Anda di halaman 1dari 64

SINKRONISASI PENGATURAN PELIMPAHAN WEWENANG

TINDAKAN MEDIS KEPADA PERAWAT


UNTUK PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT

Ayih Sutarih
Universitas Swadaya Gunung Jati
E-mail Korespondensi : ayih_sutarih@yahoo.com

Abstrak
Kejadian yang merugikan pasien yang dilakukan perawat yang tidak melaksanakan
pelimpahan wewenang dari tenaga medis. Rumusan masalahnya adalah bagaimanakah
regulasi ,kendala dan solusi, serta sinkronisasi peraturan perundang-undangan
pelimpahan wewenang tindakan medis kepada perawat dalam pelayanan kesehatan di
rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa tentang regulasi pelimpahan
wewenang tindakan medis kepada perawat. Penelitian ini menggunakan pendekatan
yuridis normatif. Temuan penelitian menunjukkan sudah ada regulasi pelimpahan
wewenang tindakan medis kepada perawat,yaitu pada Undang-Undang No. 38 Thun 2014
Tentang Keperawatan, Undang-Undang No. 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan,
dan Permenkes 1239/Menkes/SK/XI/2001 Tentang Registrasi dan Praktek Perawat. Pada
pelaksaannya banyak mengalami kendala terutama kurang sosialisasi peraturan
perundang-undangan yang mengatur pelimpahan wewenang, dan juga ketidaksinkronan
peraturan perundang-undangan tersebut. Pelimpahan wewenang tindakan medis kepada
perawat dari pemahaman delegans/mandans yaitu dokter dan delegetaris/mandataris yaitu
perawat khususnya penyelesaian perkara dan upaya perlindungan pasien (safety patien)
perlu ditindaklanjuti riset-riset lanjutan.

Kata kunci : Sinkronisasi, Pelimpahan Wewenang, Dokter, Perawat

A. Latar Belakang Penelitian berdasarkan kemerdekaan, perdamaian


Cita-cita bangsa Indonesia abadi, dan keadilan social.1
sebagaimana tercantum dalam Kesehatan sebagai salah satu
Pembukaan Undang-undang Dasar unsur kesejahteraan umum harus
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diwujudkan melalui berbagai upaya
adalah melindungi segenap bangsa kesehatan dalam rangkaian
Indonesia dan seluruh tumpah darah pembangunan secara menyeluruh dan
Indonesia dan untuk memajukan terpadu yang didukung oleh suatu
kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang 1
Pembukaan UUD 1945 alinea IV.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 1


sistem kesehatan nasional yang daya saing bangsa, serta pembangunan
berpihak pada rakyat 2. nasional 5.
Sejalan dengan amanat pasal 28 Rumah sakit sebagai salah
H ayat (1) Undang-Undang Dasar satu fasilitas pelayanan kesehatan
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan bagian dari sumber daya
telah ditegaskan bahwa setiap orang kesehatan yang sangat diperlukan dalam
berhak memperoleh pelayanan mendukung penyelenggaraan dalam
kesehatan, kemudian dalam pasal 34 upaya kesehatan. Penyelenggaraan
ayat (3) dinyatakan Negara bertanggung upaya kesehatan di rumah sakit
jawab atas penyediaan fasilitas mempunyai karakteristik dan organisasi
3
pelayanan umum yang layak . yang sangat komplek. Berbagai jenis
Kesehatan merupakan hak asasi tenaga kesehatan dengan perangkat
manusia dan salah satu unsur keilmuannya masing-masing
kesejahteraan yang harus diwujudkan berinteraksi satu sama lain. Ilmu
sesuai dengan cita-cita bangsa pengetahuan dan teknologi kedokteran
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam yang berkembamg sangat pesat yang
Pancasila dan Pembukaan Undang- harus diikuti tenaga kesehatan lainnya
Undang Dasar Negara Republik dalam rangka pemberian pelayanan
Indonesia Tahun 1945 4. yang bermutu, membuat semakin
Oleh karena itu setiap kegiatan kompleknya permasalahan dalam
dan upaya untuk meningkatkan derajat Rumah Sakit.
kesehatan masyarakat yang setinggi- Pasal 1 ayat(1) Undang-
tingginya dilaksanakan berdasarkan undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang
prinsip non diskriminatif, partisipatif, Rumah Sakit, menyebutkan bahwa
perlindungan dan berkelanjutan yang rumah sakit adalah institusi pelayanan
sangat penting artinya bagi kesehatan yang menyelenggarakan
pembentukan sumber daya manusia pelayanan kesehatan perorangan secara
Indonesia, peningkatan ketahanan dan paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat
darurat. Pada pasal 12 mengatur tentang
sumber daya manusia yang ada di
rumah sakit, yaitu harus memiliki
2
tenaga tetap yang meliputi tenaga medis
Sistem Kesehatan Nasional:Bentuk dan Cara
Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan, dan penunjang medis; tenaga
diterbitkan Departemen Kesehatan, 2009. keperawatan, tenaga kefarmasian,
3
Pada BAB XA Undang-Undang D asar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, yang terdiri dari
pasal 28 A sampai dengan J, mengatur mengenai
Hak Asasi Manusia. 5
Prinsip-prinsip ini telah tertuang dalam
4
Pasal 28 H ayat (1) Undang-Undang Dasar penjelasan umum UU No 36 Tahun 2009
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. tentang Kesehatan.

2 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


tenaga manajemen rumah sakit, dan pemberian pelayanan keperawatan yang
tenaga non kesehatan 6. diberikan bersama tenaga kesehatan
Tenaga medik (terutama lain; ketiga fungsi dependen yang
dokter) sebagai salah satu komponen berdasarkan advis atau instruksi dokter
utama pemberi pelayanan kesehatan berupa tindakan perawat untuk
kepada masyarakat mempunyai peranan membantu dokter dalam melaksanakan
yang sangat penting karena terkait tindakan medis tertentu 8.
langsung dengan pemberian pelayanan Keterbatasan tenaga medis
kesehatan. Di dalam rumah sakit para (dokter) menimbulkan situasi yang
dokter tidak bisa bekerja tanpa ada mengharuskan perawat melakukan
bantuan dari perawat. Sebaliknya tindakan pengobatan atau melakukan
perawat tanpa adanya instruksi dari tindakan medis yang bukan
dokter tidak berwenang untuk bertindak wewenangnya. Tindakan tersebut
secara mandiri. dilakukan dengan atau tanpa adanya
Dalam pelayanan kesehatan di pelimpahan wewenang dari tenaga
rumah sakit menempatkan dokter dan kesehatan lain termasuk dokter,
perawat sebagai tenaga yang paling sehingga dapat menimbulkan
dekat hubungannya dengan pelayanan permasalahan hukum terkait dengan
kepada pasien. Hubungan yang terjalin tanggung jawab yang dibebankan
dengan pasien dapat dikatakan sebagai sepihak dan bisa merugikan perawat.
perikatan upaya perawatan dan Hal ini berarti bahwa pelayanan
penyembuhan penyakit atau transaksi kesehatan oleh tenaga kesehatan
terapeutik, dimana hal tersebut di mengenal adanya pelimpahan
dalamnya melahirkan hak dan wewenang, yang biasa dikenal dengan
kewajiban antara berbagai pihak yaitu delegasi wewenang. Praktik pelimpahan
dokter, perawat, dan pasien itu sendiri7. wewenang (delegasi wewenang)
Perawat sebagai salah satu tersebut melibatkan komunitas perawat,
tenaga kesehatan di rumah sakit yang terjadi baik pada pelayanan
menjalankan tiga fungsi, yaitu : pertama keperawatan maupun praktik pelayanan
fungsi independen atau fungsi mandiri kesehatan. Delegasi wewenang tersebut
berupa pemberian asuhan keperawatan dipahami sebagai pelimpahan dari
kepada pasien; kedua fungsi dokter kepada perawat untuk
interdependen yang bersifat kolaboratif melaksanakan tugas medis tertentu.
dengan tenaga kesehatan lain berupa Pengaturan pelimpahan
tindakan medis telah diatur dalam Pasal
6
Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang
65 ayat 1 Undang-undang Republik
Rumah Sakit Pasal 12,.Putra Mahardika ,2015
7
Veronica Komalawati, 2002. Peran Informed
8
Consent dalam Transaksi Terapeutik Nisya.R &Hartanti .S, 2013. Prinsip-Prinsip
(Persetujuan dalam Hubungan Dokter dan Dasar Keperawatan, Dunia Cerdas, Jakarta, hal
Pasien), Citra Aditya Bakti, Bandung. hlm 74 53.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 3


Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Handayaningsih Isti yang menunjukkan
tentang Kesehatan pada bahwa dalam kebijakan pelimpahan wewenang dokter
melakukan pelayanan kesehatan, kepada perawat di puskesmas
Tenaga Kesehatan dapat menerima Kabupaten Sleman belum memiliki
pelimpahan tindakan medis dari tenaga dasar hukum yang memadai dan
medis. 9 perangkat administrasi yang lemah
Pelimpahan wewenang yang sehingga masih membebankan
dilaksanakan perawat telah diatur dalam pertanggungjawaban penuh kepada
pasal 29 ayat 1 huruf e Undang-undang pelaksananya. Hasil penelitian tersebut
Republik Indonesia Nomor 38 Tahun menunjukkan bahwa pelimpahan
2014 tentang Keperawatan bahwa wewenang dalam keperawatan
dalam menyelenggarakan praktik seringkali menimbulkan keadaan
keperawatan perawat bertugas, sebagai tumpang tindih kewenangan ini
pelaksana tugas berdasarkan merupakan permasalahan yang dihadapi
10
pelimpahan wewenang perawat dalam grey area 12
Hasil penelitian Reny Peristiwa pelimpahan
Suryanti, tindakan medis yang wewenang tindakan medis (dokter)
dilimpahkan dokter kepada perawat di yang tidak jelas dapat menimbulkan
ruang rawat inap meliputi injeksi akibat yang merugikan pasien seperti
(41,7%), pemasangan infus (33,3%), yang pernah dilaporkan oleh Komite
pemasangan kateter (25%), serta Keselamatan Pasien RSUD Kardinah
pemasangan NGT (nasogastric tubes), Kota Tegal, dimana telah terjadi pasien
kumbah lambung, dan pemasangan skin mengalami kondisi syok anafilaktik
traksi (18,7%). 11 Hasil penelitian setelah diberikan suntikan antibiotik
tersebut didukung pula oleh hasil tesis tanpa dilakukan skintest (test alergi),
yang pernah dilakukan oleh yang seharusnya dilakukan oleh
perawat atas instruksi dokter terlebih
99
UU RI No 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga dahulu. 13
Kesehatan pasal 65 ayat (1)
)10
UU RI No 38 Tahun 2014 Tentang Untuk itu, maka perlu
Keperawatan Pasal 29 ayat 1 huruf e dilaksanakan penelitian tentang
11
Reni Suryanti, 2011. Pelimpahan Wewenang Di
Ruang Rawat InapRSUD Badung Sebagai Upaya Pelaksanaa Tugas Perawat Berdasarkan
Pencegahan Kejadian Kelalaian Pelimpahan Wewenang Pelayanan
.etd.Repository.ugm.ac/index.php?mod:penelitian. Kesehatan Rumah Sakit, sehingga
Diakses pada tanggal 25 Mei 2016
10
Hadiningsih.Isti, 2010.EvaluasiPelimpahan perawat dapat memahami secara lebih
Wewenang Dokter Kepada Perawat: Tinjauan baik sekaligus diperoleh rumusan yang
Aspek Hukum
lebih memadai dalam pelaksanaan tugas
.etd.Repository.ugm.ac/index.php?mod:penelitian.
Diakses pada tanggal 25 Mei 2016
10
Laporan Komite Keselamatan Pasien RSUD
Kardinah Kota Tegal,2014

4 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


perawat berdasarkan pelimpahan wewenang tindakan
wewenang. medis kepada perawat
B. Rumusan Masalah dalam pelayanan
kesehatan di RSUD
Permasalahan yang
Kardinah Kota Tegal?
timbul berkaitan dengan tugas 3. Bagaimanakah
pelimpahan wewenang dalam sinkronisasi
pelayanan kesehatan di rumah
pengaturan peraturan
sakit adalah sebagai berikut : perundang-undangan
1. Bagaimanakah mengenai pelimpahan
regulasi pelimpahan wewenang tindakan
wewenang tindakan medis kepada perawat
medis kepada perawat dalam pelayanan
dalam pelayanan kesehatan di rumah
kesehatan di rumah sakit?
sakit?
2. Bagaimana kendala
dan solusi pelaksanaan
pelimpahan
A. Kerangka Teori masing memiliki perspektif atau
1. Definisi Hukum cara pandang yang berbeda
Secara umum dapat diartikan mengenai hukum. Paling tidak
sebagai seluruh aturan tingkah laku dikenal pula, tiga konsep hukum
berupa norma/kaidah baik tertulis yang dapat digunakan untuk
yang dapat mengatur dan mempelajari hukum15,yaitu :
menciptakan tata tertib dalam 1. Hukum sebagai ide-ide,
masyarakat yang harus ditaati oleh nilai moral dan keadilan;
setiap anggota masyarakatnya 2. Hukum sebagai norma,
berdasarkan keyakinan dan kaedah, peraturan-
14
kekuasaan hukum itu . peraturan, undang-undang
Ronny Hanitijo, menyatakan yang berlaku pada suatu
ada banyak pengertian yang dapat waktu dan tempat tertentu
diberikan pada hukum dan sampai sebagai produk dari
saat sekarang ini tidak ada kekuasaan negara tertentu
kesepakatan yang dapat diterima yang berdaulat;
oleh semua pihak sebab masing-
15
Ronny Hanitijo Soemitro,Perspektif Sosial
14
Chairil Arrasyid, Dasar-dasar Ilmu Hukum, dalam Pemahaman Masalah-Masalah Hukum,
Sinar Grafika ,Jakarta,2014, hlm 21 Penerbit CV Agung, Semarang , 1989, hlm 1.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 5


4. Hukum sebagai institusi pelanggaran terhadapnya berakibat
sosial riil dan fungsional sanksi yang tegas dan nyata untuk
dalam system kehidupan mencapai keadilan
bermasyarakat yang 2. Hukum Kesehatan
berbentuk dari pola
tingkah laku yang Hukum kesehatan merupakan
melembaga. cabang dari ilmu hukum yang
secara relatif baru berkembang di
Menurut Satjipto Raharjo,
hukum adalah karya manusia Indonesia. Hukum kesehatan ini
berupa norma-norma yang berisikan merupakan cakupan dari aspek-
aspek hukum pidana, hukum
petunjuk-petunjuk tingkah laku.
Hukum merupakan pencerminan perdata, hukum administrasi, dan
dan kehendak manusia tentang hukum disiplin yang tertuju pada
subsistem kesehatan dalam
bagaimana seharusnya masyarakat
dibina dan kemana harus diarahkan, masyarakat.
hukum mengandung ide-ide yang Kemenkes (2010)
mengutip apa yang dikatakan
dipilih oleh masyarakat tempat
hukum diciptakan, ide-ide tersebut Leenen bahwa hukum kesehatan
berupa ide mengenai keadilan. 16. adalah:
Namun demikian, hingga saat “ het geheel van rechtsregel,
ini belum diperoleh suatu dat rechtstreeks bettrekking heft op
pengertian hukum yang memadai zorg voor de gezondheid en de
dengan kenyataan. Hal ini toepassing van overig burgeljk,
dikarenakan hukum memiliki administratief en strfrecht in dat
banyak segi dan bentuk , verband. Dit geheel van rechtregels
sebagaimana diungkapkan oleh omvat niet allen wettelijk recht en
Lemaire, bahwa hukum banyak internationale, maar ook
seginya serta meliputi segala internationale richtlijnen
lapangan kehidupan manusia gewoonterecht en
menyebabkan orang tidak mungkin jurisprudenterecht, terwijl ook
membuat suatu definisi hukum wetenschap en literetuur bronnen
yang memadai dan komprehensif 17. vanrecht kunnen zijn”.
Hukum pada dasarnya
merupakan hasil karya manusia Dari apa yang dirumuskan
yang mengatur tata tertib dalam Leenen tersebut memberikan
masyarakat yang bersifat memaksa, kejelasan apa yang dimaksud
dengan cabang baru dalam ilmu
16
Ibid 11. hukum, yaitu hal-hal yang berkaitan
17
Sudikno Mertokusumo,Mengenal Hukum, Suatu
Pengantar, Yogyakarta,Liberti,1986,hlm 73.

6 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


dengan pemeliharaan kesehatan 3. Hukum rumah sakit
(zorg voor de gezondheid). 18 (Hospital law)
4. Hukum pencemaran
Adapun hukum kesehatan lingkungan(Environmental law)
menurut Anggaran Dasar 5. Hukum limbah (dari
Perhimpunan Hukum Kesehatan industry, rumah tangga, dan
Indonesia (PERHUKI), adalah sebagainya)
semua ketentuan hukum yang 6. Hukum polusi (bising,
berhubungan langsung dengan asap, debu, bau, gas yang
pemeliharaan/pelayanan kesehatan mengandung racun)
dan penerapannya. Hal ini 7. Hukum peralatan yang
menyangkut hak dan kewajiban memakai X-ray (Cobalt, nuclear)
baik dari perorangan dan segenap 8. Hukum keselamatan kerja
lapisan masyarakat sebagai 9. Hukum dan peraturan-
penerima pelayanan kesehatan peraturan lainnya yang ada
nmaupun dari pihak penyelenggara kaitan langsung yang dapat
pelayanan kesehatan dalam segala mempengaruhi kesehatan
aspeknya, organisasinya, sarana, manusia. 19
pedoman standar pelayanan medik, Dapat dilukiskan bahwa,
ilmu pengetahuan kesehatan, dan sumber hukum dalam hukum
hukum, serta sumber-sumber kesehatan meliputi hukum tertulis,
hukum lainnya. yurisprudensi, doktrin. Dilihat dari
Menurut Van der Vijn yang obyeknya , maka hukum kesehatan
dikutip oleh Sadi Is, hukum mencakup segala aspek yang
kesehatan dapat dirumuskan berkaitan dengan pemeliharaan
sebagai kumpulan pengaturan yang kesehatan (zorg voor de
berkaitan dengan pemberian gezondheid). Dengan demikian
perawatan dan juga penerapannya dapat dibayangkan bahwa hukum
kepada hukum perdata,hukum kesehatan cukup luas dan
20
pidana, dan hukum administrasi. kompleks.
Jika dilihat hukum kesehatan, maka 3. Kedudukan Hukum
ia meliputi: Kesehatan
Undang-undang Dasar
1. Hukum medis (Medical 1945 mengamanatkan bahwa
law)
19
2. Hukum keperawatan Muhamad Sadi Is,Etika &Hukum Kesehatan
Teori dan Aplikasinya di Indonesia,
(Nurse law) Parnamedia Group, Jakarta, 2015, hlm 3
20
Irma Siregar, 2001. Definisi Hukum Kesehatan
18
Cecep Triwibowo, Etika dan Hukum Kesehatan, ,http://irma-siregar.blogspot.com. Diakses
Nuha Medika, Yogyakarta,2014 hlm 14 pada tanggal 17 Agustus 2016.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 7


kesehatan adalah hak asasi manusia. terhadap pasien “receiver” untuk
Pada Pasal 28H dinyatakan bahwa mendapat pelayanan kesehatan. 22
setiap orang berhak hidup sejahtera Koeswadji menyatakan
lahir dan batin, bertempat tinggal pada asasnya hukum kesehatan
dan mendapatkan lingkungan hidup bertumpu pada hak atas
yang baik dan sehat serta berhak pemeliharaan kesehatan sebagai hak
memeperoleh pelayanan kesehatan. dasar social (the right to health
Selanjutnya Pasal 34 ayat (3) care) yang ditopang oleh 2 (dua)
dinyatakan bahwa Negara hak dasar individual yang terdiri
bertanggung jawab atas penyediaan dari hak atas informasi (the right to
fasilitas pelayanan umum yang information) dan hak menentukan
layak. Hal ini menunjukkan nasibnya sendiri (the right of self
pemerintah berkewajiban untuk determination) serta untuk
menyehatkan yang sakit dan merealisasikan hak atas
berupaya mempertahankan yang pemeliharaan dapat juga
sehat untuk tetap sehat. mengandung pelaksanaan hak untuk
Berdasarkan Undang-undang hidup, hak atas privasi, dan hak
Nomor 36 Tahun 2009 tentang untuk memperoleh informasi 23.
kesehatan menyebutkan bahwa 4. Definisi Profesi
kesehatan adalah keadaan sejahtera Profesi berasal dalam
dari badan, jiwa dan sosial yang Kamus Besar Bahasa Indonesia
memungkingkan setiap ornag hidup dijelaskan pengertian profesi adalah
produktif secara social dan bidang pekerjaan yang dilandasi
ekonomis. Dengan demikian, pendidikan keahlian (ketrampilan,
kesehatan selain sebagai hak asasi kejujuran, dan sebagainya)
24
manusia, kesehatan juga merupakan tertentu . Pada
suatu investasi 21. umumnya, profesi dapat dilukiskan
Hukum kesehatan sebagai pekerjaan yang
termasuk hukum lex spesialis, menyediakan atau memberikan
melindungi secara khusus tugas pelayanan yang highlyspecialized
profesi kesehatan (provider) dalam intellectual. Jadi profesi adalah
program pelayanan kesehatan
manusia menuju kearah tujuan 22
Cecep Triwibowo Op cit hal 14
deklarasi “health for all” dan 23
Hermien Hadiati Koeswadji, Hukum
perlindungan secara khusus Kedokteran, Studi Tentang Hubungan Hukum
Dalam Mana Dokter Sebagai Salah Satu
Pihak . PT. Citra Aditya Bakti;
Bandung,1998,hal 22.
24
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen
21
Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi Kedua,
Tahun 2011-2015, Jakarta, 2011 hal 5. Jakarta: Balai Pustaka, 1991, hlm 271.

