Anda di halaman 1dari 93

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROPALEONTOLOGI

OLEH :

WIRA NANDA

410017020

Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti Responsi Praktikum Mikropaleontologi

2019,Jurusan Teknik Geologi,Institut Teknologi Nasional Yogyakarta.

Yogyakarta, 30 Juni 2019

Asisten Dosen Praktikum Asisten Dosen Praktikum

Mikropaleontologi Mikropaleontologi

(..................................................) (...............................................)

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha

Panyayang, saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah

melimpahkan rahmat,hidayah,dan inayah-Nya kepada saya,sehingga saya dapat

menyelesaikan Praktikum Mikropaleontologi ini.

Laporan Praktikum Praktikum Mikropaleontologi ini pihak sehingga dapat

memperlancar pembuatan laporan ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima

kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan laporan ini.

Terlepas dari semua itu, Saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu

dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik yang bersifat

membangun. Sangat diharapkan guna dalam penyusunan laporan-laporan

selanjutnya dapat lebih baik lagi.

Akhir kata saya berharap semoga laporan praktikum Mikropaleontologi ini

dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan membantu dalam proses belajar

dan mengajar.

Yogyakarta, 30 Juni 2019

Wira Nanda

ii
DAFTAR ISI

COVER

LEMBAR PERSEMBAHAN i

HALAMAN PENGESAHAN ii

DAFTAR ISI iii

DAFTAR GAMBAR 1

DAFTAR TABEL 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 4

1.2. Maksud dan Tujuan 5

1.3. Metode 5

BAB II DASAR TEORI

2.1. Mikropaleontologi 6

2.2. Foraminifera 13

2.3. Foraminifera Plangtonik 15

2.3.1 Morfologi Foraminifera Plangtonik 17

2.4. Foraminifera Benthonik 24

2.4.1 Morfologi Foraminifera Benthonik 29

2.5. Foraminifera Besar 40

2.5.1 Morfologi Foraminifera Besar 41

2.6. Aplikasi Mikropaleontologi 42

2.6.1 Penentuan Umur 51

2.6.2 Penentuan Lingkungan Pengendapan 52

BAB III PEMBAHASAN

iii
3.1. Morfologi Foram 54

3.1.1. Taksonomi 54

3.1.2. Siklus Perkembang Biakan 54

3.1.3. Susunan Morfologi 55

3.1.4. Lampiran Form Praktikum 60

3.2.Foraminifera Plangtonik 64

3.2.1 Famili Globigerinidae 64

3.2.2 Famili Groborotalidae 66

3.2.3 Famili Hantkenidae 68

3.2.4 Lampiran Form Praktikum 69

3.3.Foraminifera Benthonik 73

3.3.1 Genus Dentalina 74

3.3.2 Genus Amphistegina 74

3.3.3 Genus Bathysipon 75

3.3.4 Genus Bolivina 75

3.3.5 Genus Nodogerina 75

3.3.6 Lampiran Form Praktikum 76

3.4.Foraminifera Besar 80

3.4.1 Genus Nummulites 83

3.4.2 Genus Discocyclina 83

3.4.3 Genus Lepidocyclina 83

3.4.4 Lampiran Form Praktikum 84

BAB IV PENUTUP 88

DAFTAR PUSTAKA 90

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.Saccammina 29

Gambar 2. Lagena 29

Gambar 3. Hyperammina 30

Gambar 4. Lagena 30

Gambar 5. Orthovertell 31

Gambar 6. Rectocornuspira 31

Gambar 7. Rhabdamina abyssorum 31

Gambar 8. Lenticulina sp. 32

Gambar 9. Dendrophyra crecta 32

Gambar 10. Astroshizalimi colasandhal 32

Gambar 11. Planorbulinoides reticnaculata 33

Gambar 12. Pyrgo murrhinav 33

Gambar 13. Flabellina rugosa 33

Gambar 14. Textularia cretoa 34

Gambar 15. Vaginulina laguman 34

Gambar 16. Pavanina flabelliformis 34

Gambar 17. Siphonogerina 35

Gambar 18. Nodosaria 35

Gambar 19. Glandulina 36

Gambar 20. Dentalina 36

Gambar 21. Elphidium 37

Gambar 22. Nonion 37

Gambar 23. Rotalia 38

1
Gambar 24. Globigerina. 38

Gambar 25. Textularia 38

Gambar 26. Uvigerina 39

Gambar 27. Bigerina 39

Gambar 28. Vulvulina 39

Gambar 29. Berbagai jenis foraminifera kecil (sebagian besar benthonik, tanpa

skala) (Thomson, 2005) 41

Gambar 30. Benthonic vs Planktonic, Besar vs Kecil 42

Gambar 31. foraminifera plangtonik 67

Gambar 32. Jenis Foraminifera 67

Gambar 33. Globorotalia 68

2
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Taksonomi mikro organism 12

Tabel 2. Taksonomi mikro organisme dan penemu 12

Table 3. Zonasi Blow 1969 52

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mikropaleontologi cabang ilmu palenteologi yang khusus membahas semua

sisa-sisa organisme yang biasa disebut mikro fosil.yang dibahas antara laian adalah

mikrofosil, klasifikasi, morfologi, ekologi dan mengenai kepentingannya terhadap

stratigrafi.

Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (protista) yang mempunyai

cangkang atau test (istilah untuk cangkang internal). Foraminifera diketemukan

melimpah sebagai fosil, setidaknya dalam kurun waktu 540 juta tahun. Cangkang

foraminifera umumnya terdiri dari kamar-kamar yang tersusun sambung-

menyambung selama masa pertumbuhannya. Bahkan ada yang berbentuk paling

sederhana, yaitu berupa tabung yang terbuka atau berbentuk bola dengan satu

lubang. Cangkang foraminifera tersusun dari bahan organik, butiran pasir atau

partikel-partikel lain yang terekat menyatu oleh semen, atau kristal CaCO3 (kalsit

atau aragonit) tergantung dari spesiesnya. Foraminifera yang telah dewasa

mempunyai ukuran berkisar dari 100 mikrometer sampai 20 sentimeter.

Kegunaan dari mempelajari mikropaleontologi sangat penting bagi geologist

karena merupakan sarana penting untuk mengetahui umur batuan dan lingkungan

pengendapan suatu daerah, dengan mempelejari mikropaleontologi merupakan

aplikasi untuk mengetahui keberadaan minyak dan gas saat diadakan eksplorasi

migas.

4
1.2 Maksud Dan Tujuan

1.2.1 Maksud

Ada pun dari Praktikum Geologi Mikropaleontologi adalah untuk

memenuhi kurikulum 3 SKS dari matakuliah Mikropaleontologi dan juga sebagai

salah satu bukti bahwa praktikan telah mengikuti Praktikum Mikropaleontologi

dan dapat mengikuti responsi Praktikum Mikropaleontologi dengan membuat

Laporan Resmi sesuai dengan Format yang diberikan Para Asisten Pengampu

Praktikum ini.

1.2.2 Tujuan

Tujuanya adalah agar praktikan mampu lebih mempelajari morfologi atau

bentuk, sruktur mikro maupun komposisi kimia dan mineral dari pada mikrofosil

tersebut., Untuk dapat membuat klasifikasi dan mengurut asal-usulnya dalam

suatu sistematika yang benar, Untuk mempelajari hubungan antara mikrofosil

tersebut dan peranannya dalam proses sedimentasi batuan, paleogeografi,

stratigrafi dan paleobiologi, Untuk dapat menentukan lingkungan pengendapan

dari mikrofosil dan umur batuan yang mengandungnya dan Untuk dapat

menentukan korelasi suatu wilayah.

1.3 Metode

Metode yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah menggunakan

metode primer dan skunder. Metode primer adalah metode yang menggunakan data

di lapangan atau laboratorium dan metode skunder yaitu metode berdasarkan dasar

teori yang diambil dari buku panduan, mikropaleontlogi, dan sumber dari internet.

5
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Mikropaleontologi

Mikropaleontologi merupakan studi yang secara khusus mempelajari sisa-

sisa oraganisme yang terawetkan di alam dengan menggunakan mikroskop.

Organisme yang terawetkan tersebut dinamakan fosil mikro karena berukuran

sangat kecil. Sebagai contoh fosil mikro adalah fosil-fosil dari organisme golongan

foraminifera. Golongan ini umumnya mempunyai ukuran yang kecil, sehingga

untuk mengadakan penelitian harus menggunakan mikroskop. Umumnya fosil

mikro berukuran lebih kecil dari 0,5 mm, tetapi ada pula yangg mencapai 19 mm

(Genus Fusulina).

Fosil-fosil mikro antara lain dari : Calcareous Nannofosil, Conodonts,

Diatoms, Foraminifera, Ostracoda dan Radiolaria.

Mikrolitologi merupakan studi mikroskop yang membahas tentang batuan

sedimen, antara lain warna, tekstur, struktur, pemilahan, fragmen, serta sementasi

dari sedimen. Alatnya berupa mikroskop Binokuler. Mikrostratigrafi merupakan

gabungan ilmu mikropaleontologi dengan mikrolitologi, khususnya digunakan

dalam korelasi.

1. Sejarah Mikropaleontologi

Sebelum zaman masehi, fosil-fosil mikro terutama ordo foraminifera sangat

sedikit untuk diketahui. Meskipin demikian, filosof-filosof Mesir banyak yang

menulis tentang keanehan alam.

6
HERODOTUS dan STRABO (abad kelima dan ketujuh sebelum Masehi)

menemukan benda-benda aneh disekitar Piramid, mereka mengatakan bahwa benda

tersebut adalah sisa-sisa makanan para pekerja yang telah menjadi keras, padahal

benda tersebut adalah fosil-fosil Nummulites. Fosil ini terdapat pada batugamping

berumur Eosen, yang digunakan sebagai bahan bangunan Piramid.

Perkembangan ilmu mikropaleontologi :

a. AGRICOLA (1739) menggambarkan benda-benda aneh tersebut sebagai

“Stone Lentils”.

b. GESNER (1565) menulis tentang sistematika paleontologi.

c. VAN LEEUWENHOEK (1660) menemukan mikroskop. Dengan

penemuan alat ini, maka penyeledikan terhadap fosil mikro berkembang

dengan pesat.

d. BECCARIUS (1739) pertama kali menulis tentang foraminifera yang dapat

dilihat pada mikroskop.

e. CARL VON LINEOUS (1758), orang swedia yang memperkenalkan tata

nama baru dalam bukunya yang berjudul “Systema Naturae”. Tata nama ini

penting karena cara penamaan ini lebih sederhana dan sampai sekarang

digunakan untuk penamaan binatang maupun tumbuhan.

f. D’ORBIGNY (1802-1857) menulis tentang foraminifera yang digolongkan

dalam kelas Cephalopoda. Beliau juga menulis tentang fosl mikro seperti

Ostracoda, Conodonta, sehingga beliau dikenal sebagai Bapak

Mikropaleontologi.

g. EHRENBERG dalam penyelidikan organisme mikro menemukan berbagai

jenis Ostracoda, Foraminifera dan Flagellata. Penyelidikan tentang sejarah

7
perkembangan foraminifera dilakukan oleh CARPENTER dan LISTER

(1894). Selain itu, mereka juga menemukan bentuk-bentuk mikrofosil dari

cangkang-cangkang foraminifera.

h. CUSHMAN (1927) pertama kali menulis tantang fosil-fosil foraminifera

dan menitikberatkan pada studi determinasi foraminifera, serta menyusun

kunci untuk mengenal fosil-fosil foraminfera.

i. JONES (1956) membahas fosil mikro, diantaranya Foraminifera,

Gastropoda, Conodonta, Spora dan Pollen serta kegunaan fosil-fosil

tersebut, juga membahas mengenai ekologinya.

