Anda di halaman 1dari 56

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi


kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan,
mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD/MI) sampai dengan Sekolah Menengah Atas
(SMA/MA). Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu
pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual
maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip
secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996:3).

Pelaksanaan pembelajaran IPS Terpadu jenjang SMP, telah dilakukan


sosialisasi oleh Pusat Kurikulum Depdiknas dengan hasil berupa pola pikir dalam
pembelajaran terpadu sehingga lebih memudahkan dan mempercepat guru-guru
untuk melaksanakanya dengan beberapa referensi yang dapat dirujuk. Sehingga
untuk pengertian IPS terpadu, karakteristik, tujuan, konsep pembelajaran, strategi
pelaksanaan, peta kompetensi dasar yang berpotensi IPS terpadu, penentuan topik
dan penjabaran kompetensi dasar ke dalam indikator merupakan bahan yang
sumber/referensinya menurut Pusat Kurikulum.

Permberlakuan permendikbud No.35 tahun 2018 juga telah memberikan


rambu-rambu untuk mempersiapkan kehidupan masa kini dan masa depan peserta
didik, Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan
kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan
bagi kehidupan di masa kini dan masa depan, dan pada waktu bersamaan tetap
mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa dan orang
yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini.

Untuk memberikan contoh materi dari kajian ilmu sosial (sosiologi, geografi,
sejarah dan ekonomi) menjadi materi IPS yang terpadu telah disusun contoh
pengembanganya dalam arti keluasan dan kedalaman materi, kesulitan istilah, dan
keluasan pengembanganya merupakan bahan untuk guru, apabila akan disajikan ke
peserta didik tinggal memilih sesuai dengan lingkungan, kemampuan, sarana
prasarana, tingkat usia (faktor psikologisnya).
2

Melalui pembelajaran terpadu siswa dapat memperoleh pengalaman langsung


sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi
kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih
untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara holistik,
bermakna, otentik, dan aktif. Menurut Williams dalam Puskur Depdiknas (2007:2),
cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang guru sangat berpengaruh
terhadap kebermaknaan pengalaman bagi para siswa. Pengalaman belajar seharusnya
lebih menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran
lebih efektif. Kajian konseptual yang dipelajari dengan sisi bidang kajian yang
relevan akan membentuk skema (konsep), sehingga siswa akan memeperoleh
keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Perolehan keutuhan belajar, pengetahuan, serta
kebulatan pandangan tentang kehidupan dan dunia nyata hanya dapat direfleksikan
melalui pembelajaran terpadu.
Pembelajaran IPS di sekolah bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa
agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental
positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi
setiap masalah yang terjadi sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun
yang menimpa masyarakat secara umum (Trianto, 2010: 176). Tujuan ini sesuai
dengan karakteristik pembelajaran IPS yang merupakan kajian yang menghubungkan
fenomena dengan masalah sosial dan hidup manusia dengan lingkungannya. Melalui
pembelajaran IPS siswa dapat mengembangkan potensi serta memiliki kesadaran dan
kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya melalui pemahaman terhadap
nilai-nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.

Sebagai lembaga yang secara langsung mendidik anak-anak untuk


dipersiapkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, keterlibatan masyarakat serta
pemerintah sangat dituntut agar apa yang diharapkan dapat terwujud. Keterlibatan ini
menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi dengan adanya peningkatan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat di semua sektor
kehidupan manusia.

Guru sebagai orang kedua yang menangani anak sesudah orang tua, memiliki
peran yang sangat esensial dalam upaya pencapaian tujuan tersebut melalui berbagai
3

teknik dan cara yang profesional yang ditampilkannya di kelas. Untuk itu
pembekalan dan pengayaan serta pengembangan kemampuan profesional guru
mutlak untuk selalu dilakukan di setiap kesempatan waktu dan suasana.

Namun kenyataan di lapangan banyak ditemukan oleh peneliti yaitu


terjadinya kesenjangan dalam proses belajar mengajar diantaranya; kemampuan
profesional yang ditampilkan dan dimiliki guru pas-pasan, guru kurang
memperhatikan perkembangan sekitar. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang
dilakukan oleh Somantri dalam Rochmadi (1996:13) bahwa pembelajaran IPS di
sekolah sangat tergantung pada buku paket, tidak ada upaya untuk pengembangan
materi, minimnya penggunaan media dan alat peraga, dan kurang memperhatikan
kebutuhan siswa, kemampuan profesional yang ditampilkan dan dimiliki guru pas-
pasan, dan guru kurang memperhatikan perkembangan sekitar.

Akibat dari cara mengajar seperti ini, maka banyak ditemukan siswa-siswa
yang pasif dalam setiap pembelajaran di kelas, tidak terjadi suasana yang bernuansa
kreatif dialog, sarat dengan hafalan, tiada pengembangan berfikir yang dilakukan
guru, membosankan, serta adanya proses pembelajaran yang tidak bermakna (rote
learning). Padahal dalam Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Stodolsky dan
Suradisastra dalam Hasan (1991:87), yang mengemukakan bahwa sejak dulu
memang IPS kurang populer di kalangan siswa, karena banyak yang harus
dihafalkan, dan sering hafalan itu dilupakan karena setelah ulangan selesai tidak
digunakan lagi serta menyebabkan banyak anak tidak percaya dengan apa yang anak
pelajari dalam pendidikan IPS.

Pengembangan kegiatan pembelajaran IPS di SMP yang kajiannya


berdimensi pada konteks lingkungan sekitar siswa atau pengaitan latar kehidupan
masyarakat dengan berbagai aktivitas, fenomena, atau permasalahannya sebagai
sumber belajar nyata dalam proses pembelajaran IPS di SMP haruslah dilaksanakan.
Hal ini ditegaskan Sumaatmadja (1980:16) dalam tesis Kosasih (2012: 5) bahwa:

“ilmu pengetahuan sosial adalah bidang-bidang yang digali dari kehidupan


praktis sehari-hari di masyarakat. Oleh sebab itu, pengajaran IPS yang
melupakan masyarakat sebagai sumber dan obyeknya, merupakan suatu
bidang pengetahuan yang tidak berpijak kepada kenyataan. IPS yang tidak
4

bersumber kepada kenyataan tidak mungkin mencapai sasaran dan tujuannya,


dan tidak akan memenuhi tuntutan kemasyarakatannya”.
Pola pembelajaran pendidikan IPS yang berkaitan erat dengan konteks permasalahan
lingkungan masyarakat sekitar siswa baik sebagai sumber belajar maupun sebagai
media hendaknya disajikan secara nyata dengan memanfaatkan lingkungan sekitar.
Lingkungan sekitar siswa kaya akan sumber belajar yang essensial dalam
pembelajaran IPS. Permasalahannya, apakah hal tersebut sudah dimanfaatkan guru
secara optimal dalam mengajarkan IPS? Karena, berdasarkan beberapa penelitian
yang telah dilakukan ditemukan bahwa pembelajaran pendidikan IPS di SMP masih
berorientasi dan sarat dengan pengembangan keilmuan yang bersifat teoritis dan
konseptual, belum banyak memanfaatkan masyarakat sekitar sebagai sumber belajar,
serta sangat tergantung kepada buku paket yang isinya kadang tidak memiliki
keselarasan dengan lingkungan sekitar tempat siswa bertempat tinggal (Rochmandi,
1996:13).
Kondisi lain yang mendukung pentingnya pengembangan bahan ajar IPS
berbasis lingkungan ialah relevansi dan keterkaitan proses pembelajaran dengan
kondisi realitas sosial peserta didik dalam hidup dan kehidupan sosialnya. Mengingat
belajar merupakan pengembangan pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang baru
ketika seseorang berinteraksi dengan informasi dan lingkungan (Smaldino, 2011:11).
Dengan demikian, sudah seharusnya proses pendidikan yang dilakukan senantiasa
melibatkan interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan pendidik, dan tentunya
interaksi peserta didik dengan lingkungan belajarnya.

Kenyataan bahwa buku ajar yang digunakan sebagai sumber belajar dan
beredar di pasaran selama ini masih bersifat umum dan belum menyentuh potensi,
sumber daya, dan permasalahan yang dimiliki di setiap daerah, sehingga hal ini
berdampak pada semakin jauhnya materi pelajaran dengan nilai-nilai yang
berkembang dalam masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena selama ini guru
cenderung menggunakan materi ajar yang sudah ada dan tersedia tanpa keinginan
untuk mengembangkan materi ajar yang sesuai dengan kondisi yang ditemui di
lapangan selama proses pembelajaran.
5

Tabel 1.1
Analisis Buku Ajar IPS SMP
(Buku Rujukan Pemerintah)
No. Aspek yang diamati Buku Rujukan Keterangan
1. Standar v Sudah baik
Kompetensi/Kompetensi
Dasar
2. Materi Pelajaran v Sudah sangat baik, hanya
perlu penguasaan dan
contoh nyata disekitar
tempat tinggal siswa
3. Peta Konsep v Sudah baik
4. Soal Latihan v Sudah baik
5. Informasi tokoh/buku v Sudah ada, hanya terlalu
umum
6. Rangkuman v Sudah ada
7. Evaluasi v Sudah baik
8. Rujukan v Sudah ada, hanya kurang
detail
9. Kata Kunci v Sudah ada
10. Menawarkan kearifan - Sebagian sudah ada, tetapi
lokal sangat umum

Berdasarkan tabel tersebut, dapat dikatakan bahwa bahan ajar yang


digunakan lebih cenderung mengangkat isu-isu nasional dan sangat terbatas sekali
memunculkan khasanah kearifan lokal dari daerah. Praktis dengan keadaan dan
kenyataan yang ada, pembelajaran IPS semakin jauh dari nilai-nilai realita sosial
yang ada di tengah-tengah lingkungan belajar siswa, sehingga proses pembelajaran
semakin jauh dari nilai-nilai kebermaknaan. Salah satu sumber belajar yang dapat
digunakan ialah pengembangan buku ajar.

Pengembangan bahan ajar hendaknya memperhatikan perkembangan


kognitif siswa dan lingkungan belajar yang ada. Melalui inovasi sumber
pembelajaran dengan melakukan sebuah pengembangan bahan ajar diharapkan siswa
memiliki minat dan motivasi belajar yang lebih baik, kemampuan belajar secara
mandiri maupun berkelompok, dan tentunya memiliki wawasan yang baik terkait
keberadaan situs-situs Sejarah yang berada di sekitar lingkungan mereka dengan
demikian diharapkan mampu meningkatkan minat belajar peserta didik
6

Kurangnya perhatian siswa terhadap sumber belajar terutama disekitar


lingkungan sekolah maupun tempat tinggal membuat siswa hanya terpaku pada
pembelajaran hanya dari buku, tidak ada pemecahan masalah sosial yang harusnya
menjadi esensi dalam pembelajaran IPS. Dengan adanya bahan ajar yang
memberikan wawasan baru tentang lingkungan sehingga diharapkan mereka akan
lebih peka dalam belajar, khususnya dalam menggunakan sarana yang ada di
lingkungan sekitar.

Pembelajaran IPS seharusnya diajarkan dengan cara yang kreatif seperti


bermain peran, menggunakan permainan, menyenangkan, dan menantang sehingga
pelajaran IPS tidak lagi dianggap pelajaran yang membosankan, sekedar hapalan dan
juga penuh dengan cerita-cerita. Proses pembelajaran sejarah mempunyai fungsi
yang sangat penting dalam membentuk kepribadian bangsa, kualitas manusia dan
masyarakat Indonesia umumnya (Kartodirjo, 1999: 29; Supardan, 2015: 77 ; Uno,
2013: 106). Pernyataan tersebut tidaklah berlebihan mengingat karakter, dan
kepribadian siswa dapat dibentuk, salah satunya melalui materi pelajaran Sejarah.
Materi Sejarah mampu memberikan sumber inspirasi dan aspirasi pada diri peserta
didik tentang nilai-nilai kepahlawanan, perjuangan, dan pengorbanan. Namun sampai
saat ini masih terus dipertanyakan keberhasilannya, mengingat fenomena kehidupan
berbangsa dan bernegara Indonesia khususnya generasi muda makin hari makin jauh
dari nilai-nilai sosial dan pengorbanan, sehingga generasi saat ini diragukan
eksistensinya. Dengan kenyataan tersebut artinya ada sesuatu yang harus dibenahi
dalam pelaksanaan pembelajaran pada mata pelajaran Sejarah.

Oleh karena itu, pengembangan bahan ajar IPS berbasis lingkungan menjadi
amat penting karena mampu menghubungkan proses pembelajaran dengan kondisi
realitas sosial siswa dan kehidupan sosialnya dengan materi pembelajaran.
Mengingat belajar merupakan pengembangan pengetahuan, keterampilan, atau sikap
yang diperoleh di sekolah dengan kehidupan yang sebenarnya. Proses pembelajaran
yang berangkat pada kebutuhan serta berupaya memunculkan fenomena yang berada
di lingkungan peserta didik diharapkan mampu memberikan kebermanfaatan dan
kebermaknaan pada diri peserta didik mutlak diberikan. Pengembangan bahan ajar
yang berpijak dan berangkat dari lingkungan tempat peserta didik tinggal menjadi
7

amat penting demi terselenggaranya proses pembelajaran yang lebih bermakna.


Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas, maka penulis hendak mengkaji
tentang: “Pengembangan Bahan Ajar IPS Berbasis Lingkungan Pada Pokok
Bahasan Kehidupan Sosial Masyarakat Masa Islam”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan dalam penelitian


ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Pembelajaran IPS cenderung membosankan, kurang menarik, dan tidak


menantang bagi siswa
2. Hakikat pemnbelajaran IPS yang tidak tersampaikan
3. Pembelajaran siswa masih didominasi oleh guru
4. Pembelajaran IPS khususnya materi Sejarah dianggap tidak bermakna dan
kurang relevansinya dengan kehidupan peserta didik
5. Materi ajar IPS khususnya materi Sejarah belum memunculkan khasanah
lokalitas Sejarah lingkungan setempat sehingga siswa tidak mengetahuinya.

C. Cakupan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, batasan masalah yang diambil untuk
penelitian ini adalah pengembangan bahan ajar IPS berbasis lingkungan pada pokok
bahasan sejarah untuk siswa kelas VII SMP.

D. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah mengembangkan bahan ajar IPS pada pokok bahasan Sejarah
dengan memanfaatkan lingkungan sekitar siswa?
2. Bagaimana pelaksanaan pengembangan bahan ajar IPS berbasis lingkungan
pada pokok bahasan Sejarah?
8

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan penelitian sebagaimana yang


telah diuraikan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mengembangkan buku ajar IPS pada materi Sejarah berbasis lingkungan
2. Mengetahui efektifitas materi ajar IPS pada materi Sejarah berbasis
lingkungan dalam meningkatkan pemahaman siswa.

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian sebagaimana yang telah dijelaskan


sebelumnya, maka hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian pengembangan ini diharapkan dapat berguna untuk:


1. pengembangan keilmuan dalam pembelajaran IPS khususnya pada materi
Sejarah di SMP. Pembelajaran Sejarah diharapkan lebih bermakna jika
peserta didik merasakan kebermanfatan dari bahan pelajaran yang mereka
dipelajari. Proses belajar terjadi jika peserta didik mampu mengasimilasikan
pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru yang dipelajari melalui
bahan ajar yang sesuai dengan struktur kognitif dan struktur keilmuan, serta
memuat keterkaitan seluruh bahan (Sani, 2013: 15).
2. merupakan bahan kajian pada mata pelajaran IPS dalam meningkatkan
kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan lingkungan sebagai suplemen
dalam pelaksanaan pembelajaran.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian pengembangan ini diharapkan dapat berguna untuk:

2.1 Manfaat Bagi siswa

1. membantu dalam proses pembelajaran secara mandiri (self introduction) pada


siswa menengah atas/kejuruan, khususnya pada mata pelajaran Sejarah,
2. menguatkan teori yang didapat dengan pengalaman belajar langsung dari
lingkungan di masyarakat,
9

3. mendekatkan siswa dan masyarakat dalam proses pembelajaran pada materi


pelajaran Sejarah,
4. melatih dan mengembangkan kemampuan siswa agar siap berperan di tengah-
tengah masyarakat.

2.2 Manfaat Bagi Guru

1. Memberikan model alternatif pengembangan bahan ajar IPS pada materi


Sejarah di tingkat sekolah menengah pertama dengan memperhatikan
keunggulan dan nilai-nilai lokalitas Sejarah daerah khususnya daerah Cirebon,
2. Sebagai bahan rujukan dan informasi tentang pembelajaran Sejarah berbasis
lingkunan dengan nilai-nilai lokalitas Sejarah yang ada,
3. Dengan adanya pengembangan bahan ajar IPS berbasis lingkungan, diharapkan
mampu meningkatkan profesionalisme guru serta memberikan kemudahan
guru dalam proses mengajar di kelas.

2.3 Manfaat Bagi Sekolah

1. Jika pengembangan bahan ajar IPS ini berhasil, maka akan meningkatkan mutu
pendidikan di sekolah sesuai dengan Permendikbud No. 35 tahun 2018.
2. Sekolah akan dianggap baik di masyarakat karena siswa/siswinya dapat
berinteraksi secara aktif dengan masyarakat .
10

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR

A. Kajian Pustaka

1. Sumber Belajar

Sumber belajar sebagai segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai


tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang
(Mulyasa, 2008:178). Dengan demikian segala sesuatu baik yang sengaja dirancang
(by design) maupun yang telah tersedia (by utilization) yang dapat dimanfaatkan baik
secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk membuat atau membantu peserta
didik belajar disebut sumber belajar.
Proses komunikasi dalam dunia pendidikan tidak berbeda dengan proses
pembelajaran kecuali pada aspek konteks berlangsungnya komunikasi Proses Belajar
Mengajar (PBM). Lebih lanjut Mulyasa menjelaskan bahwa berbagai sumber belajar
yang ada dan mungkin didayagunakan dalam pembelajaran sedikitnya dapat
dikelompokkan sebagai berikut:

1. Manusia (people), yaitu orang yang menyampaikan pesan pengajaran secara


langsung; seperti guru, konselor administrasi, yang dirancang secara khusus dan
disengaja untuk kepentingan belajar (by design). Di samping itu ada pula orang
yang tidak diniati untuk kepentingan pembelajaran tetapi memiliki suatu
keahlian yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, misalnya
penyuluh kesehatan, polisi, pemimpin perusahaan, dan pengurus koperasi.
Orang-orang tersebut tidak dirancang, tetapi sewaktu-waktu bias dimanfaatkan
untuk kepentingan pembelajaran (learning resources by utilization).
2. Bahan (material),yaitu sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran; baik yang
diniati secara khusus seperti film pendidikan, peta, grafik, buku paket, dan
sebagainya, yang biasanya disebut media pembelajaran (instruktional media),
maupun bahan bersifat umum; seperti film dokumentasi.
3. Lingkungan (setting), yaitu ruangan dan tempat ketika sumber-sumber data
berinteraksi dengan para peserta didik. Ruangan dan tempat yang diniati secara
sengaja untuk kepentingan pembelajaran, misalnya ruangan perpustakaan,
ruangan kelas, laboratorium, dan ruangan mikro teaching. Disamping itu ada
11

pula ruangan dan tempat yang tidak rancang untuk kepentingan belajar, namun
bisa dimanfaatkan; misalnya museum, keraton, kebun raya, candi, dan tempat-
tempat beribadat.
4. Aktivitas (activities), yaitu sumber belajar yang merupakan kombinasi antara
suatu teknik dengan sumber lain untuk memudahkan (facilitates) belajar,
misalnya pembelajaran berprogram merupakan kombinasi antara teknik
penyajian bahan dengan buku; contoh lainnya seperti simulasi dan karyawisata.
5. Alat dan peralatan (tools and equipment), yaitu sumber-belajar untuk produksi
dan memainkan sumber-sumber lain. Alat dan peralatan untuk produksi
misalnya kamera untuk produksi foto, dan tape recorder untuk rekaman. Sedang
alat dan peralatan yang digunakan untuk memainkan sumber lain, misalnya
proyektor film, pesawat televisi, dan pesawat radio. Alat dan perlengkapan untuk
produksi, reproduksi pameran, peragaan, simulasi dan sebagainya. Biasanya
berbentuk peralatan seperti proyektor slide, overhead projector (OHP),
proyektor film, computer, video, taperecorder, pesawat radio, pesawat televisi
(TV), internet, dan sebagainya.

Dilihat dari perancangannya secara garis besar sumber belajar dapat


dibedakan menjadi dua macam menurut Ali (2007:544), yaitu:
1. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) yakni sumber-
sumber yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen
sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat
formal.
2. Sumber belajar yang dimanfaatkan (learning resources by utililization) yakni
sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan
keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan
pembelajaran.

Dari berbagai penjelasan mengenai sumber belajar, maka dapat diperoleh


asumsi bahwa sumber belajar yang dipakai dalam pendidikan atau latihan adalah
suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan bahan atau situasi yang diciptakan dengan
sengaja dan dibuat agar memungkinkan siswa belajar secara individual. Sumber
belajar seperti inilah yang disebut media pendidikan atau media instruksional.
12

Sumber belajar yang cocok bagi siswa harus memenuhi tiga persyaratan harus dapat
tersedia dengan cepat, harus memungkinkan siswa untuk memacu diri sendiri, harus
bersifat individual, misalnya harus dapat memenuhi berbagai kebutuhan siswa.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan


yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia, baik dalam
ekonomi, sosial, budaya maupun pendidikan saat ini. Oleh karena itu, agar
pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan IPTEK, maka kepala sekolah harus
mengadakan penyesuaian-penyesuaian, terutama yang digunakan guru, sehingga
mereka menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara baik berdaya guna dan
berhasil guna. Jika hal ini tercapai, maka tujuan pendidikan dan pembelajaran
tentunya tercapai pula.

Guru mempunyai tanggungjawab membantu peserta didik belajar agar belajar


lebih mudah, lebih lancar, lebih terarah dengan pemanfaatan sumber belajar. Oleh
sebab itu guru dituntut untuk memiliki kemampuan khusus yang berhubungan
dengan pemanfaatan sumber belajar. Menurut Ditjend. Dikti, guru harus mampu : (a)
menggunakan sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, (b)
mengenalkan dan menyajikan sumber belajar, (c) menerangkan peranan berbagai
sumber belajar dalam pembelajaran, (d) menyusun tugas-tugas penggunaan sumber
belajar dalam bentuk tingkah laku, (e) mencari sendiri bahan dari berbagai sumber,
(f) memilih bahan sesuai dengan prinsip dan teori belajar, (g) menilai keefektifan
penggunaan sumber belajar sebagai bagian dari bahan pembelajaran, (h)
merencanakan kegiatan penggunaan sumber belajar secara efektif.

Maka dengan demikian, bahwa peranan sumber belajar erat sekali


hubungannya dengan pola pembelajaran yang dilakukan. Pada kegiatan pembelajaran
individual, fokusnya adalah pada peserta didik, sedang bagi tenaga pengajar
memiliki peranan yang sama dengan sumber belajar lainnya. Sehingga peranan
sumber belajar sangat urgen. Dalam kegiatan pembelajaran individual, peranan
tenaga pengajar dalam interaksi dengan peserta didik lebih banyak berperan berperan
sebagai fasilitator, pengelola belajar, pengarah, pembimbing, dan penerima hasil
kemajuan belajar peserta didik. Penggunaan sumber belajar janganlah sekedar
dianggap sebagai upaya membantu guru yang bersifat pasif, artinya penggunaannya
13

semata-mata ditentukan oleh guru. Melainkan membantu anak didik untuk belajar,
kalau perlu dengan cara individual artinya anak dapat berinteraksi secara individual
dengan media dan secara kelompok sesama teman di kelas.

Terkait dengan pemilihan sumber belajar, ada beberapa kriteria pemilihan


sumber belajar menurut Dick dan Carey dalam Aji (2016: 120), yaitu: (1) Kesesuaian
dengan tujuan pembelajaran, (2) Ketersediaan sumber setempat, artinya bila sumber
belajar yang bersangkutan tidak terdapat pada sumber-sumber yang ada maka
sebaiknya dibeli atau dirancang atau dibuat sendiri, (3) Apakah tersedia dana, tenaga,
dan fasilitas yang cukup untuk mengadakan sumber belajar tersebut, (4) Faktor yang
menyangkut keluwesan, kepraktisan, dan ketahanan sumber belajar yang
bersangkutan untuk jangka waktu yang relatif lama, dan (5) Efektifitas biaya dalam
jangka waktu yang relatif lama. Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi
pemilihan sumber belajar seperti ditetapkan Romiszowski, yakni: (1) Metode
pembelajaran yang digunakan, (2) Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, (3)
Karakteristik pebelajar, (4) Aspek kepraktisan dalam hal biaya dan waktu, dan (5)
Faktor terkait dalam penggunaannya.

Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pola interaksi dalam


pemanfaatan sumber belajar oleh tenaga pengajar dan peserta didik pada satuan
pendidikan, yaitu: (1) Tradisional pasif adalah pola interaksi pemelajar dengan
sumber belajar tenaga pengajar, di mana tenaga pengajar dljadikan sebagai satu-
satunya sumber belajar, tidak ada upaya pemelajar mencari sumber belajar lain diluar
guru/tenaga pengajar, (2) Tradisional aktif adalah pola interaksi pemelajar dengan
sumber belajar, di mana mahasiswa menjadikan dosen sebagai sumber belajar utama,
namun sudah ada upaya untuk menemukan sumber belajar lain secara parsial guna
melengkapi pesan-pesan yang diperoleh dari dosen, (3) Pola interaksi berbagai Arah
adalah pola interaksi antara pembelajar dengan aneka sumber belajar, di mana
pemelajar menempatkan seluruh sumber belajar dalam posisi setara, dan (4) Interaksi
mandiri adalah pola interaksi pemelajar dengan sumber belajar di mana pemelajar
aktif berinteraksi secara mandiri dengan sumber belajar tanpa kontrol dari tenaga
pengajar.
14

Dalam kaitan dengan pemanfaatan aneka sumber belajar perlu disesuaikan


dengan kebutuhan, efisiensi, dan efektivitas penggunaannya. Memilih aneka sumber
belajar yang dimanfaatkan guru dan tenaga pengajar agar berpedoman pada asas
idealitas seperti yang ditetapkan Holden, yaitu: (1) aman, menyenangkan, dan aman
dipergunakan, (2) Terkini, (3) mudah diperoleh dan dipergunakan, (4)mampu
memberikan informasi yang dibutuhkan, (5) menyediakan pengalaman belajar sesuai
dengan karakteristik pembelajar.

Sejalan dengan pendapat di atas, Djahiri (2000: 18) mengemukakan pula


fungsi sumber belajar, yaitu sebagai sumber kajian yang secara lengkap dan lebih
jauh, juga berperan sebagai media pengembangan kepenasaranan (curiousity)
pembakuan proses dan kemampuan serta kegemaran membaca (reading, reading
ability and culture), serta latihan pengembangan kemampuan belajar (learning skill)
khususnya kemampuan akademik, pembentukan sikap (concept formation = self
concept) dan daya pikir yang nalar (thinking/critical/analysing/evaluate skill).
Dengan kata lain, sumber belajar berfungsi memperkuat upaya men-CBSA-kan
peserta didik dengan kadar yang lebih tinggi, di samping memperluas dan
meningkatkan hasil belajar secara kuantitatif maupun kualitatif. Belajar pada
hakikatnya adalah suatu interaksi antara individu dengan lingkungan.

2. Lingkungan Sebagai Sumber Belajar

Lingkungan atau environment adalah mencakup segala hal yang ada di sekitar
kita. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna
dan/atau pengaruh tertentu kepada individu. memaknai lingkungan sebagai ”segala
sesuatu yang ada di sekitar manusia yang berpengaruh terhadap sifat-sifat
pertumbuhan manusia yang bersangkutan” (Sumaatmadja, 1996: 30).

Sedangkan lingkungan sebagai sumber belajar dilihat dari ragamnya, sumber


belajar dapat dibedakan menurut sifat dan pengembangannya (Solchan, 1994).
Menurut sifat dasarnya, sumber belajar dapat dibagi dua, yakni (a) sumber belajar
insani, dan (b) sumber belajar non insani. Sedangkan dilihat dari sifat
pengembangannya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (a) learning
15

resources by design, yaitu sumber belajar yang dirancang dengan sengaja


dipergunakan untuk kepentingan pembelajaran yang telah diseleksi, dan (b) learning
resources by utilitarian, yaitu sumber belajar (lingkungan) yang ada di sekeliling
sekolah yang dimanfaatkan untuk memudahkan peserta didik yang sedang belajar
dan sifatnya insidental.

Lingkungan menyediakan rangsangan (stimulus) terhadap individu, dan


sebaliknya individu memberikan respon terhadap lingkungan (Mangieri, 1984: 1).
Lebih lanjut Mangieri menjelaskan bahwa:
“Education is a lifelong process in which people learn to negotiate with their
world. Although others play significant role in this process, education is
essentially something people must do for themselves. Language is central to the
individual’s process of self-discovery and self-definition. It is the means by which
people explore and structure their worlds”.
Lingkungan merupakan dasar pendidikan dan pembelajaran yang sangat
penting. Lingkungan sebagai sumber belajar yang tidak habis-habisnya dalam
memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Semakin kita gali semakin banyak
yang didapatkan oleh peserta didik. Selain itu lingkungan sebagai sumber belajar
yang ilmiah menyediakan bahan-bahan yang tidak usah dibeli, misalnya udara,
cahaya, matahari, pepohonan, air sungai, rerumputan, dan sebagainya. Dengan
demikian, lingkungan sebagai sumber belajar bagi peserta didik memiliki nilai
ekonomis.

Pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar untuk pembelajaran


pada umumnya mempunyai berbagai fungsi dalam jurnal pendidikan dasar (Halimah,
2008: 10), di antaranya (1) untuk meningkatkan produktivitas pendidikan, (2)
memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan
mengurangi kontrol yang kaku dan tradisional, serta memberikan kesempatan bagi
peserta didik untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya, (3) memberikan
dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran, (4) lebih memantapkan
pembelajaran, dengan jalan meningkatkan kemampuan peserta didik dengan berbagai
media komunikasi serta penyajian informasi dan data secara lebih konkrit, (5)
memungkinkan belajar secara seketika.
16

Lingkungan dalam penelitian ini yang dimaksud adalah keraton sebagai


sumber belajar para siswa agar dioptimalkan pemanfaatannya dalam proses
pembelajaran untuk memperkaya bahan dan kegiatan belajar siswa di sekolah. Proses
pemanfaatan keraton sebagai sumber belajar IPS di SMPN 1 Cirebon dilakukan
dengan tiga cara yaitu pertama survey. Pemanfaatan keraton sebagai sumber belajar
menggunakan strategi survey dapat dilakukan dengan interview dan observasi. Siswa
dapat melakukan interview dengan petugas keraton, pengunjung keraton, dan
masyarakat di sekitar keraton. Observasi dapat dilakukan dengan cara siswa
mengamati bentuk dan corak keraton, lokasi keraton, dan kegiatan masyarakat di
sekitar keraton. Kedua, field trip (karyawisata) yaitu siswa dapat mengamati keraton
secara langsung, mencatat penjelasan dari tour guide, melakuakan wawancara
dengan petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar keraton. Ketiga, mengundang
manusia sumber (narasumber). Penggunaan narasumber dalam pembelajaran dapat
memperkaya wawasan dan pengetahuan siswa. Siswa dapat mengajukan pertanyaan
dan memperoleh penjelasan langsung tentang keraton di Cirebon dari narasumber.

Sumber pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar ini dapat


menumbuhkan berpikir kritis peserta didik, seperti yang dijelaskan jurnal Barton C
(2015: 183), yaitu:
“by making judgments about how items relate to each other, participants are led
to consider the abstract principles, patterns, or conceptual categories that guide
ther decisions—precisely the kinds of tacit understandings that otherwise may be
difficult to articulate. This kind of task is especially useful when researchers hope
to avoid imposing their own concepts on participants—and thus over determining
their responses—and instead want to give them the chance to articulate
categories that make sense to them. This is part of the long-standing quest in
anthropology and other social sciences to better understand how participants
themselves see the world (Bernard, 2006; Borgatti, 1999; weller&Romney,
1988)”.
Persepsi peserta didik terhadap pemanfaatan lingkunagan sekitar sebagai
sumber belajar ini adalah yang keberadaanya dekat dengan sekolah mereka. Hal ini
dijelaskan oleh Grosland, Sheppard & Katz (2015: 152) dalam jurnalny, dikarenakan
guru belum mengkaitkan sumber belajar ini pada materi,
“the conceptualization emphasizes the situated nature of emotions as cultural
artifacts that convey sociocultural messages. Generally, within this
conceptualization of emotions, the physiological and personal is deemphasized in
17

favor of the social, cultural, and historical contexts that influence the
constructions of emotions”.
Padahal, sumber belajar ini sangat menarik peserta didik untuk dapat lebih
mengenali lingkungan sosial disekitar kehidupan mereka. Dengan menggunakan
sumber belajar khususnya melalui keraton ini siswa dapat mengembangkan tentang
persepsi mereka bahwa ada bentuk akulturasi dari masa Hindu Budha sampai Islam
yang masih melekat sampai saat ini.

Persepsi seseorang dibangun oleh lingkungan sekitarnya yang disebut dengan


sosiokultural. Persepsi ini bersifat individual yaitu hanya dialami oleh satu peserta
didik, maksud saya persepsi antara perorangan itu berbeda. Apabila persepsi itu
dibangun oleh budaya melihat TV yang tanpa kontrol dari orang terdekatnya, maka
siswa yang masih sangat labil emosinya hanya dapat meniru peran idolanya tanpa
ada filter dari oang lain. Untuk mengendalikan hal ini, orang yang ada disekitar
kehidupan siswa yang memiliki kewajiban untuk memantaunya. Kewajiban ini
pastinya harus menjadi kesadaran orang tua, maka diharapkan orang tua peserta didik
ketika tidak memiliki keahlian khusus akan jauh lebih baik. Persepsi ini yang penulis
tujukan kepada peserta didik setelah mereka mempelajari akulturasi budaya dan
sejarah lokasi dengan sumber belajar disekitar lingkungan sekolah siswa.

Dalam jurnal Harris (2014: 337) mengungkapkan ketrekaitan antara sejarah


dan geografi juga memberikan focus dalam pendidikan yang baru, karir dan
kehidupan masyarakat (C3) kerangka kerja untuk social studies standar pemerintah
(NCSS, 2013). Persoalan-persoalan dapat dibahas peserta didik dibawah bimbingan
guru untuk mengungkapkan penyebab, akibat dan bagaimana pemecahannya. Secara
kritis dan tajam, peserta didik dilatih mengidentifikasikan masalahnya, membuat
perkiraan tentang relasi berbagai aspek sosial yang merupakan sebab-akibat masalah,
mencoba mengumpulkan atau menggali informasi berkenaan dengan masalah tadi,
dan akhirnya mereka dilatih menyusun alternatif solusi atau pemecahan masalah.

Melalui pembelajaran dengan materi keunggulan lokasi ini khususnya


mengenai perubahan dan kesinambungan masa Islam secara kronologis diharapkan
memiliki makna yang dapat ditangkap oleh siswa dan dapat menjadi bekal hidupnya
dalam hidup bermasyarakat dan dapat tercapai KI. 2 yaitu menjadi siswa yang
18

mampu menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli


(toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaanya.
Apabila dikaitkan dengan materi maka isu sosial yang penulias angkat ini telah
sesuai dengan yang ada di silabus K 2013 yaitu keunggulan lokasi dan kegiatan
ekonomi (pengaruh keunggulan lokasi terhadap kegiatan produksi, distribusi, dan
konsumsi). Sehingga, penulis dapat mengangkat isu sosial ini sebagai sumber materi
dan media pembelajaran yang sesuai dengan silabus.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan menurut Sumiati dan Asra dalam tesis
Rahmawati Isye (2013: 20) dalam mengelola sumber belajar yaitu:
a. Pengadaan dan pemanfaatan sumber belajar meliputi kegiatan :
1. mengidentifikkasi kebutuhan sumber dan sarana belajar
2. menginventarisir sumber dan alat pendukungnya di dalam maupun di
sekolah
3. menyesuaikan antara kebutuhan sumber dan sarana belajar yang tersedia
kemudian memodifikasinya.
b. memanfaatkan sumber dan sarana belajar, meliputi kegiatan :
1. mengidentifikasi kebutuhan sumber daya
2. mengidentifikasi potensi sumber daya yang tersedia dan dimanfaatkan untuk
pembelajaran
c. pengelompokkan sumber daya alam dalam kelompok : lingkungan alam sekitar,
perpustakaan, media pembelajaran cetak, nara sumber, karya wisata, media
pembelajaran elektronik, dan komputer.
d. Mencari dengan menganalisis kaitan antara kelompok sumber belajar dengan
mata pelajaran dan kompetensi yang hendak dicapai
e. Menentukan materi dan kompetensi untu pembelajaran
f. Pemanfaatan sumber belajar dalam proses pembelajaran
Penggunaan lingkungan sebagai media dan sumber belajar dalam proses
pengajaran memerlukan persiapan dan perencanaan yang seksama dari guru. Tanpa
perencanaan yang matang kegiatan belajar peserta didik tidak terkendali, sehingga
tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai dan peserta didik tidak melakukan kegiatan
19

belajar yang diharapkan. Kearifan lokal sebagai sebuah warisan nenek moyang yang
berkaitan dengan tata nilai kehidupan. Tata nilai kehidupan ini menyatu tidak hanya
dalam bentuk religi, tetapi juga dalam budaya, dan adat istiadat (Gunawan, 2015:
17-18). Ketika sebuah masyarakat melakukan adaptasi terhadap lingkungannya,
mereka mengembangkan suatu kearifan baik yang berwujud pengetahuan atau ide,
peralatan, dipadu dengan norma adat, nilai budaya, aktivitas mengelola lingkungan
guna mencukupi kebutuhan hidupnya. Sebuah kearifan yang berkaitan dengan
adaptasi terhadap lingkunga inilah yang disebut Suhartini sebagai kearifan lokal.

Berkaitan dengan hal tersebut, IPS sebagai suatu mata pelajaran yang
menggunakan pendekatan integrasi dari beberapa mata pelajaran, seharusnya dapat
lebih mempunyai arti bagi peserta didik serta untuk mencegah tumpang tindih
(Soemantri, 2001: 101). IPS merupakan penyederhanaan atau disiplin ilmu-ilmu
sosial humaniora serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan
secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.

Dari penjelasan di atas dinyatakan bahwa IPS merupakan kajian tepadu dari
ilmu-ilmu sosial untuk tujuan mengembangkan potensi siswa. IPS di sekolah menjadi
suatu studi secara sistematis dalam berbagai disiplin antara lain antropologi, ilmu
politik, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat, psikologi, agama, dan
sosiologi, sebagaimana yang ada dalam ilmu-ilmu humaniora, termasuk matematika
dan ilmu-ilmu alam. Tujuan utama dari IPS adalah agar para generasi muda mampu
mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan dan mampu membuat
keputusan demi kepentingan bersama sebagai warga masyarakat yang memiliki
kebudayaan yang beragam, sebagai masyarakat yang demokratis di dunia yang saling
tergantung satu sama lainnya.

Berbagai hasil penelitian tentang pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai


sumber belajar dalam pembelajaran IPS di SMP, sudah banyak dilakukan yang
menunjukkan keragaman hasil penelitian. Hal ini tampak dari berbagai pendapat
hasil penelitian, seperti tampak pada penelitian yang dilakukan oleh Hendarwati
(2013), Wurdjinem (2006), dan Nasution (1985: 125) menyatakan secara jelas
bahwa pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar dapat melatih kekritisan dan
ketajaman peserta didik, peserta didik dilatih mengidentifikasikan masalahnya,
20

membuat perkiraan tentang relasi berbagai aspek sosial yang merupakan sebab-
akibat masalah, mencoba mengumpulkan atau menggali informasi berkenaan dengan
masalah tadi, dan akhirnya mereka dilatih menyusun alternatif solusi atau pemecahan
masalah. Lebih lanjut Nasution menjelaskan bahwa pemanfaatan lingkungan sebagai
sumber belajar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara membawa
sumber-sumber dari masyarakat atau lingkungan ke dalam kelas dan dengan cara
membawa siswa ke lingkungan. Pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan
situs bersejarah (keraton) dilakukan dengan cara membawa siswa ke lingkungan.

Dari penjelasan tersebut, teknik yang dapat digunakan dalam pemanfaatan


lingkungan sebagai sumber belajar dalam penelitian ini akan menggunakan teknik
survei dan kerja lapangan. Teknik survei yakni dengan cara siswa secara langsung
mengunjungi lingkungan sekitar sekolah untuk mengenal lingkungan yang akan
dijadikan sebagai sumber belajar yang akan dibahas sesuai dengan materi
pembelajaran. Selain itu kerja lapangan yang dilakukan yaitu cara mengajar dengan
jalan mengajak siswa ke suatu tempat di luar sekolah yang bertujuan untuk
mengadakan observasi atau peninjauan ke lapangan (Roestiyah, 2008: 88).
Penggunaan teknik penyajian ini diharapkan agar siswa dapat langsung menghayati
sendiri keadaan lingkungan sekitar yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang
di bahas. Kegiatan ini dengan melakukan pengamatan oleh masing-masing kelompok
yang sebelumnya telah diberikan lembar observasi berupa tugas yang harus
dikerjakan siswa bersama kelompoknya untuk mencari jawabannya yang ditemukan
dilingkungan sekitar sekolah yang menjadi objek pengamatan yang berkaitan dengan
materi pembelajaran. Kemudian hasilnya akan di catat dan dilaporkan kepada guru
untuk dibahas dan disimpulkan bersama. Pengalaman dari belajar langsung ke
lingkungan sekitar inilah yang berguna bagi siswa untuk belajar dengan baik.
Dengan pengalamannnya itu mereka akan mengetahui seluk beluk tentang
lingkungan sekitar sekolah, mereka memahami masalah-masalah dan tindakan-
tindakan yang dapat dilakukan untuk menunjang pelestarian lingkungan hidup.
21

3. Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Pengertian IPS banyak dikemukakan oleh para ahli IPS atau Social Studies.
Di sekolah-sekolah di Amerika pengajaran IPS dikenal dengan Social Studies. Istilah
IPS merupakan terjemahan dari Social Studies, sehingga IPS dapat diartikan sebagai
“penelaahan atau kajian tentang masyarakat”(Suwito, 2013). Dalam mempelajari
masyarakat, guru dapat mengkaji dari perspektif sosial, seperti kajian melalui
pengajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik, pemerintahan
dan aspek psikologi sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Untuk memperoleh gambaran yang luas tentang IPS maka perlu
mengerti tentang beberapa pengertian tentang Social Studies dan pengertian IPS yang
dikemukakan oleh beberapa ahli.

Ruang lingkup keilmuan yang berkaitan dengan penelitian di bidang


pendidikan ini adalah pendidikan IPS sebagai ilmu-ilmu sosial (social studies as
social sciences education). Menurut NCSS dalam Supardan IPS dan tujuannya
pembelajaran di dalamnya adalah sebagai berikut, 1. Social studies merupakan mata
pelajaran diseluruh jenjang pendidikan persekolahan. 2. Tujuan utama pelajaran ini
adalah mengembangkan siswa untuk menjadi warga negara yang memiliki
pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan yang memadai untuk berperan serta
dalam kehidupan demokrasi. 3. Konten pelajarannya digali dan diseleksi dari
sejarah, dari ilmu – ilmu sosial, serta dalam banyak hal dari humoniora dan sains. 4.
Pembelajarannya menggunakan cara – cara yang mencerminkan kesadaran pribadi
kemasyarakatan, pengalaman budaya, dan perkembangan pribadi siswa.

Edgar B Wesley menyatakan bahwa “social studies are the social sciences
simplified for paedagogieal purpouse in school. The social studies consist of
Geografy, History, Economic, Sociology, Civics and variouscombination of these
subjects”. Yang kemudian pendapat ini diperkuat Jhon Jarolimek yang
mengemukakan bahwa “The social studies as part of elementary school curriculum
draw subject-matter content from the Social Science, History, Sociology, Political
Sience, Social Psychology, Phylosophy, Antropology, and Economic. The social
studies have been defined as “those portion of the social science selected for
instructional purpouses”.
22

IPS sebagai suatu mata pelajaran yang menggunakan pendekatan integrasi


dari beberapa mata pelajaran, agar pelajaran itu lebih mempunyai arti bagi peserta
didik serta untuk mencegah tumpang tindih. IPS merupakan penyederhanaan atau
disiplin ilmu-ilmu sosial humaniora serta kegiatan dasar manusia yang
diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan
pendidikan (Soemantri, 2001: 101). Sedangkan, ciri-ciri ilmu sosial menurut Dufty
(Zaini Hasan & Salladin, 1996: 10), antara lain: 1) pengetahuan yang terorganisir
yang mengkaji hubunganhubungan antar manusia, 2) pengetahuan valid dan yang
dapat diteliti, dalam arti terbuka untuk dikaji ulang dengan metode yang sama, 3)
teori serta konsep pengetahuan ini diperoleh dari kajian ilmiah, melalui tahapan-
tahapan masalah/pertanyaan, hipotesis, pengumpulan data, dan menganalisis data
setelah diukur tingkat validitas maupun reliabilitasnya, 4) kegiatan penelitian
tersebut dapat digunakan secara generalisasi mendapatkan teori, konsep, hukum,
maupun dalil dalam pengetahuan sosial. Definisi lain dikemukakan oleh National
Council for the Social Studies (NCSS) dalam Savage & Armstrong, 1996, yaitu:
“Social studies are the integrated study of the social sciences and humanities to
promote civic competence. Within the school program, social studies provides
coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology,
archeology, economics, geography, history, law, philosophy, political science,
psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the
humanities, mathematics, and the natural sciences. The primary purpose of
social studies is to help 8 young people develop the ability to make informed and
reasoned decision for the public good as citizens of a culturally diverse,
democratic society in an interdependen world”.
Mata pelajaran IPS menjadi fondasi penting pengembangan intelektual,
emosional, kultural, dan sosial siswa (Maryani, 2009:1). Hal ini karena pembelajaran
IPS adalah untuk menumbuhkembangkan cara siswa berfikir, bersikap, dan
berperilaku yang bertanggungjawab selaku individu, warga masyarakat, warga
negara, dan warga dunia. Program IPS bertujuan untuk membantu dan melatih
peserta didik untuk berkemampuan mengenal dan menganalisis suatu persoalan dari
berbagai sudut pandang secara menyeluruh (Supardan, 2015:17). Kemudian mata
pelajaran IPS menurut Towaf (2014:84), bertujuan antara lain agar siswa : (1)
mengenal konsep-konsep kehidupan yang ada di masyarakat dan lingkungannya; (2)
memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri,
23

memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial; (3) memiliki


komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan; (4)
berkemampuan dalam berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam
masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

Dari berbagai penjelasan di atas dinyatakan bahwa IPS merupakan kajian


tepadu dari ilmu-ilmu sosial untuk tujuan mengembangkan potensi siswa. IPS di
sekolah menjadi suatu studi secara sistematis dalam berbagai disiplin antara lain
antropologi, ilmu politik, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat,
psikologi, agama, dan sosiologi, sebagaimana yang ada dalam ilmu-ilmu humaniora,
termasuk matematika dan ilmu-ilmu alam. Tujuan utama dari IPS adalah agar para
generasi muda mampu mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan dan
mampu membuat keputusan demi kepentingan bersama sebagai warga masyarakat
yang memiliki kebudayaan yang beragam, sebagai masyarakat yang demokratis di
dunia yang saling tergantung satu sama lainnya.

Melalui pembelajaran IPS, siswa dilatih untuk menjadi insan yang cerdas
menghadapi perubahan diri maupun lingkungannya. Upaya ini agar mereka tidak
terjerumus ke dalam perilaku yang negatif terutama dari pengaruh arus globalisasi
yang menawarkan beragam nilai-nilai kehidupan. Potensi diri siswa di tingkat SMP
berkembang sangat pesat baik fisik, akal, maupun kejiwaan, hal ini berpengaruh pada
aspek kognitif, afektif, dan psikomotornya. Fisik siswa mengalami perkembangan
ciri-ciri biologis, mereka belajar menyesuaikan dengan kondisi perubahan dan harus
memahami tanggung jawab terhadap dirinya. Mereka sudah bisa memahami hal-hal
yang bersifat abstrak dan imajiatif, sehingga dapat membawa rekaman informasi
dalam memorinya untuk dihubungkan dengan hal-hal yang baru dipelajarinya.
Secara kejiwaan siswa di tingkat SMP masih dominan bersifat anak-anak terutama
ketika baru menjadi siswa kelas VII, sementara secara biologis mereka sudah menuju
kedewasaan, sehingga mereka memerlukan pendidikan yang lebih banyak
menyelesaikan permasalahan kehidupan.
24

3.1 Pendidikan IPS

Lingkungan sosial sebagai sumber belajar menurut Hendarwati (2013: 61)


berpijak pada pemikiran mengenai empat pilar belajar yang dikemukakan UNESCO,
yaitu:
a. Learning to know, yaitu proses pembelajaran yang memungkinkan siswa
menguasai tehnik menemukan pengetahuan dan bukan semata-mata hanya
memperoleh pengetahuan.
b. Learning to do, yaitu memberdayakan siswa agar mampu berbuat untuk
memperkaya baik fisik, sosial maupun budaya, sehingga siswa mampu
membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitar.
c. Learning to live together dengan membekali kemampuan untuk hidup bersama
orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling pengertian.
d. Learning to be adalah keberhasilan yang dicapai dari tiga pilar belajar diatas.

Berdasarkan salah satu komponen dari empat pilar tersebut, yaitu learning to
do, dalam memperkaya baik fisik, sosial maupun budaya, serta mampu membangun
pemahaman dan pengetahuannya maka guru dapat memanfaatkan lingkungan sekitar
siswa sebagai sumber belajar dalam pembelajaran IPS.

Selanjutnya, Sapriya (2012: 15) mengemukakan bahwa PIPS di Indonesia


baru diperkenalkan di tingkat sekolah pada awal tahun 1970-an dan kini semakin
berkembang sejalan dengan perkembangan pemikiran tentang Social Studies di
Negara-negara maju dan tingkat permasalahan sosial yang semakin kompleks. Lima
tradisi Social Studies, yaitu : (1). Social Studies as citizenship transmission; (2)
Social Studies as Social Sciences; (3). Social Studies as Reflective Inquiry; (4). It will
involve three clusters of objectives; (5). Atitudes and values. Pernyataan tersebut
diperkuat Supardan (2015: 17) yang menyatakan bahwa yang dimaksud pelajaran
IPS adalah program pembelajaran yang bertujuan untuk membantu dan melatih anak
didik, agar mampu memiliki kemampuan untuk mengenal dan menganalisis suatu
persoalan dari berbagai sudut pandang secara komperhensip. Dengan demikian
kajian IPS selalu berkembang mengikuti perkembangan manusianya sebagai objek
kajian ilmu sosial.
25

Secara garis besar, konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan


memiliki beberapa kelebihan menurut Hamzah dan Nurdin (2012: 146), antara lain
sebagai berikut:

1. Peserta didik di bawa langsung ke dalam dunia yang konkret tentang


penanaman konsep pembelajaran, sehingga peserta didik tidak hanya bisa
mengkhayalkan materi.

2. Lingkungan dapat digunakan setiap saat, kapan pun dan di mana pun
sehingga tersedia setiap saat, tetapi tergantung dari jenis materi yang sedang
diajarkan.

3. Konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan tidak membutuhkan


biaya karena semua telah disediakan oleh alam lingkungan.

4. Mudah untuk dicerna oleh peserta didik karena peserta didik disajikan materi
yang sifatnya konkret bukan abstrak.

5. Motivasi belajar peserta didik akan lebih bertambah karena peserta didik
mengalami suasana belajar yang berbeda dari biasanya.

6. Suasana yang nyaman memungkinkan peserta didik tidak mengalami


kejenuhan ketika menerima materi.

7. Memudahkan untuk mengontrol kebiasaan buruk dari sebagian peserta didik.

8. Membuka peluang kepada peserta didik untuk berimajinasi.

9. Konsep pembelajaran yang dilaksanakan tidak akan terkesan monoton.

10. Peserta didik akan lebih leluasa dalam berpikir dan cenderung untuk
memikirkan materi yang diajarkan karena materi yang diajarkan tersaji di
depan mata (konkret).

Dari beberapa kelebihan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa konsep


pembelajaran dengan menggunakan lingkungan memberikan peluang yang sangat
besar kepada peserta didik untuk meningkatkan hasil belajarnya, dan secara umum
pemanfaatan pembelajaran dengan menggunakan lingkungan dapat meningkatkan
motivasi belajar peserta didik.
26

4. Pengembangan Bahan Ajar IPS

Bahan ajar adalah isi yang diberikan kepada siswa pada saat berlangsungnya
proses belajar-mengajar, melalui materi ajar ini siswa diantarkan kepada tujuan
pembelajaran (Sudjana, 2013: 67). Bahan ajar hendaknya mampu meningkatkan daya
tarik dan rasa ingin tahu siswa, dengan demikian proses pembelajaran dapat
berlangsung menarik, aktif dan kreatif. Penyusunan dan pembuatan sebuah bahan
ajar sepatutnya melalui berbagai prosedur yang ketat dengan mempertimbangkan
kualitas isi dan tema-tema materi lokal yang cocok dan sesuai. Buku instructional
technology & media for learning memuat bahwa yang dikatakan bahan ajar adalah,
“Rancangan dan pemanfaatan bahan-bahan pengajaran sangat penting, karena
interaksi siswa dengan bahan-bahan itulah yang menciptakan dan memperkuat proses
belajar yang sebenarnya” (Smaldino, 2011: 9).

Pengembangan bahan ajar hendaknya mampu memberikan tempat kepada


siswa dalam menjawab berbagai problematika kehidupan hari ini sesuai dengan
tingkat kecerdasan dan pemahaman. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa
pendidikan yang tepat ialah ketika ia mampu menjawab persoalan-persoalan yang
dihadapi masyarakat setempat (Yamin, 2012: 215). Mengenai pengembangan buku
ajar Romiszowski (1986: 22) menyatakan bahwa pengembangan suatu bahan ajar
hendaknya mempertimbangkan 4 aspek yaitu aspek akademik, aspek sosial, aspek
rekreasi, dan aspek pengembangan pribadi.

Selanjutnya, tahapan pengembangan bahan ajar menurut Sanjaya (2008: 142)


terdiri dari: (1) mengidentifikasi kebutuhan materi yang perlu dibutuhkan, (2)
mengeksplorasi kondisi lingkungan wilayah tempat bahan ajar yang akan digunakan,
(3) menentukan masalah atau topik yang sesuai dengan kenyataan yang ada di
lingkungan peserta didik untuk diajarkan, (4) memilih pendekatan, latihan dan
aktifitas serta pendekatan prosedur pembelajaran, dan (5) menulis rancangan materi
bahan ajar.

Diperkuat oleh pendapat Wijaya (1992: 96) yang mengajukan beberapa hal
dalam pengembangan bahan ajar dalam pembelajaran, dengan memperhatikan dalam
penyusunannya, yakni: (1) tujuan-tujuan intruksional umum, (2) tujuan-tujuan
27

intruksional khusus, (3) topik yang akan dijadikan pangkal proses belajar mengajar,
(4) pokok-pokok materi yang akan dipelajari dan diajarkan, (5) kedudukan dan
fungsi buku ajar dalam kesatuan program yang lebih luas, (6) peranan guru dalam
proses belajar mengajar, (7) alat dan sumber yang akan dipakai, (8) kegiatan belajar
mengajar yang akan/harus dilakukan dan dihayati murid secara berurutan, (9)
lembaran-lembaran kerja yang akan dilaksanakan selama berjalannya proses belajar
ini.

5. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Tabel 2.1 Penelitian yang relevan

No. Penulis Judul Hasil Penelitian

1. Linda K. Teaching Social Skills to Tidak perlu mengubah struktur


Elksnin and Students with Learning and kelas kita saat ini, karena
Nick Elksnin Behavior Problems pengajaran keterampilan sosial
Intervention in School and dapat terjadi ketika situasi hadir
Clinic, January 1998, Vol 33 sendiri sepanjang hari. Dengan
No.3, 131-141 Published by mempromosikan perilaku
Hammill Institute on prososial melalui pengajaran
Disabilities and SAGE keterampilan sosial, akan lebih
meningkatkan peluang anak-
anak untuk sukses baik
sekarang maupun di masa
depan.
2. Wurdjinem Pengembangan Sumber Pemanfaatan lingkungan
Belajar IPS dengan sebagai sumber belajar dalam
Lingkungan Untuk IPS dapat meningkatkan
Meningkatkan Keterampilan keterampilan proses
Proses. Jurnal IPS. pembelajaran IPS
Bengkulu: Cakrawala
Pendidikan. 2006
3. Maladjim Pengembangan Perangkat Pengembangan Perangkat
28

Pembelajaran Berorientasi Pembelajaran Berorientasi


Pendekatan Penemuan dan Pendekatan Penemuan dan
Lingkungan Sebagai Sumber Lingkungan Sebagai Sumber
Belajar Untuk Belajar Untuk Meningkatkan
Meningkatkan Kualitas Kualitas Pembelajaran Biologi
Pembelajaran Biologi. Tidak menunjuukan bahwa
Diterbitkan. Tesis. lingkungan sekitar sebagai
Surabaya: Universitas sumber belajar dapat
Negeri Surabaya. 2003 meningkatkan kualitas
pembelajaran.
4. Sara Tofield, Zoos as a Source of Free Temuan penelitian untuk
Richard K. Choice Learning penyelidikan ini menunjukkan
Coll, Brent Journal Research in Science bahwa kebun binatang memiliki
Vyle and & Technological Education peran penting dalam
Rachel Volume 21, 2003. Pages: pembelajaran pilihan bebas,
Bolstad 67-99. dengan upaya pendidikan
mereka sangat terkait dengan
program pengayaan lingkungan
mereka. Studi ini menunjukkan
bahwa pengunjung kebun
binatang umum dan guru
sekolah dan kelompok sekolah
tidak selalu mengaitkan
kunjungan kebun binatang
dengan belajar. Meskipun
demikian, pembelajaran
memang terjadi saat berkunjung
ke kebun binatang ini. Bagi
pengunjung kebun binatang
umum ini terbatas, sedangkan
untuk kelompok sekolah dalam
29

penelitian ini, ada hasil belajar


yang kuat untuk sekolah dasar,
dan pembelajaran yang kurang
efektif untuk anak sekolah
menengah. Pembelajaran anak-
anak tampaknya paling efektif
bila ditargetkan pada aktivitas
spesifik, seperti kebutuhan
hewan dan desain pameran.
5. Julie The effects of environment‐ Hasil penelitian ini mendukung
(Athman) based education on students' penggunaan pendidikan
Ernst & critical thinking skills and berbasis lingkungan untuk
Martha disposition toward critical meningkatkan pemikiran kritis
Monroe thinking dan dapat digunakan untuk
Environmental Education memandu implementasi di masa
Research Vol. 10, No. 4, depan
November 2004: 507-522.
6. Enok Pengembangan Program Keterampilan sosial tidak hanya
Maryani, Pembelajaran IPS Untuk dapat dikembangkan melalui
Helius Meningkatkan Kompetensi materi saja tapi juga melalui
Syamsudin Keterampilan Sosial metode, media, dan evaluasi
Jurnal Penelitian Vol. 9 No. yang bervariasi. Untuk SMA
1 April 2009 (1-15) dapat dikembangkan
lintarkurikulum antardisiplin
ilmu sosial.. Materi yang
bermuatan current isu dan
problem solving, Cooperative
learning, baik melalui sistem
STAD ataupun Jigsaw, serta
evaluasi non tes, sumber belajar
lingkungan, media film,
30

kunjungan kerja lebih efektif


dalam mengembangkan
keterampilan sosial.
7. M. Ismail, Pengembangan Model Dalam kearifan lokal
Sukardi, dan Pembelajaran IPS Berbasis masyarakat Sasak terkandung
Su’ud Kearifan Lokal Masyarakat nilai-nilai dan unsur-unsur
Surachman Sasak: Ke Arah Sikap dan demokrasi yang dijalankan
Prilaku Berdemokrasi Siswa secara teguq (kuat dan utuh),
SMP. bender atau lomboq (lurus dan
Jurnal Pendidikan dan jujur), patut (benar), tuhu
Pengajaran, Jilid 42 No.2, (sungguh-sungguh), dan trasna
Juli 2009. Hal 136-144. (penuh rasa kasih sayang), yang
ditopang awiq-awiq (aturan)
dan sesengek (pribahasa) baik
yang positif maupun negatif.
Oleh karena itu disarankan
untuk melakukan transformasi
nilai-nilai dan unsur demokrasi
yang termuat dalam kearifan
lokal masyarakat Sasak
Lombok melalui pembelajaran
IPS.
8. Anna Students’ approaches to Terdapat variasi disiplin dalam
Parpala, Sari learning and their pendekatan pembelajaran.
experiences of the teaching–
Lindblom- learning environment in Selain itu, hasilnya
Yla ¨nne, different disciplines menunjukkan bahwa kedua
Erkki British Journal of pendekatan untuk belajar dan
Educational Psychology
Komulainen, disiplin memiliki efek pada
(2010), 80, 269–282
Topi pengalaman siswa dalam
Litmanen, lingkungan belajar-mengajar.
Laura Hirsto
31

9. I Wayan Pengembangan Bahan Ajar Hasil penelitian


Sukra Berbasis Kearifan Lokal mengungkapkan bahwa bahan
Warpala untuk Mata Pelajaran Sains ajar berbasis kearifan lokal
(2010) SMP memberikan kontribusi yang
positif untuk peningkatan
pemahaman konsep dan kinerja
ilmiah siswa. Di samping itu,
diperoleh bahan ajar berbasis
kearifan lokal berwawasan
kontekstual, yang valid, praktis,
dan efektif untuk mendukung
proses pembelajaran sains.
10. Michele Development of a Metric to Dengan analisis varian satu arah
Morrone, Test Group Differences in (ANOVA) untuk menguji
Ecological Knowledge as
Karen Mancl One Component of hipotesis nol bahwa tidak ada
& Kathleen Environmental Literacy perbedaan yang nyata dalam
Carr The Journal of tingkat rata-rata pengetahuan
Environmental Education,
lingkungan.
31 Mar 2010, 32:4, 33-42
11. Agus Effendi Implementasi Kearifan Pertama, minat dan gairah
S. Lingkungan Dalam Budaya belajar peserta didik mengalami
Masyarakat Adat Kampung peningkatan. Kedua, guru tidak
Kuta sebagai Sumber lagi menjadikan buku dan
Pembelajaran IPS. dirinya sebagai sumber
Edisi Khusus No.2 Agustus pembelajaran terpenting
2011, 164-177. ISSN 1421- sehingga sehingga dapat
565X. menutupi kelemahan yang
dimilikinya.
12. L.R.Retno Membangun Pendidikan Kearifan lokal dapat berfungsi
Susanti Karakter Di Sekolah : sebagai salah satu sumber
Melalui Kearifan Lokal nilainilai yang luhur bagi
maksud tersebut. Kearifan lokal
32

berfungsi sebagai penyaring


bagi nilai-nilai berasal dari luar,
kearifan lokal dapat juga
digunakan untuk meredam
gejolak-gejolak yang bersifat
intern. Upaya promosi nilai-
nilai luhur dalam kebudayaan
tertentu secara formal akan
menimbulkan apresiasi dan rasa
bangga terhadap nilai-nilai
tersebut.
13. Nuraini Pengembangkan Karakter Secara teoritis, pengembangan
Asriati Peserta Didik Berbasis karakter berbasis potensi diri
Kearifan Lokal Melalui belum diajarkan di sekolah
(2012) Pembelajaran Di Sekolah sekolah, namun secara praktis
telah diaplikasikan dan
dipraktekkan oleh siswa di
kelas maupun di lingkungan
sekolah
14. Nenni Pengembangan Bahan Ajar Hasil penelitian
Hendriani Sosiologi SMA berbasis mengungkapkan bahwa bahan
nilai-nilai Keimanan dan ajar Sosiologi berbasis nilai-
(2012) Ketakwaan nilai keimanan dan ketakwaan
memberikan kontribusi yang
positif untuk peningkatan
akhlak siswa.
15. Yatin Pengembangan Perangkat Perangkat pembelajaran dengan
Mulyono, Pembelajaran Dengan pendekatan scientific skill, lebih
Siti Harnina Pendekatan Scientific Skill baik diterapkan daripada
Bintari, Enni Teknologi Fermentasi perangkat pembelajaran
Suwarsi Berbasis Masalah lama.Perangkat ini valid
33

Rahayu, Lingkungan menurut penilaian pakar dan


Priyantini Jurnal Unnes Lembaran praktisi, efektif untuk
Ilmu Kependidikan Volume meningkatkan prestasi belajar
41, No 1 April 2012, 21-25. dan meningkatkan scientific
skill peserta didik.
16. Rifki Affandi Integrasi Pendidikan Pendidikan lingkungan hidup
Lingkungan Hidup Melalui dapat diintegrasikan ke dalam
Pembelajaran IPS di SD pembelajaran IPS di SD melalui
Sebagai Alternatif 6 standar kompetensi dasar..
Menciptakan Sekolah Hijau.

Pedagogia Vol 2 No. 1,


Februari 2013, Hal 98-108.
17. Farida Pengembangan Model Model Pembelajaran
Hanum Pembelajaran Multikultural multikultural terpadu
Setya Terintegrasi Mata Pelajaran menggunakan modul dapat
Raharja IPS di SD diterima para guru sebagai
model pembelajaran
Jurnal Penelitian Ilmu multikultural terintegrasi
Pendidikan Vol. 6 Nomor 2, dengan materi IPS. Kedua,
September 2013 model manajemen pendidikan
multikultural berbasis sekolah
dapat diterima para kepala
sekolah dan komite sekolah
untuk mengelola dan
menciptakan suasana kondusif
untuk pembelajaran
multikultural.
18. Siti Pendidikan Karakter Pada Pendidikan karakter dalam mata
Malikhah Mata Pelajaran IPS pelajaran IPS tidak terlepas dari
Towaf Jurnal Ilmu Pendidikan, Jilid totalitas karakter sebagai tujuan
34

20, No 1, Juni 2014, 75-85. sekolah. Dibutuhkan juga peran


guru di dalamnya.
19. John A. Cultural Learning Processes Pengembangan kebijakan
Hanschke through Local Wisdom: A proses pembelajaran untuk
Case Study on Adult and membangun sistem pendidikan
(2015) Lifelong Learning in yang solid pada pendidikan
Thailand Formal, Non Formal, dan
Informal. Pendidikan diarahkan
juga telah mengembangkan
dengan cara mengumpulkan dan
mengintegrasikan 'Kearifan
Lokal'. Menunjukan
pentingnya experience manusia
ke dalam apa yang telah
menjadi dikenal sebagai 'proses
pembelajaran budaya'. Kearifan
Lokal ini dipegang oleh
'Kebijaksanaan Guru’.
20. Unga Utari, I Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik berbasis
Nyoman Berbasis Kearifan Lokal di kearifan lokal dimaksudkan
Sudana Sekolah Dasar Dalam untuk tetap mempertahankan
Degeng, Menghadapi Masyarakat pengetahuan lokal dalam
Sa’adun Ekonomi Asea (MEA) menghadapi perkembangan dan
Akbar Jurnal Teori dan Ptaksis kemajuan pendidikan serta daya
Pembelajaran IPS Vol 1 No asing yang semakin ketat pada
1 April 2016, 39-44. era MEA.
21. F.S. Hutama Pengembahan Bahan Ajar Produk bahan ajar IPS berbasis
IPS Berbasis Nilai Budaya Using efektif dalam
Using Untuk Siswa SD meningkatkan kualitas
pembelajaran dan dapat
Jurnal Pendidikan Indonesia dikembangkan melalui modul
35

P-ISSN: 2303-288X E- siswa dan modul guru dan dapat


ISSN: 2541-7207 Vol.5, diterima dengan baik.
Nomor 2, Oktober 2016
22. Arif Model Pembelajaran IPS Melalui metode R&D diketahui
Purnomo, Pada Materi Kontroversi di bahwa pembelajaran materi
Abdul SMP Kota Semarang. kontroversi dalam bidang IPS
Muntholib, belum dikonstruksi dengan baik
san Syaiful Jurnal Penelitian Pendidikan oleh guru. Guru belum
Amin. Vol 33 No.1 Tahun 2016. melakukan analisis materi yang
dapat menumbuhkan daya
kritis dari siswa karena memuat
materi yang kontroversi.
23. Prasetyo Adi Pengembangan Model Menggunakan metode R&D
Nugroho Pembelajaran IPS Terpadu dengan merujuk Four-D Model,
Berbasis Lingkungan. model pembelajaran yang
dikembangkan layak digunakan
Jurnal Ilmu Pendidikan, Jilid berdasarkan penilaian ahli,
22, Nomor 2, Desember dengan skor tertinggi 96,4%.
2016, 125-133. Model pembelajaran dinyatakan
efektif untuk mengembangkan
pengetahuan dan sikap peduli
lingkungan melalui kegiatan
menulis.
24. Faizah Pembelajaran IPS Terpadu Pembelajaran IPS yang
Fahmi yang Menyenangkan menyenangkan dan bermanfaat
Dengan Pendekatan dalam mempelajari IPS adalah
Konstruktivistik. dengan menggunakan model
konstruktivistik. Dalam
Nusantara (Jurnal Ilmu mengevaluasi keberhasilan
Pengetahuan Sosial) Vol 1, belajar model konstruktivistik
Desember 2016. ISSN: dalam pendidikan IPS di SMP,
36

2541-657X. proses belajar nampaknya lebih


penting daripada hasil..
25. Ahmal Kearifan Lokal dan Upaya pencegahan kerusakan
Pendidikan IPS: Studi Peduli hutan dapat diberlakukan
Lingkungan Dalam Hutan dengan mengambil nilai
Larangan Masyarakat Adat kearifan lokal yang
Kampar. dikembangkan dalam
Sosio Didaktika : Social kurikulum pembelajaran IPS.
Science Educational Journal, Kearifan lokal yang berada
4 (1), Juni 2017, 61-70. P- dalam masyarakat setempat
ISSN: 2356-1386 e-ISSN: dijadikan sebagai sumber
2442-9430. belajar IPS, nilai-nilai yang
yang ada dalam kearifan lokal
diinternalisasikan dalam proses
pembelajaran.
26. Darmawati Kompetensi Guru Dalam (1)Kompetensi guru IPS dalam
Pelaksanaan Pembelajaran pendidikan lingkungan hidup di
IPS Berbasis Lingkungan SMPN 3 Kota Makassar kurang
Hidup Pada SMP Negeri 3 memuaskan. (2) Kendala-
Kota Makassar. kendala yang ditemukan dalam
pembelajaran pendidikan
UNM Environmental lingkungan hidup berasal dari
Journals (UEJ) Vol 1 No1, (a) guru, sarpras, yang belum
Desember 2017, hal 08-15. memadai, (b) biaya penunjang
P-ISSN: 2598-6090 dan e- pendidikan, (c) metode
ISSN: 2599-2902. pembelajaran, (d) guru IPS
belum pernah mendapat
bimbingan khusus.
27. Ibnu Hurri, Pembelajaran IPS Berbasis Pembelajaran IPS yang berbasis
Rohmat Nilai Kearifan Lokal Untuk kearifan lokal pada tingkat SMP
Widiyanto Meningkatkan Kepedulian merupakan salah satu strategi
37

Sosial Siswa SMP. yang tepat untuk menghindari


peserta didik dari pengaruh
Dwija Cendekia Jurnal Riset kemajuan IPTEK dan budaya
Pedagogik Vol 2 No.1, luar yang tidak relevan dengan
Agustus 2018. P-ISSN: nilai-nilai kebudayaan (kearifan
2581-1843 e-ISSN 2581- lokal) .
1835

B. Kerangka Teoritis
1. Teori Belajar dan Pembelajaran

Belajar adalah upaya memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan


sikap-sikap (Sagala, 2005: 13). Sedangkan, Sudjana (2000: 19) berpendapat bahwa
yang dimaksud belajar adalah interaksi stimulus dengan respon, merupakan
hubungan dua arah antara belajar dan lingkungan. Jadi dalam proses pembelajaran
peserta didik, seyogyanya selain merupakan transfer pengetahuan juga mampu
memasukkan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat yang tentunya terdapat
di lingkungan peserta didik. Hubungan antara peserta didik, bahan ajar, materi
pelajaran tentunya tidak bisa dilepaskan satu dengan lainnya. Belajar merupakan
pengembangan pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang baru ketika seseorang
berinteraksi dengan informasi dan lingkungan (Smaldino, 2011: 11).

Hal tersebut senada dengan pendapat Sanjaya (2005: 89) yang


mengungkapkan bahwa yang dimaksud belajar adalah sebagai proses perubahan
perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Sardiman (2007: 99)
mengemukakan bahwa Belajar adalah berbuat dan sekaligus merupakan proses yang
membuat anak didik harus aktif. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat
dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku atau pribadi
seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu yang diperoleh melalui
informasi dan interaksi peserta didik dengan lingkungan.

Belajar menghasilkan perubahan perilaku yang secara relatif tetap baik dalam
berfikir, merasa dan melakukan sebuah aktifitas. Perubahan tersebut terjadi sebagai
38

hasil dari latihan, pengalaman dan pengembangan yang saling berkaitan dalam
menunjang keberhasilan seseorang dalam kehidupannya. Proses belajar seorang
peserta didik diharapkan mampu menghasilkan perubahan perilaku peserta didik
yang sesuai dengan harapan masyarakat, perubahan tingkah laku inilah sebagai
cerminan hasil belajar. Belajar dikatakan berhasil apabila seseorang mampu
mengulang kembali materi yang telah dipelajari. Belajar memerlukan aktivitas yang
terjadi secara simultan, karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat (Learning by
Doing), berbuat untuk mengubah tingkah laku melakukan kegiatan. Tidak ada belajar
jika tidak terjadi aktivitas pembelajaran, oleh karena itu aktivitas merupakan prinsip
yang sangat penting di dalam interaksi pembelajaran. Oleh karena itu di dalam proses
belajar, siswa dituntut aktif agar segala potensi yang dimiliki dapat berkembang
secara optimal.

Proses belajar dan pembelajaran dalam suatu kegiatan mempunyai tujuan


dasar motivasi dan aktivitas belajar diri peserta didik, kedudukan pendidik dan usaha
mengelola interaksi belajar pembelajaran harus di pahami. Studi-studi dilapangan
menunjukkan bahwa siswa lebih banyak belajar jika pelajarannya memuaskan,
menantang, dan ramah serta mereka memiliki suara dalam pembuatan keputusan (De
Porter, 2014: 54). Seorang pendidik pada saat akan melaksanakan pembelajaran
harus menyiapkan bahan pelajaran mengenai setiap pokok/satuan bahasan kepada
peserta didiknya. Ia harus mengadakan persiapan terlebih dahulu. Hal ini
dimaksudkan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar, membuat
peserta didik antusias mengikuti proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran
yang telah di tetapkan dapat tercapai.

Proses pembelajaran yang dimaksudkan di sini merupakan interaksi semua


komponen/unsur yang terdapat dalam pembelajaran yang satu sama lainnya saling
berhubungan dan mendukung proses pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Komponen-komponen pembelajaran ini meliputi antara lain tujuan
pengajaran yang hendak dicapai, materi dan kegiatan pembelajaran, media dan alat
pengajaran, serta evaluasi sebagai alat ukur tercapai tidaknya tujuan pembelajaran itu
sendiri.
39

1.1 Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan


interaksi aktif anak dengan lingkungan. Teori perkembangan Piaget mewakili
konstruktivisme, yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses
dimana anak secara aktif membangun suatu makna dan pemahaman realitas melalui
pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka.

Teori Piaget menyamakan pengetahuan dengan struktur kognitif yang


memberikan potensi untuk menghadapi lingkungan dengan cara-cara tertentu
(Hergenhahn, 2014: 322). Strukur kognitif menyediakan kerangka bagi pengalaman,
yakni lingkungan memainkan peran besar dalam menciptakan struktur kognitif. Jadi,
menurut Piaget, anak dilairkan dengan beberapa skemata sensorimotor yang
memberi kerangka bagi interaksi awal mereka dengan lingkungannya. Setiap
pengalaman mengandung elemen yang harus diakomodasi oleh struktur anak.
Melalui interaksi dengan lingkungannya, struktur kognitif akan berubah, dan
memungkinkan perkembangan pengalaman terus-menerus. Dengan cara ini,
pertumbuhan intelektual yang dimulai dengan respons refleksif anak terhadap
lingkungan akan terus berkembang sampai anak mampu memikirkan kejadian
potensial dan mampu secara mental mengeksplorasi kemungkinan akibatnya.

Pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa dapat menemukan sendiri


dan mentransformasikan informasi baru sehingga memiliki pemahaman yang
mendalam. Paradigma ini didukung oleh teori konstruksivisme yang menyatakan
bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi komplek,
mengecek informasi baru dengan aturan lama dan merevisinya apabila aturan
tersebut tidak sesuai lagi. Pembelajaran merupakan proses interaksi antara guru dan
siswa yang berlangsung di sekolah. Dengan adanya interaksi tersebut, maka
pembelajaran dapat mempengaruhi perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan
siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkontruksi


pengetahuan baru. Siswa harus aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna
tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Siswa diberi kebebasan untuk
40

mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang segala sesuatu yang


dihadapinya, sehingga siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berpikir sendiri,
memecah masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis, kreatif, dan mampu
mempertanggungjawabkan pemikiran secara rasional.

Pembelajaran menurut Trianto (2007:5) pada hakikatnya adalah usaha sadar


diri seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarah pada interaksi siswa
dengan sumber belajar yang lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang
diharapkan. Selain itu, dapat juga diartikan bahwa pembelajaran adalah proses, cara,
dan perbuatan mempelajari (Suprijono, 2009:7). Pada pembelajaran, guru yang
mengajar dan dapat diartikan sebagai upaya mengorganisir lingkungan terjadinya
pembelajaran. Guru mengajar pada perspektif pembelajaran adalah guru
menyediakan fasilitas belajar bagi peserta didik untuk mempelajarinya. Jadi subjek
pembelajaran itu adalah para siswa. Hal ini, senada dengan pendapat Hergerhahn
(2014: 323) bahwa guru Piagetian akan lebih memperhatikan siswa secara individual.
Guru ini pertama-tama berusaha menentukan apa tahap perkembangan siswa tertentu
sebelum menentukan informasi apa yang akan diberikan. Mereka akan menyadari
bahwa mengetahui sesuatu tentang struktur kognitif siswa akan memampukan
mereka memberi siswa dengan informasi yang mudah untuk diasimilasi. Berikut
beberapa konsep teoretis utama dari teori Piaget (Hergerhahn, 2014:313-317), yaitu:
1.) Inteligensi
Menurut Piaget, tindakan yang cerdas adalah tindakan yang
menimbulkan kondisi yang mendekati optimal untuk kelangsungan hidup
organisme. Dengan kata lain, inteligansi memungkinkan organisme untuk
menangani secara efektif lingkungannya. Inteligensi adalah bagian integral
dari setiap organisme untuk selalu mencari kondisi yang kondusif untuk
kelangsungan hidup.
2.) Skemata
Schema (skema; jamak: skemata) adalah istilah yang amat penting dalam
teori Piaget. Suatu skema yang ada dalam organisme akan menentukan
bagaimana ia akann merespon lingkungan fisik. Manifestasi skema yang
tidak jelas dapat disamakan dengan tindak berpikir. Cara anak menghadapi
41

lingkungannya akan berubah-ubah seiring dengan pertumbuhan anak. Agar


terjadi interaksi organisme-lingkungan, skemata yang tersedia untuk anak
harus berubah.
3.) Asimilasi dan akomodasi
Asimilasi adalah proses merespon lingkungan sesuai dengan struktur kognitif
seseorang. Proses penting kedua yang menghasilkan mekanisme untuk
perkembangan intelektual disebut akomodasi, yaitu proses memodifikasi
struktur kognitif. Modifikasi ini dapat disamakan dengan proses belajar.
Dengan kata lain, kita merespon dunia berdasarkan pengalaman kita
sebelumnya (asimilasi), tetapi setiap pengalaman memuat aspek-aspek yang
berbeda dengan pengalaman yang kita alami sebelumnya. Aspek unik dari
pengalaman ini menyebabkan perubahan dalam struktur kognitif kita
(akomodasi).
4.) Ekuilibrasi
Piaget berasumsi bahwa semua organisme punya tendensi bawaan untuk
menciptakan hubungan harmonis antara dirinya dengan lingkungan. Dengan
kata lain, semua aspek dari organisme diarahkan menuju adaptasi yang
optimal. Ekuilibrasi (penyeimbangan) adalah tendensi bawaan untuk
mengorganisasikan pengalaman agar mendapat adaptasi yang maksimal.
Secara sederhana, Ekuilibrasi didefinisikan sebagai dorongan terus menerus
ke arah keseimbangan atau ekuilibrium.
5.) Interiorisasi
Pengalaman anak melibatkan penggunaan dan elaborasi skemata bawaan
mereka seperti memegang, menatap, menggapai. Hasil pengalaman terdahulu
ini disimpan dalam struktur kognitif mereka, dan karenanya memungkinkan
bagi mereka untuk beradaptasi secara lebih mudah ke situasi yang makin
banyak dan beragam. Setelah struktur kognitif semakin luas, anak mampu
merespon situasi yang lebih kompleks. Mereka juga tidak lagi terlalu
bergantung pada situasi sekarang. Penurunan ketergantungan pada
lingkungan fisik dan meningkatnya penggunaan struktur kognitif inilah yang
dinamakan interiorisasi.
42

Berbeda dengan Hergerhahn, Scunk (2012: 331) berasumsi bahwa konsep


utama dalam teori Piaget ada empat, yaitu:
1.) Pertumbuhan biologis
2.) Pengalaman dengan lingkungan fisik
3.) Pengalaman dengan lingkungan sosial
4.) Ekuilibrasi, yang meliputi dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

Scunk tidak membahas tiga faktor sebelum ekuilibrasi, tetapi efek-efeknya


bergantung pada emapat konsep tersebut. Ekuilibrasi merupakan faktor utama dan
dorongan motivasi di belakang perkembangan kognitif. Ekuilibrasi
mengoordinasikan tindakan-tindakan dari tiga konsep lainnya dan membuat struktur-
struktur mental dan realitas lingkungan eksternal konsisten terhadap satu sama
lain.dua proses komponen dari ekuilibrasi, adalah asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi mengacu pada menyesuaikan realita eksternal dengan struktur kognitif
yang telah ada. Ketika kita menginterpretasi, menganalisis, dan merumuskan, kita
mengubah sifat realita untuk membuatnya sesuai dengan struktur kognitif kita.
Sedangkan akomodasi adalah mengubah struktur-struktur internal untuk memberikan
konsistensi dengan realitas eksternal. Asimilasi dan akomodasi merupakan dua
proses yang saling melengkapi.

2. Teori Pengembangan Bahan Ajar

Teori-teori belajar yang menjelaskan dan mendukung bagi kemungkinan


kesesuaian bahan ajar yang disusun berdasarkan kondisi dan fenomena lokal antara
lain teori perkembangan kognitif Piaget. Piaget menjelaskan bahwa perkembangan
kognitif itu sendiri merupakan suatu usaha penyesuaian diri terhadap lingkungan
melalui proses asimilasi dan akomodasi yang terjadi melalui adaptasi yang
berimbang (Sani, 2013: 11). Asimilasi merupakan suatu tindakan pasif dalam
membangun pengetahuan utama yang melibatkan penafsiran peristiwa dalam
hubungannya dengan struktur kognitif yang ada. Sedangkan, akomodasi merupakan
suatu pengetahuan yang baru yang mengacu pada perubahan struktur kognitif yang
disebabkan oleh lingkungan. Dengan demikian, realita dan fenomena konkret yang
43

ditemui peserta didik tersebut, akan menjadi referensi baginya dalam mempelajari
materi pendidikan lingkungan hidup.

Teori belajar kognitif menyatakan proses belajar akan berjalan dengan baik
apabila materi pembelajaran yang baru beradaptasi secara tepat dengan struktur
kognitif yang telah memiliki peserta didik. Sejalan dengan teori belajar kognitif yang
dikemukakan di atas adalah belajar kontekstual yang menyatakan bahwa belajar itu
terjadi hanya ketika peserta didik memproses pengetahuan dan informasi baru
sedemikian rupa sehingga dapat dipertimbangkannya dalam kerangka acuan mereka
sendiri (memori mereka sendiri, pengalaman, dan tanggapan), dan fokus belajar
kontekstual itu sendiri adalah pada berbagai aspek yang ada di lingkungan belajar
(Blanchard, 2001 dalam Sani, 2013: 17).

Teori belajar konstruktif yang dikembangkan atas dasar premis bahwa kita
membangun perspektif dunia kita sendiri melalui skema (struktur mental) dan
pengalaman individu (Mergel, 1998: 9). Dalam hal ini, struktur pengetahuan yang
dimiliki peserta didik akan memberikan makna dan mengorganisasi pengalaman-
pengalaman serta menberikan jalan kepada individu untuk menyerap informasi baru
yang diberikan. Oleh karena itu, pengetahuan perorangan adalah suatu fungsi dari
pengalaman utama seseorang, sruktur mental, dan kepercayaan yang digunakan
untuk menginterpretasikan objek dan peristiwa.

Teori lain yang mendukung pengembangan bahan ajar adalah teori belajar
behavioristik. Menurut teori behavior, lingkungan merupakan salah satu unsur yang
menyediakan stimulus yang menyebabkan tanggapan individu berkembang. Atas
dasar itu, teori behavior menyatakan bahwa suatu perilaku itu dibentuk oleh
lingkungan. Perubahan perilaku yang terjadi pada peserta didik merupakan hasil
belajar (Sani, 2013: 5). Dengan demikian perubahan perilaku juga merupakan hasil
belajar seseorang terhadap lingkungan tempat peserta didik banyak melakukan
aktifitasnya. Maka sudah semestinya pembelajarn IPS memberikan sebuah stimulus
(umpan) kepada peserta didik untuk dapat mengembangkan pola pikirnya dalam
memahami permasalahan yang terdapat di lingkungan tempat mereka berada.
44

Bahan ajar yang dimaksud dalam penelitian dan pengembangan ini lebih ke
bahan ajar cetak berupa buku ajar (buku teks). Hal ini dikarenakan, buku teks sangat
erat kaitannya dengan kurikulum, silabus, standard kompetensi, dan kompetensi
dasar. Rudi Susilana (2007: 14) mengungkapkan bahwa buku teks adalah buku
tentang suatu bidang studi atau ilmu tertentu yang disusun untuk memudahkan para
guru dan siswa dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran.

Dari keseluruhan teori belajar yang diungkapkan di atas, dapat disimpulkan


bahwa bahan ajar berupa buku teks ialah bahan yang mampu mendesain terjadinya
interaksi antara peserta didik dengan lingkungan dalam proses pembelajaran dengan
harapan memberikan efektivitas dalam pembentukan pemahaman dan perilakunya
terhadap lingkungan. Hal ini pula yang menjadi salah satu ciri dan dasar bagi
pengembangan buku ajar di dunia pendidikan dengan memadukan pembelajaran dan
lingkungan peserta didik dengan berbasis nilai-nilai kearifan lokal.

C. Kerangka Pikir

Pembelajaran IPS menuntut guru menciptakan suasana belajar menjadi


menarik dan bermakna bagi siswa, serta siswa dapat memahami setiap materi
pembelajaran agar proses pembelajaran IPS lebih aktif. Pemahaman merupakan
indikator keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran. Penggunaan konsep
pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa menjadi tertarik dalam pembelajarn
yang membuat pembelajaran menjadi lebih efektif sehingga akan memperoleh hasil
belajar peserta didik yang lebih baik.

Selain permasalahan itu, berdasarkan studi pendahuluan di lapangan serta


interaksi penulis dengan peserta didik selama proses pembelajaran selama ini
ditemukan bahwa buku-buku pelajaran IPS khususnya pada materi Sejarah selama
ini tidak menyinggung/mengaitkan materi kesejarahan dalam pelajaran IPS dengan
peristiwa yang terjadi di tingkat lokal dengan kata lain peristiwa lokalitas Sejarah
yang terjadi di daerah, sehingga terkesan materi Sejarah lokal terlupakan.

Pendidikan berbasis lingkungan diharapkan mampu menjadi jembatan yang


mendekatakan peserta didik pada lingkungan tempat mereka berada. Untuk
45

menyikapi keadaan ini, salah satu alternative yang coba dikembangkan penulis
adalah dengan merancang dan mengembangkan suatu bahan ajar IPS pada materi
Sejarah khususnya berbasis lingkungan dengan memperhatikan nilai-nilai lokalitas
Sejarah yang terdapat di lingkungan peserta didik khususnya terkait dengan
peristiwa Sejarah, situs-situs Sejarah yang terdapat di Kota Cirebon.

Berdasarkan hal tersebut, peneliti memilih Keraton Kasepuhan sebagai


lingkungan khususnya di daerah Cirebon ini untuk mengembangkan bahan ajar IPS,
karena selain berupa situs atau peninggalan sejarah juga merupakan kearifan lokal,
sehingga dapat digunakan sebagai sarana sumber belajar pada materi IPS di kelas
VII.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk bahan/materi


ajar IPS (buku ajar) khususnya pada materi Sejarah berbasis nilai-nilai lokalitas
Sejarah yang dirancang dan dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan
kebutuhan siswa di sekolah. Pembelajaran IPS pada materi Sejarah yang selama ini
dirasakan kurang mengena dan membekas di siswa dapat diatasi bahkan diharapkan
buku ajar IPS pada materi Sejarah berbasis nilai-nilai kearifan lokal mampu
meningkatkan pemahaman siswa dalam pelajaran IPS. Model yang digunakan dalam
penelitian pengembangan materi ajar ini adalah model R & D dengan tahapan model
ASSURE. Pemilihan model ASSURE dalam desain penelitian dan pengembangan
dikarenakan penguatan dan pemilihan materi pelajaran berdasarkan pada kebutuhan
peserta didik, media dan sumber belajar yang ada sehingga dirasa cocok dengan basis
penelitian dan pengembangan bahan ajar IPS berbasis lingkungan.

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel penelitian, yaitu variabel bebas

(X) pengembangan bahan ajar IPS berbasis lingkungan pada pokok bahasan sejarah

(Y) adalah pemahaman siswa dalam konsep pembelajaran IPS.

Hipotesis Penelitian :

a. Menghasilkan produk bahan ajar berupa buku ajar IPS pada materi Sejarah
berbasis lingkungan
b. Bahan ajar IPS pada materi Sejarah berbasis lingkungan efektif meningkatkan
pemahaman siswa.
46

Kerangka pemikiran lebih jelasnya dapat digambarkan dalam bagan berikut:

Hakikat IPS:

Memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan


fungsional dalam memahami dan memecahkan
masalah sosial dan membentuk peserta didik agar jadi
warga negara yang baik.

a. Pembelajaran IPS yang


kurang bermakna bagi
siswa

b. Masih dominannya
peran guru dalam Menghasilkan Produk
Pengembangan Bahan Ajar
pembelajaran Bahan Ajar IPS
IPS Berbasis Lingkungan
Berbasis Lingkungan
c. Bahan ajar IPS yang Pada Pokok Bahasan Sejarah
ada belum memunculkan
khasanah kearifan lokal

Tema-tema lokal sebagai suplemen


bahan ajar

Bagan “Pengembangan Bahan Ajar IPS Berbasis Lingkungan Pada Pokok


Bahasan Sejarah”
47

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yaitu kualitatif dan
kuantitatif. Penelitian kualitatif menurut Kirk & Miller dalam Moleong (2002:3)
adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental
bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan
dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.
Selanjutnya, Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2002:3) menjelaskan bahwa
metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati.
Maka, menurut peneliti, penelitian kualitatif bermakna penelitian yang lebih banyak
menghasilkan data berupa data penjabaran-penjabaran dari penelitian yang diteliti
daripada data perhitungan-perhitungan.

Pendekatan kualitatif peneliti gunakan pada tahap awal penelitian pada tahap
penelitian pendahuluan (need assessment), dengan harapan dapat memperoleh suatu
gambaran yang sesuai dengan kondisi dilapangan (empirik) tentang segala peristiwa
dan perilaku yang menjadi fokus penelitian. Pendekatan kuantitaif digunakan pada
tahap pengujian produk (buku ajar) dengan menggunakan one group desaign pada
kelas VII sebelum dan setelah pembelajaran menggunakan materi ajar IPS berbasis
lingkungan. Pengembangan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas
buku ajar yang tengah dikembangkan dalam meningkatkan pemahaman siswa.

Digunakannya penelitian dengan pendekatan kualitatif ini didasarkan pada


beberapa pertimbangan. Pertama, tujuan penelitian ini adalah mengungkap beberapa
hal yang berhubungan dengan aspek pembelajaran dan sosial kemasyarakatan. Data
tersebut berupa data kualitatif yang dikumpulkan dari latar alami (natural setting)
yang berasal dari sumber data langsung. Kedua, fokus penelitian menjadi lebih jelas
apabila diteliti dengan pendekatan naturalistik, karena penelitian ini diharapkan dapat
menemukan sekaligus mendeskripsikan secara menyeluruh dan utuh.
48

Model penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah jenis
penelitian pengembangan dan uji lapangan (Research and Development). Borg and
Gall (2003:50) menjelaskan bahwa “research and development is a process used to
develop and validate educational product”. Penelitian ini dilakukan melalui suatu
rangakaian kegiatan yang dilakukan dan ditindaklanjuti dengan mengembangkan
materi ajar IPS yakni berupa buku ajar dengan mengacu pada lingkungan peserta
didik sebagai objek pembelajaran, pengembangan materi ajar sendiri dilakukan
melalui rangkain kegiatan analisis-aksi refleksi-evaluasi dan inovasi dalam suatu
tahapan penelitian yang terencana, terukur, dan sistematis. Tahapan penelitian dan
pengembangan dalam penelitian ini merujuk pada prosedur dan langkah-langkah
yang dikemukakan oleh Borg and Gall (2003:50).

Pemilihan model Borg and Gall bukan tanpa alasan, yakni berdasarkan
pertimbangan yang tersusun secara terprogram dengan langkah-langkah persiapan
dan perencanaan yang diteliti yakni sebagai berikut: 1) Penelitian dan pengumpulan
informasi, 2) Perencanaan, 3) Pengembangan produk awal, 4) Uji coba pendahuluan,
5) Revisi produk utama, 6) Uji coba utama, 7) Revisi produk operasional, 8) Uji coba
operasional, 9) Revisi produk akhir, 10) Desiminasi dan implementasi. Borg and Gall
(2003: 50) berpendapat bahwa tahapan R and D dapat disederhanakan menjadi 3 atau
4 tahapan. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penelitian ini hanya sampai pada tahap
langkah ke 6 uji coba utama, yaitu langkah penelitian setelah materi ajar yang
dikembangkan direvisi terlebih dahulu.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah di SMPN 5 Kota Cirebon yang terletak di Jalan


Wahidin yang ternyata tidak terlalu jauh dengan Keraton Kasepuhan. Pemilihan
terhadap lokasi penelitian dilakukan secara purpossive, yakni memilih secara sengaja
dengan maksud mendapatkan sebuah lokasi yang dianggap relevan dengan tujuan
penelitian. Lokasi ini dipilih berdasarkan pertimbangan: 1) Lokasi SMP yang dekat
dengan Keraton Kasepuhan. 2) Keberadaan Keraton Kasepuhan yang relatif masih
kokoh dan terawat menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi sebagai salah satu
49

bentuk akulturasi hasil kebudayaan Hindu-Budha dan Islam. (3) subjek penelitian
yaitu siswa kelas VII dengan pertimbangan merupakan siswa dengan karakteristik
yang berbeda dari asal sekolah yang berbeda daripada kelas VI.

C. Fokus Penelitian

Penelitian ini difokuskan pada pengembangan materi ajar IPS berbasis


lingkungan yang meliputi: 1) pengembangan materi ajar IPS 2) pemahaman siswa

D. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data diperoleh dari data di sekolah, keraton, dan studi kepustakaan.

1. Teknik Observasi

Observasi merupakan salah satu metode pengumpulan data di mana peneliti


melihat atau mengamati secara visual sehingga validitas data sangat tergantung pada
kemampuan observer. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto (2006; 229) yang
menjelaskan bahwa observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan
pertimbangan kemudian mengadakan penilian.

Teknik observasi dilakukan secara langsung dengan melihat dan mengamati


sendiri, kemudian dibuat catatan tentang keadaan yang sebenarnya di lokasi
penelitian. Observasi dilakukan dengan melakukan penelitian awal untuk
mengumpulkan data di sekolah khususnya di kelas VII SMPN 5 Cirebon. Dari data
awal yang diperoleh kemudian dikembangkan dengan melakukan pengamatan
langsung di Keraton.

2. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu oleh dua pihak, yaitu
pewancara sebagai pengaju atau pemberi pertanyaan dengan yang diwawancarai
sebagai pemberi jawaban atas pertanyaan. Teknik wawancara ini digunakan sebagai
cara untuk mengetahui sumber yang lebih mendalam tentang data yang kita inginkan.
Wawancara digunakan untuk mengetahui kondisi pembelajaran yang dilakukan,
kurikulum yang digunakan, dan kemampuan siswa sebelum dilakukan penelitian.
50

Data-data yang diperoleh kemudian dilakukan proses rekonstruksi pengetahuan


terhadap data yang telah diperoleh. Merekonstruksi kebulatan-kebulatan harapan
pada masa yang akan mendatang; memverifikasi, mengubah dan memperluas
informasi dari orang lain baik manusia maupun bukan manusia (triangulasi); dan
memverifikasi, mengubah, dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh
peneliti sebagai pengecekan data. Metode wawancara yang digunakan dalam
peneitian diharapkan mampu memberikan informasi yang lebih mendalam, akurat
dan terpercaya dari Informan (para ahli) dalam menyusun prototype dan keefektifan
bahan ajar yang dikembangkan serta mengenai berbagai informasi tentang
penggunaan bahan ajar. Serta wawancara juga akan dilakukan terhadap beberapa
peserta didik tentang kualitas bahan ajar yang sedang dikembangkan.

3. Dokumentasi

Teknik dokumentasi ini merupakan salah satu cara pengumpulan data yang
menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang
diteliti, sehingga dalam pengumpulan data penelitian akan diperoleh suatu data yang
lengkap, sah dan bukan berdasarkan perkiraan. Teknik dokumentasi ini hanya
mengambil data yang sudah ada didalam masyarakat, baik yang bersifat formal
maupun informal. Data yang diperoleh dari teknik dokumentasi ini dapat digunakan
sebagai data pendukung dan pelengkap bagi data primer yang diperoleh melalui
observasi dan wawancara. Data dalam kegiatan dokumentasi ini meliputi foto
kegiatan pembelajaran, foto-foto situs-situs bersejarah yang ada di Cirebon, dan
dokumentasi yang terkait dalam penelitian dan pengembangan bahan ajar. Sehingga
dengan demikian bahan ajar yang dikembangkan akan lebih kaya materi dan menarik
bagi siswa.

4. Angket

Angket atau kuesioner berupa seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis


kepada responden untuk dijawab. Kuesioner digunakan untuk mendaptkan data
mengenai penilaian para ahli materi, ahli pembelajaran dan tanggapan siswa tentang
kelayakan dan kualitas bahan ajar IPS pada materi Sejarah berbasis lingkungan yang
51

sedang dikembangkan. Serta dilakukan untuk mengukur sejauh mana materi ajar
yang dikembangkan mampu meningkatkan pemahaman siswa.

E. Instrument Penelitian

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini tentunya disesuaikan dengan


tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian yang meliputi :

1. Pada tahap penelitian pendahuluan, instrument utamanya ialah :

 Pedoman observasi
 Pedoman wawancara
 Lembar catatan peserta didik dan tanggapan dari peserta didik dan
 guru pelaksana
 FGD (Focus Group Discussion)
 Angket pendapat guru dan peserta didik tentang pelaksanaan pembelajaran
IPS pada materi Sejarah berbasis lingkungan

2. Pada tahap pengembangan yang digunakan peneliti antara lain:

 Angket untuk ahli materi


 Angket untuk pengguna (peserta didik)
3. Pada tahap awal ujicoba operasional digunakan angket untuk mengetahui
tanggapan atau penilaian dari peserta didik tentang materi ajar IPS pokok bahasan
Sejarah berbasis lingkungan, dan angket untuk guru tentang dampak digunakan
bahan ajar terhadap tugas guru dalam proses pembelajaran di kelas. Angket
berupa serangkaian daftar pertanyaan dimana responden memberikan tanda
checklist pada kolom yang tersedia. Angket ini digunakan untuk menilai produk
yang tengah dikembangkan oleh beberapa ahli yang dianggap kompeten
dibidangnya.
4. Pemeriksaan Keabsahan Data
Adanya pemeriksaan keabsahan data ditujukan untuk mendapatkan data yang
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Teknik pemeriksaan keabsahan data
dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data. Triangulasi adalah
teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar
data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang
52

sudah ada (Moleong, 2007:330). Triangulasi yang digunakan dalam penelitian


adalah triangulasi sumber, yang dilakukan dengan membandingkan data yang
diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi.

F. Teknik Analisis Data


Analisis data yang digunakan pada penelitian pengembangan ini adalah analisis
kualitatif dan kuantitatif. Data dianalisis secara kualitatif atas faktor-faktor yang
berhubungan dengan proses pembelajaran. Data-data yang dianalisis dengan
persentase dan di interpretasikan guna mendapatkan gambaran jelas mengenai hasil
penelitian.
Kesimpulan atau hasil akhir penelitian pengembangan merupakan hasil
kecenderungan atau konsensus secara triangulasi dari berbagai sumber bukan
kesimpulan hasil perhitungan statistik. Jadi tujuan penelitian deskriptif adalah untuk
membuat penjelasan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan
sifat- sifat populasi atau kasus daerah tertentu (Pargito, 2011: 127). Data dianalisis
atas faktor-faktor yang berhubungan dengan pengembangan bahan ajar yang dibuat
dan juga proses pembelajaran, yang dilakukan.
Analisis data pada penelitian pengembangan yang menitikberatkan pada
penggunaan bahan ajar yang dikembangkan tidak hanya menganalisis data dari satu
alat pengumpul data. Data yang diperoleh pada penelitian pengembangan seperti
penilaian para ahli baik materi, nilai pemahaman siswa pada lembar angket
pemahaman, dan peningkatan pemahaman siswa dengan menggunakan buku ajar
yang dikembangkan yang menjadi fokus pengamatannya. Data tersebut diperoleh
dari hasil observasi atau pengamatan, angket dan wawancara. Beberapa alat
pengumpul data yang diperlukan pada penelitian ini berupa: hasil observasi,
wawancara, dan angket siswa.

Untuk mengetahui tingkat efektifitas produk dalam pembelajaran dilakukan


dengan uji eksperimen model one group pre test-post test, yaitu uji pembanding
kelompok siswa yang belajar sebelum dan setelah menggunakan buku ajar IPS
berbasis lingkungan. Perbedaaan nilai gain score dijadikan patokan dalam mengukur
53

efektifitas buku ajar yang dikembangkan dalam meningkatkan minat belajar siswa di
kelas VII di SMPN 5 Cirebon.
54

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Jurnal :

Aji, W. Nugroho. 2016. Model Pembelajaran Dick and Carrey dalam Pembelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia. Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 1 No. 2,
Desember 2016, 119-126
Adams, Dennis. 1992. Portofolio Assesments and Social Studies: Collecting,
Sellecting, and reflecting on what is Significant. Social Education 56
Barton, Keith. 2015. Elicition technigues: getting people to talk about ideas they
don’t usually talk about. Indiana: Routledge Taylor&Francis Group
Carrol, Potthoff&Huber. 1996. Learning From Three Years of Portofolio Use in
Teacher Education. Sage: Journal of Teacher Education, Vol.47 No.4
Grosland, Sheppard&Katz. 2015. Conseptualizing emotions in social studies
education. Wahington: Routledge Taylor&Francis Group
Harris, Lauren. 2014. Making connections for themselves and their etudents :
examining teacher organization of world history. Arizona: Routledge
Taylor&Francis Group
Halimah, L. 2008. Pemberdayaan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar. Bandung:
Jurnal Pendidikan Dasar Nomor: 10
Hendarwati, E. 2013. Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Melalui
Metode Inkuiri Terhadap Hasil Belajar Siswa SDN 1 Sribit Delanggu Pada
Pelajaran IPS. Jurnal Pedagogia Vol.2, No.1, Februari 2013: halaman 59-70
Jolly T. Holden. 2008. An Instructional Media Selection: Guide for Distance
Learning. New York:UNCLA, hal. 15.
Kasim, Alyonner&Daud. 1995. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar
IPS pada Sekolah Umum Tingkat Pertama di Kota Banda Aceh. Jurnal Ilmu
Pendidikan Universitas Syiah Kuala.
Malajdim, M. 2003. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi
Pendekatan Penemuan dan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Untuk
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Biologi. Tidak Diterbitkan. Tesis.
Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Mangieri, John N. Staley, Nancy K., dan Wilhide, James A. 1984. Teaching
Language Arts: Classroom Applications. New York: McGraw-Hill Book
Company
Maryani, Enok. 2009. Pengembangan Program Pembelajaran IPS untuk
Meningkatkan Kompetensi Keterampilan Sosial. Jurnal Penelitian Vol. 9 No.
1 April 2009.
NCSS. 1994. Curriculum Standards for the Social Studies. Washington, DC: The
National Council for the Social Studies.
55

Towaf, SM. 2014. Pendidikan Karakter pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial Jurnal Ilmu Pendidikan, Jilid 20, Nomor 1, Juni 2014, hlm. 75-85
Wurdjinem. (2006). Pengembangan Sumber Belajar IPS dengan Lingkungan Untuk
Meningkatkan Keterampilan Proses. Jurnal IPS. Bengkulu: Cakrawala
Pendidikan

Sumber Buku:
Bandura, Albert. 1971. Social Learning Theory. General Lerning Press. Stanford
University. New york.
Borg, W.R. & Gall, M.D. 2003. Educational Research: an Introductions, (5th ed).
New York: Longman
Creswell, John W. 1998. Qualitative Inquiry and Research Design choosing Among
Five Traditions. California: Sage Publications. Inc.
Djahiri, A. Kosasih. 2000. Model Pembelajaran Terpadu dan Utuh. Bandung: Center
for Indonesian Civic Education.
Gredler, Margaret. E. 2011. Learning and Intruction: Teori dan Aplikasi. Jakarta:
Kencana.
Hergerhahn, & Olson, M. 2014. Theories of Learning Edisi Ketujuh. Jakarta:
Kencana Prenamedia Group.
M. Noman Somantri. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Miles, B. Mathew dan Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku
Sumber Tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UIP.
Moleong, Lexy J. 2004. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda
Karya.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Nana Sudjana & Ahmad Rivai. 2007. Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
Panen, P & Purwanto, 2004. Penulisan Bahan Ajar. Jakarta: Ditjen Dikti Depdikbud
Prastowo, Andi. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta:
Diva Press.
Purnomo, Edy. 2015. Dasar-Dasar dan Perancangan Evaluasi Pembelajaran (Buku
Ajar). Bandar Lampung: FKIP UNILA.
Sapriya. 2014. Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandung : Remaja
Rosdakarya Offset.
56

Schunk, Dale. 2012. Learning Theories an Educational Perspective. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung :
Alfabeta.
Sumaatmadja, Nursid. 1988. Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisa
Keruangan. Alumni. Bandung.
Sumaatmadja, Nursid. 2001. Metode Pembelajaran Geografi. Bumi Aksara. Jakarta
Supardan, Dadang. 2015. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Perspektif Filosofi
dan Kurikulum. Bandung. Bumi Aksara.
Suwito, Eko.2013. Hakikat Pendidikan IPS. Semarang: Widya Karya.
Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara
Mulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mohammad Ali, dkk. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogiana
Press.
Wijaya, Cece. 1992. Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran,
Bandung: Remaja Rosda Karya,
Winataputra, Udin S. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Yamin, Moh. 2012. Pendidikan Yang Membebaskan. Yogyakarta: Bentang.
Zaini Hasan & Salladin. 1996. Pengantar Ilmu Sosial. Jakarta: Dikti.