Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Protein tersusun atas sejumlah asam amino yang membentuk suatu


untaian (polimer) dengan ikatan peptida. Selain itu, protein juga memiliki
gugus amina (NH2) dan gugus karboksil (COOH).

Berdasarkan banyaknya asam amino dapat dibedakan menjadi:

1) Peptida jika terdiri atas untaian pendek asam amino (2 - 10 asam


amino).
2) Polipeptida jika terdiri atas 10 - 100 asam amino.
3) Protein jika terdiri atas untaian panjang lebih dari 100 asam amino.

Beberapa jenis protein antara lain:

1. Glikoprotein yaitu protein yang mengandung karbohidrat.


2. Lipoprotein yaitu protein yang mengandung lipid.

Asam amino esensial adalah golongan asam amino yang harus tersedia
dalam diet karena tidak dapat disintesis oleh tubuh, sedangkan asam amino
non-esensial adalah golongan asam amino yang dapat disintesis oleh tubuh
(dalam hati). Terdapat 8 jenis asam amnio esensial yaitu: Isoleucin,
Leucin, Lysin, Phenylalanine, Threonine, Tryptophan, Valine, dan
Methionin (mengandung unsur sulfur).

1
Protein dalam tubuh digunakan untuk keperluan:

1. Pembentukan jaringan baru seperti: rambut, kuku.


2. Mengganti jaringan yang rusak seperti: pengelupasan mukosa usus.
3. Mengganti asam amino yang hilang misalnya lewat urin.
4. Mensintesis asam amino nonesensial dengan menggabungkan asam
keto melalui
5. proses transaminasi oleh hati.
6. Mensintesis molekul fungsional seperti; hormon, enzim dsb.

B. Perumusan Masalah

a. Bagaimana proses pencernaan pada protein ?


b. Bagaimana proses pembentukan ammonia ?
c. Apa yang berperan dalam proses pembentukan ammonia ?
d. Bagaimana proses siklus urea ?
e. Apa saja yang ikut dalam proses siklus urea ?
f. Penyakit apa sajakah yang disebabkan oleh kerusakan genetik pada
siklus urea ?
g. Apa saja tahap dalam proses biosintesis asam amino-protein ?
h. Bagaimana peran hubungan antarmetabolisme dengan yang lain ?

C. Tujuan Masalah

1. Dapat memecahkan permasalahan dengan baik


2. Dapat mengetahui segala proses yang dilakukan oleh protein
3. Dapat mengetahui mekanisme yang terjadi dalam proses pembentukan
ammonia
4. Dapat mengetahui jenis penyakit yang disebabkan oleh kerusakan
genetik pada siklus urea.

2
D. Manfaat Masalah

1. Sebagai calon Apoteker dapat mengetahui jenis obat-obat apa saja


yang akan diberikan kepada pasien berkaitan dengan gejala dan
diagnosis penyakit yang terganggu akibat mekanisme dalam tubuh
pada proses pengubahan protein menjadi asam amino.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. PROSES PENCERNAAN PROTEIN

Protein dalam makanan tidak dapat diserap oleh mukosa usus, akan
tetapi setelah dalam bentuk asam amino dapat diserap dengan baik.

1) Pencernaan protein di mulut: secara mekanis, sedangkan secara


enzimatis belum.

2) Pencernaan protein di lambung: sel mukosa lambung yaitu sel parietal


(Chief cell) mensekresikan asam lambung (HCl), sedangkan sel
zymogen mensekresikan proenzim pepsinogen. Proenzim pepsinogen
oleh HCl diaktifkan menjadi enzim pepsin. Protein setelah didenaturasi
(dirusak) oleh HCl, kemudian di hidrolisis oleh enzim pepsin menjadi
peptida sederhana.

3) Pencernaan di usus halus: cairan pankreas mengandung proenzim


trypsinogen dan chymotrypsinogen. Proenzim trypsinogen dan
chymotrypsinogen diaktifkan menjadi enzim trypsin dan chymotrypsin
oleh enzim enterokinase yang dihasilkan oleh sel-sel mukosa usus
halus. Enzim trypsin dan chymotrypsin berperan memecah polipeptida
menjadi peptida sederhana. Selanjutnya peptida tersebut dipecah
menjadi asam amino oleh enzim peptidase (erepsin).

4
Enzim peptidase dapat dibedakan menjadi 2 macam berdasarkan
aktivitasnya yaitu :
1. enzim aminopeptidase memecah gugus amina dari polipeptida dan
2. karboksipeptidase memecah gugus karboksil dari polipeptida.

Nuklease memecah asam nukleat (DNA dan RNA) menjadi


nukleotida.

4) Absorpsi protein: setelah menjadi asam amino selanjutnya diabsorpsi


dengan cara difusi fasilitasi melalui mukosa yeyenum dan ileum.

Asam amino yang berasal dari makanan (diet) dan dari pemecahan
protein tubuh selanjut dibawa oleh sirkulasi darah ke dalam amino acid
pool (gudang penimbunan asam amino) yaitu darah dan cairan jaringan
(interseluler). Asam amino selanjutnya digunakan untuk: biosintesis
protein tubuh di dalam ribosom, mengganti jaringan yang rusak, dan jika
diperlukan dapat diubah menjadi sumber energi.

