Anda di halaman 1dari 13

Ulasan Artikel

Peran Oral Vitamin D Pada Berbagai Penyakit Kulit

Abstrak
Vitamin D memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh dan kulit. Salah
satunya adalah mengatur sistem kekebalan tubuh, baik seluler maupun humoral.
Patogenesis banyak penyakit kulit dikaitkan dengan gangguan dalam regulasi
sistem kekebalan seluler. Penelitian tentang hubungan antara kadar vitamin D
dalam darah dan beberapa penyakit dalam dermatologi saat ini sangat maju.
Vitamin D oral diketahui memiliki banyak fungsi yang berperan dalam
patogenesis beberapa penyakit kulit. Oleh karena itu, penggunaannya saat ini
sebagai terapi primer atau tambahan telah dipelajari secara luas. Pengetahuan
tentang berbagai penyakit kulit dengan indikasi penggunaan vitamin D oral
penting untuk dipahami, terutama dalam hubungannya dengan beberapa penyakit
kronis yang membutuhkan terapi jangka panjang. Efek penggunaan analog
vitamin D oral minimal, tetapi hipervitaminosis D dapat menyebabkan gejala
tidak nyaman bagi pasien. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan
mengatur jumlah dosis suplemen vitamin D oral yang ditentukan.
Kata kunci: vitamin D oral, penyakit kulit.

Pendahuluan
Vitamin D memiliki banyak manfaat terapi dalm dermatologi, baik sebagai
monoterapi maupun kombinasi dengan obat lain. Vitamin D tersedia dalam
bentuk topikal, oral, dan parenteral. Saat ini analog vitamin D topikal sudah
banyak digunakan dibanding oral dan parenteral.
Artikel ini akan mengulas metabolisme, peran dalam dermatologi, kebutuhan
level dosis serum, hipovitaminosis, dan hipervitaminosis vitamin D. Selain itu,
beberapa penelitian tentang manfaat oral vitamin D pada penyakit kulit seperti
vitiligo, psoriasis, dermatitis atopik, urtikaria dan melanoma akan didiskusikan.
Vitamin D oral dapat dijadikan sebagai salah satu pilihan terapi.
Metabolisme
Vitamin D adalah prekursor kalitriol yang berperan dalam homeostatis kalsium,
dimana dapat diperoleh dari kanan dan diprouksi oleh tubu manusia. Vitamin D
dari makanan tersedia dalam dua bentuk, yakni vitamin D2 (ergocalciferol) yang
terkandung dalam tumbuhan dan vitamin D3 (cholecalciferol) yang terkandung
dalam hewan.1,2
Vitamin D yang diproduksi oleh tubuh manusia adalah hasil sintesis di kulit dan
berfungsi sebagai sumber utama vitamin D. Kulit merupakan organ target dari
metabolit aktif vitamin D.1 Proses sintesis dipengaruhi oleh warna kulit, usia,
pakaian, aktivitas dalam ruangan, penggunaan tabir surya dan lokasi geografis
menurut garis lintang.2

Sintesis Vitamin D
Sintesis vitamin D di kulit dimulai dengan konversi 7-dehydrocholesterol
(provitamin D3) ke perevitamin D oleh ultraviolet B.1 Previtamin D3 mengalami
isomerisasi dan mengubah bentuk vitamin D3. Vitamin yang terbentuk terikat
oleh vitamin D binding protein (DBP) untuk dibawah ke dalam sirkulasi.
Beberapa vitamin D3 yang terbentuk kulit diangkut ke hati dan dimetabolisme
oleh enzim 25-hidroksilase (CYP27A1) menjadi 25 (OH) D3 (kalsidiol). Clcidiol
diubah menjadi 24,25 (OH) 2D3 dengan 24-hidrosiklase (CYP24A1) dan
selanjutnya menjadi ,25 (OH) 2 D3 (calcitriol) oleh enzim 1-hidroksilase
(CYP27B1).1,3
Vitamin D yang diperoleh dari makanan, baik vitamin D2 atau D3 akan diserap
oleh sel-sel usus kecil melalui difus pasif. Penyerapan tercepat terjadi di
duodenum sedangkan penyerapan terbesar terjadi di ileum distal. Vitamin D
memasuki sirkulasi melalui sistem limfatik, bergabung dengan kilomikron dan
diikat oleh DBP untuk didistribusikan ke hati dan jaringan ekstra-hati.1,3
Sebagian besar vitamin D yang diangkut ke hati akan mengalami hidroksilasi
pada karbon C-25 oleh CYP27A1 untuk membentuk kalsidiol. Kalsidiol tidak
disimpan di dalam sel tetapi langsung dilepaskan ke sirkulasi untuk diikat oleh
DBP. 1 Kalsidiol akan mengalami hidroksilasi pada atom karbon C-1 untuk
membentuk kalsitriol di setiap sel tubuh, terutama di jaringan ginjal ekstra seperti
plasenta, payudara, paru-paru, usus besar, prostat, dan hati oleh enzim
CYP27B1.5,6 Proses ini terjadi di tubulus proksimal ginjal.5 Kalsitriol yang
terbentuk adalah metabolit aktif vitamin D yang kemudian akan memberikan
efeknya pada sel dengan reseptor vitamin-D (VDR).1,5,6

Katabolisme Vitamin D
Katabolisme adalah proses penting untuk inaktivasi dan ekskresi vitamin D.
Hidroksilasi pada atom karbon C-24 dapat terjadi pada kalsidiol dan kalsitriol.
Reaksi ini dikatalisis oleh enzim CYP24A1. Enzim ini banyak ditemukan di
ginjal tetapi dapat juga ditemukan pada jaringan lain yang memiliki VDR.
Calcitriol dan 24,25 (OH) 2D3 akan dikonversi menjadi calcitetrol oleh CYP24A1
dan CYP27B1, dan selanjutnya menjadi asam calcitroic. Produk akhir
katabolisme vitamin D akan diekskresikan dalam tinja dan urin.1,5

Peran Vitamin D Dalam Penyakit Kulit


Proliferasi dan differensiasi kerationosit
Keratinosit adalah salah satu sel yang mengekspresikan enzim VDR, CYP27B1,
dan CYP24A1. Kalsitriol berperan dalam regulasi keratinosit dengan menginduksi
diferensiasi dan membatasi proliferasi keratinosit. VDR terdapat di semua lapisan
epidermis, terutama di lapisan basal dan aktivitasnya dipengaruhi oleh tingkat
kalsitriol dalam sel (Gambar 1). Protein co-regulatory seperti SMRT, NCoR,
SRC1, dan NCoA2 juga memengaruhi aktivitas VDR. Kegagalan fungsi VDR dan
atau enzim CYP27B1 akan menghasilkan proliferasi keratinosit yang berlebihan.6
Regulasi sistem imun
VDR ditemukan di hampir setiap sel dalam sistem imun, termasuk monosit,
makrofag, limfosit, sel mast, nature killer cell, dan sel dendritik. Selain memiliki
VDR, sel-sel itu juga memiliki aktivitas enzim CYP27B1 dan karenanya mampu
mensintesis dan mensekresi kalsitriol (Gambar 2).6
Dalam sistem imunitas inate, toll-like receptor (TLR) pada permukaan antigen
presenting cells (APC) diaktifkan setelah berikatan dengan komponen antigenik.
Aktivasi reseptor transmembran ini akan menginduksi aktivitas VDR dan
CYP27B1 dan memperbanyak produksi kalsitriol dalam sel. Calcitriol
merangsang APC untuk memproduksi anti-mikroba peptida cathelicidin dan
defensin dan meningkatkan kapasitas fagositik APC.6
Calcitriol juga berperan dalam aktivasi sel mast dan menghasilkan interleukin 10
(IL-10) tanpa menyebabkan degranulasi. Calcitriol menjaga stabilitas sel mast dan
mengurangi produksi histamin. Generated IL-10 akan menghambat produksi
imunoglobulin E-dependent pro-inflamasi mediator. Mediator akan mengurangi
leukotriene C4 yang terlibat dalam proses aktivasi eosinofil.4
Pada imunitas adaptif, aktivitas enzim CYP27B1 meningkat ketika limfosit T dan
B diaktifkan. Kalsitriol menghambat sistem imun adaptif dengan membatasi
proliferasi dan diferensiasi limfosit B menjadi sel plasma. Kalsitriol menghambat
proliferasi dan fungsi T helper-1 dan T helper-17, tetapi meningkatkan T helper-2
dan sel T regulator. Selain itu, calcitriol juga mempengaruhi kapasitas sel
dendritik dengan mengurangi kemampuannya dalam menyajikan antigen. Efek
calcitriol dalam menekan sistem imunitas adaptif bermanfaat untuk beberapa
kondisi seperti penyakit autoimun.6,7
Pengujian Kadar Serum Vitamin D
Pemeriksaan calcidiol plasma merupakan pemeriksaan yang paling sensitif untuk
kadar vitamin D. Calcidiol memiliki waktu paruh 19-31 hari dan menunjukkan
tingkat vitamin D yang diperoleh dari makanan dan disintesis di kulit selama
beberapa minggu hingga berbulan-bulan. Ilmuwan endokrin menemukan tingkat
normal kalsidiol adalah 30-100 mg / mL, dengan kekurangan terjadi pada 21-29
mg / mL, dan defisiensi terjadi di bawah 20 mg / mL.1,2

Kebutuhan Vitamin D
Menurut Recommended Dietary Allowance (RDA), kebutuhan vitamin D untuk
bayi baru lahir dan bayi di bawah tiga bulan adalah 400 International Unit (IU).
ASI mengandung sejumlah kecil vitamin D dan oleh karena itu bayi yang disusui
dianjurkan untuk memiliki paparan sinar matahari yang memadai. Untuk bayi
yang lebih tua dari tiga bulan, kebutuhan vitamin D adalah 400 IU untuk
mendukung pertumbuhan dan mineralisasi tulang. Untuk orang dewasa dan orang
yang berusia di atas 70 tahun, kebutuhan vitamin D masing-masing adalah 600 IU
dan 800 IU. Paparan sinar matahari yang adekuat sehingga menimbulka eritema
minimal pada wajah, leher, dan kaki selama 15 menit akan menghasilkan 7200 IU
untuk setiap paparan.8 Populasi orang dewasa dengan risiko defisiensi vitamin D
yang tinggi harus mengonsumsi 1000 IU vitamin D setiap hari untuk
mempertahankan kadar vitamin D dalam darah normal. Bayi di bawah satu tahun
dengan defisiensi vitamin D dianjurkan untuk menerima 400 IU suplemen setiap
hari. Kebutuhan vitamin D sesuai dengan Kecukupan Gizi (Angka Kecukupan
Gizi) di Indonesia pada tahun 2013 berbeda dari yang direkomendasikan oleh
RDA, seperti yang ditunjukkan pada tabel 1.

Hipovitaminosis D
Hipovitaminosis D adalah suatu kondisi di mana kadar serum kalsidiol di bawah
kisaran normal. Gejala awal tidak spesifik dan mungkin subyektif, termasuk
kelemahan, kelelahan, kantuk, gangguan mood, dan defisiensi imun. Keadaan
yang lebih parah mengarah ke Rickettsia dengan osteoporosis, patah tulang,
anomali pertumbuhan gigi, serta penutupan dini lempeng epifisis pada anak-anak.

Hipervitaminosis D
Asupan vitamin D yang berlebihan dikaitkan dengan peningkatan kadar kalsidiol
dalam sirkulasi. Gejala toksisitas tidak spesifik dan mungkin termasuk pusing,
muntah, kehilangan nafsu makan, sembelit, kelemahan, dan penurunan berat
badan.1,2 Pada hipervitaminosis D, penyerapan kalsium usus meningkat dan terjadi
resorpsi kalsium tulang, menyebabkan hiperkalsemia, penurunan kadar hormon
paratiroid dan laju filtrasi glomerulus, yang menyebabkan gangguan homeostasis
kalsium.1 Meningkatnya kadar kalsium dan fosfat dalam jangka panjang akan
menyebabkan pengendapan kalsium dan fosfat dalam ginjal, jantung, paru-paru,
dan pembuluh darah.1,2 Hypercalciuria akan menginduksi presipitasi kalsium dan
fosfat dalam tubulus ginjal dan membentuk batu.2

Manfaat Pemberian Oral Vitamin D Dalam Dermatologi


Vitiligo
Mekanisme peran vitamin D dalam vitiligo ditunjukkan dalam regulasi sistem
kekebalan tubuh, khususnya dalam sel T-helper seperti yang disebutkan
sebelumnya. Ada dua penelitian selama lima tahun terakhir yang melaporkan
pengobatan yang berhasil menggunakan pemberian vitamin D oral secara vitiligo.
Pada 2013, Danilo et al.10 melakukan penelitian label terbuka pada enam belas
pasien vitiligo berusia 18 tahun ke atas di Sao Paulo Brasil. Dalam penelitian ini,
35.000 IU vitamin D3 oral diberikan setiap hari selama enam bulan dan
menunjukkan hasil yang memuaskan. Evaluasi pasien dilakukan dengan
menggunakan dokumentasi sebelum dan sesudah terapi. Ukuran lesi dihitung
menggunakan skala penilaian kuartil. Studi ini menemukan 32% pasien memiliki
repigmentasi hingga 75%, 32% memiliki repigmentasi 50%, dan sisanya memiliki
repigmentasi hingga 25%.
Selain populasi orang dewasa, vitamin D oral juga dapat diberikan pada populasi
anak dengan vitiligo. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Chris dan
dipresentasikan dalam Pertemuan ke-9 Gabungan Endokrinologi Pediatrik pada
2013 di Italia menunjukkan bahwa pemberian vitamin D3 oral dikombinasikan
dengan kortikosteroid topikal secara signifikan mengurangi ukuran lesi. Penelitian
ini dilakukan selama enam bulan pada 30 anak-anak berusia sepuluh tahun rata-
rata yang belum pernah menjalani perawatan sebelumnya. Studi ini
membandingkan kombinasi kortikosteroid topikal dan vitamin D oral dengan
kortikosteroid topikal saja. Hasilnya menunjukkan pengurangan ukuran lesi dari
66,1 cm2 menjadi 48,0 cm2 pada kelompok kasus, dibandingkan dengan
peningkatan ukuran lesi dari 34,8 cm2 menjadi 53,5 cm2 pada kelompok kontrol.11
Sayangnya, penelitian ini belum dipublikasikan dan dosis vitamin D oral belum
dapat dikonfirmasi.
Psoriasis
Pada psoriasis, terjadi proliferasi keratinosit yang sangat tinggi. Terapi saat ini
bertujuan untuk mengendalikan prosesnya. Peran vitamin D dalam kondisi ini
adalah untuk membatasi proliferasi keratinosit.
Perez et al12 melakukan penelitian pada tahun 1996 pada 85 pasien psoriasis yang
menerima 400 IU vitamin D3 oral setiap malam dengan peningkatan dosis 400 IU
setiap dua minggu selama 36 bulan. Evaluasi dilakukan setiap bulan dengan
menghitung skor indeks keparahan area psoriasis (PASI) sebelum dan setelah
terapi. Studi ini menemukan 88% pasien membaik, 26,5% memiliki total remisi,
26,3% memiliki remisi parsial, dan 25,3% hanya memiliki sedikit remisi.
Pada 2013, Danilo et al.10 melakukan studi label terbuka pada pasien dengan
psoriasis, pemberian vitamin D3 oral dengan dosis 35.000 IU setiap hari selama
enam bulan. Penelitian ini dilakukan di dua klinik dermatologi di Sao Paulo Brasil
untuk sembilan pasien berusia di atas 18 tahun. Evaluasi pasien melibatkan
perhitungan skor PASI sebelum dan sesudah terapi. Studi ini menemukan semua
pasien mengalami perbaikan lesi yang signifikan. Analisis data statistik
menunjukkan korelasi negatif antara tingkat calcidiol dan skor PASI pada pasien
psoriasis. Semakin tinggi tingkat calcidiol, semakin kecil skor PASI pasien; ini
menunjukkan perbaikan klinis lesi psoriatik dengan pemberian vitamin D oral.
Dermatitis atopik
Beberapa penelitian tentang pemberian vitamin D oral pada dermatitis atopik
masih memberikan hasil yang kontroversial. Ada perbedaan dalam menyimpulkan
apakah kadar vitamin D darah dikaitkan dengan keparahan lesi dermatitis atopik.
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap hasil tersebut tetap dipelajari.
Amestejani et al.13 tahun 2012 melakukan uji coba acak, tersamar ganda, dan
terkontrol plasebo pada 60 anak yang dibagi menjadi dua kelompok. Pada
kelompok kasus, vitamin D3 oral dengan dosis 1.600 IU diberikan selama enam
puluh hari. Keparahan lesi dinilai menggunakan scoring atopic dermatitis
(SCORAD) dan skor keparahan tiga item sebelum dan sesudah terapi. Hasilnya
menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam keparahan lesi pada kelompok
kasus sedangkan kelompok plasebo tidak menunjukkan perbaikan.
Pada 2013, sebuah studi oleh Hatta et al.14 membandingkan pemberian vitamin D
oral pada populasi dewasa dengan dermatitis atopik. Ini adalah penelitian
terkontrol acak tersamar ganda pada enam puluh subjek yang dibagi menjadi dua
kelompok. Dalam penelitian ini, tingkat cathelicidin diukur sehubungan dengan
perannya dalam patogenesis dermatitis atopik. Kelompok kasus memiliki vitamin
D3 dengan dosis 4.000 IU setiap hari selama tiga minggu dan kelompok kontrol
memiliki plasebo. Studi ini menemukan korelasi antara peningkatan kadar vitamin
D dengan tingkat cathelicidin dalam lesi kulit, tetapi tidak ada korelasi antara kulit
sehat pasien tanpa dermatitis atopik dan kulit sehat pasien dengan dermatitis
atopik. Tidak ada korelasi antara tingkat keparahan lesi dermatitis atopik dan
tingkat vitamin D darah. Keparahan lesi dermatitis atopik dinilai menggunakan
skor Rajka-Langeland.
Sebuah studi cross-sectional yang dilakukan di Children's Hospital of Wisconsin
pada 2013 oleh Chiu et al.15 mengevaluasi 94 anak usia 1-18 tahun dengan
dermatitis atopik. Evaluasi keparahan lesi dilakukan menggunakan sistem
SCORAD. Studi ini tidak menemukan korelasi antara tingkat vitamin D dan
keparahan lesi dermatitis atopik.
Pada 2013, Camargo et al.16 melakukan penelitian acak, double-blind, terkontrol
plasebo pada 104 anak-anak berusia sembilan tahun rata-rata dengan lesi
dermatitis atopik selama musim dingin di Boston. Subjek menerima vitamin D3
oral dengan dosis 1.000 IU setiap hari selama sebulan. Keparahan lesi dinilai
menggunakan area eksim dan indeks keparahan (EASI) sebelum dan sesudah
terapi. Studi ini menemukan peningkatan signifikan dalam skor EASI pada semua
subjek penelitian.
Urtikaria
Terapi vitamin D oral pada urtikaria memberikan manfaat perbaikan gejala yang
signifikan. Serangkaian kasus retrospektif yang disajikan pada tahun 2011 oleh
Goetz17 melaporkan 50.000 IU pemberian vitamin D sebagai terapi tambahan di
urtikaria. Terapi diberikan setiap minggu selama dua belas minggu pada 57
pasien. Studi ini menemukan 70% pasien mengalami peningkatan lesi total yang
mulai terjadi pada minggu keempat terapi.
Mirip dengan penelitian sebelumnya, studi prospektif double-blind di Nebraska
pada tahun 2014 oleh Rorie et al.18 menemukan gejala membaik setelah
pemberian vitamin D3 oral. Penelitian ini dilakukan pada 42 pasien dengan
urtikaria kronis yang sebelumnya telah menerima terapi yang terdiri dari setirizin,
ranitidin, atau montelukast selama dua belas minggu. Kelompok pertama
menerima dosis 600 IU dan kelompok kedua menerima 4.000 IU setiap hari
selama dua belas minggu. Keparahan lesi urtikaria dinilai menggunakan skor
keparahan gejala urtikaria saat sebelum penelitian, pada minggu pertama dan
minggu keenam, dan pada akhir penelitian. Studi ini menemukan 40% perbaikan
gejala pada kelompok kedua tetapi tidak ada perbaikan pada kelompok pertama.
Peran vitamin D dalam sistem imunitas juga bermanfaat untuk urtikaria fisik
karena berbagai penyebab. Pemberian vitamin D selama beberapa bulan dapat
memperbaiki gejala yang ada. Sebuah laporan kasus oleh Varney dan Warner4
pada 2014 menunjukkan lima kasus urtikaria di klinik alergi dan imunologi
Rumah Sakit St. Helier menerima vitamin D3 oral dengan dosis 2.000-5.000 IU
setiap hari selama 2-4 bulan yang menunjukkan perbaikan gejala yang signifikan.
Perbedaan usia, etnis, dan terapi sebelumnya tidak mempengaruhi hasilnya.
Pasien ditindaklanjuti dan berbagai tingkat kekambuhan ditemukan dalam 2-48
bulan kemudian.
Pada tahun yang sama, Boonpiyathad et al.19 melakukan studi prospektif kontrol
kasus pada enam puluh pasien dengan urtikaria spontan kronis di klinik alergi
Rumah Sakit Phramongkutklao Bangkok. Para pasien telah menerima terapi yang
terdiri dari 10 mg cetirizine dua kali sehari, 10 mg loratadine dua kali sehari, 5 mg
levocetirizine dua kali sehari, 5 mg desloratadine dua kali sehari, atau 180 mg
fexofenadine dua kali sehari. Pasien dengan tingkat vitamin D <30 mg / mL
menerima vitamin D oral. Penelitian sebelumnya menggunakan vitamin D3 oral,
sedangkan penelitian ini menggunakan vitamin D2 oral dengan dosis 20.000 IU
setiap hari selama enam minggu. Keparahan dievaluasi menggunakan skor
aktivitas urtikaria. Studi ini menemukan korelasi antara tingkat vitamin D dan
tingkat keparahan lesi urtikaria.
Kesimpulan
Vitamin D dan analognya memberikan manfaat untuk pengelolaan berbagai
penyakit kulit. Beberapa penelitian menunjukkan korelasi antara penyakit kulit
dan tingkat vitamin D pasien. Terbatasnya jumlah penelitian tentang vitamin D
sebagai terapi primer atau tambahan untuk penyakit-penyakit tersebut
berkontribusi pada penggunaannya yang terbatas. Diperlukan standarisasi dosis
vitamin D, karena tidak semua suplemen vitamin D memberikan perbaikan klinis,
studi lebih lanjut diperlukan.

Referensi
1. Bender D. Nutritional biochemistry of the vitamins. 2nd ed. Cambridge:
Cambridge University Press;2003. p.77-107.
2. Combs GF. The vitamins: fundamental aspects in nutrition and health. 3rd ed.
New York: Elsevier Academic Press;2008. p.14579.
3. Bikle D. Extrarenal synthesis of 1,25hidroxyvitamin D and its health
implications. In: Vitamin D: physiology, molecular biology, and clinical
applications. Holick M, editor. 2nd ed. Boston: Humana Press;2010. p.276-95.
4. Varrney VA and Warner A. The successful use of vitamin D in physical
urticaria. J Allergy Ther. 2014;5(6).
5. Combs G. The vitamins: fundamental aspects in nutrition and health. 3rd ed.
New York:Elsevier;2008. p.145-79.
6. Holick M. Vitamin D and health: evolution, biologic functions, and
recommended dietary intakes for vitamin D. In: Vitamin D: physiology,
molecular biology, and clinical applications. Holick M, editor. 2nd ed. Boston:
Humana Press;2010. p.3-33.
7. Lehmann B. The vitamin D3 pathway in human skin and its role for regulation
of biological processes. Photochem Photobiol. 2005;81(6):1246-51.
8. Calvo M, Whiting S. Determinants of vitamin D intake. In: Vitamin D:
physiology, molecular biology, and clinical applications. Holick M, editor.
2nd ed. Boston:Humana Press;2010. p.361-82.
9. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2013. Tabel angka kecukupan
gizi 2013 bagiorang Indonesia. Accessed on 25 December 2014, from:
http://gizi.depkes.go.id/download/AKG2013.pdf.
10. Danilo C, Finamor, Rita S, Luiz C, Neves, Gutierrez, et al. A pilot study
assessing the effect of prolonged administration of high daily doses of vitamin
D on the clinical course of vitiligo and psoriasis. Dermato-Endocrinol.
2013;5:222-34.
11. Berrie C. Combining vitamin D and a topical corticosteroid reduces lesions in
children with vitiligo vulgaris and vitamin D deficiency [update 24th
September 2013]; Accessed on 24th January 2015 from:
http://www.firstwordpharma.com/node/1141418.html
12. Perez A, Raab R, Chen T, Turner A, Holick M. Safety and efficacy of oral
calcitriol (1,25dihydroxyvitamin D3) for the treatment of psoriasis. Br J
Dermatol. 1996;134:1070-8.
13. Amestejani M, Salehi B, Vasigh M, Sobhkhiz A, Karami M, Alinia H, et al.
Vitamin D supplementation in the treatment of atopic dermatitis: a clinical
trial study. J Drugs Dermatol. 2012;11:327-30.
14. Hatta T, Paul K, Michelle J, Meggie N, Aimee P, Don U, et al. A randomized
controlled double-blind investigation of the effects of vitamin D dietary
supplementation in subjects with atopic dermatitis. J Eur Acad Dermatol
Venereol. 2013:1-9.
15. Chiu Y, Havens P, Siegel D, Ali O, Wang T, Holland KE, et al. Serum 25-
hydroxyvitamin D concentration does not correlate with atopic dermatitis
severity. J Am Acad Dermatol. 2013;69(1):40-6.
16. Camargo C, Ganmaa D, Sidbury R, Erdenedelger K, Radnaakhand M,
Khandsuren B. Randomized trial of vitamin D supplementation for winter-
related atopic dermatitis in children. J Allergy Clin Immunol.
2014;134(4):831-5.
17. Goetz D. Idiopathic itch, rash, and urticaria/angioedema merit serum vitamin
D evaluation: a descriptive case series. W V Med J. 2011;107(1):14-20.
18. Rorie A, Whitney S, Goldner, Lyden E, Poole J. Beneficial role for
supplemental vitamin D3 treatment in chronic urticaria: a randomized study.
Ann Allergy Asthma Immunol. 2014;112(4):376-82.
19. Boonpiyathad T, Pradubpongsa P, Sangasapaviriya A. Vitamin D supplements
improved urticaria symptoms and quality of life in chronic spontaneous
urticaria patients: a prospective case-control study. DermatoEndocrinology.
2014;6(1):1-7.