Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

LANSIA DENGAN GANGGUAN SISTEM PENDENGARAN


(PRESBIKUSIS)

Disusun Oleh :

Noor Faizah
NIM: P27220018248

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
2019
LAPORAN PENDAHULUAN
PRESBIKUSIS

A. Konsep Dasar Teori


1. Pengertian Presbikusis

Presbikusis adalah hilangnya pendengaran terhadap nada murni


berfrekuensi tinggi, yang merupakan suatu fenomena yang berhubungan
dengan lanjutnya usia.

Presbikusis adalah penurunan pendengaran normal dengan proses


penuaan. (ilmu keperawatan, 2011)

Presbikusis merupakan akibat dari proses degenefative pasa satu


atau beberapa bagian koklea (striae vaskularis, sel rambut dan membrane
basilaris) maupun serabut saraf auditori.presbikusis ini juga merupakan
haril interaksi antara faktor genetic individu dengan faktor eksternal.
(muhammad nangga dipa, 2012)

Presbikusis adalah tuli saraf sensorineural frekuensi tinggi, terjadi


pada usia lanjut, simetris kiri dan kanan, disebabkan proses degenerasi di
telinga dalam (sandhi indra yanas, 2014)

2. Etiologi
1. Internal
Degenerasi primer aferen dan eferen dari koklea, degenerasi
primer organ corti penurunan vascularisasi dari reseptor neuro sensorik
mungkin juga mengalami gangguan. Sehingga baik jalur auditorik dan
lobus temporalis otak sering terganggu akibat lanjutnya usia.
2. Eksternal
Terpapar bising yang berlebihan, penggunaan obat ototoksik
dan reaksi pasca radang. (ilmu keperawatan, 2011)
Gangguan pendengaran secara perlahan akubat proses penuaan
yang dikenal dengan istilah presbikusis. Penyebab terjadinya
presbikusis yang tepat belum diketahui hingga saat ini, namun secara
umum diketahui bahwa penyebabnya bersifat multifaktorial. Di duga
timbulnya presbikusis berhubungan dengan faktor bawaan, pola
makan, metabolism, atherioskerosis, diabetes mellitus, infeksi, bisisng,
gaya hidup, obat-obatan dll. Presbikusis umum nya merenyang kedua
telingan secara perlahan-lahan sihingga orang tersebut tidak dapat
menyadari adanya gangguan pendengaran pada dirinya. (muhammad
nangga dipa 2012)
Faktor-faktor resiko mempengaruhi terjadinya presbikusis yaitu :
 Usia dan jenis kelamin
Kebanyakan orang yang berusia 60-65 tahun banyak yang
menderita presbikusis. Presbikusis banyak terjadi oada laki-laki
dari pada perempuan karena laki-laki lebih sering terpapar suara
bising dari pada perempuan.
 Hipertensi
Hipertensi kronik dapat memperberat tahanan vaskuler yang
mengakibatkan peningkatan viskositas darah, penurunan aliran
darah kapiler dan transport oksigen ke organ telinga dalam, terjadi
kerusakan sel-sel auditori dan proses transmisi sinyal dapat
terganggu
 Diabetes mellitus
 Merokok
 Riwayat bising
(sandhi indra yanas, 2014)
3. Manifestasi klinis
Keluhan utama presbikusis berupa berkurangnya pendengaran
secara perlahan-lahan dan progresif, simetris pada kedua telinga. Kapan
berkurangnya pendengaran tidak diketahui dengan pasti. Pertama-tama
terjadi sedikit demi sedikit kekurangan pendengaran pada frekuensi tinggi,
dan kemudian diikuti oleh tidak bisa mendengar dengan jelas akibat
sukarnya menangkap huruf konsonan yang bersuara mendesis (S, SH, Z, C
dan T). Keluhan lainnya adalah telinga berdenging (tinitus nada tinggi).
Pasien dapat mendengar suara percakapan, tetapi sulit untuk
memahaminya, terutama bila diucapkan dengan cepat di tempat dengan
latar belakang yang ramai (cocktail party deafness). Bila intensitas suara
ditinggikan akan timbul rasa nyeri di telinga, hal ini disebabkan oleh
faktor kelelahan saraf (recruitment). Pada kasus presbikusis yang berat
komunikasi dengan penderita lebih sukar. Umumnya penderita presbikusis
ini lebih suka bila kita berbicara lambat-lambat, jelas, kata-kata yang
pendek dan bicara agak ke dekat kuping, daripada suara yang
keras.Berkurang secara perlahan-lahan, progresif, dan simetris pada
kedua telinga. Telinga berdenging. Pasien dapat mendengar suara
percakapan tapi sulilt memahaminya, terutama bila cepat dan
latarnya riuh. Bila intensitas ditinggikan akan timbul rasa nyeri. Dapat
disertai tinitus dan invertigo.
Pada pemeriksaan otoskop tampak membran timpani suram
dan mobilitasnya berkurang.
Perubahan-perubahan dalam struktur dan fungsi pada telinga
bagian dalam membuat sulit untuk memahami tipe bunyi bicara tertentu
dan menyebabkan intoleran terhdap bunyi keras. Bunyi-bunyi yang
biasanya hilang pertama kali adalah: f, s, th, ch dan sh. Saat penurunan
pendengaran berlanjut, kemampuan untuk mendengar bunyi b, t, p,
k dan t juga rusak
Beberapa dari tanda dan gejala yang paling umum dari penurunan
pendengaran :
 Kesulitan mengerti pembicaraan
 Ketidakmampuan untuk mendengarkan bunyi-bunyi dengan
nada tinggi.
 Kesulitan membedakan pembicaraan; bunyi bicara lain
yang parau atau bergumam
 Masalah pendengaran pada kumpulan yang besar, terutama
dengan latar belakang yang bising
 Latar belakang bunyi berdering atau berdesis yang konstan
 Perubahan kemampuan mendengar konsonan seperti s, z, t,
f dan g
 Suara vokal yang frekuensinya rendah seperti a, e, i, o, u
umumnya relatif diterima dengan lengkap.
(emirza nur wicaksono, 2013)

