Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tinginya angka kematian ibu merupakan masalah besar yang terjadi dalam bidang
kesehatan angka kematian ibu di indonesi masi tertini di ASEAN dan diindonesia.
Persalinan merupakan hal yang di tunggu oleh ibu hamil tetapi dalam persalinan dan
setelah melahirkan adalah suatu yang sangat rawan bagi ibu untuk mengalami
pendarahan yang begitu hebat dan pendarahan tersebut adalah salah satu faktor
tertinngin penyebab kematian pada ibu, perdarahan yang terjadi pada ibu di antaranya
di akibatkan oleh terlambatnya kelahiran plasenta melebihi dari 30 menit,

Masa nifas adalah masa di mulai dari setelah plasenta lahir dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, asuhan masa nifas d
perlukan karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya di perkirakan
bahwa 60% kematian iu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50%
kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama

Perdarahan post partum secara fisiologis di control oleh kontraksi serabut-serabut


miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memfaskularisasi daerah
implatasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tidak
berkontraksi, batasan atonia uteri adalah uterus yang tidak berkontraksi setelah janin
dan plasenta lahir

1
BAB II
PEMBAHASAN

1. RETENSIO PLASENTA
A. Pengertian

Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau lebih
dari 30 menit setelah bayi lahir. Hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta
disebabkan oleh gangguan kontraksi uterus.
Retensio plasenta adalah plasenta yang tidak bersamaan sehingga sebagian masih
melekat pada tempat implantasi, menyebabkan terganggunya retraksi dan kontraksi
otot uterus, sehingga sebagian pembuluh darah tetap terbuka serta menimbulkan
perdarahan. (Manuaba,2002).
Retensio plasenta yaitu plasenta dianggap retensi bila belum dilahirkan dalam
batas waktu tertentu setelah bayi lahir (dalam waktu 30 menit setelah penatalaksanaan
aktif).
Retensio plasenta adalah tertahan atau belum lahirnya palsenta hingga melebihi 30
menit setelah bayi lahir (Sarwanto, 2002).

B. JENIS RETENSIO PLASENTA


 Plasenta adhesiva : implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta
sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis.
 Plasenta akreta : implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki
sebagian lapisan myometrium
 Plasenta inkreta : implantasi jonjot korion plasentahingga mencapai
/memasuki myometrium
 Plasenta perkreta : implantasi jonjot korion plasenta menembus lapisan
otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.

2
 Plasenta inkarserata : tertahannya plasenta di cavum uteri disebabkan oleh
konstriksi ostium uteri.

C. ETIOLOGI/PENYEBAB RETENSIO PLASENTA

 Sebab fungsionil
1. Kontraksi uterus/His kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta
adhesiva )
2. Plasenta sukar terlepas karena
 Tempatnya : insersi di sudut tuba
 Bentuknya : plasenta membranacea , plasenta amularis
 Ukurannya plasenta sangat kecil (Plasenta yang sukar terlepas karna
hal di atas disebut plasenta adhesive )
 Sebab Patolog-Anatomis
1. Plasenta accrete
2. Plasenta increta
3. Plasenta percreta

Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab villi korialis menembus
desidua sampai myometrium sampai di bawah peritoneum ( plasenta akreta-percreta)
Jika plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar
disebabkan oleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan
kala III, akibatnya terjadi lingkaran kontriksi pada bagian bawah uterus yang
menghalangi keluarnya plasenta ( inkarserasio plasenta )
1. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh lebih
dalam. Menurut tingkat perlekatannya :
 Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua endometrium
(basalis) lebih dalam dan Nitabuch layer.

3
 Plasenta inkreta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus
desidua endometrium sampai ke miometrium.
 Plasenta akreta : vili khorialis tumbuh menembus miometrium sampai
ke serosa.
 Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh menembus serosa atau
peritoneum dinding rahim atau perimetrium.
2. Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim namun belum keluar karena atoni uteri
atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim (akibat kesalahan
penanganan kala III) yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta
inkarserata).
3. Faktor maternal
 Gravida berusia lanjut
 Multiparitas
4. Faktor uterus
 Bekas sectio caesaria, sering plasenta tertanam pada jaringan cicatrix uterus
 Bekas pembedahan uterus
 Anomali uterus
 Tidak efektif kontraksi uterus
 Pembentukan contraction ring
 Bekas curetage uterus, yang terutama dilakukan setelah abortus
 Bekas pengeluaran plasenta secara manual
 Bekas ondometritis
4. Faktor placenta
 Plasenta previa
 Implantasi cornual
 Plasenta akreta
 Kelainan bentuk plasenta

4
Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila
sebagian plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini merupakan indikasi
untuk segera mengeluarkannya. Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung
kemih atau rektum penuh. Oleh karena itu keduanya harus dikosongkan.

D. TANDA DAN GEJALA RETENSIO PLASENTA

Gejala dan tanda yang bisa ditemui adalah perdarahan segera, uterus berkontraksi
tetapi tinggi fundus tidak berkurang.
a. Waktu hamil
 Kebanyakan pasien memiliki kehamilan yang normal
 Insiden perdarahan antepartum meningkat, tetapi keadaan ini biasanya
menyertai plasenta previa
 Terjadi persalinan prematur, tetapi kalau hanya ditimbulkan oleh
perdarahan
 Kadang terjadi ruptur uteri

b. Persalinan kala I dan II


Hampir pada semua kasus proses ini berjalan normal
c. Persalinan kala III
1) Reteresio plasenta menjadi ciri utama
2) Perdarahan post partum, jumlahnya perdarahan tergantung pada derajat
perlekatan plasenta, seringkali perdarahan ditimbulkan oleh Dokter
kebidanan ketika ia mencoba untuk mengeluarkan plasenta secara
manual
3) Komplikasi yang serius tetapi jarang dijumpai yaitu invertio uteri,
keadaan ini dapat terjadi spontan, tapi biasanya diakibatkan oleh usaha-
usaha untuk mengeluarkan plasenta
4) Ruptur uteri, biasanya terjadi saat berusaha mengeluarkan plasenta

5
E. PENEGAKAN DIAGNOSIS

1. Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi


mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat
multipel fetus dan polihidramnion. Serta riwayat pospartum sekarang dimana
plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi
dilahirkan.
2. Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis
servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan
hematokrit (Hct), melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit.
Pada keadaan yang disertai dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat.
b. Menentukan adanya gangguan koagulasi dengan hitung protrombin time
(PT) dan activated Partial Tromboplastin Time (aPTT) atau yang
sederhana dengan Clotting Time (CT) atau Bleeding Time (BT). Ini
penting untuk menyingkirkan perdarahan yang disebabkan oleh faktor
lain.
Faktor Risiko:
1. Plasenta akreta : plasenta previa, bekas SC, pernah kuret berulang, dan
multiparitas.
2. Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahan
dan tidak efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; serta
pembentukan constriction ring.
3. Kelainan dari plasenta, misalnya plasenta letak rendah atau plasenta previa;
implantasi di cornu; dan adanya plasenta akreta.
4. Kesalahan manajemen kala tiga persalinan , seperti manipulasi dari uterus
yang tidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan
kontraksi yang tidak ritmik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya

6
yang juga dapat menyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta; serta
pemberian anestesi terutama yang melemahkan kontraksi uterus.

F. PENANGANAN RETENSIO PLASENTA


Penanganan retensio plasenta berupa pengeluaran plasenta dilakukan apabila
plasenta belum lahir dalam 1/2-1 jam setelah bayi lahir terlebih lagi apabila disertai
perdarahan.
Tindakan penanganan retensio plasenta :
Bila placenta tidak lahir dalam 30 menit sesudah lahir, atau terjadi perdarahan
sementara placenta belum lahir, lakukan :
a. Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter yang
berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik
atau larutan ringer laktat yang hangat, apabila memungkinkan). Monitor
jantung, nadi, tekanan darah dan saturasi oksigen. Transfusi darah apabila
diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah.
b. Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau
NaCl 0.9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi.
c. Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan
dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus. Pastikan bahwa kandung
kencing kosong dan tunggu terjadi kontraksi, kemudian coba melahirkan
plasenta dengan menggunakan peregangan tali pusat terkendali
d. Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta.
Indikasi manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala tiga persalinan kurang
lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan
buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan
untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus.
Manual plasenta :
1) Memasang infus cairan dekstrose 5%.

7
2) Ibu posisi litotomi dengan narkosa dengan segala sesuatunya dalam
keadaan suci hama.
3) Teknik : tangan kiri diletakkan di fundus uteri, tangan kanan dimasukkan
dalam rongga rahim dengan menyusuri tali pusat sebagai penuntun. Tepi
plasenta dilepas - disisihkan dengan tepi jari-jari tangan - bila sudah lepas
ditarik keluar. Lakukan eksplorasi apakah ada luka-luka atau sisa-sisa
plasenta dan bersihkanlah. Manual plasenta berbahaya karena dapat terjadi
robekan jalan lahir (uterus) dan membawa infeksi
e. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat
dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada
umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase
harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif
tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
f. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan
pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.
g. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan
infeksi sekunder.

Atau :
1. Coba 1-2 kali dengan perasat Crede.
2. Mengeluarkan plasenta dengan tangan (manual plasenta).
3. Memberikan transfusi darah bila perdarahan banyak.
4. Memberikan obat-obatan misalnya uterotonika dan antibiotik.

Retensio Plasenta Dengan Separasi Parsial


1. Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan tindakan yang
akan di ambil
2. Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengedan. Bila ekspulsi tidak
terjadi ,coba traksi terkontrol tali pusat .

8
3. Pasang infus oksitosin 20 IU dalam 500 ML NS/RL dengan 40 tetes per
menit. Bila perlu,kombinasikan dengan misoprostol 400 mg per rektal (
sebaiknya tidak menggunakan ergometrin karena kontraksi tonik yang timbul
dapat menyebabkan plasenta terperngkap dalam cavum uteri)
4. Bila traksi terkontrol gagal untuk melahirkan plasenta ,lakukan manual
plasenta secara hati-hati dan halus untuk menghindari terjadinya perforasi dan
perdarahan
5. Lakukan transfuse darah apabila diperlukan
6. Beri antibiotika profilaksis ( ampisilin 2 g IV/oral + metronidazole 1 g
supositoria/oral)
7. Segera atasi bila terjadi komplikasiperdarahan hebat ,infeksi, syok neurogenic.

Plasenta Inkarserata
1. Tentukan diagnosis kerja melalui anamnesis, gejala klinik dan pemeriksaan
2. Siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk menghilangkan kontriksi
serviks dan melahirkan plasenta
3. Pilih fluethane atau eter untuk kontriksi serviks yang kuat ,siapkan infus
oksitosin 20 IU dalam 500 mL NS/RL dengan 40 tetes per menit untuk
mengantisipasi gangguan kontraksi yang di akibatkan bahan anastesi tersebut.
4. Bila prosedur anastesi tidak tersedia dan serviks dapat dilalui cunam ovum,
lakukan maneuver sekrup untuk melahirkan plasenta.untuk prosedur ini
lakukan analgesic (tramadol 100 mg IV atau pethidine 50 mg IV ) dan
sedative ( diazepam 5 mg IV) pada tabung suntik yang terpisah.
5. Maneuver sekrup
 Pasang speculum sims sehingga ostium dan sebagian plasenta tampak
dengan jelas.
 Jepit porsio dengan klem ovarium pada jam 12,4 dan 8 kemudian lepaskan
speculum

9
 Tarik ketiga klem ovarium agar ostium, tali pusat dan plasenta tampak
jelas
 Tarik tali pusat ke lateral sehingga menampakkan plasenta di sisi
berlawanan agar dapatdijepit sebanyak mungkin, minta asisten untuk
memegang klem tersebut
 Lakukan hal yang sama untuk plasenta pada sisi yang berlawanan
 Satukan kedua klem tersebut kemudian sambil di putar searah jarum jam
,taril plasenta keluar perlahan-;ahan melalui pembukaan ostium
6. Pengamatan dan perawatan lanjutan meliputi pemantauan tanda vital
,kontraksi uterus tinggi fundus uteri danperdarahan pasca tindakan tambahan
pemantauan yang diperlukan adalah pemantauan efek samping atau
komplikasidari bahan-bahan sedative .analgentika atau anastesi umum missal
:mual.muntah ,hipo/atoniauteri ,pusing vertigo ,halusinasi,mengantuk.

Plasenta Akreta
1. Tanda penting untuk diagnosis pada pemeriksaan luar adalah ikutnya fundus
atau korpus bila tali pusat ditarik.Pada pemeriksaan dalam sulit ditentukan
tepi plasenta karena implantasi yang dalam.
2. Upaya yang dapat dilakukan pada fasilitas kesehatan dasar adalah menentukan
diagnosis ,stabilisasi pasien dan rujuk ke rumah sakit rujukan karena kasus ini
memerlukan tindakan operatif.

