Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

Hemodinamik mengambarkan aliran darah dalam sistem peredaran dalam tubuh, baik
sirkulasi besar maupun sirkulasi dalam paru-paru. Keadaan hemodinamik sangat
mempengaruhi fungsi penghantaran oksigen dalam tubuh dan melibatkan fungsi jantung.
Pada kondisi gangguan hemodinamik, diperlukan pemantauan dan penanganan yang tepat
sesuai kondisi pasien. Tujuan pemantauan hemodinamik adalah untuk mendeteksi,
mengidentifikasi kelainan fisiologis secara dini dan memantau pengobatan yang diberikan.
Pemantauan memberikan informasi mengenai keadaan pembuluh darah, jumlah darah dalam
tubuh, dan kemampuan jantung untuk memompakan darah.1

Dalam pemantauan hemodinamik, terdapat beberapa parameter yang diperhatikan,


salah satunya adalah tekanan vena sentral atau Central Vein Pressure (CVP). CVP adalah
nilai yang menunjukkan tekanan darah pada vena cava dekat atrium kanan jantung, CVP
merefleksikan jumlah darah yang kembali ke jantung dan kemampuan jantung memompa
darah. CVP dapat digunakan untuk memperkirakan tekanan pada atrium kanan, yang mana
secara tidak langsung menggambarkan beban awal (preload) jantung kanan dan tekanan
ventrikel kanan pada akhir diastolik.1

Penilaian responsivitas terhadap cairan (fluid responsiveness) dilakukan untuk


mengetahui status hemodinamik pasien selama dilakukan tindakan resusitasi. Responsivitas
terhadap terapi cairan merupakan kemampuan jantung untuk meningkatkan volume sekuncup
(stroke volume/SV) dan juga curah jantung (cardiac output/CO) sebesar >10–15% sebagai
respons terhadap peningkatan beban awal jantung (preload). Penilaian responsivitas jantung
terhadap pemberian cairan dapat dilakukan menggunakan parameter hemodinamik yang
bersifat statis maupun dinamis.2

CVP sering digunakan sebagai dasar untuk membuat keputusan mengenai pemberian
cairan atau diuretik. Guideline klinis internasional merekomendasikan penggunaan CVP
sebagai titik akhir resusitasi cairan. Dasar untuk menggunakan CVP untuk panduan
manajemen cairan berasal dari dogma bahwa CVP mencerminkan volume intravaskular,
khususnya secara luas diyakini bahwa pasien dengan CVP rendah menggambarkan volume
yang kurang sementara pasien dengan CVP tinggi adalah volume berlebihan.3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Central Venous Pressure


Central venous pressure (CVP) atau tekanan vena sentral adalah tekanan dari
atrium kanan atau vena cava superior. Selain itu, CVP menunjukkan nilai vena cava
dekat atrium kanan jantung. CVP merefleksikan jumlah darah yang kembali ke jantung
dan kemampuan jantung memompa darah. CVP dapat digunakan untuk memperkirakan
tekanan pada atrium kanan, yang mana secara tidak langsung menggambarkan beban
awal (preload) jantung kanan dan tekanan ventrikel kanan pada akhir diastol.
Pengukuran CVP memberikan informasi penting mengenai keadaan fungsi sistem
kardiovaskular pasien, kecukupan volume vaskular, dan juga keberhasilan terapi yang
dilakukan.1,3
Central venous pressure secara umum lebih berguna untuk membantu menentukan
penyebab dari suatu masalah daripada mendeteksi suatu masalah pada pemantauan
hemodinamik. CVP mengukur tekanan pada atrium kanan yang bisa menggambarkan
tekanan akhir diastolik atau end diastolic pressure (EDP). Preload ventrikel lebih erat
kaitannya dengan volume akhir diastolik ventrikel atau end diastolic ventricle (EDV)
dibandingkan tekanannya, karena itu penting untuk mengetahui hubungan antara EDP
dan EDV, di mana hubungan ini tergantung dari compliance ventrikel.3
Dikarenakan letak vena sentral yang berada di dalam rongga thoraks, maka
pengukuran CVP dipengaruhi oleh perubahan tekanan intratoraks. Akhirnya, hasil CVP
berfluktuatif sesuai pernapasan, CVP berkurang pada saat inspirasi spontan dan
meningkat saat tekanan respirasi positif. Untuk itu, pengukuran CVP harus dilakukan
pada akhir ekshalasi ketika otot respirasi relaksasi dan tekanan intrathoraks stabil pada
saat istirahat.1

