Anda di halaman 1dari 8

No.

SIA berkewajiban untuk memberikan informasi dengan lingkungan sedangkan SIM tidak, SIM hanya
merupakan usaha seorganisasi.

SIA hanya menangani informasi dalam hal akutansi saja sedangkan SIM hampir semua masalah dibahas
dan dicari pemecahannya.

Output SIA masih luas, bisa dijadikan sebagai bahan bagi manajer maupun sumber data bagi sistem lain,
sedangkan SIM hanya menyediakan informasi bagi manajer untuk dicari pemecahannya.

SIA lebih berorientasi kepada data, sedangkan SIM lebih berorientasi kepada informasi.

SIA mengumpulkan mengklasifikasikan, memproses, menganalisa dan mengkomunikasikan informasi


keuangan sedangkan SIM mengumpulkan mengklasifikasikan, memproses, menganalisa dan
mengkomunikasikan semua tipe informasi

No. 2

Sistem informasi manajemen berkepentingan dengan penyediaan informasi yang menyeluruh dan
terintegrasi untuk membantu pengambilan keputusan bagi berbagai tingkatan manajemen dalam suatu
organisasi atau perusahaan. Ditinjau dari hal tersebut, maka sistem informasi akuntansi merupakan
subsistem dari sistem informasi manajemen.Setiap sistem informasi akuntansi akan melaksanakan lima
fungsi utamanya yaitu :a. Mengumpulkan dan menyimpan data dari semua aktivitas dan transaksi
perusahaan

b. Memproses data menjadi informasi yang berguna pihak manajemen.

c. Memanajemen data-data yang ada kedalam kelompok-kelompok yang sudah ditetapkan oleh
perusahaan.

d. Mengendalikan kontrol data yang cukup sehingga aset dari suatu organisasi atau perusahaan terjaga.

Penghasil informasi yang menyediakan informasi yang cukup bagi pihak manajemen untuk melakukan
perencanaan, mengeksekusi perencanaan dan mengkontrol aktivitas.

No 3

Mengacu pada Albrecht, Albrecht, Albrecht, dan Zimbelman (2009:109), salah satu cara yang dapat
dilakukan perusahaan untuk mencegah fraud yaitu dengan mengurangi peluang terjadinya fraud dengan
memperhatikan hal–hal berikut ini:

a. Memiliki Sistem Pengendalian Yang Baik


Berkaitan dengan pengendalian internal, Committee of Sponsoring
Organizations (COSO) mengharuskan perusahaan untuk memiliki kerangka pengendalian internal
sebagai berikut:

lingkungan pengendalian yang baik

penilaian resiko

aktivitas pengendalian yang baik

arus komunikasi dan informasi yang baik

pengawasan

Dari kelima unsur yang disebutkan pada kerangka di atas, Albrecht, Albrecht, Albrecht, dan Zimbelman
(2009:110) terfokus pada:

1. Lingkungan pengendalian,

Merupakan lingkungan kerja yang diciptakan atau dibentuk oleh perusahaan bagi para karyawan. Unsur
– unsur lingkungan pengendalian meliputi hal–hal berikut:

Peran dan contoh manajemen

Komunikasi manajemen

Perekrutan yang tepat

Struktur organisasi yang jelas

Internal audit perusahaan yang efektif

2. Arus komunikasi dan informasi yang baik (sistem akuntansi)

Setiap fraud yang terjadi pasti meliputi tindakan kecurangan, menyembunyikan kecurangan, dan
konversi. Oleh karena sistem akuntansi yang baik dan benar dapat menyediakan jejak audit yang dapat
membantu fraud ditemukan dan mempersulit penyembunyian.

Sistem akuntansi yang baik harus memastikan bahwa transaksi yang tercatat mencakup kriteria berikut:

Sah

Diotorisasi dengan benar

Lengkap

Diklasifikasikan dengan benar

Dilaporkan pada periode yang benar

Dinilai dengan benar

Diikhtisarkan dengan benar

3. Aktivitas atau prosedur pengendalian


Agar perilaku karyawan sesuai dengan apa yang diinginkan Anda sebagai pebisnis dan membantu
perusahaan dalam mencapai tujuannya, tentu diperlukan lima prosedur pengendalian yang utama:

Pemisahan tugas atau pengawasan ganda

Sistem otorisasi

Pengecekan independen

Pengamanan fisik

Dokumen dan pencatatan

b. Menghambat terjadinya kolusi

c. Mengawasi karyawan dan menyediakan saluran telekomunikasi untuk pelaporan fraud

d. Menciptakan gambaran hukuman yang akan diterima bila melakukan fraud

e. Melaksanakan pemeriksaan secara proaktif.

