Anda di halaman 1dari 4

Tugas Manajemen ASN

PENGERTIAN SISTEM MERIT DAN PENERAPANNYA

Oleh

Aisyah Nurulita Erka

NIP. 19960224 201902 2 004

Pengelola Produksi Perikanan Tangkap Ahli Pertama


1. Sistem Merit
Penerapan Sistem Merit dalam Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN) telah
diamanatkan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara
(ASN). Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sebagai lembaga yang diberi tugas
mengawasi dan memastikan kebijakan tersebut terlaksana. Menurut UU No.5 tahun 2014,
sistem merit adalah kebijakan dan Manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi,
kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang
politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau
kondisi kecacatan.
Aparatur Sipil Negara merupakan salah satu unsur penyelenggaraan negara. ASN
memiliki tugas dalam membantu pemerintah untuk melayani kebutuhan masyarakat atau
pelayanan publik, tugas pemerintahan dan tugas pembangunan. Agar dapat melaksanakan
tugasnya secara produktif sebagai alat kelengkapan negara, aparatur sipil negara perlu
memiliki sistem manajemen kepegawaian yang baik sesuai dengan perkembangan zaman.
Namun sering terdengar bahwa kurangnya integritas yang dimilliki oleh ASN,
mengakibatkaan pelanggaran demi pelanggaran yang sering dilakukan, baik itu melanggar
kaidah asusila, agama, sopan santun, maupun melanggar kaidah hukum yang berlaku. Hal
seperti inilah yang kemudian mempengaruhi proses pelayanan publik menjadi buruk.
Alhasil ketidakpercayaan (distrust) masyarakat terhadap ASN semakin meningkat.
Solusi yang bisa diterapkan adalah dengan adanya tahapan pengadaan rekrutmen
yang dilakukan secara selektif dengan memprioritaskan kandidat yang mempunyai kualitas
dan integritas. Salah satunya dengan peneapan sistem merit dalam manajemen ASN. Hal
tersebut merupakan salah satu bentuk dari reformasi birokrasi yang sedang dikembangkan
penggunaannya dalam prinsip pemerintahan di Indonesia.
Secara harfiah, merit memiliki arti “kebaikan” atau “manfaat”. Sistem merit
merupakan salah satu cara atau bentuk manajemen kepegawaian yang sedang
dikembangkan dalam pengisian jabatan publik. Sistem merit digunakan untuk menunjuk
orang-orang terbaik yang dipilih berdasarkan kualitas dan kemampuannya dalam pengisian
jabatan-jabatan publik. Untuk dapat melaksanakan tugasnya secara baik dan produktif perlu
adanya manajemen pengolahan ASN untuk mneghasilkan ASN yang profesional, memiliki
nilai-nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi,
kolusi dan nepotisme. Maka digunakanlah sistem merit dalam perekrutan ASN. Penerapan
sistem merit tersebut bertujuan untuk memastikan jabatan yang ada di birokrasi pemerintah
diduduki pegawai yang memenuhi persyaratan kualifikasi dan kompetensi. Dengan
demikian maka tujuan pembangunan bidang SDM Aparatur untuk mewujudkan pegawai
ASN yang profesional, berintegritas, netral dan berkinerja tinggi dapat diwujudkan.

2. Penerapan Sistem Merit

Contoh penerapan sistem merit yaitu pada seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi.
Dalam pelaksanaannya terbagi menjadi dua bagian yaitu seleksi jabatan tinggi melalui
seleksi terbuka bagi instansi yang belum melaksanakan sistem merit (Pasal 108-120 UU
ASN) dan pengisian jabatan tinggi melalui sistem talnt pool bagi instansi yang sudah
menerapkan sistem merit dalam manajemen ASN dapat dikecualikan dari seleksi terbuka
(Pasal 111 UU ASN). Pada seleksi terbuka bertujuan untuk mendapatkan orang yang tepat
sesuai kebutuhan organisasi berdasarkan kompetensi dan kompetisi, serta diharapkan dapat
meningkatkan mobilitas ASN dan mengatasi spoil system dan jual beli jabatan.
Pengisian JPT melalui seleksi terbuka dan kompetitif merupakan salah satu bentuk
penerapan sistem merit dalam manajemen ASN. Sebagaimana diatur dalam UU ASN,
rencana pengisian JPT diumumkan paling tidak di tingkat Provinsi untuk JPT Pratama dan
di tingkat nasional untuk JPT Madya dan Utama. Seleksi dilaksanakan oleh Panitia Seleksi
yang dibentuk oleh PPK dan beranggotakan wakil-wakil dari internal dan eksternal instansi.
Seleksi dilakukan berdasarkan pertimbangan kualifikasi, kompetensi, kinerja dan rekam
jejak, serta dilakukan secara transparan. Panitia seleksi memilih tiga kandidat terbaik yang
memenuhi persyaratan untuk diajukan kepada PPK. Sesuai dengan kewenangannya, PPK
akan memilih salah satu diantaranya, menetapkan dan melantik pejabat yang terpilih ke
jabatan yang akan diisi.
Pengecualian terhadap pelaksanaan seleksi terbuka, menurut Pasal 111 UU ASN,
dapat diberikan kepada instansi yang sudah menerapkan sistem merit, dalam arti telah
menerapkan prinsip merit di setiap aspek manajemen ASN. Pengecualian tersebut dengan
persetujuan KASN dan untuk itu KASN menyusun tata cara penilaian penerapan sistem
merit.
Contoh pengumuman terbuka seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi