Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN LENGKAP

PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI

PERCOBAAN

ANALISIS KADAR DENGAN METODE INDEKS BIAS

OLEH:

KELAS : LAB FARMASI B

PENANGGUNG JAWAB : ROSNIDAR SUMARDI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

LABORATORIUM KIMIA ANALISIS

ROMANG POLONG – GOWA

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau pembelokan

cahaya karena melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya. Arah

pembiasan cahaya dibedakan menjadi dua macam yaitu mendekati garis normal

dan menjauhi garis normal. Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya

merambat dari medium optik kurang rapat ke medium optik lebih rapat,

contohnya cahaya merambat dari udara ke dalam air. Cahaya dibiaskan menjauhi

garis normal jika cahaya merambat dari medium optik lebih rapat ke medium

optik kurang rapat, contohnya cahaya merambat dari dalam air ke udara. Indeks

bias suatu zat adalah perbandingan cepat rambat cahaya dalam hampa udara (c)

terhadap cepat rambat cahaya dalam zat tersebut (v), atau perbandingan sinus

sudut datang terhadap sinus sudut bias. Harga indeks bias berubah-ubah

tergantung pada panjang gelombang cahaya dan suhu).

Penerapan konsep indeks bias banyak di temukan dalam kehidupan sehari.

Contoh globalnya dalam pembiasan adalah sedotan yang ditempatkan dalam

segelas air, apabila di lihat dari samping tampak sedotan patah atau bengkok.

Sedangkan konsep indeks bias pada prisma yaitu pelangi dan fatamorgana.

Pemanfaatannya pada benda berlensa misalnya teropong dan teleskop.

Oleh karena itu agar dapat menambah pengetahuan khususnya

mahasiswa untuk dapat memahami prinsip kerja refraktometri dan mentukan

konsentrasi gula melalui kurva kalibrasi maka diadakan praktikum uji indeks bias

dengan penentuan konsentrasi larutan metode refraktometri.


A. Maksud dan Tujuan Percobaan

1. Maksud Percobaan

Untuk mengetahui dan memahami metode penentuan kadar senyawa

berdasarkan indeks bias

2. Tujuan Percobaan

Untuk menentukan kadar glukosa dengan menggunakan metode

pengukuran indeks bias dengan sampel teh kotak dan teh gelas

B. Prinsip Percobaan

Penentuan kadar glukosa dari sampel teh kotak dan teh gelas berdasarkan

indeks bias yang dibandingkan dengan indeks bias larutan glukosa 5%, 10%,

15%, 20%, dan 25% menggunakan alat refraktometer.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori umum

Ketergantungan kecepatan rambat gelombang pada sifat-sifat medium

menimbulkan gejala pemantulan dan pembiasan yang terjadi jika suatu gelombang

melintasi permukaan yang memisahkan dua medium dimana gelombang baru

merambat dengan kecepatan yang berbeda. Gelombang yang dipantulkan adalah

suatu gelombang baru yang merambat kembali ke dalam medium yang di lalui

gelombang awal dalam perambatannya. Gelombang yang di biaskan adalah

gelombang yang telah di teruskan ke medium ke dua (Zemansky,2015:12).

Indeks bias merupakan salah satu dari beberapa sifat optis yang penting

dari medium suatu bahan. Nilai indeks bias ini banyak diperlukan untuk

menginterpretasi suatu jenis data spektroskopi. Indeks bias dari suatu bahan atau

larutan merupakan parameter karakteristik yang sangat penting dan berkaitan erat

dengan parameter-parameter lain seperti temperatur, konsentrasi dan lain-lain

yang sering dipakai dalam optik, kimia dan industri obat-obatan. Indeks bias juga

berperan penting dalam beberapa bidang diantaranya dalam teknologi film tipis

dan fiber optik. Dalam bidang kimia, indeks bias dapat digunakan untuk

mengetahui konsentrasi dan komposisi larutan, untuk menentukan kemurnian dan

kadaluarsa dari oli, untuk menentukan kemurnian minyak goreng

(Hidayanto,2016:73).

Indeks bias merupakan salah satu sifat optik yang banyak digunakan untuk

mencirikan keadaan suatu material transparan. Refractive index suatu material

pada suatu panjang gelombang tertentu akan mengalami perubahan bila komposisi

material tersebut mengalami perubahan. Beberapa industri karenanya


menggunakan ukuran refractive index dalam penetapan kualitas produk solid atau

liquid transparannya (Marzuki, 2015:93).

Dalam bidang industri makanan dan minuman, indeks bias juga dapat

digunakan untuk mengetahui besarnya konsentrasi gula dalam produk makanan

dan minuman, seperti contoh untuk mengetahui kandungan gula dalam jus buah,

kandungan gula dalam kue, dan lain-lain. Indeks bias suatu larutan dapat diukur

dengan menggunakan beberapa metode antara lain dengan metode interferometri

yang meliputi interferometri Mach-Zender, interferometri Fabry-Perot dan

interferometri Michelson. Metode-metode ini merupakan metode yang sangat

akurat untuk mengukur indeks bias. Akan tetapi metode-metode tersebut

mempunyai beberapa kelemahan, antara lain pengoperasian alat yang cenderung

rumit dan membutuhkan waktu yang lama (Rofiq, 2017: 329).

Metode standar dalam pengukuran indeks bias yang paling sederhana yaitu

dengan mengukur sudut pembelokan cahaya yang melewati wadah berbentuk

prisma berisi larutan uji. Meskipun metode ini akurat, namun membutuhkan

ruangan yang cukup besar. Kemudian dikembangkan metode lain. Umumnya

metode interferometri bekerja dengan mengukur jari-jari cincin interferensinya,

namun untuk bisa menghasilkan bayangan dari cincin-cincin interferensi

terbayang (Ilham, 2016: 57).

Pengukuran indeks bias dapat dilakukan dengan menggunakan

refraktometer maupun metode interferometri seperti Mach-Zender, Jamin,

Michelson dan Fabry-Perot. Dalam penelitian ini digunakan metode prisma

refraktometri dan refraktometer Abbe. Hasil pengukuran indeks bias dari

keduanya kemudian dibandingkan dengan indeks bias standar. Sampel yang

digunakan adalah cairan murni yaitu aquades, alkohol, aseton, toluena, bensin,

minyak tanah, solar, paraffin oil dan paraffin liquid dan campuran cairan yaitu
bensin murni-minyak tanah, bensin SPBU swasta-minyak tanah dan solar-minyak

tanah. Campuran cairan dibuat dengan variasi konsentrasi 3%, 5%, 8%, 15%,

13%, 15%, 18%, 20%, 23%, 25%. Dari hasil percobaan dapat disimpulkan

metode prisma refraktometri cukup akurat dalam pengukuran indeks bias cairan

maupun campuran cairan. Pengaruh perubahan konsentrasi terhadap indeks bias

campuran dapat ditunjukkan dengan baik. Metode ini juga cukup peka terhadap

ketidakmurnian cairan (Dina, 2015: 93).

Indeks bias adalah perbandingan antara kecepatan cahaya dalam udara

dengan kecepatan cahaya dalam gas. Indeks bias absolut dari suatu medium

didefinisikan sebagai untuk medium sembarang. Indeks bias relatif medium-1

terhadap medium-2. Indeks bias juga dapat didefinisikan sebagai perbandingan

antara kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya dalam zat. Indeks

bias berguna untuk mengidentifikasi zat dan mendeteksi ketidakmurnian minyak

(Ketaren, 2016: 120).

Indeks bias juga merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya di

dalam udara dengan kecepatan cahaya di dalam zat. Contohnya indeks bias

minyak atsiri dimana berhubungan erat dengan komponen-komponen yang

terususun dalam minyak atsiri dapat mempengaruhi nilai indeks biasnya. Semakin

banyak komponen bergugus oksigen ikut tersuling maka kecepatan medium

minyak atsiri akan bertambah sehingga cahaya yang datang akan lebih besar

(Armando, 2014: 90).

Indeks bias berguna untuk identifikasi zat dan ketidakmurnian, walaupun

suhu pengukuran adalah 25°C tetapi pada banyak monografi indeks bias

ditetapkan pada suhu 20°C. Suhu pengukuran harus benar-benar diatur dan

dipertahankan, karena sangat mempengaruhi indeks bias (Bresnick. 2015: 40).


Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar atau

konsentrasi bahan terlarut, misalnya gula, garam, protein, dan sebagainya. Prinsip

kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya adalah dengan memanfaatkan

refraksi cahaya. Sebuah sedotan pertama yang dicelupkan ke dalam sebuah gelas

yang berisi larutan air akan terlihat terbengkok. Sebuah sedotan yang kedua

dicelupkan ke dalam sebuah gelas yang berisi larutan gula. Terlihat sedotan

terbengkok lebih tajam. Fenomena ini terjadi karena adanya refraksi cahaya.

Semakin tinggi konsentrasi bahan terlarut (rapat jenis larutan), maka sedotan akan

semakin terlihat bengkok secara proporsional. Refraktometer ditemukan oleh Dr.

Ernst Abbe, seorang ilmuwan dari Jerman pada permulaan abad 20 (Gracholl.

2014: 208).

Indeks bias adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara dengan

kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Indeks bias berfungsi untuk identifikasi zat

kemurnian, suhu pengukuran dilakukan pada suhu 20oC dan suhu tersebut harus

benar-benar diatur dan dipertahankan karena sangat mempengaruhi indeks bias.

Harga indeks bias dinyatakan dalam farmakope Indonesia edisi empat dinyatakan

garis (D) cahaya natrium pada panjang gelombang 589,0 nm dan 589,6 nm.

Umumnya alat dirancang untuk digunakan dengan cahaya putih. Alat yang

digunakan untuk mengukur indeks bias adalah refraktometer ABBE. Untuk

mencapai kestabilan, alat harus dikalibrasi dengan menggunakan plat glass

standar (Dogra, S.K ,2016: 57).


B. Uraian bahan

1. Glukosa ( Dirjen POM. 2014: 371 )

Nama Resmi : GLUCOSUM

Nama Lain : Glukosa, gula, raffinosa, dekstrosa, gula

anggur

Rumus Molekul : C6H12O6

Rumus Struktur :

Berat Molekul : 198,17

Pemerian : Hablur tidak berwarna, serbuk hablur atau

butiran putih, tidak berbau, dan rasa manis

Kelarutan : Mudah larut dalam air, sangat mudah larut

dalam air mendidih. Agak sukar larut

dalam etanol ( 95% ) P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

2. Kegunaan : Sebagai sampel

Aquadest (Dirjen POM. 2014: 63)

Nama Resmi : AQUA DESTILLATA

Nama Lain : Air suling, aquadet, air murni, air batering

Rumus Molekul : H2O

Rumus struktur : O

H H

Berat molekul : 18,02

Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau,


tidak mempunyai rasa

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan : Sebagai pelarut

C. Uraian Sampel

1. Teh Kotak

Air, gula, teh melati dan vitamin c.

Informasi Nilai Gizi % AKG %DV

Lemak total 0g 0%

Protein 0g 0%

Karbohidrat total 26 g 9%

Gula 26 g

Kalium 15 mg 1%

2. Teh gelas

Air, gula, teh melati (daun teh + bunga melati 0.5%), perisa identik alami bunga

melati, penstabil.

Informasi Nilai Gizi % AKG %DV

Energi total 70 kkal 0%

Karbohidrat total 18 g 6%

Natrium 10 g

Gula 16 g

Kalium 35 mg 1%
BAB III

METODE KERJA

A. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu botol semprot, cawan

porselen, erlenmeyer, gelas ukur, gelas kimia, labu tentu ukur, pipet tetes,

refraktometer, timbangan analitik.

2. Bahan

Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini yaitu aquadest,

glukosa, teh kotak, teh gelas, dan tissu

B. Cara Kerja

1. Pembuatan larutan baku glukosa

Pada pembuatan larutan glukosa pertama yaitu disiapkan alat dan bahan,

kemudian ditimbang 2,5 g glukosa dan dilarutkan dalam 10 ml aquadest setelah

itu dibuat pengenceran 20%, 15%, 10%, dan 5% dan dibuat dalam 10 ml

2. Penentuan indeks bias

Untuk penentuan indeks bias pertama disiapkan alat dan bahan disiapkan

refraktometer yang telah dikalibrasi, setelah itu diteteskan glukosa dengan

konsentrasi yang bervariasi pada refraktometer, kemudian diteteskan sampel pada

refraktometer, setelah itu dicatat hasil dan dibuatkan kurva baku


BAB IV

HASIL PENGAMATAN

A. Hasil Pengamatan

Sampel (kosentrasi) Indeks bias Konsentrasi

Aquadest 0,553 0,793

Glukosa 5% 0,565 2,097

Glukosa 10% 0,580 3,728

Glukosa 20% 0,896 5,467

Glukosa 25% 0,631 9,271

Teh kotak 0,582 3,945

Teh gelas 0,578 3,510

B. Perhitungan pengenceran

1. Glukosa 5%

2. Glukosa 10%

3. Glukosa 15%

4. Glukosa 20%

5. Glukosa 25%
C. Perhitungan kurva baku

1. Glukosa 5%

Y= 0,001X + 1,333

1,33601 = 0,001X + 1,333

X = 0,00301/0,001

X = 3,01

Kadar = 3,01/15X 100

= 20,07 mg/ml

2. Glukosa 10%

Y= 0,001X + 1,333

1,3357 = 0,001X + 1,333

X = 0,00274/0,001

X = 2,74

Kadar = 2,74/15X 100

= 18,27 mg/ml

3. Glukosa 15%

Y= 0,001X + 1,333

1,3323 = 0,001X + 1,333

X = 0,0007/0,001

X = 0,7

Kadar = 0,7/15X 100

= 4,67 mg/ml

4. Glukosa 20%

Y= 0,001X + 1,333

1,33879 = 0,001X + 1,333

X = 0,00579/0,001
X = 5,79

Kadar = 5,79/15X 100

= 38,6 mg/ml

5. Glukosa 25%

Y= 0,001X + 1,333

1,34040 = 0,001X + 1,333

X = 0,00301/0,001

X = 0,0074

Kadar = 0,0074/15X 100

= 0,049 mg/ml

D. Pembahasan

Pada pengukuran indeks bias, cara kerjanya yaitu prisma dibersihkan

dengan alkohol terlebih dahulu. Penggunaan alkohol disini bertujuan untuk

mensterilkan prisma, kemudian tetesi prisma dengan aquadest dan dirapatkan,

hingga diperoleh garis batas yang jelas antara garis gelap dan terang. Setelah itu

atur skala sampai garis batas berimpit, dengan titik-titik potong dari data garis

yang bersilangan indeks bias dapat dibaca pada skala dan suhunya juga.

Kemudian lakukan tiga kali dengan sampel yang lain juga.

Prinsip kerja refraktometer adalah memanfaatkan refraksi cahaya

polikromatis dari sinar lampu yang menyinari day light plate. Sampel diteteskan

pada day light plate, kemudian dikenakan cahaya polikromatis dan selanjutnya

diteruskan ke prisma. Pada prisma, cahaya polikromatis diubah menjadi cahaya

monokromatis, selanjutnya terjadi pemfokusan pada lensa. Cahaya monokromatis

yang telah melewati lensa diteruskan ke biomaterial skip sehingga tertera skala.

Refraktometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kadar

bahan terlarut. Prinsip kerja dari refraktometer yaitu memanfaatkan refraksi


cahaya. Pada praktikum ini refraktometer yang digunakan yaitu refraktometer

ABBE. Refraktometer ABBE digunakan untuk mengukur indeks bias cairan,

padatan dalam cairan atau serbuk. Dalam praktikum ini digunakan beberapa

cairan yang akan ditentukan indeks biasnya yaitu zat A, B, C, D dan E. Pada

percobaan ini air murni (aquadest) digunakan untuk mengkalibrasi refraktometer

Abbe. Indeks bias dari air murni atau aquadest pada suhu 29oC sebesar 1,3320 o

sesuai dengan literature. Dari hasil pengukuran indeks bias dari masing – masing

cairan didapatkan hasil dimana urutan indeks bias zat cair dari terbesar ke terkecil

yaitu zat C > zat B > zat A > zat E> zat D . Perbedaan hasil indeks bias dari tiap-

tiap zat tersebut disebabkan karena perbedaan besar sudut kritis yang terbentuk

dan kerapatan suatu zat. Semakin tinggi kerapatan suatu zat, volumenya semakin

kecil, sehingga indeks biasnya juga akan semakin kecil.

