Anda di halaman 1dari 39

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keluarga pada hakekatnya merupakan satuan terkecil sebagai inti dari
suatu sistem sosial yang ada dimasyarakat. Sebagai satuan terkecil, keluarga
merupakan miniatur dan embrio berbagai unsur sistem sosial manusia.
Suasana keluarga yang kondusif akan menghasilkan warga masyarakat yang
baik karena dalam keluargalah seluruh anggota keluarga belajar berbagai
dasar kehidupan masyarakat ( Ayu Tri W, 2016 ).
Keluarga menempati posisi di antara individu dan masyarakat, sehingga
dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada keluarga, perawat mendapat
dua keuntungan sekaligus.keuntungan pertama adalah memenuhi kebutuhan
individu, dan keuntungan kedua adalah memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dalam pemberian pelayanan kesehatan,perawat harus memperhatikan nilai-
nilai dan budaya keluarga,sehingga keluarga dapat menerimanya ( Ayu Tri,
2016 ).

Pelayanan keperawatan di rumah merupakan pelayanan keperawatan


yang diberikan di tempat tinggal klien dan keluarga sehingga klien tetap
memiliki otonomi untuk memutuskan hal-hal yang terkait dengan masalah
kesehatannya khususnya skizofrenia. Skizofrenia merupakan gangguan jiwa
yang menunjukkan gangguan pada fungsi kognitif, yakni mengenai pembentukan
arus dan juga isi pikiran (Hawari, 2014).
World Health Organization (WHO) (2018) menyebutkan skizofrenia
memperngaruhi lebih dari 23 juta orang diseluruh dunia, namun tidak umum
seperti gangguan mental lainnya. Hal ini lebih sering terjadi pada laki-laki
dengan jumlah 12 juta jiwa, daripada perempuan dengan 9 juta jiwa. Hasil
Riset Kesehatan Dasar (2018) menyebutkan di Indonesia prevalensi
gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia sebesar 7 per mil dari 265 juta
jiwa atau sekitar 1.855.000 jiwa. Provinsi Jawa Timur prevalensi skizofrenia
sebesar 6 permil dari populasi. Jika penduduk Jawa Timur sebanyak 39,7 juta

1
2

jiwa, maka sebanyak 238.000 penduduk Jawa Timur menderita Skizofrenia


(Riset Kesehatan Dasar, 2018).
Skizofrenia terbentuk secara bertahap karena penderita tidak mengetahui
kelainan didalam otaknya dalam kurun waktu yang lama dan berangsur-
angsur menjadi skizofrenia yang tersembunyi dan bahaya. Gejala yang timbul
secara perlahan bisa menjadi skizofrenia akut. Pada periode skizofrenia akut
adalah gangguan yang singkat dan kuat, yang meliputi halusinasi, penyesatan
pikiran (delusi), dan kegagalan berfikir. Perubahan perilaku akan terjadi
dalam beberapa hari atau minggu, dan serangan yang mendadak akan memicu
terjadinya periode akut secara cepat. Faktor pendukungnya adalah pasien
mengalami depresi yang hebat, dan tidak dapat berfungsi sebagaimana
layaknya orang normal dalam lingkungannya
Peran perawat yang melakukan keperawatan di rumah bertanggung jawab
untuk meningkatkan kemampuan keluarga untuk mencegah penyakit dan
pemeliharaan kesehatan . namun, di indonesia belum ada lembaga ataupun
organisasi perawat yang diberikan di rumah khususnya oleh perawat
komunitas masih bersifat sukarela,belum ada aturan terhadap imbalan atas jasa
yang diberikan ( Esta Nur Laela, 2017 ).
Pengalaman belajar klinik memberikan kemampuan kepada mahasiswa
untuk memperoleh pengalaman nyata asuhan keperawatan keluarga pada
keluarga yang mengalami masalah kesehatan dengan penerapan berbagai
konsep dan teori keperawatan keluarga serta proses keperawatan sebagai
pendekatan.

1.2 Tujuan Penlisan


1.2.1 Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan pengalaman belajar klinik mampu
menerapkan asuhan keperawatan pada keluarga yang mempunyai
masalah kesehatan sesuai tugas dan perkembangan keluarga Ny. R
dengan skizofrenia.
3

1.2.3 Tujuan Khusus


Setelah menyelesaikan belajar klinik mahasiswa mampu :
1. Mengindentifikasi data yang sesuai dengan masalah kesehatan
keluarga Ny. R dengan skizofrenia
2. Merumuskan diagnosa keperawatan keluarga sesuai dengan
masalah kesehatan keluarga Ny. R dengan skizofrenia
3. Merencanakan tindakan sesuai dengan diagnosa keperawatan
kepada keluarga Ny. R dengan skizofrenia
4. Melaksanakan tindakan sesuai rencana yang telah ditentukan
kepada keluarga Ny. R dengan skizofrenia
5. Mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan terhadap
keluarga Ny.R dengan skizofrenia.
6. Mendokumentasikan asuhan keperawatan keluarga Ny. R dengan
skizofrenia

1.3 Manfaat Penulisan


Manfaat dari asuhan keperawatan keluarga adalah untuk membina dan
membentuk keluarga secara dini tentang pengertian hidup sehat. Secara
umum meningkatkan peran serta masyarakat dalam hal peningkatan status
kesehatan individu dan keluarga , sehingga setiap masalah kesehatan yang di
hadapi segera di ketahui.

1.4 Metode Penulisan


Metode yang di gunakan penulis dalam menyusun asuhan keperawatan
keluarga ini adalah :
1. Metode penyusunan deskriptif
Yaitu metode yang digunakan untuk mengungkapkan peristiwa dan
bertujuan pada pemecahan masalah yang di hadapi saat ini dan hasilnya
dapat di evaluasi saat itu juga.
a. Studi Pustaka
Yaitu mencari informasi melalui beberapa literature yang berasal
dari buku-buku ilmiah , mejalah ilmiah serta media cetak lainya yang
4

ada di perpustakaan untuk di jadikan landasan teori dalam memberikan


pelayanan maupun penulisan asuhan keperawatan keluarga ini.

b. Studi Lapangan
Yaitu memberikan asuhan keperawatan secara nyata di lapangan
untuk memperoleh gambaran sebenarnya tentang perkembangan suatu
subyek melalui proses keperawatan.
2. Lokasi Dan Waktu
Lokasi yang di gunakan sebagai sumber pembuatan asuhan
keperawatan keluarga ini adalah di wilayah Dusun Krajan Desa Kenjo
wilayah kerja puskesmas Paspan. Kegiatan di mulai dari tanggal 19
Agustus – 26 Agustus 2018.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam melakukan pengumpulan data,penyusun menggunakan teknik
sebagai berikut:
a. Observasi
b. Wawancara
c. Pemeriksaan fisik
4. Jenis Data
a. Data primer di peroleh dari observasi dan wawancara langsung
b. Data sekunder
5

1.4 Sistematika Penulisan

Laporan asuhan keperawatan keluarga ini di susun dengan sistematika


sebagai berikut:
a. Judul
b. Halaman judul
c. Lembar pengesahan
d. Kata Pengantar
e. Daftar isi
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Tujuan penulisan
1.1.1 Tujuan Umum
1.1.2 Tujuan Khusus
1.3 Manfaat penulisan
1.4 Sistematika penulisan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep keluarga dan Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga
2.2 Konsep Penyakit Skizofrenia dan Konsep Asuhan Keperawatan
Skizofrenia
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
3.1 Pengkajian
3.2 Perencanaan
3.3 Pelaksanaan
3.4 Evaluasi
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

Daftar Pustaka
6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Keluarga

2.1.1 Definisi Keluarga

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung
karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan
mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan
di dalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan
kebudayaan (Friedman, 2010).