Sisa Plasenta
1. Penemuan secaradini ,hanya dimungkinkan dengan melakukan pemeriksaan
kelengkapan plasenta setelah dilahirkan.Pada kasus sisa plasenta dengan
perdarahan pasca persalinan lanjut,sebagian besar pasien akan kembali lagi ke
tempat bersalin dengan keluhan perdarahan setelah beberapa hari pulang ke
rumah dan subinvolusi uterus

10
2. Berikan antibiotika karena perdarahan juga meruakan gejala metritis
.antibiotika yang dipilih adalah ampisilin dosis awal 1 g IV dilanjutkan 3 x 1 g
oral dikombinasi dengan metronidazole 1 g supositoria dilanjutkan 3 x 500
mg oral
3. Lakukan eksplorasi digital ( bila seviks terbuka ) dan mengeluarkan bekuan
darah atau jaringan .bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrument ,lakukan
evakuasi plasenta dengan dilatasi dan kuratase.
4. Bila kadar HB <8 g/dL berikan transfuse darah .bila kadar Hb =8 g/dL berikan
sulfas ferosus 600 mg/hari selama10 hari

G. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
1. Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan.
2. Multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan
penurunan perfusi organ.
3. Sepsis
4. Kebutuhan terhadap histerektomi dan hilangnya potensi untuk memiliki anak
selanjutnya.
5. Perdarahan menyebabkan syok hemoragik yang berakibat pada kematian.

2. REST PLASENTA
A. pengertian
Rest placenta adalah tertinggalnya sisa placenta dan membrannya dalam
cavum uteri, rest placenta merupakan tertinggalnya bagian placenta di dalam
uterus yang dapat menimbulkan perdarahan post partum sekunder. Sisa
plasenta yang masih tertinggal disebut “sisa plasenta” atau plasenta rest.
Gejala klinis sisa plasenta adalah terdapat subinvolusi uteri, terjadi
perdarahan sedikit yang berkepanjangan, dapat juga terjadi perdarahan

11
banyak mendadak setelah berhenti beberapa waktu, perasaan tidak nyaman
diperut bagian bawah.

Selaput yang mengandung pembuluh darah ada yang tertinggal,


perdarahan segera. Gejala yang kadangkadang timbul uterus berkontraksi baik
tetapi tinggi fundus tidak berkurang. Sisa plasenta yang masih tertinggal di
dalam uterus dapat menyebabkan terjadinya perdarahan. Bagian plasenta yang
masih menempel pada dinding uterus mengakibatkan uterus tidak adekuat
sehingga pembuluh darah yang terbuka pada dinding uterus tidak dapat
berkontraksi/terjepit dengan sempurna.

Sisa plasenta dalam nifas menyebabkan perdarahan dan infeksi.


Perdarahan yang banyak dalam nifas hampir selalu disebabkan oleh sisa
plasenta. Jika pada pemeriksaan plasenta ternyata jaringan plasenta tidak
lengkap, maka harus dilakukan eksplorasi dari cavum uteri. Potongan -
potongan plasenta yang ketinggalan tana diketahui biasanya menimbulkan
perdarahan postpartum lambat.

B. Etiologi
Faktor penyebab utama perdarahan baik secara primer maupun sekunder adalah
grandemultipara, jarak persalinan pendek kurang dari 2 tahun, persalinan yang
dilakukan dengan tindakan, pertolongan kala uri sebelum waktunya, pertolongan
persalinan oleh dukun, persalinan dengan tindakan paksa, persalinan dengan
narkoba.

Penyebab rest plasenta:


1) Pengeluaran plasenta tidak hati-hati
2) Salah pimpinan kala III : terlalu terburu – buru untuk mempercepat
lahirnya plasenta.
3) Abnormalitas plasenta

12
Abnormalitas plasenta meliputi bentuk plasenta dan penanaman plasenta
dalam uterus yang mempengaruhi mekanisme pelepasan plasenta.
4) Kelahiran bayi yang terlalu cepat
Kelahiran bayi yang terlalu cepat akan mengganggu pemisahan plasenta
secara fisiologis akibat gangguan dari retraksi sehingga dapat terjadi
gangguan retensi sisa plasenta.

C. Tanda dan Gejala


1. Plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak
lengkap.
2. Terjadi perdarahan rembesan atau mengucur, saat kontraksi uterus
keras, darah berwarna merah muda, bila perdarahan hebat timbul syok,
pada pememriksaan inspekulo terdapat sisa plasenta.
3. Uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang.
4. Sewaktu suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal,
maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini
dapat menimbulkan perdarahan. Tetapi mungkin saja pada beberapa
keadaan tidak ada perdarahan dengan sisa plasenta. Tertinggalnya
sebagian plasenta (rest plasenta)
5. Keadaan umum lemah
6. Peningkatan denyut nadi
7. Tekanan darah menurun
8. Pernafasan cepat
9. Gangguan kesadaran (Syok)
10. Pasien pusing dan gelisah
11. Tampak sisa plasenta yang belum keluar.
D. Diagnosa
1. Penemuan secara dini, hanya dimungkinkan dengan penemuan
melakukan kelengkapan plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa

13
plasenta dengan perdarahan pasca persalinan lanjut, sebagian besar pasien
akan kembali lagi ke tempat persalinan dengan keluhan perdarahan setelah
6-10 hari pulang ke rumah dan sub involusi uterus. (Saifuddin, 2009:181)
2. Perdarahan berlangsung terus menerus atau berulang.
3. Pada palpasi di dapatkan fundus uteri masih teraba lebih besar
4. Pada pemeriksaan dalam didapat uterus yang membesar, lunak, dan dari
ostium uteri keluar darah.

E. Penanganan
1) Penemuan secara dini, hanya dimungkinkan dengan melakukan
pemeriksaan kelengkapan plasenta setelah dilahirkan.
2) Berikan antibiotika karena perdarahan juga merupakan gejala metritis.
Antibiotika yang dipilih adalah ampisilin dosis awal 1 g IV dilanjutkan
dengan 3x1 g oral dikombinasikan dengan metronidazol 1 g supositoria
dilanjutkan dengan 3x500 mg oral.
3) Dengan dipayungi antibiotika tersebut, lkukan ekplorasi digital (bila
servik terbuka) dan mengeluarkan bekuan darah atau jaringan. Bila servik
hanya dapat dilalui alat kuretase, lakukan evakuasi sisa plasenta
denganAVM ataudilatasi dan kuretase.
4) Bila kadar Hb < 8 gr% beri tranfusi darah, bila kadar Hb > 8 gr% berikan
sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari (Saifuddin, 2009:181).
Sisa plasenta bisa diduga bila kala uri berlangsung tidak lancar atau setelah
melakukan plasenta manual atau menemukan adanya kotiledon yang tidak
lengkap pada saat melakukan pemeriksaan plasenta dan masih ada perdarahan
dari ostium uteri eksternum pada saat kontraksi rahim sudah baik dan robekan
jalan lahir sudah terjahit. Untuk itu, harus dilakukan eksplorasi ke dalam rahim
dengan cara manual/digital ataukuret dan pemberian uterotonika. Anemia yang
ditimbulkan setelah perdarahan dapat diberi transfuse darah sesuai dengan
keperluannya(Prawirohardjo, 2010: 527)

14
F. Komplikasi
1. Sumber infeksi dan perdarahan potensial
2. Memudahkan terjadinya anemia yang berkelanjutan
3. Terjadi plasenta polip
4. Degenerasi korio karsinoma
5. Dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah.

G. Pencegahan Rest Plasenta


Pencegahan terjadinya perdarahan postpartum merupakan tindakan
utama, sehingga dapat menghemat tenaga, biaya dan mengurangi komplikasi
upaya preventif dapat dilakukan dengan :
1. Meningkatkan kesehatanibu, sehinggatidakterjadi anemia dalamkehamilan.
2. Melakukanpersiapanpertolonganpersalinansecaralegeartis.
3. Meningkatkanusahapenerimaan KB.
4. Melakukan pertolongan persalinan di rumah sakit bagi ibu yang mengalami
perdarahan post partum.
5. Memberikan uterotonika segera setelah persalinan bayi, kelahiran plasenta
dipercepat.

3. ATONIA UTERI
1. Pengertian
Atonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah
dilakukan rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri. Perdarahan postpartum dengan
penyebab uteri tidak terlalu banyak dijumpai karena penerimaan gerakan keluarga
berencana makin meningkat (Manuaba & APN).
Atonia uteri merupakan penyebab terbanyak perdarahan pospartum dini
(50%), dan merupakan alasan paling sering untuk melakukan histerektomi
postpartum. Kontraksi uterus merupakan mekanisme utama untuk mengontrol

15
perdarahan setelah melahirkan. Atonia terjadi karena kegagalan mekanisme ini.
Perdarahan pospartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut
miometrium yang mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah
implantasi plasenta. Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tidak
berkontraksi. Kompresi bimanual interna (KBI) dan kompresi bimanual eksterna
(KBE) merupakan salah satu upaya pertolongan pertama pada perdarahan pasca
persalinan yang disebabkan oleh atonia uteri. Penatalaksanaan KBI (Kompresi
Bimanual Interna) dan KBE adalah kompetensi yang harus dikuasai dengan mahir.
Pelaksanaan KBI & KBE sangat penting digunakan dalam menghadapi kasus
perdarahan post partum primer karena atonia uteri, dan atonia uteri merupakan
penyebab perdarahan post partum yang paling tinggi yaitu sekitar 50-60 %. Kompresi
Bimanual Interna harus (KBI) segera dilakukan apabila uterus tidak berkontraksi
dalam 15 detik setelah dilakukan rangsangan taktil (masase) pada fundus uteri.
Prosedur KBI meliputi beberapa langkah yang masing-masing harus dilakukan
dengan baik dan secara berurutan. Tindakan ini bertujuan menjepit pembuluh darah
dalam dinding uterus serta merangsang miometrium untuk berkontraksi. Tindakan
KBI didasarkan pada upaya penekanan arteria uterina yang membuka setelah plasenta
lahir karena tidak ada kontraksi dari otot-otot rahim. Penekanan ini dilakukan oleh
dua tangan, satu menekan dari dalam dan yang lainnya menekan dari luar. Karena ada
intervensi tangan penolong yang masuk ke dalam jalan lahir, tindakan ini lebih dapat
meningkatkan resiko terjadinya infeksi pada pasca partum. Oleh karena itu, terapkan
teknik septik-aseptik. Bila kompresi bimanual pada uterus tidak berhasil dan
perdarahan tetap terjadi
lakukan Kompresi Aorta Abdominal (KAA). Cara ini dilakukan pada keadaan
darurat, sementara penyebab perdarahan sedang dicari. Tindakan KAA hanya
dilakukan pada perdarahan hebat dan jika kompresi luar serta dalam tidak efektif.
Tindakan KBI & KBE merupakan kegawatdaruratan namun pada saat pelaksanaan
tindakan harus tetap memperhatikan pasien, baik dari segi fisik maupun
psikologisnya.

16
2. Etiologi
Adapun faktor penyebab dari atonia uteri adalah sebagai berikut :
a. Pemisahan plasenta inkomplet. Jika plasenta tetap melekat secara utuh pada
dinding uterus, hal ini cenderung tidak menyebabkan perdarahan. Namun
demikian, jika pemisahan telah terjadi, pembuluh darah maternal akan robek.
Jika jaringan plasenta sebagian tetap tertanam dalam desidua yang
menyerupai spon, kontraksi dan retraksi yang efisien akan terganggu.
b. Retensi kotiledon, pragmen plasenta atau membaran. Hal ini juga
mengganggu kerja uterus yang efisien.
c. Percepatan persalinan. Jika uterus telah berkontraksi dengan kuat dan
menyebabkan durasi persalinan kurang dari satu jam, kesempatan otot untuk
beretraksi tidak cukup.
d. Persalinan lama. Dalam persalinan yang fase aktifnya berlangsung lebih dari
12 jam inersia uterus dapat terjadi akibat kelelahan otot.
e. Polihydramnion atau kehamilan kembar : Miometrium menjadi sangat regang
sehingga menjadi kurang efisien
f. Plasenta previa : Sebagian atau seluruh plasenta berada di bawah tempat
lapisan otot yang lebih tipis mengandung sedikit serat oblik : mengakibatkan
control perdarahan yang buruk.
g. Abrupsio plasenta : Darah dapat meresap diantara serat otot mengganggu
kerja efektif.
h. Anastesi umum : Agen anastesi dapat menyebabkan relaksi uterus, terutama
agen inhalasi yang mudah menguap seperti halotan.
i. Kesalahan penatalaksanaan kala III persalinan. Faktor ini tetap menjadi
penyebab perdarahan pasca partum yang paling sering. Gesekan fundus atau
manipulasi uterus dapat mencetuskan terjadinya kontraksi aritmik sehingga
plasenta hanya sebagian terpisah dan kehilangan retraksi.

17
j. Kandung kemih penuh : kedekatannya dengan uterus di dalam abdomen
setelah kala II persalinan dapat mengganggu kerja uterus. Hal ini juga
merupakan kesalahan penatalaksanaan.

Sejumlah faktor lain yang tidak secara langsung menyebabkan perdarahan


pascapartum, tetapi dapat meningkatkan kecenderungan terjadi perdarahan hebat
adalah hal berikut :
a. Riwayat perdarahan pasca partum atau retensi plasenta
Terdapat resiko kekembuhan pada kehamilan berikutnya. riwayat obstetric
yang detail yang diperoleh pada pemeriksaan neonatal yang pertama akan
memastikan dilakukannya pengaturan agar ibu dapat melahirkan di unit
konsultan.
b. Paritas tinggi pada setiap kehamilan
Jaringan fibrosa menggantikan serat otot di dalam uterus. Hal ini akan
menurunkan kontraktilitasnya dan pembuluh darah menjadi lebih sulit
dikompresi. Ibu yang pernah mengalami lima kelahiran atau lebih, mengalami
peningkatan resiko.
c. Fibroid (fibromiomata)
Fibroid normalnya adalah tumor benigna yang terdiri atas otot dan jaringan
fibrosa yang dapat mnggangu efektifitas kerja uterus.
d. Anemia
Ibu yang memasuki persalinan dengan konsentrasi hemoglobin yang rendah
(dibawah 10 gr/dl) dapat mengalami penurunan yang lebih cepat lagi jika
terjadi perdarahan, bagaimanapun kecilnya anemia berkaitan dengan debilitas
yang merupakan penyebab lebih langsung terjadinya atonia uterus.
e. Ketosis
Pengaruh ketosis terhadap kerja uterus masih belum jelas. Fouleks &
Dumoulin (1983) mengemukakan bahwa dalam sejumlah orang yang terdiri
atas 3500 wanita, 40% mengalami ketonuria selama persalinan. Mereka

18
melaporkan bahwa jika persalinan mengalami kemajuan yang baik, hal ini
tampaknya tidak membahayakan kondisi janin atau ibu. Namun demikian,
terdapat hubungan yang segnifikan antara ketosis dan kebutuhan penambahan
oksitosin, pelahiran dengan bantuan alat dan perdarahan pasca partum jika
persalinan berlangsung lebih dari 12 jam. Oleh karena itu, koreksi ketosis
dianjurkan dan dapat difasilitasi dengan memastikan bahwa ibu mendapatkan
asupan cairan dan nutrisi yang agak padat sesuai toleransi selama persalinan.
Tidak ada yang menunjukan bahwa batasan makanan atau cairan perlu
dilakukan perjalanan normal persalinan.

3. Penatalaksanaan Atonia Uteri


Atonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah
dilakukan
rangsangan taktil (masase) fundus uteri. Untuk itu, beberapa hal yang perlu dilakukan
adalah
sebagai berikut:
Segera lakukan kompresi bimanual internal :
1. Pakai sarung tangan disinfeks tingkat tinggi atau steril, dengan lembut
masukkan secara obstetrik (menyatukan kelima ujung jari) melalui introitus
dan ke dalam vagina ibu.
2. Periksa vagina dan serviks. Jika ada selaput ketuban atau bekuan darah pada
kavum uteri mungkin hal ini menyehabkan uterus tidak dapat berkontraksi
secara penuh
3. Kepalkan tangan dalam dan tempatkan pada forniks anterior, tekan dinding
anterior uterus, ke arah tangan luar yang menahan dan mendorong dinding
posterior uterus ke arah depan sehingga uterus ditekan dan arah depan dan
belakang
4. Tekan kuat uterus di antara kedua tangan. Kompresi uterus ini memberikan
tekanan langsung pada pembuluh darah yang terbuka (bekas implantasi

19
plasenta) di dinding uterus dan juga merangsang miometrium untuk
berkontraksi
5. Evaluasi keberhasilan:
a. Jika uterus berkontraksi dan perdarahan berkurang, teruskan
melakukan KBI selama dua menit, kemudian perlahan-lahan keluarkan
tangan dan pantau ibu secara melekat selama kala empat.
b. Jika uterus berkontraksi tapi perdarahan masih berlangsung, periksa
ulang perineum, vagina dan serviks apakah terjadi laserasi. Jika
demikian, segera lakukan penjahitan untuk menghentikan perdarahan
c. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 5 menit, ajarkan keluarga
untuk melakukan kompresi bimanual eksternal, kemudian lakukan
langkah-langkah penatalaksanaan atonia uteri selanjutnya. Minta
keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan.

Atonia uteri seringkali bisa diatasi dengan KBI, namun jika KBI tidak berhasil
dalam
waktu 5 menit diperlukan tindakan-tindakan lain sebagai berikut :
1) Berikan 0,2 mg ergonletrin IM atau misoprostol 600-l000rncg per rektal.
Janganberikan ergometrin kepada ibu dengan hipertensi karena ergometrin
dapat menaikkan tekanan darah.
2) Gunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18), pasang infus dan
berikan 500 cc larutan Ringer Laktat yang mengandung 20 unit oksitosin.
Jarum berdiameter besar memungkinkan pemberian cairan IV secara cepat
dan dapat dipakai untuk transfusi darah (bila perlu). Oksitosin secara IV cepat
merangsang kontraksi uterus. Ringer Laktat diberikan untuk restorasi volume
cairan yang hilang selama perdarahan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

20
1. Pakai sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan ulangi KBI,
karena KBI dengan ergometrin dan oksitosin akan membantu uterus
berkontraksi.
2. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 1 sampai 2 menit, segera rujuk ibu
karena hal ini bukan atonia uteri sederhana. Ibu membutuhkan tindakan gawat
darurat di fasilitas kesehatan rujukan yang mampu melakukan tindakan
operasi dan transfusi darah.
3. Sambil membawa ibu ke tempat rujukan, teruskan tindakan KBI dan infus
cairan hingga ibu tiba di tempat rujukan.
 Infus 500 ml pertama dihabiskan dalam waktu 10 menit.
 Berikan tambahan 500 ml/jam hingga tiba di tempat rujukan atau
hingga jumlah cairan yang diinfuskan mencapai 1,5 L dan kemudian
lanjutkan dalam jumlah 125 cc/jam.
 Jika cairan infus tidak cukup, infuskan 500 ml (botol kedua) cairan
infus dengan tetesan sedang dan ditambah dengan pemberian cairan
secara oral untuk rehidrasi (JNPK-KR, 2008).

Kompresi Bimanual Eksternal :


a. Letakkan satu tangan pada dinding abdomen dan dinding depan korpus uteri
dan di atas simfisis pubis
b. Letakkan tangan lain pada dinding abdomen dan dinding belakang korpus uteri,
sejajar dengan dinding depan korpus uteri. Usahakan untuk
mencakup/memegang bagian belakang uterus seluas mungkin. Lakukan
kompresi uterus dengan cara saling mendekatkan tangan depan dan belakang
agar pembuluh darah di dalam anyaman miometrium dapat dijepit secara
manual. Cara ini dapat menjepit pembuluh darah uterus dan membantu uterus
untuk berkontraksi (JNPK-KR, 2008).

21
22
BAB III

PENUTUPAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian tersebut maka ada beberapa hal yang dapat di simpulkan yaitu
sebagai berikut.Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta tidak lahir selama
dalam waktu atau lebih dari 30 menit setelah bayi lahir. Masalah yang terjadi akibat
dari retensio plasenta adalah perdarahan berakibat syok,anemia berat daninfeksi
bahkan kematian.
Rest placenta adalah tertinggalnya sisa placenta dan membrannya dalam cavum
uteri, rest placenta merupakan tertinggalnya bagian placenta di dalam uterus yang
dapat menimbulkan perdarahan post partum sekunder. Sisa plasenta yang masih
tertinggal disebut “sisa plasenta” atau plasenta rest.
Atonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah
dilakukan rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri. Perdarahan postpartum dengan
penyebab uteri tidak terlalu banyak dijumpai karena penerimaan gerakan keluarga
berencana makin meningkat (Manuaba & APN).

2. Saran
Penyebab utama kematian ibu sendiri menurut (WHO) adalah perdarahan,semoga
dalam makalah ini dapat menambah wawasan kita dan menerapkannya dalam
melakukan tindakan sehingga dapat mencegah terjadinya kematian karena perdarahan
kibat dari retensio plasenta, rest plasenta dan atonia uteri. Dan disarankan kepada ibu
hamil untuk mempersiapkan persalinannya secara dini serta dalam hal pelayanan
medis diharapkan untuk meningkatkan pelayanan agar tidak terjadi hal yang di
inginkan oleh petugas kesehatan maupun pasien.

23
DAFTAR PUSTAKA

Marmi .2012. Intranatal Care.Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Medicaldokter.blogspot.com.2012.Retensio plasenta.diakses pada tanggal 3 Maret
2015
Prawiharjo, Sarwono.2009.pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal..jakarta:PT.Bina Pustaka
Sumarah,dkk.2009.perawatan ibu bersalin.Yogyakarta:fitramaya

24