Tahap awal pembentukan metabolisme asam amino, melibatkan


pelepasan gugus amino, kemudian baru perubahan kerangka karbon pada
molekul asam amino. Dua proses utama pelepasan gugus amino yaitu,
transaminasi dan deaminasi.

a. Transaminasi

Transaminasi ialah proses katabolisme asam amino yang melibatkan


pemindahan gugus amino dari satu asam amino kepada asam amino lain.
Dalam reaksi transaminasi ini gugus amino dari suatu asam amino
dipindahkan kepada salah satu dari tiga senyawa keto, yaitu asam piruvat,
a ketoglutarat atau oksaloasetat, sehingga senyawa keto ini diubah menjadi
asam amino, sedangkan asam amino semula diubah menjadi asam keto.

5
Ada dua enzim penting dalam reaksi transaminasi yaitu alanin
transaminase dan glutamat transaminase yang bekerja sebagai katalis
dalam reaksi berikut :

Alanin transaminase

t
𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐴𝑚𝑖𝑛𝑜 + 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝑃𝑖𝑟𝑢𝑣𝑎𝑡 asam a keto alanin

Glutamat transaminase

Asam Amino + Asam a keto glutarat


t Asam keto + Asam Glutamat

Pada reaksi ini tidak ada gugus amino yang hilang, karena gugus
amino yang dilepaskan oleh asam amino diterima oleh asam keto. Alanin
transaminase merupakan enzim yang mempunyai kekhasan terhadap asam
piruvat-alanin. Glutamat transaminase merupakan enzim yang mempunyai
kekhasan terhadap glutamat-ketoglutarat sebagai satu pasang substrak .

Reaksi transaminasi terjadi didalam mitokondria maupun dalam


cairan sitoplasma. Semua enzim transaminase tersebut dibantu oleh
piridoksalfosfat sebagai koenzim. Telah diterangkan bahwa
piridoksalfosfat tidak hanya merupakan koenzim pada reaksi transaminasi,
tetapi juga pada reaksi-reaksi metabolisme yang lain.

Transaminasi terjadi pada berbagai jaringan. Selain itu,


transaminasi juga terjadi di dalam sirkulasi darah akibat adanya kerusakan
pada jaringan karena proses patologik, sebagai contoh SGOT (serum
glutamic-oxaloacetic transaminase) yang meningkat akibat infark miokard
(kerusakan otot jantung karena adanya sumbatan pembuluh darah yang
mensuplai kebutuhan otot jantung).

6
b. Deaminasi

Deaminasi oksidatif adalah proses pemecahan (hidrolisis) asam amino


menjadi asam keto dan ammonia (NH4 +), secara skematik digambarkan
sebagai berikut:

Asam amino → (deaminasi) → 2 NH3 + CO2 → CO(NH3)2 + H2O

Ammonia urea→ CHO → asetil Co-A

Deaminasi menghasilkan 2 senyawa penting yaitu senyawa nitrogen dan


non-nitrogen.

1. Senyawa nonnitrogen yang mengandung gugus C, H, dan O selanjutnya


diubah menjadi asetil Co-A untuk sumber energi melalui jalur siklus
Kreb’s atau disimpan dalam bentuk glikogen.

2. Senyawa nitrogen dikeluarkan lewat urin setelah diubah lebih dahulu


menjadi ureum (diagram 2).

Proses deaminasi kebanyakan terjadi di hati, oleh karena itu pada


gangguan fungsi hati (liver) kadar NH3 meningkat. Pengeluaran (ekskresi)
urea melalui ginjal dikeluarkan bersama urin.

Pelepasan amin dari glutamat menghasilkan ion amonium Contoh


reaksi transaminasi. Perhatikan alanin mengalami transaminasi
menjadi glutamat. Pada reaksi ini dibutuhkan enzim alanin
aminotransferase. Glutamat juga dapat memindahkan amin ke rantai
karbon lainnya, menghasilkan asam amino baru. Contoh reaksi
deaminasi oksidatif. Perhatikan glutamat mengalami deaminasi

7
menghasilkan amonium (NH4+). Selanjutnya ion amonium masuk ke
dalam siklus urea.
Ringkasan skematik mengenai reaksi transaminasi dan deaminasi
oksidatif

1. Setelah mengalami pelepasan gugus amin, asam-asam amino dapat


memasuki siklus asam sitrat melalui jalur yang beraneka ragam.

2. Tempat-tempat masuknya asam amino ke dalam sikulus asam sitrat


untuk produksi energi.

3. Gugus-gugus amin dilepaskan menjadi ion amonium (NH4+) yang


selanjutnya masuk ke dalam siklus urea di hati. Dalam siklus ini
dihasilkan urea yang selanjutnya dibuang melalui ginjal berupa
urin. Proses yang terjadi di dalam siklus urea digambarkan terdiri
atas beberapa tahap yaitu:

1) Dengan peran enzim karbamoil fosfat sintase I, ion amonium


bereaksi dengan CO2 menghasilkan karbamoil fosfat. Dalam
raksi ini diperlukan energi dari ATP.
2) Dengan peran enzim ornitin transkarbamoilase, karbamoil
fosfat bereaksi dengan L-ornitin menghasilkan L-sitrulin dan
gugus fosfat dilepaskan.
3) Dengan peran enzim argininosuksinat sintase, L-sitrulin
bereaksi dengan L-aspartat menghasilkan L-argininosuksinat.
Reaksi ini membutuhkan energi dari ATP.
4) Dengan peran enzim argininosuksinat liase, L-argininosuksinat
dipecah menjadi fumarat dan L-arginin.
5) Dengan peran enzim arginase, penambahan H2O terhadap L-
arginin akan menghasilkan L-ornitin dan urea.

