Anda di halaman 1dari 20

PERCOBAAN 3

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FISIKA I

KELARUTAN DUA CAIRAN YANG BERCAMPUR SEBAGIAN


Dosen Pengampu Bapak Sumari dan Ibu Fauziatul Fajaroh

Oleh :
Kelompok 10
1. Linda Listya Nirmala (150331600457)
2. Miftakhul Lindha Yusnaini (150331607201)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FEBRUARI 2017
A. JUDUL PERCOBAAN : Kelarutan Dua Cairan yang Bercampur Sebagian

B. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Dapat membuat kurva kelarutan dua zat cair yang bercampur sebagian.
2. Dapat menentukan suhu kritis larutan dua zat cair yang bercampur sebagian.

C. DASAR TEORI
Bila dua zat cair dicampur dengan komposisi yang berbeda-beda maka ada
tiga kemungkinan yang dapat terjadi yaitu :
 Kedua zat cair dapat bercampur dalam tiap komposisi, seperti campuran
alkohol dalam air
 Kedua zat cair tidak dapat bercampur sama sekali, seperti antara air dan air
raksa
 Kedua zat cair hanya dapat bercampur pada komposisi tertentu, misalnya
campuran antara air fenol
Sistem biner fenol – air merupakan sistem yang memperlihatkan sifat
kelarutan timbal balik antara fenol dan air pada suhu tertentu dan tekanan tetap.
Kelarutan adalah jumlah maksimum zat yang dapat larut dalam sejumlah tertentu
pelarut. Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni
ataupun campuran.
Disebut sistem biner karena terdiri atas dua komponen yaitu fenol dan air. Sistem
biner fenol – air tergolong fase padat – cair, fenol berupa padatan dan air berupa
cairan. Kelarutan sistem ini akan berubah apabila dalam campuran itu ditambahan
salah satu komponen penyusunnya yaitu fenol atau air. Temperatur mempengaruhi
komposisi kedua fase pada kesetimbangan. Menaikkan temperatur akan menambah
kemampuan bercampurnya. (Atkins : 1996).
Pada percobaan berikut yang akan dilakukan adalah membuat kurva
kelarutan air-butanol atau air-fenol (diagram biner) dan sekaligus menentukan suhu
kritisnya. Bila ke dalam sejumlah air ditambah butanol atau fenol dalam air. Bila
penambahan ini diteruskan, pada suatu saat akan diperoleh larutan jenuh butanol
atau fenol dalam air. Tetapi bila penambahan butanol atau fenol diteruskan lagi akan
diperoleh larutan air dalam fenol atau butanol yang memisah sebagai larutan
tersendiri. Pada penambahan selanjutnya akan diperoleh larutan jenuh air dalam
butanol atau fenol, dimana pada saat ini kedua lapisan akan menghilang dan menjadi
satu lapisan lagi. Kedua larutan jenuh air dalam butanol atau air dalam fenol atau
sebaliknya dikatakan sebagai larutan konjugat. Larutan konjugat hanya terjadi pada
range suhu tertentu. Misalnya untuk sistem air-butanol terdapat pada range suhu 0-
126 C. Berdasarkan literatur, maka diatas suhu ini air dan butanol dapat saling
melarutkan pada setiap komposisi yang diberikan.Suhu ini disebut suhu kritis air-
butanol.
Sistem biner fenol - air merupakan sistem yang memperlihatkan sifat
kelarutan timbal balik antara fenol dan air pada suhu tertentu dan tekanan tetap.
Disebut sistem biner karena jumlah komponen campuran terdiri dari dua zat yaitu
fenol dan air. Fenol dan air kelarutanya akan berubah apabila dalam campuran itu
ditambahan salah satu komponen penyusunnya yaitu fenol atau air. Jika komposisi
campuran fenol air dilukiskan terhadap suhu akan diperoleh kurva sebagai berikut.

T L1
L2

A2 B2
T2

A1 B1 T1

T0
XA = 1 XC XF = 1
MolFraksi

L1 adalah fenol dalam air, L2 adalah air dalam fenol, XA dan XF masing-
masing adalah mol fraksi air dan mol fraksi fenol, XC adalah mol fraksi komponen
pada suhu kritis (TC). Sistem ini mempunyai suhu kritis (TC) pada tekanan tetap,
yaitu suhu minimum pada saat dua zat bercampur secara homogen dengan komposisi
CC. Pada suhu T1 dengan komposisi di antara A1 dan B1 atau pada suhu T2 dengan
komposisi di antara A2 dan B2, sistem berada pada dua fase (keruh). Sedangkan di
luar daerah kurva (atau diatas suhu kritisnya, TC), sistem berada pada satu fase
(jernih). Kelarutan timbal balik adalah kelarutan dari suatu larutan yang bercampur
sebagian bila temperaturnya di bawah temperatur kritis. Jika mencapai temperatur
kritis, maka larutan tersebut dapat bercampur sempurna (homogen) dan jika
temperaturnya telah melewati temperatur kritis maka sistem larutan tersebut akan
kembali dalam kondisi bercampur sebagian lagi. Salah satu contoh dari temperatur
timbal balik adalah kelarutan fenol dalam air yang membentuk kurva parabola yang
berdasarkan pada bertambahnya % fenol dalam setiap perubahan temperatur baik di
bawah temperatur kritis. Jika temperatur dari dalam kelarutan fenol aquadest
dinaikkan di atas 50°C maka komposisi larutan dari sistem larutan tersebut akan
berubah. Kandungan fenol dalam air untuk lapisan atas akan bertambah (lebih dari
11,8 %) dan kandungan fenol dari lapisan bawah akan berkurang (kurang dari 62,6
%). Pada saat suhu kelarutan mencapai 66°C maka komposisi sistem larutan tersebut
menjadi seimbang dan keduanya dapat dicampur dengan sempurna.

Temperatur kritis adalah kenaikan temperatur tertentu dimana akan diperoleh


komposisi larutan yang berada dalam kesetimbangan.

D. PERALATAN YANG DIGUNAKAN


 Tabung reaksi besar
 Beaker glass 800 mL
 Pengaduk
 Pemanas spiritus
 Kaki tiga
 Kawat kasap
 pipet volume 10 mL
 Pipet tetes
 Bola hisap
 Beaker glass 50 mL

E. BAHAN YANG DIGUNAKAN


 Aquades
 Fenol

F. PROSEDUR PERCOBAAN

Tabung besar

Termometer
Pengaduk
Penangas air

1. Penambahan Fenol ke dalam Air.


a. Disiapkan penangas air dan alat-alat lain seperti pada gambar di atas.
b. Dimasukkan 10 mL air ke dalam tabung reaksi besar dengan menggunakan
pipet volume 10 mL.
c. Dimasukkan 1 mL fenol ke dalam tabung reaksi berisi air dengan gelas
ukur.
d. Dipanaskan tabung bersama isinya dalam penangas air sambil diaduk
sampai tidak tampak kekeruhannya.
e. Diangkat tabung dari penangas, dibiarkan dingin secara perlahan sambil
diaduk.
f. Dicatat suhu larutan ketika larutan mulai menjadi keruh. Pada saat ini
terjadi larutan jenuh pada suhu tersebut.
g. Diulangi langkah (c) sampai (f) dengan setiap kali ditambahkan 1 mL fenol
ke dalam tabung sampai penambahan fenol mencapai 10 mL.

2. Penambahan Air ke dalam Fenol.


a. Dimasukkan 10 mL fenol ke dalam tabung reaksi besar dengan
menggunakan pipet volume 10 mL.
b. Dimasukkan 1 mL air ke dalam tabung reaksi berisi fenol dengan gelas
ukur. Dipanaskan tabung bersama isinya dalam penangas air sambil diaduk
sampai tidak tampak kekeruhannya.
c. Diangkat tabung dari penangas, dibiarkan dingin secara perlahan sambil
diaduk.
d. Dicatat suhu larutan ketika larutan mulai menjadi keruh. Pada saat ini
terjadi larutan jenuh pada suhu tersebut.
e. Diulangi langkah (b) sampai (e) dengan setiap kali ditambahkan 1 mL air
ke dalam tabung sampai penambahan air mencapai 10 mL.