2.2 Metode Pengukuran CVP


Secara umum terdapat beberapa metode pengukuran CVP, dan dikategorikan
menjadi invasif dan non invasif. Saat ini terdapat dua metode pengukuran CVP yang
invasif. Pada metode pertama, setelah memasang selang kateter CV, CVP diukur
menggunakan manometer CVP yang dihubungkan ke pasien. Pada metode lain, sebuah
transducer elektronik dihubungkan ke kateter CV pada satu sisi dan sisi lain
dihubungkan ke monitor digital untuk menunjukkan pengukuran CVP. Selain itu, ada
juga metode non invasif seperti observasi langsung dan ultrasonography dimana
digunakan untuk pengukuran tidak langsung CVP. Observasi pulsasi vena jugularis
interna merupakan metode yang dapat diterima untuk memperkirakan tekanan atrium
kanan.1,4
2.3.1 Metode Non Invasif
Pengukuran CVP dengan metode non invasif dapat dilakukan dengan mengukur
tekanan vena jugularis atau jugular vein pressure (JVP). JVP menggambarkan volume
pengisian dan tekanan pada jantung bagian kanan. Pengukuran JVP dapat menunjukkan
tekanan pada atrium kanan. Nilai normal dari pengukuran JVP adalah < 8cmH2O.
Menurut sumber lain, ultrasonography juga dapat digunakan untuk mengukur CVP
dengan yaitu jika vena jugularis kelihatan lebih besar dari arteri carotis ketika pasien
dalam posisi semi tegak, kemungkinan nilai JVP sebesar > 10 cmH2O. 1,4
Peningkatan JVP merupakan tanda dari gagal jantung kanan. Pada gagal jantung
kanan, bendungan darah di ventrikel kanan akan diteruskan ke atrium kanan dan vena
cava superior, sehingga tekanan pada vena jugularis akan meningkat. Peningkatan JVP
akan tampak dengan adanya distensi vena jugularis, dimana JVP akan tampak setinggi
leher, jauh lebih tinggi daripada normal.1
Adapun prosedur pemeriksaan sebagai berikut1:
a. Persiapan alat (2 buah mistar, spidol atau pulpen, penlight atau senter)
b. Cuci tangan
c. Pemeriksa berdiri di kanan pasien
d. Jelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan serta meminta persetujuan pasien
e. Posisikan pasien berbaring kemudian posisikan bed 30-45 derajat
f. Anjurkan pasien untuk menengok kiri
g. Identifikasi vena jugularis
h. Tentukan undulasi pada vena jugularis (titik teratas pada pulsasi vena jugularis),
bendung vena dengan cara mengurut ke bawah lalu lepas
i. Tentukan angulus sternalis
j. Gunakan mistar pertama, proyeksikan titik tertinggi pulsasi vena secara horizontal
ke dada sampai titik manubrium sterni
k. Kemudian mistar kedua diletakkan secara vertikal dari angulus sternalis
l. Lihat hasil pengukuran dengan melihat hasil angka pada mistar kedua.
Gambar 2.1 Gambar Pengukuran Tekanan Vena Jugularis
2.3.2 Metode Invasif1
Pengukuran CVP dengan cara invasif dilakukan dengan memasukan katater ke
dalam vena subklavia atau vena jugularis internal dan kemudian di monitor degan
menggunakan manometer atau transduser. Adapun selain untuk mengukur CVP,
beberapa indikasi untuk pemakaian kateter vena sentral adalah1:
a. Untuk menginfus cairan atau obat-obatan yang mungkin mengiritasi vena perifer
b. Kanulasi jangka panjang untuk obat-obatan dan cairan, contohnya total nutrisi
parenteral atau kemoterapi
c. Penderita syok
d. Kanulasi cepat ke jantung terutama untuk pemberian obat-obatan dalam situasi
resusitasi
e. Bila kanulasi vena perifer sulit dilakukan akibat vena yang kolaps pada
hipovolemia, ketika vena perifer sulit ditemukan pada orang gemuk
f. Prosedur khusus contohnya pemacu jantung, hemofiltrasi atau dialisis
Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum melakukan kateterisasi ke
vena sentral.
1. Sebaiknya pemasangan kateterisasi vena sentral dilakukan di ruang tindakan yang
steril untuk menghindari kontaminasi dengan pasien lain
2. Buat informed consent dan persetujuan keluarga
3. Jelaskan kepada pasien atau keluarga pasien terlebih dahulu maksud dan tujuan
serta prosedur kateterisasi vena sentral tersebut
4. Kateterisasi vena sentral harus dilakukan seasepsis mungkin mirip dengan prosedur
pembedahan
5. Waspadalah akan masuknya udara, walaupun pasien dalam keadaan head-down
6. Selalau pikirkan dimana ujung jarum berada
