Pendengaran
g. Proses Pikir
1. Proses Pikir (Arus dan Bentuk Pikir)
Klien kadang mengulang pembicaraan/perseverasi
Penjelasan : Klien sering mengulang-ngulang pembicaraan yang
sudah ia ucapkan
2. Isi Pikir
Klien tidak ada kelainan isi pikir/waham
Masalah Keperawatan :tidak ada
h. Tingkat Kesadaran
Klien mampu berespon dengan baik, kooperatif, klien tidak
disorientasi orang,tempat dan waktu
Masalah Keperawatan : Tidak ada
i. Memori
Klien mampu mengingat dengan baik jangka panjang,jangka
menengah dan jangka pendek. Klien mengingat dulu pernah dirawat di
rumah sakit ini, pasien ingat apa yang baru saja ia makan.
Masalah keperawatan : Tidak ada
70

j. Tingkat Konsentrasi Berhitung


Klien mampu berkonsentrasi dengan baik dan mampu berhitung 1-30
dengan benar.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
k. Kemampuan Penilaian
Klien mengalami gangguan kemampuan penilaian ringan,klien dapat
mengambil keputusan yang sederhana dengan bantuan orang lain, jika
diberi penjelasan.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
l. Daya tilik diri
Klien menyadari dirinya sakit dan sekarang berada di rumah sakit
untuk penyembuhan
Masalah Keperawatan : Tidak ada
7. Kebutuhan Perencanaan Pulang
a. Kemampuan Klien Memenuhi Kebutuhan
Kemampuan Memenuhi Kebutuhan Ya Tidak
Makanan √
Minuman √
Perawatan Kesehatan √
Pakaian √
Transportasi √
Tempat Tinggal √
Keuangan √
Lain – lain √

Penjelasan : Klien mampu memenuhi kebutuhan makanan, minuman,


keamanan, perawatan kesehatan, pakaian,transportasi,tempat tinggal
dan keuangan.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
71

b. Kegiatan Hidup Sehari – hari (ADL)


1) Perawatan Diri
Kegiatan Hidup Sehari – hari Bantuan Bantuan
Total Minimal
Mandi √
Kebersihan √
Makan √
Buang air kecil (BAK) √
Buang air besar (BAB) √
Ganti pakaian √

Penjelasan : Klien mampu melakukan semua kegiatan sehari-


hari (ADL) dengan bantuan minimal
Masalah Keperawatan : Tidak ada

2) Nutrisi
a) Apakah anda puas dengan pola makan anda ?
Klien mengatakan puas
b) Apakah saat makan anda memisahkan diri ?
Klien mengatakan tidak, klien makan bersama dengan
teman – teman yang lain di meja makan
c ) Frekuensi makan sehari : 3 x sehari
d) Nafsu makan : Klien mengatakan nafsu makan baik, selalu
menghabiskan porsi makanya.
e) Berat Badan : Tetap
BB Saat ini : 52 Kg BB Terendah : - Kg
BB Tertinggi : - Kg
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah
3). Tidur
a) Apakah ada masalah tidur?
72

Klien mengatakan dapat tidur dengan nyenayak


b) Apakah merasa segar setelah bangun tidur ?
Klien mengatakan segar setelah bangun tidur
c) Apakah ada yang menolong anda untuk mempermudah
tidur ?
Klien mengatakan tidak ada
d) Tidur malam jam : 21.00 WB
e) Bangun jam : 05.30 WIB
f) Rata-rata tidur malam : 8 jam
g) Apakah ada gangguan tidur ?
Klien mengatakan tidak ada gangguan tidur
c. Kemampuan Klien dalam hal–hal berikut
1). Mengantisipasi kehidupan sehari–hari : Klien mengatakan
mengantisipasi kehidpuan sehari–hari
2). Membuat keputusan berdasarkan keinginan sendiri : Klien
mengatakan membuat keputusan sendiri
3) Mengatur Penggunaan obat : Klien mengatakan tidak mengatur
penggunaan obat
4) Melakukan pemeriksaan kesehatan : Klien mengatakan tidak
memeriksakan kesehatannya secara rutin
Masalah Keperawatan : Ketidakefektifan regiment terapeutik
d. Memiliki Sistem Pendukung
1) Keluarga : Klien mengatakan mempunyai pendukung
dari keluarga
2) Teman Sejawat : Klien mengatakan mempunyai pendukung
dari teman sejawat
3) Terapis : Klien mengatakan mempunyai pendukung
dari terapis
4) Kelompok Sosial : Klien mengatakan tidak mempunyai
pendukung dari kelompok sosial
73

e. Apakah klien menikmati saat bekerja, kegiatan produktif atau hobi ?


Klien mengatakan menikmati kegiatannya rumah, terlebih memasak
yang sebagai hobinya.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
8. Mekanisme Koping
Mekanisme koping klien maldaptif yaitu dengan mengamuk, membanting
barang rumah.Teknik relaksasi yaitu menonton televisi dan memasak.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
9. Masalah Psikososial dan lingkungan
a. Masalah dengan dukungan kelompok :
Klien mengatakan beberapa ibu-ibu dilingkungannya tidak mengajak
dalam kegiatan ibu PKK.
b. Masalah berhubungan dengan lingkungan
Klien mengatakan tidak ada masalah dengan lingkungan
c. Masalah dengan pendidikan
Klien mengatakan hanya lulus SMA kemudian tidak melanjutkan
karena tidak mempunyai biaya
d. Masalah dengan pekerjaan
Klien mengatakan tidak ada masalah dengan perkerjaanya
e. Masalah dengan perumahan
Klien mengatakan tidak ada masalah dengan perumahan
f. Masalah dengan ekonomi
Klien mengatakan ekonomi ditanggung oleh suaminya
g. Masalah dengan pelayanan kesehatan
Klien mengatakan tidak ada masalah dengan pelayanan kesehatan
Masalah Keperawatan : Gangguan hubungan sosial.
10. Pengetahuan Kurang Tentang
Apakah klien mempunyai masalah yang berkaitan dengan pengetahuan
yang kurang tentang suatu hal ?
Klien mempunyai pengetahuan yang kurang tentang obat yang harus rutin
diminum.
74

Masalah Keperawatan : Regimen terapeutik infektif


11. Aspek Medis
a. Diagnosa medis : Skizofrenia
b. Terapi medis :
1) Resperidone 2 x 3 mg
2) Lorazepam 1 x 1 mg
c.Analisa Obat
No Nama Indikasi Kontra Efek Samping Implikasi
Obat indikasi Keperawatan
1 Risperidon Skizofrenia Hipersensiti Insomnia,agitas, Observasi
akut dan vitas ansietas, sakit terjadinya
kronik serta terhdap kepala,somnole, efek
kondisi risperidone. lelah, pusing, samping.
psikotik selain. Gangguan konstipasi, Berikan obat
Meredakan fungsi hati dyspepsia,mual, dengan
gejala afektik dan ginjal muntah, nyeri prinsip 6
yang perut, ruam dan benar
berubungan inkontinensia
dengan urine
skizofrenia
2 Lorazepa Berbagai Hipersensiti Gangguan Observasi
m macam vitas ekstrapiramidal efek samping
gangguan Koma atau termasuk yang terjadi
psikiatrik kuat dystonic (kejang Berikan obat
termasuk menyebabk otot leher,bagian dengan
szhizoprenia an depresi bawah prinsip 6
anxiety SSP mulut,lidah benar
disorder Penyakit tremor,mengant
Mengontrol jantung uk,insomnia,pus
mual dan Konduktivit in,kelelahan,kele
75

muntah as mahan otot.


dekompensa Mulut
si kering,anoreksia
Penyakit
darah akut
Penyakit
hati
inflamasi
akut
Penyakit
ginjal berat
Kehamilan

B. Analisa Data ,Daftar Masalah,Pohon Masalah


1.Analisa Data
No Data Masalah
1 Data Subyektif : Ketidakefektifan regimen terapeutik
Klien mengatakan saat dirumah
berhenti minum obat karena ia
beranggapan jika minum obat
menjadi stress
Data Obyektif :
Di riwayat pengobatan klien putus
obat 3 bulan

2 Data Subyektif : Gangguan Hubungan Sosial


Klien mengatakan jarang ikut
pengajian
76

Klien mengatakan tidak diajak


kegiatan ibu-ibu di lingkungan
rumah.
Data Obyektif :
Klien tertutup
Klien mudah marah
Bicara secukupnya
3 Data Subyektif : Perubahan sensori persepsi :
Klien mengatakan Halusinasi pendengaran
mendengarsuara-suara yang
menyuruhnya mandi, suara itu
seperti suara laki-laki
Data Obyektif :
Klien tegang, nada suara sedikit
keras, marah
5 Data Subyektif : Resiko perilaku kekerasan
Klien mengatakan saat mendengar
suara itu marah
Data Obyektif :
Klien tegang
Klien tampak marah

2.Daftar Masalah Keperawatan


a. Ketidakefektifan regimen terapeutik
b. Perubahan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran
c. Resiko Perilaku kekerasan
d. Gangguan Hubungan Sosial
77

3.Pohon Masalah

Resiko Perilaku kekerasan efect

Perubahan Sensori Persepsi : Core Problem


HalusinasiPendengaran

Gangguan Hubungan Sosial


Ketidakefektifan regimen terapeutik Penyebab

C. Daftar Diagnosa Keperawatan


1. Perubahan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran
2. Ketidakefektifan Regimen Terapeutik
3. Resiko Perilaku Kekerasan
4. Gangguan Hubungan Sosial

Tanggal 2 Januari 2019


Perawat yang mengkaji

Kristin Dwi Ratnasari


1602029
D. Rencana Tindakan Keperawatan
1. Perubahan Sensori Persepsi : Halusinasi Pendengaran
Nama : Ny.S Ruangan : Dewandaru

Nomor RM : 0019xxx Diagnosa Medis : Skizofrenia

a. Rencana tindakan keperawatan pada klien perubahan persepsi sensori: Halusinasi


No Diagnosa Tujuan Perencanaan Rasional
keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
1 Perubahan SP 1 : Setelah 1x interaksi 1. Diskusikan bersama mengetahui mengenai
persepsi sensori: a. Klien mampu diharapkan klien klien mengenai isi halusinasi isi, frekuensi,
halusinasi mengidentifikasi mampu mengenal halusinasi. waktu terjadi, situasi,
halusinasi: isi, halusinasi: isi, 2. Diskusikan bersama pencetus, perasaan dan
frekuensi, waktu frekuensi, waktu terjadi, klien mengenai respon
terjadi, situasi, situasi, pencetus, frekuensi halusinasi.
pencetus, perasaan dan respon 3. Diskusikan bersama
perasaan dan klien mengenai
respon waktu terjadinya

78
halusinasi.
4. Diskusikan bersama
klien situasi yang
menimbulkan
halusinasi.
5. Diskusikan bersama
klien perasaan yang
menimbulkan
halusinasi.
6. Diskusikan bersama
klien respon klien
terhadap halusinasi
b. Klien mampu Setelah 1x interaksi 1. Berikan penjelasan 1. Beberapa cara yang
menjelaskan diharapakan klien pada klien cara dapat digunakan klien
cara mengontrol mampu mengetahui dan mengontrol untuk mengontrol
halusinasi : memahami cara halusinasi dengan halusinasi dengan
hardik, obat, mengontrol halusinasi cara menghardik. hardik
bercakap-cakap dengan menghardik, 2. Berikan penjelasan 2. Meningkatkan
dan melakukan obat, bercakap-cakap pada klien cara pemahaman akan

79
kegiatan dan melakukan kegiatan mengontrol manfaat minum obat
halusinasi dengan
cara menggunakan
obat.
3. Berikan penjelasan 3. Meningkatkan
pada klien cara pemahaman akan
mengontrol manfaat bercakap-
halusinasi dengan cakap
cara bercakap-
cakap.
4. Berikan penjelasan 4. Meningkatkan
pada klien cara pemahaman akan
mengontrol manfaat melakukan
halusinasi dengan kegiatan
cara melakukan
kegiatan sehari-hari.
c. Klien dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pengertian Menghardik merupakan
melatih diharapkan klien menghardik salah satu upaya untuk
mengontrol mampu mengontrol 2. Jelaskan tujuan mengontrol halusinasi

80
halusinasi halusinasi dengan cara menghardik saat
dengan cara menghardik terjadi halusinasi
menghardik 3. Jelaskan cara
menghardik saat
terjadi halusinasi 4. memberikan contoh
4. Demonstrasikan sehingga meningkatkan
cara perawat pemahaman klien cara
menghardik saat menghardik.
terjadi halusinasi
5. Redemonstrasikan 5.meningkatkan
cara menghardik kemampuan klien secara
bersama-sama mandiri
dengan pasien.
6. Anjurkan pasien 6.melihat sejauh mana
mendemonstrasikan pemahaman dan
ulang cara kemampuan klien
menghardik saat
terjadi halusinasi
secara mandiri.