8
B. SIKLUS UREA

Siklus urea merupakan pelepasan gugus NH₂ pada asam amino dalam
bentuk amoniak melalui reaksi transaminase dan deaminasi, kemudian
dikeluarkan dalam bentuk urea dari urine.

Dari uraian tentang metabolisme asam amino telah diketahui bahwa


NH₃ dapat dilepaskan dari asam amino melalu ireaksi transaminase dan
deaminasi.Pada reaksi transaminase, gugus –NH₂ yang dilepaskan
diterima oleh suatu asam keto sehingga terbentuk asam amino baru dan
asam keto lain.

Pada tubuh setiap manusia pasti berlangsung siklus urea. Dimana siklus ini
juga memiliki fungsi tersendiri bagi manusia. Misalnya saja, hasil dari
siklus yang berupa urine, yang tentusaja urine juga factor penting dalam
menentukan kesehatan seseorang.
Sehingga, dalam makalah ini dibahas apa itu siklus urea, bagaimana
prosesnya, apa yang dihasilkan, dan juga bagaimana kaitannya pada janin
atau kehamilan.

Dari uraian metabolism asam amino telah diketahui bahwa


NH₃dapat dilepaskan dari asam amino melalui reaksi transaminasi,
deaminasi, dan dekarboksilasi. Pada reaksi transaminase gugus NH₂ yang
dilepaskan diterima oleh asam keto, sehingga terbentuk asam amino baru
dan asam keto lain. Sedangkan pada reaksi deaminasi, gugus
NH₂ dilepaskan dalam bentuk ammonia yang kemudian dikeluarkan dari
dalam tubuh dalam bentuk urea dalam urine.Amonia dengan kadar yang
tinggi merupakan racun dalam tubuh manusia.

9
Siklus Urea terjadi secara ekslusif di hati. Urea yang terbentuk
megandung dua atom nitrogen, satu berasal dari NH3 dan satu berasal dari
aspartat. Stoikiometri keseluruhan dari siklus urea adalah :

CO2 + NH4+ + 3 ATP + Aspartat + 2 H2O

Urea + 2 ADP + 2 Pi + AMP + PPi + Fumarat

1. Reaksi-reaksi dari siklus urea

a. Karbamoil Fosfat sintetase mengkatalisis pembentukan


karbamoil fosfat yang terbentuk dari amonia dan karbon
dioksida.

(1) Kebutuhan energi. Dua molekul ATP diperlukan


untuk reaksi ini.
(2) N-Asetilglutamat adalah efektor alosterik positif
yang diperlukan. Aktivitas dari asetilglutamat sintase,
enzim yang mensintesis N-asetilglutamat, diregulasi
oleh kadar asam amino.

b. Ornitin transkarbamoilase mengkatalisis pembentukan


sitrulin dari karbamoil fosfat dan ornitin.

c. Argininosuksinat sintetase mengkatalisis pembentukan


argininosuksinat dari sitrulin dan aspartat. Satu molekul
ATP diperlukan. Gugus amino dari aspartat memberi satu
dari dua atom nitrogen yang terdapat dalam urea.

10
d. Argininosuksinat liase mengkatalisis pembentukan
arginin dan fumarat dari pemotongan argininosuksinat.
Karena ia adalah zat antara siklus asam sitrat,
pembentukan fumarat mengkaitkan siklus urea dan
siklus asam sitrat.

e. Arginase mengkatalisis pembentukan urea dan ornitin dari


pemotongan arginin.

(1) Urea sangat dapat larut dan tidak toksik. Ia masu ke


darah dan diekskresi dalam urine.
(2) Ornitin melanjutkan untuk bekerja sebagai zat antara
dalam siklus urea.

Tahapan reaksi pengubahan amonia menjadi urea terdiri atas lima


tahapan reaksi (siklus urea), dua tahapan terjadi di mitokondria dan
tiga tahapan terjadi di sitoplasma. Tahapan-tahapan dalam siklus
urea adalah sebagai berikut:

Langkah Reaktan (bahan) Produk (hasil) Dikatalisis Lokasi


oleh

1 NH3 + HCO3- + Carbamoyl CPS1 mitokondria


2ATP phosphate + 2ADP
+ Pi

2 Carbamoyl Citrulline + Pi OTC mitokondria


phosphate +
ornithin

3 Citrulline + Argininosuccinate ASS sitoplasma


aspartate +ATP + AMP + PPi

4 argininosuccinate Arg + fumarate ASL sitoplasma

5 Arg + H2O Ornithine + urea ARG1 sitoplasma

11
Reaksi-reaksi diatas disederhanakan menjadi.

NH3 + CO2 + aspartate + 3 ATP + 2 H2O → urea + fumarate + 2 ADP +


2 Pi + AMP + PPi

CO2 dan H2O berikatan dan menjadi HCO3- dan masuk pada tahapan
reaksi yang pertama.

A) PERAN SIKLUS UREA DALAM TUBUH

Asam amino yang berasal protein dalam makanan diabsorsi


melaluitranspor aktif dan dibawa ke hati. Di hati, asam amino disintesis
menjadi molekul protein atau dilepas ke dalam sirkulasi untuk ditranspor
ke dalam sel lain. Setelah memasuki sel-sel tubuh, asam amino bergabung
dengan ikatan peptida untuk membentuk protein seluler yang dipakai
untuk pertumbuhan dan regenerasi jaringan. Hanya ada sedikit simpanan
asam amino dalam sel-sel tubuh, kecuali sel-sel hati. Protein intraseluler
tubuh sendiri terus terhidrolisis menjadi asam amino dan disintesis ulang
menjadi protein. Asam amino dari makanan dan asam amino dari
penguraian protein intraseluler membentuk kelompok asam amino utama
yang memenuhi kebutuhan tubuh.

Penguraian asam amino untuk energi berlangsung di hati. Jika sel


telah mendapatkan protein yang mencukupi kebutuhannya, setiap asam
amino tambahan akan dipakai sebagai energi atau disimpan sebagai lemak.
Urea tidak diputus oleh enzim manusia. Namun, bakteri, termasuk
bakteri yang terdapat dalam saluran cerna manusia, dapat memutuskan
urea menjadi amonia dan CO₂. (urease, enzim yang mengkatalisis reaksi
ini, merupakan enzim pertama yang dapat dikristalisasi).

12
Sampai tahap tertentu, manusia mengekskresikan urea ke dalam
usus dan air liur. Bakteri usus mengubah urea menjadi amonia. Amonia ini
serta amonia yang dihasilkan oleh reaksi bakteri lain di dalam usus,
diserap masuk ke dalam vena porta hepatika. Dalam keadaan normal,
amonia ini diekstrasi oleh hati dan diubah menjadi urea.

C. BIOSINTESIS PROTEIN-ASAM AMINO

Penyusunan protein yang merupakan bagian dari protoplasma


berbentuk suatu rantai panjang, sedangkan molekul protein-protein yang
lain mirip bola. Sintesis protein adalah proses pembentukan protein dari
monomer peptida yang diatur susunannya oleh kode genetik. Sintesis
protein dimulai dari anak inti sel, sitoplasma dan ribosom. Sintesis protein
terdiri dari 3 tahapan besar yaitu:

1. Transkripsi.

DNA membuka menjadi 2 rantai terpisah. Karena mRNA berantai


tunggal, maka salah satu rantai DNA ditranskripsi (dicopy). Rantai
yang ditranskripsi dinamakan DNA sense atau template dan kode
genetik yang dikode disebut kodogen. Sedangkan yang tidak
ditranskripsi disebut DNA antisense/komplementer. RNA Polimerase
membuka pilinan rantai DNA dan memasukkan nukleotida-nukleotida
untuk berpasangan dengan DNA sense sehingga terbentuklah rantai
mRNA.

13
2. Translasi

Translasi adalah proses penerjemahan urutan nukleotida atau


kodon yang ada pada molekul mRNA menjadi rangkaian asam-asam
amino yang menyusun suatu polipeptida atau protein. Transkripsi dan
translasi merupakan dua proses utama yang menghubungkan gen ke
protein. Translasi hanya terjadi pada molekul mRNA,
sedangkan rRNA dan tRNA tidak ditranslasi. Molekul mRNA yang
merupakan salinan urutan DNA menyusun suatu gen dalam bentuk
kerangka baca terbuka. mRNA membawa informasi urutan asam
amino.

Tempat translasi ini ialah ribosom, partikel kompleks yang


memfasilitasi perangkaian secara teratur asam amino menjadi rantai
polipeptida. Asam amino yang akan dirangkaikan dengan asam amino
lainnya dibawa oleh tRNA. Setiap asam amino akan dibawa oleh
tRNA yang spesifik ke dalam kompleks mRNA-ribosom.

Proses translasi berupa penerjemahan kodon atau urutan nukleotida


yang terdiri atas tiga nukleotida berurutan yang menyandi suatu asam
amino tertentu. Kodon pada mRNA akan berpasangan
dengan antikodon yang ada pada tRNA. Setiap tRNA mempunyai
antikodon yang spesifik. Tiga nukleotida di anti kodon tRNA saling
berpasangan dengan tiga nukleotida dalam kodon mRNA menyandi
asam amino tertentu. Translasi menjadi tiga tahap sama seperti
transkripsi yaitu inisiasi, elongasi,dan terminasi. Semua tahapan ini
memerlukan faktor-faktor protein yang membantu mRNA, tRNA, dan
ribosom selama proses translasi. Inisiasi dan elongasi rantai
polipeptida juga membutuhkan sejumlah energi. Energi ini disediakan
oleh GTP (guanosin triphosphat), suatu molekul yang mirip dengan
ATP.

14
1. Inisiasi

Tahap inisiasi dari translasi terjadi dengan adanya mRNA,


sebuah tRNA yang memuat asam amino pertama dari polipeptida,
dan dua sub unit ribosom. Dalam kompleks inisisasi, ribosom
“membaca” kodon pada mRNA. Pembacaan dilakukan untuk
setiap 3 urutan basa hingga selesai seluruhnya.

Sebagai catatan ribosom yang datang untuk membaca


kodon biasanya tidak hanya satu, melainkan beberapa ribosom
yang dikenal sebagai polisom membentuk rangkaian mirip tusuk
sate, di mana tusuknya adalah “mRNA” dan daging adalah
“ribosomnya”. Dengan demikian, proses pembacaan kodon dapat
berlangsung secara berurutan. Ketika kodon I terbaca ribosom
(misal kodonnya AUG), tRNA yang membawa antikodon UAC
dan asam amino metionin datang. tRNA masuk ke celah ribosom.

Ribosom di sini berfungsi untuk memudahkan perlekatan


yang spesifik antara antikodon tRNA dengan kodon mRNA selama
sintesis protein. Sub unit ribosom dibangun oleh protein-protein
dan molekul-molekul RNA ribosomal.

2. Elongasi

tahap elongasi dari translasi, asam amino-asam amino


ditambahkan satu per satu diawali dari asam amino pertama
(metionin). Ribosom akan terus bergerak dan membaca kodon-
kodon di sepanjang mRNA. Masing-masing kodon akan
diterjemahkan oleh tRNA yang membawa asam amino yang
dikode oleh pasangan komplemen antikodon tRNA tersebut.

15
Di dalam ribosom, metionin yang pertama kali masuk
dirangkaikan dengan asam amino yang di sampingnya membentuk
dipeptida.

Ribosom terus bergeser, membaca kodon berikutnya. Asam


amino berikutnya dirangkaikan dengan dipeptida yang telah
terbentuk sehingga membentuk tripeptida.
Demikian seterusnya proses pembacaan kode genetika itu
berlangsung di dalam ribobom, yang diterjemahkan ke dalam
bentuk asam amino guna dirangkai menjadi polipeptida.

Kodon mRNA pada ribosom membentuk ikatan hidrogen


dengan antikodon molekul tRNA yang baru masuk yang membawa
asam amino yang tepat. Molekul mRNA yang telah melepaskan
asam amino akan kembali ke sitoplasma untuk mengulangi
kembali pengangkutan asam amino. Molekul rRNA dari sub unit
ribosom besar berfungsi sebagai enzim, yaitu mengkatalisis
pembentukan ikatan peptida yang menggabungkan polipeptida
yang memanjang ke asam amino yang baru tiba.

3. Terminasi

Tahap akhir translasi adalah terminasi. Elongasi berlanjut


hingga ribosom mencapai kodon stop. Triplet basa kodon stop
adalah UAA, UAG, dan UGA. Kodon stop tidak mengkode suatu
asam amino melainkan bertindak sebagai sinyal untuk
menghentikan translasi. Polipeptida yang dibentuk kemudian
“diproses” menjadi protein.

16
bagian molekut t RNA yang penting dalam biosintesis
protein ialah lengan asam amino yang mempunyai fungsi mengikat
molekul asam amino tertentu dalam lipatan anti kodon. lipatan anti
kodon mempunyai fungsi menemukan kodon yang menjadi
pasangannya dalam m RNA yang tedapat dalam ribosom. pada
prosese biosintesis protein, tiap molekuln t RNA membawa satu
molekul asam amino masuk kedalam ribosom.

pembentukkan ikatan asam amino dengan t Rna ini


berlangsung dengan bantuan enzim amino asli t RNA sintetase dan
ATP melalui dua tahap reaksi:

1. Asam aminon dengan enzim dan AMP membentuk kompleks


aminosil-AMP-enzim.

2. reaksi antara kompleks aminoasil-AMP-enzim dengan t RNA

proses biosintesis akan berhenti apabila pada m RNA terdapat


kodon UAA,UAG,UGA. karena dalam sel normal tidak terdapat t
RNA yang mempunyai antikodon komplementer.

17
D. PEMBENTUKAN AMMONIA

Ammonia disamping terbentuk dijaringan juga dihasilkan oleh


bakteri usus dari protein diit dan dari urea yg ada didalam sekrit cairan
garam dalam traktus gastroentistina. Ammonia ini diserap dari usus ke
dalam darah vena porta yg karakteristik tinggi kadar ammonianya
dibanding darah sistimik. Di bawah keadaan normal hepar segera
menghilangkan ammonia dari darah porta sehingga darah yang
meninggalkan hepar akhirnya bebas ammonia. Ini penting karena dalam
jumlah sedikit saja ammonia merupakan racun untuk sistim saraf pusat.
Gejala keracunan ammonia termasuk tremor, bicara tidak karuan,
penglihatan kabur dan pada kasus berat koma dan akhirnya meninggal.
Gejala-gejala ini menyerupai sindrom koma hepatik yg terjadi bila kadar
ammonia darah pada otak meningkat. Keracunan ammonia diperkirakan
merupakan sebab dari koma hepatik.

Oleh karena itu pengobatannya dengan mengurangi kadar


ammonia darah. Dengan beratnya gangguan fungsi hepar atau timbulnya
komunikasi collateral antara vena porta dan sistem (seperti pada sirosis).
Darah porta dapat dibypass ke hepar. Ammonia dari usus dengan demikian
dapat naik sampai kadar toksik dalam darah sistimik.

Dapat terjadi intoksikasi ammonia sesudah asupan protein dalam


jumlah banyak sesudah pendarahan ke dalam alat pencernaan.
Kandungan ammonia darah yg meninggalkan ren lewat vena renalis selalu
lebih banyak dari arteri renalis, menunjukkan bahwa ren menghasilkan
ammonia dan menambahkannya ke darah. Tetapi pembuangan ammonia
yg dihasilkan oleh tubula renalis ke dalam urine jauh lebih penting dari
aspek metabolisme ammonia ke dalam ren.

18
Produksi ammonia membentuk sebagian mekanisme tubuli renalis
untuk mengatur keseimbangan asam basa maupun pengawetan kation.
Produksi ammonia oleh ren sangat meningkat dalam asidosis metabolik
dan menurun pada alkalisis. Ini tidak berasal dari urea tetapi dari asam
amino intraseluler terutama glutamin. Ammonia dilepaskan dengan
dikatalisis glutanase ren.

Transport ammonia

Ammonia terus-menerus dihasilkan dalam jaringan tetapi di dalam


darah hanya ada 10 sampai 20 mikrogram / dl karena segera dihilangkan
dari sirkulasi oleh hepar diubah menjadi glutamat, glutamin, atau urea.
Kadar ammonia yg kecil di dalam darah sangat berlawanan dengan jumlah
asam amino bebas, terutama glutamin dalam darah. Pembentukan glutamin
dikatalisis oleh glutamin sintetase yg terdapat dalam mitokondria dengan
jumlah yg tinggi dalam jaringan ren.

E. HUBUNGAN ANTAR METABOLISME

Metabolisme adalah sekumpulan reaksi kimia di dalam sel


organisme yang dilakukan untuk bertahan hidup. Reaksi enzim katalis
membuat organisme dapat tumbuh, bereproduksi, berkembang, dan
beradaptasi dengan lingkungannya. Istilah “metabolisme” juga dapat
merujuk kepada semua reaksi kimia yang terjadi di makhluk hidup,
termasuk pencernaan dan transportasi substansi antar sel.

Metabolisme biasanya dibagi menjadi dua kategori yakni


katabolisme yang memecah materi organik dan mendapatkan energi
dengan cara respirasi sel, dan anabolisme yang menggunakan energi untuk
membentuk komponen sel seperti protein dan asam nukleat.

19
Reaksi kimia pada metabolisme tersusun menjadi jalur
metabolisme, yang mana satu zat kimia berubah dalam beberapa tahap
menjadi zat kimia lain, dengan bantuan enzim. Enzim sangat penting
dalam metabolisme karena enzim membantu organisme untuk
mengendalikan reaksi yang membutuhkan energi. Reaksi tersebut tidak
akan terjadi dengan sendirinya.

Energi akan dikeluarkan oleh enzim dengan cara membuat suatu


reaksi spontan. Enzim bertindak sebagai katalis yang dapat mempercepat
suatu reaksi. Enzim juga mengatur jalur metabolisme dengan mengubah
suasana sel atau menerima sinyal dari sel lain.

1. Kunci Biokimia dalam Metabolisme

Kebanyakan struktur yang menyusun hewan, tumbuhan, dan


mikroba terdiri dari tiga molekul dasar yaitu asam amino, karbohidrat,
dan lipid (sering disebut lemak). Molekul tersebut sangat penting bagi
kehidupan. Reaksi metabolisme berfokus untuk memproduksi molekul
tersebut selama pembentukan sel dan jaringan atau mencerna sel mati
dan menggunakannya sebagai sumber energi. Biokimia dapat
bergabung bersama untuk membentuk polimer seperti DNA dan
protein. DNA dan protein adalah makromolekul esensial bagi
kehidupan.

20
Jenis Molekul Nama Monomer Nama Polimer yang Contoh
yang Membentuknya Polimernya
Membentuknya

Asam amino Asam amino Protein (juga Protein fibrosa


disebut polipeptida) dan protein
globular

Karbohidrat Monosakarida Polisakarida Pati, glikogen,


dan selulosa

Asam nukleat Nukleotida Polinukleotida DNA dan RNA

Protein terdiri dari asam amino yang tersusun dari rantai linear yang diikat
oleh rantai (bond) peptida. Banyak protein yang merupakan enzim yang
mengkatalis reaksi kimia dalam metabolisme. Protein yang lain memiliki fungsi
struktural dan mekanika, seperti protein yang membentuk sitoskeleton, sebuah
sistem kerangka yang membentuk sel. Protein juga penting dalam pemberi sinyal
sel, respon imun, adhesi sel, transpor aktif antar membran, dan siklus sel. Asam
amino juga berkontribusi dalam metabolisme seluler dengan menyediakan suplai
karbon untuk siklus krebs, terutama ketika sumber utama energi seperti glukosa
tidak mencukupi.

Katabolisme karbohidrat adalah proses memecah karbohidrat menjadi unit


yang lebih kecil. Karbohidrat biasanya diambil oleh sel setelah dicerna menjadi
monosakarida. Di dalam sel, jalur utama pemecahan adalah glikolisis yang
merupakan proses mengubah gula (glukosa dan fruktosa) menjadi asam piruvat
dan menghasilkan beberapa ATP. Asam piruvat digunakan sebagai penengah di
beberapa jalur metabolik, namun kebanyakan diubah menjadi asetil-KoA dan
masuk ke dalam siklus asam sitrat.

Meskipun lebih banyak ATP yang dihasilkan oleh siklus asam sitrat,
produk yang terpenting adalah NADH yang terbuat dari NAD+ yang telah
teroksidasi. Proses oksidasi tersebut menghasilkan karbon dioksida sebagai
produk sampingan (buangan). Dalam kondisi anaerobik, glikolisis memproduksi

21
asam laktat melalui enzim laktat dehidrogenase yang mereoksidasi NADH
menjadi NAD+ untuk digunakan kembali dalam glikolisis. Rute alternatif untuk
pemecahan glukosa adalah jalur pentosa fosfat yang menguransi koenzim
NADPH dan memproduksi gula pentosa seperti ribosa yang merupakan
komponen gula dari asam nukleat.

Lemak dikatabolis dengan cara hidrolisis dan menghasilkan asam lemak


dan gliserol. Gliserol masuk ke glikolisis dan asam lemak dipecah oleh beta
oksidasi untuk menghasilkan asetil-KoA yang kemudian masuk ke siklus asam
sitrat. Asam lemak menghasilkan lebih banyak energi melalui oksidasi
dibandingkan karbohidrat karena struktur karbohidrat mengandung lebih banyak
oksigen.

Steroid juga dipecah oleh bakteri dengan proses yang mirip dengan beta
oksidasi. Proses pemecahan tersebut melibatkan asetil-KoA, propionil-KoA, dan
asam piruvat dalam jumlah yang signifikan. Hasil pemecahan tersebut juga dapat
digunakan sebagai energi.

Kemampuan setiap organisme untuk mensintesis 20 macam asam amino


bervariasi. Kebanyakan bakteri dan tumbuhan dapat mensintesis semuanya,
sedangkan mamalia hanya dapat mensintesis sebelas asam amino non-esensial
sehingga sembilan asam amino esensial harus didapatkan dari makanan. Beberapa
parasit sederhana seperti bakteri Mycoplasma pneumoniae, tidak bisa mensintesis
asam amino dan mendapatkannya langsung dari inangnya. Semua asam amino
disintesis melalui intermediet dalam glikolisis, siklus asam sitrat, atau jalur
pentosa fosfat. Sintesis asam amino bergantung pada formasi asam alfa-keto yang
tepat dan melakukan transaminasi untuk membentuk sebuah asam amino.

Asam amino membentuk protein dengan bergabung bersama menjadi


rantai peptida. Setiap protein memiliki susunan asam amino yang berbeda yang
disebut struktur primer. Bagaikan semua huruf yang dapat dirangkai menjadi kata-
kata yang berbeda, asam amino juga dapat melakukan kombinasi untuk
membentuk banyak variasi protein.

22
Protein yang dibuat oleh asam amino dapat diaktivasi dengan mengikatnya
dengan molekul RNA transfer melalui ikatan ester. Prekursor tRNA diproduksi
dalam reaksi ATP. tRNA menjadi substrat untuk ribosom, yang kemudian
menjadi asam amino dengan berikatan dengan rantai protein dan menggunakan
informasi dari mRNA.

Asam amino salah satunya digunakan untuk mensintesis protein dan


biomolekul lain, atau mengoksidasi urea dan karbon dioksida sebagai sumber
energi. Jalur oksidasi dimulai dengan menghilangkan animo dengan transaminase.
Amino kemudian masuk ke dalam siklus urea dan menghasilkan rangka karbon
terdeaminasi di dalam siklus asam sitrat. Contoh, deaminasi glutamat
menghasilkan α-ketoglutarate. Asam amino glukogenik juga dapat diubah menjadi
glukosa melalui proses glukoneogenesis.

Pada Transformasi dalam metabolisme, Dalam proses fosforilasi oksidatif,


elektron dihilangkan dari molekul organik dan ditransfer ke oksigen, kemudian
energi yang dihasilkan digunakan untuk membuat ATP.

Proses ini dilakukan oleh eukariota dengan sekumpulan protein di


membran mitokondria yang disebut rantai transpor elektron. Pada prokariota,
protein ini ditemukan di membran sel bagian dalam. Protein tersebut
menggunakan energi yang dihasilkan dengan melewatkan elektron dari molekul
tereduksi seperti NADH menuju oksigen untuk memompa proton melewati
membran.

Memompa proton keluar dari mitokondria menciptakan perbedaan


konsentrasi proton di sekitar membran dan menghasilkan gradien elektrokimia.
Gaya ini membawa proton kembali ke mitokondria melewati basa enzim yang
disebut ATP sintase. Aliran proton membuat stalk subunit berputar dan
menyebabkan daerah domain sintase yang aktif berubah bentuk dan fosforilat
adenosin difosfat berubah menjadi ATP.

