Anda di halaman 1dari 1

Klasifikasi retinopati diabetik ke dalam tahapan ini didasarkan pada adanya perubahan Oftalmologi yang

terlihat dan manifestasi neovaskularisasi retina. Tahap pertama dalam retinopati diabetik adalah
retinopati praklinis, tanpa perubahan dalam mata fundus. Kemudian, penyakit berkembang menjadi
retinopati non-proliferatif ringan yang ditandai dengan adanya beberapa mikroaneurisma. Tahap ketiga
adalah retinopati non-proliferatif moderat dan ditandai dengan adanya mikroaneurisma, perdarahan
intraretinal, atau beading vena.

The classification of diabetic retinopathy into stages is based on the presence of visible ophthalmologic
changes and the manifestation of retinal neovascularization. A first stage in diabetic retinopathy is
preclinical retinopathy, without alterations in the eye fundus. Then, the disease progresses to mild non-
proliferative retinopathy that is characterized by the presence of a few microaneurysms. The third stage
is moderate non-proliferative retinopathy and it is characterized by the presence of microaneurysms,
intraretinal hemorrhages, or venous beading.

Patofisiologi Retinopati Diabetik

Mekanisme terjadinya RD masih belum jelas, namun beberapa studi menyatakan bahwa hiperglikemi
kronis merupakan penyebab utama kerusakan multipel organ. Komplikasi hiperglikemia kronis pada
retina akan menyebabkan perfusi yang kurang adekuat akibat kerusakan jaringan pembuluh darah
organ, termasuk kerusakan pada retina itu sendiri. Terdapat 4 proses biokimiawi yang terjadi pada
hiperglikemia kronis yang diduga berhubungan dengan timbulnya retinopati diabetik, antara lain:

1) Akumulasi Sorbitol, 2) Pembentukan protein kinase C (PKC), 3) Pembentukan Advanced


Glycation End Product (AGE), 4) Pembentukan Reactive Oxygen Speciesi (ROS).

Kerusakan sel yang terjadi sebagai hasil proses biokimiawi akibat hiperglikemia kronis terjadi pada
jaringan saraf (saraf optik dan retina), vaskular retina dan lensa. Gangguan konduksi saraf di retina dan
saraf optik akan menyebabkan hambatan fungsi retina dalam menangkap rangsang cahaya dan
menghambat penyampaian impuls listrik ke otak. Proses ini akan dikeluhkan penderita retinopati
diabetik dengan gangguan penglihatan berupa pandangan kabur. Pandangan kabur juga dapat
disebabkan oleh edema makula sebagai akibat ekstravasasi plasma di retina, yang ditandai dengan
hilangnya refleks fovea pada pemeriksaan funduskopi.-