2. Fosil Mikro

Definisi Mikro fosil menurut Jones, 1936. Mikro fosil adalah setiap fosil

yang biasanya kecil dan untuk mempelajarinya digunakan alat bantu Mikroskop.

Fosil mikro dalam batuan tersebut terdapat bersama dengan bahan lain telah

direkatkan oleh semen.Dalam mikropaleontologi yang dipelajari adalah Phylum

protozoa, class Sarcodina, OrdoForaminifera.

Berdasarkan kegunaannya, maka dikenal beberapa istilah yaitu :

a. Fosil Indeks / Fosil penunjuk / Fosil Pandu adalah Fosil yang digunakan

sebagai penunjuk umur relatif. Pada umumnya jenis fosil ini mernpunyai

penyebaran vertikal pendek dan penyebaran lateral luas serta mudah dikenal.

b. Fosil Bathimetri / Fosil Kedalaman adalah Fosil yang dapat digunakan untuk

menentukan lingkungan pengendapan. Pada umumnya yang dipakai adalah

benthos yang hidup di dasar.

Contoh : Elphidium spp penciri lingkungan transisi (Tipsword, 1966).

8
c. Fosil Horison / Fosil Lapisan / Fosil Diagnostik / Fosil Kedalaman adalah Fosil

yang mencirikan atau khas tecdapat di dalam lapisan yang bersangkutan.

Contoh : Globorotalia tumida (penciri N18).

d. Fosil Lingkungan adalah Fosil yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk

lingkungan sedimentasi. Contoh : Radiolaria sebagai penciri laut dalam.

e. Fosil Iklim adalah Fosil yang dapat digunakan sesuai penunjuk iklim pada saat

itu. Contoh : (Globigerina pachiderma penciri iklim dingin (2-5).

3. Makna dan Tata Cara Penamaan Fosil

Seorang sarjana Swedia, Carl Von Line (1707-1778) yang kemudian

melahirkan namanya menjadi Carl Von Linnaeus membuat suatu hukum yang

dikenal LAW OF PRIORITY (1958), yang pada pokoknya menyebutkan bahwa

nama yang telah dipergunakan suatu individu tidak dipergunakan untuk nama

individu yang lain. Nama kehidupan pada tingkat genus terdiri dari satu kata,

sedangkan tingkat spesies terdiri dari dua kata, tingkatan subspesies terdiri dari tiga

kata. Nama-nama kehidupan selalu diikuti oleh orang yang menemukannya.

Beberapa contoh penamaan fosil adalah sebagai berikut:

a. Globorotalia menardii exilis Blow, 1969 atau Globorotalia menardii exilis

Blow, 1969 Penamaan fosil hingga subspesies diketemukan oleh Blow,

tahun 1969.

b. Globorotalia humerosa n.sp. TAKAYANAGI & SAITO, 1962 atau

Globorotalia humerosa n.sp. TAKAYANAGI & SAITO, 1962 n.sp. Artinya

spesies baru.

9
c. Globorotalia rubber elongatus (D’ORBIGNY), 1862 atau Globorotalia

rubber elongatus (D’ORBIGNY), 1862 Penemuan pertama dari fosil

tersebut adalah D’ORBIGNY dan pada tahun 1862 fosil tersebut diubah

oleh ahli lain yang menemukannya. Hal ini sebagai penghormatan pada

penemu pertama kali nama fosil tersebut dicantumkan dalam kurung.

d. Pleumotora carinata GRAY, Van woodwardi MARTIN atau Pleumotora

carinata GRAY, Van woodwardi MARTIN Yang artinya GRAY

memberikan nama spesies sedangkan MARTIN memberikan nama varietas.

e. Globorotalia acostaensis pseudopima n.sbsp BLOW, 1969 atau

Globorotalia acostaensis pseudopima n.sbsp BLOW, 1969 n.sbsp artinya

subspesies baru.

f. Dentalium (s.str) ruteni MARTIN atau Dentalium (s.str) ruteni MARTIN

Artinya fosil yang ditemukan tersebut sinonim dengan Dentalium ruteni

MARTIN yang diumumkan sebelumnya.

g. Globigerina angulisuturalis ? atau Globigerina angulisuturalis ? Artinya

tidak yakin apakah betul Globigerina angulisuturalis.

h. Globorotalia cf. tumida atau Globorotalia cf. Tumida Artinya tidak yakin

apakah bentuk ini betul Globorotalia tumida tetapi dapat dibandingkan

dengan spesies ini. ( cf = confer )

i. Sphaeroidinella aff dehiscens atau Sphaeroidinella aff. Dehiscens Artinya

bentuk ini berdekatan (berfamili) dengan Sphaeroidinella dehiscens. ( aff =

affiliation )

j. Ammobaculites spp. atau Ammobaculites spp.Mempunyai bermacam-

macam spesies.

10
k. Recurvoides sp atau Recurvoides sp Artinya spesies (nama spesies belum

dijelaskan ).

4. Pengukuran Penampang Stratigrafi

Secara umum tujuan dari pengukuran penampang stratigrafi adalah :

1. Mendapatkan data litologi terperinci dari urut-urutan perlapisan suatu

stratigrafi.

2. Menentukan satuan batuan.

3. Menentukan satuan stratigrafinya (formasi, kelompok , anggota dan

sebagainya).

4. Mendapatkan ketebalan yang teliti dari tiap-tiap satuan stratigrafi.

5. Untuk mendapatkan dan mempelajari hubungan stratigrafi antar satuan

batuan dan urut-urutan sedimentasi dalam arah vertikal secara detail

untuk menafsirkan lingkungan pengendapan.

Dalam kenyataannya di Indonesia untuk dapat melakukan pengukuran

penampang stratigrafi tidaklah mudah dapat dilakukan sehubungan dengan kondisi

singkapan batuannya. Seorang geologiawan yang baik meskipun kondisi singkapan

daerah pemetaan tidak semua baik akan tetap berusaha untuk melakukan

pengukuran pada singkapan-singkapan yang menerus.

5. Sistematika Mikropaleontologi

Pada umumnya studi mikrofosil yang rinci, biasanya disertai dengan

pembahasan sistematika paleontologi, antara lain meliputi taksonominya. Urutan

klasifikasi makhluk hidup, sesuai dengan ranking atau kedudukannya, untuk

11
foraminifera dan salah satu jenis hewan adalah seperti yang klasifikasikan pada

tabel 1.

Kingdom Protista Animalia

Filum Protozoa Chordata

Klas Sarcodina Mammalia

Ordo Foraminifera Carnivora

Famili Globigerinidae Felidae

Genus Globigerina Felis

Spesies nepenthes catus

Tabel.1. Takstonomi mikro organisme (Sumber: Modul Mikropaleo/UGM 2009)

Salah satu contoh urutan klasifikasi, dalam pembahasan Sistematika

Paleontologi serta yang menemukan fosil tersebut seperti pada tabel 2.

Klasifikasi Organisme Penemu dan Tahun

Kingdom Protista Haeckel, 1866

Filum Protozoa Goldfuss, 1818

Klas Sarcodina Hertwig & Lesser, 1874

12
Ordo Foraminiferida Eichwald, 1830

Famili Globigerinidae Carpenter, Parker & Jones,1862

Genus Globigerina D’Orbigny, 1826

Spesies Globigerina venezuelana Hedberg, 1937

Tabel 2. Takstonomi mikro organisme dan penemu

(Sumber: Modul Mikropaleo/UGM 2009)

2.2 Foraminifera

Foraminifera adalah suatu organisme satu sel yang memiliki cangkang

kalsit dan merupakan salah satu organisme dari kingdom protista yang sering

dikenal dengan rhizopoda (kaki semu). Cangkang atau kerangka foraminifera

merupakan petunjuk dalam pencarian sumber daya minyak, gas alam dan mineral.

Foraminifera adalah kerabat dekat Amoeba, hanya saja amoeba tidak memiliki

cangkang untuk melindungi protoplasmanya.

Klasifikasi Foraminifera didasarkan atas komposisi, atas komposisi

dinding testnya dan dinding testnya

 Subordo Allogromina: Dinding test Tectinous/Subordo Allogromina:

Dinding test Tectinous/PseudokhitinPseudokhitin

 Subordo Textulariina : Dinding test Agglutinated /Subordo Textulariina :

Dinding test Agglutinated /Arenaceous = tersusun oleh butiran

mineral/Arenaceous = tersusun oleh butiran mineral/pecahan cangkang yang

yang dilekatkan oleh zatpecahan cangkang yang yang dilekatkan oleh

zatperekat. Kenampakannya kasar, berbintil-bintil.perekat. Kenampakannya

kasar, berbintil-bintil.

13
 Subordo Miliolina : Dinding test calcareousSubordo Miliolina : Dinding test

calcareousimperforate/porcellaneous, Kenampakan

halus,imperforate/porcellaneous, Kenampakan halus,putih, opak, seperti

porselin.putih, opak, seperti porselin.

Jenis-jenis Foraminifora begitu beragam. Klasifikasi Foraminifera biasanya

didasarkan pada bentuk cangkang dan cara hidupnya. Berdasarakan cara hidupnya,

macam macam foraminifera dibagi menjadi 2, yaitu:

 Foraminifera plantonik

 Foraminifera betik

Berdasarkan bentuk cangkangnya, jenis jenis foraminifera terbagi menjadi 3, yaitu:

 Arenaceous (Foraminifera bercangkang pasiran)

 Porcelaneous (Foraminifera bercangkang gampingan tanpa pori)

 Hyalin (Foraminifera bercangkang gampingan berpori)

Foraminifera bentik hidup di lapisan sedimen hingga kedalaman beberapa

puluh sentimeter, sedangkan Foraminifera planktonik hidup didaerah perairan.

Foraminifera planktonik tersebar luas di laut-laut terbuka dengan kedalam air lebih

dari 10 meter.

Berdasarkan ukuran mikroskopis, kekerasan cangkang, serta sebaran

geografis dan geologisnya, jenis hewan ini sangat potensial untuk digunakan

sebagai petunjuk kondisi suatu lingkungan, baik pada masa kini maupun masa lalu.

Cangkang foraminifera bentik memiliki ukuran yang berkisar antara 5 μ

hingga beberapa sentimeter. Foraminifera bentik memiliki bentuk cangkang yang

rumit dan memiliki arsitektur yang kompleks. Seperti misalnya:

14
Foraminifera bercangkang pasiran biasa ditemukan di lingkungan yang

ekstrim seperti perairan payau atau di perairan laut dalam. Disebut pasiran karena

kenampakkan permukaan cangkang terlihat kasar seperti taburan gula pasir.

Foraminifera bercangkang gampingan tanpa pori biasa hidup soliter dengan

membenamkan cangkangnya ke dalam sedimen kecuali bagian mulutnya (aperture)

yang muncul kepermukaan sedimen. Dinamakan Porselaneous karena pada

cangkang dewasa, kenampakan foraminifera porcellaneous tampak seperti

jambangan porselen dengan bentuk kamar bersegi atau lonjong.

Foraminifera gampingan berpori merupakan jenis yang memiliki variasi

bentuk cangkang sangat banyak seperti lampu kristal dengan ornamen rumit, bening

dan berkilau.

Cangkang foraminifera terbuat dari kalsium karbonat (CaCO 3) dan fosilnya

dapat digunakansebagai petunjuk dalam pencarian sumber daya minyak, gas alam

dan mineral. Selain itu karena keanekaragama dan morfologinya kompleks, fosil

Foraminifera juga berguna untuk biostratigrafi, dan dapat memberikan tanggal

relatif terhadap batuan.