G. DATA PENGAMATAN
Massa jenis air = 0,98 gram/mL
Massa jenis fenol = 1.07 gram/mL

1. Tabel pengamatan suhu larutan jenuh pada penambahan fenol ke dalam air.
Volume fenol yang ditambahkan
Suhu (⁰C)
(mL)
1 28
2 59
3 61
4 62
5 64
6 65
7 66
8 66
9 67
10 67

2. Tabel pengamatan suhu larutan jenuh pada penambahan air ke dalam fenol.
Volume air yang ditambahkan (mL) Suhu (⁰C)
1 28
2 28
3 28
4 29
5 41
6 49
7 56
8 60
9 61
10 62

H. ANALISIS PROSEDUR
No. Prosedur kerja yang disorot Analisis
1. Digunakan penangas air untuk Penangas air digunakan agar panas yang
proses pemanasan. digunakan merata dan dengan
pertambahan suhu larutan sedikit demi
sedikit.

2. Digunakan pipet volume 10 mL Digunakan pipet volume 10 mL agar


untuk mengambil fenol dan air. pengambilan larutan lebih akurat.

3. Dipanaskan tabung bersama isinya Fungsi pengadukan yaitu supaya


dalam penangas air sambil diaduk larutan bercampur secara merata
hingga tidak tampak kekeruhannya. (homogen).
4. Diangkat tabung dari penangas dan Larutan dibiarkan dingin secara
dibiarkan dingin secara perlahan. perlahan agar dapat diamati
perubahannya (terjadi kekeruhan) dan
agar dapat diukur suhunya pada saat
terjadi kekeruhan (larutan jenuh).
Tidak digunakan es dalam
mendinginkan arutan karena khawatir
suhu larutan turun drastis dan tidak
dapat diketahui perubahannya.
Pendinginan dalam percobaan kali ini
menggunakan air untuk membantu
menurunkan suhu. Tabung reaksi
dicelupkan ke dalam gelas kimia yang
berisi air.

5. Hati-hati dalam mengaduk Dalam pengadukan harus hati-hati agar


campuran fenol dan air. larutan fenol tidak mengenai tangan
atau pakaian. Karena jika terkena
tangan akan menyebabkan kulit panas
dan meninggalkan bekas seperti
terbakar.

I. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


Pada percobaan ini dilakukan percobaan untuk membuat kurva kelarutan dua
zat cair yang bercampur sebagian serta menentukan suhu kritis dari larutan tersebut.
Zat cair yang digunakan adalah air dan fenol. Percobaan ini dilakukan dalam dua
tahap yaitu penambahan fenol ke dalam air dan penambahan air ke dalam fenol.
Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah kelarutan timbal balik dua
cairan dengan cara memanaskan campuran dua cairan, sampai diperoleh suhu
terendah kedua cairan saling melarutkan.
Prinsip percobaan pada praktikum kelarutan dua zat cair yang bercampur
sebagian adalah proses pemanasan pada larutan untuk mengetahui kelarutan suatu
zat pada saat sebelum mencapai titik kritik, sesaat setelah mencapai titik kritik dan
setelah melewati titik kritik . Suatu zat akan menjadi dua fasa sebelum dan setelah
melewati titik kritik, dan akan menjadi satu fasa sesaat setelah mencapai titik kritik.
Langkah pertama yang dilakukan yaitu menyiapkan penangas air dan alat-
alat yang akan digunakan. Disusun alatnya sebagai berikut:

Dimana alat-alat ini memiliki fungsi sendiri yaitu:


 Termometer : untuk mengukur suhu.
 Pengaduk : untuk mengaduk larutan sampel hingga tercampur
sempurna (homogen).
 Tabung reaksi : sebagai wadah sampel.
 Penangas air : sebagai penghantar panas, agar panasnya merata
 Pemanas spiritus : untuk memanaskan larutan.

Langkah berikutnya yaitu memasukkan larutan sampel ke dalam tabung


reaksi melalui pipet volume 10 mL. Kemudian ditambahkan larutan lain per mili
dengan menggunakan gelas ukur. Selanjutnya dipanaskan campuran larutan sambil
terus diaduk sampai tidak tampak keruh. Pengadukan terus menerus ini dimaksudkan
untuk mencampurkan kedua larutan secara merata. Berikutnya, diangkat tabung dari
penangas, dibiarkan menjadi dingin secara perlahan sambil terus diaduk. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui suhu pada saat terbentuk sistem satu fase dan pada saat
terbentuk sistem 2 fase. Berikut pembahasan masing-masing tahap.

1. Penambahan Fenol ke dalam Air


Percobaan tahap pertama yaitu penambahan fenol ke dalam air. Setelah
menyusun rangkaian alat, langkah selanjutnya adalah memasukkan air ke dalam
tabung reaksi besar sebanyak 10 mL dengan menggunakan pipet volume 10 mL.
Penggunaan pipet volume ini berfungsi agar pengambilan sampel lebih akurat,
karena pipet volume memiliki ketelitian yang lebih baik dari pipet biasa. Kemudian
ditambahkan fenol sebanyak 1 mL dengan menggunakan pipet tetes sebanyak 20
tetes. Pencampuran fenol ke dalam air akan diperoleh larutan yang tidak saling
bercampur dan membentuk dua lapisan, lapisan atas adalah air dan lapisan bawah
adalah fenol. Hal ini dikarenakan air memiliki massa jenis yang lebih rendah
dibandingkan fenol. Pada penambahan fenol 1 mL yang pertama tidak terjadi
kekeruhan sehingga tidak diperlukan pemanasan dan percobaan dilanjutkan dengan
penambahan 1 mL fenol yang kedua. Pada penambahan 1 mL fenol yang kedua,
larutan mengalami kekeruhan yang menandakan bahwa larutan bercampur sebagian.
Kemudian campuran air dan fenol ini dipanaskan sambil diaduk hingga kekeruhan
tersebut hilang. Hilangnya kekeruhan tersebut menandakan bahwa pada suhu
tersebut kedua larutan dapat saling melarutkan. Setelah campuran menjadi jernih,
tabung reaksi diangkat dan didinginkan sambil tetap diaduk. Kemudian diamati dan
dicatat suhu larutan ketika mulai keruh kembali yang disebut sebagai suhu
terbentuknya sistem dua fase. Diulangi langkah tersebut hingga penambahan fenol
berjumlah 10 mL. Dari serangkaian percobaan yang telah dilakukan, diperoleh data
sebagai berikut:

Volume fenol yang ditambahkan


Suhu (⁰C)
(mL)
1 28
2 59
3 61
4 62
5 64
6 65
7 66
8 66
9 67
10 67

Dari hasil pengamatan terlihat bahwa adanya pengaruh komposisi terhadap


kelarutan dua zat cair yang bercampur sebagian dimana semakin besar volume fenol
yang ditambahkan ke dalam air, larutan semakin keruh dan suhu yang dicapai ketika
larutan jernih juga semakin tinggi. Akibatnya suhu yang dicapai ketika larutan
kembali keruh juga meningkat. Hal ini disebabkan karena penambahan fenol tersebut
menyebabkan kedua zat cair (fenol-air) saling tidak bercampur semakin besar
sehingga diperlukan energi yang lebih besar untuk membuat campuran tersebut
menjadi homogen atau saling melarutkan.
Pada percobaan ini, digunakan analisa kualitatif dan kuantitatif. Analisa
kualitatif dapat diartikan sebagai analisa yang didasarkan atas pengamatan dengan
panca indera kita, seperti membuktikan ada tidaknya analit. Sedangkan analisa
kuantitatif merupakan analisa yang didasarkan pada perhitungan secara sistematis,
seperti perhitungan fraksi mol. Untuk membuat kurva sistem biner fenol-air
diperlukan suhu (T) dan fraksi mol. Dimana perhitungan fraksi mol sebagai berikut:

1. Menghitung massa air yang digunakan


Volume air = 10 mL
Massa jenis air = 0,98 g/mL
Rumus yang digunakan: 𝒎𝒂𝒔𝒔𝒂
ρ=
𝒗𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆

massa = ρ . v
massa air = 0,98 g/mL . 10 mL
= 9,8 g
Jadi, massa air yang digunakan dalam percobaan adalah 9,8 gram

2. Menghitung komposisi fenol pada penambahan fenol ke dalam air


Sebelumnya dijelaskan bahwa pada penambahan 1 mL fenol tidak terjadi
kekeruhan, sehingga pada perhitungan-perhitungan selanjutnya dimulai dari
penambahan fenol yang kedua ( volume fenol = 2 mL)