7. Darah harus dapat diaspirasi dengan mudah dari kateter intravena sebelum cairan
infus atau obat dimasukkan. Bbila tidak dapat diaspirasi dengan mudah berarti
terjadi kesalahan penempatan
8. Jangan menarik kembali kateter yang telah/masih ada di dalam jarum logam karena
bahaya terpotongnya kateter oleh ujung jarum. Bila sampai terpotong maka
pengambilannya hanya bisa dilakukan dengan cara pembedaha.
9. Kanulasi vena sentral dapat memakai kateter panjang untuk pemakaian jangka
lama atau dengan kateter vena yang pendek misalnya baocath ukuran besar untuk
sementara pada keadaan darurat. Bila vena sudah terisi cairan dapat dilanjutkan
dengan kanulasi vena perifer.
Kanulasi vena sentral dapat dipasang melalui beberapa tempat, masing-masing
letak mempunyai keuntungan dan kerugian tersendiri. Kanulasi vena sentral dapat
dilakukan melalui:
a. Vena subclavia
b. Vena jugularis
c. Vena femoralis
d. Vena antecubital; vena basilica dan atau cephalica
e. Vena umbilikus pada bayi baru lahir
Akan tetapi lokasi yang paling sering dilakukan insersi yaitu vena subclavia dan
vena jugularis interna.
A. Kateterisasi Vena Subclavia
a. Persiapan peralatan
1. Disinfektan (betadine, alkohol)
2. Handscoen, masker, penutup kepala, jas sterile dan handuk
3. Spoit 5 ml dan 2 buah jarum ukuran 25 gauge
4. Kateter dan dilator
5. IV tubing dan flush (infus set, triwy dan NaCl 500 ml)
6. Jarum insersi 18 gauge (panjang 5 cm)
7. 0,035 j wire, duk steril, scalpel, benang silk 2.0
b. Posisi
Letakkan pasien dengan posisi supien dengan kepala lebih rendah 10-15º
hingga vena dapat terisi. Ini dapat tidak menyenangkan atau bahkan beresiko
pada beberapa pasien. Bila ragu-ragu, pasien dapat diletakkan dengan kepala
lebih rendah saat operator telah siap melakukan pungsi vena. Bahu dapat
diganjal dengan handuk gulung atau botolo cairan diantara kedua bahu.
c. Prosedur
1. Cek semua peralatan sebelum mulai
2. Sterilisasi dan tutupi area yang akan diinsersi dengan sangat hati-hati
3. Palpasi fossa subclavicularis dan cek hubungannya pada incisura sternalis.
Bila jari ditempatkan secara subclavikularis pada posisi lateral terdapat
fossa yang jelas antara clavicula dan costa II. Gerakan jari ke arah medial
menuju incisura sternalis dan jari akan terhambat pada ujung medial
clavicula. Ini adalah m.subclavicus yang berjalan dari costa I menuju
perukaan infrior claviula memberikan pola yang baik posisi costa I dimana
terletak vena subclavia.
4. Letakkan jari telunjuk pada incisura sternalis dan ibu jari pada daerah
pertemuan antara clavicula dan costa I. Infiltrasi anestesi lokal dengan
jarum 25 gauge 2 cm lateral ibu jari dan 0.5 cm ke kaudal ke arah clavicula
atau tepat di lateral dari insersi m.subclavia costa I.
5. Vena berjalan di bawah clavicula menuju incisura sternalis. Gunakan jarum
18 gauge yang halus dengan syringe 5 ml, masukkan jarum menusuk kulit
dibagian lateral ibu jari dan 0.5 cm di bawah clavicula yang dimaksud
untuk membuat posisi khayal pada bagian belakang incisura sternalis.
Posisi jarum horizontal untuk mencegah pneuothorax dan bevel menghadap
eke atas atau ke arah kaki pasien untuk mencegah kateter masuk ke arah
leher. Aspirasi jarum lebih dahulu, pertahankan jarum secara cermat pada
tepi bawah clavicula.
6. Jika tidak ada darah vena yang teraspirasi setelah penusukan sampai 5 cm
tarik pelan-pelan sambil diaspirasi jika masih belum ada juga ulangi sekali
lagi dan apabila masih belum berhasil pindah ke arah kontralateral akan
tetapi periksa foto thoraks dahulu sebelum dilakukan untuk melihat adanya
pneumothoraks.
7. Bila darah teraspirasi maka posisi vena subclavia telah didapatkan dan
kanula atau jarum dipertahankan pada posisinya dengan mantap.
8. Susupkan kawat, pasang kateter atau dilator selanjutnya lepaskan kawat.
9. Lakukan dengan hati-hati untuk menghindari ikut masuknya udara untuk itu
sebaiknya ujung kateter tidak dibiarkan terbuka.
10. Cek bahwa aspirasi darah bebas melalui kateter dan tetesan berjalan dengan
lancar
11. Kontrol letak kateter dengan foto thoraks.

d. Keuntungan
1. Sangat baik untuk kanulasi jangka panjang karena posisi kateter dapat
difiksasi dengan baik sehingga tidak mudah bergerak dan tidak menggangu
pergerakan pasien.
2. Vena subclavia hampir selalu ada dan anatomi ini umumnya tetap.
3. Relatif kurang infeksi dibanding pemasangan tempat lain.
4. Kateter mudah masuk ke vena cava superior serta landmarknya lebih
mudah pada orang yang obes.
e. Kelemahan
1. Umunya dilakukan dengan teknik buta sehingga mudah merusak struktur
yang tidak terlihat.
2. Pleura, arteri, nervus phrenicus bahkan trakea mudah terjangkau oleh jarum
yang salah masuk sehingga relatif lebih banyak komplikasi pneumothoraks
dibanding teknik lain.
3. Bila terjadi komplikasi perdarahan relatif susah untuk ditangani.
B. Kateter Vena Jugularis Interna
a. Persiapan peralat
1. Disinfektan (betadine, alkohol)
2. Handscoen, masker, penutup kepala, jas sterile dan handuk
3. Spoit 5 ml dan 2 buah jarum ukuran 22 dan 25 gauge
4. Kateter dan dilator
5. IV tubing dan flush (infus set, triwy dan NaCl 500 ml)
6. Jarum insersi 18 gauge (panjang 5-8 cm)
7. 0,035 j wire, duk steril, scalpel, benang silk 2.0
b. Posisi
Pasien diposisikan dengan posisi supine atau tredelenburg, kepala pasien
lebih rendah 15º dan 45º ke arah kontralateral pada tempat penusukan.
c. Prosedur
1. Jelaskan kepada pasien tentang prosedur yang akan dilakukan.
2. Berishkan daerah leher pada sisi yang akan diinsersi.
3. Palingkan kepala pasien ke sisi sebelah kiri.
4. Bila pasien sadar dan bila diminta untuk mengangkat kepala, otot leher
akan dengan mudah ditentukan m.sternocleidomastoideus mempunyai
dua caput, caput sternalis dan caput clavicularis. Insersinya ke mastoid.
Sebuah segitiga dibentuk oleh kedua caput dan apeks dari segitiga ini
adalah titik insersi untuk jarum. Bila pasien tidak sadar anatomi ini
mungkin sangat sulit untuk ditentukan. Pada situasi seperti ini arteri
sebaiknya dipalpasi setinggi aspek bawah cartilago thyroid, karena vena
terletak tepat dilateralnya.
5. Infiltrasi anestesi lokal ke dalam tempat ini.
6. Sebaiknya menggunakan syringe dengan jarum yang halus. Susupkan
spoit jarum pada apeks segitiga tepat disebelah lateral perabaan pulsasi
arteri carotis, selanjutnya arahkan sepanjang garis yang ditarik antara
ttik insersi dan papilla mamma pada sisi yang sama. Aspirasi tatkala
jarum dimajukan, hati-hati agar tidak memasukkan jumlah udara.
7. Bila darah diaspirasi, vena sudah ditemukan. Tindakan berikutnya dapat
diulangi dengan meyakinkan menggunakan jarum yang lebih besar atau
kanula.
8. Gunakan teknik Seldinger, jarum ditempatkan dalam vena agar supaya
darah dapat dengan mmudah diaspirasi.
9. Masukkan kawat.
10. Susupkan kateter atau dilator selanjutnya lepaskan kawat.
11. Cek aspirasi darah perlahan-lahan, fluktuasi tekanan pernapasan dan
posisi foto.
d. Keuntungan
1. Relatif aman bagi yang berpengalaman.
2. Dapat digunakan untuk kanulasi jangka panjang.
3. Kateter mudah masuk ke vena cava superior
4. Posisi kateter mudah diketahui melalui foto.
e. Kelemahan
1. Mudah terjadi komplikasi karena banyak struktur disekitarnya.
2. Teknik sulit dilakukan pada orang dengan lehe rpendek atau tebal.
3. Pungsi a.carotis sering terjadi.
4. Bisa terjadi kebocoran ductus thoracicus bila dilakukan sebelah kiri.
5. Mudah terjadi infeksi atau trombosisi karena gerakan kepala yang
mempengaruhi letak kateter.
6. Kurang nyaman karena membatasi pergerakan leher.
2.3 Pemantauan CVP
Setelah memasang kateter vena sentral, CVP kemudian dapat dipantau dan diukur
dengan menggunakan manometer ataupun transduser.1
2.3.1 Pemantauan Menggunakan Manometer1,5
Pemantauan sistem manometer memungkinkan pembacaan intermiten dan kurag
akurat dibandingkan sistem transduser, hal ini disebabkan karena adanya efek meniskus
air pada tabung kaca. Adapun langkah-langkah pemasangan manometer adalah sebagai
berikut:
1. Persiapan alat. Alat yang biasa digunakan diantaranya manometer, cairan, water
pass, extension tube, threeway, bengkok dan plester
2. Jelaskan tujuan dan prosedur pengukuran CVP kepada pasien.
3. Posisikan pasien dalam kondisi nyaman.
4. Menentukan letak zero point pada pasien. Zero point merupakan suatu titik yang
nantinya dijadikan acuan dalam pengukuran CVP. Zero point ditentukan dari ICS
ke empat linea midaclavicula, karena ICS empat sejajar dengan letak atrium kanan.
Dari midclavicula ditarik kelateral sampai mid axilla. Di titik mid axilla itulah
diberikan tanda.
5. Dari tanda tersebut kita sejajarkan dengan titik nol pada manometer yang
ditempelkan pada tiang infus. Caranya adalah dengan mensejajarkan titik tersebut
dengan angka 0 dengan menggunakan waterpass. Setelah angka nol pada
manometer sejajar dengan titik ICS ke midaxilla, maka kita plester manometer pada
tiang infus.
6. Setelah berhasil menentukan zero point, kita aktifkan sistem 1 (satu). Caranya
adalah dengan mengalirkan cairan dari sumber cairan (infus) ke arah pasien. Jalur
threeway dari sumber cairan dan ke arah pasien kita buka, sementara jalur yang ke
arah manometer kita tutup.
7. Setelah aliran cairan dari sumber cairan ke pasien lancar, lanjutkan dengan
mengaktikan sistem 2 (dua). Caranya adalah dengan mengalirkan cairan dari
sumber cairan ke arah manometer. Jalur threeway dari sumber cairan ke arah
manometer dibuka, sementara yang ke arah pasien kita tutup. Cairan yang masuk ke
manometer dipastikan harus sudah melewati angka maksimal pada manometer
tersebut.
8. Setelah itu aktifkan sistem 3 (tiga). Caranya adalah dengan cara mengalirkan cairan
dari manometer ke tubuh pasien. Jalur threeway dari manometer dan ke arah pasien
dibuka, sementara jalur yang dari sumber cairan ditutup.
9. Amati penurunan cairan pada manometer sampai posisi cairan stabil pada
angka/titik tertentu. Lihat dan catat undulasinya. Undulasi merupakan naik turunnya
cairan pada manometer mengikuti dengan proses inspirasi dan ekspirasi pasien. Saat
inspirasi, permukaan cairan pada manometer akan naik, sementara saat paien
ekspirasi kondisin permukaan cairan akan turun. Posisi cairan yang turun itu
(undulasi saat klien ekspirasi) itu yang dicatat dan disebut sebagai CVP.
2.3.2 Pemantauan Menggunakan Transduser1,5
Pemantauan menggunakan transduser memungkinkan pembacaan secara kontinu
yang ditampilkan di monitor. Adapun langkah-langkah pemsangan transduser, sebagai
berikut:
1. Persiapan alat. Alat yang biasanya digunakan meliputi heparin, infus set, monitor,
transduser, threeway, kantong tekanan.
2. Tempatkan pasien pada posisi supinasi, pastikan posisi ini tidak diubah untuk
mendapatkan hasil yang akurat.
3. Sambungkan infus yang berisi larutan saline ke IV line, kemudian hubungkan ke
transduser.
4. Hubungkan transduser ke kateter vena sentral menggunakan threeway. Pastikan
tidak ada udara di dalam selang.
5. Posisikan transduser sejajar dengan kateter vena sentral.
6. Kemudian hubungkan transduser ke monitor.
2.3.3 Bentuk Gelombang CVP1,6
Bentuk gelombang CVP mencerminkan perubahan-perubahan pada tekanan atrium
kanan selama siklus jantung, dan sesuai dengan gambaran EKG normal.
 Gelombang a: peningkatan tekanan atrium kanan selama kontraksi atrium kanan.
Dikorelasikan dengan gelombang P pada EKG
 Gelombang c: peningkatan tekanan atrium kanan yang disebabkan oleh penutupan
katup trikuspid. Dikorelasikan dengan akhir gelombang kompleks QRS pada EKG.
 Gelombang x: penurunan tekanan atrium kanan selama fase ventrikuler ejection.
Terjadi sebelum timbulnya gelombang T pada EKG.
 Gelombang v: peningkatan tekanan atrium kanan selama fase rapid atrial filling
ketika katup trikuspid tertutup. Digambarkan pada akhir gelombang T pada EKG.
 Gelombang y: penurunan tekanan atrium kanan setelah katup trikuspid terbuka.
Terjadi sebelum gelombang P pada EKG.

2.4 Interpretasi Nilai CVP1,6,7


2.4.1 Interpretasi Pengukuran Non Invasif
Lihat hasil pengukuran dengan melihat hasil angka pada mistar kedua (titik
pertemuan antara mistar pertama dan kedua). Hasil pengukuran kemudian ditambahkan
5 cm karena diasumsikan jarak antara angulus sterni dan atrium kanan sejauh 5 cm.
Normalnya 5-10 cmH2O.
2.4.2 Interpretasi Pengukuran Invasif Dengan Manometer
Hasil pengukuran dengan manometer dapat dilihat langsung pada alat
manometernya. Namun, hasil pengukuran biasanya berubah ketika pasien ekspirasi dan
inspirasi hal ini diakibatkan pada saat inspirasi nilai CVP dapat dipengaruhi oleh
tekanan intrathorakal, dan tekanan intrabdominal. Sehingga, nilai pada manometer yang
dipakai adalah ketika pasien ekspirasi atau ketika terjadi undulasi pada saat ekspirasi.
Nilai normalnya sama dengan pengukuran non invasif 5-10 cmH2O.
2.4.3 Interpretasi Pengukuran Invasif Dengan Transduser
Hasil pengukuran dengan transduser dapat dilihat pada gelombang yang terlampir
pada monitor.
Berikut beberapa interpretasi mengenai gelombang CVP:
a. Gelombang a tidak ada: atrial fibrilasi, sinus takikardi

b. Cannon a wave: disosiasi atrioventrikular

c. Elevasi gelombang a: stenosis trikuspid, hipertensi pulmonal, stenosis pulmonal,


RV failure

d. Elevasi gelombang c, v, dan gelombang x tidak ada: trikuspid regurgitasi


e. Gelombang c dan v elevasi, gelombang y yang cepat: perikarditis konstriktif

f. Elevasi gelombang v, a atau a dan x normal dengan gelombang y yang singkat:


tamponade jantung

2.5 Indikasi, KontraIndikasi dan Komplikasi Pengukuran CVP Invasif5,6


2.5.1 Indikasi
1. Mengetahui fungsi jantung
Pengukuran CVP secara langsung mengukur tekanan atrium kanan (RA) dan
tekanan end diastolic ventrikel kanan. Pada pasien dengan susunan jantung dan
paru normal, CVP juga berhubungan dengan tekanan end diastolic ventrikel kiri.
2. Mengetahui fungsi ventrikel kanan
CVP biasanya berhubungan dengan tekanan (pengisisan) diastolik akhir ventrikel
kanan. Setelah ventrikel kanan terisi, maka katup tricuspid terbuka yang
memungkinkan komunikasi terbuka antara serambi dengan bilik jantung. Apabila
tekanan akhir diastolik sama dengan yang terjadi pada gambaran tekanan ventrikel
kanan, CVP dapat menggambarkan hubungan antara volume intravascular, tonus
vena, dan fungsi ventrikel kiri.
3. Menentukan fungsi ventrikel kiri
Pada orang-orang yang tidak menderita gangguan jantung, CVP berhubungan
dengan tekanan diastolik akhir ventrikel kiri dan merupakan sarana untuk
mengevaluasi fungsi ventrikel kiri.
4. Menentukan dan mengukur status volume intravascular.
Pengukuran CVP dapat digunakan untuk memeriksa dan mengatur status volume
intravaskuler karena tekanan pada vena besar thorak ini berhubungan dengan
volume venous return.
5. Memberikan cairan, obat obatan, nutrisi parenteral
Pemberian cairan hipertonik seperti KCL lebih dari 40 mEq/L melalui vena perifer
dapat menyebabkan iritasi vena, nyeri, dan phlebitis. Hal ini disebabkan kecepatan
aliran vena perifer relatif lambat dan sebagai akibatnya penundaan pengenceran
cairan IV. Akan tetapi, aliran darah pada vena besar cepat dan mengencerkan
segera cairan IV masuk ke sirkulasi. Kateter CVP dapat digunakan untuk
memberikan obat vasoaktif maupun cairan elektrolit berkonsentrasi tinggi.
6. Kateter CVP dapat digunakan sebagai rute emergensi insersi pacemaker sementara.
2.5.2 Kontraindikasi
1. Infeksi pada tempat insersi
2. Renal cell tumor yang menyebar ke atrium kanan, atau
3. Large tricuspid valve vegetatious (sangat jarang).
2.5.3 Komplikasi
Adapun komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi adalah:
1. Perdarahan, jika kateter terputus dari infus. Pasien yang mengonsumsi anti
koagulan sangat beresiko untuk komplikasi ini.
2. Erosi (pengikisan) vaskuler. Cirinya terjadi 1 sampai 7 hari setelah insersi kateter.
Cairan iv atau darah terakumulasi di mediastinum atau rongga pleura.
3. Lokasi kateter yang salah. Jika kateter masuk pada salah satu chamber jantung
dapat mengakibatkan aritmia.
4. Infeksi local atau sistemik. Biasanya kebanyakan kontaminasi mikrooorganisme
seperti s. avirus, s. epidermidis, gram negative –positif basil, dan intrococcus.
5. Overload cairan.