Beberapa jenis batu, seperti batu gamping biasanya banyak ditemukan

mengandung fosil foraminifera dengan cara itu peneliti dapat mencocokan sampel

batuan dan mencari sumber asal batuan tersebut berdasarkan kesesuaian jenis fosil

foraminifera yang dimilikinya.

2.3 Foraminifera Plangtonik

Secara terminologi, foramiifera dapat didefenisikan sebagai organisme

bersel tunggal yang hidupnya secara akuatik (terutama hidup di laut), mempunyai

15
satu atau lebih kamar yang terpisah satu sama lain oleh sekat (septa) yang ditembusi

oleh banyak lubang halus (foramen). Foraminifera planktonik merupakan jenis

foraminifera yang hidup dengan cara mengambang di permukaan laut.

Foraminifera jumlah genusnya sedikit, tetapi jumlah spesiesnya banyak.

Planktonik pada umumnya hidup mengambang dan bergerak tergantung oleh arus

pasif di permukaan laut. Fosil planktonik ini dapat digunakan dalam memecahkan

masalah geologi antaralain sebagai berikut.

1. Sebagai fosil petunjuk.

2. Digunakan dalam pengkorelasian batuan.

3. Penentuan umur relative suatu lapisan batuan.

4. Penentuan lingkungan pengendapan.

Foraminifera planktonik tidak selalu hidup di permukaan laut, melainkan

dapat pula hidup pada kedalaman-kedalaman tertentu yakni sebagai berikut.

1. Hidup pada kedalaman antara 30-50 meter

2. Hidup pada kedalaman antara 50-100 meter

3. Hidup pada kedalaman 300 meter

4. Hidup pada kedalaman 1000 meter

Jumlah foraminifera planktonik sangat kecil dibandingkan dengan spesies

foraminifera bentonik. Umumnya foraminifea planktonik tidak mampu bertahan

hidup terhadap pengurangan salinitas da nada juga yang tidak tahan terhadap

perubahan suhu (temperatur) yang relatif besar. Meskipun demikian, ada golongan

foraminifera planktonik yang selalu menyesuaikan diri terhadap temperatur,

sehingga pada wakt siang hari hidupnya hamper di dasar laut, sedangkan pada

malam hari hidup di permukaan air laut. Sebagai contoh adalah

16
Globigerinapachyderma di Laut Atlantik Utara hidup pada kedalaman 30-50 meter,

sedangkan di Laut Atlantik Tengah hidup pada kedalaman 200-300 meter.

2.3.1 Morfologi Foraminifera Plangtonik

Foraminifera planktonik mempunyai ciri yang membedakannya dengan

foraminifera yang lain. Ciri-ciri umum foraminifera planktonik yakni sebagai

berikut.

1. Test (cangkang) berbentuk bulat.

2. Susunan kamar umumnya Trochospiral.

3. Komposisi test berupa gmping hyaline.

4. Hidup di laut terbuka (mengambang).

5. Di daerah tropis melimpah dan jenisnya sangat bervariasi.

6. Di daerah subtropis-sedang jumlahnya sedikit tapi spesiesnya yang

bervariasi.

7. Di daerah subkutub jumlahnya melimpah tetapi spesiesnya sedikit.

1. Susunan Kamar dan Jumlah Putaran

Susunan kamar foraminifera dapat dibagi menjadi:

a) Planispiral yaitu sifatnya berputar pada satu bidang, semua kamar terlihat

dan pandangan serta jumlah kamar ventral dan dorsal sama. Contohnya:

Hastigerina

b) Trochospiral yaitu sifat terputar tidak pada satu bidang, tidak semua kamar

terlihat, pandangan serta jumlah kamar ventral dan dorsal tidak sama.

Contohnya Globigerina

17
c) Streptospiral yaitu sifat mula-mula trochospial, kemudian planispiral

menutupi sebagian atau seluruh kamar-kamar sebelumnya. Contoh

Pulleniatina.

Adapun cara menghitung jumlah putaran pada cangkang foraminifera kita harus

dapat melihat dahulu arah putarannya, apakah searah jarum jam atau berlawanan,

ini dapat dilihat dari perkembangan kamarnya. Setelah itu ditentukan nomor urutan

perkembangan kamarnya mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar. Barulah

dapat ditarik garis yang memotong kamar satu, kamar nomor dua, dan seterusnya

hingga amar terakhir. Setelah itu, hitung jumlah putarannya.

2. Bentuk Test

Bentuk test adalah bentuk keseluruhan dari cangkang foraminifera. Macam-

macam test foraminifera antaralain:

a) Globular (berbentuk bola bundar)

b) Disk (berbentuk seperti botol)

c) Cylindrical (berbentuk seperti batang)

d) Spiral

e) Stellate (berbentuk seperti bintang)

f) Cancellate

g) Lancelate (berbentuk seperti gada)

h) Conical (berbentuk kerucut)

i) Spherical

j) Discoidal (berbentuk seperti cakram)

k) Fusiform (bentuk kombinasi)

18
l) Biumbilicate (mempnyai 2 umbilicus)

m) Tabular (berbetuk seperti tabung)

n) Bifurcating (berbentuk seperti cabang)

o) Aborescent (berbentuk seperti pohon)

p) Radiate (bentuk radial)

q) Irregular (tidak teratur)

r) Hemispherical (bentuk setengah bola)

s) Zig-zag

t) Biconvex (cembung pada kedua sisi)

u) Flaring (seperti obor)

v) Spiroconvex (cembung pada sisi dorsal)

w) Umbiliconvex (cembung pada sisi ventral)

x) Lenticular biumbilicate (seperti ensa)

y) Palmate (seperti daun)

z) Arborescent (seperti pohon)

3. Bentuk Kamar

Bentuk kamar adalah bentuk masing-masing pembentuk test cangkang

foraminifera. Macam-macam bentuk kamar, antaralain:

a) Spherical

b) Pyriform

c) Tabular

d) Angular truncate

e) Hemispherical

19
f) Globular

g) Angular rhomboid

h) Angular conical

i) Radial elongate

j) Ovate

k) Clavete

l) Tobuluspinate

m) Flatulose

n) Semicircular

o) Cylical

p) Neat

4. Kamar, Septa, dan Suture

Cangkang foraminifera tersusun oleh dinding, kamar, proloculum, septa,

suture, dan aperture.

a) Kamar, merupakan bagian dalam foraminifera (ruang) dimana protoplasma

berada.

b) Proloculum, merupakan kamar pertama pada cangkang foraminifera.

c) Septa, yakni bidang pada kamar yang dibatasi oleh suture. Biasanya terdapat

lubang-lubang halus berupa “foramen”. Saat pengamatan mikroskopis, epta

dapat dilihat dari luar test.

d) Suture, yaitu gairs pertemuan antara septa dengan dinding cangkang.

e) Aperture, merupakan lubang utama pada cangkang foraminifera yang

berfungsi sebagai mulut atau jaan keluarnya protolpasma.

20
Suture sangat penting dalam pengklasifikasian foraminifera, sebab kadang-

kadang foraminifera mempunyai suture yang sangat khas. Berikut ini macam-

macam bentuk suture:

a) Tertekan kuat/dalam, tertekan lemah (mlekuk), rata atau muncul di

permukaan test.

b) Lurus, melengkung lemah, melengkung sedang atau melengkung kuat.

c) Suture mempunyai hiasan.

5. Komposisi Test

Berdasarkan komposisi kimia maupun material penyusunnya, test (cangkang)

Foraminifera dapat dikelompokkan menjadi, yaitu:

a) Dinding Khitin/Tektin, merupakan bentuk dinding yang paling primitif

pada foraminifera. Dinding ini tersusun oleh zat organik yang mempunyai

zat tanduk, fleksibel, dan transparan. Biasanya berwarna kuning dan tidak

berpori (imperforate). Foraminifera yang mempunyai bentuk dinding ini

jarang yang ditemukan sebagai fosil, kecuali golongan Allogromidae.

b) Dinding Aglutinin/Aranceous, merupakan test yang terbuat dari material-

material asing yang direkatkan satu sama lainnya dengan semen. Aranceous

terdiri dari material asing berupa pasir sedangkan Aglutinin terdiri dari

material asing berupa lumpur, spong-spikulae, beraneka ragam mika, dan

lain-lain.

c) Dinding silikaan (siliceus), materialnya dihasilkan/berasal dari organisme

itu sendiri atau dapat juga merupakan material sekunder dalam

pembentukannya.

21
d) Dinding gampingan, terbagi atas empat yaitu:

 Dinding porselen, terbuat dari material gampingan, tidak berpori, terdiri

dari Kristal-kristal kalsit berukuran kriptokristalin dan mempunyai

kenampakan seperti porselen dengan warna buram atau putih.

 Dinding gampingan hyaline, hampir kebanyakan dari foraminifera

memunyai dinding tipe ini. Tipe dinding ini merupakan dinding

gampingan yang bersifat bening/transparan dan umumnya berpori halus.

 Dinding gampingan granular, dinding terdiri atas Kristal-kristal kalsit

yang granular tanpa adanya material asing atau semen

 Dinding gampingan kompleks, merupakan dinding test yang umumya

terdapat pada golongan fusulinidae (foram besar), mempunyai beberapa

lapisan yang digunakan dalam membedakan tipe Fusulinidae dan

Schagerinid.

6. Jumlah Kamar dan Jumlah Putaran

Foraminifera planktonik memiliki susunan kamar Trocospiral, dengn

jumlah kamar lebih sedikit pada sisi ventral dibandingkan dengan sisi dorsalnya.

Untuk susunan Planispiral jumlah kamar antara sisi ventral dan sisi dorsalnya sama.

7. Aperture

Aperture merupakan bagian penting pada test forminifera, karena

merupakan lubang pada kamar akhir tempat protoplasma organisme tersebut

bergerak keluar masuk. Berikut ini macam-macam aperture.

a) Primary aperture interiormarginal (aperture utama interior marginal):

22
 Primary aperture interiormarginal umbilical: aperture utama

interiormarginal yang terletak pada daerah pusat putaran (umbilicus).

 Primary aperture interiormarginal equatorial: aperture utama

interiomarginal yang terletak pada equator test. Cirinya adalah apabila

dari samping terlihat simetri dan dijumpai pada susunan planispiral

 Primary aperture extra umbilical: aperture utama interiormarginal yang

memanjang dari pusat ke peri-peri.

b) Secondary aperture (aperture sekunder): lubang lain (tambahan) dari

aperture utama dan berukuran lebih kecil.

c) Accessory aperture (aperture aksesoris): aperture sekunder yang terletak

pada struktur aksesoris atau struktur tambahan.

8. Hiasan atau Ornamen

Hasan atau ornament dapat juga dipakai sebagai penciri khas untuk genus

atau spesies tertentu. Berdasarkan letaknya, ornamen dibagi 5 yaitu:

a) Umbilicus

- Umbilical plug: umbilical yang mempunyai penutup

- Deeply umbilical: umbilical yang berlubang dalam

- Open umbilical: umbilical yang terbuka lebar

- Ventral umbo: umbilicus yang menonjol ke permukaan

b) Suture

- Bridge: bentuk seperti jembatan

- Limbate: bentuk suture yang menebal

- Retral processes: bentuk suture zig-zag

23
- Raisced bosses: bentuk tonjolan-tonjolan

c) Peri-peri

- Keel: lapisan tepi yang tipis dan bening

- Spine: lapisan yang menyerupai duri runcing

d) Aperture

- Tooth: menyerupai gigi

- Lip/rim: bentuk bibir aperture yang menebal

- Bulla: bentuk segienam teratur

- Tegilla: bentuk segienam tidak teratur

e) Permukaan test

- Punctuate: berbintik-bintik

- Smooth: mulus/licin

- Reticulate: mempunyai sarang lebah

- Pustulose: tonjolan-tonjolan bulat

- Cancallate: tonjolan-tonjolan memanjang.