 Untuk volume fenol = 2 mL


Massa fenol = 1,07 g/mL × 2 mL = 2,14 gram

 Untuk volume fenol = 3 mL


Massa fenol = 1,07 g/mL × 3 mL = 3,21 gram

 Untuk volume fenol = 4 mL


Massa fenol = 1,07 g/mL × 4 mL = 4,28 gram

 Untuk volume fenol = 5 mL


Massa fenol = 1,07 g/mL × 5 mL = 5,35 gram
 Untuk volume fenol = 6 mL
Massa fenol = 1,07 g/mL × 6 mL = 6,42 gram

 Untuk volume fenol = 7 mL


Massa fenol = 1,07 g/mL × 7mL = 7,49 gram

 Untuk volume fenol = 8mL


Massa fenol = 1,07 g/mL × 8 mL = 8,56 gram

 Untuk volume fenol = 9 mL


Massa fenol = 1,07 g/mL × 9 mL = 9,63 gram

 Untuk volume fenol = 10 mL


Massa fenol = 1,07 g/mL ×10 mL = 10,7 gram

3. Persen berat/ persen massa fenol dalam air

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑓𝑒𝑛𝑜𝑙
% massa fenol = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑓𝑒𝑛𝑜𝑙+𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟 x 100%

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟
% massa air = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟+𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑓𝑒𝑛𝑜𝑙 x 100%

Suhu
V
% massa fenol % massa air pada saat
fenol
keruh(⁰C)
2 2,14 9,8 59
𝑥 100% = 17,92 % 𝑥 100% = 82,08 %
mL 11,94 11,94

3 3,21 9,8 61
𝑥 100% = 24,67 % 𝑥 100% = 75,33 %
mL 13,01 13,01

4 4,28 9,8 64
𝑥 100% = 30,40 % 𝑥 100% = 69,60 %
mL 14,08 14,08

5 5,35 9,8 65
𝑥 100% = 35,31 % 𝑥 100% = 64,69 %
mL 15,15 15,15

6 6,42 9,8 66
𝑥 100% = 39,58 % 𝑥 100% = 60,42 %
mL 16,22 16,22

7 7,49 9,8 66
𝑥 100% = 43,32 % 𝑥 100% = 56,68 %
17,29 17,29
mL
8 8,56 9,8 66
𝑥 100% = 46,62 % 𝑥 100% = 53,38 %
mL 18,36 18,36

9 9,63 9,8 67
𝑥 100% = 49,56 % 𝑥 100% = 50,44 %
mL 19,43 19,43

10 10,70 9,8 67
𝑥 100% = 52,20 % 𝑥 100% = 47,80 %
mL 20,50 20,50

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa semakin banyak volume


fenol yang ditambahkan pada air, maka persen berat mol fenol akan semakin besar
dan persen berat air akan semakin kecil. Hal ini dikarenakan apabila ke dalam
sejumlah air ditambahkan fenol sedikit demi sedikit pada suhu tertentu dan tetap,
akan terjadi larutan fenol dalam air, dan apabila penambahan fenol diteruskan maka
pada suatu saat diperoleh larutan jenuh fenol dalam air.

2. Penambahan Air ke dalam Fenol


Percobaan tahap kedua yaitu penambahan air ke dalam fenol. Setelah
menyusun rangkaian alat, langkah selanjutnya adalah memasukkan fenol ke dalam
tabung reaksi besar sebanyak 10 mL dengan menggunakan pipet volume 10 mL.
Penggunaan pipet volume ini berfungsi agar pengambilan sampel lebih akurat,
karena pipet volume memiliki ketelitian yang lebih baik dari pipet biasa. Kemudian
ditambahkan air sebanyak 1 mL dengan menggunakan pipet tetes sebanyak 20 tetes.
Pencampuran air ke dalam fenol akan diperoleh larutan yang tidak saling bercampur
dan membentuk dua lapisan, lapisan atas adalah air dan lapisan bawah adalah fenol.
Hal ini dikarenakan air memiliki massa jenis yang lebih rendah dibandingkan fenol.
Pada penambahan air 1mL pertama hingga ketiga tidak terjadi kekeruhan sehingga
tidak diperlukan pemanasan dan percobaan dilanjutkan dengan penambahan 1 mL
air yang keempat. Pada penambahan 1 mL fenol yang keempat larutan baru
mengalami kekeruhan yang menandakan bahwa larutan bercampur sebagian.
Kemudian campuran fenol dan air ini dipanaskan sambil diaduk hingga kekeruhan
tersebut hilang. Hilangnya kekeruhan tersebut menandakan bahwa pada suhu
tersebut kedua larutan dapat saling melarutkan. Setelah campuran menjadi jernih,
tabung reaksi diangkat dan didinginkan sambil tetap diaduk. Kemudian diamati dan
dicatat suhu larutan ketika mulai keruh kembali yang disebut sebagai suhu
terbentuknya sistem dua fase. Diulangi langkah tersebut hingga penambahan fenol
berjumlah 10 mL. Dari serangkaian percobaan yang telah dilakukan, diperoleh data
sebagai berikut:

Volume air yang ditambahkan (mL) Suhu (⁰C)


1 28
2 28
3 28
4 29
5 41
6 49
7 56
8 60
9 61
10 62

Dari hasil pengamatan terlihat bahwa adanya pengaruh komposisi terhadap


kelarutan dua zat cair yang bercampur sebagian dimana semakin besar volume fenol
yang ditambahkan ke dalam air, larutan semakin keruh dan suhu yang dicapai ketika
larutan jernih juga semakin tinggi. Akibatnya suhu yang dicapai ketika larutan
kembali keruh juga meningkat. Hal ini disebabkan karena penambahan fenol tersebut
menyebabkan kedua zat cair (fenol-air) saling tidak bercampur semakin besar
sehingga diperlukan energi yang lebih besar untuk membuat campuran tersebut
menjadi homogen atau saling melarutkan.
Pada percobaan ini, digunakan analisa kualitatif dan kuantitatif. Analisa
kualitatif dapat diartikan sebagai analisa yang didasarkan atas pengamatan dengan
panca indera kita, seperti membuktikan ada tidaknya analit. Sedangkan analisa
kuantitatif merupakan analisa yang didasarkan pada perhitungan secara sistematis,
seperti perhitungan fraksi mol. Untuk membuat kurva sistem biner fenol-air
diperlukan suhu (T) dan fraksi mol. Dimana perhitungan fraksi mol sebagai berikut:
1. Menghitung massa fenol yang digunakan
Volume fenol = 10 mL
Massa jenis fenol = 1,07 g/mL
Rumus yang digunakan: 𝒎𝒂𝒔𝒔𝒂
ρ=
𝒗𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆

massa = ρ . v
massa fenol = 1,07 g/mL . 10 mL
= 10,70 g
Jadi, massa fenol yang digunakan dalam percobaan adalah 10,70 gram

2. Menghitung komposisi air pada penambahan air ke dalam fenol


Sebelumnya dijelaskan bahwa pada penambahan 1 mL air yang pertama
hingga yang ketiga tidak terjadi kekeruhan, sehingga pada perhitungan-perhitungan
selanjutnya dimulai dari penambahan air yang keempat ( volume air = 4 mL)

 Untuk volume air = 4 mL


Massa air = 0,98 g/mL × 4 mL = 3,92 gram

 Untuk volume air = 5 mL


Massa air = 0,98 g/mL × 5 mL = 4,90 gram

 Untuk volume air = 6 mL


Massa air = 0,98 g/mL × 6 mL = 5,88 gram

 Untuk volume air = 7 mL


Massa air = 0,98 g/mL × 7mL = 6,86 gram

 Untuk volume air = 8mL


Massa air = 0,98 g/mL × 8 mL = 7,84 gram

 Untuk volume air = 9 mL


Massa air = 0,98 g/mL × 9 mL = 8,82 gram

 Untuk volume air = 10 mL


Massa air = 0,98 g/mL ×10 mL = 9,80 gram
3. Persen berat/ persen massa fenol dalam air

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑓𝑒𝑛𝑜𝑙
% massa fenol = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑓𝑒𝑛𝑜𝑙+𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟 x 100%

𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟
% massa air = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟+𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑓𝑒𝑛𝑜𝑙 x 100%

Suhu
V
% massa fenol % massa air pada saat
fenol
keruh(⁰C)
4 10,70 3,92 29
𝑥 100% = 73,19 % 𝑥 100% = 26,81%
mL 14,62 14,62

