Anda di halaman 1dari 28

A.

Organisasi Pembibitan

1. Maksud Dan Tujuan Organisasi Pembibitan


Organisasi merupakan proses kerja sama dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan
organisasi secara efektif dan efesien, definisi ini bersifat umum dan berlaku bagi semua
organisasi.

Pengertian organisasi adalah wadah untuk sekelompuk individu untuk berinteraksi dalam
wewenang tertentu. Organisasi yang dibentuk terdiri dari berbagai kelompok yang
memiliki kepentingan bersama untuk mencapai tujuan tertentu secara bersama.

Dengan bekerja sama dengan yang lain maka pekerjaan


akan terasa lebih ringan. Selain itu pekerjaan atau tugas
akan lebih cepat terselesaikan dibandingkan kita hanya
bekerja seorang diri.

Fungsi pengorganisasian berkaitan erat dengan fungsi perencanaan, karena


pengoganisasianpun harus direncanakan

pengoganisasian dapat diartikan penentuan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan,


pengelompokan tugas-tugas dan membagi-bagikan pekerjaan kepada setiap karyawan,
penetapan kelompok-kelompok pekerjaan serta penentuan habungan-hubungan.

Organisasi pada dasarnya merupakan tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul,
bekerjasama secara rasional dan sistematis, terkendali, dengan memanfaatkan sumber
daya (dana, material, lingkungan, metode, sarana, prasarana, data) dan lain sebagainya
yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan bersama.

Unsur-unsur Organisasi

1
Organisasi memiliki unsur-unsur tertentu, yaitu :

 Sebagai wadah atau tempat untuk bekerja sama, artinya : Organisasi pembibitan
merupakan suatu wadah atau tempat dimana orang-orang dapat bersama untuk
memproduksi bibit yang bermutu.

 Proses kerja sama antar dua orang atau lebih, artinya : Organisasi pembibitan, selain
merupakan tempat kerja sama juga merupakan proses kerja sama sedikitnya antar dua
orang atau lebih secara bersama melakukan kegiatan produksi bibit.

 Jelas tugas kedudukannya masing-masing, artinya : Dengan adanya organisasi maka


tugas dan kedudukan masing-masing orang atau pihak akan lebih jelas

 Ada tujuan tertentu, artinya : Betapa pentingnya kemampuan mengorganisasi bagi


seorang manajer. Suatu perencana yang kurang baik tetapi organisasinya baik akan
cenderung lebih baik hasilnya dari pada perencanaan yang baik tetapi organisasi tidak
baik.

Fungsi Organisasi
Dalam mencapai maksud dan tujuan organisasi persemaian, ada 4 fungsi organisasi yang
sangat perlu diperhatikan berkaitan dengan manajemen organisasi, yakni:

a. perencanaan
Hal yang berkaitan dengan perencanaan dalam organisasi pembibitan diantaranya dalah
rencana-rencana yang disusun oleh pengelola persemaian, seperti rencana kerja atau
kegiatan, anggaran yang diperlukan, dan teknis pelaksanaannya.

2
b. Pengaturan
Dalam hal pengaturan, unsur yang perlu diperhatikan & diwujudkan adalah :
- Struktur Organisasi mampu menunjukkan bagaimana hubungan antara
organisasi/bagian/seksi yang satu dengan yang lain.
- Uraian tugas yang jelas yang mampu menjelaskan tugas masing-masing bagian.
- Bentuk Koordinasi antar bagian dalam organisasi.
- Penataan dan Pendataan Arsip & Inventaris Organisasi harus diatur dan ditata
dengan baik administrasi organisasi, seperti surat masuk, surat keluar, laporan-
laporan, proposal keluar, data anggota,, absensi, hasil rapat, inventarisasi yang
dimiliki, perangkat yang dipinjam dll.

c. pelaporan
Pelaporan merupakan unsur wajib yang harus dilakukan untuk menunjukkan sikap & rasa
tanggung jawab dari masing-masing bidang pengurus kepada anggotanya ataupun kepada
struktur yang berada diatasnya. Contoh :
- Laporan Perkembangan Kegiatan atau
- Laporan Pertanggung Jawaban Kegiatan

4. pengawasan
Tugas organisasi ataupun pimpinan organisasi yang tidak boleh terlewatkan adalah
melakukan pengawasan terhadap aktifitas organisasi ataupun realisasi kegiatan dan
penggunaan anggaran.

