Anda di halaman 1dari 9

Pajak penghasilan

1. Penggabungan penghasilan

2. Cara melaksanakan kredit pajak luar negeri


Indonesia menerapkan pemajakan atas semua penghasilan, baik dari
dalam negeri maupun dari luar negeri (world wide income). Karena atas
penghasilan luar neger wajib dilaporkan, maka atas pajak-pajak yang sudah
dibayar di luar negeri dapat diperhitungkan.

Inilah cara menghitung kredit pajak luar negeri.

Ketentuan kredit pajak luar negeri sebelumnya diatur dengan Keputusan


Menteri Keuangan nomor 164/KMK.03/2002. Ketentuan lama mengatur
kredit pajak luar negeri atas penghasilan:

 untuk penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya


penghasilan tersebut;
 untuk penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun pajak diterimanya
penghasilan tersebut;
 untuk penghasilan berupa deviden, dilakukan dalam tahun pajak pada saat
perolehan deviden tersebut ditetapkan sesuai dengan Keputusan Menteri
Keuangan.

Untuk tata cara kredit pajak atas penghasilan berupa dividen sudah
diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan nomor 107/PMK.03/2017.
Nah, tahun 2018 Menteri Keuangan menerbitkan kembali ketentuan tata
cara kredit pajak luar negeri atas penghasilan selain dividen (di KMK 2002
menggunakan istilah deviden).
Peraturan terbaru tentang kredit pajak luar negeri diatur dengan
Peraturan Menteri Keuangan nomor 192/PMK.03/2018. Di sini disebutkan
sumber penghasilan luar negeri yaitu:

 penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari


pengalihan saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan
yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut didirikan atau
bertempat kedudukan;
 penghasilan berupa bunga, royalti, dan sewa sehubungan dengan
penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar
atau dibebani bunga, royalti, atau sewa tersebut bertempat
kedudukan atau berada;
 penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak
gerak adalah negara tempat harta tersebut terletak;
 penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan,
dan kegiatan adalah negara tempat pihak yang membayar atau
dibebani imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada;
 penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha
tetap tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan;
 penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan
atau tanda turut serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam
perusahaan pertambangan adalah negara tempat lokasi
penambangan berada;
 keuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat
harta tetap berada; dan
 keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu
bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap
berada.

Jika di tahun 2002 hanya menyebut 2 jenis penghasilan, penghasilan dari


usaha dan penghasilan lainnya, maka tahun 2018 menyebut 8 jenis
penghasilan. Tetapi tidak terbatas pada 8 jenis penghasilan diatas.
Selain yang diatas, menurut peraturan menteri ini penentuan sumber
penghasilan di luar negeri menggunakan prinsip penentuan sumber
penghasilan di luar negeri yang 8 diatas. Ditambah dengan Trust.

Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari sumber penghasilan di luar


negeri dapat berasal dari Trust yang penentuan sumber penghasilannya
adalah negara tempat Trust tersebut dibentuk atau didirikan yang
penentuannya menggunakan prinsip yang sama dengan yang 8 diatas.

Persyaratan Kredit Pajak Luar Negeri

Di ketentuan lama diatur persyaratan formal agar dapat kredit pajak luar
negeri, yaitu:

 Laporan Keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri;


 Foto Kopi Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri; dan
 Dokumen pembayaran pajak di luar negeri.

Kententuan formal masih ada di kredit pajak luar negeri atas jenis
penghasilan dividen. Namun di Peraturan Menteri Keuangan nomor
192/PMK.03/2018 sudah tidak ada lagi.

Tetapi Peraturan Menteri Keuangan nomor 192/PMK.03/2018 mengatur


dokumen-dokumen yang “setara SSP”.

Bukti pemenuhan pembayaran PPh Luar Negeri bagi WPDN yang


mengkreditkan PPh Luar Negeri dapat berupa:
 salinan bukti pembayaran atau bukti pemotongan PPh Luar Negeri; atau
 salinan bukti lainnya yang dapat menunjukkan adanya pembayaran atau
pemotongan PPh Luar Negeri.

Bukti pemenuhan pembayaran PPh Luar Negeri ini sekurang-kurangnya


memuat data atau informasi sebagai berikut:

 nama WPDN; dan


 jumlah PPh Luar Negeri.

Dalam hal WPDN memperoleh penghasilan usaha dan/atau


penghasilan dari Trust di luar negeri yang dikenai pajak penghasilan di
tingkat Trust, bukti pemenuhan pembayaran PPh Luar Negeri dapat
digantikan dengan surat pemberitahuan tahunan pajak penghasilan yang
disampaikan di luar negeri oleh cabang atau perwakilan WPDN di luar
negeri dan/atau surat pemberitahuan tahunan pajak penghasilan atau bukti
pembayaran PPh Luar Negeri yang dilakukan oleh Trust.

3. Batas maksimum kredit pajak


Metode Pengkreditan Terbatas (Ordinary Credit Method) ialah
besaran Kredit Pajak Luar Negeri tidak boleh melebihi penghitungan pajak
yang terutang berdasarkan Pasal 24 Ayat 2 Undang-Undang PPh.
Penghitungan kredit pajak dihitung dengan tetap berpegang pada
peraturan batas maksimum dengan mengambil nominal terendah dari:

 Jumlah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri.


 (Penghasilan Luar Negeri (PLN) / Penghasilan Kena Pajak ) X PPh
terutang.
 Jumlah PPh terutang untuk seluruh penghasilan kena pajak, dalam
hal penghasilan kena pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri.

4. Masalah khusus dalam menghitung pph pasal 25


PPh Pasal 25 adalah cicilan pembayaran Pajak Penghasilan pada
tahun berjalan. Saya menggunakan istilan “cicilan” karena jumlah
pembayaran dalam satu tahun akan diperhitungkan di SPT Tahunan.
Bagaimana cara menghitung PPh Pasal 25? Ini penjelasannya.

Rumus umum menghitung PPh Pasal 25 diatur di Pasal 25 ayat (1) Undang-
undang PPh, yaitu:

Besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar
sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan adalah sebesar Pajak
Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan tahun pajak yang lalu, dikurangi dengan:

a. Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21


dan Pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 22; dan

b. Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh
dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24;

dibagi 12 (dua belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.

5. Penghitungan pph pasal 25

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 merupakan pembayaran pajak atas


penghasilan secara angsuran setiap bulannya. Tujuannya adalah untuk
meringankan beban Wajib Pajak, mengingat pajak yang terutang harus dilunasi
dalam waktu satu tahun. Pembayaran ini harus dilakukan sendiri dan tidak bisa
diwakilkan.
Berdasarkan PPh Pasal 25 ayat (1) besarnya angsuran pajak dalam tahun
pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap bulan
adalah sebesar PPh yang terutang menurut Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan
PPh tahun pajak, yang lalu dikurangi dengan:

 PPh yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23


serta PPh yang dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22; dan
 Pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang boleh
dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, dibagi 12 bulan atau
banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.

1. Perhitungan PPh Pasal 25 Ayat (1)

Contoh 1

PPh yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh tahun 2019 adalah
Rp50.000.000,00, maka:

Tahun 2019 Rp50.000.000,00

Dikurangi:

PPh yang dipotong pemberi Kerja (Pasal 21) Rp15.000.000,00

PPh yang dipungut oleh pihak lain (Pasal 22) Rp10.000.000,00

PPh yang dipotong oleh pihak lain (Pasal 23) Rp2.500.000,00

Kredit PPh luar negeri (Pasal 24) Rp7.500.000,00 (+)

Jumlah kredit pajak Rp35.000.000,00


(-)
Selisih Rp15.000.000,00

Dengan demikian, besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri setiap
bulan untuk tahun 2020 adalah sebesar Rp 1.250.000,00 (Rp 15.000.000,00 dibagi
12).

Contoh 2

Apabila PPh sebagaimana dimaksud pada contoh di atas berkenaan dengan


penghasilan yang diterima atau diperoleh meliputi masa 6 bulan dalam tahun
2019, besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar di tahun 2020 adalah
sebesar Rp2.500.000,00 (Rp15.000.000,00 dibagi 6).

2. Perhitungan PPh Pasal 25 Ayat (2)

Berdasarkan PPh Pasal 25 Ayat (2), mengingat batas waktu penyampaian


SPT Tahunan PPh bagi Wajib Pajak Badan adalah akhir bulan keempat tahun pajak
berikutnya, besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak
untuk bulan-bulan sebelum SPT Tahunan PPh disampaikan belum dapat dihitung
sesuai dengan perhitungan di atas.

Berdasarkan ketentuan ini, besarnya angsuran pajak untuk bulan-bulan


sebelum SPT Tahunan PPh disampaikan sebelum batas waktu penyampaian SPT
Tahunan adalah sama dengan angsuran pajak untuk bulan terakhir dari tahun
pajak yang lalu.

Contoh

Apabila SPT Tahunan PPh disampaikan oleh Wajib Pajak pada bulan Februari
2020, besarnya angsuran pajak yang harus dibayar Wajib Pajak tersebut untuk
bulan Januari 2020 adalah sebesar angsuran pajak bulan Desember 2019,
misalnya sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah).

Apabila dalam bulan September 2019 diterbitkan keputusan pengurangan


angsuran pajak menjadi nihil, sehingga angsuran pajak sejak bulan Oktober
sampai dengan Desember 2019 juga menjadi nihil, besarnya angsuran pajak yang
harus dibayar Wajib Pajak untuk bulan Januari 2020 tetap sama dengan angsuran
bulan Desember 2019, yaitu nihil.

3. Perhitungan PPh Pasal 25 Ayat (4)

Apabila dalam tahun pajak berjalan diterbitkan surat ketetapan pajak untuk tahun
pajak yang lalu, besarnya angsuran pajak dihitung kembali berdasarkan surat
tersebut dan berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan penerbitan surat
ketetapan pajak.

Contoh

Berdasarkan SPT Tahunan PPh tahun pajak 20019 yang disampaikan Wajib Pajak
dalam bulan Februari 2020, perhitungan besarnya angsuran pajak yang harus
dibayar adalah Rp 1.250.000,00. Lalu pada bulan Juni 2020 telah diterbitkan surat
ketetapan pajak tahun pajak 2019 yang menghasilkan besarnya angsuran pajak
setiap bulan sebesar Rp2.000.000,00.

Dengan demikian, berdasarkan Pasal 25 ayat (4) ini, besarnya angsuran pajak
mulai bulan Juli 2020 adalah sebesar Rp2.000.000,00. Penetapan besarnya
angsuran pajak berdasarkan surat ketetapan pajak tersebut bisa sama, lebih
besar, atau lebih kecil dari angsuran pajak sebelumnya berdasarkan SPT Tahunan.

Perlu diketahui bahwa Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk


menetapkan penghitungan besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan
dalam hal-hal tertentu, sebagai berikut:
 Wajib Pajak berhak atas kompensasi kerugian;
 Wajib Pajak memperoleh penghasilan tidak teratur;
 SPT Tahunan PPh tahun yang lalu disampaikan setelah lewat batas waktu
yang ditentukan;
 Wajib Pajak diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT
Tahunan PPh;
 Wajib Pajak membetulkan sendiri SPT Tahunan PPh yang mengakibatkan
angsuran bulanan lebih besar dari angsuran bulanan sebelum
pembetulan; dan
 Terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan Wajib Pajak.