4. Tanda dan Gejala


tanda utama presbikusis adalah terjadinya penurunan sensitivitas
ambang suara pada frekuensi tinggi. Penderita presbikusis fungsi
pendengarannya berkurang secara perlahan-lahan, progresif, dan simetris
pada kedua telinga. Penderita akan merasa telinganya berdenging, pasien
dapat mendengar suara percakapan tetapi sulit memahaminya, teritama
bila cepat dan latarnya riuh.
Beberapa dari tanda dan gejala yang paling umum dari penurunan
pendengaran :
 Kesulitan mengerti pembicaraan
 Ketidakmampuan untuk mendengarkan bunyi-bunyi dengan nada
tinggi
 Kesulitan membedakan pembicaraan; bunyi bicara lain yang parau
atau bergumam
 Masalah pendengaran pada kumpulan yang besar, terutama dengan
latar belakang yang bising
 Latar belakang bunyi bordering atau berdesis yang konstan
 Perubahan kemampuan mendengar konsonan seperti s, z, t, f, dan g
 Suara vocal yang frekuensinya rendah seperti a,e, I, o, u umumnya
relative diterima dengan lengkap
5. Patofisiologi
Bertambahnya usia akan mengakibatkan degenerasi primer di
prgan corti, yaitu berupa hilang sel epitel saraf yang dimulai pada usia
pertengahan, terjadi degenerasi pada serabut aferen dan eferen sel sensorik
dari koklea dan juga terjadi perubahan pada sel ganglion siralis di basal
koklea. Selain itu elastisitas membrane basalis di koklea dan membrane
timpani juga akan menurun. Suplai darah dari reseptor neurosensorik
mungkin juga akan mengalami gangguan, sehingga jalur auditorik dan
lobus temporalis otak akan terganggu.
6. Pathway

Degenerasi tulang2
Pendengaran bag. Dalam

Hilangnya sel-sel rambut


Pada basal koklea

Fungsi pendengaran
menurun

PRESBIKUSIS

pendengaran terhadap menarik diri dari tidak mau mengikuti


kata-kata/rangsangan suara lingkungan kegiatan dirumah
menurun maupun masyarakat

Mk : harga diri
rendah lebih banyak istirahat
Mk : gangguan
komunikasi verbal

Mk : kurang
aktivitas

(sandhi indra yanas, 2014)