81
7. Beri pujian pada 7.meningkatkan motivasi
klien dalam klien
menunjukkan
kemampuannya
d. Klien mampu Setelah 1x interaksi Bantu klien memasukkan Memasukkan kegiatan
memasukkan diharapkan klien kegiatan menghardik kedalam jadwal harian
kegiatan mampu memasukkan kedalam jadwal kegiatan mampu mengontrol
kedalam jadwal kegiatan menghardik harian klien bahwa latihan kegiatan
kegiatan harian kedalam jadwal telah dilakukan.
klien kegiatan harian klien

SP 2:
a. Klien mampu Setelah 1x interaksi 1. Evaluasi klien dalam 5. Evaluasi kegiatan
mengevaluasi diharapkan klien melakukan menghardik dapat
kemampuan mampu mengevaluasi mengontrol meningkatkan
mengontrol kemampuan halusinasi dengan motivasi klien dalam
halusinasi mengontrol halusinasi menghardik berlatih mengontrol
dengan cara dengan cara sehingga klien halusinasi dengan
menghardik menghardik mampu menilai cara menghardik

82
yang telah kemampuan klien
dilatih dalam mengontrol
halusinasi dengan
cara menghardik
2. Anjurkan klien 2. Mengukur
untuk melakukan kemandirian dan
cara mengontrol kemampuan klien
halusinasi dengan
menghardik secara
mandiri
3. Berikan pujian pada 3. Meningkatkan
klien dalam motivasi klien
menunjukkan
kemampuannya
dalam menghardik
b. Klien dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pengertian 1. Penggunaan obat
melatih diharapkan klien penggunaan obat merupakan salah satu
mengontrol mampu memahami untuk halusinasi tindakan untuk
halusinasi mengontrol halusinasi mengontrol halusinasi

83
dengan cara dengan menggunakan 2. Jelaskan tujuan 2. Penggunaan obat
menggunakan obat dan sesuai dengan penggunaan obat merupakan salah satu
obat dan sesuai 6 benar(jenis, guna, untuk halusinasi tindakan untuk
dengan 6 benar dosis, frekuensi, cara, mengontrol halusinasi
(jenis, guna, kontinuitas minum 3. Jelaskan cara 3. Penggunaan obat
dosis, frekuensi, obat) menggunakan obat merupakan salah satu
cara, kontinuitas dengan 6 benar: tindakan untuk
minum obat) a. Benar jenis mengontrol halusinasi
b. Benar guna
c. Benar dosis
d. Benar frekuensi
e. Benar cara
f. Benar
kontinuitas
4. Demonstrasikan 4. Memberikan
cara perawat contoh sehingga
menggunaan obat pasien dapat
melakukan dengan
5. Redemonstrasikan benar

84
cara menggunakan 5. Melatih
obat bersama kemampuan klien
dengan klien
6. Anjurkan klien 6. Mengukur
mendemonstrasikan kemampuan klien
ulang cara
menggunakan obat
secara mandiri
7. Beri pujian pada 7. Meningkatkan
klien dalam semangat klien
menunjukkan
kemampuannya
dalam menggunakan
obat
c. Klien mampu Setelah 1x interaksi Bantu klien memasukkan Memasukkan kegiatan
memasukkan diharapakan klien kegiatan mengontrol kedalam jadwal harian
kegiatan mampu memasukkan halusinasi dengan cara mampu mengontrol
kedalam jadwal kegiatan kedalam menghardik dan bahwa latihan kegiatan
kegiatan harian jadwal kegiatan harian menggunakan obat kedalam telah dilakukan

85
klien klien jadwal kegiatan harian klien

SP 3 :
a. Klien mampu Setelah 1x interaksi 1. Evaluasi klien dalam Evaluasi kegiatan
mengevaluasi diharapkan klien melakukan menghardik dapat
kemampuan mampu mengevaluasi mengontrol meningkatkan motivasi
mengontrol kemampuan halusinasi dengan klien dalam berlatih
halusinasi mengontrol halusinasi menghardik mengontrol halusinasi
dengan cara dengan cara sehingga klien dengan cara menghardik
menghardik dan menghardik dan mampu menilai dan menggunakan obat
menggunakan menggunakan obat kemampuan klien
obat yang telah dalam mengontrol
dilatih halusinasi dengan
cara menghardik
2. Evaluasi klien dalam
melakukan
mengontrol
halusinasi dengan
cara menggunakan

86
obat dengan prinsip
6 benar sehingga
klien mampu
menilai
kemampuannya
dalam mengontrol
halusinasi dengan
menggunakan obat
dengan prinsip 6
benar
3. Anjurkan klien
untuk mengontrol
halusinasi dengan
melakukan
menghardik dan
menggunakan obat
dengan prinsip 6
benar secara
mandiri.

87
4. Berikan pujian pada
klien dalam
menunjukkan
kemampuannya
dalam menghardik
dan menggunakan
obat dengan prinsip
6 benar.
b. Klien mampu Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan tujuan 1. Bercakap-cakap
melatih diharapkan klien bercakap-cakap saat merupakan salah satu
mengontrol mampu memahami cara terjadi halusinasi upaya untuk
halusinasi mengontrol halusinasi 2. Jelaskan cara mengontrol halusinasi
dengan cara dengan cara bercakap- perawat bercakap- 2. Bercakap-cakap
bercakap-cakap cakap saat terjadi cakap saat terjadi mengenai masa depan
saat terjadi halusinasi halusinasi atau aktivitas sehari-
halusinasi 3. Demonstrasikan hari
cara bercakap-cakap 3. Memberikan gambaran
saat terjadi cara bercakap-cakap
halusinasi 4. Melatih pasien dalam

88
4. Redemonstrasikan bercakap-cakap dan
cara bercakap-cakap emingkatkan rasa
saat terjadi percaya diri
halusinasi bersama
dengan klien 5. Menilai sejauh mana
5. Anjurkan klien pemahaman klien
mendemonstrasikan
ulang cara bercakap-
cakap secara
6. Meningkatkan motivasi
mandiri
klien untuk sembuh
6. Beri pujian pada
klien dalam
menunjukkan
kemampuannya
dalam bercakap-
cakap
c. Klien mampu Setelah 1x interaksi Bantu klien memasukkan Memasukkan kegiatan
memasukkan diharapakan klien kegiatan mengontrol kedalam jadwal harian
kegiatan mampu memasukkan halusinasi dengan cara mampu mengontrol bahwa

89
kedalam jadwal kegiatan kedalam menghardik, menggunakan latihan kegiatan telah
kegiatan harian jadwal kegiatan harian obat dan latihan bercakap- dilakukan
klien klien cakap kedalam jadwal
kegiatan harian klien
SP 4 :
a. Klien mampu Setelah 1x interaksi 1. Evaluasi klien dalam Evaluasi kegiatan
mengevaluasi diharapkan klien melakukan menghardik dapat
kemampuan mampu mengevaluasi mengontrol meningkatkan motivasi
mengontrol kemampuan halusinasi dengan klien dalam berlatih
halusinasi mengontrol halusinasi menghardik mengontrol halusinasi
dengan cara dengan cara sehingga klien dengan cara menghardik,
menghardik, menghardik, mampu menilai menggunakan obat dan
menggunakan menggunakan obat, dan kemampuan klien latihan bercakap-cakap
obat dan bercakap-cakap dalam mengontrol
bercakap-cakap halusinasi dengan
yang telah cara menghardik
dilatih 2. Evaluasi klien dalam
melakukan
mengontrol

90
halusinasi dengan
cara menggunakan
obat dengan prinsip
6 benar sehingga
klien mampu
menilai
kemampuannya
dalam mengontrol
halusinasi dengan
menggunakan obat
dengan prinsip 6
benar
3. Evaluasi klien dalam
melakukan kegiatan
bercakap-cakap saat
terjadi halusinasi
4. Anjurkan klien
melakukan cara
mengontrol

91
halusinasi dengan
menghardik,
menggunakan obat
dengan prinsip 6
benar dan bercakap-
cakap secara
mandiri
5. Berikan pujian pada
klien dalam
menunjukkankemam
puan yang dimiliki
untuk mengontrol
halusinasi

b. Klien mampu Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pengertian 1. Melakukan kegiatan


melatih diharapkan klien melakukan kegiatan merupakan salah satu
mengontrol mampu memahami cara saat terjadi upaya untuk mengontrol
halusinasi mengontrol halusinasi halusinasi halusinasi
dengan cara dengan cara melakukan 2. Jelaskan tujuan 2. melakukan kegiatan

92
melakukan kegiatan saat terjadi melakukan kegiatan dapat mengalihkan pikiran
kegiatan (mulai halusinasi saat terjadi yang memicu halusinasi
2 kegiatan) halusinasi 3. melakukan kegiatan
3. Jelaskan cara sesuai hobi pasien
melakukan kegiatan
saat terjadi
halusinasi 4.Memberikan gambaran
4. Demonstrasikan kegiatan yang dapat
cara perawat mengalihkan halusinasi
melakukan 2
kegiatan saat terjadi
halusinasi
5. Redemonstrasikan
cara melakukan 2 5.Meningkatkan
kegiatan saat terjadi pemahaman pasien akan
halusinasi bersama kegiatan yang bisa
dengan klien dilakukan
6. Anjurkan klien
mendemonstrasikan

93
ulang cara 6. Menilai sejauh mana
melakukan 2 pemahaman dan
kegiatan secara ketrampilan pasien
mandiri
7. Beri pujian pada 7. Meningkatkan motivasi
klien dalam pasien dalam
menunjukkan mengontrol halusinasi.
kemampuannya
dalam melakukan 2
kegiatan secara
mandiri
c. Klien mampu Setelah 1x interaksi Bantu klien memasukkan Memasukkan kegiatan
memasukkan diharapakan klien kegiatan mengontrol kedalam jadwal harian
kegiatan mampu memasukkan halusinasi dengan cara mampu mengontrol bahwa
kedalam jadwal kegiatan kedalam menghardik, menggunakan latihan kegiatan telah
kegiatan harian jadwal kegiatan harian obat, latihan bercakap-cakap dilakukan
klien klien dan melakukan 2 kegiatan
kedalam jadwal kegiatan
harian klien

94
SP 5 :
a. Klien mampu Setelah 1x interaksi 1. Evaluasi klien dalam Evaluasi kegiatan
mengevaluasi diharapkan klien melakukan menghardik dapat
kemampuan mampu mengevaluasi mengontrol meningkatkan motivasi
mengontrol kemampuan halusinasi dengan klien dalam berlatih
halusinasi mengontrol halusinasi menghardik mengontrol halusinasi
dengan cara dengan cara sehingga klien dengan cara menghardik,
menghardik, menghardik, mampu menilai menggunakan obat, latihan
menggunakan menggunakan obat, kemampuan klien bercakap-cakap dan
obat,bercakap- bercakap-cakap dan dalam mengontrol melakukan 2 kegiatan
cakap dan melakukan 2 kegiatan halusinasi dengan yang telah dilatih
melakukan 2 yang telah dilatih cara menghardik
kegiatan yang 2. Evaluasi klien dalam
telah dilatih melakukan
mengontrol
halusinasi dengan
cara menggunakan
obat dengan prinsip
6 benar sehingga

95
klien mampu
menilai
kemampuannya
dalam mengontrol
halusinasi dengan
menggunakan obat
dengan prinsip 6
benar
3. Evaluasi klien dalam
melakukan kegiatan
bercakap-cakap saat
terjadi halusinasi
4. Evaluasi klien
melakukan 2
kegiatan yang telah
dilatih
5. Anjurkan klien
melakukan cara
mengontrol

96
halusinasi dengan
menghardik,
menggunakan obat
dengan 6 benar,
bercakap-cakap dan
melakukan kegiatan
secara mendiri.
6. Berikan pujian pada
klien pada klien
dalam menunjukkan
kemampuan yang
dimiliki untuk
mengontrol
halusinasi
b. Klien mampu Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pengertian Melakukan kegiatan
melatih diharapkan klien melakukan kegiatan merupakan salah satu
melakukan mampu melakukan harian saat terjadi upaya untuk mengontrol
kegiatan harian kegiatan harian yang halusinasi halusinasi
yang telah telah dilatih saat terjadi 2. Jelaskan tujuan

97
dilatih saat halusinasi melakukan kegiatan
terjadi harian saat terjadi
halusinasi halusinasi
3. Jelaskan cara
melakukan kegiatan
harian saat terjadi
halusinasi
4. Demonstrasikan
cara perawat
melakukan kegiatan
harian saat terjadi
halusinasi
5. Redemonstrasikan
cara melakukan
kegiatan harian saat
terjadi halusinasi
bersama dengan
klien
6. Anjurkan klien

98
mendemonstrasikan
ulang cara
melakukan kegiatan
harian secara
mandiri
7. Beri pujian pada
klien dalam
menunjukkan
kemampuannya
dalam melakukan
kegiatan harian
c. Klien mampu Setelah 1x interaksi Nilai kemampuan mandiri Menilai dan memantau
menilai kegiatan diharapkan klien yang sudah dicapai klien perkembangan klien
yang telah dapat memiliki kemampuan kegiatan yang dapat
dilakukan secara yang telah dapat dilakukan klien secara
mandiri dilakukan secara mandiri
mandiri.

99
d. Klien mampu Setelah 1x interaksi Nilai kemampuan klien Menilai dan memantau
menilai apakah diharapkan halusinasi dalam mengontrol perkembangan klien dalam
halusinasi sudah klien sudah terkontrol halusinasi mengontrol halusinasi
terkontrol

100
b. Rencana tindakan keperawatan pada keluarga dengan klien perubahan persepsi sensori: Halusinasi

No Diagnosa Tujuan Perencanaan Rasional


keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
1 Perubahan persepsi SP 1
sensori:Halusinasi f. Keluarga Setelah 1x Diskusikan bersama keluarga Untuk mengetahui
mampu diharapkan interaksi tentang masalah-masalah permasalahan yang
mendiskusikan keluarga memahami yang dihadapi keluarga dihadapi oleh
masalah yang masalah yang selama merawat klien. keluarga selama
dihadapi dirasakan dalam merawat klien.
keluarga dalam merawat klien.
merawat klien
g. Keluarga Setelah 1x interaksi Diskusikan dengan keluarga Memberikan
mampu diharapkan keluarga tentang pengertian, tanda dan pemahaman pada
menjelaskan mampu mehamami gejala serta proses terjadinya keluarga tentang
pengertian pengertian, tanda dan halusinasi pengertian, tanda dan
halusinasi, gejala serta proses gejala serta proses
tanda dan gejala terjadinya halusinasi terjadinya halusinasi
serta proses pada klien.

101
terjadinya
halusinasi
h. Keluarga Setelah 1x interaksi Berikan penjelasan pada Sebagai bekal
mampu diharapkan keluarga keluarga mengenai cara pemahaman keluarga
menjelaskan mampu mengetahui merawat klien halusinasi dalam merawat klien
cara merawat dan memahami cara halusinasi
halusinasi merawat klien
halusinasi
i. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pada keluarga Menghardik
melatih cara diharapkan keluarga pengertian menghardik merupakan salah satu
merawat klien mampu mengetahui saat terjadi halusinasi upaya yang digunakan
dengan cara dan memahami cara 2. Jelaskan pada keluarga untuk merawat klien
menghardik menghardik yang tujuan menghardik saat halusinasi saat terjadi
benar terjadi halusinasi halusinasi
3. Jelaskan pada keluarga
cara menghardik saat
terjadi halusinasi
4. Demonstrasikan bersama
keluarga cara menghardik

102
saat terjadi halusinasi
5. Redemonstrasikan cara
menghardik saat terjadi
halusinasi bersama
dengan keluarga
6. Anjurkan keluarga
mendemonstrasikan ulang
cara mengontrol
halusinasi dengan
mengahardik secara
mandiri.
j. Keluarga Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan kegiatan
mampu diharapkan keluarga membantu klien kedalam jadwal dapat
membantu klien mampu membantu memasukkan kegiatan memastikan kegiatan
memasukkan klien memasukkan menghardik kedalam jadwal harian klien telah
kegiatan kegiatan kedalam kegiatan harian klien dan dilakukan
jadwal harian klien memberi pujian
SP 2 :
a. Keluarga Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan

103
mampu interaksi diharapkan keluarga cara keluarga motivasi keluarga
mengevaluasi keluarga mampu membimbing klien dalam merawat klien
kegiatan dalam mengevaluasi dalam melaksanakan
membimbing kegiatan dalam kegiatan menghardik
klien membimbing klien 2. Anjurkan keluarga untuk
melaksanakan dalam melaksanakan melakukan bagaimana
kegiatan kegiatan menghardik cara membimbing klien
mengontrol yang telah dipilih dalam melaksanakan
halusinasi klien serta dapat kegiatan menghardik
dengan cara memberikan pujian secara mandiri 3.meningkatkan
menghardik pada klien dengan 3. Berikan pujian pada motivasi keluarga
Memberikan kemampuan yang keluarga atas dalam membantu
pujian pada dimiliki klien. kemampuan yang mengontrol
klien. dilakukan halusinasi.
b. Keluarga Setelah 1x interaksi Berikan penjelasan pada Menambah kognitif
mampu diharapkan keluarga keluarga mengenai 6 benar keluarga serta sebagai
menjelaskan 6 mampu mengetahui cara pemberian obat: jenis, bekal pemahaman
benar cara dan memahami 6 guna, dosis, frekuensi, cara, keluarga dalam
memberikan benar cara kontinuitas minum obat merawat klien dalam

104
obat memberikan obat memberikan obat
c. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pada 1. Penggunaan obat
melatih cara diharapkan keluarga keluarga tujuan merupakan salah
memberikan mampu mengetahui menggunaan obat satu tindakan
atau dan memahami cara untuk halusinasi untuk mengontrol
membimbing memberikan atau 2. Jelaskan cara halusinasi
cara minum membimbing klien menggunakan obat 2. Pemahaman
obat pada klien minum obat dengan 6 benar: tentang 6 benar
a. Benar jenis dapat mencegah
b. Benar guna penyalahgunaan
c. Benar dosis obat.
d. Benar frekuensi
e. Benar cara
f. Benar kontinuitas 3. Memberikan
3. Demonstrasikan cara gambaran
menggunaan obat penggunaan obat
4. Redemonstrasikan yang benar
cara penggunaan obat 4. Melatih
bersama dengan kemampuan

105
keluarga keluarga
5. Anjurkan keluarga 5. Menilai sejauh
mendemonstrasikan mana kemampuan
ulang cara keluarga.
mengontrol halusinasi
dengan cara
menggunaan obat
secara mandiri. 6. Meningkatkan
6. Berikan pujian atas motivasi dalam
kemampuan yang mendampingi
telah capai pasien
d. Keluarga mampu Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan kegiatan
membantu klien diharapkan keluarga membantu klien kedalam jadwal dapat
dalam mampu membantu memasukkan kegiatan memastikan kegiatan
memasukkan klien dalam menghardik, cara harian klien telah
kegiatan kedalam memasukkan kegiatan memberikan obat kedalam dilakukan
jadwal kegiatan kedalam jadwal jadwal kegiatan harian klien
harian klien kegiatan harian klien dan berikan pujian kepada
klien

106
SP 3 :
a. Keluarga Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan
mampu interaksi diharapkan keluarga cara motivasi keluarga
mengevaluasi keluarga mampu keluarga dalam merawat klien
kegiatan dalam mengevaluasi membimbing klien
membimbing kegiatan dalam dalam melaksanakan
klien membimbing klien kegiatan mengontrol
melaksanakan dalam melaksanakan halusinasi dengan
kegiatan kegiatan menghardik cara menghardik dan
pertama dan dan memberikan obat 6 benar cara
kedua yang serta dapat memberikan obat
telah dipilih memberikan pujian 2. Anjurkan keluarga
klien. pada klien dengan untuk melakukan
Memberikan kemampuan yang bagaimana cara
pujian pada dimiliki klien. keluarga
klien. membimbing klien
dalam melaksanakan
kegiatan mengontrol
halusinasi dengan

107
cara menghardik dan
6 benar cara
memberikan obat
secara mandiri
3. Berikan pujian
kepada keluarga atas
kemampuan yang
dilakukan
b. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi Berikan penjelasan pada Menambah kognitif
menjelaskan diharapkan keluarga keluarga cara mengontrol keluarga dan sebagai
cara bercakap- mampu mengetahui halusinasi dengan cara bekal keluarga dalam
cakap dan dan memahami dalam bercakap-cakap dan membimbing klien
melakukan melakukan kegiatan melakukan kegiatan untuk mengontrol halusinasi
kegiatan untuk mengontrol halusinasi mengontrol halusinasi
mengontrol dengan cara bercakap-
halusinasi pada cakap dan melakukan
klien kegiatan
c. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pada keluarga 1. Bercakap-cakap
melatih klien diharapkan keluarga pengertian bercakap- merupakan salah

108
mengontrol mampu melatih klien cakap saat terjadi satu upaya untuk
halusinasi dalam melakukan halusinasi mengontrol
dengan cara kegiatan mengontrol halusinasi.
bercakap-cakap halusinasi dengan 2. Jelaskan pada keluarga 2. Bercakap-cakap
dan mampu cara bercakap-cakap tujuan bercakap-cakap dapat
menyediakan dan mampu saat terjadi halusinasi mengalihkan
waktubercakap- menyediakan waktu 3. Jelaskan pada keluarga halusinasi
cakap dengan bercakap-cakap cara bercakap-cakap saat 3. Memilih bahan
klien bersama klien terjadi halusinasi percakapan yang
tidak
menyinggung
perasaan pasien
4. Demonstrasikan cara 4. Memberikan
bercakap-cakap saat gambaran
terjadi halusinasi percakapan yang
5. Redemonstrasikan cara sesuai
bercakap-cakap saat 5. Melatih keluarga
terjadi bersama dengan memilih
keluarga percakapan yang

109
6. Anjurkan keluarga sesuai
mendemonstrasikan ulang 6. Mengukur
cara mengontrol kemampuan
halusinasi dengan cara keluarga
bercakap-cakap dengan
orang lain secara
mandiri.
d. Keluarga Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan kegiatan
mampu diharapkan keluarga membantu klien kedalam jadwal dapat
membantu klien mampu membantu memasukkan kegiatan memastikan kegiatan
dalam klien dalam menghardik, 6 benar harian klien telah
memasukkan memasukkan kegiatan memberikan obat, bercakap- dilakukan
kegiatan kedalam jadwal cakap, melakukan kegiatan
kedalam jadwal kegiatan harian klien kedalam jadwal kegiatan
kegiatan harian harian klien dan memberikan
klien pujian kepada klien

SP 4 :
a. Keluarga Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan

110
mampu interaksi diharapkan keluarga cara motivasi keluarga
mengevaluasi keluarga mampu keluarga dalam merawat klien
kegiatan dalam mengevaluasi membimbing klien
membimbing kegiatan dalam dalam melaksanakan
klien membimbing klien kegiatan mengontrol
melaksanakan dalam melaksanakan halusinasi dengan
kegiatan kegiatan pertama cara menghardik, 6
mengontrol mengontrol halusinasi benar cara
halusinasi dengan cara memberikan obat,
dengan cara menghardik, 6 benar bercakap-cakap dan
menghardik, 6 memberikan obat, melakukan kegiatan
benar bercakap-cakap dan 2. Anjurkan keluarga
memberikan melakukan kegiatan melakukan
obat, bercakap- serta dapat bagaimana cara
cakap dan memberikan pujian keluarga
melakukan pada klien dengan membimbing klien
kegiatan serta kemampuan yang dalam melaksanakan
memberikan dimiliki klien. kegiatan mengontrol
pujian pada halusinasi dengan

111
klien cara menghardik, 6
benar cara
memberikan obat,
bercakap-cakap dan
melakukan kegiatan
secara mandiri
3. Beri pujian kepada
keluarga atas
kemampuan yang
diberikan
b. Keluarga Setelah 1x interaksi Berikan penjelasan pada Mempersiapkan
mampu diharapkan keuarga keluarga pentingnya follow keluarga setelah klien
menjelaskan mampu memahami up ke RSJ, rujukan dan pulang
follow up ke follow up ke RSJ, mengenali tanda kambuh
RSJ, tanda tanda kambuh dan setelah klien pulang
kambuh dan rujukan setelah klien
rujukan pulang
c. Keluarga Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan kegiatan
mampu diharapkan keluarga membantu klien kedalam jadwal dapat

112
membantu klien mampu membantu memasukkan kegiatan memastikan kegiatan
dalam klien dalam mengontrol halusinasi harian klien telah
memasukkan memasukkan kegiatan dengan cara menghardik, 6 dilakukan
kegiatan kedalam jadwal benar memberikan obat,
kedalam jadwal kegiatan harian klien bercakap-cakap, melakukan
kegiatan harian kegiatan kedalam jadwal
klien kegiatan harian klien dan
memberikan pujian kepada
klien
SP 5 :
a. Keluarga Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan
mampu interaksi diharapkan keluarga cara motivasi keluarga
mengevaluasi keluarga mampu keluarga dalam merawat klien
kegiatan dalam mengevaluasi membimbing klien
membimbing kegiatan dalam dalam melaksanakan
klien membimbing klien kegiatan mengontrol
melaksanakan dalam melaksanakan halusinasi dengan
kegiatan kegiatan pertama cara menghardik, 6
mengontrol mengontrol halusinasi benar cara

113
halusinasi dengan cara memberikan obat,
dengan cara menghardik, 6 benar bercakap-cakap,
menghardik, 6 memberikan obat, melakukan kegiatan
benar bercakap-cakap, dan follow up ke RSJ
memberikan melakukan kegiatan, 2. Anjurkan keluarga
obat, bercakap- follow up ke RSJ melakukan
cakap, serta dapat bagaimana cara
melakukan memberikan pujian keluarga
kegiatan dan pada klien dengan membimbing klien
follow up ke kemampuan yang dalam melaksanakan
RSJ serta dimiliki klien kegiatan mengontrol
mampu halusinasi dengan
memberikan cara menghardik, 6
pujian pada benar cara
klien memberikan obat,
bercakap-cakap,
melakukan kegiatan
dan follow up ke RSJ
secara mandiri