Sekian artikel dari saya semoga bermanfaat untuk Anda. Jangan sungkan untuk membaginya ke halaman
sosial media Anda agar teman Anda juga mendapatkan manfaatnya. Salam Let’s #beefree

Menggunakan Software yang Accountable

Saat ini, banyak start up maupun produsen perangkat lunak, yang mendesain produk-produk akuntansi
dan manajemen data, sesuai dengan kebutuhan spesifik dari para pengguna. Jika perusahaan bersedia
mengeluarkan uang atau budget khusus, bisa mendapat software yang sangat mumpuni dalam
mengatasi masalah-masalah akuntansi dan pembukuan lainnya, sesuai dengan kinerja perusahaan.

Penggunaan software khusus dapat meningkatkan efisiensi kerja dan juga efisiensi pengawasan kerja.
Software yang baik setidaknya memenuhi dua syarat. Pertama, terintegrasi satu sama lain, di internal
perusahaan, sehingga mempercepat transfer data dan pengawasan data. Ketika seorang karyawan
hendak melakukan manipulasi, bisa langsung terlacak dari komputer perusahaan manajer ataupun
karyawan lain.

Kedua, terdapat jaminan kerahasiaan untuk dokumen-dokumen penting. Fraud seringkali terjadi karena
kebocoran password yang menjadi akses untuk dokumen-dokumen penting. Untuk itu, sistem
keamanan software mesti terpercaya dan desainnya sejalan dengan kepentingan perusahaan, sehingga
tidak gampang diretas ataupun diutak-atik oleh karyawan yang tidak bertanggung jawab. Software yang
tepat dapat membantu perusahaan membangun akuntabilitas secara efisien.
Salah satu software yang dapat digunakan untuk meminimalisir fraud adalah Ukirama ERP. Ukirama ERP
dapat membantu anda mengontrol proses bisnis di perusahaan Anda mulai dari pembelian, penjualan,
persediaan, dan keuangan. Fitur otorisasi yang terdapat di Ukirama ERP dapat membantu Anda
mengontrol aktivitas pembuatan dokumen dan transaksi yang ada di perusahaan. Untuk informasi lebih
lanjut mengenai Ukirama ERP dapat dilihat di sini.

Memperketat Pelaksanaan SOP

Dalam benak karyawan, tak jarang SOP hanya dianggap sebagai gumpalan aturan di atas kertas, yang
merupakan pelengkap administrasi perusahaan. Anggapan seperti ini dapat menjadi ancaman bagi
perkembangan perusahaan. SOP dibuat untuk menjamin perusahaan dijalankan dengan baik, sesuai
dengan perencanaan. Jika SOP diabaikan, maka arah perusahaan bisa menjadi tak terkendali dan
memunculkan celah untuk praktek fraud.

Pengabaian SOP sangat mungkin terjadi ketika karyawan ataupun manajer, terlalu berfokus pada target
sehingga melewatkan berbagai prosedur. Padahal, setiap poin dalam SOP perusahaan memiliki tujuan
khusus, yang dirancang untuk menjamin teknis kerja dan juga kesesuaiannya dengan branding
perusahaan.

Ketika pelaksanaan SOP diperketat dengan cara mewajibkan karyawan untuk disiplin menjalankannya
(mungkin dengan reward and punishment), tindakan melenceng yang menjurus pada fraud bisa lebih
mudah terdeteksi. Kecurangan lebih mudah terlihat ketika skalanya masih kecil dan belum terlalu
berdampak pada perusahaan.

Menciptakan Kultur Perusahaan yang Baik

Dengan adanya software yang accountable dan pengetatan SOP, peluang melakukan fraud akan semakin
kecil. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan fraud terjadi. Mungkin saja pelaku menemukan celah
setelah mempelajari software yang digunakan atau SOP yang berlaku.

Senjata terakhir untuk mengatasinya adalah dengan membangun kultur perusahaan yang baik. Transfer
visi dari atasan tertinggi hingga karyawan terbawah mesti berlangsung dengan benar, agar karyawan
lebih mencintai values atau nilai yang dituju secara bersama-sama, oleh segenap karyawan perusahaan.
Karyawan selayaknya saling mendukung secara moral, seperti halnya keluarga, sehingga tidak terjadi
degradasi moral berujung kriminal berbentuk fraud.

Perusahaan sebaiknya memiliki standar moralnya tersendiri seperti transparansi, yang menutup celah
terjadinya fraud. Jika Anda berada di posisi pimpinan atau manajer suatu perusahaan, Anda bisa
memanggil beberapa orang untuk menjadi whistleblower (peniup peluit) untuk melaporkan tindakan-
tindakan karyawan yang menjurus pada praktek fraud.

1. Membangun struktur pengendalian intern yang baik

Dengan semakin berkembangnya suatu perusahaan, maka tugas manajemen untuk mengendalikan
jalannya perusahaan menjadi semakin berat. Agar tujuan yang telah ditetapkan top manajemen dapat
dicapai, keamanan harta perusahaan terjamin dan kegiatan operasi bisa dijalankan secara efektif dan
efisien, manajemen perlu mengadakan struktur pengendalian intern yang baik dan efektif mencegah
kecurangan.

2. Mengefektifkan aktivitas pengendalian

(1) Review Kinerja

Aktivitas pengendalian ini mencakup review atas kinerja sesungguhnya dibandingkan dengan anggaran,
prakiraan, atau kinerja priode sebelumnya, menghubungkan satu rangkaian data yang berbeda operasi
atau keuangan satu sama lain, bersama dengan analisis atas hubungan dan tindakan penyelidikan dan
perbaikan; dan review atas kinerja fungsional atau aktivitas seseorang manajer kredit atas laporan
cabang perusahaan tentang persetujuan dan penagihan pinjaman.

(2) Pengolahan informasi

Berbagai pengendalian dilaksanakan untuk mengecek ketepatan, kelengkapan, dan otorisasi transaksi.
Dua pengelompokan luas aktivitas pengendalian sistem informasi adalah pengendalian umum ( general
control ) dan pengendalian aplikasi ( application control).

(3) Pengendalian fisik

Aktivitas pengendalian fisik mencakup keamanan fisik aktiva, penjagaan yang memadai terhadap
fasilitas yang terlindungi dari akses terhadap aktiva dan catatan; otorisasi untuk akses ke program
komputer dan data files; dan perhitungan secara periodic dan pembandingan dengan jumlah yang
tercantum dalam catatan pengendali.

3. Meningkatkan kultur perusahaan


Meningkatkan kultur perusahaan dapat dilakukan dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip Good
Corporate Governance (GCG) yang saling terkait satu sama lain agar dapat mendorong kinerja sumber-
sumber perusahaan bekerja secara efisien, menghasikan nilai ekonomi jangka panjang yang
berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan.

4. Mengefektifkan fungsi internal audit

Walaupun internal auditor tidak dapat menjamin bahwa kecurangan tidak akan terjadi, namun ia harus
menggunakan kemahiran jabatannya dengan saksama sehingga diharapkan mampu mendeteksi
terjadinya kecurangan dan dapat memberikan saran-saran yang bermafaat kepada manajemen untuk
mencegah terjadinya kecurangan.resiko yang dihadapi perusahaan diantaranya adalah Integrity risk,
yaitu resiko adanya kecurangan oleh manajemen atau pegawai perusahaan, tindakan illegal, atau tindak
penyimpangan lainnya yang dapat mengurangi nama baik / reputasi perusahaan di dunia usaha, atau
dapat mengurangi kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Adanya
resiko tersebut mengharuskan internal auditor untuk menyusun tindakan pencegahan
/ prevention untuk menangkal terjadinya kecurangan sebagaimana diuraikan dalam bagian sebelumnya.
Namun, pencegahan saja tidaklah memadai, internal auditor harus memahami pula bagaimana cara
mendeteksi secara dini terjadinya kecurangan-kecurangan yang timbul. Tindakan pendeteksian tersebut
tidak dapat di generalisir terhadap semua kecurangan. Masing-masing jenis kecurangan memiliki
karakteristik tersendiri, sehingga untuk dapat mendeteksi kecurangan perlu kiranya pemahaman yang
baik terhadap jenis-jenis kecurangan yang mungkin timbul dalam perusahaan.