2.4 Foraminifera Benthonik

Foraminifera benthonik memiliki habitat pada dasar laut dengan cara hidup

secara vagile (merambat/merayap) dan sessile (menambat). Alat yang digunakan

untuk merayap pada benthos yang vagile adalah pseudopodia. Terdapat yang

semula sesile dan berkembang menjadi vagile serta hidup sampai kedalaman 3000

meter di bawah permukaan laut. Material

24
penyusun test merupakan agglutinin, arenaceous, khitin, gampingan. Foraminifera

benthonik sangat baik digunakan untuk indikator paleoecology dan bathymetri,

karena sangat peka terhadap perubahan lingkungan yang terjadi. Faktor-faktor yang

mempengaruhi ekologi dari foraminifera benthonic ini adalah :

 Kedalaman laut

 Suhu/temperature

 Salinitas dan kimiaair

 Cahaya matahari yang digunakan untuk fotosintesis

 Pengaruh gelombang dan arus (turbidit, turbulen)

 Makanan yang tersedia

 Tekanan hidrostatik dan lain-lain.

Faktor salinitas dapat dipergunakan untuk mengetahui perbedaan tipe dari

lautan yang mengakibatkan perbedaan pula bagi ekologinya. Streblus biccarii

adalah tipe yang hidup pada daerah lagoon dan daerah dekat pantai. Lagoon

mempunyai salinitas yang sedang karena merupakan percampuran antara air laut

dengan air sungai. Foraminafera benthos yang dapat digunakan sebagai indikator

lingkungan laut secara umum (Tipsword 1966) adalah :

 Pada kedalaman 0 – 5 m, dengan temperatur 0-27 derajat celcius,banyak

dijumpai genus-genus Elphidium, Potalia, Quingueloculina,Eggerella,

Ammobaculites dan bentuk-bentuk lain yang dindingcangkangnya dibuat

dari pasiran.

25
 Pada kedalaman 15 – 90 m (3-16º C), dijumpai genus Cilicides,Proteonina,

Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina danTriloculina.

 Pada kedalaman 90 – 300 m (9-13oC), dijumpai genus Gandryna,Robulus,

Nonion, Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides danTextularia.

 Pada kedalaman 300 – 1000 m (5-8º C),Ø dijumpai Listellera,Bulimina,

Nonion, Angulogerina, Uvigerina, Bolivina dan Valvulina

Macam-macam genus dari foraminifera benthos yang sering dijumpai :

 Genus Ammobaculites Chusman. Termasuk famili Lituolidae,dengan cirri-

ciri test pada awalnya terputar, kemudian menjadiuniserial lurus, komposisi

test pasiran, aperture bulat dan terletakpada puncak kamar akhir. Muncul

pada karbon resen.

 Genus Amondiscus Reuses 1861.Termasuk famili Ammodiscidae dan ciri

– ciri test monothalamus,terputar palnispiral, kompisisi test pasiran,

aperture pada ujunglingkaran. Muncul Silur Resent.

 Genus Amphistegerina d’ Orbigny 1826.Famili berbentuk lensa, trochoid,

terputar involut, pada ventralterlihat surture bercabang tak teratur,

komposisi test gampingan,berpori halus, aperture kecil pada bagian ventral

kecil pada bagianventral

 Genus Bathysiphon Sars 1972.Termasuk famili Rhizamminidae dengan test

silindris, kadang–kadang lurus, monothalamus, komposisi test pasiran,

aperture di puncak berbentuk pipa. Muncul Silur – Resent.

26
 Genus Bolivina.Termasuk famili Buliminidae dengan test memanjang,

pipih agakruncing, beserial, komposisi gampingan, berposi aperture

padakamar akhir, kadang berbentuk lope, muncul Kapur – Resent.

 Genus d’ Orbigny 1826ü.Termasuk famili Buliminidae, test memanjang,

umunya triserial,berbentuk kamar sub globular, komoposisi gampingan

berpori.

 Genus Cibicides Monfortü 1808. Termasuk famili Amonalidae, dengan ciri

– ciri test planoconvexrotaloid, bagian dari dorsal lebih rata, komposisi

gampingan berporikasar, aperture di bagian ventral, pemukaan akhir sempit

danmemanjang.

 Genus Decalina d’ Orbigny 1826. Termasuk famili Lageridae, dengan ciri

– ciri test pilythalamus,uniserial, curvilinier, suture menyudut, komposisi

test gampingan berpori halus, aperture memancar, terletak pada ujung

kamar akhir.

 Genus Elphidium Monfortü 1808. Termasuk famili Nonionidae dengan ciri

– cirri test planispiral,bilateral simetris, hampir seluruhnya involute, hiasan

suture bridgedan umbilical, komposisi test gampingan berpori,

aperturemerupakan sebuah lubang/lebih pada dasar pemukaan kamarakhir.

 Genusü Nodogerina Chusman 1927. Termasuk famili Heterolicidae, degan

test memanjang, kamartersusun uniserial lurus, kompisi test gampingan

berpori halus,aperture terletak di puncak membulat mempunyai leher dan

bibir.Muncul Kapur – Resen.

 Genus Nodosaria Lamark 1812. Termasuk famili Lagenidae degan test lurus

memajang, kamartersusun uniserial, suturenya tegak lurus, terhadap sumbu,

27
padapemulaaan agak bengkok kemudian lurus, komposisi

gampinganberpori, aperture di puncak berbentuk radier, muncul Karbon –

Resent.

 Genus Nonion Monfort 1888. Termasuk famili Nonionidae dengan test

cenderung involute, bagiantepi membulat, umumnya dijumpai umbilical

yang dalam, komposisigampingan berpori , aperture melengkung pada

kamar akhir.Muncul Yura – Resent.

 Genus Rotalia Lanmark 1804. Umumnya suture menebal pada bagian

dorsal, bagian ventralsuturenya tertekan ke dalam, komposisi test

gampingan berpori,aperture pada bagian ventral membuka dari umbilical

pinggir.

 Genus Saccamina M. Sars 1869. Termasuk famili Sacanidae degan test

globular, komposisi test darimaterial kasar, biasanya oleh khitin berwarna

coklat, aperture dipuncak umumnya degan leher. Muncul Silur – Resent.

 Genus Textularia Derance 1824. Termasuk famili Textularidae test

memanjang kamar tersusunbiserial, morfologi kasar, komposisi pasiran,

aperture sempitmemanjang pada permukaan kamar akhir. Muncul Devon –

Resent.

 Genus Uvigerina d’ Obigny 1826. Termasuk famili uvigeridae degan test

fusiform, kamar triserial,komposisi berpori, aperture di ujung dengan leher

dan bibir. MunculEosen – Resent.

28
2.4.1 Morfologi Foraminifera Benthonik

Susunan kamar foraminifera benthonik memiliki kemiripan dengan

foraminifera planktonik, susunan kamar dan bentuknya dapat dibedakan menjadi :

a. Monothalamus

Monothalamus yaitu susunan dan bentuk kamar-kamar akhir

foraminiferayang hanya terdiri dari satu kamar. Macam-macam dari bentuk

monothalamus antara lain adalah :

 Bentuk globular atau bola atau spherical, terdapat pada kebanyakan

subfamily saccaminidae. Contohnya: Saccammina

Gambar 1 :Saccammina

 Berbentuk botol (flarkashaped), terdapat pada kebanyakan subfamily

proteonaniae. Contoh: Lagena.

Gambar 2. lagena

29
 Berbentuk tabung (tabular), terdapat pada kebanyakan subfamily

Hyperminidae. Contoh: Hyperammina, Bathysiphon.

Gambar 3. Hyperammina

 Berbentuk antara kombinasi botol dan tabung.

Contohnya : Lagena

Gambar 4. Lagena

 Cyclical atau annular chamber

Planispiral pada awalnya kemudian terputar tak teratur.

Contoh : Orthovertella, Psammaphis.

30
Gambar 5. Orthovertell

 Planispiral kemudian lurus (uncoiling).

Contoh : Rectocornuspira.

Gambar 6. Rectocornuspira

 Cabang (bifurcating).

Contohnya : Rhabdamina abyssorum.

Gambar 7. Rhabdamina abyssorum

31
 Zig-zag. Contohnya Lenticulina sp.

Gambar 8. Lenticulina sp.

 Stellate

 Fistoluse

 Arburescent, contohnya Dendrophyra crecta.

Gambar 9. Dendrophyra crecta

 Radiate. Contohnya : Astroshizalimi colasandhal.

Gambar 10. Astroshizalimi colasandhal

 Tak teratur (irregular). Contohnya : Planorbulinoides reticnaculata.

32
Gambar 11. Planorbulinoides reticnaculata

 Setengah lingkaran (hemispherical) contoh : Pyrgo murrhina.

Gambar 12. Pyrgo murrhina

 Inverted v-shaped chamber (palmate). Contohnya : Flabellina rugosa.

Gambar 13. Flabellina rugosa

 Dishotomously branched.

 Milioline

 Close coliled.

 Seperti kerucut. Contohnya : Textularia cretoa.

33
Gambar 14. Textularia cretoa

 Fusiform. Contohnya : Vaginulina laguman.

Gambar 15. Vaginulina laguman

 Pyriform. Contohnya : Elipsoglandulina velascoensis.

 Semicircular. Contohnya : Pavanina flabelliformis.

Gambar 16. Pavanina flabelliformis

b. Polythalamus

34
Polythalamus merupakan suatu susunan kamar dan bentuk akhir kamar

foraminifera yang memiliki lebih dari satu kamar. Misalnya uniserial saja atau

biserial saja. Macam-macam polythalamus antara lain :

 Uniformed yang terbagi menjadi:

 Uniserial yang terbagi lagi mejadi:

 Rectilinear (linear punya leher) test uniserial terdiri ataskamar-

kamar bulat yang dipisahkan dengan stolonxy atauneck.

Contohnya : Siphonogerina, Nodogerina.

Gambar 17. Siphonogerina

 Linear tanpa leher yaitu kamar tidak bulat dan satu sama laintidak

dipisahkan leher-leher. Contohnya : Nodosaria.

Gambar 18. Nodosaria

35
 Equitant unserial yaitu test uniserial yang tidak memilikileher tetapi

sebaliknya kamarnya sangat berdekatan sehinggamenutupi sebagian yang

lain. Contohnya : Glandulina.

Gambar 19. Glandulina

 Curvilinier/uniserial arcuate yaitu test uniserial tetapi sedikitmelengkung

dan garis batas kamar satu dengan yang lain atausuture membentuk sudut

terhadap sumbu panjang.Contohnya: Dentalina.

Gambar 20. Dentalina

 Kombinasi antara rectilinier dengan linier tanpa leher.

 Coiled test atau test yang terputar, macam-macamnya antara lain :

 Involute yaitu test yang terputar dengan putaran akhir

menutupi putaran yang sebelumnya, sehingga putaran akhir

saja yang terlihat. Contoh : Elphidium.

36
Gambar 21. Elphidium

 Evolute yaitu test yang terputar dengan seluruh putarannya dapat terihat.

Contohnya : Anomalia

 Nautiloid yaitu test yang terputara dengan kamr-kamar

dibagian umbirical (ventral) menumpang satu sama lain.

Sehingga kelihatan kamar-kamarnya lebih besar dibagian

peri-peri dibandingkan dibagian umbilicus. Contoh : Nonion.

