Anda di halaman 1dari 11

Epithelial Origin

1. Calcifying Epithelial Odontogenic Tumor (Pindborg Tumor)1


Tumor epontelial odontogenik (CEOT) merupakan tumor odontogenik epitel
yang jinak dan jarang terjadi. Kasus CEOT dilaporkan 1% sebagai tumor odontogenik
jinak dari semua tumor odontogenik. Asal usul neoplasma ini tidak diketahui dengan
jelas, namun secara umum berasal dari epitel oral, berkurangnya epitel enamel, stratum
intermedium, atau sisa-sisa lamina gigi.
CEOT terjadi pada rentan usia 40-41 tahun. Lokasi yang paling sering terjadi
untuk CEOT adalah mandibula bagian posterior sedangkan peripheral adalah gingiva
anterior. CEOT juga merupakan tumor yang tumbuh lambat tanpa rasa sakit yang
menyebabkan ekspansi rahang. Diagnosis banding CEOT yaitu, fibroodentoma
ameloblastik, dan tumor odontogenik adenomatoid.

Figure 1: Extraoral frontal view of the lesion and extraoral lateral view of the lesion

Seorang pria berusia 21 tahun dengan keluhan asimetri wajah, selama 10 tahun
pembengkakan sisi kanan rahang bawah yang tidak berfluktuasi tanpa rasa sakit.
Pemeriksaan ekstraoral telihat pembengkakan berbentuk oval disudut tepi mandibula
kanan. Pemeriksaan intraoral mengungkapkan adanya pembengkakan yang menyebar
di sudut kanan bawah posterior yang meluas ke anterior hingga sulkus gingiva bukal
gigi 41 yang menyebabkan penghancuran vestibul lingual dan bukal. Pada palpasi,
teraba tidak empuk. Pembengkakan mendorong lidah menjauh dari garis midline dan
tidak ada peningkatan suhu yang terlihat.
Mukosa yang menutupi lesi masih utuh dan gigi di sekitarnya tidak ada
mobilitas kecuali gigi 46 yang menunjukkan mobilitas derajat III. Tidak ada perubahan
warna dan positif terhadap tes vitalitas.

Figure 3: Intraoral view of the lesion

Pada radiograf panoramik, radiolusen multilokular dengan batas sklerotik yang


melibatkan tubuh kanan dan ramus naik ke tingkat foramen mandibula inferior dengan
penampilan " honey comb" di lokasi antara 46 dan 47, pada ukuran 1 cm × 1 cm
diperhatikan. Penampilan radiolusen multilokular juga ditunjukkan [Gambar 6].
Radiografi computed tomography (CBCT) Cone-beam menunjukkan bahwa
massa mendorong tulang hyoid dan laryngopharynx secara distal [Gambar 4-7].

Figure 4: A Lateral and Posterior 3D view of CBCT Figure 5: Axial CBCT view of the mandible
of the mandible that shows the extent of the lesion's that shows the extent of the lesion mesially
border inferiorly and mesially.
Figure 6: Panoramic radiograph revealed expansion Figure 7: Anterior Posterior CBCT view of the
and thinning of the cortex of the right lower border mandible that shows the extent of the lesion
of the mandibular body and posterior border of the mesially
right ramus

Perawatan CEOT dengan melakukan pembedahan dengan membuat sayatan sekitar 11


cm, dari sudut mandibula yang dilanjutkan ke garis tengah dagu dan kemudian keluarkan lesi
dari area ramus.

Figure 8: Multiple excised pieces of the Figure 9: A view during the sufgical operation shows
lesion from the ramus area the titanum reconsruction plate adapted and fixed in its
proper place.
Figure 10: Post operation panoramic radiograph shows the reconstruction plate fixed in its place

2. Adenomatoid Odontogenic Tumor2

Tumor odontogenik adenomatoid (AOT), yang disebut sebagai master of


disguise, yang merupakan neoplasma odontogenik yang relatif jarang ditemukan. AOT
adalah hamartomatosa, dengan pertumbuhan progresif lambat, penyakit ini ditemukan
sekitar 2,2– 13% dari semua tumor odontogenik. AOT juga dikenal sebagai 'dua pertiga
tumor, 'karena 2/3 kasus terjadi pada rahang atas, 2/3 terjadi pada wanita muda, 2/3 dari
kasus terkait dengan gigi yang tidak erupsi, dan 2/3 dari gigi yang terkena adalah gigi
kaninus.