8 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


pekerjaan yang membutuhkan 9. Pelatihan yang
pelatihan dan penguasaan terhadap professional terhadap
suatu pengetahuan khusus. Suatu penggunaan yang
profesi biasanya memiliki asosiasi bertanggung jawab dari
profesi, kode etik, serta proses pekerjaan profesi.
sertifikasi dan lisensi yang khusus 10. Hubungan erat dengan
untuk bidang profesi tertentu25. profesi lain26.
Menurut Budi Susanto, 5. Tenaga Medis
ciri-ciri profesi ada 10, yaitu: Secara gramatikal dan
1. Suatu bidang yang secara yuridis, terdapat perbedaan
terorganisasi dari jenis mengenai pengertian tenaga
intelektual yang terus medis. Menurut Kamus Besar
menerus dan berkembang Bahasa Indonesia, tenaga berarti
dan diperluas. pertama orang yang bekerja atau
2. Suatu teknis intelektual. mengerjakan sesuatu, atau kedua
3. Penerapan praktis dari tenaga berarti pekerja27, dan
teknis intelektual pada medis berarti termasuk atau
urusan praktis. berhubungan dengan bidang
28
4. Suatu periode jenjang kedokteran . Dengan demikian
untuk pelatihan dan tenaga medis secara gramatikal
sertifikasi. adalah pekerja (sumber daya
5. Beberapa standardan manusia) yang berhubungan
pernyataan tentang etika dengan bidang kedokeran.
yang dapat Sedangkan secara yuridis,
diselenggarakan. pengertian mengenai tenaga medis
6. Kemampuan memberi tidak seragam. Dalam Undang-
kepemimpinan pada undang No. 44 Tahun 2009
profesi sendiri. tentang Rumah Sakit, tenaga
7. Asosiasi dari anggota- medis merupakan bagian dari
anggota profesi yang tenaga tetap sumber daya manusia
menjadi suatu kelompok rumah sakit.
yang akrab dengan Pasal 1 angka 2 UU No. 36
kualitas komunikasi yang Tahun 2009 tentang Kesehatan,
tinggi antara anggota. sumber daya dibidang kesehatan
8. Pengakuan sebagai
profesi. 26
Budi Susanto dalam Supriadi, Etika dan
Tanggung Jawab Profesi Hukum di Indonesia,
Jakarta: Sinar Grafika, 2008, hlm, 18.
25 27
Irawan ,Profesi, http://www.wikipedia.org, Op cit Kamus Besar Bahasa Indonesia hlm 274
28
diakses 20 Agustus 2016. Ibid hlm 274

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 9


adalah segala bentuk dana, tenaga, pendidikan kedokteran dan
perbekalan kesehatan, sediaan kedokteran gigi baik didalam
farmasi dan alat kesehatan serta negeri maupun luar negeri yang
fasilitas kesehatan dan teknologi diakui oleh Pemerintah Republik
yang dimanfaatkan untuk Indonesia sesuai dengan peraturan
menyelenggarakan upaya perundangan-undangan.
kesehatan yang dilakukan oleh
pemerintah, pemerintah daerah, 6. Kewenangan Dokter
dan/atau masyarakat. Menurut Undanng-undang
No. 29 Tahun 2004 Tentang
Selanjutnya dalam pasal 1 Praktek Kedokteran Pasal 35,
angka 6 UU No. 36 Tahun 2009 Dokter atau dokter gigi yang telah
tentang Kesehatan, tenaga memiliki surat tanda registrasi
kesehatan adalah setiap orang mempunyai wewenang melakukan
yang mengabdikan dirinya dalam praktek kedokteran sesuai dengan
bidang kesehatan serta memiliki pendidikan dan kompetensi yang
pengetahuan dan/atau ketrampilan dimiliki,yang terdiri atas:
melalui pendidikan di bidang 1. mewawancarai pasien;
kesehatan yang untuk jenis 2. memeriksa fisik dan
tertentu memerlukan kewenangan mental pasien;
untuk melakukan upaya 3. menentukan pemeriksaan
kesehatan. penunjang;
4. menegakkan diagnosis;
Undang-undang No. 44 5. menentukan
Tahun 2009 tentang Rumah Sakit penatalaksanaan dan
tidak secara tegas mendifinisikan pengobatan pasien;
yang dimaksud dengan tenaga 6. melakukan tindakan
medis. Namun demikian kedokteran atau
berdasarkan penjelasan Pasal 13 kedokteran gigi;
ayat (1) dapat disimpulkan bahwa 7. menulis resep obat dan alat
yang dimaksud denagan tenaga kesehatan;
medis adalah dokter. 8. menerbitkan surat
Sedangkan dalam pasal 1 keterangan dokter atau
angka 2 UU No. 29 Tahun 2004 dokter gigi;
Tentang Praktek Kedokteran 9. menyimpan obat dalam
disebut secara khusus mengenai jumlah dan jenis yang
dokter, yaitu “Dokter dan dokter diizinkan; dan
gigi adalah dokter spesialis, dokter 10. meracik dan menyerahkan
umum, dan dokter gigi lulusan obat kepada pasien, bagi

10 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


yang praktik di daerah saat itu, sehingga dapat
terpencil yang tidak ada dipertanggungjawabkan.
apotek29 . Sedangkan menurut Budi
Sampurno, dalam melakukan
7. Tindakan Medis tindakan medik yang merupakan
Tindakan medik adalah suatu keputusan etik, seorang
tindakan professional oleh dokter dokter harus :
terhadap pasien dengan tujuan 1. Mempertimbangkan nilai-
memelihara, meningkatkan, nilai yang hidup di dalam
memulihkan kesehatan, atau masyarakat, profesi,
menghilangkan atau mengurangi pasien;
penderitaan.meski memang harus 2. Mempertimbangkan etika,
dilakukan, tetapi tindakan medik prinsip-prinsip moral, dan
tersebut ada kalanya atau sering keputusan-keputusan
dirasa tidak menyenangkan. khusus pada kasus klinis
Tindakan medik adalah suatu yang dihadapi. 30
tindakan seharusnya hanya boleh Secara material, menurut
dilakukan oleh para tenaga medis, Danny Wiradharma, suatu
karena tindakan itu ditujukan tindakan medik tidak bertentangan
terutama bagi pasien yang dengan hukum apabila memenuhi
mengalami gangguan kesehatan. syarat-syarat sebagai berikut :
Suatu tindakan medik adalah 1. Mempunyai indikasi medik,
keputusan etik karena dilakukan untuk mencapai suatu
oleh manusia terhadap manusia tujuan yang konkret.
lain, yang umumnya memerlukan 2. Dilakukan menurut aturan-
pertolongan dan keputusan aturan yang berlaku dalam
tersebut berdasarkan ilmu kedokteran
pertimbangan atas beberapa 3. Sudah mendapat
alternatif yang ada. Keputusan persetujuan dari pasien 31.
etik harus memenuhi tiga syarat, Syarat pertama dan kedua juga
yaitu bahwa keputusan tersebut disebut sebagai bertindak secara
harus benar sesuai ketentuan yang legal artis. Secara yuridis sering
berlaku, juga harus baik tujuan dipermasalahkan apakah suatu
dan akibatnya, dan keputusan tindakan medik dapat dimasukkan
tersebut harus tepat sesuai dengan dalam pengertian penganiayaan.
konteks serta situasi dan kondisi
30
http://handarsubhandi.blogspot.co.id/2014/09/pe
29 ngertian-tindakan-medik.html, diakses 16
http://www.ilunifk83.com/t93-uu-ri-no-29-
tahun-2004-tentang-praktik-kedokteran, Desember 2016
31
diakses 19 Desember 2016 ibid

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 11


Akan tetapi dengan dipenuhinya Keperawatan, yang dimaksud
ketiga syarat tersebut di atas maka perawat adalah seseorang yang
kemudian menjadi jelas. telah lulus pendidikan
Sebenarnya kualifikasi yuridis keperawatan, baik dalam negeri
mengenai tindakan medik tidak maupun diluar negeri yang diakui
hanya mempunyai arti bagi hukum oleh pemerintah sesuai dengan
pidana saja, melainkan juga bagi ketentuan Peraturan Perundang-
hukum perdata dan hukum undangan 33.
administratif. Dalam menjalankan tugas
Lazimnya persyaratan dalam dan wewenang profesi, maka
hubungan perjanjian antara perawat harus berhaluan pada
pasien-dokter tidak secara Undang-undang RI Nomor 38
eksplisit dituangkan dalam tahun 2014 Tentang Keperawatan,
perumusan persyaratan perjanjian, yaitu pada pasal 29, dinyatakan:
namun dianggap telah terkandung Ayat (1) Dalam
di dalam sesuai dengan etik yang menyelenggarakan Praktik
mengikuti dokter dalam Keperawatan, Perawat bertugas
menjalankan profesi jabatannya. sebagai: pemberi Asuhan
Dalam hubungan tersebut Keperawatan, penyuluh dan
pengertian informasi pasien konselor bagi Klien, pengelola
merupakan suatu bentuk umum Pelayanan Keperawatan, peneliti
penerangan kepada pasien pada Keperawatan, pelaksana tugas
umumnya. Guwandi menyebutkan berdasarkan pelimpahan
bahwa dokter dalam melakukan wewenang, dan/atau pelaksana
tindakan medik haruslah tugas dalam keadaan keterbatasan
berdasarkan empat hal, yaitu : tertentu, serta pada ayat (2) Tugas
1. Adanya indikasi medik; sebagaimana dimaksud pada ayat
2. Bertindak secara hati-hati ; (1) dapat dilaksanakan secara
3. Bekerja berdasarkan bersama ataupun sendiri sendiri.,
standar profesi medis dan ayat (3) Pelaksanaan tugas
prosedur operasional; Perawat sebagaimana dimaksud
4. Ada persetujuan tindakan pada ayat (1) harus dilaksanakan
medik (Informed secara bertanggung jawab dan
32
Consent) . akuntabel.
8. Perawat
Menurut Undang-undang Sedangkan dalam pasal 37,
RI No. 38 Tahun 2014 Tentang dinyatakan Perawat dalam
33
Undang-undang RI No. 38 Tahun 2014 Tentang
32
Op cit Cecep Triwibowo hal 187 Keperawatan pasal 1

12 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


melaksanakan Praktik Perawat terdiri atas : Perawat
Keperawatan berkewajiban: profesi; dan Perawat vokasi.
melengkapi sarana dan prasarana Perawat profesi sebagaimana
Pelayanan Keperawatan sesuai dimaksud pada' ayat (1) huruf a
dengan standar Pelayanan terdiri atas: ners, dan ners
Keperawatan dan ketentuan spesialis.
Peraturan Perundang-undangan,
memberikan Pelayanan Dalam praktik
Keperawatan sesuai dengan kode keperawatan, fungsi perawat
etik, standar Pelayana terdiri dari tiga yaitu fungsi
Keperawatan, standar profesi, independen, fungsi interdependen,
standar prosedur operasional, dan dan fungsi dependen. 34
ketentuan Peraturan Perundang-- 1. Fungsi independen adalah i
undangan, merujuk Klien yang has e activiiies that are
tidak dapat ditangani kepada considered to be within
Perawat atau tenaga kesehatan nursing ’s scope of
lain yang lebih tepat sesuai diagnosis and treatment.
dengan lingkup dan tingkat Dalam fungsi ini tindakan
kompetensinya, perawat tidak memerlukan
mendokumentasikan Asuhan perintah dokter. Tindakan
Keperawatan sesuai dengan perawat ini bersifat mandiri,
standar, memberikan informasi berdasarkan pada ilmu dan
yang lengkap, jujur, benar, jelas, kiat keperawatan. Oleh
dan mudah dimengerti mengenai karena perawat bertanggung
tindakan Keperawatan kepada jawab terhadap akibat yang
klien dan/atau keluarganya sesuai timbul dari tindakan yang
dengan batas kewenangannya, diambil, contohnya:
melaksanakan tindakan a. Pengkajian seluruh
pelimpahan wewenang dari tenaga sejarah kesehatan pasien
kesehatan lain yang sesuai dengan atau keluarganya dan
kompetensi Perawat, dan menguji secara fisik
melaksanakan penugasan khusus untuk menentukan status
yang ditetapkan oleh Pemerintah. kesehatan.

Semua jenis perawat


mempunyai kewajiban yang sama, 34
Praptiningsih, S. 2007. Kedudukan Hukum
jenis perawat yang tertuang dalam Perawat dalam Upaya Pelayanan Kesehatan di
undang-undang yang sama, yaitu Rumah Sakit. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
hlm 40.
pada pasal 4, ayat (1) Jenis

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 13


b. Mengidentifikasi gizi memberikan kontribusi
tindakan keperawatan dalam perencanaan makanan
yang mungkin dilakukan dan perawat mengajarkan
untuk memelihara atau dan mengawasi kemampuan
memperbaiki kesehatan. pasien untuk melaksanakan
c. Membantu pasien dalam diet serta mengajarkan
melakukan kegiatan pasien memilih makanan
sehari-hari. sehari-hari. Perawat
d. Mendorong pasien untuk bertanggung jawab secara
berperilaku secara wajar. bersama-sama dengan
2. Fungsi interdependen adalah tenaga kesehatan lain
carried out in conjunction terhadap kegagalan
with other health team pelayanan kesehatan
members. terutama untuk bidang
35
Tindakan perawat berdasar keperawatannya.
pada kerja sama dengan tim 3. Fungsi dependen adalah the
perawatan atau tim activities performed based
kesehatan. Fungsi ini on the physicians ’s order.
tampak ketika perawat Dalam fungsi ini
bersama tenaga kesehatan perawat bertindak
lain berkolaborasi membantu dokter dalam
mengupayakan kesembuhan memberikan pelayanan
pasien. Sebagai sesama medik. Perawat membantu
tenaga kesehatan dokter memberikan
mempunyai kewajiban pelayanan pengobatan dan
untuk memberikan tindakan khusus yang
pelayanan kesehatan kepada menjadi wewenang dokter
pasien sesuai bidang dan seharusnya dilakukan
ilmunya. Dalam kolaborasi dokter, seperti pemasangan
ini pasien menjadi fokus infus, pemberian obat,
upaya pelayanan kesehatan. melakukan suntikan
Contohnya untuk menangani (Injectie), kegagalan
ibu hamil penderita diabetes, tindakan medis menjadi
perawat bersama tenaga gizi tanggung jawab dokter. 36
berkolaborasi membuat Fungsi perawat berkaitan
rencana untuk menentukan dengan Pratik terdapat Keputusan
kebutuhan makanan yang
diperlukan bagi ibu dan 35
Ibid hlm 41
perkembangan janin. Ahli 36
Ibid hlm 42

14 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


Menteri Kesehatan RI No. 17 memungkinkan setiap orang hidup
Tahun 2013 Perubahan Atas produktif secara sosial dan
Peraturan Menteri Kesehatan ekonomis, hal ini tertuang dalam
HK.02.02/MENKES/148/2010, Undang-undang Nomor 36 Tahun
Tentang Izin dan Penyelenggaraan 2009 Tentang Kesehatan.
Pratik Perawat Pasal 8. Perawat Perhatian pemerintah
dalam melaksanakan praktik terhadap profesi keperawatan
keperawatan berwenang untuk: dibuktikan dengan adanya
“Melaksanakan asuhan Undang-undang Nomor 36 Tahun
keperawatan yang meliputi 2009 Tentang Kesehatan Pasal 63
pengkajian, penetapan diagnosa ayat:
keperawatan, perencanaan, “Pengendalian, pengobatan
melaksanakan tindakan dan/atau perawatan dapat
keperawatan dan evaluasi dilakukan berdasarkan ilmu
keperawatan, Tindakan kedokteran atau ilmu keperawatan
keperawatan sebagaimana atau cara lain yang dapat
dimaksud pada butir a meliputi: dipertanggungjawabkan
intervensi keperawatan, observasi kemanfaatan dan
keperawatan, pendidikan dan keamanannya,Pelaksanaan
konseling kesehatan, Dalam pengobatan dan/atau keperawatan
melaksanakan asuhan berdasarkan ilmu kedokteran atau
keperawatan sebagaimana ilmu keperawatan hanya dapat
dimaksud huruf a dan b harus dilakukan oleh tenaga kesehatan
sesuai dengan standar asuhan yang mempunyai keahlian dan
keperawatan yang ditetapkan oleh kewewenangan untuk itu,
organisasi profesi, Pelayanan Pemerintah dan pemerintah daerah
tindakan medik hanya dapat melakukan pembinaan dan
dilakukan berdasarkan permintaan pengawasan terhadap pelaksanaan
tertulis dari dokter”. pengobatan dan/atau
perawatanatau berdasarkan cara
Bentuk praktik lain yang dapat
keperawatan berupa upaya dipertanggungjawabkan”.
mengidentifikasi dan membantu
memenuhi kebutuhan dasar Ditindak lanjuti dengan
manusia. Upaya keperawatan Permenkes Nomor 17 Tahun 2013
meningkatkan peran perawat Tentang Peraturan Perubahan dari
dalam ikut serta mencapai Permenkes Nomor
keadaan sejahtera dari badan, HK.02.02/Menkes/148/2010,
jiwa, dan sosial yang Pasal 2 yaitu:

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 15


“Perawat dapat melaksanakan diperoleh dengan melengkapi
praktik keperawatan di fasilitas beberapa persyaratan seperti
pelayanan kesehatan, Fasilitas terdapat dalam pada Pasal 5,
pelayanan kesehatan sebagaimana yaitu:
dimaksud pada ayat (1) meliputi “Untuk memperoleh SIKP
pelayanan kesehatan di luar atau SIPP sebagaimana yang
praktik mandiri dan/atau praktik dimaksud dalam Pasal 3, Perawat
mandiri, Perawat yang harus mengajukan permohonan
menjalankan praktik mandiri kepada pemerintah
sebagaimana yang diatur pada Kabupaten/Kota dengan
ayat (2) berpendidikan minimal melampirkan, Fotocopi STR yang
Diploma III (D.III) masih berlaku dan dilegalisir,
Keperawatan”. Surat keterangan sehat fisik dari
dokter yang memiliki Surat Ijin
Perawat dalam Praktik, Surta pernyataan
melaksanakan praktek memiliki tempat praktik mandiri
keperawatan baik di fasilitas atau di fasilitas pelayanan
pelayanan kesehatan maupun kesehatan di luar praktik mandiri,
praktek keperawatan mandiri Pas foto terbaru ukuran 4x6
harus mempunyai surat ijin lembar sebanyak 3 (tiga) lembar,
praktek keperawatan yangdiatur rekomendasi dari kepala dinas
dalam Pasal 3 yang berbunyi: kabupaten/kota atau pejabat yang
“Setiap Perawat yang ditunjuk, dan rekomendasi dari
menjalankan praktik keperawatan organisasi profesi”.
di fasilita pelayanan kesehatan di
luar praktik mandiri wajib a. Jenis Tindakan
memiliki SIKP, Setiap perawat Keperawatan
yang menjalankan praktik Tindakan perawat yang
keperawatan wajib memiliki SIPP, bekerja di RS dapat dibagi
SIKP dan SIPP sebagaimana yang menjadi 37 :
dimaksud pada ayat (1) dan ayat 1) Caring activities semua
(2) dikeluarkan oleh pemerintah tindakan keperawatan yang
daerah kabupaten/kota dan memang menjadi tanggung
berlaku untuk 1 (satu) tempat”. jawab perawat dan oleh
karenanya perawat yang
Dalam menjalankan bersangkutan bertanggung
praktek keperawatan seorang
37
Dahlan Sofyan, 2010.Pertanggungjawaban Hukum
perawat harus mempunyai ijin PerawatpadaPelayanan Kesehatan di Rumah
praktek keperawatan, yang dapat Sakit.http://sofyan.blogspot.com/2010/12.diakses 12
Agustus 2016.