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena


hubungan darah, perkawinan dan adopsi dalam satu rumah tangga,
yang berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan
serta mempertahankan suatu budaya (Ali, 2010).

Keluarga merupakan aspek terpenting dalam unit terkecil dalam


masyarakat, penerima asuhan, kesehatan anggota keluarga dan kualitas
kehidupan keluarga saling berhubungan, dan menempati posisi antara
individu dan masyarakat (Harmoko. 2012).

2.1.2 Tipe Keluarga

Tipe keluarga menurut Harmoko (2012) yaitu sebagai berikut :

a) Nuclear Family
Keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak yang tinggal
dalam satu rumah di tetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam
suatu ikatan perkawinan, satu/ keduanya dapat bekerja di laur
rumah.
7

b) Extended Family
Keluarga inti ditambahkan dengan sanak saudara, misalnya
nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, pama, bibi, dan
sebagainya.
c) Reconstitud Nuclear Pembentukan baru dari keluarga inti
melalui perkawinan kembali suami/istri, tinggal dalam
pembentuan satu rumah dengan anak-anaknya, baik itu bawaan
dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru. Satu
atau keduanya dapat bekerja di luar rumah.
d) Middle Age/ Aging Couple
Suami sebagai pencari uang. Istri di rumah/ kedua-duanya
bekerja di rumah, anak-anak sudah meningglakan rumah karena
sekolah/ perkawinan/meniti karier.
e) Dyadic Nuclear
Suami istri yang sudah berumur da tidak mempunyai anak,
keduanya/slah satu bekerja di rumah.
f) Single Parent
Satu orang tua sebagai akibat perceraian/ kematian
pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal di rumah/ di luar
rumah.
g) Dual Carier
Suami istri atau keduanya berkarier dan tanpa anak.
h) Commuter Married
Suami istri/ keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada
jarak tertentu, keduanya saling mencari pada waktu-waktu
tertentu.
i) Single Adult
Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak
adanya keinginan untuk menikah.
j) Three Generation
Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.
8

k) Institutional
Anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suaru panti-
panti.
l) Comunal
Satu rumah terdiri atas dua/lebih pasangan yang monogami
dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan
fasilitas.
m) Group Marriage
Satu perumahan terdiri atas orangtua dan keturunannya di
dalam satu kesatuan keluarga dan tiap indivisu adalah menikah
dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak.
n) Unmarried paret and child
Ibu dan aak dmana perkawinan tidak dikehendaki, anakya di
adopsi.
o) Cohibing Cauple
Dua orang/ satu pasangan yang tinggal bersama tanpa
pernikahan.

2.1.3 Fungsi Keluarga

Ada 4 fungsi yang dapat dijalankan keluarga :

1. Fungsi biologis
a) Untuk meneruskan keturunan
b) Memelihara dan membesarkan anak
c) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
d) Memelihara dan merawat anggota keluarga
2) Fungsi psikologis
a) Memberikan kasih sayang dan rasa aman
b) Memberikan perhatian diantara anggota keuaraga
c) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluaraga
d) Memberikan identitas keluarag
3) Fungsi sosialisasi
a) Membina sosialisasi pada anak
9

b) Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat


perkembangan anak
c) Meneruskan nilai-nilai budaya
4) Fungsi ekonomi
a) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi
kebutuhan keluarga.
b) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk
memenuhi kebutuhan keluarga
c) Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga
dimasa yang akan datang , misalnya pendidikan anak-anak ,
jaminan hari tua dan sebagainya.
5) Fungsi pendidikan
a) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan ,
keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan
bakat dan minat yang dimilikinya
b) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan
datang dalam memenuhi perananya sebagai orang dewasa
c) Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat
perkembanganya.

2.1.4 Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga

Tahap perkembangan Tugas Perkembangan ( utama )

1. Keluarga baru menikah 1. Membina hubungan intim yang


memuaskan
2. Membina hubungan dengan
keluarga
Lain , teman , dan kelompok
social.
3. Mendiskusikan rencana
memiliki anak
2. Keluarga dengan anak 1. Mempersiapkan menjadi orang
10

baru lahir tua


2. Adaptasi dengan perubahan
adanya anggota keluarga ,
interaksi keluarga , hubungan
seksual , dan kegiatan
3. Mempertahankan hubungan
dalam rangka memuaskan
pasanganya
4. Keluarga dengan anak 1. Memenuhi kebutuhan anggota
usia pra-sekolah keluarga
2. Membantu anak untuk
bersoasialisasi
3. Beradptasi dengan anak yang
baru lahir,kebutuhan anak yang
lain harus terpenuhi
4. Mempertahankan hubungan
yang sehat
5. Pembagian waktu untuk
individu , pasangan, anak.
6. Pembagian tanggung jawab
anggota keluarga
7. Merencanakan kegiatan dan
waktu untuk menstimulasi
pertumbuhan dan perkembangan
anak.
5. Keluarga dengan anak 1. Membantu sosialisasi anak
usia sekolah 2. Mempertahankan keintiman
pasangan
3. Memenuhi kebutuhan yang
meningkat
6. Keluarga dengan anak 1. Memberikan kebebasan yang
remaja seimbang dan bertanggung
11

jawab
2. Mempertahankan hubungan
intim dalam keluarga
3. Mempertahankan komunikasi
terbuka
4. Mempersiapkan perubahan
system peran dan peraturan
anggota keluarga.
7. Keluarga mulai melepas 1. Memperluas jaringan keluarag
anak sebagai dewasa 2. Mempertahankan keintiman
pasangan
3. Membantu abak untuk mandiri
sebagai keluarga baru di
masyarakat
4. Penataan kembali peran orang
tua dan kegiatan di rumah
8. Keluarga usia pertengahan 1. Mempertahankan kesehatan
individu dan pasangan
2. Mempertahankan hubungan
yang serasi dan memuaskan
dengan anak-anak dan sebaya
3. Meningkatkan kekerabatan
pasangan.
9. Keluarga usia tua 1. Mempertahankan suasana
kehidupan rumah tangga yang
saling menyenangkan
pasangannya
2. Adaptasi dengan perubahan
yang terjadi : kehilangan
pasangan , kekuatan fisik ,
penghasilan keluarga
3. Mempertahankan keakraban
12

pasangan dan saling merawat


4. Melakukan life review masa lalu

2.1.5 Peran Perawat Keluarga


Adapun peran perawat keluarga menurut Friedman tahun 2010 yaitu :
1. Pendidikan
a. Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga
b. Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan secara
mandiri
c. Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga
2. Koordinator
a. Koordinator diperlukan pada perawatan berkelanjutan agar
pelayanan komperehensif tercapai
3. Pelaksanaan
a. Memberi perawatan langsung dengan keluarga di rumah sakit
b. Perawatan dapat mendemonstrasikan kepda keluarga asuhan
dapat melakukan asuhan lansung kepada anggota keluarga
yang sakit
4. Pengawasan kesehatan
a. “Home Visit” kunjungan rumah yang terartur indentifikasi /
pengkajian tentang kesehatan keluarga.
5. Konsultan ( penasehat )
a. Narasumber dalam mengatasi masalah dibina dengan baik
b. Perawat harus bersikap terbuka dan dapat dipercaya
6. Kolaborasi
a. Bekerjasama dengan pelayanan rumah sakit atau tim kesehatan
lain untuk mencapai tahap kesehatan keluarga yang optimal
13

7. Fasilator
a. Membantu keluarga dalam mencapai kendala untuk
meningkatkan derajat kesehatannya.
8. Penemu kasus
a. Mengindentifikasi masalah kesehatan secara dini.
9. Mengindentifikasi lingkungan
a. Modifikasi lingkungan baik rumah maupun lingkungan
masyarakat agar tercipta lingkungan yang sehat.

2.1.6 Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga


1) Pengkajian

Adalah suatu tahapan dimana seorang perawat mengambil


informasi secara terus menerus. Terhadap anggota keluarga yang
dibinanya.sumber informasi dapat menggunakan metode :

a. Wawancara keluarga
b. Observasi fasilitas rumah
c. Pemeriksaan fisik dari anggota keluarga (head to toe)
d. Data sekunder bisa di ambil dari data hasil laboratorium : x-ray

Hal-hal yang perlu di kaji adalah :

1. Data Umum
Pengkajian meliputi :
Nama kepela keluarga (KK) sebagai penanggung jawab
keputusan keluarga , alamat dan nomer tlp : menentukan
demografis wilayah lingkungan dalam memuahkan
menghubungi keluarga dalam menggali informasi , pekerjaan
kepala keluarga : berhubungan dengan status sosial ekonomi
keluarga untuk menentukan kemampuan derajat kesehatan ,
pendidikan kepala keluarga: untuk landasan komunikasi dan
tingkat pengetahuan dalam dalam menerima pengetahuan
kesehatan serta pengetahuan untuk mengubah prilaku yang
kurang sehat .
14

Komposisi keluarga : untuk mengetahui siapa saja orang


yang tinggal dalam keluarga dan sejauh mana masalah
kesehatan keluarga mempengaruhi komposisi keluarag dalam
mengambil prioritas masalah kesehatan yang di hadapi dan
yang perlu di ketahui : nama , jenis kelami , hubungan dengan
keluarga , tingkat pendidikan , status imunisasi dan
keterangan.
1. Genogram
Untuk menentukan dari status keturunan dalam keluarga
dan resiko penyakit yang di hadapi adalah penyakit
keturanan atau menular . menjelaskan tentang siapa saja
yang tinggal satu rumah serta ada tidanya pengaruh
terhadap maslah yang di hadapi keluarag .
2. Tipe keluarga
Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala
atau masalah-masalah yang terjasi dengan jenis tipe
keluarga tersebut.
3. Suku bangsa
Mengkaji asal usul bangsa keluarga tersebut .
mengindentifikasi budaya suku bangsa keluarga tersebut
terkait dengan kesehatan .
4. Agama
Mengkaji agama yang di anut oleh keluarga serta
kepercayaan yang dapat mempengaruhi kesehatan.
5. Status sosial ekonomi keluarga
Di tentukan oleh pendapatan baik dari keluarga maupun
anggota keluarga lainya. Selain itu status sosial ekonomi
keluarga di tentukan pula oleh kebutuhan. Kebutuhan yang
di keluarkan oleh keluarga serta barang-barang yang di
miliki keluarga.
15

6. Aktifitas rekreasi keluarga


Rekreasi keluarga tidak hanya di lihat kapan saja keluarga
pergi bersama sama untuk mengunjungi tempat reakreasi
namun dengan menpnton TV dan mendengar radio juga
merupakan aktivitas rekreasi
2. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
1. Tahap perkembangan keluarga saat ini .
Dimana ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti.
Contoh :
keluarga bapak S mempunyai 2 orang anak , anak pertama
berusia 25 tahun dan anak kedua berusia 16 tahun , maka
keluarga bapak S berada pada tahapan perkembangan keluarga
dengan anak sekolah dan dewasa.
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Menjelaskan bagaimana tugas perkembangan yang belum
terpenuhi oleh keluarga serta kendalanya.
3. Riwayat keluarga inti
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga
inti , yang meliputi riwayat penyakit keturunan pada masing-
masing anggota keluarga perhatikan terhadap pencegahan
penyakit ( status imunisasi ) sumber pelayanan kesehatan yang
biasa digunakan keluarga serta penagalaman terhadap pelayanan
kesehatan.
4. Riwayat keluaraga sebelumnya
Dijelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak
suami dan istri.

a) Pengkajian Lingkungan
1. Karakteristik rumah
Diindentifikasi dengan melihat luas rumah , tipe rumah ,
jumlah ruangan , jumlah jendela , pemanfaatan ruangan ,
peletakan perabotan rumah , jenis septitank , jarak septitank
16

dengan sumber air , sumber air yang digunakan serta denah


rumah.
2. Karakteristik tetangga komunitas RW
Menjelaskan mengenai karakteristik tetangga dan
komunitas setempat yang meliputi kebiasaan , lingkungan fisik ,
aturan atau kesepakatan penduduk setempat , budaya yang
mempengaruhi kesehatan .
3. Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga yang di tentukan dengan kebiasaan
keluarga berpindah tempat
4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga
untuk berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada dan
sejauh mana keluarga interaksinya dengan masyarakat
5. Sintem pendukung keluarga
Yang termasuk sistem pendukung adalah jumlah anggota
keluarga yang sehat , fasilitas yang dimiliki keluarga untuk
menunjang kesehatan yang meliputi fasilitas fisik , psikologis ,
atau dukungan dari anggota keluarga dan fasilitas sosial atau
dungngan masyarakat setempat .

b) Struktur keluarga
1. Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antara anggota
keluarga
2. Strukutur kekuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi
orang lain untuk mengubah perilaku
3. Struktur peran
Menjelaskan oeran dari masing-masing anggota keluarga baik
secara formal maupun informal
4. Nilai atau norma keluarga
17

Menjelaskan mengenai nilai norma yang dianut keluarga , yang


berhubungan dengan kesehatan.

c) Fungsi keluarga
1. Fungsi efektif
Mengkaji gambaran diri anggota keluarga , perasaan memiliki dan
dimiliki keluarga , dukungan keluarga terhadap anggota
lainnya,kehangatan pada keluarga dan keluarga mengembangkan
sikap saling menghargai.
2. Fungsi sosialisasi
Bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga dan sejauh
mana anggota keluarga belajar disiplin , norma atau budaya dan
perilaku
3. Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah :
a. Berapa jumlah anak
b. Merencanakan jumlah anggota keluarga
c. Metode apa yang di gunakan keluarga dalam mengendalikan
jumlah anggota keluarga
4. Fungsi ekonomi
Hal yang perlu di kaji mengenai fungsi ekonomi keluarga :
a. Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang , pangan
dan papan ,
b. Memanfaatakan sumber yang ada di masyarakat dalam upaya
meningkatkan status kesehatan keluarga
5. Fungsi perawatan kesehatan
Sejauh mana pengetahuan keluarga mengenai sehat – sakit ,
kesanggupan keluarga melakukan pemenuhan tugas perawatan
keluarga dapat dilihat dari kemampuan keluarga melaksanakan 5
tugas keluarga yaitu , keluarga mampu mengenal maslah kesehatan
, mengambil keputusan , melakukan tindakan , melakukan
perawatan terhadap orang sakit , menciptakan lingkungan yang
18

dapat meningkatkan kesehatan dan keluarga mampu memanfaatkan


fasilitas kesehatan yang terdapat dilingkungan setempat.

d) Stress dan Koping Keluarga


a. Stressor jangka pendek dan jangka panjang
b. Stressor jangka pendek yaitu yang dialami keluaraga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu <60 bulan
c. Stressor jangka panjang yaitu yang memerlukan penyelesaian >60
bulan
d. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi atau stressor
e. Mengkaji sejauh mana keluarga berespon terhadap situasi atau
stressor .
f. Stategi koping yang digunakan
g. Stategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi
permasalahan
h. Stategi adaptasi disfungsional
i. Dijelaskan mengenai adaptasi disfungsional yang digunakan
keluaraga bila menghadapi permasalahan
j. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga .
metode yang digunakan pada pemeriksa , tidak berbeda dengan
pemeriksaan fisik di klinik.

e) Harapan Keluarga
Pada akhir pengkajian , perawat menanyakan harapan keluarga
terhadap petugas kesehatan yang ada.
B. Perumusan diagnosis keperawatan keluarga
Diagnosis keperawatan keluaraga di rumuskan berdasarkan data yang
didapatkan pada pengkajian . tipologi dari diagnosis keperawatan :
1. Aktual (terjadi deficit atau gangguan keluarga)
Dari hasil pengkajian didapatkan data mengenai tanda dan gejala
dari gangguan kesehatan.
19

2. Resiko (ancaman kesehatan)


Sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi
gangguan . misal : lingkungan rumah yang kurang bersih , pola
makan yang tidak adekuat , stimulasi tumbuh kembang yang tidak
adekuat.
3. Potensial (keadaan sejahtera atau “wellness”)
Suatu keadaan dimana keluarga dalam keadaan sejahtera
kesehatan keluarga dapat ditingkatkan. Dalam satu keluarga
perawat dapat menemukan lebih dari satu diagnosis
keperawatan.untuk menentukan prioritas terhadap diagnosa
keperawatan keluarga yang ditemukan dihitung dengan
menggunakan skala prioritas.

SKALA UNTUK MENENTUKAN PRIORITAS

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA)

NO Kriteria Skor Bobot

1. Sifat masalah 1
Skala :
a. Tidak / kurang sehat 3
b. Ancaman kesehatan 2
c. Keadaan sejahtera 1

2
Kemungkinan masalah dapat di ubah
2.
Skala :

a. Mudah 2

b. Sebagian 1

c. Tidak dapat 0
20

Potensial masalah dapat di cegah


1
3. Skala :

a. Tinggi 3
b. Cukup 2
c. Rendah 1

4. Menonjolnya masalah 1

Skala :
2
a. Masalah berat harus segera diatasi
1
b. Ada masalah tapi tidak perlu di tangani
0
c. Masalah tidak di rasakan

4.

Skoring :
a. Tentukan skor untuk setiap kriteria
b. Skor di bagi dengan angka tertinggi & di kalikan dengan bobot

Skor X Bobot : Angka tertinggi

c. Jumlahkan score untuk semua criteria


Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas dengan
melihat criteria pertama uaitu sifat masalah , bobot yang lebih berat
21

diberikan pada tidak/kurang sehat karna pertama memerlukan tindakan


segera dan biasanya disadari dan dirasakan oleh keluarga . untuk criteria
kedua yaitu untuk kemungkinan masalah dan dirasakan oleh keluarga .
untuk criteria kedua yaitu untuk kemungkinan masalah dapat diubah ,
perawat tidak perlu memperhatikan terjangkau factor-factor tersebut sebagai
berikut :
a) Pengetahuan yang ada sekarang , teknologi dan tindakan bermasalah
b) Sumber daya keluarga dalam bentuk fisik keuangan , tenaga
c) Sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan , keterampilan dan
waktu
d) Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas organisasi dalam
masyaraka.

Dalam bentuk fasilitas , organisasi , dan masyarakat serta sokong


masyarakat . untuk criteria kegiga yaitu potensial masalah dapat di
cegah , faktor-faktor yang perlu diperhatiakan :

e) Kepelikan dari masalah yang berhubungan dengan penyakit atau


masalah
f) Lamanya masalah yang berhubungan dengan jangka waktu masalah itu
ada
g) Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan-tindakan yang tepat
dalam memperbaiki masalah
h) Adanya kelompok “ High Risk” atau kelompok yang sangat peka
menambah potensi untuk mencegah masalah

c) . Diagnosa Keperawatan Keluarga

1. Pengertian

Adalah keputusan klinis mengenai individu , keluarga / masyarakat


yang diperoleh melalui suatu proses pengumpulan data dan analisa cermat
dan sistematis . memeberikan dasar untuk mendapat tindakalan dimana
perawat teranggung jawab melaksanakanya.

Diagnosa keperawatan keluarga berdasarkan Nanda 1995 :


22

a. Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah lingkungan


b. Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah struktur komunikasi
c. Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah struktur peran
d. Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah fungsi sosial
e. Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah fungsi afektif
f. Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah fungsi keperawatan
keluarga
g. Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah koping

Contoh :
1) Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
2) Resiko terhadap cedera yang berdasarkan kurangnya pengetahuan
terhadap biaya lingkungan
3) Resiko terhadap penularan infeksi
4) Komunikasi keluarga disfungsional
5) Perubahan proses keluarga berdasarkan dampak anggota keluarga yang
sakit dalam sistem keluarga
6) Perubahan menjadi orang tua
7) Perunahan penampilan peran
8) Gangguan citra diri
9) Koping keluarga menurun
10) Prilaku mencari bantuan kesehatan
11) Konflik peran orang tua
12) Perubahan perkembangan dan pertumbuhan
13) Perubahan pemeliharaan kesehatan
14) Kurang pengetahuan
15) Isolasi social
16) Kerusakan interaksi social
17) Ketidak patuhan
18) Gangguan indentitas pribadi
19) Penatalaksanaan aturan terapeutik keluarga tidak efektif
23

Faktor-faktor yang berhubungan dengan etiologi

Pada diagnose keperawatan actual , faktor yang berhubungan


merupakan etiologi adalah faktor penunjang lain yang telah
mempengruhi perubahan status kesehatan sedangkan factor dapat
dikelompokan kedalam 4 kategori yaitu patofiologi, tindakan yang
berhubungan , situasioanal , ( lingkungan personal ) , dan maturasional

Memperhatikan tingkat berfungsi dengan keluarga yang fungsional


untuk keluarga yang fungsional, tindakan yang bersifat prematif atau
preventif untuk keluarga yang disfungsional tindakan bersifat supertif.

d) Intervensi dan Implementasi

Intervensi keperawat
1) Intervensi keperawatan keluarga berdasarkan macam masalah :
a) Masalah tugas perkembangan keluarga
b) Masalah sosial budaya
c) Masalah kesehatan lingkungan
d) Masalah komunikasi keluarga
e) Masalah struktur peran keluarga
f) Masalah kekuatan keluarga
g) Intervensi pada fungsi sosialisasi keluarga
h) Intervensi pada masalah koping keluarga
i) Intervensi terhadap masalah fungsi perawatan keluarga
2) Perubahan pemeliharaan kesehatan
a. Tingkat pemahaman keluarga tentang perilaku atau kebiasaan
yang tidak sehat :
1. Intervensi aspek aspek negatif dan kebiasaan yang tidak sehat
2. Intervensi aspek aspek yang positif dari kebiasaan yang tidak
sehat ( fisik , lingkungan , sosial , finansial, psikologis.)
b. Berikan informasi tentang resiko yang akan timbul dari
kebiasaan tidak sehat.
1. Resiko terhadap yang bersangkutan
2. Resiko terhadap orang lain
24

3. Keuntungan merubah perilaku tidak sehat


c. Diskusikan bersama keluarga strategi yang dapat di gunakan
untuk merubah kebiasaan yang tidak sehat.
d. Berikan dorongan dan dukungn pada keluarga untuk mencapai
keberhasilan
e. Bantu klien untuk mengupayakan lingkungan yang dapat
mendukung perubahan kebiyasaan yang sehat
f. Ajarkan keluarga untuk mengatur nutrisi yang seimbang dan
pola makan yang sehat.
g. Ajarkan tentang latihan latihan tertentu uang berkaitan dengan
masalah
h. Bantu keluarga menyusun program latihan dan jadwal pelatihan
i. Berikan penyuluhan kesehatan dan rujukan sesuai indikasi
3) Masalah perilaku mencari bantuan
a. Tingkatkan perilaku hidup sehat
b. Lakukan penyuluhan kesehatan dan rujukan sesuai dengan
masalah
c. Diskusikan strategi yang dapat di gunakan untuk
mengembangkan jangkauan layanan kesehatan yang tersedia di
masyarakat
d. Beri informasi tentang macam macam layanan kesehatan
e. Dorong keluaraga meningkatkan hubungan dengan layanan
kesehatan yang ada
4) Masalah pelaksanaan aturan terapeutik
5) Tingkat kepercayaan dan kekuatan keluarga dalam menyalurkan
aturan terapeutik Bantu keluarga menganalisis kehilangan dalam
proses pembentukan untuk menjalankan aturan terapeutik secara
efektif.
6) Evaluasi perubahan perilaku atau gaya hidup keluarga untuk
membutuhkan pencapaian hasil belajar yang di harapkan
25

e). Evaluasi

Kegiatan evaluasi meliputi pengkajian , status kesehatan keluarga ,


membandingkan respon dengan kriteria hasil dan menyimpulkan hasil
kemajuan masalah dan kemajuan pencapaian tujuan keperawatan keluarag .

Dalam menelaah kemajuan keluaraga dalam pencapaian hasil


perawatan akan mencatat salah satu dari keputusan berikut dalam lembar
evaluasi dalam catatan kemajuan :

1. Lanjutkan diagnosa masih berlaku , tujuan kriteria standart relevan


2. Teratasi : tujuan keperawatan telah di capai dan rencanakan keperawatan
tindak lanjut
3. Dipakai lagi : diagnosa yang teratasi di pakai lagi
Mengevaluasi tujuan keperawatan :
4. Apakah respon keluarga sesuai dengan kriteria standart yang di terapkan
5. Apakah tujuan yang telah di capai sudah menggambarkan fokus
keperawatan

2.2 Konsep Dasar Skizofrenia


2.2.1 Definisi Skizofrenia
Skizofrenia (schizophrenia) adalah gangguan yang terjadi pada
fungsi otak. Bukti terkini tentang serangan skizofrenia melibatkan
beberapa faktor meliputi perubahan struktur fisik otak, perubahan
struktur kimia otak, dan faktor genetic ( Nancy A. (2008). Skizofrenia
merupakan gangguan jiwa yang menunjukkan gangguan pada fungsi
kognitif, yakni mengenai pembentukan arus dan juga isi pikiran
(Hawari, 2014).
Skizofrenia merupakan kelompok gangguan psikotik atau
psikosis yang ditandai oleh distorsi-distorsi menegnai realitas, juga
sering terlihat adanya perilaku menarik diri dari interaksi sosial, serta
disorganisasi dan fragmentasi dalam hal persepsi, pikiran dan kognisi
(Carson dan Butcher 1994 dalam Vera P. dan Witrin G. 2016).
26

2.2.2 Klasifikasi Skizoftenia


a) Skizofrenia tipe Paranoid
Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah adanya waham yang
mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya
fungsi kognitif dan efek yang realtif masih terjaga. Wahamnya
adalah waham kebesaran serta waham kecemburua , keagamaan
(Arif, 2014).
b) Skizofrenia tipe Disorganized
Ciri utama pada skizofrenia Disorganized adalah
pembicaraan kacau, tingkah laku kacau dan afek datar.
Pembicaraan yang kacau dapat disertai kekonyolan dan tertawa
yang tidak berkaitan dengan isi pembicaraan (Arif, 2014).
Skizofrenia tipe Katatonik. Ciri utama pada skizofrenia tipe
katatonik adalah gangguan pada psikomotor yang dapat meliputi
ketidak bergerakan motoric, aktivitas motor yang berlebihan, sama
sekali tidak mau bicara dan berkomunikasi, gerakan-gerakan yang
tidak terkendali, mengulang ucapan orang lain atau mengikuti
tingkah laku orang lain (Arif, 2014).
c) Skizofrenia tipe undifferentiated
Skizofrenia tipe ini gejalanya lebih sulit untuk digolongkan pada
tipe skizofrenia tertentu (Arif, 2014).
d) Skizofrenia tipe residual
Diagnosa skizofrenia tipe residual diberikan bilamana
pernah ada paling tidak satu kali episode skizofrenia, tetapi
gambaran klinis saat ini tanpa simtom positif yang menonjol.
Terdapat bukti bahwa gangguan masih ada sebagaimana ditandai
oleh adanya negatif simtom atau simtom positif yang lebih halus.
2.2.3 Etiologi

Nevid (2005) dalam Vera P. dan Witrin G. (2016)


mengemukakan beberapa etiologi skizofrenia pada beberapa
perspektif yaitu :
27

1) Perspektif Psikodinamika.
Pandangan psikodinamika, skizofrenia mencerminkan ego
yang dibanjiri oleh dorongan-dorongan seksual primitive atau
agresi atau impuls yang berasal dari id. Impus-impuls tersebut
mengancam ego dan berkembang menjadi konflik antarpsikis yang
kuat. Dibawah ancaman yag seperti itu orang tersebut mundur ke
tahap awal dari tahap oral, yang disebut sebagai narsisme primer.

2) Perspektif Biologis
Beberapa faktor yang termasuk dalam perspektif biologis :

a. Faktor biologis. Satu sumber bukti tentang faktor genetis


didasarkan pada penelitian keluarga. Secara keseluruhan
keluarga tingkat pertama dari orang-orang yang mengalami
skizofrenia (orang tua atau saudara kandung) memiliki 10 kali
lipat resiko lebih besar untuk mengalami skizofrenia
dibandingkan anggota populasi umum.
b. Faktor biokimia. Teori dopamine beranggapan bahwa
skizofrenia melibatkan terlalu aktifnya reseptor dopamine di
otak yaitu reseptor yang terletak di neuron pascasimpatik
tempat molekul dopamine terikat.
c. Infeksi virus.
d. Ketidaknormalan otak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat ketidaknormalan korteks prefrontalis dari pasien
skizofrenia. Korteks prefrontalis terlibat dalam
pengendalian berbagai fungsi kognitif dan emosional.
3) Teori-teori keluarga
Orang tua dari penderita skizofrenia menunjukkan tingkat
penyimpanan komunikasi yang lebih tinggi daripada orang tua
yang tidak menderita skizofrenia. Orang tua dengan
penyimpanan komunikasi yang tinggi juga mengalami kesulitan
memfokuskan pada penyampain anal pasien skizofrenia. Mereka
cenderung untuk menyerang anak secara verbal daripada
menawarkan kritik yang membangun. Pengukuran lain dari
28

komunikasi keluarga yang terganggu disebut sebagai ekspresi


emosi (expressed emotion). Expressed emotion melibatkan
kecenderungan anggota keluarga untuk bersikap kejam,
mengkritik, dan tidak mendukung anggota keluarga yang
menderita skizofrenia. Orang dengan skizofrenia yang memiliki
keluarga expressed emotion yang tinggi cenderung menunjukkan
penyesuaian diri yang lebih buruk dan memiliki rata-rata
kambuh yang lebih tinggi dibandingkan keluarga yang
mendukung.

4) Model diathesis-stress

Prinsip utama model diathesis-stress bahwa hereditas


berinteraksi dengan pengaruh lingkungan dalam menentukan
kerentanan terhadap skizofrenia. Faktor-faktor lingkungan
ternttu, seperti pengasuhan orang tua yang baik, memiliki
peran sebagai perlindungan dalam mencegah perkembangan
gangguan pada orang dengan resiko genetis yang meningkat

2.2.4 Patofisiologi
Secara terminologi, skizofrenia berarti skizo adalah pecah dan
frenia berarti kepribadian. Scizophrenia adalah sekelompok
gangguan psikotik dengan gangguan dasar pada kepribadian,
distorsi dan perasaan pikir, waham yang aneh, gangguan persepsi,
afek yang abnormal. Di dalam otak terdapat milyaran sambungan
sel. Setiap sambungan sel menjadi tempat untuk meneruskan
maupun menerima pesan dari sambungan sel yang lain. Sambungan
sel tersebut melepaskan zat kimia yang disebut neurotransmiter yang
membawa pesan dari ujung sambungan sel yang satu ke ujung
sambungan sel yang lain.
Orang yang normal, sistem switch pada otak bekerja dengan
normal. Sinyalsinyal persepsi yang dating dikirim kembali dengan
sempurna tanpa ada gangguan sehingga menghasilkan perasaan,
pemikiran, dan akhirnya melakukan tindakan sesuai kebutuhan saat
29

itu. Pada otak pasien skizofrenia, sinyal-sinyal yang dikirim


mengalami gangguan sehingga tidak berhasil mencapai sambungan
sel yang dituju. Skizofrenia terbentuk secara bertahap dimana
dalam jangka waktu yang lama dengan kerusakan yang perlahan-
lahan akhirnya menjadi skizofrenia yang tersembunyi dan
berbahaya. Gejala yang timbul secara perlahan ini busa menjadi
skizofrenia akut. Periode skizofrenia akut adalah gangguan yang
singkat dan kuat, yang meliputi halusinasi, penyesatan pikiran
(delusi), dan kegagalan berfikir (I.Yosep. dan Titin S., 2016).
Skizofrenia bisa menyerang secara tiba-tiba ditandai dengan
perubahan perilaku yang sangat dramatis terjadi dalam beberapa hari
atau minggu. Serangan yang mendadak selalu memicu terjadinya
periode akut secara cepat. Beberapa penderita mengalami gangguan
seumur hidup, namun banyak juga yang bisa kembali normal dalam
periode akut tersebut. Kebanyakan didapati bahwa mereka dikucilkan,
menderita depresi hebat, dan tidak berfungsi sebagaimana layaknya
orang normal dalam lingkungan. Dalam beberapa kasus, serangan
dapat meningkat menjadi skizofrenia kronis. Pasien menjadi buas,
kehilangan karakter sebagaimana manusia dalam kehidupan sosial,
tidak memiliki motivasi sama sekali, depresi dan tidak memiliki
kepekaan terhadap perasaannya sendiri (I. Yosep dan Titin S.,
2016).
30

2.2.6 Patway

MK. Defisit Perawatan


Diri

Penampilan diri terganggu

Perawatan diri MK. Harga Diri Rendah


Situasional MK. Isolasi Sosial
kurang

Kemauan Menurun Stress Depresi

Koping individu tidak efektif

Kegagalan perpisahan/
kehilangan

Konflik keluarga

2.2.7 Manifestasi Klinis

1) Gejala posistif
a) Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak
rasional. Meskipun telah dibuktikan secara objektif bahwa
keyakinan itu tidak rasional, namun penderita tetap meyakini
kebenarannya.
b) Halusinasi, pengalaman panca indra tanpa adanya
rangsangan. Misalnya penderita mendengar adanya bisikan-
bisikan ditelinganya padahal tidak ada sumber dari bisikan
itu.
31

c) Kekacauan alam pikiran, yang dapat dilihat isi


pembicaraannya. Misalnya bicaranya kacau, sehingga tidak
dapat diikuti alur pikirannya.
d) Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, modar mandir, agresif,
bicara dengan semangat dan gembira secara berlebihan.
e) Merasa dirinya “orang besar”, serba mampu, serba hebat dan
sejenisnya.
f) Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada
ancaman terhadap dirinya.
g) Menyimpan rasa permusuhan ( Hawari, 2010).

2. Gejala negatif skizofrenia


a) Alam perasaan “tumpul” dan “ mendarat”. Gambaran alam
perasaan ini dapat terlihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan
ekspresi.
b) Menarik diri atau mengasingkan diri, tidak mau bergaul atau
kontak dengan orang lain, suka melamun.
c) Kontak emosional sangat “miskin”, sukar diajak bicara, pendiam
d) Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.
e) Sulit dalam berfikir abstrak.
f) Tidak ada/kehilangan dorongan kehendak dan tidak ada inisiatif
dan serba malas (Hawari, 2010).

2.2.8 Penatalaksanaan

Penatalaksaan pada pasien skizofrenia dapat berupa terapi biologis,


dan terapi psikososial.

1) Terapi Biologis

Pada pelaksanaan terapi biologis terdapat tiga bagian yaitu


terapi dengan menggunakan obat antipsikosis, terapi
elektrokonvulsif, dan pembedahan bagian otak. Terapi dengan
penggunaan obat antipsikosis dapat meredakan gejala- gejala
32

skizofrenia. Obat yang digunakan adalah chlorpromazine


(thorazine) dan fluphenazine decanoate (prolixin). Kedua obat
tersebut termasuk kelompok obat phenothiazines, reserpine
(serpasil), dan haloperidol (haldol). Obat ini disebut obat penenang
utama.

2) Terapi Psikososial

Gejala-gejalaa gangguan yang kronik mengakibatkan


situasi pengobatan didalam maupun di luar Rumah Sakit Jiwa
(RSJ) menjadi monoton dan menjenuhkan. Secara histori,
sejumlah penanganan psikososial telah diberikan pada pasien
skizofrenia, yang mencerminkan adanya keyakinan bahwa
gangguan ini merupakan akibat masalah adaptasi terhadap dunia
karena berbagai pengalaman yang dialami di usia dini. Pada
terapi psikososial terdapat dua bagian yaitu terapi kelompok dan
terapi keluarga (Durant, 2013).

3) Terapi Farmakologis

Hasil penelitian menyebutkan bahwa manajemen terapi


pada pasien skizofrenia meliputi jenis terapi farmakologi dan
non farmakologi. Terapi farmakologi merupakan sebuah terapi
yang menggunakan obat antipsikotik yang saat ini merupakan
terapi primer pasien skizofrenia. Golongan antipsikotik terdiri
dari dua jenis yaitu antipsikotik tipikal dan atipikal (Oktoviana
2009 dalam Hariyanto, dkk 2016)

2.2.9 Komlikasi

1) Bunuh diri

Bunuh diri adalah penyebab nomor satu kematian dini pada


pasien dengan skizofrenia, penting untuk mengetahui tanda-
tanda peringatan dan bagaimana pasien bereaksi ketika sedang
mencoba untuk melakukan bunuh diri.
33

2) Penyalahgunaan zat, nikotin, dan obat terlarang


Penyalahgunaan zat dapat mengganggu pengobatan skizofrenia
karena pengguan narkoba mengacaukan sistem neuritransmiter
di otak.

3) Kekerasan perilaku

Orang dengan skizofrenia rentang terhadap kekerasan, biasanya


penderita lebih memilih untuk dibiarkan sendiri. Terkadang,
penderita juga berpotensi untuk melukai orang-orang disekitarnya
dan merusak barang-barang di rumah.

2.2.10 Konsep Asuhan Keperawatan Skizofrenia

1. Identitas Klien

Klien dengan skizofrenia lebih banyak ditemukan pada usia


15-34 tahun, dengan jumlah tertinggi adalah pada jenis kelamin
laki-laki. (Stuart, 2013).

2. Alasan Masuk

Tanyakan kepada klien / keluarga / pihak yang berkaitan dan


tuliskan hasilnya, yang menyebabkan klien masuk ke rumah sakit
(data primer dan data sekunder). Keluhan utama saat pengkajian,
keluhan yang paling sering muncul / dominan dirasakan klien saat
pengkajian.

3. Faktor Presipitasi dan Riwayat Penyakit Sekarang (Riwayat


Perkembangan Kesehatan 6 bulan terakhir) Stuart 2014 (Bio,
psiko, sosial)
a. Tanyakan riwayat timbulnya gejala gangguan jiwa saat ini.
b. Tanyakan faktor pencetus munculnya gejala gangguan jiwa saat
ini.
c. Upaya yang telah dilakukan dan hasil.
4. Faktor Predisposisi
34

Faktor prediposisi adalah faktor pendukung (bio,psiko,sosial)


yang berkontribusi timbulnya gangguan jiwa / kekambuhan. Faktor
prediposisi yang harus dikaji meliputi : kapan terjadinya, keluhan /
tanda gejala, penyebab / faktor-faktor yang melatar belakangi, apa
sudah dilakukan, hasil.
1) Apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa di masalah atau
sebelumnya ? bila “ya’’ jelaskan kapan itu terjadi dan
bagaimana gejalanya.
2) Faktor penyebab dan pendukung.
a. Trauma
Apakah klien pernah melakukan (pelaku), mengalami (korban)
atau menyaksikan (saksi) suatu trauma berbentuk aniaya fisik,
aniaya seksual, penolakan, kekerasan dalam keluarga, tindakan
kriminal.
b. Pernah melakukan upaya /percobaan / bunuh diri
Jelaskan secara detail tentang upaya atau percobaan bunuh diri
(kapan, metode) masih ada / tidak keinginan bunuh diri.
c. Pasien skizofrenia cenderung mengalami masa lalu yang kurang
mnyenangkan, salah satunya adalah pola pendidikan orang tua
yang selalu mengekang, adanya trauma yang menyebabkan
anak/orang menjadi introvert/menutup diri.
d. Pernah mengalami penyakit fisik (termasuk gangguan tumbuh
kembang) yang menjadi faktor pendukung gangguan jiwa.
3) Upaya yang telah dilakukan terkait kondisi di atas dan hasilnya :
Upaya yang telah dilakukan oleh keluarga (medis atau non
medis).
4) Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota keluarga lain yang mengalami gangguan jiwa
? bila ada, bagaimana hubungan keluarga dengan klien, bagaimana
gejala yang terjadi dan riwayat pengobatan atau perawatannya.
35

5. Pengkajian Psikososial (sebelum dan sesudah sakit)

Pengkajian pada aspek psikososial dapat dilakukan pada


genogram, konsep diri, hubungan sosial dan askep spiritual yang
akan diuraikan secara singkat dibawah ini.