Gambar 22. Nonion

 Rotaloid test merupakan test yang terputar tidak padasatu bidang dengan

posisi pada dorsal seluruh putaranterlihat, sedangkn pada ventral hanya

putaran terakhirterlihat.

Contoh : Rotalia.

37
Gambar 23. Rotalia

 Helicoids test merupakan test yang terputar meninggidengan

lingkarannya cepat menjadi besar. Terdapat padasubfamily

Globigeriniidae (plankton) contoh:Globigerina.

Gambar 24. Globigerina.

 Biserial

Biserial yaitu test yang tersusun oleh dua baris kamar yangterletak

berselang-seling. Contoh : Textularia.

Gambar 25. Textularia

 Teriserial yaitu test yang tersusun oleh tiga baris kamar yangterletak

berselang-seling. Contoh : Uvigerina, Bulmina.

38
Gambar 26. Uvigerina

c. Biformed test

Biformed test merupakan dua macam susunan kamar yang sangatberbeda

satu dengan yang lainnya dalam sebuah test, misalnya biserialpada awalnya

kemudian menjadi uniserial pada akhirnya. Contoh :Bigerina

Gambar 27. Bigerina

d. Triformed test

Triformed test yaitu tiga bentuk susunan kamar dalam sebuah testmisalnya

permulan biserial kemudian berputar sedikit dan akhirnyamenjadi uniserial.

Contohnya : Vulvulina.

Gambar 28. Vulvulina

e. Multiformed test

39
Multiformed test merupakan dalam sebuah test lebih dari tiga

susunankamar, bentuk ini jarang ditemukan.

2.5 Foraminifera Besar

Foraminifera merupakan makhluk hidup yang secara taksonomi berada di

bawah Kingdom Protista, Filum Sarcomastigophora, Subfilum Sarcodina,

Superkelas Rhizopoda, Kelas Granuloreticulosea, dan Ordo Foraminiferida.

Foraminifera berdasarkan cara hidupnya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu

foraminifera yang hidup di dasar laut (benthonic foraminifera) dan foraminifera

yang hidup mengambang mengikuti arus (panktonic foraminifera). Foraminifera

bentonik pertama mulai hidup sejak Zaman Kambrium sampai saat ini, sedangkan

foraminifera planktonik hidup dari Zaman Jura sampai saat ini. Foraminifera,

sekalipun merupakan protozoa bersel satu, merupakan suatu kelompok organism

yang sangat komplek. Foraminifera dibagi menjadi 12 subordo oleh Loeblich dan

Tappan (1984) dan lebih dari 60,000 spesies telah terindentifikasi hidup selama

Fanerozoikum (Phanerozoic, dari kira-kira 542 juta tahun yang lalu sampai

sekarang).

40
Gambar 29. Berbagai jenis foraminifera kecil (sebagian besar benthonik, tanpa

skala) (Thomson, 2005)

2.5.1 Morfologi Foraminifera Besar

Sel foraminifera yang lembut (cytoplasm) hampir seluruhnya ditutupi oleh

cangkang yang dapat tersusun dari material organik (tectin), mineral

kalsit/aragonit/silika, ataupun aglutinin. Cangkang-cangkang tersebut ada yang

terdiri hanya dari satu ruang (unilocular) atau banyak ruang (multilocular) yang

saling berhubunan melalui suatu lubang bukaan (disebut foramen bila bukaan ini

hanya terdiri dari satu lubang dan foramina apabila lebih dari satu lubang).

41
Gambar 30. Benthonic vs Planktonic, Besar vs Kecil

Pada umumnya ada klasifikasi tidak resmi foraminifera yang didasarkan

pada sifat hidupnya dan ukuran cangkangnya. Bersdasarkan sifat hidupnya,

foraminifera dibagi menjadi foraminifera bentonik dan foraminifera planktonik.

Foraminifera bentonik hidup di dasar laut dan memiliki lingkungan hidup pada

kedalaman laut tertentu sehingga tidak tersebar luas. Foraminifera planktonik hidup

mengikuti arus laut, hal ini memungkinkan jenis foraminifera ini tersebar luas ke

seluruh lautan. Foraminifera besar digunakan untuk menyebut foraminifera yang

berukuran diameter lebih dari 2mm dan volume cangkang lebih dari 3mm kubik

serta memiliki struktur cangkang bagian dalam yang kompleks, demikian

sebaliknya berlaku untuk foraminifera kecil. Foraminifera besar hidup secara

bentonik, sedangkan foraminifera kecil ada yang bentonik dan ada juga yang

planktonik.

2.6 Aplikasi Mikropaleontologi

Pada pembahasan kali ini lebih menekankan aplikasi dari

makropaleontologi itu sendiri terhadapa bidang Geologi. Kita ketahui di bumi ini

42
tersebar berbagai macam fosil, baik itu yang ukurannya besar maupun kecil. Pada

makropaleontologi yang mempelajari fosil yang ukurannya relatif besar, memiliki

berbagai manfaat dalam pengaplikasiannya di bidang geologi.

Kegunaan fosil dalam kaitannya dengan ilmu geologi yaitu :

1) Mementukan umur relatif batuan

Fosil dapat digunakan untuk menentukan umur relatif suatu batuan yang

terdapat/terkandung dalam fosil. Batuan yang berasal dari suatu jaman

tertentu mengandung kumpulan fosil yang tertentu, yang lain dari fosil yang

terkandung dalam batuan yang berasal dari jaman geologi yang lain.

2) Menentukan korelasi batuan antara tempat yang satu dengan tempat lain.

Dengan diketahui fisil yang diketemukan, maka dapat disimpulkan bahwa

beberapa daerah yang disitu ditemukan fosil yang sama, maka lapisan

batuan pada daerah tersebut terbentuk pada masa yang sama.

3) Mengetahui evolusi makhluk hidup

Para ahli paleontologi, setelah meneliti isi fosil dari lapisan batuan batuan

yang berbeda-beda umurnya berkesimpulan bahwa batuan yang lebih tua

mengandung fosil yang lebih sedikit, bentuknya lebih primitip. Semakin

muda umur batuannya, isi fosilnya semakin banyak dan strukturnya

semakin canggih. Dari sini kemudian para ahli tersebut berkesimpulan

bahwa organisme yang pernah ada di bumi kita ini mengalami

perkembangan, mulai dari sederhana menunju ke bentuk yang lebih

kompleks dalam waktu yang sangat lama. Hal ini yang kemudian

dikembangkan oleh ahli biologi sebagai teori evolusi organisme.

43
4) Menentukan keadaan lingkungan dan ekologi yang ada ketika batuan yang

mengandung fosil terbentuk.

Ada beberapa kegunaan fosil, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun

kepentingan ekonomis. Dari segi ilmu pengetahuan fosil mengandung berbagai

informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui bentuk-bentuk kehidupan di

masa lampau dan lingkungan hidup tempat mahluk-mahluk purba ini pernah

hidup. Salah satu bidang ilmu pengetahuan yang ada kaitannya dengan fosil adalah

taksonomi. Taksonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan kekerabatan

antarmahluk hidup baik yang telah punah maupun yang masih ada. Kegunaannya

dalam segi tertentu antara lain:

1) dari segi taksonomi : fosil mengandung informasi morfologis sehingga

ilmuwan dapat mengenal dan memberinya nama serta mengtahui

hubungannya dengan organisma lain berdasarkan morfologi tersebut.

2) dari segi etiologi (ilmu tentang perilaku) : fosil memberi informasi tentang

cara hidup suatu organisma yang dulu pernah hidup dan sekarang telah

punah.

3) dari segi evolusi : fosil memberi informasi tentang proses evolusi yang

terjadi di Bumi.

4) dari segi ekologi : fosil memberi informasi dan pemahaman tentang sifat

dan perkembangan ekosistem dan tentang interaksi antara hewan dan

tumbuhan dengan lingkungannya di masa purba.

5) dari segi lingkungan : organisma tertentu distribusi dan keragamannya

terbatas pada lingkungan tertentu (disebabkan oleh faktor-faktor

lingkungan). Keadaan lingkungan purba seperti salinitas, suhu, dan tingkat

44
oksigen dapat diketahui melalui perbandingan antara organisma hidup

dengan fosil.

6) segi kimiawi : susunan biokomia tubuh organisma yang satu berbeda

dengan organisma lain dan melalui studi isotopik dapat diketahui suhu dan

salinitas purba tempat organisma tersebut pernah hidup.

7) segi sedimentologis : fosil biasanya ditemukan berjenjang sesuai dengan

lapisan pengendapan. Berdasarkan hal ini dapat diketahui proses

sedimentasi yang telah terjadi di masa purba.

8) segi diagenetik : fosil memberi informasi tentang proses yang terjadi dalam

sekuen sedimen yang menyertai kematian, proses terkuburnya organisma

sampai pada saat penemuan organisma yang telah memfosil tersebut.

9) segi stratigrafi : fosil dapat memandu kolom stratigrafi yang ditentukan oleh

batas waktu (time boundaries).

10) segi susunan pengendapan (way up) : urut-urutan sedimen dikenali melalui

fosil yang ada di tiap lapisan umur sedimen. Berdasarkan hal ini dapat

diketahui bahwa pengendapan terjadi dari bawah ke atas.

Adapun Foraminifera yang merupakan salah satu fosil yang sangat

bermanfaat dalam bidang Geologi. Foraminifera terdiri atas ukuran yang berbeda,

adapun foram besar dan foram kecil. Aplikasi dari foraminifera tersebut antara lain:

a) Fosil indeks

Foraminifera memberikan data umur relatif batuan sedimen laut. Data

penelitian menunjukkan foraminifera ada di bumi sejak jaman Kambrium, lebih

dari 500 juta tahun yang lalu. Foraminifera mengalami perkembangan secara

terus-menerus, dengan demikian spesies yang berbeda diketemukan pada waktu

45
(umur) yang berbeda-beda. Foraminifera mempunyai populasi yang melimpah

dan penyebaran horizontal yang luas, sehingga diketemukan di semua

lingkungan laut. Alasan terakhir, karena ukuran fosil foraminifera yang kecil dan

pengumpulan atau cara mendapatkannya relatif mudah meskipun dari sumur

minyak yang dalam. Fosil indeks yaitu fosil yang dipergunakan sebagai

penunjuk umur relatif. Umumnya fosil ini mempuyai penyebaran vertikal

pendek dan penyebaran lateral luas, serta mudah dikenal.Contohnya :

Globorotalina Tumida penciri N18 atau Miocen akhir.

b) Paleoekologi dan Paleobiogeografi

Foraminifera memberikan data tentang lingkungan masa lampau (skala

Geologi). Karena spesies foraminifera yang berbeda diketemukan di lingkungan

yang berbeda pula, seorang ahli paleontologi dapat menggunakan fosil foraminifera

untuk menentukan lingkungan masa lampau tempat foraminifera tersebut hidup.

Data foraminifera telah dimanfaatkan untuk memetakan posisi daerah tropik di

masa lampau, menentukan letak garis pantai masa lampau, dan perubahan

perubahan suhu global yang terjadi selama jaman es. Sebuah contoh kumpulan fosil

foraminifera mengandung banyak spesies yang masih hidup sampai sekarang, maka

pola penyebaran modern dari spesies-spesies tersebut dapat digunakan untuk

menduga lingkungan masa lampau - di tempat kumpulan fosil foraminifera

diperoleh - ketika fosil foraminifera tersebut masih hidup. Jika sebuah perconto

mengandung kumpulan fosil foraminifera yang semuanya atau sebagian besar

sudah punah, masih ada beberapa petunjuk yang dapat digunakan untuk menduga

lingkungan masa lampau. Petunjuk tersebut adalah keragaman spesies, jumlah

relatif dari spesies plangtonik dan bentonik (prosentase foraminifera plangtonik dari

46
total kumpulan foraminifera plangtonik dan bentonik), rasio dari tipe-tipe cangkang

(rasio Rotaliidae, Miliolidae, dan Textulariidae), dan aspek kimia material

penyusun cangkang. Aspek kimia cangkang fosil foraminifera sangat bermanfaat

karena mencerminkan sifat kimia perairan tempat foraminifera ketika tumbuh.

Sebagai contoh, perban-dingan isotop oksigen stabil tergantung dari suhu air. Sebab

air bersuhu lebih tinggi cenderung untuk menguapkan lebih banyak isotop yang

lebih ringan. Pengukuran isotop oksigen stabil pada cangkang foraminifera

plangtonik dan bentonik yang berasal dari ratusan batuan teras inti dasar laut di

seluruh dunia telah dimanfaatkan untuk meme-takan permukaan dan suhu dasar

perairan masa lampau. Data tersebut sebagai dasar pemahaman bagaimana iklim

dan arus laut telah berubah di masa lampau dan untuk memperkirakan perubahan-

perubahan di masa yang akan datang (keakurasiannya belum teruji).

c) Eksplorasi Minyak

Foraminifera dimanfaatkan untuk menemukan minyak bumi. Banyak

spesies foraminifera dalam skala biostratigrafi mempunyai kisaran hidup yang

pendek. Dan banyak pula spesies foraminifera yang diketemukan hanya pada

lingkungan yang spesifik atau ter-tentu. Oleh karena itu, seorang ahli paleontologi

dapat meneliti sekeping kecil perconto batuan yang diperoleh selama pengeboron

sumur minyak dan selanjutnya menentukan umur geologi dan lingkungan saat

batuan tersebut terbentuk.

d) Biostratigrafi

47
merupakan ilmu penentuan umur batuan dengan menggunakan fosil yang

terkandung didalamnya. Biasanya bertujuan untuk korelasi, yaitu menunjukkan

bahwa horizon tertentu dalam suatu bagian geologi mewakili periode waktu yang

sama dengan horizon lain pada beberapa bagian lain. Fosil berguna karena sedimen

yang berumur sama dapat terlihat sama sekali berbeda dikarenakan variasi lokal

lingkungan sedimentasi. Sebagai contoh, suatu bagian dapat tersusun atas lempung

dan napal sementara yang lainnya lebih bersifat batu gampingkapuran, tetapi

apabila kandungan spesies fosilnya serupa, kedua sedimen tersebut kemungkinan

telah diendapkan pada waktu yang sama. Amonit, graptolit dan trilobit merupakan

fosil indeks yang banyak digunakan dalam biostratigrafi.

e) Lithostratigrafi

merupakan ilmugeologi yang berhubungan dengan penelitian mengenai

strata lapisan batuan. Fokus utama dari penelitian ini mencakup geokronologi,

geologi perbandingan, dan petrologi. Secara umum suatu strata dapat berupa batuan

beku atau batuan sedimen bergantung bagaimana pembentukan batuan tersebut.

Lapisan batuan sedimen terbentuk oleh pengendapansedimen yang berhubungan

dengan proses pelapukan, peluruhan zat organik (biogenik) atau melalui presipitasi

kimiawi. Lapisan ini dapat dibedakan karena memiliki banyak fosil dan juga

penting untuk penelitian biostratigrafi. Lapisan batuan beku dapat memiliki

karekter plutonik atau vulkanik bergantung pada kecepatan pembekuan dari batuan

tersebut. Lapisan ini umumnya sama sekali tidak memiliki fosil dan

merepresentasikan aktivitas intrusi dan ekstrusi yang terjadi sepanjang sejarah

geologi daerah tersebut.

48
f) Paleoklimatologi

merupakan ilmu mengenai perubahan iklim yang terjadi dalam seluruh

rentang sejarah bumi. Fosil yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk iklim pada

saat itu. Contohnya : Globigerina Pachyderma penciri iklim dingin.

g) Fosil bathymetry/fosil kedalaman

Yaitu fosil yang dipergunakan untuk menentukan lingkungan kedalaman

pengendapan. Umumnya yang dipakai adalah benthos yang hidup di dasar.

Contohnya : Elphidium spp penciri lingkungan transisi.

h) Fosil horizon/fosil lapisan/fosil diagnostic

Yaitu fosil yang mencirikan khas yang terdapat pada lapisan yang

bersangkutan. Contoh : Globorotalia tumida penciri N18.

i) Fosil lingkungan

Yaitu fosil yang dapat dipergunakan sebagai penunjuk lingkungan

sedimentasi. Fosil foraminifera benthonik sering dipakai untuk penentuan

lingkungan pengendapan Fosil benthonik ini sangat berharga untuk penentuan

lingkungan purba.

Foraminifera yang dapat dipakai sebagai lingkungan laut secara umum

adalah:

 Pada kedalaman 0 – 5 m, dengan temperatur 0-27 derajat celcius,

banyak dijumpai genus-genus Elphidium, Potalia, Quingueloculina,

49
Eggerella, Ammobaculites dan bentuk-bentuk lain yang dinding

cangkangnya dibuat dari pasiran.

 Pada kedalaman 15 – 90 m (3-16º C), dijumpai genus Cilicides,

Proteonina, Ephidium, Cuttulina, Bulimina, Quingueloculina dan

Triloculina.

 Pada kedalaman 90 – 300 m (9-13oC), dijumpai genus Gandryna,

Robulus, Nonion, Virgulina, Cyroidina, Discorbis, Eponides dan

Textularia.

 Pada kedalaman 300 – 1000 m (5-8º C), dijumpai Listellera,

Bulimina, Nonion, Angulogerina, Uvigerina, Bolivina dan

ValvulinaContohnya : Radiolaria sebagai penciri lingkungan laut

dalam.

j) Paleoceanography

Mengetahui tempat kehidupan masa lampau dengan kehadiran fosil

tersebut.

k) Paleoenvironment

Dengan adanya kehadiran fosil ini dapat mengetahui iklim dan kondisi

lingkungannya, hal ini disebabkan persebaran mahluk hidup tersebut dipengaruhi

oleh iklim dan lingkungannya.

50
2.6.1 Penentuan Umur

Foraminifera dapat digunakan untuk menentukan umur batuan serta untuk

mengetahui struktur geologi apa saja yang terjadi pada suatu daerah seperti sesar,

lipatan dan kekar. Berikut ini adalah contoh penggunaan foraminifera dalam

menetukan umur batuan.

Sesuai dengan hukum superposisi yaitu lapisan yang berada paling bawah

merupakan lapisan batuan yang paling tua dan lapisan yang paling muda berada di

paling atas dan Satuan batuannya selaras karena susunan lapisan batuannya dari

yang tua sampai yang muda berurutan.

Rentang waktu kedua dan ketiga masing-masing merupakan subbagian dari

garis waktu sebelumnya yang ditandai dengan atau tanda bintang (asterisk).

Holosen, (kala terakhir) terlalu kecil untuk dapat terlihat jelas pada garis waktu ini.

Dalam bahasa Inggris, berturut-turut skala waktu geologi dari yang terbesar

adalah eon, era, period, epoch, dan stage. Dalam bahasa Indonesia, eon kadang

diterjemahkan menjadi masa, periodditerjemahkan menjadi periode atau zaman,

sedangkan epoch diterjemahkan menjadi kala.

Tabel berikut memberikan ringkasan peristiwa-peristiwa utama dan

karakteristik pada periode waktu yang membentuk skala waktu geologi. Seperti

diagram di atas, skala waktu ini didasarkan padaInternational Commission on

Stratigraphy. Tinggi tiap baris tidak menggambarkan rentang waktu tiap subdivisi

waktu.

51
Table 3. zonasi Blow 1969

2.6.2 Penentuan Lingkungan Pengendapan

Foraminifera benthonik memiliki habitat pada dasar laut dengan cara

hidup secara vagile (merambat/merayap) dan sessile (menambat). Alat yang

digunakan untuk merayap pada benthos yang vagile adalah pseudopodia. Terdapat

yang semula sesile dan berkembang menjadi vagile serta hidup sampai kedalaman

3000 meter di bawah permukaan laut. Material penyusun test merupakan

agglutinin, arenaceous, khitin, gampingan.

Foraminifera benthonik sangat baik digunakan untuk indikator

paleoecology dan bathymetri, karena sangat peka terhadap perubahan lingkungan

yang terjadi. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekologi dari foraminifera benthonic

ini adalah :

a. Kedalaman laut

b. Suhu/temperature

c. Salinitas dan kimia air

d. Cahaya matahari yang digunakan untuk fotosintesis

52
e. Pengaruh gelombang dan arus (turbidit, turbulen)

f. Makanan yang tersedia

g. Tekanan hidrostatik dan lain-lain.

Faktor salinitas dapat dipergunakan untuk mengetahui perbedaan tipe dari lautan

yang mengakibatkan perbedaan pula bagi ekologinya. Streblus biccarii adalah tipe

yang hidup pada daerah lagoon dan daerah dekat pantai. Lagoon mempunyai

salinitas yang sedang karena merupakan percampuran antara air laut dengan air

sungai.

53
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Morfologi Foram

3.1.1. Taksonomi

 Kingdome : Protista

 Phylum : Protozoa

 SubPhylum : Sarcodina

 Superclass : Rhizopoda

 Kelas : Foraminiferida

 Ordo : Allogromiida,Texturaliida,Fusulinida,Rotaliida,

dan Miliolida

3.1.2. Siklus Perkembang Biakan

 Dimulai dari sebuah mikrosfer muda dengan sebuah initi (nucleus)

dalam protoplasma.

 Inti ini membelah diri terus menerus selama dewasa membentuk nuclei-

nuclei (inti).

 Jika binatang ini cukup dewasa, maka inti-inti ini akan meninggalkan

cangkang dan keluar sambilmembawa sebagian protoplasma.

 Kemudian inti-inti dengan protoplasma ini setelah berenagn sejenak

akan memebentukcangkang baru dengan proloculum yang besar dan

cangkang yang relative kecil.

54
 Semula inti yang hanya sebuah, kemudian muncul inti-inti kecil di

dalam satu inti. Inti-inti kecilini disebut nucleidi, akan semakin banyak

jumlahnya selama binatang menjadi dewasa.

 Akhirnya inti pecah dan nucleidi-nucleidi keluar melalui aperture

sambil membawa sebagianprotoplasma dan meninggalkan cangkang

yang lama.

 Nucleus dengan protoplasma ini kemudian membentuk flagel untuk

pergerakannnya, disebutgamet jantan.

 Gamet-gamet ini bergerak leluasa, kemudian gamet yang berlawanan

membentuk konjugasi(zygote)

 Zygote ini kemudian membentuk cangkang baru yang tipe mikrosfer

dan siklus berikutbya akanterulang kembali.

 Dengan demikian, bentuk-bentuk mikrosfer ini terbentuk secara sexual,

sedangkan bentuk-bentuk megalosfer terbentuk secara asexual.

 Dari hasil penyelidikan membuktikan bahwa percampuran secara

asexual lebih banyak terjadidaripada secara sexual.