16 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


jawab secara hukum tempat tertentu yang
terhadap tindakan tersebut; telah ditetapkan.
meliputi keputusan 3) Delegated medical
(decision) yang dibuatnya activities adalah adalah
serta pelaksanaan suatu tindakan yang
(execution) dari keputusan menjadi bagian dari
tersebut. kewenangan medik,
2) Technical activities adalah tetapi telah didelegasikan
semua tindakan kepada perawat.
keperawatan dimana b. Peran Perawat
perawat hanya Dilihat dari peran
bertanggung jawab secara perawat, maka secara garis
hukum terhadap besar perawat mempunyai
pelaksanaan dari suatu peran sebagai berikut 38:
keputusan yang dibuat oleh 1) Peran perawatan (caring
dokter. Termasuk technical role/independent)
activities antara lain: 2) Peran koordinatif
a) Aktivitas yang (coordinative
dilakukan atas role/interdependent)
perintah tertulis 3) Peran
dokter. Terapeutik(therapeutik
b) Aktivitas role/dependent)
yang dilakukan atas Peran perawatan dan
perintah lisan dokter. peran koordinatif adalah
c) Aktivitas yang tanggung jawab yang mandiri,
dilakukan berdasarkan sementara tanggung jawab
aturan (protap) yang terapeutik adalah
telah dibuat. mendampingi atau membantu
d) Aktivitas yang dokter dalam pelaksanaan
dilakukan dengan tugas kedokteran, yaitu
syarat ada dokter di diagnosis, terapi, maupun
rumah sakit yang tindakan-tindakan medis.
dapat hadir segera. Tugas pokok perawat
e) Aktivitas-aktivitas apabila bekeija di rumah sakit
tertentu di tempat- adalah memberikan pelayanan
tempat tertentu yang berbagai perawatan paripurna.
telah ditetapkan. Oleh karena itu tanggung
f) Aktivitas-aktivitas
tertentu di tempat- 38
Ibid hlm 33.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 17


jawab perawat harus dilihat asuhan keperawatan,
dari peran perawat di atas. penyuluh dan konselor bagi
Dalam peran perawatan dan klien, pengelola pelayanan
koordinatif, perawat keperawatan, peneliti
mempunyai tanggung jawab keperawatan, pelaksana tugas
yang mandiri. Sementara berdasarkan pelimpahan
peran terapeutik disebutkan wewenang, dan/atau,
bahwa dalam keadaan tertentu pelaksana tugas dalam
beberapa kegiatan diagnostik keadaan keterbatasan tertentu.
dan tindakan medis dapat
dilimpahkan untuk Asuhan keperawatan
dilaksanakan oleh perawat. meliputi pengkajian,
Dalam hal ini perlu penetapan diagnosa
diperhatikan bahwa tanggung keperawatan, perencanaan,
jawab utama tetap pada implementasi, dan evaluasi
dokter yang memberikan keperawatan meliputi
tugas. Sedangkan perawat penerapan, perencanaan dan
mempunyai tanggung jawab pelaksanaan tindakan
pelaksana. Pelimpahan hanya keperawatan. Sementara
dapat dilaksanakan setelah tindakan keperawatan
perawat tersebut mendapat meliputi prosedur
pendidikan dan kompetensi keperawatan, observasi
yang cukup untuk menerima keperawatan, pendidikan dan
pelimpahan. Pelimpahan konseling kesehatan. Dalam
jangka panjang atau terus Undang-undang RI No. 38
menerus dapat diberikan Tahun 2014 Tentang
kepada perawat kesehatan Keperawatan pasal 30 ayat (1)
dengan kemahiran khusus, huruf (j) terdapat kejelasan
yang diatur dengan peraturan wewenang dalam
tersendiri (standing order). memberikan obat kepada
pasien. Bahwa perawat dalam
c. Wewenang Perawat menjalankan asuhan
Wewenang dalam keperawatan dapat melakukan
melaksanakan praktik penatalaksanaan obat kepada
keperawatan diatur dalam klien sesuai dengan resep
Undang-undang RI No. 38 tenaga medis atau obat bebas
Tahun 2014 Tentang dan obat bebas terbatas, yang
Keperawatan, perawat dimaksud dengan obat bebas
bertugas sebagai: pemberi terbatas adalah obat yang

18 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


berlogo bulatan berwarna melakukan suatu tindakan
biru yang dapat di peroleh atau kemampuan bertindak
tanpa resep dokter. yang diberikan undang-
9. Pelimpahan Wewenang undang yang berlaku untuk
a. Pengertian Pelimpahan melakukan hubungan-
Wewenang hubungan hukum.
Pelayanan kesehatan Berdasarkan pengertian diatas
sebagai perbuatan hukum bahwa wewenang dapat
menimbulkan akibat hukum, dijalankan apabila mendapat
baik bagi pemberi maupun keabsahan atau legitimasi.
penerima jasa layanan Menurut Muchsan
kesehatan. Akibat hukum kewenangan dibagi 2 macam
timbul karena adanya yaitu: pertama kewenangan
perbuatan hukum terkait atributif yaitu kewenangan
dengan pelaksanaan tugas, yang diberikan secara
fungsi, dan wewenang dari langsung oleh peraturan
tenaga kesehatan. Setidaknya perundang-undangan dan
terdapat dua standar umum bersifat permanent atau tetap
wewenang, 39 yaitu: pertama, selama ada undang-undang
penggunaan wewenang mengaturnya, kedua
berdasarkan peraturan kewenangan non atributif
perundang-undangan yang yaitu kewenangan yang
berlaku; dan kedua, diperoleh karena pelimpahan
penggunaan wewenang tidak wewenang. Kewenangan
boleh merugikan pihak/orang atributif perawat sebagai
lain. Wewenang didefinisikan tenaga kesehatan adalah
sebagai kekuasaan membuat kewenangan berdasarkan
keputusan, memerintah, dan kompetensi, yang dimaksud
melimpahkan tanggung jawab kewenangan kompetensi
kepada orang lain. adalah kewenangan untuk
Kewenangan atau wewenang melakukan pelayanan
dalam literatur berbahasa kesehatan secara mandiri
Inggris disebut authority atau sesuai dengan lingkup dan
competence, sedangkan dalam tingkat kompetensinya. 40
bahasa Belanda disebut gezag b. Proses Pelimpahan
atau bevoegdheid. Wewenang Wewenang
adalah kemampuan untuk
39 40
dokumen.tips/documents/kewenangan- Penjelasan pasal 62 UU RI No.36 Tahun 2014
atribusi.html Diakses 1 November 2016 Tentang Tenaga Kesehatan.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 19


Selain secara atribusi, memberikan mandat.
wewenang juga dapat 3) Pemberi delegasi tidak
diperoleh melalui dapat lagi menggunakan
proses pelimpahan wewenang wewenang yang
yang terbagi menjadi dimilikinya karena telah
dua,yaitu delegasi dan terjadi pengalihan
41
mandat wewenang kepada yang
Diantara kedua jenis diserahi wewenang,
pelimpahan wewenang ini, sedangkan pemberi
perbedaan antara keduanya mandat masih dapat
adalah sebagai berikut 42 : menggunakan wewenang
1) Pendelegasian diberikan bilamana mandat telah
biasanya antara organ berakhir.
pemerintah satu dengan 4) Pemberi delegasi tidak
organ pemerintah lain, wajib memberikan suatu
dan biasanya pihak instruksi (penjelasan)
pemberi wewenang kepada yang diserahi
memiliki kedudukan lebih wewenang mengenai
tinggi dari pihak yang penggunaan wewenang
diberikan wewenang, tersebut namun berhak
sedangkan mandate untuk meminta penjelasan
umumnya diberikan mengenai wewenang
dalam hubungan kerja tersebut, sedangkan
internal antara atasan dan pemberi mandat wajib
bawahan. untuk memberikan suatu
2) Pada delegasi terjadi instruksi (penjelasan)
pengakuan kewenangan kepada yang diserahi
atau pengalihan wewenang dan berhak
kewenangan. Sedang untuk meminta penjelasan
pada mandate tidak terkait pelaksanaan
terjadi pengakuan wewenang tersebut.
kewenangan atau 5) Tanggung jawab atas
pengalihan kewenangan pelaksanaan wewenang
dalam arti yang diberi berada pada pihak yang
mandat hanya bertindak menerima wewenang
untuk dan atas nama yang tersebut, sedangkan
tanggung jawab atas
41
pelaksanaan wewenang
Ibid, h. 94-95.
42
Ibid. 37.
tidak beralih dan tetap

20 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


berada pada pihak yang (overdragen) kepada suatu
memberi mandat. badan atas kekuasaan dan
Baik wewenang yang tanggung jawab sendiri
diperoleh berdasarkan atribusi wewenang untuk membuat/
maupun berdasarkan membentuk peraturan
pelimpahan sama-sama harus perundang-undangan.
terlebih dahulu dipastikan Wewenang atribusi dan
bahwa yang melimpahkan delegasi dalam membuat/
benar-benar memiliki membentuk peraturan
wewenang tersebut dan perundang-undangan timbul
wewenang itu benar ada karena44 :
berdasarkan konstitusi atau 1. Tidak dapat bekerja
peraturan perundang- cepat dan mengatur segala
43
undangan . sesuatu sampai pada
Demikian pula tingkat yang rinci.
wewenang dalam 2. Adanya tuntutan dari
pembentukan peraturan para pelaksana untuk
Perundang-undangan dapat melayani kebutuhan
dibedakan antara atribusi dan dengan cepat berdasarkan
delegasi. aturan-aturan hukum
Atribusi terdapat apabila tertentu.
adanya wewenang yang Berdasarkan Undang-
diberikan oleh Undang- Undang No.36 Tahun 2014
Undang Dasar atau Undang- tentang Tenaga Kesehatan,
Undang kepada suatu badan dapat tergambar dengan jelas
dengan kekuasaan dan proses pelimpahan wewenang
tanggung jawab sendiri dari tenaga medis kepada
(mandiri) untuk membuat/ perawat, pada ayat (1)
membentuk peraturan dijelaskan dalam melakukan
perundang-undangan. pelayanan kesehatan, tenaga
Sedangkan delegasi terdapat kesehatan dapat menerima
apabila suatu badan (organ) pelimpahan tindakan medis dari
yang mempunyai wewenang tenaga medis, dan dalam ayat
secara mandiri membuat (3) bahwa pelimpahan tindakan
peraturan perundang- sebagaimana dimaksud pada
undangan (wewenang ayat (1) dilakukan dengan
atribusi) menyerahkan ketentuan:

43 44
Ibid.95 Ibid.97

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 21


“Tindakan yang dilimpahkan sesuai ketentuan peraturan
termasuk dalam kemampuan perundang-undangan, pelimpahan
dan ketrampilan yang telah wewenang kepada perawat, bidan
dimiliki oleh penerima atau tenaga lainnya dalam
pelimpahan, pelaksanaan keadaan tertentu dimana
tindakan yang dilimpahkan tetap pelayanan kesehatan dibutuhkan
di bawah pengawasan pemberi dan tidak terdapat dokter dan
pelimpahan, pemberi dokter gigi di tempat tersebut
pelimpahan tetap bertanggung diatur lebih lanjut dengan
jawab atas tindakan yang Peraturan Menteri”.
dilimpahkan sepanjang
pelaksanaan tindakan sesuai Dalam keadaan tertentu
dengan pelimpahan yang beberapa kegiatan diagnostik dan
diberikan, tindakan yang tindakan medik dapat dilimpahkan
dilimpahkan tidak termasuk untuk dilaksanakan oleh perawat.
pengambilan keputusan Dalam hal ini periu diperhatikan
sebagaidasar pelaksanaan bahwa tanggung jawab utama
tindakan”. tetap pada dokter yang
memberikan tugas. Sedangkan
Berdasarkan Permenkes perawat mempunyai tanggung
Nomor jawab pelaksana. Pelimpahan
2052/MENKES/PER/X/2011 hanya dapat dilaksanakan setelah
Tentang Izin Praktik Dan perawat tersebut mendapat
Pelaksanaan Praktik pendidikan dan kompetensi yang
45
Kedokteran .Pasal 15: cukup untuk menerima
“Dokter dan dokter gigi dapat pelimpahan. Untuk peran
memberikan pelimpahan suatu terapeutik, perawat merupakan
tindakan kedokteran atau perpanjangan tangan (verlengde
kedokteran gigi kepada perawat, arm van de arts). Tanpa adanya
bidan atau tenaga kesehatan delegasi, perawat tidak
tertentu lainnya secara tertulis diperbolehkan mengambil inisiatif
dalam melaksanakan tindakan sendiri, yang artinya 46.
kedokteran atau kedokteran gigi, 1) Dokter secara moral
tindakan kedokteran atau maupun yuridis
kedokteran gigi sebagaimana bertanggung jawab atas
dimaksud pada ayat (1) harus tindakan- tindakan perawat

45 46
Permenkes RI Nomor Soerjono Soekanto, Pengantar Hukum
512/MENKES/PER/IV/2007 tentang Izin Kesehatan, Bandung:Remaja Karya, 1987,
Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. hlm.101.

22 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


yang dilakukan Berdasarkan
berdasarkan perintah Pelimpahan
dokter. Wewenang
Tanggung jawab
2) Dokter harus mengamati
kesehatan di dalam rumah
tindakan-tindakan yang
sakit menurut doktrin
dilakukan perawat dan 47
kesehatan, yaitu :
harus menjamin apa yang
1. Personal Liability, adalah
dilakukan perawat adalah
tanggung jawab yang
benar.
melekat pada individu
3) Dokter harus mampu seseorang. Artinya siapa
memberikan petunjuk yang berbuat dialah yang
apabila perawat melakukan bertanggung jawab.
kesalahan. 2. Strict Liability, adalah
tanggung jawab yang
4) Dokter hanya sering disebut sebagai
mempercayakan hal-hal tanggung jawab tanpa
yang menurut pendidikan kesalahan (liability without
keperawatan mampu dan fault). Mengingat
cakap dilakukan oleh seseorang harus
perawat. bertanggung jawab
5) Dokter mendidik perawat meskipun tidak melakukan
agar, mampu memberikan kesalahaan apa-apa, baik
informasi yang benar yang bersifat sengaja
kepada pasien. (intentional),
Apabila perawat kecanggungan
merupakan subordinate dari (tactlessness), ataupun
rumah sakit maka sudah kelalaian (negleigence).
barang tentu tanggung jawab Contohnya produsen harus
atas terjadinya midwive error, membayar ganti rugi atas
dapat dialihkan kepada rumah terjadinya malapetaka
sakit sebagai ordinate. Akan akibat produk yang
tetapi apabila perawat dihasilkan, kecuali
menjadi bagian dari dokter produsen telah
mitra, maka tanggung jawab memberikan peringatan
dapat dialihkan kepada dokter
mitra.
47
Jayanti Nusye, Penyelesaian Hukum dalam
c. Tanggung Jawab Malpraktek Kedokteran, Pustaka Yustisia,
Tenaga Kesehatan Yogyakarta,2009 hlm 52

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 23


akan kemungkinan 4. Respondent Liability,
terjadinya risiko tersebut. adalah tanggung jawab
renteng. Sebagai contoh,
3. Vicarious Liability, adalah
sebuah rumah sakit dapat
tanggung jawab yang
menjadi subjek tanggung
timbul akibat kesalahan
renteng tergantung dari
yang dibuat oleh
pola hubungan kerja antar
bawahannya (subordinate).
tenaga kesehatan dengan
Dalam kaitannya dengan
rumah sakit, yang mana
pelayanan medis, maka
pola hubungan tersebut
rumah sakit (employer)
juga akan menentukan
dapat bertanggung jawab
hubungan terapeutik
atas kesalahan yang dibuat
dengan pihak pasien yang
oleh tenaga kesehatan yang
berobat di rumah sakit.
bekeija dalam kedudukan
5. Corporate Liability, adalah
sebagai subordinate
tanggung jawab yang
(employee). Lain halnya
berada pada pemerintah
jika sebagai mitra dokter
dalam hal ini kesehatan
(attending physician)
menjadi tanggung jawab
sehingga kedudukannya
Menteri Kesehatan
setingkat dengan rumah
10. Rumah Sakit
sakit.
a. Pengertian Rumah
Doktrin vicarious liability
Sakit
ini, sejalan dengan Pasal
Rumah sakit adalah
1367 yang berbunyi:
institusi pelayanan
“Seseorang tidak hanya
kesehatan yang
bertanggung jawab atas
menyelenggarakan
kerugian yang disebabkan
pelayanan kesehatan
perbuatannya sendiri,
perorangan secara
melainkan juga atas
paripurna yang
kerugian yang disebabkan
menyediakan pelayanan
perbuatan-perbuatan
rawat inap, rawat jalan,
orang-orang yang menjadi
dan rawat darurat. 48
tanggung jawabnya, atau
Rumah sakit menurut
disebabkan barang-barang
Anggaran Dasar
yang berada di bawah
Perhimpunan Rumah
pengawasannya”.