7. Klasifikasi
Presbikusis di bagi menjadi empat tipe yaitu sebagai berikut :
a. Presbikusis sensori
Tipe ini menunjukkan atrofi epitel disertai hilangnya sel-sel rambut
dan sel penyokong organ corti.
b. Presbikusis Neural
Tipe ini ,e,perlihatkan atrofi sel=sel saraf di koklea dan jalur saraf
pusat.
c. Presbikusis strial
Tipe presbikusis yang sering didapati dengan cirri khas kurang
pendengaran yang mulai timbul pada decade ke-6 dan berlangsung
perlahan-lahan.
d. Presbikusis konduktif koklea
Tipe kekurangan ini disebabkan gangguan gerakan mekanis di
membrane basalis.
(sandhi indra yanas 2014)
8. Komplikasi
Presbikusis dapat menyebabkan resiko yang lebih tinggi untuk tuli.
Kemampuan mendengar penderita presbikusis akan berkurang sevara
berangsur, biasanya terjadi bersamaan pada kedua telinga. Telinga menjadi
sakit bila lawan bicaranya memperkeras suaranya.
Hal lain yang terjadi pada openderita presbikusu adalah masalah
fisik dan emosional antara lain berupa :
 Terganggunya hubungan perorangan dengan keluarga
 Kompensasi tingkah laku akibat gangguan pendengaran
 Pemarah dan mudah frustasi
 Depresi, menarik diri dari lingkungan (introvert)
 Merasa kehilangan control pada kehidupannya
 Self-criticism
 Berkurangnya aktivitas dengan kelompok social
 Berkurangnya stabilitas emosi.
(sandhi indra yanas, 2004)
9. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada telinga biasanya normal setelah pengambilan
serumen, yang merupakan problem pada penderita usia lanjut dan
penyebab kurang pendengaran terbanyak. Pemberian sodium bicarbonate
solusi topical 10%, sebagai serumenolotik. Pada membrane tempani
normal tampak transfaran.
10. Therapy
Pemasangan alat bantu dengar di kombinasikan dengan latihan
membaca ujaran dan latihan mendengar oleh ahli terapi wicara. Yang penting
adalah pengertian dari orang sekitarnya untuk berbicara dengan pelan,
jelas, dengan kata-kata yang pendek dan tidak keras. Beberapa yang
direkomendasikan antara lain:
1. Vasodilator
Seperti asam nikotinat dan derivatnya menyebabkan vasodilatasi
perifer, dan pemberian dosis tinggi dalam waktu yang lama menurunkan
bloodlipid pada orang hiperkolesterolemia. Efek terapeutik pada
presbiakusis disebabkan oleh dilatasi koklear dan pembuluh darah di otak
akibat aksi lipoproteinolitik dari obat tersebut. Contoh lain misalnya
Ronicol dan Hydergin.
2. Obat lipoproteinolitik
Heparin i.v. 250 mg setiap hari selama 8 hari. Kemajuan audiometrik
didapat pada 25% penderita. Vertigo dan tinitus menghilang pada 45%
penderita.
3. Vitamin
Vitamin B kompleks memberikan 43,5% kemajuan dalam
pendengaran. Vitamin A banyak dicoba dengan hasil yang lebih
memuaskan.
4. Rehabilitasi
Ini lebih ditujukan untuk memakai alat bantu dengar (Hearing Aid).
Dengan memakai alat bantu dengar ini penderita akan tertolong dalam
berkomunikasi dengan orang lain, terutama pada tipe presbikusis tertentu.
Untuk penderita presbikusis ringan, biasanya tidak membutuhkan alat
bantu dengar hanya bila ingin bertelepon, maka sebaiknya memakai suatu
alat sebagai amplifier atau untuk mendengar TV & Radio sebaiknya
memakai sejenis earphone. Atau dengan Lipereading ditujukan bagi orang
tua untuk mempelajari gerakan mulut. Sebaiknya dijelaskan bahwa
komunikasi akan lebih baik bila pasien melihat ke wajah orang yang diajak
berkomunikasi.
Melihat dampak dari gangguan / menurunnya pendengaran pada
lansia, maka penggunaan alat bantu dengar perlu dianjurkan pada mereka
yang membutuhkannya.Terdapat berbagai jenis alat bantu dengar yang
disesuaikan dengan keperluan dari penggunanya. Apabila kedua telinga
terganggu lebih baik menggunakan dua buah alat bantu dengar (masing-
masing satu untuk setiap telinga yang akan memberikan hasil yang lebih
baik dibanding hanya satu buah saja).
(Emirza nur wicaksono, 2013)