5 10,70 4,90 41
𝑥 100% = 68,59 % 𝑥 100% = 31,41 %
mL 15,60 15,60

6 10,70 5,88 49
𝑥 100% = 64,54 % 𝑥 100% = 35,46 %
mL 16,58 16,58

7 10,70 6,86 56
𝑥 100% = 60,93 % 𝑥 100% = 39,07 %
mL 17,56 17,56

8 10,70 7,84 60
𝑥 100% = 57,71 % 𝑥 100% = 42,29 %
mL 18,54 18,54

9 10,70 8,82 61
𝑥 100% = 54,82 % 𝑥 100% = 45,18 %
mL 19,52 19,52

10 10,70 9,8 62
𝑥 100% = 52,20 % 𝑥 100% = 47,80 %
mL 20,50 20,50

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa semakin banyak volume fenol
yang ditambahkan pada air, maka persen berat mol fenol akan semakin besar dan
persen berat air akan semakin kecil. Hal ini dikarenakan apabila ke dalam sejumlah
air ditambahkan fenol sedikit demi sedikit pada suhu tertentu dan tetap, akan terjadi
larutan fenol dalam air, dan apabila penambahan fenol diteruskan maka pada suatu
saat diperoleh larutan jenuh fenol dalam air.
Berdasarkan tabel persen berat fenol dalam air dan persen berat air dalam
fenol selanjutnya dapat dibuat kurva dan ditentukan suhu kritis kelarutan dua zat cair
yang bercampur sebagian.
Dari grafik di atas, terlihat bahwa suhu berbanding terbalik dengan fraksi mol
fenol yang didapat. Persen berat air menurun seiring dengan bertambahnya volume
fenol dan suhu akan meningkat sampai suhu kritis, kemudian menurun ketika fenol
yang ditambahkan terlalu banyak.
Grafik yang terbentuk berupa parabola dengan bentuk yang tidak sempurna,
dimana puncaknya merupakan suhu kritis yang dicapai saat komponennya
mempunyai persen berat tertentu. Dari hasil percobaan suhu kritisnya adalah 67⁰C
dengan komposisi persen berat 49,56 % fenol dan persen berat air 50,44 %. Menurut
Hougen dalam Chemical Process Principles halaman 168 temperatur kritis sistem
fenol air adalah 65,85C dengan komposisi berat fenol 34%. Dengan demikian dapat
diketahui bahwa hasil percobaan sangat tidak sesuai dengan teori. Terjadinya
penyimpangan suhu kritis dapat disebabkan oleh beberapa factor sebagai berikut :
a. Praktikan kurang cermat dalam menentukan temperatur pada saat larutan
berubah dari keruh menjadi jernih dan dari jernih ke keruh kembali karena
perubahan larutan dari keruh menjadi jernih terjadi dalam waktu yang
singkat.
b. Kesalahan pada saat penambahan fenol, karena fenol teroksidasi sehingga
mudah menguap.
c. Pemanasan yang dilakukan terlalu tinggi
d. Validitas alat yang digunakan kurang baik
e. Termometer tidak langsung dipasang dalam tabung reaksi mulai dari proses
pendinginan sampai keruh, sehingga lama untuk menyesuaikan suhu pada
sistem.

J. KESIMPULAN
1. Jika dua buah cairan yang bercampur sebagian dicampurkan maka kedua zat
cair dapat dapat saling melarutkan jika jumlah air yang ditambahkan kedalam
fenol atau fenol ditambahkan kedalam air berada dalam jumlah yang sedikit.
2. Air dan fenol adalah dua buah cairan yang dapat bercampur sebagian, dimana
kedua zat cair ini dapat saling larut dalam jumlah sedikit dan tidak dapat larut
lagi jika air atau fenol terlalu banyak yang ditambahkan.
3. Jika penambahan dilanjutkan lagi maka akan didapat larutan jenuh air-fenol
yang saling melarutkan,larutaan ini disebut larutan konjugat,yaitu dimanaa
air dan fenol saling melarutkan.
4. Suhu kritis sistem biner fenol dalam air pada percobaan adalah 67⁰C dengan
persen berat fenol 49,56% dan persen berat air 50,44 %.

K. DAFTAR PUSTAKA
Sumari. 2003. Petunjuk Praktikum Kimia Fisika. Malang: Universitas Negeri
Malang.

P. W. Atkins. 1999. Kimia Fisika. Erlangga: Jakarta.

Tim Kimia Fisika. 2017. Petunjuk Praktikum: Kimia Fisika. Malang: Jurusan
Kimia FMIPA UM
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai