Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keputusan etik yang bertanggung jawab agar yang berpikir


rasional. Prosesnya sistematis dan didasarkan pada prinsip etik serta
hukum. Pengambilan keputusan etik tidak di dasarkan pada emosi,
instuisi, kebijakan permanen atau kejadian sebelumnya yang serupa tapi
secara rasional. Setiap perawat harus dapat mendeterminasi dasar dasar
yang memiliki dalam membuat keputusan misalnya agama, kepercayaan
atau falsafah moral tertentu yang menyatakan hubungan kebenaran atau
kebaikan dengan keburukan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang mempengaruhi pada keputusan Etis Keperawatan?
2. Bagaimana teori pembuatan keputusan etis?
3. Bagaimana Faktor-faktor dalam Pengambilan Keputusan Etis?
4. Bagaimana Teknik Pengambilan Keputusan Etis?
5. Bagaimana Proses Pengambilan Keputusan Etis?

C. Tujuan
1. Untuk menegetahui pengaruh Keputusan Etis Keperawatan
2. Untuk mengetahui Teori pembuatan Keputusan Etis
3. Untuk mengetahui Faktor dalam Pengambilan Keputusan Etis
4. Untuk mengetahui Teknik Pengembalian Keputusan Etis
5. Untuk mengetahui Proses Pengembalian Keputusan Etis

BAB II

ISI

1
A. Teori Dasar Pembuatan Keputusan Etis
Prinsip etika merupkan penuntun untuk membuat keputusasn etik
praktek professional (Fry, 1991). Teori etik digunakan dalam pembuatan
keputusan bila terjadi konflik antara perinsip dan aturan. Pendekatan
pada teori teleologi dan teori deontologi.
1. TELEOLOGI :
a. Merupakan suatu doktrin yang menjelaskan fonomena
berdasarkan akibat yang dihasilkan atau konsekuensi yang dapat
terjadi.
b. Teori ini menekankan pada pencapaian hasil akhir yang terjadi
c. Pencapaian hasil dengan kebaikan maksimal dan ketidakbaiakan
sekecil mungkin bagi manusia
2. DEONTOLOGI
a. Perinsip toeri ini pada suatu aksi atau tindakan
b. Dan menekan pada nilai moralnya serta tindakan secara moral
benar atau salah
c. Perinsip moral atau yang terkait dengan tugasnya harus bersifat
univesal dan tidak kondisional.
d. Terori ini dikembangkan menjadi 5 perinsip.
LIMA PRINSIP DEONTOLOGI
a. Kemurahan hati
b. Keadilan
c. Otonomi
d. Kejujuran
e. Ketaatan
KERANGKA PEMBUATAN KEPUTUSAN ETIS
a. Nilai dan kepercayaan pribadi
b. Kode etik perawat Indonesia
c. Kerangka pembuatan keputusan
d. Konsep moral keperawatan
e. Teori perinsip etika
STRATEGI PENYELESAIAN PERMASALAHAN ETIS
a. MENENTUKAN apakah ada masalah etis atau / dan dilema.
b. Mengidentifikasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip kunci yang
terlibat makna apa.
c. RANK nilai-nilai etis atau prinsip-prinsip yang – profesional
Anda dalam penilaian – yang paling relevan dengan masalah
atau dilemma.

2
d. MENGEMBANGKAN rencana tindakan yang konsisten dengan
etika prioritas yang telah ditetapkan sebagai pusat untuk.
e. Rencana MELAKSANAKAN, memanfaatkan praktek
keterampilan dan kompetensi yang paling sesuai.
f. Merefleksikan hasil etis ini proses pengambilan keputusan.

B. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Dalam Pengambilan Keputusan Etis


1. Tingkat Pendidikan
Rhodes (1985) berependapat bahwa semakin tinggi latar belakang
pendidikan perawat akan membantu perawat untuk membuat suatu
keputusan etis. Salah satu tujuan dan program pendidikan tinggi bagi
perawat adalah meningkatkan keahlian kognitif dan kemampuan
membuat keputusan. (Pardue,1987).
Penelitian oleh Hoffman, Donoghue dan Duffield (2004)
menunjukkan bahwa taraf pendidikan dan pengalaman tidak terkait
secara signifikan dengan pembuatan keputusan etis dalam
keperawatan klinis. Faktor yang bertanggung jawab terhadap
variabilitas yang besar dalam pembuatan keputusan etis dalam
keperawatan klinis adalah nilai peran.

2. Pengalaman
Pengalaman sering kali disebut sebagai faktor penting yang
mempengaruhi pembuatan keputusan dan hal ini perlu diperhatikan
secara lebih jauh. Yung (1997) mengusulkan pengalaman yang lalu
dalam menangani dilema etik mempengaruhi mahasiswa
keperawatan dalam mengembangkan pembuatan keputusan etis.
Hasil temuan dari sebuah penelitian yang yang dilaksanakan Cassels
dan Redman ( 1989) tentang perawat yang sedang menjalani studi
tingkat sarjana menunjukkan bahwa pengalaman yang lalu dalam
menangani masalah-masalah etika atau dilema etik dalam asuhan
keperawatan dapat membantu proses pembuatan keputusan yang
beretika. Oleh karena itu, penggalian pengalaman lalu yang lain dari
pengalaman keperawatan secara umum memungkinkan pendekatan
yang lebih relevan.
3. Faktor Agama Dan Adat Istiadat

3
Agama serta latar belakang adat istiadat merupakan faktor
utama dalam membuat keputusan etis. Setiap perawat disarankan
memahami nilai yang diyakini maupun kaidah agama yang
dianutnya. Untuk memahami ini dibutuhkan proses. Semakin tua
seseorang akan semakin banyak pengalaman dan belajar, mereka
akan lebih mengennal siapa dirinya dan nilai yang dimilikinya.
(Suhaemi, 2003)
Selain faktor agama, faktor adat istiadat juga berpengaruh
pada seseorang dalam pembuatan keputusan etik. Kaitan adat
istiadat dan implikasi dalam keperawatan sampai saat ini belum
tergali jelas di Indonesia.Faktor adat istiadat yang dimiliki perawat
atau pasien sangat berpengaruh terhadap pembuatan keputusan
etik. Misalnya, setiap rumah sakit di mempunyai aturan menunggu
dan persyaratan pasien yang boleh ditunggu, namun hal ini sering
tidak dihiraukan oleh keluarga pasien dengan alasan rumah jauh
atau pasien tidak tenang bila tidak ditunggu keluargannya, dan
lain-lain. Ini sering menimbulkan masalah etik bagi perawat antara
membolehkan dan tidak membolehkan keluarga menemani pasien
di Rumah sakit. (Suhaemi, 2003)

4. Komisi Etik
Komisi etik merupakan suatu faktor yang mempengaruhi
pembuatan keputusan etis yang dibuat oleh perawat dalam
praktiknya (Ellis dan Hartley, 2001). Sedangkan Ramsey (1999)
menjelaskan bahwa Komisi Etik Keperawatan memberi forum bagi
perawat untuk berbagi perhatian dan mencari solusi pada saat
mereka mengalami dilema etik yang tidak dijelaskan oleh dewan
etik kelembagaan. Komisi etik tidak hanya memberi pendidikan
dan menawarkan nasehat melainkan pula mendukung rekan-
rekan perawat dalam mengatasi dilema etik yang ditemukkan
dalam praktik sehari-hari. Dengan adanya komisi etik, perawat
mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk semakin terlibat
secara formal dalam pengambilan keputusan yang etis dalam
organisasi perawat kesehatan. (Haddad,1998)

5. Faktor Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi

4
Pada abad ke-20 ini, manusia telah berhasil mencapai
tingkatan pengetahuan dan teknologi yang meliputi berbagai
bidang. Manusia telah menjelajahi ruang angkasa dan mendarat di
beberapa planet selain bumi. Sistem komunikasi anatara negara
dapat dilaksanakan secara langsung dan tempat yang jaraknya
ribuan kilometer. (Suhaemi, 2003)
Kemajuan di bidang kesehatan telah mampu
meningkatkan kualitas hidup serta mampu memperpanjang usia
manusia dengan ditemukkannya berbagai mesin mekanik
kesehatan, cara prosedur baru, dan bahan/obat baru. Misalnya
klien dengan gangguan ginjal yang dapat diperpanjang usiannya
berkat adanya mesin hemodialisis. Wanita yang mengalami
kesulitan hamil dapat dibantu dengan inseminasi. Kemajuan ini
menimbulkan pertanyaan yang berhubungan dengan etika.
(Suhaemi, 2003)

6. Faktor Legislasi Dan Keputusan Yuridis


Saat ini, aspek legislasi dan bentuk keputusan yuridis
tentang masalah etik kesehatan sedang menjadi topik yang
banyak dibicarakan. Hukum kesehatan telah menjadi suatu bidang
ilmu dan perundang-undangan baru yang banyak disusun untuk
menyempurnakan perundang-undangan lama atau untuk
mengantisipasi perkembangan masalah hukum kesehatan. Oleh
karena itu, diperlukan undang-undang praktik keperawatan dan
keputusan menteri kesehatan yang mengatur registrasi dan
praktik perawat. (Suhaemi, 2003)
Perubahan sosial dan legislasi secara konstan saling
berkaitan. Setiap perubahan sosial atau legislasi menyebabkan
timbulnya suatu tindakan yang merupakan reaksi perubahan
tersebut. Legislasi merupakan jaminan tindakan menuntut hukum
sehingga orang yang bertindak tidak sesuai hukum dapat
menimbulkan suatu konflik. (Ellis, Hartley, 1990 dalam Suhaemi,
2003).