6. Pneumothoraks.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hemodinamik mengambarkan aliran darah dalam sistem peredaran dalam tubuh,
baik sirkulasi besar maupun sirkulasi dalam paru-paru. Keadaan hemodinamik sangat
mempengaruhi fungsi penghantaran oksigen dalam tubuh dan melibatkan fungsi
jantung. Dalam pemantauan hemodinamik, terdapat beberapa parameter yang
diperhatikan, salah satunya adalah tekanan vena sentral atau Central Vein Pressure
(CVP). CVP adalah nilai yang menunjukkan tekanan darah pada vena cava dekat
atrium kanan jantung, CVP merefleksikan jumlah darah yang kembali ke jantung dan
kemampuan jantung memompa darah. CVP dapat digunakan untuk memperkirakan
tekanan pada atrium kanan, yang mana secara tidak langsung menggambarkan beban
awal (preload) jantung kanan dan tekanan ventrikel kanan pada akhir diastolik.
Pengukuran CVP dibagi menjadi dua, yakni pengukuran secara non invasif dan
invasif. Pengukuran secara non invasif dengan cara mengukur tekanan vena jugularis
dengan menggunakan dua mistar dan diukur melalui angulus sterni. Sedangkan
pengukuran invasif dilakukan dengan memasukkan kateter vena pada vena subclavia,
venga jugularis ataupun vena femoralis kemudian dipantau menggunakan manometer
maupun transduser.
Nilai pada pengukuran non invasif dapat dilihat pada mistar dengan nilai normal
yaitu 510 cmH2O. Untuk pengukuran nilai CVP dengan metode invasif menggunakan
manometer, dapat dilihat langsung pada alatnya sedangkan untuk transduser dapat
dilihat pada gelombangnya. Terdapat lima gelombang, dengan tiga gelombang positif
yaitu gelombang a, c dn gelombang v dan dua gelombang x dan yang masing-masingya
menunjukkan aktifitas pada jantung.
DAFTAR PUSTAKA
1. Subagiartha IM, Damaliputra K. Monitoring hemodinamik melalui vena sentral. 2016.
2. Susanto B, Pradian E, Bisri T. Pengaruh tes elevasi tungkai secar pasif terhadap
variasi plestimograf untuk penilaian reponsivitas cairan pada pasien yang dilakukan
pembedahan dengan anestesi umum. Jurnal Anestesi Perioperatif 2016; 4(2): 80-86.
3. Harahap CO, Arifin J. Pengukuran cvc pada pasien sepsis, apakah terdapat
keuntungan?. Jurnal Anestesiologi Indonesia 2016; 3(1): 48-58.
4. Yazdi MG, Shoghli A, Faghihi S, Baratloo A. Central venous pressure monitoring;
introduction of new device. Journal of Emergency Department SBMU 2016; 4 (2):
52-54.
5. Cole E. Measuring central venous pressure. [Internet]. 2008 [cited 2019 Jan 27].
Available from: www.cetl.org.uk
6. Juliarta IG. Nada IKW. Monitoring hemodinamik invasif. 2016.
7. Department Of Anesthesiology. Anaesthetic medical procedures: measuring central
venous pressure. [Internet]. 2015 [cited on 2019 Jan 27]. Available from:
www.anaesthesia.hku.hk