Anda di halaman 1dari 16

Portofolio Kasus Etik dan Disiplin Kedokteran

DR. X TIDAK MEMBERIKAN OBAT SESUAI DENGAN KEADAAN PASIEN

Oleh:

dr. Rezi Amalia Putri

Dokter Internsip

Pendamping:

dr. Dessy Rahmawati

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA PADANG PANJANG

PERIODE FEBRUARI 2018


Portofolio Kasus Etik

Nama Peserta : dr. Rezi Amalia Putri

Nama Wahana : RSUD Padang Panjang

Topik : Kasus Etik

Tanggal (kasus) : 28 Maret 2018

Nama : Ny. MN

Tanggal Presentasi : 6 November 2018

Nama Pendamping : dr. Dessy Rahmawati

Tempat Presentasi : Ruang Konferensi RSUD Padang Panjang

Objektif Presentasi : Keilmuan

Bahan Bahasan : Kasus

Cara Membahas : Presentasi dan diskusi

2
PENDAHULUAN

KODE ETIK KEDOKTERAN INDONESIA

Etik profesi kedokteran mulai dikenal sejak 1800 tahun sebelum Masehi dalam bentuk

Code of Hammurabi dan Code of Hittites, yang penegakannya dilaksanakan oleh penguasa

pada waktu itu. Selanjutnya etik kedokteran muncul dalam bentuk lain, yaitu dalam bentuk

sumpah dokter yang bunyinya bermacam-macam, tetapi yang paling banyak dikenal adalah

sumpah Hippocrates yang hidup sekitar 460-370 tahun SM. Sumpah tersebut berisikan

kewajiban-kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap, atau semacam code of conduct

bagi dokter.

World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968 menghasilkan

sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. Kode Etik Kedokteran

Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban

terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, Kode Etik Kedokteran

Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional.

Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-

prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat

keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-salahnya suatu

keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral. Pengetahuan etika ini dalam

perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi

pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics)

dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis.

Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung dengan

memberikan latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan profesional dokter, seperti

3
autonomy (menghormati hak pasien, terutama hak dalam memperoleh informasi dan hak

membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan terhadap dirinya), beneficence

(melakukan tindakan untuk kebaikan pasien), non maleficence (tidak melakukan perbuatan

yang memperburuk pasien) dan justice (bersikap adil dan jujur), serta sikap altruisme

(pengabdian profesi).

Pendidikan etik kedokteran, yang mengajarkan tentang etik profesi dan prinsip moral

kedokteran, dianjurkan dimulai dini sejak tahun pertama pendidikan kedokteran, dengan

memberikan lebih ke arah tools dalam membuat keputusan etik, memberikan banyak latihan,

dan lebih banyak dipaparkan dalam berbagai situasi-kondisi etik-klinik tertentu (clinical

ethics), sehingga cara berpikir etis tersebut diharapkan menjadi bagian pertimbangan dari

pembuatan keputusan medis sehari-hari. Tentu saja kita pahami bahwa pendidikan etik belum

tentu dapat mengubah perilaku etis seseorang, terutama apabila teladan yang diberikan para

seniornya bertolak belakang dengan situasi ideal dalam pendidikan.

IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan penilaian pelaksanaan

etik profesi, yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat, wilayah dan cabang, serta lembaga

MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) di tingkat pusat, wilayah dan cabang. Selain

itu, di tingkat sarana kesehatan (rumah sakit) didirikan Komite Medis dengan Panitia Etik di

dalamnya, yang akan mengawasi pelaksanaan etik dan standar profesi di rumah sakit. Bahkan

di tingkat perhimpunan rumah sakit didirikan pula Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit

(Makersi).

Pada dasarnya, suatu norma etik adalah norma yang apabila dilanggar “hanya” akan

membawa akibat sanksi moral bagi pelanggarnya. Namun suatu pelanggaran etik profesi

dapat dikenai sanksi disiplin profesi, dalam bentuk peringatan hingga ke bentuk yang lebih

berat seperti kewajiban menjalani pendidikan / pelatihan tertentu (bila akibat kurang

kompeten) dan pencabutan haknya berpraktik profesi. Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK

4
setelah dalam rapat/sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi)

kedokteran.

Dengan maksud untuk lebih nyata mewujudkan kesungguhan dan keluhuran ilmu

kedokteran, disusunlah Kode Etik Kedokteran Indonesia. Kode Etik Kedokteran Indonesia

yang terbaru ditetapkan dari hasil Mukernas Etik Kedokteran III tahun 2001 sebagai

pedoman etik bagi dokter dalam menjalankan profesi kedokteran.

Kode Etik Kedokteran Indonesia diuraikan dalam pasal-pasal berikut :

KEWAJIBAN UMUM

Pasal 1

Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter

Pasal 2

Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar

profesi yang tertinggi

Pasal 3

Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh

sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi

Pasal 4

Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri

Pasal 5

Tiap perbuatan atau nasihat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik

hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan

pasien

5
Pasal 6

Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap

penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang

dapat menimbulkan keresahan masyarakat.

Pasal 7

Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri

kebenarannya

Pasal 7a

Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang

kompeten dengan kebebasan teknik dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang dan

penghormatan atas martabat manusia

Pasal 7b

Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan

berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam

karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam

menangani pasien

Pasal 7c

Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga

kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien

Pasal 7d

Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi makhluk insane

6
Pasal 8

Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan

masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh, baik

fisik maupun psikososial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang

sebenar-benarnya

Pasal 9

Setiap dokter dalam bekerjasama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya

serta masyarakat, harus saling menghormati.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN

Pasal 10

Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan

keterampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu

pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien ia wajib merujuk pasien kepada

dokter yang mempunyai keahlian dalam bidang tersebut

Pasal 11

Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat

berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah

laainnya

Pasal 12

Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya terhadap seorang pasien,

bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia

7
Pasal 13

Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan,

kecuali bila ia yakin ada orang lain beredia dan mampu memberikannya.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

Pasal 14

Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan

Pasal 15

Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawatnya, kecuali dengan

persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.

KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI

Pasal 16

Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik

Pasal 17

Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

kedokteran/kesehatan

Untuk menetapkan sanksi atas pelanggaran Kode Etik Kedokteran, dibutuhkan

pedoman penegakan disiplin profesi kedokteran. Konsil Kedokteran Indonesia telah

menetapkan pedoman tersebut pada tahun 2006. Pada pedoman penegakan disiplin profesi

kedokteran, yang merupakan bentuk pelanggaran disiplin kedokteran adalah :

1. Melakukan praktik kedokteran dengan tidak kompeten.

8
2. Tidak merujuk pasien kepada dokter atau dokter gigi lain yang memiliki kompetensi

sesuai.
3. Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu yang tidak memiliki

kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.


4. Menyediakan dokter atau dokter gigi pengganti sementara yang tidak memiliki

kompetesi dan kewenangan yang sesuai, atau tidak melakukan pemberitahuan perihal

penggantian tersebut.
5. Menjalankan praktik kedokteran dalam kondisi tingkat kesehatan fisik ataupun mental

sedemikian rupa sehingga tidak kompeten dan dapat membahayakan pasien.


6. Dalam penatalaksanaan pasien, melakukan yang seharusnya tidak dilakukan atau

tidak melakukan yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan tanggung jawab

profesionalnya, tanpa alasan pembenar atau pemaaf yang sah sehingga dapat

membahayakan pasien.
7. Melakukan pemeriksaan atau pengobatan berlebihan yang tidak sesuai dengan

kebutuhan pasien.
8. Tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis dan memadai kepada pasien atau

keluarganya dalam melakukan praktik kedokteran.


9. Melakukan tindakan medic tanpa memperoleh persetujuan dari pasien atau keluarga

dekat atau wali atau pengampunya.


10. Dengan sengaja, tidak membuat atau menyimpan rekam medic, sebagaimana diatur

dalam peraturan perundang-undangan atau etika profesi.


11. Melakukan perbuatan yang bertujuan untuk menghentikan kehamilan yang tidak

sesuai dengan ketentuan, sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan

dan etika profesi.


12. Melakukan perbuatan yang dapat mengakhiri kehidupan pasien atas permintaan

sendiri dan atau keluarganya.


13. Menjalankan praktik kedokteran dengan menerapkan pengetahuan atau keterampilan

atau teknologi yang belum diterima atau di luar tata cara praktik kedokteran yang

layak.

9
14. Melakukan penelitian dalam praktik kedokteran dengan menggunakan manusia

sebagai subjek penelitian, tanpa memperoleh persetujuan etik dari lembaga yang

diakui pemerintah.
15. Tidak melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, padahal tidak

membahayakan dirinya, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan

mampu melakukannya.
16. Menolak atau menghentikan tindakan pengobatan terhadap pasien tanpa alasan yang

layak dan sah sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan atau etika

profesi.
17. Membuka rahasia kedokteran, sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-

undangan atau etika profesi.


18. Membuat keterangan medic yang tidak didasarkan kepada hasil pemeriksaan yang

diketahuinya secara benar dan patut. Berkaitan dengan KODEKI pasal 7.


19. Turut serta dalam perbuatan yang termasuk tindakan penyiksaan atau eksekusi

hukuman mati.
20. Meresepkan atau memberikan obat golongan narkotika, NAPZA, yang tidak sesuai

dengan peraturan perundang-undangan atau etika profesi.


21. Melakukan pelecehan sexual, tindakan intimidasi, atau tindakan kekerasan kepada

pasien di tempat praktik.


22. Menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi yang bukan haknya.
23. Menerima imbalan sebagai hasil dari merujuk atau meminta pemeriksaan atau

memberikan resep obat/alat kesehatan.


24. Mengiklankan kemampuan/pelayanan atau kelebihan kemampuan/pelayanan yang

dimiliki, baik lisan ataupun tulisan yang tidak benar/menyesatkan.


25. Ketergantungan pada narkotika, NAPZA, alkohol, serta zat adiktif lainnya.
26. Berpraktik dengan meggunakan STR/SIP yang tidak sah.
27. Ketidak jujuran dalam menentukan jasa medic.
28. Tidak memberikan informasi, dokumen, dan alat bukti lainnya yang diperlukan

MKDKI untuk pemeriksaan atas pengaduan dugaan pelanggaran disiplin.

Sanksi terhadap disiplin tersebut ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 29

Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada pasal 69 ayat 3, yaitu :

10
1. Pemberian peringatan tertulis.
2. Rekomendasi pencabutan STR/SIP. Pencabutan dapat dilakukan minimal 1 tahun,

maksimal selama-lamanya.
3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di Institusi pendidikan kedokteran

atau kedokteran gigi. Dapat berupa pendidikan formal, atau berupa pelatihan atau

magang di Institusi pendidikan kedokteran minimal 3 bulan atau maksimal 1 tahun.


4. Pada kasus- kasus pelanggaran etikolegal, diberikan hukuman sesuai peraturan

kepegawaian yang berlaku dan diproses ke pengadilan

DAFTAR PUSTAKA

1. Adam K, Hadad T, Rafly A, dkk. 2007. Penyelenggaraan Praktik Kedokteran yang

Baik di Indonesia. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia

2. Hanafiah, Jusuf, dkk. 1999. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, edisi 3. Jakarta:

EGC

3. http://astaqauliyah.com/2006/12/04. Etika kedokteran indonesia dan penanganan

pelanggaran etika di Indonesia

11
BORANG PORTOFOLIO

Nama Peserta: dr. Rezi Amalia Putri


Nama Wahana: RSUD Padang Panjang
Topik: Kasus etik
Tanggal (kasus): 28 Maret 2018
Nama Pasien: Ny. MN No. RM: -
Tanggal Presentasi: 06 November 2018 Nama Pendamping: dr. Dessy Rahmawati
Obyektif Presentasi:
Keilmuan  Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik  Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak  Remaja Dewasa Lansia  Bumil
Deskripsi : dr.X melakukan pelanggaran etik dan disiplin kedokteran
Tujuan : Mengetahui jenis pelanggaran etik dan disiplin kedokteran beserta sanksinya
Bahan bahasan:  Tinjauan Pustaka  Riset  Kasus  Audit
Cara membahas:  Diskusi  Presentasi dan diskusi  Email  Pos
Data pasien: Nama: Ny. MN Nomor Registrasi: -
Nama Wahana: RSUD Telp: - Tedaftar sejak: -
Padang Panjang
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
Gambaran Klinis
Seorang pasien perempuan, berusia 65 tahun, datang ke IGD RSUD Kota Padang
Panjang dengan keluhan
KU : Nyeri pada ulu hati sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit
RPS :
 Nyeri pada ulu hati sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit, rasa perih dan mendesak ke
dada, dada terasa penuh.
 Sesak nafas sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit

12
 Mual (+) muntah (+) frekuensi sering, berisi apa yang dimakan dan diminum
 Nafsu makan menurun sejak 1 hari ini
 Demam tidak ada, batuk tidak ada
 BAB dan BAK biasa
 Pasien baru pulang dirawat di bangsal Penyakit Dalam 1 hari yang lalu dan dirawat
dengan Dispepsia Syndrome dan mendapat obat
- Sucralfat sirup 3x1 CTH
- Ranitidin tablet 2x 150 mg
- Meloxicam 2x1 tablet
 Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat nyeri ulu hati (+)
- Riwayat Hipertensi dan DM disangkal
 Riwayat Pekerjaan :
- Pasien seorang ibu rumah tangga

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
- Kesadaran : Compos Mentis Cooperatif (CMC)
- Tekanan Darah : 120/80
- Nadi : 72 x/menit regular
- Pernafasan : 20 x/menit
- Suhu : 36,5º C

b.Pemeriksaan sistemik
Kulit : Teraba hangat,tidak pucat,tidak sianosis.
Kepala : Bentuk normal, rambut hitam beruban.
Mata : Konjungtiva tidak anemis,sklera tidak ikterik,pupil isokor,diameter 3 mm,
Reflek cahaya +/+ Normal.
THT : Tidak ada kelainan.
Mulut : Tidak ada kelainan.
Leher : JVP 5-2 CmH2O
Thoraks :
Paru : Inspeksi : Simetris
Palpasi : fremitus kiri sama dengan kanan
Perkusi : sonor
13
Auskultasi : suara nafas vesikuler,ronkhi (-),wheezing (-)
Jantung : Inspeksi : iktus tidak terlihat
Palpasi : iktus teraba 3 jari medial LMCS RIC V
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : irama teratur,bising tidak ada
Abdomen : Inspeksi : tidak membuncit
Palpasi : distensi tidak ada, hepar dan lien tidak teraba, turgor
kulit baik, nyeri tekan(+), nyeri lepas (-)
Perkusi : tympani
Auskultasi : bising usus (+) normal
Genitalia : Tidak diperiksa
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik

Diagnosis : Dispepsia Syndrome


Penatalaksaaan :
- O2 3L/menit
- Inj. Ranitidin 1 amp (IV)
- Inj. Domperidon 1 amp
- Observasi 15 menit,
- pasien masih terlihat lemas dan mengeluhkan nyeri perut, pasien dirawat dengan :
 IVFD RL 8 jam/kolf
 Inj. Ranitidin 2x1 amp (IV)
 Inj. Domperidon 2x1 amp
 Sucralfat Syr 3x1 CTH (PO)

Daftar Pustaka
1. Adam K, Hadad T, Rafly A, dkk. 2007. Penyelenggaraan Praktik Kedokteran yang Baik di
Indonesia. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia

2. Hanafiah, Jusuf, dkk. 1999. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, edisi 3. Jakarta: EGC

3. http://astaqauliyah.com/2006/12/04. Etika kedokteran indonesia dan penanganan


pelanggaran etika di Indonesia

Hasil Pembelajaran
14
1. Mengetahui dan memahami etika dan disiplin kedokteran Indonesia dalam memberikan
pelayanan sesuai standar profesi yang berlaku
2. Mengetahui sanksi pelanggaran kode etik dan disiplin kedokteran Indonesia

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

1. Kasus :

Seorang dokter di RSUD Kota Padang Panjang memberikan obat penghilang nyeri

kepada pasien yang dirawat dengan diagnosa Dispepsia Syndrome. Awalnya pasien di rawat d

Bangsal Penyakit Dalam dengan keluhan nyeri ulu hati, setelah beberapa hari dirawat,

keluhan pasien membaik dan pada saat akan dipulangkan, pasien mengeluhkan ke pada

dokter spesialis penyakit dalam bahwa badan terasa sakit-sakit. Pada saat pulang, dokter

memberikan obat pulang, yaitu Sucralfat Sirup, Ranitidin tablet, dan Meloxicam. Satu hari

kemudian, pasien ntersebut kembali masuk ke IGD dengan keluhan nyeri ulu hati dan sudah

muntah beberapa kali.

2. Pembahasan Kasus :

Tindakan yang dilakukan oleh dr. X tersebut melanggar KODEKI pasal 2 dan

melanggar pedoman penegakan disiplin profesi kedokteran point ke 6. Sebagaimana yang

terdapat dalam pasal 2 “seorang dpkter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya

sesuai dengan standard profesi yang tertinggi”.

Kasus pada dr.X ini, tidak hanya kasus etik tetapi juga kasus disiplin profesi. Pada

pedoman penegakan disiplin profesi kedokteran, yang merupakan bentuk pelanggaran disiplin

kedokteran pada kasus ini terdapat pada point 6, bahwa dalam penatalaksanaan pasien,

melakukan yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan yang seharusya dilakukan,

sesuai dengan tanggung jawab profesionalnya, tanpa alasan pembenar atau pemaaf yang sah

sehingga dapat membahayakan pasien. Dr.X memberikan obat yang memiliki efek samping

terhadap lambung, sehingga dr.X membahayakan keselamatan pasien tersebut. Unuk kasus

15
etik, dr.X hanya mendapat sanksi moral. Untuk kasus disiplin profesi, apabila terjadi

pengaduan, dr.X dapat diproses oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia

(MKDKI) dan apabila dinyatakan bersalah dapat dijatuhi sanksi.

16