23
F. KERUSAKAN GENETIK PADA SIKLUS UREA

Kelainan genetik telah didokumentasi untuk setiap enzim siklus urea :


a) Penyakit
(1) Hiperamonemia tipe I disebabkan oleh kelainan pada
karbamoil fosfat sintetase.
(2) Hiperamonemia tipe II disebabkan oleh kelainan pada ornitin
transkarbamoilase
(3) Sitrulinuria disebabkan oleh kelainan pada argininosuksinat
sintetase
(4) Argininosuksinik asidemia disebabkan oleh kelainan pada
argininosuksinat liase
(5) Hiperarginemia disebabkan oleh kelainan pada arginase

b) Gejala
(1) Hiperamonemia. Kadar ammonia seruum yang tinggi adalah
sangat toksik dan dapat menyebabkan kerusakan otak.
(2) Ensefalopati episodik, seperti konvulsi dan ataksia, dapat
terjadi pada anak-anak dengan defisiensi parsial dari enzim
siklus urea.

c) Terapi
Bayi yang mengalami kekurangn total salah satu dari enzim siklus
urea biasanya tidak dapat bertahan hidup pada periode neonatus.
Pasien dengan kelainan yang mengurangi, tetapi tidak meniadakan
aktivitas salah satu dari enzim siklus urea agaknya lebih memberi
respons terhadap terapi.

24
(1) Diet protein-rendah.

Akibat yang berat dari kelainan ini dapat dihindari dengan


membatasi pemasukan protein. Namun, diagnosis sangat dini
adalah kritikal dalam mencegah retardasi mental. Suatu diet
harus diberikan yang memberi sejumlah asam amino esensial
yang cukup tetapi tidak berlebihan. Arginin secara normal tidak
dianggap sebagai asam amino essensial karena ia dapat
disintesis oleh kerja siklus urea. Karena itu, diet protein rendah
harus disuplementasi dengan arginin.

(2) Pemberian natrium benzoat dan natrium fenilasetat

Adalah berguna untuk mengurangi kadar amonia serum.


Senyawa-senyawa ini bereaksi dengan glisin dan glutamin
membentuk gabungan, yaitu dieksresikan dalam urine. Amonia
serum kemudian harus digunakan untuk mensintesis lebih
banyak asam-asam amino non-essensial ini yang membantu
menurunkan kadar amonia secara keseluruhan.

(3) Transfusi darah dan Hemodialisis

Dapat diperlukan untuk mencegah kerusakan otak dari


hiperamonimeia

25
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Protein tersusun atas sejumlah asam amino yang membentuk suatu untaian
(polimer) dengan ikatan peptida. Selain itu, protein juga memiliki gugus
amina (NH2) dan gugus karboksil (COOH).

Berdasarkan banyaknya asam amino dapat dibedakan menjadi:

1) Peptida jika terdiri atas untaian pendek asam amino (2 - 10 asam amino).
2) Polipeptida jika terdiri atas 10 - 100 asam amino.
3) Protein jika terdiri atas untaian panjang lebih dari 100 asam amino.

Beberapa jenis protein antara lain:

1) Glikoprotein yaitu protein yang mengandung karbohidrat.


2) Lipoprotein yaitu protein yang mengandung lipid.

Asam amino esensial adalah golongan asam amino yang harus tersedia
dalam diet karena tidak dapat disintesis oleh tubuh, sedangkan asam amino
non-esensial adalah golongan asam amino yang dapat disintesis oleh tubuh
(dalam hati). Terdapat 8 jenis asam amnio esensial yaitu: Isoleucin,
Leucin, Lysin, Phenylalanine, Threonine, Tryptophan, Valine, dan
Methionin (mengandung unsur sulfur).

26
DAFTAR PUSTAKA

http://hedisasrawan.blogspot.co.id/2015/05/metabolisme-artikel-lengkap.html

HTTP://FERAKIYOTO.BLOGSPOT.CO.ID/2012/04/MAKALAH-SIKLUS-UREA-
DAN-ASPEK-KLINISNYA.HTML

https://rochem.wordpress.com/2012/01/20/metabolisme-protein-dan-asam-amino-2/

HTTP://STEVENSAL.BLOGSPOT.CO.ID/2012/12/METABOLISME-
PROTEIN.HTML

http://www.edubio.info/2014/03/siklus-urea-pengubahan-amonia-menjadi.html

Baret, J.M., Peter Abramoff, Kumaran, A.K., and Millington, W.F. (1986). Biology.
Prentice Hall: New Jersey.

Ganong, W.F. (1995). Review of Medical Physiology. 4th ed. San Fransisco:
Prentice Hall International Inc.

Guyton, A.C. (1986). Textbook of Medical Physiology. 7th ed. Philadelphia: W.B.
Saunders Company.

Raven, P.H., and Johnson, G.B. (1986). Biology. Times Mirror/ Mosby College
Publishing.

Storer, T.I., Stebbins, R.C., Usinger, R.L., and Nybakken, J.W. (1979). General
Zoology. 7th ed. New York: McGraw-Hill Book Company.

27