3.1.3. Susunan Morfologi

Bentuk luar foraminifera, jika diamati dibawah mikroskop dapat

menunjukkan beberapa kenampakan yang bermacam-macam dari cangkang

foraminifera, meliputi :

55
1. Dinding

Lapisan terluar dari cangkang foraminifera yang berfungsi melindungi

bagian dalam tubuhnya. Dinding ini terdiri atas beberapa macam, yaitu :

a. Hyalin : tipe dinding ini merupakan dinding gampingan yang bersifat

bening dan transparan, berpori.

b. Porselen: dinding ini tidak berpori dan mempunyai kenampakan

seperti porselen serta terbuat dari zat gampingan

c. Aglutinan : dinding yang terbuat dari material asing yang direkatkan

satu sama lain dengan semen. Pada dinding aglutinan ini mempunyai

material asing seperti mika, lumpur, spong-spikulae, cangkang foram

dan sebagainya

d. Khitin : dinding ini terbuat dari zat organik yang menyerupai zat

tanduk,leksibel, transparan, biasanya berwarna kuning dan tidak

berpori

2. Cangkang

Pada umumnya, foraminifera membentuk cangkang yang biasanya terdiri

atas satu atau beberapa kamar. Berdasarkan jumla kamar yang dimilikinya,

dibagi menjadi dua:

a. Monotalamus test (uniloculer) : cangkang foraminifera yang terdiri

atas satu kamar

b. Politalamus test (multiloculer) : cangkang foraminifera yang terdiri

atas banyak kamar

56
Berdasarkan bentuknya, cangkang monotalamus dapat dibedakan

menjadi beberapa bentuk, yaitu :

 Globular (bulat)

 Tubular (tabung)

 Flask-shaped (botol)

 Triangular (segitiga)

 Oval

 Spherical

Berdasarkan pada bentuk akhir susunan kamarnya, cangkang politalamus

dapat menjadi :

a. Uniformed test : cangkang yang terdiri atas satu macam kamar

susunan kamar. Misalnya uniserial atau biserial saja

b. Biformed test : cangkang foraminifera yang terdiri atas dua macam

susunan kamar. Missalnya, pada awalnya mempunyai susunan kamar

triserial dan pada akhirnya menjadi biserial

c. Triformed test : cangkang foraminifera yang tediri atas tiga macam

susunan kamar

d. Multiformed test : cangkang foraminifera yang terdiri atas lebih dari

tiga macam susunan kamarCangkang foraminifera dibedakan menjadi

dua, yaitu terputar dan tidak terputar.

Cangkang yang terputar dikelompokkan beberapa jenis, yaitu :

 Planispiral : cangkang yang semua putaran lingkarannya

terletak pada satu bidang

57
 Tracospiral : cangkang yang

 Streptospiral :

 Involute test : cangkang yang putaran kamar-kamarnya

lebih akhir menutupi sebagian putaran kamar terdahulu,

sehingga yang terlihat hanyaputaran akir saja

 Evolute test : cangkang yang seluruh putaran kamarnya

dapat terlihat

3. Aperture

Merupakan lubang utama pada cangkang foraminifera yang berungsi

untuk memasukkan makanan dan mengeluarkan protoplasma biasanya

terletak pada kamar bagian terakhir. Berdasarkan bentuknya, aperture

dibedakan menjadi :

 Bulat sederana atau globular : biasanya terletak di ujung kamar akhir

 Radiate (memancar ): sebuah lubang bulat dengan sejumlah galengan

yang memancar dari pusar lubang

 Phialine : sebuah lubang bulat, mempunyai bibir dan leher

 Crescentic : berbentuk tapal kuda atau busur panah

 Bulimine/ virguliune: berbentuk seperti koma (,) yang melengkung

 Silt like : berbentuk lubang sempit yang memanjang

 Dendritik : berbentuk seperti ranting pohon

 Bergigi : berbentuk lubang melengkung yang pada bagian dalamnya

terdapat tonjolan menyerupai gigi.

58
Berdasarkan posisinya pada cangkang foraminifera, aperture dapat

dibedakan menjadi,

 Terminal : aperture yang terletak pada ujung kamar yang terakhir

 Periferal : aperture yang memanjang dari bagian umbilicus ke arah

tepi (phery)

 Umbical : aperture yang terletak pda bagian umbilicus

 Interiomarginal :

 Umbilikal –ekstraumbilikal :

 Basal

 Aereal : aperture yg tersebar di permukaan cangkang

59
3.1.4. Lampiran Form Pratikum

a. Sampel 1
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Umur :

60
b. Sampel 2
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Umur :

61
c. Sampel 3
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan
Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Umur :

62
d. Sampel 4
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Umur :

63
3.2 Foraminifera Planktonik

Foraminifera planktonik adalah foraminifera yang cara hidupnya

mengambang atau melayang di air, sehingga fosil ini sangat baik untuk menentukan

umur dari suatu lingkungan pengendapan (umur dari suatu batuan). Secara umum

foraminifera dibagi berdasarkan family, genus, serta spesies yang didasarkan antara

ciri-ciri yang nampak. Ciri-ciri beserta pembagiannya antara lain

3.2.1 Famili Globigerinidae

Trochoid, aperture umbilikal, pada kamar terakhir cenderung planispiral,

test tersusun zat gampingan, permukaan test kasar berstruktur cancellate, sebagian

besar memiliki duri-duri halus, aperture biasanya besar. Muncul sejak Kapur Awal

sampai sekarang. Genus yang masuk dalam famili ini adalah: Globigerina,

Globigerinoides, Globigerinatella, Globigerinella, Globogerinelloides,

Hastigerina, Hastigerinella, Orbulina, Pulleniatina, Sphaeroidinella, Candeina,

dan Candorbulina.

1. Genus: Globigerina d’Orbigny 1826

Test terputar trochoid, kamar globular, komposisi gampingan, aperture pada

bagian ventral membuka ke umbilical dan berbentuk koma. Muncul: Kapur

– Resen.

2. Genus: Globigerinoides Cushman, 1927

Secara fisik hampir menyerupai globigerina, namun memiliki aperture

sekunder/tambahan pada bagian dorsal. Muncul: Tersier – Resen.

64
3. Genus: Hastigerina Thomson, 1876

Pada awal putaran trochoid, pada kamar akhir planispiral-involute,

gampingan kuat, memiliki ornamen duri yang kasar dan pipih serta memusat

pada kamarnya. Muncul: Miosen – Resen.

4. Genus: Orbulina d’Orbigny, 1839

Test pada awalnya menyerupai Globigerina, namun dalam perkembangan

kamar terakhir menutupi hampir semua kamar-kamar sebelumnya. Tidak

mempunyai aperture yang nyata. Muncul: Miosen – Resen.

5. Genus: Pulleniatina, Cushman, 1927

Test pada awalnya menyerupai Globigerina, dengan dinding cancellate

serta spine halus, involute, aperture lonjong – busur pada dasar kamar

Muncul: Tersier Akhir – Resen.

6. Genus: Sphaeroidinella Cushman, 1927

Test pada awalnya menyerupai Globigerina, dinding cancellate kasar

dengan spine halus. Dua atau Tiga kamar terakhir terpisahkan dengan jelas.

Muncul: Miosen – Resen.

Gambar 31. foraminifera plangtonik

65
Gambar 32. Jenis Foraminifera

3.2.2. Famili Globorotalidae

Trochoid rendah, bentuk test ellips bikonvek – planokonvek, dengan bentuk

kamar beberapa bulat sebagian rhomboid. Aperture umbilical ekstra umbilikal (dari

umbilikal sampai peri-peri), berbentuk busur. Test tersusun zat gampingan,

permukaan test halus, sebagian besar memiliki duri-duri halus. Jumlah kamar akhir

(pandangan ventral) lebih dari 4.

a. Susunan Kamar

 Planispiral : terputar pada satu bidang, semua kamar terlihat, pandangan

dan jumlah kamar ventral dan dorsal sama.

 Trochospiral : terputar tidak pada satu bidang, tidak semua kamar terlihat.

Pandangan ventral dan dorsal berbeda.

66
Muncul sejak Kapur Awal sampai sekarang. Merupakan perkembangan

dari Globotruncana. Genus yang masuk dalam famili ini adalah: Globorotalia,

Globotruncana, Globorotalites, Globorotalia, Globotruncana, Globorotalites,

Rotalipora, Cribrogloborotalia, Cycloloculina, dan Sherbonina.

Gambar 33. Globorotalia

b. Hiasan atau Ornamentasi

1) Keel, selaput tipis yang mengelilingi bagian periphery. Contoh:

Globorotalia, Siphonina.

2) Costae, galengan vertikal yang dihubungkan oleh garis- garis sutura yang

halus. Contoh: Bulimina, Uvigerina.

3) Spine, duri-duri yang menonjol pada bagian tepi kamar. Contoh:

Hantkenina, Asterorotalia.

67
4) Retral processes, merupakan garis sutura yang berkelok- kelok, biasa

dijumpai pada Amphistegina.

5) Bridged sutures, garis-garis sutura yang terbentuk dari septa yang terputus-

putus. Biasa dijumpai pada Elphidium.

6) Reticulate, dinding cangkang yang terbuat dari tempelan material asing

(arenaceous).

7) Punctate, bagian permukaan luar cangkang yang berpori bulat dan kasar.

8) Smooth, permukaan cangkang yang halus tanpa hiasan.

3.2.3. Famili Hantkeninidae

Test pada awalnya trochoid atau planispiral, pada tahapan akhir planispiral

involute. Dinding cangkang tersusun oleh gampingan, dengan permukaan kasar.

Aperture pada bagian bawah kamar terakhir berbentuk busur. Hiasan berupa tanduk

berukuran sama atau lebih besar dari kamarnya.

Muncul sejak Kapur Awal sampai Oligosen. Berdasarkan bentuk perputaran

kamarnya memiliki kedekatan dengan Globigerinella. Genus yang masuk dalam

famili ini adalah: Shackoina, Hantkenina, dan Cribrohantkenina.

68
3.2.4. Lampiran Form Pratikum

e. Sampel 1
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Umur :

69
f. Sampel 2
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Umur :

70
g. Sampel 3
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan
Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Umur :

71
h. Sampel 4
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Umur :

72
3.3. Foraminifera Benthonik

Jumlah spesies foraminfera bentonik sangat besar. Golongan ini mempunyai

arti penting, terutama dalam penentuan lingkungan pengendapan. Golongan ini

sangat peka terhadap perubahan lingkungan, sehingga bagus untuk analisa

lingkungan pengendapan.

Secara umum cukup mudah untuk membedakan antara foraminifera bentonik

dengan foraminifera plangtonik. Foraminifera bentonik memiliki cirri umum

sebagai berikut:

a. Test/cangkang berbentuk bulat, beberapa agak prismatik.

b. Susunan kamar sangat bervariasi.

c. Komposisi test gamping hyaline, arenaceous, silikaan.

d. Hidup di laut pada dasar substratum.

A. Susunan Kamar

Berdasarkan jumlah kamar, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Monothalamus, hanya terdiri dari satu kamar

Tersusun oleh satu kamar, dapat dibedakan atas bentuknya :

Bulat: contoh Saccamina

Botol: Lagena

Tabung: Bathysiphon

Terputar planispiral: Ammodiscus

2. Polythalamus, tersusun oleh jumlah kamar yang banyak.

Berdasarkan susunan kamar terdapat 3 jenis susunan kamar, yaitu:

a) Uniserial, berupa satu baris susunan kamar yang seragam, contoh:

Nodosaria, dan Siphonogenerina.

73
b) Biserial, berupa dua baris susunan kamar yang berselang-seling, contoh:

Bolivina dan Textularia.

c) Triserial, berupa tiga baris susunan kamar yang berselang-seling, contoh:

Uvigerina dan Bulimina.

Berdasarkan keseragaman susunan kamar dikelompokkan menjadi:

1. Uniformed test: jika disusun oleh satu jenis susunan kamar, misal uniserial

saja atau biserial saja.