114
3. Berikan pujian
kepada keluarga atas
kemampuan yang
dilakukan
b. Keluarga Setelah 1x interaksi Berikan penilaian pada Penilaian pada
mampu menilai diharapkan keluarga keluarga cara membimbing keluarga mampu
kemampuan mampu menilai klien dalam melaksanakan meningkatkan
dalam kemampuan kegiatan dalam merawat motivasi keluarga
membimbing membimbing klien keluarga dengan melakukan dalam merawat klien
klien dalam merawat klien kegiatan mengontrol
melakukan dengan melakukan halusinasi
kegiatan kegiatan mengontrol
merawat klien halusinasi
mengontrol
halusinasi

115
c. Keluarga Setelah 1x interaksi Berikan penilaian pada Penilaian pada
mampu menilai diharapkan keluarga keluarga dan pantau keluarga keluarga mampu
kemampuan mampu memahami dalam melakukan control ke meningkatkan
melakukan pentingnya RSJ motivasi keluarga
control ke RSJ melakukan control ke dalam merawat klien
RSJ

116
2. Regimen Terapeutik Inefektif

Nama : Ny.S Ruangan : Dewandaru

Nomor RM : 0019xxx Diagnosa Medis : Skizofrenia

a. Rencana Tindakan Keperawatan pada klien Regimen Terapeutik Inefektif

No Diagnose Keperawatan Tujuan Tindakan Keperawatan Rasional


Kriteria Hasil Intervensi
1. Regimen Terapeutik SP 1 : 1. Bina hubungan saling 1. Hubungan saling
Inefektif Klien dapat Setelah 1 x percaya : percaya merupakan
mengidentifikasi pertemuan a. Salam terapeutik landasan utama
penyebab klien diharapkan klien b. Perkenalan untuk hubungan dan
tidak patuh dapat c. Jelaskan tujuan tindakan selanjutnya
terhadap mengidentifikasi d. Ciptakan lingkungan
pengobatan penyebab klien tidak yang terapeutik
patuh terhadap e. Buat kontrak waktu
pengobatan f. Tepati waktu

117
2. Dorong dan beri klien 2. Perasaan membantu
untuk ungkapkan perasaan mengurangi
stress/depresi akibat
dari halusinasi yang
timbul
3. Dengarkan ungkapan 3. Menunjukkan
dengan empati kepedulian kepada
klien
SP 1 :
Klien dapat Setelah 1 x 1. Identifikasi nilai diri 1. Kemampuan klien
mengidentifikasi pertemuan bersama klien menilai diri
nilai diri diharapkan klien menunjukan
dapat seberapa paham klien
mengidentifikasi akan nilai terhadap
nilai diri dirinya
SP 1 :
Klien dapat Setelah 1 x 1. Tanyakan kepada klien apa 1. Mengetahui alasan
menjelaskan pertemuan alasan klien mau berubah klien mau berubah
alasan untuk diharapkan klien

118
berubah dapat menjelaskan 2. Berikan penguatan apabila 2. Alasan yang positif
alasan untuk berubah alasan yang diberikan menandakan klien
positif mampu menilai diri
SP 1:
Klien dapat Setelah 1 x 1. Jelaskan pengertian 1. Mengetahui
mengidentifikasi pertemuan berubah kemampuan kognitif
tujuan berubah diharapkan klien klien
dapat 2. Jelaskan tujuan berubah 2. Tujuan dari berubah
mengidentifikasi agar klien menjadi
tujuan berubah lebih baik
3. Jelaskan cara untuk 3. Meningkatkan
berubah kognitif pasien
4. Demonstrasikan cara 4. Memberikan
untuk berubah gambaran pada klien
cara untuk berubah
5. Demonstrasikan cara 5. Melihat sejauh mana
untuk berubah bersama kemampuan pasien
dengan pasien
6. Minta klien 6. Menilai kemampuan

119
mendemonstrasikan cara klien
berubah
7. Beri pujian pada pasien 7. Meningkatkan
kepercayaan diri
klien
SP 1:
Klien dapat Setelah 1 x Bantu klien untuk Target merupakan tolak
mengidentifikasi pertemuan mengidentifikasi target tingkah ukur keberhasilan
target tingkah diharapkan klien laku yang dibutuhkan untuk dalam pengoatan.
laku yang dapat dapat berubah
dibutuhkan untuk mengidentifikasi
dapat berubah target tingkah laku
yang dibutuhkan
untuk dapat berubah
2. Regimen Terapeutik SP 2 :
Inefektif Klien dapat Setelah 1 x 1. Evaluasi aktivitas yang 1. Menilai
mengevaluasi pertemuan sudah terjadwal keberhasilan latihan
kemampuan klien diharapkan klien a. Tanyakan apakah sebelumnya.
dalam menilai mampu aktivitas yang

120
diri mengevaluasi latihan terjadwal sudah
sebelumnya menilai dilakukan
diri b. Anjurkan klien untuk
menyebutkan aktivitas
yang sudah dilakukan
(menilai diri dan target
tingkah laku yang
dibutuhkan untuk dapat
berubah) 2. Meningkatkan
2. Beri pujian pada pasien kepercayaan diri
klien
SP 2 :
Klien dapat Setelah 1 x 1. Jelaskan arti mengexplore 1. Agar klien
mengexplore pertemuan kemampuan untuk memahami arti
kemampuan diharapkan klien berubah mengexplore
untuk berubah dapat mengexplore 2. Latih klien mengexplore kemampuan untuk
kemampuan untuk kemampuan untuk berubah
berubah berubah: 2. Mensukseskan
a. Demonstrasikan cara program pengobatan

121
mengexplore klien
kemampuan untuk
berubah
b. Demonstrasikan cara
mengexplore
kemampuan untuk
berubah bersama klien
c. Minta klien untuk
mendemonstrasikan
cara mengexplore
kemampuan untuk
berubah secara mandiri
3. Beri reinforcement positif 3. Meningkatkan
pada klien kepercayaan diri
klien
SP 2 :
Klien mampu Setelah 1 x Dorong klien untuk Memasukkan kegiatan
memasukan pertemuan memasukkan latihan untuk mengontrol
dalam jadwal diharapkan klien mengidentifikasi nilai diri yang halusinasi ke dalam

122
kegiatan harian dapat memasukkan belum teridentifikasi jadwal kegiatan harian
untuk latihan merupakan upaya untuk
mengidentifikasi mengidentifikasi membiasakan diri
nilai diri yang nilai diri yang belum melatih
belum teridentifikasi ke mengidentifikasi nilai
teridentifikasi dalam jadwal diri yang belum
kegiatan harian. teridentifikasi
3. Regimen Terapeutik SP 3 :
Inefektif Klien dapat Setelah 1 x 1. Evaluasi latihan 1. Menilai
mengevaluasi pertemuan mengexplore kemampuan perkembangan
kemampuan klien diharapkan klien klien berubah yang kemampuan klien
untuk berubah mampu dilakukan klien
mengevaluasi latihan a. Anjurkan klien
sebelumnya: menjelaskan tujuannya
mengidentifikasi b. Anjurkan klien untuk
target tingkah laku menyebutkan cara
dan mengexplore mengexplore
kemampuan klien kemampuan klien
untuk berubah. berubah

123
2. Evaluasi latihan 2. Menilai
mengidentifikasi target perkembangan
tingkah laku kemampuan klien
a. Anjurkan klien
menyebutkan alasan
untuk berubah
b. Anjurkan klien untuk
menyebutkan target
tingkah laku yang
dibutuhkan untuk dapat
berubah
3. Beri pujian kepada klien 3. Meningkatkan
kepercayaan diri
klien
SP 3 :
Klien dapat Setelah 1 x 1. Tanyakan kepada klien 1. Menilai kemampuan
mengidentifikasi pertemuan keuntungan dan kerugian klien
keuntungan dan diharapkan klien suatu perubahan
kerugian suatu dapat 2. Jelaskan arti suatu 2. Perubahan adalah

124
perubahan mengidentifikasi perubahan kepada klien suatu proses secara
keuntungan dan sadar yang
kerugian suatu dilakukan seseorang
perubahan untuk tujuan tertentu
3. Beri reinforcement positif 3. Meningkatkan
kepercayaan diri
klien
SP 3 :
Berikan reward Setelah 1 x Motivasi klien untuk berlatih Meningkatkan rasa
sesuai dengan pertemuan sesuai jadwal dan berikan percaya diri klien
kemampuan klien diharapkan klien penguatan/motivasi apabila
dapat menerim klien mulai menurun
reward sesuai motivasinya
dengan kemampuan
klien
Regimen Terapeutik SP 4 :
Inefektif Klien dapat Setelah 1 x 1. Identifikasi bersama klien 1. Mengetahui
mengidentifikasi pertemuan kebiasaan yang sering kebiasaan yang
kebiasaan diharapkan klien dilakukan oleh klien sering dilakukan

125
mampu klien
mengidentifikasi 2. Beri pujian kepada klien 2. Meningkatkan
kebiasaan kepercayaan diri
klien
SP 4 :
Klien dapat Setelah 1 x 1. Jelaskan arti mengontrol 1. Menambah
mengetahui pertemuan diri pengetahuan klien
metode yang diharapkan klien akan arti
tepat untuk dapat mengetahui mengontrol diri
mengontrol diri metode yang tepat 2. Jelaskan manfaat 2. Memberikan
untuk mengontrol mengontrol diri informasi manfaat
diri mengontrol diri
3. Latih klien metode yang 3. Mensukseskan
tepat untuk mengontrol program
diri: pengobatan
a. Diskusikan bersama
klien metode yang tepat
b. Latih klien untuk
melakukannya

126
c. Demonstrasikan salah
satu dari metode
d. Minta klien
mendemonstrasikan
salah satu metode
4. Beri reinforcement positif 4. Meningkatkan
jika pasien melakukan kepercayaan diri
sesuai metode klien
SP 4 :
Klien dapat Setelah 1 x Motivasi klien untuk dapat Efek samping dapat
menjelaskan pertemuan menjelaskan tentang efek dan berpengaruh dalam
tentang efek dan diharapkan klien beberapa strategi perubahan proses pengobatan yang
beberapa strategi dapat menjelaskan terhadap kehidupannya sedang dilakukan
perubahan tentang efek dan
terhadap beberapa strategi
kehidupannya perubahan terhadap
kehidupannya
Regimen Terapeutik SP 5:
Inefektif Evaluasi Setelah 1 x 1. Evaluasi latihan 1. Menilai

127
kemampuan klien pertemuan mengidentifikasi nilai diri perkembangan
dalam diharapkan klien yang dilakukan klien kemampuan klien
mengidentifikasi mampu
nilai diri, alasan mengevaluasi latihan 2. Evaluasi latihan alasan 2. Menilai
klien berubah, sebelumnya ( klien berubah perkembangan
tujuan berubah, mengidentifikasi kemampuan klien
kemampuan nilai diri, alasan
untuk berubah klien berubah, tujuan 3. Evaluasi latihan klien 3. Menilai
berubah, tujuan berubah perkembangan
kemampuan untuk kemampuan klien
berubah) 4. Evaluasi latihan 4. Menilai
kemampuan untuk berubah perkembangan
kemampuan klien
5. Beri pujian kepada klien 5. Meningkatkan
setelah selesai melakukan harga diri klien
seluruh evaluasi pertemuan
hari ini.
SP 5:
Klien dapat Setelah 1 x 1. Jelaskan pentingnya 1. Untuk mengurangi

128
melakukan pertemuan aktifitas yang teratur risiko munculnya
kegiatan harian diharapkan klien kembali regimen
secara mandiri mampu melakukan terapeutik inefektif
kegiatan harian 2. Diskusikan aktivitas yang 2. Dengan aktivitas
biasa dilakukan oleh klien secara terjadwal,
klien tidak akan
mengalami banyak
waktu luang sendiri.
3. Latih klien melakukan 3. Menilai
aktivitas kemampuan klien

4. Bantu menyusun jadwal 4. Agar aktivitas


aktivitas sehari-hari sesuai dilakukan sesuai
dengan aktivitas yang telah jadwal.
dilatih. Upayakan klien
memiliki aktivitas dari
bangun tidur sampai tidur
malam

129
SP 5 :
Klien dapat Setelah 1 x 1. Pantau pelaksanaan jadwal 1. Mengetahui
melakukan pertemuan kegiatan yang sudah perilaku yang
kegiatan secara diharapkan klien disusun dilakukan klien
mandiri mampu melakukan 2. Berikan penguatan 2. Meningkatkan
kegiatan secara terhadap perilaku klien harga diri klien
mandiri yang positif
3. Berikan penilaian 3. Mengetahui
kemampuan klien yang perkembangan
mandiri kemampuan klien
dalam melakukan
kegiatan secara
mandiri.
SP 5 :
Menilai apakah Setelah 1 x 1. Pantau perkembangan 1. Memantau
perubahan sudah pertemuan kemampuan klien dalam kemampuan klien.
tercapai diharapkan klien mengidentifikasi nilai diri,
dapat mengalami alasan klien berubah,
perubahan tujuan berubah,

130
kemampuan untuk berubah
2. Berikan penilaian pada 2. Mengetahui
pada kemampuan klien kemampuan klien
3. Selalu berikan penguatan 3. Meningkatkan
positif pada klien harga diri klien

131
b.Rencana tindakan keperawatan pada keluarga dengan klien Regimen Terapeutik Inefektif

No Diagnose Keperawatan Tujuan Tindakan Keperawatan Rasional


Kriteria Hasil Intervensi
1. Regimen Terapeutik SP 1 Keluarga :
Inefektif Keluarga dapat Setelah 1 kali 1. Bina hubungan saling 1. Hubungan saling
mengungkapkan pertemuan percaya : percaya merupakan
perasaan saat ini diharapkan keluarga a. Salam terapeutik landasan utama
secara verbal dan mampu membina b. Perkenalan untuk hubungan
non verbal hubungan saling c. Jelaskan tujuan dan tindakan
percaya d. Ciptakan lingkungan selanjutnya
yang terapeutik
e. Buat kontrak waktu
f. Tepati waktu 2. Perasaan membantu
2. Dorong dan beri keluarga mengurangi
untuk ungkapkan perasaan stress/depresi
akibat dari merawat
klien

132
SP 1 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x Diskusikan bersama keluarga Menggali sejauh mana
menjelaskan pertemuan tentang perilaku klien pengetahuan keluarga
tentang perilaku diharapkan keluarga maladaptif mengenai klien dengan
klien maladaptif mampu menjelaskan regimen terapeutik
tentang perilaku inefektif
klien maladaptif

SP 1 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x 1. Identifikasi bersama 1. Penanganan yang
menjelaskan pertemuan keluarga faktor penyebab tepat dapat
masalah yang diharapkan keluarga klien kambuh membantu proses
menjadi faktor mampu menjelaskan penyembuhan klien
penyebab klien masalah yang
kambuh menjadi faktor
penyebab klien
kambuh
SP 1 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x 1. Jelaskan macam-macam 1. Keluarga mampu

133
mengambil sikap pertemuan perilaku maladaptive mengambil sikap
terhadap perilaku diharapkan keluarga terhadap perilaku
maladaptif klien mampu mengambil maladaptif klien
sikap terhadap 2. Ajarkan keluarga cara 2. Melatih keluarga
perilaku maladaptif mengambil sikap terhadap agar tidak salah
klien perilaku klien yang dalam mengambil
maladaptif keputusan
3. Demonstrasikan cara untuk 3. Memberikan contoh
menyikapi klien yang konkrit agar
maladaptif (perawat) keluarga dapat
mempraktikkan
dengan baik
4. Demonstrasikan cara untuk 4. Melatih kemampuan
menyikapi klien yang klien dengan
maladaptif (lakukan dilakukan bersama
bersama keluarga) perawat
5. Demonstrasikan cara untuk 5. Melatih kemampuan
menyikapi klien yang keluarga jika
maladaptif (keluarga dilakukan sendiri

134
melakukan secara mandiri)
6. Berikan pujian 6. Memberikan
semangat positif
pada keluarga agar
tetap merawat klien.
SP 1 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x Anjurkan keluarga membantu Agar klien mengenal
membantu klien pertemuan klien mengenal sikap dan sikap dan perilakunya
mengenal sikap diharapkan keluarga perilakunya yang dapat yang dapat memicu dan
dan perilakunya mampu membantu memicu dan menyebabkan menyebabkan klien
yang dapat klien mengenal klien kambuh kambuh
memicu dan sikap dan
menyebabkan perilakunya yang
klien kambuh dapat memicu dan
menyebabkan klien
kambuh

2. Regimen Terapeutik SP 2 Keluarga :


Inefektif Keluarga mampu Setelah 1 x 1. Identifikasi bersama 1. Keluarga adalah

135
menjadi pertemuan keluarga bahwa keluarga orang terdekat
penanggungjawab diharapkan keluarga mampu menjadi dengan klien selama
utama dalam mampu menjadi penanggungjawab utama klien di rumah
merawat klien penanggungjawab dalam merawat klien
dirumah utama dalam dirumah
merawat klien
dirumah
SP 2 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x Diskusikan bersama Meningkatkan
mengambil pertemuan keluarga bahwa keluarga tanggungjawab
keputusan dalam diharapkan keluarga harus mampu dalam keluarga dalam
perawatan klien mampu mengambil keputusan merawat klien
keluarga mengambil dalam perawatan keluarga
keputusan dalam
perawatan keluarga
SP 2 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x 1. Jelaskan kepada keluarga 1. Meningkatkan
mengenali pertemuan cara mengenali masalah kognitif keluarga
dampak apabila diharapkan keluarga

136
masalah tidak mampu mengenali 2. Jelaskan kepada keluarga 2. Meningkatkan
ditangani secara dampak apabila dampak apabila masalah kognitif keluarga
cepat masalah tidak tidak segera ditangani
ditangani secara
cepat
SP 2 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x Anjurkan keluarga membantu Agar klien mampu
membantu klien pertemuan klien memutuskan hal yang memutuskan hal positif
untuk diharapkan keluarga menguntungkan klien untuk dirinya
memutuskan hal mampu membantu
yang klien untuk
menguntungkan memutuskan hal
klien yang
menguntungkan
klien
3. Regimen Terapeutik SP 3 Keluarga :
Inefektif Keluarga mampu Setelah 1 x 1. Evaluasi kegiatan keluarga 1. Mengetahui
menjelaskan pertemuan dalam merawat klien perkembangan yang
kembali cara diharapkan keluarga dirumah (libatkan klien dilakukan keluarga

137
merawat klien di mampu menjelaskan dalam kegiatan sehari-hari) dalam merawat
rumah (libatkan kembali cara klien
klien dala merawat klien di 2. Beri resinforcement positif 2. Memberikan
kegiatan sehari- rumah (libatkan pada keluarga semangat positif
hari) klien dalam kegiatan pada keluarga agar
sehari-hari) tetap merawat klien
SP 3 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x 1. Diskusikan bersama 1. Mensukseskan
menjelaskan pertemuan keluarga pentingnya minum program
pentingnya diharapkan keluarga obat secara teratur pengoobatan
minum obat mampu pentingnya 2. Berikan pujian 2. Meningkatkan rasa
secara teratur minum obat secara percaya diri
teratur keluarga

SP 3 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x 1. Diskusikan bersama 1. Keluarga
memberikan pertemuan keluarga untuk merupakan orang
dukungan dalam diharapkan keluarga memberikan dukungan terdekat untuk klien
penyelesaian mampu memberikan dalam penyelesaian

138
masalah klien dukungan dalam malasah klien
penyelesaian
masalah klien
SP 3 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x Anjurkan keluarga untuk Agar perawatan klien
memonitor pertemuan memonitor perawatan klien terpantau
perawatan klien diharapkan keluarga
mampu memonitor
perawatan klien
SP 4 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x 1. Diskusikan bersama 1. Mengetahui
mendiskusikan pertemuan keluarga pentingnya kemampuan
tentang diharapkan keluarga partisipasi aktif dari kognitif keluarga
pentingnya mampu support sistem dalam
partisipasi aktif mendiskusikan perawatan klien
dari support tentang pentingnya
sistem dalam partisipasi aktif dari
perawatan klien support sistem dalam
perawatan klien

139
4. Regimen Terapeutik SP 4 Keluarga :
Inefektif Keluarga mampu Setelah 1 x Diskusikan bersama Menentukan
memahami pertemuan keluarga pentingnya tindakan
pentingnya diharapkan keluarga keluarga dalam menghargai selnajutnya
keluarga dalam mampu memahami nilai positif
menghargai nilai memahami
positif pentingnya keluarga
dalam menghargai
nilai positif
SP 4 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x 1. Jelaskan macam-macam 1. Meningkatkan
meningkatkan pertemuan tehnik meningkatkan kognitif keluarga
kesehatan klien diharapkan keluarga kesehatan: olahraga, makan dalam tehnik
mampu makanan sehat meningkatkan
meningkatkan kesehatan
kesehatan klien 2. Demonstrasikan cara 2. Menilai kemampuan
meningkatkan kesehatan keluarga
(perawat)
3. Demonstrasikan cara 3. Menilai kemampuan

140
meningkatkan kesehatan keluarga
(perawat dan keluarga
melakukan bersama)
4. Demonstrasikan cara 4. Menilai kemampuan
meningkatkan kesehatan keluarga
(keluarga melakukan secara
mandiri)
SP 4 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x Identifikasi bersama keluarga Agar klien melakukan
mendorong klien pertemuan keluarga untuk mendorong klien hal positif dan
untuk mampu mendorong berpartisipasi dalam bersosialisasi dengan
berpartisipasi klien untuk lingkungan kelompok lingkungan
dalam lingkungan berpartisipasi dalam
kelompok lingkungan
kelompok
5. Regimen Terapeutik SP 5 Keluarga :
Inefektif Keluarga mampu Setelah 1 x 1. Berikan informasi kepada 1. Memberikan
melakukan follow pertemuan keluarga tentang follow up semangat positif pada
up sebelum di diharapkan keluarga ke fasilitas kesehatan keluarga agar tetap

141
bawa ke RSJ mampu melakukan sebelum ke RSJ merawat klien.
follow up sebelum di
bawa ke RSJ 2. Beri reinforcement positif
pada keluarga klien
SP 5 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x 1. Jelaskan kepada keluarga 1. Meningkatkan
mengetahui pertemuan manfaat fasilitas kesehatan kognitif keluarga
pentingnya diharapkan keluarga 2. Jelaskan kepada keluarga 2. Meningkatkan
manfaat fasilitas mampu mengetahui prosedur dalam penggunaan kognitif keluarga
dan prosedur pentingnya manfaat fasilitas kesehatan
yang harus fasilitas dan prosedur
dilakukan yang harus dilakukan 3. Jelaskan kepada keluarga 3. Meningkatkan
keluarga keluarga alur penggunaan fasilitas kognitif keluarga
kesehatan
SP 5 Keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x Identifikasi bersama keluarga Mengetahui
mengkaji tentang pertemuan manfaat keberadaan kemampuan keluarga
keberadaan diharapkan keluarga puskesmas dalam perawatan dalam melakukan
puskesmas dalam mampu mengkaji klien kontrol klien ke fasilitas

142
perawatan klien tentang keberadaan kesehatan
puskesmas dalam
perawatan klien
SP 5 keluarga :
Keluarga mampu Setelah 1 x Jelaskan kepada keluarga Agar keluarga
memanfaatkan pertemuan manfaat puskesmas dan memanfaatkan
puskesmas dalam diharapkan keluarga anjurkan keluarga untuk puskesmas sebagai
perawatan klien mampu memanfaatkan puskesmas fasilitas kesehatan
memanfaatkan sebagai saran fasilitas sebelum ke RSJ
puskesmas dalam kesehatan sebelum ke RSJ
perawatan klien

143
3. Resiko Perilaku Kekerasan

Nama : Ny.S Ruangan : Dewandaru

Nomor RM : 0019xxx Diagnosa Medis : Skizofrenia

b. Rencana tindakan keperawatan pada klien resiko perilaku kekerasan

No Diagnose Tujuan Tindakan Keperawatan Rasional


Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
1 Resiko Perilaku SP 1 : 1. Diskusikan bersama Pengenalan terhadap
kekerasan a. Klien dapat Setelah 1x interaksi klien penyebab PK identifikasi PK
mengidentifikasi diharapkan klien 2. Diskusikan bersama mempermudah klien
penyebab, tanda dapat mengetahui, klien tanda dan gejala untuk dapat
dan gejala, PK memahami dan PK memahami terjadinya
yang dilakukan, mengenali penyebab, 3. Diskusikan bersama PK
akibat PK tanda dan gejala, PK klien mengenai PK
yang dilakukan dan yang dilakukan
akibat dari PK yang 4. Diskusikan bersama

144
dilakukan klien akibat dari PK
yang dilakukan
b. Klien dapat Setelah 1x interaksi 5. Berikan penjelasan 5. Beberapa cara yang
menjelaskan diharapkan klien pada klien cara dapat dilakukan
cara mengontrol dapat memahami mengontrol PK untuk mengontrol
PK dengan fisik, cara mengontrol PK dengan cara latihan PK
obat, verbal dan dengan fisik: Tarik fisik: Tarik nafas
spiritual nafas dalam,, dalam, memukul
memukul bantal dan bantal dan kasur
kasur, obat, verbal 6. Berikan penjelasan 6. Pengunaan obat
dan spiritual pada klien cara yang sesuai dosis
mengontrol PK dan cara mencegah
dengan cara adanya masalah
menggunakan obat baru
dengan 6 benar: jenis,
guna, dosis, frekuensi,
cara, kontinuitas obat
7. Berikan penjelasan 7. Mengajarkan
pada klien cara bagaimana

145
mengontrol PK berbicara yang baik
dengan cara verbal: dan tidak
meminta dengan baik, menimbulkan
menolak dengan baik, amarah
mengungkapkan
perasaan
8. Berikan penjelasan 8. Berdoa salah satu
pada klien cara cara untuk
mengontrol PK menenangkan
dengan cara spiritual: pikiran dan hati
berdoa sesuai dengan
keyakinannya
c. Klien dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pengetian 1. Nafas dalam dapat
melatih cara diharapkan klien mengontrol PK meningkatkan
mengontrol PK dapat mengontrol PK dengan fisik: tarik hormon endorfin
secara fisik yaitu dengan cara fisik nafas dalam dan sehingga
dengan Tarik yaitu dengan cara memukul bantal/ meningkatkan rasa
nafas dalam dan Tarik nafas dalam, kasur bahagia
pukul bantal/ memukul bantal/ 2. Jelaskan tujuan 2. Nafas dalam dapat

146
kasur kasur mengontrol PK meningkatkan
dengan cara fisik: hormon endorfin
tarik nafas dalam, sehingga
memukul bantal/ meningkatkan rasa
kasur bahagia
3. Jelaskan cara 3. Meningkatkan
mengontrol PK pemahaman akan
dengan fisik: tarik tujuan
nafas dalam,
memukul bantal/
kasur
4. Demonstrasikan cara 4. Memberikan
perawat mengontrol gambaran
PK dengan cara fisik: bagaimana cara
tarik nafas dalam, yang benar
memukul bantal/
kasur 5. Melatih
5. Redemonstrasikan kemampuan pasien
cara mengontrol PK

147
dengan fisik: tarik
nafas dalam dan
memukul bantal
bersama dengan klien
6. Anjurkan pasien 6. Menilai
mendemonstrasikan sejauhmana
ulang cara mengontrol kemampuan dan
PK dengan fisik: tarik pemahaman pasien
nafas dalam dan
memukul bantal
secara mandiri. 7. Memberikan respon
7. Beri pujian pada klien positif untuk
dalam menunjukkan meningkatkan
kemampuannya motivasi pasien
d. Klien dapat Setelah 1x interaksi Bantu klien memasukkan Jadwal harian
memasukkan diharapkan klien kegiatan mengontrol PK memaksimalkan
kegiatan mampu memasukkan dengan cara melakukan pengecekan
kedalam jadwal kegiatan latihan fisik: latihan fisik: tarik nafas berjalannya kegiatan
kegiatan harian tarik nafas dalam, dalam, memukul bantal dan dan mempermudah

148
memukul bantal dan kasur kedalam jadwal klien untuk melakukan
kasur kedalam kegiatan harian kegiatan
jadwal kegiatan
harian
SP 2 :
a. Klien dapat Setelah 1x interaksi 5. Evaluasi klien dalam Evaluasi kegiatan
mengevaluasi diharapkan klien melakukan mengontrol dapat meningkatkan
kegiatan latihan mampu PK dengan cara latihan motivasi klien dalam
fisik: tarik nafas mengevaluasi fisik: Tarik nafas dalam berlatih mengontrol
dalam, meukul kemampuan klien dan memukul bantal/ PK dengan cara
bantal/ kasur dalam mengontrol kasur melakukan kegiatan
PK dengan cara 6. Anjurkan klien latihan fisik
latihan fisik: tarik melakukan mengontrol
nafas dalam, PK dengan cara latihan
memukul bantal/ fisik: Tarik nafas dalam
kasur dan memukul bantal/
kasur secara mandiri
7. Berikan pujian pada
klien dalam

149
menunjukkan
kemampuan mengontrol
PK dengan cara latihan
fisik: tarik nafas dalam,
memukul bantal/ kasur
b. Klien dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pengertian 1. Penggunaan obat
melatih diharapkan klien penggunaan obat merupakan salah
mengontrol PK mampu memahami untuk mengontrol PK satu tindakan untuk
dengan obat mengontrol PK 2. Jelaskan tujuan mengontrol PK
dengan dengan menggunakan obat 2. Obat dapat
menggunakan menggunakan obat untuk mengontrol PK membantu
prinsip 6 benar dan sesuai dengan 6 mengontrol saraf
benar (jenis, guna, pada otak
dosis, frekuensi, cara, 3. Jelaskan cara 3. 6 benar merupakan
kontinuitas minum menggunakan obat kunci keberhasilan
obat) dengan 6 benar: penggunaan obat
g. Benar jenis yang aman
h. Benar guna 4.
i. Benar dosis

150
j. Benar frekuensi
k. Benar cara
l. Benar kontinuitas
4. Demonstrasikan cara
perawat menggunaan
obat dengan prinsip 6
benar
9. Redemonstrasikan
cara menggunakan
obat dengan prinsip 6
benar bersama dengan
klien
10. Anjurkan pasien
mendemonstrasikan
ulang cara mengontrol
PK menggunakan
obatdengan prinsip 6
benar secara mandiri.
11. Beri pujian pada klien

151
dalam menunjukkan
kemampuannya
c. Klien mampu Setelah 1x interaksi Bantu klien memasukkan Memasukkan kegiatan
memasukkan diharapakan klien kegiatan mengontrol PK kedalam jadwal harian
kegiatan mampu memasukkan dengan cara latihan fisik: mampu mengontrol
kedalam jadwal kegiatan kedalam tarik nafas dalam, memukul bahwa latihan kegiatan
kegiatan harian jadwal kegiatan bantal/ kasur dan telah dilakukan
klien harian klien menggunakan obat kedalam
jadwal kegiatan harian klien
SP 3 :
a. Klien dapat Setelah 1x interaksi 1. Evaluasi klien dalam Evaluasi kegiatan
mengevaluasi diharapkan klien melakukan mengontrol dapat meningkatkan
kegiatan latihan mampu PK dengan cara latihan motivasi klien dalam
fisik: tarik nafas mengevaluasi fisik: tarik nafas dalam, berlatih mengontrol
dalam, memukul kemampuan klien memukul bantal/ PK dengan cara
bantal/ kasur dalam mengontrol memukul kasur dan melakukan kegiatan
serta mengontrol PK dengan cara menggunakan obat sesuai latihan fisik: Tarik
PK dengan latihan fisik: tarik 6 benar nafas dalam, memukul
menggunakan nafas dalam, 2. Anjurkan klien bantal dan Kasur dan

152
obat sesai memukul bantal/ melakukan mengontrol menggunakan obat
dengan 6 benar kasur dan PK dengan cara latihan sesuai 6 benar
mengontrol PK fisik: tarik nafas dalam,
dengan menggunkan memukul bantal/
obat memukul kasur dan
menggunakan obat sesuai
6 benar secara mandiri
3. Berikan pujian pada
klien dalam
menunjukkan
kemampuan mengontrol
PK dengan cara latihan
fisik: Tarik nafas dalam,
memukul bantal dan
kasur dan mengontrol PK
dengan mengunkan obat
sesuai 6 benar

b. Klien dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pengertian Salah satu upaya untuk

153
melatih diharapkan klien mengontrol PK mengontrol PK
mengontrok PK mampu mengetahui dengan cara verbal:
secara verbal: dan memahami cara mengungkapkan,
mengungkapkan, mengontrol PK meminta dan menolak
meminta dan secara verbal: secara benar
menolak secara mengungkapkan, 2. Jelaskan tujuan
benar meminta, dan mengontrol PK
menolak secara benar dengan cara verbal:
mengungkapkan,
meminta dan menolak
secara benar
3. Jelaskan cara
mengontrol PK secara
verbal:
mengungkapkan,
meminta dan menolak
secara benar
4. Demonstrasikan
caraperawat

154
mengontrol PK secara
verbal:
mengungkapkan,
meminta dan menolak
secara benar
5. Redemonstrasikan
cara mengontrol PK
secara verbal:
mengungkapkan,
meminta dan menolak
secara benar bersama-
sama dengan klien
6. Anjurkan pasien
mendemonstrasikan
ulang cara mengontrol
PK dengan verbal:
mengungkapkan,
meminta, dan
menolak dengan

155
benar secara mandiri.
7. Beri pujian pada klien
dalam menunjukkan
kemampuannya
c. Klien mampu Setelah 1x interaksi Bantu klien memasukkan Memasukkan kegiatan
memasukkan diharapakan klien kegiatan mengontrol PK kedalam jadwal harian
kegiatan mampu memasukkan dengan cara latihan fisik: mampu mengontrol
kedalam jadwal kegiatan kedalam tarik nafas dalam, memukul bahwa latihan kegiatan
kegiatan harian jadwal kegiatan bantal/ kasur, menggunakan telah dilakukan
klien harian klien obat dengan 6 benar, dan
mengontrol PK secara verbal:
mengungkapkan, meminta
dan menolak dengan benar
SP 4 :
a. Klien dapat Setelah 1x interaksi 1. Evaluasi klien dalam Evaluasi kegiatan
mengevaluasi diharapkan klien melakukan dapat meningkatkan
kegiatan latihan mampu mengontrol PK motivasi klien dalam
fisik: tarik nafas mengevaluasi dengan cara latihan berlatih mengontrol
dalam, memukul kemampuan klien fisik: tarik nafas PK dengan cara

156
bantal/ kasur, dalam mengontrol dalam dan memukul melakukan kegiatan
mengontrol PK PK dengan cara bantal/ kasur, latihan fisik: Tarik
dengan latihan fisik: Tarik menggunakan obat nafas dalam, memukul
menggunakan nafas dalam, sesuai 6 benar dan bantal dan Kasur,
obat sesuai memukul bantal dan mengontrol PK secara menggunakan obat
dengan 6 benar Kasur, mengontrol verbal: sesuai 6 benar dan
dan mengontrol PK dengan mengungkapkan, mengontrol PK secara
PK secara menggunkan obat meminta dan menolak verbal:
verbal: sesuai 6 benar dan secara benar mengungkapkan,
mengungkapkan, mengontrol PK 2. Anjurkan klien meminta dan menolak
meminta dan secara verbal: melakukan dengan benar
menolak dengan mengungkapkan, mengontrol PK
benar meminta dan dengan cara latihan
menolak dengan fisik: tarik nafas
benar dalam dan memukul
bantal/ kasur,
menggunakan obat
sesuai 6 benar dan
mengontrol PK secara

157
verbal:
mengungkapkan,
meminta dan menolak
yang benar secara
mandiri
3. Berikan pujian pada
klien dalam
menunjukkan
kemampuan
mengontrol PK
dengan cara latihan
fisik: tarik nafas
dalam, memukul
bantal/ kasur,
mengontrol PK
dengan menggunakan
obat sesuai 6 benar
dan mengontrol PK
secara verbal:

158
mengungkapkan,
meminta dan menolak
dengan benar
b. Klien dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pengertian Spiritual merupakan
melatih diharapka klien mengontrol PK salah satu upaya
mengontrol PK mampu mengetahui dengan cara spiritual mengontrol PK
dengan cara dan memahami 2. Jelaskan tujuan
spiritual (2 mengontrol PK mengontrol PK
kegiatan) dengan cara spiritual dengan cara spiritual
3. Jelaskan cara
mengontrol PK secara
spiritual (2 kegiatan)
4. Demonstrasikan
caraperawat
mengontrol PK
dengan spiritual (2
kegiatan)
5. Redemonstrasikan
cara mengontrol PK

159
dengan cara spiritual
(2 kegiatan) bersama
dengan klien
6. Anjurkan pasien
mendemonstrasikan
ulang cara mengontrol
PK dengan spiritual (2
kegiatan)secara
mandiri.
7. Beri pujian pada klien
dalam menunjukkan
kemampuannya
c. Klien mampu Setelah 1x interaksi Bantu klien memasukkan Memasukkan kegiatan
memasukkan diharapakan klien kegiatan mengontrol PK kedalam jadwal harian
kegiatan mampu memasukkan dengan cara latihan fisik: mampu mengontrol
kedalam jadwal kegiatan kedalam tarik nafas dalam, memukul bahwa latihan kegiatan
kegiatan harian jadwal kegiatan bantal/ kasur, menggunakan telah dilakukan
klien harian klien obat secara 6 benar,
mengontrol PK secara verbal:

160
mengungkapkan, meminta
dan menolak dengan benar
serta mengontrol PK dengan
cara spiritual (2 kegiatan)
SP 5
a. Klien dapat Setelah 1x interaksi 1. Evaluasi klien dalam Evaluasi kegiatan
mengevaluasi diharapkan klien melakukan dapat meningkatkan
kegiatan latihan mampu mengontrol PK motivasi klien dalam
fisik: tarik nafas mengevaluasi dengan cara latihan berlatih mengontrol
dalam, memukul kemampuan klien fisik:tarik nafas dalam PK dengan cara
bantal/ kasur, dalam mengontrol dan memukul bantal/ melakukan kegiatan
mengontrol PK PK dengan cara kasur, menggunakan latihan fisik: Tarik
dengan latihan fisik: tarik obat sesuai 6 benar nafas dalam, memukul
menggunakan nafas dalam, dan mengontrol PK bantal dan Kasur,
obat sesuai memukul bantal/ secara verbal: menggunakan obat
dengan 6 benar, kasur, mengontrol mengungkapkan, sesuai 6 benar dan
mengontrol PK PK dengan meminta dan menolak mengontrol PK secara
secara verbal: menggunkan obat secara benar, dan verbal:
mengungkapkan, sesuai 6 benar dan mengontrol PK mengungkapkan,

161
meminta dan mengontrol PK dengan cara spiritual meminta dan menolak
menolak dengan secara verbal: (2 kegiatan) dengan benar, dan
benar dan mengungkapkan, 2. Anjurkan klien mengontrol PK
mengontrol PK meminta dan melakukan dengan cara spiritual
secara spiritual menolak dengan mengontrol PK (2 kegiatan)
(2 kegiatan) benar dan dengan cara latihan
mengontrol PK fisik:tarik nafas dalam
dengan spiritual (2 dan memukul bantal/
kegiatan) kasur, menggunakan
obat sesuai 6 benar
dan mengontrol PK
secara verbal:
mengungkapkan,
meminta dan menolak
secara benar, dan
mengontrol PK
dengan cara spiritual
(2 kegiatan) secara
mandiri

162
3. Berikan pujian pada
klien dalam
menunjukkan
kemampuan
mengontrol PK
dengan cara latihan
fisik: tarik nafas
dalam, memukul
bantal/ kasur,
mengontrol PK
dengan menggunakan
obat sesuai 6 benar,
mengontrol PK secara
verbal:
mengungkapkan,
meminta dan menolak
dengan benar dan
mengontrol PK
dengan cara spiritual

163
(2 kegiatan)
b. Klien mampu Setelah 1x interaksi Nilai kemampuan mandiri Menilai dan memantau
menilai kegiatan diharapkan klien yang sudah dicapai klien perkembangan klien
yang telah dapat memiliki kegiatan yang dapat
dilakukan secara kemampuan yang dilakukan klien secara
mandiri telah dapat dilakukan mandiri
secara mandiri.
Klien mampu menilai Setelah 1x interaksi Nilai kemampuan klien Menilai dan memantau
apakah PK sudah diharapkan PK klien dalam mengontrol PK perkembangan klien
terkontrol sudah terkontrol dalam mengontrol PK

164
b. Rencana keperawatan pada keluarga pada klien Risiko Perilaku Kekerasan

No Diagnosa Tujuan Rencana Tindakan Rasional


Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
1 Resiko SP 1:
perilaku a. Keluarga mampu Setelah 1x diharapkan Diskusikan bersama keluarga Untuk mengetahui
kekerasan mendiskusikan interaksi keluarga tentang masalah-masalah permasalahan yang
masalah yang memahami masalah yang dihadapi keluarga dihadapi oleh
dihadapi keluarga yang dirasakan dalam selama merawat klien. keluarga selama
dalam merawat merawat klien. merawat klien.
klien
b. Keluarga mampu Setelah 1x interaksi Diskusikan dengan keluarga Memberikan
menjelaskan diharapkan keluarga tentang pengertian, tanda dan pemahaman pada
pengertian mampu mehamami gejala serta proses terjadinya keluarga tentang
halusinasi, tanda pengertian, tanda dan PK pengertian, tanda dan
dan gejala serta gejala serta proses gejala serta proses
proses terjadinya terjadinya PK pada terjadinya PK
PK klien.

165
c. Keluarga mampu Setelah 1x interaksi Berikan penjelasan pada Sebagai bekal
menjelaskan cara diharapkan keluarga keluarga mengenai cara pemahaman keluarga
merawat PK mampu mengetahui dan merawat klien PK dalam merawat klien
memahami cara merawat PK
klien PK
d. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pada Latihan fisik
melatih cara diharpkan keluarga keluarga pengertian merupakan salah satu
merawat klien mampu mengetahui dan melakukan kegiatan upaya yang
dengan melakukan memahami cara fisik saat terjadi PK digunakan untuk
kegiatan fisik: melakukan kegiatan fisik 2. Jelaskan pada merawat klien PK
tarik nafas dalam, yang benar keluarga tujuan saat terjadi PK
memukul bantal melakukan kegiatan
dan kasur fisik saat terjadi PK
3. Jelaskan pada
keluarga cara
melakukan kegiatan
fisik saat terjadi PK:
nafas dalam dan
memukul bantal/

166
kasur
4. Demonstrasikan
bersama keluarga
cara melakukan
kegiatan fisik saat
terjadi PK
5. Redemonstrasikan
cara melakukan
kegiatan fisik saat
terjadi PK bersama
dengan keluarga
6. Anjurkan keluarga
mendemonstrasikan
ulang cara
mengontrol PK
dengan fisik: tarik
nafas dalam dan
memukul bantal
secara mandiri.

167
e. Keluarga mampu Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan
membantu klien diharapkan keluarga membantu klien kegiatan kedalam
memasukkan mampu membantu klien memasukkan kegiatan latihan jadwal dapat
kegiatan memasukkan kegiatan fisik kedalam jadwal memastikan kegiatan
kedalam jadwal harian kegiatan harian klien dan harian klien telah
klien memberikan pujian kepada dilakukan
klien
SP 2 :
a. Keluarga mampu Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan
mengevaluasi interaksi diharapkan keluarga cara motivasi keluarga
kegiatan dalam keluarga mampu keluarga dalam merawat klien
membimbing klien mengevaluasi kegiatan membimbing klien
melaksanakan dalam membimbing dalam melaksanakan
kegiatan klien dalam kegiatan latihan fisik:
mengontrol PK melaksanakan kegiatan tarik nafas dalam,
dengan cara latihan fisik: Tarik nafas memukul bantal/
latihan fisik: tarik dalam, memukul bantal kasur
nafas dalam, dan kasur serta dapat 2. Anjurkan keluarga
memukul bantal memberikan pujian pada untuk melakukan

168
dan Kasur. klien dengan bagaimana cara
Memberikan kemampuan yang keluarga
pujian pada klien dimiliki klien. membimbing klien
dalam melaksanakan
kegiatan latihan fisik:
tarik nafas dalam,
memukul bantal/
kasur secara mandiri
3. Berikan pujian pada
keluarga atas
kemampuan yang
diperagakan
b. Keluarga mampu Setelah 1x interaksi Berikan penjelasan pada Menambah kognitif
menjelaskan 6 diharapkan keluarga keluarga mengenai 6 benar keluarga serta sebagai
benar cara mampu mengetahui dan cara pemberian obat: jenis, bekal pemahaman
memberikan obat memahami 6 benar cara guna, dosis, frekuensi, cara, keluarga dalam
memberikan obat kontinuitas merawat klien dalam
memberikan obat
c. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pada Penggunaan obat

169
melatih cara diharapkan keluarga keluarga pengertian merupakan salah satu
memberikan atau mampu mengetahui dan pemberian obat tindakan untuk
membimbing cara memahami cara untuk PK mengontrol PK
minum obat pada memberikan atau 2. Jelaskan pada
klien membimbing klien keluarga tujuan
minum obat memberikan obat
untuk PK
3. Jelaskan cara
memberikan obat
dengan 6 benar:
a. Benar jenis
b. Benar guna
c. Benar dosis
d. Benar frekuensi
e. Benar cara
f. Benar kontinuitas
4. Demonstrasikan cara
perawat memberikan
obat kepada keluarga

170
5. Redemonstrasikan
cara penggunaan obat
bersama dengan
keluarga
6. Anjurkan keluarga
mendemonstrasikan
ulang cara
mengontrol PK
dengan pemberian
obat dengan 6 benar
secara mandiri.
d. Keluarga mampu Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan
membantu klien diharapkan keluarga membantu klien kegiatan kedalam
dalam mampu membantu klien memasukkan kegiatan latihan jadwal dapat
memasukkan dalam memasukkan fisik dan cara memberikan memastikan kegiatan
kegiatan kedalam kegiatan kedalam jadwal obat kedalam jadwal harian klien telah
jadwal kegiatan kegiatan harian klien kegiatan harian klien dan dilakukan
harian klien memberikan pujian pada
klien

171
SP 3:
a. Keluarga mampu Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan
mengevaluasi interaksi diharapkan keluarga cara motivasi keluarga
kegiatan dalam keluarga mampu keluarga dalam merawat klien
membimbing klien mengevaluasi kegiatan membimbing klien
melaksanakan dalam membimbing dalam melaksanakan
kegiatan klien dalam kegiatan latihan fisik:
mengontrol PK melaksanakan kegiatan Tarik nafas dalam,
dengan cara latihan fisik: Tarik nafas memukul bantal/
latihan fisik: Tarik dalam, memukul bantal kasur dan
nafas dalam, dan kasur dan memberikan obat
memukul bantal memberikan obat sesuai sesuai dengan 6 benar
dan Kasur dan 6 benar serta dapat 2. Anjurkan keluarga
memberikan obat memberikan pujian pada melakukan
sesuai 6 benar klien dengan bagaimana cara
kemampuan yang keluarga
dimiliki klien. membimbing klien
dalam melaksanakan

172
kegiatan latihan fisik:
Tarik nafas dalam,
memukul bantal/
kasur dan
memberikan obat
sesuai dengan 6 benar
secara mandiri
3. Berikan pujian pada
keluarga atas
kemampuan yang
diperagakan
b. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pada Kegiatan latihan
melatih klien cara klien dapat mengetahui kelaurga pengertian bicara yang baik
bicara yang baik dan memahami cara melakukan cara mampu melatih klien
melatih bicara yang baik berbicara yang baik dalam melakukan
pada klien 2. Jelaskan pada komunikasi yang
keluarga tujuan baik
melakukan kegiatan
latihan bicara yang

173
baik
3. Jelaskan cara
melakukan latihan
bicara yang baik
4. Demonstrasikan cara
perawat melakukan
kegiatan latihan
bicara yang baik
kepada keluarga
5. Redemonstrasikan
melakukan kegiatan
latihan bicara yang
baik bersama dengan
keluarga
6. Anjurkan keluarga
mendemonstrasikan
ulang cara
mengontrol PK
dengan melakukan

174
latihan bicara yang
baik secara mandiri.
c. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi 1. Jelaskan pada Meningkatkan
melatih cara klien dapat mengetahui keluarga pengertian motivasi keluarga
melakukan dan memahami cara melakukan kegiatan dalam merawat klien
kegiatan spiritual melatih melakukan spiritual
kegiatan spiritual 2. Jelaskan pada
keluarga tujuan
melakukan kegiatan
spiritual
3. Jelaskan cara
melakukan kegiatan
spiritual
4. Demonstrasikan cara
perawatmelakukan
kegiatan spiritual
kepada keluarga
5. Redemonstrasikan
melakukan kegiatan

175
spiritual bersama
dengan keluarga
6. Anjurkan keluarga
mendemonstrasikan
ulang cara
mengontrol PK
dengan spiritual
secara mandiri.
d. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan
membantu diharapkan keluarga membantu klien kegiatan kedalam
memasukkan mampu membantu klien memasukkan kegiatan latihan jadwal dapat
kegiatan kedalam dalam memasukkan fisik: nafas dalam dan memastikan kegiatan
jdwal kegiatan kegiatan kedalam jadwal memukul bantal, cara harian klien telah
harian kegiatan harian klien memberikan obat sesuai 6 dilakukan
benar, kegiatan latihan bicara
yang baik, latihan cara
melakukan spiritual kedalam
jadwal kegiatan harian klien
dan memberikan pujian

176
kepada klien
SP 4 :
a. Keluarga mampu Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan
mengevaluasi interaksi diharapkan keluarga cara motivasi keluarga
kegiatan dalam keluarga mampu keluarga dalam merawat klien
membimbing klien mengevaluasi kegiatan membimbing klien
melaksanakan dalam membimbing dalam melaksanakan
kegiatan klien dalam kegiatan latihan fisik:
mengontrol PK melaksanakan kegiatan tarik nafas dalam,
dengan cara latihan fisik: Tarik nafas memukul bantal/
latihan fisik: Tarik dalam, memukul bantal kasur dan
nafas dalam, dan Kasur, cara memberikan obat
memukul bantal/ memberikan obat sesuai sesuai dengan 6
kasur, latihan cara 6 benar, latihan bicara benar, latihan cara
memberikan obat yang baik, latihan bicara yang baik,
sesuai 6 benar, melakukan spiritual serta latihan melakukan
latihan cara bicara dapat memberikan spiritual
yang baik dan pujian pada klien dengan 2. Anjurkan keluarga
latihan melakukan kemampuan yang melakukan

177
spiritual dimiliki klien. bagaimana cara
keluarga
membimbing klien
dalam melaksanakan
kegiatan latihan fisik:
tarik nafas dalam,
memukul bantal/
kasur dan
memberikan obat
sesuai dengan 6
benar, latihan cara
bicara yang baik,
latihan melakukan
spiritual secara
mandiri
3. Berikan pujian pada
keluarga atas
kemampuan yang
diperagakan

178
b. Keluarga mampu Setelah 1x interaksi Berikan penjelasan pada Mempersiapkan
menjelaskan diharapkan keuarga keluarga pentingnya follow keluarga setelah klien
follow up ke RSJ, mampu memahami up ke RSJ, rujukan dan pulang
tanda kambuh dan follow up ke RSJ, tanda mengenali tanda kambuh
rujukan kambuh dan rujukan setelah klien pulang
setelah klien pulang

c. Keluarga mampu Setelah 1x interaksi Anjurkan keluarga Memasukkan


membantu klien diharapkan keluarga membantu klien kegiatan kedalam
dalam mampu membantu klien memasukkan kegiatan jadwal dapat
memasukkan dalam memasukkan mengontrol PK dengan cara memastikan kegiatan
kegiatan kedalam kegiatan kedalam jadwal latihan fisik, 6 benar harian klien telah
jadwal kegiatan kegiatan harian klien memberikan obat, latihan dilakukan
harian klien bicara yang baik dan
melakukan kegiatan spiritual
kedalam jadwal kegiatan
harian klien dan memberikan
pujian kepada klien
SP 5 :

179
a. Keluarga mampu Setelah dilakukan 1x 1. Diskusikan bersama Meningkatkan
mengevaluasi interaksi diharapkan keluarga cara motivasi keluarga
kegiatan dalam keluarga mampu keluarga dalam merawat klien
membimbing klien mengevaluasi kegiatan membimbing klien
melaksanakan dalam membimbing dalam melaksanakan
kegiatan klien dalam kegiatan latihan fisik:
mengontrol PK melaksanakan kegiatan tarik nafas dalam,
dengan cara latihan fisik: Tarik nafas memukul bantal/
latihan fisik: Tarik dalam, memukul bantal kasur, memberikan
nafas dalam, dan Kasur, cara obat sesuai dengan 6
memukul memberikan obat sesuai benar, latihan cara
bantal/kasur, 6 benar, latihan bicara bicara yang baik,
latihan cara yang baik, latihan latihan melakukan
memberikan obat melakukan spiritual serta spiritual dan follow
sesuai 6 benar, dapat memberikan up
latihan cara bicara pujian pada klien dengan 2. Anjurkan keluarga
yang baik dan kemampuan yang melakukan
latihan melakukan dimiliki klien. bagaimana cara
spiritual keluarga

180
membimbing klien
dalam melaksanakan
kegiatan latihan fisik:
tarik nafas dalam,
memukul bantal/
kasur, memberikan
obat sesuai dengan 6
benar, latihan cara
bicara yang baik,
latihan melakukan
spiritual dan follow
up secara mandiri
3. Berikan pujian pada
keluarga atas
kemampuan yang
diperagakan
b. Keluarga dapat Setelah 1x interaksi Berikan penilaian pada Penilaian pada
menilai diharapkan keluarga keluarga cara membimbing keluarga mampu
kemampuan dalam mampu menilai klien dalam melaksanakan meningkatkan

181
membimbing klien kemampuan kegiatan dalam merawat motivasi keluarga
melakukan membimbing klien keluarga dengan melakukan dalam merawat klien
kegiatan merawat dalam merawat klien kegiatan mengontrol
klien mengontrol dengan melakukan halusinasi
PK kegiatan mengontrol PK
c. Keluarga mampu Setelah 1x interaksi Berikan penilaian pada Penilaian pada
menilai diharapkan keluarga keluarga dan pantau keluarga keluarga mampu
kemampuan mampu memahami dalam melakukan control ke meningkatkan
melakukan control pentingnya melakukan RSJ motivasi keluarga
ke RSJ control ke RSJ dalam merawat klien

182
183

E. Catatan Perkembangan (Evaluasi dan Implementasi )


Nama :Ny.S Ruangan : Dewandaru
Nomor RM :019xxx Diagnosa Medis :Skizofrenia

Hari,tan Dx Kep Tindakan Evaluasi Paraf


ggal/ Tujuan Keperawatan Keperawatan dan
jam nama
Kamis, Halusinasi 1. Observasi tingkah laku S:
3 Januari Pendengaran klien terkait dengan  Klien
2019 SP 1 halusinasi.Jika mengatakan
10.00 menemukan klien sedang sudah jarang
WIB – berhalusinasi : Tanyakan mendengar
10.15 sesuatu yang dialami suara-suara
WIB klien tentang bisikan yang
halusinasinya dikatakan laki-
2. Diskusikan tingkah laku laki
klien terkait halusinasi  Klien
yang dialami mengatakan
 Diskusikan bersama suara itu
klien tentang isi mengatakan
halusinasi yang sedang bahwa ia harus
dialami klien mandi dan
 Berikan kesempatan sholat
kepada klien untuk  Klien
mengungkapkan mengatakan
perasaannya suara muncul
 Diskusikan dengan saat ia sendirian
klien tentang frekuensi  Klien
terjadinya halusinasi mengatakan
(sering,hanya sekali suara muncul
184

atau kadang-kadang) diwaktu yang


 Diskusikan dengan tidak pasti
klien tentang waktu  Klien
terjadinya halusinasi mengatakan
(pagi,siang,sore,malam saat suara
) muncul ia
 Diskusikan dengan mengikutinya
klien tentang  Klien
situasi/kondisi yang mengatakan
menimbulkan responnya saat
terjadinya halusinasi mendengar
 Diskusikan dengan suara itu marah
klien apa yang
dirasakan jika terjadi
O:
halusinasi dan beri
 Klien mau
kesempatan kepada
mengungkapk
klien untuk
an
mengungkapkan
perasaannya
perasaannya
dan kejadian
 Diskusikan dengan
yang dialami
klien apa yang akan
 Klien dapat
dilakukan untuk
mengidentifik
mengatasi perasaan
asi halusinasi
tersebut
 Klien tenang,
 Diskusikan bersama
kooperatif
dengan klien cara atau
 Suara klien
tindakan yang
pelan jelas
diharapkan jika
 Klien mampu
halusinasi terjadi
mengontrol
 Jika cara yang
halusinasi
185

dilakukan adaftif dengan cara


,berikan pujian. menghardik
 Jika cara yang  Klien mampu
digunakan tidak adaftif memasukan
(maladaftif) diskusikan kegiatan
kerugiannya menghardik
3. Mendiskusikan dengan pada jadwal
klien cara mengontrol kegiatan.
halusinasi yaitu :
 Menghardik A:
 Minum obat  SP 1 PSP :
 Bercakap-cakap Halusinasi
 Melakukan kegiatan Pendengaran
4. Menjelaskan cara tercapai
mengontrol halusinasi  Klien mampu
dengan menghardik mengontrol
 Menjelaskan tujuan, halusinasi
cara, manfaat dengan
mengontrol halusinasi menghardik
dengan menghardik
P:
 Demonstrasikan cara
 Perawat :
mengontrol halusinasi
Lanjutkan SP 2
dengan cara
Halusinasi
menghardik
yaitu
 Lakukan cara
mengontrol
menghardik bersama
halusinasi
dengan klien
dengan obat
 Minta klien melakukan
 Klien : Tetap
cara menghardik
melakukan /
sendiri
berlatih cara
186

 Berikan pujian pada menghardik dan


klien memasukkan ke
5. Bantu klien dalam dalam jadwal
membuat jadwal kegiatan kegiatan

Jum’at 4 Halusinasi 1. Mengevaluasi kegiatan S:


Januari Pendengaran menghardik  Klien
2019 SP 2  Minta klien untuk mengatakan
09.00 menjelaskan lupa bagaimana
WIB – tujuan,cara dan menghardik
09.10 manfaat menghardik halusinasi
WIB  Minta klien untuk  Klien
melakukan cara mengatakan
menghardik tidak
 Cek jadwal kegiatan melakukan
klien. Beri pujian hardik
O:
 Klien tidak
dapat
melakukan cara
menghardik
 Klien
kooperatif,
tenang

A:
 SP 1 Halusinasi
Pendengaran
(menghardik )
belum tercapai.
187

P:
 Perawat :
Ulangi SP 1
Halusinasi
(menghardik)
 Klien :Berlatih
cara
menghardik
Jumat, 4 Halusinasi 1. Observasi tingkah laku S:
Januari Pendengaran klien terkait dengan  Klien
2019 SP 1 halusinasi.Jika mengatakan isi
13.30 – menemukan klien sedang suara itu
13.45 berhalusinasi : Tanyakan menyuruhnya
WIB sesuatu yang dialami untuk sholat
klien tentang  Klien
halusinasinya mengatakan
2. Diskusikan tingkah laku suara itu
klien terkait halusinasi seperti suara
yang dialami laki-laki 1
 Diskusikan bersama orang
klien tentang isi  Klien
halusinasi yang sedang mengatakan
dialami klien suara itu
 Berikan kesempatan akhir-akhir ini
kepada klien untuk sering muncul
mengungkapkan  Klien
perasaannya mengatakan
 Diskusikan dengan saat
klien tentang frekuensi mendengar
terjadinya halusinasi suara ia marah
188

(sering,hanya sekali dan mengikuti


atau kadang-kadang) suara itu
 Diskusikan dengan  Klien
klien tentang waktu mengatakan
terjadinya halusinasi suara itu tiba-
(pagi, siang, sore, tiba muncul
malam) tanpa ada
 Diskusikan dengan sebab
klien tentang  Klien
situasi/kondisi yang mengatakan
menimbulkan saat
terjadinya halusinasi mendengar
 Diskusikan dengan suara itu susah
klien apa yang untuk menolak
dirasakan jika terjadi
halusinasi dan beri O:
kesempatan kepada  Klien dapat
klien untuk mengidentifik
mengungkapkan asi suara
perasaannya bisikan dengan
 Diskusikan dengan jelas
klien apa yang akan  Klien tenang,
dilakukan untuk kooperatif
mengatasi perasaan  Klien tampak
tersebut pandangan
 Diskusikan bersama sedikit
dengan klien cara atau kosong,
tindakan yang ekspresi datar
diharapkan jika  Klien dapat
halusinasi terjadi melakukan
189

 Jika cara yang cara


dilakukan adaftif menghardik
,berikan pujian. dengan benar.
 Jika cara yang
digunakan tidak adaftif A:
(maladaftif) diskusikan  SP 1
kerugiannya halusinasi
3. Mendiskusikan dengan dapat tercapai
klien cara mengontrol  Klien dapat
halusinasi yaitu : melakukan
 Menghardik cara
 Minum obat menghardik
 Bercakap-cakap dengan benar

 Melakukan kegiatan
4. Menjelaskan cara P:

mengontrol halusinasi  Perawat :


dengan menghardik lanjut SP 2

 Menjelaskan tujuan, dengan obat

cara, manfaat  Pasien :


mengontrol halusinasi mampu
dengan menghardik melakukan

 Demonstrasikan cara cara

mengontrol halusinasi menghardik.

dengan cara
menghardik
 Lakukan cara
menghardik bersama
dengan klien
 Minta klien melakukan
cara menghardik
190

sendiri
 Berikan pujian pada
klien
5. Bimbing klien dalam
membuat jadwal
kegiatan
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Halusinasi adalah gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu
yang sebenarnya tidak terjadi, suatu percakapan panca indera tanpa ada
rangsangan dari luar. Pengkajian yang dilakukan pada Ny.S penulis
menemukan data sebagai berikut, pasien mengatakan sering mendengarkan
bisikan yang menyuruhnya untuk mandi dan dipimpin urutan mandinya.
Diagnosa keperawatan yang menjadi inti masalah yang didapat pada Ny.S
adalah perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran. Rencana
tindakan yang dilakukan pada Ny. S dengan perubahan sensori persepsi :
halusinasi pendengaran adalah mengidentifikasi halusinasi : jenis, isi,
frekuensi, waktu terjadi ,situasi pencetus, perasaan/respon dan fase,
menjelaskan cara mengontrol halusinasi dengan menghardik,minum obat
dengan prinsip 6 benar dan rutin, bercakap-cakap, melakukan kegiatan.
Selama 2 hari asuhan keperawatan pasien hanya mampu mencapai SP 1
halusinasi yaitu mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan pada bab sebelumnya, kami mengajukan beberapa
saran untuk dijadikan bahan evaluasi antara lain :
1. Untuk Keluarga
Keluarga merupakan faktor pendukung berhasilnya perkembangan
psikis klien. Keluarga mempunyai peran penting dalam pemberian
support sistem bagi klien. Diharapkan keluarga mengunjungi klien di
RS secara teratur sehingga memotivasi klien dalam penyembuhan.
2. Untuk Perawat
Bagi perawat lebih sering melakukan Terapi Individu dan Terapi
Aktifitas Kelompok agar proses penyembuhan pasien lebih cepat.

190
DAFTAR PUSTAKA

Arif, Iman Setiadi. 2009. Skizofresia : Memahami Dinamika Keluarga Pasien.


Bandung : Refika Aditama
Asmadi, Alsa. 2011. Pendekatan Kuantitatif Dan Kualitatif Serta Kombinasinya
Dalam Penelitian Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Hartono, Yudi. 2012. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika
Hawari, Dadang. 2011. Manajemen Stress Cemas dan Depresi. Jakarta: FKUI
Maramis, Willy F. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2. Surabaya : Air
Langga University Press
Notosoedirdjo & Latipun. 2009. Kesehatan Mental, Konsep Dan Penerapan.
Jakarta : EGC
Riskesdas 2013
Stuart, G. W. 2013. Psyciatric Nursing Edisi 10. Jakarta : EGC
Videbeck, Sheila. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Yosep, Iyus H. 2014. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Bandung : PT Refika
Aditama
LAMPIRAN