48
Permenkes No. 147 Tahun 2010 Tentang
Perizinan Rumah Sakit

24 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


Sakit Seluruh Indonesia pelayanan rumah sakit,
(PERSI) Bab I pasal 1 pemeliharaan dan
adalah suatu lembaga peningkatan perorangan
dalam mata rantai Sistem melalui pelayanan
Kesehatan Nasional yang kesehatan yang paripurna
mengemban tugas tingkat kedua dan ketiga
pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis,
untuk seluruh penyelenggaraan
masyarakat. Rumah sakit npendidikan dan
adalah suatu sarana yang pelatihan sumber daya
merupakan bagian dari manusia dalam rangka
sistem pelayanan peningkatan kemampuan
kesehatan yang dalam memberikan
merupakan bagian dari pelayanan kesehatan,
sistem pelayanan penyelenggaraan
kesehatan yang penelitian dan
menjalankan rawat inap, pengembangan serta
rawat jalan, dan penapisan teknologi
rehabilitasi berikut segala bidang kesehatan dalam
penunjangnya. rangka peningkatan
b. Tugas dan Fungsi pelayanan kesehatan
Rumah Sakit dengan memperhatikan
Berdasarkan pasal etika ilmu pengetahuan
4 Undang-Undang No. 44 bidang kesehatan”.
Tahun 2009, rumah sakit c. Hubungan Hukum
mempunyai tugas Antara Pasien dengan
memberikan pelayanan Tenaga Kesehatan
kesehatan perorangan Hubungan hukum
secara paripurna. Pasal 5 antara pasien dengan
Undang-Undang No. 44 tenaga perawat berupaya
Tahun 2009 disebutkan memberikan pelayanan
bahwa untuk sesuai dengan kemampuan
menjalankan tugas, dan ilmu yang
49
rumah sakit mempunyai dimilikinya . Hubungan
fungsi: tersebut ditentukan dalam
“Penyelenggara Undang-Undang
pelayanan pengobatan Kesehatan Nomor 36
dan pemulihan kesehatan
sesuai dengan standar 49
Ibid., hlm. 78.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 25


Tahun 2009 50 Pasal pengguna pelayanan
23,yaitu: kesehatan, standar
“Tenaga Kesehatan pelayanan, dan standar
berwenang untuk prosedur operasiona,
menyelenggarakan ketentuan mengenai kode
pelayanan kesehatan, etik dan standar profesi
kewenangan untuk sebagaimana dimaksud
menyelenggarakan pada ayat (1) diatur
pelayanan kesehatan organisasi profesi,
sebagaimana dimaksud ketentuan mengenai hak
pada ayat (1) dilakukan pengguna pelayanan
sesuai dengan bidang kesehatan, standar
keahlian yang dimiliki, pelayanan, dan standar
dalam menyelenggarakan prosedur operasional
pelayanan kesehatan, sebagaimana dimaksud
tenaga kesehatan wajib pada ayat (1) diatur
memiliki ijin dari dengan Peraturan
pemerintah. selama Menteri”.
memberikan pelayanan
kesehatan sebagaimana Hubungan hukum
dimaksud pada ayat (1) antara dokter dan perawat
dilarang mengutamakan dapat terjadi karena
kepentingan yang bernilai adanya rujukan atau
materi, ketentuan pendelegasian yang
mengenai perijinan diberikan oleh dokter pada
sebagaimana dimaksud perawat. Sementara atas
pada ayat (3) diatur dalam hubungan pendelegasian
Peraturan Menteri”. ini, perawat tidak dapat
mengambil kebijaksanaan
Sedangkan dalam pasal
sendiri tetapi melakukan
24, yaitu:
tindakan sesuai dengan
“Tenaga kesehatan
delegasi yang diberikan
sebagaimana dimaksud
oleh dokter51. Hubungan
dalam Pasal 23 harus
antara dokter dan perawat
memenuhi ketentuan kode
ini seperti yang terdapat
etik, standar profesi, hak
dalam Undang-undang No.
50
Anggota IKAPI, Himpunan Peraturan 36 Tahun 2014 tentang
Perundang-undangan Tentang Kesehatan
“Undang-undang Kesehatan Nomor 36 Tahun
51
2009”, Nuansa Aulia: Bandung, hlm. 10-11 Triana Ohoiwutun, op cit, hlm. 85-86.

26 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


Tenaga Kesehatan pada pertanggungjawaban secara
Bagian Ketiga Pelimpahan hukum keperdataan, hukum
Tindakan Pasal 65, bahwa pidana dan hukum administrasi.
dalam praktiknya tanpa a. Pertanggungjawaban Hukum
instruksi dokter, perawat Perdata
tidak berwenang untuk Gugatan keperdataan terhadap
bertindak secara mandiri, perawat bersumber pada dua
kecuali dalam bidang bentuk yakni perbuatan melanggar
tertentu yang bersifat hukum (onrechtmatigedaad)
umum dan merupakan sesuai dengan ketentuan Pasal
tugas dari perawat. 1365 KUHPerdata dan perbuatan
Kewenangan perawat wanprestasi (contractual liability)
ditentukan dalam Undang- sesuai dengan ketentuan Pasal
Undang RI No. 38 Tahun 1239 KUHPerdata. Dan
2014 Tentang pertanggungjawaban tenaga
Keperawatan. Dalam kesehatan bila dilihat dari
praktiknya terkadang ketentuan dalam KUHPerdata
terjadi kerancuan di bidang maka dapat dikatagorikan
kewenangan, yaitu kedalam 4 (empat) prinsip sebagai
kewenangan di bidang berikut 53 :
kedokteran ditangani oleh
perawat. Hal itu 1) Pertanggungjawaban
menyebabkan terjadinya langsung dan mandiri
tumpang tindih dalam (personal liability)
pelaksanaan tugas, Berdasarkan Pasal 1365
khususnya apabila tenaga dan Pasal 1366 KUHPerdata
medis tidak mencukupi ‘‘Setiap tindakan yang
kebutuhan yang diperlukan menimbulkan kerugian atas
pada sarana pelayanan diri orang lain berarti orang
kesehatan52. yang melakukannya harus
11. Tinjauan Yuridis Pelayanan membayar kompensasi
Kesehatan Oleh Perawat sebagai pertanggungjawaban
Pertanggungjawaban perawat kerugian dan seseorang harus
dalam penyelenggaraan pelayanan bertanggung jawab tidak
kesehatan dapat dilihat hanya karena kerugian yang
berdasarkan tiga (3) bentuk dilakukannya dengan sengaja,
pembidangan hukum yakni tetapi juga karena kelalaian

52 53
Triana Ohoiwutun, Opcit, hlm 86. Ibid 33.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 27


atau kurang berhati-hati. dengan kewajiban hukum
Berdasarkan ketentuan pasal si pelaku
tersebut maka seorang b) perbuatan itu melanggar
perawat yang melakukan hak orang lain
kesalahan dalam menjalankan c) perbuatan itu melanggar
fungsi independennya yang kaedah tata suslia
mengakibatkan kerugian pada d) perbuatan itu bertentangan
pasien maka ia wajib dengan asas kepatutan,
memikul tanggung jawabnya ketelitian serta sikap hati-
secara mandiri. Dilihat dari hati yang seharusnya
ketentuan Pasal 1365 dimiliki seseorang dalam
KUHPerdata di atas maka pergaulan dengan sesama
pertanggungjawaban perawat warga masyarakat atau
tersebut lahir apabila terhadap harta benda orang
memenuhi empat unsur yakni: lain.
a) Perbuatan itu melanggar Dengan demikian
hukum bila dilihat dari konsep
b) Ada kesalahan hukum tenaga kesehatan
c) Pasien harus mengalami maka pelanggaran
suatu kerugian terhadap penghormatan
d) Ada hubungan kausal hak-hak pasien yang
antara kesalahan dengan menjadi salah satu
kerugian. kewajiban hukum tenaga
kesehatan dapat
Mengenai apa yang dimasukkan kedalam
dimaksud dengan perbuatan perbuatan melanggar
melanggar hukum, undang- hukum. Pelanggaran
undang tidak memberikan tersebut misalnya tidak
perumusannya. Namun sesuai memberikan menjaga
dengan yurisprudensi, kerahasiaan medik pasien.
ditetapkan adanya empat Dan apabila pasien atau
kriteria perbuatan melanggar kelaurganya menganggap
hukum yaitu 54: telah dirugikan oleh
a) perbuatan itu bertentangan perbuatan tenaga
kesehatan yang melanggar
54 hukum tersebut maka
Marwan Efendy, Teori Hukum Dari
Perspektif,Perbandingan, dan Harmonisasi pasien/keluarganya dapat
Hukum Pidana, PT Referensi, Jakarta, 2014, hlm mengajukan gugatan
186
tuntutan ganti rugi sesuai

28 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


dengan ketentuan Pasal 58 menimpa pasien.
Undang-Undang No. 36 3) Pertanggungjawaban
Tahun 2009 tentang dengan asas zaakwarneming
Kesehatan. berdasarkan Pasal 1354
2) Pertanggungjawaban KUHPerdata
dengan asas respondeat “Jika seorang dengan
superior atau vicarious sukarela, dengan tidak
liabiiity atau let's the mendapat perintah untuk itu,
master answer mewakili urusan orang lain
Khusus di ruang dengan atau ianpa
bedah dengan asas the pengetahuan orang ini, maka
captain of ship melalui Pasal ia secara diam-diam mengikat
1367 KUHPerdata yang dirinya untuk meneruskan
menyebutkan bahwa serta menyelesaikan urusan
“Seseorang harus tersebut, hingga orang yang
memberikan diwakili kepentingannya
pertanggungjawaban tidak dapat mengerjakan sendiri
hanya atas kerugian yang urusan itu. la memikul segala
ditimbulkan dari kewajiban yang harus
tindakannya sendiri, tetapi dipikulnya, seandainya ia
juga atas kerugian yang kuasakan dengan suatu
ditimbulkan dari tindakan pemberian kuasa yang
orang lain yang berada dinyatakan dengan tegas”
dibawah pengawasannya” Dalam hal ini konsep
Bila dikaitkan pertanggungjawaban terjadi
dengan pelaksanaan fungsi seketika bagi seorang perawat
perawat maka kesalahan yang berada dalam kondisi
yang terjadi dalam tertentu harus melakukan
menjalankan fungsi pertolongan darurat di mana
interdependen perawat tidak ada orang lain yang
akan melahirkan bentuk berkompeten untuk itu.
pertanggungjawaban di Perlindungan hukum dalam
atas. Sebagai bagian dari tindakan perawat tersebut
tim maupun orang yang tertuang dalam Pasal 10
bekerja di bawah perintah Permenkes No. 148 Tahun
dokter/rumah sakit, maka 2010. Perawat justru akan
perawat akan bersama- dimintai pertanggungjawaban
sama bertanggung gugat hukum apabila tidak
kepada kerugian yang mengerjakan apa yang

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 29


seharusnya dikerjakan dalam c) Mengerjakan kewajiban
Pasal 10 tersebut. tetapi tidak sesuai dengan
Gugatan berdasarkan yang seharusnya; suatu
wanprestasi seorang perawat tugas yang dikerjakan asal-
akan dimintai asalan. Sebagai contoh
pertanggungjawaban apabila seorang perawat yang
terpenuhi unsur-unsur mengecilkan aliran air
55
wanprestasi yaitu : infus pasien di malam hari
a) Tidak mengerjakan hanya karena tidak mau
kewajibannya sama sekali; terganggu istirahatnya.
dalam konteks ini apabila d) Mengerjakan yang
seorang perawat tidak seharusnya tidak boleh
mengerjakan semua tugas dilakukan; dalam hal ini
dan kewenangan sesuai apabila seorang perawat
dengan fungsinya, peran melakukan tindakan medis
maupun tindakan yang tidak mendapat
keperawatan. delegasi dari dokter,
seperti menyuntik pasien
b) Mengerjakan kewajiban tanpa perintah, melakukan
tetapi terlambat; dalam hal infus padahal dirinya
ini apabila kewajiban belum terlatih.
sesuai fungsi tersebut Apabila seorang perawat
dilakukan terlambat yang terbukti memenuhi unsur
mengakibatkan kerugian wanprestasi, maka
pada pasien. Contoh kasus pertanggungjawaban itu akan
seorang perawat yang tidak dipikul langsung oleh perawat
membuang kantong urine yang bersangkutan sesuai
pasien dengan kateter personal liability.
secara rutin setiap hari. b. Pertanggungjawaban Hukum
Melainkan 2 hari sekali Pidana
dengan ditunggu sampai Sementara dari aspek
penuh. Tindakan tersebut pertanggungjawaban secara
megakibatkan pasien hukum pidana seorang perawat
mengalami infeksi saluran baru dapat dimintai
kencing dari kuman yang pertanggungjawaban apabila
berasal dari urine yang terdapat unsur-unsur sebagai
tidak dibuang. berikut 56 :

55 56
Cecep Triwibowo Op cithlm263 Ibid hlm 273

30 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


1) Suatu perbuatan yang bersifat dalam hal ini tidak ada alasan
melawan hukum ; dalam hal pemaaf seperti tidak adanya
ini apabila perawat aturan yang mengijinkannya
melakukan pelayanan melakukan suatu tindakan,
kesehatan di luar kewenangan ataupun tidak ada alasan
yang tertuang dalam pasal 8 pembenar. Sebagai contoh
Permenkes No. 148 Tahun perawat yang menjalankan
2010. peran terapeutik atau yang
2) Mampu bertanggung jawab, melaksanakan deiegated
dalam hai ini seorang perawat medical activities dengan
yang memahami konsekuensi beranggapan perintah itu
dan resiko dari setiap adalah sebuah tindakan yang
tindakannya dan secara benar. Tindakan tersebuttidak
kemampuan, telah mendapat menjadi benar namun alasan
pelatihan dan pendidikan perawat melakukan hal
untuk itu. Artinya seorang tersebut dapat dimanfaatkan.
perawat yang menyadari Bentuk
bahwa tindakannya dapat pertanggungjawaban dalam
merugikan pasien. hukum pidana secara prinsip
3) Adanya kesalahan (schuld) adalah personal liabitity dan bila
berapa kesengajaan (dolus) dilakukan dalam dalam lingkup
atau karena kealpaan (culpa). technical activities maupun
Kesalahan disini bergantung dalam menjalankan peran
pada niat (sengaja) atau hanya koordinatif dimana perawat
karena lalai. Apabila tindakan memahami bahwa tindakan
tersebut dilakukan karena niat tersebut bertentangan dengan
dan ada unsur kesengajaan, hukum ,maka dokter yang
maka perawat yang memberi perintah dapat dimintai
bersangkutan dapat dijerat pertanggungjawaban pidana.
sebagai pelaku tindak pidana. Apabila pelayanan
Sebagai contoh seorang kesehatan tersebut dilakukan
perawat yang dengan sadar perawat di sebuah rumah sakit
dan sengaja memberikan dimana perawat berstatus
suntikan mematikan kepada sebagai karyawan, maka
pasien yang sudah terminal, berdasarkan Pasal 46 Undang-
(disebut dengan tindakan Undang No.44 Tahun 2009
euthanasia aktif) tentang Rumah Sakit, maka RS
4) Tidak adanya alasan dapat dimintai
pembenar atau alasan pemaaf; pertanggungjawaban pidana

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 31


dengan ancaman sanksi berupa Perawat (SIPP) dalam
denda. menjalankan penyelenggaraan
c. Pertanggungjawaban Hukum pelayanan kesehatan merupakan
Administrasi sebuah administratif malpraktek
Secara prinsip, yang dapat dikenai sanksi
pertanggungjawaban hukum hukum. Namun penulis melihat
administrasi lahir karena ada 2 (dua) ketentuan tentang
adanya pelanggaran terhadap kewajiban izin tersebut untuk
ketentuan hukum administrasi perawat yang bekerja di sebuah
terhadap penyelenggaraan rumah sakit. Dalam Undang-
praktik perawat berdasarkan Undang Kesehatan dan Undang-
ketentuan yang berlaku. Undang Rumah Sakit
Permenkes No. 148/2010 disebutkan bahwa rumah sakit
telah memberikan ketentuan dilarang mempekerjakan
administrasi yang wajib karyawan/tenaga profesi yang
ditaati perawat yakni: Surat tidak mempunyai surat izin
izin Praktik Perawat bagi praktik. Sementara dalam
perawat yang melakukan Permenkes No, 148/2010 SIPP
praktik mandiri, bagi perawat yang bekerja di
penyelengaraan pelayanan rumah sakit (disebutkan dengan
kesehatan berdasarkan istilah fasilitas yankes di luar
kewenangan yang telah diatur praktik mandiri) tidak
dalam Pasal 8 dan Pasal 9 diperlukan. Kerancuan norma
dengan pengecualian pasal ini akan membingungkan
10, kewajiban untuk bekerja penyelenggara pelayanan yang
sesuai standar profesi, dimana bersangkutan dalam
pasal 10 berbunyi dalam menjalankan profesinya. Namun
keadaan darurat untuk apabila dilihat dari pembentukan
penyelamatan jiwa perundang-undangan maka
seseorang/pasien dan tidak kekuatan mengikat undang-
ada dokter di tempat kejadian, undang akan lebih kuat
perawat dapat melakukan dibandingkan sebuah peraturan
pelayanan kesehatan diluar menteri yang di dalam Undang-
kewenangan. Undang NO 10 Tahun 2004
Ketiadaan persyaratan tentang Pembentukan Peraturan
administrasi di atas akan Perundang-undangan, tidak
membuat perawat rentan termasuk sebagai bagian dari
terhadap gugatan malpraktik. perundang-undangan.
Ketiadaan Surat Ijin Praktek

32 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


hingga pada pada landasan
filosofisnya yang tertinggi. 58
Bentuk sanksi Untuk memahami teori
administrasi yang diancamkan hukum, maka harus diketahui
pada pelanggaran hukum lebih dulu apa itu ilmu hukum
administrasi ini adalah 57 : menurut J. J. H. Bruggink,
1) teguran lisan; ilmu hukum adalah teorinya
2) teguran tertulis; hukum positif atau hukum
3) pencabutan izin dalam praktek. Ilmu hukum
Dalam praktek adalah obyak dari teori
pelaksanaannya, banyak hukum. Teori hukum dibagi
perawat yang melakukan menjadi dua, yaitu teori
praktik pelayanan kesehatan hukum dalam arti luas adalah
yang meliputi pengobatan dan sosiologi hukum dan teori
penegakan diagnosa tanpa hukum dalam arti sempit
SIPP dan pengawasan dokter. adalah keberlakuan formal
atau normatif dari hukum 59.
12. Landasan Teori Hukum Sosiologi hukum
Teori hukum adalah merupakan ilmu yang
teori dalam bidang hukum mempelajari hubungan timbal
yaitu berfungsi memberikan balik antara hukum dengan
argumentasi yang meyakinkan gejala-gejala sosial lainnya
bahwa hal-hal yang dijelaskan secara empiris analistis60.
itu ilmiah, atau paling tidak Sosiologi hukum bertujuan
memberikan gambaran bahwa untuk menjelaskan mengapa
hal-hal yang dijelaskan itu sesuatu praktek-praktek
memenuhi standar teoritis. hukum didalam kehidupan
Teori hukum berbeda dengan sosial masyarakat itu terjadi,
hukum positif. Hali ini sebab-sebabnya, faktor-
dipahami supaya terhindar faktor apa yang
kesalahpahaman, karena mempengaruhi, latar
seolah-olah tidak dapat belakang dan sebagainya.
dibedakan antara teori hukum
dan hukum positif, padahal 58
Marwan Efendy, Teori Hukum Dari
tugas teori hukum Perspektif,Perbandingan, dan Harmonisasi
menjelaskan nilai-nilai oleh Hukum Pidana, PT Referensi, Jakarta, 2014, hlm
13
postulat-postulat hukum 59
J. J. H. Bruggink, Refleksi Tentang Hukum,
dialihbahasakan oleh Arif Sidharta, PT. Citra
Adtya Bakti,: Bandung, hlm. 160.
57 60
Ibid hlm 262 Ibid 33.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 33


Pendapat Max Weber yaitu kenyataan, pandangan ini
“Interpretative memberi nilai tinggi pada
Understanding” yaitu cara panca indera akan bekerja
menjelaskan sebab, secara objektif sebagai sebuah
perkembangan serta efek dari cermin yang memberikan
tingkah laku sosial, dimana gambaran kenyataan dunia
tingkah laku dimaksud luar sebagaimana tanpa
mempunyai dua segi yaitu adanya tanpa mengubahnya.
luar dan dalam atau internal Ciri pandangan positivistik
dan ektemal61. lainnya adalah pandangan
Sosiologi hukum moral. Di dalam moral
senantiasa menguji kesahian proposisi-proposisi normatif
empiris dari suatu peraturan dan evaluatif memainkan
atau pernyataan hukum, peran utama yang bersifat
sehingga mampu subjektif. Proposisi-proposisi
memprediksi suatu hukum ini timbul dari intuisi
yang sesuai dan/atau tidak perasaan atau naluri manusia
sesuai dengan masyarakat atau dari kepercayaan
tertentu. Sosiologi Hukum (keyakinan, iman) yang tidak
tidak melakukan penilaian dapat dibenarkan secara
63
terhadap hukum, tingkah laku rasional .
yang mentaati hukum, sama- Moralitas seseorang
sama merupakan obyek menentukan baik buruk sikap
pengamatan yang setaraf, dan perilaku seseorang dan
tidak ada segi obyektifitas menetapkan sekelompok
dan bertujuan untuk tingkah laku yang berkaitan
memberikan penjelasan dengan nilai. Menurut Kant
terhadap fenomena hukum moralitas terbagi menjadi dua
yang nyata 62. kelompok, yang pertama
Pandangan positivistik adalah heteronom, yaitu
berpegang teguh pada teori moralitas yang ditentukan
korespondensi, tentang oleh penilaian yang
kebenaran, yaitu kesamaan datangnya dari luar diri
antara teori dan dunia manusia. Dengan kata lain,
61
Jhonny Ibrahim, Teori Metodologi Penelitian
63
Hukum Normatif, cet. Ke- 4; bayumedia Yefrizawati. Ilmu Hukum: Suatu Kajian
Publishing: Malang, 2008 hlm34. Ontologis,
62
Nurul Azmi, Sosiologi Hukum, http://repository.usu.ac.id/bitstream/12345678
http://www.docs/14293106/makalah-sosiologi- 9/1585/1/perdata-yefrizawati2.pdf, diakses
hukum,diakses tanggal 24 Februari 2011. pada tanggal 14 Desember 2016.

34 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


tunduk pada sesuatu kekuatan norma atau kaidah yang
dari luar dirinya untuk dianut ini kemudian bergeser
berbuat atau tidak berbuat64. akan membawa
Seorang perawat tidak kecenderungan lebih
mau menolak keinginan dekstruktif pada sikap moral
pasien yang sakit untuk heteronom ini66.
diobati, walaupun sebenarnya Seorang perawat yang
tempat praktek dokter berada menolak melakukan praktik
di sekitar lingkungan tersebut pelayanan medis, karena dia
tetapi apabila bidan tersebut tahu bahwa hal tersebut
menolak, maka masyarakat bukanlah kewenangannya.
sekitar akan marah karena Tindakan bidan tersebut lahir
mereka menganggap semua dari kesadaran yang dibangun
tenaga kesehatan yang berada atas dasar pengertian dan
di lingkungannya wajib pengetahuannya yang cukup.
menolong orang yang sedang Bukan atas dasar rasa takut
sakit, walaupun tenaga atau karena hukuman. Hal
kesehatan tersebut melakukan tersebut sering disebut dalam
tugas yang bukan kebudayaan sebagai guilt
wewenangnya. Di mata culture atau rasa bersalah
masyarakat sikap dan perilaku yang timbul karena suatu
perawat tersebut sangat baik perbuatan. Rasa bersalah ini
karena mau menolong muncul justru karena tahu
65
mengobatinya . Tindakan benar bahwa tindakannya
heteronom biasanya akan salah, meskipun tidak selalu
lebih dominan muncul pada harus diketahui oleh banyak
pribadi seseorang yang pihak 67.
pendidikan moralnya lebih Untuk melihat lebih
ditekankan pada harga diri lanjut seperti apa dan
dan hukuman. Sehingga bagaimana suatu keputusan
kesadaran yang munculpun etis dibuat yang berkaitan
akan lebih ditentukan oleh dengan kode etik profesi
aturan- aturan, kode-kode, perawat, terdapat beberapa
norma atau kaidah. Apabila teori etika yang dipergunakan
sebagai perumusan yang jelas
64
Alexxandra Indriyati Dewi, op. cit, hlm. 19. dan sistematis dari kajian
65
Andy,Teori Perkembangan, falsafah tentang perilaku
http://petiusang.wordpress.com/category/p
66
sikologi/teori perkembangan, diakses Ibid.
67
tanggal 16 Agustus 2016. Ibid.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 35


moral, yaitu teori etika klasik utilitarianisme yang
Teleologi 68. memandang hukum dibuat
Teleologis diambil untuk kepentingan manusia71.
dari bahasa Yunani telos yang Jika seorang bidan yang
berbarti tujuan, bahwa benar tinggal di daerah terpencil
tidaknya suatu tindakan bertindak memberikan
tergantung dari akibat-akibat pelayanan medis, yaitu
yang dihasilkan. Artinya mengobati pasien dengan
apabila suatu perbuatan alasan ketiadaan dokter.
bermanfaat atau memiliki Meskipun secara profesi
akibat yang baik, maka boleh perawat tidak kompeten
dilakukan dan begitu pula memberikan diagnosis dan
sebaliknya. Teori ini pengobatan, namun tindakan
melahirkan pandangan tersebut menghasilkan
egoisme etis dan kesembuhan sehingga
69
utilitarianisme . manfaatnya besar bagi banyak
Egoisme etis orang begitu pula sebaliknya.
merupakan pandangan yang
melihat bagaimana moralitas
tindakan memberi hasil yang A. Hasil Penelitian
sebanyak-banyaknya bagi diri Penelitian mulai dilaksanakan
sendiri. Sedangkan tanggal 19 November 2016, mempunyai
pandangan utilitarianisme tujuan untuk mengetahui tentang regulasi
yang dipelopori oleh Jeremy pelimpahan wewenang tindakan medis
Bentham, Jhon Stuart Mill, kepada perawat dalam pelayanan
Brandt dan David Hume kesehatan di rumah sakit dan hambatan
menyatakan bahwa perbuatan serta solusi pelimpahan wewenang
secara moral dianggap baik tindakan medis kepada perawat di RSUD
jika hasil dari perbuatan Kardinah Kota Tegal.
tersebut juga baik bagi 1. Pengaturan Kewenangan Perawat
banyak orang 70. dalam Pelayanan Kesehatan di
Adanya kewenangan Rumah Sakit
perawat dalam memberikan Kewenangan Perawat dalam
pelayanan medis termasuk menjalankan tugas dan profesinya secara
dalam pandangan teori prinsip diatur dalam Undang-undang RI
No. 38 Tahun 2014 Tentang
68
Ibid.
Keperawatan, pada pasal 29 ayat (1)
69
Ibid.
70
Nila Ismani. 2001. Etika Keperawatan. Jaya
71
Medika: Jakarta.hlm 73 Marwan Efendy op cit hlm 23

36 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


dijabarkan bahwa perawat mempunyai oleh perawat. Kewajiban tersebut terdapat
wewenang yang merupakan salah satu dalam Pasal 37 yaitu:
tenaga kesehatan yang memiliki “Melengkapi sarana dan prasarana
kewenangan dan fungsi khusus yang Pelayanan Keperawatan sesuai standar,
berbeda dengan tenaga kesehatan lain. Pelayanan Keperawatan dan ketentuan
Peraturan ini merupakan norma yuridis Peraturan Perundang-undangan,
yang mengikat perawat dalam Memberikan Pelayanan Keperawatan
menjalankan profesinya, terutama yang sesuai dengan kode etik, standar
dilakukan di rumah sakit. Dalam Pelayanan Keperawatan, standar profesi,
menjalankan profesinya maka perawat standar prosedur operasional, dan
tidak akan terlepas dari batasan ketentuan peraturan perundang-
kewenangan yang dimiliknya. Karena undangan, Merujuk klien yang tidak
menurut Prof. Leenan seperti yang telah dapat ditangani kepada perawat atau
dikutip Arrie Budhiartie : tenaga kesehatan lai dan tingkat
Pertanggungjawaban Hukum Perawat kompetensinya, mendokumentasikan
dikutip dalam bab terdahulu, bahwa asuhan keperawatan sesuai dengan
kewenangan merupakan syarat utama standar, memberikan informasi yang
dalam melakukan suatu tindakan medis. lengkap jujur, benar, jelas, dan mudah
Menurut Undang-undang RI No. 38 dimengerti mengenai tindakan
Tahun 2014 Tentang Keperawatan Pasal keperawatan kepada klien dan /atau
29 ayat (1), dalam menyelenggarakan keluarganya sesuai batas
Praktik Keperawatan, Perawat kewenangannya, melaksanakan tindakan
mempunyai tugas antara lain : Pemberi pelimpahanwewenang dari tenaga
Asuhan Keperaawatan, Penyuluh dan kesehatan lain yang sesuai dengan
konselor bagi Klien, Pengelola Pelayanan kompetensi perawat, melakukan
Keperawatan, Peneliti Keperawatan, penugasan khusus yang ditetapkan oleh
Pelaksana tugas berdasarkan pelimpahan pemerintah”.
wewenang, dan/atau Pelaksana tugas
dalam keadaan keterbatasan tertentu. Meskipun demikian ada
pengecualian terhadap kewenangan yang
Ayat (2) tugas sebagaimana telah dilandaskan pada Pasal 29 tersebut.
dimaksud pada ayat (1) dapat Pengecualian tersebut jelas dimaksudkan
dilaksanakan secara bersama ataupun untuk memberikan perlindungan hukum
sendiri-sendiri serta ayat (3) Pelaksana yang lebih luas terhadap penyelenggaran
tugas Perawat sebagaimana dimaksud dan pelayanan kesehatan yang dilakukan
pada ayat (1) harus dilaksanakan secara seorang perawat. Ketentuan tentang
bertanggung jawab dan akuntabel. pengecualian tersebut terdapat dalam
Dalam menjalankan kewenangan Pasal 35 yakni:
tersebut ada kewajiban yang patut diingat

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 37


“Dalam keadaaan darurat untuk kekuasaan untuk berbuat sesuatu (karena
memberikan pertolongan pertama, telah ditentukan oleh undang- undang,
perawat dapat melakukan tindakan aturan, dsb), kekuasaan yang benar atas
medis dan pemberian obat sesuai dengan sesuatu atau untuk menentukan sesuatu,
kompetensinya, pertolongan pertama derajat atau martabat. 72
sebagaimana dimaksud ayat (1) Peraturan Menteri Kesehatan
bertujuan untuk menyelamatkan klien HK.02.02/MENKES/148/2010,
dan mencegah kecacatan lebih lanjut, mengalami perubahan Peraturan Menteri
keadaan darurat sebagaimana dimaksud Kesehatan Normor 17 Tahun 2013
pada ayat (1) merupakan keadaan yang Tentang Izin dan Penyelenggaraan
mengancam nyawa atau kecacatan klien, Praktik Perawat, hak perawat terdapat
keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. Dalam melaksanakan
pada ayat (1) ditetapkan oleh perawat praktik, perawat mempunyai hak 73.
sesuai dengan hasil evaluasi berdasarkan “Memperoleh perlindungan hukum
keilmuan dalam melaksanakan praktik
Ketentuan lebih lanjut mengenai keperawatan sesuai standar, memperoleh
keadaan darurat sebagaimana dimaksud informasi yang lengkap dan jujur dari
ayat (1) diatur dengan peraturan klien dan/atau keluarganya,
pemerintah”. melaksanakan tugas sesuai dengan
kompetensinya, menerima imbalan jasa
Pengaturan kewenangan perawat profesi; dan memperoleh jaminan
tersebut lebih lanjut dijelaskan dalam perlindungan terhadap resiko kerja yang
Permenkes No.17 tahun 2013 tentang berkaitan dengan tugasnya”.
perubahan atas permenkes
02.02/menkes/148/2010 yang merupakan Hak perawat juga
suatu pedoman untuk melaksanakan diperkuat dengan Undang-undang
registrasi praktek keperawatan. Pada RI Nomor 38 tahun 2014 Tentang
petunjuk pelaksanaan tersebut disebutkan Keperawatan, dalam Pasal 36
bahwa kewenangan perawat adalah yaitu Perawat dalam
melakukan asuhan keperawatan yang melaksanakan Praktik
meliputi kondisi sehat dan sakit yang Keperawatan perawat mempunyai
mencakup; asuhan keperawatan pada hak:
perinatal, asuhan keperawatan pada “memperoleh perlindungan hukum
neonatal, asuhan keperawatan pada anak, sepanjang melaksanakan tugas sesuai
asuhan keperawatan pada dewasa, dan
asuhan keperawatan pada maternitas, dan 72
Op cit Kamus Besar Bahasa Indonesia hlm 274
juga mengatur hak dan kewajiban 73
Triwibowo Cecep, Hukum Keperawatan
Perawat, hak adalah suatu hal yang benar, Panduan Hukum Dan Etika Bagi Perawat,
Dalam: Ebnu DK (ed). Edisi I Cet.I. Pustaka Book
milik, kepunyaan, kewenangan, Publisher, Yogyakarta, 2010.hlm75

38 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


dengan standar pelayanan, standar Kewajiban perawat
profesi, standar prosedur operasional, berdasarkan Peraturan Menteri
dan ketentuan Peraturan Perundang- Kesehatan Normor 17 Tahun 2013
undangan, memperoleh informasi yang Tentang Izin dan Penyelenggaraan
benar, jelas, dan jujur dari klien dan/atau Praktik Perawat terdapat pada Pasal 12
keluarganya, menerima imbalan jasa atas ayat (1). Dalam melaksanakan praktik,
pelayanan keperawatan yang telah perawat wajib untuk:
diberikan, menolak keinginan klien atau “Menghormati hak pasien,
pihak lain yang bertentangan dengan melakukan rujukan, menyimpan
kode etik, standar pelayanan, standar rahasia sesuai dengan peraturan
profesi, standar prosedur operasional, perundang-undangan, memberikan
atau ketentuan Peraturan Perundang- informasi tentang masalah
undangan, dan memperoleh fasilitas kesehatan pasien/klien dan
kerja sesuai dengan standar”. pelayanan yang dibutuhkan,
meminta persetujuan tindakan
Kewajiban adalah sesuatu yang keperawatan yang dilakukan,
harus diperbuat atau harus dilakukan melakuka pencatatan asuhan
seseorang atau suatu Badan Hukum. keperawatan secara sistematis,
Menurut Kamus Hukum (Marwan dan mematuhi standar”.
Jimmy, 2009) 74 kewajiban merupakan
segala bentuk beban yang dibebankan Aturan yang mengatur tentang
oleh hukum kepada orang ataupun badan kewajiban perawat, selain yang terdapat
hukum. Sedangkan menurut Kamus pada Pasal 12 ayat (1), kewajiban perawat
Besar Bahasa Indonesia kewajiban juga terdapat pada Pasal 12 ayat (3), yaitu
adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan, perawat dalam menjalankan praktik wajib
keharusan (sesuatu hal yang harus membantu program pemerintah dalam
dilaksanakan). Menurut Wikipedia meningkatkan derajat kesehatan
75
(2010), Kewajiban dibagi atas dua masyarakat.
macam, yaitu kewajiban sempurna yang
selalu berkaitan dengan hak orang lain 2. Regulasi Pelimpahan Wewenang
dan kewajiban tidak sempurna yang Tindakan Medis ke Perawat Dalam
tidak terkait dengan hak orang lain. Pelayanan Kesehatan di Rumah
Kewajiban sempurna mempunyai dasar Sakit
Ketentuan peraturan perundang-
keadilan, sedangkan kewajiban tidak
sempurna berdasarkan moral. undangan di Indonesia tentang
pelimpahan wewenang tindakan medis ke
74 perawat dalam pelayanan kesehatan
Marwan dan Jimmy. 2009. Kamus Hukum:
Dictionary Of Low Complete Edition. Surabaya:
75
Reality Publisher.hlm 43 Triwibowo Cecep, op cithlm

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 39


diatur dalam beberapa undang-undang. Pada Pasal 32 menyebutkan antara
Pelimpahan wewenang tindakan medis lain: “pelaksanaan tugas berdasarkan
kepada perawat dalam pelayanan pelimpahan wewenang sebagaimana
kesehatan dapat dilihat dalam Undang- dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1)
undang RI No. 38 Tahun 2014 Tentang huruf e hanya dapat diberikan secara
Keperawatan, Undang-undang Republik tertulis oleh tenaga medis kepada
Indonesia No. 36 Tahun 2014 Tentang Perawat untuk melakukan sesuatu
Tenaga Kesehatan, Permenkes Nomor tindakan medis dan melakukan
2052/MENKES/PER/X/2011 Tentang evaluasi pelaksanaannya, Pelimpahan
Izin Praktik Dan Pelaksanaan Praktik wewenang sebagaimana dimaksud
Kedokteran pada ayat (1) dapat dilakukan secara
Secara terperinci peraturan delegatif atau mandate, pelimpahan
perundang-undangan di Indonesia wewenang secara delegatif untuk
pelimpahan wewenang tindakan medis ke melakukan sesuatu tindakan medis
perawat dalam pelayanan kesehatan, bisa diberikan oleh tenaga medis kepada
digambarkan sebagai berikut : Perawat dengan disertai pelimpahan
A. Menurut Undang-undang RI No. 38 tanggung jawab, pelimpahan
Tahun 2014 Tentang Keperawatan wewenang secara delegatif
BAB V Praktik Keperawatan pada sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
Pasal 29, yaitu: hanya dapat diberikan kepada perawat
Pada ayat (1) dalam profesi atau perawat vokasi terlatih
menyelenggarakan Praktik yang memiliki kompetensi yang
Keperawatan, Perawat bertugas diperlukan, pelimpahan wewenang
sebagai : “pemberi Asuhan secara mandate diberikan oleh tenaga
Keperawatan, penyuluh dan konselor medis kepada Perawat untuk
bagi Klien, pengelola Pelayanan melakukan sesuatu tindakan medis di
Keperawatan, Peneliti Keperawatan, bawah pengawasan, tanggung jawab
Pelaksana tugas berdasarkan atas tindakan medis pada pelimpahan
pelimpahan wewenang, dan/atau wewenang mandate sebagaimana
Pelaksana tugas dalam keadaan dimaksud pada ayat (5) berada pada
keterbatasan tertentu. Dimana tugas pemberi pelimpahan wewenang, dalam
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melaksanakan tugas berdasarkan
dapat dilaksanakan secara bersama pelimpahan wewenang sebagaimana
ataupun sendiri-sendiri, pelaksana dimaksud pada ayat (1), Perawat
tugas Perawat sebagaimana dimaksud berwenang: melakukan tindakan medis
pada ayat (1) harus dilaksanakan yang sesuai dengan kompetensinya
secara bertanggung jawab dan atas pelimpahan wewenang delegatif
akuntabel”. tenaga medis, melakukan tindakan
medis di bawah pengawasan atas

40 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


pelimpahan wewenang mandate, dan menyebutkan antara lain: “dalam
memberikan pelayanan kesehatan keadaan darurat untuk memberikan
sesuai dengan program Pemerintah”. pertolongan pertama, Perawat dapat
melakukan tindakan medis dan
Pada Pasal 33 menyebutkan pemberian obat sesuai dengan
antara lain: “pelaksanaan tugas dalam kompetensinya, pertolongan pertama
keadaan keterbatasan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
debagaimana dimaksud dalam pasal 29 bertujuan untuk menyelamatkan nyawa
ayat (1) huruf f merupakan penugasan Klien dan mencegaj kecacatan lebih
Pemerintah yang dilaksanakan pada lanjut, keadaan darurat sebagaimana
keadaan tidak adanya tenaga medis dimaksud pada ayat (1) merupakan
dan/atau tenaga kefarmasian di suatu keadaan yang mengancam nyawa atau
wilayah tempat Perawat bertugas, kecacatan Klien, keadaan darurat
keadaan tidak adanya tenaga medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan/atau tenaga kefarmasian di suatu ditetapkan oleh Perawat sesuai dengan
wilayah tempat Perawat bertugas hasil evaluasi berdasarkan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) keilmuannya, ketentuan lebih lanjut
ditetapkan oleh kepala Satuan Kerja mengenai keadaan darurat
Perangkat Daerah yang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
menyelenggarakan urusan diatur dengan Peraturan Menteri”.
pemerintahan di bidang kesehatan B. Menurut Permenkes
setempat, pelaksanaan tugas pada Nomor
keadaan keterbatasan tertentu 2052/MENKES/PER/X/2011Tentang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Izin Praktik Dan Pelaksanaan Praktik
dilaksanakan dengan memperhatikan Kedokteran pada Pasal 23
kompetensi Perawat, dalam menyebutkan antara lain: Dokter dan
melaksanakan tugas pada keadaan dokter gigi dapat memberikan
keterbatasan tertentu sebagaimana pelimpahan suatu tindakan kedokteran
dimaksud pada ayat (1), Perawat atau kedokteran gigi kepada perawat,
berwenang: bidan atau tenaga kesehatan tertentu
melakukan pengobatan untuk penyakit lainnya secara tertulis dalam
umum dalam hal tidak terdapat tenaga melaksanakan tindakan kedokteran
medis, merujuk pasien sesuai dengan atau kedokteran gigi, tindakan
ketentuan pada system rujukan, dan kedokteran atau kedokteran gigi
melakukan pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
secara terbatas dalam hal tidak terdapat harus sesuai dengan kemampuan dan
tenaga kefarmasian”. kompetensi yang dimiliki dan
dilaksanakan sesuai ketentuan
Serta pada Pasal 35 peraturan perundang-undangan,

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 41


pelimpahan tindakan sebagaimana a. Tanggungjawab utama tetap
dimaksud pada ayat (1) dilakukan berada pada dokter yang
dengan ketentuan: memberikan pendelegasian
a. tindakan yang dilimpahkan wewenang;
termasuk dalam kemampuan dan b. Perawat mempunyai
ketrampilan yang telah dimiliki oleh tanggungjawab pelaksana;
penerima pelimpahan; c. Pendelegasian hanya dapat
b. pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan setelah perawat
dilimpahkan tetap dibawah tersebut mendapat pendidikan dan
pengawasan pemneri pelimpahan; kompetensi yang cukup untuk
c. pemberi pelimpahan tetap menerima pendelegasian;
bertanggung jawab atas tindakan d. Pendelegasian untuk jangka waktu
yang dilimpahkan sepanjang panjang atau terus menerus dapat
pelaksanaan tindakan sesuai dengan diberikan kepada perawat
pelimpahan yang diberikan; kesehatan dengan kemahiran
d. tindakan yang dilimpahkan tidak khusus (perawat spesialis), yang
termasuk mengambil keputusan diatur sendiri dengan peraturan
klinis sebagai dasar pelaksanaan tersendiri (standing order).
tindakan; dan Pendelegasian wewenang dokter
e. tindakan yang dilimpahkan tidak kepada perawat harus dilakukan
bersifat terus menerus. secara tertulis dengan
pertimbangan berikut:
Hal ini juga seperti yang a. Mempunyai kekuatan hukum
didasarkan pada Pasal 15 huruf d yang kuat dan kekuatan
Permenkes Nomor 1239 tahun 2001 pembuktian karena dilindungi
tentang Registrasi dan Praktik oleh peraturan yang berlaku;
Perawat, yang menyatakan bahwa: b. Dapat berfungsi sebagai alat bukti
Perawat dalam melaksanakan praktik tertulis mengenai kewenangan
keperawatan berwenang untuk yang didelegasikan sehingga
pelayanan tindakan medik hanya dapat apabila terjadi perbuatan di luar
dilakukan berdasarkan permintaan kewenangan hal tersebut menjadi
tertulis dari dokter. tanggung jawab penerima
Ini berarti bahwa, perawat hanya wewenang, bukan tanggung jawab
dapat melakukan pelayanan tindakan pemberi wewenang;
medik ketika ada permintaan tertulis dari c. Pendelegasian wewenang dalam
dokter. Adapun hal yang perlu keperawatan disesuaikan dengan
diperhatikan dalam pendelegasian kemampuan profesional dan
wewenang dokter kepada perawat adalah: kompetensi perawat sebagai
penerima wewenang.

42 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


C. Menurut Undang-Undang RI Undang-undang RI No. 36 Tahun
Nomor 36 Tahun 2014 Tentang 2014 Tentang Tenaga Kesehatan,
Tenaga Kesehatan pada pasal 65 Undang-undang RI No. 38 Tahun
menyebutkan: “dalam melakukan 2014 Tentang Keperawatan,
pelayanan kesehatan, Tenaga Permenkes Nomor
Kesehatan dapat menerima 2052/MENKES/PER/X/2011
pelimpahan tindakan medis dari Tentang Izin Praktik Dan
tenaga medis, pelimpahan Pelaksanaan Praktik Kedokteran.
tindakan sebagaimana dimaksud Perhatian pemikiran Teori
pada ayat(1) dan ayat(2) Struktural Formal oleh Max Weber
dilakukan dengan ketentuan, yang dikutip Endang Sutrisna 76
tindakan yang dilimpahkan adalah pada struktur organisasi yang
termasuk dalam kemampuan dan menganalisa secara formal struktur
ketrampilan yang telah dimiliki organisasi, menelaah sifat-sifat tipe
oleh penerima pelayanan, birokrasi tersebut, yaitu:
pelaksanaan tindakan yang 1. Suatu pengaturan fungsi resmi
dilimpahkan tetap dibawah yang terus-menerus diatur
pengawasan pemberi pelimpahan, menurut peraturan;
pemberi pelimpahan tetap 2. Suatu bidang keahlian tertentu,
bertanggung jawab atas tindakan yang meliputi:
yang dilimpahkan sepanjang a. Bidang kewajiban
pelaksanaan tindakan sesuai melaksanakan fungsi yang
dengan pelimpahan yang sudah ditandai sebagai
diberikan, tindakan yang bagian dari pembagian
dilimpahkan tidak termasuk pekeijaan sistematis;
pengambilan keputusan sebagai b. Ketetapan mengenai otoritas
dasar pelaksanaan tindakan”. yang perlu yang dimiliki
seseorang yang menduduki
suatu jabatan untuk
Pelimpahan wewenang dari melaksanakan fungsi-fungsi;
dokter (delegans) pada perawat c. Bahwa alat paksaan yang
dalam melakukan pelayanan medis perlu secara jelas dibatasi
merupakan pelimpahan wewenang serta penggunaannya tunduk
mandat, karena pemberi wewenang pada kondisi-kondisi
(delegans) melimpahkan tanggung terbatas;
jawab dan tanggung gugat kepada 3. Organisasi kepegawaian
penerima wewenang (delegateris), mengikuti prinsip-prinsip hierarki,
hubungan kewenangan profesi dokter
dan perawat yang diatur berdasarkan 76
Op cit Endang Sutrisna hlm 67

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 43


artinya pegawai rendahan berada kewenangan tenaga medis telah diatur
di bawah pengawasan dan dalam Pasal 35 Undang- undang Nomor
mendapat supervisi dari seseorang 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
yang lebih tinggi; Kedokteran. 78
4. Peraturan-peraturan yang Pemerintah mengeluarkan
mengatur perilaku seseorang peraturan pendelegasian wewenang
pegawai dapat merupakan tindakan kedokteran kepada perawat
peraturan atau norma yang melalui Pasal 23 Permenkes Nomor
bersifat teknis. Kalau penerapan 2052/Menkes/Per/X/2011. Tetapi
seluruhnya bersifar rasional, maka menurut penulis Pasal 23 tersebut tidak
(latihan) spesialisasi diharuskan; tegas tindakan kedokteran apa yang dapat
5. dalam tipe rasional hal itu dilimpahkan dokter kepada perawat dan
merupakan masalah prinsip bahwa apakah setiap kali perawat mendapatkan
para anggota staf administrasi pendelegasian wewenang dari dokter
harus sepenuhnya terpisah dari harus selalu dibuat ataukah cukup satu
pemilikan ala-alat produksi atau kali saja dibuatkan sebagai surat kuasa
administrasi; untuk melakukan tindakan kedokteran,
6. dalam hal tipe rasional itu juga ketentuan ayat (1) tidak diikuti penjelasan
(biasanya) terjadi sama sekali maupun petunjuk teknis cara atau standar
tidak ada pemberian posisi operasional prosedur pelimpahan
kepegawaian oleh seseorang yang kewenangan sehingga menurut peneliti
sedang menduduki suatu jabatan; ayat (1) perlu lebih dipertegas kalimatnya
7. Tindakan-tindakan, keputusan- ataukah setidaknya ada petunjuk teknis
keputusan, dan peraturan- lebih khusus lagi untuk dijadikan
peraturan administrasi dirumuskan pedoman atau standar operasional
dan dicatat secara tertulis. prosedur pelaksanaan suatu pendelegasian
Pelaksanaan pendelegasian wewenang dokter kepada perawat.
wewenang dokter kepada perawat tidak Begitupun pada ayat (2), kata kebutuhan
optimal, ternyata disebabkan karena pelayanan yang melebihi ketersediaan
adanya faktor yang mempengaruhi yaitu dokter difasilitas pelayanan, peneliti
faktor substansi hukum, sosialisasi, dan berpandangan bahwa kata tersebut belum
faktor pengatahuan hukum. Salah satu jelas maknanya karena belum ada
faktor yang menjadikan peraturan itu penjelasan atau indikator kapan dikatakan
efektif atau tidak yaitu kaidah hukum atau kebutuhan pelayanan melebihi
peraturan itu sendiri.77 Di Indonesia ketersediaan dokter, apakah apabila ada
100 pasien hanya diperiksa oleh 1 orang
77
Ruslan Achmad, Teori dan Panduan Praktik
78
Pembentukan Peraturan, Rangkang I s fa nd yar ie Anni, Tanggung Jawab Hukum
dan Sanksi Dokter, Prestasi Pustaka, Jakarta, 2006
Education,Yogyakarta, 2011 hlm 94
hlm 43

44 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


dokter sudah dapat dikatakan kebutuhan pelimpahan dari dokter, tetapi
pelayanan melebihi ketersediaan dokter, kenyataanya perawat melakukan
ketentuan tersebut belum ada pedoman tindakan medis dengan instruksi tertulis.
yang dapat diambil sebagai dasar. Berdasarkan fakta tersebut peneliti
Sementara ayat(3) huruf e disebutkan berpendapat bahwa tingkat kesadaran
tindakan yang dilimpahkan tidak bersifat hukum perawat di RSUD Kardinah Kota
terus menerus, kata tidak bersifat terus Tegal masih rendah, karena perawat sadar
menerus tidak memberikan batasan tidak bahwa ada aturan hukum yang mengatur
terus menerus itu berapa jangka bahwa perawat dilarang melakukan
waktunya, kata-kata yang tidak jelas tindakan medis apabila tidak
79
maknanya, ketidakjelasan dapat adapelimpahan wewenang. Sebagaiman
menimbulkan interpretasi ganda. yang dikatakan Soerjono Soekanto
Secara substansi dasar bahwa kalau hukum ditaati, maka hal itu
pendelegasian kewenangan dokter kepada merupakan suatu petunjuk bahwa hokum
perawat adalah Pasal 23 Permenkes RI tersebut efektif (dalam arti mencapai
Nomor 2052/Menkes/Per/X/2011 tentang tujuannya). Dengan kata lain, peraturan
Izin dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran, itu efektif apabila para pemegang peran
tetapi Pasal 23 tersebut belum jelas dan berprilaku positif yaitu berprilaku yang
tegas mengenai pelimpahan kewenangan tidak menimbulkan masalah. 80
dokter kepadaperawat. Kecuali ketika B. Kutscrincky (1973)
berbicara dari aspek pasien sebagai menyebutkan indikator-indikator dari
konsumen terhadap pelayanan kesehatan, masalah kesadaran hukum tersebut yaitu
maka pemerintah dapat membuai format : 81
lain yang semakna dengan penjelasan dari a. Pengetahuan tentang peraturan-
pasal tersebut. peraturan hukum (law
Dilihat secara sosialisasi peneliti awareness);
berpendapat bahwa proses sosialisasi b. Pengetahuan tentang isi peraturan-
tentang peraturan pendelegasian peraturan hukum(law
wewenang dokter kepada perawat di acquaintance);
RSUD Kardinah Kota Tegal perlu
dilaksanakan karena memiliki pengaruh
79
besar terhadap menumbuhkan kesadaran Djaelani, 2008, Pelimpahan Kewenangan
Dalam Praktik kedokteran kepada perawat,
hukum pada diri seseorang terutama Bidan secara Tertulis Dapat Mengeliminasi
dokter dan perawat. Tanggung Jawab Pidana & Perdata, Jurnal
Hukum Kesehatan, Ed pertama, Jakarta hlm. 9
Selain itu pada hasil penelitian 80
Ali Achmad , 2009, Menguak Teori Hukum
juga didapatkan hasil bahwa perawat (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicial
mengetahui bahwa tindakan kedokteran Prudence), KencanaPrenada Media Group,
Jakarta hlm 65
tidak boleh dilakukan oleh seorang 81
Soejono Soekanto (1982), Op. Cit, hlm.
perawat apabila tidak ada surat 159.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 45


c. Sikap terhadap peraturan- ditandai dengan adanya suatu perubahan
peraturan hukum {legal attitude); dan pendirian seseorang. 82
d. Pola-pola perikelakuan hukum Dasar-dasar kepatuhan tenaga
(legal behaivor). kesehatan pada kaidah-kaidah
Setiap indikator di atas dapat sebagaimana yang dinyatakan R.
menunjukkan pada tingkat kesadaran Bierstedr (1970), yaitu
hukum tertentu mulai dari yang terendah a. Indoctrination,
sampai dengan yang tertinggi. Untuk itu Sebab pertama mengapa tenaga
kesadaran hukum dalam wilayah kesehatan mematuhi kaidah-
penelitian yaitu tenaga medis dan perawat kaidah adalah karena dia
harus mampu dideskripsikan melalui diindoktrinir untuk berbuat
keempat indikator diatas, menyangkut demikian. Sejak kecil masnusia
bagaimana mereka mengetahui bahwa telah dididik agar mematuhi
hubungan-hubungan yang terjalin dalam kaidah-kaidah yang berlaku dalam
tatanan sosial mereka diatur pula oleh masyarakat;
tatanan hukum sehingga interaksi yang b. Habituation,
terjalin dalam tenaga kesehatan dapat Oleh karena sejak kecil
berlangsung dengan tertib, juga tenaga mengalami proses sosialisasi,
kesehatan memiliki pengetahuan dan maka lama-kelamaan menjadi
pemahaman tentang isi hukum suatu kebiasaan untuk mematuhi
melatarbelakangi kehidupan kaidah-kaidah yang berlaku;
m e r e k a selain itu pula didukung oleh c. Utility
sikap hukum dalam masyarakat untuk Pada dasarnya manusia
melakukan penilaian terhadap aturan- mempunyai kecenderunngan
aturan hukum yang a d a m e n y a n g k u t untuk hidup pantas dan
kehidupan tenaga kesehatan, dan pada sisi teratur. Akant tetapi apa yang
lain harus ada perilaku hukum tenaga pantas dan teratur untuk
kesehatan yang berkesesuaian dengan seseorang, belum tentu pantas dan
aturan hukum yang berlaku. teratur bagi orang lain. Oleh
Masalah kepatuhan hukum Karena itu, diperlukan suatu
sebenarnya menyangkut pada proses patokan tentang kepantasan dan
internalisasi dari hukum dan proses ini keteraturan tersebut, patokan-
dimulai pada saat seseorang dihadapkan patokan tadi merupakan pedoman-
pada pola perilaku baru sebagaimana pedoman atau takaran-takaran
diharap olehhukum, pada suatu situasi tentang tingkah laku dan
tertentu. Awal proses inilah yang dinamakan kaidah. Dengan
disebutnya sebagai proses belajar, demikian, maka salah satufaktor

82
Ibid, hlm.232-238

46 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


yang menyebabkan orang taat pendelegasian wewenang ini merupakan
pada kaidah adalah karena suatu perjanjian dan harus memenuhi
kegunaan dari pada kaidah unsur sahnya pejanjian dalam pasal 1320
tersebut, manusia menyadari, KUHPerdata,yaitu:
bahwa kalau dia hendak hidup “Kesepakatan, kecakapan, suatu hai
pantas dan teratur maka tertentu, dan suatu sebab yang halal”.
diperlukan kaidah-kaidah.
d. Group Identification, Pendelegasian wewenang dengan
Salah satu sebab mengapa cara delegasi atau mandat dilakukan
seseorang patuh pada kaidah, secara tertulis melaui surat pendelegasian
adalah karena kepatuhan tersebut wewenang. Hal ini menunjukkan bahwa
merupakan salah sstu sarana untuk ada hubungan hukum yang lahir dari
mengadakan identifikasi dengan perikatan yang menimbulkan hak dan
kelompok. Seseorang karena kewajiban bagi perawat dan dokter.
diamenganggap kelompoknya Penggunaan wewenang ini tidak
lebih dominan dari kelompok boleh merugikan pihak lain, dan apabila
lainnya, akan tetapi justru karena timbul kerugian dalam pendelegasian
ingin mengadakan identifikasi wewenang melalui mandat, maka dokter
dengan kelompoknya tadi. Bahkan yang bertanggungjawab terhadap
kadang-kadang seseorang kerugian atau kelalaian yang ditimbulkan
mematuhi kaidah-kaidah oleh perawat yang diberikan wewenang
kelompok lain karena ingin olehnya. Hal ini disebabkan dalam
mengadakan identifikasi dengan pendelegasian wewenang tindakan medis
kelompok lain tersebut. tanggung jawab utama tetap ada pada
Pendelegasian wewenang dalam dokter yang memberikan perintah,
keperawatan untuk melakukan tindakan sedangkan perawat hanya bertanggung
medis mengandung perikatan yang jawab sebagai pelaksana. Berbeda dengan
menimbulkan hubungan hukum antara pendelegasian wewenang melalui
penerima dengan pemberi wewenang. delegasi, tanggungjawab terhadap
Pendelegasian wewenang perawat melalui kerugian dan kerugian yang timbul akibat
delegasi atau mandat merupakan pemberian delegasi ditanggung oleh
perikatan yang lahir karena persetujuan perawat penerima pendelegasian
antara perawat sebagai penerima wewenang.
wewenang dengan dokter sebagai 3. Hambatan dan Solusi Pelimpahan
pemberi wewenang. Hal ini berdasarkan Wewenang Tindakan Medis
Pasal 1234 KUHPerdata, yaitu: Kepada Perawat dalam Pelayanan
“Tiap-tiap perikatan adalah untuk Kesehatan di Rumah Sakit
memberikan sesuatu, untuk berbuat Dalam bidang pelayanan
sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu” dan kesehatan yang dilakukan di RSUD

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 47


Kardinah Kota Tegal terutama pelayanan Menteri Kesehatan Rl Nomor
tindakan medis wajib menggunakan 2052/MENKES/PER/X/2011 Tentang
seluruh keahlian, kepandaian, dan Izin Praktik Dan Pelaksanaan Praktik
ketrampilan yang dimilikinya untuk Kedokteran, pada Pasal 23 dimana dokter
membantu semua pasien tanpa ada bisa memberikan pelimpahan wewenang
pengecualian. Kewajiban ini timbul tindakan medis kepada perawat tentunya
karena ada kata konsensus yang menjadi dengan melihat kemampuan dan
dasar terjadinya perjanjian terapeutik. kompetensi yang akan menerima
RSUD Kardinah Kota Tegal pelimpahan wewenang.
mempunyai tugas pokok melaksanakan Peraturan internal RSUD
upaya kesehatan secara berdaya guna dan Kardinah Kota Tegal (hospital by laws)
berhasil guna dengan mengutamakan belum ada (masih dalam bentuk
upaya penyembuhan, pemulihan yang rancangan), sedangkan yang memuat
dilaksanakan secara serasi, terpadu tentang pelimpahan wewenang tindakan
dengan upaya peningkatan serta dokter kepada perawat yang berupa Surat
pencegahan dan melaksanakan upaya Keputusan Direktur hanya tercantum
rujukan, melaksanakan pelayanan yang dalam Standar Prosedur Operasional
bermutu sesuai standar pelayanan Rumah Tindakan Medis, yaitu proses pelimpahan
Sakit. tindakan medis dokter yang dilaksanakan
Pelayanan kesehatan yang oleh perawat, perawat gigi dan bidan
diberikan oleh Rumah Sakit kepada (hasil wawancara dengan Dr. Alpha
masyarakat tidak bisa terlepas dari Insani selaku Kepala Instalasi Gawat
kegiatan tindakan medis , rangkaian Darurat tanggal 20 Maret 2017, dan Joko
kegiatan tindakan medis yang merupakan Purwanto S Kep Ns selaku Ketua Komite
implementasi praktik kedokteran, tidak Keperawatan dan Kepala Ruang Cendana
sepenuhnya dapat ditangani oleh dokter I tanggal 19 Maret 2017). Di mana dalam
dan dokter gigi akan tetapi melibatkan Standar Prosedur Operasional Tindakan
tenaga kesehatan lain seperti perawat, Medis menerangkan proses alur sebagai
perawat gigi dan bidan sehingga perlu berikut :
adanya pelimpahan wewenang tindakan 1. Pelimpahan tindakan medis harus
medis dokter kepada perawat. tertulis jelas dalam catatan
Dari segi hukum pelimpahan intsruksi dokter di status pasien,
wewenang tindakan medis dokter kepada baik status rawat inap, status
perawat di RSUD Kardinah Kota Tegal rawat jalan dan status gawat
telah diatur secara menyeluruh sesuai darurat.
dengan Undang-Undang Nomor 36 2. Sebelum dilakukan tindakan
Tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang- medis pasien dan keluarga harus
Undang Nomor 29Tahun 2004 tentang mendapatkan informed consent
Praktik Kedokteran, dan Peraturan tindakan medis yang akan

48 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


diambil dan risikonya terhadap media komunikasi seperti telepon dan
diri pasien. dokterpun memberikan instruksi dalam
3. Perawat, perawat gigi dan bidan bentuk lisan. Untuk hal seperti ini
melaksanakan tindakan medis perawat menulis kembali di catatan
sesuai dengan yang telah instruksi dokter sesuai dengan hasil
diinstruksikan dan konsul tersebut dan meminta segera tanda
kompetensinya. tangan dari dokterr pemberi instruksi.
4. Perawat, perawat gigi dan bidan (hasilwawancara dengan dr.Fandy A
menulis tindakan medis yang sebagai Kepala High Care Unit (HCU)
telah dan Joko Purwanto,Skep Ns selaku Ketua
dilaksanakan di buku status Komite Keperawatan pada tanggal 21
pasien. Maret 2017).
5. Perawat, perawat gigi dan bidan Merujuk dari Peraturan Walikota
segera melaporkan kepada Tegal No. 25 Tahun 2004 84, bahwa yang
dokter disebut tindakan medis adalah tindakan
yang telah memberi wewenang pembedahan yang menggunakan
atau dokter penanggung jawab pembiusan umum, pembiusan regional,
apabilaterjadi keadaan yang lokal atau tanpa pembiusan dan tindakan
tidak diharapkan. non operatif sesuai dengan kewenangan
Bila dilihat dari segi hukum, yang diatur dalam undang-undang dan
maka hospital by laws dapat dikatakan peraturan lainnya.
sebagai perpanjangan tangan hukum. Dari hasil penelitian baik dengan
Dikatakan demikian karena hospital by cara wawancara (hasil wawancaradengan
laws hospital by laws adalah suatu 4 (empat) orang Dokter dan 4 empat
produk hokum yang merupakan anggaran orang perawat kepala ruang dan kajian
rumah tangga rumah sakit yang literatur yaitu dari buku status pasien
ditetapkan oleh pemiilik rumah sakit atau bahwa dalam proses pelimpahan
yang mewakili. Hospital by laws wewenang tindakan medis dokter kepada
mengatur: organisasi pemilik atau yang perawat mepunyai beberapa hambatan
mewakili, peran, tugas, dan kewenangan yaitu :
direktur rumah sakit, organisasi staf a) Kurangnya pengetahuan dokter
medis, peran, tugas dan kewenagan staf tentang isi Undang-Undang
medis. 83 Kedokteran dan Undang–Undang
Pada keadaan darurat seringkali Keperawatan.
perawat melakukan konsul kepada dokter b) Kurangnya pengetahuan perawat
penanggung jawab secara lisan melalui tentang isi Undang–Undang

84
Peraturan Walikota Tegal No. 25 Tahun 2004
83
Cecep Triwibowo Etika dan Hukum Kesehatan, tentang Tarif Pelayanan Kesehatan pada
Nuha Medika, 2014, Yogyakarta hal240 Rumah Sakit Umum Unit Daerah Kota Tegal

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 49


Keperawatan dan Undang- tugas/wewenang hendaknya dipahami
Undang Kedokteran. besar tingkat kemampuan dari perawat
c) Masih ada sebagian perawat yang akan diberikan delegasi. Delegasi
ruangan belum mempunyai lebih dari sekedar memberikan orang
standar kompetensi untuk mengerjakan sesuatu. Dengan
d) Perbedaan tingkat pendidikan dan mengikuti cara pemilihan orang yang
pengetahuan dokter dan perawat tepat, teratur, dan bijak, memilih perawat
secara umum masih jauh dari dengan keahlian yang paling cocok
harapan hal ini dapat berdampak denagan kompetensinya, atau memilih
pada interprestasi terhadap perawat yang sekiranya akan
tindakan medis. mendapatkan pengalaman yang berguna
e) Perasaan tidak aman dari perawat, dari pekerjaan yang didelegasikan.
karena dokter enggan mengambil Ada 4 (empat) hal yang harus
resiko untuk melimpahkan diperhatikan dalam proses pendelegasian
wewenang atau mungkin takut wewenang sehingga dapat berjalan
kehilangan kekuasaan bila efektif, keempat hal tersebut adalah85:
perawatnya lebih mahir dalam 1. Dalam pemberian suatu delegasi
melakukan tindakan medis. kekuasaan atau tugas haruslah
f) Perawat takut dikritik atau dibarengi denagan pemberian
dihukum karena membuat tanggung jawab
kesalahan. 2. Kekuasaan yang didelegasikan
g) Perawat tidak mendapatkan cukup harus pada orang yang tepat baik
rangsangan untuk beban tanggung dari segi kualifikasi maupun segi
jawab tambahan. fisik.
h) Ketidak percayaan kepada 3. Mendelegasikan kekuasaan pada
perawat apabila yang menerima seseorang juga harus dibarengi
delegasi tidak memiliki dengan pemberian motivasi.
kemampuan atau kapabilitas tugas 4. Pimpinan yang mendelegasikan
yang didelegasikan padanya. kekuasaannya harus membimbing
i) Perawat kurang percaya diri dan dan mengawasi orang yang
merasa tertekan bila diberikan menerima delegasi tersebut.
pendelegasian wewenang yang Solusi dari hambatan, adalah
lebih besar. berupa tindakan yang harus dilakukan
Dokter seharusnya lebih cermat agar pendelegasian berjalan secara
dalam mendelegasikan tugas dan efektif:
wewenangnya, mengingat kegiatan a. Sosialisasi Undang-Undang
perawat berhubungan dengan
keselamatan pasien. Oleh karena itu 85
Yakob Tomatala, 2007Kepemimpinan Yang
sebelum mendelegasikan Dinamis, Gandum Mas, Malang, hal 195

50 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


Kedokteran dan Undang–Undang d. Peraturan Pemerintah;
Keperawatan. e. Peraturan Daerah Provinsi; dan
b. Penentuan tindakan medis yang f. Peraturan Daerah
dapat didelegasikan Kota/Kabupataen.
c. Penentuan perawat yang layak
menerima pelimpahan tindakan Sinkronisasi adalah penyelarasan
medis. dan penyelerasian berbagai peraturan
perundang-undangan yang terkait
dengan peraturan perundang-undangan
yang telah ada dan yang sedang
Penetapan hospital by laws. disusun yang mengatur suatu bidang
4. Sinkronisasi Peraturan Perundang- tertentu. Proses sinkronisasi peraturan
undangan Pelimpahan Wewenang bertujuan untuk melihat adanya
Tindakan Medis Kepada Perawat keselarasan antara peraaturan yang
Dalam Pelayanan Kesehatan Rumah satu dengan peraturan yang lainnya.
Sakit Sinkronasi dilakukan baik secara
Secara normatif berdasarkan vertical dengan peraturan diatasnya
ketentuan pasal 1 UU No. 12 Tahun maupun secara horizontal dengan
2011, peratuaran perundang-undangan peraturan yang setara 86.
adalah peraturan tertulis yang memuat
norma hukum yang mengikat secara a. Sinkronisasi secara horizontal
umum dan dibentuk atau ditetapkan antara UU No. 38 Tahun 2014
oleh lembaga negara atau pejabat yang tentang Keperawatan dengan UU
berwenang melalui prosedural yang No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga
ditetapkan dalam peraturan perundang- Kesehatan.
undangan. Undang-Undang Nomor 38 Tahun
Jenis dan hierarki Peraturan 2014 Tentang Keperawatan
Perundang-undangan berdasarkan ditetapkan oleh Presiden Republik
Pasal 7 UU No. 12 Tahun 2011 tentang Indonesia dengan persetujuan DPR
Pembentukan Peraturan Perundang- RI berdasarkan pertimbangan antara
undangan adalah urutan sebagai lain:
berikut: a) Bahwa untuk memajukan
a. Undang-Undang Dasar Negara kesejahteraan umum sebagai
Republik Indonesia Tahun 1945; salah satu tujuan nasional
b. Ketetapan Majelis sebagimna tercantum dalam
Permusyawaratan Rakyat; Pembukaan Undang-Undang
c. Undang-Undang/Peraturan
86
Pemerintah Pengganti Undang- http://www.penataranruang ,net/ta/lapan
04/P2/sinkronisasiUU/Bab4,pdf diakses pada
Undang; tanggal 12 Juni 2017

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 51


Dasar Negara Republik b) pendidikan tinggi
Indonesia Tahun 1945 perlu keperawatan;
diselenggarakan pembangunan c) registrasi, izin praktik, dan
kesehatan; registrasi ulang;
b) Bahwa penyelenggaraan d) praktik keperawatan;
pembangunan kesehatan e) hak dan kewajiban
diwujudkan melalui perawat;
penyelenggaraan pelayana f) organisasi profesi
kesehatan, termasuk pelayanan keperawatan;
keperawatan; g) kolegium keperawatan;
c) Bahwa penyelenggaraan h) konsil keperawatan;
pelayanan keperawatan harus i) pengembangan,
dilakukan secara bertanggung pembinaan, dan
jawab, akuntabel, bermutu, pengawasan;
aman, dan terjangkau oleh j) sanksi administrasi.
perawat yang memiliki Regulasi pelimpahan
kompetensi, kewenangan, etik, wewenang tindakan medis
dan moral tinggi; kepada perawat dalam Undang-
d) Bahwa mengenai keperawatan Undang No. 38 Tahun 2014
perlu diatur secara tentang Keperawatan, terdapat
komprehensif dalam Peraturan pada:
Perundang-undangan guna a) Pasal 29 ayat (1) huruf e,
memberikan perlindungan dan bahwa dalam
kepastian hukum kepada menyelenggarakan Praktik
perawat dan masyrakat. Keperawatan Perawat bertugas
sebagai pelaksana tugas
Undang-undang tentang berdasarkan pelimpahan
Keperawatan ini dimaksudkan wewenang;
untuk memberikan perlindungan b) Pasal 29 ayat (2), bahwa dalam
dan kepastian hukum kepada penyelenggaraan praktik
perawat sebagai pelaksana keperawatan dapat
pelayanan keperawatan dan dilaksanakan secara bersama
masyarakat sebagai pemakai jasa ataupun sendiri-sendiri;
pelayanan keperawatan. Untuk itu c) Pasal 29 ayat (3), bahwa dalam
Undang-undang tentang penyelenggaraan praktik
Keperawatan ini berisikan regulasi keperawatan harus
tentang: dilaksanakan secara
a) jenis perawat; bertanggung jawab dan
akuntabel;

52 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


d) Pasal 32 ayat (1), pelaksanaan f) Pasal 37 huruf f, bahwa dalam
tugas berdasarkan pelimpahan melaksanakan tindakan
wewenang sebagaimana pelimpahan wewenang dari
dimaksud dalam pasal 29 ayat tenaga kesehatan lain yang
(1) huruf e hanya dapat sesuai dengan kompetensi
diberikan secara tertulis oleh perawat
tenaga medis kepada Perawat Undang-Undang No 36
untuk melakukan sesuatu Tahun 2014 tentang Tenaga
tindakan medis dan melakukan Kesehatan ditetapkan oleh Presiden
evaluasi pelaksanaannya; Republik Indonesia dengan
e) Pasal 32 ayat (2) pelimpahan persetujuan DPR RI berdasarkan
wewenang sebagaimana pertimbangan antara lain:
dimaksud pada ayat (1) dapat a) Bahwa tenaga kesehatan
dilakukan secara delegatif atau memiliki peranan penting
mandat, sedangkan pengertian untuk meningkatkan kualitas
delegatif menurut pasal 32 ayat pelayanan kesehatan yang
(3) adalah untuk melakukan maksimal kepada masyaraka
suatu tindakan medis kepada agar masyarakat mampu untuk
perawat dengan disertai meningkatkan kesadaran,
pelimpahan tanggung jawab, kemauan, dan kemampuan
contoh tindakan medis antara hidup sehat sehingga akan
lain: menyuntik, memasang terwujud derajat kesehatan
infus, dan memberikan setinggi-tingginya sebagai
imunisasi dasar sesuai dengan investasi bagi pembangunan
program pemerintah, tindakan sumber daya manusia yang
ini dapat diberikan kepada produktif secara social dan
perawat profesi atau perawat ekonomi serta seebagai salah
vokasi terlatih yang memiliki sattu unsure kesejahteraan
kompetensi yang diperlukan. umum sebagaimana dimaksud
Pelimpahan wewenang secara dalam Pembukaan Undang-
mandat adalah pelimpahan Undang Dasar Negara
wewenang tindakan medis Republik Indonesia Tahun
kepada perawat di bawah 1945;
pengawasan, tanggung jawab b) Bahwa kesehatan sebagai hak
atas tindakan medis pada asasi manusia harus
pelimpahan wewenang diwujudkan dalam
mandate berada ada pemberi pembentukan pemberian
pelimpahan wewenang. sebagai pelayanan kesehatan
kepada seluruh masyarakat

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 53


melalui penyelenggaraan penerima upaya pelayanan
pembangunan kesehatan yang kesehatan, perlu pengaturan
menyelueuh oleh Pemerintah, mengenai tenaga kesehatan
Pemerintah Daerah, dan terkait dengan perencanaan
masyarakatsecara terarah, kebuuhan, pengadaan,
terpadu, dan pendayagunaan, pembinaan,
berkesinambungan, adil dan dan pengawasan mutu tenaga
merata serta aman, berkualitas, kesehatan;
dan terjangkau oleh e) Bahwa ketentuan mengenai
masyarakat; tenaga kesehatan masih
c) Bahwa penyelenggaraan upaya tersebar dalam berbagai
kesehatan harus dilakukan oleh peraturan perundang-undangan
tenaga kesehatan yang dan belum menampung
bertanggung jawab, yang kebutuhan hukum masyarakat
memiliki etik dan moral tinggi, sehingga perlu dibentuk
keahlian, dan kewenangan yang undang-undang tersendiri yang
secara terus menerus harus mengatut tenaga kesehatan
ditingkatkan mutunya melalui secara komprehensif.
pendidika dan pelatihan
beerkelanjuta, sertifikasi, Undang-undang tentang
registrasi, perizinan, serta tenaga kesehatan ini dimaksudkan
pembinaan, pengawasan, dan untuk memberikan perlindungan
pemantauan agar serta kepastian hukum kepada
penyelenggaraan upaya tenaga kesehatan dan masyarakat
kesehatan memenuhi rasa penerima upaya pelayanan
keadilan dan perikemanusiaan kesehatan, perlu pengaturan
serta sesuai dengan mengenai tenaga kesehatan terkait
perkembangan ilmu dengan perencanaan kebutuhan,
pengetahuan dan teknologi pengadaan, pendayagunaan,
kesehatan; pembinaan, dan pengawasan mutu
d) Bahwa untuk memenuhi hak tenaga kesehatan. Untuk itu
dan kebutuhan kesehatan setiap Undang-undang tentang Tenaga
individu dan masyarakat, untuk Kesehatan ini berisikan regulasi
memeratakan pelayanan tentang:
kesehatan kepada seluruh a) Tanggung jawab dan
masyarakat, dan untuk wewenang pemerintah dan
memberikan perlindungan serta pemerintah daerah;
kepastian hukum kepada tenaga b) Kualifikasi dan pengelompokan
kessehatan dan masyarakat tenaga kesehatan;

54 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


c) Perencanaan, pengadaan, dan dilimpahkan tetap di bawah
pendayagunaan; pengawasan pemberi
d) Konsil tenaga kesehatan pelimpahan, pemberi
Indonesia; pelimpahan tetap bertanggung
e) Registrasi dan perizinan tenaga jawab atas tindakan yang
kesehatan; dilimpahkan sepanjang
f) Organisa si profesi; pelaksanaan tindakan sesuai
g) Tenaga kesehatan warga dengan pelimpahan yang
Negara Indonesia lulusan luar diberikan, dan tindakan yang
negeri dan tenaga kesehatan dilimpahkan tidak termasuk
warga Negara asing; pengambilan keputusan sebagai
h) Hak dan kewajiban tenaga dasar pelaksanaan tindakan.
kesehatan; Analisis sinkronisasi
i) Penyelenggaraan keprofesian; secara horizontal kedua Undang-
j) Penyelesaian perselisihan; Undang tersebut materi muatan
k) Pembinaan dan pengawasan; tentang pelimpahan wewenang
l) Sanksi administrasi; tindakan medis kepada perawat
m)Ketentuan pidana. dalam pelayanan di rumah sakit,
Regulasi pelimpahan yaitu: Undang-undang
wewenang tindakan medis kepada Keperawatan membagi
perawat dalam Undang-Undang pelimpahan wewenang menjadi
No. 36 Tahun 2014 tentang dua antara lain delegatif dan
Tenaga Kesehatan, terdapat pada: mandat, dimana pembagian ini
a) Pasal 65 ayat (1) dalam untuk memberikan kepastian siapa
melakukan pelayanan yang bertanggung jawab terhadap
kesehatan, tenaga kesehatan tindakan medis yang dilimpahkan.
dapat menerima pelimpahan Sementara Undang-undang
tindakan medis dari tenaga Tenaga Kesehatan tanggung
medis; jawab pelimpahan wewenang ada
b) Pasal 65 ayat (3), bahwa dalam pada pemberi pelimpahan yaitu
plimpahan tindakan tenaga medis, ini berarti tidak ada
sebagaiman dimaksud ayat (1) pembagian pwlimpahan
dan ayat (2) dilakukan denagan wewenang secara delegatif
ketentuan: tindakan yang maupun mandat.
dilimpahkan termasuk dalam Hal ini menunjukkan
kemampuan dan ketrampilan antara Undang-Undang Nomor 38
yang telah dimiliki oleh Tahun 2014 dengan Undang-
penerima pelimpahan, Undang Nomor 36 Tahun 2014
pelaksanaan tindakan yang tidak sinkron atau tidak selaras

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 55


karena Undang-Undang Nomor Menurut asas ini apabila
36 Tahun 2014 tidak mendukung dua peraturan perundang-
dan menguatkan kepastian hukum undangan yang secara hierarki
yang dijamin oleh Undang- mempunyai kedudukan yang
Undang Nomor 38 Tahun 2014, sama, tetapi ruang lingkup materi
pada materi muatan pelimpahan muatan yang satu merupakan
wewenang dalam hal pengaturan secara khusus daripada
pertanggungjawaban pelaksanaan yang satunya lagi, maka peraturan
tindakan medis yang dilimpahkan. perundang-undangan yang bersifat
Sehubungan dengan khusus menyisihkan peraturan
berlakunya kedua Undang- perundang-undangan yang bersifat
Undang tersebut, maka melalui umum. Dengan demikian, UU No.
pendekatan peraturan perundang- 38 tentang Keperawatan bersifat
undangan menurut asas lex khusus mengatur profesi perawat
specialis derogat legi generalis menyisihkan Undang-Undang
yaitu peraturan perundang- Nomor 36 Tahun 2014 yang
undangan yang khusus bersifat umum, mengatur tentang
mengalahkan peraturan tenaga kesehatan.
perundang-undangan yang bersifat b. Sinkronisasi Vertikal Undang-
umum, yang mengatur hal yang Undang Nomor 38 Tahun 2014
sama 87. UU tentang Keperawatan Tentang Keperawatan dengan
merupakan Undang-Undang yang Peraturan Menteri Kesehatan
mengatur mengenai pelayanan Nomor
keperawatan. sehingga UU 1239/Menkes/SK/XI/2001
Keperawatan ini bersifat khusus Tentang Registrasi dan Praktek
mengatur praktek keperawatan. Perawat.
Sedangkan Undang-Undang Secara vertikal, analisis
Nomor 36 Tahun 2014 merupakan sinkronisasi pengaturan mengenai
Undang-Undang yang mengatur pelimpahan wewenang tindakan
tenaga kesehatan seluruhnya medis kepada perawat dalam
sedangkan tenaga kepearawatan pelayanan kesehatan di rumah
termasuk bagian dari tenaga sakit. Berdasarkan Undang-
kesehatan, sehingga undang- Undang tentang Keperawatan
undang ini bersifat umum. diatur mengenai pelimpahan
wewenang tindakan medis kepada
perawat, seperti yang sudah
87
Raharjo, Handri, 2009, Hukum Perjanjian, dijelaskan pada sinkronisasi
Yogyakarta : Penerbit Pustaka Yustisia, dengan UU tentang tenaga
hal. 8.
kesehatan, bahwa pelimpahan

56 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


wewenang dibagi menjadi dua bersifat hipotesis. Ketentuan yang
antara lain delegatif dan mandat, lebih rendah adalah lebih konkret
dimana pembagian ini untuk dari pada ketentuan yang lebih
memberikan kepastian siapa yang tinggi 88. Dan juga pendekatan
bertanggung jawab terhadap menurut asa Undang-Undang lex
tindakan medis yang dilimpahkan. superior derogate legi inferior yaitu
Sedangkan Permenkes No1239 peraturan perundang-undangan yang
Tahun 2001 Tentang Registrasi lebih tinggi mengalahkan peraturan
dan Praktek Perawat, pada Pasal perundang-undangan yang lebih
15 huruf d bahwa pelayanan rendah 89. Menurut asas ini apabila
tindakan medik hanya dapat terjadi pertentangan antara
dilakukan berdasarkan permintaan peraturan perundang-undangan yang
tertulis dari dokter, disini tidak secara hierarki mempunyai
tertulis secara eksplisit tentang kedudukan lebih tinggi dengan yang
pertanggungjawaban tindakan lebih rendah, maka peraturan
medik yang dilimpahkan kepada perundang-undangan yang lebih
perawat. Sehingga dapat rendah itu harus disisihkan dan
disimpulkan ada ketidak merujuk ketentuan pada pasal 7 ayat
sinkronan antara Undang-undang (2) Undang-Undang Nomor 12
tentang Keperawatan dengan Tahun 2011 tentang Pembentukan
Permenkes tentang Registrasi dan Peraturan Perundang-undangan,
Praktik Peawat. menyatakan bahwa kekuatan hukum
Sehubungan dengan peraturan perundang-undangan
adanya pertentangan antara adalah sesuai dengan hierarki dan
peraturan perundang-undangan yang didasarkan pada asas bahwa
secara hierarki mempunyai peraturan perundang- undangan
kedudukan lebih tinggi dengan yang yang lebih rendah tidak boleh
lebih rendah, maka melalui bertentangan dengan peraturan
pendekatan teori kedua dari teori perundang-undangan yang lebih
besar yang dikemukakan oleh Hans tinggi.
Kelsen yaitu Stufenbau Des Rech.
Ajaran Stufentheori berpendapat Dengan demikian, Undang-
bahwa suatu sistem hukum adalah Undang No 38 Tahun 2014 Tentang
Keperawatan menyisihkan
suatu hierarkis dari hukum dimana
suatu ketentuan hukum tertentu Peraturan Menteri Kesehatan
bersumber pada ketentuan hokum
lainnya yang lebih tinggi. Sebagai
88
ketentuan yang lebih tinggi adalah Lukman Santoso dkk, Pengantar Ilmu Hukum,
Malang , Setara Press, 2016, hlm 100
Groundnorm atau norma dasr yang 89
Ibid hlm 8

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 57


Nomor 1239 Tahun 2001 Tentang bertentangan dengan peraturan lain
Registrasi dan Praktik Perawat. yang sejajar tingkatannya (sinkron
Berdasarkan uraian-uraian secara horisontal).
tersebut diatas, ditemukan antara Menurut stuffentheorie milik
peraturan perundang-undangan Hans Kelsen,66 diajarkan bahwa
pelimpahan wewenang tidak suatu norma dibentuk berdasarkan
sinkron, baik secara horinsontal norma yang lebih tinggi, demikian
maupun vertikal. Dalam suatu seterusnya norma yang tinggi
peraturan perundang- undangan dibentuk oleh norma atau
menurut Maria S. W. Sumardjono65 berdasarkan norma yang lebih tinggi
harus sesuai dengan tata urutan lagi. Norma tertinggi inilah yang
peraturan perundang-undangan oleh Hans Kelsen disebut dengan
tidak tumpang tindih atau grundnorm atau norma dasar. Aliran
bertentangan dengan peraturan lain, positivisme yang diajarkan oleh
yaitu bahwa pemenuhan asas Hans Kelsen dengan stufenbau des
keadilan dalam suatu peraturan recht, bahwa hukum itu bersifat
perundang-undangan belum cukup hierarki artinya hukum itu tidak
karena masih memerlukan boleh bertentangan dengan
dipenuhinya syarat kepastian ketentuan yang lebih atas
90
hukum. Kepastian hukum akan derajatnya .
tercapai apabila suatu peraturan Negara Indonesia sebagai
dirumuskan secara jelas sehingga Negara Hukum sebagaimana
tidak menimbulkan penafsiran yang ditetapkan dalam ketentuan pasal 1
beragam dan menjadi pedoman ayat (3) Undang Undang Dasar
untuk pelaksanaan yang sama, dan 1945, mengandung pengertian
bahwa peraturan yang ada akan bahwa segala tindakan
dilaksanakan secara konsekuen dan pemerintahan dalam negara harus
konsisten. Disamping itu kepastian berdasarkan hukum. Sistematika
hukum akan tercapai bila peraturan hukum di Indonesia pada dasarnya
yang diterbitkan memenuhi menganut teori yang dikembangkan
persyaratan formal berkenaan Hans Kelsen tersebut, sebagaimana
dengan bentuk pengaturan sesuai ketentuan pada pasal 7 ayat (2)
tata urutan peraturan perundang- Undang-Undang Nomor 12 Tahun
undangan dan secara substansial 2011 tentang Pembentukan
materi yang diatur tidak tumpang Peraturan Perundang-undangan,
tindih atau tidak bertentangan menyatakan bahwa kekuatan hukum
dengan peraturan lain yang relevan peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi tingkatan (sinkron
horisontal) ataupun tidak 90
Lukman Santoso op cit hlm 100

58 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


adalah sesuai dengan hierarki dan Tentang Izin Praktik Dan
didasarkan pada asas bahwa Pelaksanaan Praktik
peraturan perundang-undangan yang KedokteranPasal 23 ayat (1), ayat
lebih rendah tidak boleh (2), ayat (3) .
bertentangan dengan peraturan Dalam pelaksanaannya
perundang-undangan yang lebih pelimpahan wewenang tindakan
tinggi. medis kepada perawat di RSUD
1. Kesimpulan Kardinah Kota Tegal belum
Berdasarkan pada uraian-uraian adanya peraturan tertulis
sebelumnya dapat disimpulkan hal-hal berbentuk Keputusan Direktur
sebagai berikut: tentang pelimpahan wewenang
1. Regulasi pelimpahan wewenang tindakan medis kepada perawat.
tindakan medis kepada perawat Pada Peraturan Walikota Tegal
dalam pelayanan kesehatan di No. 25 Tahun 2004, tercantum
rumah sakit tindakan medis berdasarkan jenis
Undang-undang RI No. 36 tindakan Instalasi Rawat Jalan,
Tahun 2014 Tentang Tenaga Instalasi Gawat Darurat, Instalasi
Kesehatan, Undang-undang RI Kamar Operasi dan Instalasi
No. 38 Tahun 2014 Tentang Rawat Inap, tetapi tidak
Keperawatan, Permenkes Nomor menyebutkan adanya pelimpahan
2052/MENKES/PER/X/2011 wewenang tindakan medis dari
Tentang Izin Praktik Dan dokter kepada perawat, walaupun
Pelaksanaan Praktik Kedokteran demikian pada kenyataannya
telah memberikan pengaturan bagi beberapa tindakan medis
pelimpahan wewenang tindakan dilimpahkan kepada perawat
medis keapada perawat dalam dalam pelaksanaannya. Ada
pelayanan kesehatan di rumah beberapa kriteria mengenai
sakit. Hal ini dapat ditemukan tindakan medis yang dapat
Undang-undang RI No. 38 Tahun dilimpahkan kepada perawat,
2014 Tentang Keperawatan Pasal seperti : tindakan medis yang
29 ayat (1) huruf e dan/atau, dilimpahkan sesuai dengan
Pasal 32 ayat (1), ayat (2), ayat kompetensi perawat baik dari segi
(3), ayat (4), ayat (5), ayat (6), pengetahuan maupun dari segi
ayat (7). . Dalam Undang-Undang keterampilan, tindakan medis
RI Nomor 36 Tahun 2014 tersebut bukan merupakan
Tentang Tenaga Kesehatan Pasal tindakan operatif, mengandung
65 ayat (1), ayat (3). unsur risiko minimal baik dari
Pada Permenkes Nomor risiko kesalahan maupun maupun
2052/MENKES/PER/X/2011 efek samping dari tindakan medis,

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 59


dan adanya Standar Prosedur lebih mahir dalam
Operasional dari tindakan medis melakukan tindakn medis.
tersebut. f) Perawat takut dikritik atau
2. Kendala dan solusi pelimpahan dihukum karena membuat
wewenang tindakan medis kepada kesalahan.
perawat dalam pelayanan g) Perawat tidak
kesehatan di rumah sakit. mendapatkan cukup
Pelimpahan wewenang rangsangan untuk beban
tindakan medis banyak tanggung jawab tambahan.
mengalami hambatan antara lain: h) Ketidak percayaan kepada
a) Kurangnya pengetahuan perawat apabila yang
dokter tentang isi Undang- menerima delegasi tidak
Undang Kedokteran dan memiliki kemampuan atau
Undang–Undang kapabilitas tugas yang
Keperawatan. didelegasikan padanya.
b) Kurangnya pengetahuan i) Perawat kurang percaya
perawat tentang isi diri dan merasa tertekan
Undang–Undang bila diberikan
Keperawatan dan Undang- pendelegasian wewenang
Undang Kedokteran. yang lebih besar.
c) Masih ada sebagian 3. Sinkronisasi Peraturan Perundang-
ruangan belum undangan Pelimpahan Wewenang
mempunyai standar Tindakan Medis Kepada Perawat
kompetensi Dalam Pelayanan Kesehatan
d) Perbedaan tingkat Rumah Sakit
pendidikan dan Adanya pengaturan
pengetahuan dokter dan peraturan perundang-undangan
perawat secara umum mengenai pelimpahan wewenang
masih jauh dari harapan tindakan medis kepada perawat
hal ini dapat berdampak tidak sinkron, yakni secara
pada interprestasi terhadap horizontalantara Undang-Undang
tindakan medis. No 38 Tahun 2014 tentang
e) Perasaan tidak aman dari Keperawatan dengan Undang-
perawat, karena dokter Undang No 36 Tahun 2014
enggan mengambil resiko tentang Tenaga Kesehatan, dan
untuk melimpahkan secara vertikal antara Undang-
wewenang atau mungkin Undang No 38 Tahun 2014
takut kehilangan tentang Keperawatan dengan
kekuasaan bila perawatnya Permenkes No 1239 Tahun 2001

60 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


tentang Registrasi dan Praktik 4. Penerbitan suatu peraturan
Perawat. perundan-undangan di bidang
2. Saran kesehatan terutama pelimpahan
Untuk menghadapi konsekuensi wewenang medis, pemerintah
hukum dari pelimpahan wewenang harus konsisten dan konsekuen
tindakan medis dari dokter kepada memperhatikan hukum positif
perawat maka saran yang dapat penulis mengenai pelimpahan wewenang
sampaikan adalah : medis kepada perawat yang
1. Pemerintah perlu secepatnya berlaku sehingga antara peraturan
menerbitkan peratuaran pelaksana perundang-undangan pelimpahan
atau peraturan perundang- wewenang tindakan medis kepada
undangan turunan dari Undang- perawat yang tidak sinkronbaik
Undang No 38 Tahun 2014, yang secara horizontal maupun vertikal
telah disahkan sejak tanggal 17 dapat dihindari dan tidak terjadi
Oktober 2014 multi tafsir dalam implementasi
2. Temuan studi tentang pelaksanaannya.
pelimpahan wewenang tindakan
medis kepada perawat dari Daftar Pustaka
pemahaman delegans/mandans Andy,TeoriPerkembangan,http://petiusan
yaitu dokter dan g.worress.com/category/psikologi/t
delegetaris/mandataris yaitu eori erkembangan, diakses tanggal
perawat khususnya penyelesaian 16 Agustus 2016.
perkara dan upaya perlindungan
pasien (safety patien) perlu Anggota IKAPI, Himpunan Peraturan
ditindaklanjuti riset-riset lanjutan. Perundang-undangan Tentang
3. Perlu dilakukan sosialisasi Kesehatan “Undang-undang
hukum kesehatan melalui Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009”,
pendekatan kurikululum Nuansa Aulia: Bandung
pendidikan kesehatan dan seminar
bersama Dokter dan Perawat BAB XA Undang-Undang D asar Negara
melalui organisasi profesi bagi
pengenalan hukum kesehatan Budi Susanto dalam Supriadi, Etika dan
terutama pelimpahan wewenang Tanggung Jawab Profesi Hukum di
sebagai salah satu instrumen yang Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika,
dapat menyelesaikan problem 2008
sosial masyarakat bidang
kesehatan terutama pelayanan Cecep Triwibowo, Etika dan Hukum
tindakan medis yang dilimpahkan Kesehatan, Nuha Medika,
kepada perawat. Yogyakarta,2014

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 61


http://www.ilunifk83.com/t93-uu-ri-no-
Chairil Arrasyid, Dasar-dasar Ilmu 29-tahun-2004-tentang-praktik-
Hukum, Sinar Grafika ,Jakarta,2014 kedokteran, diakses 19 Desember 2016

Dahlan Sofyan, http://www.penataranruang ,net/ta/lapan


2010.Pertanggungjawaban Hukum 04/P2/sinkronisasiUU/Bab4,pdf diakses
PerawatpadaPelayanan Kesehatan pada tanggal 12 Juni 2017
di
RumahSakit.http://sofyan.blogspot.c Irawan ,Profesi,
om/2010/12.diakses 12 Agustus http://www.wikipedia.org, diakses 20
2016. Agustus 2016.
dokumen.tips/documents/kewenang
an-atribusi.html Diakses 1 Irma Siregar, 2001. Definisi Hukum
November 2016 Kesehatan ,http://irma-
Dr. Ayih Sutarih, SH.M.Hum: Dosen siregar.blogspot.com. Diakses pada
Pascasarjanan Magister Ilmu tanggal 17 Agustus 2016.
Hukum & Fakultas Hukum
Univertsitas Swadaya Gunung Jati Isfandyarie Anni, Tanggung Jawab
Cirebon Hukum dan Sanksi Dokter, Prestasi
Pustaka, Jakarta, 2006
Hadiningsih.Isti,
2010.EvaluasiPelimpahan J. J. H. Bruggink, Refleksi Tentang
Wewenang Dokter Kepada Hukum, dialihbahasakan oleh Arif
Perawat: Tinjauan Sidharta, PT. Citra Adtya Bakti,:
AspekHukum.etd.Repository.ugm.a Bandung.
c/index.php?mod:penelitian.Diakse
s pada tanggal 25 Mei 2016 Jayanti Nusye, Penyelesaian Hukum
dalam Malpraktek Kedokteran,
Hermien Hadiati Koeswadji, Hukum Pustaka Yustisia, Yogyakarta,2009
Kedokteran, Studi Tentang
Hubungan Hukum Dalam Mana Jhonny Ibrahim, Teori Metodologi
Dokter Sebagai Salah Satu Pihak . Penelitian Hukum Normatif, cet.
PT. Citra Aditya Bakti; Ke- 4; bayumedia Publishing:
Bandung,1998 Malang, 2008
Kamus Besar Bahasa Indonesia,
http://handarsubhandi.blogspot.co.id/201 Departemen Pendidikan dan
4/09/pengertian-tindakan-medik.html, Kebudayaan, Edisi Kedua, Jakarta:
diakses 16 Desember 2016 Balai Pustaka, 1991.

62 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018


Kiswo Utomo: Mahasiwa Pascasarjana Nurul Azmi, Sosiologi Hukum,
Program Studi Magister Ilmu http://www.docs/14293106/makalah-
Hukum Universitas Swadaya sosiologi-hukum,diakses tanggal 24
Gunung Jati Cirebon. Februari 2011.

Laporan Komite Keselamatan Pasien Pasal 28 H ayat (1) Undang-Undang


RSUD Kardinah Kota Tegal,2014 Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
Lukman Santoso dkk, Pengantar Ilmu
Hukum, Malang , Setara Press, Pembukaan UUD 1945 alinea IV.
2016. Penjelasan pasal 62 UU RI No.36 Tahun
2014 Tentang Tenaga
Marwan dan Jimmy. 2009. Kamus Kesehatan.Permenkes RI Nomor
Hukum: Dictionary Of Low Complete 512/MENKES/PER/IV/2007
Edition. Surabaya tentang Izin Praktik dan
Pelaksanaan Praktik Kedokteran.
Marwan Efendy, Teori Hukum Dari Peraturan Walikota Tegal No. 25 Tahun
Perspektif,Perbandingan, dan 2004 tentang Tarif Pelayanan
Harmonisasi Hukum Pidana, PT Kesehatan pada Rumah Sakit
Referensi, Jakarta, 2014 Umum Unit Daerah Kota Tegal

Marwan Efendy, Teori Hukum Dari Permenkes No. 147 Tahun 2010 Tentang
Perspektif,Perbandingan, dan Perizinan Rumah Sakit
Harmonisasi Hukum Pidana, PT
Referensi, Jakarta, 2014 Praptiningsih, S. 2007. Kedudukan
Hukum Perawat dalam Upaya
Muhamad Sadi Is,Etika &Hukum Pelayanan Kesehatan di Rumah
Kesehatan Teori dan Aplikasinya di Sakit. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Indonesia, Parnamedia Group, Persada
Jakarta, 2015
Prinsip-prinsip ini telah tertuang dalam
Nila Ismani. 2001. Etika Keperawatan. penjelasan umum UU No 36 Tahun
Jaya Medika: Jakarta 2009 tentang Kesehatan.

Nisya.R &Hartanti .S, 2013. Prinsip- Raharjo, Handri, 2009, Hukum


Prinsip Dasar Keperawatan, Dunia Perjanjian, Yogyakarta : Penerbit
Cerdas, Jakarta Pustaka Yustisia,
Reality Publisher.

Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018 63


Rencana Pengembangan Tenaga Sudikno Mertokusumo,Mengenal Hukum,
Kesehatan Tahun 2011-2015, Suatu Pengantar,
Jakarta, 2011 Yogyakarta,Liberti,1986
. Triwibowo Cecep, Hukum Keperawatan
Reni Suryanti, 2011. Pelimpahan Panduan Hukum Dan Etika Bagi
Wewenang Di Ruang Rawat Perawat, Dalam: Ebnu DK (ed).
InapRSUD Badung Sebagai Upaya Edisi I Cet.I. Pustaka Book
Pencegahan Kejadian Kelalaian Publisher, Yogyakarta, 2010.
.etd.Repository.ugm.ac/index.php?
mod:penelitian.Diakses pada Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009
tanggal 25 Mei 2016 tentang Rumah Sakit Pasal 12.Putra
Mahardika ,2015
Republik Indonesia Tahun 1945, yang
terdiri dari pasal 28 A sampai Undang-undang RI No. 38 Tahun 2014
dengan J, mengatur mengenai Hak Tentang Keperawatan pasal 1
Asasi Manusia.
UU RI No 36 Tahun 2014 Tentang
Ronny Hanitijo Soemitro,Perspektif Tenaga Kesehatan pasal 65 ayat (1)
Sosial dalam Pemahaman Masalah-
Masalah Hukum, Penerbit CV UU RI No 38 Tahun 2014 Tentang
Agung, Semarang , 1989. Keperawatan Pasal 29 ayat 1 huruf
e
Ruslan Achmad, Teori dan Panduan
Praktik Pembentukan Peraturan, Veronica Komalawati, 2002. Peran
Rangkang Education,Yogyakarta, Informed Consent dalam Transaksi
2011 Terapeutik (Persetujuan dalam
Hubungan Dokter dan Pasien),
Sistem Kesehatan Nasional:Bentuk dan Citra Aditya Bakti, Bandung.
Cara Penyelenggaraan
Pembangunan Kesehatan, Yakob Tomatala, 2007Kepemimpinan
diterbitkan Departemen Kesehatan, Yang Dinamis, Gandum Mas,
2009. Malang.

Soerjono Soekanto, Pengantar Hukum Yefrizawati. Ilmu Hukum: Suatu Kajian


Kesehatan, Bandung:Remaja Karya, Ontologis,http://repository.usu.ac.id
1987. /bitstream/123456789/1585/1/perda
tayefrizawati2.pdf, diakses pada
tanggal 14 Desember 2016.

64 Hermeneutika | Volume 2 | Nomor 1 | Februari 2018