2. Biformed test: jika disusun oleh dua macam susunan kamar yang berbeda,

misal diawalnya triserial kemudian menjadi biserial. Contoh:

Heterostomella.

3. Triformed test: terdiri dari tiga susunan kamar yang berbeda. Contoh:

Valvulina.

B. Bentuk

Dibedakan menjadi dua yaitu bentuk kamar dan bentuk test. Bentuk kamar

dapat globular, rhomboid menyudut, atau kerucut menyudut. Bentuk test dapat

membulat atau ellips.

3.3.1. Genus Dentalina

Bentuk Cangkang melengkung, susunan kamar triserial terdiri atas beberapa

kamar, dinding cangkang berpori halus, letak aperture interiomarginal.

3.3.2. Genus Amphistegina

Cangkang relatif besar, lebih dari 10 kamar pada setiap putaran, aperture

tipis (slit) permukaan cangkung tidak beraturan, cangkan trochospiral, dinding

cangkang berpori.

74
3.3.3. Genus Bathysipon

Berbentuk tabung (tabular), terdapat pada kebanyakan subfamily hyperminidaer.

3.2.4. Genus Bolivina

Cangkang sagitate-lanccolate dan gepeng, hyalin, susunan kamar biserial,

aperture memanjang, dan memiliki gigi.

3.3.5. Genus Nodogerina

Rectilinear ( linear punya leher ) test uniserial terdiri atas kamar-kamar bulat

yang dipisahkan dengan stolonxy atau neck.

75
3.3.6. Lampiran Form Pratikum
a. Sampel 1
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Lingkungan Hidup :

76
b. Sampel 2
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan
Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Lingkungan Hidup :

77
c. Sampel 3
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Lingkungan Hidup :

78
d. samapel 4
Pandangan Ventral Pandangan Dorsal Pandangan Samping

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum :
1.
 Klas :
2.
 Ordo :
3.
 Sub. Family :
4.
 Famili :
 Genus : 5.

 Spesies:
 Deskripsi :

 Dinding :
 Bentuk test :
 Bentuk kamar :
 Susunan kamar :
 Jumlah kamar :
 Pertumbuhan kamar :
 Arah putaran kamar :
 Aperture :
 Hiasan :
Jenis :
Lingkungan Hidup :

79
3.4. Foraminifera Besar

Secara fisik dapat dipisahkan dengan foraminifera kecil, karena berukuran

lebih besar. Memiliki struktur kamar bagian dalamnya lebih rumit dan kompleks.

Harus diamati dengan sayatan tipis. Pembentuk batugamping. Umurnya pendek,

sehingga dapat digunakan untuk penentuan umur batuan. Hidup secara benthik pada

zona neritik dalam (30 – 80 m).

Jenis-Jenis Sayatan Tipis :

1) Sayatan median (ekuatorial), merupakan sayatan pada bagian tengah

diambil pada posisi tegak lurus sumbu putaran. Bentuk yang terlihat

merupakan lingkaran.

2) Sayatan sumbu (axial section), merupakan sayatan yang sejajar sumbu

putaran melalui bagian tengah. Bentuk yang terlihat berupa ellips yang

cembung pada bagian tengahnya.

3) Sayatan Oblique, merupakan sayatan sembarang tidak melelui bagian

tengah. Berbentuk ellips asimetri.

4) Sayatan tengensial, merupakan sayatan yang sejajar dengan sayatan

median, tetapi tidak melalui bagian tengahnya. Berbentuk lingkaran yang

lebih kecil dari sayatan median.

Morfologi Foraminifera Besar

Morfologi foraminifera besar sangat rumit, sehingga diperlukan sayatan tipis

untuk dapat mengenali atau untuk dapat mengenali atau mengidentifikasi taksanya.

Beberapa hal yang diperlukan dalam pengamatan foraminifera besar adalah:

Kamar, bentuk test, jenis putaran, dan ornamentasi struktur dalam.

a. Kamar

80
Jumlah kamar dari foraminifera besar sangat banyak dan terputar, serta tumbuh

secara bergradasi. Jenis kamar dapat dibedakan atas kamar embrional,

ekuatorial dan lateral. Pengenalan yang baik terhadap jenis kamar sangat

membantu dalam taksonomi.

- Kamar Embrional

Merupakan kamar yang tumbuh pertama kali atau dikenal sebagai

proloculus. Pada umumnya proloculus dijumpai di bagian tengah, namun

beberapa genus terdapat di bagian tepi seperti Miogypsina. Kamar

embrional dapat dibedakan menjadi dua, yaitu protoconh dan deutroconh.

Terkadang diantara kamar embrionik dengan kamar ekuatorial terdapat

kamar nepionik, namun dalam pengamatan sulit untuk dikenali.

- Kamar Ekuatorial

Kamar ini terdapat pada bidang ekuatorial. Jumlah kamar ekuatorial sangat

membantu untuk mengetahui jumlah putaran dari test foraminifera besar.

Jumlah putaran pada beberapa golongan menjadi pembeda diantara

beberapa genus.

- Kamar Lateral

Kamar lateral terdapat di atas dan di bawah dari kamar-kamar ekuatorial.

Identifikasi pada kamar ini ada pada tebal-tipisnya dinding kamar (septa

filament), selain itu pada beberapa genus sering dijumpai adanya stolon

yang menghubungkan rongga antar kamar. Jumlah kamar terkadang

memberikan pengaruh namun tidak terlalu signifikan.

b. Bentuk Test

81
Bentuk test adalah identifikasi awal yang dapat dikenali. Bentuk dasar test

dibedakan menjadi beberapa: diskoid, fusiform (cerutu), bintang, dan trigonal.

- Bentuk diskoid dicirikan dengan sumbu perputaran pendek dan sumbu

ekuatorial panjang. Mudah dikenali dengan bentuk relatif cembung atau

bikonvek. Contoh genus: Nummulites, Discocyclina, Lepidocyclina dan

Camerina.

- Bentuk fusiform (cerutu) memiliki sumbu putaran yang lebih panjang

dari sumbu ekuatorial. Contoh genus adalah Fussulina, Alveolina, dan

Schwagerina.

- Bentuk bintang dicirikan bertumbuhnya kamar ke berbagai arah dengan

tidak teratur. Sangat sedikit genus yang mempunyai bentuk test seperti ini,

contohnya Asterocyclina.

- Bentuk trigonal dicirikan dengan pertumbuhan kamar annular

membentuk segitiga. Kamar embrional biasanya terdapat di bagian tepi.

Contoh: Miogypsina.

82
3.4.1. Genus Nummulites

Bentuk test umumnya besar, lenticular, discoidal, planispiral dan bilateral

simetris. Test tersusun oleh zat-zat gampingan.

3.4.2. Genus Discocylina

Golongan ini dicirikan dengan bentuk test discoid atau lenticular. Pada jenis

yang megalosfer kamar embrionik biasanya biloculer terdiri atas protoconch dan

deutroconch. Sedangkan pada jenis mikrosfeer kamar embrionik terputar secara

planispiral. Pada kamar-kamar lateral dibatasi oleh septa-septa.

3.4.3. Genus Lepidocyclina

Ciri Fisik:

- test besar, lenticular/discoidal, biconcave.

- berkamar banyak, dihubungkan dengan stolon (pori- pori berbentuk

tabung).

- dinding lateralnya mempunyai pori-pori dan tebal, dimana terdapat

kamar-kamar lateral dan pilar-pilar.

83
3.4.4. Lampiran Form Pratikum

a. Sampel 1
SAYATAN VERTIKAL SAYATAN HORIZONTAL

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum : 1.
 Klas : 2.
 Ordo : 3.
 Famili : 4
 Genus : 5.
 Spesies :
Deskripsi
 Jenis sayatan :
 Bentuk test :
 Identifikasi prolokulus :
 Kamar :
 Jumlah putaran :
 Dinding kamar :
 Hiasan :

84
b. Sampel 2

SAYATAN VERTIKAL SAYATAN HORIZONTAL

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum : 1.
 Klas : 2.
 Ordo : 3.
 Famili : 4.
 Genus : 5.
 Spesies :
Deskripsi
 Jenis sayatan :
 Bentuk test :
 Identifikasi prolokulus :
 Kamar :
 Jumlah putaran :
 Dinding kamar :
 Hiasan :

85
c. Sampel 3

SAYATAN VERTIKAL SAYATAN HORIZONTAL

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum : 1.
 Klas : 2.
 Ordo : 3.
 Famili : 4
 Genus : 5.
 Spesies:
Deskripsi
 Jenis sayatan :
 Bentuk test :
 Identifikasi prolokulus :
 Kamar :
 Jumlah putaran :
 Dinding kamar :
 Hiasan :

86
c. Sampel 3

SAYATAN VERTIKAL SAYATAN HORIZONTAL

Nomor Peraga : Keterangan Gambar :


 Filum : 1.
 Klas : 2.
 Ordo : 3.
 Famili : 4
 Genus : 5.
 Spesies:
Deskripsi
 Jenis sayatan :
 Bentuk test :
 Identifikasi prolokulus :
 Kamar :
 Jumlah putaran :
 Dinding kamar :
 Hiasan :

87
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kritik dan Saran

Kritik dari saya yaitu pada saat praktikum memberikan materi hanya

menjelaskan melalui gambar dipapan tulis, tidak meggunakan peraga, sedagkan

saya harus mendeskripsikan melalui peraga sehigga saya kesulita untuk

mendeskripsika secara baik dan benar. Juga dalam pembagian hasil praktikum

hanya ditaruh diatas meja, hal itu bisa membuat hasil praktikum kececer dan bisa

saja hilang sepertti yag saya alami

Saran Saya adalah sebaiknya ketika mencotohkan dalam pendeskripsia

sebaiknya menggukan peraga yang ada dan dalam hal pembagian laporan mingguan

sebaiknya jangan ditaruh diatas meja, coba saja berikan kepada setiap koordinator

kelas praktikum agar bisa dikoordinasi setiap praktikannya.

4.2 Kesimpulan

Mikropaleontologi adalah cabang ilmu paleontologi (paleobotani/

paleozoologi) yang khusus membahas semua sistem organisma yang berukuran

kecil, mikroskopik sehingga pelaksanaannya harus menggunakan alat bantu

mikroskop. Mikrofosil adalah setiap fosil (biasanya kecil) yang untuk

mempelajari sifat-sifat dan strukturnya paling baik,dilakukan dibawah

mikroskop (JONES, 1963).

Taksonomi adalah pengelompokan organism berdasarkan kesamaan ciri

fisik tertentu. Dalam penyebutan organisme sering dipergunakan istilah taksa

apabila tingkatan taksonominya belum diketahui. Unit terkecil dalam

taksonomi adalah spesies, sedangkan unit tertinggi adalah kingdom.

88
Foraminifera adalah organisme bersel tunggal yang hidupnya secara

akuatik (terutama hidup di laut, mungkin seluruhnya), mempunyai satu atau

lebih kamar yang terpisah satu sama lain oleh sekat (septa) yang ditembusi oleh

banyak lubang halus (foramen). Terdapat 3 jenis foraminifera yaitu

foraminifera plantonik yang hidup mengikuti arus dan di pakai untuk

menentukan umur, foraminifera bentonik yang di pakai untuk menentukan

lingkungan pengendapan, dan Foraminifera Besar

Kegunaan dari mempelajari mikropaleontologi sangat penting bagi geologist

karena merupakan sarana penting untuk mengetahui umur batuan dan lingkungan

pengendapan suatu daerah, dengan mempelejari mikropaleontologi merupakan

aplikasi untuk mengetahui keberadaan minyak dan gas saat diadakan eksplorasi

migas.

89