1) Genogram
Penelusuran genetik yang menyebabkan / menurunkan
gangguan jiwa merupakan hal yang sulit dilakukan hingga
saat ini. Informasi terakhir tentang hal ini berdasarkan atas
penyelidikan sifat keturunan sebagai berikut :
a) Menurut Layanan Kesehatan Nasional
(NHS) kembar identik memiliki 100 % gen yang
sama dan kembar non identik memiliki sekitar 50
% gen yang sama diantara mereka. Penelitian
pada jurnal Bological Psychiatry tersebut
akhirnya mengakui bahwa faktor genetik sekitar
81 % menjadi salah satu faktor penyebab
skizofrenia.
b) Gambaran genogram keluarga klien dengan
3 (tiga) generasi yang dapat menggambaran
hubungan klien dengan anggota keluarga. Salah
satunya adalah lingkungan dan pola asuh keluarga
khususnya pada anggota keluarga yang mengalami
skizofrenia.
6. Pemeriksaan / Keadaan fisik

Pengkajian / pemeriksaan fisik di fokuskan pada sistem /


fungsi organ tubuh (dengan cara observasi, auskultasi, palpasi,
perkusi, dan hasil pengukuran) dapat digambarkan sbb :

1). Kesadaran secara kuantitatif (GCS)

Pada pasien skizofrenia GCS pasien adalah apatis dengan GCS


12-13
36

2). Lakukan pengukuran dan tuliskan hasilnya tentang :


a) Tanda vital (tekanan darah dalam mmHg).
b) Nadi beberapa kali dalam 1 (satu) menit.
c) Pernafasan berapa kali dalam 1 (satu) menit.
d) Suhu badan dalam derajat Celcius.
e) Berat badan dalam Kg.
f) Tinggi badan dalam Cm.
3) Apakah ada keluhan-keluhan fisik yang dirasakan klien, bila ada
kaji lebih lanjut tentang sistem dan fungsi organ sesuai dengan
keluhannya dirasakan klien.

7. Status mental

Status mental pada pasien skizofrenia sebagian besar adalah


maladaptif dimana kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar
pasien masih memerlukan perawatan kesehatan yang intensif untuk
mendapatkan perbaikan status mental dan kesembuhannya.

8. Kebutuhan perencanaan pulang

Khusus data data ini harus dikaji untuk mengetahui masalah


yang mungkin akan terjadi / akan dihadapai klien, kluarganya atau
masyarakat sekitarnya pada saat klien pulang atau setelah klien
pulang dari rumah sakit dan klien berada dirumahnya, ditengah
keluarga/masyarakat. Data ini bermanfaat agar dapat sesegera
mungkin dapat dibuatkan suatu rencana keperawatan/implementasi
keperawatan saat ini atau pada saat klien menjelang pulang. Dapat
dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, data
diri; keluarga atau sumber sumber lainya yang mendukung. Tulisan
data secara singkat dan jelas atau berikan tanda pada kotak ( □ )
sesuai keadaan yang sebenarnya terjadi :

1) Kemampuan klien memenuhi kebutuhan


Apakah klien mampu atau tidak mampu
memenuhi/menyediakan kebutuhan pakaian (Memilih,
37

memakai, mencuci/menyimpannya), makanan, kemauan,


perawatan kesehatan, transportasi, tempat tinggal. Keuangan
dan kebutuhan lainnya serta ketidakmampuan klien yang
terjadi. Bila dari hasil pengkajian terdapat tanda mayor/batasan
karakteristik dari suatu diagnosa atau masalah keperawatan,
tuliskan diagnosa/masalah keperawatan tersebut sesuai dengan
data.
2) Kegiatan hidup sehari hari (ADL)
a. Perawatan diri
Apakah klien mampu melakukan kegiatan hidup sehari
hari seperti mandi kebersihan, makan, buang air kecil (BAK),
buang air besar (BAB)
b. Nutrisi
Bagaimana kepuasan klien dengan pola makannya, bila
tidak puas jelaskan apa yang menyebabkannya. Apakah klien
pada saat makan memisahkan diri, bila memisahkan diri
jelaskan mengapa terjadi hal ini. Berapa frekuensi makan dan
frekuensi kudepen dalam sehari.
c. Tidur
Apakah klien mempunyai masalah / gangguan tidur
seperti : Gangguan untuk jatah tidur (Insomia), biasanya
sering ditemui pada ansietas / depresi dan gejala ini paling
sering terjadi.
3) Mekanisme koping

Bagaimana dan jelaskan reaksi klien bila menghadapi suatu


permasalahan, apakah menggunakan cara cara yang adaptif
ataukah menggunakan cara cara yanag maladaptive.

4) Masalah psikologi dan


lingkungan
Apakah klien mempunyai maslah yang berkaitan dengan
psikososial dan lingkungan sekitarnya, masalah yang baerkaitan
dengan psikososial dan lingkungan.
38

5) Aspek pengetahuan

Bagaimana pengetahuan klien/keluarga saat ini tentang


penyakit/gangguan jiwa. Sistem pendukung, faktor yang
memperberat masalah (presipitasi), mekanisme koping, penyakit
fisik, obat obatan atau lainnya. Apakah perlu diberikan
tambahan pengetahuan yang berkaitan dengan spesifiknya
masalah tsb.

6) Aspek medis

Jelaskan aspek medis klien (dapat dilihat dari rekam medik)


tentang :

1) Diagnosa medis
2) Diagnosa Multi Axis
- Axis I: Gangguan Klinis
Kondisi lain yang menjadi focus perhatian kl
- Axis II : Gangguan Kepribadian
Retardasi Mental
- Axis III : Kondisi Medik Umum
- Axis IV : Masalah Psikososial dan Lingkungan
- Axis V : Penilaian Fungsi secara Global ( GAF’S )

7) Diagnosa Keperawatan
1. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan riwayat
kehilangan
2. Isolasi Sosial berhubungan dengan depresi
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan perawatan diri
kurang
39