Anda di halaman 1dari 4

Terapi pengobatan

Saat ini terapi pengobatan pada penyakit Parkinson bertujuan untuk mengembalikan
keseimbangan antra jumlah dopamine yang menurun, yang memiliki efek inhibisi pada neuron
dalam ganglia basalis dan neuron yang sekarang didominasi oleh efek kolinergik, yang bersifat
eksitatori. Kondisi itu dapat mengurangi tanda dan gejala parkinsonisme dan mengembalikan
fungsi yang normal.
Manajemen total perawatan pasien dibutuhkan peran serta dari pasien, perawat dan
keluarga. Pasien yang harus didorong untuk tetap aktif guna mencegah timbunya deformitas
rangka. Sifat progresif dari penyakit ini yang menimbulakan efek degenerative, pasien dapat
mengalami depresi dan menjadi emosional sehingga dibutuhkan dukungan psikologis dan fisik.

A. ANTIKOLINERGIK
Antikolinergik merupakan obat-obatan yang melawan efek asetilkolin ditempat reseptor dalam
substansia nigra dan korpus striatum sehingga membantu memulihkan keseimbangan kimia
dalam area ini.
 Obat-obatan antiklonergik yang digunakan untuk mengatasi penyakit Parkinson adalah :
1. Benztropin (Cogentin) terserdia dalam bentuk oral dan intramuscular/intravena. Agens ini
digunakan untuk mengatasi parkinsonisme dan gejala seperti penyakit Parkinson yang
disebabkan oleh efek obat fenotiazin
2. Biperidin (akineton) tersedia dalam bentuk oral dan intramuscular. Obat ini digunakan untuk
pengobatan penunjang parkinsonisme dan mengatasi parkinsone akibat penggunaan fenotiazin
3. Difenhidramin (Benadryl) digunakan sebagai kombinasi dengan agens lain untuk mengatasi
penyakit Parkinson. Agen ini diindikasikan untuk mengatasi parkinsonisme, termasuk yang
diakibatkan oleh obat, terutama pada pasien lansia yang tidak dapat menoleransi obat yang
lebih keras dan pada pasien yang berada di tahap awal penyakit.
4. Prosiklidin (kemadrin) tersedia dalam bentuk oral, merupakan obat pilihan untuk
mengendalikan pengeluaran saliva yang berlebihan akibat menggunakan penggunaan obat
neuroleptic.
5. Triheksifenidil (artane) digunakan sebagai terapi penunjang levodopa. Obat ini digunakan
sendiri untuk mengendalikan gangguan ekstrapiramidal akibat penggunaan obat.

 Cara kerja obat dan indikasi terapeutik


Obat-obatan antikolinergik menghambat kerja asetilkolin dalam SSP sehingga
membantu menormalkan ketidakseimbangan asetilkolin-dopamin. Obat-obatan antikolinergik
diindikasikan untuk pengobatan penyakit Parkinson, baik idiopatik, aterosklerotik, atau
pascaensefalitik, dan untuk mengurangi gejala-gejala gangguan ekstrapiramidal akibat
penggunaan beberapa obat, termasuk fenotiazin. Walaupun obat-obatan ini tidak seefektif obat
levodopa dalam mengatasi kasus penyakit yang telah lanjut, obat-obatan ini dapat digunakan
sebagai terapi penunjang dan untuk pasien yang tidak lagi memberikan respoons terhadap
pengobatan levodopa. Pasien yang sedang hamil dapat menggunakan obat-obatan ini hanya
apabila obat memberikan manfaaat yang lebih besar daripada risiko potensial janin.
 Farmakokinetik
Obat-obatan antikolinergik diabsorsi dalam saluran pencernaan dengan cara yang
bervariasi, mencapai kadar puncaknya, dalam 1 sampai 4 jam. Obat-obatan ini dimetabolisme
dalam hati dan dieksresikan melalui jalur sel.
 Kontradiksi dan peringatan
Obat-obat antikolinergik dikontraindikasikan pada pasien yang alergi terhadap agens
ini, dan pada pasien glaucoma sudut sempit, obstruksi saluran GI, obstruksi saluran
genitourinary dan hipertrofi prostat. Kewaspadaan perlu diterapkan dalam beberapa kondisi
berikut ini : takikardia, hipertensi atau hipotensi, disfungsi hati, laktasi. Selain itu, pasien yang
bekerja dalam lingkungan yang panas harus menggunakan obat-obatan ini secara hati-hati
karena reflex berkeringat mungkin terhambat. Pasien tersebut berisiko mengalami keletihan
akibat panas.
 Efek merugikan
Penggunaan obat-obatan antikolinergik untuk mengatasi parkinsonisme menimbulkan
efek pada SSP yang terkait dengan penghambatan reseptor asetilkolin pusat. Efek
antikolinergik perifer yang telah diperkirakan mencakup mulut kering, mual, muntah ileus
paralisis, dan konstipasi yang disebabkan oleh penurunan sekresi saluran GI dan motilitas.
Selain itu, dapat terjadi efek yang merugikan seperti takikardia, palpitasi dan hipotensi, retensi
urine dan hesistensi, penglihatan kabur dan fotofobia serta kemerahan pada wajah dan
kurangnya berkeringat.
 Interaksi obat-obat yang penting secara klinis
Ketika obat-obatan antikolinergik ini digunakan bersamaan dengan obat-obatan lain yang
memiliki sifat antikolinergik, termasuk antidepresan trisiklik dan fenotiazin, kemungkinan
akan timbul risiko psikosis toksis. Selain itu, apabila obat-obatan antipsikosis digunakan
bersamaan dengan obat-obatan antikolinergik, akan terjadi risiko penurunan terapeutik dari
antipsikosis, yang kemungkinan disebabkan oleh adanya antagonism pusat dari kedua agens
ini.

B. DOPAMINERGIK
Dopamine atau yang secara tidak langsung meningkatkan konsentrasi dopamine harus
digunakan untuk meningkatkan kadar dopamine dalam otak. Selama ada cukup neuron yang
utuh dalam subtansia nigra untuk berespon terhadap peningkatan kadar dopamine, obat-obatan
ini dinilai efektif. Setelah degenerasi saraf berkembangan melebihi batas tertentu, pasien tidak
dapat berespons terhadap obat-obatan ini.
Levodopa ( dopar) merupakan obat utama untuk terapi parkinsonisme. Obat ini bekerja
sebagai terapi pengganti karen prekusor dopamine ini dapat melewati barrier darah otak,
tempat obat ini kemudian diubah menjadi dopamine. Karbidopa merupakan agens yang
digunakan untuk meningkatkan keefektifan terapi levodopa.
 Dopaminergic lain yang digunakan untuk mengobati parkinsonisme adalah sebagai berikut :
1. Amantadine (symmetrel) merupakan obat antivius yang tampaknya juga meningkatkan
pelepasan dopamine.
2. Bromokriptin (parlodel), obat ini tidak bergantung pada sel dalam area otak untuk melakukan
biotransformasi atau meningkatkan pelepasan dopamine yang telah diproduksi sehingga
menjadi lebih efektif daripada levodopa atau amantadine.
3. Pergolid (permax), obat ini menstimulasi secara langsung reseptor dopamine pascasinaps
dalam suntansi nigra, yang digunakan untuk menunjang terapi karbidopa-levodopa.
4. Pramipeksol (Mirapex), dapat efektif setelah efek levodopa melemah.
5. Ropinirol (requip), obat terbaru yang secara langsung menstimulasi reseptor dopamine. Obat
ini terbukti dapat bermanfaat pada tahap awal dan tahap lanjutan penyakit Parkinson bersama
dengan levodopa , ketika efek levodopa tidak cukup untuk mengurangi gejala.

 Cara kerja obat dan indikasi terapeutik


Dopaminergic berkerja dengan cara meningkatkan jumlah dopamine dalam subtansi
nigra atau menstimulasi reseptor dopamine secara langsung pada area tersebut. Cara kerja obat
ini membantu keseimbangan antara neuron inhibsi dan neuron stimulasi. Dopaminergic
diindikasikan untuk mengurangi tanda dan gejala penyakit Parkinson idiopatik. Amantadine,
yang merupakan agens antivirus, efektif dalam mengatasi penyakit Parkinson yang diakibatkan
oleh efek obat
 Farmakokinetik
Dopaminergic pada umumnya dapat diabsorbsi dengan baik dalam saluran GI dan
didistribusikan secara luas ke seluruh tubuh. Obat-obatan ini dimetabolisme dalam hati dan sel
perifer serta dieksresikan melalui urine. Pasien yang sedang hamil dapat menggunakan obat-
obatan ini hanya apabila obat memberikan manfaaat yang lebih besar daripada risiko potensial
janin.

 Kontradiksi dan peringatan


Dopaminergic dikontradiksikan jika pasien alergi terhadap obat atau komponen obat.
Selain itu obat ini dikontradiksikan pada beberapa kondisi berikut : glaucoma sudut tertutup,
riwayat atau adanya lesi kulit yang mencurigakan akibat penggunaan levodopa, laktasi.
Kewaspadaan harus diterapkan pada setiap kondisi yang dapat diperburuk oleh stimulasi
reseptor dopamine, seperti penyakit kardiovaskular, asma bronkial, riwayat ulkus peptikum,
obstruksi saluran perkemihan, dan gangguan psikiatrik.obat-obatan ini harus digunakan secara
hati-hati pada kehamilan karena obat ini menembus plasenta dan menimbulkan efek merugikan
pada janin, serta pada penyakit ginjal dan hati

 Efek merugikan
Efek merugikan dari penggunaan dopaminergic biasanya merupakan akibat dari
stimulasi resptor dopamine. Efek pada SSP dapat berupa kecemasan, rasa gugup, sakit kepaka,
malaise, keletihan, kebingungan, perubahan kejiwaan, penglihatan kabur, kdutan dan ataksia.
Efek pada perifer adalah anoreksia, mual muntah, difagia dan konstipasi atau diare, aritmia
jantung, hipotensi, palpitasi, pola nafas yang tidak normal, retensi urine, dan kemerahan di
wajah, peningkayan pengeluaran keringat dan hot flushl dan depresi sumsum tulang serta
disfungsi hati.

 Interaksi obat-obat yang penting secara klinis


Apabila dopaminergic dikombinasikan dengan inhibitor monoamine oksidase
(MAO), efek terapeutiknya akan meningkat dan muncul krisis hipertensi. Kombinasi levodopa
dengan vitamin b6 atau fenitoin dapat menurunkan keefektidan obat. Pasien yang
menggunakan dopaminergic harus mendapatkan penyuluhan mengenai pentingnya
menghindari penggunaan vitamin yang beredar dipasaran, pasien harus dipantau secara ketat
karena dapat terjadi penurunan keefektifan obat.