Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pengelolaan sampah merupakan salah satu tantangan yang sangat penting
yang dihadapi oleh hampir semua kota-kota di Indonesia, karena sampah
dapat menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan, ekonomi dan sosial.
Oleh karena itu, pemanfaatan sampah organik menjadi produk bernilai tinggi
perlu dilakukan melalui teknologi biokonversi.Biokonversi adalah sebuah
proses yang mampu mengubah bahan organik menjadi produk lain yang
berguna dan memiliki nilai tambah dengan memanfaatkan proses biologis
dari mikroorganisme dan enzim. Sekilas tidak ada yang menarik dari
lalat Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam. Tubuhnya yang
berwarna hitam dan bagian segmen basal abdomennya yang transparan
mengesankan lalat ini menyerupai tawon. Beberapa hasil riset melaporkan
bahwa kandungan protein larva BSF relatif tinggi, yaitu 40 – 50% dengan
kandungan lemak berkisar 29 - 32%. Kandung nutrisi yang tinggi ini
berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan campuran formula pakan
ayam atau ikan. Terlebih lagi, media perkembangbiakan larva yang berupa
bahan-bahan organik yang telah membusuk menjadikan larva ini mudah
sekali dibudidaya.
Sebagai agen biokonversi, larva BSF mampu mengurangi limbah organik
hingga 56%. Dengan meletakkan telur BSF atau larva BSF maka limbah
organik seperti bungkil inti sawit (BIS), kotoran sapi, kotoran babi, kotoran
ayam, limbah pasar, limbah rumah tangga, sampah buah, sayur dan lainnya
akan diurai menjadi produk-produk yang bermanfaat bagi para petani
peternak. Setidaknya ada tiga produk yang dapat diperoleh dengan
memberdayakan larva BSF sebagai agen biokonversi. Produk pertama adalah
larva atau prepupa BSF yang dapat dijadikan sebagai sumber protein
alternatif untuk pakan ternak, produk kedua adalah cairan hasil aktivitas larva
yang berfungsi sebagai pupuk cair dan yang ketiga adalah sisa limbah organik
kering yang dapat dijadikan sebagai pupuk. Hasil analisis kandungan nutrisi
tepung BSF sangat menjanjikan dan terbukti memiliki kandungan nutrisi
2

yang mirip dengan tepung ikan. Penggunaan tepung BSF pada campuran
pakan ayam broiler hingga 100% tidak menimbulkan efek negatif kecernaan
bahan kering (57,96 – 60,42%), energi (62,03 – 64,77%) dan protein (64,59 –
75,32%), walaupun hasil yang terbaik diperoleh dari penggunaan BSF 25%
atau 11,25% dalam pakan. Penggunaan tepung larva BSF hingga 50% juga
dilaporkan mampu meningkatkan tingkat konsumsi pakan burung puyuh
dengan berat telur berkisar 9,25 – 10,12 g, termasuk meningkatkan poduksi
telur sampai 3,39%.
Penggantian tepung ikan dengan tepung larva BSF sebanyak 75% dan
100% menghasilkan tingkat konsumsi pakan dan berat telur yang tidak
berbeda nyata dengan kelompok kontrol. Penggantian tepung ikan dengan
50% tepung BSF pada pakan ayam pedaging mampu meningkatkan performa
ayam yang siap panen dan lebih ekonomis. Pemanfaatan lalat BSF sebagai
agen biokonversi sekaligus penyedia sumber protein alternatif memiliki
beberapa keuntungan. Lalat BSF bukan merupakan vektor penyakit, sehingga
tidak menyebarkan penyakit seperti lalat rumah Musca domestica atau lalat
hijau. Menariknya, lalat ini mampu mengurangi populasi lalat rumah M.
domestica dengan cara mengeluarkan sinyal kimia dilingkungan sekitarnya
untuk mencegah lalat rumah bertelur didaerah tersebut. Disamping itu,
ekstrak etanol larva BSF juga bersifat antibakteri untuk bakteri gram positif,
seperti Klebsiella pneumonia, Neisseria gonorrhoeae dan Shigella sonnei,
tetapi tidak efektif untuk bakteri gram positif, seperti Bacillus
subtilis, Streptococcus mutans dan Sarcina lutea. . Laporan lain juga
menyebutkan bahwa larva BSF mampu menurunkan populasi Salmonella
spp hingga 6 log10 pada feses manusia selama 8 hari, termasuk menurunkan
populasi Erechia coli O157:H7 dan Salmonella enterica serovar Enteritidis
pada kotoran unggas dan E. coli pada kotoran sapi perah. Studi terbaru juga
menunjukkan bahwa larva ini bersifat antivirus pada golongan enterovirus
dan adenovirus serta menurunkan populasi telur cacing Ascaris suum. Melihat
banyaknya keuntungan dari larva BSF, maka perlu dipikirkan teknik
budidayanya yang praktis dan aplikatif sehingga para peternak dapat
3

mengembangbiakan lalat ini dengan memanfaatkan limbah rumah tangga,


limbah kandang atau limbah pasar di sekitar rumahnya. Setidaknya,
permasalahan sampah organik disekitar kita dapat diselesaikan dengan agen
biokonversi lalat BSF untuk menghasilkan produk lain yang lebih bermanfaat
dan memiliki nilai ekonomis. Secara tidak langsung, dengan menggunakan
tepung BSF maka biaya pengadaan pakan dalam produksi ternak dapat
ditekan tanpa harus mengurangi kualitas dan kuantitas atau performa produk
ternak.

1.2. Tujuan Praktikum


Tujuan Praktikum Teknologi Pengolahan Limbah Industri dengan Materi
Biokonveksi Sampah Organik menggunakan Larva Black Soldier Fly
(Hermetia illucens yaitu:
1. Untuk mengolah sampah organik menjadi sebuah produk yang memiliki
nilai ekonomis tinggi dengan menggunakan larva Larva Black Soldier Fly
(Hermetia illucens
2. Untuk menguji pengaruh jenis pakan yang diberikan pada larva Larva
Black Soldier Fly (Hermetia illucens terhadap pertumbuhan dan
kandungan nutrisi larva.

1.3. Manfaat Praktikum


Adapun manfaat dari praktikum Teknologi Pengolahan Limbah Industri
dengan Materi Biokonveksi Sampah Organik menggunakan Larva Black
Soldier Fly (Hermetia illucens yaitu:
1. Dapat mereduksi timbunan sampah organik dengan cepat.
2. Menghasilkan produk yang bernilai tinggi berupa kompos dan biomassa
larva yang memiliki kandungan nutrisi tinggi.
3. Memberikan informasi dan juga dapat diaplikasikan oleh petani dan
masyarakat umum maupun pengusaha skala kecil/menengah pemanfaatan
sampah organik sebagai pakan larva nakan Larva Black Soldier Fly
(Hermetia illucens) untuk mendapatkan pakan ikan dan hewan ternak yang
memiliki nilai kandungan protein tinggi.
4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi BSF (Larva Black Soldier Fly)


Lalat tentara hitam (Hermetia illucens) adalah salah satu jenis lalat yang
banyak ditemukan di tempat-tempat yang terdapat sampah organik.Larva ini
memanfaatkan limbah tersebut sebagai sumber makanannya. Kemampuan
larva dalam memakan sampah organik karena dalam ususnya terdapat bakteri
selulolitik yang menghasilkan enzim selulase yang berperan dalam hidrolisis
selulosa.Pemanfaatan sampah organik ini secara tidak langsung membantu
mengurangi sampah tersebut sehingga berperan dalam penanganan limbah
organik. Adapun klasifikasi dari Lalat tentara hitam yang ditinjau dari
klasifikasi ilmiahnya yaitu merupakan Kingdom Animalia, Filum
Arthropoda, Kelas Insecta, Orda Diptera, Subordo Brachycera, Infraordo
Tabanomorpha, Superfamili Stratiomyidae, Famili Stratiomyidae, Subfamili
Hermetiinae, Genus Hermetia, Spesies H. illucens. Selain itu BSF juga
memiliki klasifikasi atau ciri dari bentuk tubuhnya yaitu lalat berwarna hitam
pekat ini selain penampilannya yang menawan juga memiliki segudang
manfaat bagi manusia dan hewan ternak, Dalam bahasa Indonesia, BSF
artinya lalat tentara hitam.Bentuk tubuhnya layaknya tentara, tinggi besar dan
tidak buncit seperti lalat hijau, diberbagai negara serangga ini sudah banyak
di per jual belikan di restoran dalam bentuk hidangan istimewa, dijadikan
maggot terapi oleh para dokter.Maggot BSF sebagai alat mengidentifikasi
umur mayat oleh kepolisian dan anak-anaknya dijadikan sumber protein
untuk ternak ikan dan unggas.
5

2.2.Siklus HidupBSF (Larva Black Soldier Fly)


Daur hidup lalat BSF atau skilus hidup BSF atau Black Soldier Fly
selama hidupnya yang super singkat hanya 5 sampai dengan 8 hari. Siklus
hidup Black Soldier Fly ini yang singkat di karenakan mereka tidak makan,
Black soldier fly merupakan salah satu jenis serangga yang memiliki
segudang manfaat. Di Luar negeri Black Soldier Fly sudah ramai
dibudidayakan sejak 30 tahun lalu.Siklus hidup lalat BSF atau Daur Hidup
Lalat BSF adalah lalat BSF – Telur BSF – Magot – Pupa – Pupa atau
kepompong.Jumlah Hari Siklus Hidup Black Soldier Fly kondisi Lalat 5 – 8
hari, Telur 2 – 4 hari, Magot 2 – 3 minggu, Pupa 7 hari, Prepupa 7 hari. Total
siklus hidup lalat BSF atau siklus hidup Black Soldier Fly antara 40 sampai
dengan 44 hari. Perhatikan dengan baik jumlah hari nya, karena berdasarkan
pengalaman banyak yang tidak sabar menunggu proses dari setiap fase yang
akhirnya membuat stres. Siklus hidup Black Soldier Fly di Indonesia antara
40 Sampai dengan 44 hari. Dibeberapa daerah dataran tinggi siklus
hidup Black Soldier Fly sedikit lebih lama.

2.3. Potensi Sampah Organik


Sampah organik adalah sampah yang berasal dari sisa-sisa barang yang
tidak terpakai yang sebelumnya berasal dari organisme hidup. Karena berasal
dari organisme, sampah ini lebih mudah terurai daripada jenis sampah
anorganik.Sampah organik ini apabila dikelola secara benar akan
menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Contoh
pemanfaatan dari sampah organik ini adalah pembuatan pupuk kompos yang
6

dapat digunakan dalam sektor pertanian. Klasifikasi dari sampah yaitu


sampah organik basah, sampah organik kering, jenis-jenis sampah organik
yang telah diketahui, maka selanjutnya diuraikan mengenai prinsip mengenai
penerapan dalam pengolahan sampah tersebut. Prinsip yang dikenal dengan
nama 4R itu diantaranya.Pengertian dan jenis-jenis sampah jenis ini telah
dijelaskan, maka selanjutnya adalah pembahasan mengenai penerapan dalam
pengolahan sampah organik ini.Pengelolaan sampah organik sebenernya
dapat pula didekati dengan penerapan prinsip 4R meskipun tidak semua jenis
sampah organik menerapkan hal ini. 4R sendiri adalah reduce, reuse, recycle,
dan replace.Pemanfaatan sampah organik salah satunya dipakai untuk
pembuatan pupuk kompos. Pengolahan kompos ini sangat mudah dan dapat
dilakukan oleh siapapun yang berkeinginan untuk memanfaatkan sampah
yang berpotensi ini.Pemanfaatan sampah pun bisa digunakan sebagai
pembangkit energi berupa tenaga listrik. Di negara Jepang saat ini sudah
tersedia alat yang dapat mengubah sampah rumah tangga menjadi energi
listrik, teknologi ini pun patut dicontoh oleh negara Indonesia.Selain itu,
manfaat dari sampah organik meskipun tanpa campur tangan manusia akan
menjadi sarang bagi mikroorganisme atau mikro fauna yang membantu
menyuburkan tanah untuk pertanian.

2.4. Berbagai Media Produksi BSF


Larva lalat BSF dapat tumbuh dan berkembang subur pada media
organik, seperti BIS, kotoran sapi, kotoran babi, kotoran ayam, sampah buah
dan limbah organik lainnya. Kemampuan larva BSF hidup dalam berbagai
media terkait dengan karakteristiknya yang memiliki toleransi pH yang luas.
Selain itu, kemampuan larva dalam mengurai senyawa organik ini juga terkait
dengan kandungan beberapa bakteri yang terdapat di dalam saluran
pencernaannya sangat mempengaruhi kandungan nutrien tubuh serta
keberlangsungan hidup larva pada setiap instar dan tahap metamorfosis
selanjutnya. Pendapat lain menyatakan bahwa kualitas media perkembangan
larva berkorelasi positif dengan panjang larva dan persentase daya tahan
7

hidup lalat dewasa. Jumlah dan jenis media yang kurang mengandung nutrien
dapat menyebabkan bobot pupa kurang dari normal, akibatnya pupa tidak
dapat berkembang menjadi lalat dewasa Pada pengembangbiakan BSF
diperlukan wadah atau tempat untuk membudidayakan wadah yang
digunakan yaitu baskom plastik, wadah yang digunakan dalam praktikum ini
terlebih dahulu disterilkan dengan cara dicuci bersih dan dijemur agar
terhindar dari bakteri atau sel renik yang mengganggu perkembangan BSF.
Untuk persiapan media tumbuh yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Ampas tahu, limbah buah-buahan, limbah sayur-sayutran, limbah rumah
makan sebagai media pakan magot, dedak, pur ayam. Pada pemberian makan
BSF digunakan sampah buah-buahan dan sayur-sayuran karena mudah
didapat dan memiliki nutrisi yang tinggi, misalkan pada buah-buahan yang
diberikan yaitu sampah pisang, mangga, jeruk asam dan lain-lain yang
memiliki kandungan vitamin yang tinggi. Pada sampah sayuran yang
diberikan memiliki kandungan fosfor, vitamin C, kalsium dan zat besi
sehingga dapat mengembangbiakkan BSF dengan baik.

2.5. Cara Budidaya BSF, Pemberian pakan dan Cara Panen


Budidaya Maggot BSF (black soldier fly), maggot BSF banyak
dibudidayakan oleh peternak ikan dan unggas untuk diambil panen maggot
nya dan di jadikan pakan terank dengan cara mengolah maggot menjadi pasta
maggot, tepung maggot dan pelet maggot. bahan budidaya maggot sangat
mudah didapat dan banyak disekitar kita seperti sampah, kohe dan limbah
sehingga tidak perlu biaya besar.Sebagian peternak ada juga yang tidak
mengolah maggot nya dan diberikan langsung dalam keadaan segar atau
hidup atau fresh ke ternak mereka. Pemberian maggot sebagai pakan ternak
dalam bentuk fresh ada keuntungan dan kerugiannya.Keuntungannya tidak
perlu repot repot mengolah maggot. Sedangkan kerugian tidak mengolah
maggotnya lebih banyak terutama bagi mereka yang beternak unggas seperti
ternak ayam, ternak itik, ternak puyuh, ternak burung ternak bebek dan
sebagainya. Cara untuk budidaya BSF dengan menggunakanAmpas Tahu
8

pertama-tama menyediakan alatEmber/Wadah/BioTong, alat untuk


mengaduk, daun pisang kering, bahan budidaya magot, dedak, pur ayam.
adapun cara untuk pengembangbiakan BSF yaitu mencampur semua bahan,
kemudian aduk dengan hingga rata, tutup permukaannya dengan daun pisang
kering, tempatkan biotong/wadah baskom plastik ditempat teduh, hindarkan
dari predator (ayam, anjing, kucing) dan paling penting hindari kena air hujan
langsung. Kondisi lingkungan pada pengembangbiakan magot harus memiliki
suhu sekitar 30-370C, hal ini dapat mempengaruhi perkembangan magot.
Pemberian pakan untuk perkembangan BSF dilakukan dengan pemeberian
limbah buah-buahan dan sayur-sayuran dalam bentuk pasta sebanyak 500-
1000 gram tergantung banyaknya telur BSF yang di ternakkan, untuk
pemberian makannya dilakukan tiap hari selama BSF masih dalam keadaan
membutuhkan makan, hingga berubah menjadi belatung. Untuk cara
pemanenan magot dilakukan kira kira hari ke 14-21, tetapi pada praktikum
kali ini untuk pemanenan magot dilakukan pada hari ke 15. Untuk
memanennya pertama sekali media di semprot atau di siram air, kemudian di
saring untuk memisahkan magot dengan media (kasgot), pakan alami magot
siap diolah atau diberikan langsung ke ternak.

2.6.Potensi Larva BSF (Komposisi Nutrisi Magot)


Maggot mempunyai peluang sebagai pakan ikan atau untuk
mensubstitusi tepung ikan karena mempunyai kandungan nutrisi tidak jauh
berbeda dengan tepung ikan terutama tepung ikan lokal dan dapat diproduksi
dalam kuantitas yang cukup dalam waktu yang singkat secara
berkesinambungan.Secara umum diketahui bahwa tepung ikan yang ada
dipasaran berasal dari impor seperti Peru dan Chili, dengan adanya
pembatasan produksi dan permintaan akan tepung ikan di dalam negeri yang
tidak mampu dipenuhi oleh produksi sendiri sehingga membuat harga tepung
ikan menjadi mahal.Untuk memenuhi kekurangan akan permintaan tepung
ikan, mungkin dapat dipenuhi dengan menggunakan tepung maggot.
Kandungan protein pada larva ini cukup tinggi, yaitu 44,26% dengan
9

kandungan lemak mencapai 29,65%. Nilai asam amino, asam lemak dan
mineral yang terkandung di dalam larva juga tidak kalah dengan sumber-
sumber protein lainnya, sehingga larva BSF merupakan bahan baku ideal
yang dapat digunakan sebagai pakan ternak. Ditinjau dari umur, larva
memiliki persentase komponen nutrisi yang berbeda, kadar bahan kering
larva BSF cenderung berkorelasi positif dengan meningkatnya umur, yaitu
26,61% pada umur lima hari menjadi 39,97% pada umur 25 hari. Hal yang
sama juga terjadi pada komponen lemak kasar, yaitu sebesar 13,37% pada
umur lima hari dan meningkat menjadi 27,50% pada umur 25 hari. Kondisi
ini berbeda dengan komponen protein kasar yang cenderung turun pada umur
yang lebih tua.
10

III. METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum Teknologi Pengelolaan Limbah Industri dengan materi
Biokonversi Sampah Organik Menggunakan Larva Black Soldier Fly
(Hermetia illucens) dilaksanakan pada pukul 13.30-16.00 WIB hari Rabu, 12
Mei 2019 di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian,Fakultas Pertanian,
Universitas Palangka Raya, Sustainable Farm dan Laboratorium Teknologi
Industri Pertanian (TIP).

3.2. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikumTeknologi Pengelolaan Limbah
Industri dengan materi Biokonversi Sampah Organik Menggunakan Larva
Black Soldier Fly (Hermetia illucens)yaitu Baskom plastik berbentuk kotak,
Sarung tangan plastik, Masker, Timbangan digital, Blender, Pisau, Pengaduk,
Jaring, Sarbet, dan Penggaris.Sedangkan bahan yang digunakan yaitu Telur
BSF sebanyak 0,5-1 gram, Ampas tahu, limbah buah-buahan, limbah sayur-
sayuran (pakan magot), Daun pisang, Dedak, Pur ayam, Jaring.

3.3. Prosedur Kerja


3.3.1. Kunjungan LapanganBorneo Suistainable Farm
Adapun cara kerja yang diterapkan pada praktikumTeknologi
Pengelolaan Limbah Industri dengan materi Biokonversi Sampah Organik
Menggunakan Larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens)yaitu:
1. Menyiapkan bahan dan alat yang perlu digunakan pada pengamatan BSF.
2. Kemudian praktikan akan dibimbing untuk mengamati lalat tentara hitam
(BSF) yang diamati di lapangan.
3. Setelah itu diamati perkembangbiakan BSF, kondisi lingkungan, cara atau
tempat bertelur.
4. Kemudian untuk tempat lingkungan perkembangbiakan BSF perlu
dilakukan penyemprotan air, agar kondisi lingkungannya tetap lembab.
5. Untuk tempat telur BSF dibuat didalam kandang yang dipagari dengan
jaring, bentuk tempat telur BSF yang sangat unik yaitu menggunakan
11

papan yang kecil sekitar 5 x 10 cm yang ditumpuk, dengan ada sedikit


ruang yang disisakan pada bagian papan tersebut itu sebagai tempat
perteluran BSF.
6. Setelah selesai pengamatan dari BSF, kemudian dilakukan pengamatan
Magot. Dimana disana terdapat banyak larva magot yang masih segar, hal
ini terjadi karena pakan yang dikasih terhadap magot tersebut merupakan
limbah sayuran dan buah.
7. Disana juga terdapat larva dari BSF yang akan dikasih menjadi pakan ikan
yang ada disekitar area perkembangbiakan magot.

3.3.2. ProsesPengembangbiakan Magot


Adapun cara kerja yang diterapkan pada praktikumTeknologi
Pengelolaan Limbah Industri dengan materi Biokonversi Sampah Organik
Menggunakan Larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens)yaitu:
1. Menyiapkan telur BSF yang dari diambil dari tumpukan papan yang telah
disediakan. Kemudian karet pengikat papan dibuka dengan hati-hati agar
telur dari BSF tidak jatuh kelantai.
2. Pengambilan telur BSF dilakukan menggunakan pisau atau bahan yang
runcing.
3. Kemudian telur BSF yang telah dipanen diletakkan diatas daun pisang
untuk diukur beratnya yang akan dikembangbiakkan nanti.
4. Untuk pembuatan Media perkembangbiakan telur BSF maka diperlukan
wadah yaitu baskom plastik berbentuk kotak.
5. Kemudian dimasukkan kedalam baskom plastik dedak seberat 250 gram.
6. Setelah itu dilakukan penghalusan Pur ayam menggunakan air bersih.
7. Kemudian telur BSF tadi diambil sekitar 1gram, yang kemudian diletakkan
diatas daun pisang.
8. Kemudian menghaluskan pur ayam, ini akan menjadi tempat telur BSF
tersebut.
9. Setelah itu memasukkan baskom yang berisi dedak, pur ayam dan telur
BSF yang telhh dirancang tadi kedalam lemari yang telah dibuat
12

sebelumnya. Area dari lemari tempat perkembangbiakan telur BSF dibuat


jaring untuk menghindari masuknya organisme lain.
10. Setelah itu dibiarkan selama 1 minggu (7 hari) hingga telur menetas,
pengecekan dilakukan tiap hari.
11. Kemudian pada hari ke-8 sampai ke-10 setelah telur menetas, pakan
dikasih kepada magot. Pakan yang dikasih yaitu limbah buah-buahan,
sayuran, ampas tahu dan limbah resto. Semua limbah ini dibentuk menjadi
pasta sebanyak sekitar 500 gram/1 gram telur.
12. Untuk pemberian makan magot dilakukan sebanyak 2 kali pagi dan sore.
13. Kemudian pada hari yang ke-11 sampai ke-17 dilakukan juga hal sama
pemberian pakan, hingga magot bisa siap dipanen.
14. Pada saat pemberian makan magot juga dilakukan pemisahan dengan
kasgot (yang dapt digunakan sebagai kompos).
15. Kemudian pada hari ke-17 dilakukan pemanenan magot, pada pemanenan
magot semua kasgot dan magotnya dipisahkan hingga magot bersih.
Magot yang tadi diukur panjang dan beratnya (per ekor). Larva magot
yang sudah bersih kemudian ditimbang keseluruhannya.

3.3.3. Cara Kerja Penyangraian Larva BSF (Laboratorium Teknologi Industri


Pertanian)
Adapun cara kerja penyangraian larva BSF adalah sebagai berikut.
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Mematikan larva BSF dengan cara merendam larva dengan menggunakan
air panas dengan suhu 800C.
3. Mencuci larva BSF yang sudah mati hingga bersih dari kotoran atau kasgot
yang menempel, dan kemudian tiriskan.
4. Menyangrai larva BSF hingga kering dan warnanya berubah agak
kehitaman.
5. Mendinginkan larva BSF yang sudah disangrai dengan cara meletakkannya
di nampan dan diangin-anginkan hingga dingin.
6. Memasukkan hasil sangrai larva BSF yang sudah dingin kedalam plastik
dan kemudian disiman.
13

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan


Tabel 1. Hasil Pengamatan (limbah buah-buahan) panjang magot, berat magot dan
total produksi magot
Pengamatan Pemberian Panjang Berat Keterangan
Makanan (gram) Maggot Maggot
Pagi Sore (cm) (gram)
Hari ke-0 Telur sudah menetas
dengan ciri berwarna

- - - - kuning kecoklatan,
penambahan air 2 mL
pada pelet.

Hari ke-1 Telur sudah menetas


sepenuhnya dengan
ciri berwarna kuning
kecoklatan, baby
- - - -
maggot berada
dibawah daun pisang,
penambahan air 2 mL
pada pelet

Hari ke-2 Posisi maggot


menggumpal
disekitar pelet
- - - -
berserakan,
pemanbahan air 2 mL
pada pelet.

Hari ke-3 Maggot berwarna


putih, posisinya
- - - -
menyebar,
penamgabah pelet 5 g
14

dan 4 mL air.

Hari ke-4 Penambahan air 10


mL pada pelet, pakan
ditambah dari dedak,
- - - -
kondisi magot masih
sama seperti hari
sebelumnya.

Hari ke-5 Maggot berwarna


kuning, ukuran tidak
sama, letaknya
- - - -
berserakan dibawah
pelet,penambahan air
5 mL,

Hari ke-6 Kondisi maggot

- - - - masih sama seperti


hari sebelumnya

Hari ke-7 Penambahan 6 mL


air, posisi maggot
- - - -
terdapat ditumpukkan
pelet.

Hari ke-8 kondisi maggot masih

- 50 - - seperti hari
sebelumnya

Hari ke-9 Terdapat beberapa

50 100 - - maggot yang sudah


membesar

Hari ke-10 Kondisi maggot sama


100 100 - -
seperti hari
15

sebelumnya

Hari ke-11 Ukuran maggot tidak


sama, dedak dan
50 100 0,86 0,036
media makan
dicampur

Hari ke-12 Ukuran maggot tidak


sama, dedak dan
200 100 1,08 0,044
media makan
dicampur

Hari ke-13 Ukuran maggot tidak


merata,
membersihkan
200 300 1,12 0,078
kasgot, dedak dan
media makanan
dicampur

Hari ke-14 Maggot berada


dibawah pakan,dedak
186 300 1,25 0,086
dan makanan
dicampur

Hari ke-15 Ukuran maggot

182 418 1,34 0,094 semakin bertambah,


keadaannya lembab.

Hari ke-16 Kondisi maggot sama


seperti hari

200 200 1,48 0,106 sebelumnya,


penambahan ampas
kelapa.

Hari ke17 250 500 1,68 0,132 Ukuran maggot


16

bertambah, kondisi
lembab

Pemanenan Total berat larva BSF

1,88 0,146 = 264.81 gram


Kasgot = 600 gram
17

Tabel 2. Hasil Pengamatan (limbah sayur-sayuran) panjang magot, berat magot


dan total produksi magot
Jumlah Panjang
Berat rata
Hari Ke Makanan rata - Keterangan
– rata
pagi Sore rata

Sebagian telur menetas dan


meninggalkan cangkang
menuju kebawah daun
1.
pisang yang mulai
mengering, baby magot
berwarna putih.
Masih ada terdapat telur
yang belum menetas. Baby
maggot yang sudah menetas
2. berkumpul di bawah daun
pisang menuju makanan.
Baby maggot berwarna
putih.

Hampir semua telur dan


terdapat pergerakan pada
3. maggot yang sedikit besar
dari magot lainnya. Warna
magot putih.

Semua telur sudah menetas


dan terdapat maggot yang
4.
sedikit besar dari magot
lainnya. Warna magot putih.
18

Ukuran magot bertambah


besar. pada makanan magot
5.
di tambahkan air sebanyak 8
ml.

Terdapat magot yang lebih


6. besar dari magot lainnya
dan bergerak aktif.
Magot mulai bergerak aktif
dan mengumpul pada
7. bagian tengah. Pada
makanan magot di
tambahkan air 7 ml.
Mulai terlihat pertumbuhan
50
8. magot, bergerak lebik aktif,
gram
magot berwarna putih.
Terdapat magot yang lebih
50 50
9. besar dari magot lainnya
gram gram
dan bergerak aktif.
Magot bergerak di antara
50 makanan, terdapat magot
10.
gram yang lebih besar dan aktif
bergerak.

Magot berkembang dan


50 aktif bergerak. Terdapat
11.
gram magot yang lebih besar dari
magot lainnya
19

Magot bergerak di antara


50 makanan, terdapat magot
12.
gram yang lebih besar dan aktif
bergerak.
Terdapat magot yang masih
58,2 kecil, magot sudah dapat
13. 50 gr 100 gr 0,72 cm
gram diamati dengan mengukur
panjang dan beratnya
250gr 0,74 cm 59,1 terlihat pertumbuhan magot,
gram bergerak lebik aktif, magot
berwarna putih.
15. 250gr 250gr 1,16 cm 64,8 Magot mengelompok dan
gram bersembunyi di bawah
media pertumbuhan.
16. 500gr 1,8 cm 119,2 Mulai terdapat magot yang
gra berubah warna menjadi
m kehitaman
17. - 1,62 cm 114 gram Ada terdapat magot yang
berwarna hitam, jumlah
magot dalam media
berkurang.
Berat keselurahan magot pada saat di panen 230 gram
20

Tabel 3. Hasil Pengamatan (limbah ampas tahu) panjang magot, berat magot dan
total produksi magot
Pemberian makanan
Pengukuran
(Limbah Ampas Tahu)
Hari ke- Panjan Sore Keterangan
Berat
g Pagi
(gram)
(cm)
0
Semua telur larva
(Senin, 13 - - - -
BSF menetas.
Mei 2019)
Penambahan air
1
sebanyak 2 ml pada
(Selasa, 14 - - - -
pelet yang sudah
Mei 2019)
mulai kering.
2
Penambahan air
(Rabu, 15 - - - -
sedikit.
Mei 2019)
3 Penambahan pelet 5
(Kamis, 16 - - - - gram dan air
Mei 2019) sebanyak 2,5 ml
Pelet agak kering
4
sehingga di
(Jum’at, 17 - - - -
tambahkan air
Mei 2019)
sedikit.
5
Penambahan air 2,5
(Sabtu, 18 - - - -
ml.
Mei 2019)
6
Tidak ada
(Minggu, 19 - - - -
pengamatan
Mei 2019)
7 - - - - Tidak ada
21

(Senin, 20 Penambahan air.


Mei 2019)
8 Penambahan air
(Selasa, 21 - - - 50 gram sedikit
Mei 2019)
9 Penambahan air
(Rabu, 22 - - 50 gram - sedikit.
Mei 2019)
Penambahan air
sedikit. Makanan
10
masih banyak
(Kamis, 23 - - - -
sehingga tidak perlu
Mei 2019)
diberikan makanan
lagi.
Pengukuran
11
dilakukan dengan
(Jum’at, 24 0,76 0,0284 50 gram 100 gram
mengambil 5 magot
Mei 2019)
secara acak.
Pengukuran
12
dilakukan dengan
(Sabtu, 25 1 0,044 150 gram 200 gram
mengambil 5 magot
Mei 2019)
secara acak.
Pengukuran
13
dilakukan dengan
(Minggu, 26 0,8 0,047 250 gram 300 gram
mengambil 5 magot
Mei 2019)
secara acak.
Pengukuran
14
dilakukan dengan
(Senin, 27 1,02 0,028 350 gram 400 gram
mengambil 5 magot
Mei 2019)
secara acak.
22

Pengukuran
15
dilakukan dengan
(Selasa, 28 1,26 0,0764 450 gram 190 gram
mengambil 5 magot
Mei 2019)
secara acak.
Pengukuran
dilakukan dengan
mengambil 5 magot
16 secara acak.
(Rabu, 29 1,26 0,07 - 700 gram Penambahan ampas
Mei 2019) kelapa 100 gram.
Pakan yang
diberikan adalah
tahu.
Pengukuran
17
- dilakukan dengan
(Kamis, 30 1,78 0,102 750 gram
mengambil 5 magot
Mei 2019)
secara acak.
18 Total larva BSF =
(Jum’at, 31 1,62 0,134 - - 1,56 kg
2019) Kasgot = 1,9 kg
23

Tabel 4. . Hasil Pengamatan (limbah sayur-sayuran) panjang magot, berat magot


dan total produksi magot
Hari ke Pembuatan makan Pengukuran
-
pagi sore panjang berat keterangan
0 - - - - Berupa telur BSF
yang masih kecil dan
tak terlihat
mengunakan visual
1. - - - - Telor sudah menetas
tapi sebagian masih
belum menetas dan
kondisi pangan masih
basah dan warna
makanan agak
hitamdan magot
banyak menetas di
bawah daun pisang
dan tidak ada seranga
yang masuk dan untuk
pakan ditambah air 1
ml

2. - - - - Untuk magot
menyebar di bawah
dari daun pisang dan
semua menetas dan
ukuran magot agak
besar dari hari satu air
ditambah 3 ml
3. - - - - Untuk magot sudah
bisa terlihat jelas
24

dengan mata dan


pakan diberi 5 gram
dan air ditambah 6 ml
dan daun pisang sudah
coklat dan kering
4. - - - - Hanya dilakukan
pengamatan magot
perkembangan masih
sama
5. - - - Pakan diberi air 3 ml
pengamatan magot
perkembangan masih
sama
- - - - Pakan diberi air 6 ml
6. air pengamatan magot
perkembangan masih
sama
7. - - - - Magot agak besar dan
pakan sudah agak
kering dan ditambah
air 4 ml
8. - - - - Perkembangan magot
masih sama seperti
hari kemaren dan
tampa ada
penambahan air pada
pakan
9 - 100 gram - - Mulai diberi pakan
berupa limbah resto
100 gram dan
25

ditambahkan air 15
ml air karena pakaan
kering dan pakan
disebar keseluruh
bagian magot dan
daun pisang dibuang
10 50 gram 100 gram - - Hanya pemberian
makan magot
makanan menyusut
dan kering dan
ditambah air 2 ml
11. - 100 gram 1 cm 30 Ukuran magot tidak
gram merata ada yang kecil
dan besar bertambah
ukuran 1 cm
12. - 150 gram 1,2 cm 33 Magot masih sama
gram dengan pengamtan
yang kemaren
13. - 200 gram 1,2 cm 62 Magot bertambah
gram berat
14. - 420 gram 1,8 cm 0,87 Magot bertambah
gram berat dan pakan
ditambah
15. - 700 gram 1, 6 cm 0, 23 Pakan ditambah 700
gram gram dan ditambah
kelapa parut
16. - 750 gram 1,7 cm 0, 14 Magot diberi makan
lebih karena mulai ada
magot yang mulai
mau menjadi pupa
26

17. - - 1,8 cm 1, 300 Magot dipanen


kg
Berat kasgot = 500 gram

4.2. Pembahasan
Maggot merupakan organisme yang berasal dari telur black soldier yang
mengalami metamorfosis pada fase kedua setelah fase telur dan sebelum fase pupa
yang kemudian berubah menjadi lalat dewasa. Klasifikasi maggot adalah sebagai
berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Diptera
Family : Stratiomyidae
Subfamily : Hermetiinae
Genus : Hermetia
Species :H. Illucens

Maggot mengalami beberapa tahapan selama siklus hidupnya, yang diawali


dengan telur yang dihasilkan oleh black soldier , kemudian telur menetas menjadi
larva, larva berkembang menjadi pupa, dan akhirnya pupa menjadi black soldier
dewasa. Berikut ini dapat dilihat siklus hidup dari black soldier.

Maggot umumnya dikenal sebagai organisme pembusuk karena kebiasaannya


mengkonsumsi bahan-bahan organik. Maggot mengunyah makanannya dengan
mulutnya yang berbentuk seperti pengait (hook ). Maggot dapat tumbuh pada
27

bahan organik yang membusuk di wilayah temperate dan tropis. Maggot dewasa
tidak makan, tetapi hanya membutuhkan air sebab nutrisi hanya diperlukan untuk
reproduksi selama fase larva. Hermetia illucens dalam siklus hidupnya tidak
hinggap dalam makanan yang langsung dikonsumsi manusia. Dalam usia dewasa
makanan utamanya adalah sari bunga, sedangkan pada usia muda makanannya
berasal dari cadangan makanan yang ada dalam tubuhnya. Perkembangbiakan
dilakukan secara seksual, yang betina mengandung telur, kemudian telur diletakan
pada permukaan yang bersih, namun berdekatan dengan sumber makanan yang
cocok untuk larva. Larva kecil sangat memerlukan banyak makanan untuk tumbuh
sehingga menjadi pupa. Sumber makanan yang paling disukai nampaknya adalah
PKM yang sudah terfermentasi. Dengan demikian prospek untuk pengembangan
magot sebagai pakan ikan lebih aman adalah Hermetia illucens.
Larva lalat BSF dapat tumbuh dan berkembang subur pada media organik,
praktikum ini digunakan limbah sayuran untuk media perkembangbiakan magot,
limbah sayuran sebagai sumber nutrien dengan kadar protein yang cukup dan
mengukung untuk media pertumbuhan dan perkembangbiakan magot,
memberikan jenis limbah sayuran yang berbeda akan sangat memberikan kualitas
dan hasil yang baik bagi magot. Hasil akhir pemanen magot 230 gram tidak
terdapat kasgot setelah 10 hari proses pemberikan pakan pada magot. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi hasil dan kualitas magot, salah satunya ialah
dalam pemberian makan, perlu diketahui bahwa magot menyukai tempat yang
lembab untuk mendukung proses tumbuh dan perkembangan magot, akan tetapi
jika kondisi terlalu lembab atau media banyak mengandung air maka akan
menyebabkan magot tidak nyaman didalam dan akan keluar dari tempat itu,
selanjutnya suhu, suhu yang umum untuk kelngsungan kehidupan magot sekitar
30oC dan paling tinggi 35oC suhu seperti akan mempercepat tumbuh kembang
magot, suhu rendah juga tidak baik, karena akan memperlambat pertumbuhan
magot. Teknik pemanenan setelah 10 hari pemberian makan berbeda dengan
media lain, untuk limbah sayuran sendiri teknik pemanennya dengan
menggunakan bantuan air, sebab dimana media yang telalu basah sehingga hasil
yang didapat tidak sesuai yang diharapkan. Untuk tekniknya melakukan
28

penambahan air kedalam tempat, kemudian magot akan mengapung lalu disaring
menggunakan alat penyaring yang kemudian dibuat dekat dengan sinar matahari
agar magot ditimbang kering itu sebabnya tidak ada kasgot yang dihasilkan.
Pada praktikum ini digunakan berbagai media limbah yang berbeda untuk
mengetahui media yang paling baik untuk menumbuhkan maggot. Limbah yang
digunakan antara lain: limbah sayuran, limbah buahan, limbah ampas tahu dan
limbah resto. Bahan-bahan tersebut merupakan hasil limbah rumah tangga
maupun sisa makanan atau dari pengolahan yang harganya relatif murah namun
dapat digunakan sebagai media pertumbuhan maggot sebab masih memiliki
kandungan nutrisi di dalamnya.

Pemanenan maggot dilakukan dengan memisahkan maggot dari media


tumbuhna yaitu dengan menggemburkan tanah dibawah cahaya matahari, pada
saat itu maggot akan bergerak ke atas. Saat maggot di atas permukaan media
dilakukan pengumpulan maggot dan diletakkan di dalam wadah yang telah
disediakan. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan budidaya maggot.
Hal yang mempengaruhi produksi maggot pada media yang disediakan yaitu
kondisi lingkungan budidaya maggot dan kandungan nutrien bahan. Dilihat dari
kondisi lingkungannya, magot menyukai kondisi lingkungan yang lembab. Begitu
juga dengan kandungan nutrien pada media tumbuh maggot. Kandungan nutrien
yang optimum sangat penting bagi pertumbuhan biomassa maggot, menurut bahan
yang cocok bagi pertumbuhan maggot adalah bahan yang banyak mengandung
bahan organik.
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada kegiatan ini tampak bahwa media
yang menghasilkan jumlah maggot terbanyak yaitu media limbah Ampas tahu
dan limbah Resto hal itu tampak dari jumlah hasil panen maggot yang dihasilkan
yaitu secara berurut 1,56kg maggot dan kasgotnya 1,9 gram pada limbah Ampas
29

tahu dan 1,3 kg maggot dan kasgotnya 500 g pada media limbah Resto. Rata-rata
produksi magot pada berbagai perlakuan dan waktu pengamatan sangat bervariasi,
dimana total produksi magot tertinggi pada limbah resto dan ampas tahu. Hal ini
karena pada media tersebut terdapat nutrisi yang cukup untuk memacu
pertumbuhan magot dan tingginya bahan organik pada media akan meningkatkan
jumlah bakteri dan jumlah partikel organik hasil dekomposisi oleh bakteri dan
meningkatkan jumlah bahan makanan pada media tersebut, sehingga dapat
mempengaruhi peningkatan produksi magot tersebut. Bahan yang cocok bagi
pertumbuhan magot adalah bahan yang banyak mengandung bahan organik.
Limbah resto terdiri dari campuran beberapa bahn sisa makanan seperti
ikan,daging, sayur, buah, nasi dll. Suhu media pertumbuhan pada magot dapat
mempengaruhi pada produksi dan laju pertumbuhan magot. Magot yang
dibudidayakan di media dengan suhu 27oC pertumbuhannya lebih lambat
dibandingkan suhu 30oC dan jika suhu mencapai 36oC tidak akan ada magot yang
bertahan hidup, berdasarkan hal tersebut maka suhu pada beberapa media pagi dan
siang hari termasuk dalam kategori suhu yang cukup ideal berkisar antara 34-
35oC.
30

V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut ini:
1. Media pertumbuhan mempengaruhi produksi maggot
2. Yang menghasilkan maggot hanya pada media darah dan ampas tahu
3. Produksi, kandungan protein, dan kandungan lemak maggot terbanyak
pada media darah
4. Kandungan air maggot tertinggi pada ampas tahu
5.2. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat disarankan
bahwa:
1. Media tumbuh yang digunakan dapat lebih bervariasi lagi
2. Untuk kedepan maggot ini dapat dijadikan penelitian dengan
mengaplikasikan ke ternak atau dibudidayakan dan diperjual-belikan

9
31

Anda mungkin juga menyukai