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a) Identitas Klien
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, status perkawinan,
pekerjaan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, golongan darah dan lain
sebagainya.
b) Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Klien susah mendengar pesan atau rangsangan suara
b. Riwayat kesehatan sekarang
 Saat sekarang keluarga klien mengatakan susah mendengar pesan
atau rangsangan berupa suara.
 Ketika berbicara dengan orang lain klien tidak mengerti terhadap
pembicaraan.
 Untuk lebih mengerti, klien sering meminta untuk mengulangi
pembicaraan.
 Keluarga klien mengatakan lebih senang menyendiri dan dengan
kesendiriannya itu klien mengekspresikan kesepian dan keluarga
klien mengatakan bahwa klien sering menarik diri dari lingkungan
dan tidak mau tampil bersama anggota keluarga.
 Untuk mengisi kebosanannya, keluarga klien mengatakan bahwa
klien lebih banyak tidur dan tidak mau melakukan aktivitas
apapun.
 Komunikasi dengan klien sebagian besar berjalan melalui pesan-
pesan tertulis.
c. Riwayat penyakit dahulu
 Dikaji dari keluarga klien, apakah klien mengalami penyakit
akut maupun kronis.
 Sejak kapan gangguan pendengaran mulai dirasakan klien ?
biasanya prebikusis sering muncul pada umur 60 tahun keatas ,tapi
hal tersebut belum terlalu mengganggu bagi klien.
 Apakah klien pernah mengalami cedera kepala dan
mengalami alergi terhadap berbagai makanan dan minuman.
 Bagaimana gaya hidup klien, apakah klien seorang perokok berat
atau tidak.
 Apakah Klien sering terpajan dengan suara bising ?
d. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada keluarga yang menderita penyakit pada
sistem pendengaran, apakah ada kelurga yang menderita DM.
c) Pemeriksaan Fisik
Pengkajian Daun telinga
a) Inspeksi:
 Kesimetrisan daun telinga (simetris kiri dan kanan)
 Posisi telinga normal yaitu sebanding dengan titik puncak
 Penempatan pada lipatan luar mata ( masih terdapat/tampak atau
tidak)
 Terdapat pembengkakan pada Auditorius eksternal atau tidak.
b) Palpasi:
 Apakan terdapat nyeri raba
 Apakah ada pembengkakan

d) Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan otoskopik
Menggunakan alat otoskop untuk memeriksa meatus akustikus
eksternus dan membran timpani dengan cara inspeksi:
Hasil:
1) Serumen berwarna kuning, konsistensi kental.
2) Dinding liang telinga berwarna merah muda
b) Tes ketajaman pendengaran
1) Tes penyaringan sederhana
Hasil:
- Biasanya klien tidak mendengar secara jelas angka-angka
yang disebutkan
- Klien tidak mendengar secara jelas detak jarum jam pada
jarak 1–2 inchi.
2) Uji rinne
Hasil: Biasanya klien tidak mendengarkan adanya getaran garpu tala dan
tidak jelas mendengar adanya bunyi dan saat bunyi menghilang.

2. Diagnosa keperawatan
a. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan degenerasi
tulang pendengaran bagian dalam.
b. Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi
pendengaran.
c. Kurang aktivitas berhubungan dengan menarik diri dari lingkungan
1. NCP (Nursing Care Planing)
Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Keperawatan

1. Gangguan Setelah Dalam 1 hari klien dapat Mandiri :


komunikasi dilakukan :  Kaji tingkat kemampuan  untuk mengetahui sejauh
verbal intervensi a. Menerima pesan klien dalam penerimaan mana kemampuan pasien
berhubungan keperawatan melalui metode pesan untuk mendengar.
dengan selama 3x24 alternatif  Periksa apakah ada  Untuk mengidentifikasi
degenerasi jam, diharapkan b. Mengerti apa yang serumen yang apakah terdapat serum yang
tulang komunikasi diungkapkan mengganggu pendengaran dapat menyumbat lubang
pendengaran verbal klien c. Memperlihatkan  Bicara dengan pelan dan telinga, sehingga pendengaran
bagian dalam. dapat berjalan suatu peningkatan jelas dapat berkurang.
dengan baik kemampuan untuk  Gunakan alat tulis pada  Agar pasien dapat menangkap
berkomunikasi waktu menyampaikan pesan dari pembicaraan yang
d. Menggunakan alat pesan dilakukan oleh perawat
bantu dengar dengan  Beri dan ajarkan klien  alat tulis adalah salah satu
cara yang tepat pada penggunaan alat media yang dapat membantu
bantu dengar dalam berkomunikasi.
 Pastikan alat bantu dengar  Penggunaan alat bantu
dapat berfungsi dengan pendengaran merupakan alat
baik bantu yang sagat penting
 Anjurkan klien untuk untuk membantu proses
menjaga kebersihan pendengaran pasien
telinga
2. Harga diri Setelah  Mengenal Mandiri :
rendah dilakukan perasaan yang  Kaji pengetahuan klien  untuk mengidentifikasi apakah
berhubungan intervensi menyebabkan tentang perilaku menarik klien mengerti bahwa sebenarnya
dengan keperawatan perilaku menarik diri dan tanda-tandanya prilaku menarik diri merupakan
penurunan selama 3x24 diri  Beri kesempatan pada suatu hal yang merugikan bagi
fungsi jam,di  Berhubungan klien untuk pasien.
pendengaran diharapkan sosial dengan mengungkapkan perasaan  Untuk mengetahui penyebab
pasien dapat orang lain penyebab klien tidak mau pasien memiliki ketidak
menerima  Mendapat bergaul atau menarik diri percayaan diri untuk
keadaan dirinya dukungan  Diskusikan bersama klien bersosialisasi sehingga pasien
dan keluarga tentang perilaku menarik berprilaku menarik diri.
bersosialisasi mengembangkan diri, tanda-tanda serta  Diskusi adalah suatu tindakan
seperti biasanya. kemampuan penyebab yang mungkin. yang dapat dilakukan untuk
Kriteria hasil: klien untuk  Beri pujian terhadap memperoleh jalan keluar secara
Tidak berhubungan kemampuan klien bersama-sama
menyendiri, dengan orang mengungkapkan  Untuk membina hubungan saling
tidak menarik lain perasaan. percaya dan Agar pasien memiliki
diri dari  Diskusikan tentang rasa bahagia dan lega setelah
lingkungan, keuntungan dari bercerita sehingga pasien akan
berinteraksi berhubungan dan lebih terbuka lagi.
dengan orang kerugian dari perilaku  Agar pasien memiliki gambaran
lain menarik diri positif sehingga dapat merubah
 Anjurkan anggota kebiasaan negatif menjadi kearah
keluarga untuk secara yang lebih positif lagi.
rutin dan bergantian  Agar pasien mulai terbiasa
mengunjungi klien dengan hubungan berinteraksi
dengan orang lain sehingga lama
kelamaan pasien mulai percaya
diri.

3. Kurang Setelah  Menceritakan Mandiri :


aktivitas dilakukan perasaan-perasaan  Variasikan rutinitas  Agar pasien tidak jenuh
berhubungan intervensi selama bosan sehari-hari dengan aktivitas yang
dengan 3x24 jam,  Melaporkan adanya  sanak keluarga dalam monoton.
menarik diri diharapkan klien peningkatan dalam merencanakan rutinitas  Peran dari sanak keluarga
dengan dapat melakukan aktivitas yang sehari-hari sangat dibutuhkan untuk
lingkungan aktivitas tanpa menyenangkan  Rencanakan suatu mendukung dan memotivasi
kesulitan  Menceritakan aktivitas sehari-hari pasien.
metode koping  Berikan alat bantu dengar  Agar pasien memiliki
terhadap perasaan dalam melakukan aktivitas gambaran terkait aktivitas
marah atau depresi yang akan pasien jalani.
yang disebabkan  Agar pasien dapat
oleh kebosanan. berkomunikasi dan
berinteraksi dengan baik saat
beraktivitas

(Dongoes Marlyn E, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3)


DAFTAR ISI

Ilmu keperawatan, 2011. Asuhan Keperawatan Presbiakusis. Diakses dari


http//ilmu-ilmukeperawatan.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatan-
presbiakusis.html?m=1. Tgl 01/12/2014.

Muhammad Nangga Dipa, 2012. Gangguan Pendengaran Pada Lansia. Diakses


dari situs http://muhammadnanggadipa.wordpress.com/2012/01/12/gangguan-pendengaran-
pada-lansia/. Tgl 01/12.2014.

Sandhi Indra Yanas, 2014. Askep Presbiakusis dan tuli. Diakses dari
http://sandhiindrayanas.blogspot.com/2014/04/askep-presbikusis-dan-tuli-toksik.html?m=1.
Tgl 01/12/2014.

Emir Zanuri Wicaksono, 2013. Presbiakusis. Diakses dari


emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/2013/04/10/presbiakusis/. Tgl 01/12/2014

Dongoes Marlyn E, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta :


Buku Kedokteran EGC