Adapun alasan pengenceran dengan konsentrasi yang berbeda yaitu untuk

meningkatkan kepolaran larutan , dan dibuat untuk membandingan semua dengan

konsentrasi pada kelarutan dan kepekatan yang ada. Syarat nilai indeks bias suatu

bahan adalah ≥ 1

Adapun hasil yang didapatkan yaitu diperoleh indeks bias teh kotak 0, 582

dan teh gelas 0, 578 yang tidak memenuhi syarat ( ≥ 1 ). Untuk konsentrasi

glukosa 5%, 10%, 15%, 20% , dan 25% berturut turut indeks biasnya 0,565;

0,580; 0,596; 0,612; 0,631 dengan konsentrasi berturut-turut 2,097; 3,278; 5,467;

7,206; 9,271.

Adapun factor kesalahan pada praktikum ini adalah pada saat

pengenceran ketelitian konsentrasi tidak tepat sehingga dapat memperoleh hasil

indeks bias.

Hubungan dengan dunia farmasi yaitu penentuan indeks bias untuk

mengetahui takaran ataupun persen kadar suatu sediaan atau obat serta konsentrasi
obat sebelum dipasarkan. Sehingga diketahui apakah obat tersebut layak

dikonsumsikan dan diedarkan atau tidak.

Adapun ayat yang berhubungan dengan percobaan ini yaitu QS. Al-

Furqaan ayat 2 :
‫ض ُا ُلسسمو ت‬
‫ك ُلو ُلل ُلولدد ُا ُيليتستخلذ ُلولل ُلو ُهالُ ُلر ت‬
‫ك ُلهه ُا‬
‫ت ُهمل ه‬ ‫لل‬ ‫ك ُلسهه ُيل ه‬
‫ك ُتف ُلشتريل ك‬
‫لو ُلخللق ُالل ه‬
‫ه‬
(۲)ُ ‫ ُلستذلي ُتليلقتديدرا ُفليلقسد ُلرهه ُلشليءء ُهكسل‬
Terjemahnya: Yang kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak
mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan-
Nya, dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan
ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya
Pada ayat diatas dijelaskan bahwa segala hal yang Allah ciptakan didunia

ini sudah memiliki kadar masing-masing, sehingga dapat dimanfaatkan sesuai

dengan porsinya. Begitupula dengan glukosa yang memiliki kadar tertentu hingga

dapat dikonsumsi.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh indeks bias teh

kotak 0, 582 dan teh gelas 0, 578 yang tidak memenuhi syarat ( ≥ 1 ). Untuk

konsentrasi glukosa 5%, 10%, 15%, 20% , dan 25% berturut turut indeks biasnya

0,565; 0,580; 0,596; 0,612; 0,631 dengan konsentrasi berturut-turut 2,097; 3,278;

5,467; 7,206; 9,271. Maka dapat disimpilkan bahwa semakin besar konsentrasi

maka semakin besar pula granulnya dan mempengaruhi pada pembacaan indeks

bias yang akan semakin besar pula

B. Saran

1. Laboratorium

Diharapkan agar alat laboratorium dilengkapi agar praktikum bisa lebih

efisien pada saat pengerjaan

2. Asisten

Tetap semangat dalam membimbing dan mendampingi praktikan di

laboratorium
LAMPIRAN

A. Skema Kerja

1. Penyiapan bahan baku

Disiapkan alat dan bahan

2,5 g glukosa

+ aquadest 10 ml

dibuat pengenceran 20%, 15%, 10%,


dan 5%

Buat dalam 10 ml
2. Prosedur kerja

Disiapkan alat dan bahan

Tetes larutan glukosa

Alat refraktometer

Teteskan sampel

Alat refraktometer

Diukur berbagai
konsentrasi

Dicatat hasil dan


dibuatkan kurva baku

Anda mungkin juga menyukai