C. Teknik Pengambilan Keputusan

5
1. Operational Research/Riset Operasi ; Penggunaan metode
saintifik dalam analisa dan pemecahan persoalan.
2. Linier Programming ; Riset dengan rumus matematis.
3. Gaming War Game ; Teori penentuan strategi.
4. Probability ; Teori kemungkinan yang diterapkan pada kalkulasi
rasional atas hal-hal tidak normal

D. Proses Pengambilan Keputusan


1. Menurut G. R. Terry :
a. Merumuskan problem yang dihadapi
b. Menganalisa problem tersebut
c. Menetapkan sejumlah alternatif
d. Mengevaluasi alternatif
e. Memilih alternatif keputusan yang akan dilaksanakan
2. Menurut Peter Drucer :
a. Menetapkan masalah
b. Manganalisa masalah
c. Mengembangkan alternatif
d. Mengambil keputusan yang tepat
e. Mengambil keputusan menjadi tindakan efektif

Pengambilan keputusan merupakan proses yang komleks yang


memerlukan penanganan yang serius. Secara umum, proses
pengambilan keputusan meliputi tujuh langkah beriktu (Gibson dkk,
1987):
a. Menerapkan tujuan dan sasaran : Sebelum memulai proses
pengambilan keputusan, tujuan dan sasaran keputusan
harus ditetapkan terlebih dahulu. apa hasil yang harus
dicapai dan apa ukuran pencapaian hasil tersebut.
b. Identifikasi persoalan : Persoalan-persoalan di seputar
pengambilan keputusan harus diidentifikasikan dan diberi
batasan agar jelas. Mengidentifikasikan dan memberi
batasan persoalan ini harus tepat pada inti persoalannya,
sehingga memerlukan upaya penggalian.
c. Mengmbangkan alternatif : Tahap ini berisi
pengnidentifikasian berbagai alternatif yang memungkinkan
untuk pengambilan keputusan yang ada. Selama alternatif
itu ada hubungannya, walaupun sedikit, harus ditampung
dalam tahap ini. Belum ada komentar dan analisis.
d. Menentukan alternatif : Dalam tahap ini mulai berlangsung
analisis tehadap berbagai alternatif yang sudah

6
dikemukakan pada tahapan sebelumnya. Pada tahap ini
juga disusun juga kriteriatentang alternatif yang sesuai
dengan tujuan dan sasaran pengambilan keputusan. Hasil
tahap ini mungkin masih merupakan beberapa alternatif
yang dipandang layak untuk dilaksanakan.
e. Memilih alternatif : Beberapa alternatif yang layak tersebut di
atas harus dipilih satu alternatif yang terbaik. pemilihan
alternatif harus harus mempertimbangkan ketersediaan
sumberdaya, keefektifan alternatif dalam memecahkan
persoalan, kemampuan alternatif untuk mencapai tujuan dan
sasaran, dan daya saing alternatif pada masa yang akan
datang.
f. Menerapkan keputusan : Keputusan yang baik harus
dilaksanakan. Keputusan itu sendiri merupaka abstraksi,
sedangkan baik tidaknya baru dapat dilihat dari
pelaksanaannya.
g. Pengendalian dan evaluasi : Pelaksanaan keputusan perlu
pengendalian dan evaluasi untuk menjaga agar pelaksanaan
keputusan tersebut sesuai dengan yang sudah diputuskan.

7
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengambilan keputusan (desicion making) adalah melakukan
penilaian dan menjatuhkan pilihan. Keputusan ini diambil setelah melalui
beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif. Sebelum pilihan
dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat
keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah
utama, menyusn alternatif yang akan dipilih dan sampai pada
pengambilan keputusan yang terbaik.

B. Saran
Seorang manajer keperawatan harus mempunyai keberanian
untuk mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab atas akibat dari
resiko yang timbul sebagai konsekuensi dari keputusan yang telah
diambilnya. Pada hakekatnya, pengambilan keputusan adalah suatu
pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah yang
difokuskan untuk memecahkan masalah secepatnya dimana individu
harus memiliki kemampuan berfikir kritis dengan menggunakan
pendidikan dan pengalaman yang berharga yang cukup efektif dalam
pemecahan masalah.

8
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Makalah manajemen keperawatan pengambilan


keputusan. http://mikimikiku.wordpress.com. Diunduh tanggal 17 April
2016
Hidayat, A.Aziz Alimul. (2006).Kebutuhan Dasar Manusia Buku 2. Jakarta:
Salemba Medika
Purba M Jenny, Pujiastuti. 2010. Dilema Etik Dan Pengambilan
Keputusan Etis.Jakarta. Penerbit:EGC.
Marriner, A.T. (1995). Nursing Management and Leadership ( 5th ed),
Mosby St Louis, Baltimore.
Swansburg, A.C. (1996). Management and Leadership for Nurse
Managers. Jones and Bartlett Publishers International, London England
Sondang P. Siagian, Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan¸ Jakarta:
Toko Gunung Agung, 1987