KASUS 1
Seorang pasien wanita berusia 14 tahun datang dengan temuan lesi unilocular
pada anterior mandibula yang terlihat pada gambaran panoramik. Pada pemeriksaan
klinis, palpasi terasa lunak di bagian dan ekspansi terlihat jelas di regio mandibula
insisivus. Adanya jarak antara gigi insisif lateral kiri bawah dan gigi caninus (Gbr. 1A).
Tampilan panoramik menunjukkan radiolusensi bulat dengan ukuran 2x3 cm yang
dikelilingi oleh batas kortikal dari daerah periapikal gigi insisivus lateral mandibula
kanan ke daerah kaninus kiri dan lesi meluas ke puncak tulang alveolar interdental
antara gigi seri lateral kiri dan gigi kaninus. Perpindahan akar distal gigi caninus
mandibula kiri dan tidak ada resorpsi akar yang terlihat (Gbr. 1B). Tampilan CBCT 3D
menunjukkan kortikal plate bagain labial dan lingual tidak kontinu dan lesi unilocular
terletak dekat dengan kanal saraf alveolar inferior, bagian foramen mental kiri (Gbr.
1C).

Fig. 1 A. Clinical image showing mild bicortical expansion in mandibular anterior region. B.
Cropped panoramic image showing well- defined, unilocular, corticated radiolucent lesion in
anterior region. Also, distal displacement of root of left canine is evident. C. CBCT showing
loss of buccal and lingual cortical plates and approximation of lesion with IAN at its exit from
mental foramen.

KASUS 2
Seorang pasien pria berusia 17 tahun mengeluhkan pembengkakan sejak 6
bulan setelah trauma dan avulsi gigi seri lateral kiri. Terjadi pembengkakan yang tidak
nyeri dan gigi caninus kiri mesially drifted. Oklusal rahang atas menunjukkan lesi
radiolusen (Gambar 3A). Terlihat solid capsulated excised mass (Gbr. 3 B)

Fig. 3 A. Maxillary occlusal radiographic image showing a radiolucent, corticated lesion


associated with left mandibular canine. It is showing specks of calcification superiorly within
soft tissue shadow. B, Firm, solid capsulated excised mass

Mixed (Epithelial-Mesenchymal) Origin


1. Ameloblastik Fibroma3
Ameloblastik fibroma adalah tumor jinak odontogenic pada gigi bercampur
yang terdiri dari jaringan mesenkim yang menyerupai papilla dental dan small islands
dari epitel odontogenik yang menyerupai lamina gigi. Pada umumnya terkena pada
anak di bawah usia 20 tahun, pada daerah molar rahang bawah. Pada umumnya lesi ini
tidak sakit, dan berkembang secara perlahan dan terjadi pergeseran gigi yang terdapat
ameloblastik fibroma. Secara radiografis, bervariasi dari radiolusensi unilokular atau
multilokular. Ameloblastik fibroma dirawat dengan eksisi bedah, dengan recurrence
rate rendah.

Figure 1: Profile picture of the patient showing the asymmetry


owing to the swelling and Side profile of the patient showing
the extensions
Laporan kasus seorang pasien wanita berusia 25 tahun datang dengan keluhan
utama pembengkakan di daerah gigi belakang kanan bawah sejak 4 bulan. Pasien
mengatakan bahwa lama kelamaan ukuran pembengkakaan semakin besar namun tidak
ada rasa sakit. Pasien tidak ada riwayat medis atau penyakit bawaan dari keluarga.
Pasien dua tahun lalu melakukan pencabutan gigi pada rahang bawah sebelah kiri.
Pasien tidak ada riwayat kebiasaan merokok.
Pada pemeriksaan ekstraoral [Gambar 1], wajah asimetris karena
pembengkakan difus di kanan bawah sepertiga daerah wajah, berukuran sekitar 3,5 ×
3,0 cm berbentuk oval. Pembengkakan memanjang anteroposterior dari sudut bibir
kanan hingga 2 cm di depan sudut mandibula dan superioinferior, 1,5 cm di bawah garis
alae-tragus hingga 0,5 cm di bawah batas inferior mandibula. Pada palpasi,
pembengkakan agak lunak dan keras dalam konsistensi. Tidak teraba adanya denyutan.
Tidak ada kelenjar getah bening yang teraba.
Figure 2: Intraoral picture showing the swelling on the lingual aspect of 45,46, and 47

Pada pemeriksaan intraoral [Gambar 2], gigi 36 hilang, dan terdapat


pembengkakan berukuran sekitar 2 × 1,5 cm di daerah lingual 45, 46, dan 47.
Pembengkakan meluas secara anteroposterior dari aspek distal 45 ke aspek distal 47 ,
dan secara superioferior pembengkakan meluas dari marginal gingiva 46 ke kedalaman
sulkus.. Ada obliterasi vestibular sehubungan dengan 46 wilayah gigi. Aspirasi chair‐
side needle negatif.
Tes vitalitas pulpa 44, 45, 46 dan 47 menunjukkan respons normal. Diagnosis
sementara tumor odontogenik mandibula kanan. Diagnosis banding dari
ameloblastoma, myxoma odontogenik, granuloma sel raksasa sentral, kista dentigerous,
kista tulang traumatis diberikan.
Pemeriksaan radiografi yang dilakukan adalah, ortopantomograf [Gambar 3]
dan right lateral oblique view of the body of the mandible. Radiolusen unilocular soliter
yang terdefinisi dengan baik, tidak dikelompokkan, terlihat memanjang secara
anteroposterior pada daerah mandibula kanan dari 45 menjadi 47 dan secara
superioinferior diperluas dari apeks akar 45 dan 46 menjadi sekitar 3 mm di atas batas
inferior mandibula.
Figure 3: Orthopantomogram showing a well-defined, noncorticated
solitary unilocular radiolucency in 45, 46, and 47 region
Secara radiologis, fibroma ameloblastik umumnya terletak di dekat puncak
proses alveolar atau dalam hubungan folikel dengan gigi yang tidak erupsi atau
mungkin timbul di daerah di mana gigi gagal erupsi. Ameloblastona fibroma biasanya
tumbuh unilocular dengan struktur interna radiolusen, tetapi dapat tumbuh multilocular
dengan septa melengkung. Perluasan lesinya dapat meluas hingga terjadi ekspansi plat
kortikal. Gigi yang terlibat dapat bergeser ke arah apical.

2. Primordial Odontogenic Tumor4

Tumor odontogenik primordial (POT) adalah mixed odontogenic tumor yang


dikarakterisasi oleh proliferation of primitive odontogenic ectomesenchyme yang
dikelilingi oleh epitel odontogenik. POT cenderung terjadi pada mandibula posterior
pasien muda yang terlihat radiolusen di sekitar mahkota gigi yang tidak erupsi yang
membuat perpindahan dan resorpsi akar gigi yang berdekatan, serta ekspansi kortikal
tulang. Berikut ini merupakan data-data pasien muda yang mempunyai masalah POT
yang terlihat pada tabel 1.

Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun yang telah dirujuk ke ahli bedah mulut
untuk evaluasi asimetri mandibula selama 8 bulan terakhir. Pemeriksaan intraoral
terlihat ekspansi tulang kortikal di alveolar posterior kiri yang ditutupi oleh mukosa
(Gbr. 1).

Fig. 1 Clinical features of primordial odontogenic tumor. a Asymp- tomatic swelling in the left
posterior mandible of a 4-year-old boy, b causing displacement of the 1st deciduous molar and
extensive buccal and lingual expansion of the posterior alveolar ridge with absence of the 2nd
deciduous molar

Gambaran CBCT terlihat lesi hipodens unilokular di posterior mandibula yang


berukuran 3 × 2 cm; gigi sulung molar yang berdekatan menunjukkan resorpsi dan
perpindahan akar. Ekspansi tulang kortikal yang jelas terlihat, dengan perforasi tulang
kortikal di bagian lingual. Kanalis saraf mandibula dipindahkan ke inferior (Gambar 2).
Fig. 2 Imaging features of primordial odontogenic tumor. a, b Hypodense lesion of regular
borders located in the left body of the mandible causing exuberant bone cortical expansion and
displacement of adjacent teeth. The germ of the 2nd premolar was absent (cone beam
computerized tomography scan; a panoramic section and b coronal section)

Excisional intraoral biopsy dilakukan di bawah anestesi umum, di mana tumor


dengan whitish lobulated yang memiliki konsistensi fibrosa mudah di enukleasi dari
tulang (Gambar 3).
Fig.3 Gross features of primordial odontogenic tumor. Multi- lobulated whitish solid mass of
irregular surface, slippery to glossy appearance, measuring 4 × 3 cm, which was removed with
a dark red- dish dental follicular tissue and deciduous molars

Referensi
1. Kipuzha R, Polimoottil D, Bakkshi S, Gopalakrishnan S. Fibroepithelial Polyps of the
Head and Neck. J Dent Allied Sci. 2018;7(2):88–90.
2. Neha S, Santosh M, Sachin MG, Poonam SR, Simranjit S, Abdul KA. Adenomatoid
odontogenic tumour: An enigma. Saudi Dent J [Internet]. 2018;30(1):94–6. Available
from: https://doi.org/10.1016/j.sdentj.2017.10.005
3. Zallen RD, Preskar MH, McClary SA. Ameloblastic fibroma. J Oral Maxillofac Surg.
1982;40(8):513–7.
4. Bomfim BB, Prado R, Sampaio RK, Conde DC, de Andrade BAB, Agostini M, et al.
Primordial Odontogenic Tumor: Report of a New Case and Literature Review. Head
Neck Pathol [Internet]. 2018;0(0):1–6. Available from:
http://dx.doi.org/10.1007/s12105-018-0913-7