2. Struktur Organisasi Pembibitan

Struktur Organisasi pembibitan adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian
yang ada pada persemaian atau perusahaan pembibitan dalam menjalankan kegiatan
operasional. Struktur Organisasi menggambarkan dengan jelas pemisahan kegiatan
pekerjaan antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana hubungan aktivitas dan fungsi
dibatasi. Dalam struktur organisasi yang baik harus menjelaskan hubungan wewenang
siapa melapor kepada siapa.

4 Elemen Struktur Organisasi pembibitan yaitu :

3
1. Adanya spesialisasi kegiatan kerja
2. Adanya standardisasi kegiatan kerja
3. Adanya koordinasi kegiatan kerja
4. Besaran seluruh organisasi.

Struktur organisasi pembibitan merupakan alat untuk membantu manajemen dalam


mencapai tujuannya. Struktur organisasi pembibitan menjelaskan bagaimana tugas kerja
akan dibagi, dikelompokkan dan dikoordinasikan secara formal.

Fungsi struktur organisasi


Fungsi struktur organisasi yaitu :
Kejelasan Tanggung Jawab. Setiap anggota organisasi harus bertanggung jawab atas apa
yang harus dipertanggung jawabkan. Setiap anggota organisasi harus bertanggung jawab
kepada pimpinan atau atasan yang memberikan kewenangan, karena pelaksanaan
kewenangan itu yang harus dipertanggungjawabkan. Kejelasan yang dimaksud adalah :
a. Kejelasan Kedudukan. Kejelasan kedudukan seseorang dalam struktur organsisasi
sebenarnya mempermudah dalam melakukan koordinasi maupun hubungan karena
adanya keterkaitan penyelesaian suatu fungsi yang dipercayakan kepada seseorang.
b. Kejelasan Uraian Tugas. Kejelasan uraian tugas dalam struktur organisasi sangat
membantu pihak pimpinan untuk melakukan pengawasan dan pengendalian, dan bagi
bawahan akan dapat berkonsentrasi dalam melaksanakan suatu pekerjaan karena
uraiannya yang jelas.
c. Kejelasan Jalur Hubungan. Dalam rangka pelaksaan tugas dan tanggung jawab setiap
karyawan atau pegawai dalam sebuah organisasi, maka dibutuhka kejelasan
hubungan yang tergambar dalam struktur, sehingga jalur penyelesaian pekerjaan
akan semakin efektif dan dapat saling menguntungkan.
Yang perlu mendapat perhatian dalam mengisi struktur organisasi adalah orang/karyawan
yang memiliki kompentensi yang sesuai dengan jenis tugas dalam bagian-bagian tugas
atau pekerjaan pada struktur tersebut.
Penggolongan aktivitas dalam struktur dapat kita bagi menjadi empat unsur :
a)unsur pimpinan
b)unsur pembantu pimpinan
c)unsur pelakasana tugas pokok
d)unsur pelaksana tugas-tugas fungsional

4
contoh :

Manager
Persermaia
nn Pelaksana ADM
dan
Keuangan

Pelaksana PelaksanaT
Sarana dan Prasarana
eknis
Persemaian

Mandor Mandor Mandor Mandor Mandor


Sarana Prasaran Penyiapan Produksi dan Distribusi bibit
a Pemeliharaan Bibit

Regu Regu Regu Regu Regu

Uraian tugas petugas/personalia persemaian/pembibitan

No Jabatan Uraian tugas

1. Manager Persemaian bertugas dan bertanggung jawab terhadap


operasional pengelolaan persemaian
permanen
2. Pelaksana ADM dan Keuangan bertugas dan bertanggungjawab terhadap
tata persuratan, administrasi keuangan
dan administrasi barang milik Negara
3. Pelaksana Sarana dan Prasarana bertugas dan bertanggungjawab terhadap
operasional, pemeliharaan dan
pengamanan sarana dan prasarana,
dibantu oleh mandor.
4. Pelaksana Teknis Persemaian bertugas dan bertanggungjawab terhadap
operasional pembuatan bibit dibantu oleh
mandor
5. Mandor Sarana Prasarana Mengawasi regu kerja dalam penggunaan
sarana persemaian
6. Mandor Produksi Bibit Mengawasi regu pekerja dalam penyiapan

5
media
7. Mandor Pemeliharaan Bibit Mengawasi pelaksanaan produksi dan
pemeliharaan bibit
8. Mandor Distribu§l Bibit Mengawasi pelaksanaan pendistribusian
bibit

B. Tata Usaha Pembibitanibit

Tata usaha yaitu suatu rangkaian aktivitas menghimpun, mencatat, mengelola,


mengadakan, mengirim, dan menyimpan keterangan- keterangan yang diperlukan dalam
setiap usaha kerja sama.
Berdasarkan definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tata usaha sebagai aktivitas
administrasi adalah suatu kegiatan untuk mengadakan pencatatan dan penyusunan
keterangan-keterangan dengan secara efektif dan efisien dengan menggunakan sarana dan
prasarana sehingga keterangan keterangan itu dapat dipergunakan secara langsung sebagai
bahan informasi baik bagi pimpinan organisasi yang bersangkutan ataupun dapat
dipergunakan oleh pihak luar organisasi yang membutuhkan.

Tata usaha pembibitan meliputi Tata Usaha Pembuatan Bibit dan Tata Usaha Pengedaran
Bibit, untuk bibit yang menggunakan benih yang berasal dari sumber benih bersertifikat
dan ditujukan untuk diperdagangkan.

1. Tata usaha pembuatan bibit

Tata usaha pembuatan bibit meliputi tata usaha perencanaan pembuatan bibit dan tata
usaha pembuatan bibit.

a. Tata usaha perencanaan pembuatan bibit

1) Pihak pengada bibit yang akan melaksanakan pembuatan bibit wajib membuat
perencanaan pembuatan bibit.

2) Rencana pembuatan bibit dilaporkan 1 (satu) bulan sebelum melakukan


penaburan benih kepada Dinas Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan
kepada Balai dengan menggunakan blanko RLPS Bt 009.

3) Berdasarkan surat pemberitahuan, Dinas Kabupaten/Kota menugaskan petuhgas


melakukan pemeriksaan terhadap kapasitas persemaian dan dokumen benih.

6
b. Tata usaha pembuatan bibit

1) Dalam melaksanakan pembuatan bibit, pengada bibit melakukan beberapa tahap


kegiatan yaitu: penyediaan benih (generatif/vegetatif), penaburan benih/pengumpulan
anakan (cabutan), penyapihan bibit, pemeliharaan bibit dan sortasi bibit.
2) Pembuat bibit dapat melakukan penyediaan benih dengan cara pembelian benih
(generatif/vegetatif) yang dilengkapi dengan surat pengiriman benih sebagaimana
blanko RLPS Bn 007 dan surat keterangan asal usul benih dari pengada
benih/pengelola sumber benih sebagaimana blanko RLPS Bn 008.
3) Surat pengiriman benih dan surat keterangan asal usul benih selanjutnya diarsipkan
sebagai dokumen penyediaan benih.
4) Setiap tahapan kegiatan pengadaan bibit dicatat dalam blanko RLPS Bt 010 dan diberi
label sebagaimana blanko RLPS Bt 011

2. Tata Usaha Pengedaran Bibit

Tata usaha pengedaran bibit meliputi tata usaha pembelian bibit (bilamana dilakukan
pembelian), tata usaha pengedaran bibit dan tata usaha penilaian mutu bibit.

a. Tata usaha pembelian bibit

1) Penyediaan bibit oleh pengedar bibit dapat dilakukan dengan cara pembelian bibit dari
pembuat bibit yang dibuktikan dengan surat pengiman bibit (Blanko RLPS Bt 013)
dan keterangan asal usul benih (Blanko RLPS Bn 008).

2) Surat pengiriman bibit dan keterangan asal usul benih selanjutnya diarsipkan sebagai
dokumen penerimaan bibit

3) Bibit yang diterima dan didistribusikan oleh pengedar bibit selanjutnya dicatat dalam
catatan mutasi bibit sebagaimana blanko RLPS Bt 012.

4) Catatan mutasi bibit disampaikan kepada Dinas Kabupaten/ Kota setempat dengan
tembusan kepada Balai untuk setiap 6 (enam) bulan.

b. Tata usaha pengedaran bibit

1) Bibit yang akan diedarkan/didistribusikan wajib dilengkapi dengan surat pengiriman


bibit sebagaimana Blanko RLPS Bt 013 dan keterangan asal usul benih sebagaimana
Blanko RLPS Bn 008.

7
2) Surat pengiriman bibit ditujukan kepada pembeli bibit dengan tembusan Balai dan
Dinas Kabupaten/Kota di mana pengada bibit dan pembeli bibit berdomisili.

c. Penilaian mutu bibit

Hasil penilaian mutu bibit dibuktikan dengan sertifikat mutu bibit yang diterbitkan oleh
instansi yang berwenang.

8
9
10
11
12
13
14
15
C. Standar Mutu Bibit

Pengadaan bibit bermutu merupakan upaya penting untuk mendukung keberhasilan


pembangunan hutan dan rehabilitasi lahan. Pentingnya penggunaan benih dan/atau
bibit bermutu dinyatakan dalam Pasal 23 ayat 1 Permenhut No. P.01/Menhut-II/2009
tentang Penyelenggaraan Perbenihan Tanaman Hutan yang menyatakan “Setiap benih
dan/atau bibit yang beredar harus berkualitas dan dilengkapi dengan dokumen mutu
fisik/fisiologis dan genetik”.
Untuk mendapatkan benih bermutu baik, benih harus diperoleh dari sumber benih dan
ditangani dengan prosedur yang benar. Selain itu perlu juga sistem pengawasan atau
pengendalian mutu sehingga benih yang beredar mendapatkan jaminan mutu melalui
sistem sertifikasi mutu benih. Untuk mendapatkan bibit yang bermutu baik, selain
harus berasal dari benih dan sumber benih yang berkualitas juga harus melalui sistem
sertifikasi yang dalam pelaksanaannya berdasarkan standar mutu bibit.
Dalam rangka menentukan standar kualitas benih dan bibit tanaman hutan,
Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Bina Perbenihan Tanaman Hutan
berupaya menyusun standar mutu fisik-benih dan bibit tanaman hutan serta
menyempurnakan standar yang telah disusun sebelumnya. Pelaksanaannya merupakan
hasil kerjasama Kelompok Kerja Pembuatan Standar Mutu Benih dan Standar Mutu
Bibit yang terdiri dari Direktorat Bina Perbenihan Tanaman Hutan, Balai Penelitian
Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan (BPTPTH) Bogor, para ahli perbenihan, dan
didukung oleh Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) seluruh Indonesia.

Hingga saat ini penilaian bibit tanaman hutan secara operasional mengacu pada
Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (Perdirjen
RLPS) No. P.05/V-Set/2009 tentang Pedoman Sertifikasi Mutu Bibit Tanaman Hutan.
Dalam peraturan tersebut, bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi standar mutu,
baik mutu genetik dan mutu fisik-fisiologis. Mutu genetik didasarkan pada kelas
sumber benihnya sedangkan mutu fisik-fisiologi didasarkan pada kesehatan, batang
berkayu, diameter batang, tinggi, kekompakan media, jumlah daun dan umur.

Pada Perdirjen RLPS No. P.05/V-Set/2009 jenis yang tercantum dalam standar
tersebut sebanyak 13 jenis yang dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu :

16
- jenis cepat tumbuh (Acacia spp., Eucalyptus spp.,Anthocephalus spp., Gmelina
arborea, dan Paraserianthes falcataria) dan
- jenis lambat tumbuh (Altingiaexcelsa, Tectona grandis, Shorea spp., Swietenia
spp., Pinus spp.).

Sementara pada SNI mutu bibit baru memuat 7 jenis, yaitu Acacia mangium,
Eucalyptus urophylla, Gmelina arborea, Paraserianthes falcataria, Pinus merkusii,
Shorea sp. (meranti) dan Shorea stenoptera (tengkawang) (Badan Standardisasi
Nasional, 2005).

Dalam pelaksanaannya Perdirjen RLPS No. P.05/V-Set/2009 menjadi acuan BPTH


dan lembaga sertifikasi lainnya yang ditunjuk dalam penentuan mutu bibit.
Persyaratan mutu bibit dalam standar tersebut di bagi menjadi syarat umum dan syarat
khusus, yaitu :

1. Syarat umum meliputi:


a. bibit berbatang tunggal dan lurus
b. bibit sehat: terbebas dari serangan hama penyakit dan warna daun normal (tidak
menunjukkan
kekurangan nutrisi dan tidak mati pucuk)
c. batang bibit berkayu, diukur dari pangkal batang sampai dengan setinggi 50%
dari tinggi bibit.
2. Syarat khusus meliputi:
a. tinggi bibit, yang diukur mulai dari pangkal batang sampai pada titik tumbuh
teratas
b. diameter batang bibit, yang diukur pada pangkal batang
c. kekompakan media, yang ditetapkan dengan cara mengangkat satu persatu dari
beberapa jumlah contoh bibit.
d. kekompakan media dibedakan ada 4 yaitu utuh, retak, patah, lepas
e. jumlah daun sesuai dengan jenisnya sedangkan untuk jenis tanaman yang
berdaun banyak seperti Pinus sp., Paraserianthes sp., parameter yang
digunakan adalah Live Crown Ratio (LCR).
f. LCR adalah nilai perbandingan tinggi tajuk dan tinggi bibit dalam persen.
g. umur sesuai dengan jenisnya.

17
Standar persyaratan khusus mutu bibit untuk beberapa jenis tanaman hutan tersebut
tertulis pada Tabel 1.

Tabel (Table) 1. Persyaratan khusus bibit beberapa jenis tanaman berdasarkan


Perdirjen RLPS No.P.05/V-Set/2009.

18
Alur pemeriksaan mutu bibit berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal RLPS No.
P.05/V-Set/2009

19
D. Prosedur Sertifikasi Mutu Bibit

Prosedur dan tata cara penilaian bibit secara yuridis berdasarkan Keputusan Direktur
Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Nomor:089/Kpts/V/2003 , tentang
Pedoman Sertifikasi Mutu Bibit Tanaman Hutan. Dalam keputusan tersebut maka
tahapan-tahapan yang harus dilalui pada saat akan dilakukan penilaian terhadap bibit
yang diproduksi baik oleh perorangan, koperasi, BUMN/BUMD/BUMS serta lembaga
lainnya yaitu:
1. Pemohon mengajukan surat permohonan kepada lembaga berwenang untuk menilai
bibit yang diproduksi. Pemohon tidak dibatasi oleh apapun dapat perorangan,
koperasi BUMD/BUMN/BUMS maupun lembaga lainnya. Beberapa data dan
informasi yang harus disampaikan adalah:
a. Nama pemilik persemaian dan alamat lengkap;
b. Asal usul bibit tersebut, apakah berasal dari sumber benih yang telah disertifikasi
atau bersumber dari sumber yang tidak jelas. Jika berasal dari sumber benih
bersertifikat maka bibit tersebut dapat memperoleh sertifikat mutu bibit, jika
tidak jelas maka bibit tersebut hanya akan memperoleh surat keterangan hasil
pemeriksaan;
c. Luas persemaian, jenis lot bibit, jumlah bedeng, jumlah bibit, alamat lokasi
persemaian, fasilitas persemaian.
d. Teknik perbanyakan, tanggal penyemaian/perbanyakan;
e. Struktur organisasi persemaian, tenaga kerja;
f. Distribusi bibit;
g. Dokumen proses produksi bibit.

2. BPTH membentuk tim yang akan diturunkan ke lapangan untuk memeriksa bibit
yang diajukan untuk dinilai. Setiap tim harus membawa kelengkapan administrasi
yang menyatakan legalitas dari tim yang memeriksa (surat jalan maupun SK
penetapan dari Kepala Balai Perbenihan Tanaman Hutan).

3. Melakukan koordinasi dengan pihak terkait (baik produsen maupun instansi daerah
yang terkait seperti dinas Kab/Kota dimana persemaian berada).

20
4. Penerbitan sertifikat atau surat keterangan sertifikat dapat diterbitkan apabila bibit
yang diproduksi berasal dari benih yang digunakan dari sumber benih bersertifikat.
Sedangkan surat keterangan diterbitkan apabila benih yangdigunakan untuk
memproduksi bibit bukan berasal dari sumber benih bersertifikat.

Sertifikat ataupun surat keterangan dapat digunakan sebagai landasan bagi pemohon
untuk memiliki kekuatan yuridis mengenai kualitas bibit yang diproduksi. Sedangkan
bagi pihak konsumen sendiri merupakan bukti dan fakta yang dapat memiliki jaminan
dan kondisi bibit yang digunakan.

21
22
23
24
25
26
27
28

Anda mungkin juga menyukai